Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pengertian Keselamatan
    Prinsip yang sangat penting dalam kehidupan orang percaya adalah bahwa keselamatan bukan karena berbuat baik, tetapi karena iman. Prinsip penting ini harus dipahami dengan benar supaya dalam memahami pengertian penghakiman untuk ini perlu juga memahami pengertian keselamatan. Sejatinya,keselamatan bukan sekadar terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Karena pengertian yang dangkal ini banyak orang Kristen merasa cukup berbekal “percaya saja bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat,” maka mereka berani menghadapi penghakiman atau pengadilan. Ditambah lagi dengan memahami secara keliru pengertian sola gratia (hanya oleh anugerah) dan sola fide (hanya oleh iman), maka mereka terjebak dalam pasivitas rohani yang tidak membawa mereka kepada pengalaman keselamatan yang sejati. Mereka tidak memahami bahwa keselamatan adalah perjuangan yang menyita seluruh kehidupan.
     
    Prinsip solagratia atau hanya oleh anugerah, bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan, sering dipahami secara tidak tepat. Memang keselamatan hanya di dalam Yesus dan oleh anugerah-Nya. Tetapi isi anugerah-Nya adalah manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula agar menjadi kudus seperti Alah kudus, mengenakan kodrat Ilahi, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Untuk ini, harus ada usaha individu untuk mencapai hal tersebut. Anugerah salib Kristus memperdamaikan kita dengan Allah (Ho Theos atau Bapa). Dengan pendamaian tersebut kita dapat diterima oleh Bapa tanpa mempersoalkan keadaan “keberdosaan” kita. Bapa memberikan Roh Kudus untuk menuntun kita kepada seluruh kebenaran dengan sarana Injil (Rm. 1:16-17), dan semua melalui peristiwa yang terjadi dalam hidup ini (Rm. 8:28-29). Untuk ini, kita harus memahami keselamatan dari tiga dimensi.
     
    Dimensi pertama dari keselamatan adalah keselamatan ditinjau dari sudut masa lalu (past). Keselamatan yang ditinjau dari masa lalu adalah memandang karya atau pekerjaan keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dua ribu tahun yang lalu sebagai telah selesai atau sudah genap (Ibr. 2:1-3). Tuhan Yesus mati untuk semua manusia, dari manusia pertama, Adam, sampai manusia terakhir nanti (Yoh. 1:29). Tuhan Yesus telah menyelesaikan tugas penyelamatan itu sehingga tidak perlu lagi usaha-usaha untuk melengkapi karya Tuhan Yesus yang sudah sempurna tersebut.Ini adalah harga mati, bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus (Kis. 4:12). Banyak orang Kristen hanya berhenti sampai di dimensi ini, mereka merasa sudah ditentukan selamat oleh korban Yesus tersebut.
     
    Dimensi kedua dari keselamatan adalah keselamatan ditinjau dari masa sekarang atau kekinian (present). Keselamatan yang ditinjau dari masa sekarang adalah pergumulan orang percaya dalam meresponi keselamatan. Inilah pergumulan untuk menjalankan hidup baru yang Tuhan berikan. Orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Mengerjakan keselamatan adalah belajar bertumbuh mengenakan pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Jelas sekali bahwa keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya dan manusia harus meresponinya dengan respon yang benar. Tanpa respon yang benar berarti tidak beriman dengan benar. Iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2:20-26).
     
    Keselamatan harus dikerjakan supaya keselamatan menjadi milik yang pasti (Ibr. 6:9-11; 2Ptr. 1:10-11). Menjadi milik yang pasti atau memiliki hak penuh masuk Kerajaan Surga artinya kalau seseorang menyambut keselamatan dengan sikap yang benar, maka ia sampai tidak mungkin binasa. Di sini barulah berlaku pernyataan “sekali selamat tetap selamat”. Status “sekali selamat tetap selamat” tidak bisa dikenakan kepada semua orang Kristen, tetapi untuk mereka yang bertumbuh dalam kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus; melakukan kehendak Bapa. Hanya orang-orang yang melakukan kehendak Bapa inilah yang benar-benar mengalami keselamatan,
    0 min
  • Penghakiman Untuk Posisi
    Melihat sedemikian banyak kata yang menunjuk kepada istilah “dosa”, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, maka tidak mudah kita memformulasikan pengertian “dosa” secara singkat yang sudah mencakup seluruh pengertian yang terkandung didalam istilah “dosa” ini. Namun demikian, seperti yang disinggung diatas bahwa pengertian etimologi kata “dosa” membantu kita menemukan nafas pengertian dosa atau menolong kita memahami pengertian “dosa” itu sendiri, sehingga pemahaman kita mengenai “dosa” menjadi tepat. Kalau pemahaman seseorang mengenai dosa tidak benar dari berbagai perspektif, maka pengertian mengenai penghakiman juga pasti salah.
     
    Bagi umat Perjanjian Baru, kata “dosa” yang paling sering atau paling banyak digunakan adalah “hamartia” (296 kali). Kata ini berarti suatu “keluncasan” atau “meleset”. Dalam teks aslinya digunakan kata hamartia. Kata hamartia ini sebenarnya dari pengertian katanya sendiri berarti luncas, tidak kena sasaran, atau meleset. Sebenarnya kata itu sendiri secara etimologi tidak mengandung makna “kejahatan”. Ibarat suatu target memanah atau menembak, bila tembakan tidak tepat mengenai pusat pusaran target, berarti meleset. Inilah hamartia itu. Ketidaktepatan berarti semua tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, walaupun mungkin tidak bertentangan dengan moral umum.
     
