Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kehendak Bebas
    Salah satu tatanan rohani yang tidak bisa tidak harus dikenakan atau dijalani dalam kehidupan umat manusia adalah kehendak bebas. Penting sekali untuk memahami tatanan ini. Kegagalan memahami tatanan ini menjadi kegagalan memahami keselamatan pula. Ada pandangan teologi mengenai keselamatan yang tidak tepat, karena tidak tepat dalam memahami hal kehendak bebas. Pemahaman yang salah mengenai kehendak bebas yang berdampak terhadap pemahaman mengenai keselamatan, berdampak pula pada perilaku orang percaya. Pemahaman yang salah mengenai kehendak bebas dan keselamatan menyebabkan pengajaran tersebut hanya seputar atau lebih menekankan pada format logika tetapi kurang dalam implikasi, implementasi, dan aplikasi konkretnya.
     
    Harus dipahami bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Elohim. Elohim adalah Pribadi yang memiliki kehendak bebas. Elohim Pribadi yang bebas, artinya tidak ada sesuatu yang mengatur Dia. Elohim mengatur diri-Nya sendiri. Di dalam diri Elohim terdapat tatanan yaitu kehendak bebas, demikian juga manusia yang adalah gambar-Nya adalah pribadi bebas. Sebagaimana Elohim adalah Pribadi yang memiliki kehendak bebas, maka manusia juga memiliki keberadaan yang sama. Manusia juga harus mengatur dirinya sendiri. Inilah yang dimaksud dengan kehendak bebas. Manusia adalah makhluk yang independen. Independen di sini maksudnya adalah bahwa manusia tanpa dikontrol dan dikendalikan pihak di luar dirinya menentukan keadaannya sendiri. Karena fakta ini, maka manusia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Setiap individu tidak dapat mengelak jika dimintai pertanggungjawaban.
     
    Dalam istilah Bahasa Latin, kehendak bebas disebut liberum arbitrium. Liber artinya bebas, sedangkan arbitrium artinya kehendak. Inilah kehendak bebas atau free will yang Sang Khalik menaruhnya di dalam diri manusia. Kata lain dari kehendak adalah kemauan, hasrat, dan keinginan. Kehendak ini lahir dari pikiran dan perasaan yang Allah taruh dalam diri manusia. Dalam tulisan ini lebih banyak menggunakan kata kehendak. Manusia diciptakan dengan kehendak dan kehendaknya bersifat bebas. Jika tidak demikian, maka manusia tidak memiliki nilai yang tinggi. Dengan menaruh dan menetapkan kehendak bebas dalam diri manusia, Sang Khalik sendiri, yaitu Pencipta semesta alam, Sesembahan mulia yang menghargai manusia sebagai ciptaan-Nya, artinya Allah tidak bersikap sewenang-wenang atas manusia. Manusia diberi kebebasan dalam memperlakukan dirinya.
     
    Kehendak bebas artinya manusia dapat memilih taat kepada Allah atau memberontak kepada-Nya. Dengan demikian kehendak bebas berarti manusia menentukan nasib dan keadaan dirinya  sendiri. Dalam hal ini manusia bisa mengasihi Allah dengan segenap hati (secara proporsional) atau tidak mengasihi Allah secara proporsional atau tidak mengasihi Allah secara pantas. Dalam kehendak bebas tersebut manusia dengan pilihannya dapat membenci Allah dan tidak menghormati-Nya atau mengasihi Allah dan menghormati-Nya. Bila berbicara mengenai mengasihi atau menghormati, ini adalah bagian terdalam dari diri manusia, yaitu di dalam hati dan perasaannya. Tentu saja ini adalah bagian atau wilayah manusia yang tidak diintervensi oleh siapa pun, bahkan Allah sendiri. Kalau Allah berintervensi di dalamnya, maka manusia secara total atau mutlak menjadi boneka yang kehilangan integritas dan personalitinya (kepribadian), sebab memang tidak membutuhkan integritas dan personaliti lagi. Jadi, integritas dan personalitinya bukan muncul dari dirinya sendiri dan tidak dikendalikan oleh dirinya sendiri. Ini pandangan yang keliru.
     
