Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Keputusannya Sendiri
    Pengajaran mengenai pilihan Allah atas manusia sebagai umat pilihan yang pasti masuk surga adalah masalah rumit yang diperdebatkan di sepanjang sejarah gereja sejak dulu hingga hari ini. Pertentangan itu antara lain, apakah Allah yang memilih dan sekaligus menentukan keselamatan seseorang, atau seseorang masih memiliki tanggung jawab atau kesempatan untuk memilih atau mengambil keputusan guna keselamatannya sendiri? Karena itu, pokok bahasan ini juga akan menyinggung konsep predestinasi. Predestinasi diartikan sebagai pemilihan Ilahi atas manusia yang akan selamat; bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya telah memilih (Yun. exelexato-eklegomai) dan menentukan (Yun. proorizo) secara sepihak orang-orang yang akan selamat. Jadi, Allah sudah menetapkan sejak semula (foreordination) orang-orang yang akan menjadi umat-Nya yang pasti masuk surga. Konsep ini perlu dikoreksi dengan rendah hati dan dengan hati yang teduh. Memang, konsep ini sangat kuat menghantam gereja yang dinilai telah menyimpang pada zaman Reformasi abad 14-15. Tetapi apakah pengajaran ini masih relevan untuk zaman kita hari ini? Karena pada hari-hari kemudian Tuhan akan terus menyingkapkan kebenaran-kebenaran yang dibutuhkan dunia yang semakin jahat menjelang kedatangan-Nya.
     
    Sejatinya, menjadi umat pilihan adalah tanggung jawab bagi orang yang hidup pada zaman Perjanjian Baru. Disebut sebagai “umat pilihan,” memang mengesankan bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya memilih dan juga bisa mengesankan bahwa Tuhan mengabaikan kebebasan individu menentukan nasibnya. Tetapi dalam kenyataan hidup ini, nasib manusia ditentukan oleh keputusan dan pilihannya sendiri. Tentu pernyataan ini tidak mengurangi rasa hormat kita kepada Tuhan dengan kedaulatan-Nya. Dengan pernyataan ini bukan berarti kita tidak menerima kedaulatan-Nya. Allah adalah Allah yang berdaulat. Kedaulatan-Nya menegakkan tatanan bahwa Dia memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan keadaannya sendiri dari pilihan-pilihan yang Dia sediakan. Itulah sebabnya untuk menunjukkan konsekuensi dari kedaulatan-Nya tersebut, maka Tuhan harus membiarkan buah pengetahuan yang baik dan jahat dapat dipetik, dan Tuhan tidak mencegahnya. Tuhan memberi peringatan, tetapi tidak mencegah manusia memetiknya.
     
    Pengusiran Adam dari Taman Eden, bukan karena Tuhan menentukannya demikian, tetapi karena Adam memilih, dan Adam harus bertanggung jawab atas pilihan dan keputusannya. Betapa jahatnya Tuhan, kalau seandainya Tuhan yang membuat skenario kejatuhan manusia dan pengusirannya dari tamanindah yang diciptakan-Nya. Kisah yang dipaparkan dalam Kejadian 3 jelas menunjukkan tatanan (order) atau hukum kehidupan ini. Bahwa manusia adalah makhluk yang diberi kehendak bebas dalam menentukan “nasibnya”; apa yang ditabur, itu juga dituainya. Faktanya kenyataan yang tidak bisa ditolak bahwa manusia adalah makhluk yang tidak disetir oleh Allah. Ada bagian dalam diri manusia yang membuat manusia bisa mengambil keputusannya sendiri, dan harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ini adalah bagian yang membuat manusia dapat menjadi makhluk yang bertanggung jawab. Manusia bukan makhluk yang mengikuti arus nasib yang menghanyutkannya dan yang tidak bisa menghindar dari suatu nasib yang ditentukannya.
     
    Untuk menjadi umat pilihan yang terpilih masuk anggota keluarga Kerajaan Surga sangat diperankan oleh pilihan, keputusan, dan tindakan masing-masing individu. Setiap orang harus memiliki tindakan konkret untuk dapat menjadi umat pilihan yang akhirnya terpilih masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Kegagalan menjadi umat pilihan yang terpilih, selain disebabkan oleh konsep bahwa Tuhan yang menentukan keselamatan secara sepihak atas individu, juga karena keinginan duniawi dalam kehidupan seseorang. Konsep yang salah mengenai pemilihan dan keinginan duniawi menciptakan pasivitas rohani. Pasivitas rohani artinya keadaan dimana seseorang tidak mengalami pertumbuhan rohani yang melayakkan seseora...
    0 min
  • Membuahkan Keselamatan
    Ada satu hal yang sangat prinsip yang perlu kita amati, yaitu bahwa menerima keselamatan bukanlah hanya seperti suatu momentum atau suatu peristiwa yang dapat digambarkan sebagai sebuah titik. Menerima keselamatan itu adalah suatu proses yang dapat digambarkan sebagai suatu garis panjang, linear. Suatu proses panjang selama kita hidup. Jika seseorang menganggap bahwa keselamatan itu adalah suatu momentum atau suatu peristiwa sesaat bagai sebuah titik saja, maka ia tidak akan dapat bertumbuh dalam keselamatan, tidak bertumbuh dalam kedewasaan, dan tidak bertumbuh dalam kesempurnaan Kristiani. Ini berarti bahwa seseorang tersebut tidak akan pernah mencapai standar “dikenal oleh Tuhan” (Mat. 7:21-23).
     
