Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tidak Menghormati Allah
    Lusifer yang jatuh, tidak akan terbukti bersalah sebelum ada pembuktiannya. Kalau kesalahan manusia dalam perilaku konkretnya dapat dibuktikan dengan Taurat, tetapi bagaimana dengan kesalahan Lusifer? Dalam pemberontakannya, ia ingin menyamai Allah. Dalam dirinya mulai muncul hasrat yang bertentangan dengan keinginan Allah. Kesalahan Lusifer berangkat dari dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa dibuktikan dengan hukum yang tertulis. Lusifer tidak menempatkan diri sebagai makhluk ciptaan yang tunduk di hadapan Allah. Untuk membuktikan kesalahannya, harus ada makhluk yang memiliki ketaatan dan penghormatan yang benar kepada Allah dan memiliki persekutuan dengan Dia secara benar. Makhluk yang memiliki ketaatan kepada Bapa itulah sebagaicorpus delicti. Dengan adanya corpus delicti akan membungkam Iblis sehingga tidak bisa mengelak, sebab Iblis terbukti melakukan suatu kesalahan. Inilah rule of the game (life)-nya.
     
    Jelas sekali bahwa Lusifer -yang adalah makhluk ciptaan yang seharusnya dibawahi atau didominasi oleh Allah ini- mencoba untuk menolak hidup dalam kedaulatan dan kekuasaan Allah. Ia ingin berdaulat sendiri. Hal ini nampak dalam tulisan Yesaya, bahwa ia mau mendirikan takhtanya sendiri. Kata mendirikan (takhta) dalam teks aslinya adalah riwn (רוּם) yang lebih berarti menaikkan ke atas. Dalam bahasa Inggris, kata ini diterjemahkan exalt atau lift-up. Sikap menyamai Tuhan atau menempatkan diri sebagai Tuhan nampak dalam tulisan Yesaya 14:13-14, bahwa ia akan duduk di atas bukit pertemuan. “Bukit pertemuan” dalam teks aslinya adalah mowed (מוֹעֵד), yang dapat diterjemahkan sebagai appointed place atau sacredseason (tempat yang ditunjuk atau ditentukan dan waktu yang kudus). Kata yang sama ditemukan dalam 2 Tawarikh 8:13, yaitu kata mowadah (מוֹעָדָה). Kata ini menunjuk hari raya di mana bangsa Israel mengadakan hari raya bagi atau di hadapan Allah. Di sini Lusifer mau menduduki tempat yang diduduki oleh Allah.
     
    Dikatakan juga bahwa Lusifer mau naik ke langit, artinya ia melanggar batas wilayah di mana ia ditempatkan. Kata “naik” dalam teks aslinya adalah alah (עָלָה). Kata alah ini juga memiliki pengertian mendaki. Langit yang didaki adalah shamayim (שָׁמַיִם). Timbul pertanyaan: Apakah Lusifer tidak di surga pada waktu itu? Tentu pada waktu itu ia di surga, tetapi harus dipahami bahwa surga pun memiliki tingkatan. Maksudnya naik ke langit adalah Lusifer menginginkan tempat atau kedudukan yang lebih tinggi. Lebih tinggi dari bintang-bintang Allah. Hal ini memberi kesan bahwa Lusifer tidak mau dibawahi, tetapi ia mau membawahi bintang tanpa harus ada di bawah kedaulatan siapa pun. Lusifer mau menjadi kepala pemerintahan. Itulah sebabnya ia ingin menaikkan takhtanya.
     
    Kesalahan Iblis bukan kesalahan yang hanya menyangkut tindakan yang nampak, tetapi dari sikap hati yang ingin menyamai Allah. Dalam Alkitab kita tidak menemukan bentuk konkret pemberontakannya secara fisik. Pada dasarnya Lusifer tidak menempatkan diri sebagai ciptaan yang harus hidup dalam ketaatan kepada Allah secara mutlak dan total dari sikap batin sampai tindakan luarnya. Dengan tindakan hendak menyamai Tuhan tersebut, Lusifer bersikap tidak menghormati Allah. Sikap menghormati Allah bukan hanya terbukti dalam tindakan yang dapat dilihat, tetapi sikap hati pun memainkan peranan apakah seseorang menghormati Allah atau tidak. Walaupun hanya dalam bentuk keinginan seperti Lusifer ingin menyamai Yang Mahatinggi, keinginan tersebut sudah merupakan tindakan tidak menghormati Allah.
     
    Manusia yang diciptakan ini diharapkan dapat menampilkan suatu kehidupan yang bersekutu dengan Bapa, taat, menghormati, memuliakan Allah, dan meninggikan Allah Bapa, serta mengabdi dan melayani-Nya secara pantas. Manusia harus menampilkan diri sebagai makhluk ciptaan yang berlaku benar sebagai ciptaan; diciptakan hanya untuk mengabdi dan melayani Penciptanya. Hal tersebut dapat menjadi bukti terhadap kesalahan L...
    0 min
  • Hukum Pembuktian
    Allah tidak akan pernah bertindak secara sembarangan tanpa aturan, tanpa hukum, atau rule. Allah adalah Allah yang tertib dan selalu bertindak dalam tatanan-Nya yang konsisten dan sempurna. Di dalam diri-Nya ada hukum, aturan, sistem, atau kebijakan-kebijakan dari kecerdasan-Nya yang sempurna. Dalam bertindak ada hukum atau semacam “The rule of the game” (aturan main) atau “The rule of the life” (hukum kehidupan) yang oleh kedaulatan-Nya sendiri Allah tetapkan. Allah bertindak sesuai dengan hukum atau aturan tersebut. Hukum atau tatanan dalam diri Allah inilah yang pasti dipahami oleh oknum yang disebut Lusifer, sehingga ia berani memberontak kepada Allah. Ia tahu bahwa Allah terikat dengan hukum dalam diri-Nya dan Ia tidak dapat menyangkalinya. Lusifer memanfaatkan realitas tersebut untuk mewujudkan keinginannya.
    Seharusnya pemahaman terhadap hakikat Allah dimaksudkan agar makhluk ciptaan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Inilah yang Allah Bapa kehendaki, menciptakan makhluk yang segambar dengan diri-Nya dengan kemampuan mengenal hakikat-Nya agar bertindak seperti Dia bertindak, sehingga dapat menyenangkan atau memuaskan hati Allah Bapa. Tetapi Lusifer memanfaatkan pengenalan akan hakikat-Nya tersebut untuk memberontak kepada-Nya. Seharusnya dengan mengenal seluk-beluk Allah (hakikat-Nya), anak-anak-Nya meninggikan, memuliakan, dan mengokohkan takhta-Nya, tetapi Lusifer sebaliknya menemukan celah untuk bisa merebut takhta-Nya serta mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri.
     
