Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Agar Tidak Menuai Kebinasaan
    Terkait dengan tatanan Allah mengenai hukum tabur tuai, dengan tegas firman Tuhan mengatakan: … Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Mat. 5:45). Pernyataan Tuhan ini memberi indikasi jelas bahwa berkat jasmani diberikan kepada semua orang secara adil. Matius 5:45 ini hendak menunjukkan bahwa Allah dalam keadilan-Nya memberi kesempatan yang sama kepada semua orang dalam meraih rezeki atau berkat jasmani. Banyak pendeta dan gereja mengesankan bahwa orang percaya memiliki hak khusus dalam meraih berkat jasmani. Hal ini terbangun dari cara berpikir yang salah, di mana mereka menyamakan orang Kristen dengan bangsa Israel yang memang hidupnya berorientasi pada berkat jasmani. Sangatlah keliru kalau Tuhan mengistimewakan orang percaya dalam hal berkat jasmani. Kalau Tuhan mempermudah orang Kristen dalam memperoleh berkat jasmani dibanding orang non-Kristen, berarti Tuhan merusak moral dan etos kerja orang Kristen tersebut. Dalam hal ini kita harus memahami bahwa orang percaya juga dipanggil untuk bekerja keras dan gigih di tengah-tengah marketplace.
     
    Secara prinsip pada umumnya, hidup nafkah seseorang tergantung pada “ketekunan” seseorang mengumpulkannya. Seseorang memikul resiko dari perbuatannya. Oleh sebab itu salahlah kalau gereja menjanjikan bahwa dengan ke gereja dan doa para pendetanya maka rezeki lebih lancar atau berkat jasmani lebih banyak. Berkat jasmani banyak atau sedikit dipengaruhi oleh hal-hal ini: Pertama, ketekunan seseorang bekerja. Kedua, kepercayaan Tuhan kepada masing masing berdasarkan kebutuhan. Berdasarkan kebutuhan artinya, Tuhan mengerti porsi yang masing-masing kita butuhkan. Oleh sebab itu tidak semua permintaan dikabulkan. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita. Ketiga, tergantung kapasitas seseorang menerima berkat tersebut. Tuhan tahu porsi yang mampu seorang anak Tuhan dapat menanggungnya. Kalau seorang Kristen dapat menjadi rusak dengan adanya berkat jasmani yang berlimpah, maka Tuhan menahan berkat jasmaninya tersebut dan memberi porsi secukupnya. Kalau berkat terlalu banyak dan hal itu mengganggu pertumbuhan iman maka Tuhan tidak akan memberinya. Tuhan tahu ukuran kita masing-masing dan Tuhan memberi sesuai dengan porsinya.
     
    Seperti yang disinggung di atas bahwa manusia memikul resiko atas perbuatannya, ini berarti bahwa akibat perbuatan individu harus ditanggung individu tersebut. Tuhan tidak akan membiarkan suatu kesalahan tidak ada akibatnya, sebab ini berarti melanggar prinsip keadilan Tuhan. Misalnya, seorang yang menikah lebih dari satu orang -walaupun sekarang ia sudah bertobat- tetapi akibat pernikahan poligaminya masih dialami. Seorang yang tidak menjaga kesehatan akan menanggung beban kelemahan tubuh. Seorang yang terlibat dengan prostitusi dapat terkena penyakit kelamin, walau sudah minta ampun. Ini bukan berarti tidak ada kemurahan, memang kadang-kadang Tuhan memberi kemurahan kepada orang-orang tertentu demi kepentingan-Nya. Namun hal ini tidak berlaku kepada semua orang. Seorang pengkhotbah yang tidak mempersiapkan diri dengan baik, baik pendidikan formal maupun informal, walau minta pengurapan pada waktu hendak berkhotbah tetap kualitasnya tergantung persiapan diri. Kalau suatu hari Tuhan memberi kemurahan itu demi kepentingan-Nya, bukan karena doanya. Demikian pula kalau seseorang malas, ia pasti akan menuai kemiskinan.
     
    Bagaimana dengan orang-orang Kristen yang sudah terlanjur melakukan banyak kesalahan di masa lalunya? Apakah tidak ada solusi sama sekali untuk dapat keluar dari kubangan kegagalan masa lalunya tersebut? Bagi mereka yang sungguh-sungguh mau mengikut Tuhan Yesus, bersedia masuk dalam proses keselamatan -artinya bersedia dikembalikan ke rancangan Allah semula- maka semua keadaan yang tidak menyenangkan pun akan dapat menjadi sarana Tuhan dalam membentuk seseorang.
    0 min
  • Kehilangan Hak Untuk Hidup Bagi Diri Sendiri
    Dengan memahami hukum kehidupan mengenai tabur tuai, maka hendaknya kita tidak berpikir bahwa kita harus selalu menerima doa dari pendeta untuk diberkati Tuhan guna kehidupan nafkah jasmani. Seakan-akan doa pendeta bisa membatalkan hukum tabur tuai. Walaupun hidup sembarangan dalam pola makan dan pola hidup, asalkan didoakan pendeta maka bisa mengalami kesembuhan. Harus dipahami bahwa bagi orang percaya yang dewasa, doa adalah dialog, bukan sekadar permintaan. Allah sudah menyediakan berkat bagi setiap individu. Tuhan Yesus menyatakan bahwa burung di udara saja Dia pelihara, apalagi orang percaya (Mat. 6:25-34). Orang percaya harus mengerti bahwa yang harus dilakukan orang percaya adalah pilihan untuk bekerja rajin, mengatur waktu dengan baik, menghindarkan kegiatan yang tidak perlu dilakukan, hemat, jaga kesehatan dengan pola makan dan hidup yang baik, dan lain sebagainya. Segala sesuatu yang dilakukan pasti ada tuaiannya.
     
