Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Percabulan Rohani
    Sesuai dengan Firman Tuhan bahwa orang-orang benar yang sudah meninggal -yaitu mereka yang dikatakan sebagai jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di surga, dan roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna- akan mendapat istirahat dari kelelahan mereka mengiring Yesus (Ibr. 12:23). Kelelahan tersebut menunjukkan bahwa mereka telah berjuang untuk pekerjaan Tuhan dengan berat. Hanya orang-orang yang telah berjuang dengan berat sampai kelelahan yang akan menerima perhentian di dalam Tuhan. Dengan demikian maka tidak semua orang Kristen memperoleh perhentian di dalam Tuhan. Hal ini sejajar dengan yang dikatakan Firman Tuhan dalam Roma 8:17 – “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”
     
    Keindahan perhentian di dalam Tuhan itu harus menjadi kerinduan yang menyengat dan selalu membakar hati jiwa kita. Kalau seseorang tidak menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang bernilai tinggi berarti orang tersebut menjauhkan diri dari kasih karunia Allah (Ibr. 12:15). Hal ini akan memicu seseorang bersikap tidak setia kepada Tuhan. Tidak setia berarti percabulan di hadapan Tuhan. Bukan cabul seks, tetapi menukar keselamatan yang sangat berharga dengan kesenangan dunia (Ibr. 12:16). Kata “cabul” dalam teks ini adalah pornos (πόρνος). Kata ini menunjuk suatu perselingkuhan yang sampai pada titik merusak hakikat persekutuan dengan pasangannya. Berbeda dengan moikos (μοιχός), suatu perselingkuhan yang belum sampai pada tingkat kerusakan total, sehingga masih ada peluang atau posibilitas untuk diperbaiki. Kalau sudah sampai tingkat pornos, maka tidak ada kesempatan lagi untuk orang tersebut dapat menerima kasih karunia, sekalipun dengan mencucurkan air mata (Ibr. 12:17). Ini berarti ada penyesalan yang sangat dalam yang hanya bisa digambarkan dengan ratap tangis dan kertak gigi (Luk. 13:28).
     
    Banyak orang Kristen yang kelelahan hidupnya bukan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan, tetapi oleh karena memburu kekayaan, kehormatan, dan segala perkara dunia lainnya. Mereka menganggap hal itu wajar, bahkan mereka melibatkan Tuhan untuk membantu mereka meraih dunia ini dengan menggunakan kuasa-Nya. Malangnya, tidak sedikit gereja yang mencoba membantu orang-orang Kristen seperti ini, sehingga mereka menjadi semakin tersesat. Dari hal ini muncullah Teologi Kemakmuran yang menjanjikan berkat-berkat jasmani untuk jemaat, seakan-akan menjadi orang Kristen berhak menikmati kelimpahan jasmani semata. Jika hal ini tidak dihentikan dan jemaat tidak disadarkan, maka banyak orang Kristen yang akan terbuang dari hadirat Allah dan masuk ke dalam kegelapan abadi.
     
    Sekarang ini, ada kesempatan yang sangat lebar untuk menghampiri Tuhan dan berdamai dengan Dia (Ibr. 12:18-21). Kemudian mengarahkan pandangan kepada perkara-perkara yang di atas. Mengarahkan pandangan kepada perkara-perkara yang di atas sama dengan mengumpulkan harta di surga, bukan yang di bumi (Mat. 6:19-20; Kol. 3:1-4). Sejak menjadi orang Kristen yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, fokus hidup haruslah hanya ditujukan kepada perkara-perkara yang di atas. Hal ini sebagai suatu kemutlakan yang tidak dapat ditawar sama sekali. Dalam hal ini Tuhan Yesus menegaskan bahwa orang percaya tidak boleh mengabdi kepada dua tuan.
     
    Tuhan memberi kesempatan untuk menghampiri Dia yang tidak menakutkan, yang berkehendak membawa kita kepada kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi, dan kepada beribu-ribu malaikat suatu kumpulan yang meriah, jemaat anak-anak sulung dan roh-roh orang benar yang telah sempurna (Ibr. 12:22-23). Kita diperkenan datang kepada Tuhan Yesus yang telah menumpahkan darah-Nya agar kita beroleh persekutuan dengan Allah Bapa. Oleh sebab itu kita tidak boleh menolak Firman...
    0 min
  • Pujian Dari Tuhan
    Sudah menjadi fakta yang tidak dapat dibantah bahwa pengakuan, pujian, sanjungan, dan pemujaan akan dituntut dan diharapkan oleh orang-orang yang merasa memiliki nilai lebih di mata manusia lain; seperti seorang artis yang terkenal, berprestasi dalam ilmu pengetahuan yang dikagumi manusia, penguasaha yang berhasil mengumpulkan banyak kekayaan, seseorang yang berhasil di gelanggang politik dan menjadi penguasa dalam pemerintahan. Secara otomatis pada umumnya mereka merasa bahwa harkatnya telah naik, maka ia menaikkan harga harkatnya. Itulah sebabnya banyak orang berjuang keras untuk berhasil dalam berbagai bidang. Untuk itu mereka dapat melakukan segala hal, bahkan menghalalkan segala cara. Mereka mencintai dunia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Dengan cara demikian mereka telah meletakkan “sesuatu” sebagai alah atau berhala.
     
