Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Memilih Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus
    Banyak orang Kristen merasa bahwa dirinya pasti memiliki Roh Allah atau Roh Kudus. Hal ini didasarkan pada ayat Alkitab bahwa orang percaya menerima materai Roh Kudus (Ef. 1:13). Dengan keyakinan ini mereka merasa bahwa dirinya tidak mungkin ditolak oleh Allah, artinya pasti masuk surga. Materai Roh Kudus dipahami oleh mereka sebagai “stempel permanen” yang menempatkan mereka sebagai orang yang dipilih dan ditentukan pasti selamat masuk surga. Kita harus memahami bahwa masalahnya bukan hanya yakin bahwa dirinya memiliki materai Roh Kudus, tetapi apakah ia hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Orang yang tidak hidup dalam pimpinan Roh Kudus bukanlah anak Allah (Rm. 8:14). Orang yang menolak pimpinan Roh Kudus pasti hidup menurut daging.
     
    Kalau orang hidup menurut daging berarti Roh Allah tidak diam di dalam dirinya. Hal ini terjadi karena seseorang menolak kehadiran Roh Kudus secara tetap di dalam dirinya atau tidak memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Jika seseorang menolak pimpinan Roh Kudus terus menerus, maka ia mendukakan Roh Kudus. Jika hal ini berlarut-larut, maka bisa memadamkan Roh Kudus, artinya ia tidak mampu mendengar suara Roh Kudus atau tidak menangkap sama sekali peringatan-Nya. Dalam hal ini Roh Kudus disia-siakan, sehingga tidak berfungsi sama sekali. Akhirnya orang seperti ini akan menghujat Roh Kudus. Bukan tidak mungkin seorang Kristen yang masih beragama Kristen, pergi ke gereja, tetapi sebenarnya sudah tidak mampu mendengar suara Roh Kudus atau tidak mampu lagi menerima peringatan Tuhan melalui Roh Kudus.
     
    Dengan hidup menurut roh maka seseorang mampu hidup seperti hidup yang telah dijalani oleh Yesus. Dengan demikian Roh Kudus diam dalam kehidupan orang tersebut. Jika hal ini terjadi, maka orang tersebut memiliki Roh Kristus; artinya memiliki ketaatan seperti yang dimiliki oleh Yesus. Orang yang memiliki Roh Kristus adalah milik Kristus. Sebaliknya, seorang yang tidak hidup menurut roh pasti tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Mereka juga pasti tidak memiliki hasrat atau gairah Kristus. Orang-orang seperti itu tidak dapat menjadi milik Kristus, sebab mereka memiliki dirinya sendiri. Mereka pasti binasa walau dengan mulut mengaku percaya kepada Yesus. Harus diingat bahwa percaya adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran.
     
    Keselamatan adalah gratis, artinya penebusan berikut kuasa (exousia) atau sarana untuk dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula diberikan cuma-cuma. Kita memperolehnya tanpa terlebih dahulu berbuat baik atau melakukan jasa apa pun. Tetapi dalam menjalani atau mengerjakan keselamatan tersebut, kita harus berjuang (Flp. 2:12-13). Bukan sesuatu yang gratis, artinya tidak dapat terjadi atau berlangsung dengan sendirinya. Dengan demikian orang yang mengaku Yesus sebagai Juruselamat akan mengalami penebusan dan menerima kuasa atau sarana keselamatan. Oleh sebab itu orang percaya harus mengerjakan proses dikembalikannya ke rancangan semula atau mengerjakan keselamatannya. Orang percaya ini harus meninggalkan hidup menurut daging kemudian hidup menurut roh. Untuk dapat memiliki kehidupan menurut roh, seseorang harus masuk proses hidup dalam pimpinan Roh Kudus sehingga menemukan gairah yang sesuai dengan gairah Yesus, sehingga dapat melakukan kehendak Bapa.
     
    Orang yang hidup menurut daging adalah orang-orang yang memikirkan hal-hal yang dari daging; keinginan daging adalah maut, perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah atau tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Dalam hal ini Paulus hendak mengemukakan perbedaan yang mencolok antara anak-anak Allah dan anak dunia. Sebaik apa pun mereka -yang tidak hidup menurut roh- tidak mungkin mencapai kesucian berstandar Allah.
     
    Dari hal tersebut sangat jelas, bahwa orang dipercaya memiliki kehendak bebas untuk menentukan keadaan atau nasib kekalnya.
    0 min
  • Roh Kudus Tidak Memeriksa
    Ada sekelompok orang Kristen yang memercayai bahwa Roh Kudus bekerja hanya dalam diri orang-orang tertentu yang sudah dipilih dan ditentukan untuk pasti selamat masuk surga. Orang yang digarap Roh Kudus tersebut tidak akan bisa menolak anugerah keselamatan.  Mereka memahami Roh Kudus sebagai Pribadi yang tanpa bisa dicegah akan menuntun seseorang untuk bertobat, berbalik dan bertumbuh dewasa menjadi manusia yang berkenan kepada Allah. Biasanya mereka yang berkeyakinan seperti ini adalah orang-orang Kristen yang sudah memiliki premis bahwa Allah memilih atau menentukan orang-orang tertentu pasti selamat masuk surga. Mereka menyerahkan diri kepada suatu keyakinan bahwa bagaimanapun pada akhirnya oleh pimpinan Roh Kudus, mereka selamat masuk surga. Ironinya mereka belum tentu menyerahkan diri pada pimpinan Roh Kudus. Menyerahkan diri kepada suatu keyakinan, kepada fakta adanya pimpinan Roh Kudus dengan menyerahkan diri kepada pimpinan Roh Kudus, adalah sesuatu yang jauh berbeda.
     
