Radio Seila FM

Radio Seila FM

By Seila fm BatamReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Seila FM episodes

  • Peluang Anies Menangi Pilpres 2024

    “Tajuk Rasil”

    Senin, 20 Muharram 1445 H/ 7 Agustus 2023


    Peluang Anies Menangi Pilpres 2024

    Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa


    Kenapa Anies Baswedan harus dijegal? Kenapa Anies Baswedan harus digagalkan untuk nyapres? Kenapa Anies Baswedan harus dihadang, supaya tidak mendapat tiket maju di pilpres 2024? Muncul asumsi dan spekulasi publik, bahwa ada yang takut korupsi ini dan itu dibongkar oleh Anies. Program ini dan itu tidak dilanjutkan oleh Anes. Takut bisnis haramnya dihentikan Anies. Takut karirnya habis karena tidak diakomodir oleh Anies. Dan macam-macam ketakutan lainnya. Makanya, Anies harus dijegal. Bagi mereka, Anies tidak menguntungkan. Malah sebaliknya, Anies berbahaya bagi mereka.


    Kenapa mereka harus takut? Kalau Anies tidak punya peluang memenangi pilpres, semua ketakutan itu mestinya tidak perlu ada. Kalau Anies dianggap kecil elektabilitasnya, kenapa harus dikhawatirkan? Inilah pertanyaan yang muncul di benak publik. Upaya menjegal Anies itu nyata. Karena dilakukan berulangkali dengan banyak kasus. Ini seperti menegaskan bahwa peluang Anies Baswedan menang dan jadi presiden sangat besar. Kalau peluangnya kecil, kenapa harus ditakuti dan dijegal? Ini logika paling simple untuk memahami gejala ketakutan itu. Kesimpulan yang sangat sederhana, dan mudah dibaca.


    Menjadi obrolan cukup sering di kalangan aktifis politik berbasis sejumlah survei (tidak semuanya dipublish) bahwa Anies berluang besar untuk menang. Baik ini obrolan para pendukung Anies, maupun obrolan mereka yang berada di kubu lawan Anies. Setidaknya sudah pernah ada dua lembaga riset melakukan survei pilpres. Dua lembaga survei yang tidak diragukan kredibelnya. Tidak biasa jualan sebagai konsultan politik sebagaimana umumnya lembaga-lembaga survei yang lain. Lembaga survei ini kredibel. Hasilnya, "Head to head dengan siapapun, Anies menang".


    9 min
  • Beban Berat Seorang Pemimpin

    “Tajuk Rasil”

    Jumat, 17 Muharram 1445 H/ 4 Agustus 2023


    Beban Berat Seorang Pemimpin

    Oleh: Baiq Ika Sufriawati Amrus


    Dalam sebuah riwayat dikisahkan, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (salah satu khalifah era Bani Umayyah) sepeninggal berangkat menunaikan ibadah haji bersama sahabatnya, Umar bin Abdul Aziz. Di sela-sela melaksanakan ibadah haji, Sulaiman mengajak Umar mendaki sebuah bukit. Dari atas bukit itulah, tampak jelas para jamaah haji yang datang dari segala macam penjuru dunia, dari berbagai latar belakang, beragam suku, bahasa, dan warna kulit.


    Melihat rakyatnya yang sedemikian banyak, sang khalifah terkejut. Sejurus kemudian, perasaan bangga menyelimuti dirinya. Dia pun berkata kepada Umar bin Abdul Azis yang berada di sampingnya, "Lihatlah wahai Umar betapa banyak rakyat yang kupimpin sekarang!" Mendengar ucapan tersebut, Umar merasa ada hal yang harus diluruskan. Ia lantas berkata, "Ya benar wahai Khalifah, mereka adalah rakyatmu sekarang, namun Anda mesti menyadari wahai saudaraku, mereka kelak akan menjadi musuhmu di hadapan Allah kelak, meminta pertanggungjawabanmu di hari kiamat."


