Teras Hijrah

Teras Hijrah

By Tri Sulasiana BaiduriReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Teras Hijrah episodes

  • MELEPAS UNTUK TERBANG
    Induk burung melepas anak burung untuk bisa terbang ke cakrawala lebih luas dan mempelajari cara bertahan hidup serta hidup seekor burung yang sesungguhnya dengan terbang. Sebenarnya demikian juga dengan kita, orangtua......kita pun harus bisa melepas anak-anak kita untuk terbang menuntut ilmu lebih banyak diluar rumah.
    10 min
  • Mbok Ya Kamu Tuh Belajar
    *Mbok ya kamu itu belajar ini
    Nabi Muhammad itu hidupnya sangat bersahaja. Padahal di punya 'jalur khusus' kalau pengin gunung emas, atau lautan permata. Tidak. Nabi tidak mau. Dia bahkan sering berhari2 tidak punya bahan makanan. Untuk menahan lapar, dia ikat batu di perutnya. Jika perutnya bunyi, dia kencangkan ikatannya.
    Manusia paling suci, paling mulia di dunia, hidupnya begitu.
    Kita semua, yang mengaku muslim, harusnya bangga sekali dengan teladan ini. Lantas bisa teriak, "Nabi kami, hidupnya sangat sederhana!" Kemudian meneladaninya. Nah, jika kita belum bisa begitu levelnya, masih jauh sekali, karena masih cinta dunia. Mbok ya pastikan, kita tidak malah mencuri, maling, rampok, agar hidup kita enak.
    Silahkan saja kalau mau kaya. Perut kenyang. Mobil mewah. Rumah megah. Dan semua kenikmatan hidup lainnya. Tapi ayolah, pakai cara jujur. Dagang dengan baik. Usaha dengan baik. Bekerja dengan baik. Bisa loh kaya. Bukan maling!
    Sedihnya, negara 87% muslim, kok korupsi dimana2. Pejabat2 sibuk malaki anak buah demi posisi jabatan. Pejabat2 sibuk minta honor dari proyek2, bahkan proyek memakamkan orang pun dia mau dapat honornya.
    Nabi itu sungguh sederhana.
    Suatu hari, Umar datang berkunjung. Dia melihat Nabi tidur di tikar, hingga membekas di badannya. Umar menangis lihatnya. Itu Nabi, yang punya kekuasaan, yang punya 'koneksi' bahkan jika dia ingin gunung dilemparkan ke sebuah tempat. Bisa! Bayangkan gunung segede gunung Bromo, atau gunung2 lainnya, dilemparkan.
    Lah, kamu, kekuasaanmu itu apa? Cuma punya asisten2 yg sibuk membungkuk2. Cuma punya staf, ajudan yg sibuk terbirit2. Hanya itu doang kekuasan kamu. Tapi lihatlah, duuh Gusti, kamu diam2 juga korup. Jangankan amanah, kerja yang benar, ini malah korup. Padahal hidupmu sudah dibayari semua oleh negara.
    Ini sedih loh melihatnya.
    Seriusan. Sedih banget.
    87% penduduk negeri ini muslim. Koruptor banyak. Tukang suap banyak. Tukang boong. Tukang ngibul, buanyak! Mulai dari maling2 kecil, hingga maling2 elit. Mulai dari perkara sepele, ngambil hak orang lain, nyomot hak orang lain; sampai koruptor, rampok besar.
    Tidakkah mereka mau memahaminya, itu teh, semua harta, semua kekuasaan, tidak ada yang bakal dibawa mati. Kamu segitunya mengejar dunia ini?
    Rugi sekali menukar keabadian akherat dengan fananya dunia.
    Bodoh sekali membeli siksaan panjang dengan kenikmatan harta benda sesaat saja. Mencuri. Maling. Korup! Menjijikkan.
    6 min
  • Buta Politik Hidup Makin Sempit
    “Buta terburuk adalah buta politik. Orang yang buta politk tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung pada keputusan politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar “AKU BENCI POLITIK”. Sungguh bodoh dia yang tak mengetahui bahwa karena dia tidak mau tahu politik, akibatnya adalah pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk, korupsi dan perusahaan multinasional yang menguras kekayaan negeri” [ Bertolt Brecht ,Penyair dan Dramawan Jerman].
    Apa yang disampaikan Bertolt Brecht tersebut nampaknya masih relevan dan terjadi saat ini. Semua penderitaan anak manusia di belahan dunia termasuk di negeri tercinta ini akar masalahnya karena masyarakat banyak yang antipati terhadap politik.
