Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengasihi Tuhan
    Sejatinya, ketika seseorang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, maka ia akan berhenti dari segala pencarian dan pengembaraan hidup. Tidak ada lagi yang menarik dalam hidup ini yang menjadi keinginannya, selain berusaha menyenangkan hati Tuhan. Tuhan seperti magnet yang sangat kuat menarik hidup dan segala kegiatannya. Segala sesuatu yang dilakukan pasti ditujukan bagi Dia. Hal ini tidak akan pernah bisa dijelaskan dengan lengkap dan tidak akan pernah bisa dimengerti sampai seseorang benar-benar mengalaminya sendiri. Dengan mengalami hal ini berarti seseorang sudah menemukan kekayaan hidup atau menemukan hidup itu sendiri. Hendaknya kita tidak berpikir bahwa seseorang bisa memiliki kehidupan tanpa mengasihi Tuhan dengan benar, sebab ia akan menjadi sampah abadi dan binasa dalam api kekal. Hal ini sama dengan di-“terminate,” to put an end (diakhiri, dihentikan) atau dirusak untuk ditiadakan.
     
    Oleh sebab itu hendaknya kita tidak merasa sudah memiliki anugerah hanya karena merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Ingatlah, keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula, dalam hal ini rancangan semula-Nya adalah menjadikan manusia menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan dengan segenap hidup. Jika belum mencapai hal ini berarti anugerah belum dimiliki. Tuhan menebus kita supaya kita keluar dari cara hidup yang sia-sia (1Ptr. 1:17-18), dengan berusaha menjadi manusia seperti yang dikehendaki-Nya. Menjadi manusia seperti yang dikehendaki Allah adalah bersekutu dengan Dia; bukan untuk bisa memanfaatkan Tuhan dalam menjalani hidup dengan caranya sendiri, tetapi menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi sehingga melakukan segala sesuatu demi kepentingan Tuhan semata-mata.
     
    Jadi, orang yang tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, berarti ia tidak mengasihi dirinya sendiri. Hal ini sama artinya dengan membinasakan dirinya sendiri. Banyak orang mengasihi diri sendiri secara salah, yaitu menghiasi diri dengan berbagai perhiasan, memenuhi diri dengan segala fasilitas, dan berusaha menarik orang untuk menghormati dirinya. Sikap seperti ini justru mencelakakan dirinya sendiri. Orang yang tidak mengasihi dirinya sendiri adalah orang yang tidak akan dapat mengasihi sesama manusia, sebab untuk mengasihi orang lain dasar atau pijakannya adalah dengan mengasihi diri sendiri. Itulah sebabnya hukum kedua yang dikatakan “sama dengan itu” (mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi) adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (Mat. 22:37-40). Tidak mengasihi sesama berarti “pembunuh.” Seorang pembunuh tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga, dan dengan cara inilah seseorang tidak mengasihi diri sendiri.
     
    Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi tidak cukup diwujudkan hanya dengan memeluk suatu agama dan membela agama tersebut. Seakan-akan Allah membutuhkan seseorang untuk berpihak kepada-Nya dan berjuang demi agamanya supaya ditegakkan, serta mencari sebanyak mungkin pengikut. Betapa miskinnya allah seperti ini. Biasanya kelompok ini rela melakukan kekerasan demi kepentingan agamanya, seakan-akan Allah merestui tindakan kekerasan demi kepentingan-Nya. Kalau dalam Kekristenan terdapat orang-orang yang mengupayakan sebanyak mungkin orang beragama lain menjadi orang Kristen, hal itu karena mereka berkeyakinan bahwa dengan mengaku percaya secara akali kepada Tuhan Yesus maka diselamatkan terhindar dari neraka. Selain itu selama hidup di dunia akan diberkati dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan perlindungan-Nya. Dalam pengertian ini seakan-akan Tuhan sudah cukup merasa puas dengan banyaknya orang menjadi Kristen, tidak pergi ke dukun dan terlibat dengan praktik okultisme. Sebenarnya ini adalah pikiran yang salah. Kita harus memformat ulang Kekristenan dan pelayanan gereja yang salah ini. Kekristenan harus fokus pada penyempurnaan pribadi terlebih dah...
    0 min
  • Menyerahkan Wilayah Hidup Kepada Tuhan
    Mematikan keinginan daging di mana ada natur dosa adalah proses yang paling sulit dalam kehidupan orang percaya. Banyak mereka yang menghindarinya, bahkan berusaha menjauh. Mereka merasa memiliki hak untuk mengatur hidupnya sesuai dengan selera dan keinginannya sendiri. Salib bagi mereka adalah ancaman kebahagiaan atau dipandangnya sebagai pola hidup tidak normal. Tetapi bagi yang mengerti kebenaran, salib adalah jalan kehidupan. Salib mengandung kekayaan yang tidak terhingga. Salib adalah alat transaksi menerima kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Tidak ada kehidupan dan kemuliaan tanpa kematian. Tidak ada Kekristenan sejati tanpa salib. Kehidupan Kekristenan tanpa salib adalah kepalsuan. Inilah Kekristenan produk Iblis yang menipu banyak orang, tetapi laku keras di pasaran.
     
