
Sign up to save your podcasts
Or


Survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan September 2020 lalu menemukan 17 persen orang Indonesia yakin tidak akan terpapar Covid-19. Angka tersebut setara dengan 44,5 juta orang dari jumlah penduduk Indonesia saat ini. Keyakinan yang keliru ini tentu sangat membahayakan. Apalagi bila melihat statistik 85 persen penderita Covid-19 masuk dalam kelompok orang tanpa gejala (OTG). Kombinasi keduanya sungguh akan menjadikan OTG sebagai "pembunuh dalam diam" bila mereka menularkan pada orang-orang yang punya penyakit bawaan (komorbid) seperti hipertensi, diabetes, dan jantung yang memiliki risiko fatal bila terjangkit Covid-19. Jadi, tidak ada pilihan bagi kita untuk menghentikan penularannya dengan cara mengubah perilaku sesuai protokol.
Kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini di Ruang Publik KBR yang dipandu oleh Hery Trianto, Ketua Bidang Komunikasi Publik Satuan Tugas Penanganan Covid-19, menghadirkan narasumber Doni Monardo, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19/Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Pembangunan yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup merupakan salah satu penekanan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2020 hingga 2024. Tujuan pembangunan yang berwawasan lingkungan ini akan berhasil jika ada sinergi antar level pemerintahan dari pusat ke daerah, yang salah satu indikatornya adalah adanya transfer anggaran berbasis lingkungan yang memadai dari pemerintah pusat ke daerah. Pada akhir September lalu pemerintah dan DPR telah mengesahkan UU tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2021.
Lalu sejauh mana konsep transfer fiskal berbasis ekologi dari pusat ke daerah diakomodir dalam APBN? Dan bagaimana postur APBN 2021 yang dikaitkan dengan konsep Transfer Anggaran Nasional Berbasis Ekologi (TANE)?
Kami bahas dalam #RuangPublikKBR bersama: Roy Salam, Direktur IBC (Indonesia Budget Center) dan Tenty N. Kurniawati, Direktur Perkumpulan IDEA (Ide dan Analitika Indonesia) Yogyakarta.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Menjaga sistem imunitas atau daya tahan tubuh saat ini sangat penting terutama di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini. Bila daya tahun tubuh berjalan baik bisa melindungi tubuh dari serangan penyakit. Tapi ada kondisi dimana sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuh sendiri. Ini yang disebut autoimun. Â Apa langkah yang bisa dilakukan orang dengan autoimun atau Odamun agar tetap sehat dan bisa beraktiftas dengan baik di tengah pandemi ini? Untuk membahas hal ini telah bersama kita dalam Ruang Publik KBR pagi ini: Dokter Alvina Widhani, Dokter Spesialis Penyakit Dalam.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim memperingatkan bahwa kita hanya punya waktu sampai tahun 2030 untuk mencegah terjadinya iklim ekstrem. Imbauan ini disampaikan karena pemanasan global terjadi dengan maksimum kenaikan suhu 1,5 derajat celsius. Kayaknya kecil ya, 1.5 derajat Celcius. Tapi dampaknya ini luar biasa lho. Pemanasan global diatas 1,5 derajat celsius akan menambah risiko bencana alam ekstrem, seperti cuaca panas, kekeringan, banjir yang disebabkan curah hujan ekstrem, serta mencairnya daratan es di kutub utara.
Sementara itu kita mengetahui banyak sekali penyebab terjadinya perubahan iklim seperti Efek gas rumah kaca, Kerusakan fungsi hutan dan Penggunaan karbon (CFC) yang tidak terkontrol. Pelakunya: harus tunjuk tangan nih -- kita sendiri. Lantas bagaimana perubahan iklim seharusnya dapat dicegah dan kampanye apa yang dapat disampaikan ke masyarakat dalam mengurangi risiko perubahan iklim?
Kami akan hadirkan perbincangan ini sekaligus mengenalkan podcast baru KBR, Climate Tales bersama, Koordinator Konten Internews Earth Journalism Network, Florence Armein, Produser Podcast Climate Tales KBR, Friska Kalia dan Climate Leader Associate Researcher at Institute of Sustainable Eart dan Resources, Universitas Indonesia, Lia Zakkiyah.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Pandemi COVID-19 berdampak pada berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengemukakan sebanyak 68 juta peserta didik mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga tingkat SMA di Indonesia ikut terdampak, dan mereka terpaksa belajar dari rumah akibat pandemi Covid-19. Hal ini melahirkan berbagai inovasi yang dilakukan oleh tenaga pendidik ditengah pandemi. Tujuannya tentu saja untuk memastikan kegiatan belajar-mengajar tetap berjalan efektif, walaupun diterapkan pembelajaran jarak jauh. Terobosan kegiatan belajar mengajar yang sudah dilakukan, contohnya seperti di Kabupaten Bandung Barat dan Provinsi Bali akan kita bahas pagi ini.
Apa saja terobosan yang dilakukan? Dan seberapa efektif terobosan tersebut di bidang pelayanan pendidikan? Akan dibahas dalam Ruang Publik KBR bersama dua narasumber Asep Rahmat - Koordinator Pengawas Sekolah, Dinas Pendidikan, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat dan I Wayan Abyong, S.Kom M.Kom - Ketua tim Melajah.id, Ketua MGMP TKI Bali, guru SMKN 1 Bangli, Provinsi Bali.