    11 min
  • POLITIK KAIN PEL
    Ada pertanyaan seru yg kerap ditanyakan kpd para pengemban dakwah politik ekstra-parlementer: "Kalian mau menegakkan Islam, mau menghapus kerusakan yg terjadi, tapi kalian ga mau masuk parlemen? Ibarat udah tau lantai kontor tapi ga mau turun buat ngepel?"
    .
    Coba dijawab ya 😁 Pertama, kita sepakati dulu, kalau lantai kotor maka lantai harus dibersihkan, yes? Lantai kotor adalah analogi kerusakan pada tubuh umat saat ini
    .
    Nah, pertanyaan selanjutnya: dg apa kita akan membersihkannya?
    .
    Saat ini hanya tersedia kain pel yg kotor. Kain pel kotor adalah analogi dari sistem rusak saat ini. Kita pun telah sepakat, ini memang bukan kain pel ideal untuk membersihkan kekotoran yg terjadi. Sebab kain pelnya memang sudah kotor dari si empunya yg bikin, ga bisa diapa-apain lagi 😅 Namun saat ini hanya kain pel itu saja yg ada di depan mata kita
    .
    Maka sebagian ada yg langsung turun menggunakan kain pel non-ideal itu untuk bersih-bersih. Apa yg ada dulu, itu yg dipakai sambil berharap kotorannya jadi bersih
    .
    Pertanyaan selanjutnya, apakah kita akan terus berharap dg kain pel kotor by default ini untuk bersih-bersih?
    .
    Maka seharusnya ada orang-orang yg ga turun kerja ngepel, namun ia berkerja di luar arena untuk mengusahakan adanya kain pel baru yg bersih dan ideal
    .
    Memang yg tugasnya mengusahakan adanya kain pel ideal ini akan absen dari panggung bersih-bersih. Sehingga bila yg terfokus hanya melihat pada area panggung, akan dg mudah menuduh yg ga dipanggung ga bekerja
    .
    Karena yg ga kerja ngepel-ngepel, sedang kerja di tempat lain, membangun pabrik kain pel yg ideal yg nantinya akan melancarkan acara bersih-bersih kita semua 😁
    .
    Jika analogi ini belum bisa dicerna, gpp. Sebab saya pun perlu ngaji intensif seminggu sekali selama bertahun-tahun, menuntaskan berkitab-kitab dg mengupas syarahnya, untuk bisa sampai pd sebuah pemahaman. Mengapa pilih metode yg ini, bukan yg itu, mengapa yg ini yg berhasil, yg itu tidak, dsb
    .
    So, save your energy, ga perlu merasa wajib kasih sanggahan disini 😅 *Kibas Khimar* Lebih asik kita duduk bareng tuker pikiran sambil nge-teh syantiek dg temen2
    5 min
  • MORAL DALAM MURAL
    Jamak diketahui, karya street art memang tak pernah berumur panjang. Sebab, aturan mainnya jika tidak dihapus pemilik lahan akan ditimpa gambar lain oleh seniman urban lainnya. Namun, berbeda ceritanya bila aparat Wakanda yang turun tangan, jelas mengindikasikan adanya kerangkeng kebebasan.
    Baru-baru ini muncul penghapusan mural bergambar mirip seorang kepala negara, hanya matanya ditutupi dengan tulisan "404: Not Found". Hingga polisi harus turun gelanggang mengejar pelaku seni jalanan itu.
    Sungguh aneh. Jika ditilik, seberapa banyak orang yang tau arti "404: Not Found"? Jangan-jangan polisi pun tidak mampu menerjemahkan arti "404: Not Found" tersebut. Lantas, di mana unsur penghinaannya terhadap orang yang konon mirip pemimpin di Wakanda? Begitu pula lukisan dinding bertulisan "Wabah Sesungguhnya Adalah Kelaparan" dan ekspresi seni tanpa gambar berjudul "Tuhan Aku Lapar". Padahal ini hanya sebuah kalimat pernyataan sejenis doa kepada Tuhan. Tak ubahnya dengan doa serupa "Tuhan Tolonglah Hamba".
    Mural merupakan karya seni yang memiliki sisi gambar dan pesan yang sedap dipandang. Pun dengan penikmat mural, mereka mempunyai wawasan lebih ketimbang pembaca grafiti. Supir angkot, pengemis, pemulung, barangkali tak paham kenapa wajah yang mirip orang nomer satu di Wakanda itu ditutupi tulisan "404: Not Found". Bisa saja mereka berpikir bahwa angka 404 itu dianggap kode judi togel. Banyak orang yang tidak paham bahwa 404 itu berasal dari dunia canggih dan berkaitan dengan pencarian di ruang virtual yang berakhir error.