    Lebih banyak orang Kristen yang menolak memikul salib, sehingga memilih meletakkan salibnya dan menikmati keinginan daging, dosa, serta dunia dengan segala keindahannya seperti anak-anak dunia menikmatinya. Pada waktu itu proses penyaliban daging terhambat bahkan berhenti. Bagi mereka yang memiliki komitmen tulus untuk mengasihi Tuhan, akan ditegur dengan pukulan agar kembali ke “Taman Getsemani dan Via Dolorosa” Tuhan. Tetapi mereka yang tidak memiliki komitmen mengasihi Tuhan bisa dibiarkan sampai kematian menjemput mereka dan mereka tidak pernah memikul salib. Kalau Tuhan memberikan pukulan atau dengan berbagai cara mengingatkan kita untuk kembali ke jalan salib, maka kita tidak boleh mengabaikannya, sebab kalau kita tidak memedulikan maka tidak akan ada peringatan lagi. Ini berarti kerugian yang tiada tara.
     
    Saat kesempatan memikul salib berlalu atau lewat, berarti kesempatan untuk menerima keselamatan juga hilang. Salib merupakan cara Allah mengajarkan bagaimana kita dapat mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Bagaimana seseorang bisa memiliki pikiran dan perasaan Kristus, mengosongkan diri, dan taat sampai mati di kayu salib kalau tidak memiliki pengalaman yang sama dengan Dia? (Flp. 2:5-7). Kalau Tuhan Yesus mengalami penyaliban secara fisik, maka orang percaya cukup mengalami penyaliban dari natur daging dosa, tanpa penderitaan fisik (Ibr. 12:2-4). Itulah sebabnya Kekristenan tidak boleh menjadi sekadar sambilan dalam kehidupan ini. Keristenan harus menjadi seluruh kehidupan kita. Kita harus rela memiliki kehidupan yang disita untuk belajar memikul salib.
     
    Sesungguhnya proses menyangkal diri dan memikul salib adalah proses memperluas wilayah hidup dalam diri seseorang untuk dapat dimiliki oleh Tuhan. Hal tersebut akan terus dialami sampai seluruh wilayah hidup orang tersebut dikuasai sepenuhnya oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai Penebusnya. Seseorang yang menolak memasuki proses menyangkal diri dan penyaliban diri berarti tidak bersedia dimiliki oleh Tuhan (Gal. 5:24-25). Itu berarti hidupnya dimiliki oleh kuasa kegelapan yang akhirnya tidak bisa diklaim sebagai milik Allah. Inilah orang-orang yang menjual diri kepada dunia atau kepada setan; orang-orang yang kawin dengan dunia sampai distempel Iblis. Orang-orang seperti ini disebutkan oleh Alkitab sebagai pezina (Yun. moikhalides; μοιχαλίδες), orang-orang yang tidak setia, yang menjadikan dirinya sebagai musuh Allah (Yak. 4:4).
     
    Paulus menangisi orang-orang Kristen seperti ini yang ditulis dalam suratnya kepada jemaat Filipi: “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus” (Flp. 3:18). Tulisan kepada jemaat Filipi tersebut tidak ditujukan kepada orang kafir, tetapi kepada orang Kristen yang tidak mau menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya. Oleh karenanya, Paulus menganjurkan mereka untuk meneladani dirinya, seperti ia telah meneladani kehidupan Tuannya (Gal. 2:19-20). Jika seseorang tidak meneladani kehidupan Tuhan Yesus berarti ia menjadikan dirinya musuh salib.
    0 min
  • Menyalipkan Diri
    Bila kita memandang salib Tuhan Yesus di Bukit Golgota, hendaknya pikiran kita tidak hanya ditujukan kepada pengorbanan-Nya yang menebus kita dari dosa, sehingga kita dapat menjadi milik Allah dan diselamatkan. Mestinya ketika seorang Kristen semakin bertumbuh dewasa, maka ia menemukan bahwa salib memancarkan tantangan berat yang harus disikapi atau harus ditindaklanjuti secara nyata. Sebenarnya salib juga menunjukkan bahwa kehidupan manusia dengan pola dan gayanya harus diakhiri. Salib di Bukit Kalvari juga membawa pesan bahwa Allah berkenan memberikan hidup baru bagi mereka yang bersedia mengikuti jejak Tuhan Yesus. Bila tidak memahami tantangan tersebut dan tidak bersedia mengikuti jejak Tuhan Yesus, maka kuasa salib menjadi sia-sia.
     
    Kuasa salib maksudnya adalah tujuan salib itu diadakan. Inilah faktanya, bahwa banyak orang Kristen yang percaya salib, tetapi tidak memiliki kehidupan yang istimewa seperti yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Mereka belum memiliki kehidupan yang berdamai dengan Allah, belum bersekutu dan belum menjadi sahabat dan anak Bapa yang benar. Inilah hidup baru yang dikehendaki oleh Allah untuk dimiliki orang percaya, sebuah kehidupan yang berkualitas. Itulah sebabnya Tuhan Yesus selalu menyatakan bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salib. Tidak ada orang yang mengaku Kristen bisa tidak menyangkal diri dan memikul salib. Itulah juga sebabnya Kekristenan sebenarnya bukanlah agama untuk kebanyakan orang (Luk. 13:23-24).
     
    Firman Tuhan mengajarkan bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar kita tidak menghambakan diri lagi kepada dosa (Rm. 6:6). Penyaliban diri dimaksudkan agar dosa tidak berkuasa atas tubuh kita yang fana ini. Pengalaman hidup seperti ini terus terang jarang dialami oleh orang Kristen, sebab mereka memandang terlalu mahal harganya atau terlalu sulit untuk dilakukan. Tetapi justru inilah keunggulan anak-anak Tuhan. Kalau seorang Anak Bapa sudah menerima penebusan oleh darah Tuhan Yesus maka ia harus menjadi hamba bagi Tuhan yang menebus dan memilikinya. Itu berarti ia tidak boleh menjadi hamba dosa. Dosa di sini artinya segala sesuatu yang meleset dari kehendak Allah. Jadi, orang percaya bukan saja harus melakukan hukum-hukum Tuhan, tetapi juga melakukan segala sesuatu yang Tuhan inginkan. Jika tidak demikian, berarti seseorang menjadi hamba dosa. Untuk ini dibutuhkan kesungguhan dan keberanian untuk menjadi hamba Tuhan. Untuk ini pula orang percaya harus merasa sebagai orang yang akan dieksekusi hukuman salib, supaya kita juga bisa masuk proses penyaliban.
     