    Memang hal ini tidak tertulis secara eksplisit (terang-terangan), tetapi inilah fakta yang bisa ditangkap secara logis yang bisa menjawab pertanyaan diatas (mengapa Allah tidak bisa segera membinasakan Iblis?). Dari menganalisa secara jujur, mendalam, dan analistis atas tindakan-tindakan Allah yang ditulis dalam Alkitab, maka kita dapat memperoleh pemahaman yang tepat berkenaan dengan diri Allah dan hukum kehidupan ini. Sangatlah logis kalau dipahami bahwa tidak mungkin Lusifer berani melawan Allah Bapa tanpa alasan atau dasar yang kuat. Ternyata Lusifer melihat celah peluang atau kemungkinan untuk bisa memenangi perlawanan terhadap Allah, sebab Allah tidak bisa bertindak di luar hukum keadilan-Nya. Lusifer mencoba mencari kesempatan untuk mendapat keuntungan dari realitas tersebut. Ia membawa dirinya dengan Allah pada suatu “pertarungan”. Lusifer “berjudi” dengan keputusannya sendiri. Ia berharap bisa memperoleh apa yang diinginkan, yaitu mengangkat diri sebagai penguasa menyamai Allah. Itulah sebabnya dikatakan dalam Yehezkiel 28:16, bahwa ia berdagang. Berdagang artinya melakukan suatu usaha untuk memperoleh keuntungan, tetapi masih bersifat “spekulatif” (untung-untungan). Di mana pun, aktivitas perdagangan memiliki unsur spekulatif ini.
     
    Mengapa Allah tidak bisa membinasakan Lusifer saat itu juga ketika ia memberontak? Sebab tindakan Lusifer belum bisa dikatakan salah selama tidak ada verifikasi atau pembuktian bahwa Lusifer bersalah. Harus ada semacam “corpus delicti”. Istilah corpus delicti ini sebenarnya diambil dari istilah hukum, tetapi dibawa ke ranah teologi. Pertama yang menggunakan istilah ini adalah Dr. J. Verkuyl dalam bukunya Etika Kristen. Dalam tulisannya, Dr. J. Verkuyl menyatakan bahwa hukum Taurat adalah corpus delicti. Tanpa hukum Taurat maka pelanggaran tidak terbukti sebagai pelanggaran. Harus ada corpus delicti untuk membuktikan suatu kesalahan.
     
    Kalau menurut etimologi, maka kata corpus delicti berasal dari bahasa Latin. Corpus artinya tubuh atau badan, sedangkan delicti artinya pelanggaran. Secara sempit, corpus delicti artinya bukti suatu kejahatan. Corpus delicti adalah fakta penting dalam dunia hukum untuk menegakkan suatu keadilan, bahwa suatu tindakan seseorang tidak bisa dikatakan salah dan orang tersebut dihukum sebelum terbukti kesalahannya. Dengan demikian corpus delicti menunjuk fakta yang membuktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan.
    0 min
  • Menguduskan Tempat Kerja
    Oleh karena tempat di mana seseorang bekerja adalah tempat pelayanan bagi Tuhan, maka kerja harus dibersihkan dari motif-motif yang salah; yang dapat merusak arti, nilai, dan tujuan kerja. Seperti yang kita tahu bahwa akibat dosa maka motif kerja manusia telah dirusak dan dibinasakan Iblis; tetapi oleh kasih karunia Tuhan Yesus, maka kita diperkenankan untuk memiliki kembali motif kerja yang benar (ibadah bagi Tuhan – Rm. 12:2) yang secara langsung akan menghapus segala motif-motif yang keliru. Pada prinsipnya, motif kerja yang benar adalah kerja bagi Tuhan (1Kor. 10:31; 2Kor. 5:14-15; Flp. 1:21). Bila motif kerja demikian, maka kita akan terhindar dari motif-motif kerja yang fasik (tidak takut Tuhan dan tidak peduli hukum-Nya).
     
    Motif kerja yang salah selama ini mendominasi banyak manusia, antara lain: gila hormat, keangkuhan, dan ketakutan. Kerja dengan motif ini berarti bekerja dengan sikap hati yang penuh kekhawatiran dan ketamakan, mamonisme, hasrat untuk menjadi kaya (1Tim. 5:6-10). Dengan motivasi yang benar dalam kerja -yaitu hidup “bagi Tuhan”- maka seseorang dapat bekerja dengan sikap hati yang penuh kasih terhadap Allah dan sesama. Inilah kerja dengan hati percaya tanpa kekhawatiran, ketamakan, atau motif salah lainnya.
     