    Sebagai anak-anak Tuhan yang memiliki jaminan pemeliharaan dan hak istimewa dari Bapa, yang kita butuhkan adalah tanggung jawab, bukan doa pendeta atau orang suci manapun. Keluarlah dari keadaan terpuruk sekarang ini. Pasti bisa! Kita di “design” bukan untuk gagal, menjadi orang miskin, dan menjadi beban bagi orang lain. Keputusan dan pilihan yang salahlah yang mengakibatkan keadaan kita hari ini. Jangan berpikir bahwa nasib atau keadaan hidup di bumi ini sudah ditentukan oleh Allah dan Allah bisa merubahnya jika kita berdoa memohon pertimbangan-Nya. Semua ditentukan oleh keputusan dan tindakan kita sendiri.
     
    Dewasa ini banyak orang Kristen yang berusaha menikmati fasilitas sebagai orang percaya dengan memanfaatkan kasih dan kuasa Tuhan. Tentu Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih dan berkuasa. Fasilitas ini disediakan bagi kita, anak-anak Tuhan. Tetapi ini bukan berarti bahwa kita dapat memanfaatkan kasih dan kuasa Tuhan semau-mau kita sendiri. Harus dipahami bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat. Tuhan memiliki kebijaksanaan yang tidak dapat dipengaruhi atau diubah oleh kuasa manapun. Tuhan tidak akan pernah dapat kita peralat atau kita manfaatkan sesuka kita sendiri. Tuhan adalah Majikan yang harus dituruti kehendak-Nya, bukan sebaliknya, agar menuruti kehendak kita. Anak tebusan adalah pribadi-pribadi yang dimiliki oleh Tuhan. Segala sesuatu yang dilakukan harus dilakukan bagi Tuhan (1Kor 10:3; Flp. 1:21; 1Kor. 5:14-15). Dalam hal ini orang yang telah ditebus oleh darah Yesus adalah orang-orang yang telah kehilangan seluruh hak hidupnya untuk hidup bagi diri sendiri.
     
    Cacat mental banyak orang dewasa ini adalah mencoba menyelesaikan semua masalah dengan “karunia”. Ini terjadi oleh karena merasa diri sebagai anak Tuhan yang memiliki jaminan “luar biasa” dari Tuhan. Ya, “mentang-mentang” anak Tuhan. Hal ini dikemukakan bukan mengecilkan arti status sebagai anak Tuhan yang pasti dipelihara Tuhan sempurna. Namun bukan berarti kita dapat mengharapkan segala penyelesaian masalah dengan “karunia” atau “mukjizat”. Untuk ini kita harus dapat membedakan antara “karunia” dan “tanggung jawab”.
     
    Banyak hal dalam hidup ini yang harus kita selesaikan dengan upaya, tenaga, dan kerja keras kita sendiri, inilah yang disebut dengan tanggung jawab. Adapun hal-hal yang tidak mungkin bisa kita lakukan tanpa campur tangan Tuhan, di sini yang kita butuhkan adalah karunia. Hal-hal yang tidak dapat kita kerjakan tanpa campur tangan Tuhan sepenuh melalui karunia-karunia-Nya adalah hal-hal yang bersangkut paut dengan pekerjaan-Nya, yaitu penerusan karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Tetapi perlu dicatat di sini bahwa karunia pun diberikan kepada seseorang berdasarkan kepercayaan Tuhan kepada kita, dan kepercayaan tersebut tergantung dari kapasitas diri kita.
     
    Sering kita dengar pendeta berdoa agar Tuhan memberkati umat-Nya dengan berkat-berkat-Nya, tetapi mereka tidak mengajak umat dengan tegas untuk bekerja keras, giat,
    0 min
  • Hakikat Kerja
    Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Allah yang memiliki keberadaan seperti Allah sendiri, segambar dengan Allah (Imago Dei). Salah satu hakikat yang dimiliki Allah adalah bahwa Allah adalah Allah yang bekerja. Allah bukanlah Allah yang tidak berkehendak, bukan Allah yang diam tanpa karya. Ia adalah Allah yang aktif berkarya dan bekerja. Demikianlah sebagaimana Allah adalah Allah yang bekerja, maka manusia adalah manusia yang bekerja. Kerja merupakan unsur hakikat manusia yang dijadikan menurut gambar Allah (The nature of man is a worker). Pandangan ini mempunyai arti yang sangat penting bagi etika kerja dan bagi etos kerja. Berangkat dari pandangan ini dibangunnyalah konsep etos kerja menurut kacamata Kristen dan dapatlah kita memiliki pijakan untuk menolak segala bentuk konsep etos kerja dan etika kerja menurut agama-agama dan filsafat pada umumnya.
     
    Oleh karena kerja adalah suatu unsur hakikat manusia, maka kerja itu juga merupakan perintah Allah. Allah dapat memerintahkan manusia untuk bekerja sebab manusia memiliki potensi dan kodrat demikian. Manusia adalah pekerja, maka bumi ini diciptakan Tuhan dalam keadaan yang “harus masih diteruskan”. Manusia menerima mandat dari Tuhan untuk mengelola bumi ini (Kej. 2:15). Ini bukan berarti Allah tidak mampu menyelesaikan atau meneruskan pekerjaan-Nya. Di sini Allah melibatkan manusia sebagai pekerja untuk bekerja mengelola hasil karya-Nya. Bila tidak demikian, yaitu diadakannya peluang untuk bekerja, maka berarti Allah membunuh hakikat manusia itu sendiri.
     