    Hal tersebut di atas memang menjadi kodrat manusia pada umumnya, yaitu hidup untuk memperoleh harkat martabat yang dibangun di atas penghormatan dan penilaian manusia lainnya. Hal ini sama artinya bahwa pada umumnya setiap orang memasang tarif dan menjual dirinya terhadap dunia ini. Menjual diri maksudnya berusaha agar dirinya mendapat penghormatan atau penilaian yang sesuai dengan apa yang diingininya, biasanya seiring dengan atribut-atribut lahiriah yang dimiliki, yaitu: pangkat, gelar, penampilan, kekayaan, dan lain-lain. Segala sesuatu yang diusahakan adalah usaha untuk menaikkan nilai diri di mata manusia, bukan di mata Alah. Kalau hal ini berlangsung berlarut-larut, maka mereka tidak sanggup memercayai ada Allah yang hidup, sehingga mereka hanya sekadar menjadi orang beragama yang tidak ber-Tuhan.
     
    Hal di atas tersebut bukan hanya terjadi di kalangan orang-orang di luar gereja, tetapi juga orang-orang di dalam gereja. Tetapi pada umumnya banyak orang Kristen tidak menyadari hal tersebut, bahkan mereka menganggapnya wajar. Tentu dengan demikian mereka tidak berusaha untuk mencari penghormatan dan penilaian dari Allah, sebab kalau seseorang sudah mencari penghormatan dan penilaian dari manusia untuk kehormatannya, ia tidak akan lagi mencari kehormatan dari Allah. Orang yang tidak mencari penghormatan bagi Allah tidak dapat menjadi orang percaya yang benar, sebab percaya kepada Tuhan berarti menyerahkan segala kehormatan bagi Tuhan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan hanya untuk kemuliaan Bapa dan Tuhan Yesus semata-mata (1Kor. 10:31).
     
    Banyak orang sibuk dan tenggelam dengan pencarian kehormatan manusia sampai mereka tidak menyadari bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya hanyalah persiapan untuk memasuki kehidupan di balik kubur. Mereka hanya memikirkan hal-hal sekarang di bumi ini. Dengan kondisi ini manusia digiring menuju kegelapan abadi. Dan banyak orang Kristen juga ikut tergiring tanpa mereka sadari. Sebagai anak-anak Bapa, pujian yang harus kita cari dan gumuli adalah “pujian dari Tuhan” (1Kor. 4:5; 1Ptr. 1:7). Hal ini tidak mudah, sebab manusia biasanya mau merasakan pujian dari yang kelihatan sekarang di bumi, tetapi Tuhan tidak kelihatan dan pujian yang diberikan barulah nanti di langit baru dan bumi yang baru.
     
    Berkenaan dengan hal tersebut Tuhan Yesus berkata: “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?” (Yoh. 5:44). Dari pernyataan Tuhan ini, Tuhan menunjukkan bahwa orang percaya harus berusaha mencari hormat yang datang dari Allah, bukan dari manusia. Hal itu merupakan ekspresi dari percayanya kepada Tuhan. Jadi, kalau orang masih mencari hormat dari manusia berarti ia belumlah menjadi orang percaya yang benar.
     
    Tuhan Yesus sebagai teladan hidup kita menyatakan bahwa diri-Nya tidak mencari hormat dari manusia (Yoh. 5:41). Anak Tunggal Bapa mengosongkan diri menjadi manusia, yang dalam segala hal disamakan dengan manusia biasa. Bahkan Ia mati di kayu salib dengan sangat terhi...
    0 min
  • Penghormatan Bagi Allah
    Seperti yang kita ketahui bahwa pada umumnya manusia hidup membutuhkan pengakuan dari manusia lain atau dari dunia sekitarnya; dari pengakuan kelas sederhana sampai pada sanjungan dan pujian, bahkan pemujaan. Pada umumnya, setiap orang menuntut bahwa ia pantas mendapat tempat sekecil apa pun dalam ruangan kehidupan ini. Dengan istilah lain, setiap insan menuntut untuk dimanusiakan. Betapa abstraknya hal ini, sebab pengertian “dimanusiakan” itu sangat relatif. Seseorang akan sangat terluka dan sakit hati -bahkan terbangkitkan amarahnya- bila merasa harkatnya diinjak-injak. Harkat di sini maksudnya adalah derajat (kemuliaan); nilai diri, harga diri yang sama dengan martabat. Harkat hidup seseorang sangat relatif, tergantung bagaimana seseorang memberi nilai terhadap dirinya.
     
    Semakin memberi nilai tinggi terhadap dirinya, maka semakin menuntut harkat dirinya untuk dihargai. Hal ini juga berkaitan dengan status yang dimiliki seseorang; status keturunan; status sosial, tingkat pendidikan, status pergaulan, dan lain sebagainya. Orang yang mulai biasa bergaul dengan pejabat tinggi atau orang-orang dari kalangan tertentu yang terhormat akan mengeskalasi harkatnya, seakan-akan pergaulannya dengan mereka mengangkat harkatnya. Demikian pula dengan soal pendidikan, seseorang yang menaikkan tingkat pendidikan dan keahlian -bukan sekadar supaya memiliki suatu keahlian guna mengabdi kepada masyarakat- maka gelar yang disandangnya diharapkan mampu menaikkan harkatnya. Seseorang yang jumlah kekayaannya bertambah banyak akan merasa bahwa hal tersebut dapat menaikkan harkat dirinya. Itulah sebabnya orang mau menjadi kaya, karena selain rasa aman dan bahagia, juga oleh karena “harkat” ini. Jika hal ini menjadi tujuan hidup, maka seseorang tidak akan pernah menjadi orang percaya yang benar.
     
