Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menjadi Full timer Tuhan
     
    Bagi sebagian orang Kristen, mereka merasa telah memiliki penyerahan kepada Tuhan lebih sempurna -dalam pengertian yang utuh dan lengkap (menurut konsep umum)- kalau mereka berani menyerahkan diri sebagai full timer gereja atau pejabat gereja yang disahkan oleh sinode. Menurut mereka, ukuran full timer adalah tidak memiliki kesibukan di luar lingkungan gereja. Seakan-akan dengan berbuat demikian mereka sudah melayani Tuhan sepenuh waktu. Dalam hal ini sepenuh waktu (full time) diukur dengan kesibukan dalam lingkungan gereja. Padahal pelayanan sepenuh waktu bukan hanya menyangkut waktu dan kesibukan dalam lingkungan gereja, tapi juga sikap batin atau hati.
     
    Bisa dibayangkan kalau seorang anak merasa telah bersekolah dengan baik hanya karena tidak pernah absen di kelas. Betapa bodohnya hal ini. Mereka sudah merasa memenuhi tugas belajar dengan baik hanya karena ada di ruangan kelas. Tentu memang sekolah tidak boleh absen. Namun sekolah itu sendiri harus dipahami sebagai belajar, sehingga ada peningkatan. Sekolah untuk belajar, supaya dari bodoh menjadi pandai, dari tidak cakap menjadi cakap. Pada intinya sekolah adalah tempat untuk belajar. Kalau tidak belajar, percuma sekolah. Hal ini sama dengan seorang pegawai yang masuk ke kantor atau tempat kerja, merasa sudah bekerja dan merasa pantas menerima gaji karena ada di ruangan kerja. Padahal yang penting bukan masuk kantor atau tempat kerja atau ada di ruangan kerja, tetapi bekerja dengan hasil yang baik sehingga benar-benar produktif.
     
    Hal di atas sama dengan kalau seseorang mengaku sebagai full timer, tetapi tidak memiliki sikap hati yang benar sebagai pelayan, yaitu hidup tidak berkepentingan atas apa pun selain melakukan kehendak Bapa bagi jemaat-Nya. Orang-orang full timer seperti itu pasti tidak berdaya guna untuk pekerjaan Tuhan. Mereka bisa masuk kerja ke gereja setiap hari, datang ke setiap kebaktian, dan sibuk dengan berbagai pekerjaan gerejani, tetapi hidupnya tidak berdampak bagi orang lain. Apa artinya hari-hari hidup kita ini kalau tidak berdampak bagi orang lain? Banyak para full timer yang secara teknis melakukan pekerjaan gereja, seperti melawat orang sakit, memberi konseling kepada orang bermasalah, dan mendoakan orang yang membutuhkan doa, tetapi hidupnya tidak berdaya guna mengubah orang lain untuk layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Tidak sedikit full timer dan gereja yang berkeadaan seperti hal tersebut. Pada hakikatnya kegiatan pelayanan seperti itu hanya membuang waktu sia-sia.
     
    Terkait dengan hal ini, kita sebagai full timer dan pendeta harus berhati-hati. Kuasa kegelapan tidak menginginkan kita efektif bagi Kerajaan Surga. Iblis tidak terlalu menghalangi seseorang menjadi full timer, tetapi Iblis sangat menghalangi dan selalu berusaha menjatuhkan kalau seorang full timer menjadi efektif dalam menggiring orang ke dalam Kerajaan Surga. Itulah sebabnya terdapat fakta di mana ada orang-orang yang pertobatannya luar biasa, kesaksian panggilannya sebagai pendeta juga luar biasa, tetapi setelah sekian lama menjadi pendeta ternyata ia membangun kerajaannya sendiri. Mereka sudah merasa menyerahkan hidupnya untuk pelayanan, tetapi sebenarnya mereka mencari hidup dan kelangsungannya untuk dirinya sendiri dan keluarga. Mereka tidak sungguh-sungguh menunjukkan adanya “dunia lain” (Yerusalem Baru) yang menjadi tujuan kehidupan ini.
     
    Seperti Esau yang tidak lagi memiliki kesempatan untuk memperoleh warisan sebagai Anak Perjanjian, sebab ia telah menjual hak kesulungannya demi semangkuk makanan, di sini jelas terlihat bahwa Esau benar-benar kehilangan haknya sebagai Anak Perjanjian. Kesempatan bukan hanya menunjuk waktu, tetapi juga kapasitas diri dimana seseorang berpotensi untuk bisa berubah atau tidak. Kata “kesempatan” dalam teks aslinya adalah topon (τόπον), yang artinya tempat berpijak atau pangkalan atau landasan. Hal ini menjadi peringatan bagi kita yang sudah lama...
    0 min
  • Menemukan Kemuliaan Allah
    Sebenarnya banyak orang yang telah tercengkeram oleh kuku-kuku kuat kuasa kegelapan, sehingga kehidupannya dikuasai oleh kuasa jahat. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang dalam kekuasaan kuasa kegelapan. Apalagi kalau mereka rajin ke gereja, ikut mengambil bagian dalam pelayanan, bahkan diangkat sebagai aktivis gereja, maka mereka mudah sekali tertipu oleh dirinya sendiri. Banyak di antara mereka yang telah yakin dan merasa sebagai hamba Tuhan yang benar, padahal belum tentu telah diakui sebagai hamba-Nya. Pengakuan sebagai hamba Tuhan harus berangkat dari Allah, bukan dari manusia yang dalam hal ini diwakili oleh sinode. Seseorang bisa disahkan sebagai pendeta atau pejabat sinode dan dengan lantang mengakui dirinya sebagai hamba Allah, tetapi bagaimana pengakuan dari Allah? Dalam hal ini setiap pendeta harus sungguh-sungguh memperkarakannya.
     