    Oleh karena manusia yang diciptakan Allah adalah seorang pekerja, maka kerja tentu mempunyai tempat di dalam rencana Allah yang agung. Dunia ini diciptakan dalam keadaan yang belum dikerjakan, memerlukan tangan manusia yang harus mengelolanya (Kej. 1:27-28; 2:5). Oleh sebab itu hendaknya kita tidak boleh berpikir dan membayangkan bahwa ketika Adam dan Hawa di Eden mereka hanya makan minum tanpa kerja. Ketika manusia memberi nama binatang, yaitu tatkala Allah membawa semua binatang untuk dinamai oleh manusia, Alkitab membuktikan bahwa di Eden pun manusia sudah mulai bekerja (Kej. 2:19-20). Perintah kepada manusia di dalam Kejadian 2:15 untuk mengelola bumi merupakan bukti nyata bahwa manusia sudah berkarya sejak di dalam Eden. Inilah yang membedakan manusia dari hewan atau makhluk lain. Hewan atau makhluk lain bergerak hidup hanya sekadar memenuhi siklus kehidupan sesuai dengan habitatnya. Tetapi manusia bekerja dengan kerelaan, kesadaran, dan kesengajaan sebagai pengabdian kepada Tuhan, sebagai kawan sekerja Allah yang sehakikat dengan-Nya dalam kerja.
     
    Sekalipun manusia sudah jatuh di dalam dosa, tetapi perintah untuk kerja ini tidak pernah dibatalkan Tuhan. Hukum yang ke-8 yang berbunyi: “Jangan mencuri”, adalah salah satu signal yang jelas bahwa manusia bukan saja dipanggil untuk menghargai milik orang lain, tetapi ia juga harus bekerja mencari “milik” dan nafkah dari keringat dan tenaganya sendiri. Oleh sebab itu barangsiapa tidak mau bekerja padahal ia mampu bekerja, maka ia telah melanggar perintah-Nya dan berbuat dosa kepada Tuhan serta menyangkali hakikatnya sendiri. Seorang yang menolak bekerja berarti tidak menerima dirinya sebagai manusia dengan kebesarannya sebagai manusia yang berhakikat seperti Tuhan, yaitu “oknum yang bekerja”.
     
    Dalam hal ini kita dapat memperoleh kesimpulan lain bahwa kemalasan adalah suatu dosa. Oleh karenanya dalam Amsal, Salomo menasihatkan agar kita belajar dari semut. Semut yang rajin dan giat bekerja rupanya dapat menjadi ilustrasi untuk menunjukkan bahwa manusia harus rajin dan giat bekerja (Ams. 6:6; 30:25). Dalam hal ini kita patut belajar ketekunan dan kerajinan bekerja dari semut. Semut dalam konteks ini dapat menjadi lambang pekerja yang tekun dan giat. Jadi bagi manusia, kemalasan adalah suatu kejahatan besar dalam masyarakat.
    0 min
  • Menabur Yang Benar
    Satu hal pasti yang harus dipahami dan disikapi dengan serius adalah bahwa Tuhan menghendaki agar kita menabur di dalam Roh, maksudnya mengikuti kehendak Allah dengan sempurna. Menabur dalam roh artinya hidup sesuai dengan kehendak Allah dengan sempurna, yang karenanya maka tentu saja akan menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22). Tetapi sebaliknya, seseorang yang menabur dalam daging, tentu menghasilkan buah-buah daging. Orang yang menghasilkan buah-buah daging dalam hidupnya tidak akan memperoleh bagian dalam Kerajaan Allah (Gal. 5:19-21). Kebenaran firman Tuhan dan hukum-hukum-Nya sebenarnya membawa manusia kepada kehidupan yang berkelimpahan. Hukum tabur tuai ini hendaknya tidak dikaitkan dengan persembahan kolekte dalam gereja. Sebenarnya konteks hukum tabur tuai tidak ada kaitannya dengan persembahan uang. Kalau dihubungkan, maka terjadi kesalahan yang cukup fatal.
     
    Hendaknya kita tidak mengaitkan hukum tabur tuai dengan uang persembahan di gereja. Bila kita menganalisa pesan pembicara di mimbar-mimbar hari-hari ini, hukum “tabur tuai” ini telah diperlakukan semena-mena. Biasanya hukum tabur tuai yang direlasikan dengan persembahan uang atau kolekte dihubungkan pula dengan Matius 12:1-8, mengenai pelipatgandaan 100, 60, dan 30 kali. Diajarkan kepada jemaat bahwa mereka yang memberi kolekte akan memperoleh balasan berlipat kali ganda. Padahal perumpamaan tersebut sebenarnya tidak berbicara mengenai persembahan uang sama sekali. Perumpamaan tersebut berbicara mengenai benih Firman yang ditabur, bukan benih uang. Penyesatan ini mengakibatkan orang Kristen tidak bertanggung jawab secara proporsional dan fokus perhatiannya bukan pada rencana penyelamatan dari Allah. Mereka terperangkap dalam keduniawian dalam sikap oportunis, yaitu memanfaatkan berkat jasmani atau berkat materi dari Tuhan Tuhan untuk kepentingan duniawi. Sebagai akibatnya pula mereka jatuh ke dalam tangan kuasa kegelapan, sehingga rencana Allah mengembalikan manusia kepada rancangan semula-Nya gagal.
     
    Manusia adalah makhluk yang diperangkap atau dibatasi oleh hukum-hukum kehidupan. Salah satu hukum kehidupan adalah bahwa apa yang dialami manusia tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, karena masa kini atau apa yang kita alami sekarang ini mengandung masa lalu atau akibat dari apa yang dilakukan orang tua kita dan yang kita lakukan. Selanjutnya, apa yang akan kita alami serta keturunan atau anak cucu kita alami nanti di hari esok ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Hukum kehidupan ini tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Adalah bijaksana kalau kita tunduk kepada tatanan Tuhan ini, bahwa apa yang kita tabur, kita juga tuai. Kita harus menerimanya tanpa membantah, sehingga kita dapat bersikap antisipatif menyongsong hari esok secara proporsional.
     