    Tidak ada yang lebih membanggakan dan membahagiakan hati Allah Bapa, selain kesediaan kita untuk menyangkal diri dan memikul salib seperti yang Tuhan Yesus jalani (Mat. 10:38, 16:24; Mrk. 8:34; Luk. 9:23, 14:27). Menyangkal diri artinya bersedia memiliki cara hidup yang berbeda dengan dunia. Untuk ini seseorang perlu belajar sungguh-sungguh dengan tekun dan tentu saja membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selanjutnya juga memikul salib, artinya bersedia menderita demi kesukaan hati Allah Bapa. Inilah sebenarnya inti Injil itu. Kabar baik sungguh-sungguh menjadi kabar baik kalau orang percaya bersedia menyangkal diri dan memikul salib. Injil palsu diajarkan tanpa hal ini. Dalam penyangkalan diri dan memikul salib tersebut orang percaya diajar untuk memiliki hidup baru. Hidup baru adalah hidup yang Tuhan Yesus sendiri kenakan selama hidup di dunia ini dengan tubuh daging manusia.
     
    Tuhan sendiri mengajarkan dan menunjukkan hidup baru yang tidak bisa dimiliki oleh manusia mana pun. Ini hanya untuk mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus dan bersedia mengikuti jejak-Nya. Memikul salib adalah kesadaran penuh untuk membunuh atau mematikan setiap keinginan yang tidak dikehendaki oleh Allah. Hal ini dimulai dari renungan hati, pikiran, perkataan yang diucapkan, dan juga segala perbuatan.
    0 min
  • Isi Dan Tujuan Keselamatan
    Tuhan Yesus mengatakan dalam Matius 5:18-19 bahwa hukum masih harus ada sampai langit dan bumi yang sekarang ini lenyap. Mengapa demikian? Sebab sebelum penghakiman terakhir, Taurat tidak mungkin ditiadakan atau dihilangkan, justru hukum (Taurat) ini yang menjadi landasan penghakiman kepada semua manusia. Selanjutnya, berdasarkan apa yang dikemukakan Tuhan Yesus dalam Matius 5:18-19, bahwa hukum Taurat menentukan posisi seseorang dalam Kerajaan Surga nanti. Orang yang mengajarkan Taurat dengan benar akan memeroleh hadiah, ada posisi yang baik atau tinggi dalam dunia yang akan datang. Tetapi bagi mereka yang tidak melakukan dan mengajarkan Taurat dengan baik, akan mendapat posisi yang rendah dalam Kerajaan Surga.
     
    Pernyataan Tuhan Yesus di atas jelas memberi kesan seakan-akan Taurat menentukan keselamatan. Sekilas pernyataan ini bertentangan dengan keselamatan oleh anugerah, tetapi sebenarnya tidak. Hukum Taurat tidak ada artinya sama sekali kalau Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib. Justru kematian Tuhan Yesus di kayu salib memberi fasilitas keselamatan yang memungkinkan seseorang berkemampuan melakukan hukum secara benar, bahkan menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Kalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus tetapi ternyata perbuatannya bertentangan dengan hukum Taurat (yang intinya adalah kasih), maka berarti ia tidak menerima keselamatan. Hukum saja dilanggarnya, apalagi menjadi sempurna seperti Bapa. Dalam hal ini betapa pentingnya hukum dalam kehidupan manusia, yang merupakan tangga pertama untuk memasuki tangga berikutnya, yaitu sempurna.
     
    Di Matius 5:19 terdapat kalimat demikian: “… yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum torat akan menduduki tempat yang tinggi.” Kalimat ini tentu saja tidak ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang tidak menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi untuk mereka yang memiliki keselamatan (masuk proses dikembalikan kepada rancangan Allah semula). Sehingga mereka memiliki kehidupan yang luar biasa, yaitu melakukan hukum dan sempurna seperti Bapa. Itulah sebabnya orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan, bahkan melebihi tokoh agama mana pun (Mat. 5:20). Pada waktu Tuhan menyampaikan perkataan tersebut (Mat. 5:17-19) Tuhan Yesus masih menyembunyikan kemesiasan-Nya, berhubung orang-orang Yahudi memiliki konsep yang salah mengenai diri-Nya. Di situ Tuhan hanya mengisyaratkan bahwa orang yang mengajarkan yang baik dan benar adalah orang-orang yang akan memiliki kedudukan yang tinggi dalam Kerajaan Surga, yaitu mereka yang akan menerima kemuliaan bersama Kristus. Dengan kehidupan moral yang luar biasa inilah, orang percaya dapat menjadi terang dan garam dunia. Saksi yang efektif.
     
