Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tatanan Allah Dalam Pembenaran
    Sebelum ditebus oleh darah Yesus, kita adalah tawanan dosa yang membuat kita terbelenggu dalam keadaan kehilangan kemuliaan Allah, sehingga kita tidak bisa mencapai kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Sebagai orang percaya, kita dibebaskan dari cengkeraman kuasa kegelapan, kita telah dimerdekakan oleh penebusan salib-Nya (Gal. 5:1). Manusia berdosa seperti tawanan perang yang tidak bisa dimiliki kembali oleh Allah sebagai Pemiliknya, oleh sebab itu perlu ditebus agar dapat kembali dimiliki sepenuhnya oleh Allah (1Kor. 6:19-20). Tuhan Yesus menebus kita dari ketertawanan hukum dosa, dimana kita telah terbelenggu dalam kondisi tidak bisa mencapai standar kesucian Allah. Kalau ibarat suatu barang yang digadaikan, kita adalah barang yang digadaikan. Tuhan Yesus menebus kita agar kita dapat dimiliki-Nya dan digunakan sesuai dengan keinginan-Nya.
    Tuhan Yesus menebus kita artinya bahwa Tuhan Yesus membeli kita dengan darah-Nya. Sebelum kita dibeli, kita bukanlah milik Tuhan yang bisa dikuasai Allah sepenuhnya untuk menggenapi rencana Bapa; yaitu mengembalikan manusia kepada rancangan semula yaitu sempurna seperti Dia atau sesuai dengan gambar-Nya. Dengan penebusan tersebut berarti kita menjadi milik Tuhan (1Kor. 6:19-20). Sebagai tanda bahwa kita menjadi milik Tuhan, maka Tuhan menaruh Roh Kudus di dalam diri kita sebagai materai (Ef. 1:13). Dengan materai tersebut, maka sebagai anak tebusan-Nya, kita harus memberi diri untuk dikuasai oleh Tuhan, sehingga bisa berkata: Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kritus yang hidup di dalam aku.
     
    Terkait dengan tatanan mengenai pengampunan harus dikaitkan dengan hal pembenaran. Pembenaran atau dibenarkan dalam bahasa Inggris adalah justification. Kata justification berasal dari bahasa Latin justifikatio. Dalam bahasa Ibrani: tsadaq (צָדַק)dan dalam bahasa Yunani adalah dikaios (δικαιος). Kata-kata ini sebenarnya ada dalam istilah hukum, yang artinya membebaskan seseorang dari tuntutan hukum sehingga orang tersebut dinyatakan tidak bersalah atau dinyatakan benar, sehingga tidak pantas untuk dihukum. Biasanya yang berhak menyatakan orang tidak bersalah (dibenarkan) adalah hakim, setelah melewati suatu proses mekanisme peradilan yang benar. Pembenaran atas seseorang bisa dinyatakan sah bila ada pembuktian bahwa orang tersebut berhak untuk menerima pembenaran tersebut dengan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada zaman raja-raja Israel, kadang-kadang raja juga berfungsi sebagai hakim yang memutuskan suatu kasus.
     
    Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah Hakim (Mzm. 7:9-12; Yes. 5:6; 10:22; Kis. 17:31; Rm 2:5; 3:5; dan lain sebagainya). Sebagai Hakim, keputusan Allah pasti adil berdasarkan koridor hukum yang benar dalam diri-Nya sebagai pribadi Yang Mahaadil dan Mahabenar. Dalam hal ini Allah sendiri adalah hukumnya. Berhubung Allah adalah Allah yang adil, maka semua tindakan Allah pastilah berdasarkan format keadilan dalam diri-Nya.Ingat, bahwa Allah adalah Allah yang tertib, bukan Allah yang bertindak sembarangan tanpa aturan. Dalam diri-Nya ada hukum keadilan dan Ia tidak bisa menyangkali diri-Nya sendiri. Semua tindakan-Nya bisa dibuktikan benar, sebab dalam diri-Nya ada rule (hukum) yang dengan ketat ditegakkan-Nya.
     
