Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kesempurnaan Mengisi Keselamatan
    Bila yang dipahami sebagai “yang ditentukan” dalam Roma 8:29 adalah manusianya atau individunya, pandangan ini sangatlah keliru dan menyesatkan. Salah satu akibat dari kesalahan ini adalah hal keserupaan dengan Yesus bukan sesuatu yang unggul atau luar biasa yang menjadi tujuan perjalanan hidup Kekristenan. Hal keserupaan dengan Yesus bukan sesuatu yang patut diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Hal serupa dengan Yesus bisa dianggap tidak penting sebab menjadi serupa dengan Yesus atau tidak, bukan menjadi masalah sama sekali. Karena mereka yang dipilih masuk surga akan pasti masuk surga, tidak perlu ditentukan oleh keserupaan dengan Yesus atau menjadi sempurna.
     
    Biasanya mereka berpikir bahwa manusia diselamatkan bukan karena perbuatan baik. Mereka juga memiliki prinsip bahwa menjadi sempurna bagaimanapun tidak membuat seseorang bisa masuk surga. Dalam hal ini, pikiran mereka menjadi bodoh dan sempit. Harus dimengerti bahwa keselamatan memang bukan karena perbuatan baik, keselamatan terjadi hanya oleh korban Yesus, yaitu dengan penebusan-Nya dan pemberian kuasa-Nya supaya kita menjadi anak-anak Allah. Keselamatan pada intinya adalah proses dikembalikannya manusia kepada rancangan semula Allah. Hal ini sama dengan menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Kesempurnaan bukanlah untuk selamat, tetapi untuk mengisi maksud keselamatan itu diberikan yaitu dikembalikan ke rancangan semula agar orang percaya layak dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
     
    Penentuan untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, Tuhan Yesus, merupakan penentuan atau penunjukkan yang sangat luar biasa. Tidak ada masa atau periode di mana manusia diperkenan memiliki keadaan moral seperti Tuhan sendiri. Inilah masa di mana Allah hendak mengembalikan manusia ke rancangan-Nya semula. Yesus adalah model atau prototipe manusia yang dikehendaki oleh Allah. Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus pun juga menyatakan bahwa banyak nabi-nabi dan orang-orang benar ingin mendengar dan melihat apa yang kita dengar dan lihat, yaitu keselamatan dari Allah ini, tetapi mereka tidak mendengar dan melihat, sebab mereka bukan orang yang dipilih.
     
    Dengan penentuan atau penunjukkan tersebut secara tidak langsung juga hendak dikemukakan betapa hebat kekuatan kasih karunia yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu kemampuan atau kuasa (Yun. Exousia) supaya menjadi anak-anak Allah. Frasa “anak Allah” dalam teks aslinya untuk Yohanes 1:11-13 adalah teknon (τέκνον), yang maksudnya anak dalam arti keturunan. Dalam keselamatan tersedia fasilitas penggarapan Allah atas umat pilihan yang memberi diri digarap oleh Allah melalui Roh Kudus untuk dapat memiliki kodrat seperti Allah (berkodrat Ilahi). Dengan demikian, “dilahirkan oleh Allah” artinya diubah oleh kekuatan Allah untuk berkeadaan seperti Allah sebagai Bapa.
     
    Pada masa anugerah ini Allah hendak “melahirkan” manusia sehingga dapat berkeadaan seperti diri-Nya sendiri. Dalam hal ini manusia dapat mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Inilah sebenarnya inti kabar baik. Tidak ada hal yang lebih besar dalam hidup ini, dari hal mengenakan kodrat Ilahi. Ini adalah berkat terbesar dan berkat kekal. Jadi, kalau kabar baik disimpangkan menjurus kepada berkat jasmani seperti penganut Teologi Kemakmuran, maka berarti unsur kesesatan yang menggagalkan rencana Allah sudah dikonsumsi umat Kristen. Ini adalah kebodohan yang sangat menyesatkan. Penganut Teologi Kemakmuran dalam stadium tertentu sama seperti menyembah Iblis karena diperkenankan untuk menikmati dunia sama seperti anak-anak dunia. Pada dasarnya mereka tidak mengikut jejak Yesus dan tidak mengikuti teladan yang ditunjukkan Paulus sebagai model anak Allah yang baik di antara umat pilihan.
     
    Hal menjadi serupa dengan Yesus yang adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:15), yang menjadi teladan hidup kita,
    0 min
  • Kebebasan Memilih Keselamatan
    Dari sekian banyak pasal dalam kitab Roma, Roma pasal 9 adalah pasal yang sering diperdebatkan. Pasal ini memuat ayat-ayat yang berbicara mengenai pemilihan, penetapan Allah, dan kehendak bebas manusia. Dari pasal ini, oleh sekelompok teolog tertentu telah terbangun premis, gagasan, dan doktrin bahwa Allah menetapkan segala sesuatu; di dalamnya juga diyakini bahwa Allah juga menetapkan manusia yang pasti akan diselamatkan. Mereka yang ditetapkan pasti selamat masuk surga tersebut dikondisi Tuhan untuk tidak dapat menolak anugerah-Nya. Pengajaran ini sering disebut sebagai “predestinasi.” Tentu saja kondisi ini membuat mereka yang tidak ditetapkan selamat masuk surga, dikondisikan tidak bisa menerima anugerah. Pandangan ini sangat keliru.
     