    Mendengar perkataan Umar, kaki khalifah bergetar, wajahnya memerah memancarkan rasa takut. Hanya isakan tangis yang terdengar darinya tanpa bisa berkata apa-apa sembari menerawang keadaan di hari kiamat yang sudah pasti akan dihadapinya.


    Menjadi pemimpin atau pemuka adalah impian banyak orang. Sejak dulu, manusia memiliki kecenderungan yang ekstra dalam mengejar status sosial tersebut. Jabatan bagi banyak orang adalah jaminan kepuasan diri dan kemapanan hidup. Terlebih lagi, bila menduduki posisi-posisi strategis di pemerintahan, tentu hal itu sangat menggiurkan. Dari kisah di atas, setidaknya ada dua hal penting yang dapat kita jadikan sebagai ibrah:


    Pertama, selektif memilih penasihat. Kearifan dan kebijakan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya. Kebijakannya akan sejalan dengan prinsip keadilan. Itu dapat terjadi bila kolega atau pembantu terdekatnya adalah orang-orang yang bijak, yang tidak silau dengan segala gemerlap dunia. Bukan pula sekadar mencari muka atasannya.


    Pemegang kekuasaan butuh pendamping yang dapat memberi solusi terbaik dalam problem yang ada. Alangkah buruknya bila pemimpin itu dikelilingi pembisik bermental setan, hanya bisa meniupkan ide-ide jahat yang menyengsarakan rakyat. Pembisik jahat enggan memberi nasihat bila atasannya berbuat khilaf, ia malah membiarkan hal itu dan dia mengaku siap pasang badan untuk memberi rasa aman.


    Kedua, tidak besar kepala dengan kuantitas pengikut. Untuk menjadi pemimpin dan pemuka, sudah barang pasti membutuhkan rakyat atau pengikut. Sehingga, sebisa mungkin mereka akan melakukan banyak hal untuk memperbesar dan memperbanyak jumlah pengikut tersebut. Ini agar otoritas dan hegemoni kekuasaannya meluas dan menjauh. Manusia umumnya, bila memegang tampuk pimpinan, menjadi berbangga atas banyaknya pengikut dan luasnya cakupan wilayah. Namun, jarang sekali yang menerawang lebih jauh ke depan, bahwa urusan kepemimpinan itu bukan urusan duniawi semata, melainkan juga menyangkut urusan ukhrawi.

    8 min
  • Mengapa Arab Lekas Cocok dengan Cina?
    “Tajuk Rasil”
    Kamis, 16 Muharram 1445 H/ 3 Agustus 2023
    *Mengapa Arab Lekas Cocok dengan Cina?*
    _Resonansi Republika, Oleh: Ikhwanul Kiram Mashuri_
    Sejak Cina berhasil mendamaikan dua seteru, Iran dan Saudi, Maret lalu, peristiwa itu terus menjadi topik bahasan hangat di media Arab hingga kini. Banyak pihak tidak percaya, Saudi yang Wahabi dan Iran yang Syiah bisa berekonsiliasi setelah tujuh tahun berseteru. Apalagi yang mendamaikan adalah Cina yang komunis. Ketiga negara itu banyak kontradiksi, seperti minyak dan air, yang susah disatukan. Lalu banyak kalangan yang mempertanyakan, mengapa yang mendamaikan Cina dan bukan Amerika Serikat.
    Toh negara Paman Sam ini telah lama menjadi sheriff dunia, termasuk di kawasan Timur Tengah. Rezim Presiden Irak Saddam Husein digebuk hingga jatuh. Begitu juga dengan Mullah Mohammad Omar yang berkuasa di Afghanistan sejak 1996, dan terguling dari kekuasaannya pada 2001 ketika diinvasi militer Amerika. Paman Sam pula yang menembak mati pemimpin teroris Alqaidah, Usamah bin Ladin, dan memburu dengan serangan udara jenderal Iran yang sangat berpengaruh, Qasem Soleimani. Sebaliknya, kepada Gedung Putih pula Israel ‘minta petunjuk’ ketika militer negara Zionis itu menyerang kelompok-kelompok Palestina. Pun Amerika yang menfasilitasi perdamaian antara Israel dan Mesir, serta normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Negara Yahudi itu.
    Atau mengapa bukan Inggris dan Prancis yang mendamaikan Iran dengan Saudi? Ini mengingat sejarah panjang keberadaan dua negara itu ketika menjajah sejumlah negara Arab dan Afrika. Juga mengapa bukan Rabitah al-'Alam al-Islami (Muslim World League), Gerakan Non-Blok, atau bahkan PBB, di mana Saudi dan Iran sama-sama menjadi anggota di ketiga organisasi internasional itu.
    Mengutip sejumlah pengamat Timur Tengah, keberhasilan Cina mendamaikan Saudi dan Iran lebih berlatarbelakang ekonomi, perdagangan, dan investasi. Hal itu bisa dilakukan lantaran Cina mempunyai hubungan baik dengan Iran dan Saudi. Sedangkan mengenai ideologi ketiga negara yang sangat kontradiktif, cukup untuk urusan dalam negeri masing-masing. Cina, Saudi, dan Iran tidak lagi ‘mengekspor’ ideologi mereka ke negara lain. Dengan kata lain, mereka sepakat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing atau juga negara lain. Lakum diinukum waliya ad diin, untukmu agamamu dan untukku agamaku. Hal ini tentu bertolak belakang dengan Barat dan Amerika Serikat yang selalu ‘memaksakan’ nilai-niai demokrasi, kebebasan, ham kepada negara lain. Nilai-nilai dengan standar mereka sendiri.
    11 min
  • Kemunafikan Sosial

