Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pemalsuan Karunia
    Di gereja-gereja tertentu sering terdapat seperti manifestasi karunia Roh Kudus (bahasa roh, penglihatan, nubuat, dan lain sebagainya). Banyak orang menjadi bingung apakah itu berasal dari Allah atau bukan. Kadang-kadang secara sembarangan fenomena tersebut dicap palsu atau sesat, padahal benar-benar fenomena yang berasal dari Allah. Tetapi juga sering fenomena yang berasal bukan dari Allah (adanya pemalsuan karunia), tetapi diakui sebagai berasal dari Allah. Pemalsuan karunia sulit dideteksi, apalagi kalau yang melakukan adalah seorang pendeta atau yang berjabatan “hamba Tuhan” seperti worship leader dan orang-orang yang berdiri di mimbar.
     
    Di masyarakat yang menghargai tokoh agama –seperti di Indonesia- tidak mudah menilai tindakan seorang rohaniwan. Sering terdapat rohaniwan yang mengajarkan bahwa menghakimi hamba Tuhan atau melawan pendeta akan dikutuk. Kemudian mereka menyamakan membedakan roh dengan menghakimi dan melawan hamba Tuhan. Padahal membedakan roh bukanlah menghakimi. Kalau menghakimi pasti disertai eksekusi hukuman (sebagaimana tugas hakim), tetapi membedakan roh hanya membedakan dan tidak bersikap apa-apa selama Tuhan tidak memberi komando untuk berbuat sesuatu.
     
    Membedakan roh juga bukan melawan, membedakan roh hanya berusaha untuk mengetahui apakah karunia yang ditampilkan berasal dari Allah atau bukan, sebab Iblis juga bisa memakai siapa saja untuk menyesatkan umat Tuhan. Ingat Iblis pun bisa menyamar sebagai malaikat terang (2Kor. 11:14). Setiap orang berhak mengetahui dengan tepat apakah hal tersebut adalah pemalsuan atau bukan. Jika sudah diintimidasi dituduh sebagai menghakimi dan melawan hamba Tuhan, maka jemaat tidak mengaktifkan nalar dan karunia dalam dirinya untuk membedakan roh. Inilah cara Iblis menyesatkan anak-anak Tuhan, yaitu membuat mereka ada dalam pasivitas. Pasivitas menggiring jemaat kepada pembantaian, sehingga mereka tanpa sadar dibodohi dan diintimdasi sampai tidak memiliki integritas diri.
     
    Justru yang sering melakukan intimidasi adalah orang-orang yang mengaku hamba Tuhan. Tanpa mereka sadari, mereka dipakai oleh Iblis untuk merusak maksud dan tujuan Allah membangun jemaat-Nya. Maksud Tuhan membangun jemaat-Nya adalah untuk mempersiapkan jemaat menjadi manusia yang sempurna seperti Bapa sehingga bisa tampil sebagai corpus delicti. Orang percaya dipanggil bukan hanya untuk sibuk tenggelam dalam karunia roh yang tidak signifikan, tapi yang membawa mereka kepada kesempurnaan. Bukan kesempurnaan untuk membangun karunia roh, tetapi karunia roh turut berguna membangun jemaat menuju kesempurnaan.
     
    Orang percaya yang memiliki kepribadian yang baik dan kapasitas diri yang memadai -sehingga dapat dipercayai dengan karunia membedakan roh- dapat dengan mudah dan cepat membedakan apakah karunia yang sedang didemontrasikan adalah karunia Roh Kudus atau palsu. Palsu di sini bisa berarti berasal dari Iblis, tetapi juga bisa berasal dari diri sendiri manusia itu sendiri, khususnya karunia berbahasa roh dan bernubuat dan berbagai kesaksian alam roh lainnya. Pemalsuan yang berasal dari roh-roh jahat bisa lebih cepat dideteksi (walau tidak mutlak), sebab biasanya akan disertai dengan manisfestasi ekstrem (berteriak, mata mendelik, tubuh dibanting-banting, dan lain sebagainya). Selain ekstrem, juga sering kebodohan Iblis akan cepat terbaca oleh logika yang sehat; bahasa rohnya aneh, nubuatnya kekanak-kanakan, dan lain sebagainya.
     
    Pemalsuan yang berasal dari diri sendiri bisa lebih berlangsung lama, apalagi dilakukan oleh seorang yang cerdas. Faktor penyebabnya adalah karena ketidakdewasaan. Banyak pengajaran di gereja-gereja tertentu yang menekankan karunia roh secara tidak proporsional. Seakan-akan karunia roh adalah tiket masuk surga. Kalau tidak memiliki karunia roh yang nyata (berbahasa roh, penglihatan, nubuat, dan lain-lain), berarti tidak berkualitas. Inilah yang mendorong orang-orang Kristen berusaha m...
    0 min
  • Membedakan Roh
    Sering kita mendengar kalimat “membedakan roh.” Apa sebenarnya yang dimaksud dengan membedakan roh? Jawabnya adalah ada dua pengertian mengenai membedakan roh. Pertama, membedakan apakah suatu karunia yang sedang disampaikan seseorang pada waktu pertemuan jemaat atau bukan. Kedua, membedakan apakah suatu spirit atau gairah datang dari Tuhan atau bukan. Pengertian pertama dibutuhkan pada waktu dalam suatu kebaktian seseorang mendemonstrasikan karunia roh seperti berbahasa roh, bernubuat, penglihatan, dan lain sebagainya (1Kor. 12:10). Seseorang yang bernurani bersih, rendah hati, biasa jujur terhadap Tuhan dan diri sendiri, serta menggunakan logika secara benar, akan memiliki kemampuan ini. Inilah kriteria orang yang dimampukan Tuhan memiliki karunia membedakan roh.
     