    Sebenarnya, kehendak bebas bisa didefinisikan sebagai konsep yang menyatakan bahwa keadaan perilaku manusia tidak mutlak ditentukan oleh kausalitas di luar dirinya, tetapi merupakan akibat atau hasil dari keputusan dan pilihan yang dibuat melalui sebuah aksi dan reaksi dari diri sendiri. Keputusan dan pilihan tersebut ditentukan oleh komponen dalam diri...
    0 min
  • Jurubicara Tuhan
    Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan Allah, artinya manusia tidak mampu mencapai standar kesucian Allah. Dengan keadaan ini bukan berarti semua manusia menjadi biadab seperti hewan. Manusia masih bisa berbuat baik dalam kebaikan ukuran manusia yang terbatas. Allah masih memperkenan Taurat atau hukum-Nya tertulis di hati manusia (Rm. 2:14-16). Tentu hal ini berlangsung melalui proses estafet dari Adam kepada keturunannya. Untuk meneguhkan hal ini, maka Elohim Yehovah atau Yahweh (baca: Adonai) memberikan hukum-Nya kepada Musa di Sinai. Dan ternyata bahwa hukum yang ditulis di loh batu senada dengan hukum-hukum atau pengertian apa yang baik dan yang patut dilakukan yang dipahami oleh manusia di ujung bumi mana pun. Tuhan memberikan hukum-hukum-Nya kepada umat Israel menjadi tatanan moral untuk mengatur perilaku mereka. Dari sini lahirlah agama Yahudi (Yudaisme) atau agama Musa.
     
    Kedatangan Anak Tunggal Bapa ke dunia mengakhiri zaman agama, maksudnya agama Yahudi yang dipeluk bangsa Israel pada waktu itu. Yesus datang mengajarkan kebenaran untuk membawa manusia kepada rancangan Allah semula, yaitu berkeadaan segambar dan serupa dengan Elohim. Kebenaran itu sebenarnya sama dengan tatanan yang ada pada diri Elohim. Itulah sebabnya Yesus disebut sebagai Hikmat Allah, Dialah Sang Kebenaran itu (1Kor. 1:24; Yoh. 145:6). Kekristenan bukan agama, artinya Kekristenan tidak hanya diatributi atau ditandai atau diberi ciri dengan hukum-hukum dalam arti peraturan atau syariat yang mengatur moral, tetapi jalan hidup; yang dimaksud adalah pengenalan akan Allah yang membuat orang percaya mengenakan kodrat Ilahi, seperti yang dikenakan oleh Yesus (2Ptr. 1:3-4).
     
    Memahami penjelasan di atas, langkah yang harus orang percaya lakukan adalah belajar kebenaran. Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran, dan kebenaran itulah yang memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Kebenaran itu juga menguduskan (Yoh. 17:17). Kebenaran itu sama dengan Injil, yaitu kuasa Allah yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17). Tetapi masalahnya adalah bagaimana memahami Alkitab, karena masing-masing penafsir Alkitab berbeda. Ibarat peramu obat, masing-masing memiliki formula. Tentu setiap peramu akan menyatakan dirinya peramu yang paling benar, obatnya paling mujarab.
     
    Setiap orang berhak menyatakan formulanya adalah formula yang paling baik. Itu berarti formula orang lain tidak baik, bahkan bisa berarti salah. Ibarat obat, bisa meracuni dan membunuh. Tetapi etikanya, seseorang tidak berhak menyebut nama orang sebagai peramu yang salah atau sesat, sebab hal ini bukan saja melanggar etika kehidupan, tetapi juga melanggar hukum. Jika seseorang melakukan hal tersebut, berarti ia menunjukkan kesombongannya dan perilaku yang tidak etis. Sudah bisa dipastikan orang-orang seperti itu tidak takut akan Allah secara proporsional. Kebenaran yang dikemukakan oleh seorang pengkhotbah atau teolog dengan pandangan teologinya bukan pada perkataan atau tulisannya, tetapi pada buah hidupnya pribadi dan dampak dari pelayanannya.
     
    Kebenaran perkataan seseorang tidak bisa dibuktikan di atas kertas atau pernyataan lisan dalam khotbah. Tetapi harus dibuktikan secara konkret dari kualitas buah kehidupan orang itu, yaitu perilakunya dalam segala hal, dan buah dari kehidupan orang yang mendengar atau mengkonsumsi khotbahnya. Setiap jemaat harus memiliki nurani untuk membaca atau merasakan apakah seorang sungguh-sungguh jurubicara Tuhan atau tidak. Setiap orang Kristen berhak memilih gereja atau pembicara yang didengarnya. Dalam hal ini setiap orang percaya harus memperkarakannya di hadapan Tuhan agar memperoleh petunjuk dan kepekaan untuk membedakan siapa yang menjadi jurubicara Tuhan dan yang bukan jurubicara Tuhan.
     