    “Tajuk Rasil”

    Selasa, 14 Muharram 1445 H/ 1 Agustus 2023


    Kemunafikan Sosial

    Hikmah Republika, Oleh: Hasan Basri Tanjung


    Sejatinya, manusia diciptakan dengan kesempurnaan jasmaniyah, aqliyah (pikiran), dan ruhaniyah (batin). Ketiga dimensi ini telah meninggikan derajat manusia melebihi makhluk lain, termasuk malaikat yang senantiasa beribadah kepada Allah SWT. Pada sisi lain, manusia juga dilengkapi perangkat lunak hawa nafsu sebagai daya dorong untuk bergerak, berbuat, dan merekayasa kehidupan. Namun, hawa nafsu yang tidak terkendali akan menjerumuskan ke lembah durjana.


    Prof Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan bahwa di permulaan surah al-Baqarah, manusia dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, muttaqiin, yakni orang yang percaya hati, mulut, dan perbuatannya. Kepercayaan hatinya dibuktikan oleh perbuatan. Kedua, kafir, yakni orang yang tidak mau percaya, hatinya tidak percaya, mulutnya menentang, dan perbuatannya melawan. Ketiga, munafik, yakni orang yang pecah di antara hati dengan mulutnya. Mulutnya mengakui percaya, tetapi perbuatan dan hatinya tidak sesuai dengan ucapan.


    Sedemikian krusial, uraian tentang kemunafikan pun lebih banyak daripada orang takwa dan kafir. Sifat dan perilakunya disajikan dalam 13 ayat, sementara orang bertakwa hanya lima ayat, dan kafir dalam dua ayat. Dalam beberapa ayat, orang munafik dan kafir disebutkan bersamaan dan kelak akan disiksa dalam neraka (QS an-Nisa': ayat 140-143).


    9 min
  • Alergi Perubahan Itu Bentuk Arogansi

    “Tajuk Rasil”

    Senin, 13 Muharram 1445 H/ 31 Juli 2023


    Alergi Perubahan Itu Bentuk Arogansi

    Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation


    Segala sesuatu di alam semesta ini mengalami pergerakan (harokah) dan karenanya pasti mengalami perubahan (taghyiir). Yang konstan (tidak berubah) secara abadi hanya Dia yang mengendalikan pergerakan dan perubahan itu; Pencipta alam semesta (Rabb al-alamin). Realita ini menjadi bagian dari karakter alami semua yang tercipta (makhluk). Bahkan pada semua yang terikat oleh ruang dan waktu mengalami perubahan itu: “sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pada pergantian malam dan siang, ada tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi mereka yang berakal” (Al-Imran: 190).


