
Sign up to save your podcasts
Or


SUARA yang kita dengar kali ini berasala dari Theresia Yenny atau biasa dipanggil sebagai Ci Yenny. Seorang pelayan Tuhan yang akan menginspirasi kita melalui proses hidupnya.
Masa lalu keluarga, khususnya figur seorang "Papa", cukup membuat Ci Yenny merasakan sakit baik secara fisik maupun mental yang berujung kepahitan. Namun, hidup baru dan pengenalan akan Tuhan memampukannya untuk melepas pengampunan kepada sang papa.
Pengenalan akan Tuhan inilah yang mendorong Ci Yenny untuk mengambil bagian sebagai penari dari masa mudanya hingga saat ini. Pergantian generasi, memiliki seorang anak, dan stigma orang-orang terhadap usianya tidak menghentikan passion dan kecintaannya terhadap Tuhan untuk terus menari. Hal inilah yang menjadikan Ci Yenny memiliki panggilan "Mamanya Penari".
Pemulihan yang telah dialami membuat papanya mengenal Tuhan di penghujung hidupnya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah mengampuni keluarga masing-masing?
SUARA yang kita dengar kali ini berasal dari Widya Andriana yang meyakini bahwa pelayanan adalah tentang memberi diri untuk Tuhan dan orang lain, baik sebagai pelayan Tuhan maupun pelayan masyarakat.
Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, Widya Andriana belajar untuk menjadi seorang dokter merupakan suatu panggilan dengan memberi diri pada masyarakat. Walaupun banyak stigma di masyarkat yang berkata kalau mau cari uang, ya jadi dokter saja. Tapi nyatanya? Menjadi dokter justru harus berkorban uang dan bahkan diri sendiri demi orang lain. Begitupun sebagai pelayan Tuhan.
Menurutnya, kita sebagai "produknya Tuhan", setiap kita harus sadar bahwa kita dibentuk pasti memiliki tujuan dan dalam perjalanan tujuan itu pasti ada tantangan. Entah orang yang kita layani mungkin sudah bosan ataupun teman sepelayanan kita yang mulai menyebalkan. Tetapi kembali lagi kepada diri kita sendiri, apa makna pelayanan bagi kita?
SUARA pertama yang kita dengarkan kali ini berasal dari Kak Welly Kosasih yang meyakini bahwa panggilannya adalah menjadi sempurna seperti Kristus yang adalah sempurna.
Beranjak dari kisah hidup Kak Welly saat SMA di mana ia pertama kali mengalami Tuhan dalam hidupnya, beliau percaya bahwa kasih yang ia rasakan juga harus dibagikan kepada orang lain bahkan saat-saat sulit seperti ini. Tidak harus menjadi seorang pendeta untuk bisa mengikut Kristus, tetapi bagaimana beliau bisa menjadi berkat melalui apapun yang dikerjakannya. "Kita harus berenang melawan arus", katanya. Arus dunia yang ada mungkin membuat kita basah karna tidak berada di bawah payungNya, seringkali membuat kita terbawa dalam kemegahan dunia. Mumpung masih muda, masih banyak yang harus dicapai. Tapi apakah semua pencapaianmu adalah semua untuk Kristus? Ketika sasarannya Kristus, pasti sandarannya Yesus dan panggilan hidup yang Tuhan beri hanya menjadi sarana bagi kita untuk mencapai sasaranNya.
From the publisher's feed