    Masalahnya adalah sering orang Kristen tidak memiliki nurani yang bersih, hatinya penuh dengan kecurigaan, kebencian, dan perasaan negatif terhadap orang lain. Orang-orang seperti ini juga memiliki niat-niat negatif terhadap orang lain. Tidak sedikit juga orang Kristen yang tidak jujur terhadap Tuhan dan terhadap diri sendiri. Ketidakjujurannya diciptakan oleh hidup keberagamaan yang formalitas, kaku, dan seremonial sifatnya. Mereka tidak memiliki keintiman yang benar setiap hari. Sehingga doa-doa yang diucapkan bersifat formalitas, seremonial, dan protokuler semata-mata. Juga tidak sedikit orang Kristen yang tidak menggunakan logika dengan baik.
     
    Orang-orang Kristen seperti itu berpendirian bahwa percaya kepada Tuhan berarti tidak menggunakan logika. Padahal percaya berangkat dari logika yang digunakan secara proporsional. Orang-orang Kristen seperti di atas ini sulit menerima karunia membedakan roh, sebab landasan pribadi atau kapasitas orang tersebut tidak cukup memadai untuk memiliki karunia dalam membedakan roh tersebut. Mereka tidak akan dapat membedakan apakah suatu fenomena karunia roh berasal dari Allah atau dari kuasa kegelapan. Bahkan tidak jarang mereka sendirilah yang melakukan pemalsuan itu.
     
    Untuk membedakan roh dalam pengertian ini lebih dominan menggunakan insting atau naluri. Naluri untuk membedakan roh akan semakin kuat seiring dengan bertumbuhnya pengertian akan kebenaran dan kepribadian yang baik atau kedewasaan rohani seperti Kristus. Dalam kecepatan tinggi, seorang yang berkepribadian baik dan memiliki karunia membedakan roh, bisa membedakan apakah suatu manifestasi berasal dari Roh Kudus atau tidak. Oleh karena kepribadiannya matang, maka ia bersikap bijaksana terhadap pemalsuan yang dilakukan oleh saudara-saudara seimannya yang belum dewasa yang melakukan pemalsuan tersebut. Sering dia menyimpan di dalam hati tanpa reaksi. Dia akan menunggu waktu yang baik untuk dapat menegurnya (kalau mendapat komando dari Roh Kudus).
     
    Untuk bisa membedakan roh dalam pengertian spirit atau gairah, seseorang harus memiliki ketajaman berpikir yang diasah setiap hari. Pengasahan tersebut hanya di dapat melalui kebenaran Firman Tuhan yang murni yaitu apa yang diajarkan dalam Perjanjian Baru. Pengasahan pikiran sama dengan pembaharuan pikiran, sehingga seseorang bisa mengerti kehendak Allah dengan sempurna (Rm. 12:2). Tentu saja orang-orang seperti ini memiliki cara berpikir dan gaya hidup yang berbeda dengan anak-anak dunia. Orang percaya seperti ini memiliki spirit atau gairah Ilahi atau rohani. Jika dia berhadapan dengan seseorang atau mendengar khotbah seorang pembicara, maka ia akan cepat bisa membaca roh apa yang ada pada pembicara tersebut.
     
    Kalau membedakan roh dalam arti membedakan karunia-karunia roh, “insting” yang lebih menonjol bersifat adikodrati, tetapi untuk membedakan roh dalam arti spirit atau gairah ini yang dominan adalah pikiran atau logika. Berkenaan dengan hal ini harus dicatat bahwa setiap orang memiliki roh atau gairah yang khusus. Orang-orang muda yang belum menikah harus memiliki kepekaan untuk membedakan roh bagi temannya supaya ia tidak sala...
    0 min
  • Mengasihi Tanpa Dipaksa
    Dalam hakikat-Nya yang kudus dan agung, Allah tidak memaksa seseorang untuk mengasihi Dia. Memaksa adalah bertentangan dengan hakikat-Nya. Ketika Tuhan Yesus mengajarkan dengan perkataan: “Kasihilah Tuhan Allahmu…” (Mat. 22:37-40), di sini Tuhan menghendaki agar seseorang menggerakkan hatinya sendiri untuk mengasihi Tuhan. Menggerakkan hati untuk mengasihi Tuhan harus dibangun dari kesadaran bahwa memang manusia diciptakan untuk mengasihi Dia. Inilah panggilan atau tanggung jawab yang harus dipenuhi tanpa syarat. Manusia diberi kehendak bebas untuk mengasihi Tuhan atau tidak mengasihi Dia. Jadi, kalau seseorang tidak mengasihi Tuhan dan menciptakan suatu warna hidup yang tidak membahagiakan hati Tuhan, itu adalah kesalahannya sendiri.
     
    Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang tidak mengasihi Tuhan adalah orang yang terkutuk (1Kor. 16:22). Dalam hal ini tidak ada orang yang bisa berdalih ketika terkutuk karena tidak mengasihi Tuhan, bahwa Tuhan tidak menggerakkan hatinya untuk mengasihi Dia. Kita tidak dapat menggerakkan hati Tuhan dan mengontrol serta mengendalikan-Nya untuk mengasihi kita. Tetapi sungguh besar anugerah-Nya, Tuhan mengasihi kita. Sekarang dari pihak manusia apakah mengasihi Tuhan atau tidak, itu ada dalam kebebasan dan kontrol serta kendali masing-masing individu. Bukan Tuhan. Ini salah satu misteri dan rahasia kehidupan. Sekaligus di sini kita mendapatkan betapa hebat makhluk manusia dengan perasaan dan kehendak yang diberikan oleh Tuhan yang harus digunakan dengan bijaksana, yaitu ditujukan bagi Tuhan.
     
