Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Semua Harus Menghadap Pengadilan Allah
    Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, maka tidak ada pertanggungjawaban manusia terhadap Allah. Manusia tidak perlu bertanggungjawab kepada siapa pun, juga kepada Allah, karena secara otomatis dengan sendirinya semua manusia terpisah dari Allah selama-lamanya tanpa ada perhitungan sama sekali. Kalau Yesus tidak mengangkat dosa isi dunia (Yoh. 1:29), maka tidak ada penghakiman, sebab semua manusia sudah jelas dan nyata-nyata tidak ada yang benar. Betapa mengerikan keadaan ini. Inilah yang dikehendaki oleh kuasa kegelapan. Dengan demikian manusia menjadi makhluk yang seakan-akan gratis. Manusia tidak perlu berbuat baik, sebab sebaik apa pun perbuatan manusia, akhirnya pasti terbuang dari hadirat Allah selama-lamanya. Tidak bisa dipersalahkan kalau filosofi atau prinsip manusia seperti ini adalah “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1Kor. 15:32).
     
    Dengan pengorbanan Yesus dikayu salib, maka semua dosa dipikul-Nya, sehingga manusia dapat memperoleh pembebasan akibat dosa yang dilakukan, tetapi bukan berarti manusia bebas dari tanggungjawab. Justru sejak Yesus memikul dosa manusia, maka manusia kembali dapat bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Dalam hal ini yang membuat semua manusia kehilangan tanggung jawab adalah Adam, tetapi Yesus membuat manusia dapat memperoleh kembali tanggungjawab atas dirinya sendiri. Dalam hal ini, bagi mereka yang tidak mendengar Injil dengan benar mendapat kesempatan dihakimi menurut perbuatannya. Mereka bisa hidup kembali di dunia yang akan datang atau masuk ke surga sebagai anggota masyarakat.Tetapi bagi orang percaya, bukan hanya berpeluang masuk surga, tetapi sejak di bumi belajar bertanggungjawab meresponi karya salib Kristus dengan memberi diri dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 12:6). Nantinya mereka yang serupa dengan Yesus menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.
     
    Bagi orang percaya, penebusan oleh darah Yesus harus membawanya kepada kesempurnaan, bukan hanya menjadi manusia yang baik, tetapi harus menjadi sempurna seperti Bapa. Bagi orang yang tidak mendengar Injil, mereka harus berbuat baik, karena semua orang dihakimi menurut perbuatan. Oleh sebab itu harus dipahami bahwa Yesus juga mati untuk mereka, sehingga penghakiman bagi mereka dapat dilakukan. Kalau Yesus tidak mati untuk semua orang, maka perbuatan sebaik apa pun sia-sia. Harus ada penebusan sehingga perbuatan baik orang yang tidak mengenal Injil menjadi berharga, sebab bisa membuat mereka masuk dunia yang akan datang (Mat. 25:31-46). Hal ini bukan berarti ada keselamatan di luar Kristus. Harus ditegaskan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus. Yesus mati untuk semua orang. Jadi keselamatan hanya ada di dalam Yesus (Kis. 4:12). Perbedaan antara orang yang tidak percaya dengan orang percaya adalah bahwa orang percaya dituntut bukan hanya berbuat baik, tetapi harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Orang percaya diberi kuasa dan kesempatan untuk memenuhi rencana Allah menciptakan manusia yang segambar dan serupa dengan diri-Nya.
     
    Adalah keliru kalau dikatakan bahwa Yesus mati untuk sebagian orang, sebagian yang lain dibiarkan atau tidak bisa tidak masuk neraka. Pandangan ini akan membingungkan ketika membahas mengenai penghakiman. Banyak orang Kristen membaca kalimat dalam Alkitab bahwa orang percaya diselamatkan bukan karena perbuatan baik tetapi karena iman, tanpa melihat konteks ayat tersebut.Konteks ayat itu adalah menghadapi orang-orang (khususnya orang Yahudi) yang berkeyakinan bahwa keselamatan bisa dicapai dengan perbuatan baik. Dalam Yohanes 8:31-39dikemukakan mengenai keangkuhan orang-orang Yahudi yang merasa sebagai anak-anak Abraham yang tidak dilahirkan dari zina.Mereka merasa diri sebagai orang-orang benar, sehingga mereka tidak membutuhkan keselamatan dengan cara lain. Padahal keadilan Allah menuntut dosa harus mendapat hukuman yang setimpal,
    0 min
  • Pengorbanan Yesus Mengadakan Penghakiman
    Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, semua manusia tanpa perhitungan sama sekali pasti meluncur terbuang ke neraka, sebab memang semua manusia telah berbuat dosa. Karena dosa Adam, semua keturunannya telah berkeadaan berdosa; terjual dibawah kuasa dosa. Pemberontakan manusia harus dihukum. Keadilan Allah menuntut hukuman atas kesalahan yang dilakukan oleh manusia. Allah memang penuh kasih sayang, tetapi Ia tidak akan membiarkan orang berdosa atau orang bersalah tidak memikul hukuman akibat kesalahannya. Dalam hal ini Allah tidak akan dengan mudah memberi pengampunan.Allah adalah Pribadi Agung yang memiliki tatanan. Allah tidak dapat mengampuni manusia secara mudah tanpa tatanan. Kalau ada allah atau sesembahan mengampuni manusia dengan mudah -dengan dasar hanya karena berkehendak mengampuni-maka ia adalah allah yang tidak memiliki tatanan. Jika Allah yang benar berhakikat demikian, maka Ia tidak akan mengusir Adam dan Hawa dari Taman Eden. Tentu saja Allah sudah mengampuni Adam dan Hawa sehingga mereka tidak terusir dari Taman Eden.
     
