
Sign up to save your podcasts
Or


Coca-Cola, salah satu brand paling bernilai di dunia pernah meluncurkan campaign yang sukses luar biasa. pendekatannya authentic dan partisipatif. Walaupun banyak orang akan dengan mudah menyetujui bagaimana briliannya campaign ini, sayangnya kenapa ini bisa berhasil tidak terlalu banyak dibahas. Saya membahasnya dari perspektif behavioral science.
Manusia hidup dengan bias. Suka tidak suka, dalam berbagai potongan hidup kita, kita berpikir, mengambil keputusan dan bertindak atas dasar bias. Dalam bisnis, pekerjaan sebagai orang produk, sales, marketing atau bahkan pemilik bisnis sekalipun seringkali membawa kita ke bias yang amat sangat berbahaya. Bias ini yang bikin banyak inisiatif bisnis gagal dan buang waktu dan uang. Sayangnya, seperti bias yang lain, bias ini pun terjadi tanpa sadar. Apakah bias itu?
Business starts and ends with consumer, sehingga pebisnis dituntut untuk mengerti konsumen. Konsumen yang juga manusia adalah mahkluk yang berpikir dan bertindak dipengaruhi oleh hormon/neurotransmiter; salah satunya dopamine. Apa aja sih pengaruh dopamine dalam marketing dan bisnis?
Habit forming, bikin konsumen terbiasa pakai produk kita adalah goal dan idaman banyak pebisnis. Banyak habit forming framework yang beredar. tapi apa semua pas untuk digunakan di berbagai konteks?
Copywriting, merancang kata-kata untuk keperluan marketing, promosi, sales adalah pekerjaan yang gampang-gampang susah. Sekedar bikin kata-kata sih gampang. Tapi bikin kata-kata yang mengena, narik perhatian dan diingat itu yang sulit. Sebenernya ada kata-kata yang relatif minim dampaknya ketika digunakan untuk kepentingan ini. Kata-kata ini gak bikini orang noleh, gak bikin orang inget, apalagi beli. Gak berkesan buat audience. apa aja sih kata-kata itu?
Pandangan tentang brand terbagi dua, ada yg percaya brand sangat penting dan butuh dirancang sedetail2nya, ada yg tidak. Saya termasuk kelompok yg percaya brand perlu dibangun. Setiap harinya kita menyaksikan banyak brand besar dengan detail personality dan karakter yang kuat. Tapi sebenarnya bagaimana sih brand karakter berguna untuk bisnis? Brand Karakter, mitos atau fakta?
Ini sebenarnya episode 4 yang nggak pernah ke upload. Episode 4 yg sudah diupload ternyata isinya sama dengan episode 1. Maka dari itu episode 4 yang harusnya naik, diupload kali ini. Episode ini berusaha mengangkat realita bahwa brand yang awalnya dibuat untuk menjadi pembeda produk sehingga produsen bisa punya bargaining power lebih, pada akhirnya bertransformasi lebih besar dari sekedar kebutuhan produsen. Brand bertransformasi dari awalnya menjadi "jaminan" untuk memilih sebuah produk, akhirnya punya dampak lebih besar dari itu. Apa aja sih?
Ada salah satu kesalahan dalam bikin iklan yang sepele banget tapi sayangnya sering banget dilakuin. Dampaknya fatal, jadi buang2 uang atau bahkan bantu pesaing. Apa dan apa penyebabnya?
Produk diterima pasar tidak sekaligus dan serempak. ada kelompok yang menerima duluan, ada yang belakangan. Teori law of difussion innovation menjelaskan ini dengan gamblang. Tapi bagaimana mengerti teori ini dari perspektif behavioral science? bagaimana setiap layer/funnel punya karakter yang berbeda yang harus dimengerti agar bisa diterima dengan baik. bagaimana pula lolos dari jebakan "crossing the chasm".
Sport marketing sudah umum dan kita saksikan di mana-mana. Secara benefit, awareness sudah pasti diraih. Padahal ada hal-hal lain yang bisa didapatkan dari sekedar awareness.
From the publisher's feed