    Banyak pendeta yang bisa mengusir setan dan mengadakan mukjizat, merasa dirinya sudah dapat bebas dari cengkeraman kuasa kegelapan. Mereka bisa mengusir setan yang secara fisik atau secara kasat mata menguasai seseorang, tetapi mereka tidak menyadari adanya belenggu dalam jiwanya sendiri. Biasanya belenggu itu menyangkut masalah uang, kekuatan libido, dan kehormatan dalam gereja. Tidak heran jika ada pendeta-pendeta hebat di mata manusia ternyata masih dalam ikatan dosa yang memalukan. Barangkali secara moral umum mereka tidak terlibat dalam perzinaan, penggelapan uang, dan pertikaian fisik dengan pendeta lain, tetapi sebenarnya mereka mengingini perkara-perkara tersebut (harta dan takhta). Dengan sangat halus, cerdik, dan terselubung mereka mengingininya, sebagai sesuatu yang dirasakan dapat membahagiakan dan menjadi kebanggaan. Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang nantinya akan ditolak oleh Tuhan Yesus.
     
    Banyak hamba Tuhan dan orang Kristen tidak sadar bahwa ia telah menjual dirinya kepada kuasa kegelapan. Bilamana hal ini bisa terjadi? Hal ini dapat terjadi ketika seseorang mengingini segala sesuatu yang Tuhan tidak kehendaki untuk diingini. Barangkali yang diingini bukan sesuatu yang salah di mata manusia dan tidak melanggar moral umum. Tetapi kalau hal itu tidak dikehendaki oleh Tuhan untuk diingini, maka hal tersebut juga berarti sebuah pelanggaran. Harus diingat, ketika kita menerima penebusan oleh Tuhan Yesus, berarti segenap hidup kita -termasuk pikiran, perasaan, dan kehendak- telah dimiliki oleh Tuhan. Kita tidak berhak mengingini sesuatu yang tidak dikehendaki atau tidak diingini oleh Tuhan.
     
    Dengan mengingini sesuatu, maka jiwa dan hati seseorang terarah kepada apa yang diingini tersebut. Bila yang diinginkan tidak sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan, maka berarti ia menolak melayani Tuhan. Menolak melayani Tuhan artinya tidak melayani keinginan-Nya atau selera Tuhan. Ini adalah sikap pemberontakan kepada Tuhan. Orang yang memberontak kepada Tuhan berarti menghamba kepada Iblis. Jadi, apa yang diingini seseorang itulah yang memberi arah kepada siapa seseorang memberi diri untuk dikuasai atau dibelenggu.
     
    Manusia harus diciptakan sepenuhnya untuk mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian kepada Tuhan dimulai dari pemurnian hasrat atau keinginan. Kegiatan gereja seharusnya merupakan pembinaan atau arahan agar jemaat tidak menjual diri kepada Iblis, tetapi menyerahkan diri kepada Tuhan sebagai Pencipta dan pemilik kehidupan ini. Dengan cara bagaimanakah seseorang tidak menjual diri kepada Iblis, tetapi menyerahkan diri kepada Tuhan? Yaitu bila seseorang berusaha mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Jemaat Tuhan harus belajar untuk tidak mengingini apa yang Tuhan kehendaki untuk tidak diingini umat-Nya.
     
    Perjalanan hidup ini adalah sebuah perjalanan hidup untuk mengingini apa yang Tuhan ingini dan melakukan apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Perjalanan hidup seperti ini adalah perjalanan hidup seseorang yang telah mati bagi dirinya sendiri,
    0 min
  • Dalam Kekudusan Allah
    Kekudusan Allah adalah kesempurnaan kebenaran dalam seluruh hakikat-Nya yang tidak terbatas. Dalam kekudusan-Nya, hendak diperkenalkan kepada manusia bahwa Ia tidak menolerir pelanggaran terhadap hukum dan kehendak-Nya. Dalam kekudusan-Nya, Ia menuntut hukuman setiap orang yang bersalah (Nah. 1:2-4). Itulah sebabnya maka kekudusan Allah tidak dapat dipisahkan dari keadilan-Nya. Ia tidak akan menolerir dosa yang terjadi di tengah-tengah umat-Nya. Allah menolak tegas mereka yang tidak hidup dalam kesucian-Nya. Sekarang ini terkesan Allah tidak atau kurang tegas. Gereja juga sering kurang menunjukkan ketegasan Allah, lebih banyak berbicara mengenai kasih, kebaikan, dan kesabaran-Nya. Padahal suatu hari Allah akan bertindak tegas. Ia akan mengusir orang Kristen -bahkan orang yang mengaku hamba Tuhan atau pendeta- dari hadirat-Nya, yaitu mereka yang tidak melakukan kehendak Bapa.
     
    Bila Alkitab menyatakan mengenai kekudusan Allah, itu bukan hanya bermaksud hendak menunjukkan bahwa Allah tidak bercela dalam seluruh tindakan-Nya, tetapi juga panggilan agar umat memiliki kesucian seperti Dia, agar umat tidak tertolak di hadapan-Nya. Umat dipanggil untuk memiliki kesucian seperti kesucian Allah. Dalam 1 Petrus 1:16, Firman Tuhan jelas mengatakan: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Tuhan menghubungkan kekudusan-Nya dengan kekudusan umat, sebab Allah tidak bisa bersama dengan umat yang tidak kudus. Firman Tuhan mengatakan: “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa” (2Kor. 6:17-18).
     
    Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia tidak berkeadaan seperti Allah, Bapanya. Alkitab menyatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Kata “berdosa” dalam teks aslinya adalah hamartano (ἁμαρτάνω), yang memiliki beberapa pengertian; di antaranya yang paling menonjol adalah tidak mengenai sasaran atau meleset. Inilah yang dimaksud bahwa manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia tidak memenuhi atau mencapai standar sebagai anak-anak Allah. Kualitas kehidupan yang dimiliki manusia bukanlah kualitas anak Allah. Itulah sebabnya Allah Bapa mengutus Putra-Nya, agar melalui-Nya manusia diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Kalau manusia tidak dikembalikan ke rancangan semula, yaitu berkeadaan seperti Bapa, maka mereka tidak layak masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, yang sama dengan tidak diperkenan masuk Rumah Bapa.
     
    Kesucian hidup adalah hal mutlak yang harus dimiliki orang percaya. Mengerti hukum-hukum dan peraturan bukanlah jalan untuk mencapai kesucian yang Tuhan kehendaki, tetapi memahami pikiran dan perasaan Tuhan serta melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah adalah jalan untuk terhindar dari penjara abadi; kebinasaan. Di tengah-tengah kemungkinan untuk berbuat dosa, orang percaya harus belajar untuk hidup di dalam ketaatan kepada Bapa, bukan penurutan kepada keinginannya sendiri. Dari hal ini maka terbangunlah kesucian yang sejati dalam hidup ini.
     
    Dengan demikian kesucian bukan hanya melakukan hukum-hukum moral dan segala hal yang dipandang baik di mata manusia (demikianlah konsep agama-agama pada umumnya). Kesucian adalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Bapa di surga, dalam segala hal. Ini berarti orang percaya harus berangkat dari mengerti mengenai apa pun yang Bapa kehendaki dan dengan sukacita, serta rela bersungguh-sungguh berusaha melakukannya (Mat. 7:21-23). Kesucian hidup adalah kehidupan yang melakukan kehendak Bapa dengan sempurna. Kehidupan Tuhan Yesus adalah contoh kehidupan dalam kesucian yang dikehendaki oleh Bapa.
     
    Kebiasaan hidup melakukan apa yang Bapa kehendaki akan m...
    0 min
  • Memahami Perasaan Allah Bapa
    Ketika kita meminta pengampunan atas suatu dosa atau kesalahan kepada Allah, seharusnya fokusnya bukan lagi pada kesalahan itu sendiri, tetapi juga pada perasaan Allah Bapa dan Tuhan Yesus yang kita lukai. Dalam hal ini ketika kita mempersoalkan dan menangani masalah dosa, hal itu bukan hanya masalah yang ada di pihak kita, yaitu dosa yang kita lakukan, tetapi juga pihak Allah (Bapa dan Anak), yaitu perasaan-Nya yang terlukai. Mengapa demikian? Sebab kita telah diangkat sebagai anak bagi Bapa di surga. Setiap perbuatan kita membangkitkan reaksi dari Bapa. Itulah sebabnya Petrus mengatakan “Kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, hendaknya kita hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.”
     
    Lebih mudah bagi seseorang untuk menyadari suatu kesalahan yang sudah diperbuatnya, kalau kesalahan tersebut menggunakan ukuran hukum yang tertulis seperti hukum Taurat atau seperti banyak hukum dan syariat yang ada pada banyak agama. Tetapi sangatlah sulit disadari kalau dosa tersebut menyangkut sikap hati, sikap batin, dan cara berpikir seseorang. Tidak mudah memeriksa setiap gerak pikiran dan perasaan. Sangat jarang orang yang benar-benar serius memeriksa setiap gerak pikiran dan perasaannya, padahal Tuhan selalu menguji batin (Why. 2:23). Dosa itu juga menyangkut setiap kata yang kita ucapkan. Banyak perkataan yang kita ucapkan yang secara hukum bukan merupakan pelanggaran, tetapi ditinjau dari perasaan dan pikiran Bapa dapat melukai-Nya. Dalam hal ini orang percaya harus belajar untuk memiliki kecerdasan roh. Dengan kecerdasan tersebut seseorang dapat peka terhadap perasaan Bapa.
     
    Tanpa sadar, sering orang berpikir bahwa yang dibenci Tuhan hanya dosa dalam arti perbuatan, sehingga setiap kali berbuat dosa, maka seseorang datang kepada Tuhan untuk menyelesaikan dosanya dengan mohon pengampunan. Dengan permohonan ampun, maka dirinya dapat menerima pengampunan dan penghapusan dosa dengan darah-Nya. Setelah melakukan hal tersebut kemudian percaya bahwa Tuhan sudah mengampuni, maka hal itu sudah dianggap selesai dan hati Bapa pun disukakan. Padahal berbicara mengenai penyelesaian masalah dosa, sesungguhnya semua dosa sudah diselesaikan di kayu salib, yang belum selesai adalah potensi dosa di dalam diri seseorang yang harus digarap secara terus menerus. Potensi dosa itulah juga yang disebut sebagai kodrat dosa di dalam diri seseorang. Penggarapan tersebut dimaksudkan untuk mengubah kodrat dosa dalam diri seseorang menjadi kodrat Ilahi.
     
    Jadi, kalau kita meminta ampun atas kesalahan kita, maka kita bukan hanya minta ampun atas kesalahan yang telah kita lakukan tapi kita juga mempersoalkan keadaan diri kita ini yang belum seperti yang Bapa inginkan. Hal ini akan memacu diri kita untuk memperkarakan kodrat dosa yang masih berkuasa atas diri kita dan berusaha untuk mencapai level yang Bapa tetapkan menjadi target kita. Jadi ketika kita berdoa, “Bapa, ampuni salahku” itu juga mestinya berarti sama dengan doa: “Bapa, ampuni keberadaanku yang belum seperti yang Engkau ingini.” Mempersoalkan keberadaan diri berarti juga kesediaan untuk diubah secara total. Dalam hal ini yang diselesaikan bukan saja akibat perbuatan suatu kesalahan, tetapi juga keberadaan potensi dosa yang ada di dalam diri kita. Keberadaan potensi dosa adalah keberadaan di mana seseorang meleset dari melakukan apa yang tepat seperti yang dikehendaki oleh Bapa.
     
