Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Penghakiman Dan Surga
    Berbicara mengenai penghakiman ternyata terkait dengan masalah surga. Oleh sebab itu kita harus memahami sekilas mengenai apa surga itu. Kita harus berhati-hati dalam membahas pokok masalah surga, sebab Alkitab memang terkesan tidak banyak mengungkap rahasia mengenai surga. Alkitab juga mengesankan tidak perlu menjelaskan secara terperinci mengenai realitas surga, mengapa demikian? Sebab Alkitab memandang bahwa keberadaan surga sudah sangat jelas. Seperti rancangan Allah semula bahwa bumi ini diciptakan dalam keadaan “sungguh amat baik”. Tentu dunia yang akan datang juga seperti bumi ini. Oleh karena itu tidak perlu lagi ada penjelasan.
     
    Untuk menjelaskan hal surga harus memiliki landasan yang kokoh berdasarkan Alkitab, bukan berdasarkan perkiraan atau praduga. Sejatinya, surga bukanlah alam roh dunia maya, tetapi alam fisik yang merupakan kelanjutan dari perjalanan alam semesta yang telah diciptakan Tuhan, yang ditulis oleh Musa dalam kitab Kejadian. Surga bukanlah alam lain, tetapi alam semesta ini.Logikanya, Tuhan hanya memiliki satu alam semesta di mana surga bagi manusia termasuk ada di dalamnya. Sebagaimana Tuhan adalah Esa (Mono), maka alam semesta (jagat raya) juga mono.
     
    Tuhan Yesus menunjukkan tubuh kebangkitan adalah fisik seperti manusia yang hidup, bukan berbentuk roh atau semacam tubuh roh. Tuhan Yesus menunjukkan kepada murid-murid-Nya keberadaan tubuh fisik dalam Lukas 24:39 “…karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Kata“hantu” dalamteks aslinya adalah pneuma (πνεῦμα), yang artinya roh. Tuhan menegaskan bahwa Ia tidak mengenakan tubuh roh, tetapi fisik. Tuhan Yesus berjanji pergi untuk menyediakan tempat bagi kita (Yoh. 14:1-3). Cara Tuhan Yesus pergi dengan terangkat secara fisik memberi pesan bahwa Ia ada di semesta kita ini. Tuhan Yesus tidak berpindah ke alam lain dengan cara “menghilang”. Cara kenaikan Tuhan Yesus ke surga lebih menunjukkan bahwa Tuhan Yesus menuju semesta yang sama, bukan semesta yang lain. Di dunia yang akan datang tersebut, kita makan dan minum bersama-sama dengan Tuhan.
     
    Surga terdiri dari bermacam-macam tingkatan masyarakat atau jenjang. Mengapa ada bermacam-macam tingkatan? Dalam Injil, Tuhan Yesus sering menyebut mengenai upah yang besar. Bicara mengenai kuantitas upah berarti juga kualitasnya, dan jelas sekali Tuhan membedakan upah (Mat. 5:12, 6:1). Dalam Kerajaan Surgajuga terdapat kedudukan yang berbeda (Mat. 20:23; Mrk. 10:40). Dalam Kerajaan Surga juga Tuhan memercayakan kepada masing-masing hamba-Nya jumlah kota yang berbeda-beda (Luk. 19:12-19). Jumlah kota-kota ini bisa menunjuk posisi dalam Kerajaan-Nya nanti. Tetapi secara garis besar, pada dasarnya pembagiannya bisa dibagi dua, yaitu pertama keluarga Kerajaan yang disebut sebagai memiliki karunia sulung Roh (Rm. 8:23), yaitu mereka yang mengalami keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan semula Allah. Kedua, adalah anggota masyarakat yang diperintah. Mereka adalah orang-orang yang diperkenan masuk dunia yang akan datang.
     
    Yerusalem adalah Ibukota Kerajaan yanghanya dihuni oleh orang-orang terkemuka, yaitu anggota keluarga Kerajaan. Yerusalem Baru hanya dihuni oleh mereka yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan Anak Domba (Why. 21:1-27). Orang-orang yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan Anak Domba adalah orang-orang yang sudah sempurna. Mereka adalah orang-orang yang tidak bercacat dan tidak bercela. Hal ini juga menunjuk sebagai Rumah Bapa. Rumah Bapa berbicara mengenai tempat khusus di mana hanya orang-orang pilihan yang boleh masuk. Hanya orang-orang tertentu yang sampai kepada Bapa (Yoh.14:6). Sedangkan Kisah Rasul 4:12, bisa menunjuk korban Kristus untuk semua orang. Bahwa hanya karena korban Kristus, maka ada penebusan dosa semua manusia. Penebusan itu memungkinkan adanya penghakiman.
     
    Penghakiman membuka kemungkinan orang-orang di luar orang Kristen yang tidak mendengar...
    0 min
  • Tuntutan Yang Tinggi
    Dalam penghakiman bagi orang percaya yang sungguh-sungguh sedang berusaha untuk menjadi semakin seperti Yesus, maka penghakiman bagi mereka adalah perhitungan seberapa banyak orang percaya tersebut telah mengumpulkan harta di surga (Mat. 6:19-20). Mengumpulkan harta di surga adalah perjuangan untuk semakin serupa dengan Yesus. Ini berbicara mengenai kesucian hidup. Kesucian di sini bukan hanya berarti tidak berbuat dosa, tetapi “tidak bisa” berbuat dosa lagi. Mereka adalah yang dilayakkan menjadi mempelai Tuhan. Hanya orang Kristen yang menjadi mempelai atau kekasih Tuhan yang dikategorikan telah menemukan Tuhan. Tuhan sudah dimiliki sebagai harta. Dengan demikian mengumpulkan harta di surga berarti mengembangkan diri untuk menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Orang-orang seperti ini pasti memberi waktu untuk mengambil bagian dalam pelayanan gerejani dan mendukung pekerjaan Tuhan dengan hartanya tanpa batas. Inilah sesungguhnya perjalanan musafir Kristen.
     