    Dalam kisah Adam di Eden, tentu Adam tahu bahwa melanggar kehendak Allah akan mendukakan-Nya. Sebab kematian bukanlah kehendak dan rancangan Allah. Kalau Adam berniat untuk mengasihi Tuhan dengan benar, ia tidak akan melanggar perintah-Nya. Tetapi ternyata Adam memilih tidak mengasihi Tuhan. Akhirnya ia terhukum atau sama dengan terkutuk. Ini terjadi karena kesalahan Adam sendiri, berdasarkan keputusan dan kehendaknya untuk tidak mengasihi Tuhan dengan benar. Tuhan Yesus pun mengalami pergumulan yang sama, apakah mau mengasihi Allah Bapa atau tidak. Tetapi Tuhan Yesus memilih untuk mengasihi Allah Bapa. Karena kasih-Nya kepada Bapa maka Ia tidak ingin melukai hati-Nya. Itulah sebabnya Ia berusaha untuk taat kepada Allah Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib. Kalau Tuhan Yesus tidak mengasihi Bapa, Ia tidak akan melakukan kehendak Bapa dengan sempurna. Hal ini memberi pelajaran yang sangat mahal bagi kita agar dengan sadar dan sengaja untuk mengasihi Tuhan.
     
    Sebenarnya tidak banyak orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan kasih yang pantas. Kalau untuk pasangan hidup, anak-anak, orang tua, dan obyek lain dalam hidup, seseorang bisa mengasihi secara limpah, mestinya untuk Tuhan bisa diberikan secara lebih berlimpah juga. Tetapi faktanya, sering Tuhan hanya diberi remah-remahnya, bukan kasih yang tulus dalam porsi yang pantas untuk pribadi yang telah memberikan diri-Nya untuk menyelamatkan kita. Banyak orang Kristen telah terbiasa dengan irama mengasihi apa yang kelihatan, yang bisa dirasakan secara jiwani dan fisik. Irama ini kalau sudah menyatu kuat di dalam diri seseorang, maka ia tidak akan pernah bisa lepas sampai menutup mata. Ini berarti ia tidak akan pernah bisa mengasihi Tuhan secara pantas. Kalaupun seorang Kristen bisa menyatakan mengasihi Tuhan dengan mulutnya, sebenarnya ia belum mengerti apa yang dimaksud dengan mengasihi Tuhan itu. Kasihnya kepada Tuhan hanyalah manipulasi perasaan yang dibuat-buat sesaat.
     
    Sebenarnya pengalaman “berkasih-kasihan dengan Tuhan” adalah pengalaman terindah dalam hidup ini. Seharusnya berkenaan dengan hal ini setiap kita mencapai level yang ideal dalam berkasih-kasihan dengan Tuhan. Untuk ini kita harus menetapkan hati untuk mengasihi Dia dan berusaha mewujudkannya dengan perjuangan yang serius. Harus disadari bahwa kekuatan musuh juga berusaha menarik hati orang untuk memberika...
    0 min
  • Tuhan Satu-Satunya Kebahagiaan
    Kekristenan adalah jalan hidup yang hanya bisa dikenakan oleh segelintir orang yang tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia. Dan memang kebahagiaan dunia sangat terbatas. Untuk hal yang bersifat temporal atau bernilai sementara tetapi harus mengorbankan yang abadi adalah suatu kebodohan. Tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia bukan berarti tidak bahagia, justru Tuhan akan menggirangkan kita dengan segala hal yang ada pada kita. Memang pada dasarnya kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Ketika seorang penduduk desa bisa memiliki sebuah sepeda yang dapat membawa kayu bakar dari rumah ke pasar untuk bisa dijualnya, hal tersebut sudah sangat membahagiakan. Sebaliknya, ketika seorang pengusaha di kota besar bisa membeli mobil mewah -tetapi ia tidak merasa puas- maka mobil mewahnya tidak membahagiakan hatinya.
     
    Seseorang merasakan kebahagiaan atau tidak itu tergantung dari cara orang tersebut memandang hidup. Kalau cara pandang hidupnya sudah salah, menganggap yang dapat membahagiakan hatinya adalah sesuatu yang menjadi target, maka ia akan diperbudak oleh sesuatu itu. Penduduk desa tersebut sebenarnya juga diperbudak oleh sepeda, karena sepeda itulah yang dapat membahagiakan hatinya. Untung hanya sepeda yang kekuatan sosial ekonominya rendah. Kalaupun ada korban, kecil korbannya. Bagaimana kalau targetnya adalah pesawat pribadi, kapal pesiar, rumah mewah seharga di atas 100 milyar, dan lain sebagainya yang memiliki kekuatan sosial ekonomi besar? Maka akan makan korban dalam jumlah yang lebih besar juga. Manusia yang sudah terbelenggu oleh filosofi hidup yang salah akan terus terbelit oleh filosofinya tersebut sampai membunuh dirinya dan membunuh banyak orang. Orang seperti ini tidak dapat mengikut Tuhan Yesus.
     
    Selama orang masih berharap bahwa dunia bisa memberikan hidup yang lengkap, utuh, bahagia, aman, dan nyaman, maka ia tidak akan pernah dapat mengenakan Kekristenan yang sejati. Kekristenan yang dikenakan pasti palsu. Tetapi inilah kodrat manusia pada umumnya. Hal ini diwariskan oleh orang tua kepada kita dan yang dapat diserap dari lingkungan dunia di sekitar. Korban Tuhan Yesus di kayu salib hendak menebus kita dari cara hidup yang salah ini (1Ptr. 1:18). Cara hidup yang benar adalah menyiapkan akal budi, tetap waspada (tidak mengikut jalan dunia) dan meletakkan pengharapan seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepada orang percaya pada waktu penyataan Yesus Kristus (1Ptr. 1:13). Itu berarti, lebih dari menggumuli pencapaian dari segala hal yang diharapkan dapat membahagiakan diri, seorang anak Bapa harus hidup dalam ketaatan kepada Allah Bapa dan menjadi kudus dalam seluruh kehidupannya (1Ptr. 1:14-16).
     