    Setiap pelanggaran harus dihukum. Kalau manusia hendak menerima pembebasan dari hukuman, harus ada pribadi atau sosok yang tidak bersalah (tidak berdosa) menggantikan tempat manusia tersebut. Padahal tidak ada manusia yang tidak berdosa. Itulah sebabnya Anak Tunggal Bapa yang harus turun ke bumi melakukan penyelamatan dengan memikul dosa manusia. Allah tidak bisa mengampuni tanpa sarana. Sarananya adalah seorang yang memikul dosa manusia. Anak Tunggal Bapa itulah satu-satunya sarananya. Dengan demikian,tanpa sarana darah Yesus semua manusia meluncur ke neraka tanpa hambatan sama sekali.
     
    Setiap pelanggaran atau dosa harus dihukum, hanya kematian Tuhan Yesus yang dapat memuaskan keadilan Allah. Karena daging manusia yang bersalah, maka hukuman juga harus dijatuhkan pada daging manusia. Tentu hanya manusiayang harusmemikul dosa, bukan hewan atau makhluk lain. Manusia mana yang bisa menanggung atau memikul dosa itu, sebab semua manusia telah jatuh dalam dosa? Untuk itu Anak Tunggal Bapadiutus oleh Bapa menjadi manusia atau masuk ke dalam daging. Anak Tunggal Bapa dikandungoleh Maria bukan oleh karena hubungan biologis.
     
    Yesus tidak mewarisi kodrat dosa seperti manusia. Yesus berkeadaan seperti Adam sebelum jatuh dalam dosa atau sebelum kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23).Yesus yg tidak berdosa inimenjadi pertaruhan, kalau Yesus bisa taat atau tidak seperti Adam yg memberontak, maka Ia bisa menggantikan semua manusia yg berdosa. Oleh karena satu orang (Adam) semua manusia yang lahir di bumi harus hidup dalam bayang-bayang maut dan dosa, maka oleh satu orang Adam terakhir (Yesus) manusia diberi kebebasan untuk menentukan keadaan kekalnya. Inilah keadilan Allah.
     
    Setiap seorang anak manusia lahir, dia tidak mengerti kalau dirinya sudah dibawah bayang-bayang maut, dibawah kutuk dosa,atau dibawah hukum dosa. Didalam dirinya mengalir sinful nature atau kodrat dosa. Anak-anak manusia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu kalau ia berkeadaan seperti itu. Sebenarnya,seandainya sebelum dilahirkan ia mengerti keadaan ini, belum tentu seseorang mau dilahirkan ke bumi. Sesungguhnya Yesus mati untuk semua orang yang lahir di bumi ini tak terkecuali. Inilah bentuk keadilan Allah. Oleh satu orang semua manusia hidup dibawah bayang-bayang maut kekal, tetapi oleh seorang Penyelamat yang memikul dosa manusia maka ada pengharapan memeroleh kehidupan kekal.
     
    Harus dipahami bahwa kalau Yesus mati untuk semua orang, bukan berarti secara otomatis semua orang masuk surga. Dengan adanya korban Kristus di kayu salib, maka penghakiman atau pengadilan dapat berlangsung atau dapat dilakukan atas semua manusia secara adil.Adil artinya setiap orang dihakimi menurut ukuran yang berbeda sesuai dengan porsi dan keadaan masing-masing. Dalam hal ini, tidak semua orang dihakimi dengan ukuran yang sama.
    0 min
  • Penghakiman Kepada Semua Orang
    Manusia adalah makhluk ciptaan yang luar biasa, lebih unggul dari semua ciptaan Allah yang lain. Keistimewaan yang dimiliki makhluk ini adalah memiliki komponen-komponen yang ada pada diri Allah. Itulah sebabnya Alkitab menyatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar-Nya (Kej. 1:27). Komponen-komponen tersebut adalah pikiran dan perasaan. Dengan pikiran dan perasaan tersebut, manusia dapat menciptakan kehendak. Oleh kehendak tersebut manusia dapat membangun manusia batiniahnya atau kualitas moralnya. Hal ini mengarahkan hidup masing-masing individu. Dengan demikian keadaan masing-masing individu ditentukan oleh dirinya sendiri. Ini adalah hukum kehidupan yang Tuhan tetapkan. Oleh karena hal ini maka Allah memberi ruang bagi manusia untuk memilih dan mengambil keputusan.
     
    Tentu saja kualitas manusia batiniah atau moralnya menentukan perilakunya. Perilaku tersebut sangat berperan dalam hubungan dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.Dengan keberadaan ini, tidak bisa tidak manusia harus bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Bagaimanapun setiap individu harus ada pertanggungjawaban kepada Tuhan yang menciptakan dirinya. Itulah sebabnya manusia bukanlah makhluk gratis, artinya manusia memiliki hak dan kewajiban. Manusia bisamenikmati semua hak-hak yang diberikan oleh Allah, tetapi juga harus bertanggungjawab atas kewajiban yang diberikan kepadanya.Kewajiban manusia adalah melakukan kehendak Penciptanya dan memenuhi yang dikehendaki SangPencipta untuk ditunaikan. Tetapi kewajiban ideal seperti ini hanya dikenal dan dituntut atas mereka yang mengenal Penciptanya.
     