    Jadi, kalau seseorang berbuat dosa, sesungguhnya yang menjadi persoalan bukan saja perbuatan dosa itu sendiri, tetapi adanya potensi dosa di dalam dirinya. Potensi dosa itulah yang mendukakan hati Bapa. Sama seperti seorang anak yang tidak naik kelas, masalahnya bukan saja pada keadaan tidak naik kelas tersebut, tetapi mengapa potensi anak tersebut rendah sehingga tidak naik kelas. Bagaimana dengan kehidupan anak itu di hari esok? Demikian pula dengan perbuatan dosa yang dilakukan seseorang, masalahnya bukan saja perbuatan itu sendiri tetapi keber...
    0 min
  • Memento Mori
    Jarang ada orang yang tidak menekuni apa yang dianggap penting dalam hidupnya. Kalau seseorang menganggap uang itu penting, maka ia bersungguh-sungguh bekerja atau mencari nafkah. Juga dengan pendidikan, jodoh, kesehatan, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan Kerajaan Surga? Apakah kita menganggap hal ini penting? Bila kita menganggap hal ini penting, pasti kita bersungguh-sungguh mencarinya, dan memang Tuhan menghendaki kita bersungguh-sungguh mencarinya (Mat. 6:33). Gereja harus menstimulasi, mendorong, dan merangsang jemaat untuk mengutamakan dan mengedepankan hal ini. Masalah-masalah hidup ini memang banyak dan berat, tetapi hal tersebut bukanlah masalah utama hidup ini. Kecuali kalau memang kehidupan ini atau kesadaran manusia hanya sampai batas kubur saja.
     
    Ternyata setiap suku bangsa memiliki kesadaran akan adanya kehidupan di balik kubur atau setelah kematian. Seseorang yang menerima atau menolak hal ini, bagaimanapun akan tertumbuk pada kenyataan bahwa yang paling dibutuhkan adalah Tuhan. Dalam suratnya, Paulus berpesan kepada Timotius untuk menasihati orang kaya untuk tidak berharap kepada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan (1Tim. 6:17). Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, sebab ketika mamon tersebut tidak dapat menolong lagi, seseorang diterima oleh Tuhan di Kerajaan-Nya” (Luk. 16:9). Daud seorang yang bergaul dengan Tuhan, setelah mengarungi kehidupan panjang, akhirnya ia berkata: “Siapa ada padaku selain, Engkau, selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (Mzm. 73:25). Menyadari hal ini, kita seharusnya melepaskan diri dari segala milik seperti yang Tuhan ajarkan (Luk. 14:33). Maksudnya adalah tidak terikat dengan dunia ini, yang membuat kita tidak siap memasuki kehidupan abadi. Ikatan dunia ini menyesatkan dan membinasakan, seperti yang dialami orang kaya dalam Markus 10:21-27. Ikatan dunia membuat seseorang tidak memilih Tuhan. Padahal akhirnya semua kekayaan dunia harus dilepaskan. Hanya Tuhan yang dibutuhkan.
     
    Melepaskan segala sesuatu memang bukan hal yang mudah -bahkan nyaris dikatakan mustahil- tetapi sesuai dengan Firman-Nya, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kalau kita mau belajar, Tuhan akan mengajarkan kepada kita bagaimana kita terlepas dari ikatan dunia ini. Dan kita pun harus bersedia melepaskan ikatan itu. Hal ini bukan anugerah, tetapi langkah dari keputusan sadar kita. Jadi kalau hari ini kita mencari Tuhan, hal tersebut bukan karena sakit penyakit, mengalami problem ekonomi, keluarga, jodoh, dan lain sebagainya, tetapi sebagai persiapan untuk menyongsong hari esok di kekekalan.
     
    Beratnya hidup ini pada akhirnya bukan pada masalah-masalah yang dihadapi oleh orang -seperti problem sakit penyakit, rumah tangga, ekonomi, jodoh, dan lain sebagainya- tetapi bagaimana kita harus memikul salib. Yaitu perjuangan untuk turut serta menggenapi rencana Tuhan dalam hidup ini. Untuk ini kita harus terlebih dahulu mengerti kebenaran Tuhan. Kebaktian harus menjadi saat penting di mana kita diajar untuk mengenal kebenaran Tuhan, mengenal diri sendiri, dan kehidupan ini. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat menjalaninya sesuai dengan kehendak Allah dan memiliki Tuhan sebagai sekutu kita.
     
    Seluruh gerak hidup di bumi ini bagaimanapun ada akhirnya, ibarat film pasti ada ending-nya. Sejatinya, ini benar-benar tragis. Anak-anak tidak lagi memandang wajah orang tua, mama papa, opa oma. Orang tua harus kehilangan anak-anak mereka, kita kehilangan sahabat yang bisa diajak berbagi rasa melalui tahun-tahun yang panjang. Suasana indah dan yang dirasa harmonis berakhir pada ujung yang disebut kematian. Pada umumnya orang tidak mau memikirkan hal ini. Sebab ini adalah sebuah pengalaman yang diidentifikasi sebagai “malapetaka”, musibah, atau apa pun namanya; yang pada intinya adalah “sesuatu yang menakutkan” yang sebisa mungkin dapat dijauhi.
    0 min
  • Berani Menghadapi Kematian
    Orang percaya harus memahami dan menerima bahwa dunia tidak lagi dapat memberi kebahagiaan yang dibutuhkan oleh manusia. Kebahagiaan dari dunia menggiring manusia kepada kebinasaan. Tuhan dan Kerajaan-Nyalah yang menjadi kebahagiaan satu-satunya. Dengan demikian kerinduannya adalah langit baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kehidupan yang ideal yang disediakan Allah bagi ciptaan-Nya. Orang percaya yang dewasa rohani sudah pasti berani dalam sukacita menghadapi kematian, karena ia belajar terus dengan sungguh-sungguh bertumbuh dalam kedewasaan rohani yang benar.
     
