
Sign up to save your podcasts
Or


Sukses diusia muda, itulah kacamata Nextgen terhadap Abimanyu. Ia berhasil membuktikan kegagalannya dahulu yang sempat membuatnya terpuruk, saat ini membuahkan hasil kesuksesan melalui jalur Tuhan yang ia yakini, yaitu IT.
Menurut Abimanyu, kesuksesan itu tergantung pada proses yang dijalani dan tidak mungkin dapat dicapai dengan cara yang instan. Semua tergantung dari kita, apakah mau melakukan pekerjaan kita dengan maksimal atau setengah-setengah?
Walau terkadang, kemaksimalan kita tidak diapresiasi oleh orang sekitar, namun yang pasti kesuksesan akan terus mengikuti kemaksimalan kita
Ketika kita sudah berencana banyak tentang jalan hidup kita, lalu kegagalan yang kita terima, wajar saja rasanya bila kita kecewa. Tapi ini bukan tentang kegagalannya, namun bagaimana kita menanggapi sebuah kegagalan. Abi yang sempat merasa marah, kecewa, bahkan menyalahkan orang tua atas jalan hidup yang ia lalui, akhirnya memilih untuk mengikuti alurnya Tuhan.
Menurutnya dulu, teladan dari seorang ayah dalam menjalani profesinya harus ia lanjutkan. Sampai pada titik Abi menyadari itu bukanlah satu-satunya cara menjadi penyalur berkat bagi orang lain. Ya, benar saja saat kita ikut maunya Tuhan, Tuhan tak akan membiarkan diriNya ‘berhutang’ pada kita.
Anak muda yang hidup jauh dari orang tua dituntut harus mampu mempertahankan komitmen yang ditanamkan dalam keluarga. Sama halnya dengan Nadya yang harus meninggalkan rumah 6 tahun lamanya untuk menempuh pendidikan kedokteran, hingga akhirnya ia pun berhasil menyandang gelar dokter di usianya yang ke 23 tahun. Sungguh membuat bangga orang tua, karena Nadya merupakan dokter pertama di keluarganya.
Pencapaiannya ini tidaklah semudah yang diucapkan, Nadya banyak belajar untuk melibatkan Tuhan di setiap keputusan yang ia ambil. Serta sikap disiplin yang diajarkan di rumah, terus ia jalankan di lingkungan perantauannya.
Bagi seorang Nadia cita-cita menjadi dokter merupakan amanat dari sang kakek yang akhirnya membuat Nadia berjuang untuk menyelesaikan studi kedokterannya.
Banyak suka duka yang ia alami dari mulai moment membantu melahirkan, kasus orang yang mengidap kanker hingga ketika kematian dari pasiennya yang menghantarkan kedukaan dibenak Nadya. Hal ini kemudian menyadarkannya bahwa ia harus sungguh-sungguh karena berkaitan dengan nyawa seseorang
Dari semua hal yang telah Nadia jalani ternyata ada hal yang mengganggu dirinya tentang pola pikir masyarakat Indonesia. Hal ini mengenai banyak penyakit yang mudah dicegah tetapi malah banyak diderita di kalangan masyarakat.
Kisah sebelumnya yang menceritakan Mul mengalami bully sejak SMP, siapa sangka saat SMA ia juga diharuskan hidup mandiri karena keadaan keluarga. Dari hasil berjualan pulsa, ia mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Statusnya sebagai seorang anak bungsu tidak membuatnya merasa harus mendapatkan perhatian lebih dari orang tua.
Pengalaman hidup yang terus menerus membentuk kepribadian seorang Mul membuat ia mengubah pola pikirnya. Mul percaya bahwa Tuhan yang dulu pernah menolongnya adalah Tuhan yang sama yang akan terus menolongnya.
Bullying kerap menjadi pengalaman yang harus dialami setiap anak muda, tak terkecuali Mulyoto yang kita disapa Mul. Ia mengalami bullying sejak masa SMP oleh teman sebayanya, bahkan hingga ia sudah beranjak dewasa saat ini. Tak pernah lepas dari kasus bully, Mul merasa dirinya adalah seorang yang memang pantas dibully, ia pun tidak pernah memberitahu keluarga tentang masalahnya ini. Namun melalui pengalamannya itu, Mul akhirnya membuktikan dirinya bahwa ia mampu berprestasi, pembuktiannya ini berangsur membungkam bullyan menjadi pujian. Mul juga berusaha memandang segala sesuatunya dari perspektif Tuhan bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan dirinya sebagai produk yang gagal.
Sudah menerima banyak orderan kue sejak masa kuliah, walaupun tak sebanding dengan pengeluaran yang mengharuskannya untuk pulang pergi antara Bekasi dan Bandung, Gaby malah menganggapnya sebagai sebuah kesempatan untuk terus berlatih memperkuat skillnya dalam membuat kue. Hingga sampai saat ini, Gaby menyadari bahwa segala sesuatu yang ia lakukan merupakan prioritas baginya dan segalanya hanya untuk Tuhan.
Lika-liku hidupnya bersama keluarga tak semudah kelihatannya, dimana kedua orang tua Gaby pernah mengalami sakit, yang pastinya berpengaruh pada kondisi psikis Gaby. Dari pengalamannya tersebut, ada hal yang mampu merubah cara pandang Gaby terhadap orang lain yang mengalami masa-masa berat seperti dirinya. Gaby bersyukur dengan ia mengalami keadaan seperti ini membuatnya menjadi pribadi yang lebih berserah pada Tuhan serta lebih siap mengalami hal-hal yang mungkin terjadi kedepannya.
Jika sang kakak tetap bertahan di komunitas remaja Firecom, Gaby tanpa ragu untuk berada diatas satu tingkat kakaknya, yaitu komunitas pemuda, Light Generation. Sederhana saja, Gaby beralasan tidak menyukai genre musik remaja masa kini, ia mengaku lebih menyukai suasana syahdu saat bernyanyi untuk Tuhan.
Walaupun begitu, hal ini tidak mengurangi semangatnya untuk melayani Tuhan. Bahkan Gaby tidak pernah menolak ambil bagian melayani selagi ia bisa mengerjakannya, sehingga pada akhirnya pelayanan menjadi bagian dari hidupnya. Menurutnya, hidup sudah nyaman dan cukup, sehingga tidak ada lagi yang perlu dicari dalam
Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan yang berkehendak. Meskipun rasanya tidak mungkin, semua pasti terjadi. Demikian hidup seorang Andri. Dari yang terlilit hutang menjadi lunas, dari yang bukan siapa-siapa menjadi karyawan terbaik. Cara Tuhan menjaga hidupnya sedetail itu. Pas dan presisi. Perjalanan karir dan pertobatannya membuat ia tahu bahwa Tuhan selalu menjaga dalam jalurNya.
From the publisher's feed