    Seperti yang disinggung diatas, terdapat banyak kata untuk “dosa” dalam Perjanjian Baru. Istilah yang perlu diamati berkenaan dengan tema kita adalah “parabasis” yang berarti melangkah ke samping. Ini sama artinya dengan menyimpang dari jalan yang benar, biasanya istilah ini diterjemahkan dengan kata “pelanggaran” (Rm. 2:23, 4:15; Gal. 3:19). Kata yang agak berhubungan dengan gagasan ini adalah kata anomia. Kata ini berarti tidak berhukum. Berkenaan dengan hal ini, harus diingatkan bahwa ada moral yang diperuntukkan bagi warga Kerajaan Surga. Moral itu bertolak dari patokan yang tidak dapat dikurangi yaitu “seperti Bapa” (Mat. 5:48). Kurang dari standar ini berarti anomia, sebab Tuhan adalah hukumnya.Kalau orang Yahudi menyatakan bahwa Taurat adalah hukumnya, tetapi orang percaya hukumnya adalah Tuhan (The Lord is my law). Dalam hal ini bisa dipahami kalau Firman Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus.
     
    Setiap orang Kristen dituntut memiliki standar kesucian seperti Bapa atau sempurna. Jadi bila kehidupan kita belum seperti Yesus atau belum seperti yang Bapa kehendaki, itu berarti belum sesuai dengan kehendak-Nya. Selama masih belum seperti Bapa, maka itu berati masih “luncas” (Yun. hamartia). Dalam hal ini, pengertian luncas atau hamartia bukanlah sebuah dosa yang “fatalistik”. Kemudian yang menjadi persoalan adalah bagaimana orang yang masih berdosa atau “luncas” bisa selamat? Persoalan ini dapat dijawab dengan menghubungkan status kita di hadapan Allah, bahwa kita adalah orang-orang yang dibenarkan (Lat. justificatio) dan disucikan (Lat. sanctificatio), sekalipun kita adalah orang berdosa dan masih luncas. Itulah sebabnya ada istilah dalam Bahasa Latin yang berbunyi simul peccator et justus (orang berdosa sekaligus dibenarkan). Di hadapan Allah, kita sebagai manusia yang berdosa adalah anak-anak-Nya yang terus dimuridkan untuk menjadi seperti Yesus.
     
    Penjelasan mengenai dosa di atas ini hendaknya tidak membuat seseorang meremehkan dosa dan menjadi sembrono. Harus diperhatikan bahwa setiap pelanggaran bermuatan “disiplin”, tetapi setiap “kebajikan” memuat upah abadi. Itulah sebabnya kelak di hadapan takhta Allah setiap orang akan memeroleh apa yang patut diterimanya (2Kor. 5:9-10). Untuk ini Paulus berkata: Aku berusaha untuk berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9). Sekilas penjelasan ini membuat kesan seolah-olah meremehkan pengertian dosa, sebenarnya tidak. Dosa dunia memang telah ditanggulangi oleh Tuhan Yesus Kristus. Semua orang yang “menerima-Nya” dimerdekakan dari kutuk dosa,
    0 min
  • Dosa Manusia Pada Zaman Aanugerah
    Pada zaman anugerah, bagi umat Yahudi maupun non-Yahudi (Ing. gentile) dosa berarti penolakan terhadap Injil. Kalau seseorang mengenal atau mendengar Injil tetapi menolaknya, maka itu berarti dosa bagi mereka. Sebaik apa pun seseorang, jika mendengar Injil tetapi menolak -dalam pengertian bersikap antipati- maka ia tidak akan memiliki atau memeroleh pengampunan dosa sama sekali. Kematian Tuhan Yesus Kristus tidak berarti sama sekali bagi mereka. Orang-orang ini termasuk kelompok manusia yang menolak Tuhan Yesus.
     
    Pengertian “menolak” disini adalah memusuhi Yesus Kristus dalam bentuk membenci dan mendatangkan kesulitan bagi orang Kristen. Walaupun mereka sudah mendengar Injil atau mendengar mengenai berita Anak Allah, tetapi mereka bersikap “melawan” sampai tingkat penghinaan kepada Anak Allah. Mereka adalah kelompok orang yang membenci Kristus dan menghambat sampai merusak pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini keselamatan manusia sangat tergantung dari responnya terhadap Injil semata-mata.
     
    Diungkapkan dalam Injil bahwa bangsa-bangsa yang tidak mendengar Injil adalah bangsa-bangsa yang hidup dalam kegelapan (Mat. 4:15-16). Kegelapan ini dimengerti sebagai “tidak ada terang”. Ini berarti bahwa banyak orang yang hidup dalam standar yang Tuhan kehendaki. Pengertian “terang” disini adalah terang menurut ukuran Injil (Yoh. 1:1-5). Terang yang dimaksud oleh Yohanes menunjuk kehidupan yang berkualitas sangat tinggi, yaitu kehidupan manusia yang dikembalikan kepada rancangan Allah semula. Oleh karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia telah kehilangan terang yang ideal, oleh sebab itu Tuhan Yesus datang sebagai terang (Yoh. 1:4,5,9, 8:12; 1Yoh. 2:8; dan lain-lain). Terang inilah yang ditawarkan kepada manusia, supaya manusia menerima-Nya. Ini disebut zaman anugerah atau zaman penggenapan. Belum pernah ada masa yang luar biasa seperti masa Injil diberitakan, dimana manusia dapat menemukan “terang yang sesungguhnya” (Yoh 1:9).
     