    Hawa tidak sungguh-sungguh memerhatikan apa yang dikatakan Tuhan “bahwa ia akan mati”, sehingga dengan sembrono Hawa memetik buah yang dilarang Tuhan. Hal ini sama dengan Esau yang menukar hak kesulungannya dengan sepiring makanan. Daud tidak pernah mempertimbangkan dengan serius bahwa tindakannya mengambil istri Uria dengan membunuh prajurit setia itu berbuntut bencana dalam keluarganya. Gehazi tidak berhitung dengan benar ketika menipu Naaman dengan mengambil persembahan yang mestinya diberikan kepada nabi Elisa, sehingga dirinya dan keturunannya mengidap kusta.
     
    Demikian pula Yudas tidak mempertimbangkan dengan serius bahwa akhirnya ia kehilangan hak istimewanya menjadi pengiring Tuhan Yesus. Ia mati bunuh diri hanya karena 30 keping perak, satu jumlah yang sangat kecil. Apa yang dialami bangsa Israel selama hampir 2000 tahun tercerai-berai dari negeri leluhurnya, bahkan pedang mengejar mereka (6 juta orang Yahudi mati pada perang dunia kedua selama 7 tahun, yaitu pada tahun 1939-1945) adalah gema dari keputusan bodoh nenek moyang mereka yang tidak tunduk kepada Yahweh Allah Israel dan pernyataan mereka bahwa mereka bersedia memikul akibat d...
    0 min
  • Hukum Tabur Tuai
    Tatanan Allah yang terkait dengan kehendak bebas bisa disebut sebagai “hukum tabur tuai”. Berpijak pada pernyataan Paulus dalam Galatia 6:7: “Jangan sesat”, dalam teks asli Alkitab ditulis me planasthe (Yun. Μὴ πλανᾶσθε), maka kita harus sungguh-sungguh berhati-hati terhadap fakta penyesatan berkenaan dengan hukum ini. Dalam terjemahan Alkitab New International Version diterjemahkan be not deceive, dalam terjemahan Good News Bible diterjemahkan do not deceive yourselves. Terjemahan Bahasa Inggris tersebut bisa diartikan sebagai: Jangan tertipu atau menipu diri sendiri. Kata planasthe, dapat diterjemahkan “astray” yang berarti sesat atau di luar jalur yang benar atau jalan yang salah. Jadi kalimat me planasthe bisa diterjemahkan “not led be astray”. Pemikiran yang salah dalam diri kita merupakan potensi penyesatan yang harus diwaspadai. Kalau Tuhan sendiri yang memperingatkan hal itu, berarti adalah suatu bahaya besar akibat dari penyesatan tersebut. Oleh sebab itu betapa pentingnya kita mengerti kebenaran Firman Tuhan dan selalu mengalami pembaharuan pikiran setiap hari (Rm. 12:2).
     
    Hukum tabur tuai ini mirip dengan konsep “karma” dalam suatu agama. Mirip bukan berarti sama persis. Hendaknya kita tidak menyamakannya. Dalam hukum karma tidak ada solusi penebusan oleh darah Tuhan Yesus, tetapi dalam hukum tabur tuai masih ada penopangan, di mana Allah Bapa masih memakai tuaian yang kita tabur (sekalipun salah) menjadi alat untuk menyempurnakan kita. Di tengah penderitaan hasil taburan kita, selama kita masih mau mengasihi Tuhan, Dia akan menjadikannya sebagai sarana untuk menyempurnakan kita. Inilah kedahsyatan kasih Allah Bapa kepada kita anak-anak-Nya. Kasih-Nya tidak berkesudahan. Selama kita masih memiliki kesediaan untuk bertobat dan berubah, Allah tetap menggarap kita. Kecuali kalau sudah diperingatkan berulang-ulang, mendukakan Roh Kudus, memadamkan dan menghujat-Nya -yang berarti memang tidak mau bertobat dan berubah- maka tidak ada kesempatan lagi untuk menerima keselamatan.
     
    Hukum tabur tuai adalah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan mempunyai akibat. Kenyataan ini berangkat dari 2 hal:
    Pertama, Allah adalah Allah yang telah memberi kehendak pilihan bebas kepada manusia. Dan Ia sendiri konsekuen dengan kebebasan yang telah diberikan itu. Sebagai buktinya, Allah meletakkan pohon ujian di Taman Eden. Oleh sebab itu nasib manusia di tangan manusia itu sendiri.
    Kedua, Allah adalah Allah yang adil yang menuntut pertanggungjawaban. Oleh sebab itu manusia adalah makhluk yang hidup di bawah bayang-bayang keadilan Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus disalib untuk memenuhi hukum keadilan. Pelanggaran harus mendatangkan hukuman. Dosa mendatangkan maut. Manusia yang berdosa harus menerima ganjaran. Tetapi Tuhan Yesus yang telah menanggung ganjaran hukuman. Dalam hal inilah yang memuaskan hati Allah Bapa dalam menggenapi tuntutan keadilan Allah tersebut. Demikian pula dalam kenyataan hidup ini, sekarang di bumi, selagi kita masih hidup. Apa yang kita alami ada dalam koridor hukum tabur tuai. Orang yang bekerja keras pasti diberkati, tetapi yang malas tidak pantas diberkati
     