    Hampir tidak ada orang yang berani hidup tanpa memperoleh kebahagiaan dari dunia ini. Bagaimanapun dan dengan cara apa pun, pada umumnya orang akan berusaha memeroleh sesuatu yang bisa dinikmati dalam hidup ini dari dunia dan manusia sekitarnya. Itulah sebabnya semua orang pasti pernah terjerat percintaan dunia; keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17). Hal ini sudah menjadi kodrat yang tidak bisa disangkal dan tidak bisa dihindari, yang sudah melekat dalam kehidupan setiap insan. Fakta ini terjadi didorong oleh suatu pemikiran (sadar atau tidak) bahwa hidup hanya satu kali di dunia ini. Seakan-akan tidak ada lagi kehidupan yang sama seperti di dunia ini setelah kematian. Itulah sebabnya semua orang tidak mau kehilangan kesempatan untuk “hidup” di bumi dengan cara dan keadaan yang sama yang dimiliki orang lain.
     
    Setelah kita mendengar Injil, seharusnya kita memiliki pemahaman yang berbeda dengan mereka. Kita tahu bahwa dunia ini bukan satu-satunya dunia yang manusia arungi. Masih ada dunia atau bumi lain yang Tuhan sediakan bagi kita (Yoh. 14:1-3). Dunia atau bumi kita sekarang ini bukanlah bumi ideal yang dikehendaki oleh Allah. Ini adalah bumi yang sudah rusak,
    0 min
  • Hidup Lebih Penting Dari Makanan
    Dalam Matius 6:25 Tuhan Yesus berkata: “Janganlah khawatir akan hidupmu, …Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Apa maksud Tuhan Yesus mengatakan bahwa “hidup lebih penting dari makanan dan tubuh lebih penting dari pakaian?” Kata “hidup” dalam teks ini adalah psuke (ψυχῇ), yang artinya jiwa. Dalam jiwa ada pikiran, perasaan, dan kehendak. Tuhan hendak menunjukkan bahwa pemeliharan pikiran, perasaan, dan kehendak -yaitu manusia batiniah- lebih penting dari makanan jasmani untuk pertumbuhan fisik (nourishment; Yun. trophes τροφῆς). Dengan pernyataan ini Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja. Maksud Tuhan Yesus dengan pernyataan-Nya tersebut adalah jangan karena makanan jasmani (roti), seseorang mengabaikan pemeliharaan manusia batiniah yang lebih penting, sebab membawa dampak abadi.
     
    Pada umumnya manusia mengusahakan segala sesuatu demi kepuasan jasmaninya. Hal ini seperti orang-orang Roma yang gelojoh (serakah atau rakus). Mereka makan sekenyang-kenyangnya, kemudian dimuntahkan dan makan lagi. Tuhan hendak menunjukkan bahwa orang percaya tidak boleh khawatir, karena tidak berkelebihan atau karena kurang puas dengan makanan yang tersedia. Bapa pasti memelihara lebih dari burung di udara. Kekhawatiran di sini adalah kekhawatiran yang sama seperti orang kaya dalam Lukas 12:16-21. Apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus sinkron dengan yang dikemukakan Paulus, asal ada makanan dan pakaian cukup. Hidup bukan untuk makan, tetapi makan untuk hidup.
     
    Tuhan Yesus mengatakan bahwa tubuh lebih penting dari pakaian. Kata “tubuh” di sini adalah soma (σῶμα) dan “pakaian” dalam teks aslinya adalah endumatos (ἐνδύματος) yang artinya jubah luar (outer robe). Dalam hal ini Tuhan mengingatkan kepada manusia yang tidak menggunakan tubuhnya dengan benar. Yang lebih mendandani dirinya dengan jubah luar yang megah dalam pemandangan mata manusia, tetapi tidak menggunakan tubuhnya untuk kemuliaan Allah. Inilah yang dilakukan oleh manusia sejak zaman dahulu; demi penampilan, mereka mengusahakan segala sesuatu bukan bertujuan untuk mengabdi kepada Allah, tetapi demi dirinya sendiri. Jadi “kekhawatiran” di sini adalah kekhawatiran “kurang terhormat,” khawatir kurang berpenampilan menarik. Padahal Tuhan pasti memelihara tubuh yang adalah milik-Nya demi kemuliaan nama-Nya dan kepentingan Kerajaan Allah. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa bunga di padang didandani lebih dari Salomo, maka orang percaya pasti dipelihara lebih dari semua itu. Kalau kekhawatiran orang percaya karena tidak bisa bermegah dengan penampilan, maka berarti ia tidak mengumpulkan harta di surga.
     
    Selanjutnya dalam Matius 6:30 tertulis: “Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” Apa maksud pernyataan Tuhan ini? Kalau rumput fana yang tidak bernilai tinggi dipelihara oleh Allah (seperti juga burung), maka orang percaya akan dipelihara lebih dari semua itu. Tentu pemeliharaan Allah bukan hanya menyangkut kehidupan jasmani yang sementara, sebab manusia adalah makhluk kekal. Pemeliharaan Allah memiliki jangkauan yang lebih luas atau lebih mulia. Sayang sekali, banyak orang Kristen yang berpikir dangkal, mereka memandang Matius 6:30 sekadar janji bahwa Tuhan akan memelihara kehidupan mereka di bumi dengan sempurna (makan dan minum serta pemenuhan kebutuhan jasmani), tetapi mereka tidak melihat rencana Allah di balik pemeliharaan jasmani tersebut.
     