    Di dalam Roma 9:1-3 Paulus mengungkapkan isi hatinya: “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” Dari tulisan ini, Paulus rela terkutuk demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya yang tidak selamat masuk surga. Paulus rela terkutuk atau menerima hukuman akibat kesalahan saudara-saudara sebangsanya yang menolak Yesus sebagai Mesias. Keinginan seperti ini juga pernah dimiliki Musa pada waktu Tuhan hendak meninggalkan Bangsa Israel di padang gurun. Musa rela namanya terhapus dari Kitab Kehidupan demi bangsanya agar Bangsa Israel tidak ditolak oleh Allah, melainkan tetap disertai oleh Tuhan (Kel. 32-33).
     
    Secara tidak langsung pernyataan Paulus ini memperingatkan kita bahwa kebinasaan saudara-saudara kaum sebangsanya -yaitu sebagian Bangsa Israel- disebabkan karena kehendak mereka sendiri yang menolak Mesias. Hal ini tentu bukan karena penentuan dari Allah secara sepihak. Bukan karena Allah yang membuat mereka tidak bisa menerima anugerah. Kalau keselamatan atau kebinasaan saudara-saudara sebangsanya ditentukan oleh Allah secara sepihak, pernyataan Paulus bahwa ia rela menggantikan saudara sebangsanya atau rela terkutuk berarti merupakan sikap melawan Allah. Ini juga berarti Paulus tidak menerima keputusan Allah; berarti pula Paulus tidak menerima tatanan Allah.Dalam hal ini pula secara tidak langsung Paulus menyalahkan Allah. Kesan yang bisa ditimbulkan adalah bahwa keinginan Paulus rela mati demi keselamatan bangsanya akibat “kesewenang-wenangan atau ketidakadilan Allah.” Ini juga sama artinya bahwa Paulus bersikap kurang ajar terhadap Allah atau bersikap tidak menghormati Allah.
     
    Kalau Paulus menyetujui predestinasi -bahwa Allah sudah menentukan ada sekelompok orang tertentu yang ditentukan pasti selamat masuk surga, dan ada sekelompok yang lain harus binasa sebab tidak terpilih dan ditentukan untuk selamat masuk surga- pastilah Paulus tidak akan menyatakan hal di atas. Sesungguhnya Paulus sangat berdukacita atas keadaan bangsanya, dan bersedia terkutuk, terpisah dari Kristus demi keselamatan saudara-saudara sebangsanya. Hal ini menunjukkan bahwa pemberontakan bangsanya terhadap Allah adalah karena keputusan mereka sendiri, dari kehendak bebas yang ada pada mereka.
     
    Dalam hal ini, sangat bisa dimengerti kalau di dalam tulisannya di 1 Korintus 10:11, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” Paulus mengemukakan hal ini terkait dengan kenyataan sebagian besar Bangsa Israel yang keluar dari Mesir menuju Kanaan, tidak semua sampai ke Kanaan. Hal itu terjadi bukan karena Allah menentukan kegagalan sebagian mereka, tetapi karena kesalahan Bangsa Israel itu sendiri. Allah bukan tidak sanggup membawa mereka semua sampai Kanaan, tetapi ternyata respon setiap individu menentukan apakah mereka dapat memiliki kasih karunia Tuhan atau tidak. Hal itu tergantung dari masing-masing individu.
    0 min
  • Tindakan Allah Selaras Hakikat-Nya
    Kita harus memahami dengan tepat latar belakang pernyataan Tuhan di dalam Roma 9:13,“Aku mengasihi Yakub dan membenci Esau.” Ternyata ayat ini diambil dari Kitab Maleakhi 1. Kita harus mengamati dengan teliti Maleakhi 1 tersebut, yaitu dialog antara Bangsa Israel dengan Allah. Bangsa Israel seakan-akan mau memperkarakan mengapa Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau. “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” “Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau…” “…Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” Dengan cara menyangka: “Meja TUHAN boleh dihinakan!” “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? …” Dan seterusnya.
     
    Dari pembacaan ini dapat diambil kesimpulan bahwa bukan tanpa alasan kalau Allah mengasihi Yakub dan membenci Esau. Kalau mereka bersikap tidak hormat kepada Allah, seperti Esau tidak menghormati orang tuanya, maka mereka juga tidak layak dikasihi. Ini bukan berarti Firman Allah gagal. Tetapi masing-masing individu memang diberi kehendak bebas untuk mengambil keputusan dan memilih dalam menentukan nasib atau keadaannya. Berbicara mengenai Esau dan Yakub, sebenarnya konteksnya bukan masalah individu, tetapi pemilihan suatu bangsa. Buktinya Esau tidak pernah menjadi hamba bagi Yakub, tetapi secara komunitas, keturunan Esau -yaitu bangsa Edom- tidak menjadi bangsa yang diberkati oleh Tuhan. Dengan demikian sangatlah keliru kalau pemilihan Yakub sebagai ahli waris dan penolakan Allah atas Esau disejajarkan atau menjadi tipologi dari pemilihan keselamatan atas individu.
     