    Selama ini banyak orang merasa dirinya sudah diselamatkan dalam suatu momentum tertentu. Jika kita bertanya pada seseorang, kapan Anda diselamatkan? Jawaban yang sering kita dengar adalah ketika ada KKR atau ketika mendengar siaran rohani di radio, atau peristiwa lainnya. Mereka merasa sudah selamat pada saat maju ke altar, mengaku dosa dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tetapi kenyataannya, banyak orang yang merasa sudah mengaku menerima Yesus dengan cara demikian akhirnya meninggalkan imannya. Bahkan ada yang di antara mereka menghina Tuhan Yesus yang pernah diakuinya sebagai Tuhan dan Juruselamat.
     
    Pengertian menerima keselamatan seperti itu sangatlah subyektif, yaitu dari apa yang dia rasakan, hal tersebut tidak berarti sudah menerima Yesus secara benar atau secara utuh. Harus dipahami bahwa menerima keselamatan memang sebuah momentum, tetapi juga merupakan sebuah proses. Ini bukan berarti kita tidak bisa mengatakan belum selamat. Kita sudah, sedang atau dalam proses keselamatan menuju pemulihan gambar dan rupa Allah. Keselamatan yang dimiliki seseorang dibuktikan dengan perjuangan mengerjakan keselamatan itu. Pada saat seseorang berhenti dari proses mengerjakan keselamatan berarti ia menyia-nyiakan keselamatan. Karena keselamatan itu bukan hanya terhindar dari api neraka dan diperkenan masuk surga. Keselamatan adalah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia pada rancangan-Nya. Inilah proses tersebut. Kita harus memberi diri digarap oleh Tuhan Yesus agar kita menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Tuhan Yesuslah yang menjadi teladan atau prototipe hidup kita, seperti yang Bapa kehendaki. Dia telah buktikan ketaatan-Nya hingga mati di kayu salib (Fil. 2:5-10). Ini memang terlihat seperti sebuah proyek yang mustahil.
     
    Untuk masuk proyek kemustahilan ini seseorang harus memberikan respon. Dalam Matius 19:16-26, orang kaya itu tidak memberi respon yang baik. Ketika ia mendengar harus menjual segala hartanya, dan membagikannya kepada orang miskin. Alkitab menulis, ketika orang muda itu mendengar perkataan itu pergilah ia dengan sedih. Orang muda kaya ini tidak sanggup dan tidak mampu, sebab banyak hartanya. Oleh karena itu kebaikan sempurna yang bisa dicapai oleh seseorang adalah kemampuan untuk mengerti kehendak Tuhan, apa yang baik, yang berkenan, serta melakukannya. Hal ini tidak bisa dicapai tanpa barter dan tanpa perjuangan, bahkan juga tidak bisa dicapai tanpa pengorbanan. Orang muda kaya ini tidak mau menerima syarat yang harus dipenuhi sehingga ia tidak pernah memperoleh keselamatan dalam Yesus Kristus.
     
    Hal ini berbeda dengan Zakheus. Dalam Lukas 19:1-10, Zakheus juga orang kaya. Ia juga punya jabatan sebagai kepala pemungut cukai, hartanya banyak. Tetapi ketika ia menyambut Tuhan Yesus tanpa diperintah Tuhan Yesus, tanpa dikomando, ia sudah membagikan separuh hartanya kepada orang miskin. Kalau ada orang yang pernah ia peras, ia kembalikan empat kali lipat. Ini buah dari respon. Kristalisasi dari wujud respon Zakheus. Jangan dianggap sebagai jasa, sehingga kita berpikir bahwa keselamatan itu adalah jasa manusia. Tidak. Itu hanya karena respon. Jikalau Zakheus ikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh sejak itu,
    0 min
  • Versi Keadilan
    Ada orang-orang Kristen yang percaya bahwa Allah menentukan keselamatan sebagian manusia. Kalau dikatakan bahwa Tuhan memprogram seseorang untuk selamat, bagaimana dengan mereka yang tidak selamat? Adalah tidak fair kalau jawabannya bahwa Tuhan tidak memprogram orang untuk binasa. Bila berbicara mengenai kedaulatan Allah yang mutlak, maka bila Allah memprogram mereka agar pasti selamat, berarti Tuhan juga memprogram mereka yang tidak selamat. Kalau dalam kedaulatan-Nya dikatakan bahwa Tuhan memprogram kebaikan atas kehidupan orang-orang tertentu, maka berarti Tuhan juga memprogram kejahatan atas yang lain.
     
    Ada yang mengatakan bahwa Tuhan membiarkan kejahatan, tetapi Dia tidak terlibat di dalamnya. Jika demikian, hendaknya tidak berbicara sama sekali mengenai kedaulatan Allah yang mutlak. Apakah mungkin Tuhan mendesain kebaikan, tetapi dia membiarkan kejahatan? Tuhan memaksakan kebaikan terjadi atau berlangsung atas manusia tertentu yang dipilih-Nya, tetapi Ia tidak melakukan hal itu kepada yang lain. Ini sama dengan Ia mengizinkan, membiarkan, atau kalau dianggap bahwa Dia berdaulat mutlak atas pilihan-Nya, maka bisa dikatakan Ia membuat kejahatan berlaku atau terjadi atas yang lain. Apakah etika seperti itu yang diajarkan kepada kita?
     
    Ketika diperkarakan apakah itu adil, jawabnya adalah bahwa itu versi keadilan Allah. Dari jawaban tersebut menunjukkan bahwa ada versi keadilan Allah yang tidak sama dengan versi keadilan yang Allah ajarkan kepada anak-anak-Nya. Ini jawaban yang aneh. Tentu manusia sebagai gambar Allah dimampukan untuk memahami kebenaran seperti yang Allah pahami, walau dalam ukuran yang berbeda. Tidak mungkin Tuhan memiliki keadilan versi berbeda dari versi yang diajarkan kepada kita. Tidak logis kalau Tuhan memiliki keadilan yang diterapkan bagi diri-Nya sendiri sementara Ia tidak menerapkan dan mengajarkan versi keadilan-Nya kepada umat pilihan-Nya.
     