    Untuk panggilan mewarisi langit baru dan bumi yang baru, orang percaya harus belajar melepaskan diri dari segala ikatan. Pertama, ikatan dosa. Hal ini menyangkut karakter orang percaya yang belum seperti yang Tuhan kehendaki. Dalam hal ini orang percaya harus sempurna seperti Bapa, dan yang kedua adalah belenggu keindahan dunia. Belenggu keindahan dunia sama dengan percintaan dunia. Inilah yang disebut oleh Yohanes sebagai keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17).Semua ini bukan berasal dari Bapa, tetapi berasal dari kuasa jahat. Menanggalkan semua beban ini membuat seseorang berjiwa musafir atau sebaliknya, semakin seseorang menyadari bahwa dirinya musafir maka akan lebih mudah melepaskan ikatan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Hal ini bukan sesuatu yang mudah. Itulah sebabnya orang percaya harus mengalami pembaharuan pikiran setiap hari (Rm. 12:2). Usaha ini adalah usaha sebagai “mendahulukan Kerajaan Allah” (Mat. 6:33). Kata “dahulu” dalam teks aslinya adalah proton (πρωτον).
     
    Kata proton menunjuk kepada keutamaan. Anak-anak Allah yang berhasil melewati tahap-tahap pertumbuhan yang normal akan dapat melepaskan dirinya dari belenggu tersebut. Setelah terlepas dari belenggu tersebut, seseorang akan menjadi peka terhadap kehendak Allah. Lebih dari segala kegiatan, inilah yang harus diutamakan. Sebab hal ini merupakan sesuatu yang bersifat wajib atau sebuah kemutlakan. Segala sesuatu bisa relatif, tetapi hal menjadi orang percaya yang beriman dengan benar -yaitu mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya- adalah wajib atau mutlak. Akhirnya kehidupan seperti ini akan memenuhi rencana Allah seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Sebelum memenuhi rencana Allah dalam kehidupan ini, berarti kita belum lulus sebagai musafir. Dengan hal ini, maka nampaklah betapa tinggi tuntutan yang dikenakan kepada semua orang percaya. Jadi, kita mengerti betapa sulitnya menjadi orang Kristen yang sejati, sebab mereka harus sempurna seperti Bapa di surga (Mat. 5:48).
     
    Untuk menjadikan rencana Tuhan digenapi dalam hidup ini sebagai keutamaan, menuntut kesungguhan dalam pengiringan kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah komitmen yang kuat, permanen, dan murni. Ini berarti setiap hari dalam kehidupan ini, kita harus berkerinduan dengan hasrat yang kuat untuk bertumbuh dengan memindahkan hati kita di Kerajaan Bapa di surga, sebab di mana ada hartamu, di situ hatimu berada (Mat. 6:21). Ini bukan berarti kita harus menjadi orang yang tidak berharta di bumi ini atau menjadi orang miskin. Yang penting adalah “hati yang harus dipindahkan”. Jadi, hati dapat dipindahkan kalau seseorang sungguh-sungguh telah mendahulukan Kerajaan Surga. Sehingga hidupnya tidak dapat dibahagiakan lagi oleh materi dunia dan hiburannya. Inilah tujuan pelayanan dan seluruh kegiatan dalam gereja.
     
    Banyak orang hidup hanya untuk memiliki sebuah kehidupan seperti y...
    0 min
  • Konsep Takdir Dalam Penghakiman
    Berbicara mengenai penghakiman, tidak dapat dipisahkan dari masalah takdir. Kata “takdir” dalam pemahaman umum biasanya mendapat isi atau dimengerti sebagai penentuan Ilahi. Kata “takdir” biasanya disejajarkan maknanya dengan kata “nasib”, dalam Bahasa Inggris diterjemahkan fate atau destiny. Di balik kata “takdir” diisyaratkan jelas adanya penentuan Ilahi dalam setiap kejadian atau peristiwa, sebuah divine decree. Jadi “takdir” dimengerti sebagai penentuan suatu peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam hidup manusia berdasarkan kedaulatan, kebebasan kehendak, dan kebijaksanaan Tuhan yang mutlak atau absolut. Sebelum suatu peristiwa terjadi, segala sesuatunya sudah ditentukan oleh Tuhan untuk berlangsung. Ini tidak tepat. Sebenarnya konsep ini sangat kuat dianut oleh agama non-Kristen yang ada di sekitar kita.
     