    Ketika manusia jatuh dalam dosa, Allah harus menyatakan manusia bersalah. Itulah sebabnya Allah harus mengusir mereka dari Eden (Kej. 3). Pengusiran itu menunjukkan peta keadilan Tuhan yang harus ditegakkan. Kalau Allah bisa diajak kompromi, Adam bisa tetap dipertahankan di Eden. Tetapi ternyata terbukti manusia berbuat kesalahan, maka apa yang ditabur harus juga dituainya. Manusia harus menuai apa yang ditaburnya. Manusia harus menanggung akibat dari keputusan dan tindakannya. Ini bagian dari pemerintahan Allah yang harus digelar secara fair. Dengan demikian Allah tidak bisa dipersalahkan. Ia tidak akan pernah kolusi dan nepotistik, sebab Ia adalah Allah yang adil (Why. 16:7).
    0 min
  • Tatanan Mengenai Penebusan
    Terkait dengan tatanan mengenai pengampunan, perlu membahas mengenai penebusan. Kata penebusan (Ing. redemption) tentu sudah tidak asing di telinga orang Kristen. Kata ini sering didengar, bahkan diucapkan. Pengajaran mengenai hal ini penting sekali untuk digali, sebab hal ini sangat bertalian dengan keselamatan (soteriologi). Bahkan pengajaran ini bagian dari pengajaran mengenai keselamatan. Kesalahan kita memahami pengertian penebusan, akan membuat salah juga memahami keselamatan yang Tuhan berikan.
    Dalam Bahasa Ibrani ada beberapa kata yang diterjemahkan sebagai penebusan, antara lain: geullah (גְּאֻלָּה) artinya harga penebusan, padah (פָּדָה) yang lebih berarti melepaskan atau membebaskan, gaal (גָּאַל) yang artinya memberikan pembebasan dengan melakukan transaksi pembayaran. Kata lain adalah matsa (מָצָא) yang artinya lebih dekat dengan memperoleh kembali. Dalam teks bahasa Yunani terdapat kata apolutrosis (ἀπολύτρωσις) yang selain artinya redemption, juga berarti ransom in full (tebusan secara penuh), riddance (pembebasan dari sesuatu), deliverance (pembebasan). Kata “tebus” atau “penebusan” merupakan kata yang sudah sangat popular baik pada zaman sebelum maupun sesudah Masehi. Karena hal penebusan ini menyangkut karya keselamatan Tuhan Yesus yang berlangsung dan terjadi di Palestina pada abad pertama dalam budaya Yahudi dan Hellenis (masa di mana budaya Yunani mendominasi masyarakat), maka untuk membahas penebusan oleh Tuhan Yesus harus memahami hal penebusan dalam konteks zaman itu.
    Penebusan artinya pembayaran suatu harga demi untuk mendapatkan seseorang (nyawa, budak, istri, dan lain-lain) atau sesuatu (pengampunan dosa, barang gadaian, dan lain sebagainya). Praktik penebusan dalam kehidupan manusia pada zaman itu ada di berbagai wilayah hidup, antara lain di wilayah agama, pengadilan, perbudakan, dan politik.
    Pertama,pengertian penebusan di wilayah agama. Dalam Alkitab Perjanjian Lama, begitu banyak pemaparan berita mengenai korban penebusan yang harus dilakukan oleh bangsa Israel agar mereka memperoleh pengampunan dari Tuhan (Im. 5:5-7;15). Dalam hal ini, betapa beruntungnya menjadi orang Israel yang telah mengenal hal korban penebusan sebelum Anak Manusia -Sang Penebus dosa yang sejati- tampil untuk menebus dosa dunia. Tradisi menyelenggarakan korban sebagai penghabus dosa sudah dikenal sejak dahulu, selain Habel juga nenek moyang Israel seperti Abraham, Ishak, dan Yakub. Juga Ayub yang tidak jelas di mana ia berada pada zaman ia hidup.
    Tuhan Yesus telah memberi diri-Nya sebagai tebusan agar manusia dapat memperoleh pengampunan dosa (Ef. 1:7; Kol. 1:14). Darah domba tidak menyucikan dan menebus dosa manusia, sesungguhnya darah domba binatang hanya simbol darah sesungguhnya yang menyucikan. Darah domba hanya voucher dari darah yang sesungguhnya, yaitu darah Anak Domba. Hanya darah Tuhan Yesus yang dapat menebus semua manusia.
    Kedua, pengertian penebusan di wilayah pengadilan. Banyak kasus-kasus yang berkenaan dengan penebusan dalam budaya orang Yahudi yang sangat implikatif dengan kehidupan orang percaya sekarang ini. Misalnya, menurut budaya Ibrani, apabila seekor lembu mengakibatkan kematian seseorang, maka lembu itu dan pemiliknya harus dihukum mati dengan lemparan batu. Demi untuk keselamatan diri sang pemilik, ia bisa menebus nyawanya degan membayar sejumlah uang tebusan yang dalam Bahasa Ibrani disebut sebagai pidyowm; kafar (Ing. ransom) (Kel. 21:28-30). Bukan hanya nyawa yang bisa diraih atau dimiliki dengan uang tebusan, juga barang-barang atau benda-benda lain yang digadaikan. Sebenarnya manusia telah menggadaikan dirinya dengan mengikuti jalan dosa, tetapi Tuhan Yesus menebusan dengan darah-Nya. Tuhan Yesus menebus kita juga berarti Tuhan Yesus membebaskan kita dari hukuman kematian.
    Ketiga, pengertian penebusan di wilayah perbudakan. Budak adalah manusia yang tidak memiliki nilai diri dan hak hukum sama sekali. Majikan yang memilikinya sangat berkuasa atas budak t...
    0 min
  • Tatanan Pengampunan
    Terkait dengan hukum tabur tuai, sering muncul pertanyaan: Mengapa ketika Adam berbuat dosa, Allah tidak segera mengampuni seketika itu juga sehingga masalah dosa manusia segera bisa diselesaikan atau ditanggulangi di Eden, agar Allah tidak perlu mengusirnya dari Eden? Bukankah itu hal yang mudah dilakukan oleh Allah? Ternyata ini bukan hal yang sederhana seperti yang dapat dipikirkan oleh pikiran manusia. Kalau kita tidak melihat “hukum kehidupan” di balik semua peristiwa tersebut, maka kita akan memandang Alkitab seperti kitab banyak agama yang tidak logis.
     
    Dibalik fenomena di atas, kita memperoleh pengertian adanya suatu hukum kehidupan yang luar biasa, sekaligus menemukan hakikat Allah Yang Mahaagung yang sangat mengagumkan. Mengapa Allah tidak segera mengampuni Adam pada waktu itu sehingga tidak perlu mengusirnya dari Eden?Jawabnya adalah bahwa setiap kesalahan harus ada sanksinya. Allah memang Mahakasih dan Maha Penyayang, tetapi Ia juga Allah yang adil. Allah tidak mungkin menyangkali hakikat keadilan-Nya. Keadilan Allah menuntut setiap tindakan mendapat ganjaran, juga setiap kesalahan harus ada konsekuensi dan sanksi. Firman Tuhan mengatakan bahwa apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya (Gal. 6:7; Nah. 1:3). Jadi, harus ada yang memikul kesalahan tersebut demi supaya manusia dapat diampuni dan kembali diterima oleh Dia. Ini adalah tatanan Allah.
     