    Harus diingat bahwa setiap kita pasti mati, hari ini atau esok lusa. Kita harus memastikan bahwa kita aman dan diterima di Rumah Bapa; jika tidak, maka kita harus bertobat dan berdamai dengan Allah, serta terus menerus membenahi diri agar menjadi manusia yang berkenan kepada-Nya. Kita harus mengubah pola hidup dari anak dunia menjadi anak Allah yang mengikuti jejak Yesus. Selama Tuhan masih memberi kesempatan untuk membenahi diri untuk layak menjadi anggota keluarga Kerajaan, maka kita harus memanfaatkan kesempatan ini. Kita tidak boleh menunda satu hari pun untuk membenahi diri, karena kita tidak tahu kapan saatnya kita masing-masing menerima panggilan. Jika hari ini Tuhan memberi peringatan dan teguran-Nya, kita harus merelakan diri bertobat dan berubah.
     
    Banyak orang Kristen yang sebenarnya sesat, tetapi mereka tidak menyadarinya sama sekali. Mereka merasa dan percaya bahwa kedatangan Yesus yang mati di kayu salib otomatis menyelesaikan masalah dosa, sehingga mereka semua merasa sudah selamat. Padahal setiap orang percaya harus memberi diri untuk diubahkan terus menerus demi mencapai kehidupan rohani yang sesuai dengan standar kesucian Allah. Semuanya ini adalah sebagai persiapan untuk memasuki kehidupan yang sesungguhnya di langit baru dan bumi baru nanti. Faktanya, banyak orang berpikir seakan-akan kesempatan memiliki hidup hanya satu kali di bumi ini. Selain kehidupan di bumi ini, mereka berpikir tidak ada kehidupan lagi. Padahal justru kehidupan yang Tuhan persiapkan adalah kehidupan di belakang kubur kita.
     
    Sangat menyedihkan dan malang, kalau ternyata banyak orang Kristen yang tidak memikirkan masa depannya di dunia yang akan datang. Mereka tidak peduli sama sekali adanya Kerajaan Tuhan Yesus yang akan ditegakkan. Mereka hanya hidup untuk kesenangan hari ini, seakan-akan tidak ada dunia atau kehidupan lain yang akan mereka jalani dan nikmati selain dunia hari ini. Mereka berpikir bahwa Tuhan dan segala berkat-Nya diadakan hanya untuk kehidupan hari ini.Melalui para pembicara Kristen yang tidak mengenal kebenaran, kuasa kegelapan berusaha menyuntikkan ajaran yang tidak sesuai dengan Injil. Mereka berurusan dengan Tuhan hanya untuk memanfaatkan Tuhan agar dapat meraih dunia bagi kesenangan daging mereka.
     
    Bagi orang percaya, berurusan dengan Tuhan dengan maksud agar dikembalikan ke rancangan semula, yaitu menjadi anak-anak Allah yang berkodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Dengan cara demikian seseorang dipersiapkan untuk dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Anggota keluarga Kerajaan Surga adalah orang-orang yang bukan saja baik secara moral umum, tetapi juga memiliki kesucian yang sempurna seperti Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah sebabnya ukuran kebenaran atau kesalehan kita bukan saja baik secara moral umum, tidak melanggar hukum yang dikenal manusia pada umumnya, tetapi kehidupan yang tidak bercela menyangkut semua yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan.
     
    Hidup di bumi sesungguhnya hanya untuk persiapan masuk ke dalam Rumah Bapa. Persiapan tersebut adalah memiliki batiniah yang baik, yaitu mengenakan kodrat Ilahi. Sebab hanya orang yang mengenakan kodrat Ilahi yang diperkenan masuk ke dalam keluarga Kerajaan Surga. Oleh sebab itu segala kepentingan harus disingkirkan demi untuk menggumuli pertumbuhan atau penyempur...
    0 min
  • Memilih Keselamatan Kekal
    Kuasa kegelapan berusaha membuat manusia melupakan realitas kematian ini. Berbagai filosofi hidup yang salah disuntikkan ke dalam pikiran melalui berbagai media, agar manusia tidak memedulikan realitas kematian tersebut. Demikian kenyataannya, bahwa banyak orang yang menggulirkan hari hidupnya tanpa kesadaran sama sekali, bahwa hari hidupnya tersebut bisa berhenti setiap saat. Mereka bersikap seakan-akan memiliki kehidupan yang tidak ada ujungnya. Seakan-akan perjalanan hidup ini akan berlangsung tiada akhir. Seakan-akan kematian bukan bagian hidup mereka. Betapa malangnya. Kenyataan yang bisa dilihat dengan jelas adalah begitu banyak orang yang hanyut dan tenggelam dengan berbagai kegiatan, kesibukan, keinginan, masalah, dan lain sebagainya. Mereka sedang dibawa ke pembantaian abadi atau dipersiapkan menjadi sampah kekal. Menyadari hal ini, maka setiap kita seharusnya sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi realitas kematian yang sudah pasti akan kita hadapi atau kita jalani.
     