    Pemeliharaan Allah atas kehidupan jasmani anak-Anak Bapa dimaksudkan agar mereka bisa menyelenggarakan maksud dan tujuan hidup sebagai orang percaya, yaitu mengumpulkan harta di surga dan mendahulukan Kerajaan Allah tanpa gangguan atau tanpa hambatan (Mat. 6:19-21,33). Dengan demikian pemenuhan kebutuhan jasmani bukanlah tujuan atau goalnya.
    0 min
  • Kkekhawatiran Yang Positif
    Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus menyinggung mengenai hal kekhawatiran (Mat. 6:25-34). Dari teks-teks tersebut disimpulkan agar kita tidak khawatir. Kekhawatiran menjadi kata yang selalu berkonotasi negatif. Mengapa demikian? Sebab hal ini terjadi karena banyak orang tidak memperhatikan konteks ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai kekhawatiran tersebut. Konteks percakapan pada waktu itu adalah agar orang percaya tidak mengumpulkan harta di bumi, dan memindahkan hati mereka di Kerajaan Surga. Nasihat bahwa kekayaan bisa menggelapkan pengertian dan puncaknya adalah agar setiap orang mengabdi hanya kepada Tuhan; kepada Tuhan saja atau tidak sama sekali. Bila direlasikan dengan konteks tersebut, maka segala kepentingan kita harus ditiadakan, selain untuk mempersiapkan diri memasuki kehidupan yang sesungguhnya nanti di surga, dengan mempertajam pengertian untuk mengenal kebenaran dan kepentingan untuk mengabdi kepada Tuhan. Tentu saja Tuhan sendiri akan mendukung penuh kehendak-Nya ini terwujud dalam kehidupan orang percaya.
     
    Apa sebenarnya kekhawatiran itu? Kekhawatiran adalah perasaan terancam oleh suatu hal atau oleh sesuatu yang bisa atau akan terjadi menimpa dirinya sehingga menimbulkan ketidaktenangan dalam hati. Bisa terjadi artinya bisa benar-benar terjadi atau tidak. Jika demikian berarti kekhawatiran bisa membuat seseorang bereaksi menghindarkan diri dari ancaman tersebut. Jadi, kalau tidak ada kekhawatiran sama sekali, maka hal tersebut akan membuat seseorang menjadi tidak waspada terhadap suatu keadaan yang bisa terjadi menimpa dirinya. Tuhan Yesus berkata: “Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Mat. 6:25). Ini bukan berarti kekhawatiran selalu negatif, harus diingat bahwa kekhawatiran membangkitkan kewaspadaan dan sikap berjaga-jaga.
     
    Kalau dilihat dari konteksnya, maksud ayat tersebut adalah agar orang percaya mencari nafkah, makanan, dan pakaian bukan demi makanan dan pakaian itu sendiri. Tetapi demi agar maksud Tuhan menempatkan manusia sebagai orang percaya, diwujudkan. Sehingga dalam hal ini seseorang tidak boleh memiliki target duniawi atau jasmani. Targetnya adalah mengumpulkan harta di surga, membangun pengertian untuk mengenal kebenaran, dan mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan (Mat. 6:19-24). Kekhawatiran yang salah adalah perasaan terancam terhadap sesuatu lebih dari kekhawatirannya tidak memiliki harta surgawi dan terbuang dari hadirat Allah. Orang-orang yang memiliki kekhawatiran yang salah tidak akan menghargai nilai-nilai kekekalan atau nilai-nilai rohani.
     
    Adalah suatu kesalahan kalau dikesankan secara terselubung atau terang-terangan kepada jemaat bahwa Tuhan pasti memelihara hidup orang percaya, tetapi di lain pihak mengabaikan tanggung jawab untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan. Seakan-akan dengan pernyataan Tuhan Yesus agar tidak khawatir merupakan janji bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan secara otomatis. Dalam hal ini pengertian agar orang percaya tidak khawatir harus dipahami dengan benar. Dalam Matius 6:25-34 Tuhan Yesus sama sekali tidak mengajarkan bahwa orang percaya boleh “percaya saja” (aktivitas pikiran), maka Bapa akan memelihara tanpa syarat. Hal ini akan merusak kinerja dan mental orang percaya.
     
    Tuhan Yesus menunjuk burung di langit dan bunga bakung di ladang sebagai contoh. Burung di langit adalah burung yang pergi mencari nafkah dan bunga bakung di ladang adalah bunga hidup yang terus menyerap makanan, tak berhenti bekerja. Tuhan hendak mengajarkan bahwa ada wilayah yang harus dipenuhi oleh manusia, seperti burung terbang di langit mencari makanan dan seperti bunga bakung yang menyerap makanan. Tetapi ada wilayah Tuhan yang tidak bisa dikontrol dan dikendalikan oleh manusia.
    0 min
  • Bukan Kelemahan
    Murid-murid Yesus dan orang-orang yang selama ini mengikut Tuhan Yesus dan berharap dapat mengubah nasib mereka, melihat bahwa Tuhan Yesus tunduk kepada kekuatan Roma, maka semangat mereka menjadi patah. Selama ini mereka mengikut Tuhan Yesus dengan mempertaruhkan segenap hidup mereka, meninggalkan segala sesuatu adalah karena mereka hendak mengubah nasib atau keadaan hidup mereka. Mereka mau menjadi orang terhormat di mata manusia. Dengan ditangkapnya Tuhan Yesus, disiksa, dan dihukum mati, maka mereka menjadi tawar hati dan meninggalkan Tuhan Yesus. Murid-murid yang terutama -yang selama itu ada di samping Tuhan Yesus- begitu kecewa sampai mereka bermaksud kembali ke profesi semula, di antaranya sebagai penjala ikan. Bisa dibayangkan bagaimana dengan profesi Matius sebagai pemungut cukai, tidak mudah ia dapat menduduki kembali jabatan yang pernah didudukinya. Langit hidup mereka menjadi runtuh. Kebersamaan dengan Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun yang penuh harapan, sirna sekejap. Mereka memandangnya seperti sebuah mimpi sangat buruk. Sulit bagi mereka menerima kenyataan itu.
     