    Pada umumnya orang masih memisahkan antara ibadah kepada Tuhan dan kehidupan setiap hari. Mereka beranggapan bahwa ibadah kepada Tuhan adalah bagian dari hidup ini. Itulah sebabnya mereka membedakan antara kegiatan yang bersangkut paut dengan Tuhan -seperti berdoa, menyanyi lagu rohani, ke gereja- dengan kegiatan yang tidak bersangkut paut dengan Tuhan -seperti bekerja di kantor, rekreasi dengan keluarga, olah raga, makan, minum dll-. Pemisahan atau pembedaan ini biasa disebut juga antara yang rohani dan duniawi. Bila masih memiliki anggapan atau sikap berpikir seperti ini, berarti belum mengerti kebenaran. Dunia ini diciptakan oleh Tuhan sendiri, bukan oleh oknum siapapun dan manapun.
     
    Hendaknya orang percaya tidak sesat seperti aliran agama-agama tertentu yang memandang dunia ini jahat. Dalam Kejadian 1:28-29, Tuhan berfirman agar kita mengelola dunia ini. Perintah untuk mengelola dunia ini sebagai penyelenggaraan kehidupan di bumi ini merupakan perintah kudus yang rohani dan tidak boleh diidentifikasi sebagai duniawi. Itulah sebabnya kita tidak boleh membedakan profesi duniawi dan rohani diukur dari jenis pekerjaan itu semata-mata. Karenanya pula kita tidak boleh merasa kurang kudus hanya karena kita memiliki profesi bukan sebagai pendeta atau tidak memiliki kegiatan di gereja.
     
    Dalam Roma 12:1-2 Paulus menjelaskan arti ibadah, yaitu mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan. Ini artinya membudidayakan tubuh untuk kepentingan kehidupan sesuai dengan maksud Tuhan dan tidak menggunakan tubuh dalam bentuk perbuatan yang melanggar Firman Tuhan. Untuk ini merupakan kewajiban agar anak-anak Tuhan meningkatkan kualitas kemampuan kerja dalam membudidayakan semua potensi yang ada di dalam dirinya dan belajar kebenaran Alkitab untuk mengerti bagaimana menggunakan tubuh sesuai dengan Firman Tuhan.
     
    Menjadi kesalahan fatal yang harus diluruskan yaitu konsep berbakti yang selama ini dimengerti oleh orang Kristen pada umumnya. Pada umumnya yang namanya berbakti kepada Tuhan selalu dikaitkan dengan kegiatan agama didalam lingkungan gereja. Kata berbakti dalam Alkitab Bahasa Indonesia dapat ditemukan dalam: Ulangan 13:4; Yosua 22:5; Matius 4:10; Lukas 4:8. Dalam Perjanjian Lama dapat ditemukan kata: Abad(עָבַד) yang diterjemahkan to work; serve; labor; bekerja, melayani. Kata ini memiliki padanan dengan kata latreuo(λατρεύω) artinya minister, to serve. Kata ini juga dapat kita temukan dalam Roma 12:1.
     
    Dalam hal ini harus dimengerti bahwa yang dimaksud berbakti bukan hanya menyangkut kegiatan di lingkungan gereja, tetapi meliputi seluruh gerak hidup kita.
    0 min
  • Arti Dan Nilai Kerja
    Pertanyaan yang harus terus digemakan dalam hati adalah: Apakah peranku dalam rencana penyelamatan umat manusia yang Bapa kehendaki? Tuhan Yesus berkata: Seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku mengutus kamu (Yoh. 20:21). Menjadi sekutu Tuhan adalah meneruskan karya yang telah dikerjakan Tuhan Yesus. Ini berarti seluruh kegiatan hidup kita hanya diarahkan kepada hal ini. Untuk ini, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengerti apa yang Tuhan Yesus kerjakan dalam kehidupan. Kehidupan Tuhan Yesus sepenuhnya dipersembahkan bagi Tuhan. Tidak ada yang dikerjakan-Nya untuk maksud lain, kecuali untuk proyek penyelamatan umat manusia yang diemban-Nya. Contoh paling konkret dalam kehidupan pengikut-Nya adalah kehidupan Paulus. Dalam prinsipnya ia berkata: Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah (Flp. 1:21-22).
     
    Dimensi hidup Paulus adalah dimensi hidup seorang yang menjadi sekutu Tuhan (Flp. 1:21). Dimensi hidup seperti ini tidak dikenal dalam kehidupan orang beragama pada umumnya. Banyak orang masih pada tataran seorang yang baik yang beragama, tetapi belum sampai tingkat menjadi sekutu Tuhan. Betapa sulitnya membuka pengertian orang untuk memahami bagaimana seharusnya hidup sebagai sekutu Tuhan. Dalam proyek penyelamatan umat manusia, Tuhan mempunyai banyak pekerjaan yang harus ditangani. Tuhan mencari orang-orang yang memiliki hati seperti Daud. Hati yang mengasihi Tuhan dan rela berbuat segala sesuatu demi kepentingan-Nya. Ketika seseorang masuk dalam proyek pelayanan yang benar, maka tidak ada hal besar dalam hidupnya kecuali pelayanan itu. Keindahan dunia pasti tidak akan dapat menjatuhkannya lagi.
     
    Kerja mempunyai arti dan nilai lengkap bukan hanya ditempatkan dalam rencana penciptaan alam semesta, tetapi juga dalam rencana Allah untuk menyelamatkan dunia ini melalui karya salib Kristus. Manusia bukan saja dipercayai untuk mengelola alam semesta, tetapi di zaman penggenapan (zaman Injil diberitakan), umat pilihan juga dipercayai untuk terlibat dalam penerusan karya keselamatan dalam Yesus Kristus. Dalam hal yang kedua ini, manusia dilibatkan untuk mengambil bagian dalam rencana penyelamatan Allah atas dunia ini. Manusia menjadi kawan sekerja Allah bukan saja dalam meneruskan karya penciptaan, tetapi juga dalam karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus atas orang berdosa. Itulah sebabnya karya penyelamatan Allah melalui korban Kristus dalam keadaan “belum selesai”, atau dalam keadaan masih “harus diteruskan”.
     
