Ta’aruf Adalah Mengenal Calon Pasangan Hidup Kita, Begini Prosesnya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam dengan pembahasan Fiqhul Usrah (Fiqih Keluarga). Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. pada hari Sabtu, 18 Shafar 1440 H / 27 Oktober 2018 M.
Download juga kajian sebelumnya: Untuk Para Suami, Begini Cara Mendidik Istri
Kajian Ilmiah Tentang Ta’aruf Adalah Mengenal Calon Pasangan Hidup Kita, Begini Prosesnya
Seseorang yang mengambil keputusan untuk memilih, tentunya akan berusaha mencari yang terbaik. Tidak hanya sekedar mendapatkan alakadarnya, kita ingin mendapatkan istri sebaik mungkin agar nanti tidak menjadi “PR” atau menjadi pekerjaan rumah kita setelah menikah. Semakin bagus pilihan kita, maka kita akan semakin mudah dalam membina rumah tangga. Sehingga banyak ulama yang mengatakan bahwa awal pendidikan rumah tangga adalah ketika memilih pasangan hidup.
Islam memberikan kepada kita sebuah konsep ta’aruf, konsep saling kenal antara laki-laki dan wanita. Sebab dalam sebuah rumah tangga atau pernikahan ada syarat sah pernikahan, yaitu adanya ridha dari kedua belah mempelai. Artinya sang laki-laki ridha untuk menikahi sang wanita, juga sebaliknya sang wanita menerima laki-laki sebagai suaminya.
Untuk menciptakan ini semuanya, maka Islam memberikan konsep yang cukup jelas, cukup rinci, karena memang ini merupakan perkara yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia. Yaitu konsep berkenalan dengan calon istri tersebut.
Tak kenal maka tak sayang
Dalam konsep yang kita ketahui bersama, ada pepatah yang sudah tidak asing bagi kita semua bahwa “Tak kenal maka tak sayang.”
Kita harus kenal dengan pasangan yang akan menjadi pasangan rumah tangga kita, itu adalah hal yang benar. Islam tidak sama sekali melarang seorang laki-laki mengenal perempuan atau sebaliknya. Bahkan menganjurkan untuk saling kenal agar nantinya bisa membuat rumah tangga lebih mudah dan lebih langgeng. Demikianlah pemahaman yang ada.
Tapi tentunya dengan koridor syariat. Islam mengatur dengan detil permasalahan ini. Misalnya harus mengenal siapa calonnya, namanya, agamanya, akhlaknya, sampai bentuk fisiknya. Ini semua dalam rangka yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampaikan dalam hadits Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu ketika ia mengatakan:
خَطَبْتُ امْرَأَةً
“Aku melamar seorang wanita” lalu Nabi tanya:
أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا
“Apakah kamu telah melihatnya?”
Beliau menjawab, “Tidak, Aku tidak melihatnya” Artinya percaya saja dan karena memang mereka menikah bukan karena nafsu semata, bukan juga karena kecantikan, mereka melihat kepada agama sehingga yang penting agamanya baik.
Namun kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا
“Lihat kepadanya, karena itu akan lebih mudah untuk melanggengkan antara kalian berdua.” Artinya ini akan membuat rumah tangga lebih mudah ketika keduanya saling mengenal sebelum mengambil keputusan untuk berkumpul di sebuah pernikahan.
Ta’aruf bukan dengan pacaran
Sebagaimana kita melihat, sekarang ini banyak orang yang beralasan bahwa berpacaran agar kenal dengan pasangan kita, agar kita nanti tidak membeli kucing dalam karung.
Maka kita katakan bahwa berkenalan dibolehkan dalam syariat Islam. Namun tidak dengan cara seperti itu. Sebab biasanya ketika dia berpacaran,