    Jadi, dosa dizaman Perjanjian Baru pada intinya adalah penolakan terhadap terang itu atau penolakan terhadap Yesus yang mengajarkan dan memberi hidup kekal (hidup yang berkualitas). Dengan penolakan tersebut maka seseorang memilih kegelapan atau bersekutu dengan kuasa kegelapan. Kedatangan Tuhan Yesus Kristus ke dunia merupakan tanda dan momentum yang memaksa manusia untuk memilih kepada siapa mereka hendak berpihak (Luk. 11:15-23). Dalam teks ini Tuhan Yesus tegas berkata:Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan (Luk. 11:23).
     
    Bagi mereka yang menolak Tuhan Yesus, berarti mereka berpihak kepada kuasa kegelapan. Mereka menyaksikan dan mengalami bagaimana kuasa Allah dinyatakan, yaitu dengan pengusiran setan dan berbagai mukjizat. Tetapi mereka yang menolak Tuhan Yesus maka berarti mereka di pihak kuasa kegelapan (Luk. 11:20). Kalau mereka tidak melihatatau tidak pernah mendengar Injil secara memadai,mereka tidak berdosa; tetapi kalau mereka melihat (mendengar Injil secara memadai), tetapi tidak percaya, maka kekallah dosa mereka (Yoh. 9:41).Penolakan mereka dalam ekspresi nyata, yaitu memusuhi Tuhan Yesus dan menuduh Tuhan Yesus menggunakan kuasa penghulu setan (Beelzebul). Mereka menganggap Tuhan Yesus sesat dan pantas dimusuhi, ajaran dan pengikut-Nya pantas diberantas.
     
    Berbicara mengenai keadaan seseorang yang “tidak percaya,” ternyata tindakan ini bukan hanya dilakukan oleh orang non-Kristen, tetapi juga tidak sedikit orang Kristen yang belum percaya dengan benar. Mereka pun belum melakukan tindakan dengan benar yang dimaksud dengan “menerima Tuhan Yesus.” Tidak heran kalau kelakuan mereka tidak lebih baik dari orang-orang non-Kristen.Memang lebih baik tidak mendengar Injil daripada mendengar Injil tetapi menolak-Nya. Menolak ini bisa dilakukan oleh mereka orang-orang non-Kristen tetapi juga oleh orang Kristen sendiri yang tidak atau belum menerima Yesus se...
    0 min
  • Dosa Non-Yahudi Yang Tidak Mendengar Injil
    Kalau bagi umat Israel, dosa berarti pelanggaran terhadap hukum Taurat, lalu bagaimana dengan orang non-Yahudi yang tidak memiliki hukum Taurat? Non-Yahudi disini adalah mereka yang bukan orang Israel yang hidup sebelum zaman anugerah, atau hidup di zaman anugerah tetapi yang tidak mendengar Injil atau tidak mendengar Injil dengan benar.Untuk menjawab persoalan ini Paulus mengemukakan kebenaran dalam Roma 2:12-16. Bagi orang non-Yahudi, dosa berarti pelanggaran terhadap hati nurani. Dalam teks tersebut disinggung oleh Paulus bahwa orang yang tidak memiliki hukum Taurat yang tertulis harafiah, mereka memiliki hukum di dalam hati mereka. Tuhan yang menuliskannya.
     
    Walaupun manusia jatuh dalam dosa, tetapi Tuhan masih menulis hukum-Nya di dalam hati manusia. Sangat besar kemungkinan inilah “unsur” Ilahi dalam nismat khayiym atau roh manusia tidak lenyap sama sekali. Itulah sebabnya walau manusia sudah jatuh dalam dosa, manusia masih diberi kemungkinan untuk memilih apa yang tidak bertentangan dengan kehendak Allah dalam taraf tertentu (Kej. 4:1-7).
     
    Hukum Taurat yang ditulis dalam hati mereka inilah yang disebut sebagai hati nurani. Berbicara mengenai hati nurani ukurannya sangat relatif, sebab hati nurani seseorang terbentuk melalui pengalaman hidup dari lingkungannya. Dalam hal ini, Tuhan yang akan menghakimi seseorang berdasarkan pengertian tentang apa yang baik dan apa yang buruk yang dimiliki masing-masing individu. Pengertian mengenai kebaikan dan kejahatan ini disimpulkan sebagai banyak kitab yang menjadi ukuran penghakiman nanti (Why. 20:12). Di dalam kitab-kitab itu tertulis hukum-hukum. Hukum-hukum tersebut adalah pengertian mengenai apa yang baik dan buruk menurut pengertian masing-masing individu dan komunitas.
     
    Penghakiman Tuhan sangat rahasia dan misteri. Sebab penghakiman ini berdasarkan suara hati nurani mereka (Rm. 2:16). Jadi, sifatnya sangat batiniah. Tentu suara hati mereka terekspresi dalam tindakan konkret. Namun harus dicatat bahwa tindakan atau perilaku yang kelihatan bukanlah ukuran untuk umum, tetapi tergantung pengertian seseorang terhadap kebenaran moral. Suatu tindakan yang dinilai baik atas seseorang belum tentu bisa menjadi ukuran kebaikan untuk yang lain. Sedangkan suatu tindakan yang dinilai buruk atau salah belum tentu bisa mejadi ukuran keburukan bagi yang lain.
     
    Jadi, jika seseorang memahami suatu kebaikan tetapi tidak melakukan kebaikan itu, maka baginya itulah dosa. Bila nuraninya memahami suatu ukuran kebaikan moral, tetapi ia tidak mendengar suara nuraninya bahkan melanggarnya, maka itulah dosa. Dengan demikian betapa pribadi dan rahasianya penghakiman Tuhan itu. Sebab yang dihakimi bukan perbuatan lahiriahnya semata, tetapi batiniahnya. Tindakan lahiriahnya bukanlah ukuran kebaikan yang sesungguhnya.
     