    Roh Kudus memang satu-satunya representasi Bapa dan Tuhan Yesus yang menggarap setiap individu. Tetapi sejatinya Roh Kudus adalah Pribadi yang lemah lembut. Roh Kudus adalah Pribadi yang tidak memaksakan kehendak-Nya kepada seseorang. Itulah sebabnya Roh Kudus dapat didukakan (Yes. 63:10 – “Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka.” Ef. 4:30 – “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.”  Alkitab juga menunjukkan bahwa Roh Kudus juga bisa dipadamkan, artinya Roh Kudus tidak lagi mau bersuara menuntun orang yang menolak tuntunan-Nya (1Tes. 5:19 – Janganlah padamkan Roh). Lebih tegas lagi Firman Tuhan menyatakan kenyataan adanya orang-orang yang menghujat Roh Kudus.
     
    Menghujat Roh Kudus artinya dengan sengaja dan secara terus menerus tidak menerima penggarapan Roh Kudus, sehingga hatinya menjadi keras sampai tidak dapat lagi menyambut penggarapan Roh Kudus. Dengan demikian menghujat Roh Kudus tidak hanya menunjuk kepada suatu perbuatan salah atau dosa yang dilakukan seseorang, tetapi lebih menunjuk kepada suatu stadium atau tingkatan atau level, di mana oleh karena selalu menolak karya Roh Kudus -yaitu tidak mendengar teguran dan peringatan-Nya- maka seseorang tidak lagi dapat menerima penggarapan Roh Kudus. Roh Kudus adalah wakil Bapa dan Tuhan Yesus yang bekerja dalam diri seseorang, jadi kalau seseorang sudah menolak penggarapan-Nya, maka tidak ada lagi wakil Bapa dan Tuhan Yesus yang menuntun orang tersebut. Dalam Lukas 12:10 Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.” Seseorang bisa berkeadaan melawan Yesus, tetapi selama Allah masih memberi kesempatan untuk bertobat di mana Roh Kudus masih bisa menuntun, ia belum menghujat Roh Kudus. Masih ada kesempatan untuk menerima pengampunan. Dalam kesabaran-Nya Allah melalui Roh Kudus selalu menuntun seseorang.
     
    Proses seseorang sampai menghujat Roh Kudus, pertama sebelum menghujat Roh Kudus ia mendukakan Roh Kudus (Ef. 4:30). Kalau orang percaya hidup dalam dosa dan tidak mau mendengar suara teguran Tuhan. Dosa yang dilakukan anak manusia akan pasti mendukakan hati Allah (Kej. 6:6; Yes. 63:10). Tahap kedua yaitu memadamkan Roh Kudus (1Tes. 5:19). Dalam tingkatan ini Roh Kudus tidak lagi berbicara kepada seseorang, karena orang itu tidak lagi mau mendengar suara-Nya. Mereka menganggap remeh Roh Kudus dan karya-Nya. Mereka yang disebut telah memadamkan Roh Kudus adalah mereka yang telah menutup hati nuraninya untuk mendengar suara Roh Kudus. Akhirnya yang mereka dengar adalah suara diri mereka sendiri. Tahap terakhir, bila sudah terus menerus menolak penggarapan Roh Kudus maka tidak ada kesempatan lagi digarap oleh Roh Kudus maka ia tidak akan dapat lagi bertobat.
    0 min
  • Perjuangan Hidup Menurut Roh
    Inti baptisan Roh Kudus adalah kehidupan orang percaya yang diubahkan terus menerus oleh pekerjaan Roh Kudus guna memenuhi rencana Allah Bapa. Rencana Allah Bapa adalah membinasakan pekerjaan Iblis dengan mengubah manusia menjadi sempurna seperti diri Allah Bapa, yang mana telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Ini visi utama Roh Kudus yang diutus oleh Bapa dan Anak, yaitu agar membawa orang percaya kepada segala kebenaran (Yoh. 16:13). Roh Kudus akan membuka pikiran orang percaya untuk mengenal kebenaran. Kebenaran inilah yang memperbaharui seseorang sehingga tidak serupa dengan dunia (Rm. 12:2). Kebenaran itu juga yang memerdekakan. Roh Kudus menolong orang percaya untuk memiliki kehidupan yang sempurna, seperti tuntutan bagi anak-anak Allah yang harus seperti Bapa (Mat. 5:48).
     
    Dipimpin Roh Kudus adalah tindakan Allah mengajarkan kebenaran-kebenaran kepada orang percaya, baik di dalam batinnya melalui pengajaran Firman (Logos), maupun rhema melalui pengalaman hidup. Dari hal ini nyata fungsi Roh Kudus, yaitu menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran. Kebenaran itu yang memperbaharui pikiran. Pikiran yang dibaharui membangun mindset atau cara berpikir yang baru pula. Kalau cara berpikir diubah, maka seseorang akan dapat menangkap roh yang baru, yang sesuai pikiran dan perasaan Allah. Dengan penjelasan lain: Hasil dari dipimpin oleh Roh Kudus membuat seseorang dapat menemukan roh (hasrat atau gairah), yang jika hidup menurut roh itu seseorang mengalami perubahan yang sangat radikal, yaitu mengenakan kodrat Ilahi; sebuah cara hidup yang baru sama sekali. Perubahan ini merupakan perubahan permanen, bukan perubahan sementara atau perubahan semu.
     