    Implikasinya bagi orang percaya masa kini adalah hendaknya kita tidak merasa sebagai umat pilihan secara rohani (orang Kristen) maka pasti masuk surga. Banyak orang Kristen berpikir bahwa menjadi umat pilihan berarti pasti masuk surga. Harus dipahami bahwa menjadi umat pilihan adalah menjadi orang yang berpotensi menjadi umat Allah yang kekal, abadi atau permanen. Tetapi, menjadi umat Allah yang kekal atau abadi tergantung respon kita terhadap kasih karunia yang diberikan oleh Allah melalui karya salib Tuhan Yesus. Jika respon seseorang terhadap karya salib salah, maka seperti Bangsa Israel yang tewas di padang gurun, banyak orang Kristen yang juga akan tewas dalam perjalanan hidupnya sehingga tidak akan sampai di Rumah Bapa. Itulah sebabnya harus dipahami bahwa untuk diselamatkan harus ada perjuangan untuk masuk jalan sempit (Luk. 13:23-24).
     
    Jadi bukan tanpa alasan kalau suatu hari Allah menolak orang-orang tertentu. Ada dasar dari tindakan Allah tersebut yang tidak merusak prinsip dan hakikat keadilan Allah dalam menetapkan seseorang selamat atau binasa. Hal ini terjadi bukan karena Tuhan menghendaki atau bermaksud “membinasakan” seseorang sehingga membencinya, sementara Tuhan mengasihi yang lain dan membawanya ke surga. Tetapi Tuhan memberi kehendak bebas kepada masing-masing individu. Kehendak bebas masing-masing individu inilah yang melahirkan respon terhadap karya keselamatan dari Tuhan. Respon inilah yang membangun atau menentukan sikap Tuhan kepada masing-masing individu. Kebenaran ini membangun logika yang sehat, waras, adil, jujur, cerdas,            dan memiliki implikasi yang jelas bagi umat pilihan, bagaimana harus mengisi hari hidupnya.
     
    Jika Allah digambarkan sebagai Pribadi yang secara sepihak menentukan orang untuk dibenci dan dika...
    0 min
  • Pemilihan Atas Bangsa Israel
    Jika menghubungkan pemilihan Yakub dengan kemahatahuan Allah, maka kasus itu bukan hal yang sulit untuk dimengerti. Ketika Tuhan mengatakan bahwa Ia memilih Yakub, pemilihan itu bisa dilakukan tidak lepas dari keberadaan Allah, yaitu berdasarkan tatanan yang ada pada-Nya, juga berdasarkan kemahatahuan-Nya. Ketika Tuhan menyatakan bahwa anak yang muda dalam kandungan Ribkah akan menjadi tuan bagi yang tua, hal itu dalam rangka Allah menjawab pergumulan orang tua Esau dan Yakub yang mempersoalkan dua anak dalam kandungan Ribkah karena berdesak-desakkan.Sangat besar kemungkinan Tuhan tidak menyatakan bahwa yang muda akan menjadi tuan bagi yang tua, kalau tidak dipertanyakan.
     
    Jadi, sangatlah bisa dimengerti bahwa penjelasan Tuhan tersebut bisa juga merupakan nubuatan karena Elohim, Allah Bapa, Mahatahu; hal ini bukan sebuah keputusan secara sewenang-wenang dari pihak Allah (secara sepihak). Di kemudian hari, Yakub menunjukkan kehidupannya sebagai orang yang layak diberkati, khususnya ketika berjuang di sungai Yabok di mana namanya diganti menjadi Israel, maka ia ditentukan Tuhan sebagai nenek moyang Israel (Kej. 32). Dalam hal ini pernyataan Tuhan bahwa Ia memilih Yakub pada mulanya adalah sebuah nubuatan, bukan penetapan. Tetapi nubuatan itu tidak pernah gagal, dibuktikan dengan kemenangan Yakub di sungai Yabok yang akhirnya namanya menjadi Israel.
     
    Adapun kalau dicantumkan kalimat: “Aku mengasihi Yakub dan membenci Esau” (Rm. 9:13), bukan berarti Tuhan dengan kedaulatan-Nya yang absolut dan mutlak serta tidak terbatas secara sewenang-wenang mengasihi Yakub dan membenci Esau. Selama ini dikesankan oleh banyak orang, bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya suka-suka sendiri menunjuk dan menentukan siapa yang dikasihi dan siapa yang dibenci-Nya. Hanya orang gila yang tanpa alasan mengasihi dan membenci seseorang. Harus diingat bahwa Allah adalah Allah yang kasih, tidak mungkin Allah menaruh kebencian tanpa alasan. Tentu saja dalam hal ini yang dibenci terhadap diri Esau bukan manusianya, tetapi perbuatannya.
     
    Tentu Allah tidak menyatakan mengasihi Yakub dan membenci Esau bukan sejak mereka masih ada dalam kandungan. Sangatlah tidak mungkin kalau Allah sudah mengasihi Yakub dan membenci Esau sejak dalam kandungan. Tentu setelah perjalanan hidup mereka berlangsung dan ketika sudah nyata sikap dan tingkah laku mereka. Esau seorang yang tidak menghargai hak kesulungan yang di dalamnya ada berkat perjanjian. Ia menjual hak kesulungannya hanya demi semangkuk makanan (Kej. 25:29-34).Dengan sikap ini Esau juga tidak menghargai Tuhan. Esau melakukan tindakan-tindakan yang melukai hati orang tuanya karena mengambil istri-istri orang Het (Kej. 26:24-25).
     