    Perbuatan lahiriahnya harus dipadankan dengan suara hati dan pengertiannya akan kebenaran moral. Disini juga berlaku siapa yang diberi banyak dituntut banyak, dan yang sedikit diberi akan sedikit dituntut. Dengan demikian kita tidak mudah menjatuhkan vonis bahwa orang yang hidup di luar bangsa pilihan Allah-yaitu orang Israel dan Kristen-pasti tidak diperkenan untuk masuk ke dalam kehidupan yang akan datang. Jika kita perhatikan apa yang ditulis Paulus dalam Roma 2:12-15, menunjukkan bahwa Tuhan tidak diskriminatif. Yang diakui sebagai orang yang berhak memiliki hukum Taurat bukanlah Yahudi oleh karena darah yang mengalir di dagingnya, tetapi perbuatan dalam melakukan Taurat.
     
    Walaupun bangsa non-Yahudi tidak memiliki Taurat yang tertulis, tetapi melakukan Taurat yang tertulis di hati mereka, maka perbuatannya tersebut yang membenarkan dia. Dalam hal ini nampaklah bahwa nilai bangsa Israel bukan hanya terletak pada kenyataan bahwa mereka adalah keturunan Abraham, tetapi apakah mereka melakukan hukum Taurat atau tidak. Sebab sekalipun seseorang bukan keturunan Abraham,
    0 min
  • Pengertian Dosa Untuk Bangsa Israel
    Bagi Bangsa Israel, pada prinsipnya dosa berarti ketidaktaatan kepada hukum Taurat yang tertulis. Dalam hal ini dosa diukur dengan menggunakan ukuran hukum Taurat yang tertulis. Tidak melakukan hukum Taurat berarti “kesesatan”, yaitu bahwa mereka telah memilih jalannya sendiri (Yes. 53:6). Dalam teks Bahasa Ibrani, kata “kesesatan” ini adalah taah. Kesesatan adalah tindakan Bangsa Israel yang mengikuti pola hidup bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka. Mengikuti gaya hidup bangsa kafir di sekitar mereka berarti pola hidup yang bertentangan dengan hukum Taurat. Dalam hal ini bisa dimengerti kalau Elohim Yahweh menghendaki untuk menumpas habis semua penduduk Kanaan, karena Yahweh tidak menginginkan pola hidup Bangsa Kanaan memengaruhi kehidupan umat pilihan.
     
    Hal tersebut sering terjadi, khususnya ketika bangsa itu tertarik terhadap berbagai berhala atau allah lain (Asytoret, Baal, Dagon, Molokh, Milkom, dan lain sebagainya), sehingga mereka terjebak dalam praktik penyembahan berhala. Ketika mereka berkiblat kepada allah asing, maka secara otomatis dan serentak mereka akan melanggar hukum-hukum yang lain yang bertalian dengan ibadah kepada Yahweh. Pelanggaran terhadap hukum Taurat ini seperti seorang warga negara melanggar hukum yang diberlakukan di sebuah negara atau kerajaan. Ini berarti dosa adalah tindakan pemberontakan kepada hukum. Kehendak Tuhan sebagai Sang Penguasa diwakilkan dalam wujud hukum Taurat tersebut. Jadi, pelanggaran terhadap hukum Taurat sama artinya dengan sikap atau tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.
     
    Dalam Roma 2:23 dijelaskan bahwa orang Yahudi telah melanggar hukum Taurat. Kata “melanggar” dalam teks asli Bahasa Yunaninya digunakan kata parabasis. Hukum Taurat telah ditetapkan untuk dipatuhi demi mengatur kehidupan Bangsa Yahudi, tetapi orang-orang Yahudi tidak mematuhinya. Demikianlah dosa bagi orang Yahudi adalah pelanggaran terhadap Taurat yang tertulis. Taurat di sini sebagai tolok ukur pengaturan Tuhan atas umat pilihan-Nya.
     
    Bila Bangsa Israel tidak hidup sesuai dengan hukum Taurat, maka sebagai akibatnya rencana Allah atas bangsa itubisa gagal. Rencana Allah atas Bangsa Israel adalah mewariskan pengenalan akan Allah dan melahirkan Mesias di tengah-tengah bangsa itu. Dalam hal ini kita temukan dalam kehidupanBangsa Israel terdapat rencana dan pengaturan Allah. Rencana dan pengaturan tersebut dikenakan mutlak atau diberlakukan bagi “umat pilihan Allah”. Berkenaan dengan ini Paulus memakai kata parabasis, bahwa dosa adalah gerakan membelok dari jalan yang lurus. Dalam Bahasa Inggris diterjemahkan dengan transgression.
     
    Dalam penghakiman nanti, bangsa ini dihakimi menurut Taurat yang tertulis. Tentu sebagai manusia yang berkodrat dosa (sinful nature), tidak seorang pun dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna. Kalau mereka gagal melakukan hukum Taurat, Tuhan sudah menyediakan solusi, yaitu darah domba. Tetapi darah domba tidak bisa menyucikan dosa manusia. Sejatinya, darah domba hanya “voucher” semata. Darah yang dapat menyucikan dosa manusia adalah darah Yesus Kristus. Dengan demikian darah Tuhan Yesus juga solusi bagi masalah dosa manusia yang hidup pada zaman sebelum Dia datang.
     