    Tuhan Yesus menyatakan bahwa selama seseorang masih mencari dan menuntut penghormatan dari manusia, ia tidak akan pernah menjadi orang percaya yang benar atau tidak akan pernah dapat mengenakan Kekristenan yang sejati (Yoh. 5:44). Ini bukan berarti ia tidak akan menjadi orang terhormat. Sebaliknya, orang yang tidak mencari penghormatan dari manusia akan menjadi orang terhormat di hadapan Allah dan akan menerima kehormatan dalam keabadian bersama Tuhan Yesus. Di dunia pun Tuhan bisa memberikan kehormatan demi kepentingan pekerjaan-Nya atau kemuliaan nama-Nya. Jadi, kalau kita studi, berkarir, bisnis, dan lain sebagainya, semuanya harus dilakukan untuk kemuliaan Allah, bukan untuk kehormatan diri sendiri.
     
    Kalau Tuhan menjadikan atau mengizinkan orang percaya menjadi terhormat di mata manusia -baik disebabkan oleh karena prestasi pendidikan, ekonomi, kekuasaan, dan lain sebagainya- itu harus digunakan untuk kepentingan-Nya. Hal ini sejajar dengan Tuhan Yesus Kristus yang menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa (Flp. 2:11). Yesus menjadi Tuhan bukan untuk kemuliaan diri-Nya sendiri, tetapi bagi kemuliaan Bapa. Dalam hal ini orang percaya wajib mengembangkan semua potensi yang dimiliki demi memperoleh kehormatan yang kemudian digunakan untuk kepentingan Allah. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah banyak usaha yang dilakukan hanya tertuju kepada kepentingan kehormatan, prestise, dan harga diri sendiri. Secara natural ini terjadi dalam kehidupan setiap individu, seakan-akan sudah menjadi kodrat yang tidak bisa dilepaskan.
     
    Bersyukur atas keselamatan yang Bapa berikan. Keselamatan dalam Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menanggalkan hasrat untuk dihormati manusia dan beralih untuk mencari penghormatan dari Allah dengan cara melakukan segala sesuatu untuk kepentingan-Nya. Inilah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Ia melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah Bapa, dengan melakukan kehendak dan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa percayakan kepada-Nya. Walau untuk itu Ia harus dihina dan disiksa. Inilah harga mahal yang harus dibayar oleh Yesus untuk menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.
    0 min
  • Standar Kesucian
    Seperti pengakuan Paulus, kalau kebenaran atau kesucian hidup diukur hanya berdasarkan dosa-dosa moral umum yang standarnya adalah hukum Taurat, maka ada orang-orang yang akan berani mengaku bahwa dirinya tidak berdosa (Flp. 3:6-7). Paulus menyatakan bahwa sebelum mengenal Yesus, ditinjau dari hukum Taurat dirinya tidak bercacat. Juga seperti misalnya orang muda kaya dalam Matius 19:16-19 yang mengaku sudah menaati Taurat. Berbeda dengan mereka, keberdosaan orang percaya tidak diukur dari sekadar melanggar hukum Taurat. Kalau memerhatikan standar kesucian umat Perjanjian Baru, dapat diperoleh bahwa ukuran kesucian sekaligus ukuran keberdosaan adalah dengan melakukan kehendak Allah. Inilah prinsip hidup Yesus: “Makanan-Ku melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Dengan demikian, orang percaya memiliki ukuran moral “hidup seperti Tuhan Yesus hidup” (1Yoh. 2:6), yaitu tidak mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya; yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-16). Oleh sebab itu dosa dalam konteks kehidupan orang percaya tidak boleh dipahami dari hanya sekadar melanggar moral atau melanggar hukum Taurat.
     
    Orang percaya harus mengakui dosa, artinya mengakui keberadaannya di hadapan Tuhan. Keberadaan di sini dikaitkan dengan standar kesucian seperti yang dijelaskan di atas. Kalau sudah menyadari keberadaan ini, orang percaya harus mengakuinya, mohon pengampunan. Tuhan akan menyucikannya dari segala kejahatan (1Yoh. 1:9). Pengakuan keberdosaan ini bukan hanya menyangkut kesalahan moral atau pelanggaran umum yang telah dilakukan, tetapi keberadaan diri yang belum mencapai kesucian seperti yang Tuhan kehendaki. Kalau seseorang tidak mengaku dirinya berdosa, berarti ia menipu dirinya sendiri. Dalam hal ini keberadaan orang tersebut adalah keadaan meleset (Yun. Hamartia), keadaan yang belum mencapai seperti keadaan yang Tuhan kehendaki.
     
    Kata “menipu” dalam teks aslinya adalah planao (πλανάω). Kata ini selain menipu atau mengelabui (deceive) juga berarti menyesatkan (lead astray), memberi pengertian yang salah (mislead) dan menyebabkan ngelantur, mengembara atau jalan tiada arah (cause to wander). Ia merasa bahwa dirinya tidak berdosa, padahal keberadaannya jauh dari standar kesucian Tuhan. Itulah sebabnya tidak ada perasaan krisis dalam diri mereka untuk bergumul keluar dari kejahatan (Yun. adikia) tersebut. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak mengenal kebenaran. Kalau mereka mengenal kebenaran, maka mereka akan menyadari keberdosaan mereka. Dengan keadaan ini banyak orang Kristen yang sebenarnya jalan tiada arah. Mereka menyesatkan dirinya sendiri oleh karena kebodohannya.
     