    Bagi manusia yang tidak mengenal Allah yang benar, yaitu mereka yang bukan umat pilihan Perjanjian Lama maupun bukan umat pilihan Perjanjian Baru, relasi yang menjadi pertimbangan dalam penghakiman atas mereka adalah relasi dengan sesama. Tentu saja penghakiman atas mereka hanya didasarkan pada sikap mereka terhadap sesama. Hal ini diyatakan jelas dalam Matius 25:31-46. Dalam perikop tersebut dikemukakan bahwa diterimanya orang-orang tertentu di dalam Kerajaan Surga adalah sikap mereka dalam mengasihi sesama. Dalam hal ini penghakiman tidak didasarkan pada iman kepada Tuhan, karena mereka tidak mengenal Tuhan. Dalam Matius 25:37-39 ditunjukkan dengan jelas bahwa mereka memang tidak mengenal Tuhan. Dalam Matius 25:37-39 tertulis: Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
     
    Bagi manusia yang mengenal Allah yang benar (Elohim Yahweh), yaitu mereka yang menjadi umat pilihan Perjanjian Lama,mereka harus memenuhi hukum Taurat yang diberikan Elohim Yahweh di Gunung Sinai. Mereka akan dihakimi menurut hukum Taurat yang mereka terima dari Elohim Yahweh melalui Musa. Dalam Roma 2:12 tertulis: Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat.Mereka harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan akal budi dengan melakukan hukum Taurat,serta melakukan ibadah sebagai ekspresi cinta mereka kepada Tuhan.
     
    Bagi umat Perjanjian Baru yang lebih mengenal Allah-yaitu mengenal Bapa, Anak, dan Roh Kudus- harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan akal budi dengan melakukan kehendak Bapa. Kehendak Bapa tidak diwakili oleh hukum-hukum dan peraturan, juga tidak diwakili dengan ibadah-ibadah secara liturgi atau upacara agama, tetapi menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran, artinya ibadah yang tidak dibatasi oleh ruangan, waktu, dan liturgi, tetapi dengan segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan.
    0 min
  • Harus Mengerjakan Keselamatan
    Salah satu yangpaling dominan merusak bangunan berpikir iman -sehingga orang Kristen tidak menjadi manusia yang sesuai dengan rancangan Allah-adalah pemahaman yang salah terhadap prinsip “bahwa keselamatan terjadi bukan karena perbuatan baik dan usaha manusia.”Kalimat ini sebenarnya benar, tetapi kalau pengertian terhadap kalimat tersebut salah, maka membangun kehidupan Kristiani yang salah juga. Dari kalimat “bahwa keselamatan terjadi bukan karena perbuatan baik dan usaha manusia” dibangun slogan sola gratia yang artinya only by grace (hanya oleh anugerah). Istilah atau slogan ini sangat efektif pada abad-abad reformasi untuk mengembalikan gereja dari penyimpanganagar menjadi gereja yang berjalan di rel yang Tuhan kehendaki.
     
    Kalimat “keselamatan hanya oleh anugerah”itu sendiri sebenarnya tidak salah, sebab didasarkan pada pernyataan Rasul Paulus dalam Efesus 2:8-9.Tetapi kalau salah memahami tulisan Paulus ini, maka akan terjadi penyimpangan darikebenaran Injil yang murni. Memang keselamatan dimulai dari karya salib Kristus yang mengangkat semua dosa manusia. Tanpa salib, perbuatan baik bagaimanapun tidak ada artinya sama sekali. Inilah yang disebut sebagai kasih karunia atau anugerah. Tetapi bukan berarti perbuatan baik tidak ada artinya, sehingga seseorang boleh hidup sembarangan. Kalau seseorang sudah merasa menerima anugerah karena memiliki kepercayaan di pikiran terhadap Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat berarti sudah memiliki kepastian masuk surga. Dari pandangan yang salah tersebut kemudian muncul pemikiran bahwa keselamatan terjadi oleh karena anugerah, maka tidak akan ada penghakiman lagi atas orang Kristen.
     
    Dalam Efesus 2:8-9 Paulus mengatakan agar orang percaya tidak boleh memegahkan diri. Hal ini dikemukakan terkait adanya orang-orang Efesus yang sebagian adalah orang-orang Yahudi,yang begitu kuat berpandangan bahwa melakukan Taurat itu adalah landasan atau dasar keberkenanan dihadapan Tuhan.Seakan-akan dengan berbuat baik, seseorang bisa menjadi umat Allah yang dibenarkan atau diperkenan, sehingga bisamasuk surga tanpa penghakiman.Pengertian mereka “dibenarkan” artinya apa pun keadaan seseorang, asal percaya kepada Yesus sudah dibenarkan dan pasti masuk surga. Padahal mereka belum memahami bagaimana percaya itu sebenarnya dan apa sebenarnya yang dimaksud dengan dibenarkan. Dalam hal ini banyak orang Kristen yang sebenarnya masih berjalan di dalam gelap, karena ketidaktahuan mereka mengenai kebenaran ini, tetapi mereka tidak tahu keberadaan mereka tersebut.
     