    Hal itu terjadi sebab mereka tidak tahu rencana Allah dan kebenaran-Nya. Mereka memaksakan rencana mereka sendiri dan membangun kebenaran mereka sendiri pula. Pada dasarnya mereka tidak mengikut Tuhan Yesus, tetapi mereka bermaksud agar Tuhan Yesus mengikut mereka. Kejayaan yang mereka maksudkan dan harapkan adalah kejayaan dan kemuliaan yang berbeda dengan konsep Tuhan. Hal ini memberi pelajaran yang mahal bagi kita orang percaya sekarang ini. Inti Kekristenan adalah mengenakan cara berpikir Tuhan. Ketidakberdayaan-Nya menghadapi kekuatan agama Yahudi dan Roma bukanlah sebuah kekalahan atau kelemahan, justru itulah kekuatan.
     
    Tuhan Yesus bukan tidak sanggup membela diri dengan menurunkan malaikat dari surga, tetapi Ia memilih menderita sampai mati di salib. Dengan cara itulah Ia memuliakan Allah Bapa. Itulah kekuatan. Sesuatu disebut sebagai kekuatan kalau melakukan apa yang Allah Bapa kehendaki, walau di mata manusia dianggap sebagai kelemahan dan ketidakberdayaan. Dalam kehidupan orang percaya yang benar, kita diajar untuk memberi diri mengikuti jejak Tuhan Yesus dengan menaati kehendak-Nya. Walaupun untuk itu kita dianggap lemah, tidak berdaya, dan bodoh. Dengan mengikuti kehendak Bapa, kita bisa dianggap tidak beruntung dibanding mereka yang berani berlaku curang. Demi kebenaran kita harus berani tidak memiliki kelimpahan materi seperti mereka yang ada di jalan orang fasik. Bahkan kita harus berani tidak memiliki apa-apa demi kehidupan yang akan datang. Untuk ini, cara berpikir kita harus sesuai dengan cara berpikir Tuhan.
     
    Dengan berpikir menggunakan cara berpikir Tuhan, maka prinsip-prinsip hidup kita akan bertolak belakang dengan cara berpikir dunia. Bagi mereka yang dianggap kemegahan adalah kekayaan dunia dan segala kehormatannya. Tetapi bagi orang percaya yang bernilai tinggi adalah ketaatan kepada kehendak Allah, apa pun keadaannya. Dalam hal ini kemegahan hidup bukanlah diukur dari penampilan lahiriah dan duniawi. Betapa kontrasnya prinsip Kekristenan yang berbeda dengan prinsip manusia pada umumnya. Padahal setiap hari –begitu seseorang membuka mata- yang dikejar orang dunia adalah kemegahan fisik atau materi. Mereka tidak mengerti bagaimana melakukan kehendak Tuhan. Mereka tidak akan mengerti kalau ada orang-orang yang tekun belajar kebenaran Firman Tuhan, menyediakan diri bertemu dengan Tuhan setiap hari dan berusaha menjaga kesucian hidupnya.
     
    Tidak sedikit orang-orang yang tidak mengerti kebenaran memandang orang-orang Kristen yang berbuat demikian adalah orang-orang fanatik yang picik atau dianggap sebagai korban indoktrinasi hamba-hamba Tuhan tertentu. Mereka adalah juga orang Kristen, tetapi tidak fanatik seperti itu. Mereka memandang bahwa diri mereka sudah menjadi Kristen yang proporsional. Bila berbeda dengan pandangan Kekristenan mereka,
    0 min
  • Sesuai Dengan Porsinya
    Kualitas hidup Kekristenan yang baik, ditandai dengan kesibukan hidup bersama dengan Tuhan. Tuhan begitu nyata dalam hidup mereka, dan pengaruh dari pergaulannya dengan Tuhan begitu kelihatan dan dirasakan oleh orang di sekitarnya. Tuhan tidak akan berurusan dengan orang yang tidak mau berurusan secara benar dengan Tuhan. Banyak orang Kristen yang tidak berurusan secara benar dengan Tuhan, mereka adalah orang-orang yang memandang hidup ini secara keliru. Hal ini disebabkan oleh karena miskinnya pemahaman mengenai kebenaran. Mereka tidak mengerti arti menjadi anak tebusan yang harus dimiliki Tuhan dan hidup sepenuhnya bagi rencana keselamatan. Mereka sibuk bagaimana memiliki dunia ini dan menikmatinya. Bagi mereka cara hidup seperti itu wajar, padahal itu bukan cara hidup anak-anak Allah. Mereka pasti tidak menghormati Tuhan secara pantas. Kalaupun mereka berurusan dengan Tuhan, itu karena mereka hendak menggunakan Tuhan untuk kepentingan pribadinya.
     
    Orang-orang Kristen seperti itu diajar bahwa Tuhan Yesus datang untuk memutuskan berbagai kutuk untuk menyingkirkan segala rintangan hidup agar orang Kristen hidup makmur. Pembicara-pembicara seperti itu membangun sosok Tuhan yang tidak diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam Injil-Nya. Hal ini sudah terjadi pada abad mula-mula Kekristenan muncul (2Kor. 11:2-4; Gal. 1:9-10). Inilah nabi-nabi palsu yang sekarang sangat “sukses” dalam pelayanan gereja. Kalau pemberitaan Firmannya salah, maka dibangunnyalah pengalaman-pengalaman “fiktif” yang sangat subyektif dan cirinya adalah tidak logis dan mistis. Tentu ajaran mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah. Karena jemaat tidak mengerti kebenaran, mereka tidak tahu kalau ternyata telah dibohongi dan diperdaya. Tidak heran kalau gereja-gereja seperti ini penuh dengan kesaksian-kesaksian mengenai pengalaman dengan Tuhan yang “mengagumkan.”
     