    Karya keselamatan tidak boleh berhenti hanya di Bukit Kalvari, tetapi harus sampai ke ujung bumi. Dalam hal ini jelaslah bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk turut serta dalam pelebaran Kerajaan Allah, yaitu memperkenalkan Tuhan Yesus kepada mereka yang belum mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan pendewasaan rohani umat Tuhan, yaitu mereka yang sudah percaya melalui proses pemuridan. Untuk penyelenggaraan pelebaran Kerajaan Allah ini atau pelayanan pekerjaan Tuhan dibutuhkan berbagai sarana, dari manusia sebagai pelakunya sampai fasilitas pelayanan (uang, transpotasi, gedung, alat musik untuk ibadah, dan lain sebagainya). Anak-anak Tuhan dipanggil untuk bekerja mencari nafkah guna kehidupannya sendiri dan menyediakan fasilitas pelayanan tersebut.
     
    Dalam karya keselamatan Tuhan Yesus Kristus, kerja manusia telah diubahkan menjadi kerja yang kekal, maksudnya bahwa kerja manusia bagi Allah adalah kerja yang berdampak dalam kekekalan(Yoh. 15:16). Berdampak kekal di sini maksudnya adalah bahwa hasil kerja anak-anak Tuhan dalam pengabdian kepada Tuhan akan diperhitungkan Tuhan di Kerajaan-Nya yang kekal nanti. Dalam hal ini manusia diperkenan menjadi kawan sekerja Allah. Inilah maksud dan tujuan kekal Allah menciptakan manusia. Di tempat masing-masing sesuai dengan panggilan khusus yang diemban anak-anak-Nya -sebagai pedagang,
    0 min
  • Tatanan Bekerja
    Salah satu hakikat yang dimiliki Allah adalah Allah yang bekerja. Allah bukanlah Allah yang tidak berkehendak, bukan Allah yang diam tanpa karya. Ia adalah Allah yang aktif berkarya dan bekerja. Dari apa yang dikemukakan dalam Alkitab yang tertulis dalam kitab Kejadian 1-2, didapati kebenaran bahwa ternyata Tuhan adalah Seniman dan Arsitek Agung. Tuhan adalah pribadi yang memiliki kehendak dan gagasan-gagasan. Sebagaimana Allah adalah Allah yang bekerja, maka manusia juga memiliki hakikat sebagai pekerja. Manusia adalah makhluk yang bisa aktif berkarya sebagaimana Allah adalah Allah yang aktif berkarya. Karena manusia memiliki hakikat ini dengan segala potensi yang Allah berikan, maka Allah mempunyai rencana kekal atas manusia (Kej. 2:15).
     
    Pola rencana kekal itu sudah ditunjukkan di kitab Kejadian, yaitu manusia diciptakan untuk bersekutu, melayani, dan mengabdi kepada Tuhan. Manusia dijadikan kawan sekerja Allah. Inilah tatanan yang ada pada Allah. Allah menempatkan ciptaan-Nya sebagai kawan sekerja. Hal ini menjadi tujuan hidup satu-satunya yang manusia harus miliki. Fakta ini yang membedakan manusia dari hewan atau makhluk lain. Hewan atau makhluk lain bergerak hidup hanya sekadar memenuhi siklus kehidupan sesuai dengan habitatnya. Tetapi manusia bekerja dengan kerelaan, kesadaran, dan kesengajaan sebagai pengabdian kepada Tuhan, sebagai kawan sekerja Allah yang sehakikat dengan-Nya dalam kerja.
     
    Oleh karena dosa, manusia tidak lagi hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, pelayanan dan pengabdian kepada Tuhan secara benar. Pada umumnya manusia hidup dalam persekutuan dengan dunia dan Iblis. Manusia hidup dalam pemberontakan terhadap Allah. Selanjutnya, manusia melayani diri sendiri. Ini berarti manusia telah kehilangan maksud dan tujuan dirinya diciptakan. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, agar manusia hidup hanya untuk mengabdi atau melayani Tuhan. Bila seseorang memiliki keselamatan dalam dirinya, maka ia akan menunjukkan buah pertobatan dan kelahiran barunya dengan pelayanan yang benar kepada Tuhan. Pelayanan berarti segala sesuatu yang dikerjakan semua untuk kepentingan Tuhan. Manusia bekerja dalam berbagai profesi dan bidang ditujukan bagi kepentingan Tuhan.
     
    Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh Allah yang memiliki keberadaan seperti Allah sendiri, yaitu segambar dengan Allah (Imago Dei). Salah satu hakikat yang dimiliki Allah adalah bahwa Allah adalah Allah yang bekerja. Allah bukanlah Allah yang tidak berkehendak, bukan Allah yang diam tanpa karya. Ia adalah Allah yang aktif berkarya, penuh inisiatif, dan bekerja. Demikianlah, sebagaimana Allah adalah Allah yang bekerja, maka manusia juga adalah manusia yang bekerja. Kerja merupakan unsur hakikat manusia yang dijadikan menurut gambar Allah (the nature of man is a worker).
     
    Oleh karena kerja adalah suatu unsur hakikat manusia, maka kerja itu juga merupakan perintah Allah. Allah dapat memerintahkan manusia untuk bekerja sebab manusia memiliki potensi dan natur atau kodrat demikian. Oleh karena manusia adalah seorang pekerja, maka bumi ini diciptakan Tuhan dalam keadaan yang “harus dan masih diteruskan”. Manusia menerima mandat dari Tuhan untuk mengelola bumi ini (Kej. 2:15). Ini bukan berarti Allah tidak mampu menyelesaikan atau meneruskan pekerjaan-Nya. Di sini Allah melibatkan manusia sebagai pekerja untuk bekerja mengelola hasil karya-Nya. Bila manusia tidak dilibatkan untuk bekerja, berarti Allah membunuh hakikat manusia itu sendiri. Perintah kerja dari Tuhan untuk manusia merupakan petunjuk bahwa Tuhan konsekuen dengan maksud-Nya menjadikan manusia sebagai kawan sekerja-Nya dalam mengelola alam semesta ini.
     