    Orang-orang Kristen seperti di atas ini berpikir bahwa dengan penebusan oleh salib Kristus maka semua akibat perbuatan dosa dan keberadaan keberdosaan manusia sudah dianggap selesai. Tidak heran kalau mereka tidak merasa bahwa mereka harus menghadap takhta pengadilan Kristus. Kalaupun menghadap takhta pengadilan Kristus mereka menganggap bukan masalah, mereka berpikir pasti lolosatau pasti masuk surga. Padahal mereka tidak memenuhi panggilan untuk mengikut Yesus, artinya tidak meneladani kehidupan Yesus secara konsekuen dan konsisten. Dengan keadaan ini mereka terancam akan tertolak oleh Tuhan karena tidak dikenal oleh Tuhansuatu hari nanti (Mat. 7:21-23). Ironisnya, hari ini mereka merasa aman-aman saja karena prinsip yang salah terhadap pernyataan atau konsep bahwa keselamatan bukan karena perbuatan. Mereka berpendapat, apa pun keadaan mereka, asal percaya kepada Yesus pasti selamat.
     
    Memang pengorbanan Yesus di kayu salib mengangkat semua akibat dosa yang dilakukan manusia, tetapi keberadaan keberdosaan manusia atau keadaan karakter manusia akan diperhadapkan kepada penghakiman. Pengorbanan Yesus menyelesaikan akibat dosa manusia, tetapi tidak menyelesaikan secara otomatis keberadaan keberdosaan manusia. Keberadaan karakter atau watak atau keadaan batin manusia inilah yang akan diperhadapkan kepada pengadilan. Jadi, hendaknya kita tidak berpikir bahwa orang Kristen tidak akan men...
    0 min
  • Pengertian Penghakiman Dan Pengadilan
    Sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai penghakiman atau pengadilan, kita harus memahami pengertian kata “penghakiman” dan “pengadilan” ditinjau dari Alkitab. Dari penelusuran Alkitab, dapat diperoleh penjelasan sebagai berikut: Kata “penghakiman” memiliki kata dasar “hakim”. Hakim adalah jabatan formal dalam suatu pemerintahan secara resmi dengan kekuatan hukum memimpin persidangan dalam pengadilan untuk investigasi, menilai, dan menyatakan salah atau benar, serta menghukum. Penghakiman menunjuk tindakan atau praktik investigasi, menilai, dan menyatakan salah atau benar, kemudian memberi atau menjatuhkan hukuman.
     
    Penghakiman bukan saja dapat dilakukan oleh seorang hakim secara formal, tetapi juga bisa dilakukan oleh siapa saja secara atau dalam pengertian umum, artinya penghakiman bisa saja dilakukan setiap orang tanpa dasar hukum. Tindakan atau praktik penghakiman ini dapat dilakukan oleh setiap orang terhadap sesamanya, seakan-akan mereka memiliki hak untuk itu. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan: Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu (Mat. 7:2).
     
    Adapun pengertian “pengadilan” dapat dijelaskan sebagai berikut: Dalam Alkitab, kata “pengadilan” lebih menunjuk kepada proses menginvestigasi, menilai, dan menjatuhkan hukuman yang memiliki landasan yang terformat untuk investigasi, menilai, dan menyatakan salah atau benar tersebut. Landasan yang terformat untuk investigasi, menilai, dan menyatakan salah atau benar dalam hukum Tuhan atau Tuhan sendiri. Dalam pengadilan terdapat landasan hukum atau ukuran untuk menginvestigasi, menilai, dan memberikan hukuman. Kata “pengadilan” lebih bersifat resmi, artinya diselenggarakan oleh suatu pemerintahan berdasarkan hukum atau undang-undang yang berlaku. Proses dalam menginvestigasi, menilai, dan memberikan hukuman dilakukan oleh seorang hakim yang memiliki jabatan yang berkekuatan hukum.
     
    Ada beberapa kata dalam Alkitab Bahasa Yunani (teks asli) yang diterjemahkan dalam Alkitab Bahasa Indonesia dengan kata “penghakiman” dan “pengadilan”. Kata pertama adalah krino (κρίνω), adapun kata bendanya adalah krima (κρίμα). Kata ini biasanya juga dapat digunakan untuk pengertian menghakimi secara umum seperti yang digunakan dalam Matius 7:2 (… Karena dengan penghakiman (krima)yang kamu pakai untuk menghakimi (krino), kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu). Terkait dengan kata krino, ada kata krisis (κρίσις). Kata ini juga dapat diterjemahkan sebagai penghakiman, tetapi memiliki pengertian penghukuman atau pemisahan antara orang benar dan orang yang tidak benar (Mat. 10:15).
     
    Kata yang kedua adalah bema (βῆμα), kata ini lebih sering digunakan untuk pengadilan secara resmi, baik pengadilan di dunia ini seperti yang dilakukan Pilatus (Mat. 27:19, 27) maupun pengadilan Kristus di akhir zaman nanti (2Kor. 5:10). Dalam 2 Korintus 5:9-10 tertulis: Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. Kata bema di sini menunjuk pengadilan terakhir nanti.
     