    Kalau ditinjau dari teks aslinya “dipimpin,” menggunakan kata ago (ἄγω). Kata ago memiliki pengertian to lead, take with one, to guide (memimpin, membawa seseorang, menuntun). Sedangkan “menurut roh,” kata menurut adalah kata (κατὰ). Kata kata (κατὰ) sebenarnya adalah sebuah preposisi, tetapi memiliki pengertian “mengikuti, menuruti, sesuai dengan atau melalui.” Memimpin artinya mengarahkan, dalam hal ini Roh Kudus mengarahkan orang percaya. Sedangkan terkait dengan hidup menurut roh, kata “menurut” artinya menyesuaikan. Dalam hal ini orang percaya harus menyesuaikan diri dengan kehendak roh. Roh di sini bukan Roh Kudus, tetapi hasrat atau gairah yang dihasilkan setelah mengalami proses dipimpin Roh Kudus.
     
    Jadi kalau dikatakan hidup menurut roh, maksudnya bukan hidup menurut Roh Kudus, tetapi hidup menurut hasrat atau gairah yang telah terbangun dari hasil perjuangan hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hasrat atau gairah tersebut menjadi milik atau bagian yang tidak pernah lepas dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini jelas sekali bahwa Allah hendak mengubah orang percaya secara permanen melalui pimpinan Roh-Nya, sehingga orang percaya memiliki roh Kristus, artinya kualitas karakter seperti Yesus. Sampai pada level ini seseorang secara otomatis selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa dan Tuhan Yesus.
     
    Orang percaya yang benar pasti mengalami proses ini. Bagi mereka yang menerima pimpinan Roh Kudus akan memperoleh roh yang seirama dengan roh itu, tetapi mereka yang tidak merespon penggarapan Tuhan melalui pimpinan Roh-Nya, tidak akan mengenal keselamatan yang membawa mereka kepada rancangan Allah semula. Mereka tidak akan pernah mengenal hidup menurut Roh. Tidak pernah mengenal mengenakan kodrat Ilahi. Dan tidak pernah mampu memenuhi apa yang menjadi prinsip hidup pengikut Tuhan Yesus: “Makananku melakukan kehendak Bapa dan menyeleseaikan pekerjaan-Nya.”
     
    Allah yang berdaulat menghendaki agar orang percaya hidup menurut roh. Hal ini mutlak harus dipatuhi. Kemutlakan ini dapat dilihat dalam Roma 8:7-8, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging,
    0 min
  • Supaya Menjadi Anak Allah
    Dalam Efesus 1:5 jelas sekali dikatakan bahwa Allah menentukan supaya orang-orang pilihan-Nya menjadi “anak-anak Allah.” Menjadi anak-anak Allah bukan sekadar sebutan, tetapi benar-benar berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dalam Roma 8:4 menyatakan bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Dalam hal ini seseorang dapat dikatakan sebagai anak Allah, bukan karena sekadar menjadi orang Kristen, aktivis gereja, majelis atau pendeta, tetapi karena dipimpin oleh Roh Kudus. Jadi kalau dikatakan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Yesus Kristus, artinya bukan saja bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan, tetapi juga bahwa keselamatan hanya melalui atau oleh korban Tuhan Yesus atas orang yang memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus.
     
    Dalam Roma 8:14 Firman Tuhan menunjukkan bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Kualifikasi ini tidak bisa digantikan dengan yang lain. Orang yang hidup dalam pimpinan Roh Allah adalah orang-orang yang berpotensi untuk dapat melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Dengan demikian hanya orang percaya yang memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus yang dimungkinkan menjadi anak-anak Allah. Hasil atau buah, atau akibat dari hidup yang dipimpin Roh Kudus adalah orang percaya menemukan roh dalam arti menemukan gairah, spirit atau hasrat yang sama dengan Kristus. Jika orang percaya hidup menurut roh tersebut, maka barulah dapat dikatakan sebagai anak-anak Allah yang sah (Yun. Huios). Inilah fasilitas keselamatan, agar orang percaya dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Orang yang selalu hidup menurut roh akan menyatu dengan roh tersebut, gairah hidup lamanya digantikan dengan gairah hidup menurut roh tersebut. Sehingga secara permanen hidup orang percaya tersebut berubah total.
     
    Dalam hal ini jelas sekali bahwa seseorang dapat menjadi anak Allah yang benar atau sah, tergantung masing-masing individu. Jika seorang Kristen masih memiliki tanda-tanda orang yang hidup “menurut daging,” maka jelas ia bukan anak Allah. Ia bisa merasa sebagai anak Allah, tetapi Tuhan tidak akan mengakuinya (Mat. 7:21-23). Tuhan menyediakan fasilitas pimpinan Roh Kudus yang menghasilkan roh yang sesuai dengan Dia, agar orang percaya hidup menurut roh tersebut, tetapi apakah seseorang memberi atau menyediakan diri hidup menurut roh atau menurut daging tergantung masing-masing individu. Dalam hal ini, Tuhan memberi kebebasan kepada masing-masing individu. Hanya orang yang menurut kepada roh yang dapat melakukan kehendak Bapa. Dengan demikian keselamatan bukan ditentukan secara sepihak oleh Allah, tetapi diperankan juga oleh perjuangan masing-masing individu.
     