    Isi dan tujuan keselamatan adalah mengerti apa yang diingini Bapa untuk dilakukan dengan tepat. Masalahnya adalah bagaimana seseorang bisa melakukan kehendak Bapa kalau tidak mengerti kehendak-Nya? Bagaimana seseorang bisa mengerti kehendak Bapa kalau tidak memiliki kecerdasan yang mempertajam kepekaan mengerti kehendak-Nya? Bagaimana seseorang bisa memiliki kecerdasan kalau tidak belajar kebenaran Firman Tuhan? Bagaimana seseorang bisa belajar kebenaran Firman Tuhan kalau tidak memiliki tekad atau niat untuk belajar? Akhirnya, semua kembali atau tergantung kepada masing-masing pribadi. Tekad atau niat ini bisa dibangkitkan oleh diri sendiri. Bukan Tuhan yang membangkitkannya. Sebab kalau niat bisa muncul karena Tuhan berarti manusia hanya seperti sebuah robot saja, dimana segala sesuatu dalam penentuan Tuhan. Kehendak bebas manusialah yang menentukan nasib atau keadaan kekalnya. Kalau seseorang benar-benar ingin memiliki kehidupan yang melakukan kehendak Allah dan tidak mencintai dunia, maka Tuhan akan menuntunnya untuk bertemu dengan kebenaran.
     
    Kalau seseorang mengenal kebenaran, maka mata pengertiannya akan dicelikkan guna mengenali diri secara benar dengan ukuran kes...
    0 min
  • Ukurannya Bukan Moral Umum
    Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang berkata bahwa dirinya tidak berdosa adalah orang yang tidak mengenal kebenaran dan Firman-Nya tidak tinggal di dalamnya (1Yoh. 1:8,10). Ayat ini menunjukkan bahwa sejak dulu (zaman rasul-rasul) ada orang-orang yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki dosa atau salah. Tuhan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal kebenaran dan yang tidak tinggal di dalam Firman-Nya. Tetapi ironinya, mereka mengaku sebagai orang kudus. Mereka adalah pendusta yang tidak bisa dipercayai. Mereka adalah orang-orang yang mencari penghargaan dan nilai diri di mata manusia lain. Biasanya mereka adalah moralis-moralis yang suka menghakimi sesama, mencela dan mengutuk orang lain karena kejahatan yang disangkakannya atau dinilainya secara naif.
     
    Mereka juga adalah orang-orang yang mau menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat dari orang lain. Hal ini dilakukan, sebab tanpa sadar ia memandang atau merasa bahwa orang lain adalah saingannya. Inilah kesombongan rohani yang ditentang oleh Allah. Bisa dipastikan mereka belum mengenal Injil Tuhan Yesus Kristus yang tuntutan-Nya adalah sempurna seperti Bapa. Bisa dipastikan bahwa mereka tidak mengenal kebenaran, yang menekankan sikap dan nilai-nilai batiniah. Kesucian hanya diukur oleh mereka dari tindakan lahiriah secara hukum moral umum. Kalau ia seorang pembicara di mimbar, pasti khotbahnya tidak bisa berkembang, dangkal, tidak ada isinya dan penuh dengan kesaksian pribadi. Hal ini terjadi sebab ia tidak menggali kebenaran Firman. Sebagai gantinya mereka akan mengagungkan kesaksian pribadi, bahwa mereka sudah berhadapan langsung dengan Tuhan dan menerima mandat-Nya.
     
    Apakah mereka yang mengaku orang suci sudah mencapai kesucian seperti yang Bapa kehendaki? Pasti belum, tetapi mereka merasa sudah tidak bercacat, sebab ukuran kesuciannya adalah moral umum. Karena mereka belum mengenal kebenaran -sehingga tidak hidup dalam kebenaran- maka cirinya jelas yaitu meninggikan diri seakan-akan dirinya paling suci di antara manusia lain. Hal ini juga bisa didorong oleh hasrat ingin dikultuskan, seharusnya tidak demikian. Orang-orang seperti ini akan membangun strata kasta dalam gereja, sehingga tidak mendorong jemaat untuk mencapai kesempurnaan. Kalaupun seseorang memiliki kesucian yang tinggi dan luar biasa, hal itu tidak perlu dikemukakan kepada orang lain. Biarlah hanya Tuhan yang tahu, yang akan memberikan upah kepada setiap orang sesuai dengan perbuatan-Nya (2Kor. 5:9-10). Paulus sendiri seorang hamba Tuhan yang kualitasnya tidak diragukan lagi berkata, bahwa dirinya belum sempurna, dia sedang mengejar atau menggumulinya dengan sungguh-sungguh (Flp. 3:12; 1Kor. 9:27).
     
    Firman Tuhan mengatakan: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita” (1Yoh. 1:10). Kalimat ini sekilas sederhana, tetapi sebenarnya pengertiannya tidak mudah dipahami. Mengapa kalau seseorang mengaku tidak berdosa berarti membuat Tuhan menjadi pendusta? Apakah manusia bisa membuat Tuhan menjadi pendusta? Maksud ayat ini adalah kalau orang percaya tidak menyadari dan tidak mengakui keberadaannya sebagai orang-orang yang tidak mencapai standar kesucian Tuhan, maka ia tidak akan pernah berjuang untuk mencapai standar kesucian Allah. Jika demikian, maka kehidupan orang percaya tidak berbeda dengan orang yang tidak percaya, bahkan kenyataannya ada yang lebih jahat. Keadaan hidup orang percaya ini akan menimbulkan pertanyaan: Untuk apa Tuhan Yesus datang ke dunia?
     