    Kata bema lebih menunjuk kepada sifat dari investigasi, menilai, dan menghukum. Sifatnya adalah terukur atau memiliki landasan undang-undang yang tetap. Bema juga menunjuk kepada tempatnya pengadilan berlangsung (2Kor. 5:9-10). Perbedaannya dengan kata “menghakimi”, menghakimi lebih menunjuk kepada prosesnya. Dalam Alkitab Perjanjian Baru dalam teks Bahasa Indonesia kata “mengadili” tidak ada, yang ada adalah kata “pengadilan”. Namun demikian penting untuk ditambahkan di sini,
    0 min
  • Perjuangan Berkesinambungan
    Terkait dengan masalah bahwa Allah menentukan sebagian orang diselamatkan dan yang lain tidak, perlu kita memperhatikan prinsip Paulus dalam pelayanan yang tidak sama dengan rasul-rasul lain pada umumnya. Ia tidak menerima tunjangan persembahan uang seperti yang diterima rasul-rasul lain. Pola pelayanan Paulus bisa terkesan melecehkan pola pelayanan rasul-rasul lain yang hidupnya ditopang oleh persembahan jemaat. Dalam hal ini Rasul Paulus memiliki integritas yang tinggi. Ia tidak khawatir dan tidak takut ditolak oleh rasul-rasul lain dengan keberadaan yang secara tidak langsung bisa menggugat keberadaan mereka. Dalam kasus lain, Paulus sendiri walaupun junior dibanding Petrus, tetapi ketika Petrus salah, Paulus berani menegur Petrus dengan tegas (Gal. 2:14). Jadi sangatlah tidak mungkin kalau Paulus berjuang melatih dan menguasai dirinya hanya karena takut ditolak oleh manusia. Kalau Paulus melatih tubuhnya agar tidak ditolak, tentu maksudnya agar dirinya tidak ditolak oleh Allah.
     
    Melatih tubuh dan menguasai seluruhnya berarti Paulus berjuang untuk dapat menguasai diri dari belenggu keinginan-keinginan dagingnya yang bertentangan dengan kehendak Allah (1Kor. 9:27). Kata “melatih” dalam teks aslinya adalah hupopiazo (ὑπωπιάζω) yang bisa berarti menyerang, memperlakukan dengan kasar, siksaan, dan menganiaya (to strike, treat roughly, torment, maltreat). Inilah sebenarnya yang dimaksud Alkitab sebagai mematikan segala keinginan daging dan kenajisan (Kol. 3:5; 1Ptr. 2:11). Pada banyak bagian dalam Alkitab orang percaya diharuskan hidup dalam tuntunan Roh, bukan keinginan daging, sebab keinginan daging membawa maut (Rm. 8:6-7; Gal. 5:16, 24-25). Adapun kata “menguasai seluruhnya” dari teks aslinya adalah doulagogeo (δουλαγωγέω), yang artinya memperbudak, menguasai, menundukkan, dan mengendalikan (enslave). Orang percaya harus dapat mengendalikan seluruh hidupnya atau tubuhnya yang kelihatan supaya tidak melakukan sesuatu yang dapat mendatangkan maut, sebab kalau seseorang masih hidup dalam keinginan daging, maka ia akan memperoleh maut (Rm. 8:6).
     
    Dua kata tersebut, baik “melatih” (hupopiazo) dan “menguasai” (doulagogeo), memiliki bentuk tenses present active indicative, yang menunjuk suatu perbuatan atau tindakan yang intensif terus menerus. Perjuangan Paulus adalah perjuangan yang berkesinambungan. Inilah yang dimaksud oleh Yohanes bahwa sebagai orang percaya, kita harus menjauhkan diri dari keinginan daging (1Yoh. 2:16). Berkenaan dengan hal ini, secara ekstrem Tuhan Yesus menasihati orang percaya: “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka” (Mat. 5:29; 18:9).
     
    Untuk memenangkan jiwa, Paulus harus membawa diri sedemikian rupa, tentu bukan berarti harus kompromi terhadap dosa atau perilaku yang bertentangan dengan Injil. Ia membawa diri sedemikian rupa supaya diterima oleh setiap golongan, demi Injil bisa mendarat dalam kehidupan mereka (mereka dapat dimenangkan bagi Kristus). Dalam kesaksiannya Paulus mengatakan: “Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat Paulus menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat Paulus menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, bagi orang-orang yang lemah Paulus menjadi seperti orang yang lemah. Bagi semua orang Paulus telah menjadi segala-galanya, supaya ia sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.”
     
    Frasa “menjadi seperti” bukan berarti Paulus terbawa dengan pola hidup yang bertentangan dengan Injil. Paulus mengatakan bahwa ia tetap hidup dalam kasih dan di luar Taurat. Paulus tetap dalam integritasnya. Kalau Paulus menjadi seperti orang lemah, bukan berarti ia menjadi lemah. Kata “lemah” dalam teks aslinya adalah asthenes (ἀσθενής),
    0 min
  • Penolakan Dari Kehendak Bebas
    Di dalam Roma 9:4-8, tertulis: “Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.”
     
    Melalui ayat-ayat di atas, Paulus hendak menunjukkan bahwa bangsa Israel adalah umat pilihan yang sangat istimewa; yaitu diangkat menjadi anak, menerima kemuliaan, perjanjian-perjanjian, hukum Taurat, ibadah, dan keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia. Walaupun demikian, tidak semua mereka menjadi anak-anak perjanjian, artinya tidak semua mereka akan diakui sebagai umat pilihan; milik Allah. Keberadaan mereka yang istimewa tersebut bukanlah jaminan bahwa mereka menjadi umat Allah yang abadi di Kerajaan Surga nanti.
     