    Karena kematian adalah realitas yang tidak pernah bisa diprediksi kapan terjadi, maka persiapannya harus mulai sekarang. Dari sekarang! Untuk ini pertobatan harus dilakukan sekarang, setiap hari dan setiap saat ketika kita menyadari perbuatan kita yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Sebenarnya inilah yang dimaksud dengan berjaga-jaga dan berdoa tiada berkeputusan. Suatu relasi yang terus dibangun dengan Tuhan. Tidak ada saat di mana kita tidak memiliki hubungan yang baik atau harmoni dengan Tuhan. Hubungan yang harmoni dengan Tuhan adalah kebutuhan yang lebih penting dari makan dan minum atau kebutuhan apa pun dalam hidup ini. Demi hubungan yang harmoni dengan Tuhan ini orang percaya harus bersedia mengorbankan apa pun. Orang percaya harus berani memilih demi keselamatan kekalnya dan ia juga harus rela kehilangan segala sesuatu.
     
    Orang yang mengabaikan fakta ini adalah orang bodoh yang tidak berakal. Sesungguhnya, sejak hidup di dunia ini sudah nampak gejala seseorang akan beroleh kemuliaan kekal atau kehinaan kekal. Dari keputusan, pilihan, dan tindakan hidup seseorang nampak apakah ia menunjukkan dirinya akan pergi ke surga atau ke neraka (penjara abadi). Keabadian, baik di surga maupun neraka, menunjukkan realitas kehidupan dan kesadaran manusia yang tidak bertepi. Hidup tidak bertepi sama artinya hidup tidak terbatas. Hal ini mengandung rahasia kehidupan yang penting untuk dimengerti dan direnungkan, sekaligus sangat dahsyat. Mengapa penting? Sebab berangkat dari pemahaman ini,seseorang dapat menyelenggarakan hidupnya dengan lebih berhati-hati atau tidak ceroboh. Banyak orang tidak mengerti atau tidak mau mengerti rahasia kehidupan ini. Jika seseorang tidak mengerti akan realitas keabadian, ini berarti bahwa ia berjalan atau hidup dalam kegelapan. Ujungnya sangat mengerikan.
     
    Dalam hidup manusia hari ini, manusia berdosa diberi kesempatan bertobat dan berbalik kepada Tuhan kemudian mengalami perbaikan dan penyempurnaan yang tidak terbatas; atau sebaliknya, kalau manusia menolak bertobat maka ia menjadi rusak tidak terbatas. Bagi yang mau bertobat dan dimuridkan, mereka diproses kepada kebaikan yang tidak terbatas sebagaimana Kristus dalam kesempurnaan-Nya yang tidak terbatas. Sebaliknya, kalau seseorang menolak bertobat dan tidak mengalami proses pendewasaan maka ia dirusak oleh Iblis dalam kerusakan yang tidak terbatas pula, sebagaimana Iblis dengan kejahatannya yang tidak terbatas pula. Oleh sebab itu sebagai orang percaya kita harus berjuang untuk tidak memberi kesempatan atau celah bagi Iblis merusak hidup kita.
     
    Pelayanan gereja harus hanya berorientasi pada kehidupan yang akan datang. Tanpa memperdebatkan pandangan teologi yang bisa ditarik ke sana kemari seperti karet yang elastis. Pengajaran Firman Tuhan harus membuka pikiran untuk dapat mengerti bagaimana menjalani hidup seperti yang Allah kehendaki. Selain itu,
    0 min
  • Apakah Sudah Siap?
    Sesungguhnya, satu hal yang paling mendesak dalam hidup kita sekarang ini adalah seandainya kita sekarang ini meninggal dunia, apakah kita sudah berkeadaan berkenan kepada Tuhan? Apakah kita pasti diterima masuk dalam anggota keluarga Kerajaan Surga atau tidak? Ini adalah masalah yang bukan saja sangat penting, tetapi sangat mendesak dan harus selalu dipandang sebagai hal yang sangat penting dan sangat mendesak. Kalau ada hal lain yang kita anggap penting dan mendesak, maka hal ini pasti akan kita sisihkan dan abaikan, sehingga kita tidak memperkarakannya dengan serius. Hal inilah yang tengah diupayakan oleh kuasa kegelapan, yaitu menghujani seseorang dengan berbagai kesenangan, kesibukan, cita-cita, dan obsesi. Selain itu juga terdapat pemikiran bahwa hal surga dan neraka hendaknya tidak perlu dipikirkan sekarang. Mereka berpikir selalu masih ada kesempatan, sehingga masih bisa ditunda.
     
    Dengan tenang dan sejahtera mereka menunda untuk hidup sesuai dengan kehendak Bapa, sebab yang ada dalam pemikiran mereka bahwa mereka tidak bermaksud untuk berkhianat kepada Tuhan dan tidak mengingini neraka. Mereka berpikir bahwa Tuhan pasti akan memaklumi dan menolerir keadaan mereka yang belum berkenan kepada-Nya, sebab kehidupan di dunia memang berat dijalani untuk hidup dalam kesucian Allah. Yang penting mereka tidak menjadi orang jahat dan tetap menjadi Kristen serta pergi ke gereja. Mereka tidak mengerti atau tidak mau mengerti bahwa menjadi Kristen harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Menjadi manusia baik bukanlah tujuan keselamatan.Tanpa keselamatan dalam Yesus Kristus pun orang bisa memiliki moral atau mental yang baik. Mereka tidak sadar bahwa penundaan akan berujung kepada keadaan tidak mampu lagi bertobat dan berubah lagi.
     