    Perubahan yang merupakan bagian dari sunnatullah dalam penciptaan-Nya ini menjadikan semua makhluk harus sadar sekaligus antisipatif pada pergerakan dan perubahan itu. Kegagalan mengantisipasi atau sikap pembangkangan kepada pergerakan perubahan hidup menjadikan makhluk (manusia) hanya akan menjadi korban dari perubahan yang pasti terjadi. Dan perubahan yang tidak diantisipasi justeru berpotensi hadir dengan wajah yang menyeramkan.


    Bangsa-bangsa yang terlanjur berada pada zona nyamannya seringkali terbuai dan lupa untuk mengantisipasi dan menyambut perubahan itu. Pada akhirnya bangsa-bangsa itu terpaksa (atau dipaksa) oleh perubahan untuk berubah. Perubahan yang dipaksakan itu pada lazimnya akan hadir dengan wajah yang menyeramkan. Contoh terdekat adalah situasi Timur Tengah. Terlepas dari perlakuan buruk bangsa lain ( Amerika dan sekutunya) yang memporak porandakan negara-negara itu, dari Irak, Suriah, Libya dan negara-negara lainnya. Namun kehancuran itu juga disebabkan oleh kegagalan mereka mengantisipasi pergerakan dan perubahan dunia........................

    8 min
  • Inspirasi Keislaman Sinead O’Connor

    “Tajuk Rasil”

    Jumat, 10 Muharram 1445 H/ 28 Juli 2023


    Inspirasi Keislaman Sinead O’Connor


    Dunia musik berduka atas berita meninggalnya legenda ikonik, Sinead O’Connor, yang telah tiada pada usia 56 tahun. Sinead, yang memeluk Islam pada tahun 2018 dan mengambil nama Shuhada’ Davitt lalu menggantinya dengan nama Islami Shuhada Sadaqat. Shuhada meninggalkan jejak perjalanan hidup yang penuh warna setelah memutuskan untuk mengikuti agama barunya.


    Penyanyi yang melejit melalui lagu “Nothing Compares 2 U” meninggal dalam keadaan Muslim, setelah hijrah beberapa tahun yang lalu. Lagu “Nothing Compares 2 U” langsung menduduki puncak tangga lagu dari Eropa hingga Australia, hingga sempat merajai dunia dalam waktu cukup lama dan terjual hingga 7 juta copy di seluruh dunia. Wajar jika kemudian Sinead meraih Grammy Awards 1991, penghargaan musik tertinggi di dunia.


    Dia masuk Islam pada 19 Oktober 2018. Melalui akun Twiternya dia menulis, “Di sini aku mengumumkan bahwa aku bangga telah menjadi Muslim. Ini adalah keputusan alami dari perjalanan seorang teolog yang cerdas.”

    Selain merasa bangga, kala itu Sinead pun mengaku sangat bahagia. Melalui cuitannya, Sinead berterima kasih pada saudara sesama Muslim yang telah begitu baik menerimanya sebagai bagian dari mereka.

    "Aku berterima kasih pada semua saudara dan saudari Muslimku yang telah begitu baik menerimaku ke dalam Ummah (komunitas Muslim dunia)," cuitnya, dilansir laman npr.org.


    Saat itu, Imam dan teolog Islamic Center Irlandia serta Irish Muslim Peace and Integration Council (IMPIC) Sheikh Umar Al-Qadri turut mencuit bahwa Sinead telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Bahkan sang penyanyi pun berganti nama menjadi Shuhada. Nama baru itu berasal dari kata Arab Alquran "Shahid", yang dalam kitab suci digunakan secara umum yang berarti "saksi" dan dalam bagian-bagian tertentu untuk menggambarkan sosok "martir".