    Selanjutnya, ketidakjujuran Esau dan kelicikannya nampak dalam kasus di mana Esau tidak memberi tahu ayahnya kalau hak kesulungannya sudah dijual kepada Yakub. Setelah hak kesulungannya diterima oleh Yakub, kemudian dia dendam terhadap adiknya yang sudah sah menerima hak kesulungan (Kej. 27). Semua ini merupakan gambaran dari peta hidup Esau yang membuat Allah berkata: “Aku membenci Esau.” Berbeda dengan Yakub yang dalam sejarah hidupnya, walaupun ia juga tidak sempurna, tetapi bisa diketahui berbagai sikap agungnya sebagai seorang yang layak menerima berkat perjanjian. Jika membandingkan Yakub dan Esau, dua orang ini sangat jauh berbeda.
     
    Kalau Allah berkata bahwa ia membenci Esau dan mengasihi Yakub tentu hal ini sangatlah beralasan. Sebab faktanya Yakub memiliki kepribadian yang jauh lebih baik dari Esau. Hal yang paling parah yang membuat Esau tidak pantas menjadi nenek moyang Mesias adalah menghina hak kesulungan dan sembarangan memilih jodoh. Ia menjadikan perempuan-perempuan bangsa Kanaan, orang Het, sebagai istrinya (Kej. 26:24-25). Hal mana yang tidak dilakukan oleh Abraham, Ishak, dan Yakub. Abraham sendiri sampai menuntut sumpah dari hambanya agar tidak memilih menantunya,
    0 min
  • Berdasarkan Panggilan-Nya
    Kesalahan yang terjadi dalam berteologi terkait dengan pengajaran pemilihan ini adalah menyejajarkan atau menganalogikan pemilihan atas Bangsa Israel dengan pemilihan atas individu. Dalam Kitab Roma Paulus hendak menentang mereka yang mencari pembenaran berdasarkan perbuatan, seperti orang-orang Yahudi yang bangga dengan hukum tauratnya. Pemilihan atas Bangsa Israel sebagai umat Allah hanya didasarkan pada kedaulatan Allah, bukan karena perbuatan atau faktor lainnya dari pihak Bangsa Israel atau nenek moyang mereka. Pemilihan Bangsa Israel sebagai umat pilihan berangkat atau dimulai dari pilihan Allah atas Yakub, nenek moyang Bangsa Israel. Karena Allah menghendaki demikian. Tentu yang dilakukan oleh Allah didasarkan pada kebijaksanaan Allah atau tatanan yang ada pada diri Allah, Maha Bijaksana dan Mahacerdas. Kebijaksanaan dan tatanan tersebut pasti sudah sangat permanen ada di dalam diri Allah dari kekal sampai kekal.
     
    Tulisan Paulus dalam surat Roma mengenai pemilihan Bangsa Israel berdasarkan kedaulatan Allah tersebut, dimaksudkan agar mereka tidak menjadi congkak karena keberadaan mereka sebagai umat pilihan Allah, bangsa Yahudi. Agar mereka tidak sombong dan merasa sebagai orang-orang yang memiliki Taurat dan dengan tekun melakukan Taurat tersebut serta menganggap bahwa semua itu sudah cukup melayakkan mereka menjadi umat terpilih selamanya atau secara permanen. Abraham sendiri dipilih Allah juga bukan berdasarkan perbuatan, tetapi karena kasih karunia Allah (Rm. 4:1-13). Tetapi apakah Abraham menuruti panggilan tersebut atau tidak, hal ini tergantung sikap dan respon Abraham terhadap panggilan tersebut. Panggilan Allah atas Abraham tidak hanya menyangkut Allah atas Bangsa Israel sebagai umat pilihan, tetapi menyangkut berkat Allah yang akan diberikan kepada semua bangsa di dunia ini (Kej. 12:1-3).
     
    Demikian pula pada waktu Allah menunjuk Yakub menjadi nenek moyang Mesias. Allah memilih dan menentukan berdasarkan kedaulatan-Nya. Paulus menjelaskan dengan tulisan dalam Roma 9:11-13 sebagai berikut: “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, — supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya — dikatakan kepada Ribka: “Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,” seperti ada tertulis: “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.” Dengan tulisannya tersebut Paulus membungkam kecongkakan orang-orang Yahudi yang berusaha membenarkan pemahaman mereka“dibenarkan karena perbuatan” (berdasarkan Taurat). Firman Tuhan menunjukkan bahwa ketika Esau dan Yakub masih ada dalam kandungan, belum mengerti dan melakukan apa yang baik atau jahat, Tuhan sudah menunjuk Yakub sebagai orang yang terpanggil untuk penerima berkat perjanjian.
     