    Jika dipandang bahwa segala sesuatu sudah ditentukan sebelumnya, maka dengan demikian nampak gambar dalam bingkai bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini adalah skenario dari Sutradara Agung, yaitu Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan selain Pencipta sekaligus juga berperan sebagai penulis cerita dan Sang Dalang yang mengatur setiap peran kehidupan dalam pentas panggung sandiwara. Lebih tegas lagi, bila kita obyektif memandang hidup dengan kacamata ini, maka itu berarti Tuhan berlaku sebagai pengatur remote control dan manusia menjadi robot yang hanya bisa dikendalikan oleh remote tersebut tanpa kebebasan kesempatan memilih suatu pilihan. Dalam hal ini Tuhan dipandang sebagai penyusun takdir atas segala sesuatu, baik yang hidup apa lagi bagi benda mati. Tidak ada yang luput dari penentuan-Nya.
     
    Dalam memahami pengertian takdir, pada umumnya orang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki kedaulatan sama sekali dalam menentukan keadaan hidupnya, sebab Tuhan telah mempersiapkan segala kejadian yang akan dialami atau dilaluinya dalam hidup. Manusia hanya menerima saja yang disediakan baginya. Demikianlah kita dapat temukan bila seseorang mengalami musibah -misalnya suatu kecelakaan, kematian orang yang dikasihinya, jatuh miskin, sakit yang tak tersembuhkan sampai kematian, dan lain-lain- maka mereka menerimanya sebagai takdir. Di dalamnya, Tuhan dianggap sebagai kausalitas prima (penyebab utama), kasarnya: biang masalah. Menjadi berkembang lagi dalam kasus lain, ketika disimpulkan bahwa jodoh ada di tangan Tuhan, sehat/sakit, kaya/miskin, gemuk atau kurus, surga atau neraka, hanya Tuhan yang menentukan.
     
    Pemahaman di atas ini pada akhirnya bisa membangun pandangan bahwa pertimbangan rasio manusia untuk mengambil keputusan menjadi sia-sia atau tidak diperlukan. Semua sudah diatur dalam fragmen yang tidak keluar atau terlepas dari alur cerita yang ditentukan atau telah ditetapkan. Akhirnya, anjuran untuk menemukan peran dan tempat di hadapan Tuhan menjadi panggilan untuk percaya dan menerima saja setiap peran yang ditemukan secara otomatis. Semua sudah diatur oleh Allahyang mengerjakan-Nya sendiri tanpa bantuan dan peran manusia sama sekali. Kalau jujur, maka dapat dikatakan peran pikiran dan perasaan manusia menjadi sia-sia atau tidak maksimal. Dengan demikian manusia juga tidak perlu memiliki integritas dan personality-nya sendiri. Ini pandangan yang sangat keliru, sebab sesungguhnya manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, artinya manusia harus menuai apa yang ditaburnya (Rm. 14:12; Gal. 6:7; 2Kor. 5:9-10).
     
    Gagasan “takdir” meyakinkan adanya campur tangan langsung dari Allah yang mengendalikan nasib manusia di luar kesadaran manusia, sebab segala sesuatu ditentukan sejak semula. Ini adalah konsep agama non-Kristen yang tidak banyak membicarakan tentang kebebasan, sebab mereka hanya mengakui perbuatan-perbuatan yang dirancang oleh Allah di dalamnya. Konsep takdir ini mengingkari adanya kebebasan yang sungguh-sungguh, selanjutnya peranan etika disia-siakan. Hal ini menempatkan manusia tidak memiliki independensi.
    0 min
  • Respon Terhadap Pengharapan Allah
    Penghakiman dapat berlangsung atas individu jika Tuhan tidak intervensi di dalam kehidupan, sehingga manusia masih memiliki kedaulatannya sendiri bertindak mengambil keputusan dalam kehendak bebasnya. Kalaupun Tuhan berintervensi, intervensi Tuhan tidak menghilangkan kehendak bebas manusia. Untuk mengubah karakter seseorang, Tuhan mengizinkan banyak kejadian yang berlangsung dalam hidupnya. Tuhan tidak berintervensi mengubah kehendak seseorang secara ajaib oleh kuasa-Nya, tetapi mengarahkan orang tersebut melalui setiap kejadian hidup yang dialaminya. Jika Tuhan berintervensi sampai pada kehendak seseorang, maka Tuhan tidak perlu menggunakan sarana peristiwa-peristiwa dalam kehidupan untuk mengubahnya. Dalam hal ini masing-masing individu bisa menerima pembentukan Tuhan atau menolaknya. Oleh sebab itu keadaan akhir seseorang tergantung dari responnya terhadap penggarapan Allah.
     
    Adalah sangat keliru kalau orang berpikir bahwa respon seseorang terhadap penggarapan Tuhan melalui segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya digerakkan oleh Tuhan sendiri. Jadi, seseorang memberi respon terhadap penggarapan Tuhan atau tidak, tergantung manusia itu sendiri. Dalam hal ini, berarti ada orang yang digerakkan Tuhan merespon dengan baik terhadap penggarapan Tuhan, tetapi yang lain tidak dibuat merespon dengan baik. Jika Tuhan berbuat demikian maka semua menjadi seperti sandiwara. Dengan mekanisme demikian berarti mutlak tidak perlu ada penghakiman. Tuhan harus menghakimi diri-Nya sendiri, sebab Ia menjadikan diri-Nya sebagai kausalitas prima segala sesuatu yang terjadi atas kehidupan setiap individu.
     