    Hidup menurut roh artinya segala sesuatu yang dilakukan hanya sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tentu saja orang-orang yang hidup menurut roh tidak lagi hidup menuruti keinginannya sendiri. Tetapi mengarahkan diri kepada kehendak dan rencana Bapa serta memfokuskan diri pada kehidupan yang akan datang, yaitu Kerajaan Surga. Jika orang percaya bisa melakukan hal ini, betapa hebat kualitas hidup yang dimilikinya. Hal inilah yang mengesahkan dan menunjukkan bahwa dirinya adalah anak-anak Allah. Dalam hal ini seseorang yang menyebut Allah sebagai Bapa haruslah memiliki kualitas yang sangat luar biasa. Dengan demikian apakah seseorang nanti akan diterima di dalam keluarga Kerajaan atau tidak, sudah nampak dari perilakunya sekarang di bumi ini.
     
    Oleh sebab itu harus diingat bahwa menjadi orang percaya berarti berhutang untuk hidup menurut roh, bukan menurut daging, artinya menjadi orang percaya harus tidak lagi hidup seperti anak-anak dunia atau seperti sebelum dirinya bertobat. Menurut daging artinya menuruti diri sendiri atau hidup dalam kewajaran manusia lain hidup. Mereka yang memikirkan hal-hal dari daging atau dunia ini, menjalankan hidupnya hanya untuk mencari dan menikmati dunia ini dengan segala hiburannya.
    0 min
  • Perjuangan Mencapai Standar
    Penting sekali untuk menekankan bahwa tujuan keselamatan adalah mengenakan kehidupan sesuai dengan standar yang Allah tentukan, yaitu serupa dengan Yesus (Rm. 8:29), atau “menjadi anak-anak Allah” (Ef. 1:5). Menjadi anak-anak Allah bukan sekadar sebuah sebutan, tetapi sebuah keberadaan, yaitu “kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Ef. 1:4).  Untuk ini setiap orang percaya harus mau dibaptis. Bukan sekadar menerima sakramennya secara teknis, tetapi mengenakan makna baptisan tersebut yaitu menjalani hidup baru standar anak-anak Allah Bapa. Baptisan dalam Kekristenan adalah lambang kematian. Seorang yang memberi diri dibaptis harus meninggalkan cara hidup lama yang sama dengan anak-anak dunia, kemudian mengenakan gaya hidup Yesus. Jadi, orang yang memberi diri dibaptis dalam nama Tuhan Yesus harus belajar hidup seperti Yesus hidup (Rm. 6:4).
     
    Alkitab tidak mengajarkan orang percaya sekadar menjadi mirip Yesus, tetapi Alkitab mengajarkan orang percaya mengenakan gaya hidup Yesus atau serupa dengan Dia (Rm. 8:28-29). Orang percaya harus berjuang agar karakter Yesus menggantikan kebiasaan hidup yang digerakkan oleh karakter buruknya yang terbangun sejak kecil. Kesediaan mengenakan kehidupan Yesus inilah proses baptisan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus artinya orang percaya ditenggelamkan oleh atau di dalam Roh Kudus. Hal ini bisa terjadi atau berlangsung kalau seseorang mengalami pembaharuan pikiran oleh Injil dalam pimpinan Roh Kudus. Dengan cara demikian seseorang mengalami pertumbuhan kedewasaan rohani.
     
    Pertumbuhan kedewasaan rohani pada dasarnya adalah perubahan cara berpikir yang sama dengan pendewasaan hati nurani. Jika proses perubahan berlangsung dengan baik, maka karakter seseorang mengalami perubahan yang sangat signifikan. Gaya hidupnya menjadi sangat berbeda dengan manusia di sekitarnya. Ia dapat menghadirkan Pribadi Yesus yang pernah hadir di Palestina dua ribu tahun yang lalu di dalam hidupnya hari ini di tengah-tengah masyarakat. Orang percaya seperti ini pasti memiliki keunggulan hidup, terutama dalam moralnya dan bidang hidup yang digelutinya.
     
    Tidak ada cara lain untuk dapat menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula, selain mengenakan karakter Kristus di dalam hidup. Untuk ini orang percaya harus berani menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan bukan sekadar menjadi orang Kristen, menjadi aktivis gereja, bahkan tidak cukup menjadi pendeta. Menyerahkan diri kepada Tuhan berarti menyediakan diri dipimpin oleh Roh Kudus, dari pikiran, perasaan, kehendak, dan seluruh panca indera, serta fisiknya. Memang sebenarnya segenap hidup orang percaya adalah milik Tuhan. Tuhan telah membeli orang percaya seluruhnya dengan harga lunas dibayar, inilah penebusan itu (1Kor. 6:19-20). Sejak seseorang mengakui bahwa dirinya sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, maka ia tidak berhak lagi menggunakan pikiran, perasaan, kehendak, dan seluruh fisiknya untuk kepentingan dan kesenangan sendiri.
     
    Orang percaya dikehendaki menjadi manusia baru yang berstandar Allah sendiri, yaitu bisa memiliki pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian seseorang dimampukan memiliki moral Allah. Memiliki moral Allah maksudnya adalah orang percaya dapat mengambil keputusan, bertindak,  dan berperilaku seperti Tuhan. Inilah yang disebut sebagai mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4). Dalam teks tersebut terdapat kalimat “kuasa Ilahi-Nya” yang dari teks aslinya tes theias dunameos (τῆς θείας δυνάμεως). Dalam teks Bahasa Inggris kata tes theias dunameos ada yang menerjemahkan sebagai His Divine Power. Tentu kuasa Allah di sini menunjuk Roh Kudus dan Injil. Roh Kudus tidak bisa bekerja tanpa Injil, sebab Injil adalah alat-Nya atau sebaliknya, percuma Injil diberitakan tanpa Pribadi Roh Kudus yang mengajarkan.
     
