Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pergumulan Menjadi Anak-Anak Allah
    Allah memang menciptakan manusia serupa dan segambar dengan diri-Nya, tetapi manusia pertama belum berkeadaan sempurna. Manusia pertama itu sendiri yang harus berjuang untuk mencapai kesempurnaan. Allah menciptakan bahan dan memberi semua fasilitasnya, tetapi manusia yang harus mengembangkannya sebagai bentuk tanggung jawab. Itulah sebabnya mandat Allah kepada Adam adalah menaklukkan bumi. Yang dimaksud dengan “bumi” tentunya adalah semua yang kelihatan secara fisik maupun yang tidak kelihatan (metafisik). Yang kelihatan adalah materi dengan segala ilmu pengetahuan yang dapat digali tanpa batas, tetapi yang tidak kelihatan adalah kuasa kegelapan yang memberontak kepada Allah atau Lusifer. Kalau hanya mengelola alam semesta secara fisik, hal itu tidaklah bernilai tinggi. Tugas Adam yang kedua ini berat sekali, tetapi sangat agung. Kalau manusia berhasil menjadi manusia yang sempurna (corpus delicti), berarti Iblis dikalahkan. Manusia pertama tidak mencapai menjadi pribadi seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Inilah tatanan Allah yang harus dipenuhi manusia
     
    Sebenarnya pergumulan Adam adalah pergumulan untuk mengesahkan diri sebagai anak-anak Allah secara permanen. Secara permanen artinya Adam mencapai suatu level karakter Ilahi yang ideal seperti yang dikehendaki oleh Bapa dan tidak pernah akan berubah lagi atau tidak akan jatuh lagi. Untuk ini Adam berkewajiban untuk mewarnai atau membentuk neshamah-nya dapat menjadi pelita Tuhan; artinya neshamah manusia mampu memahami segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. Jika sampai pada level itu, maka Adam tidak pernah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Allah Bapa. Tetapi ternyata Adam gagal mencapai level itu. Itulah yang disebut sebagai jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Kalau seandainya Adam mencapai level yang dikehendaki oleh Allah Bapa, maka ia mejadi corpus delicti dan menjadi pokok keselamatan (teladan) bagi seluruh keturunannya. Sejatinya, Adam tidak berketurunan sebelum dapat menjadi pokok keselamatan.
     
    Tuhan Yesus adalah manusia pertama yang berhasil mencapai kehidupan sebagai anak Allah yang ideal atau sempurna. Dialah model manusia yang diinginkan oleh Allah. Keberhasilan-Nya sebagai manusia seperti yang dikehendaki oleh Bapa, menempatkan diri-Nya sebagai pokok keselamatan bagi mereka yang taat kepada-Nya. Pokok keselamatan dalam teks aslinya adalah aitios (αἴτιος). Aitios bisa berarti author, the person who originated or gave existence to anything (seorang yang menciptakan sesuatu). Kata aitios juga bisa berarti penggubah (composer). Dengan kemenangan-Nya, maka Tuhan Yesus dapat menggubah manusia berdosa menjadi anak-anak Allah. Tentu lewat proses dan pendidikan melalui Roh Kudus. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata agar orang percaya yang sudah menjadi murid menjadikan semua bangsa murid-Nya.
     
    Ketika Tuhan Yesus berkata “muridkanlah” artinya ajaklah mereka belajar kepada-Ku. Tuhan Yesus sendiri telah belajar dan berhasil (Ibr. 5:7-9). Kata “menderita” dalam teks aslinya adalah pascho (πάσχω) yang juga berarti to suffer, to be acted on. Dalam hal ini, untuk mencapai kesempurnaan, Tuhan Yesus tidak menerimanya secara otomatis oleh anugerah, tetapi hasil dari perjuangan-Nya. Sejak muda Ia mengalami pertumbuhan natural seperti anak manusia lainnya (Ing. wisdom and stature, and in favour with God and man) (Luk. 2:59). Dalam segala hal Ia disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17). Itulah sebabnya Ia berkata bahwa sebagaimana Ia menang, Ia juga menghendaki orang percaya menang. Seharusnya Adamlah yang menjadi aitios, tetapi Adam gagal. Yesus menggantikan tugas Adam. Ini adalah tatanan Allah.
     
    Injil adalah Kabar Baik, maksudnya bahwa pada zaman penggenapan ini manusia dimungkinkan untuk menjadi manusia sempurna atau menjadi anak-anak Allah yang sah. Untuk menjadi anak-anak Allah yang sah, seseorang harus diproses berjuang untuk menjadi seperti Yesus,
    0 min
  • Tanggung Jawab Mengenakan Pikiran Kristus
    Untuk menerima keselamatan, orang percaya harus berjuang guna memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Itulah standar kesucian Allah. Ini adalah tatanan Allah. Orang-orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran ini, sudah merasa puas dengan keberadaan moral yang mereka miliki, dan tidak berusaha keluar dari standar moral umum yang ada. Itulah sebabnya tidak sedikit orang Kristen yang moral umumnya saja tidak lebih baik dari orang non-Kristen. Salah satu penyebab hal tersebut adalah pemahaman yang salah terhadap konsep bahwa keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus diperoleh bukan karena perbuatan baik. Memang benar pernyataan tersebut, sebaik apa pun seseorang, tidak akan selamat tanpa salib Kristus.
     