    Menurut sebagian orang Kristen, penebusan hanya ditujukan bagi sebagian manusia saja, sebab Tuhan memiliki kedaulatan untuk memilih siapa yang selamat, walau tentu yang lain tidak selamat. Mereka yang berpandangan tersebut menyatakan bahwa manusia tidak berhak untuk protes kepada Allah, sebab manusia hanyalah makhluk ciptaan. Manusia tidak berhak membantah keputusan dari kedaulatan Allah yang mutlak dan absolut. Ini adalah pengajaran yang tidak sehat.Orang percaya tidak perlu mempersoalkan mereka yang binasa. Orang percaya dapat meyakini bahwa dirinya sudah dipilih dan ditentukan pasti selamat masuk surga dan dapat bersyukur atas pilihan dan penentuan tersebut. Bagaimana kita bersyukur atas kepastian keselamatan sementara yang lain menuju api kekal karena tidak ditentukan untuk selamat?
     
    Kalau kita diajak untuk bersyukur atas keselamatan yang kita terima, tetapi menutup mata terhadap mereka yang akan binasa, apakah hal ini dapat dibenarkan? Ini bukan hakikat Tuhan yang kasih adanya. Kita tidak diajar untuk memiliki perangai yang seperti ini. Tuhan pasti berlaku adil dan peduli terhadap keselamatan semua manusia, tanpa sikap diskriminatif, sebab Tuhan tidak mungkin tanpa alasan membuang seseorang ke neraka. Tuhan sendiri mengajarkan kepada kita kepedulian terhadap sesama. Sebagai contohnya, kalau suatu ketika rumah tetangga terjadi kebakaran yang disebabkan oleh kompor meledak, tentu itu bukan salah kita, lalu apakah kita diam saja dan berkata: “Bukan salah saya, saya tidak bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran tersebut.” Apakah tindakan tersebut bisa dibenarkan? Tentu tidak. Kita sebagai tetangga perlu mengambil bagian untuk memadamkan api.
     
    Lebih konyol lagi kalau ternyata meledaknya kompor tetangga karena seseorang yang menempatkan kemungkinan tersebut, lalu ia berkata dirinya tidak bertanggung jawab atas kebakaran itu. Mereka yang mengalami musibah itu yang harus bertanggung jawab atas hal tersebut, sementara ia berpangku tangan menyaksikan musibah itu.
    0 min
  • Kerja Keras Merespon Anugerah
    Anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus sudah sangat cukup, tidak perlu ditambah dengan apa pun lagi, sebab manusia dengan kemampuannya sendiri sudah pasti tidak akan dapat menyelamatkan dirinya. Karena hanya oleh anugerah penebusan Tuhan Yesus di kayu saliblah, maka manusia dapat diselamatkan; tetapi harus diingat bahwa tanpa menyambut (respon) anugerah keselamatan yang ditawarkan, maka tidak akan ada keselamatan dalam hidup seseorang. Bagaimanapun dan sekecil apa pun, selalu dibutuhkan adanya respon manusia yang menunjukkan kesediaan, kerelaan, dan kesadaran dari individu tersebut untuk menerima anugerah Tuhan.
     
    Respon yang bagaimanakah yang menyelamatkan? Pertanyaan ini sama artinya dengan percaya yang bagaimanakah yang dapat menyelamatkan? Kerja keras bisa dikatakan relatif dan bisa juga dikatakan subyektif. Ini tergantung dari persepsi masing-masing individu berdasarkan apa yang diajarkan kepadanya dan yang dilihatnya dari orang lain. Ada orang yang merasa sudah bekerja keras dari jam tujuh pagi sampai jam dua belas siang. Tetapi yang lain merasa baru bekerja keras bila melakukan pekerjaan yang sama dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore. Untuk ini seseorang harus belajar apa yang diajarkan Alkitab, bagaimana seharusnya merespon anugerah keselamatan yang Tuhan Yesus sediakan demi mencapai maksud keselamatan diberikan.
     
    Selama belum mencapai goal yang Tuhan targetkan -yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula- orang percaya harus terus berusaha untuk mengerti apa artinya kerja keras dalam merespon keselamatan yang Tuhan kehendaki. Terkait dengan hal ini ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan: Pertama,sebagai makhluk yang segambar dengan Allah, manusia dituntut untuk memiliki moral dan tindakan-tindakan yang mulia seperti Allah sendiri. Tuhan Yesus, Allah Anak yang menjadi manusia adalah satu-satunya sebagai prototipenya. Pemulihan gambar Allah yang rusak merupakan upaya mengembalikan manusia sebagai manusia Allah. Hal ini sama dengan usaha untuk menemukan kemuliaan Allah yang hilang atau kurang atas diri manusia.
     
    Kedua,sebagai makhluk yang segambar dengan Allah, manusia patut memberikan seluruh kehidupan–Nya bagi Sang khalik, sebab Dia adalah Sang Pemilik yang menciptakan (Yoh. 1:10-11; 1Kor 6:19-20). Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Dia, sebab justru penciptaan manusia yang segambar dengan Allah dimaksudkan agar manusia harus mengabdi kepada Tuhan dengan ibadah dan bakti yang benar. Kemampuan hebat yang manusia miliki bukan untuk dirinya sendiri, tetapi bagi Dia yang memberikannya. Dalam hal ini manusia bukanlah makhluk yang gratis, artinya manusia bukan makhluk yang diciptakan tanpa tanggung jawab. Tetapi manusia memiliki tanggung jawab, yaitu mengabdi kepada Penciptanya.
     