    Memiliki moral Allah Bapa sama dengan “mengambil bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr. 12:10).
    0 min
  • Ditunjuk Untuk Menjadi Umat Pilihan
    Dalam Kisah Para Rasul 13:48, tertulis: “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Di dalam ayat ini terdapat kalimat yang dijadikan dasar seakan-akan Tuhan memilih dan menentukan orang-orang tertentu pasti selamat masuk surga. Kalimat itu adalah “…dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Secara hurufiah kalimat ini mengesankan bahwa Allah memilih dan menentukan orang-orang tertentu untuk pasti menerima keselamatan masuk surga, tetapi sebenarnya tidak demikian maksudnya. Kita harus memperhatikan seluruh perikop dalam pasal ini. Kalau kita tidak teliti memperhatikan Kisah Para Rasul 13:48 maka kita akan salah memahaminya. Bagi mereka yang sudah disandera dengan konsep bahwa Allah menentukan orang-orang tertentu untuk pasti menerima keselamatan, akan memandang ayat ini sebagai peneguhan premis mereka. Ini adalah pandangan yang salah.
     
    Untuk menemukan makna asli dari Kisah Para Rasul 13:48 kita harus memperhatikan dengan teliti ayat-ayat sebelumnya, Kisah Para Rasul 13:44-46 Pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah. Akan tetapi, ketika orang Yahudi melihat orang banyak itu, penuhlah mereka dengan iri hati dan sambil menghujat, mereka membantah apa yang dikatakan oleh Paulus. Tetapi dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: “Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.” Perikop ini menunjukkan bahwa berita keselamatan, pertama ditujukan kepada bangsa Israel, tetapi oleh karena bangsa itu menolak dan menganggap diri mereka tidak layak untuk memperoleh hidup yang kekal maka berita keselamatan ditujukan kepada “bangsa-bangsa lain.” Bangsa-bangsa lain itu menunjuk kepada “orang yang tidak mengenal Allah” dalam Kisah Para Rasul 13:48.
     
    Kita harus mengerti dengan tepat pengertian kalimat dalam Kisah Para Rasul 13:48 yang berbunyi: “dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Dalam teks aslinya kalimat ini tertulis: “kai episteusan hosoi esan tetagmenoi eis zoen aionion” (καὶ ἐπίστευσαν ὅσοι ἦσαν τεταγμένοι εἰς ζωὴν αἰώνιον). Ada beberapa kata yang tidak diterjemahkan dengan tepat dalam Alkitab Bahasa Indonesia. Pertama, kata hosoi (ὅσοι). Kata ini memiliki keterangan sebagai pronoun relative nominative masculine plural, dari akar kata hodos (ὅσος) yang mestinya lebih tepat diterjemahkan “sebanyak.” Kalau kata “semua” biasanya dalam teks aslinya adalah pas, pasa, pan (πᾶς, πᾶσα, πᾶν). Dalam Alkitab Bahasa Inggris, kata hosoi pada umumnya diterjemahkan as many as yang berarti “sebanyak.”  Kedua, kata tetagmenoi (τεταγμένοι). Kata ini memiliki keterangan waktu verb participle perfect passive nominative masculine plural, dari akar kata tasso (τάσσω). Kata tasso lebih memiliki pengertian appoint (menunjuk), to put in order (ditaruh untuk suatu maksud).
     
    Kata tasso (τάσσω) lebih tepat diterjemahkan “ditunjuk” bukan “ditentukan.” Sedangkan kata “ditentukan” biasanya menggunakan kata proorizo (προορίζω). Kata proorizo (προορίζω) diterjemahkan “ditentukan” dalam Alkitab Bahasa Indonesia di beberapa ayat seperti dalam Roma 8:29, Efesus 1:5. Jadi, kalimat dalam Kisah Para Rasul 13:48 yang berbunyi: “dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”, seharusnya diterjemahkan “dan sebanyak yang ditunjuk Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.” Dalam terjemahan bahasa Inggris versi King James diterjemahkan: “… and all who were appointed for eternal life believed.” Orang-orang yang ditunjuk Allah untuk hidup yang kekal, maksudnya bukan ditetapkan secara sepihak oleh Tuhan untuk pasti selamat masuk surga dengan dibuat menjadi perc...
    0 min
  • Pengertian Dibenarkan Oleh Iman
    Banyak orang Kristen merasa sudah dibenarkan karena merasa sudah percaya kepada Yesus, bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat, serta menjadi orang Kristen. Padahal percaya sebenarnya adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran. Abraham disebut sebagai bapa orang percaya, sebab hidupnya menjadi pola dan inspirasi kehidupan iman orang percaya. Iman adalah tindakan penurutan terhadap kehendak Allah. Kalau Alkitab menyatakan bahwa kita dibenarkan bukan karena perbuatan tetapi karena iman (Rm. 4), bukan berarti dengan mudah seseorang dapat dibenarkan hanya dengan meyakini di pikiran atau nalarnya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Percaya atau keyakinan seperti itu sebenarnya hanya berarti memercayai atau setuju terhadap identitas-Nya, belum tentu memercayai diri-Nya. Untuk mengerti makna yang benar, orisinal, dan tepat mengenai dibenarkan oleh iman, kita harus melihat latar belakang jemaat Roma dan gereja mula-mula.
     