    Tetapi bukan berarti perbuatan baik tidak dibutuhkan. Orang percaya bukan saja harus menjadi baik, tetapi juga sempurna. Jika seseorang berpikir bahwa perbuatan baik tidak diperlukan, hal ini merupakan kesalahan penafsiran terhadap Efesus 2:8-9. Banyak orang Kristen yang berpikir, bahwa kalau sudah menjadi orang yang dipilih oleh Allah melalui percaya dalam nalar, bagaimanapun akan selamat, padahal mereka tidak memahami apa maksud atau isi keselamatan itu dan bagaimana percaya itu sesungguhnya. Mereka hanya berpikir bahwa pada intinya keselamatan itu adalah terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Mereka juga belum memahami apa surga itu. Mereka hanya berpikir bahwa surga adalah tempat yang nyaman, di mana orang hanya bernyanyi-nyanyi. Tidak mengherankan kalau mereka tidak memiliki ketegangan dalam perjuangan melakukan kehendak Allah, yaitu memiliki pikiran dan perasaan Kristus.
     
    Orang yang diselamatkan adalah orang yang berproses memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Ternyata kata “pikiran dan perasaan” dalam Filipi 2:5 dalam teks aslinya bukan kata benda, tetapi bentuk perintah (imperative), yaitu phroneistho (φρονείσθω). Dalam Bahasa Yunani, kata ini memiliki kasus imperative present passive third person singular dari akar kata phroneo (φρονέω). Kalau diterjemahkan bebas bisa berbunyi: ‘‘Berpikirlah atau bersikaplah seperti Yesus Kristus”. Dalam salah satu Alkitab terjemahan Bahasa Inggris, diterjemahkan sebagai berikut: Have this attitude in yourselves which was also in Christ Jesus. Kalau Firman Tuhan memerintahkan agar orang percaya berpikir atau bersikap sesuai dengan kehendak-Nya, maka berarti orang percaya yang harus menggerakkan atau mengarahkan pikiran dan menetapkan sikapnya dengan jelas. Hal ini tidak bisa terjadi atau berlangsung oleh pihak lain, bahkan oleh Tuhan sendiri. Orang percaya sendiri yang harus menggerakkan dan mengendalikan pikirannya.
     
    Dalam hal tersebut, Tuhan tidak akan berintervensi, sebab pikiran seseorang -yang merupakan pusat kemudi kehidupan setiap individu- adalah hak dan wewenang masing-masing individu. Itulah sebabnya kepada Kain, Tuhan hanya bisa memperingatkan Kain bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu, sangat menggoda. Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup Kain, Kain yang harus mengendalikan dirinya sendiri (Kej. 4:7). Ketika Kain tetap berkehendak membunuh adiknya, Tuhan tidak mencegahnya lagi.
     
    Terkait dengan hal tersebut, kepada Petrus, Yesus berkata bahwa Iblis telah menuntut untuk menampi (menggoncangkan atau mencobai) dia, tetapi Tuhan Yesus hanya bisa berdoa supaya imannya tidak gugur (Luk. 22:31-32). Sama dengan Tuhan Yesus pun tidak bisa menyelamatkan Yudas, jika Yudas memang berkehendak untuk memilih uang daripada kesetiaan. Hal ini terjadi, sebab Yudas sudah sejak lama berkebiasaan mencuri dan pikirannya terikat dengan kekayaan. Di hari-hari terakhir pengkhianatan Yudas, Yesus sudah mengingatkan berulang-ulang melalui perkataan dan sikap-Nya. Seperti misalnya Yesus memberi tahu bahwa salah satu dari murid-murid-Nya akan mengkhianati-Nya. Yesus tidak perlu menyatakan hal itu kalau Ia sengaja menjerumuskan Yudas untuk menjadi pengkhianat. Jadi, sangatlah keliru jika ada pemahaman bahwa Yudas ditent...
    0 min
  • Tatanan Dalam Menerima Keselamatan
    Orang percaya harus memahami bahwa dari pihak manusia, keselamatan dapat berarti perjuangan melawan dosa atau ketidaktepatan (Yun. hamartia; ἁμαρτία) di dalam dirinya. Ketidaktepatan artinya tidak sesuai dengan keinginan, pikiran, dan perasaan Tuhan. Ini adalah tatanan Allah. Dosa dalam konteks umat Perjanjian Baru, bukan hanya sekadar pelanggaran terhadap hukum atau norma umum, tetapi semua tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Elohim Yahweh, Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus. Perjuangan melawan ketidaktepatan ini berlatar belakang kenyataan bahwa manusia telah gagal mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya dengan sempurna, manusia tidak mampu berpikir, berucap sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Tuhan Yesuslah yang dapat menggenapi, atau yang dapat melakukannya dengan sempurna. Semua orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup yang sama seperti Tuhan Yesus. Inilah perjuangan berat tersebut. Perjuangan tersebut dimaksudkan agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan Allah Bapa (Ibr. 12:10) atau yang sama dengan mengambil bagian dalam kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4). Dengan demikian, keselamatan dari pihak manusia adalah perjuangan untuk menjadi sempurna.
     
    Keselamatan diterima manusia bukan secara otomatis, tetapi menuntut respon yang aktif dan proporsional. Tuhan Yesus menyatakan, bahwa untuk selamat seseorang harus berjuang masuk melalui jalan sempit (Luk. 13:23-24). Ini adalah perjuangan melawan kodrat dosa (sinful nature) yang melekat dalam diri manusia, yang berpotensi seseorang masih bisa hidup di dalamnya di waktu mendatang. Keberhasilan lolos dari kodrat dosa ini membuahkan seseorang menjadi manusia Allah (man of God) yang berkodrat Ilahi. Perjuangan untuk menjadi manusia Allah adalah perjuangan yang berat yang menyita segenap hidup ini. Tetapi perjuangan ini tidaklah diperhitungkan sebagai jasa, seakan-akan keselamatan manusia hasil dari perbuatan baiknya. Perjuangan adalah respon terhadap anugerah yang Tuhan berikan.
     