    Ketiga,sebagai mahluk yang segambar dengan Allah, manusia harus hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Manusia segambar dan serupa dengan diri Allah dimaksudkan agar manusia dapat mengimbangi Tuhan dan dapat menjadi teman interaksi-Nya. Itulah sebabnya menjadi kemutlakan agar manusia selalu hidup dalam kekudusan standar Allah sendiri. Inilah panggilan orang percaya yang harus dipenuhi. Banyak ayat Alkitab yang mengemukakan mengenai hal ini. Dalam 2 Korintus 6:17 tertulis: “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” Ayat ini jelas menunjukkan adanya tanggung jawab orang percaya untuk hidup dalam kesucian.
     
    Di bagian lain dalam Alkitab tertulis: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini” (1Ptr. 1:16-17). Allah Bapa menghendaki agar orang percaya yang adalah anak-anak-Nya memiliki kekudusan seperti kekudusan-Nya.
    0 min
  • Mengerjakan Keselamatan
    Respon bukanlah sekadar ucapan bibir percaya atau setuju dengan apa yang diberitakan, tetapi iman yang juga dinyatakan dalam tindakan konkret. Yakobus menegaskan: “…oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak. 2:17-26). Iman menjadi sempurna melalui tindakan selama bertahun-tahun, yang pada akhirnya tindakan perbuatan nyata tersebut terkristal sampai membangun sebuah keadaan moral yang berstandar Yesus. Tindakan perbuatan nyata inilah yang sebenarnya dapat disebut sebagai respon manusia. Inilah iman yang yang benar.
     
    Dengan mengakui bahwa respon manusia juga berperan dalam karya keselamatan Kristus, hal ini mengesankan seolah-olah anugerah yang Tuhan berikan belum cukup. Hal inilah yang membuat sebagian orang Kristen merasa terganggu,sebab menurut mereka manusia tidak sanggup sama sekali untuk selamat, perlu intervensi Tuhan sepenuhnya atau secara mutlak agar manusia diselamatkan. Hal ini didasarkan pada suatu ayat yang mengatakan: “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (Ef. 2:1). “Mati” di sini sering dipahami bahwa manusia tidak sanggup sama sekali untuk merespon anugerah Tuhan. Kalaupun bisa merespon anugerah tersebut, itu karena intervensi Tuhan di dalam batin manusia. Jadi semua dikerjakan oleh Tuhan dan manusia tidak memiliki peran sama sekali. Benarkah hal ini? Apakah respon manusia sama sekali tidak berguna atau tidak berperan? Kalau manusia tidak diharapkan responnya mengapa Tuhan selalu menyerukan panggilan pertobatan? Apakah semua itu sandiwara belaka? (Mat. 3:2; 4:17; 11:20; 18:3; Luk. 13:3,5; Kis. 2:38; 3:19; Rm. 2:5; 2Kor. 7:9; 2Ptr. 3:9; Why. 2:5; 2:16; 2:21; 2:22; 3:3; 3:19; dan masih banyak lagi).
     
    Bila semua dikerjakan oleh Tuhan, maka orang percaya tidak perlu bertindak apa pun sebab keselamatan sudah dikerjakan oleh Tuhan sendiri. All in. Pemahaman seperti ini akan menutup mata pengertian jemaat Tuhan, sehingga mereka tidak tahu bahwa setiap kita juga dituntut untuk bertanggung jawab (Mat. 12:36; Rm. 14:12; 2Kor. 5:9-10; Ibr. 4:13; 1Pet. 4:15). Tanggung jawab itu berupa respon dari manusia terhadap anugerah-Nya. Respon ini bukan sesuatu yang sederhana. Kalau Abraham merespon anugerah sebagai tanggung jawab dengan meninggalkan Ur-Kasdim sampai ia harus memberi korban bakaran dengan menyembelih anaknya sendiri, maka itu adalah bentuk respon konkret yang menunjuk kepada iman Abraham. Demikian pula orang percaya harus berani melepaskan segala sesuatu untuk merespon anugerah Tuhan (Luk. 14:33). Respon tersebut sama dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12).
     
    Firman Tuhan mengatakan: “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Kata “kerjakanlah” dalam teks aslinya adalah katergezeste (κατεργάζεσθε) yang keterangannya adalah verb imperative present middle 2nd person plural (kalimat perintah bentuk) dari kata katergazomai (κατεργάζομαι). Kata ini berarti “selesaikanlah” atau membuat lengkap atau utuh (accomplish, make completely ready).Orang percaya dipanggil untuk menyelesaikan panggilan keselamatan, yaitu agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Yun. Phroneo) seperti yang dikemukakan dalam Filipi 2:5-7. Orang percaya memiliki bagian yang harus dipenuhi.
     