    Orang-orang Kristen seperti di atas begitu mudah mengatakan Tuhan memberikan visi-visi, Tuhan berbicara, Tuhan menyatakan diri sehingga bisa bertemu langsung dengan Tuhan, dan lain sebagainya. Ironisnya mereka tidak memfokuskan diri kepada langit baru dan bumi yang baru. Mereka pasti berusaha mengesankan diri mereka sangat dekat dengan Tuhan dan istimewa di hadapan-Nya dengan bukti secara materi diberkati atau memiliki banyak, atau dengan demonstrasi mukjizat kuasa Allah. Akhirnya kental nuansa munculnya sosok yang dikultuskan dan usaha untuk menunjukkan bahwa gerejanya adalah gereja paling hebat, lebih suci dan benar dibanding dengan gereja lain. Sampai pada taraf seakan-akan hanya dirinya dan gerejanya yang paling benar.
     
    Kalau kita berjalan dengan Tuhan, maka akan sangat mudah mengenali kalau ada orang yang mengaku memiliki pengalaman dengan Tuhan secara fiktif. Semakin spektakuler pengalaman dengan Tuhan yang disaksikan, maka semakin harus dicurigai, sebab Tuhan lebih banyak berurusan dengan anak-anak-Nya secara wajar dan natural dalam kehidupan setiap hari dalam pengalaman konkret. Semakin seseorang dewasa rohani dan mengenal kebenaran yang murni dari Alkitab, akan semakin mengalami Tuhan secara riil setiap hari melalui pengalaman biasa setiap hari. Kalau orang-orang percaya berkumpul bersama dalam pertemuan-pertemuan di gereja, maka yang terpenting harus diadakan adalah pemberitaan Firman yang benar, sebab dari hal ini mereka belajar bagaimana memandang hidup dengan benar. Sebab inilah panduannya. Panduan yang benar akan membawa seseorang pada pengalaman yang benar dengan Tuhan. Pengalaman yang benar ini seperti “menghidupkan Tuhan” dalam kehidupannya. Ini bukan berarti Tuhan mati.
     
    Tuhan adalah Allah yang hidup, tetapi seberapa banyak pengalaman dengan Dia tergantung masing-masing individu. Ini bukan karunia, tetapi tergantung pilihan dan keputusan masing-masing individu. Tuhan tidak diskriminatif. Banyak orang berpikir bahwa nyata tidaknya Tuhan dalam kehidupan seseorang tergantung karunia dan kerelaan hati Tuh...
    0 min
  • Mencari Ketenangan
    Semua manusia pasti mencari apa yang disebut sebagai ketenangan, artinya sebuah keadaan tanpa masalah yang menyakitkan. Ternyata pencarian itu tidak pernah berakhir, sebab ketenangan itu tidak pernah diperoleh. Sebab mereka melakukan kesalahan seperti orang kaya yang tertulis dalam Lukas 12:16-20. Kesalahan itu disebabkan dua prinsip hidup, pertama adanya filosofi “aku ingin” atau “aku mau.” Kedua, “bersenang-senanglah, hai jiwaku.” Pencarian ketenangan semakin jauh bahkan tidak akan memeroleh, kalau hasrat “aku ingin atau aku mau” semakin kuat dan harapan untuk memperoleh ketenangan jiwa berlandaskan fasilitas tersebut tidak pudar. Dengan cara inilah manusia tertipu oleh dunia dan kuasa kegelapan. Untuk mendapatkan perhentian, prinsip hidupnya harus diubah, dari “aku ingin” diganti dengan “apa yang Tuhan kehendaki.” “Bersenang-senanglah, hai jiwaku” menjadi “senangkan hati-Mu ya, Tuhan.” Di singkatnya hidup ini, yang harus diutamakan adalah apa yang Tuhan kehendaki, ini sama dengan “jika Tuhan menghendaki.” Semua yang dilakukan harus sesuai dengan keinginan Tuhan (Yak. 4:13-17). Dalam hidup ini tidak ada yang baik selain “membuat hati Tuhan senang.” Sebab memang manusia diciptakan untuk kesenangan-Nya.
     
    Zaman anugerah adalah zaman di mana Tuhan membuka tangan-Nya untuk menyambut manusia untuk masuk menjadi anggota keluarga-Nya. Hendaknya tidak salah dimengerti, seakan-akan zaman anugerah adalah zaman di mana surga mudah dicapai tanpa usaha untuk berkenan di hadapan Tuhan. Hendaknya orang percaya tidak berpikir dangkal seakan-akan dengan percaya dalam pikiran, otomatis dapat dibenarkan. Pembenaran hanyalah oleh iman (Rm. 3:24,28, 5:1,9; dan lain-lain). Sebenarnya, iman artinya penyerahan diri kepada obyek yang dipercayai. Obyek itu adalah Tuhan Yesus. Pembenaran bukan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena mengikut Tuhan Yesus. Bagi jemaat Roma yang mengalami aniaya hebat, mereka tidak memiliki Taurat dan korban penghapus dosa dengan darah domba, tetapi mereka memiliki Tuhan Yesus yang menebus dosa dan mengikut jejak-Nya, yaitu melakukan kehendak Bapa. Mereka rela menderita seperti yang Tuhan Yesus alami dan mengenakan gaya hidup menyukakan hati Bapa seperti Tuhan Yesus. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa orang yang dibenarkan memiliki ciri: prinsip dan gaya hidup hidup seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus.
     
