
Sign up to save your podcasts
Or


Banyak dari kita yang merasa pasca pandemi ini segala sesuatunya sulit. Bisnis susah, pekerjaan susah, angka PHK naik terus. Tapi di sisi lain kita lihat ada orang-orang yang modal tipis (baik pengalaman maupun modal), tapi somehow punya progress yang berbanding terbaik dengan kita. Kabar buruknya, ini bukan sekedar karena mereka lebih siap. Tapi karena ada faktor lebih besar yang ikut berkontribusi. Dan sayangnya lagi, kita yang nggak siap akan lebih sulit di masa datang. 3 tahun ini akan sangat menentukan untuk kita
Satu kualitas seorang profesional yang seringkali luput di sesi recruitment adalah easy to work with. Sejago apapun anda, gak akan ada gunanya kalau nggak easy to work with. Apa sih easy to work with itu?
We're not thinking machine that feels, rather we're feeling machine that also think. Kutikan dari Antonio Damansio tersebut menyimpan 2 fakta, pertama kita adalah mahkluk yang dominan merasa ketimbang berpikir. Tapi kita juga mahkluk yang butuh keduanya. Pertanyaannya Rasional dan emosional seringkali seperti dua kutub yang berseberangan, nggak mudah untuk mengatur keduanya secara bersamaan. Gimana caranya?
Semua orang pingin punya IQ yang tinggi. walaupun IQ bukan satu-satunya yang dibutuhkan untuk sukses, namun IQ yang tinggi memberikan banyak manfaat. Tapi apakah IQ bisa diperbaiki? atau jangan-jangan ini takdir saja. Gimana cara memperbaikinya?
Flexible working arrangement, sesuatu yang didambakan banyak orang, namun ditakuti oleh management. Banyak leader yang menganggap flexible working arrangement menurunkan produktifitas. Padahal banyak studi menunjukkan hasil sebaliknya. Dengan beberapa catatannya tentunya
Besar dan berkembangnya negara, sama juga dengan perusahaan, seringkali didasari pada pertimbangan-pertimbangan matematis semata. Benar bahwa berbagai perhitungan ekonomi bisa jadi salah satu pendorong. Tapi sayangnya yang paling penting justru bukan itu
Memberikan feedback baik ke bawahan, ke atasan atau ke rekan yang sejajar selalu terlihat mudah padahal seringkali tidak mudah. Hasilnya begitu disampaikan, lawan bicara nggak menangkap esensi sesuai yang kita inginkan. Dan akhirnya hasilnya pun jauh dari harapan. Kenapa dan apa aja yang kita bisa lakukan untuk menyampaikan feedback dengan baik?
Bekerja di perusahaan dengan culture dan atasan yang abusive memang amat sangat membuat kita tertekan. Rasa ingin berhenti dan pindah ke pekerjaan lain seringkali muncul. Menariknya ternyata bahkan seringkali dalam situasi seperti ini karyawan tidak semudah itu keluar. Bahkan ketika atasan tidak menahan. Kenapa?
Banyak leader dinilai dari kemampuan berbicaranya. Karena omongan seringkali bisa menginspirasi. Ini yang membuat banyak leader terlalu banyak berbicara. Padahal leader hebat lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. Apa benefitnya mendengar dan bagaimana itu punya pengaruh lebih besar?
Orang yang tidak bisa mengelola emosi akan sulit untuk jadi lebih kaya karena pengelolaan keuangan baiknya dilakukan secara logis bukan emosi. Tapi gimana detailnya?
From the publisher's feed