    Pada akhirnya kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang tidak diatur oleh siapa pun kecuali oleh Allah sendiri sebagai Bapa. Hukum Taurat yang diberikan Tuhan hanya menjadi “tutor” sementara, sebab akhirnya tanpa tekanan dan bayang-bayang hukum seseorang bisa memiliki kelakuan –bukan saja tidak melanggar hukum– tetapi hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dalam hal ini orang percaya harus memiliki kualitas moral seperti Allah sendiri. Kualitas moral seperti inilah yang sebenarnya Allah Bapa kehendaki untuk dimiliki oleh anak-anak-Nya, dan mereka harus memilikinya. Sebab Tuhan Yesus berkata bahwa kita “harus sempurna.” Dengan demikian menjadi sempurna maksudnya adalah agar orang percaya hidup dalam pengaturan Tuhan sepenuhnya.
     
    Sebenarnya Allah tidak memformat manusia sejak semula untuk hidup di bawah bayang-bayang hukum (Taurat), itulah sebabnya pada waktu penciptaan, Allah tidak merumuskan hukum untuk dilakukan. Allah merancang manusia untuk berkeberadaan segambar dan serupa dengan diri-Nya. Hal ini berarti Allah memberikan kemampuan moral kepada manusia untuk bisa memahami pikiran dan perasaan-Nya, sehingga segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan keinginan Allah. Jadi,
    0 min
  • Pengakuan Dosa Yang Benar
    Dalam 1 Yohanes 1:8 tertulis: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Dari tulisan ini sangatlah jelas Firman Tuhan mengatakan bahwa jika kita berkata: “Kita tidak berdosa,” maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam diri kita. Maksud ayat ini bukan hanya sekadar agar kita mengaku bahwa kita orang berdosa, memohon pengampunan untuk memperoleh penyucian, kemudian selesai. Inilah yang selalu dilakukan oleh banyak orang Kristen. Tidak sedikit dari mereka yang merasa cukup dengan melakukan hal ini ketika ada dalam gereja. Seakan-akan dosa selama satu minggu bisa diselesaikan dalam waktu beberapa menit, dalam kebaktian di gereja. Segala kesalahan yang dilakukan sepanjang hari tidak dipersoalkan hari itu juga atau saat itu juga, tetapi hanya pada hari Minggu. Itulah sebabnya mereka berkewajiban datang ke gereja pada hari Minggu untuk menyelesaikannya.
     
    Biasanya orang-orang Kristen seperti di atas memandang hari Minggu sebagai hari istimewa, yang dianggap sebagai hari yang lebih suci dari hari yang lain. Jadi bisa dimengerti kalau mereka mengasumsikan bahwa hari Minggu adalah “hari Tuhan.” Padahal Firman Tuhan menyatakan bahwa tidak ada satu hari yang lebih istimewa daripada hari yang lain, karena setiap hari adalah harinya Tuhan. Orang-orang Kristen seperti ini biasanya menjadi orang Kristen hanya pada hari Minggu. Perlu diingat, bahwa Kristen artinya seperti Kristus. Sejatinya, dengan cara hidup orang Kristen seperti itu, mereka bukanlah orang Kristen yang sesungguhnya. Malangnya, mereka tidak menyadari keadaan mereka di hadapan Tuhan, yang suatu hari nanti akan tertolak dari hadapan Tuhan. Kalau gereja tidak menyadarkan jemaat akan keadaan tersebut -tetapi malah meninabobokan dengan liturgi gereja- maka tanpa disadari secara tidak langsung gereja seperti itu menggiring mereka ke dalam kegelapan abadi. Sungguh ironis, tidak sedikit gereja-gereja seperti itu dilayani oleh teolog-teolog yang memiliki kualifikasi akademis yang baik, tetapi jemaat sendiri tidak mengenakan Kekristenan yang sejati sesuai dengan kebenaran Injil.
     
    Tidak jarang pengakuan dosa yang dilakukan secara bersama-sama di gereja hanya sekadar bersifat formalitas, tanpa sungguh-sungguh menyadari dosanya. Dengan demikian dikesankan bahwa dosa bukan sesuatu yang mengerikan. Terkait dengan hal ini, harus dipahami bahwa dosa bukan sekadar pelanggaran moral. Dalam bahasa aslinya, kata “dosa” adalah hamartia, yang artinya luncas atau meleset, atau dengan kalimat lain “tidak mengenai sasaran.” Dosa bukan hanya menyangkut pelanggaran moral umum. Dosa adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan standar kekudusan Theos (Bapa) (1Ptr. 1:16). Standar kekudusan Bapa adalah diri-Nya sendiri, artinya keberadaan moral Bapa sendiri. Itulah sebabnya setiap orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sebab Yesuslah Pribadi yang memiliki moral Bapa.
     
    Sebenarnya banyak dosa yang kita lakukan setiap hari, yang mana hal ini sama artinya dengan mendukakan hati Tuhan terus menerus. Oleh sebab itu sesungguhnya tidak cukup hanya dalam satu kesempatan saja mengucapkan pengakuan dosa tanpa mempersoalkan butir-butir dosa yang dilakukan. Ini sebenarnya sebuah tindakan yang tidak menghormati Tuhan. Sebab setelah mengucapkan pengakuan dosa dan permohonan ampun, sepulang dari gereja perilakunya tetap tidak berubah. Banyak dosa yang terus menerus dilakukan dengan perasaan tidak bersalah. Mereka yang hidup secara demikian bukan saja tidak menghormati Tuhan, tetapi juga melecehkan kekudusan-Nya.
     