    Bagi orang Israel yang semasa hidupnya berusaha melakukan Taurat, didalamnya termasuk menggunakan darah domba sebagai solusi dosa mereka, maka mereka akan mendapat kesempatan masuk dunia yang akan datang. Darah domba yang mereka korbankan sesungguhnya adalah menunjuk darah yang sesungguhnya dapat menguduskan, yaitu darah Yesus. Mereka akan dihakimi menurut perbuatan dengan menggunakan ukuran hukum Taurat yang tertulis. Jadi, akan ada banyak orang Israel yang berkesempatan masuk di langit danbumi yang baru. Mereka akan menjadi umat Allah selama-lamanya. Kalau Tuhan sudah pernah mengasihi mereka ketika mereka ada di bumi ini, Tuhan juga mengasihi mereka di kekekalan.
     
    0 min
  • Pengertian Dosa
    Membahas mengenai penghakiman atau pengadilan tidak dapat dipisahkan dari hal mengenai dosa, sebab penghakiman dan pengadilan berorientasi pada masalah kesalahan atau dosa manusia.Kita harus memahami masalah dosa dalam perspektif yang benar. Walaupun tidak mudah untuk menyusun secara redaksional kalimat yang menunjuk pengertian istilah “dosa” dalam perspektif ini, tetapi dari hasil eksplorasi terhadap Alkitab dapat ditemukan pengertian dosa; bahwa dosa adalah tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Tetapi deskripsi ini belum jelas benar pula, sebab pengertian “bertentangan dengankehendak Allah” masih bisa dipahami bermacam-macam. Bertentangan dengan kehendak Allah dalam hal apa? Hukum-hukum-Nya? Rencana-Nya? Atau bertentangan dengan kehendak pikiran dan perasaan-Nya yang tidak bisa diwakili dengan huruf-huruf yang tertulis?
     
    Sulitnya memahami apa yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, juga dikarenakan tuntutan kehendak Tuhan atas seseorang atau atas suatu komunitas berbeda dengan tuntutan Tuhan atas yang lain, sebab siapa yang banyak diberi dituntut banyak pula, tetapi yang sedikit diberi sedikit dituntut pula (Luk. 12:48). Tuntutan Tuhan atas setiap orang berbeda-beda sesuai dengan porsi yang ada pada orang atau komunitas tersebut. Kalimat di atas, bahwa dosa adalah “tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah” mempunyai pengertian yang luas yang harus dijelaskan secara terperinci dan cukup rumit. Untuk ini kita akan membahas dosa dalam berbagai area.
     
    Dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dapat ditemukan banyak kata yang menunjuk kepada istilah dosa dan yang dalam Bahasa Indonesia lebih sering diterjemahkan “dosa”. Dengan meninjau teks asli kata “dosa” dari Alkitab, dapatlah kita temukan nafas pengertian dosa itu sendiri atau membantu kita memahami apa yang dimaksud Alkitab dengan dosa. Ada 8 kata dalam teks Ibrani di Perjanjian Lama yang menunjuk istilah dosa,antara lain:khata, ra, pasha, awon, shagag, asham, rashadantaah. Adapun dalam Perjanjian Baru kita dapat temukan 12 kata yang menunjuk istilah “dosa”antara lain:kakos,poneros, asebes, enokhos, hamartia, adikia, anomos, nomosparabasis, agnoein, planao, paraptoma danhipokrisis.
     
    Memahami pengertian dosa menjadi sulit ketika ditemukan banyak kata yang menunjuk pengertian dosa tersebut. Tetapi pada intinya, dosa adalah sikap dan perilaku yang bertentangan dengan kehendak Allah. Sikap menunjuk kepada keadaan hati atau batiniah seseorang, sedangkan perilaku menunjuk kepada perbuatan yang nampak atau telah terekspresi secara konkret yang memiliki dampak terhadap orang lain. Kalau masih dalam sikap hati atau batin, masih belum berdampak secara langsung kepada orang lain, tetapi kalau sudah menjadi perilaku pasti berdampak. Perilaku di sini bisa positif tetapi juga bisa negatif.
     
    Dalam pengadilan Tuhan nanti, sikap batiniah inilah yang akan dihakimi oleh Tuhan. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan bahwa Tuhan menguji batin (Mzm. 7:9,51:6; Ams. 17:3; Yer. 6:27, 11:20, 17:10, 20:12; Why. 2:23). Hal ini juga disinggung oleh Paulus dalam Roma 2:16 yang berbunyi: Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus. Tentu sikap batin ini terekspresi dalam perilaku atau perbuatan. Itulah sebabnya banyak ayat dalam Alkitab yang menyatakan bahwa setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya. Perbuatan di sini tentu perbuatan yang dilahirkan dari sikap hati atau sikap batinnya.
     
    Perbuatan yang dihakimi bukan hanya hal-hal yang kelihatannya besar, tetapi dari hal-hal yang sering dipandang kecil atau dipandang tidak berarti. Dalam Matius 12:36 Tuhan Yesus berkata:Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Pernyataan Tuhan Yesus ini menunjukkan bahwa segala hal yang dilakukan seseorang akan diperh...
    0 min
  • Anugerah Tidak Meniadakan Penghakiman
    Pada intinya, berbicara mengenai anugerah atau kasih karunia, orientasinya adalah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus yang diberikan Bapa kepada manusia, yaitu manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang jatuh dalam dosa telah menjadi manusia yang tidak sesuai dengan rancangan Allah semula. Mengenai pengertian kata “kasih karunia”, kata ini sama maknanya dengan “anugerah”.
     