    Kuasa kegelapan menipu seseorang dengan pemikiran bahwa sekarang ini, selama masih di dunia dan belum menghadap takhta pengadilan Allah, maka seseorang belum bisa mengetahui dengan pasti apakah dirinya ditolak atau diterima oleh Allah. Itulah sebabnya mereka berpikir tidak perlu mempersoalkannya dulu. Pemikiran atau anggapan ini sungguh sangat menyesatkan. Dengan pemikiran tersebut, seseorang menjadi ceroboh. Dirinya membuka celah bagi Iblis untuk menguasai hidupnya sampai pada taraf tidak dapat diubah lagi. Sebab sementara dirinya menunda bergumul menjadi seorang yang berkenan kepada Bapa dengan melakukan kehendak Bapa, maka pola pikir dan gaya hidup anak dunia mencengkeram dirinya semakin kuat sampai tidak akan dapat terlepas lagi.
     
    Hendaknya kita tidak berpikir bahwa hal diterima atau ditolak Allah tidak bisa dipersoalkan sejak hari ini, seakan-akan Allah menyembunyikan hal tersebut. Jika seseorang beranggapan bahwa Allah sekarang ini -yaitu sejak manusia masih hidup- sengaja menyembunyikan kepastian diterima atau ditolak oleh Dia, berarti ia menuduh Allah sebagai Allah yang jahat dan licik. Sejak masih hidup -yaitu sebelum meninggal dunia dan sebelum menghadap takhta pengadilan Allah- seseorang harus dapat mengetahui dengan pasti keadaannya kalau meninggal dunia saat ini, apakah ia diterima atau ditolak oleh Allah. Itulah sebabnya Tuhan menghendaki agar setiap orang menguji dirinya dan mohon Tuhan membuka pikirannya untuk mengetahui apakah jalannya serong (2Kor. 13:5; Ef. 5:10; Mzm. 139).
     
    Kalau kita bertanya, bagaimana kita tahu sekarang ini bahwa kita pasti diterima atau ditolak oleh Allah? Maka ukurannya adalah apakah seseorang sudah melakukan kehendak Bapa atau belum. Menjawab pertanyaan ini seseorang harus berjuang mengenal kebenaran, sebab dengan mengenal kebenaran seseorang akan memiliki kecerdasan roh untuk mengerti kehendak Bapa, apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Selanjutnya ia memiliki mata hati yang terang untuk mengenal diri sendiri dengan benar, apakah sudah melakukan kehendak Allah atau belum. Selama seseorang belum menemukan dengan pasti bahwa dirinya sudah melakukan kehendak Bapa,
    0 min
  • Berdamai Dengan Tuhan
    Begitu seringnya kita mendengar kalimat “berjaga-jagalah”, tetapi berapa banyak orang yang sungguh-sungguh menyambut peringatan Tuhan ini? Kenyataan yang kita temukan, banyak orang yang tidak menyambut peringatan ini dengan serius. Ini menunjukkan bahwa banyak di antara orang Kristen yang keras kepala. Sikap berjaga-jaga ditunjukkan dengan kehidupan yang berdamai dengan Tuhan. Banyak orang tidak berpikir bahwa kematian bisa menjemputnya setiap saat. Ia bisa menerima kenyataan kematian orang lain -khususnya orang yang tidak bersangkut-paut dengan dirinya- tetapi ia tidak akan menerima kenyataan kematiannya sendiri sekalipun usianya adalah usia senja, dimana kematian bisa menjemputnya setiap saat. Ini sangat berbahaya. Tentunya, kalau kita berdamai dengan Tuhan bukan hanya karena kita bisa mati setiap saat -menghadap Tuhan- tetapi memang tidak ada kehidupan yang indah di luar Tuhan.
     
    Waktu hidup seseorang menjadi sia-sia tanpa persekutuan yang benar dengan Tuhan.  Alkitab berkata bahwa seseorang harus mengikatkan diri dalam persahabatan dengan Tuhan, menggunakan mammon yang tidak jujur (Luk. 16:9). Proyek gereja Tuhan dan seluruh pekerjaan pelayan-pelayan Tuhan adalah usaha untuk mendamaikan manusia dengan Allah. Kebenaran ini ditujukan untuk semua jemaat, bahwa kehadiran jemaat di gereja adalah untuk berdamai dengan Tuhan. Tuhan tidak bisa disuap dengan nyanyian atau penyembahan dalam liturgi. Ini bukan berarti liturgi tidak perlu diselenggarakan. Penyembahan dan nyanyian rohani dalam liturgi barulah diterima kalau umat Tuhan sudah berdamai dengan Tuhan. Kata “berdamai” hendaknya tidak dimengerti secara dangkal dan miskin.
     
    Hendaknya kita tidak beranggapan bahwa kalau seseorang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka itu dianggap cukup. Hal tersebut sudah dianggap memenuhi syarat untuk diselamatkan. Sesungguhnya langkah tersebut barulah awal dari perdamaian seseorang dengan Tuhan. Perdamaian dengan Tuhan merupakan garis panjang, bukan seperti sebuah titik. Langkah seseorang pergi ke gereja adalah langkah untuk membangun pendamaian yang terus menerus dengan Tuhan. Pendamaian dengan Tuhan bisa menunjuk kepada langkah untuk masuk dalam persekutuan yang makin dalam, hubungan yang makin intim. Itulah sebabnya dalam 2 Korintus 5:19-20, Paulus berkata: “Seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami.”Jadi nasihat-nasihat Paulus melalui surat-suratnya -yang kemudian diteruskan oleh hamba-hambaNya lewat mimbar gereja- adalah upaya untuk berdamai dengan Tuhan.
     
    Dalam hal tersebut di atas, dapat ditemukan bahwa hamba-hamba Tuhan melalui mimbar harus menasihati umat supaya berdamai dengan Tuhan. Hendaknya mimbar tidak digunakan untuk hal lain selain menasihati jemaat untuk menjadi sempurna. Selanjutnya, jemaat harus memperhatikan benar nasihat-nasihat Tuhan melalui hamba-hamba-Nya. Sebab melalui nasihat-nasihat tersebut kita dituntun untuk berdamai dengan Tuhan. Oleh sebab itu gereja tidak boleh hanya diisi dengan suasana khusyuk berliturgi atau euphoria perayaan sukacita jiwani yang tidak mengandung nasihat untuk kehidupan umat agar dapat berdamai dengan Tuhan.
     