    Seharusnya, pengakuan dosa dilakukan setiap kali kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Seketika itu juga kita mohon pengampunan Tuhan yang disertai dengan komitmen untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Masalahnya juga adalah apakah kita memiliki kepekaan untuk bisa menyadari bahwa suatu ge...
    0 min
  • Kepastian Diterima Oleh Allah
    Pada saat-saat terakhir sebelum seseorang menutup mata, kesadarannya semakin kuat untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian, dimana di balik kematian ia harus menghadap penghakiman Tuhan. Sesungguhnya satu hal yang paling mendesak dalam hidup Saudara sekarang ini adalah seandainya Saudara sekarang ini meninggal dunia, apakah Saudara sudah berkeadaan berkenan kepada Tuhan? Apakah Saudara pasti diterima masuk dalam anggota keluarga Kerajaan Surga atau tidak? Ini adalah masalah yang bukan saja sangat penting, tetapi sangat mendesak dan harus selalu dipandang sebagai hal yang sangat penting dan sangat mendesak. Kalau selama itu ia tidak sungguh-sungguh hidup berkenan di hadapan Tuhan dan melayani Dia,ia akan sangat menyesal. Ia akan lebih menyadari bahwa dirinya seperti berdiri berbaris antri di satu barisan yang sangat panjang, banyak orang sedang menghadap takhta pengadilan Allah. Situasi tersebut sangat dahsyat, namun ketika belum di ujung kematian, ia tidak pernah membayangkan keadaan tersebut, dan tidak pernah sama sekali berpikir bahwa dirinya akan ada dalam keadaan seperti itu.
     
    Setiap kita harus menghadapi pengadilan Allah. Suasana kengerian yang tidak pernah dialami dan dirasakan setiap orang yang selama hidupnya tidak belajar melakukan kehendak Tuhan. Mereka tidak lagi berkesempatan bertobat dan memperbaiki diri. Di hadapan pengadilan Tuhan setiap orang akan merasakan keagungan Tuhan yang tiada tara. Keagungan dan kemuliaan yang sangat menakutkan bagi mereka yang tidak berjalan dengan Tuhan selama hidup di dunia. Setiap orang akan merasa begitu kecil, sangat kecil, dan bukan siapa-siapa di hadapan Tuhan. Bagi mereka yang tidak takut akan Tuhan selama hidup di dunia akan merasakan ketakutan yang luar biasa terhadap Tuhan. Orang yang takut Tuhan di bumi ini tidak lagi takut saat berada di kekekalan. Tetapi orang yang tidak takut Tuhan saat di dunia, akan ketakutan di kekekalan.
     
    Kuasa kegelapan menipu seseorang dengan pemikiran bahwa sekarang ini, selama masih di dunia dan belum menghadap takhta pengadilan Allah, maka seseorang belum bisa mengetahui dengan pasti apakah dirinya ditolak atau diterima oleh Allah. Itulah sebabnya mereka berpikir tidak perlu mempersoalkannya dulu. Pemikiran atau anggapan ini sungguh-sungguh sangat menyesatkan. Dengan pemikiran tersebut seseorang menjadi ceroboh. Tentu bagi mereka yang selama di dunia sungguh-sungguh mengagungkan Tuhan, keagungan dan kemuliaan Tuhan adalah kebahagiaan yang tiada tara. Mereka sudah akrab dengan kehadiran Tuhan dalam hidup mereka. Mereka bukan saja mampu berdoa, tetapi juga bercengkerama dan bersahabat dengan Tuhan. Itulah hari yang mereka nantikan. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak menghargai Tuhan secara pantas, hari pengadilan Allah adalah hari yang sangat mengerikan.
     
    Kita harus memperkarakan dan mempersoalkan sejak dini, apakah dalam pertimbangan Tuhan kita akan diterima atau ditolak Allah. Sejak masih hidup, yaitu belum meninggal dunia dan belum menghadap takhta pengadilan Allah, seseorang harus dapat mengetahui dengan pasti keadaannya kalau meninggal dunia saat ini, apakah ia diterima atau ditolak oleh Allah. Itulah sebabnya Tuhan menghendaki agar setiap orang menguji dirinya dan memohon Tuhan membuka pikirannya untuk mengetahui apakah jalannya serong (2Kor. 13:5; Ef. 5:10; Mzm. 139). Selama seseorang belum menemukan dengan pasti bahwa dirinya sudah melakukan kehendak Bapa, ia harus terus berjuang untuk mencapai perkenanan Bapa.
     
    Kita harus selalu berpikir bahwa kemungkinan untuk ditolak oleh Allah, sampai seseorang benar-benar mengalami dan menyadari bahwa dalam hidup kesehariannya selalu melakukan kehendak Bapa. Roh Kudus pasti menolong seseorang untuk mengenali keadaan dirinya menurut penilaian Bapa. Dari pergumulan untuk mengetahui apakah dirinya sudah melakukan kehendak Bapa atau belum, sudah mencapai perkenanan Bapa atau belum,
    0 min
  • Kesempatan Memasuki Dunia Yang Akan Datang
    Terkait dengan penghakiman atau pengadilan, perlu dikemukakan mengenai mereka yang diperkenan masuk dunia yang akan datang melalui penghakiman untuk menjadi anggota masyarakat. Perlu ada penjelasan agar tidak terjadi salah pengertian. Satu hal yang paling mutlak harus ditegaskan adalah bahwa sejatinya tidak ada keselamatan di luar Tuhan Yesus Kristus. Alkitab menyatakan: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis. 4:12). Yesus yang memikul semua dosa manusia, dari manusia pertama, Adam, sampai manusia terakhir (Yoh. 1:29,36).
     