    Terkait dengan hal di atas ini, hendaknya kita tidak memandang bahwa oleh karena Allah adalah Allah yang berdaulat secara mutlak, maka Allah bertindak dalam kebijaksanaan yang tidak dimengerti oleh manusia. Manusia harus hanya menerima saja semua keputusan dan tindakan-Nya. Allah tidak mungkin bertindak atas seseorang tanpa orang itu mengetahui mengapa ia diperlakukan demikian. Penghakiman tidak bisa dilangsungkan kalau manusia tidak berdaya menolak apa yang dikerjakan Allah di dalam dirinya, baik perbuatan yang baik atau perbuatan yang tidak baik. Jika demikian, maka juga tidak perlu ada porsi yang berbeda yang diberikan kepada masing-masing individu. Padahal Alkitab menyatakan bahwa setiap orang dituntut sesuai dengan porsi yang diterimanya.
     
    Tentu yang diberi banyak akan dituntut banyak, sedangkan mereka yang diberi sedikit akan dituntut sedikit. Firman Tuhan mengatakan: “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”(Luk. 12:48). Di sini kita menemukan keadilan Tuhan yang sempurna. Tuhan tidak akan menuntut seseorang melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Allah yang benar adalah Allah seperti itu, bukan allah yang sembarangan menuntut orang sesukanya sendiri. Allah tidak mungkin dalam kedaulatan-Nya berintervensi dalam diri seseorang, memberi porsi yang berbeda, kemudian menuntut seseorang melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang itu dan kemudian menghukum orang itu karena kesalahannya atau ketidaksanggupannya melakukan yang dikehendaki oleh Allah.
     
    Masing-masing individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan Tuhan yang memberi kendaraan, yaitu hidup ini. Masing-masing orang memiliki jenis kendaraan yang berbeda. Tuhan menciptakan manusia dan melengkapinya dengan pikiran, perasaan, dan kehendak. Semua itu merupakan sarana atau perlengkapan untuk dapat mengemudikan kehidupan masing-masing individu. Kalau seseorang bermaksud menyerahkan kemudi hidupnya kepada Tuhan, berarti sama dengan meminta Tuhan menyangkali sifat dan hakikat-Nya yang telah memberikan kedaulatan kepada manusia untuk men...
    0 min
  • Kehendak Bebas Dalam Penghakiman
    Membahas mengenai penghakiman tidak dapat dipisahkan dari kehendak bebas, sebab kalau manusia tidak memiliki kehendak bebas, maka tidak perlu ada penghakiman. Manusia diciptakan dengan kehendaknya bersifat bebas. Kehendak bebas artinya manusia dapat memilih taat kepada Allah atau memberontak kepada-Nya. Dengan demikian kehendak bebas berarti manusia menentukan nasib dan keadaan diri sendiri. Sebenarnya, kehendak bebas bisa didefinisikan sebagai konsep yang menyatakan bahwa keadaan perilaku manusia tidak mutlak ditentukan oleh kausalitas di luar dirinya, tetapi merupakan akibat atau hasil dari keputusan dan pilihan yang dibuat melalui sebuah aksi dan reaksi dari diri sendiri. Keputusan dan pilihan tersebut ditentukan oleh komponen dalam diri manusia, yaitu pikiran dan perasaannya.Allah memberi manusia komponen untuk dapat membuat pilihan yang pasti akan menentukan atau paling tidak memengaruhi keadaan dirinya. Komponen itu adalah pikiran dan perasaan. Dari pikiran dan perasaan ini, seseorang memiliki kemampuan mempertimbangkan sesuatu. Dari hasil pertimbangannya tersebut seseorang dapat mengambil keputusan atau memilih. Inilah kehendak bebas.
     
    Bila hendak menemukan pengertian kebebasan yang sejati, kita harus melandaskannya kepada Alkitab secara jujur dan obyektif.Dalam hal ini, kitab Kejadian telah meletakkan landasan pengertian kebebasan kehendak yang benar. Kitab Kejadian mengungkapkan hal ini dengan sederhana, jujur, jelas, dan cerdas. Tuhan menaruh dua pohon di tengah Taman Eden, menunjukkan dengan sangat jelas bahwa manusia diberi kehendak bebas. Dalam kehendak bebasnya, manusia harus memilih antara kehidupan atau kematian dari kerelaan kehendaknya, apakah manusia mau taat atau tidak taat. Dalam pengertian bebas, Allah harus membiarkan manusia menentukan sendiri pilihannya, tanpa intervensi dari pihak manapun. Dalam pengertian bebas yang benar, Allah juga membiarkan ular yang adalah personifikasi Iblis masuk ke dalam taman dan mencobai serta membujuk manusia untuk berbuat sesuatu, yaitu melanggar apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh Adam (Kej. 2:16-17, 3:1-24). Allah tidak berusaha menghindarkan manusia dari pencobaan tersebut, karena Allah memberi kehendak bebas kepada manusia. Inilah konsekuensi menjadi makhluk yang bebas.
     
    Dalam pengertian kebebasan yang proporsional, termuat makna dimana manusia harus mempertimbangkan sendiri segala sesuatu yang hendak dilakukan dan dirinyalah yang menjadi pengambil keputusan akhir. Dalam Kejadian 3:6 tertulis: Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Sebelum makan buah yang dilarang tersebut, mereka sudah mempertimbangkannya. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan makan buah tersebut adalah keputusan yang lahir dari pertimbangan mereka sendiri. Allah memberi nasihat, peringatan, dan bila perlu teguran, tetapi keputusan akhir tetap pada manusia. Keputusan tersebut menentukan keadaan manusia di kemudian hari, tanpa bisa dibatalkan.
     