    Kalau kedatangan Tuhan Yesus membuat ajaran atau etika baru, atau lebih baik dari sebelumnya (Taurat) mengapa orang Kristen yang percaya kepada-Nya tidak berbeda dengan orang lain, bahkan lebih jahat? Bagaimana bisa memberitakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus? Dengan keadaan kehidupan orang percaya ini, maka membuat Tuhan menjadi pendusta,
    0 min
  • Anugrah Dan Tanggung Jawab
    Satu hal penting yang harus dipahami setiap orang percaya, yaitu oleh karena keselamatan diperoleh melalui anugerah bukan karena perbuatan baik, bukan berarti bahwa hukum tidak memiliki arti dan fungsi lagi. Hukum yang menjadi landasan untuk mengadili perbuatan manusia membuktikan apakah seseorang memiliki iman atau tidak. Iman bukanlah sesuatu yang abstrak, iman haruslah dibuktikan dengan perbuatan. Dalam hal ini perbuatan menurut hukum yang Allah berikan, yaitu Sepuluh Perintah Allah atau Dekalog. Dekalog memancarkan kesucian Allah, ukuran keberkenanan-Nya. Pernyataan ini hendaknya tidak mengurangi kewibawaan prinsip “only by grace” (hanya oleh anugerah). Berkenaan dengan hal tersebut harus diperhatikan dua catatan ini:
     
    Pertama, kematian Tuhan Yesus di kayu salib membuka peluang bagi manusia masih bisa memiliki pengharapan hidup di dunia yang akan datang. Mereka yang berbuat baik akan diperkenankan masuk dunia yang akan datang, melalui proses penghakiman atau pengadilan. Kalau Tuhan Yesus tidak mati di kayu salib maka tidak akan ada pengadilan, dan tanpa pengadilan manusia akan meluncur ke neraka. Terpisah dari Allah selama-lamanya. Tidak ada pengadilan sama sekali. Tetapi dengan kenyataan bahwa semua dosa dunia ditanggung oleh Tuhan Yesus, maka bisa terjadi atau diadakannya pengadilan. Mereka yang diadili dan diperkenankan masuk dunia yang akan datang adalah orang-orang yang menjadi anggota masyarakat. Ini berbeda dengan orang percaya yang masuk anggota keluarga Allah untuk memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
     
    Kedua, kematian Tuhan Yesus di kayu salib menyediakan keselamatan, artinya dimungkinkannya manusia dapat kembali menjadi segambar dan serupa dengan Allah. Mereka yang yang percaya kepada karya salib Kristus dan mengikut jejak Tuhan Yesus, juga akan dihakimi menurut perbuatan (2Kor. 5:9-10). Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan yang standarnya adalah berkenan di hadapan Bapa atau sempurna seperti Bapa. Jika benar, maka ia diperkenan masuk dalam keluarga Allah untuk dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Mereka bukan seperti kelompok pertama yang penghakimannya hanya menggunakan ukuran hukum semata.
     
    Dalam hal ini di pengadilan nanti ada dua kelompok besar manusia. Pertama, kelompok manusia yang dihakimi perbuatannya menurut hukum yang tertulis. Mereka yang namanya terdapat dalam kitab kehidupan (Why. 20:15). Mereka akan diperkenan masuk dunia yang akan datang, tetapi bukan untuk menjadi anggota keluarga Allah. Kalau boleh diistilahkan, ini adalah paket umum atau universal. Kedua, adalah kelompok orang yang dihakimi menurut perbuatan berdasarkan kesempurnaan Kristus atau seperti Bapa. Mereka dituntut memiliki karakter seperti Tuhan Yesus. Nama-nama orang ini akan tercatat dalam Kitab Kehidupan Anak Domba (Why. 21:27). Mereka inilah yang dimaksud oleh Roma 8:17, akan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
     
    Hukum disediakan oleh Allah sendiri, dimana Ia mengukir dengan tangan-Nya dengan tujuan:
    Pertama, agar manusia tidak saling membunuh dan membinasakan, sebab manusia yang berwatak dosa jika tidak dibelenggu atau dibatasi oleh hukum akan saling membunuh dan membinasakan seperti binatang. Kalau manusia punah sebelum Tuhan Yesus datang ke dunia, maka akan menjadi masalah besar sebab keselamatan belum dipenuhi oleh Allah. Dalam hal ini hukum diberikan Tuhan untuk melestarikan kehidupan.
     
    Kedua, agar manusia masih bisa masuk di langit baru dan bumi yang baru. Jadi, sebelum dunia berakhir, hukum dibutuhkan dan Tuhan tetap menjaganya (Mat. 5:17-19). Manusia berdosa selama di dunia masih bisa dilatih untuk beradab, guna masuk dunia yang akan datang. Kalau tidak ada hukum, maka semua manusia menjadi seperti hewan, sehingga tidak seorang pun dilayakkan masuk dunia yang akan datang. Mereka yang tidak mendengar Injil atau mendengar Injil secara keliru -sehingga tidak penah menjadi orang percaya yang benar- akan d...
    0 min
  • Yesus Melengkapi
    Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 5:17). Taurat artinya hukum. Sumber dari seluruh hukum dan perundang-undangan bangsa Israel adalah Sepuluh Perintah Allah atau Dekalog. Jadi berbicara mengenai hukum Taurat menunjuk pada Dekalog ini. Hukum Taurat merupakan pencerminan kesucian Allah. Dengan melakukan hukum Taurat, seseorang melukis kesucian Allah dalam hidupnya. Sehingga hidup seseorang berkualitas atau memiliki hidup yang kekal. Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan hal ini (Mat. 19:16-19). Hukum Taurat menciptakan kesucian atau hidup dalam kualitas tertentu. Inti hukum tersebut dijabarkan dalam berbagai peraturan dalam kehidupan bangsa Israel. Hal ini membuat bangsa Israel memiliki kesantunan hidup yang tinggi.
     