    Dikemukakan oleh Paulus dalam Filipi 2:12 bahwa orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Dengan takut dan gentar menunjukkan pergumulan yang tidak ringan. Bila direlasikan dengan ayat sebelumnya (Flp. 2:5-7), Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Yesus Kristuslah model manusia yang diinginkan oleh Bapa. Jadi, keselamatan adalah usaha untuk menjadi manusia yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Itulah sebabnya orang percaya disebut sebagai Kristen, yang artinya seperti Kristus.
     
    Dalam Ibrani 12:4 tertulis bahwa dalam perjuangan yang diwajibkan bagi orang percaya harus sampai mencucurkan darah. Perjuangan ini dianalogikan dengan perjuangan Tuhan Yesus dalam menyelesaikan tugas ke-Mesiasan-Nya (Ibr. 12:2-3). Dalam kitab Ibrani dikatakan: Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah (Ibr. 12:3-4). Nasihat ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sudah bergumul begitu berat demi keselamatan manusia agar bisa dibebaskan dari kuasa dosa. Orang percaya harus mengimbangi perjuangan Tuhan tersebut dengan perjuangan yang keras agar benar-benar bisa dimerdekakan dari dosa, artinya agar dosa tidak lagi berkuasa atas kehidupannya. Perjuangan sampai mencucurkan darah artinya perjuangan yang mengerahkan segenap potensi dalam diri orang percaya tanpa batas.
     
    Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula. Rancangan semula Allah adalah menciptakan manusia yang memiliki moral atau kesucian Allah sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan dengan tegas bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Oleh karena standar kesucian atau kebenaran moral umat pilihan adalah moral Allah sendiri,
    0 min
  • Respon Terhadap Kasih Karunia
    Menjadi tatanan dari Allah yang terkait dengan tanggung jawab, bahwa keselamatan harus dikerjakan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Jika seseorang memiliki bukti keselamatannya dengan perbuatan (semakin seperti Tuhan Yesus), maka barulah ia memahami dengan benar apa artinya keselamatan telah terjadi atau berlangsung dalam kehidupannya sejak sekarang ini, di bumi ini. Keyakinan atas keselamatan tersebut harus dibuktikan dalam bentuk tindakan atau kehidupan batin yang berkenan kepada Bapa. Dari keyakinan bertumbuh menjadi “pengalaman” atau bukti nyata, sehingga ia bisa tahu atau mengerti. Seharusnya setiap orang percaya bisa mengukur apakah dirinya sudah berkenan di hadapan Bapa atau belum. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan: Ujilah dirimu (2Kor. 13:5).
     
    Di satu pihak, Tuhan Yesus menyelesaikan bagian-Nya, yaitu tugas yang diberikan Bapa kepada-Nya yang adalah tugas penyelamatan. Di pihak lain, orang percaya memenuhi bagiannya, yaitu menyambut keselamatan yang Dia sediakan tersebut dengan perjuangan pula. Hal ini tidak merusak prinsip sola gratia yang dalam Bahasa Inggris diterjemahkan only by grace (hanya oleh anugerah Tuhan), sebab perjuangan tersebut hanyalah respon, bukan dikategorikan sebagai jasa. Perjuangan sehebat apa pun dari manusia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya kalau tidak ada kasih karunia, yaitu korban Tuhan Yesus di kayu salib. Oleh sebab itu kata kasih karunia atau anugerah tidak boleh disalahartikan, yaitu seakan-akan segala sesuatu dikerjakan oleh Tuhan tanpa peran manusia sama sekali, manusia hanya pasif dan kasih karunia Allah akan mengerjakannya sendiri.
     
    Harus diperhatikan bahwa manusia yang menjadi obyek keselamatan harus merespon keselamatan tersebut dengan tanggung jawab. Jika tidak demikian, maka berarti kasih karunia dapat menghilangkan tanggung jawab manusia sehingga manusia tidak perlu berdiri di takhta pengadilan Allah. Padahal banyak sekali teks dalam Alkitab yang menyatakan bahwa manusia harus mempertanggungjawabkan dirinya di hadapan pengadilan Allah (Rm. 14:12; 2Kor. 5:9-10; Why. 20:12; dan lain-lain). Dalam pernyataannya, Paulus mengatakan: “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik atau pun jahat “(2Kor. 5:9-10).
     
    Bagi orang percaya, perbuatan baik sampai tingkat berkenan kepada Allah seperti yang diperjuangkan oleh Paulus adalah tanda atau bukti atau ekspresi dari percayanya kepada Tuhan Yesus. Perbuatan baik yang berstandar moral Allah yang diperjuangkan Paulus adalah sikap yang menunjukkan atau membuktikan bahwa dirinya menerima Tuhan Yesus sebagai Pemilik kehidupan (Tuhan) yang kehendak-Nya harus dituruti (Yoh. 1:11-12). Hal ini bukan berarti keselamatan diperoleh melalui perbuatan baik. Dengan demikian keselamatan adalah kasih karunia semata-mata, tetapi cara menerima kasih karunia tidak mudah.
     