    Sangatlah jelas bahwa rencana Allah tentang pemilihan-Nya bukan berdasarkan perbuatan tetapi berdasarkan panggilan-Nya. Pemilihan Allah atas Yakub atau Bangsa Israel bukan karena perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan. Dalam hal ini Allah dalam kedaulatan yang tidak didominasi dan disubordinasi oleh siapa pun, bebas melakukan suatu pilihan dan penetapan-Nya untuk memanggil seseorang menjadi umat-Nya. Kalimat “– supaya rencana Allah tentang pemilihan-Nya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya” harus dicermati. Yakub yang menjadi nenek moyang Bangsa Israel dipilih bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya. Kalimat “berdasarkan penggilan-Nya” sangat penting untuk dipahami maksudnya. Tidak ditulis berdasarkan “kedaulatan Allah,” tetapi berdasarkan “panggilan-Nya.” Pilihan atas Bangsa Israel sebagai umat yang menerima panggilan memang terjadi berdasarkan kedaulatan Allah, tetapi apakah mereka tetap menjadi umat pilihan atau tidak tergantung masing-masing individu bangsa tersebut, bukan berdasarkan kedaulatan Allah. Jadi, setelah Allah memilih Yakub sebagai nenek moyan...
    0 min
  • Analisa Efesus 1:5
    Di dalam Efesus 1:5 tertulis: “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Dalam teks aslinya tertulis: “Proopisas hemas eis huiothesian dia Iesou Khristou eis auton, kata ten eudokian tou thelematos aoutou”(προορίσας ἡμᾶς εἰς υἱοθεσίαν διὰ Ἰησοῦ χριστοῦ εἰς αὐτόν, κατὰ τὴν εὐδοκίαν τοῦ θελήματος αὐτοῦ).Dalam terjemahan Bahasa Indonesia ayat tersebutdimulai dengan frasa “dalam kasih,” yang dalam teks aslinya sendiri tidak terdapatfrasa tersebut. Hampir tidak ada frasa tersebut dalam terjemahan Bahasa Inggris. Dalam terjemahan Bahasa Inggris versi King James tertulis: “Having predestinated us unto the adoption of children by Jesus Christ to himself, according to the good pleasure of his will.”
     
    Kata “menentukan” dalam ayat ini penting maknanya. Kata ini dalam teks aslinya adalah proopisas (προορίσας), dari akar kata proorizo(προορίζω). Kata “proorizo” artinya adalah decide on beforehand, determine in advance (ditentukan sebelumnya, mengenal seseorang sebelumnya atau atau pada waktu sebelumnya). Dalam ayat ini,kata proorizo(“ditentukan”) bukan menunjuk pada manusia yang dipastikan selamat masuk surga, yaitu orang yang diketahui sebelumnya atau yang dipilih sebelumnya untuk mendapat kesempatan menerima keselamatan, tetapi menunjuk kepada standar yang harus dicapai oleh orang-orang yang dipilih untuk menerima keselamatan. Standar tersebut adalah menjadi “anak-anak Allah.”
     
    Dalam Roma 8:14 Alkitab mencatat bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak Allah. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah agontai (ἄγονται) dari akar kata ago (ἄγω), selain berarti memimpin (to lead) juga berarti “dibawa” (to bring; to carry) atau dimotori (to drive). Pada zaman anugerah ini, Tuhan membuka kesempatan bagi manusia untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu hidup dalam pimpinan Roh Allah. Roh Allah berkenan kembali diberikan untuk diam di dalam diri manusia. Inilah yang dijanjikan Tuhan Yesus, bahwa lebih berguna bagi orang percaya jika Dia pergi. Sebab jikalau Dia tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepada orang percaya, tetapi jikalau Dia pergi, Dia akan mengutus Roh Kudus kepada orang percaya (Yoh. 16:7).
     
    Dalam Ibrani 12:8 terdapat kata “anak gampang.” Kata “anak gampang” di sini adalah nothos(νόθος) yang artinya anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Dalam Bahasa Yunani selain ada kata nothos, juga ada kata huios (υἱός) yang artinya anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu, maka ia akan bertumbuh menjadi anak Allah yang sah. Jika tidak, maka ia tidak akan bertumbuh. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Berjuanglah melalui pintu yang sesak.” Paulus juga berkata: “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.”
     
    Kalimat “untuk menjadi anak-anak Allah” dalam Efesus 1:5 bukan menunjuk suatu momentum -yaitu satu peristiwa sekali seperti sebuah titik- tetapi menunjuk suatu proses seperti sebuah garis panjang agar orang percaya menggumuli proses keselamatan yang harus berlangsung dalam hidupnya. Yaitu dikembalikan ke rancangan semula, berkodrat Ilahi, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Inilah proses pengesahan sebagai anak-anak Allah, dari nothos menjadi huios. Dengan demikian sangat jelas Efesus 1:5 menunjuk kepada standar pencapaian yang harus diperju...
    0 min
  • Dipilih Sebelum Dunia Dijadikan
    Tema ini penting untuk dibedah, sebab menjadi pertanyaan dan perdebatan banyak orang. Di dalam Efesus 4:4-5 tertulis: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Seringkali ayat ini menjadi landasan bahwa Tuhan memilih dan menentukan siapa yang selamat dan yang akan binasa. Bagian tersulit yang harus dijelaskan dalam ayat ini adalah bahwa Allah sudah memilih orang-orang tertentu sebelum dunia dijadikan.
     