    Tuhan Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum, tetapi menggenapi. Kata “meniadakan” dalam teks aslinya adalah kataluo (καταλύω), yang memiliki pengertian selain to destroy atau demolish (meniadakan atau menghancurkan), juga berarti to dissolve, disunite (melarutkan, meremukkan). Tuhan Yesus datang untuk menggenapi hukum, bukan menghancurkan. Kata “menggenapi” dalam teks aslinya adalah pleroo (πληρό), yang artinya juga “memenuhi.” Dari pernyataan Tuhan Yesus -bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan- Dia hendak menegaskan kepada pendengar-Nya pada waktu itu bahwa Ia datang bukan untuk membuat orang tidak berhukum dan mengkhianati Taurat, tetapi sebaliknya membuat manusia bisa melakukan hukum dengan sempurna. Tuhan Yesus menggenapi hal tersebut di dalam diri-Nya dan mengajarkan kepada para pengikut-Nya untuk menggenapinya juga dalam hidup mereka.
     
    Orang percaya tidak boleh berpikir bahwa hanya Tuhan Yesus saja yang menggenapinya -yaitu dengan melakukannya bagi orang percaya- melainkan Tuhan Yesus sendiri memerintahkan agar orang percaya sempurna seperti Bapa; hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Yang sama dengan menggenapi hukum Taurat. Orang percaya harus kudus seperti Allah sendiri kudus. Setelah Tuhan Yesus berhasil mencapai kesempurnaan (melakukan hukum dengan sempurna) maka Ia menjadi pokok keselamatan bagi orang percaya (pokok artinya penggubah – Yun. aitios). Orang percaya diubah menjadi seperti diri-Nya, tentu bagi yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:9). Maksud kalimat “bagi yang taat kepada-Nya” adalah mereka yang berusaha meneladani gaya hidup Tuhan Yesus, yaitu melakukan hukum plus sempurna seperti Bapa. Untuk ini seseorang harus sungguh-sungguh berjuang keras.
     
    Dalam perjalanan dari Mesir ke Kanaan, Musa merumuskan Taurat (hukum) dalam pimpinan Tuhan sendiri berupa Sepuluh Perintah Allah yang diterimanya di Gunung Sinai. Hukum Taurat diberikan kepada Bangsa Israel supaya hidup mereka tertib. Perlu diingat bahwa Bangsa Israel pada waktu itu baru keluar dari Mesir. Mereka bangsa budak yang tentu saja bodoh, tidak berpendidikan, dan kurang beradab atau kurang santun. Sekarang mereka menjadi umat pilihan yang harus memiliki kesantunan hidup sebagai bangsa yang bermartabat. Itulah sebabnya hukum atau peraturan diberikan supaya mereka menjadi bangsa yang terhormat, dan suatu hari nanti bisa dipercayai untuk membangun suatu pemerintahan Teokrasi; pemerintahan di mana Allah sebagai pemimpinnya. Hukum tidak hanya untuk Bangsa Israel, tetapi juga untuk semua bangsa di seluruh dunia, sebab itulah satu-satu hukum yang diberikan Allah kepada semua manusia. Hukum ini sangat penting.
     
    Mengapa begitu pentingnya Taurat atau hukum dalam kehidupan manusia? Sebab sesuai dengan Injil bahwa setiap orang akan dihakimi menurut perbuatannya (Mat. 16:27; Rm. 2:6,12; 2Kor. 5:9-10; 1Ptr. 1:17; Why. 2:23; 20:12,13; 22:12). Taurat diberikan selain untuk menertibkan, juga untuk menjadi bukti suatu kesalahan yang telah dilakukan (Rm. 4:15). Jika tidak ada Taurat, maka berarti tidak ada pelanggaran, artinya suatu perbuatan yang salah tidak terbukti dinyatakan sebag...
    0 min
  • Sebelum Menutup Mata
    Berbuah artinya memiliki hati yang suka melakukan kehendak Bapa dan Tuhan Yesus. Hal ini harus menjadi keberadaan secara permanen, bukan sekadar sesaat, artinya ada saat-saat tertentu ingin melakukan kehendak Tuhan, tetapi di saat lain tidak ingin melakukan kehendak Allah. Keberadaan permanen di sini sama artinya dengan menjadi kodrat yang telah menyatu dalam kehidupan seseorang dan tidak dapat terpisah lagi untuk selamanya. Kesukaan melakukan kehendak Bapa dan Tuhan Yesus harus menyatu dalam kehidupan orang percaya yang terus dibawa sampai kekekalan. Inilah sebenarnya prestasi abadi yang berharga di hadapan Bapa dan Tuhan Yesus. Berbicara mengenai sikap hati, hal ini menunjuk kepada sesuatu yang sifatnya pribadi. Masing-masing individu dapat menggerakkan hatinya untuk mengasihi Tuhan atau menolaknya.
     
    Tuhan mau menemukan pribadi-pribadi yang memiliki hati yang selalu ingin menyukakan hati Bapa dan Tuhan Yesus. Dengan demikian selama hidup di dunia ini orang-orang tersebut akan berusaha memenuhi atau menunaikan apa yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya. Dalam hal ini setiap orang memiliki keadaan istimewa dan Tuhan memiliki rancangan khusus bagi orang tersebut untuk dipenuhi. Hendaknya orang percaya tidak pulang ke rumah kekal sebelum tahu persis bahwa dirinya sudah melakukan dengan baik kehendak dan rencana Allah dalam hidupnya. Tentu saja dalam hal ini seorang anak Allah harus memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak-Nya dan menemukan rencana-Nya dalam hidupnya pribadi.
     