    Di dalam perintah untuk menyelesaikan keselamatan tersebut, ketika manusia memberi respon, maka dari pihak Tuhan Ia melakukan intervensi dengan memberikan tuntunan. Hal ini dikemukakan dalam Filipi 2:13 bahwa Allahlah yang “mengerjakan” di dalam kita, baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Kata “mengerjakan” dalam teks aslinya adalah energon (ἐνεργῶν) dari akar kataenergeo (ἐνεργέω). Kata ini artinya bekerja di dalam (active be at work) atau memberi kekuatan (energi) dari dalam. Kata energon memiliki keterangan sebagai verb participle present active nominative masculine singular (kata kerja participle bentuk sekarang aktif nominative). Hal Ini menunjukkan pekerjaan atau tindakan yang ...
    0 min
  • Tindakan Konkrit
    Kalau kita memperhatikan fakta dalam Alkitab, setiap tindakan Tuhan selalu diimbangi oleh respon manusia. Tuhan selalu menghendaki agar manusia merespon tindakan-Nya. Kalau kita berpendirian bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia dikerjakan oleh Tuhan sendiri tanpa respon atau tindakan manusia, maka kehidupan ini menjadi fatalistik. Hidup menjadi tidak menarik karena tidak ada tantangan. Tidak ada pergumulan dalam arti yang riil, sebab manusia hanya menerima saja apa yang ditentukan oleh Tuhan baginya. Dengan demikian Tuhan menjadi penyebab segala sesuatu terjadi dalam hidup manusia, sehingga manusia tidak perlu bertanggung jawab.
     
    Jika segala sesuatu terjadi hanya karena tindakan Tuhan, maka berarti realita hidup manusia adalah susunan cerita yang telah dikarang oleh seorang penyusun skenario. Tuhan dianggap sebagai sutradara yang menentukan alur cerita kehidupan manusia dari awal hingga akhir. Dan memang menurut sebagian orang Kristen, segala hal telah ditentukan dari semula. Jadi menurut mereka, Tuhan sudah menentukan siapa yang akan mengalami kelahiran baru dan yang tidak akan mengalami kelahiran baru. Ada yang ditentukan untuk selamat, dan pihak lain atau konsekuensinya ada yang binasa. Jika manusia hanya menerima nasib atau takdir yang telah dipersiapkan dan ditentukan baginya, adilkah ini? Apakah dengan cara yang sama kita diajar menyelenggarakan keadilan seperti itu? Tentu tidak. Manusia adalah gambar Tuhan, manusia diajaruntuk memiliki keadilan seperti keadilan-Nya.
     
    Alkitab berulang-ulang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bertanggungjawab. Manusia harus bertanggungjawab atas setiap tindakannya, dari ucapan, perilaku yang kelihatan, sampai sikap batinnya yang tidak terlihat. Firman Tuhan yang mengatakan agar kita mengoreksi diri dengan serius, “kalau-kalau jalan kita serong” adalah petunjuk yang sangat jelas bahwa manusia harus memberi respon terhadap panggilan Tuhan untuk hidup dalam kebenaran-Nya (Mzm. 139). Manusia adalah makhluk bebas (walau terbatas) yang tetap dituntut untuk merespon apa yang Tuhan tawarkan kepadanya. Hukum yang tidak dapat dibantah adalah bahwa apa yang ditabur seseorang, itu juga akan dituainya (Gal. 6:7). Fragmen yang dapat menjadi acuan kita mengenal kebenaran Tuhan adalah peristiwa jatuhnya manusia pertama ke dalam dosa. Tentu sangat gegabah kalau kita mengatakan bahwa Tuhan yang telah menyusun (set up) kejatuhan manusia tersebut. Ia bukan Allah yang kejam yang menyukai penderitaan manusia, tetapi manusia sendirilah yang telah memilih jalannya sesuai dengan kehendak bebas yang dimilikinya. Manusialah yang mengambil keputusan untuk memberontak dan sebagai akibatnya manusia itu harus menerima dan memikul hasil dari keputusannya.
     
    Bila kita mengamati kehidupan Abraham yang menjadi teladan iman kita, di mana orang percaya pada masa kini diajar untuk memiliki iman seperti itu. Abraham memiliki respon yang positif dan kuat terhadap kehendak Allah (Kej. 15:6). Abraham, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah. Abraham disebut sebagai sahabat Tuhan dan imannya diperhitungkan sebagai kebenaran, setelah ia menunjukkan imannya dengan perbuatannya (Yak. 2:21-23). Dari langkahnya meninggalkan Ur-Kasdim sampai ia menaati perintah Tuhan untuk mengorbankan anaknya Ishak sebagai korban bakaran, tampak nyata responnya terhadap Tuhan. Kalau Abraham menolak meninggalkan Ur-Kasdim, ia tidak akan pernah menjadi nenek moyang umat pilihan Allah dan dinyatakan sebagai “bapa orang percaya”. Sejak Abraham keluar dari Ur-Kasdim sampai hari tuanya, di mana ia harus mengorbankan Ishak adalah rentetan pergumulan yang melaluinya iman Abraham disempurnakan. Respon itu bukan hanya satu tindakan saja dan dalam satu kali peristiwa, juga tidak sesaat saja. Respon haruslah tindakan terus menerus, yang menjadi sebuah akumulasi respon seseorang yang membawanya kepada tingkat percaya yang mur...
    0 min
  • Harganya Segenap Hidup
    Pada suatu ketika ada seorang bertanya kepada Tuhan Yesus: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” (Luk. 13:23). Tuhan Yesus menjawab: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” Kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus ini juga sejajar dengan apa yang dikatakan-Nya dalam Matius 7:13-14: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya, karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” Pintu sesak berbicara mengenai kenyataan bahwa untuk menerima keselamatan bukanlah hal yang mudah. Pernyataan Tuhan ini tidaklah sulit untuk dipahami. Kesimpulannya adalah bahwa ada perjuangan dalam proses menerima dan memiliki keselamatan.
     