    Malang nian nasib mural kini. Karya seni media dinding itu tiba-tiba dikaitkan dengan urusan politik hingga dinilai sarat dengan kritik. Kalau dipikir-pikir, memangnya seni lukis mana yang bebas dari kritik? Lebih aneh lagi tak ada kesepakatan apakah mural beraroma kritik itu harus diberangus atau tidak. Sementara, pihak berwajib sendiri terbelah dalam bersikap. Polisi daerah gerak cepat menghapus mural tersebut sementara polisi di markas besar justru meminta agar tidak reaktif menyikapi soal mural.
    Belum lagi nada sumbang salah seorang pejabat tinggi yang menyebutkan mural merupakan kritik yang tidak beradab. Sungguh aneh bin mengherankan, bagaimanakah kriteria kritik yang tidak beradab itu? Sementara pemimpin Wakanda berulang kali menyebut dirinya bukan orang antikritik. Bahkan, kerap diulangi dalam pidato kenegaraan di depan sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat Wakanda pada seremonial kemerdekaan. Maka kasus mural ini amatlah jelas bahwa presiden tak ingin polisi bersikap reaktif dalam merespon segala kritik, namun kenyataan di lapangan tak seindah teks pidato di Senayan.
    Inkonsistensi inilah yang melahirkan tanda tanya. Jika ditarik simpul, ketidakkonsistenan ini pun tak luput dari teladan pemimpin Wakanda sendiri. Sebagai contoh, mbuletisasi yang tak kunjung tuntas ialah soal TWK yang menelan korban pegawai dan penyidik terbaik. Kala itu, presiden meminta agar tes tersebut tidak dijadikan penyebab gugurnya status kepegawaian. Tapi, sekelas pimpinan KPK berani membangkang bahkan rekomendasi Komnas HAM dan Ombudsman hanya masuk kuping kanan membal kemudian. Sampai disini presiden tetap bungkam.
    Pembangkangan yang dibiarkan ini tentu bakal merembet ke instansi lain. Maka jangan heran bila petinggi kepolisian memerintahkan bawahannya untuk tidak reaktif terhadap keberadaan mural yang dianggap penuh kritik malah dicuekin oleh polisi daerah. Kasus pemberangusan mural ini sekaligus cermin bahwa demokrasi memang sudah di tubir jurang. Pada saat suara rakyat tak mampu disalurkan wakilnya yang ada di parlemen, suara rakyat di dinding-dinding bangunan tepi jalan pun juga error not found, tak ditemukan lagi bekasnya. Hal ini begitu memprihatinkan.
    Sejatinya, mural adalah media mengantarkan pesan moral yang mengajak orang untuk berpikir dan bertindak. Ini pula yang membedakan antara mural seni jalanan dengan aksi-aksi vandalisme.
    9 min
  • Serius Dalam Agama
    Sebagian orang merasa bahwa beragama itu cukuplah dengan sholat, zakat, sedekah, puasa, memperbanyak dzikir, berlaku baik pada keluarga, tidak perlu ‘neko-neko’ (macam-macam), ‘mengurusi’ persoalan politik, menjelaskan kedzaliman yang terjadi agar masyarakat tidak terjatuh kedalamnya, apalagi ngaji masalah negara, ekonomi nasional, dll, bukanlah hal yang penting. Ungkapan tersebut bisa mencerminkan ketidaktahuannya, atau bisa juga mencerminkan kesembronoan dalam beragama, merasa enteng saja memikul amanah agama ini, merasa bahwa dosa-dosa terkait politik, ekonomi, sosial, dll adalah enteng. Padahal shahabat Ibnu Mas’ud r.a berkata:
    Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berkata demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat tersebut). (Diriwayatkan al Bukhory dan Muslim).
    9 min
  • Politik Itu.....
    Politik itu,
    melayani umat sepenuh hati,
    agar semua hak bisa diberi arti,
    dan semua kewajiban bisa terpenuhi.
    Politik itu,
    mengkondisikan agar semua muslim bisa shalat,
    meski shalat sendiri adalah persoalan ibadat,
    bukan persoalan politik bulat-bulat.
    Politik itu,
    bagaimana agar setiap manusia mengenal Rabb-nya,
    tidak cuma yang dekat dengan mushola,
    atau yang pak ustadz masih saudara.
    Politik itu,
    menyelesaikan masalah sosial ekonomi hankam dan budaya,
    dengan menggerakkan sumber daya manusia yang ada,
    yang jumlahnya terbatas, dan kualitasnya masih ala kadarnya.
    Politik itu,
    bagaimana sebuah aktivitas yang aslinya tampak sederhana,
    tapi bisa dirasakan manfaatnya oleh sebagian besar manusia,
    dan berdampak nyaris sepanjang masa.