    Kebenaran itu memerdekakan, artinya orang yang mendengar kebenaran itu hidupnya diubah. Perubahan tersebut ditandai dengan kesucian, fokus ke langit baru bumi baru dan memaksimalkan pot...
    0 min
  • Tatanan Rohani
    Sebagaimana manusia harus memahami secara mutlak hukum-hukum atau tatanan alam yang bertalian dengan hidup setiap hari di dunia ini, maka manusia juga harus memahami hukum kehidupan atau tatanan rohani yang merupakan tata perilaku manusia yang bertalian dengan Allah. Hal tersebut bukan hanya sangat penting, tetapi juga mutlak guna kehidupan kekal serta hubungan harmoninya dengan Pribadi Agung; Allah semesta alam. Hukum kehidupan ini disebut sebagai hukum rohani. Hukum rohani memuat fakta-fakta dalam alam rohani yang pasti membawa dampak pula pada kehidupan jasmani atau hukum-hukum alam ini. Dan manusia tidak dapat terpisah dari padanya. Hukum atau tatanan rohani ini mengalir atau keluar dari Pribadi Agung Sang khalik.
     
    Hukum rohani tidak lebih rendah nilainya dari hukum alam yang kelihatan, yang bisa dibuktikan secara sains. Adapun hukum rohani nanti dalam penghakiman terakhir bisa dibuktikan kebenarannya secara sempurna; artinya kalau manusia memerhatikan dan tunduk dengan segenap hati, maka memiliki hidup yang berkualitas. Dengan memahami hukum rohani ini, manusia dapat menempatkan diri secara pantas di hadapan Allah dan menempatkan Allah secara terhormat di dalam hidupnya. Sebagai akibat atau buahnya, manusia yang menghargai dan mengenakan hukum-hukum rohani secara konsekuen dan konsisten akan menuai kehidupan kekal (Gal. 6:8).
     
    Hukum rohani menyangkut ketetapan yang Allah tentukan berasal dari diri pribadi Allah Bapa yang Mahakudus, Maha Bijaksana, dan Mahaadil. Dalam hukum rohani terdapat ketetapan-ketetapan yang harus dihargai, baik oleh pihak Allah maupun pihak mana pun atau siapa pun. Allah pasti konsekuen terhadap tatanan atau hukum yang ditetapkan-Nya tersebut yang menjadi semacam rule of life dalam kehidupan ini. Integritas Allah yang sempurna dalam menegakkan tatanan tersebut menempatkan manusia sebagai makhluk yang agung, karena manusia diperkenan masuk dalam gelanggang kehidupan yang harus menghargai tatanan Allah. Benda mati dan binatang tidak masuk dalam gelanggang ini.
     
    Kalau orang-orang Kristen yang baru dan orang-orang beragama pada umumnya berorientasi pada hukum Allah dalam pengertian perintah, peraturan, atau syariat, tetapi orang percaya yang dewasa berorientasi pada hukum dalam pengertian kodrat, natur, atau ketetapan. Inilah yang membuat orang percaya bukan saja bisa melakukan hukum (to do), tetapi bisa memahami hukum kehidupan ini sehingga bisa berkeadaan melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah (to be). Dalam hal ini kesucian bukan hanya berarti tidak berbuat dosa, tetapi tidak bisa berbuat dosa. Kesucian bukan hanya berangkat dari melakukan perintah, peraturan, atau syariat Allah, tetapi melakukan kehendak-Nya, memuaskan, dan menyenangkan hati-Nya.
     
    Dengan memahami hukum dalam pengertian yang kedua, maka seseorang akan menemukan jawaban mengapa Allah menciptakan manusia, mengapa harus ada dua buah pohon di Taman Eden, mengapa Tuhan Yesus harus mati, apa arti kebangkitan-Nya itu, dan lain sebagainya. Hal ini akan membuka pengertian kita terhadap kebenaran Alkitab yang menakjubkan dan membuktikan bahwa Kekristenan memuat kebenaran Allah yang tidak tertandingi. Kebenaran-kebenaran tersebut membangun kecerdasan rohani yang memampukan orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus.
     
    Maksud pembahasan mengenai tatanan Allah dimaksudkan agar orang percaya dapat menjalani hidup dengan benar sesuai dengan hukum kehidupan yang harus diperhatikan dengan serius. Kalau seseorang tidak memerhatikan hukum-hukum alam, maka akan celaka; demikian pula kalau seseorang tidak memerhatikan dan tunduk kepada hukum-hukum rohani, akan binasa. Hukum kehidupan kita adalah Allah sendiri. Itulah sebabnya kita harus mengenal Dia. Mengenal Dia berarti mengenal tatanan tertinggi yang membawa manusia kepada kesucian seperti kesucian-Nya.
     