    Kalau Anak Tunggal Bapa tidak datang ke dunia, yang berarti tidak ada sarana pengampunan, maka semua manusia tanpa penghakiman atau pengadilan, dengan sendirinya terbuang ke dalam lautan. Tetapi dengan pengorbanan-Nya maka bisa diadakan penghakiman, yaitu siapa manusia yang dilayakkan masuk ke kehidupan yang akan datang. Dengan demikian, kematian Yesus di kayu salib bukan hanya untuk orang Kristen atau orang Yahudi, tetapi untuk semua orang, baik mereka yang mendengar Injil maupun yang tidak mendengar Injil dan yang menolak Injil.
     
    Walaupun Yesus mati untuk semua orang, tetapi hal ini tidak secara otomatis membuat mereka yang ada di luar Kristen dapat masuk surga. Mereka masih harus memiliki tanggung jawab, yaitu memiliki keadaan batin yang baik, yang terekspresi dalam perilaku atau perbuatan. Keadaan batin yang terekspresi dalam perbuatan menjadi ukuran apakah mereka diperkenankan masuk dunia yang akan datang atau tidak. Dalam Alkitab dapat dijumpai penjelasan Yesus mengenai orang-orang yang diperkenankan masuk ke dalam dunia yang akan datang berdasarkan perbuatan baik (Mat. 25:14-46). Juga dikemukakan pula oleh Yesus, orang yang dimasukkan ke tempat siksaan karena tidak memiliki kasih (Luk. 16:19-31). Dalam hal ini, banyak orang, bukan saja orang-orang di kalangan di luar gereja, tetapi juga orang-orang Kristen yang tidak memiliki kasih atau tidak memperlakukan sesamanya dengan baik akan ditolak oleh Tuhan.
     
    Dalam Matius 25:14-46 dikemukakan sangat jelas sekali bahwa kesempatan untuk ikut menikmati kemuliaan dunia yang akan datang berdasarkan perbuatan baik. Harus dibedakan antara keselamatan yang dialami orang percaya dan keselamatan mereka di luar orang percaya. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya. Oleh sebab itu, keselamatan orang-orang di luar orang percaya sebenarnya tidak dapat disebut sebagai keselamatan, tetapi kesempatan untuk memasuki dunia yang akan datang. Mereka bisa menjadi warga masyarakat langit baru dan bumi yang baru. Orang-orang inilah yang dimaksud oleh Roma 8:20 sebagai “seluruh makhluk”. Mereka menantikan anak-anak Allah Bapa dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Mereka adalah anggota masyarakat Kerajaan Surga.
     
    Berkenaan dengan hal tersebut, perlu dijelaskan apakah surga itu. Surga adalah dunia lain, di mana terdapat kehidupan seperti yang pernah dirancang oleh Tuhan pada penciptaan semula direalisasi di langit baru dan bumi yang baru (Kej.1). Alkitab menyatakan bahwa apa yang diciptakan Tuhan semula adalah format yang terbaik (Kej. 1:31), maka berarti tidak ada format yang lebih baik dari itu. Surga bukanlah alam roh, tetapi alam fisik seperti yang kita kenal sekarang ini. Fasilitas yang digunakan juga adalah alam semesta yang sama ini. Jadi, dunia yang akan datang adalah pengulangan dunia yang pernah dirancang Tuhan. Pengulangan dunia baru ini bukan hanya milik orang-orang Kristen, tetapi juga milik orang-orang yang memiliki kasih; dihakimi menurut perbuatan dan yang diperkenan masuk ke dalamnya. Tetapi mereka hanya menjadi anggota masyarakat, bukan memerintah bersama dengan Kristus yang adalah Rajanya.
     
    Penghakiman terhadap mereka yang tidak mendengar Injil dan yang tidak menerima Kristus ...
    0 min
  • Tingkatan Dalam Kerajaan Surga
    Terkait dengan penghakiman, harus dipersoalkan mengenai perhitungan atas orang percaya yang setiap sampai akhir, yaitu mereka yang serupa dengan Yesus, mengambil bagian dalam kekudusan Allah dan mengenakan kodrat Ilahi. Untuk ini harus dipahami bahwa di dunia yang akan datang akan terselenggara sebuah pemerintahan. Itulah sebabnya dunia yang akan datang nanti sistem masyarakatnya dalam bentuk kerajaan (kingdom), di mana Tuhan Yesus menjadi Rajanya; bahwa kepala pemerintahannya adalah “Raja”. Tuhan Yesusdalam dominasi Bapa menjadi Penguasa satu-satunya yang juga penentu semua kebijakan. Kalau Tuhan yang Maha Bijaksana menentukan segala kebijakan dan keputusan, betapa sempurnanya pemerintahan Kerajaan tersebut.
     
    Yesus berkali-kali memunculkan hal pemerintahan Kerajaan ini dalam pernyataan-pernyataan-Nya di berbagai kesempatan. Di antaranya bahwa orang percaya akan memerintah bersama-sama dengan Dia atau menerima hak-hak Kerajaan (Luk. 22:28-30). Hak-hak Kerajaan sama dengan menerima Kerajaan atau sebuah pengelolaan pemerintahan. Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia menentukan orang-orang yang bersama-sama dengan Dia dalam segala pencobaan untuk memerintah bersama-sama dengan Dia dalam Kerajaan-Nya yang diberikan oleh Allah Bapa (Luk. 22:28-29; Rm. 8:17). Dengan jelas sekali Tuhan menyatakan bahwa orang percaya akan duduk bersama-sama dengan Tuhan menghakimi (Luk. 22:30).
     