    Dengan penjelasan ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang harus bertanggung jawab (Rm. 14:12) atas hidupnya di hadapan Tuhan, yaitu atas semua perbuatannya. Konsep takdir yang sering kita dengar dalam pergaulan bukanlah konsep Alkitab, bahkan itu bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan. Manusia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Keadaan manusia bukanlah hasil dari penentuan nasib atau takdir. Oleh karenanya dunia ini bukan panggung sandiwara, tetapi medan pergumulan antara memilih yang jahat atau yang baik. Keberuntungan atau kemalangan. Kehidupan atau kebinasaan. Tuaian dari apa yang kita tabur itu bisa kita tuai, baik selama hidup dalam dunia maupun sesudah mati (2Kor. 5:10). Apa yang kita tuai persis seperti yang kita tabur,
    0 min
  • Mengemudikan Hidup
    Dengan kewenangan-Nya yang tidak terbatas, Allah dipandang bertindak sesuka-suka-Nya tanpa ada yang dapat mencegah. Dilengkapi dengan alasan bahwa Allah tidak pernah gagal mengambil keputusan dan Allah baik adanya, maka konsep Allah menentukan segala sesuatu secara sepihak tanpa melibatkan kehendak bebas manusia, diyakini dan diterima dengan sepenuh hati. Dengan argumentasi tersebut, mereka yang berpendirian bahwa Allah menentukan takdir manusia, merasa memiliki pembenaran atas pandangan teologinya. Pikiran mereka semakin kokoh meyakini dan menerima apa yang salah, tetapi mereka merasa sedang meninggikan dan memuliakan Allah.
     
    Pandangan salah di atas dapat melahirkan pemikiran bahwa manusia hanya menjadi obyek, bukan subyek. Konsep ini tidak benar. Sikap ini sebenarnya justru merupakan sebuah sikap menciderai Allah. Allah dinilai dan dipandang sebagai Pribadi yang bisa memberi sesuatu yang baik atau positif, tetapi juga bisa memberi sesuatu yang buruk atau negatif. Pandangan tersebut juga membangun pemahaman bahwa Allah yang kuat adalah Allah yang pikiran-Nya tidak sehat, sebab Allah bisa mendatangkan bencana bagi manusia dan semua makhluk di bumi ini. Bagaimana bisa mengatakan allah seperti ini adalah Allah yang baik? Sebenarnya Pandangan terhadap kedaulatan Allah yang memberi kehendak bebas kepada manusia tidak mengurangi hormat kita kepada Dia. Selamanya Dia tidak pernah bercacat dan tidak bercela. Sesungguhnya, Allah adalah Allah yang luhur, mulia, agung, dan suci. Keberadaan Allah adalah keberadaan yang sangat mulia. Kepada-Nya segala hormat dan pujian layak dinaikkan. Allah yang memberi tatanan kehendak bebas kepada manusia adalah Allah yang konsekuen terhadap tatanan tersebut.
     
    Masing-masing individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan Allah yang memberi kendaraan, yaitu hidup ini. Allah menciptakan manusia dan melengkapinya dengan pikiran, perasaan, dan kehendak. Semua itu merupakan sarana atau perlengkapan untuk dapat mengemudikan kehidupan masing-masing individu. Kalau seseorang bermaksud menyerahkan kemudi hidupnya kepada Allah, berarti sama dengan meminta Allah menyangkali sifat dan hakikat-Nya yang telah memberikan kedaulatan kepada manusia untuk menentukan takdirnya sendiri. Ini adalah sikap yang tidak bertanggung jawab.
     
    Manusia harus belajar bagaimana mengemudikan hidupnya secara benar sesuai dengan kehendak yang menciptakan kehidupan itu dan mengarahkannya ke arah yang benar. Dalam sejarah kehidupan manusia, Adam dan Hawa telah gagal mengemudikan hidupnya. Mereka mengemudikan kendaraan hidup ini ke arah yang salah, sehingga Allah harus mengusir mereka dari Eden, jauh dari persekutuan yang ideal dengan Allah, Bapanya. Kemudian hari, Adam terakhir, yaitu Tuhan Yesus, berhasil mengemudikan hidup-Nya sehingga Ia menjadi pokok keselamatan, artinya menjadi penggubah. Kata “pokok keselamatan” dalam teks aslinya adalah penggubah (Yun. Aitios). Penggubah di sini maksudnya bahwa Allah Yesus yang mengubah hidup orang percaya melalui kasih karunia yang diberikan dan keteladanan hidup, Roh Kudus yang menuntun kepada segala kebenaran, Injil untuk memperbaharui pikiran, dan Allah bekerja dalam segala sesuatu sebagai proses pembentukan kita.
     
    Kalau kendaraan secara umum tidak memiliki gairah sebab benda mati, tetapi kendaraan yang kita tunggangi dalam hidup ini memiliki gairah. Gairah itu ada di jiwa dan ada di tubuh daging ini. Kalau kendaraan secara harafiah adalah benda mati yang tidak memiliki keinginan atau gairah, berbeda dengan kendaraan hidup kita. Kita memiliki daging yang merekam banyak keinginan atau nafsu (lust). Kita juga memiliki jiwa yang sudah tercemari oleh berbagai hasrat (cita rasa jiwa) yang tidak sesuai dengan kehendak Allah yang bisa membelenggu. Kita juga memiliki nurani yang sudah tercemar oleh masukan berbagai filosofi hidup. Inilah yang dimaksud oleh Yohanes sebagai keinginan daging, keinginan mata,
    0 min
  • Kedaulatan Allah
    Pemahaman bahwa manusia tidak hidup dalam kehendak bebas (dalam takdir) bisa membangun pandangan bahwa pertimbangan rasio manusia untuk mengambil keputusan menjadi sia-sia atau tidak diperlukan. Semua sudah diatur dalam fragmen yang tidak akan dapat keluar atau terlepas dari alur cerita yang ditentukan atau telah ditetapkan. Akhirnya, anjuran untuk menemukan peran dan tempat di hadapan Allah, menjadi panggilan untuk percaya dan menerima saja setiap peran yang ditemukan secara otomatis, karena Allah menetapkan secara sepihak dan secara absolut. Semua sudah diatur oleh tangan yang tidak kelihatan, yaitu tangan Allah yang mengerjakannya sendiri tanpa bantuan dan peran manusia sama sekali. Kalau jujur, maka dapat dikatakan peran pikiran dan perasaan manusia menjadi sia-sia atau tidak maksimal. Dengan demikian manusia juga tidak perlu memiliki integritas dan personalitinya sendiri. Ini pandangan yang sangat keliru, sebab sesungguhnya manusia adalah makhluk yang harus menuai apa yang ditaburnya (Rm. 14:12; Gal. 6:7; 2Kor. 5:9-10).
     