    Memang pada akhirnya orang percaya hidup bukan berdasarkan tatanan hukum tertul...
    0 min
  • Tatanan Alam
    Dalam lingkungan orang beragama, berbicara mengenai hukum selalu dikaitkan dengan “perintah atau peraturan atau syariat.” Berbeda dalam Kekristenan, kalau diteliti dengan cermat, Alkitab bukan hanya menunjukkan adanya hukum dalam arti perintah atau peraturan atau syariat, tetapi juga berbicara mengenai tatanan, kodrat, atau natur. Tatanan di sini maksudnya adalah suatu ketetapan yang diadakan oleh Allah yang secara mutlak pasti berlaku untuk keteraturan bumi dan alam semesta. Karena Tuhan adalah Allah Yang Esa, maka alam semesta juga pasti mono, artinya tidak ada alam semesta lain dengan Allah yang lain.
     
    Dalam kehidupan fisik di alam ini juga terdapat adanya hukum-hukum, seperti Hukum Gravitasi, Hukum Archimedes, Hukum Relativitas, Hukum Polaritas, dan lain sebagainya. Hukum-hukum ini merupakan tatanan atau ketetapan yang bersifat mutlak untuk sebuah keteraturan secara umum. Tanpa hukum-hukum atau tatanan yang Allah ciptakan di alam semesta ini, maka alam semesta akan kacau balau. Tidak pernah ada kehidupan tanpa tatanan. Allah menciptakan tatanan sehingga ciptaan-Nya menjadi sempurna. Inilah yang dikatakan oleh Firman Allah dalam Kejadian 1:31: Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam. Kalimat “sungguh amat baik” pasti juga menyangkut tatanan yang membuat kehidupan di bumi dapat berlangsung dengan tertib.
     
    Hukum-hukum atau tatanan alam bukan berbicara mengenai peraturan atau perintah yang ditujukan langsung kepada manusia untuk ditaati seperti sebuah peraturan, tetapi fakta dalam kehidupan yang pasti berlaku. Tatanan ini pasti berlangsung atau eksis tanpa ada yang dapat membatalkan atau mengubah. Untuk itu manusia secara mutlak harus memahami dengan benar dan menghargai, serta tunduk tanpa syarat terhadap hukum-hukum atau tatanan alam tersebut. Bagaimanapun, semua makhluk hidup mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum atau tatanan alam tersebut, sebab hukum-hukum atau tatanan alam tersebut mengatur dan mengikat semua makhluk hidup dan semua benda mati. Hukum dalam arti ini bisa merupakan sebuah tatanan yang abadi di bumi ini dan seluruh jagat raya.
     
    Mengapa dikatakan tatanan bagi seluruh alam semesta? Karena hukum-hukum atau tatanan alam merupakan sistem yang bersifat tetap atau permanen dan mutlak atau absolut, maka terhadap hukum-hukum tersebut semua makhluk harus menyesuaikan diri dengan menundukkan diri secara mutlak, dan tidak boleh melanggarnya. Mempertimbangkan hukum-hukum atau tatanan alam ini, dapat dipahami betapa terbatasnya keberadaan manusia. Kepada hukum-hukum alam yang diciptakan oleh Sang Pencipta manusia harus tunduk, apalagi kepada Penciptanya. Pemahaman mengenai hukum-hukum atau tatanan alam ini sebenarnya dapat membangkitkan kekaguman terhadap Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan kegentaran yang patut kepada-Nya.
     
    Dari pengertian dan penghargaan terhadap hukum-hukum alam tersebut, manusia mau menaatinya karena tidak bisa menghindarinya dan memang tidak boleh dihindari. Mengapa tidak bisa dihindari? Sebab memang semua itu merupakan fakta yang bertalian langsung dalam kehidupan manusia dan keberlangsungan alam semesta. Manusia hidup pasti berurusan dengan hukum-hukum tersebut. Oleh sebab itu manusia harus memahaminya dengan benar. Dengan memahaminya dengan benar, maka manusia bisa memanfaatkan bagi kesejahteraannya. Seperti misalnya dengan memahami Hukum Archimedes, maka orang bisa membuat kapal dan lain sebagainya. Kalau hukum dalam arti perintah diadakan untuk keteraturan hidup perilaku manusia -dimana manusia harus dengan rela atas kehendak bebasnya mematuhinya- maka kalau hukum alam, manusia rela tidak rela harus tunduk.
     