    Dalam Roma 9:6-8 tertulis: “Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel.” Dalam ayat ini Abraham mau menunjukkan siapa sebenarnya yang dimaksud Israel itu. Israel yang sesungguhnya bukan mereka yang berbangsa Israel dari suku-suku yang dilahirkan oleh Yakub (Israel). Terkait dengan hal ini Paulus mengatakan dalam tulisannya kepada jemaat Efesus 2:11-13, “Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat,’ yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh,’ sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus.” Ayat ini menegaskan apa yang Paulus tulis di dalam Roma 2:29, “Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.”
     
    Dalam tulisannya ini Paulus hendak menunjukkan bahwa zaman Perjanjian Lama sudah berlalu. Sesudah Yesus datang ke dunia menebus dosa manusia, maka manusia memasuki zaman baru yaitu zaman anugerah; zaman Perjanjian Baru. Kebanggaan sebagai umat pilihan secara darah daging sudah tidak mendapat tempat lagi. Umat pilihan Allah tidak lagi berdasarkan garis keturunan secara darah daging, tetapi berdasarkan iman. Itulah sebabnya Paulus menulis: “Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal.”
     
    Ada kesulitan untuk memahami kalimat dalam Roma 9:6, “Akan tetapi Firman Allah tidak mungkin gagal.” Apa yang dimaksud ayat ini? Teks asli ayat ini adalah ouks hoin de oti ekpeptoken ho logos tou theou (Οὐχ οἷον δὲ ὅτι ἐκπέπτωκεν ὁ λόγος τοῦ θεοῦ). Kata ekpeptoken dari akar kata ekpipto (ἐκπίπτω) yang bisa berarti beberapa hal, antara lain: Fall off or from, drift off course, run aground, fig lose, fail, weaken (jatuh atau dari, hanyut, kandas, kalah, gagal, melemah). Jika dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya maka Roma 9:6 seharusnya berbunyi: “Ini bukan berarti Firman Allah gagal….” Dalam terjemahan bahasa Inggris lebih jelas diterjemahkan dengan: “Their condition does not mean that God’s word has failed.”
     
    Walaupun bangsa Israel berkeadaan begitu istimewa bukan berarti hal itu menjamin kepas...
    0 min
  • Menjadi Contoh
    Dikatakan bahwa Allah tidak pernah gagal, yang artinya bahwa Allah bukan penyebab kegagalan bangsa Israel menjadi umat pilihan abadi (umat pilihan Perjanjian Baru). Israel menjadi umat pilihan secara darah daging hanya sebagai sarana dilahirkannya Mesias dari bangsa tersebut. Sebenarnya umat pilihan yang dimaksudkan oleh Tuhan, yang juga menjadi umat pilihan abadi, adalah mereka yang memiliki iman seperti Abraham. Untuk menjadi umat pilihan Perjanjian Baru, seseorang harus memberi respon yang memadai terhadap karya keselamatan Kristus di kayu salib. Jika tidak, walaupun ia adalah seorang yang berdarah Israel dengan segala hak istimewa, tidak akan pernah menjadi umat pilihan tanpa menerima Yesus sebagai Mesias. Dalam hal ini nyata sekali, bahwa kehendak bebas yang dimiliki manusia untuk merespon anugerah Allah menentukan keselamatannya.
     
    Selanjutnya Firman Tuhan mengatakan: “…dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu. Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.” Mengapa Firman Tuhan ditulis demikian? Hal ini harus ditulis atau dinyatakan, sebab selain Ishak, ada anak Abraham lainnya dari budaknya, Hagar, yang melahirkan Ismael. Keturunan Ismael tentu juga diberkati dan menjadi bangsa yang besar, tetapi keselamatan atau Mesias hanya datang dari bangsa Yahudi, keturunan Abraham dari Ishak (Yoh. 4:22).
     
    Memasuki zaman Perjanjian Baru, bukan keturunan secara darah daging dari Abraham yang menjadi umat pilihan, tetapi anak-anak perjanjian, yaitu mereka yang memiliki iman seperti Abraham. Dalam tulisannya, Paulus menunjukkan bahwa sesungguhnya yang disebut sebagai umat pilihan adalah mereka yang menjadi anak-anak Abraham karena iman, yang bukan hanya berasal dari bangsa Yahudi, tetapi juga mereka yang berasal dari bangsa-bangsa lain non-Yahudi (Rm. 9:25-30). Penjelasan ini sejajar atau paralel dengan tulisan Paulus di Galatia 4:22-25, bahwa Abraham memiliki dua anak, yang satu adalah anak perjanjian dan yang lain anak perhambaan.
     
    Dalam Roma 9:9 tertulis, “Sebab firman ini mengandung janji: Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Dalam tulisannya ini Paulus menunjukkan bahwa umat pilihan hanya berasal dari satu orang wanita, yaitu Sarah, istri Abraham. Allah tidak pernah menjanjikan Ismael sebagai anak perjanjian. Tetapi kepada Sarah Allah menjanjikan anak perjanjian itu, bukan kepada Hagar. Hal ini menekankan bahwa pada akhirnya umat pilihan hanya berasal dari keturunan Sarah, dengan demikian hal ini juga menegaskan bahwa tidak ada keselamatan yang datang dari luar bangsa Israel. Pernyataan ini sekaligus meneguhkan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus (Kis. 4:12; Yoh 4:6).
     