    Dalam sebuah acara talkshow Sinead pernah mengatakan bahwa perjalanan religinya cukup panjang. Bahkan awalnya ia memiliki peniliaian yang buruk tentang Islam. "Aku mulai mempelajari kitab suci dari berbagai agama, mencoba untuk menemukan kebenaran tentang Tuhan. Aku tidak pernah berpikir akan bergabung dengan agama manampun. Aku tidak tertarik dengan Islam karena banyak prasangka tentang Islam," kata Sinead dalam wawancara dengan The Late Late Show pada 2018.

    8 min
  • Sampai Kapan Pembakaran Alquran Dibiarkan?

    “Tajuk Rasil”

    Kamis, 9 Muharram 1445 H/ 27 Juli 2023


    Sampai Kapan Pembakaran Alquran Dibiarkan?

    Artikel Republika


    Pembakaran mushaf Alquran masih terus terjadi di Eropa. kelompok sayap kanan Denmark, Danske Patrioter, kembali melakukan pembakaran Alquran di depan gedung Kedutaan Besar (Kedubes) Irak di Kopenhagen, Senin lalu. Dilaporkan Aljazeera, sebelum dibakar, dua anggota Danske Patrioter terlebih dulu menginjak-injak Alquran. Setelah itu baru mereka membakarnya di sebelah bendera Irak yang juga diinjak-injak di tanah. Sama seperti pekan lalu, Pemerintah Irak meradang atas berulangnya aksi pembakaran Alquran di depan kedutaannya di Kopenhagen.


    Kemenlu Irak mengingatkan, aksi pembakaran kitab suci memungkinkan “virus” ekstremisme dan kebencian menimbulkan ancaman nyata bagi koeksistensi damai masyarakat. Insiden itu hanya yang terbaru dalam rentetan insiden di Denmark dan Swedia yang telah memicu badai diplomatik, yang sekarang mengancam hubungan negara-negara Nordik dengan dunia Muslim.


    Awal pekan ini, Salwan Momika, seorang imigran Irak yang tinggal di Swedia, juga melakukan penodaan terhadap kitab suci umat Islam, hanya beberapa minggu setelah dia membakar halaman-halaman kitab suci di luar masjid di Stockholm. Pada Januari, Rasmus Paludan, seorang pemimpin Denmark sayap kanan, juga membakar salinan Alquran di depan kedutaan Turki di Stockholm.


    Pakar Geopolitik Saudi Salman Al-Ansari mengatakan, jika pemerintah Swedia tidak mengubah undang-undangnya mengenai penyebaran kebencian, Organisasi Konferensi Islam (OKI) akan bertindak. Para pemimpin Muslim dan pemerintah di seluruh dunia Islam telah mengutuk pembakaran Alquran ini, yang telah diizinkan oleh otoritas lokal seolah-olah sejalan dengan hak atas kebebasan berekspresi.


    6 min
  • Kisah MUI, Wadah Ulama Tawadhu

    Majelis Ulama Indonesia telah memasuki usia ke 48 tahun sejak berdiri tanggal 26 Juli 1975. Dalam kurun waktu hampir lima dekade itu, MUI terus berkhidmat melakukan kerja nyata sesuai dengan perannya. Seperti, menjadi wadah para ulama sebagai pelindung umat (himayatul ummat) dan pelayan umat (khodumul ummat) sehingga terwujud penguatan umat (taqwiyatul ummah).

    Melansir dari situs mui.or.id, berdirinya MUI dilatarbelakangi oleh gagasan menyatukan para ulama dalam wadah yang akan membahas perkara umat dan mengeluarkan fatwa serta praktik-prakitk ajaran Islam. MUI menjadi lembaga yang membimbing, membina, dan mengayomi umat Islam dengan anggota yang terdiri dari ulama, zuama (pemimpin organisasi), dan cendekiawan muslim. MUI membantu mencari solusi atas permasalahan yang berkaitan dengan keumatan, termasuk permasalah baru yang sifatnya kekinian. Tujuannya adalah untuk menyatukan gerak dan langkah umat Islam Indonesia demi mewujudkan cita-cita bersama.