Pembangunan berkelanjutan tidak hanya mengedepankan aspek ekonomi saja, tetapi pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup juga harus diperhatikan. Tanpa adanya pertimbangan yang bijak untuk mengelola dan melestarikan lingkungan hidup, pembangunan dapat menggerus kondisi lingkungan Indonesia yang sudah dipandang mengkhawatirkan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, sangat ditekankan mengenai keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup. Jika tidak, tahun 2045 diperkirakan luas tutupan hutan primer di Indonesia tinggal tersisa 45,8 juta hektar atau 24% dari total luas daratan Indonesia. Hal ini dapat memicu terjadinya kelangkaan air baku, khususnya di pulau-pulau yang memiliki tutupan hutan sangat rendah seperti Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Untuk itu, diperlukan upaya untuk mendukung pembangunan yang berwawasan lingkungan, di antaranya melalui mekanisme transfer fiskal yang berbasis pada ekologi yang diharapkan dapat memberikan insentif bagi daerah, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, sampai ke desa-desa.
Seperti apa inisiatif skema Transfer Anggaran Nasional Berbasis Ekologi (TANE) dalam mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan? Akan kami bahas bersama Maya Rostanty, M.A (Senior Adviser PATTIRO) dan Saeful Muluk (Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Pendanaan Lingkungan Hidup)
Tahapan Pilkada Serentak 2020 telah memasuki masa kampanye yang di mulai pada 26 September lalu. Pelaksanaan protokol kesehatan menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan para peserta Pilkada Serentak tahun ini mengingat pesta demokrasi ini berlangsung di tengah pandemi Covid-19. Pemerintah bersikukuh melanjutkan Pilkada Serentak 2020 meski ada dorongan penundaan oleh beberapa pihak. Mereka yang ingin Pilkada Serentak 20202 ditunda khawatir dalam proses pilkada ini akan terjadi pengumpulan massa yang akan berpontensi memperluas penyebaran Covid-19 - di mana kenaikan harian kasus positif lebih dari 4000 kasus.
Apa langkah yang harus dilakukan untuk memastikan proses Pilkada Serentak 2020 hingga hari pemungutan suara pada bulan Desember tidak memperparah kasus Covid-19 di tanah air? Untuk membahas hal ini telah bersama kita pagi ini di Ruang publik KBR, 2 narasumber yaitu: Fritz Edward Siregar, Anggota Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU) RI dan Khoirunnisa Nur Agustyati, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Kelompok terpinggirkan atau marjinal seringkali dipandang sebelah mata dalam kehidupan sehari hari. Dikutip dari penelitian Sosial Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya, Diskriminasi terhadap kelompok marjinal terjadi karena kelompok ini masih dianggap tidak memiliki keahlian dan berpotensi melakukan tindak kejahatan.
Namun anggapan ini tidak berlaku bagi Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun. Kelompok ini justru melibatkan masyarakat terpinggirkan seperti bekas warga binaan atau napi hingga disabilitas dalam mengembangkan usaha. Seperti apa jerih payah kelompok ini dalam mengangkat derajat masyarakat terpinggirkan? Untuk mengetahui penjelasannya, kami akan hadirkan perbincangan Jurnalis KBR, Vitri Angreni bersama Ketua Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun (YIIM), Chrisbiantoro dan Gerakkan Kebaikan Berkelanjutan dari Institute Sarinah, Eva Sundari.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Kelompok minoritas sering mendapat perlakuan yang diskriminasi, khususnya dalam memperoleh hak dalam kehidupan sehari hari. Diskriminasi itu beragam wujud seperti fasilitas umum yang tak raham disabilitas hingga diskriminasi dalam mengekspresikan diri.
Upaya pemenuhan hak untuk kelompok minoritas inipun terus disuarakan melalui beragam acara, seperti Festival Inklusif 100%. Melalui kegiatan ini sejumlah kelompok seksual minoritas, disabilitas hadir berbagi pengalaman serta gagasan khususnya agar dapat mewujudkan negara yang setara. Lantas apa saja yang digaungkan dalam Festival Inklusif 100%?
untuk mengetahui penjelasannya, kami akan hadirkan perbincangan rekan Vitri Angreni bersama penggagas kegiatan yang juga Program Manager Sanggar Inovasi Desa, Aditya Mahendra Putra serta Volunteer Yayasan Kebaya Yogyakarta, Rully Mallay.
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
Pelayanan kesehatan yang memadai merupakan fasilitas yang sangat dibutuhkan masyarakat, terlebih lagi di masa pandemi ini. Namun sayangnya, jumlah angka infeksi virus corona di Indonesia terus meningkat, dan juga pelayanan kesehatan di rumah sakit makin kewalahan menangani pasien positif Covid-19. Padahal, selain kasus Covid, layanan kesehatan juga dibutuhkan bagi masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan lainnya. Dan pelayanan tersebut menjadi terganggu akibat pandemi virus corona.
Ternyata, sejumlah rumah sakit ataupun puskesmas telah menerapkan strategi agar akses masyarakat yang memerlukan layanan kesehatan tidak terhambat akibat pandemi. Contohnya adalah RSUD Tobelo, di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku yang membuat inovasi bernama SALAWAKU. Serta Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta yang menciptakan Curkelin (Curhat Konsultasi dengan Dokter via Telemedicine).
Seperti apa terobosan ini? Dan apa saja yang sudah dilakukan pelayanan kesehatan agar tetap memberikan yang terbaik di saat pandemi covid-19? Kita akan perbincangkan lebih dalam soal ini bersama dua narasumber, Martinus Paulus, S.Kep, MARS, selaku Kepala Bidang Keperawatan, RSDU Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara dan dr. Elvira Kamarrow Putri dari Puskesmas Kec. Kebon Jeruk, DKI Jakarta
*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]
From the publisher's feed

3 Listeners

1 Listeners