    Selama ini orang berpandangan pendek atau dangkal, seakan-akan dengan menerima kasih karunia, manusia tidak perlu bertanggung jawab atas keselamatannya. Ini tidak benar. Harus dipahami dulu apa keselamatan itu, barulah merumuskan apa yang dimaksud dengan kasih karunia. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya. Untuk dapat dikembalikan kepada rancangan Tuhan tersebut harus ada usaha yang serius dari setiap individu. Usaha inilah yang disebut sebagai tanggung jawab atau yang sama dengan respon terhadap anugerah atau kasih karunia Allah. Penjelasan ini bisa membangkitkan penolakan bagi mereka yang pikirannya sudah terlanjur terpasung oleh pengajaran yang sudah ada dalam gereja, bahkan sudah mengakar selama ratusan tahun oleh para teolognya. Mereka berpendirian bahwa anugerah itu diberikan kepada orang-orang yang tidak akan ...
    0 min
  • Bukan Cara Mudah
    Tidaklah salah kalau kasih karunia sering digambarkan sebagai hadiah. Hal ini benar dan tepat sekali, tetapi penjabaran atau penjelasannya juga harus benar. Memang hadiah tidak perlu dibeli atau dibayar, melainkan diperoleh dengan cuma-cuma, tetapi penghargaan terhadap hadiah dan menyikapinya atau meresponinya adalah tanggung jawab yang harus serius diperhatikan. Dalam konteks menerima kasih karunia -yaitu keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus- di dalamnya termuat panggilan atau tanggung jawab atau kewajiban yang harus dipenuhi sebagai penghargaan kepada hadiah tersebut.
     
    Kasih karunia dari Tuhan Yesus Kristus yang berisi keselamatan adalah hadiah, dimana orang percaya tidak perlu harus berbuat baik dulu atau melakukan uatu kebajikan barulah memperolehnya (Ef. 2:8-9). Tetapi bukan berarti hadiah tersebut secara otomatis dapat membuat orang percaya memiliki dan mengalami keselamatan. Harus ditegaskan bahwa keselamatan bukan sekadar terhindar dari neraka dan diperkenan masuk ke dalam surga guna memperoleh hidup yang kekal nanti, tetapi sejak sekarang ini harus sudah mengalami proses perubahan menjadi manusia seperti yang dirancang Allah sejak semula. Keselamatan dimulai sekarang, sejak kita di bumi ini.
     
    Sesungguhnya, terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga bukanlah keselamatan, tetapi buah keselamatan. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula. Untuk dapat mengalami keadaan dikembalikan ke rancangan semula dibutuhkan respon dari manusia agar keselamatan tersebut terealisir atau terwujud. Hal ini harus dipahami dengan benar. Kalau keselamatan tidak dipahami secara komprehensif, maka penjelasan yang lain juga menjadi kacau dan tidak proporsional. Akibatnya, pengertian kasih karunia menjadi rusak.
     
    Tuhan Yesus memikul semua dosa manusia di Golgota dua ribu tahun lalu ketika manusia hidup dalam dosa, yaitu dosa mereka yang pernah hidup sebelum zaman anugerah, yang sedang hidup pada waktu itu dan yang akan dilahirkan sampai pada manusia terakhir nanti. Itu sebuah pemberian cuma-cuma dari Allah. Itulah kasih karunia. Namun pemberian cuma-cuma ini justru membawa atau menempatkan manusia yang mendengar Injil kepada pergumulan berat, sebab setelah menjadi orang percaya karena mendengar dan menerima Injil, orang percaya dipanggil untuk sempurna seperti Bapa di surga (Mat. 5:48).
     
    Untuk menjadi sempurna, perlu perjuangan yang sangat berat. Tuhan Yesus menyatakan kesulitannya dengan pernyataan: Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum dari pada orang kaya masuk surga. Tuhan Yesus juga menegaskan bahwa tidak mudah orang (semua orang) masuk surga (Mat. 19:23-24). Itulah sebabnya untuk masuk surga dituntut perjuangan yang tidak mudah, seperti masuk jalan sempit (Luk. 13:23-24). Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan bahwa banyak orang berusaha masuk, tetapi sedikit yang dapat masuk. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang terpilih (Luk. 22:14).
     
    Ketika pengajaran kasih karunia dihembus sebagai “cara mudah masuk surga” tanpa tanggung jawab, maka terjadi penyesatan yang bisa mengakibatkan proses keselamatan tidak terealisir dalam kehidupan umat Tuhan. Hal ini sangat membahayakan keselamatan banyak orang. Mereka merasa sudah selamat, padahal belum. Keselamatan adalah proses di mana seseorang hendak dikembalikan ke rancangan semula Allah. Mereka yang merasa sudah memiliki kasih karunia dan yakin sudah selamat, tidak ada usaha untuk bertumbuh sampai pengharapan keselamatan menjadi milik yang pasti (Ibr. 6:11), atau sampai pada level di mana seseorang memiliki hak penuh masuk Kerajaan Surga (2Ptr. 1:11).
     
    Jika ada yang mengatakan bahwa pandangan di atas ini membuat seseorang jadi tidak merasa memiliki kepastian selamat, tidak seluruhnya salah. Sebab untuk apa merasa memiliki kepastian selamat padahal tidak?
    0 min
  • Tanggung Jawab Atas Keselamatan
    Pengajaran yang mengatakan bahwa kasih karunia tidak bisa ditolak atas orang-orang yang sudah ditentukan untuk menerima kasih karunia, mengarahkan pemikiran bahwa pemberian kasih karunia dari Tuhan dipaksakan di luar kemampuan manusia menolak atau menerimanya. Dengan pemahaman seperti ini, maka konsep kehendak bebas menjadi gugur, luruh, sirna sama sekali, dan mestinya kalau fair tidak perlu dipersoalkan lagi. Tetapi ironinya mereka masih menempatkan manusia sebagai manusia yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Kebebasan yang aneh kalau manusia yang ditentukan keselamatannya masih harus bertanggung jawab. Pandangan ini adalah pikiran yang tidak sehat dan tidak konsisten, sebab kalau kehendak bebas tidak ada, berarti juga tidak ada tanggung jawab. Manusia tidak perlu memberi pertanggungjawaban atas dirinya, sebab semua harus menjadi tanggung jawab Tuhan.
     