    Dari pihak Tuhan, menyediakan fasilitas keselamatan yang memuat penebusan, Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala kejadian, agar manusia dikembalikan ke rancangan semula. Dari pihak manusia, perjuangan untuk menerima penggarapan Allah guna mencapai keberadaan sebagai anak Allah, yang sempurna seperti Bapa atau yang serupa seperti Yesus. Dengan keadaan ini seseorang barulah dapat dikatakan sebagai mengenakan kodrat Ilahi. Perjuangan ini ditulis dalam Ibrani 12:1-4 sebagai perjuangan melawan dosa. Perjuangan ini adalah perjuangan yang berat, yang harus mengerahkan segenap hidup. Dikalimatkan dalam Ibrani 12:4, bahwa dalam perjuangan tersebut harus sampai mencucurkan darah.
     
    Perjuangan ini dianalogikan dengan perjuangan Tuhan Yesus dalam menyelesaikan tugas Kemesiasan-Nya (Ibr. 12:2-3). Hal ini sejajar dengan apa yang dikemukakan Paulus dalam Filipi 2:12, bahwa orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Kalau tidak ada perjuangan dalam proses keselamatan, tentu Firman Tuhan tidak akan mengajarkan agar orang percaya memandang Tuhan Yesus dalam perlombaan yang diwajibkan seperti yang tertulis dalam Ibrani 12:1-4. Kata “perlombaan” dalam teks aslinya adalah agon yang berarti conflict, contention, fight, race (suatu konflik, perdebatan, pertarungan, dan perlombaan). Dengan demikian Kekristenan bukanlah jalan mudah untuk memiliki keselamatan.
     
    Perjuangan yang dikemukakan Tuhan Yesus tersebut juga dijelaskan dalam Lukas 14. Dalam Lukas 14:25-33 Tuhan mengatakan bahwa untuk mengikut Dia harus menghitung dulu anggarannya. Tuhan Yesus mengilustrasikan seperti seorang yang membangun menara. Membangun menara membutuhkan biaya yang besar. Pembangunnya harus menghitung dulu anggarannya agar pembangunan menara tersebut tidak berhenti di tengah jalan. Perjuangan itu juga digambarkan seperti raja yang maju berperang. Prajuritnya hanya berjumlah sepuluh ribu, sementara pihak musuh dua puluh ribu. Ia harus mengadakan perundingan perdamaian kalau dirasa tidak sanggup menghadapinya. Dari dua perumpamaan tersebut Tuhan Yesus menunjukkan bahwa perjuangan mengikut Tuhan Yesus itu sungguh sangat berat.
     
    Dalam Matius 19:16-26, dikisahkan mengenai Tuhanyang menghadapi orang kaya yang ingin memiliki hidup yang kekal. Maksud orang kaya mengingini hidup yang kekal adalah hidup yang berkualitas tinggi, lebih dari hidup dalam keberagamaan seperti yang telah dijalaninya. Hidup yang berkualitas tinggi adalah hidup dalam keselamatan melalui Yesus Kristus, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan semula yang mengubah kodrat dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi. Untuk memperoleh hidup yang berkualitas ini Tuhan menetapkan harga, dan Tuhan tidak pernah mengurangi harganya atau mengubah tarifnya (Mat. 19:21). Ketika orang kaya tersebut tidak bersedia mengikut Tuhan Yesus karena tidak bersedia membayar harganya, Tuhan Yesus tidak menahan orang kaya tersebut. Tuhan Yesus membiarkan dia pergi. Menjadi orang baik saja sulit apalagi menjadi sempurna.
    0 min
  • Wujud Respon
    Penyesatan yang merajalela hari ini terjadi adalah berkembangnya pengajaran mengenai pemberitaan nama Yesus, yang hanya menekankan kuasa dan kebaikan-Nya saja, dengan mengesampingkan pengajaran yang diajarkan oleh Yesus di dalam Injil. Pemberitaan seperti ini tidak akan pernah bisa membuat seseorang menjadi manusia pilihan. Nama Yesus tidak berkuasa merubah hidup seseorang tanpa mengerti apa yang diajarkan-Nya di dalam Firman-Nya. Berusaha mengerti Firman Tuhan dan menjadi pelakunya adalah wujud respon mutlak yang harus dilakukan. Injil bagai pakaian yang harus dikenakan. Injil akan membawa seseorang kepada kesucian hidup seperti yang dikehendaki oleh Bapa yang melayakkan seseorang masuk ke dalam pesta Anak Domba Allah. Inilah respon yang harus diwujudnyatakan dalam sebuah tindakan.
     
    Undangan raja yang mengadakan perjamuan dalam Matius 22:1-14 tidak secara otomatis membuat orang yang diundang bisa menikmati pesta perjamuan. Tetapi respon dalam bentuk menyiapkan pakaian pestalah yang membuat seseorang dilayakkan mengikuti pesta tersebut. Pakaian pesta di sini maksudnya adalah kesucian hidup seperti yang dikehendaki oleh Bapa. Bukan sekadar kebaikan yang menurut kita sudah sering kita lakukan, tetapi kebaikan sesuai dengan standar yang Tuhan mau. Kebaikan menurut Tuhan adalah kembali kepada gambar-Nya. Raja yang mengundang mengingini tamu-tamunya mengenakan pakaian pesta. Pakaian pesta menunjuk kepada kesucian hidup. Tidak mengusahakan memiliki kesucian hidup berarti tidak merespon anugerah dengan benar.
     
    Di dalam kisah Lot diceritakan bahwa ada satu orang yang tidak terselamatkan, yaitu istri Lot dari keluarga Lot. Ia gagal menerima rencana penyelamatan yang Tuhan sediakan saat itu, hal ini dikarenakan oleh sebab ia tidak dengar-dengaran terhadap perintah Tuhan yang memperingatkan mereka untuk tidak menoleh ke belakang, memandang Sodom-Gomora dalam kehancurannya. Dengan melanggar perintah Tuhan tersebut maka ia menjadi tiang garam. Tentu saja Tuhan tidak bermaksud hanya menyelamatkan sebagian dari keluarga Lot. Tuhan menghendaki semua anggota keluarga Lot selamat, apalagi ia adalah istri Lot. Hendaknya kita tidak berpikir bahwa Tuhan memang menentukan istri Lot tidak selamat.
     
    Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa (2Ptr. 3:9), rencana besar Tuhan tidak bisa gagal, Ia sempurna dalam rancangan-Nya. Berbicara mengenai rencana Tuhan yang tidak pernah gagal bukan berarti mengesampingkan tanggung jawab manusia yang menjadi subyek rencana Allah. Jadi, kalau istri Lot gagal menerima keselamatan dari Tuhan, maka hal tersebut disebabkan oleh karena manusia itu sendiri. Istri Lot tidak taat terhadap kehendak Tuhan. Tuhan yang baik adalah Tuhan yang menegakkan tatanan sesuai dengan Firman-Nya. Tuhan yang tidak menghendaki seorang pun binasa, tetapi setiap orang harus menuai apa yang ditaburnya. Tuhan menghendaki setiap orang berjalan dalam koridor atau jalur Tuhan, sehingga mereka dapat menerima keselamatan. Tetapi semua itu tergantung dari respon masing-masing invidu dalam menerima dan merespon keselamatan yang Allah sediakan.
     
    Demikian pula halnya dengan keselamatan. Hal keselamatan merupakan pilihan dan sangat melibatkan keputusan pribadi setiap individu dari kehendak bebas yang telah Tuhan berikan. Hal ini bukan berarti manusia boleh merasa memiliki jasa dalam keselamatan, karena harus kita ingat bahwa keselamatan adalah anugerah, artinya bahwa bagaimanapun kita tidak bisa mengusahakan keselamatan kita sendiri. Keselamatan diberikan Tuhan dengan cuma-cuma tanpa memandang kelayakan kita yang menerima anugerah tersebut. Yang harus kita lakukan hanyalah merespon keselamatan yang telah Tuhan tawarkan. Menerima atau menolaknya merupakan respon atas pilihan kita terhadap keselamatan tersebut. Dan manusia adalah makhluk cerdas yang harus mengetahui hasil akhir dari setiap pilihan-pilihan hidupnya. Keselamatan yang akan membawanya ke surga atau kebinasaan yang akan...
    0 min
  • Respon Yang Benar
    Seseorang menjadi umat pilihan yang benar atau tidak, tergantung dari responnya terhadap anugerah yang ditawarkan Tuhan. Respon di sini haruslah respon yang benar. Respon yang benar maksudnya adalah bahwa nilai atau harga respon tersebut harus sesuai dengan kehendak Tuhan. Bukan manusia yang menentukan nilai dan harganya, tetapi Tuhan. Respon yang memadai artinya respon yang menunjukkan keseriusan bahwa seseorang membutuhkan keselamatan tersebut dan mau berjuang demi keselamatannya. Berjuang di sini bukan berarti manusia dapat memiliki keselamatan dari usahanya sendiri. Keselamatan dimulai dari anugerah, yaitu korban Yesus Kristus di kayu salib yang mengangkat dosa manusia.
     
    Respon terhadap anugerah tersebut adalah respon yang berangkat dari kesadaran bahwa dirinya“miskin di hadapan Theos (Allah)” (Mat. 5:3). Jadi, seseorang akan memberi respon yang memadai bila menyadari kemiskinannya di hadapan Tuhan. Frasa “miskin di hadapan Theos (Allah)” ini diterjemahkan dengan berbagai versi dalam berbagai terjemahan di dalam Alkitab. Dalam Alkitab Bahasa Indonesia terjemahan lama, frasa “miskin di hadapan Theos (Allah)” ini diterjemahkan rendah hati. Dalam teks asli Alkitab, terjemahan frasa ini berasal dari kata dalam Bahasa Yunani: hoi ptokoi to pneumati (πτωχοὶ τῷ πνεύματι).
     
    Kata ptokoi ini memiliki bentuk tunggal ptokos berarti sangat miskin, tidak memiliki daya sama sekali atau tidak memiliki apa-apa. Dalam Bahasa Yunani kata “miskin” selain ptokoi terdapat juga kata lain, yaitu penikhros dan penes. Penikhros lebih menunjuk kemiskinan secara materi dunia (harta duniawi) atau secara finansial. Jadi, kalau dijumpai kata penikhros asumsinya menunjuk pada kemiskinan finansial. Inilah pengertian miskin yang dimengerti oleh orang pada umumnya. Bila seseorang tertumbuk kata penikhros, maka kata ini akan selalu dikaitkan dengan kekurangan harta. Kata penikhrosini dikenakan atau ditujukan untuk janda miskin yang kisahnya ditulis dalam Lukas 21:2. Kata “miskin” dalam teks ini adalah penikhros.
     
    Adapun kata penes ternyata hanya digunakan satu kali dalam Alkitab, yaitu dalam 2 Korintus 9:9. Penes menunjukkan orang yang miskin, tetapi masih mampu menghidupi diri sendiri dengan bekerja. Jadi kata penes hendak menunjuk keadaan ekonomi seseorang yang “minim” atau pas-pasan. Perbedaan kata penikhros dan penes dengan ptokos adalah kata “ptokos” menunjuk kemiskinan yang sangat ekstrem, dimana si miskin tidak mampu sama sekali mencari penghidupan atas dirinya. Sedangkan kata ptokos juga memiliki relasional dengan kata ptossein yang berarti menundukkan badan. Hal ini menunjukkan ketidakberdayaan seseorang sehingga ia tidak mampu atau tidak layak menegakkan badan. Oleh karena teks asli Alkitab kata “miskin” di sini adalah ptokoi, maka dalam terjemahan Bahasa Inggris rata-rata diterjemahkan: poor ini spirit (miskin dalam roh) (New International Version dan New King James Version). Dalam terjemahan Good News Bible diterjemahkan spiritually poor.
     
