
Sign up to save your podcasts
Or


Kesombongan merupakan awal kehancuran. Inilah yang dialami oleh bangsa Yehuda. Mereka merasa aman karena berkoalisi dengan sekutu-sekutunya dan menyembah allah-allah asing. Akibatnya, mereka mengalami masa yang berat dengan dibuang ke Babel. Hukuman itu diberikan oleh Tuhan untuk menghancurkan kepercayaan diri bangsa Yehuda yang terlalu tinggi dan membuat mereka bertobat (29:11-13). Hidup susah di pembuangan menyadarkan mereka untuk kembali mengandalkan Tuhan, satu-satunya Allah yang berdaulat.
Apa yang paling Anda sukai dan inginkan dalam hidup Anda? Jawaban Anda menyiratkan hasrat terdalam hati Anda. Mungkin ada yang memikirkan anak-anak, pasangan hidup, hobi, kesehatan, dan sebagainya. Tetapi, adakah yang memikirkan Allah dan menikmati relasi dengan-Nya? Inilah hasrat terdalam penulis Mazmur 84.
Di tengah himpitan persoalan hidup yang melanda, pengharapan merupakan sebuah kekuatan yang memampukan seseorang untuk tetap bertahan. Ketika seseorang sudah kehilangan pengharapan, maka dia bisa melakukan tindakan yang nekat dan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Orang-orang Kristen sesungguhnya adalah orang-orang yang memiliki pengharapan yang kuat di dalam jaminan Tuhan (Rm. 15:13). Sayangnya, tidak sedikit orang Kristen yang hidup tanpa pengharapan sehingga kalah oleh keadaan.
Kabar Baik semakin pudar, bahkan di kalangan orang-orang Kristen sendiri. Pengaruh materialisme, pandangan bahwa memiliki materi dan kenyamanan jasmani lebih penting dibanding spiritual, semakin merebak. Oleh sebab itu, apa-apa diukur dengan materi dan kenyamanan jasmani. Kasih Allah dianggap kurang menarik karena tidak secara otomatis menghasilkan keuntungan jasmani. Akibatnya, banyak pengkhotbah yang terjebak untuk “merekayasa” khotbahnya dengan hal-hal yang bukan Injil supaya lebih didengar orang. Fenomena semacam ini semakin menjerumuskan banyak orang Kristen untuk memahami kasih Allah secara dangkal. Mari kita pelajari bagaimana Roma 5:6-8 meruntuhkan pandangan yang keliru tentang kasih Allah.
Tawaran keselamatan sebenarnya sudah diwartakan sejak Perjanjian Lama. Misalnya, dalam kisah tentang patung ular tembaga pada zaman Musa ini. Ketika itu, bangsa Israel masih mengembara di padang gurun dan mereka sedang dalam perjalanan dari gunung Hor. Karena tidak ada roti dan air, mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa (ay. 5). Dengan mudahnya, mereka melupakan mukjizat-mukjizat yang telah Tuhan lakukan sejak di Mesir. Akibatnya, Tuhan mengirim ular-ular berbisa untuk memaguti mereka sehingga banyak orang Israel yang mati.
Tahukah Anda bahwa pekan terakhir dalam kehidupan Tuhan Yesus menempati porsi yang besar dalam kitab-kitab Injil? Narasi tersebut diceritakan dalam Matius 21-28 (33% dari Injil Matius), Markus 11-16 (40% dari Injil Markus), Lukas 19-24 (25% dari Injil Lukas), dan Yohanes 12-21 (50% dari Injil Yohanes). Besarnya porsi narasi hari-hari menjelang penyaliban-Nya ini menyiratkan bahwa hidup-Nya memang dijalani untuk menggenapi kasih Allah dalam menyelamatkan orang-orang berdosa. Sayangnya, kasih Allah yang luar biasa besar ini sering dipandang rendah oleh manusia, seperti apa yang tertulis dalam Yoh. 12:1-8 ini.
Ketika mendengar kata “umat yang kudus,” apa yang ada dalam bayangan kita? Apakah orang-orang yang derajatnya hampir sama dengan malaikat, tidak pernah berbuat dosa? Atau, orang-orang yang ekstrim, antisosial dan tidak mau bergaul dengan yang lain? Kekudusan sering disalahartikan, dan juga diabaikan, oleh orang-orang Kristen. Akibatnya, tidak sedikit di antara orang Kristen yang hanya merasa senang karena telah menerima anugerah keselamatan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari sama dengan orang lainnya.
Banyak tokoh dunia yang terkenal karena perkataannya, tetapi tidak ada yang setara Kristus. Perkataan-Nya tidak hanya memiliki makna yang dalam, tetapi juga memiliki kuasa. “Aku haus!” merupakan perkataan kelima dari tujuh perkataan menjelang kematian-Nya yang tercatat di dalam Injil. Perkataan ini merupakan ironi, peristiwa yang bertentangan dengan apa yang diharapkan. Pemilik seluruh alam semesta, kok meminta minum? Dia yang menawarkan air hidup (4:14), mengapa justru malah dehidrasi kekurangan air? Seperti halnya ironi-ironi lainnya dalam Injil Yohanes, perkataan ini juga menyatakan makna teologis yang penting.
Masa tua yang seperti apa yang kita impikan? Ada kutipan nyeleneh yang berkata, “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.” Kelihatannya enak. Tetapi tidak sedikit kaum lansia yang justru sering uring-uringan bahkan depresi karena mengalami perubahan hidup yang drastis. Misalnya, kerja tubuh yang semakin melambat, kesepian, atau ditinggalkan orang yang disayangi.
Maka dari itu, penting sekali bagi kita untuk memperhatikan cara kita menapaki usia.
Masihkah gereja relevan (penting/berguna) dalam dunia yang serba canggih seperti sekarang ini? Permasalahan hidup yang semakin kompleks dan kemajuan zaman membuat banyak orang tidak lagi memiliki gairah terhadap hal-hal rohani. Di kalangan Kristen, gereja banyak kehilangan anggotanya, terutama dari kalangan anak muda (baca saja apa yang dialami gereja-gereja di Eropa dan gereja-gereja tradisional di Indonesia). Akibat perkembangan teknologi informasi, orang mudah bosan sehingga mudah pindah gereja.
From the publisher's feed