    Iman yang dimiliki jemaat Roma dan gereja mula-mula abad satu ketika surat pastoral ditulis tidak sama dengan iman yang dimiliki oleh sebagian besar orang Kristen sekarang ini. Untuk memiliki iman, jemaat gereja mula-mula harus mempertaruhkan segenap hidup mereka tanpa batas, seperti kerelaan kehilangan kewargaan negara, kehilangan keluarga, tidak memiliki kenyamanan hidup karena aniaya dan siksaan, bahkan kehilangan nyawa demi iman (yang benar) kepada Tuhan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan segala sesuatu, sama seperti Abraham yang telah meninggalkan segala sesuatu, dan hidup dalam penurutan terhadap Allah dalam segala hal. Bila tertumbuk kata “dibenarkan oleh iman” dalam Alkitab harus dilihat dalam konteks hidup orang percaya yang sungguh-sungguh memang telah memenuhi kehidupan imannya secara benar. Sehingga mereka memiliki pembenaran secara penuh. Hanya iman yang benar yang menghasilkan pembenaran secara penuh.
     
    Jemaat Roma hidup dalam tekanan yang hebat dari pemerintahan Romawi, kalau dikatakan bahwa orang percaya pada waktu itu khususnya jemaat Roma tidak dibenarkan oleh perbuatan mereka, karena mereka memang tidak memiliki hukum seperti orang Yahudi. Harus diperhatikan bahwa perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan menurut Taurat (Rm. 3:20, 28; dan lain sebagainya). Bahkan orang-orang Kristen pada waktu itu dipandang tidak memiliki agama karena Kekristenan belum melembaga menjadi agama. Mereka tidak memiliki kitab, karena kitab Perjanjian Baru barulah terhimpun lengkap di akhir abad 2. Mereka juga tidak memiliki rumah ibadah dan upacara agama atau liturgi. Mereka berkumpul bersama di kuburan-kuburan (katakombe). Mereka dipandang tidak memiliki perbuatan yang didasarkan pada nilai-nilai hukum tertentu, sama seperti Abraham yang hidup pada zaman sebelum Taurat. Tetapi mereka memiliki penurutan terhadap kehendak Allah dengan segala harga yang harus dibayar dan resiko yang harus dipikul.
     
    Iman Abraham yang menjadi model iman orang percaya bukan hanya pada nalarnya, tetapi pada tindakannya. Abraham harus keluar Ur-Kasdim, ia harus mengganti nama walau belum memiliki anak sama sekali dari Abram menjadi Abraham, yang artinya bapak banyak bangsa. Ketika ia memiliki satu-satunya anak, Tuhan menghendaki harus dijadikan korban bakaran. Semua itu dilakukan tanpa ragu-ragu. Itulah iman. Perbuatan Abraham menjadi acuan jemaat Kristen mula-mula yaitu “menuruti kehendak Allah” saja, sehingga mereka berkelakuan seperti Yesus Tuhan dan guru mereka. Hal ini sangatlah berbeda dengan orang-orang Kristen sekarang yang hanya dengan pengaminan akali atau persetujuan pikiran mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat tanpa pertaruhan dan perjuangan.
     
    Selama ini orang menganggap pembenaran oleh iman mempermudah seseorang masuk surga atau jalan mudah untuk diselamatkan. Justru sebenarnya sebaliknya. Dibenarkan oleh iman justru jauh lebih berat dibanding dengan dibenarkan oleh perbuatan.
    0 min
  • Pengertian Pembenaran
    Ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia harus menanggung akibat tindakannya. Manusia tidak bisa diampuni dan dibenarkan tanpa perangkat yang dapat menjadi dasar azas keadilan, sebab Allah yang adil memiliki tatanan di dalam diri-Nya. Penebusan oleh darah Tuhan Yesus di kayu salib merupakan jalan pembenaran bagi manusia. Kematian Tuhan Yesus membatalkan semua tuntutan hukum atas manusia yang telah bersalah. Dengan pengorbanan Yesus, Iblis tidak lagi bisa mendakwa manusia sebab Yesus telah menggantikan tempat manusia sebagai pihak yang bersalah (2Kor. 5:1; Gal. 3:13; 5:16-18). Oleh anugerah Allah -yaitu penebusan oleh darah Yesus- manusia menerima tindakan yudisial Allah sebagai orang yang dianggap tidak bersalah. Pembenaran ini berangkat dari anugerah semata-mata yang diberikan oleh Tuhan (Tit. 3:7; Rm. 3:24-28; 5:1; Gal. 2:16).
     
    Untuk memahami pengertian pembenaran, kita harus memahami pembenaran dari berbagai dimensinya. Dalam hal ini pembenaran memiliki tiga dimensi, seperti keselamatan yang juga dapat ditinjau dari tiga dimensi. Pertama, dimensi masa lalu (past), artinya bahwa korban yang dikerjakan oleh Tuhan di kayu salib dua ribu tahun yang lalu merupakan tindakan sekali untuk selamanya bagi pembenaran manusia yang berdosa. Kedua, pembenaran aspek sekarang (present), bagi mereka yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan benar, yang sama artinya memiliki iman yang benar, maka ia menerima pembenaran. Iman datang dari pendengaran oleh Firman Kristus. Sejatinya, pembenaran berjalan seiring dengan proses keselamatan. Kalau seseorang sungguh-sungguh telah selamat, maka sekali selamat tetap selamat, demikian pula semakin seseorang dibenarkan maka pembenaran itu bersifat tetap. Keselamatan adalah proses, tetapi pembenaran bukanlah proses tetapi peneguhan dari hasil proses keselamatan yang berlangsung dengan benar. Ketiga, pembenaran ditinjau dari dimensi yang akan datang (future), bahwa suatu kali akan dinyatakan secara deklaratif, bahwa orang percaya yang setia hidup dalam kebenaran-Nya atau mengikut Tuhan Yesus dengan benar adalah orang-orang yang dibenarkan.
     