    Bila kita berbicara mengenai takdir, maka mau tidak mau kita harus belajar mengenai sifat hakikat manusia sekaligus juga menyinggung mengenai sifat hakikat Allah. Berangkat dari pemahaman tentang sifat hakikat manusia, maka kita dapat memiliki pijakan pandangan yang benar terhadap masalah takdir. Salah satu persoalan yang harus dibedah menyangkut hakikat manusia adalah: Apakah kemutlakan kedaulatan Allah (Sovereignity of God) mengakibatkan manusia tidak memiliki kehendak bebas sama sekali? Sekaligus dipertanyakan apakah kedaulatan Allah menenggelamkan manusia secara fatalistis di dalam penentuan segala sesuatu yang harus hanya diterima saja oleh manusia, tanpa dapat menolak atau menghindarinya? Tetapi sebaliknya, kalau manusia memiliki kehendak bebas, sejauh mana kebebasannya tersebut atau apa batas kehendak bebasnya? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan konsep keselamatan yang dimiliki seseorang, dan hal tersebut sangat menentukan pula kualitas hidup seseorang.
     
    Gagasan takdir meyakinkan adanya campur tangan langsung dari Allah yang mengendalikan nasib manusia di luar kesadaran manusia, sebab segala sesuatu ditentukan sejak semula. Ini adalah konsep agama non-Kristen yang tidak banyak bisa membicarakan tentang kebebasan, sebab mereka hanya mengakui perbuatan-perbuatan yang dirancang oleh Allah di dalamnya. Konsep takdir ini mengingkari adanya kebebasan yang sungguh-sungguh, selanjutnya peranan etika disia-siakan. Adalah satu hal yang sulit dimengerti kalau seseorang menerima konsep takdir sementara juga menyerukan pertobatan dan berbagai panggilan serta seruan untuk hidup di jalan Allah. Dalam hal ini orang Kristen yang percaya adanya takdir berpikir bahwa Allah perlu dibantu untuk menggenapi rencana-Nya, seakan-akan tanpa keterlibatan manusia, maka rencana Allah tidak dapat terwujud.
     
    Adam dan Hawa diciptakan Allah sebagai makhluk-makhluk yang bebas. Apakah kita bisa menutup mata terhadap realitas adanya pilihan? Ketika Allah melarang manusia pertama untuk tidak makan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, tetapi tidak menyembunyikan pohon tersebut, sejatinya hal tersebut merupakan signal yang jelas akan adanya kebebasan memilih. Di dalamnya Allah menghargai keputusan yang diambil oleh manusia tersebut, baik benar maupun salah, baik penurutan maupun pemberontakan. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa manusia harus menentukan keadaannya sendiri, khususnya menyangkut keselamatan kekalnya. Hal ini akan membuat seseorang menyikapi hidup dengan sikap dewasa dan bertanggung jawab. Hidup adalah perjuangan antara membawa diri kepada kehidupan kekal atau kebinasaan kekal. Inilah resiko kehidupan bagi manusia yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kej.1:26-27). Keserupaan tersebut juga menyangkut kehendak bebasnya.
     
    Banyak orang berpendirian bahwa oleh karena Allah adalah Allah Yang Mahakuasa,
    0 min
  • Takdir
    Teologi Kristen yang benar menolak pengajaran yang mengatakan bahwa keadaan manusia seluruhnya ditentukan oleh Tuhan yang mengatur segala sesuatu secara absolut. Dalam Kekristenan, hal kehendak bebas mempunyai tempat yang penting yang harus dipahami. Ajaran takdir adalah pengajaran yang mengesampingkan “nilai” manusia. Sebab kebebasan memberi nilai atas manusia. Itulah sebabnya penghakiman dan upah merupakan realitas Ilahi. Ada surga dan neraka. Dengan memahami kebenaran ini kita akan menjadi hati-hati dalam hidup, tidak ceroboh, dan tanpa perhitungan. Hukum “tabur tuai” merupakan realitas Ilahi yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun (Gal. 6:7). Terkait dengan kehendak bebas, maka tidak bisa tidak manusia harus tunduk kepada kepada hukum tabur tuai.
     
    Bila manusia tidak memiliki kehendak bebas, dan hidupnya ditentukan oleh takdir, Tuhan Yesus tidak akan memberikan seruan-Nya: “bertobatlah kamu”, “kumpulkan harta di surga” dan lain sebagainya. Seruan-seruan itu menunjukkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Kalau seseorang tidak mengakui adanya kehendak bebas manusia, hendaknya dengan fair tidak menggunakan kalimat-kalimat tersebut dalam tema-tema khotbahnya. Bagaimana bisa seorang pembicara yang memercayai adanya penetapan keselamatan secara sepihak oleh Allah membuat tema dalam khotbahnya: Bertobatlah kamu, mengapa harus binasa? Pertanyaannya adalah mengapa membuat tema itu, apakah manusia bisa memilih atau mengambil keputusan? Ini bentuk inkonsistensi, seharusnya temanya berbunyi: Percayalah, Allah membuat kamu bertobat dan tidak binasa.
     