    Kalau keselamatan hanya dipahami sekadar sebagai terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga, maka memang kehendak bebas tidak perlu tampil secara proporsional. Bagi orang yang berpandangan bahwa Tuhan menentukan ada orang yang dapat menerima kasih karunia dan yang lain tidak, berpikir bahwa kalau mereka ditentukan untuk selamat, maka pada akhirnya bagaimana pun mereka akan masuk surga. Tetapi kalau keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan semula, maka terdapat proses yang panjang dan sangat sulit. Sulit bagi manusia yang telah hidup dalam kodrat dosa, tidak mudah mengubah diri dari manusia berdosa menjadi manusia Allah. Itulah sebabnya dalam proses ini manusia harus mengerjakan atau menyelesaikan keselamatannya dengan takut dan gentar (κατεργάζεσθε, to finish, accomplish). Jika orang percaya sungguh-sungguh mengerjakannya, maka Allah memberikan energi atau kekuatan (ἐνεργέω, put forth power) untuk menyelesaikan proses mengerjakan keselamatan tersebut (Flp. 2:12-13).
     
    Kasih karunia Allah harus dipahami secara benar. Kasih karunia tidak terletak pada penentuan Tuhan atas orang-orang yang diperkenan menerima kasih karunia, tetapi kesempatan manusia memiliki kehendak dan kehendak manusia itu bebas, dimana manusia dapat memilih untuk menerima kasih karunia atau menolaknya. Ini adalah tatanan Allah. Anugerah menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat berpikir, menganalisa sesuatu, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan. Itulah fungsi rasio yang Tuhan berikan kepada manusia. Kalau kasih karunia diberikan tanpa melibatkan respon dari pertimbangan manusia, maka berarti sia-sia Tuhan memberi rasio pada manusia. Rasio inilah yang memberi kemampuan manusia untuk mempertimbangkan sesuatu. Dengan pertimbangan tersebut manusia dapat menerima atau menolak kasih karunia. Tuhan menyediakan pilihan yang baik untuk dimiliki dan dinikmati dalam kekekalan, tetapi dalam penerimaannya manusia bertanggung jawab meresponinya. Kalau responnya salah, manusia membawa dirinya kepada kebinasaan. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan: Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah (Yoh. 3:18).
     
    Kalau Tuhan tidak menyediakan apa yang baik atau menutup kemungkinan orang memilih yang baik dari Tuhan, maka berarti Tuhan tidak benar. Hal ini juga sama dengan kalau Tuhan membuka kemungkinan untuk orang-orang tertentu menerima kasih karunia sedangkan yang lain tidak dibuat untuk bisa menerimanya. Jadi ada orang yang dibuat Tuhan tidak dapat menolak kasih karunia-Nya, di lain pihak ada orang-orang yang dibuat tidak bisa menerima kasih karunia-Nya. Dengan hal ini, maka kebaikan Tuhan untuk sekelompok orang merusak keagungan-Nya karena Ia membiarkan yang lain binasa. Tentu Tuhan tidaklah demikian. Hanya orang-orang yang berpikir tidak sehat yang memandang Tuhan demikian.
     
    Disebut sebagai kasih karunia kalau Tuhan menyediakan apa yang baik yang dibutuhkan manusia bukan karena ...
    0 min
  • Menerima Kasih Karunia Dengan Tanggung Jawab
    Terkait dengan hukum tabur tuai yang merupakan tatanan Allah, tidak bisa tidak kita harus juga mempersoalkan tanggung jawab dalam menerima anugerah. Ini adalah tatanan Allah. Tanggung jawab artinya melakukan tugas atau memenuhi suatu kewajiban dan memikul akibat suatu tindakan keputusan dan pilihan. Kalau kita memerhatikan apa yang dikemukakan Alkitab sejak manusia pertama diciptakan, begitu manusia tercipta dan “mulai membuka mata” Tuhan sudah menunjukkan tanggung jawab kepada manusia. Tuhan memerintahkan manusia untuk berkembang biak dan beranak cucu. Ini adalah tugas atau mandat prokreasi. Tuhan bukan tidak sanggup menggandakan manusia dalam sekejap menjadi banyak, tetapi Tuhan menjadikan manusia kawan sekerja-Nya untuk penggandaan atau multiplikasinya. Selanjutnya Tuhan juga memerintahkan manusia untuk menaklukkan bumi dan menguasainya (Kej. 1:28-29). Manusia juga harus mengusahakan dan memelihara taman atau bumi indah yang Tuhan ciptakan (Kej. 2:15). Dalam hal ini bukan berarti Tuhan tidak sanggup mengelola bumi dan mendandaninya, tetapi Tuhan memercayakan tugas ini kepada manusia. Pengelolaan bumi merupakan tugas yang harus dilakukan dan kewajiban yang harus dipenuhi.
     
    Manusia juga menerima suatu realitas, diperhadapkan antara hidup dan mati. Ketaatan akan membawa manusia kepada kelimpahan Tuhan, hidup dalam persekutuan dengan Tuhan di Taman Eden atau pemberontakan yang akan membawa manusia kepada kematian (Kej. 2:16-17). Ini adalah tanggung jawab. Manusia akan memikul akibat tindakan, keputusan, dan pilihannya. Di sini manusia menjadi makhluk yang beresiko tinggi. Manusia harus menghadapi surga kekal atau neraka kekal. Fakta ini harus membuka mata kita semua terhadap realitas hidup ini. Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab. Dengan tanggung jawab ini manusia harus mengerti tugas apa yang dipercayakan kepadanya atau kewajiban yang harus dipenuhi, dan manusia harus memikul akibat tindakan, keputusan, dan pilihannya. Tanpa mengerti apa arti tanggung jawab, manusia tidak menjadi manusia seperti yang Tuhan inginkan. Tanggung jawab inilah yang membuat manusia bernilai.
     