    Pembenaran yang penuh, utuh, lengkap, dan benar dapat terjadi bukan hanya karena tindakan sepihak Allah tanpa disadari oleh manusia. Jika pembenaran hanya oleh tindakan sepihak dari Allah, maka respon manusia dipandang tidak dibutuhkan sama sekali. Dari konsep ini dibangun pandangan bahwa Tuhan menentukan sebagian orang pasti selamat masuk surga. Ini pandangan yang salah. Memang pembenaran dimulai dari pembenaran dimensi pertama. Ini pembenaran sepihak dari Allah, tetapi tidak cukup sampai di situ. Pembenaran dalam dimensi pertama tidak secara otomatis menempatkan manusia sebagai orang yang sudah dibenarkan secara penuh. Orang yang mengakui dan menerima adanya pembenaran dimensi pertama harus memikul konsekuensi, sebab dengan bersedia menerima pembenaran dimensi pertama, maka harus juga bersedia masuk ke dalam proses untuk diubah agar benar-benar menjadi benar; berkodrat Ilahi, sesuai rancangan Allah semula. Tidak mungkin Allah hanya membenarkan seseorang, sementara orang itu dibiarkan tidak mengalami perubahan untuk benar-benar berkeadaan benar seperti rancangan Allah semula.
     
    Oleh sebab itu, anugerah pembenaran yang disediakan, disertai dengan pengertian maksud dan tujuan pembenaran itu diberikan. Pembenaran harus berlanjut pada proses dikembalikannya manusia kepada rancangan semula. Inilah maksud keselamatan dalam Yesus Kristus. Tanpa proses menekankan perubahan berkodrat Ilahi, pengajaran mengenai pembenaran justru malah merusak karakter atau moral orang Kristen, sebab asal sudah merasa percaya maka sudah dapat pembenaran. Pembenaran tanpa disertai tindak lanjut pemulihan gambar Allah merupakan penyesatan. Sesungguhnya pembenaran terjadi ketika seseorang sudah memiliki iman yang benar di mata Tuhan. Iman yang benar dalam kehidupan seseorang ditandai dengan kehidupan yang semakin serupa dengan Ye...
    0 min
  • Pengertian Kasih Karunia
    Pada intinya berbicara mengenai kasih karunia, orientasinya adalah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus yang diberikan Bapa kepada manusia, yaitu manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, menjadi manusia yang tidak sesuai dengan rancangan Allah semula. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula, sehingga manusia memiliki moral dalam standar kesucian Allah, dapat kembali bersekutu dengan Penciptanya, yaitu menemukan tempatnya di hadapan-Nya dan menempatkan Dia secara benar di dalam hidupnya.
     
    Kasih karunia sama maknanya dengan anugerah. Pertama, kasih karunia berarti suatu pemberian yang sangat bernilai dan dibutuhkan. Pemberian yang sangat bernilai dan dibutuhkan tersebut adalah keselamatan dari Bapa dalam atau melalui karya salib Tuhan Yesus Kristus. Kedua, kasih karunia berarti suatu pemberian yang diberikan dari pihak yang lebih tinggi derajat atau statusnya kepada pihak yang lebih rendah. Ketiga, kasih karunia berarti pemberian yang tidak memandang kelayakan si penerima pemberian. Dalam hal ini manusia tidak memiliki jasa sama sekali dalam menerima dan mengalami kasih karunia yang di dalamnya terdapat keselamatan. Keempat, kasih karunia berarti pemberian tanpa harus membayar atau memenuhi syarat tertentu. Dalam hal ini kasih karunia berarti pemberian cuma-cuma atau tanpa syarat. Oleh sebab itu tidak seorang pun bisa membanggakan diri karena memperoleh kasih karunia tersebut (Ef. 2:8-9).
     
    Di dalam kasih karunia-Nya, Allah menuntun manusia yang merespon anugerah-Nya untuk dapat dikembalikan ke rancangan semula-Nya, yaitu menciptakan manusia yang serupa dengan gambar-Nya. Dengan manusia dikembalikan serupa dengan gambar-Nya, manusia bisa berdamai dengan Allah. Berdamai bukan hanya dalam artinya status atau secara hukum (de jure), tetapi juga secara de facto, artinya manusia bisa bersekutu dengan Dia. Hanya manusia yang bermoral Allah, yaitu menanggalkan kodrat dosanya (sinful nature) dan mengenakan kodrat Ilahi (divine nature) yang bisa berjalan atau bersekutu (fellowship) dengan Allah. Dalam hal ini sebutan anak Allah bukan hanya status, tetapi benar-benar keberadaan. Hanya anak Allah (man of God) yang bisa bersekutu secara benar dengan Allah.
     
    Harus selalu diingat bahwa keselamatan bukan hanya menghindarkan manusia dari neraka dan diperkenan masuk surga, tetapi keselamatan adalah memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Itulah sebabnya orang percaya harus hidup dalam tuntunan Roh Kudus, belajar mengenal Tuhan melalui Alkitab dan pengalaman hidup setiap hari. Orang percaya juga harus memperhatikan pembentukan Allah melalui segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini, sebab di dalam segala sesuatu Allah turut bekerja. Melalui hal tersebut proses pemulihan gambar Allah berlangsung. Ini bukan dalam waktu singkat dan tidak mudah. Dalam kasih karunia Tuhan akan menggarap orang percaya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Orang percaya harus bergumul untuk mengalami proses pemulihan gambar Allah tersebut. Yesus adalah model atau prototipe gambar Allah atau manusia yang dikehendaki oleh Allah. Oleh karenanya hanya Tuhan Yesus secara pribadi -melalui Roh Kudus- yang dapat membawa setiap individu kepada rancangan semula Allah.
     