    Manusia bekerja mengembangkan diri bertalian dengan fasilitas alam semesta yang Tuhan telah ciptakan. Inilah yang disebut sebagai mandat untuk berbudaya.
    0 min
  • Memerankan Panggilan Sebagai Hamba Tuhan
    Alkitab mengatakan bahwa semua orang yang ditebus oleh darah Tuhan Yesus bukan milik mereka sendiri, tetapi telah menjadi milik Tuhan. Mereka harus hidup untuk kemuliaan Tuhan (1Kor. 6:19-29). Mereka yang telah menerima korban Tuhan Yesus telah mati bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi kepentingan Tuhan (2Kor. 5:14-15). Ini adalah tatanan Allah terkait dengan pemilikan. Ini berarti setiap anak Tuhan adalah hamba Tuhan, setiap orang yang telah ditebus oleh darah Yesus adalah pelayan-Nya. Pekerjaan Tuhan yang luas tidak dapat dikerjakan hanya oleh mereka yang telah disahkan sinode sebagai pejabatnya, tetapi setiap orang percaya harus melayani Tuhan, untuk menggenapi rencana Allah yang agung.
    Terkait dengan hal tersebut kita harus dapat membedakan antara misi dan panggilan. Kata “misi” diganti dengan kata “pelayanan”, kita harus bisa membedakan antara “pelayanan” dan “panggilan”. Setiap orang harus hidup dalam misi Bapa atau pelayanan pekerjaan Tuhan. Respon kita terhadap tanggung jawab hidup adalah kita memiliki peran melalui panggilan masing-masing di tempat di mana kita harus berada. Setiap orang Kristen harus hidup dalam misi Tuhan atau dalam pelayanan Tuhan (Hub. Yoh. 20:21). Setiap orang yang mengikut Yesus harus mengikuti jejak-Nya, setiap orang yang percaya kepada Yesus dan hidup di dalam Dia, ia harus hidup seperti Yesus hidup (1Yoh. 1:6). Hidup seperti Yesus hidup, juga berarti hidup dalam pelayanan (Mat. 20:28).
    Panggilan itu berkenaan dengan respon kita terhadap tanggung jawab hidup kita kepada Tuhan untuk hidup dalam misi-Nya atau dalam pelayanan, maka kita harus menemukan tempat di mana kita harus berada. Dalam 1 Korintus 12:12 dikatakan bahwa kita semua satu tubuh tetapi memiliki anggota yang berbeda. Untuk menggenapi rencana-Nya, Tuhan menempatkan kita masing-masing pada tempat kita yang khusus. Masing-masing orang percaya pasti memiliki panggilan yang khas, khusus, dan benar-benar spesifik. Apakah itu sebagai pendeta, pegawai, insinyur, dokter, akuntan, dan sebagainya. Di tempat di mana seseorang memiliki bidang hidup, di situlah mereka memerankan panggilannya. Dengan demikian profesi yang disandang seseorang menjadi tempat di mana seseorang melayani Tuhan sebagai hamba-Nya.
    Mengapa kita tidak berani berkata bahwa diri kita adalah hamba Tuhan yang statusnya full timer bagi Tuhan? Ada beberapa penyebabnya. Pertama, konsep yang salah mengenai pelayanan. Pelayanan selalu dikaitkan dengan kegiatan di lingkungan gereja. Padahal tanpa dukungan kaum di luar gereja, gereja lumpuh tidak dapat berbuat apa-apa. Harus diingat bahwa banyak anggota, tetapi satu tubuh (1Kor. 12:12). Masing-masing anggota memiliki panggilan khusus. Profesi yang disandang seseorang juga adalah jabatan rohani untuk mendukung rencana penyelamatan dunia. Pemisahan pekerjaan rohani dan pekerjaan duniawi yang diukur dengan pekerjaan di lingkungan gereja dan di luar lingkungan gereja adalah pembodohan yang membuat anak-anak Tuhan tidak sungguh-sungguh mengembangkan diri di bidang yang digelutinya sebagai pelayanan. Kemudian terjadi pengkultusan terhadap satu sosok. Padahal semua anak Tuhan adalah imamat-imamat bagi Tuhan (1Ptr. 2:9).
    Kedua, ketidaksediaan mempersembahkan segenap hidup bagi Tuhan. Hal ini terjadi sebab ia berkeberatan menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Pribadinya masih egois. Ia hanya melihat kepentingan dirinya, keluarga, dan orang-orang yang dianggap sebagai sesamanya. Orang-orang seperti akan merasa tidak aman kalau masuk dalam pelayanan. Ia merasa hidupnya akan terganggu. Ia merasa perjuangannya mencapai semua keberhasilan itu hanya pantas untuk dirinya sendiri. Kalaupun ia membagi miliknya bagi orang lain, ia pasti memberi dalam kelebihan atau kemewahannya, bukan seperti janda yang memberi segenap hidupnya, yang memberi dalam kekurangan (Luk. 21:1-4).
    Ketiga, ketidaksediaan meninggalkan kesenangan dunia, termasuk praktik dosa dalam kehidupannya setiap hari.
    0 min
  • Tatanan Untuk Bisa Dibenarkan
    Kata “pembenaran” berasal dari kata “benar” atau “kebenaran”, yang dalam bahasa Yunaninya adalah dikaiosune. Kata ini digunakan Tuhan Yesus dalam Matius 5:20. Inilah panggilan untuk memiliki sebuah kehidupan yang istimewa seperti yang terkandung dalam ucapan Tuhan Yesus di dalam Matius 5:20, Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Dengan demikian sesungguhnya pembenaran oleh iman bukan sekadar aktivitas pikiran. Pembenaran atas orang percaya dapat terjadi atau berlanagsung apabila orang percaya memiliki iman yang benar, yaitu tindakan untuk hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah.
    Kata “hidup keagamaanmu” dalam Matius 5:20 teks aslinya adalah dikaiosunen, yaitu kebenaran yang bertalian dengan tingkah laku. Adapun kata “lebih benar” terjemahan aslinya adalah perisseuse, dari akar kata perrisuo, yang dapat diterjemahkan make, more, exceed, membuat lebih besar. “Hidup secara luar biasa” di sini adalah luar biasa dalam kelakuan atau karakter, bukan pada prestasi popularitas, kebesaran gelar pangkat, harta kekayaan, dan lain-lain yang pada umumnya manusia memburunya dan terjebak di dalamnya. Dengan demikian, orang yang mengikut Yesus dengan benar pasti memiliki keberadaan moral lebih dari orang pada umumnya; bahkan lebih dari ulama agama, seperti ulama agama Yahudi.
    Ketekunan masuk proses penyempurnaan ini digambarkan dalam Lukas 18:1-8, seperti janda yang tekun membela haknya. Pembenaran juga dapat ditinjau dari dimensi yang akan datang (future). Suatu kali akan dinyatakan secara deklaratif dan umum bahwa orang-orang percaya yang setia hidup dalam kebenaran-Nya atau mengikut Tuhan Yesus dengan benar adalah orang-orang yang dibenarkan. Hal ini berangkat dari apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 18 tersebut. Jadi, janda tersebut adalah gambaran orang percaya yang teguh dengan integritasnya tidak mengikuti hidup jalan dunia (Luk. 17:26-37). Ini adalah orang percaya yang berupaya untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus.
    Jadi pembenaran (pembenaran dimensi pertama) dari Allah bila diresponi dengan benar akan melahirkan ketekunan (mendengar Firman Tuhan untuk memiliki iman); ketekunan seperti inilah yang dituntut dari setiap anak Tuhan memilikinya (pembenaran dimensi kedua). Dalam Lukas 18:8, terdapat keraguan dalam hati Tuhan, apakah ada iman seperti janda itu di akhir zaman nanti. Bila orang percaya memiliki ketekunan seperti janda tersebut, maka akan melahirkan iman yang seperti Tuhan kehendaki. Hal ini akan mendatangkan pembenaran dari Tuhan di akhir zaman (pembenaran dimensi ketiga). Kalau Alkitab menyatakan bahwa kita dibenarkan bukan karena perbuatan, tetapi karena iman (Rm. 4), bukan berarti dengan mudah seseorang dapat dibenarkan dengan meyakini di pikiran atau nalarnya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Itu hanya berarti memercayai identitas-Nya. Bahkan tidak cukup dengan memercayai sejarah-Nya. Untuk mengerti makna yang benar, orisinal, dan tepat mengenai dibenarkan oleh iman, kita harus melihat latar belakang jemaat Roma yang menerima tulisan tersebut.
     