    Firman Tuhan mengatakan bahwa upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus (Rm. 6:23). Kalau Allah dengan mudah mengampuni kesalahan Adam dan Hawa, berarti Ia adalah Allah atau pribadi yang tidak adil, Allah yang tidak tertib, Allah yang tidak memiliki tatanan dan aturan. Tetapi yang benar, Allah adalah Allah yang memiliki integritas yang sempurna. Di dalam diri Allah yang juga merupakan hakikat-Nya terdapat hukum (rule), sistem, dan aturan. Ia adalah Allah yang tertib. Karena integritas Allah tersebut, maka Allah tidak bertindak sembarangan tanpa aturan.
     
    Dalam sejarah kehidupan manusia, Tuhan Yesus tampil menggantikan tempat manusia yang harus dihukum dengan memikul atau menanggung dosa manusia. Hal ini dilakukan-Nya untuk memenuhi atau menjawab keadilan Allah. Hanya dalam Kekristenan terdapat mekanisme keselamatan semacam ini. Itulah sebabnya hanya Kekristenan yang memiliki konsep keselamatan “hanya oleh anugerah” (Lat. sola gratia. Ing. Only by grace). Wujud anugerah itu adalah pemberian Anak Tunggal Allah Bapa untuk menyelamatkan manusia. Dengan demikian kalau seseorang menolak keselamatan dalam Yesus Kristus, maka ia memandang Allah sebagai Allah yang tidak memiliki aturan.
     
    Dengan hal ini kita mengerti mengapa keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia(Yesus Kristus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya manusia dapat diselamatkan (Kis. 4:12). Hanya dengan jalan penebusan dosa yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus, manusia memperoleh pengampunan. Dalam hal ini pengampunan tidak hanya berangkat dari kesediaan Allah Bapa mengampuni, tetapi juga terpenuhinya persyaratan pengampunan, yaitu adanya oknum yang bersedia menggantikan tempat manusia memikul hukuman atas kesalahan manusia. Mekanisme keselamatan dalam Kekristenan adalah mekanisme yang logis, jujur, adil, dan cerdas.
     
    Tidak bisa disalahkan kalau ada agama sebelum zaman penggenapan tidak memiliki konsep ini dan tidak mengenakannya dalam kehidupan mereka, sebab mereka tidak tahu. Kalau ada manusia yang hidup pada zaman anugerah atau zaman penggenapan ini, mendengar Injil tetapi berusaha membangun kebenarannya sendiri, maka ia akan menjadi alat Lusifer menyerang Kekristenan(Yoh. 9:41; 15:24). Dalam hal ini Tuhan Yesus menyatakan bahwa pasti akan ada penyesat (Mat. 18:7). Dalam bagian lain di Alkitab tegas sekali menyatakan bahwa di dunia pasti ada antikris,
    0 min
  • Mengarahkan Hidup
    Untuk hidup yang berpusat pada Allah, orang percaya harus berani memancangkan perhatian dan tujuan hidupnya hanya kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Harus diakui bahwa arah perjalanan hidup manusia dewasa ini makin tidak jelas. Sebagian besar orang melakukan berbagai kegiatan hanya sekadar untuk mempertahankan hidup. Sebagian lain berusaha untuk menikmati hidup dengan segala caranya, mereka bukan kelompok orang yang sekadar mempertahankan hidup, sebab bagi mereka segala kebutuhan sudah terpenuhi. Kelompok ini adalah kelompok yang terbilang beruntung secara dunia, tetapi sebenarnya berkeadaan malang secara rohani, sebab mereka semakin buta dan jauh terhadap kebenaran Allah. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang kaya sukar masuk surga. Sukar bukan berarti tidak bisa, tetapi cenderung mustahil. Menuntut perjuangan dan pengorbanan yang lebih berat.
     
    Tidak jelasnya arah perjalanan hidup ini bukan saja ada dalam kehidupan orang-orang di luar gereja, tetapi juga ada dalam kehidupan orang percaya yang pengertiannya mengenai kebenaran Allah tidak mendalam. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang sangat rentan terhadap pencobaan, sangat rawan terhadap serangan musuh. Kalau sekarang masih dijumpai banyak orang Kristen yang mudah berbuat dosa, malas melayani Tuhan, menolak berkorban bagi pekerjaan Allah dan tidak menyukai ibadah kepada Tuhan, hal ini disebabkan ia tidak memiliki arah perjalanan hidup yang benar atau disorientasi.
     
    Rasul Paulus dalam suratnya berkata: Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul (1Kor. 9:26). Bagai seorang atlet yang sedang turun di medan pertandingan ia tahu persis di mana garis finish-nya, ia tahu ke mana seharusnya ia berlari. Seorang atlet harus berlari, bukan berjalan. Hal ini menunjuk kepada pergumulan kompetisi yang hebat dalam pertandingan itu. Bukan hanya kecepatan langkah yang harus dimilikinya, tetapi juga arah langkahnya. Hidup ini adalah sesuatu yang sangat hebat, pergumulan yang luar biasa, artinya sesuatu yang yang harus digumuli secara serius. Pergumulan hidup kita bukan terletak pada sukarnya mencari nafkah, sukarnya mempertahankan reputasi, membela harga diri dan nama baik, mengokohkan kedudukan dan kekuasaan, tetapi pada mempertahankan konsistensinya pada arah perjalanan hidup yang benar, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya saja.
     