    Roma 9:9 menjadi penegasan bahwa bangsa Israel walaupun keturunan Abraham secara darah daging akan ditolak, sementara bangsa-bangsa lain yang bukan keturunan Abraham secara darah daging akan menjadi umat pilihan oleh karena iman. Mereka yang dibenarkan karena iman akan terhisap sebagai anak Abraham atau berasal dari satu perempuan, yaitu Sarah. Semua ini menggenapi janji Allah kepada Abraham bahwa dari keturunannya (dengan Sara) semua bangsa di muka bumi ini akan diberkati (Kej. 12:1-3). Dalam hal ini Tuhan tidak diskriminatif. Sasaran atau obyek penerima berkat adalah semua manusia, bukan hanya bangsa Israel secara lahiriah atau secara daging.
     
    Dalam suratnya Paulus mengatakan bahwa semua peristiwa mengenai bangsa Israel menjadi contoh bagi kita (1Kor. 10:11-12). Menjadi contoh artinya bahwa kegagalan sebagian besar orang Israel sampai Kanaan merupakan peringatan bagi kita. Perhatikan kata “peringatan bagi kita”. “Kita” di sini menunjuk orang yang mengaku Kristen. Tentu saja kita di sini termasuk Paulus sendiri sebagai penulis kitab Korintus.
    0 min
  • Kedaulatan Memberi Kehendak Bebas
    Terkait dengan masalah bahwa Allah menentukan atau menetapkan keselamatan sebagian orang pasti masuk surga, maka kita harus membahas mengenai kedaulatan Allah. Apakah benar Allah dalam “kedaulatan-Nya” menentukan secara sepihak sebagian orang pasti selamat masuk surga? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “kedaulatan” berasal dari kata “daulat” yang artinya kekuasaan atau pemerintahan. Berdaulat artinya mempunyai kekuasaan tertinggi atas suatu pemerintahan negara atau daerah. Kedaulatan berarti kekuasaan tertinggi atas pemerintahan negara, daerah, dan lain sebagainya. Kedaulatan Allah berarti Allah diakui sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas segala sesuatu. Ada sekelompok orang yang meyakini bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya mengatur segala hal sampai sekecil-kecilnya, tidak ada sesuatu yang bergerak di luar kedaulatan-Nya. Biasanya kelompok ini mengarah kepada takdir total atau takdir mutlak, artinya bahwa segala sesuatu terjadi dalam kehidupan ini atas kehendak Tuhan secara mutlak dan total.
     
    Memahami kedaulatan Allah artinya juga harus menerima bahwa Allah berdaulat memberikan -baik malaikat maupun manusia- suatu kehendak. Dan kehendak malaikat maupun manusia tersebut adalah kehendak yang dapat mengarahkan diri mereka sendiri kepada suatu keadaan. Di sini Tuhan dalam keagungan kehendak bebas-Nya memberikan keagungan kepada malaikat dan manusia untuk mengambil keputusan dan pilihan. Itulah sebabnya malaikat juga bisa jatuh, memberontak kepada Allah. Memahami kedaulatan Allah, seharusnya bukan hanya dikaitkan dengan “penentuan” pemilihan Allah atas sejumlah orang untuk selamat, diperkenan masuk surga. Sebab konsekuensinya atau yang bisa diakibatkan bagi pihak lain, berarti juga penentuan atas sejumlah orang untuk binasa, masuk neraka kekal. Fakta ini tidak bisa dibantah. Karena kalau ada yang membantah berarti tidak berpikir secara adil dan sehat. Namun, faktanya demikian. Ada orang-orang yang berpendirian bahwa Tuhan dalam kedaulatan-Nya menentukan sebagian manusia untuk selamat masuk surga, tetapi ia tidak menentukan manusia yang lain untuk binasa. Jika demikian berarti Tuhan tidak berdaulat atas segala sesuatu.
     
    Jika mengakui kedaulatan Allah atas segala sesuatu berarti, kenyataan manusia yang binasa juga dalam wilayah kedaulatan-Nya. Kedaulatan seperti ini adalah kedaulatan “sewenang-sewenang” yang menyalahi prinsip kasih dan keadilan. Di sini Tuhan direpresentasikan sebagai pribadi yang “kejam,” suka-suka sendiri tanpa kebijaksanaan. Padahal jelas sekali Tuhan tidak mungkin menghendaki kebinasaan dan kesengsaraan manusia ciptaan-Nya. Apalagi manusia ciptaan-Nya adalah makhluk yang memiliki Roh dari diri-Nya (Kej. 2:7; Yak. 4:5).
     
    Memang Tuhan berhak bertindak suka-suka sendiri, tetapi Ia pasti bertindak berdasarkan kebijaksanaan, kasih, dan kecerdasan yang sempurna. Tidak mungkin Tuhan memilih secara acak atau random, sehingga bagi manusia keselamatan seperti proses kejatuhan “lotere” atau undian. Jika demikian, maka bagi manusia kedaulatan Tuhan dapat dipandang sebagai tabung yang memuat nama-nama orang yang ditentukan untuk selamat dan ditentukan untuk binasa. Ini berarti Tuhan tidak bisa dipandang agung oleh semua pihak. Tuhan hanya akan diagungkan oleh mereka yang dipilih untuk selamat. Tetapi Tuhan bisa disumpah serapah oleh mereka yang ditentukan untuk binasa, termasuk oleh malaikat yang jatuh yang diciptakan untuk menjadi “penjahat” dan obyek penderita. Bisakah mereka yang binasa berkata: “Terima kasih Tuhan, Engkau menciptakan aku untuk menderita di api kekal ini?”
     