    Iman yang dimiliki jemaat Roma tidaklah sama dengan iman yang dimiliki orang Kristen sekarang ini, kecuali mereka memiliki ketekunan seperti jemaat Roma. Jemaat Roma hidup dalam tekanan yang hebat dari pemerintahan Romawi, mereka harus mempertaruhkan segenap hidup mereka (kewarganegaraan, keluarga, kenyamanan hidup, bahkan nyawa mereka) demi iman mereka kepada Tuhan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan segala sesuatu, sama seperti Abraham yang telah meninggalkan segala sesuatu. Jika tidak memiliki kualitas iman seperti Abraham, maka belumlah dapat dibenarkan. Ini adalah tatanan Allah.
     
    Kalau dikatakan bahwa orang percaya pada waktu itu -khususnya jemaat Roma- tidak dibenarkan karena atau oleh perbuatan mereka,
    0 min
  • Tanggung Jawab Dalam Beriman
    Orang percaya tidak boleh menyederhanakan hal pembenaran oleh iman ini. Hendaknya orang percaya tidak gegabah mengatakan kepada semua orang Kristen bahwa mereka sudah dibenarkan. Harus diteliti terlebih dahulu apakah mereka memiliki iman yang benar atau tidak. Kalau iman seseorang adalah iman palsu, maka mereka belum dibenarkan. Hal ini paralel, ada pengajaran palsu melahirkan pertobatan palsu, membuahkan iman palsu, dan pembenaran palsu juga. Dalam hal ini hendaknya kita tidak menipu orang percaya atau jemaat lain dengan menunjukkan seakan-akan mereka yang sudah ke gereja dan menjadi orang Kristen pasti dibenarkan. Harus diteliti apakah pengajaran yang mereka telah terima selama ini adalah pengajaran yang benar, melahirkan pertobatan yang benar, membuahkan iman yang benar, sehingga pembenaran yang mereka miliki juga benar.
    Pembenaran terjadi ketika seseorang memiliki iman yang benar. Dan seseorang yang dibenarkan adalah seorang yang telah memiliki actus transiens, yaitu orang yang telah beralih dari kehidupan tak beriman ke kehidupan dalam kesadaran iman. Inilah yang dimaksud oleh Paulus dalam pernyataannya: Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal. 2:19-20).
    Jadi sebelum seseorang menerima pembenaran, ia telah bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, ia sudah belajar mengenal Injil Tuhan Yesus Kristus (ingat bahwa iman datang dari pendengaran). Dengan demikian, seseorang yang dibenarkan adalah seseorang yang telah memiliki bekal untuk bertumbuh terus dalam keselamatannya. Nantinya akan dapat dibuktikan apakah seseorang sudah hidup dalam pembenaran atau belum, yaitu melalui sikap dan perbuatannya atau buah-buah hidupnya. Seperti kehidupan Paulus yang sudah memiliki iman yang benar, maka gaya hidupnya sangatlah berubah.
    Dengan memiliki iman yang benar dan pembenaran yang benar, maka seseorang akan dibawa kepada pembenaran yang benar atau murni, bahwa pembenaran mengandung panggilan. Panggilan yang mutlak atau absolut yang harus dipenuhi, sebab Tuhan menghendaki pembenaran yang disediakan membawa perubahan yang signifikan, yaitu proses keselamatan dalam hidup seseorang terwujud, yaitu dikembalikannya kepada rancangan semula.
     
