Urgensi dan Esensi Tauhid merupakan rekaman ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Haidar As-Sundawy dalam pembahasan Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad karya Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada 12 Dzul Hijjah 1439 H / 24 Agustus 2018 M.
Download mp3 kajian sebelumnya: Aqidah Intisari Dakwah
Kajian Tentang Urgensi dan Esensi Tauhid – Kitab Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad
Aqidah Islam adalah aqidah yang dibangun diatas enam landasan pokok. Keseluruhan landasan ini ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an, sunnah yang shahih dan ijma’ (kesepakatan para ulama) bagi umat ini. Didalam Al-Qur’an, bertebaran menekankan enam poin pokok ini. Diantaranya:
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ …
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (QS. Al-Baqarah[2]: 177)
Khusus tentang takdir, Allah jelaskan dalam surat Al-Qamar ayat ke-49:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ ﴿٤٩﴾
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS. Al-Qamar[54]: 49)
Juga dalam Al-Baqarah ayat ke-285, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّـهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ …
“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, …” (QS. Al-Baqarah[2]: 285)
Intinya, seluruh ayat menekankan kita untuk mengimani enam poin yang tadi telah diterangkan. Selain ayat, banyak pula hadits yang menjelaskan hal ini. Diantara hadits yang terkenal dengan sebutan hadits Jibril.
Beriman Kepada Allah
Tiga poin yang wajib tercakup dalam beriman kepada Allah. Yaitu:
Pertama, meyakini dengan keyakinan yang pasti bahwa Allah lah satu-satunya pencipta, pengusa, pengatur seluruh alam.
Kedua, meyakini bahwa Dia lah satu-satunya yang berhak diibadahi. Tidak ada sekutu dalam hal ini. Seluruh sesembahan yang disembah selain Allah adalah sesembahan yang batil. Peribadahan kepada sesembahan yang batil adalah peribadahan yang batil pula. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ ﴿٦٢﴾
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj[22]: 62)
Ketiga, ini adalah poin yang amat sangat penting. Yaitu meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang mulia dan sempurna. Kesempurnaan dan kemuliaanya juga begitu sempurna. Dia suci dari segala kekurangan dan aib. Allah juga tidak memiliki sifat-sifat yang tak layak dimiliki oleh Allah. Seluruh sifat yang disucikan dari diri Allah, tidak didasarkan pada akal atau otak manusia. Tapi didasarkan pada nash yang bersumber dari Allah dan dari RasulNya.
Dari ketiga poin ini,