    Politik itu,
    seni mempengaruhi orang-orang yang semula memusuhi kita,
    menjadi minimal tidak menghalangi-halangi kita,
    bahkan lama-lama mendukung kita.
    Politik itu,
    bagaimana memprovokasi perlawanan pada penjajahan nyata maupun maya,
    agar manusia tidak saling memperbudak sesamanya,
    tetapi hanya menghamba Allah semata.
    Politik itu,
    menyampaikan seluruh kebenaran pada orang yang tepat,
    di tempat yang tepat, di saat yang tepat,
    dengan uslub dan bahasa yang tepat.
    Politik itu,
    ketika logika ilmiah tidak seluruhnya dapat diterima,
    ketika argumentasi bisnis dimentahkan realita,
    dan ketika orang-orang bertanya tentang isu rahasia.
    Politik itu,
    seni menyelesaikan masalah orang-orang yang bersengketa,
    tanpa membuat sebagian kehilangan muka,
    tanpa membuat yang lain bertepuk dada.
    Politik itu,
    aktivitas para Nabi yang mulia,
    untuk mengubah kehidupan manusia dengan kata-kata,
    agar mereka menjadi hamba-Nya dan rahmat ke seluruh dunia.
    4 min
  • JANGAN MAKAN NASI KALAU MAU KURUS
    Ayo ngaku..siapa yang tidak bisa hidup tanpa nasi??
    .
    Seringkali mendengar kalau nggak makan nasi akan menurunkan berat badan dengan cepat, seakan-akan nasi jadi sumber masalah selama ini
    .
    Padahal belum tentu si "nasi" yang salah. Kalau dia dikonsumsi dengan bertanggung jawab maka efek yang diperoleh justru baik
    .
    Jadi, tim pemakan nasi..jangan berkecil hati ya
    .
    6 min
  • Mitos Air Dingin Merusak Diet
    Air Dingin Menaikkan Berat Badan????
    .
    Kalau setelah minum langsung naik ke timbangan..tentu saja berat kita bisa langsung naik
    .
    Tapi tahukah kamu kalau air putih / air mineral / air es atau apapun namanya..selama isinya hanya air saja, ternyata dikatakan almost ZERO calorie..jadi tidak akan menambah asupan kalorimu
    .
    Konsumsi air dingin berdasarkan beberapa penelitian justru memberikan keuntungan bagi kesehatan, apalagi untuk kamu yang sedang gemar berolahraga
    .
    Jadi, mari kita hempaskan mitos-mitos yang masih berseliweran yaaahh...
    5 min
  • LEBIH BAIK LEBAI DARIPADA ABAI
    Siapa yang pernah dibilang lebai selama pandemi ini?
    Katanya sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Setuju, tapi harus bisa dijelaskan definisi “berlebihan” itu seperti apa. Jika hanya suatu anggapan yang bersifat subjektif ya itu namanya julid bukan bertujuan untuk mengingatkan orang lain ✌️
    Sudah sering saya jelaskan, penularan melalui dropet permukaan benda bukanlah jalur utama penularan Covid namun cuci tangan adalah salah satu protokol kesehatan yang sudah lama sekali kita lakukan juga sebelum era pandemi sebagai suatu perilaku hidup bersih dan sehat. Risiko kecil bukan berarti tidak bisa karena penularan Covid adalah dari droplet dan kita tidak bisa melihat droplet tersebut, jadi prinsip “pencegahan” tetap adalah yang terbaik terutama bila kita habis memegang benda-benda yang berisiko terkontaminasi
    FYI, di negara tropis seperti Indonesia ini, mau anda membersihkan benda ataupun tangan anda berkali-kali tetap saja tidak akan sampai steril 100% karena banyaknya debu dan kotoran di sekitar. Jadi tujuan kita membiasakan hidup bersih sebenarnya terutama untuk mencegah penyebaran infeksi yang berbahaya yang juga banyak di Indonesia, yang menggunakan tangan atau benda sebagai salah satu media penghantarnya.
    Apalagi di era pandemi, cuci tangan juga termasuk salah satu dari 5M protokol kesehatan yang harus dipahami cara melakukannya dan kapan harus melakukannya supaya apa yang dilakukan memang sesuai dengan target dan tujuan kita yaitu meminimalkan risiko kita tertular/menularkan virus ini ke orang lain.
    Jadi, tetap maju yah pejuang-pejuang protokol kesehatan. Jangan gentar dibilang lebai. Orang lebai tidak akan pernah merugikan orang lain tapi orang abai sangat merugikan dan membahayakan orang lain.
    Jadi pilih LEBAI atau ABAI nih
    12 min

About Teras Hijrah

From the publisher's feed

Teras Hijrah