Skoyers, apakah kalian menciumnya? Ada aroma tidak sedap di udara. Udara diam tidak bergerak. Perahu terombang-ambing ombak sedangkan geladak sudah bocor. Bau ini bau yang kita kenal. Sering kita jumpai waktu, secara tidak sengaja, kita melihat di sela-sela pintu ada mayat cicak sudah mulai mengering dan rata dengan cat. Hanya saja, terjepit di sela-sela pintu bukan cicak, tetapi sastra, Skoyers. Belum menjadi rata, tapi, fungsi kaki sudah hilang: Membusuk. Tak lama lagi, Skoyers. Sastra hanya bisa berjalan pincang dikejar kematian. Kapan waktu sastra tiba? Kita akan berdoa dalam duka pada kesempatan titikdua kali ini. Semacam madah bagi sastra yang waktunya tidak lama lagi, Skoyers.
Titikdua segalanya tentang sastra pernah mengundang Afrizal Malna (@malna.a) dan Nazim Cica Machresa (@machresa) ke dalam sebuah duel antara sastra dan kematian, sastra dan kecerdasan artifisial. Kita semua sudah mengenal Afrizal Malna, sehingga penjelasan menjadi mubazir. Sedangkan Nazim Machresa adalah nabi kecerdasan buatan, Skoyers. Ia datang membawa berita buruk, terutama bagi Skoyers yang barusan mencoba-coba peruntungan di dunia sastra. Bahwa sastra akan mati. Kami menurunkan arsip perdebatan itu di akun podcast @rururadio di platform Spotify. Meluncur ke sana kini dan nanti, wahay Skoyers!!