    Pengertian kebebasan manusia adalah kebebasan yang proporsional, natural atau benar, bukan kebebasan yang tidak dikenal dalam kehidupan secara wajar. Kalau kebebasan tidak dipahami secara benar, maka manusia tidak menempatkan dirinya sebagai makhluk yang harus bertanggung jawab. Tuhan tidak pernah menjadi kausalitas atau penyebab kejahatan atau dosa. Allah tidak pernah menetapkan manusia untuk jatuh dalam dosa dan melakukan kejahatan. Dalam hal ini sangat jelas tak terbantahkan, bahwa Allah tidak mengendalikan manusia. Manusia mengendalikan dirinya sendiri. Memang Allah yang menciptakan kemungkinan ciptaan-Nya bisa melakukan kesalahan, tetapi bukan dirancang untuk (harus) melakukan kesalahan. Jadi, apakah manusia melakukan kesalahan atau tidak ditentukan ol...
    0 min
  • Penghakiman Atas Penolakan Anugerah
    Ada orang-orang Kristen yang berpendirian bahwa kalau Allah menyediakan anugerah kepada orang-orang tertentu untuk menerimanya, maka mereka tidak dapat menolak. Ini pandangan yang salah. Sebenarnya Tuhan menghendaki semua bangsa Israel selamat, tetapi hal itu tidak terwujud sebab mereka menolaknya.Dengan demikian, kalau bangsa itu menolak Allah, bukan karena Allah yang menentukan tetapi mereka sendiri yang menghendaki demikian. Kebenaran Alkitab menunjukkan fakta bahwa terdapat potensi dalam diri umat pilihan untuk menolak kasih karunia. Hal ini diteguhkan oleh Firman Tuhan dalam Roma 11:17-24.
     
    Dalam tulisannya, Paulus menunjukkan bahwa kalau cabang asli -yaitu Bangsa Israel (umat pilihan Perjanjian Lama)-bisa dipotong, demikian pula dengan batang cangkokkan, yaitu orang Kristen (umat pilihan Perjanjian Baru) dari berbagai suku bangsa. Di ayat 22 tertulis: Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga.Ayat-ayat ini jelas menunjukkan bahwa kehidupan Bangsa Israel paralel (tipologi) dengan kehidupan orang percaya di zaman anugerah atau Bangsa Israel menjadi gambaran kehidupan orang percaya.Sebagaimana Tuhan mengerat Bangsa Israel yang tidak dengar-dengaran, maka Tuhan juga mengerat orang Kristen yang tidak dengar-dengaran. Dalam tulisan Paulus itu ia juga menyatakan: Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu (Roma 11:21).
     
    Dalam hal ini jelaslah bahwa intervensi Allah terbatas, sebab Allah memberi independensi kepada manusia untuk menentukan “takdirnya.” Bangsa Israel harus menggunakan independensinya dengan benar. Tetapi kalau mereka mengarahkan hatinya kepada yang lain, maka mereka tidak dapat selamat. Tuhan Yesus memberitakan Injil kepada umat Israel agar mereka bertobat. Tetapi mereka menolak. Ini menunjukkan bahwa dalam pertimbangan nalar tersebut seseorang memiliki kehendak bebas, sehingga harus memilih atau memutuskan apakah mau menerima Tuhan Yesus sebagai jalan keselamatan atau menolak-Nya.
     
    Memberitakan Injil berarti mengajarkan kebenaran, bukan sekadar memberitahu bahwa Yesus adalah Juruselamat, tetapi mengajarkan kebenaran. Kalau Tuhan yang menentukan keselamatan seseorang dan menolak yang lain, maka pengajaran dalam Injil yang begitu luar biasa tidak berperan sebagaimana mestinya, sebab Injil tidak lagi menjadi penentu orang selamat atau binasa. Padahal sikap terhadap Injil-lah yang menentukan apakah seseorang menerima Tuhan Yesus atau tidak. Di dalam Injil memuat berita mengenai Tuhan Yesus dan apa yang harus dilakukan kalau seseorang mengaku percaya.
     
    Kalau Tuhan menetapkan ada orang-orang yang tidak bisa menolak anugerah, sedangkan sisi lain ada yang tidak bisa menerima anugerah, maka dengan demikian Injil menjadi tidak berkuasa menyelamatkan, sebab yang diyakini dapat menyelamatkan seseorang adalah penentuan Tuhan. Dengan demikian muncul konsep yang absurd bahwa iman bisa diberikan secara mistik atau ajaib di dalam diri seseorang. Padahal mestinya iman datang dari pendengaran oleh Firman. Yang mana tentu melalui proses mendengarkan Injil dan pertimbangan nalar.Ini juga berarti tidak lagi ada pengadilan atau penghakiman.
     