    Seseorang yang arah hidupnya sudah benar harus terus bertahan untuk ada pada jalur yang benar, ia tidak boleh menyimpang ke kanan atau ke kiri. Terdapat banyak tekanan dalam hidup ini, tekanan yang bertujuan agar orang percaya bergeser dari jalur perjalanan hidup yang benar yang sudah dimiliki. Tekanan itu datang dari si musuh, yaitu kuasa kegelapan dalam berbagai bentuk dan cara. Orang percaya harus tetap waspada dan berjaga-jaga agar dapat mengenali tipu daya si musuh tersebut. Tekanan ini disebutkan oleh Petrus sebagai “penderitaan” yang dialami semua saudara seiman di seluruh dunia (1Ptr. 5:9). Tekanan itu bukan saja keadaan hidup yang tidak menyenangkan. Justru keadaan hidup yang menyenangkan, malah jauh lebih berbahaya.
     
    Dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan beberapa kisah yang berkaitan dengan hal disorientasi ini. Kisah-kisah itu antara lain kehidupan Lot dan keluarganya (Kej. 19:1-29). Tuhan Yesus mengingatkan orang percaya agar tidak seperti istri Lot (Luk. 17:32). Istri Lot tidak fokus dalam melarikan diri dari Sodom dan Gomora. Keselamatan yang disediakan Allah atas hidupnya gagal terwujud. Iblis adalah oknum jahat yang selalu berusaha agar orang percaya tidak fokus. Orang percaya harus mencontoh sikap Yesus sendiri yang tidak terbelokkan oleh bujukan Iblis. Iblis membujuk Tuhan Yesus untuk berbelok dari misi-Nya agar menghindari salib. Tetapi Tuhan Yesus tetap pada tujuan pelayanan-Nya (Mat. 16:21-23). Sebagaimana Iblis menunjukkan kepada Tuhan Yesus kemuliaan dunia dan membujuk Tuhan Yesus untuk membelokkan misi-Nya (Luk. 4:5-8),
    0 min
  • Perjuangan Menghasilkan Buah
    Untuk menghasilkan buah-buah kehidupan dari pertobatan yang sungguh-sungguh bukan hal yang mudah, dan tidak terjadi secara otomatis. Ada tatanan Allah yang harus dilalui atau dijalani. Sama seperti seseorang menanam sebuah pohon. Tidak dalam semalam bahkan tidak cukup dalam satu bulan sudah bisa menghasilkan buah. Ini adalah tatanan Allah. Demikian pula dalam kehidupan orang percaya. Untuk menghasilkan buah-buah pertobatan yang dikehendaki oleh Allah, bukan sesuatu yang mudah. Ini adalah sesuatu yang benar-benar sukar. Kesukarannya terletak pada beberapa hal:
    Pertama, umat pilihan juga manusia yang berdosa yang di dalam dirinya mengalir hasrat atau kekuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan (Rm. 7:21-26). Itulah kodrat dosa. Orang percaya dipanggil untuk berusaha berkenan kepada Tuhan (2Kor. 5:9-10). Sebuah usaha berjalan dalam Roh, tidak hidup menurut daging (Rm. 8:9; Gal. 5:18, 24-25).
     
    Kedua, umat pilihan juga manusia yang sudah terpengaruhi oleh model atau gaya anak-anak dunia, sehingga gaya hidup yang mereka kenakan mereka anggap sebagai kehidupan yang wajar. Banyak orang sudah terbiasa dengan model atau gaya hidup seperti itu. Padahal, gaya hidup tersebut bertentangan dengan kebenaran Injil. Dalam hal ini umat pilihan dipanggil untuk mengalami pembaharuan pikiran setiap hari (Rm. 12:2).
     
    Ketiga, dunia di mana umat pilihan hidup ini semakin jahat, kuasa gelap bekerja dengan giat merusak pola hidup umat pilihan Tuhan. Bagaimana menemukan hidup yang dikehendaki Tuhan merupakan perjuangan yang tidak mudah. Oleh sebab itu, menjelang akhir zaman orang percaya harus lebih bersungguh-sungguh dalam mengikut jalan Tuhan.
     
    Proses pertobatan sama dengan proses ditebus dari cara hidup yang sia-sia yang kita warisi dari nenek moyang sebagaimana tertulis dalam 1 Petrus 1:18-19 (ek tes mataias humon; ἐκ τῆς ματαίας ὑμῶν). Kalimat ini dalam Bahasa Inggris diterjemahkan from the vain of you. Cara hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang. Kalimat “tradisi nenek moyang” terjemahan teks asli dari anastrophes patroparadotou (ἀναστροφῆς πατροπαραδότου), yang bisa berarti gaya hidup orang tua atau nenek moyang.
     
    Dengan pencurahan darah Yesus orang percaya dimungkinkan memiliki sebuah cara hidup yang baru; cara hidup yang tidak sia-sia. Karena curahan darah-Nya, pengampunan-Nya memberikan kepada orang percaya benih yang tidak fana (1Ptr. 1:23). Inilah transformasi yang dikehendaki Tuhan. Bukan hanya konversi agama, tetapi perubahan hidup dalam keseluruhannya. Untuk ini, orang percaya dipanggil untuk memiliki ketaatan yang sungguh-sungguh (1Ptr. 1:14-17, 22). Cara hidup baru ini bukan hanya berbicara mengenai moral atau perilaku, tetapi yang terutama memiliki fokus hidup pada perkara-perkara yang di atas; hal-hal surgawi.
     