    Kata “menghakimi” ini juga kita temukan dalam 1 Korintus 6:2, bahwa orang kudus akan menghakimi dunia. Kata “dunia” dalam teks aslinya adalah kosmos (κόσμος), yang juga berarti order (tatanan), universe (alam semesta).Jadi, “dunia” yang dimaksud dalam teks tersebut bukanlah dunia hari ini yang kita huni, tetapi dunia yang akan datang di langit yang baru dan bumi yang baru, sebab dunia di mana kita tinggal ini akan menjadi lautan api (Why. 20:14-15, 21:1).Kata “menghakimi” dalam teks aslinya adalah krino (κρίνω), yang artinya bermacam-macam; selain menghakimi juga berarti memerintah, menguasai, dan mengendalikan (to govern). Hal ini berhubungan dengan tugas hakim-hakim di Israel pada zaman sebelumraja-raja. Hakim-hakim disebut sebagai shaphat (שָׁפַט). Kata ini selain berarti menghakimi (to judge) juga bisa berarti memerintah (to govern).
     
    Di dunia yang akan datang nanti Allah akan memerintah, mengendalikan, dan mengatur bangsa-bangsa yang diperkenan masuk dunia yang akan datang danpemerintahan tersebut melalui orang percaya yang berkedudukan sebagai hakim-hakim. Dikatakan dalam Wahyu 5:10: Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi. Kata “bumi” di sini ge(γῆ), yang artinya selain bumi (earth) juga tanah (soil, land, ground), juga wilayah atau negara (region, country) dan menunjuk lokasi di mana suatu masyarakat tinggal (as the locale of people, humanity). Ini adalah pemerintahan di dunia yang akan datang atau di langit baru dan bumi yang baru. Banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa (Why. 5:11). Jadi, ini bukanlah di wilayah bumi ini.
     
    Oleh sebab itu kita harus dapat membedakan penghakiman atas mereka yang menjadi umat pilihan yang bukan. Penghakiman yang didasarkan pada perbuatan berlaku bagi orang yang tidak atau belum mendengar Injil, juga bagi mereka yang tidak mendengar Injil secara benar. Penghakiman ini adalah penghakiman untuk menentukan seberapa mereka pantas untuk masuk dunia yang akan datang berdasarkan perbuatan. Merekalah orang-orang yang melalui penghakiman akan diperkenan masuk sebagai masyarakat dalam dunia yang akan datang di langit baru dan bumi yang baru. Selain mereka juga banyak orang Israel yang melakukan Taurat akan masuk dunia yang akan datang menjadi anggota masyarakat.
     
    Bagi mereka yang menjadi umat pilihan dan yang benar-benar terpilih -artinya sempurna seperti Bapa,
    0 min
  • Tahapan Setelah Kematian
    Berbicara mengenai penghakiman, mau tidak mau harus juga membahas mengenai dunia orang mati. Pertanyaan yang sering terdengar dan harus segera ditemukan jawabnya adalah bagaimana proses kehidupan manusia setelah seseorang mengalami kematian? Hampir semua orang beranggapan, setelah kematian seseorang langsung masuk surga bagi yang berkelakuan baik, sedangkan bagi mereka yang jahat langsung masuk neraka. Sebenarnya setelah seseorang menghembuskan nafas yang terakhir, mereka tidak langsung masuk surga atau langsung masuk neraka. Dalam tulisan Daniel jelas sekali bahwa penghukuman terakhir terjadi setelah kebangkitan (Dan. 12:2).
     
    Kalau setelah orang mati langsung masuk surga atau neraka sebelum kebangkitan, berarti surga atau neraka adalah alam roh. Sesungguhnya, surga dan neraka bersifat materi, tempat tubuh kebangkitan bermuara. Jadi, sangatlah tidak mungkin kalau orang setelah mati langsung masuk surga atau neraka. Mereka yang sudah meninggal sebelum kebangkitan, sebenarnya dibawa ke suatu tempat yang bisa disebut sebagai penampungan sementara (intermediate state). Setelah kematian, manusia belumlah langsung masuk ke surga yang permanen atau neraka yang permanen.
     
    Neraka (gehenna) adalah tempat terakhirbagi manusia yang namanya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan, yaitu setelah penghakiman terakhir, bukan tempat pembuangan langsung setelah seseorang yang jahat meninggal dunia. Demikian pula bagi orang percaya atau yang berkelakuan baik, setelah mati mereka tidak langsung ke surga yang permanen. Surga bukanlah alam roh, tetapi alam fisik. Sejatinya surga adalah pengulangan dunia yang telah diciptakan sempurna oleh Allahdan sedang dipersiapkan oleh Tuhan Yesus (Yoh. 14:1-3). Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia pergi menyediakan tempat bagi orang percaya. Setelah selesai, Ia akan datang kembali dan membawa ke tempat di mana Ia berada (Yoh. 14:1-3). Itulah langit baru dan bumi yang baru atau surga. Surga adalah tempat orang-orang yang dibangkitkan dengan tubuh fisik.
     