    Tatanan Allah ini merupakan tindakan Allah dalam memberikan providensia kepada manusia. Allah tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya; hal ini diekspresikan atau diwujudkan bukan hanya dalam pen...
    0 min
  • Phronimos
    Perumpamaan mengenai dasar atau pondasi kehidupan dalam Matius 7:24-27 memberikan beberapa pelajaran yang sangat penting dan berharga. Pertama, hanya ada dua jenis manusia yang mendengar perkataan Tuhan. Yang satu berkategori bijaksana dan yang lain bodoh. Kata “bijaksana” adalah phronimos (φρόνιμος) yang memiliki beberapa pengertian intelligent, wise, prudent, mindful of one’s interests sensible, thoughtful (cerdas, bijak, berhati-hati atau tidak ceroboh, sensitif untuk suatu kepentingan, masuk akal, bijaksana). Kata “bodoh” dalam teks ini adalah moros (μωρός), yang artinya adalah foolish, impious, godless, stupid (bodoh, fasik, murtad, tidak cerdas). Kata moros juga menunjukkan sesuatu yang tidak bergerak atau tidak berkembang. Kata yang sejajar dengan phronimos adalah sophos (σοφός), yang artinya adalah kebijaksanaan (Ef. 5:15).
     
    Kata sophos memiliki keterkaitan dengan kemampuan berpikir hasil dari sebuah perjalanan bersama dengan Tuhan. Kata sophos lebih menunjuk kepada sesuatu yang memiliki unsur keahlian berdasarkan sebuah proses belajar. Kata ini dalam teks Yunani juga berarti skilled, expert, wise, cultivated, learned (terampil, ahli, bijak, dibudidayakan, belajar). Phronimos lebih memiliki unsur adikodrati -walaupun tidak mutlak- yang bertalian dengan kemampuan berpikir atau intelek, tentu juga hasil pimpinan Roh Kudus. Kebalikan kata sophos adalah asophos (ἄσοφος). Tetapi kebalikan dari kata phronimos adalah moros yang memiliki pengertian “tidak berkembang.”
     
    Perkataan Tuhan adalah kebenaran Injil. Kalau seseorang mengerti kebenaran Injil tetapi tidak melakukannya, maka percuma saja apa yang didengarnya. Pada dasarnya apa yang diajarkan Tuhan Yesus adalah cara atau gaya hidup-Nya. Setiap orang yang mendengar kebenaran Injil pasti diberi pengertian lebih jauh dalam dirinya bagaimana mengikuti jejak-Nya. Masalahnya apakah kita bersedia kehilangan hidup kita sendiri untuk mengenakan kehidupan Tuhan Yesus atau tidak. Dalam hal ini dibutuhkan ketekunan yang tinggi.
     
    Orang yang melepaskan diri dari segala miliknya dapat menjadi murid, artinya bisa berkembang (tidak moros) (Luk. 14:33). Pengiringan kita kepada Tuhan Yesus tidak dapat menjadi sambilan. Segenap hidup harus rela dirampas olehnya. Ketika seseorang berusaha mengenakan kebenaran Injil yang didengar -yaitu berusaha sesuai dengan gaya hidup-Nya- maka ia akan menjadi cerdas (phronimos). Hal ini akan dialami seseorang karena pengurapan Tuhan bekerja dalam diri seseorang (1Yoh. 2:27). Dengan hal ini Tuhan Yesus sebagai Guru akan dialami setiap individu. Ia mengajar kepada masing-masing pribadi melalui Roh Kudus.
     
    Seseorang dapat menjadi bijaksana menurut Alkitab (phronimos) adalah sebuah perjalanan panjang yang diajar oleh Roh Kudus. Hal ini tidak bisa diperoleh dengan cepat. Pada suatu saat akan datang pengujian apakah seseorang bijaksana atau tidak. Tuhan Yesus memberi perumpamaan mengenai gadis bodoh dan bijaksana. Kata “bijaksana” dalam teks tersebut adalah phronimos (Mat. 25:2). Hujan, banjir, dan angin bertiup menunjuk kepada pengujian yang pasti akan dialami setiap individu (Yak. 1:12; 1Ptr. 1:6-7). Tuhan Yesus sendiri mengalami pengujian ini yang sama dengan baptisan api (Luk. 12:50; Mrk. 10:38). Demikian pula dunia akan dibawa ke masa pengujian atau yang sama dengan penampian. Yohanes Pembaptis berbicara mengenai penampian ini. Yohanes Pembaptis berbicara kepada orang-orang yang kelihatannya mau menjadi pengikut Tuhan tetapi tidak sungguh-sungguh mau bertobat, bahwa mereka akan ditampi (Mat. 3:7-12). Penampian itu akan membuktikan apakah mereka sungguh-sungguh bertobat atau tidak.
     