    Pertama, kasih karunia berarti suatu pemberian yang sangat bernilai dan dibutuhkan. Tidak akan dapat dikatakan kasih karunia kalau tidak bernilai dan sangat dibutuhkan. Kedua, kasih karunia berarti suatu pemberian yang diberikan dari pihak yang lebih tinggi derajat atau statusnya kepada pihak yang lebih rendah. Ketiga, kasih karunia berarti pemberian yang tidak memandang kelayakan si penerima pemberian. Dikatakan kasih karunia, diisyaratkan bahwa si penerima adalah obyek yang sebenarnya tidak pantas menerima pemberian tersebut. Keempat, kasih karunia berarti pemberian tanpa harus membayar atau memenuhi syarat tertentu. Dalam hal ini kasih karunia berarti pemberian cuma-cuma atau tanpa syarat.
     
    Di dalam kasih karunia-Nya, Allah menuntun manusia yang meresponi anugerah-Nya untuk dapat dikembalikan ke rancangan semula-Nya, yaitu menciptakan manusia yang serupa dengan gambar-Nya. Dengan manusia dikembalikan serupa dengan gambar-Nya, manusia bisa berdamai dengan Allah. Berdamai bukan hanya dalam artinya status atau secara hukum (de jure) tetapi juga secara de facto, artinya manusia bisa bersekutu dengan Dia. Hanya manusia yang bermoral Allah -yaitu menanggalkan kodrat dosanya (sinful nature) dan mengenakan kodrat Ilahi (divine nature)- yang bisa berjalan atau bersekutu (fellowship) dengan Allah. Dalam hal ini sebutan anak Allah bukan hanya status, tetapi benar-benar keberadaan. Hanya anak Allah (man of God) yang bisa bersekutu secara benar dengan Allah.
     
    Keselamatan bukan hanya menghindarkan manusia dari neraka dan diperkenan masuk surga, nanti setelah kematian. Tetapi keselamatan memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Hubungan bukan dalam imajiner atau fantasi yang dibicarakan dalam ranah teologi, tetapi dalam fakta konkret kehidupan sejak sekarang di bumi ini. Itulah sebabnya orang percaya harus hidup dalam tuntunan Roh Kudus, belajar mengenal Tuhan melalui Alkitab dan pengalaman hidup setiap hari. Kita harus memerhatikan pembentukan Allah melalui segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini, sebab di dalam segala sesuatu Allah turut bekerja. Semua peristiwa diizinkan Tuhan kita alami untuk menyempurnakan kita. Kesempurnaan di dalam Tuhan itulah yang harus menjadi persiapan kita menghadap takhta pengadilan Kristus.
     
    Melalui hal tersebut proses pemulihan gambar Allah berlangsung. Ini bukan dalam waktu singkat dan tidak mudah. Dalam kasih karunia Tuhan akan menggarap orang percaya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: Jadikan semua bangsa murid-Ku. Perhatikan kata: murid-Ku. Bukan murid siapa pun, juga bukan murid gereja. Setiap individu harus bergumul setiap hari dengan Tuhan untuk mengalami proses pemulihan gambar Allah tersebut. Yesus adalah model atau prototipe gambar Allah atau manusia yang dikehendaki oleh Allah.
     
    Oleh karenanya hanya Tuhan Yesus secara pribadi melalui Roh Kudus yang dapat membawa setiap individu mengalami pemulihan gambar Allah atau dikembalikan ke rancangan semula. Gereja dengan rohaniwannya oleh hikmat Roh Kudus berfungsi sebagai mentor bagi jemaat, bukan mediator. Dengan mengisi anugerah atau kasih karunia yang Allah berikan, maka orang percaya mempersiapkan hari pengadilan di akhirzaman nanti.
     
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa kasih karunia sudah membuat orang percaya tidak perlu khawatir sama sekali menghadapi penghakiman atau pengadilan Allah. Di dalam kasih karunia tersebut -menurut mereka- telah termuat semua kebaikan Tuhan, sehingga orang percaya tidak perlu takut sama s...
    0 min
  • Pengertian Iman
    Karena pembahasan mengenai penghakiman atau pengadilan tidak terpisah dari iman, maka mau tidak mau harus memahami dengan benar yang dimaksud dengan iman. Dalam Bahasa Ibrani, kata “iman” adalah aman (אָמַן). Kata “iman” dalam Bahasa Yunani terjemahan dari pistis (πίστις), yang artinya kepercayaan atau penyerahan kepada seseorang. Kata kerja dari pistis adalah (πιστεύω), yang mempunyai pengertian: iman kepada, memercayakan diri atau menyerahkan diri kepada suatu obyek, dalam hal ini tentu Tuhan. Membahas mengenai iman yang bertalian dengan keselamatan, bisa dilihat dari tiga dimensi.
     
    Dimensi pertama adalah keyakinan terhadap karya Kristus yang telah selesai sempurna dua ribu tahun yang lalu. Iman seperti ini disebut sebagai pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Dalam hal ini, pikiran setuju dan memercayai fakta sejarah Anak Allah yang berinkarnasi menjadi daging, mati di kayu salib untuk memikul dosa manusia. Pikiran setuju dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Iman dimensi pertama ini mutlak penting, sebab iman ini adalah pintu gerbang memiliki percaya yang penuh. Tanpa pengaminan akali ini, seseorang tidak akan pernah memiliki keselamatan. Penerimaan dan keyakinan dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat barulah sebuah awal perjalanan hidup Kekristenan.
     
    Orang Kristen seperti ini baru dengan mulut mengaku, tetapi hati belum percaya atau beriman. Hati yang percaya dapat dibuktikan dalam perbuatan. Iman kepada Tuhan dalam hati, harus diaplikasikan secara konkret dalam tindakan. Itulah sebabnya surat Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2:17-26). Iman dimensi pertama harus disempurnakan dalam perbuatan. Abraham adalah bapa orang beriman. Imannya ditunjukkan dengan ketaatannya terhadap kehendak Allah. Bila dikaitkan dengan pernyataan bahwa orang percaya dibenarkan oleh iman bukan oleh perbuatan (Rm. 1:17, 3:22,28, 5:1; Gal. 2:16, 3:8,11; Ibr. 10:38).
     