    Tahap intermediate state adalah masa selang antara kematian dan penghakiman. Masa ini juga sering disebut sebagai masa antara. Pada masa ini, semua roh-roh orang mati dalam masa penantian, yaitu penantian kebangkitan untuk menghadap takhta penghakiman Tuhan. Pada masa penantian ini, mereka belum mengenakan tubuh kemuliaan atau tubuh kekal. Tentu mereka masih berkeadaan sebagai roh. Alkitab menyebutkan mereka sebagai tidur. Pada dasarnya setelah seseorang mati, ia masuk dalam “dunia orang mati”. Dunia orang mati juga diterjemahkan “alam maut”, juga dipahami sebagai tempat perhentian. Ini sebenarnya sama dengan intermediate state. Dalam Perjanjian Lama, kata ini diterjemahkan sebagai sheol (שְׁאוֹל), sedangkan di Perjanjian Baru diterjemahkan hades (ᾅδης). Pada dasarnya dua kata tersebut memiliki makna yang sama; yang akan dibahas di bab berikut.Adapun tahap-tahap dan proses setelah manusia meninggal antara lain:
     
    Tahap pertama, yakniintermediate state, merupakan masa selang antara kematian dan penghakiman, atau yang bisa disebutkan “masa penantian”. Memang di dalam Alkitab tidak ada istilah ini. Tetapi fakta adanya masa selang, yaitu masa setelah kematian menunggu kebangkitan, memang ada. Pada tahap ini,manusia yang sudah meninggal ditaruh atau berada di hades (ᾅδης). Orang percaya ada di pangkuan Abraham atau Firdaus (tempat yang nyaman), tetapi orang fasik ditempatkan di tempat sengsara atau tempat yang tidak nyaman (place of torment). Tahap pertama setelah kematian manusia belumlah masuk ke surga yang permanen dan neraka yang permanen, sebab tubuh belum dibangkitkan; semua masih dalam bentuk roh. Surga yang permanen adalah samayim (Ibrani) atau ouranos (Yunani) yang dalam Bahasa Inggris lebih diterjemahkan heaven, dari pada sky. Surga (samayim atau ouranos) dan neraka (gehenna) adalah tempat terakhir bagi manusia setelah kebangkitan dan penghakiman Allah (Dan. 12:2).
     
    0 min
  • Proses Dan Waktu Penghakiman
    Menjadi pertanyaan yang bisa muncul dan menggelitik: Bagaimana proses atau mekanisme penghakiman Tuhan nanti? Dalam Wahyu 20:11-15 terdapat perikop yang membicarakan mengenai penghakiman. Dikalangan beberapa gereja dikenal sebagai “Penghakiman Takhta Putih”, sebagai berikut: “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.
     
    Memahami perikop dalam Wahyu 20:11-15, harus dengan cerdas. Seperti yang kita tahu bahwa Kitab Wahyu memuat pernyataan-pernyataan yang bersifat figuratif. Jika Wahyu 20:11-15 dipahami secara harafiah maka bisa berbenturan dengan penghakiman yang dikemukakan oleh Yesus dalam Matius 25:31-46, yaitu penghakiman terakhir atas dua kelompok manusia yang digambarkan kambing dan domba. Kepada kelompok yang ada di sebelah kanan-Nya, yang diidentifikasi sebagai domba diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Surga; dan sebelah kiri-Nya yang diidentifikasi kambing yaitu kelompok yang tidak diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
     
    Dalam Wahyu 20:11-15 dikemukakan adanya banyak kitab yang menjadi ukuran atau standar penghakiman, dimana orang-orang mati dihakimi berdasarkan kitab-kitab tersebut. Di dalam Wahyu 20:11-15 tidak menyinggung sama sekali adanya dua kelompok, yaitu domba dan kambing. Sedangkan di dalam Matius 25:31-46, ketika Yesus berbicara mengenai penghakiman terakhir, Yesus tidak menyinggung mengenai banyaknya kitab-kitab seperti yang dikemukakan dalam Wahyu 20:11-15. Perbedaan proses atau mekanisme penghakiman Tuhan dari dua perikop tersebut bisa membingungkan. Bisa muncul tuduhan bahwa Alkitab tidak konsisten. Oleh sebab itu kita harus sangat ketat memerhatikan konteks dalam menganalisa konteks ayat dan pasal.
     
    Kita harus mengakui bahwa Alkitab tidak mengungkapkan secara jelas dan detil proses atau mekanisme mengenai penghakiman atas orang-orang mati. Hal ini pasti dipandang tidak perlu karena tidak prinsip. Tetapi yang pasti sangat perlu dan dipandang mutlak untuk dikemukakan adalah bahwa setiap manusia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukan di dunia ini selama hidupnya. Jadi, proses atau mekanisme penghakiman dipandang relatif, tetapi yang mutlak atau tidak relatif adalah pertanggungjawaban setiap individu di hadapan takhta pengadilan Kristus. Hal yang bersifat relatif tidak boleh dimutlakkan, tetapi yang mutlak tidak boleh direlatifkan. Mengenai proses dan mekanisme penghakiman bukan sesuatu yang mutlak, melainkan relatif, adapun mengenai pertanggungjawaban yang menjadi isi penghakiman adalah hal yang mutlak.
     
    Kalau dipersoalkan, kapan penghakiman atas setiap individu dilangsungkan, pertanyaan ini sulit dijawab atau lebih tepatnya tidak perlu dijawab, sebab setelah seseorang mengalami kematian maka tidak ada perjalanan waktu. Jadi pertanyaan “kapan” itu tidak bisa dijawab dalam suatu keadaan atau kondisi dimana tidak ada perjalanan waktu. Selama hidup di dunia sebenarnya seseorang sudah menetapkan keadaannya sehingga tidak perlu ada pembuktian, begitu seseorang meninggal dunia, sudah jelas penempatannya (surga atau neraka).Atau kalau di surga, sudah jelas porsi upah yang akan diterima masing-masing individu.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…