    Kesadaran terhadap tanggung jawab ini akan membuat seseorang menjadi pribadi yang agung, berprestasi, dan pasti berguna bagi sesamanya. Pribadi seperti inilah pribadi yang dapat menjadi pelayan Tuhan yang efektif. Tidak ada manusia yang tidak bertanggung jawab bisa melayani Tuhan. Tuhan tidak akan memercayakan pelayanan pekerjaan-Nya yang besar dan kudus kepada manusia yang tidak memiliki sikap bertanggung jawab. Oleh sebab itu, hal hidup bertanggung jawab harus diajarkan kepada umat Tuhan sejak mereka masih kanak-kanak. Sejak kanak-kanak harus diajarkan bahwa menyikapi kasih karunia atau anugerah yang Tuhan berikan harus pula dengan tanggung jawab. Menerima kasih karunia pun harus dengan tanggung jawab.
     
    Kesalahan fatal yang terjadi dalam berteologi dan menjadi sumber kekacauan teologi adalah adanya teolog-teolog yang salah dalam merelasikan antara kasih karunia dengan kehendak bebas. Pada umumnya mereka membenturkan kasih karunia dengan kehendak bebas dari perspektif yang keliru. Kekeliruan tersebut disebabkan pengertian yang salah mengenai kasih karunia itu sendiri dan kedaulatan Allah. Mereka memandang kasih karunia adalah tindakan sepihak Tuhan secara absolut dan mutlak dalam menentukan manusia yang dipilih untuk menerima berkat keselamatan dan segala sesuatu yang baik. Hal ini mereka yakini sebab mereka mengakui kedaulatan Allah yang mutlak dalam menentukan siapa yang selamat atau dimungkinkan menerima kasih karunia.
     
    Kelompok ini juga meyakini bahwa mereka yang ditentukan untuk diberkati dan dikasihi oleh Tuhan tersebut tidak bisa menghindarkan diri dari pemberian kasih karunia tersebut. Mereka meyakini bahwa ada orang-orang yang ditentukan secara sepihak oleh Tuhan dapat memperoleh kasih karunia, maka di pihak lain secara konsekuensi logisnya ada orang-orang yang tidak b...
    0 min
  • Mengendalikan Nafsu Makan
    Terkait dengan hukum tabur tuai, harus dipahami bahwa dokter dan obat-obatan adalah salah satu sarana tanggung jawab manusia. Ini bukan berarti mukjizat tidak berlaku. Mukjizat tetap berlaku. Ini pun tergantung dari karunia-Nya. Barangkali ada yang berkata: Tetapi dengan iman kita dapat sembuh kalau kita sakit. Jangan lupa, iman adalah salah satu dari karunia yang tidak dapat kita gunakan semau-mau kita (1Kor. 12:9; 1Kor. 13). Alkitab mengatakan bahwa kita masing-masing memiliki karunia iman yang berbeda. Sikap bertanggung jawab dengan pergi berobat ke dokter bukanlah dosa dan pelecehan terhadap kuasa Allah dan kasih-Nya. Dokter pun bisa menjadi sarana Tuhan untuk menyembuhkan kita. Lukas, salah seorang penulis Injil, adalah seorang tabib atau dokter. Dalam hal ini dokter pun hamba Tuhan yang memiliki tempat dalam rencana Allah. Oleh sebab itu kita tidak dapat berkata bahwa dokter itu alat setan atau kuasa Iblis. Dengan lambang ular pada Ikatan Dokter Indonesia (IDI), ada beberapa pendeta menganggap dokter adalah agen Iblis. Apakah kita perlu ke dokter atau berdoa saja, seseorang harus bergumul dengan Tuhan dan menemukan jawabnya.
     
    Pernyataan di atas ini bukan berarti mengurangi keyakinan kita akan pemeliharaan Tuhan atas kita dan kuasa mukjizat Tuhan yang mampu mengangkat sakit penyakit kita, tetapi penjelasan ini hendak mengajak jemaat Tuhan untuk memiliki tanggung jawab terhadap tubuhnya. Tubuh kita adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada masing-masing kita. Tuhan masih menyediakan anugerah kesembuhan-Nya kepada orang percaya yang sakit (Yak. 5:14-15). Tetapi adalah lebih baik mencegah dari pada mengobati. Kalau orang percaya hanya mengharapkan mukjizat, orang percaya menjadi tidak bertanggung jawab. Hal ini menjadi “virus mental” yang buruk, yang juga akan menelurkan buah-buah kehidupan buruk lainnya. Bukan satu hal yang kebetulan kalau Firman Tuhan mengatakan dalam Amsal 23:2-3 Taruhlah sebuah pisau pada lehermu bila besar nafsumu! Jangan ingin akan makanannya yang lezat, itu adalah hidangan yang menipu. Firman ini merupakan nasihat agar orang percaya mengendalikan nafsu makannya.
     
    Setelah menjadi anak Tuhan, kita dipanggil untuk bertanggung jawab atas pemeliharaan tubuh kita yang adalah bait Roh Kudus. Itulah sebabnya Paulus menasihati anak rohaninya untuk menjaga kesehatan (1Tim. 5:23). Jadi dapat disimpulkan bahwa kita sebagai orang percaya dapat menjauhi sakit penyakit dengan menjaga kesehatan tubuh ini dan tidak memberontak kepada Tuhan, hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Dalam hal ini, hendaknya doa tidak dijadikan sarana manipulasi yang membuat kita lari dari tanggung jawab. Doa juga bukan sarana mengatur Tuhan, apalagi memanipulasi kuasa-Nya. Allah dan Tuhan kita bukan seperti sesembahan dalam banyak agama. Hubungan kita dengan Sesembahan adalah hubungan “Bapa dan anak”. Ini bukan berarti kita dapat sesuka sendiri mengajukan permintaan. Justru sebagai “anak” kita diperlakukan dengan keras dan ketat agar bertumbuh dewasa dan layak menjadi anggota keluarga Kerajaan.
     