     
     
     
     
    Iman di dalam ayat ini adalah perilaku berdasarkan kehendak Allah yaitu pikiran dan perasaan-Nya yang tidak diwakili oleh hukum yang tertulis,sedangkan perbuatan adalah perilaku berdasarkan hukum. Itulah sebabnya harus memiliki iman dimensi kedua.
     
    Dimensi kedua, iman adalah kesediaan untuk berusaha mengenal Pribadi Allah, mencari kehendak-Nya dan melakukannya, serta mengerti rencana-rencana Allah dalam hidup ini untuk dipenuhi. Dalam hal ini, percaya seseorang bukan hanya di dalam pikiran, tetapi sudah diterjemahkan dalam tindakan nyata. Inilah iman yang dimiliki atau diperagakan oleh Abraham. Iman seperti inilah yang dimaksud oleh Paulus dalam surat pastoralnya, bahwa orang percaya dibenarkan bukan oleh perbuatan, tetapi oleh iman. Ini berarti seseorang dapat dibenarkan bukan hanya memiliki iman dimensi pertama -yaitu pengaminan akali- tetapi melalui proses pertumbuhan pendewasaan sampai seseorang melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Percaya dimensi kedua ini adalah tindakan mengerjakan keselamatan dalam takut dan gentar, sehingga terjadi atau berlangsung perubahan menuju mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah, sesuai dengan rancangan Allah semula.
     
    Dalam memahami iman dengan tepat menurut Alkitab, perlu diperhatikan bukan saja aspek persetujuan pikiran atau pengaminan akali, tetapi juga aspek hubungan antara umat dan Tuhan. Jadi iman sangat bertalian dengan kualitas hubungan antara umat yang beriman dan Allah yang dipercayai. Kalau iman hanya dikaitkan dengan keyakinan akali atau persetujuan pikiran, maka belumlah dapat mencakup pengertian iman secara lengkap. Banyak orang merasa sudah beriman hanya karena percaya bahwa Tuhan itu ada. Kepercayaan seperti ini bukanlah iman yang benar, sebab kalau hanya kepercayaan berangkat dari persetujuan pikiran bahwa Allah itu ada,
    0 min
  • Pembenaran Tidak Meniadakan Penghakiman
    Penebusan oleh darah Tuhan Yesus di kayu salib merupakan jalan pembenaran bagi manusia. Kematian Tuhan Yesus membatalkan semua tuntutan hukum atas manusia yang telah bersalah. Dengan pengorbanan Yesus,Iblis tidak lagi bisa mendakwa manusia sebab Yesus telah menggantikan tempat manusia sebagai pihak yang bersalah (2Kor. 5:1; Gal. 3:13; 5:16-18). Oleh anugerah Allah -yaitu penebusan oleh darah Yesus- manusia menerima tindakan yudisial Allah sebagai orang yang dianggap tidak bersalah. Pembenaran ini berangkat dari anugerah semata-mata yang diberikan oleh Tuhan (Tit. 3:7; Rm. 3:24-28, 5:1; Gal. 2:16). Namun demikian, hendaknya kita tidak berpikir bahwa pembenaran berarti meniadakan penghakiman atau pengadilan; dimana kalau seseorang dibenarkan berarti Tuhan tidak lagi memperkarakan keadaan hidupnya di pengadilan.
     
    Untuk memahami pengertian pembenaran, kita harus memahami pembenaran dari berbagai dimensinya. Dalam hal ini pembenaran memiliki tiga dimensi, seperti keselamatan juga dapat ditinjau dari tiga dimensi. Pertama, dimensi masa lalu (past), artinya bahwa korban yang dikerjakan oleh Tuhan di kayu salib dua ribu tahun yang lalu merupakan tindakan sekali untuk selamanya bagi pembenaran manusia yang berdosa. Kedua, pembenaran aspek sekarang (present), bagi mereka yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan benar, yang sama artinya memiliki iman yang benar, maka ia menerima pembenaran. Iman datang dari pendengaran oleh Firman Kristus.
     
    Sejatinya, pembenaran berjalan seiring dengan proses keselamatan. Kalau seseorang sungguh-sungguh telah selamat, maka sekali selamat tetap selamat, demikian pula semakin seseorang dibenarkan maka pembenaran itu bersifat tetap. Keselamatan adalah proses, tetapi pembenaran bukanlah proses,melainkan peneguhan dari hasil proses keselamatan yang berlangsung dengan benar. Ketiga, pembenaran juga dapat ditinjau dari dimensi yang akan datang (future), bahwa suatu kali akan dinyatakan secara deklaratif, bahwa orang percaya yang setia hidup dalam kebenaran-Nya atau mengikut Tuhan Yesus dengan benar adalah orang-orang yang dibenarkan.
     
    Pembenaran yang penuh, utuh, lengkap, dan benar dapat terjadi bukan hanya karena tindakan sepihak Allah tanpa disadari manusia. Jika pembenaran hanya oleh tindakan sepihak dari Allah, maka respon manusia dipandang tidak dibutuhkan sama sekali. Dari konsep ini dibangun pandangan bahwa Tuhan menentukan sebagian orang pasti selamat masuk surga. Ini pandangan yang salah. Memang pembenaran dimulai dari pembenaran dimensi pertama. Ini pembenaran sepihak dari Allah, tetapi tidak cukup. Pembenaran dalam dimensi pertama tidak secara otomatis menempatkan manusia sebagai orang yang sudah dibenarkan secara penuh.
     