    Hendaknya ayat ini tidak dipahami sebagai rencana Allah untuk memilih dan menentukan orang-orang tertentu untuk menjadi anak-anak-Nya. Di dalam rancangan tersebut terdapat fakta yang mengikuti atau menyertai ada orang-orang yang diciptakan, tetapi tidak akan pernah menjadi anak-anak Allah. Tidak menjadi anak-anak Allah berarti menjadi anak-anak Iblis atau sekutu kuasa kegelapan yang nantinya akan dibuang bersama-sama dengan Iblis dan malaikat-malaikat yang jatuh ke dalam api kekal atau kebinasaan. Tidak mungkin Allah bertindak demikian. Pandangan seperti di atas ini tentu keliru, bertentangan dengan kebenaran Alkitab. Untuk ini perlu kita membedah pengertian “sebelum dunia dijadikan” Allah telah memilih kita.
     
    “Sebelum dunia dijadikan” bisa berarti waktu sebelum Iblis memberontak kepada Allah. “Sebelum dunia dijadikan” juga bisa menunjuk waktu sesudah Iblis memberontak, tetapi dunia dan manusia belum diciptakan. Kalau Allah merancang menciptakan manusia sebelum Lusifer memberontak berarti Allah Bapa menghendaki agar Putra Tunggal-Nya memiliki saudara-saudara, sehingga Dia menjadi yang sulung diantara banyak saudara. Sehingga manusia tidak memiliki tugas khusus sebagai corpus delicti untuk mengalahkan Lusifer. Tetapi apabila manusia dirancang diciptakan setelah Lusifer memberontak, ini berarti memang Allah Bapa menghendaki agar Putra Tunggal-Nya memiliki saudara-saudara, sehingga Dia menjadi yang sulung diantara banyak saudara, danmanusia memiliki tugas menjadi corpus delicti untuk mengalahkan Iblis.
     
    Menjadi corpus delicti artinya manusia menjadi mahkluk yang menghormati dan taat kepada Elohim Yahweh, tunduk kepada kehendak Allah Bapa dan Anak Tunggal Bapa. Hal ini akan menjadi ukuran yang membuktikan bahwa sikap dan keinginan yang dilakukan Iblis di surga yang tidak mau menghormati dan tunduk kepada Elohim Yahweh nyata atau terbukti salah. Perlunya pembuktian ini berangkat juga dari Roma 4:15 yang berbunyi: “Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.”Juga dalamRoma 5:13: “Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.”Iblis yang jatuh,tidak akan terbukti bersalah sebelum ada pembuktiannya, yaitu adanya makhluk yang memiliki ketaatan dan penghormatan yang benar kepada Allah (corpus delicti). Manusia yang diciptakan ini diharapkan dapat menampilkan suatu kehidupan yang bersekutu dengan Elohim Yahweh, taat, menghormati, memuliakan Allah dan meninggikan Allah Bapa, serta mengabdi dan melayani-Nya secara pantas. Hal itu menjadi pembuktian terhadap kesalahan Iblis sehingga ia bisa dihukum.
     
    Jadi dikatakan “di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan” artinya bahwa manusia diciptakan atau diadakan oleh karena Anak Tunggal Bapa, dalam hal ini Bapa menginginkan sebuah keluarga di mana Anak Tunggal-Nya menjadi yang sulung sekaligus menjadi Raja atas semuanya. Tentu saja manusia yang diciptakan untuk mendampingi Putra-Nya adalah orang-orang yang kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Dengan demikian sejak sebelum jatuh dalam dosa, manusia memang dirancang untuk berkeadaan memiliki kehendak bebas, tetapi dalam kehendak bebas tersebut manusia diharapkan tetap di dalam kekudusan dan tak berc...
    0 min
  • Analisa Efesus 1:4
    Dalam Efesus 1:4-5, Paulus oleh ilham Roh menulis: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.” Kita tidak boleh menafsirkan ayat ini dan memahaminya secara keliru. Dalam memahami ayat-ayat ini hendaknya pikiran kita tidak tersandera oleh suatu premis yang sudah ada, sehingga dalam menafsirkan ayat-ayat ini seseorang sudah mengarahkan pikirannya kepada suatu penafsiran yang tidak obyektif, karena didasarkan pada premis yang sudah ada tersebut. Efesus 1:4 dalam teks aslinya tertulis: “kathos ekseleksato hemas en auto pro kataboles kosmou einai hemas hagios kai amomous katenopion autou en agape” (καθὼς ἐξελέξατο ἡμᾶς ἐν αὐτῷ πρὸ καταβολῆς κόσμου εἶναι ἡμᾶς ἁγίους καὶ ἀμώμους κατενώπιον αὐτοῦ ἐν ἀγάπῃ).
     
    Kata “sebab” (kathos) yang memulai di ayat 4 ini menunjukkan adanya relasi atau hubungan dengan ayat sebelumnya yang tertulis demikian: “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.”
     
    Pertama harus ditegaskan bahwa Efesus 1:4-5 hanya ditujukan kepada “orang-orang kudus di Efesus.” Ini berarti Efesus 1:4-5 tidak boleh ditujukan kepada semua orang, tetapi untuk mereka yang sudah berkategori “orang kudus” seperti jemaat Efesus. Merupakan penipuan atau penyesatan kalau ayat ini dikenakan untuk semua orang Kristen secara sembarangan. Faktanya banyak teolog dengan gegabah menyatakan bahwa Allah telah memilih dan menentukan orang-orang tertentu pasti selamat masuk surga. Inilah yang menyebabkan banyak orang Kristen sudah merasa selamat hanya karena sudah percaya kepada Tuhan Yesus.
     