    Fakta bahwa kehendak bebas adalah tatanan yang abadi, membuat kehidupan berdinamika sangat sempurna. Kalau tidak ada kehendak bebas, maka dinamika kehidupan menjadi tidak wajar. Tatanan ini akan tetap kekal, bukan hanya di bumi tetapi juga di surga nanti. Tetapi tentu di surga nanti mereka yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang yang telah terbukti menggunakan kehendak bebasnya dengan baik, yaitu mereka yang memilih untuk menaati dan menghormati Allah. Di surga tidak lagi ada pemberontakan. Dalam kehidupan yang memiliki kehendak bebas tetapi manusia memilih untuk menaati Allah, adalah sesuatu yang sangat indah, luar biasa. Itulah keadaan Kerajaan Surga nanti. Itulah sebabnya sejak di bumi manusia yang akan diperkenan masuk Kerajaan-Nya telah biasa menggunakan kehendak bebasnya untuk melakukan kehendak Allah semata-mata. Sehingga kesucian bukanlah sekadar keadaan dimana manusia tidak berbuat dosa, tetapi keadaan dimana manusia tidak dapat berbuat dosa sama sekali. Sehingga segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah sebenarnya maksud rancangan awal Allah yang semula.
     
    Dengan demikian, sesungguhnya sejak di bumi sudah nampak bakat atau tanda-tanda nyata orang-orang yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga atau tidak. Jadi, kalau ada pertanyaan: apakah mungkin bisa terjadi lagi pemberontakan di surga? Jawabannya adalah tidak mungkin ada lagi, sebab semua orang yang akan masuk surga telah diproses untuk menjadi sempurna seperti Bapa, melalui proses pemuridan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus sendiri dengan Roh-Nya. Orang yang tidak sempurna tidak akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
     
    Oleh karena harus menuai apa yang ditabur, maka pengajaran mengenai takdir yang selama ini dipahami banyak orang, tidak Alkitabiah. Di balik kata “takdir”, diisyaratkan jelas adanya penentuan Ilahi dalam setiap kejadian atau peristiwa, sebuah devine decree. Jadi takdir dimengerti sebagai penentuan suatu peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam hidup manusia berdasarkan kedaulatan, kebebasan kehendak, dan kebijaksanaan Allah yang mutlak atau absolut. Dalam bahasa Inggris, kata “takdir” bisa diterjemahkan predestination, yang artinya penentuan sebelumnya atau ditentukan lebih dahulu. Sebelum suatu peristiwa terjadi,
    0 min
  • Dosa Diizinkan Masuk
    Fakta yang tidak dapat disangkal bahwa pada umumnya manusia berinisiatif melakukan tindakan dari diri sendiri, baik yang melanggar larangan Allah atau menurutinya. Dengan demikian manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan. Allah tidak ikut mengambil bagian dalam kesalahan yang dilakukan manusia atau kebaikan yang dilakukan manusia. Allah berdiri di luar sebagai Hakim, Allah bukan pelakunya dan tidak menjadi penyebab suatu kesalahan atau kebaikan. Kalau Allah ikut terlibat dalam tindakan manusia, maka Allah tidak bisa berdiri sebagai Hakim. Hakim harus berada di luar tindakan yang dihakimi. Kalau Allah ikut terlibat dalam kejatuhan manusia, maka Allah tidak seharusnya menghalau atau mengusir manusia dari Eden (Kej. 24).
     
    Kalau Allah ikut terlibat dalam pengambilan keputusan, maka Allah harus ikut memikul akibatnya bersama dengan manusia. Betapa jahatnya sosok “allah” yang menetapkan suatu kejadian dimana di dalamnya manusia harus melakukan suatu perbuatan. Kemudian menghakimi dan menghukum manusia tersebut, menyatakan bersalah dan menghukumnya. Semua terjadi seperti sebuah sandiwara. Padahal, hukuman yang diberikan adalah api kekal dimana manusia terpisah dari Allah selamanya. Betapa kejamnya “allah” seperti ini. Konsep mengenai Allah seperti ini merupakan penistaan terhadap Allah yang agung dan mulia. Allah yang benar, tidaklah demikian.
     
    Fakta bahwa manusia diberi kehendak bebas nampak dalam fakta bahwa ada pihak yang diizinkan oleh Allah untuk mencobai atau membujuk manusia supaya melanggar firman Allah. Dalam hal ini sulit dikatakan bahwa Allah tidak mengizinkan dosa masuk dalam kehidupan. Dosa di sini maksudnya adalah kemungkinan manusia tidak mencapai standar kesucian Allah, di mana manusia bisa kehilangan kemuliaan Allah. Allah memang mengizinkan dosa masuk dalam kehidupan, tetapi Allah tidak menetapkan -apalagi mengupayakan- agar dosa dilakukan oleh manusia. Dosa masuk dalam kehidupan manusia karena keputusan manusia itu sendiri. Jika ada pertanyaan mengapa Allah mengizinkan dosa bisa masuk? Jawabnya adalah: itulah konsekuensi manusia memiliki kehendak bebas.
     
    Dalam Kejadian 2 -di balik peringatan Allah kepada manusia untuk tidak makan buah yang dilarang, yaitu buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat- ada semacam perjanjian atau aturan main antara Allah dengan manusia dan pihak ketiga yang tidak kelihatan, yaitu si jahat. Allah memberi kehendak bebas kepada manusia untuk digunakan dengan bijaksana. Manusia memiliki kedaulatan dan kemandirian atau independensi. Manusia bisa memetik buah yang dilarang dan makan buah tersebut, atau bisa tidak menyentuhnya. Di satu pihak Elohim memberi kebebasan kepada manusia; dan di pihak lain, Dia tidak melarang Iblis mencobai atau membujuk manusia.
     