    Di satu pihak, Tuhan Yesus menyelesaikan bagian-Nya; tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya, yaitu tugas penyelamatan. Di pihak yang lain, orang percaya harus memenuhi bagiannya, yaitu dengan menyambut keselamatan yang Dia sediakan tersebut dengan perjuangan pula. Hal ini tidak merusak prinsip “only by grace” (hanya oleh anugerah Tuhan) sebab perjuangan tersebut hanyalah respon, bukan dikategorikan sebagai jasa. Oleh sebab itu kata anugerah tidak boleh disalahartikan yaitu seakan-akan segala sesuatu dikerjakan oleh Tuhan, sampai respon manusia terhadap keselamatan juga dikerjakan oleh Tuhan. Manusia sendiri yang harus merespon keselamatan...
    0 min
  • Pengertian Efesus 2:8-9
    Terkait dengan pemilihan, penentuan, dan penetapan keselamatan atas manusia, penting untuk kita memahami tulisan Paulus dalam Efesus 2:8-9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Bila tertumbuk kata “iman” dalam Alkitab, kita harus sangat hati-hati. Kita harus memperhatikan konteks di mana kata “iman” tersebut berada. Banyak orang menafsirkan ayat-ayat ini secara salah. Mereka memahami ayat-ayat ini berdasarkan premis yang sudah ada pada mereka, sehingga tidak obyektif lagi dalam memahami ayat-ayat tersebut. Kesalahan memahami ayat-ayat tersebut membangun pengertian dan sikap antara lain:
     
    Pertama, kasih karunia sudah cukup membuat seseorang dapat diselamatkan tanpa usaha atau perjuangan manusia sama sekali. Usaha atau perjuangan orang percaya dianggap sia-sia, bahkan dianggap sebagai melawan kebenaran dengan merusak prinsip sola gratia (only by grace) atau hanya oleh anugerah. Dalam hal ini respon manusia tidak dibutuhkan. Manusia hanya memiliki iman, dan sudah dianggap cukup. Pandangan ini diperkuat oleh kalimat “itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu.” Biasanya iman ini hanya dinyatakan dalam credo (pengakuan) di bibir, kemudian mereka merasa sudah menjadi orang percaya. Padahal jika dikaitkan dengan zaman gereja mula-mula, credo yang dimiliki orang percaya harus dibayar dengan kehilangan harta, keluarga, aniaya, dan bahkan kehilangan nyawa. Credo pun juga harus disertai tindakan. Oleh sebab itu memahami kata “percaya” dalam Alkitab harus dikaitkan dengan konteks zaman dimana kata itu muncul.
     
    Kedua, iman hanya sekadar dipahami sebagai aktivitas pikiran atau nalar, sebuah pengaminan akali atau sekadar persetujuan pikiran. Padahal iman adalah tindakan, seperti Abraham merespon panggilan Tuhan. Bukan hanya dengan persetujuan pikiran, tetapi tindakannya dalam menuruti yang Tuhan kehendaki. Pengertian iman yang miskin membuat Kekristenan menjadi murahan. Karya salib Yesus menjadi jalan mudah masuk surga. Di sini banyak kehidupan moral dan kerohanian orang Kristen yang seiring berjalannya zaman menjadi semakin rusak. Kalau agama-agama lain memiliki syariat yang mengarahkan penganutnya memiliki jam-jam sembahyang yang ketat, perilaku yang sesuai hukum dan berbagai aturan yang membuat mereka harus hidup tertib; sebaliknya, pada dasarnya orang Kristen cukup percaya atau beriman dengan pikiran saja maka sudah memperoleh keselamatan. Kalaupun di mimbar diajarkan etika, sebenarnya itu hanya kamuflase. Untuk apa diajarkan etika kalau dengan memiliki “iman” sudah selamat?
     
    Harus dipahami bahwa Efesus 2:8-9 ditulis untuk membungkam pikiran orang-orang pada umumnya dan orang-orang Yahudi yang berkeyakinan dan merasa bahwa dengan perbuatan baik mereka dapat dibenarkan di hadapan Allah, sehingga mereka dapat berbangga atau memegahkan diri atas kehidupan moral mereka yang baik. Padahal perbuatan baik manusia tidak ada artinya sama sekali tanpa pengorbanan Yesus memikul dosa dunia (Yoh. 1:29). Karya salib adalah kasih karunia, artinya pemberian cuma-cuma, itu bukan hasil usaha siapa pun, tetapi hanya oleh kasih Allah Bapa melalui Putra Tunggal-Nya. Oleh karena itu tidak boleh ada orang yang memegahkan diri.
     
    Namun demikian kasih karunia tidak boleh dipahami sebagai segala-galanya, artinya kalau sudah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, berarti secara otomatis sudah menerima keselamatan, yaitu kepastian masuk surga. Kasih karunia tidak boleh dipandang sebagai secara otomatis mengerjakan keselamatan dalam diri seseorang tanpa respon manusia sama sekali. Memang dari Efesus 2:8-9 dapat dilahirkan prinsip sola gratia, tetapi hendaknya pengertian sola gratia tidak diperdangkal atau dipahami secara miskin, seakan-akan proses keselamatan dapat terjadi atau berlangsung dengan mudah. Bagi mereka,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…