    Dengan hal di atas ini, hendaknya kita tidak sembarangan mengatakan bahwa Paulus memercayai adanya predestinasi, yaitu ada manusia ditentukan untuk selamat dan manusia lain ditentukan untuk binasa. Kalau Paulus yakin bahwa dirinya orang terpilih yang pasti selamat, maka Paulus tidak mengatakan bahwa ia melatih tubuhnya agar dirinya tidak terhilang (1Kor. 9:27). Lagi pula Paulus tidak mengatakan bahwa karena dirinya sudah terpilih maka dirinya memiliki ketekunan. Ketekunan itu harus berangkat dari dirinya sendiri, yaitu ketika sadar bahwa Tuhan memberi kehendak bebas kepad...
    0 min
  • Konsep Kepastian Masuk Surga Dalam Penghakiman
    Banyak teolog berpendapat bahwa Allah memilih dan menentukanorang yang pasti menerima anugerah untuk diselamatkan. Sejatinya pandangan ini tidak tepat. Untuk menemukan makna orisinil dari ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai hal tersebut, seorang penafsir tidak boleh terbelenggu atau tersandera oleh suatu premis, sehingga pengertian terhadap ayat-ayat tersebut sudah didasarkan pada premis di dalam pikirannya. Hendaknya kita tidak dengan gegabah menyatakan bahwa Tuhan memilih dan menentukan orang-orang tertentu pasti selamat masuk surga berdasarkan kedaulatan-Nya secara sepihak. Bila demikian, berarti kita sudah mulai menilai Tuhan dengan pikiran manusia yang sangat terbatas. Sebagai akibatnya, timbul dugaan dan tuduhan bahwa ada orang-orang tertentu yang oleh kedaulatan Tuhan juga dipilih dan ditentukan untuk binasa. Ini suatu hal yang tidak mungkin, sebab Allah yang adalah kasih adanya, tidak menghendaki seorang pun binasa (1Ptr. 3:9-11).
     
    Pemilihan dan penentuan tidak boleh diartikan sebagai langkah Allah Bapa tanpa pertimbangan apa pun, menunjuk siapa yang selamat masuk surga dan yang lain berarti masuk neraka.Dalam hal ini Tuhan tidak akan memilih dan menentukan tanpa “sistem” atau tatanan dalam diri Allah yang sempurna. Harus diingat bahwa “yang dipilih” adalah orang-orang yang mendapat kesempatan untuk hidup di zaman Perjanjian Baru, mendengar Injil, dan memiliki kapasitas untuk merespon anugerah. Adapun “yang ditentukan” adalah standarnya, yaituuntuk serupa dengan Yesus, hidup kudus, dan berkeberadaan sebagai anak-anak Allah (Rm.8:28-29; Ef. 1:4-5).
     
    Mereka bersikeras berpendapat bahwa Allah menentukan keselamatan individu atas pilihan dan penentuan-Nya. Argumentasi-argumentasi tersebut menciptakan pemikiran yang tidak logis dan menggambarkan Allah sebagai “Sosok” yang memiliki pemikiran yang tidak logis dan berkepribadian tidak adil, tidak sehat, dan aneh. Seharusnya orang percayamenyadari bahwa dirinya tidak berhak mengemukakan pernyataan tersebut. Dengan hormat, orang percaya harus mengakui bahwa Allah adalah “Allah yang transenden dan transempiris” (melampaui akal dan pengalaman manusia). Manusia tidak boleh masuk atau berintervensi ke wilayah Tuhan, karena wilayah tersebut tidak akan bisa dimasuki oleh pikiran manusia.
     
    Hendaknya kita tidak mempersempit pandangan kita mengenai pemilihan dan penentuan tersebut dengan merumuskan bahwa tindakan Tuhan hanya berdasarkan kedaulatan-Nya. Kalau manusia memiliki kedaulatan bisa berlaku sewenang-wenang (walau terbatas), tetapi Tuhan dalam kedaulatan-Nya tidak mungkin bertindak di luar kesucian, keadilan, dan keagungan pribadi-Nya. Tuhan bisa saja merancang orang-orang untuk diselamatkan, tetapi Tuhan tidak mungkin merancang seseorang untuk binasa, sebab jelas sekali Firman Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak menghendaki seorang pun binasa (2Ptr. 3:9). Hakikat Tuhan yang kasih adanya itu tidak mungkin merancang seseorang binasa dalam siksaan lautan api kekal. Adapun apakah seseorang menolak atau menerima rancangan-Nya tergantung kehendak bebas masing-masing individu.
     
    Jika seseorang mengakui kedaulatan Allah atas segala sesuatu, berarti juga harus mengakui bahwa kenyataan manusia binasa juga dalam wilayah kedaulatan-Nya.Kedaulatan seperti ini adalah kedaulatan “sewenang-sewenang” yang menyalahi prinsip kasih dan keadilan. Di sini Tuhan direpresentasikan sebagai Pribadi yang kejam, suka-suka sendiri tanpa kebijaksanaan. Ini pandangan yang salah. Tuhan pasti bertindak berdasarkan kebijaksanaan, kasih, dan kecerdasan yang sempurna. Kebinasaan menunjuk kepada siksaan yang kengeriannya digambarkan Tuhan Yesus sebagai tempat di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api yang tidak pernah padam. Ulat-ulat bangkai menunjuk tempat yang tidak menyenangkan. Semua itu adalah kengerian dahsyat wujud hukuman Allah (Mat. 5:22; Mrk. 9:43,48), ratap dan kertak gigi (Mat. 8:12),
    0 min
  • Kelahiran Baru Dalam Penghakiman
    Proses kelahiran baru hanya terjadi atas umat pilihan Allah yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Mereka yang menerima Yesus, artinya mengakui bahwa Logos (Tuhan Yesus) adalah Pencipta langit dan bumi bersama Theos (Bapa) adalah Sang Majikan (Kurios). Ia datang untuk menyelamatkan manusia, yaitu mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Orang yang menerima-Nya diberi kuasasupaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:10-13). Kuasa itu adalah fasilitas keselamatan, yaitu penebusan, Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala kejadian hidup. Kelahiran baru bisa terjadi dan berlangsung hanya atas orang-orang yang dipimpin oleh Roh Kudus secara permanen, pada zaman penggenapan atau zaman anugerah dimana fasilitas keselamatan disediakan Allah.
     