    Untuk memiliki kepekaan ini seseorang harus dicerdaskan oleh Firman Tuhan. Dalam hal ini mendengar “suara kebenaran” barulah langkah pertama untuk bisa berbuah, sebab akhirnya Tuhan bukan hanya menghendaki kita menjadi pendengar, tetapi juga memberi atau menghasilkan buah. Kalau langkah pertama sudah tidak dilakukan -yaitu mendengar Firman Tuhan yang diajarkan Tuhan Yesus- bagaimana bisa berbuah? Banyak orang Kristen yang tidak mendengar Firman Tuhan yang benar. Sehingga tidak memiliki kepekaan terhadap kehendak dan rencana Tuhan. Bisa dimengerti kalau mereka tidak pernah menghasilkan buah. Memang mereka masih bisa menjadi orang baik-baik, tetapi dalam hidup ini mereka hanya memenuhi keinginan dan cita-citanya sendiri, tetapi mereka belum mencapai standar hidup seperti Yesus yang miliki, yaitu melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikannya.
     
    Sebelum seseorang menutup mata untuk selamanya, seharusnya ia sudah mengerti apa yang dikehendaki Allah untuk dilakukan dan rencana Allah untuk dipenuhi. Jika hal ini belum dilakukan berarti pasti tertolak dari hadirat Allah (Mat. 7:21-2). Untuk ini segala kebutuhan lain harus dianggap tidak penting, sebab kalau seseorang masih menganggap sesuatu sangat penting dan mutlak harus dicapai, maka hal mengerti kehendak Allah tidak akan mendapat tempat dan porsi yang semestinya. Orang percaya harus berani mengesampingkan segala sesuatu yang tidak mendukung langkahnya dalam melakukan kehendak Allah dan memenuhi rencana-Nya. Sehingga dalam hidup ini, orang percaya tidak memiliki kepentingan apa pun selain melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
     
    Dalam Lukas 8:15, tertulis: “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” Patutlah kita perhatikan kalimat “mengeluarkan buah dalam ketekunan.” Kalimat ini menunjukkan walaupun seseorang mendengar Firman Tuhan yang benar, tetapi kalau tidak bertekun, maka juga tidak akan dapat berbuah. Kata “ketekunan” dalam teks aslinya adalah hupomone (ὑπομονή), yang berarti dengan sabar bertahan. Dalam hal ini, untuk bertekun seseorang harus berusaha untuk bertahan terus menerus menghadapi tekanan, sebab Iblis berusaha agar orang percaya tidak berbuah. Salah satu usaha Iblis -selain ditutupnya kebenaran Firman yang benar- juga mewarnai jiwa anak-anak Bapa dengan percintaan dunia.
     
    0 min
  • Buah Kehidupan Seperti Yesus
    Tuhan Yesus mengatakan agar manusia takut akan Allah yang berkuasa bukan saja membunuh tubuh, tetapi juga yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Takut akan Allah pasti diwujudkan secara konkret dalam kehidupan ini dengan melakukan kehendak-Nya. Kenyataan yang kita temukan dalam kehidupan orang Kristen, jangankan melakukan kehendak-Nya, mengerti kehendak-Nya saja tidak. Bagaimana bisa mengerti kehendak-Nya kalau tidak memiliki kecerdasan roh atau kepekaan? Bagaimana memiliki kepekaan kalau tidak belajar Injil dengan benar? Belajar Injil dengan benar artinya tekun dan sungguh-sungguh berani mengorbankan yang lain, lebih dari mengasihi dunia ini.
     
    Orang yang mengasihi dunia pikirannya menjadi gelap, ia tidak akan bisa mengerti kebenaran (Luk. 16:11). Dengan pikiran gelap, maka gaya hidupnya pun tidak sesuai dengan standar Allah. Orang-orang yang berada di bawah standar Allah ini, tidak akan bisa berjalan dengan Tuhan (hubungannya dengan Allah tidak harmonis). Mereka belum bisa bersekutu dengan Allah Bapa. Inilah yang dimaksud dengan belum berdamai dengan Allah. Dalam hal ini perdamaian dengan Allah bukan saja pengakuan atau status, tetapi sebuah keberadaan konkret di mana seseorang bersekutu dengan Tuhan secara harmoni. Itulah sebabnya kalimat “diperdamaikan dengan Allah” menuntut respons dari kedua belah pihak. Allah menyediakan fasilitas pendamaian, dan manusia merespons dengan tanggung jawab.
     
    Persoalan paling penting dalam kehidupan orang percaya adalah apakah ketika menghadap Tuhan ada buah yang dapat dipersembahkan kepada-Nya? Buah itu adalah melakukan dengan baik segala sesuatu yang Tuhan inginkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi, sebab memang manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya. Jadi, buah di sini adalah perbuatan, perilaku, dan sikap hati yang memberi kepuasan di hati Tuhan, sampai seseorang memiliki “hati melakukan kehendak-Nya,” memiliki natur melakukan kehendak Tuhan tanpa dipaksa atau ditekan oleh hukum. Inilah ciri dari anak Allah yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Selanjutnya, Tuhan memberikan kemampuan untuk seseorang bisa berbuah, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa beralasan mengapa tidak berbuah.
     
    Dalam perumpamaan mengenai penabur benih, dikisahkan bahwa tidak semua orang yang mendengar Firman Tuhan bisa bertumbuh dan berbuah (Luk. 8:5-15). Kelompok pertama, adalah orang yang walaupun mendengar Injil tetapi tidak pernah menjadi orang percaya (Luk. 8:12). Kuasa antikris -yaitu ajaran atau agama yang menolak Yesus adalah Tuhan- telah mengunci pikiran mereka atau membutakan pengertian mereka sehingga mereka tidak pernah bisa menerima Tuhan Yesus Kristus. Kelompok kedua, adalah mereka yang mendengar Injil, menjadi orang Kristen tetapi tidak berani membayar harga percayanya karena telah terikat dengan percintaan dunia, sehingga tidak berani mengalami aniaya. Perlu dipahami bahwa pada zaman itu kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus, maka mereka akan mengalami aniaya (Luk. 8:13). Banyak orang lebih memilih untuk menyelamatkan nyawanya daripada kehilangan nyawanya.
     
    Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang tidak mengalami aniaya, tidak menolak Tuhan Yesus, tetapi masih mencintai dunia. Mereka memang berbuah, tetapi buahnya tidak matang (Luk. 8:14). Kata “matang” dalam teks aslinya adalah telesphoreo (τελεσφορέω), yang artinya dewasa. Jadi buah yang dihasilkan tidak dewasa. Tuhan menghendaki kedewasaan. Kehendak Tuhan harus dituruti secara mutlak. Ini adalah kelompok orang-orang Kristen yang masih membagi hatinya terhadap dunia ini, sehingga kebenaran Firman Tuhan tidak bisa sepenuhnya bertumbuh.
     
    Kelompok keempat, adalah orang-orang yang mendengar Firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik; mengeluarkan buah dalam ketekunan (Luk. 8:15). Mengeluarkan buah dalam ketekunan menunjukkan bahwa untuk berbuah,
    0 min
  • Bersahabat Dengan Dunia
    Suatu hari nanti setiap orang pasti menghadap Tuhan yang memberikan kehidupan ini, dan harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dikerjakannya selama hidup di dalam dunia (2Kor. 5:10). Ini adalah fakta yang tidak bisa dihindari. Perjalanan waktu membawa manusia kepada realitas ini. Setiap detik yang bergema mengisyaratkan bahwa saat itu semakin dekat, bagai arus air yang sangat kuat yang tidak bisa dibendung. Harus diingat terus bahwa panggilan menghadap Tuhan bisa terjadi setiap saat. Hampir tidak pernah Tuhan memberi tahu terlebih dahulu saatnya. Sehingga seseorang tidak tahu kapan gilirannya. Hal ini sudah pasti diketahui oleh setiap orang, tetapi ironinya masih saja tidak bersikap berjaga-jaga. Hal ini menunjukkan bahwa memang mereka tidak berhasrat berdamai dengan Allah, serta berlindung kepada-Nya dari kedahsyatan kekekalan. Biasanya mereka berlindung kepada Tuhan hanya karena masalah duniawi atau pemenuhan kebutuhan jasmani semata.
     
    Oleh karena saat kematian tidak kunjung tiba, maka banyak orang menganggap remeh realitas tersebut, sampai tidak memiliki kesadaran atau penghayatan bahwa waktu itu pasti akan tiba. Bahkan ketika sudah berumur suntuk pun masih berpikir ia bisa memperpanjangnya. Memang kadang-kadang tindakan medis dan peralatannya bisa memperpanjang usia, tetapi tidak bisa membatalkan kematian. Usaha memperpanjang usia kadang juga malah menyiksa. Hidup tidak terasa hidup, sebab penyakit dan penuaan tidak bisa diajak bersahabat. Tuhan sendiri yang telah mengatakan bahwa masa hidup manusia tujuh puluh tahun dan jika kuat, delapan puluh tahun, dan “kebanggaannya” adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan manusia melayang lenyap (Mzm. 90:10). Kata “kebanggaan” di sini terkesan aneh. Mengapa dikatakan kebanggaan? Dalam teks aslinya adalah rohab (רֹהַב). Yang bisa diterjemahkan kekuatan (strength), keangkuhan dan kesombongan (arrogant and pride, object of pride).
     
    Ternyata kata rohab bisa mengandung semacam kata sindiran (satire). Seakan-akan Pemazmur mau mengatakan, setelah melewati perjalanan panjang, apa yang dapat dibanggakan? Beberapa konglomerat tinggal di rumah mewah, hari tuanya hanya tergeletak antara hidup dan mati ditemani oleh suster dan alat medis. Dalam kemiskinan di hadapan Tuhan seperti yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus di Lukas 12:19-20, orang-orang seperti ini sebenarnya telah ditangisi oleh Tuhan dengan ucapan-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu” (Luk. 19:42). Suatu keadaan yang sangat tragis. Betapa malangnya orang-orang seperti ini. Orang-orang seperti ini pasti gentar terhadap kematian. Tetapi karena mereka tenggelam dengan kekayaan dunia, seakan-akan mereka terkondisi tidak gentar terhadap kematian. Tetapi suatu saat ketika menghadapi realitas ini, mereka pasti akan gemetar dan sangat menyesal karena tidak belajar takut akan Allah.
     
    Seharusnya realitas kematian yang bisa menjemput orang setiap saat, menjadi sesuatu yang menggetarkan jiwa. Kalau seseorang sudah tidak pernah tergetarkan oleh realitas ini, maka ia tidak pernah takut akan Allah. Manusia lebih digetarkan oleh banyak hal (masalah dunia fana), tetapi tidak takut akan Allah. Seharusnya seseorang tergetarkan oleh karena realitas ini, sehingga sungguh-sungguh menjadi takut akan Allah dan berdamai dengan Allah secara benar pula. Harus diperhatikan, bahwa seseorang yang datang ke gereja belum berarti bahwa orang tersebut telah berdamai dengan Allah. Perdamaian dengan Allah ditandai dengan kesediaan hidup menuruti segala keinginan-Nya. Oleh sebab itu kita harus berpikir seakan-akan kematian sudah di depan mata, atau hari ini adalah hari terakhir kita. Dengan demikian kita akan sungguh-sungguh mempersiapkan diri dengan benar. Kalau kematian benar-benar menjemput dan kita diperhadapkan kepada penghakiman Tuhan, kita sudah siap,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…