    Yohanes Pembaptis mengajak setiap pendengarnya untuk memiliki kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Hal ini sejajar dengan spirit Perjanjian Baru yang menuntut orang percaya sungguh-sungguh berkualitas sebagai anak Allah. Status sudah tidak perlu lagi,
    0 min
  • Sebagai Makhluk Kekal
    Banyak manusia yang tidak menghayati dirinya sebagai makhluk kekal, sehingga tanpa sadar merendahkan martabatnya sendiri. Ia akan menilai dirinya dan orang lain dengan ukuran duniawi, yaitu dengan ukuran harta dan kehormatan manusia. Pada hakikatnya orang-orang seperti ini menjadikan dirinya sendiri bernilai rendah, tidak berbeda jauh dari benda mati yang fana atau hewan. Penghargaannya terhadap harta dunia dan kehormatan manusia begitu tingginya sampai ia tidak pernah bisa melayani Tuhan dengan benar. Tidak mungkin orang-orang seperti ini menghargai Tuhan secara pantas, sebab kalau penghargaannya terhadap dunia sudah meleset, maka penghargaan terhadap Tuhan pun juga meleset. Dalam hal ini dibutuhkan kebenaran Firman Tuhan yang mencelikkan mata pengertian seseorang agar mengerti dan dapat menghayati secara penuh keberadaannya sebagai makhluk kekal ini. Orang-orang seperti ini juga tidak akan menghargai manusia lain secara utuh dengan cara pandang yang benar.
     
    Dalam banyak kesempatan Tuhan Yesus sebenarnya menyadarkan pendengar-Nya terhadap realitas ini, misalnya bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, agar manusia mengumpulkan harta di surga, panggilan mendahulukan Kerajaan Surga, harus lebih takut kepada Bapa yang dapat membuang jiwa ke neraka, dan lain sebagainya. Juga ketika Yesus berkata, apa gunanya seseorang beroleh dunia ini kalau membinasakan jiwanya; Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki cara berpikir orang-orang yang berasal dari atas. Setiap kali Tuhan Yesus berbicara mengenai Kerajaan Allah, manusia diingatkan untuk masuk ke dalam pemerintahan Allah yang abadi.
     
    Paulus pun menekankan hal ini dalam semua tulisannya (2Kor. 4:16-18; 2Kor. 5:1-10; Flp. 3:7-20; Kol. 3:1-4; dan lain sebagainya). Sebenarnya seluruh teks dalam Perjanjian Baru, baik yang diajarkan oleh Tuhan Yesus maupun yang ditulis oleh rasul-rasul mengarahkan orang percaya kepada kesadaran ini. Kalau pelayanan tidak membuat orang menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal yang berasal dari atas, berarti pelayanan itu gagal. Orang Kristen seperti itu belumlah masuk ke dalam keselamatan yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Sebab pikiran mereka masih tertuju kepada perkara-perkara duniawi, sehingga kehidupan di dunia hari ini adalah kehidupan yang dinikmati secara salah. Kenikmatannya akan membuat seseorang semakin tidak dapat menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal. Sampai pada level tertentu, orang tersebut akan berhasil dituai Iblis menjadi mempelainya.
     
    Kegagalan banyak manusia -di dalamnya termasuk orang Kristen- adalah tidak menghayati dirinya sebagai makhluk kekal. Dalam kehidupan banyak orang Kristen, irama hidup yang dimiliki sudah terlanjur seirama dengan anak-anak dunia yang buta terhadap realitas ini. Sehingga sulit sekali menyadarkan orang yang mata hatinya sudah tertutup terhadap kebenaran siapa sesungguhnya dirinya itu. Cara hidup yang salah itu sudah kuat mengakar dalam diri banyak orang. Sehingga yang mereka kejar adalah apa yang dapat disediakan dan diberikan oleh dunia hari ini, tetapi orang yang menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal akan berusaha meraih apa yang lebih dari kehidupan ini. Yang lebih dari kehidupan ini adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dengan demikian sebagai dampaknya, pertama, ia akan berusaha untuk tidak terikat dengan kekayaan dunia. Kedua, ia berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Ia akan lebih mudah meninggalkan dosa. Ketiga, ia akan berusaha semaksimal mungkin melayani Tuhan untuk membawa orang lain ke langit baru dan bumi yang baru.
     
    Hidup yang sesungguhnya adalah nanti di dunia yang akan datang. Ini berbeda dengan cara berpikir dan gaya hidup orang yang memandang bahwa hidup yang sesungguhnya adalah nanti. Hidup sekarang ini hanyalah persiapan untuk memasuki kehidupan nanti. Oleh sebab itu orang yang mempersiapkan diri untuk kehidupan yang akan datang tidak akan mempersoalkan hal-hal duniawi yang bertujuan u...
    0 min
  • Philos Atau Hetairos
    Kegiatan hidup mengumpulkan harta di surga harus mencengkeram hidup seseorang, sehingga tidak ada tujuan lain yang menjadi wilayah hidupnya. Wilayah hidupnya adalah Kerajaan Surga. Dia akan berjuang bagaimana menghadirkan pemerintahan Allah dalam hidupnya. Tentu saja sukacita hidupnya tidak lagi tertumpu pada hal apa pun selain Tuhan. Keindahan dunia menjadi benar-benar pudar. Dengan memiliki langkah hidup seperti ini, Tuhan akan membuka pikirannya untuk mengenali kekayaan Kerajaan Surga. Hal ini tidak dapat diberikan kepada sembarang orang. Mutiara bukan untuk babi. Bisa dimengerti kalau ada orang yang tidak menghargai keselamatan dan Kerajaan Surga dalam hidupnya. Mereka belum bisa barter seperti perumpamaan peladang yang menemukan harta yang terpendam di ladangnya (Mat. 13:44).
     