    Kalau ada cara hidup yang sia-sia, tentu ada cara hidup yang tidak sia-sia atau cara hidup yang benar. Cara hidup yang benar adalah kehidupan yang dimiliki Tuhan, dalam penurutan kepada kehendak Bapa dan hidup dalam pengabdian sepenuh kepada-Nya. Dengan pencurahan darah Yesus, orang percaya menjadi milik Tuhan (1Kor. 6:17-20). Dengan pencurahan darah-Nya, orang percaya tidak lagi dapat dimiliki oleh Iblis, tetapi dapat dimiliki oleh Allah, selama orang percaya menuruti-Nya dan tidak memberi diri diperhamba oleh dosa (Gal. 5:1). Kehidupan umat pilihan harus ditundukkan kepada pengaturan Allah di dalam kehendak-Nya yang sempurna dan kudus. Tuhan memberi benih-Nya agar kita mampu hidup dalam pengaturan Allah tersebut, asal orang percaya mau melangkah. Sebelum umat pilihan ditebus dengan darah Yesus, mereka tidak dapat hidup dalam pengaturan-Nya, sebab yang mengikat mereka adalah tradisi nenek moyang, cara hidup leluhur yang tidak mengenal kebenaran. Tetapi setelah ditebus oleh darah Yesus, harus hidup di dalam “gaya hidup” anak-anak Allah.
     
    0 min
  • Tanggung Jawab Untuk Mengalami Kelahiran Baru
    Siapakah sebenarnya yang benar-benar sah disebut sebagai anak-anak Alah? Dalam Injil Yohanes dikatakan bahwa yang disebut sebagai anak-anak Allah adalah mereka yang dilahirkan oleh Allah (Yoh. 1:11-13). Firman Tuhan mengatakan bahwa anak-anak Allah adalah mereka yang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Umat pilihan Allah adalah orang-orang yang memperoleh kesempatan dilahirkan atau diperanakkan oleh Roh Allah. Kata “dilahirkan” atau “diperanakkan” dalam teks aslinya adalah gennao (γεννάω). Kata ini biasa digunakan untuk menunjukkan kelahiran secara umum. Kalau istilah “kelahiran” digunakan oleh Tuhan, maka pastinya proses kelahiran baru memiliki analogi dengan proses kelahiran manusia pada umumnya. Ini berarti ada proses yang harus berlangsung dalam kehidupan orang percaya untuk mengalami kelahiran baru.
     
    Dilahirkan oleh Allah berarti keluar dari Allah melalui sebuah proses, seperti proses janin dalam kandungan dan bertumbuh menjadi bayi, kemudian dilahirkan keluar. Dilahirkan oleh Allah pasti menunjuk sebuah proses dari sebuah perjuangan sehingga membuahkan sebuah kelahiran. Sebagaimana seorang ibu yang bergumul hebat sebelum melahirkan seorang anak, demikian pula Roh Kudus sebelum melahirkan kita. Kelahiran ini bisa terjadi kalau orang percaya memiliki respon yang benar terhadap penggarapan Allah. Kesalahan banyak orang Kristen adalah merasa bahwa kelahiran itu berlangsung dengan sendirinya secara mudah, ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus secara akali atau dalam pikiran.
     
    Orang yang dilahirkan oleh Allah akan sadar dan mengerti sekali bahwa dirinya sudah dilahirkan oleh Allah. Ini bukan sesuatu yang bersifat spekulasi atau tidak ada kejelasan. Kalau seseorang berjuang untuk berubah bagaimana menjadi manusia Allah yang berkarakter seperti Bapa, maka ia akan mengerti proses perubahan yang dialami dan level yang dicapainya. Kalau seseorang ragu-ragu, apakah dirinya sudah lahir baru atau belum, hal ini menunjukkan bahwa ia tidak mengalami pergumulan yang benar untuk dilahirkan oleh Allah. Seperti sakit bersalin yang dialami Roh Kudus dalam melahirkan kita, juga kita rasakan. Tentu Roh Kudus melewati masa-masa yang sulit ketika seseorang masih hidup dalam daging dan selalu memberontak terhadap kehendak-Nya. Sampai pada suatu level seseorang bisa bertumbuh dewasa dan mengenakan kodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10). Orang percaya sendiri juga akan mengalami pergulatan yang hebat ketika menyesuaikan kehendaknya terhadap kehendak Allah.
     
    Mengapa banyak orang yang tidak menyadari apakah dirinya telah dilahirkan oleh Allah atau belum? Sebab mereka tidak mengalami perjuangan untuk dilahirkan oleh Allah. Mengapa tidak mengalami? Sebab tidak tahu bahwa ia harus berjuang untuk mencapai level tertentu, di mana dirinya sungguh-sungguh mengalami kelahiran baru tersebut. Level hidup bagaimana yang harus dicapainya untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah dilahirkan oleh Allah? Level itu adalah keberadaan seperti Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus sempurna seperti Bapa. Pernyataan Tuhan Yesus dalam ayat ini bisa berarti bahwa kita harus berjuang untuk dilahirkan oleh Allah atau mengalami kelahiran baru. Dalam hal ini kelahiran baru bukanlah sebuah proses otomatis oleh anugerah, tetapi buah dari respon yang benar terhadap anugerah Allah. Terkait dengan hal ini betapa berbahayanya ajaran yang mengatakan bahwa dengan percaya di dalam pikiran maka seseorang telah memiliki keselamatan.
     