    Dalam hal di atas ini Allah seperti menggelar sebuah gelanggang pertandingan, bukan panggung sandiwara. Dalam gelanggang tersebut ada pihak-pihak yang terlibat, yaitu Elohim Yahweh sendiri, Iblis, dan manusia. Allah membiarkan semua berlangsung dengan fair. Tidak ada rekayasa atau sebuah pengaturan yang dipaksakan. Dalam gelanggang tersebut Allah dalam kedaulatan-Nya menetapkan aturannya. Semua harus tunduk pada aturan yang ditetapkan oleh Allah, bahkan diri Allah sendiri. Aturan itu ada di dalam diri Allah sebagai hakim dan penyelenggara kehidupan ini. Masing-masing pihak memiliki kedaulatan atau independensi, baik manusia, malaikat, Iblis, dan Allah sendiri. Dalam hal ini Allah masuk ke dalam dimensi waktu dan pergumulan ciptaan-Nya.
     
    Dengan memandang kehidupan dari perspektif yang benar, yaitu bahwa manusia hidup dalam tanggung jawab memikul kehendak bebas dalam dirinya, maka seseorang bisa menempatkan diri sebagai makhluk ciptaan pada proporsi yang tepat di hadapan Allah, juga keterkaitannya dengan kuasa jahat atau Iblis. Kita juga bisa menempatkan Allah pada tempat yang benar,
    0 min
  • Tergantung Individu
    Dalam tatanan yang Allah ciptakan atau tentukan, pilihan dan keputusan yang dapat dilakukan manusia tidak ditentukan oleh penyebab di luar dirinya, namun ditentukan oleh motif dari diri sendiri, yaitu hasil dari pertimbangan nalar atau rasio yang dimilikinya. Adapun kemampuan manusia mempertimbangkan sesuatu yang menghasilkan sebuah keputusan dan pilihan tergantung dari kemampuannya berpikir. Adapun kemampuan berpikir atau berlogika yang dimiliki seseorang sangat ditentukan oleh apa yang masuk ke dalam pikirannya melalui jendela mata dan telinganya atau panca inderanya, serta segala sesuatu yang dialaminya.
     
    Itulah sebabnya setiap individu diberi kebebasan dalam memilih apa yang masuk ke dalam pikirannya. Dalam hal ini kehendak bebas masing-masing individu memainkan perannya setiap hari, sebab ada banyak pilihan yang diperhadapkan kepada masing-masing individu. Pilihan tersebut adalah “menu” apakah yang dikonsumsi untuk jiwanya. “Menu” yang dikonsumsi menentukan kualitas pikirannya. Kualitas pikiran menentukan kualitas seluruh hidupnya. Dengan demikian sangatlah jelas bahwa masing-masing individu menentukan kualitas hidupnya.
     
    Dengan demikian, kita harus menerima fakta adanya kehendak bebas yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang menentukan kualitas hidupnya sendiri. Kalau seseorang tidak mengakui fakta ini, berarti ia menjadi mistis atau berpikir secara supranatural, seakan-akan tindakan manusia ditentukan oleh faktor yang bersifat adikodrati. Faktanya memang ada kecenderungan orang beragama yang berpikir mistis seperti ini. Itulah sebabnya mereka tidak memahami kebenaran yang murni berdasarkan Alkitab mengenai kehendak bebas tersebut. Mereka mengajarkan bahwa di balik kehendak manusia terdapat campur tangan Allah (secara mistis) dalam memengaruhi dan mengendalikan tindakan manusia. Oleh karena kehendak manusia dihubungkan dengan intervensi Allah di balik keputusan manusia, maka doktrin ini menjadi absurd (tidak masuk akal dan kacau).
     
    Tidak dapat disangkal, bahwa kitab Kejadian telah meletakkan landasan pengertian kebebasan kehendak yang benar. Kitab Kejadian mengungkapkan hal ini dengan sederhana, jujur, jelas, dan cerdas. Allah menaruh dua pohon di tengah Taman Eden, menunjukkan dengan sangat jelas bahwa manusia diberi kehendak bebas. Dalam kehendak bebasnya, manusia harus memilih antara kehidupan atau kematian dari kerelaan kehendaknya, apakah manusia mau taat atau tidak taat. Allah tidak mengendalikan nasib manusia; manusia mengendalikan nasibnya sendiri.
     
    Dalam pengertian bebas yang proporsional atau natural, Allah harus membiarkan manusia menentukan sendiri pilihannya, tanpa intervensi dari pihak mana pun, juga dari pihak Allah. Dalam pengertian bebas yang benar, Allah juga membiarkan ular yang adalah personifikasi Iblis masuk ke dalam taman dan mencobai serta membujuk manusia untuk berbuat sesuatu, yaitu melanggar apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh Adam (Kej. 2:16-17; 3:1-14). Allah tidak berusaha menghindarkan manusia dari pencobaan tersebut, karena Allah memberi kehendak bebas kepada manusia. Allah memberi nasihat, peringatan, dan ancaman kalau manusia berani melanggar Firman-Nya, tetapi pada akhirnya manusia sendiri yang harus mengambil keputusan. Bahkan Allah juga tidak akan mencegah manusia berbuat salah kalau memang itu yang menjadi keputusannya. Inilah konsekuensi menjadi makhluk yang diciptakan dengan kehendak bebas. Tidak ada seorang pun manusia yang bebas dari tatanan ini.
     
    Dalam pengertian kebebasan yang proporsional, termuat makna dimana manusia harus mempertimbangkan sendiri segala sesuatu yang hendak dilakukan dan dirinyalah yang menjadi pengambil keputusan akhir (Kej. 3:6). Sebelum makan buah yang dilarang tersebut, mereka sudah mempertimbangkannya. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan makan buah tersebut adalah keputusan yang lahir dari pertimbangkan mereka sendiri. Allah memberi nasihat,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…