    Kalimat “di dalam Dia” (en auto) artinya di dalam Yesus merujuk pada keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Dalam hal ini secara tidak langsung hendak dikemukakan bahwa hanya karya salib yang dapat membawa orang-orang berdosa menjadi anak-anak Allah, berhubung manusia sudah jatuh dalam dosa. Rancangan awal Allah memiliki anak-anak dapat terwujud oleh karya salib. Kata “memilih” dalam teks aslinya adalah ekselesato (ἐξελέξατο), dari akar kata ekslego (ἐκλέγω). Frasa “Allah memilih kita” adalah terjemahan dari ekselesato hemas, kata “memilih” dalam teks asli memiliki keterangan waktu verb indicative aorist middle 3rd person singularyang menunjuk peristiwa yang sudah terjadi atau sudah dilakukan.
     
     
    Walaupun kata “memilih” menunjuk peristiwa atau kejadian yang sudah terjadi atau berlangsung, bukan berarti ada orang-orang yang ditentukan secara sepihak oleh Tuhan untuk pasti selamat masuk surga. Harus dipahami bahwa memang sejak semula Allah menghendaki manusia berkeadaan seperti Putra Tunggal-Nya yang kudus, orang-orang kudus (jemaat Efesus) yang menjadi saudara bagi Putra Tunggal-Nya, dimana Putra-Nya menjadi yang sulung. Dengan demikian kesulungan Yesus (Rm. 8:28-29) bukan karena sebuah “kecelakaan”, yaitu karena manusia jatuh dalam dosa dan Anak Tunggal Bapa harus menyelamatkannya dengan mengosongkan Diri menjadi manusia, namun memang sejak semula Allah Bapa merancang hal ini.
     
    Kata memilih (ekseleksato) selain berarti pick up (memungut atau mengambil) juga bisa berarti choose from among (memilih dari antara), juga berarti select (memilih dengan menyingkirkan yang lain). Hal ini mengisyaratkan bahwa banyak yang memiliki kemungkinan dipilih, tetapi oleh karena sesuatu hal atau bisa karena tidak memenuhi syarat, maka tidak dipilih. Hal ini sinkron dengan pernyataan Tuhan Yesus di dalam Matius 22:14 yang tertulis: “Sebab bany...
    0 min
  • Pengertian “Yang Sulung”
    Dalam Roma 8:29 terdapat kalimat “menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Kata “sulung” dalam teks aslinya adalah prototokon (πρωτότοκον), dari kata prototokos (πρωτότοκος) yang artinya firstborn, existing before, as the oldest son in a family (lahir pertama, sudah ada sebelumnya, sebagai yang tertua atau anak laki-laki paling besar dalam keluarga). Kalimat “menjadi sulung di antara banyak saudara” artinya Yesus telah memulai, yang berimplikasi kepada semua orang yang percaya kepada-Nya, harus juga mengikuti jejak-Nya. Orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Semua orang yang berkesempatan mendengar Injil yang benar dan memiliki potensi untuk merespon berita keselamatan tersebut untuk mencapai standar kehidupan seperti yang dicapai oleh Yesus. Orang percaya ditentukan untuk memiliki standar serupa (demuth)dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa. Standar ini tidak boleh diturunkan.
     
    Harus dipahami bahwa memang sejak semula, Allah menghendaki manusia berkeadaan seperti Putra Tunggal-Nya yang kudus. Bisa dimengerti kalau sejak penciptaan memang Putra Tunggal-Nya adalah yang sulung. Tentu saja kesulungan Yesus bukan karena sebuah “kecelakaan,” yaitu karena manusia jatuh dalam dosa, kemudian Anak Tunggal Bapa harus menyelamatkannya. Sehingga Anak Tunggal Bapa harus menjadi manusia dengan mengosongkan Diri menjadi manusia. Dalam segala hal Ia disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17), tetapi karenamemang sejak semula Allah Bapa menempatkan Anak Tunggal-Nya sebagai yang sulung.
     
    Dalam Kolose 1:15 Alkitab menulis: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Hal ini menunjukkan bahwa Adam diciptakan menurut gambar Anak Tunggal secara fisik. Dikatakan bahwa Anak Tunggal Bapa adalah yang sulung. Kata “sulung” dalam teks aslinya di ayat ini juga menggunakan kata prototokos (πρωτότοκος), seperti yang terdapat dalam Roma 8:29. Dikatakan bahwa Yesus lebih utama dari segalayang diciptakan. “Lebih utama” artinya bahwa Yesus lebih berharga dan lebih penting dari semua yang diciptakan oleh Bapa (Ho Theos) dan Tuhan Yesus (Ho Logos) seperti yang tertulis di dalam Yohanes 1:1-3. Ini bukan berarti Yesus bagian dari ciptaan. Anak Tunggal Bapa bukan bagian dari ciptaan, tetapi salah satu Pribadi dalam Elohim Yahweh yang menciptakan.
     
    Dalam pembahasan ini ada dua kata penting yang harus mendapat tekanan. Pertama, adalah kata “yang sulung”. Yesus menjadi “yang sulung” artinya bahwa Dia sudah memulai, dan berhasil. Dalam Ibrani 5:7-9 tertulis: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” Dia menjadi pokok keselamatan dalam teks aslinya aitios (αἴτιος), bisa berarti author, source, of being the cause of something responsible (penulis atau penggubah, sumber, menjadi penyebab sesuatu yang bertanggung jawab). Aitios bisa juga berarti a person who originated or gave existence to anything (seseorang yang menciptakan sesuatu). Kata aitios juga bisa berarti penggubah (composer).
     