    Orang yang mengakui dan menerima adanya pembenaran dimensi pertama harus memikul konsekuensi, sebab dengan bersedia menerima pembenaran dimensi pertama maka harus juga bersedia masuk kedalam proses untuk diubah agar benar-benar menjadi benar; berkodrat Ilahi, sesuai rancangan Allah semula.Tidak mungkin Allah hanya membenarkan seseorang, sementara orang itu dibiarkan tidak mengalami perubahan untuk benar-benar berkeadaan benar seperti rancangan Allah semula.
     
    Oleh sebab itu, anugerah pembenaran yang disediakan, disertai dengan pengertian maksud dan tujuan pembenaran itu diberikan. Pembenaran harus berlanjut pada proses dikembalikannya manusia kepada rancangan semula. Inilah maksud keselamatan dalam Yesus Kristus. Tanpa proses menekankan perubahan berkodrat Ilahi, pengajaran mengenai pembenaran justru malah merusak karakter atau moral orang Kristen, sebab asal sudah merasa percaya maka sudah dapat pembenaran.Pembenaran tanpa disertai tindak lanjut pemulihan gambar Allah merupakan penyesatan. Sesungguhnya,pembenaran terjadi ketika seseorang sudah memiliki iman yang benar di mata Tuhan. Iman yang benar dalam kehidupan seseorang ditandai dengan kehidupan yang semakin serupa dengan...
    0 min
  • Iman Tidak Meniadakan Penghakiman
    Di dalam Alkitab, kita tidak pernah menemukan pernyataan bahwa seseorang akan dihakimi menurut imannya, tetapi Alkitab selalu menyatakan bahwa seseorang dihakimi menurut perbuatan (Mat. 16:27; Rm. 2:6,12; 14:12; 2Kor. 5:10; 1Ptr. 1:17; Why. 2:23, 20:12-13, 22:12; dan lain-lain). Ini berarti dalam penghakiman nanti yang dinilai atau diperkarakan adalah perbuatan setiap individu. Dalam hal ini kita bisa mengerti mengapa dalam 1 Petrus 1:17 Firman Tuhan mengatakan: “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Juga Paulus mengatakan: “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2Kor. 5:9-10).
     
    Baik 1 Petrus 1:17 maupun 2 Korintus 5:9-10 menunjukkan dengan sangat jelas bahwa perbuatan manusia yang diperhadapkan kepada pengadilan Tuhan. Oleh sebab itu orang Kristen hendaknya tidak berpikir bahwa kepercayaan atau keyakinan kepada Tuhan Yesus di dalam pikiran dan pengakuan dengan bibir bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat merupakan hal yang diperkarakan dalam pengadilan Tuhan. Yang diperkarakan dalam pengadilan atau penghakiman Tuhan nanti adalah perbuatan yang merupakan ekspresi dari sikap hati atau keadaan batiniahnya. Hal ini perlu dikemukakan, sebab tidak sedikit orang Kristen yang berpikir bahwa karena dengan pikiran sudah percaya kepada Yesus, maka tidak lagi diperhadapkan kepada pengadilan Tuhan. Dalam hal ini, percaya kepada Yesus dalam pikiran yang dipahami sebagai iman mengatasi pengadilan Tuhan atau bahkan meniadakannya. Paling tidak, mereka merasa sudah tenang karena merasa sudah memiliki iman, mereka yakin di pengadilan atau penghakiman Tuhan mereka dapat lolos masuk surga.
     
    Pikiran sesat orang Kristen di atas membuat mereka tidak sungguh-sungguh menggeliat untuk berusaha menerjemahkan iman dalam pikiran mereka dalam perbuatan konkret atau nyata. Mereka merasa yakin dengan aktivitas pikiran yang percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, makamereka tidak perlu takut menghadapi pengadilan Tuhan. Jadi, mereka memasuki kematian dan dibalik kematian terdapat pengadilan dengan bermodalkan pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Padahal Firman Tuhan jelas sekali menyatakan bahwa orang yang tidak melakukan kehendak Bapa -artinya tidak bermodalkan perbuatan yang memenuhi “melakukan kehendak” Bapa- akan ditolak oleh Tuhan (Mat. 7:21-23). Karena memiliki pemikiran seperti ini, maka banyak orang Kristen yang tidak berjaga-jaga dalam hidupnya.
     
    Banyak orang Kristen memiliki pengertian yang salah mengenai prinsip solagratia (hanya oleh anugerah) atau bahwa keselamatan terjadi atau dimiliki seseorangbukan karena perbuatan baik, tetapi karena iman.Banyak orang Kristen merasa tidak perlu berjuang untuk memiliki perbuatan yang standar anak-anak Allah guna menghadapi pengadilan Tuhan, sebab menurut mereka keselamatan bukan karena perbuatan baik, tetapi karena iman. Dan menurut mereka, iman adalah keyakinan di dalam pikiran atau nalar. Dengan demikian mereka merasa sudah selamat sehingga pengadilan Tuhan hanya sebuah formalitas yang tidak menggetarkan sama sekali. Hal ini persis seperti seorang yang mau diadili menyuap hakim sehingga pengadilan hanya sandiwara belaka. Dalam hal ini menurut pemikiran mereka, urusan denganTuhan Yesus selaku Hakim sudah mereka selesaikan dengan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat. Kemudian mereka merasa bahwa di pengadilan Tuhan nanti mereka dibela oleh Tuhan walau keadaan mereka tidak benar.
     
    Kalau Alkitab menunjukkan bahwa Allah tanpa memandang mukamenghakimi semua orang menurut perbuatannya,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…