    Ada satu kisah menarik mengenai sejarah dibentuknya MUI dikaitkan dengan dua sosok penting, yaitu Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) dan Kiai As’ad Syamsul Arifin (tokoh NU). Ahmad Husein dalam laman resmi MUI Jawa Timur menuliskan, “Kira-kira pada tahun 1975, pemerintah menggelindingkan wacana pendirian lembaga ulama. Info itu pun beredar dengan cepat di masyarakat, hingga sampai ke Kiai As’ad Syamsul Arifin yang menerima info dari Gubernur Jawa Timur, Moh. Noer. Dan ternyata, Kiai As’ad juga diminta hadir dalam rapat awal pembentukan MUI ini.


    Turut hadir dalam rapat itu, Buya Hamka, Kiai Syukri Ghazali, dan ulama-ulama lain. Ketika rapat sedang berjalan cukup alot, tiba-tiba Kiai As’ad bertanya mengenai status MUI. Adalah Mukti Ali, Menteri Agama yang pada waktu itu memimpin rapat menjawab bahwa lembaga ini akan menjadi wadah para ulama di Indonesia.


    Mendengar jawaban itu, Kiai As’ad menjawab dengan nada diplomatis: “Lalu siapa di antara kita ini yang ulama? Kalau saya jelas bukan, barangkali Buya Hamka itu yang ulama ya?”

    Mendengar pernyataan Kiai As’ad itu, Buya Hamka menimpali: “Wah, kalau Kiai As’ad saja bukan ulama apalagi saya!”


    Dari dialog pendek itu, tampak ketawadhuan Kiai As’ad dan Buya Hamka. Mereka dengan sangat tegas, mengaku bahwa dirinya bukan ulama. Khusus kiai As’ad, dalam beberapa kesempatan, memang berkali-kali menolak disebut ulama. Oleh karena itu, tidak heran setelah Muktamar NU tahun 1984, Mahbub Djunaidi dan Chalid Mawardi hendak meminta izin untuk menuliskan sejarah hidupnya, Kiai As’ad menolak. Dan beliau mengatakan dengan nada tegas, “Buat apa cerita hidup saya ditulis? Apanya yang mau ditiru dari orang seperti saya? Saya tidak ingin membaca cerita hidup saya sendiri? Kalau saya membaca riwayat hidup saya sendiri bisa-bisa telinga saya lebar dan saya bisa riya, padahal riya itu maksiat, maksiat itu haram dan haram itu dosa.”


    8 min
  • Media dan Perjuangan Palestina

    Dalam beberapa tahun terakhir ini, masyarakat Indonesia jika membahas mengenai penjajahan Palestina oleh Israel memunculkan banyak pendapat dan argumentasi. Dari mulai sikap pro terhadap Palestina sampai ada yang pro terhadap Israel. Salah satu yang mempengaruhi sikap beragam itu disebabkan oleh asupan informasi yang diterima oleh masyarakat. Pihak yang sangat berperan dalam penyebaran informasi disini tentu saja media massa. Apalagi peran penyebar informasi sudah makin disaingi oleh media baru dalam bentuk media sosial.


    Menyadari hal ini, kita perlu mengingat kembali bagaimana para jurnalis seluruh dunia sebenarnya pernah beberapa kali mengadakan pertemuan untuk membahas bagaimana peran media massa dalam pemberitaan Palestina. Salah satunya pada akhir tahun 2018, diselenggarakan “Konferensi Media Dunia” membahas isu Palestina di Istanbul, Turki. Sebuah konferensi besar yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global tentang Palestina. Forum ini diselenggarakan oleh Forum Internasional Palestina untuk Media dan Komunikasi yang berbasis di Beirut. Konferensi ini menyatukan ratusan jurnalis,penulis dan akademisi dari sekitar 60 negara di seluruh dunia.