    Paulus adalah contoh manusia yang menemukan kekayaan dalam Kristus yang oleh karena-Nya ia rela melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah supaya memperoleh Kristus (Flp. 3:8). Ia harus melepaskan semuanya, barulah memperoleh Kristus. Kalau Paulus tidak melepaskan semua kebesarannya, ia tidak akan memperoleh Kristus. Banyak orang tidak berani bertindak seperti Paulus ini, sehingga tidak pernah menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidupnya. Orang yang menghadirkan Kerajaan Surga dalam hidupnya akan bekerja keras menghargai hidup dan mengembangkan potensi yang diberikan Tuhan. Sebab di surga pun kita akan mengembangkan semua potensi yang Tuhan berikan dan mengelola langit baru dan bumi baru yang sempurna, yang Tuhan berikan. Melakukan segala kegiatan hidup hari ini adalah ibadah kepada Tuhan, maka segala sesuatu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan profesional. Dalam hal ini orang malas adalah orang yang tidak mungkin dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Sama dengan orang rajin tetapi tidak mempersembahkan prestasi hidupnya bagi Kerajaan Allah.
     
    Orang yang menghadirkan Kerajaan Allah akan berusaha meraih setinggi-tingginya prestasi dalam hidup di dunia ini dalam bidang yang digelutinya untuk dipersembahkan bagi Tuhan. Inilah kehidupan yang mempermuliakan Tuhan dalam segala hal yang dilakukan (1Kor. 10:31). Inilah kehidupan yang menggelar isi Doa Bapa Kami, “dipermuliakanlah nama-Mu.” Orang yang menghadirkan suasana surga adalah orang yang mencintai “tanah airnya.” Orang-orang ini akan menjadi pejabat-pejabat tinggi dalam Kerajaan Surga nanti. Mereka adalah pengawal-pengawal kerajaan atau yang sama dengan imamat yang rajani. Salah satu terjemahan Bahasa Inggris menerjemahkan “imamat yang rajani” dengan musketeer (pengawal). Hal ini seperti imam-imam dalam Perjanjian Lama yang mengawal pekerjaan Allah di Bait Allah.
     
    Pernahkah Saudara merenungkan kenyataan bahwa pada suatu hari nanti kita akan sendiri tanpa siapa pun dan apa pun? Sekarang ini, ketika banyak orang ada di sekitar kita, kita tidak memikirkan hal itu sama sekali. Setiap saat ketika menginginkan siapa pun untuk menemani kita, mereka bisa datang. Apalagi kita yang memiliki kekuasaan dan kekayaan, kita bisa menghadirkan siapa pun untuk mendampingi. Tetapi suatu saat kita akan dipisahkan dengan semua orang, dan tidak seorang pun bisa menemani. Tidak seorang pun bisa menghindarkan diri kenyataan ini.
     
    Sungguh-sungguh suatu kecerobohan, kalau seseorang tidak mengumpulkan harta di surga. Binatang tidak perlu memikirkan hal tersebut, sebab mereka makhluk yang tidak memiliki kelanjutan di keabadian. Berbeda dengan manusia yang akan memasuki lembah bayang-bayang maut. Tidak sedikit orang Kristen yang ketakutan ketika ada di ujung maut. Itulah sebabnya pelayanan gereja harus serius memperkarakan hal ini. Di pihak lain, jemaat Tuhan harus serius mau mendengar, menangkap pesan ini dan memperkarakannya di dalam hidupnya. Harus diusahakan sebelum seseorang memasuki lembah akhir hayat tersebut, ia sudah sungguh-sungguh bersahabat dengan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan: “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan ...
    0 min
  • Bersahabat Dengan Tuhan
    Bersahabat dengan Tuhan sebenarnya sama artinya dengan menempatkan diri dengan benar di hadapan Tuhan atau menempatkan Tuhan di tempat terhormat di dalam hidup ini. Hal ini tidak dapat terjadi kalau seseorang sudah terlanjur menempatkan “yang lain” di tempat terhormatnya. Yang dimaksud dengan “yang lain” di sini adalah segala hal yang bisa berupa kekayaan dunia ini, manusia yang dicintai lebih dari Tuhan, dan lain sebagainya. “Yang lain” ini bisa diistilahkan sebagai dunia dengan segala yang ada di dalamnya. Bagaimana kita tahu bahwa masih ada “yang lain” dalam hidup seseorang? Hal ini bisa dibuktikan dengan cara ini: Kalau demi sesuatu, seseorang bisa melakukan apa pun tanpa batas, tetapi kalau untuk Tuhan tidak, berarti Tuhan hanya menjadi teman (hetairos). Dalam hal ini Tuhan hanya menjadi alat atau sarana untuk meraih segala sesuatu yang diinginkan.
     