    Pengajaran yang beredar selama ini dan sangat populer adalah bahwa seolah-olah kalau kita sakit, kita akan mudah menerima kesembuhan. Ini keliru, sebab bila demikian kita diajar untuk tidak bertanggung jawab dalam menjaga tubuh kita yang adalah bait Roh Kudus. Sebagai buktinya, perhatikan betapa mudahnya orang yang baru masuk Kristen atau orang kafir disembuhkan oleh kuasa nama Tuhan Yesus, tetapi banyak orang Kristen yang begitu sulit menerima kesembuhan dari Tuhan. Karena kebodohan inilah tidak sedikit anak Tuhan, bahkan hamba Tuhan, yang meninggal dengan keadaan yang sangat mengenaskan dan memprihatinkan, yaitu di ranjang sakit penyakit. Seharusnya mereka dapat memiliki umur lebih panjang dan dengan umur panjang dapat melayani Tuhan lebih banyak, memenangkan jiwa-jiwa lebih banyak, dan berkarya bagi Kerajaan Allah lebih banyak. Kebodohan ini membuka peluang bagi Iblis untuk membunuh banyak ...
    0 min
  • Sebagai Tanda, Bukan Tujuan
    Dari berkat yang tersedia dalam korban Kristus, kuasa bilur Yesus guna kesembuhan tubuh adalah salah satu hal yang menonjol dipromosikan. Pemberitaan yang salah mengenai kuasa bilur Yesus guna kesembuhan tubuh dapat mengakibatkan penyesatan yang berakibat cukup fatal dalam gereja Tuhan. Memang terdapat ayat-ayat yang berbicara mengenai kesembuhan dalam Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, namun kita harus meneliti dengan seksama kebenaran mengenai sakit penyakit dan kesembuhannya.
     
    Hal penting yang harus kita pahami mengenai penyakit adalah bahwa penyakit bisa dialami oleh seseorang disebabkan kesalahan atau dosa. Jelas sekali bahwa Tuhan menimpahi umat pilihan-Nya yang memberontak dengan sakit penyakit (Kel. 15:26; Ul. 28:22-27,35; Yer. 14:12; Yeh. 6:11). Banyak sekali ayat yang berbicara mengenai hal ini, bahwa Tuhan menimpakan penyakit atas umat yang tidak takluk kepada-Nya. Adapun yang dialami Ayub adalah penyakit yang diizinkan Tuhan untuk dialaminya guna memurnikan Ayub (Ay. 23:10). Hal ini jelas menunjukkan bahwa sakit yang dialami seseorang bukan datang tanpa sebab atau ada maksud Ilahi di dalamnya.
     
    Dalam Perjanjian Baru, sakit penyakit dihubungkan dengan pekerjaan kuasa kegelapan (Luk. 6:18). Hal ini bisa kita mengerti bahwa pemberontakan kepada Tuhan pasti bertalian dengan unsur kuasa kegelapan. Dalam Perjanjian Baru kita temukan penyakit dialami oleh orang percaya karena suatu kesalahan (1Kor. 6:12-20; 1Kor. 11:27-30; Why. 2:22). Bagaimana dengan janji kesembuhan bagi umat Perjanjian Baru, apakah dengan percaya kepada Tuhan Yesus kita tidak dapat mengalami sakit penyakit? Kenyataan yang kita saksikan adalah banyak orang Kristen yang sakit dan mati dalam penderitaan oleh karena sakit penyakitnya. Ada beberapa catatan penting yang harus kita pahami di sini.
     
    Bahwa janji kesembuhan yang ditulis dalam Alkitab hampir selalu berkaitan dengan pemberitaan Injil atau tanda dan bukti kuasa Allah dalam Yesus Kristus (Mat. 10:8; Luk. 10:9). Kuasa kesembuhan atau mukjizat kesembuhan itu dinyatakan Tuhan sebagai tanda yang menyertai orang percaya dalam pemberitaan Injil, bukan tujuan (Mrk. 16:17-18). Ini bukan berarti bahwa setelah kita percaya kepada Yesus kalau sakit dengan mudah kita akan memperoleh kesembuhan. Mukjizat kesembuhan diberikan kepada mereka yang belum mengerti kebenaran, yaitu yang terikat dengan kuasa kegelapan. Kehadiran Injil menyelamatkan jiwa mereka dan menyembuhkan penyakit mereka. Tatkala orang belum mengenal kebenaran Tuhan, mereka hidup dalam kebodohan, maka Tuhan berkenan memberi anugerah kepada mereka yang telah hidup dalam kebodohan tersebut. Tetapi setelah kita mengenal kebenaran, kita dipanggil untuk bertanggung jawab atas kesehatan tubuh kita.
     
    Dalam 1 Petrus 2:24 tertulis bahwa oleh bilur-bilur Tuhan kita telah disembuhkan. Untuk mengerti ayat ini kita harus melihat ayat 25, bahwa hal ini bertalian dengan “keselamatan awal yang telah kita terima”. Kesembuhan di sini berkenaan dengan dosa, bukan penyakit virus tubuh, tetapi kodrat dosa “sinful nature”; berkenaan dengan keselamatan jiwa. Jadi, kalau jujur, teks ini berkenaan dengan kesembuhan jiwa dan roh. Jika kita memerhatikan dari ayat 21 (1Ptr. 2:21-25), maka nasihat yang diberikan adalah mengenai bagaimana kita memiliki karakter Kristus yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Ini berbicara mengenai jiwa yang sehat. Tuhan menghendaki kita memiliki jiwa yang sehat seperti ini. Namun demikian Tuhan dalam kebijaksanaan dan pengertian-Nya yang luar biasa mengizinkan kesalahan itu berlangsung demi kepentingan pelebaran Injil. Tuhan juga bisa menggunakan ayat tersebut untuk mengadakan banyak mukjizat guna membuktikan bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang benar. Tetapi jemaat harus dewasa dan makin memahami kebenaran. Sudah saatnya orang percaya memahami makna orisinal ayat tersebut.
     