    Memandang kelahiran baru, ada beberapa hal penting yang harus dipahami.Pertama, kelahiran baru tidak boleh dipahami sebagai fenomena mistis atau ajaib yang tidak bisa dipahami secara nalar.Kedua,kelahiran baru adalah proses natural yang membutuhkan perjalanan waktu. Ini berarti bukan sesuatu yang mendadak terjadi atau berlangsung (instant). Ketiga, bahwa kelahiran baru hanya bisa dikerjakan oleh Allah atas respon manusia, bukan tindakan Allah sepihak. Dalam proses kelahiran baru, mengisyaratkan jelas bahwa masing-masing individu anak-anak Allah ikut terlibat di dalamnya atau meresponi tindakan Allah melalui Roh Kudus, yang menggarap setiap individu untuk mengalami kelahiran baru.
     
    Kalau Tuhan Yesus menggunakan istilah “kelahiran” untuk proses keselamatan, berarti proses kelahiran baru juga memiliki kesejajaran dengan proses kelahiran manusia. Tidak mungkin Tuhan menggunakan istilah “kelahiran” untuk keselamatan orang percaya, tanpa memiliki keterkaitan dalam kesejajaran (paralel) dengan proses kelahiran secara umum. Proses kelahiran baru memiliki kesejajaran dengan proses kelahiran manusia. Dari penjelasan ini, dapat dimengerti bahwa kelahiran baru terjadi dalam hidup seseorang melalui sebuah proses. Proses ini adalah prinsip penting. Dalam Alkitab, hampir selalu Tuhan bekerja dengan prinsip ini, termasuk ketika Tuhan menciptakan alam semesta. Untuk menciptakan alam semesta, Tuhan dapat menciptakan sekejap dalam hitungan detik, tetapi Tuhan menyusun kerja-Nya secara sistematis dalam proses selama enam hari.
     
    Banyak orang Kristen memiliki pemahaman mengenai kelahiran baru sebagai sebuah peristiwa sekejap secara ajaib, tanpa proses sama sekali. Mereka memandang bahwa kelahiran baru adalah pekerjaan Allah sepihak tanpa respon manusia sama sekali. Dengan demikian ada orang yang dipilih dan ditentukan oleh Allah dapat mengalami kelahiran baru dan yang lain tidak. Dalam hal ini manusia dipandang tidak memiliki hak untuk memilih sama sekali. Allah mengerjakannya secara transenden (di luar pikiran manusia), secara sepihak. Manusia hanya menerima saja apa yang dikerjakan oleh Allah di dalam diri mereka yang dipilih untuk dilahirkan baru. Mereka memandang kelahiran baru terjadi di luar kesadaran manusia, hanya dikerjakan oleh Allah sendiri dengan kekuatan Allah yang supranatural. Jika hal ini benar, maka tidak diperlukan penghakiman atau pengadilan Allah.
     
    Yang benar adalah bahwa kelahiran baru bukan kejadian sekejap atau terjadi dalam sekejap, tetapi kelahiran baru adalah proses yang dikerjakan oleh Roh Kudus secara luar biasa dalam perjalanan waktu. Hal ini terjadi atau berlangsung atas manusia yang memberi respon terhadap anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus, serta menanggapi penggarapan Tuhan untuk keselamatannya atau dikembalikan dirinya ke rancangan Allah semula. Dari proses kelahiran baru yang benar ini, maka seseorang akan mengalami perubahan yang signifikan atau sebuah proses tranformasi. Sehingga seseorang semakin berkeadaan sebagai anak Allah, bukan saja memiliki status sebagai anak-anak Allah dimata manusia tetapi berkeadaan sebagai anak-anak Allah, yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus....
    0 min
  • Penghakiman Atas Anak-Anak Allah
    Setiap orang Kristen pasti mengaku sebagai anak-anak Allah. Benarkah setiap orang Kristen adalah anak-anak Allah? Dan biasanya mereka berpikir kalau menjadi anak-anak Allah dalam penghakiman atau pengadilan, pasti masuk surga. Bagaimana sebenarnya seseorang pantas disebut sebagai anak-anak Allah? Dalam Roma 8:14 Alkitab mencatat bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak-anak Allah. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah agontai (ἄγονται) dari akar kata ago (ἄγω), selain berarti memimpin (to lead) juga berarti “dibawa” (to bring; to carry) atau dimotori (to drive). Istilah “anak Allah” ini (Ibr. ben Elohim) muncul pertama dalam Kejadian 6:1-3. Siapa sebenarnya anak-anak Allah di Kejadian 6:1-3 tersebut dan apa dasarnya mereka disebut anak-anak Allah?
     
    Dalam Ibrani 12:8 terdapat kata “anak gampang”. Apa sebenarnya maksudnya? Dalam teks asli Alkitab, kata “anak gampang” di sini adalah “nothos” (νόθος) yang artinya anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Dalam Yunani, selain ada kata nothos, juga ada kata huios (υἱός) yang artinya anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, ada anak yang berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orang tua, atau seperti pangeran; tetapi ada anak gampang, anak yang tidak sah yang tidak akan mewarisi kekayaan orang tua. Dalam kehidupan orang Kristen juga terdapat orang-orang yang tergolong sebagai nothos dan sebagai huios. Kalau jujur, Saudara termasuk yang mana?
     