    Salah satu narasumbernya, adalah pakar kajian zionisme, Dr. Azzam Al Tamimi. Dalam pemaparannya yang mengusung tema “Mengembangkan Wacana Media Global tentang Palestina”, beliau mengatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh media-media internasional terhadap isu Palestina harus diperbaiki dan diubah sehingga mampu membantu perjuangan Palestina.


    Azzam al-Tamimi yang juga merupakan seorang aktivis dan peneliti Palestina, mengatakan permasalahan dari kekejaman gerakan Zionisme dan kekerasan yang terjadi di Palestina harus tetap diangkat dan terus dipantau oleh media massa setiap saat. Dia menambahkan bahwa wacana pro-Palestina tidak hanya menyoroti pentingnya menciptakan sebuah entitas politik Palestina belaka atau negara Palestina, tetapi asal masalah yang mengakibatkan rezim etnis Zionis. Retorika ini harus digunakan untuk melawan gerakan internasional melawan gerakan Zionis seperti melawan gerakan rezim Apartheid di Afrika Selatan.


    Narasumber lainnya adalah Wakil Direktur Jenderal Kantor Berita Turki Anadolu Agency Metin Mutanoglu. Dia mengatakan, apa yang terjadi di Palestina akan selalu muncul di media Turki. “Sebagai orang Turki, dari berita yang disajikan kami merasakan peluru-peluru Israel mengenai rumah kami ketika tentara Zionis menembakkannya ke warga Palestina di Gaza,” pungkasnya seperti dikutip dari kantor berita Anadolu Agency.


    Dia pun memastikan apa yang terjadi di Palestina memiliki efek secara langsung di negaranya. Menanggapi reaksi masyarakat internasional terhadap penderitaan Palestina, Mutanoglu berkata: “Orang-orang Palestina telah menderita selama lebih dari enam dekade, tetapi masyarakat internasional tidak peduli, karena mereka lebih suka menjaga kepentingan mereka sendiri dengan mengorbankan bantuan untuk orang-orang Palestina”. Untuk meningkatkan retorika internasional mengenai perjuangan Palestina, ia mendesak: “Kita seharusnya tidak hanya menulis cerita tentang orang-orang Palestina sebagai orang yang tertindas, tetapi kita harus mencerminkan perjuangan Palestina dengan orang-orang yang memiliki budaya yang kaya, memiliki sejarah yang panjang dan memiliki harapan yang tinggi untuk merdeka,”

    7 min
  • Kudeta Airlangga, Berhasilkah?

    “Tajuk Rasil”

    Senin, 6 Muharram 1445 H/ 24 Juli 2023


    Kudeta Airlangga, Berhasilkah?

    Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa


    Jatuh tertimpa tangga, itulah kira-kira orang memprediksi nasib Airlangga Hartarto. Ketua umum partai Golkar sedang berada di ujung tanduk. Santer isu Airlangga mau dikudeta. Bagaimana caranya? Dijadikan tersangka.


    Airlangga tersangka, kelar nasibnya. Kejaksaan Agung sudah memanggilnya. Kasus pemberian fasilitas ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan impor garam dianggap berpotensi menjerat menteri ekonomi ini.


    Kasus hukum elit seringkali tidak lepas dari peran politiknya. Ini benar-benar salah kaprah. Tapi, itulah yang marak terjadi saat ini. Gak loyal, kasus hukumnya dibongkar. Maka, dengan sendirinya sang tokoh tersingkir. Inilah politik sandera yang terus dirawat hingga hari ini.


    Diduga, ada dua kesalahan Airlangga di mata istana. Pertama, Airlangga dianggap tidak berhasil mengkonsolidasikan kader Golkar untuk mendukung capres istana. Airlangga lemah, tidak mampu membuat Golkar bulet satu suara mendukung capres penguasa.


    Kelemahan kedua, ada kekhawatiran, injury time Airlangga belok ke Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP). Istana takut Airlangga mendukung Anies Baswedan. Bagi istana, ini sangat berbahaya. Karena bisa memperkuat koalisi partai pengusung Anies.


    .............................................

    5 min

About Radio Seila FM

From the publisher's feed

Menyajikan sederetan program unggulan on air