    Level orang yang telah dilahirkan oleh Allah dikatakan oleh Yohanes dalam suratnya bahwa: “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih Ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (1Yoh. 3:9). Kata “berbuat” dalam teks aslinya adalah poiei (ποιεῖ),
    0 min
  • Menang Sebagai Anak-Anak Allah
    Perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya sesungguhnya adalah pergumulan untuk menjadi anak-anak Allah yang sah (Ibr. 12:1-10). Ini adalah tatanan yang tidak boleh dan memang tidak bisa dihindari oleh orang percaya. Untuk memiliki kemenangan seperti Yesus harus menerima didikan dari Bapa. Itulah sebabnya Bapa mendidik orang percaya agar orang percaya menjadi anak-anak Allah yang mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (1Ptr. 1:16). Seperti bapak di dunia ini mendidik anak-anaknya, demikian pula Bapa di surga mendidik orang percaya. Pendidikan terhadap setiap orang percaya adalah hal yang mutlak dialami. Jika seseorang tidak mengalami pendidikan ini, maka ia bukanlah anak yang sah. Orang percaya harus menerima kenyataan panggilan ini, bahwa sepanjang umur hidupnya hanyalah sebuah proses pendidikan. Untuk ini seseorang harus melepaskan diri dari segala ikatan, artinya tidak ada sesuatu yang boleh dianggap berharga. Berkenaan dengan hal ini Tuhan Yesus berkata bahwa tiap-tiap orang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid Tuhan Yesus (Luk. 14:33).
     
    Ketika Bapa berkata bahwa Tuhan Yesus adalah Anak yang berkenan, Tuhan Yesus belum menjadi pemenang. Ia memang berkenan atau menyenangkan hati Bapa karena rela meninggalkan kemuliaan, tetapi Ia belum sampai pada kesempurnaan dalam menunaikan tugas Bapa. Demi tugas dari Bapa, Ia menganggap kemuliaan yang dimiliki-Nya tidak berharga dibanding dengan ketaatan-Nya kepada Bapa di surga. Ia meninggalkan kemuliaan yang telah dimiliki-Nya sebelum dunia dijadikan dengan mengosongkan diri dan dalam segala hal disamakan dengan manusia. Setelah usia 30 tahun, Ia bersedia merendahkan diri disamakan dengan orang berdosa, kemudian dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Itulah sebabnya Ia memperoleh pengakuan bahwa diri-Nya adalah Anak yang berkenan.
     
    Puncak perjuangan-Nya adalah ketika Ia disiksa, dihina, dan dipermalukan di depan umum, tetapi Ia tetap tekun menanggung bantahan atau perlawanan atau pemberontakan dari manusia yang sebenarnya adalah ciptaan dan milik-Nya. Ia adalah Anak Tunggal Allah Bapa yang berkenan, tetapi kalau Ia tidak menjadi pemenang, Ia akan terpisah dari Bapa di surga. Itulah sebabnya dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Hanya karena kesalehan-Nya-lah Ia diselamatkan dari maut (Ibr. 5:7-9). Jika Tuhan Yesus tidak taat kepada Bapa dan tidak menghormati Bapa, maka Ia dapat terpisah dari Allah Bapa selama-lamanya.
     
    Perlombaan untuk menjadi anak-anak Allah yang sah harus dapat kita mengerti dan terima dengan segenap hati, kalau kita mendalami seluruh ayat dalam Ibrani 12. Perjuangan ini harus menjadi satu-satunya perjuangan atau seperti perlombaan yang diwajibkan. Dalam Ibrani 12 ini terdapat kebenaran penting berkenaan dengan hal ini, bahwa kita harus memandang kepada Tuhan Yesus, artinya meneladani ketekunan-Nya untuk menjadi pemenang. Dialah satu-satunya model Anak Allah yang harus kita teladani. Diwajibkan artinya tidak bisa tidak kita harus mengikutinya. Untuk menjadikan ini wajib bagi kita, kita tidak boleh menjadikan sesuatu yang lain sebagai wajib. Dengan demikian hanya satu yang mutlak harus kita capai, yaitu menjadi anak-anak Allah. Semua hal yang kita lakukan haruslah bermuara pada perlombaan tersebut. Hanya dengan cara ini kita memuliakan Tuhan, yaitu ketika kita menganggap dan memperlakukan Tuhan sebagai berharga. Hal inilah yang dilakukan oleh Abraham di seluruh perjalanan hidupnya, ia hanya memenuhi panggilan untuk menemukan negeri yang Allah janjikan. Inilah satu-satunya perlombaan yang diikuti.
     