    Dengan Yesus menjadi pokok keselamatan, mau tidak mau menempatkan orang percaya untuk harus digubah atau diubah. Untuk itu orang percaya harus mau taat kepada-Nya. Panggilan untuk taat menunjukkan syarat yang harus dipenuhi untuk mengalami dan memiliki keselamatan. Yesus telah memulai, orang yang mengaku percaya kepada-Nya harus mengikuti jejak-Nya, yaitu hidup seperti Dia hidup sebagai standarnya. Dalam hal ini orang percaya dipanggil untuk tidak serupa dengan dunia ini, tetapi harus serupa dengan Yesus.
    0 min
  • Analisa Roma 8:29
    Roma 8:29 menuliskan,“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”Kalimat “orang yang dipilih-Nya dari semula” menunjuk kepada orang yang hidup di zaman Perjanjian Baru, mendengar Injil dengan benar, dan memiliki potensi jasmani dan rohani untuk bisa merespon Injil dengan benar. Orang-orang yang memiliki kesempatan untuk mendengar Injil yang benar, diharapkan merespon dengan benar atau memadai sehingga benar-benar terpilih atau mengalami dan memiliki keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula yang berkeadaan sebagai anak-anak Allah, seperti Yesus.
     
    Kata “dipilih” dalam teks aslinya adalah proegnon (προέγνω) dari akar kata proginosko (προγινώσκω). Kata proegnon memiliki keterangan waktu verb indicative aorist active 3rd person singular yang menunjuk suatu tindakan, kejadian atau peristiwa yang sudah terjadi atau sudah berlangsung. Kata ini berarti know somethingbeforehand orin advance, know someone previously (diketahui sebelumnya, mengenal seseorang sebelumnya atau atau pada waktu sebelumnya). Ini berarti kalimat “orang yang dipilih-Nya” sebenarnya menunjuk kepada orang-orang yang sudah dikenali sebelumnya oleh Tuhan untuk mendapat kesempatan mendengar Injil. Tidaklah salah kalau diterjemahkan “dipilih.”
     
    Selanjutnya kalimat “ditentukan-Nya dari semula” dalam teks aslinya adalah proorisen (προώρισεν) dari akar kata proorizo (προορίζω). Kata proorizenmemiliki keterangan waktu verb indicative aorist active 3rd person singular yang menunjuk suatu tindakan, kejadian atau peristiwa yang sudah terjadi atau sudah berlangsung.Adapun kata “proorizo” dalam teks aslinya adalah decide on beforehand, determine in advance (ditentukan sebelumnya, mengenal seseorang sebelumnya atau atau pada waktu sebelumnya). Kita harus hati-hati dalam memahami kata proorizo ini, kata “ditentukan” bukan menunjuk pada manusia yang dipastikan selamat masuk surga, yaitu orang yang diketahui sebelumnya atau yang dipilih sebelumnya untuk mendapat kesempatan menerima keselamatan.
     
    Kata proorizo atau “ditentukan” menunjuk kepada standar yang harus dicapai orang-orang yang dipilih untuk menerima keselamatan. Standar yang ditentukan adalah “serupa dengan gambaran Yesus.” Kalimat “serupa dengan gambaran Anak-Nya” dalam teks aslinya adalah summorphous tes eikonos tou huiou autou (συμμόρφους τῆς εἰκόνος τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ). Kata “serupa” dalam teks aslinya adalah summorphous (συμμόρφους)berarti similarity of form or nature having the same form as, conformed to, similar in form or nature(memiliki kesamaan dalam natur atau kodrat, bukan sekadar mirip). Kata ini juga digunakan dalam Filipi 3:21. Kata summorphous dalam teksBahasa Ibrani diterjemahkan demuth (דַּמּוֹת). Adapun kata “gambaran” dalam teks aslinya adalah eikonos (εἰκόνος).Kata eikonos memiliki pengertian yang sama dengan tselem (צֶלֶם) dalam Bahasa Ibrani yang terdapat dalam Kejadian 1:26, yang juga diterjemahkan “rupa.” Kata tselem menunjuk kepada kualitas dari komponen-komponen yang ada pada Allah yang juga ada pada manusia, yaitu pikiran dan perasaan manusia. Dalam teks Bahasa Latin diterjemahkan imaginis.
     
    Dalam Kejadian 1:26 Elohim (Allah) berfirman: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.”Menjadi rancangan Allah semula, umat pilihan dapat memiliki tselem (gambar) dan demuth (rupa atau keserupaan). Kata demuth menunjuk komponen-komponen yang ada pada Allah yang juga ada pada manusia, yaitu pikiran dan perasaan. Dari pikiran dan perasaan ini maka manusia dapat memiliki keinginan atau kehendak. Tentu saja keinginan atau kehendak yang dilahirkan adalah keinginan atau kehendak yang berasal dari manusia (pikiran dan perasaan) itu sendiri. Kata tselem (keserupaan) menunjuk kepada kualitas dari demuth (pikiran, perasaan, dan kehendak).
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…