    Kata “miskin” dalam Matius 5:3 ini hendaknya tidak dipahami secara lahiriah -yaitu miskin harta benda dunia- sebab Tuhan Yesus tidak menggunakan kata penikhros atau penes. Dalam hal ini tepatlah terjemahan Bahasa Indonesia yang menambahkan kalimat “di hadapan Allah.” Kalimat “di hadapan Allah” secara tidak langsung memberi indikasi bahwa pengertian miskin di sini bukanlah miskin secara lahiriah. Kemiskinan di sini adalah dalam konteks hubungannya dengan Tuhan atau bertalian dengan kemiskinan rohani.
     
    Miskin di hadapan Allah maksudnya: Pertama,menyadari dengan kemampuannya sendiri tidak akanmampu mencapai Allah, itulah sebabnya dibutuhkan anugerah yang memperdamaikan manusia dengan Allah. Dalam hal ini tidak ada peran manusia sama sekali. Yesus yang melakukannya. Kedua,menyadari bahwa dirinya belum mencapai standar kesucian yang dikehendaki oleh Allah atau belum berkeadaan segambar dan serupa dengan Allah.
    0 min
  • Prestasi Keselamatan
    Penentuan untuk menjadi saudara bagi Yesus, di mana Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara adalah hal yang sangat luar biasa dan sesuatu yang tak ternilai harganya. Inilah target yang harus dicapai oleh orang percaya. Orang percaya dikehendaki untuk mencapai prestasi ini. Meleset dari prestasi ini berarti hamartia (meleset). Itulah sebabnya dalam kehidupan orang peraya untuk kata dosa adalah hamartia. Dalam hal ini orang percaya dipanggil untuk memiliki ketepatan berpikir, berucap, dan bertindak sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dalam hal ini Paulus menasihati agar kita memiliki pikiran dan perasaan seperti Tuhan Yesus Kristus. Pada level tertentu orang percaya dapat berkata: “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”
     
    Banyak orang Kristen tidak menyadari hal ini, itulah sebabnya mereka puas dengan hidup keberagamaan mereka yang dangkal dan miskin. Sehingga mereka hidup dalam kewajaran seperti anak dunia lainnya. Cara berpikir dan gaya hidup yang salah tersebut sudah cukup dapat mengandaskan hidup Kekristenan mereka, sehingga mereka gagal memiliki keselamatan yang disediakan oleh Allah untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula. Mereka tidak mengerti tanggung jawabnya untuk bertumbuh dalam proses dimuridkan oleh Tuhan Yesus agar menjadi serupa dengan Dia; sempurna seperti Bapa. Dengan cara ini orang-orang Kristen tersebut bukan saja dikondisi tidak aktif -walau kelihatannya aktif dalam kegiatan gereja- tetapi sebenarnya mereka tergiring ke dalam kegelapan abadi.
     
    Itulah sebabnya sangatlah penting untuk selalu dikemukakan bahwa bangsa-bangsa di luar orang Kristen juga memiliki kemungkinan menjadi anggota masyarakat dalam Kerajaan Surga, yaitu mereka yang mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat. 25:26-41). Tuhan Yesus pun mati di kayu salib untuk mereka, yaitu memikul semua hukuman atas atau akibat pelanggaran semua manusia di muka bumi ini. Dalam hal ini perbuatan baik merupakan ukuran penghakiman bagi mereka yang tidak mendengar Injil. Jelas sekali, berulang-ulang Alkitab menunjukkan bahwa semua orang akan dihakimi menurut perbuatannya. Perbuatan tersebut berdasarkan hukum atau suara hati nurani mereka (Rm. 2:12-16; Why. 20:12). Hal ini dikemukakan untuk menunjukkan perbandingan antara orang percaya sebagai umat pilihan dan mereka yang tidak menjadi umat pilihan.
     
    Perbandingan di atas dimaksudkan untuk membuka mata pengertian orang percaya agar mengerti akan panggilannya yang merupakan hal yang luar biasa. Panggilan yang hanya diperuntukkan untuk umat pilihan. Orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Itulah sebabnya Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 5:20). Moral anak-anak Allah harus lebih dari rohaniwan manapun. Standar kesempurnaan orang percaya adalah Bapa sendiri. Terkait dengan hal ini Yesus berkata: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Mat. 5:48). Oleh sebab itu keadaan orang percaya tidak boleh sama dengan orang yang bukan umat pilihan. Umat pilihan adalah umat yang berkeadaan sangat jauh berbeda dengan mereka yang bukan umat pilihan. Hal ini terkait dengan hal kesulungan Yesus di antara banyak saudara.
     
    Ada dua aspek penting terkait dengan hal kesulungan. Pertama,mengenai rahasia Tritunggal. Satu hal yang sangat prinsip yang tidak boleh gagal dimengerti bahwa Allah Anak selamanya adalah Anak yang tidak mungkin sejajar dengan Bapa. Bapa adalah Pribadi yang mempunyai segala kuasa, Kerajaan, dan kemuliaan. Yesus sebagai Allah Anak tidak memiliki kemuliaan dari diri-Nya sendiri, tetapi semua kemuliaan yang dimiliki-Nya diberikan oleh atau berasal dari Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menjadi utusan dan ketika menjadi Tuhan pun bagi kemuliaan Allah Bapa,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…