    Untuk menjadi pemenang seperti Yesus harus ada perjuangan sampai akhir hayat, seperti yang disaksikan oleh Paulus. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari,
    0 min
  • Dipimpin Oleh Roh
    Untuk menjadi anak-anak Allah yang sah, seseorang harus memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Ini adalah tatanan Allah. Firman Tuhan jelas sekali mengatakan bahwa orang-orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah ago (ἄγω), yang artinya dipimpin dengan berpegangan tangan atau berjalan bersama menuju suatu arah tujuan tertentu. Membutuhkan atau menuntut kesediaan seseorang untuk mengubah seluruh cara berpikir dan arah hidupnya agar dapat berjalan seiring dengan Roh Kudus. Pimpinan Roh Kudus bukanlah pemaksaan. Kalau seseorang bersedia dipimpin, maka ia akan hidup dalam pimpinan; tetapi kalau seseorang menolak pimpinan-Nya, maka Roh Kudus akan undur. Dalam hal ini harus dipahami bahwa Roh Kudus tidak memaksa seseorang untuk hidup dalam pimpinan-Nya.
    Setiap orang percaya harus hidup dalam pimpinan Roh. Hidup menurut Roh seperti hutang yang harus dibayar. Setiap orang percaya harus membayarnya. Hidup dalam pimpinan Roh bukan sesuatu yang otomatis bisa berlangsung. Orang percaya harus menggunakan kehendak bebasnya untuk dipimpin Roh Kudus. Itulah sebab Firman Tuhan berkata: “Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Rm. 8:12-13). Dari pernyataan ini jelas bahwa hidup menurut Roh adalah panggilan yang harus dipenuhi. Dikatakan bahwa orang percaya adalah “seperti orang berhutang” untuk hidup menurut Roh berarti ini suatu keharusan yang tidak bisa tidak harus dipenuhi. Inilah tatanan Allah yang tidak boleh dan memang tidak dapat dihindari.
    Dalam Roma 8:14 Firman Tuhan menunjukkan bahwa orang yang sah sebagai anak-anak Allah adalah orang-orang yang hidup dalam pimpinan Roh (Roh Allah). Kualifikasi ini tidak bisa digantikan dengan yang lain. Orang yang hidup dalam pimpinan Roh adalah orang-orang yang selalu melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Allah. Hanya orang yang memiliki cara berpikir Allah yang dapat melakukan hal ini. Itulah sebabnya dalam Roma 12:2, Firman Tuhan mengatakan agar orang percaya tidak serupa dengan dunia ini. Orang percaya harus berusaha mengerti kehendak Allah sampai tingkat sempurna.
    Hal ini merupakan pergumulan inti orang percaya. Dengan menjadi orang percaya, berarti kita berhutang untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging. Menurut daging artinya menuruti diri sendiri atau hidup dalam kewajaran manusia lain hidup. Mereka memikirkan hal-hal dari daging atau dunia ini; mereka tidak berpikir mengenai kehidupan di balik kuburnya. Banyak orang Kristen masih berkondisi seperti ini. Adapun hidup menurut Roh artinya hanya bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tentu saja orang-orang yang hidup menurut pimpinan Roh tidak lagi hidup menuruti keinginannya sendiri, tetapi mengarahkan diri kepada kehendak dan rencana Tuhan, serta memfokuskan diri pada kehidupan yang akan datang, yaitu Kerajaan Surga. Jika orang percaya bisa melakukan hal ini, betapa hebat kualitas hidup yang dimilikinya. Hal inilah yang mengesahkan dan menunjukkan bahwa dirinya adalah anak-anak Allah.
    Orang percaya yang menolak hidup menurut Roh atau dalam pimpinan Roh -sehingga masih memikirkan hal-hal yang dari daging- berarti masih hidup dalam “roh perbudakan”. Jadi jelaslah, apakah seseorang masih hidup dalam roh perbudakan atau sudah hidup dalam pimpinan Roh tergantung masing-masing individu. Jemaat Roma adalah jemaat yang luar biasa. Mereka berani menentang aniaya yang hebat terhadap mereka dari pihak pemerintah Romawi. Mereka berani kehilangan apa pun juga demi iman mereka. Inilah orang-orang yang telah memikirkan hal-hal dari Roh, bukan dari daging. Itulah sebabnya tanpa ragu-ragu Paulus mengatakan kepada mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih dari orang-orang yang menang. Orang-orang yang menang maksudnya adalah orang-orang Roma yan...
    0 min
  • Perubahan Status
    Banyak orang Kristen tidak tahu bahwa tujuan keselamatan pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dengan berkeadaan sebagai anak-anak Allah, maka seseorang barulah mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak-anak Allah. Ini adalah tatanan Allah. Dengan demikian seseorang dikatakan berstatus sebagai anak-anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Berkeadaan sebagai anak-anak Allah maksudnya memiliki ciri-ciri nyata dalam kehidupan ini yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Dalam hal ini paling tidak ada 5 ciri seorang yang berkeadaan sebagai anak-anak Allah.
    Pertama, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela.
    Kedua, tidak memiliki perasaan takut menghadapi segala keadaan.
    Ketiga, tidak memandang dunia sebagai keindahan.
    Keempat, merindukan rumah Bapa.
    Kelima, berjuang tanpa batas melakukan kehendak Bapa dalam pelayanan penyelamatan jiwa-jiwa.
    Masing-masing butir ini memuat pengertian yang luas dan mendalam. Tanpa ciri-ciri ini seseorang tidak pantas menyandang statusnya sebagai anak-anak Allah. Jadi, kalau kita belum memiliki ciri-ciri ini, seharusnya kita bertobat dan berjuang sungguh-sungguh untuk mencapainya.
     
    Setiap orang percaya harus mengalami proses perubahan status dari “anak gampang” (anak yang tidak sah) atau nothos (Yun. νόθος) menjadi anak yang sah atau huios (Yun. υἱός). Nothos adalah anak yang tidak resmi (Ing. Illegitimate child, a child born to unmarried parental). Penjelasan mengenai nothos dan huios ini tertulis di dalam Ibrani 12. Inilah perjuangan yang harus dijalani setiap orang percaya sebagai perlombaan yang diwajibkan (Ibr. 12:1). Betapa malangnya orang-orang yang merasa sudah sah sebagai anak-anak Allah, sehingga tidak bertekun dalam perlombaan yang diwajibkan tersebut. Sebagai gantinya, yang diusahakan adalah pengesahan sebagai “manusia yang wajar” di mata manusia lain dengan segala atributnya. Atributnya antara lain pendidikan, pekerjaan, teman hidup dan berumah tangga, memiliki keturunan, fasilitas seperti rumah, mobil, barang branded, dan berbagai fasilitas lainnya. Semua ini dipandang sebagai memberi martabat. Pada umumnya orang berjuang hanya untuk hal-hal ini sampai ia masuk ke dalam kubur. Mereka akan sangat menyesal, kalau ternyata perjuangan yang mereka lakukan selama hidup di bumi ini sia-sia. Mereka hanya bekerja mencari roti yang dapat binasa, tetapi bukan mencari roti yang tidak dapat binasa (Yoh. 6:27).
     