    Tuhan Yesus mengatakan bahwa barangsiapa mengikut Dia harus melepaskan diri dari segala miliknya. Segala milik ini dapat diwakili oleh satu kata: “keinginan.” Sekilas hal ini mustahil, tetapi kalau Tuhan memberikan perintah, maka Tuhan akan memampukan untuk melakukannya. Untuk ini, tidak ada yang dapat melatih dan menolong orang percaya untuk dapat melakukannya selain Tuhan Yesus, oleh karenanya Tuhan berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat. 11:28-29). Kelegaan di sini adalah perhentian (Yun. anapauso; ἀναπαύσω), yang artinya tidak memiliki keinginan apa-apa lagi, kecuali hidup seperti yang Tuhan Yesus peragakan. Untuk itu Tuhan Yesus berkata: “Belajarlah pada-Ku.” Belajar apa? Kalau hanya menjadi orang baik tidak perlu belajar dari Tuhan Yesus, Taurat bisa membantu dan memandu. Tuhan Yesus mengajarkan gaya hidup-Nya. Ketika seseorang mengikuti gaya hidup Tuhan Yesus, maka ia menjadikan Tuhan Yesus sebagai perhentiannya. Jadi, perhentian orang percaya bukan hari atau sesuatu yang lain, tetapi Tuhan Yesus sendiri.
     
    Banyak pendeta menawarkan kelegaan yang keliru. Mereka mengajarkan bahwa kelegaan tersebut sekadar terlepas dari masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Merasa lega sudah sembuh dari sakit, lega sudah memiliki rumah pribadi, lega sudah mendapat penghasilan yang baik, lega sudah mendapat jodoh, lega karena masalah berat sudah selesai,
    0 min
  • Perselingkuhan Rohani
    Supaya keselamatan bisa terwujud dalam kehidupan orang Kristen, gereja dan pelayanan tidak boleh menjadi bisnis untuk suatu keuntungan dalam bentuk apa pun, kecuali mengubah cara berpikir jemaat agar terbuka terhadap kebenaran dan bisa diselamatkan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kebenaran itulah yang memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Kemerdekaan di sini adalah kemerdekaan dari percintaan dunia. Dalam hal ini diingatkan bahwa seorang yang menjadi rohaniwan belum tentu sudah merdeka dari percintaan dunia. Padahal percintaan dunia adalah perselingkuhan dengan dunia. Percintaan dunia artinya masih ingin hidup wajar seperti manusia lain, bahkan kalau bisa melebihi mereka dalam harta dan kehormatan.
     
    Orang-orang seperti di atas ini mencari tempatnya di mata manusia lain di bumi, tetapi tidak mencari tempatnya di hati Tuhan. Baginya, mencari tempat di hati Tuhan adalah abstrak, bukan realitas hidup hari ini. Padahal Tuhan Yesus sendiri yang berkata: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa dan akal budi.” Dengan penjelasan lain, Tuhan Yesus menghendaki agar orang percaya menemukan tempatnya di hati Tuhan, sebab kalau seseorang mengasihi Tuhan dengan cara demikian berarti ia menjadikan Tuhan sebagai kekasih hatinya. Dan orang yang menjadikan Tuhan sebagai kekasih hatinya pasti menjadi kekasih Tuhan. Menjadi kekasih Tuhan inilah yang harus diusahakan lebih dari mengusahakan segala hal. Inilah aspek lain dari keselamatan, yaitu menjadi jemaat sebagai mempelai wanita-Nya dan Kristus sebagai mempelai prianya. Pertemuan antara dua pihak ini akan terjadi di suatu acara yang Alkitab katakan sebagai “pesta Anak Domba.” Ciri dari orang percaya yang menjadi mempelai Tuhan Yesus adalah sangat merindukan perjumpaan itu.
     
    Jadi, dapat ditegaskan bahwa orang yang merdeka dari percintaan dunia berarti tidak memberhalakan sesuatu atau tidak selingkuh terhadap Tuhan atau tidak memiliki kekasih yang lain. Kemerdekaan itulah yang membuat seseorang dapat membangun hubungan batin atau hati dengan Allah. Selama ada perselingkuhan, maka seseorang tidak akan mendapat tempat di hati Tuhan, sebab Tuhan pun tidak mendapat tempat yang pantas dalam hidupnya. Orang-orang ini tidak dapat menjadi mempelai Tuhan. Inilah yang ditakutkan Paulus, pikiran jemaat disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus, seperti Hawa diperdaya oleh ular (2Kor. 11:2-4). Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang ada dalam percintaan dengan dunia, sama seperti manusia pertama memetik buah yang dilarang oleh Allah. Hal itu jangan sampai kita lakukan. Kesempatan untuk hidup hanya satu kali. Seharusnya kita memetik buah pohon kehidupan kebenaran Firman Tuhan yang memerdekakan dan menyelamatkan.
     
    Selama masih ada kekasih lain, maka Tuhan tidak dapat menjadi kekasih hati seorang Kristen. Konyolnya dalam kehidupan banyak orang Kristen, Tuhan dijadikan alat untuk memperoleh atau semakin melekat dengan kekasih lain tersebut. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Siapa kekasihnya, kepadanya seseorang mengabdi. Kalau masih ada kekasih lain itu berarti berhala. Betapa hal ini sangat mendukakan hati Tuhan. Tetapi banyak orang Kristen menganggap cara hidup ini adalah cara hidup yang wajar, sebab memang beragama atau bertuhan dimaksudkan agar memperoleh bantuan dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan di bumi ini. Inilah standar hidup orang yang beragama. Tetapi Kekristenan tidaklah demikian. Menjadi Kristen berarti dirancang menjadi kekasih Tuhan.
     
    Tuhan menunjukkan bagaimana menjadi kekasih Tuhan. Tidak semua orang memiliki kesempatan menjadi kekasih Tuhan. Kalau hal ini disia-siakan, betapa celakanya. Oleh sebab itu orang percaya harus mengusahakan dengan sangat serius lebih dari mengusahakan segala sesuatu. Sebab Tuhan tidak menghendaki hubungan antara umat dengan Dia seperti bertepuk sebelah tangan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…