    Berbicara mengenai anak-anak Allah, perlu kita meninjau Yohanes 1:12. Bagi mereka yang percaya, diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. “Kuasa” itu dari teks aslinya exousia (ἐξουσία), yang artinya hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak-anak Allah. Fasilitas itu adalah pemeliharaan Tuhan, Roh Kudus, Firman, dan penggarapan intensif Allah atas orang yang mengasihi Dia.Jadi kuasa itu tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak Allah. Tetapi kuasa itu diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah. Jadi kalau seseorang tidak memanfaatkan kuasa itu, maka seseorang tidak pernah menjadi anak Allah. Menjadi anak Allah berarti berkarakter seperti Allah atau sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Panggilan sebagai orang percaya hanya ini: Menjadi serupa dengan Bapa.
     
    Pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak-anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak-anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos, yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu, maka ia akan bertumbuh menjadi anak-anak Allah yang sah. Jika tidak, maka ia tidak akan bertumbuh. Ciri dari nothos adalah tidak mau dihajar dan diajar Bapa.
     
    Pada zaman penggenapan ini, Allah hendak melahirkan orang yang menerima Tuhan Yesus supaya menjadi anak-anak Allah, inilah tujuan penyelamatan. Tujuan keselamatan pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dengan berkeadaan sebagai anak-anak Allah, maka seseorang barulah mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian, seseorang dikatakan berstatus sebagai anak-anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Berkeadaan sebagai anak-anak Allah maksudnya memiliki tanda atau ciri, yaitu seperti Yesus yang melakukan kehendak Bapa.
     
    Fakta yang kita saksikan dalam kehidupan banyak orang Kristen, mereka sudah merasa nyaman karena merasa sudah menjadi anak-anak Allah yang sah. Mereka yakin kalau mati pasti diterima masuk surga.
    0 min
  • Ukuran Penghakiman Yang Berbeda
    Terkait dengan penghakiman atau pengadilan Tuhan, kita harus memahami tatanan Tuhan bahwa yang diberi banyak dituntut banyak, tetapi yang diberi sedikit tentu juga dituntut sedikit. Hal ini terkait dengan penjelasan diatas mengenai pengertian dosa bagi masing-masing komunitas. Dengan demikian, penghakiman atau pengadilan Tuhan atas manusia dan komunitasnya berbeda-beda. Perbedaan ini menyangkut obyek manusia atau komunitasnya yang berkeadaan khusus (tidak semua komunitas memiliki keadaan yang sama) dan subyek hukum atau tatanan moral yang dipahami oleh masing-masing individu dan komunitas. Dalam hal ini, nampak jelas keadilan dan kebijaksanaan Tuhan atas masing-masing individu dan kelompoknya. Jadi setiap orang dihakimi menurut ukuran masing-masing yang tidak sama.
     
    Kebenaran di atas ini, diteguhkan oleh Firman Tuhan yang tertulis dalam Wahyu 20:12 yang berbunyi: “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu”. Kita harus teliti memerhatikan kalimat di dalam ayat ini, yaitu adanya kitab-kitab (lebih dari satu), dimana setiap orang dan komunitasnya dihakimi berdasarkan apa yang tertulis di dalam kitab-kitab itu. Hal ini menunjukkan adanya ukuran norma atau hukum yang berbeda-beda, yang menjadi dasar penghakiman atau pengadilan atas setiap individu. Kitab-kitab yang dimaksud di ayat tersebut menunjuk berbagai ukuran norma atau hukum yang banyak terdapat di dunia, sesuai dengan budaya dan moral masing-masing suku bangsa dan keyakinan. Tidak mungkin seseorang dihakimi dengan ukuran norma dan hukum yang tidak dipahami.
     
    Penjelasan mengenai penghakiman atau pengadilan yang didasarkan atas berbagai ukuran norma atau hukum, juga dijelaskan oleh Paulus dalam Roma 2:12-16, “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”. Dari ayat ini sangatlah jelas ada penghakiman atas orang yang tidak memiliki Taurat berdasarkan Taurat (hukum) yang tertulis di dalam nurani mereka. Sedangkan Bangsa Israel dihakimi menurut Taurat yang tertulis secara harafiah.
     
    Orang Kristen dituntut banyak karena mereka mengenal Tuhan Yesus yang adalah Juruselamat dan mengenal Injil; Injil itu kuasa Allah yang menyelamatkan. Menyelamatkan itu artinya mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula, dimana manusia bisa menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Allah. Untuk memperoleh keselamatan, seseorang harus memiliki iman. Jadi keselamatan adalah standar dangoal satu-satunya yang harus dicapai orang percaya. Hal ini membuat penghakiman atas orang percaya memiliki ukuran yang berbeda.
     
    Iman atau percaya berarti menyerahkan diri kepada obyek yg dipercayai, jadi kalau kita percaya kepada Tuhan Yesus kita menyerahkan diri kepada segala sesuatu yang diajarkan-Nya untuk dikenakan dalam kehidupan ini. Untuk ini orang percaya harus mengenal dengan benar pribadi-Nya, memiliki hubungan yang riil dengan Dia,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…