    Satu hal yang harus dipahami orang percaya adalah bahwa pengesahan sebagai anak-anak Allah yang sah ditentukan oleh apakah seseorang mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau berkodrat Ilahi atau tidak (Ibr. 12:10; 2Ptr. 1:3-4). Mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau mengenakan kodrat Ilahi artinya memiliki karakter seperti Bapa sehingga dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan Bapa. Dengan hal ini hendaknya seseorang tidak mudah mengaku sebagai anak Allah yang sah dan merasa layak masuk ke dalam Kerajaan Surga hanya karena menjadi orang Kristen dan merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya bukanlah sesuatu yang sederhana. Harus dipahami dengan benar bahwa percaya bukan saja pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Percaya adalah tindakan selalu melakukan apa pun yang dikehendaki oleh Bapa. Untuk memiliki percaya yang benar, seseorang harus melakukan perjuangan, karena percaya bukan hanya aktivitas pikiran tetapi tindakan konkret dalam perilaku setiap hari. Dalam hal ini ada usaha dalam perjuangan yang sungguh-sungguh melepaskan cara hidup yang lama dan mengenakan cara hidup yang baru.
     
    Penyesatan yang sudah mendarah daging dalam kehidupan banyak orang Kristen selama ratusan tahun adalah ajaran yang memudahkan seseorang berstatus sebagai anak-anak Allah. Dikesankan secara tidak langsung maupun secara langsung bahwa semua orang Kristen yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus adalah anak-...
    0 min
  • Berjuang Menjadi Anak-Anak Allah Yang Sah
    Ternyata untuk menjadi anak-anak Allah yang sah juga perlu perjuangan. Ini adalah tatanan Allah. Kalau kita berbicara mengenai anak-anak Allah, perlu kita meninjau Yohanes 1:12 bagi mereka yang percaya, diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. “Kuasa” itu dari teks aslinya exousia (ἐξουσία), yang artinya hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak-anak Allah. Fasilitas itu adalah pemeliharaan Tuhan, Roh Kudus, Firman, dan penggarapan intensif Allah atas orang yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Jadi kuasa itu tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak-anak Allah. Tetapi kuasa itu diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah. Jadi kalau seseorang tidak memanfaatkan kuasa itu, maka seseorang tidak pernah menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti berkarakter seperti Allah; Like father like son. Panggilan sebagai orang percaya hanya ini: Menjadi serupa dengan Bapa (Mat. 5:48; 1Ptr. 1:17). Tentu saja orang yang tidak memiliki karakter seperti Bapa tidak pantas menyebut dirinya sebagai anak-anak Allah. Ciri dari orang Kristen yang sah sebagai anak-anak Allah adalah ketika ia memiliki karakter Bapa. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak sembarangan menunjuk seseorang sudah menjadi anak-anak Allah.
     
    Jadi, pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak-anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak-anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu, maka ia akan bertumbuh menjadi anak-anak Allah yang sah. Jika tidak, maka ia tidak akan bertumbuh. Ciri dari nothos adalah tidak mau dihajar dan diajar Bapa (Ibr. 12:7-9). Dalam hal ini respon seseorang terhadap keselamatan yang Tuhan berikan sangat penting. Artinya, tanpa respon, seseorang tidak akan menjadi anak-anak Allah yang sah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Berjuanglah melalui pintu yang sesak” (Luk. 13:24).
     
    Paulus juga berkata: “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Flp. 2:2-13). Semua itu tidak boleh diperhitungkan sebagai jasa seolah-olah seseorang bisa menjadi anak-anak Allah sebagai hasil usahanya. Usaha manusia bagaimana pun kerasnya, tidak bisa menyelamatkan dirinya tanpa salib Kristus. Jadi usaha untuk disahkan sebagai anak-anak Allah hanyalah respon terhadap keselamatan yang Tuhan sediakan. Ini adalah tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh setiap orang Kristen. Tentu saja perjuangan ini bukanlah dinilai sebagai jasa, sebab kalau Yesus tidak mati di kayu salib, tidak ada pintu anugerah sama sekali. Jadi, “mengerjakan keselamatan” dengan takut dan gentar adalah respon terhadap anugerah, bukan usaha untuk mencapai atau memiliki keselamatan dengan usaha manusia sendiri.
     
    Alkitab menulis bahwa semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yoh. 1:12). Kata “menerima” di dalam teks ini, bahasa aslinya adalah elabon (ἔλαβον) dari akar kata lambano (λαμβάνω) yang selain berarti menerima (to accept), juga berarti to get hold of (berpegang tetap). Kata ini bisa menimbulkan berbagai penafsiran. Tetapi pada umumnya banyak orang Kristen berpikir bahwa kalau mulutnya sudah mengaku Yesus adalah Tuhan dan hatinya merasa percaya, berarti ia sudah menerima Dia. Kemudian ia merasa bahwa dirinya sudah selamat. Ini tidak benar. Pertanyaan yang patut dilontarkan adalah apakah Tuhan Yesus sudah merasa dan mengakui bahwa orang tersebut telah menerima Dia? Ingat, banyak orang merasa sudah mengenal Tuhan Yesus dan merasa pasti diterima oleh Dia, ternyata ditolak (Mat. 7:21-23).
     
    Hendaknya kita tidak menyederhanakan kata “menerima” dalam Yohanes 1:12 ini. Sebagai ilustrasi, apakah kalau seorang mempelai wanita berkata kepada mempelai pria: Aku menerima engkau sebagai suamiku,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…