    Nasihat-nasihat melalui pemberitaan Firman Tuhan atau kebenaran yang diajarkan menjadi sarana jemaat berdamai dengan Tuhan. Ini sejajar dengan kenyataan bahwa kita disucikan bukan hanya oleh darah Yesus, tetapi juga oleh kebenaran Tuhan (Yoh. 17:17). Kebenaran Tuhan adalah Firman Tuhan yang memperbaharui cara berpikir, mengubah seluruh gaya hidup. Seseorang tidak dapat berjalan seiring dengan Tuhan kalau tidak memiliki gaya hidup yang selaras dengan Tuhan, yaitu mengerti kehendak-Nya untuk dilakukan. Mengerti kehendak Tuhan adalah berkat yang melebihi segala berkat jasmani yang bisa orang percaya terima.
     
    Mengerti kehendak Tuhan adalah kunci untuk memperoleh kelimpahan di dalam Tuhan. Dari mengerti kehendak Tuhan dan berjalan di dalamnya,
    0 min
  • Waspada Terhadap Penyesatan
    Banyak umat Kristen hanya mengenal ajaran bahwa Tuhan memberkati kalau mereka datang ke gereja dan memberi persembahan. Jemaat hanya diajar untuk menjadi orang baik, memiliki keluarga bahagia, mendapatkan menantu yang baik dan cucu yang sehat dan sukses, tubuh sehat, bisnis maju, dan terhormat di mata manusia. Mereka memiliki ukuran kebahagiaan yang sama dengan anak dunia. Pola pikir tersebut adalah pola pikir anak-anak dunia yang tidak mengenal kebenaran Injil yang murni. Mereka adalah orang-orang yang masih membangun kerajaannya di muka bumi ini. Sebenarnya mereka tidak menginginkan dengan sungguh-sungguh hal Kerajaan Surga.Kehidupan mereka di bumi sudah menjadi kerajaan yang nyaman dan membahagiakan. Padahal yang terpenting dan satu-satunya adalah belajar kehidupan Tuhan Yesus dan mengenakannya dalam hidup ini agar layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.
     
    Mereka hidup dalam kewajaran anak dunia, dan tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana mengikut Tuhan Yesus. Mereka menganggap bahwa cara atau gaya hidup mereka sudah wajar, tidak menyalahi kehendak Allah. Padahal kehidupan orang percaya harus seperti Tuhan Yesus, bersedia tidak menikmati kesenangan dunia, bahkan meninggalkan kemuliaan bersama dengan Bapa. Firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa tidak meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya, maka ia tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 14:33). Ini adalah bagian tersulit yang sering kurang atau tidak diajarkan dengan benar kepada umat dewasa ini.
     
    Ini sebenarnya bentuk penyesatan yang sangat berbahaya dalam kehidupan manusia. Dengan pikiran yang sesat tersebut mereka berpaling dari Allah yang hidup dan menujukan fokus perhatian mereka kepada dunia fana ini. Mereka tidak akan bisa “bertuhan” dengan benar. Walaupun mereka beragama dan bersila Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi sesungguhnya Tuhan mereka adalah materi, yang mereka pandang dapat membahagiakan. Tidak heran kalau mereka melakukan praktik-praktik hidup yang merugikan sesama dan merusak tatanan kehidupan berperikemanusiaan, seperti praktik-praktik korupsi dan kolusi, serta penyalahgunaan kekuasaan dan wewenang.
     
    Hal ini diringkas dalam surat Yohanes (1Yoh. 2:15-17) sebagai keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Firman Tuhan mengatakan bahwa orang seperti ini tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Kasih akan Bapa tidak ada pada orang itu. Mereka tidak mungkin dapat mengasihi Bapa. Mereka tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Tidak layak menjadi anak-anak Allah.Jika seseorang menjadikan Elohim -yang di dalamnya terdapat Pribadi Bapa dan Tuhan Yesus- sebagai satu-satunya yang berharga, maka ia pasti berusaha melakukan segala sesuatu yang dikehendaki Bapa untuk dilakukan. Memang untuk ini seseorang harus peka terhadap kehendak Allah (Elohim); mengerti dengan tepat apa yang diingini oleh Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh sebab itu kita harus menyangkal diri, artinya meninggalkan naluri, nafsu, dan keinginan-keinginan kemanusiaan kita, dan mengarahkan diri kepada apa yang Bapakehendaki harus kita lakukan.
     
    Orang yang tidak memiliki prinsip hidup hanya untuk kesenangan hati Allah (Elohim) sangat berpotensi memiliki banyak kesenangan dan hidupnya menjadi rumit. Hidupnya akan terbelenggu oleh banyak hal yang bisa menjadi kesenangan dan obsesinya. Kalau seseorang tidak menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kesenangan, maka ia akan berusaha menyenangkan diri sendiri. Dan dunia menyediakan fasilitas untuk ia memuaskan kesenangan diri tersebut. Dengan cara ini Iblis menjerat hidup seseorang, sampai akhirnya tertangkap olehnya. Tidak mungkin orang seperti ini dapat mengabdi kepada satu Tuan, yaitu Tuhan Yesus. Orang yang tidak memiliki prinsip hidup hanya untuk menyenangkan hati Allah (Elohim) pasti mempunyai banyak tuan. Hidupnya akan dibuat tenggelam dengan berbagai kesibukan demi meraih berbagai kesenangan, sampai tidak mengingini Tuhan dan Kerajaan-Nya sama se...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…