    Dalam kebodohan karena tidak mengenal Tuhan Yesus Kristus,
    0 min
  • Mengapa Orang Kristen Sakit?
    Tuhan adalah Tuhan yang baik (Mzm. 34:9). Allah yang penuh kasih (1Yoh. 4:8). Allah tidak menghendaki anak-anak-Nya menderita (Mzm. 23). Seperti seorang bapak sayang anaknya, demikianlah Allah Bapa sayang kita. Betapa bersyukur dan berbahagianya kita memiliki Allah seperti Dia. Tetapi masalahnya adalah mengapa terdapat penderitaan, khususnya sakit penyakit? Banyak orang Kristen yang menderita berbagai penyakit. Faktanya pada saat ini juga banyak di antara orang-orang Kristen yang sedang menderita sakit penyakit, juga akibat epidemi penyakit dan berbagai kausalitas lainnya, sama seperti yang dialami oleh orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Padahal yang sering disuarakan di mimbar gereja adalah bahwa oleh bilur-Nya kita disembuhkan, virus dan bakteri tidak bisa berjangkit kepada orang yang sudah memiliki penebusan darah Yesus, sebab semua penderitaan dan sakit penyakit telah dipikul-Nya di kayu salib. Bagaimana kita dapat memahami hal ini?
     
    Kita harus terlebih dahulu memahami bahwa sakit penyakit ada dalam kehidupan manusia berawal dari dosa yang masuk ke dalam dunia, sehingga manusia meleset dari rancangan semula (Rm. 3:23). Manusia kehilangan kemuliaan Allah, artinya manusia telah tidak lagi memiliki keadaan seperti ketika manusia diciptakan oleh Tuhan. Keadaan manusia yang telah jatuh dalam dosa adalah keadaan manusia yang terkutuk. Manusia hidup dalam kutuk. Manusia hidup tanpa pengharapan dan berkat Tuhan. Puji Tuhan, Tuhan Yesus telah menanggung segala dosa kita dan memikul segala penderitaan karena perbuatan dosa kita (Yes. 53:4). Inilah jalan satu-satunya manusia bebas dari kutuk. Oleh karena Tuhan Yesus, kita dibebaskan dari segala kutuk. Tuhan menanggung segala penderitaan dan sakit penyakit kita. Oleh sebab itu, di dalam Tuhan kita menerima jaminan kesehatan, selama kita ada dalam kehendak-Nya.
     
    Kalau Tuhan Yesus sudah memikul dosa dan segala sakit penyakit kita, tetapi mengapa masih terdapat orang Kristen yang sakit? Ada 3 penyebab mengapa masih ada orang Kristen yang sakit. Pertama, sakit penyakit itu dialami karena dosa yang dilakukan oleh orang tua kita. Kesalahan orang tua kadang-kadang ikut ditanggung juga oleh anak-anaknya. Seperti yang ditulis dalam Keluaran 20:5, Tuhan menimpakan kesalahan orang tua kepada anak-anaknya. Dalam Alkitab dikisahkan mengenai Gehazi yang menipu demi kekayaan atau memperoleh uang, maka Tuhan menghukumnya dengan kusta yang dialami bukan saja oleh dia sendiri, tetapi juga keturunannya (2Raj. 5). Dalam kenyataan hidup, banyak orang tua yang mengidap penyakit tertentu yang dapat menularkannya kepada anak-anaknya, ini disebut juga penyakit keturunan.
     
    Kedua, sakit penyakit juga bisa dialami seseorang disebabkan oleh disiplin Tuhan karena dosa kejahatan atau kesalahan orang itu sendiri. Sebenarnya orang tersebut sudah bertanggung jawab menjaga kesehatan dengan pola makan dan pola hidup yang baik, tetapi ia tidak dengar-dengaran kepada Tuhan. Hidupnya bergelimang dengan dosa dan kejahatan. Kehidupan yang tidak dengar-dengaran mendatangkan disiplin. Displin tidak berarti hukuman, tetapi tindakan Tuhan untuk mendewasakan. Banyak penyakit yang dialami oleh seseorang karena hidupnya tidak sesuai dengan kehendak Allah. Bisa terjadi juga bagi anak-anak yang tidak menghormati orang tua, mereka bisa dihukum dengan menjadi pendek umur (Ef. 6:3). Pendek umur karena sakit penyakit juga.
     
    Ketiga, sakit yang disebabkan oleh tindakan manusia itu sendiri, yaitu tidak menjaga pola hidup dan pola makan yang baik. Bagaimanapun, walau sebagai anak-anak Allah, kita tetap harus tunduk kepada tatanan Tuhan, bahwa apa yang ditabur seseorang itu juga akan dituainya. Jadi sebuah keniscayaan orang Kristen walaupun rajin ke gereja, walaupun menjadi aktivis jemaat bahkan menjadi pendeta, ia harus menuai apa yang telah ditaburnya. Seperti Iblis berusaha menjatuhkan Tuhan Yesus dan berusaha membunuh-Nya agar ia bisa melenyapkan gerak pelayanan-Ny...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…