    Pembenaran ini mengandung konsekuensi, sebab dengan menerima pembenaran maka seseorang harus masuk ke dalam proses untuk diubah terus agar benar-benar menjadi benar. Adalah kejahatan kalau Allah hanya membenarkan atau menganggap seseorang tidak bersalah, setelah itu manusia dibiarkan berpesta merayakan dan menikmati pembenarannya tanpa tanggung jawab. Pembenaran yang diberikan kepada manusia adalah pembenaran dengan tanggung jawab. Oleh sebab itu pembenaran yang diberikan kepada seseorang harus disertai dengan pengertian maksud dan tujuan pembenaran itu diberikan atau dianugerahkan.
     
    Pembenaran dari Allah tidak membuat seseorang otomatis menjadi benar dalam karakter atau manusia batiniahnya. Tetapi akibat dari respon iman yang benar terhadap karya Kristus dan tanggung jawab untuk dipenuhi adalah hidup dalam pembenaran. Pembenaran harus dilanjutkan atau diteruskan dengan pembenahan diri terus menerus agar benar-benar menjadi benar. Pembenaran adalah hasil dari proses iman yang benar dan akan berlanjut terus sampai kepada kesempurnaan. Kata “pembenaran” dalam bahasa Latin adalah justificatio, yangmemiliki pertalian dengan kata justificare. Kata ini gabungan dari kata justus dan facere, yang artinya menjadikan benar.
     
    Pembenaran harus berlanjut pada proses dikembalikannya manusia kepada rancangan semula. Inilah maksud keselamatan dalam Yesus kristus. Tanpa proses menjadikan seseorang sebagai manusia ...
    0 min
  • Tatanan Dibenarkan Oleh Iman
    Alkitab berulang-ulang menyatakan bahwa orang benar dibenarkan oleh iman. Pernyataan ini penting sebab ini adalah inti dari iman Kristen. Berhubung ini hal yang sangat penting, maka orang percaya harus memahami apa yang dimaksud dengan iman itu. Dalam Alkitab kita banyak menemui kata “iman”. Bila diamati dengan teliti, maka paling tidak ada tiga jenis iman yang ditunjukkan Alkitab.
    Pertama, iman keyakinan. Iman yang bertalian dengan keyakinan atau harapan terhadap sesuatu yang bisa terjadi dan terwujud jika diyakini atau diharapkan dengan kuat. Pada dasarnya ini bukan iman yang dewasa. Jenis iman seperti ini ini disebut sebagai positive thinking dalam lingkungan sekuler dan psikologi. Iman keyakinan seperti tersebut di atas tidak atau belumlah iman yang menyelamatkan. Dibenarkan oleh iman, bukanlah iman seperti atau sejenis ini. Jadi, tidak cukup hanya meyakini keberadaan kuasa Allah. Biasanya iman seperti ini diadakan atau digunakan untuk mengeksploitasi Allah. Banyak jemaat diarahkan pada iman seperti ini dan mereka bangga apabila iman seperti itu melahirkan berbagai keajaiban-keajaiban, seakan-akan mereka telah mencapai kehidupan rohani yang puncak karena karya-karya tersebut.
    Kedua, iman persetujuan pikiran. Iman jenis ini bertalian dengan persetujuan pikiran yaitu menerima sesuatu sebagai suatu kebenaran atau kebaikan. Hal ini bisa juga dikatakan sebagai pengaminan akali. Iman seperti ini juga belumlah iman yang menyelamatkan. Iman adalah suatu tindakan. Jadi, kalau seseorang mengaku beriman tetapi tidak ada tindakan yang menunjukkan imannya, berarti ia pembohong (Yak. 2:17-18). Persetujuan pikiran memang merupakan menjadi langkah awal orang belajar mengenal Tuhan yang benar. Tanpa persetujuan pikiran, seseorang tidak bisa melangkah untuk belajar mengenal Tuhan. Banyak orang Kristen merasa bahwa mereka telah memiliki iman sebab mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, padahal pengakuan iman seperti itu barulah mengakui status Yesus, tetapi belum memercayai pribadi-Nya.
     
    Ketiga, iman keselamatan. Iman ini bukan hanya bertalian dengan keyakinan terhadap sesuatu atau bukan sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran, tetapi berupa tindakan konkret. Inilah iman yang menyelamatkan itu. Dalam memahami kata “iman” dengan tepat menurut Alkitab, perlu diperhatikan bukan saja aspek kepercayaan secara pikiran atau persetujuan secara pikiran (keyakinan akali atau pengaminan akali), tetapi juga aspek hubungan antara umat dan Tuhan. Kalau iman hanya dikaitkan dengan keyakinan akali atau persetujuan pikiran (sesuai dengan pengertian kata itu sendiri secara etimologis), maka belumlah dapat mencakup pengertian iman secara lengkap. Inilah iman yang menyelamatkan.
     
