
Sign up to save your podcasts
Or


Kata siapa? Mengapa bisa begitu yakin akan masa depan yang bukan milik kita? Lepaskan kebahagiaan yang harus lepas. Percaya, nanti akan datang bahagia baru yang mengalahkan puncak sebelumnya.
Privilese bukan aib. Ia anugerah, dan sudah seharusnya disyukuri, dirayakan, dijadikan modal agar kebaikan berlipatganda.
Kalau 'baik' itu subjektif, haruskah kita pilih-pilih agar terhindar dari kecewa karena respons negatif orang? Sebab baik untuk satu, belum tentu baik untuk lainnya, kan?
Kita begitu mudah menilai sesuatu, terlebih ketika hal itu di luar diri sendiri. Tapi kenyataannya, belum tentu demikian ketika harus kita yang menjalani.
Kalau percaya rezeki sudah ada yang mengatur, mengapa bertanya-tanya?
Jangan karena media sosial, kita berubah jadi monster keras kepala yang hanya mengejar sensi, perhatian, dan buat kerusakan di mana-mana.
Jangan dimasukkan ke dalam hati. Ini catatan untuk diri saya sendiri. Tapi kalau relate, bantu bagikan 'jurnal harian' ini di media sosialmu, ya.
Jangan lupa apa yang menyusun kita. Semua sudah ada, semua sudah tersedia. Bumbu itu, syukur namanya.
Terkadang kita malu mengaku senang, mengaku syukur, sebab kita kira hal-hal itu terlampau 'biasa saja' untuk orang lain. Padahal, bukankah sebelum jadi 'biasa saja' semua hal pernah terasa 'baru' buat kita?
Kebebasan adalah paradoks. Sedihnya, kita terlambat paham apa maksudnya.
From the publisher's feed