    Harus dicatat, bahwa kebinasaan bukan suatu keadaan “lenyap,” tetapi juga bisa menunjuk kepada siksaan abadi yang kengeriannya digambarkan Tuhan Yesus sebagai tempat di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api yang tidak pernah padam. Ulat-ulat bangkai menunjuk tempat yang tidak menyenangkan. Semua itu adalah kengerian dahsyat wujud hukuman Allah (Mat. 5:22; Mrk. 9:43,
    0 min
  • Tergantung Respon Individu
    Satu hal yang pasti bahwa Yudas berkhianat bukan atas rekayasa siapa pun, apalagi oleh Allah, hanya demi proses keselamatan agar dapat berlangsung. Yudas berkhianat kepada Yesus atas keinginannya sendiri dari kehendak bebasnya. Kejahatan Yudas sebenarnya dimulai dari kebiasaannya suka mencuri uang. Alkitab menulis bahwa ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yoh. 12:6). Dalam hal ini kita harus mengerti bahwa seseorang tidak mungkin menjadi orang jujur mendadak atau menjadi pencuri mendadak. Kebiasaan Yudas mencuri dan mengingini uang untuk kepentingannya sendiri inilah yang membuka peluang Iblis masuk dalam kehidupannya. Iblis tidak akan masuk dalam kehidupan seseorang kalau seseorang tidak memberikan peluang atau pangkalan di dalam dirinya (Ef. 4:27). Hal ini meneguhkan bahwa Yudas memilih nasibnya sebagai pengkhianat. Walau hal ini tidak direncanakan oleh Yudas sendiri sebelumnya, tetapi kebiasaan jahatnya menggiringnya kepada keputusan itu. Jadi, Yudas yang menentukan nasibnya sendiri, bukan orang lain, apalagi Tuhan.
     
    Di dalam Alkitab, terdapat beberapa teks yang menunjukkan bahwa Yudas dimasuki oleh Iblis (Luk. 22:3; Yoh. 13:27). Tidak mungkin Iblis diizinkan oleh Tuhan masuk dalam diri Yudas tanpa alasan atau dasar yang sudah ada sebelumnya. Harus diketahui, bahwa memang Yudas sudah terbiasa “bermain-main” dengan Iblis melalui ketidakjujurannya (Yoh. 12:6; 13:2). Langkah-langkah panjang Yudas inilah yang membawa Yudas kepada keputusan tragisnya, yaitu menjual Tuhan Yesus kepada imam-imam kepala (Mat. 26:14; Mrk. 14:10; Luk. 22:4). Kebiasaan ini memantapkan keadaan Yudas sebagai salah satu orang di sekitar Tuhan Yesus yang memang sudah dinubuatkan berkhianat kepada Gurunya. Ini adalah pilihan Yudas sendiri.
     
    Yudas juga seperti murid-murid yang lain, yang selalu mendengar pengajaran Tuhan. Yang di dalamnya termasuk nasihat, peringatan, larangan, dan lain sebagainya. Tentu saja semua itu berlangsung atau diberikan kepada Yudas bukan sebagai sandiwara. Tidak mungkin sementara itu berlangsung, hati Yudas dikeraskan oleh Allah agar dia berkhianat kepada Yesus, karena memang dia telah ditetapkan sebagai anak kebinasaan. Yudas memang selalu mendengar pengajaran Tuhan Yesus, tetapi hatinya sudah tertambat kepada uang. Mata hatinya telah dibutakan oleh hasratnya terhadap keinginan materi. Hal ini sesuai dengan apa yang diucapkan Tuhan Yesus di dalam Lukas 16:11, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Kalimat “harta yang sesungguhnya” dalam bahasa aslinya adalah alithinon yang artinya kebenaran (Ing. Truth).
     
    Jadi, kalau seseorang sudah tidak benar soal harta -artinya hati melekat kepada kekayaan- maka ia tidak akan dapat mengerti Firman Tuhan walaupun diajar tiap hari. Hal ini terjadi atas Yudas, sehingga kebutaan mata rohani Yudas bukan karena hatinya dikeraskan oleh Tuhan, tetapi karena ia memilih mencintai harta. Inilah yang dimaksud Paulus yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Pikirannya tidak dibutakan oleh Tuhan, tetapi oleh ilah zaman ini.
     
    Roma 1:16-17 mengatakan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan, tetapi kenyataannya tidak sedikit yang mendengar Injil tetapi tidak selamat, termasuk Yudas. Tentu hal ini terjadi bukan karena Injil kurang berkuasa, sehingga Yudas akhirnya berkhianat kepada Yesus. Tetapi karena Yudas lebih memilih untuk mencintai uang dari pada menjunjung tinggi kebenaran Firman Tuhan. Manusia yang mendengar Injil berperan dalam menerima dan mengalami keselamatan yang Tuhan sediakan atau sebaliknya. Kekuatan Injil dalam implikasi konkret kehidupan ditentukan oleh respon individu ya...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…