    Iman ada dalam kehidupan seseorang, diawali oleh tindakan Tuhan memberikan sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk membangun relasinya dengan Penciptanya. Sesuatu yang dapat membangun hubungan dengan pencipta itu antara lain: Pertama, korban-Nya di atas kayu salib yang memulihkan hubungan Allah dan manusia yang terputus. Kedua, Firman-Nya yang membuka pikiran seseorang untuk mengenal keberadaan Tuhan (Rm. 10:17). Itulah sebabnya dikatakan bahwa iman datang dari pendengaran dan pendengaran oleh Firman Kristus (Rm. 10:17). Dua aspek ini harus dimiliki orang percaya. Dalam nalar memercayai karya salib di bukit Golgota dan memercayai Ketuhanan Yesus, aspek kedua memahami kebenaran Firman sehingga memiliki kepekaan terhadap Allah dan hidup dalam melakukan kehendak Allah. Terkait dengan hal ini, dapat dipahami mengapa Yakobus menyatakan bahwa iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh. Iman adalah perbuatan, hanya aktivitas pikiran.
     
    Di dalam Firman-Nya itulah manusia mengenal Allah, kebenaran tentang keberadaan Allah dan kehendak-Nya untuk dilakukan manusia. Iman kepada Tuhan tidak akan ada dalam diri manusia kalau manusia tidak mengenal Allah. Pengenalan tentang keberadaan-Nya dan apa yang patut dilakukan ...
    0 min
  • Aspek-Aspek Dalam Pembenaran
    Penebusan oleh darah Tuhan Yesus di kayu salib merupakan jalan pembenaran manusia. Kematian Tuhan Yesus membatalkan semua tuntutan hukum atas manusia yang telah bersalah. Dengan pengorbanan-Nya, Iblis tidak lagi bisa mendakwa manusia sebab Tuhan Yesus telah menggantikan tempat manusia sebagai pihak yang bersalah (2Kor. 5:1; Gal. 3:13; Gal. 5:16-18). Manusia yang berdosa dinyatakan tidak bersalah karena Tuhan Yesus telah menggantikan tempat manusia di kayu salib. Dengan demikian, kita yang mengerti pembenaran ini -sebagai orang yang dinyatakan tidak bersalah- dengan keberanian menghampiri Allah. Jika tidak ada penebusan, maka manusia tidak dapat menghampiri Allah. Ini adalah tatanan Allah.
     
    Berbicara mengenai pembenaran, maka hal ini langsung menunjuk bahwa manusia adalah oknum yang telah bersalah yang telah membangkitkan murka Allah. Tetapi oleh anugerah-Nya manusia menerima tindakan yudisial Allah sebagai orang yang dideklarasi tidak bersalah. Pembenaran ini berangkat dari anugerah semata-mata yang diberikan oleh Tuhan (Tit. 3:7; Rm. 3:24-28; 5:1; Gal. 2:16). Dengan pembenaran oleh korban Tuhan Yesus ini, maka tidak ada manusia yang bisa membanggakan kesalehannya, sebab kesalehan manusia bukanlah sesuatu yang bernilai tanpa korban Tuhan Yesus di kayu salib. Kalau tidak ada pembenaran, maka perbuatan baik bagaimanapun tidak berarti sama sekali (Yes. 64:6).
     
    Pembenaran memiliki tiga dimensi, seperti keselamatan juga dapat ditinjau dari tiga dimensi. Dimensi masa lalu (past), artinya bahwa korban yang dikerjakan oleh Tuhan di kayu salib dua ribu tahun yang lalu merupakan tindakan sekali untuk selamanya bagi pembenaran manusia yang berdosa. Dalam hal ini, karya salib Yesus cukup sekali di bukit Golgota dan tidak perlu diulang-ulang. Sekali untuk selamanya. Hal ini seimbang dengan kesalahan yang dilakukan oleh Adam. Oleh karena seorang Adam, maka semua manusia hidup di bawah bayang-bayang maut, demikian pula oleh tindakan satu orang maka semua orang percaya dapat memperoleh pembenaran.
     
    Pembenaran aspek sekarang (present), bagi mereka yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan benar, yang sama artinya memiliki iman yang benar, maka ia menerima pembenaran. Kita harus memahami bahwa iman datang dari pendengaran oleh Firman Kristus. Seseorang yang memiliki iman yang benar pasti dibenarkan. Pembenaran ini berjalan seiring dengan proses keselamatan. Keselamatan adalah proses, tetapi pembenaran bukanlah proses tetapi memiliki dua aspek, yaitu: pertama, tindakan sekali oleh karya salib dua ribu tahun yang lalu, aspek kedua adalah pengakuan Allah atas orang percaya yang mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Aspek kedua ini merupakan peneguhan dari proses keselamatan yang sungguh-sungguh berlangsung dengan benar dan berhasil. Orang yang tidak mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, tidak akan menerima pembenaran ini (Luk. 18:1-8). Hal ini dijelaskan di dalam pembenaran ditinjau dari aspek yang akan datang (future).
     
    Pembenaran juga dapat ditinjau dari dimensi yang akan datang (future). Bahwa suatu kali akan dinyatakan secara deklaratif dan umum bahwa orang-orang percaya yang setia hidup dalam kebenaran-Nya atau mengikut Tuhan Yesus dengan benar adalah orang-orang yang dibenarkan. Hal ini berangkat dari apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 18:1-8. Janda adalah gambaran orang percaya yang teguh dengan integritasnya, tidak mengikuti hidup jalan dunia (Luk. 17:26-37). Sangatlah keliru kalau orang Kristen berpikir bahwa mereka sudah percaya kepada Yesus, dan merasa sudah menerima pembenaran sehingga tidak perlu lagi melakukan perjuangan apa pun untuk mengisi percayanya. Orang-orang seperti ini tidak mengalami pertumbuhan rohani, sehingga mereka tetap serupa dengan dunia ini. Mereka tidak pernah menjadi anak-anak Allah yang sah (Yun. huios), sebab mereka tidak memiliki keberadaan sebagai anak-anak Allah.
     
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…