    Banyak gereja yang bertindak sebagai “broker” (makelar) melalui “oknum pendeta” agar tangan Tuhan bisa diulurkan melakukan apa yang dibutuhkan oleh umat. Padahal kalau umat menjadikan Tuhan sebagai sahabat, tanpa perantara siapa pun umat dapat berurusan langsung dengan Tuhan dan Tuhan berkenan terlibat dalam segala persoalan sahabat-sahabat-Nya. Tidak sedikit gereja yang tidak mengajar dan menasihati serta membimbing umat untuk menjadikan Tuhan sebagai sahabat. Seharusnya menjadi masalah utama dalam kehidupan umat yang harus digumuli pelayanan gereja adalah bagaimana umat mengenal Tuhan dengan benar. Umat harus belajar untuk menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya dan menempatkan Tuhan secara terhormat di dalam kehidupannya. Inilah fokus penggembalaan yang benar. Di lain pihak umat Tuhan harus menyediakan diri (waktu, tenaga, dan segala sesuatu) untuk dimuridkan atau diajar mengenal kebenaran Tuhan guna bisa membangun persabahatan dengan Tuhan. Memang proses menjadi sahabat Tuhan tidak mudah. Hal ini berkenaan dengan keterikatan seseorang dengan dunia ini. Pada mulanya mereka ada di level berteman dengan Tuhan.
     
    Melalui pertumbuhan iman yang sejati, mereka bertumbuh sampai menjadi sahabat Tuhan. Pertumbuhan iman ini ditandai dengan pudarnya keindahan dunia di pemandangannya. Kalau seorang Kristen masih mengeraskan hati mengasihi dunia dan segala yang ada padanya, pelayanan yang sebaik apa pun tidak akan signifikan mengubah hidupnya. Baginya, dunia adalah keindahan yang menjadi sahabatnya dan tujuan hidupnya. Ini pula berarti ia menjadi seperti Esau yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan (Ibr. 12:16-17). Ini berarti ia adalah orang yang tidak setia yang bersahabat dengan dunia (Yak. 4:4). Celaka! Orang yang masih memandang dunia indah menurut versi manusia berdosa menunjukkan bahwa ia belum melihat kemuliaan Allah.
     
    Ketika seseorang melihat kemuliaan Allah atau keindahan Kerajaan Allah, maka keindahan dunia menjadi tidak ada artinya sama sekali; sangat tidak sebanding dengan keindahan Kristus. Keindahan dunia maksudnya adalah segala sesuatu yang dianggap memiliki nilai tinggi pada zamannya, di mana semua orang memburunya dan berusaha memiliki sebanyak mungkin. Pada zaman batu, hampir tidak ada yang dianggap bernilai tinggi kecuali makanan dari berbagai bahan mentah yang ada. Perkakas yang digunakan pada umumnya terbuat dari batu. Pada zaman perunggu yang dianggap bernilai adalah perkakas dari perunggu. Selanjutnya pada zaman besi yang dianggap bernilai terbuat dari besi. Zaman berganti zaman, setiap orang mengalami perubahan pola berpikir sesuai dengan zamannya. Pada zaman kita ini semakin banyak obyek yang dianggap memiliki nilai tinggi (rumah, mobil, apartemen, deposito, kapal pesiar, jet pribadi, kehormatan, pangkat, dan lain sebagainya). Tidak heran kalau mereka menjadikan semua itu sebagai sahabat.
     
    Pengalaman yang paling penting dan sangat utama serta benar-benar indah dalam kehidupan orang percaya adalah ketika keindahan dunia menjadi pudar di pemandangannya (Flp. 3:7-9).
    0 min
  • Lukisan Abadi
    Setiap manusia pasti meninggalkan jejak kehidupan. Setipis apa pun jejak itu, pasti ada (Why. 14:13). Bahkan ternyata hewan pun meninggalkan jejak bagi makhluk lain, juga untuk manusia. Kalau seekor ikan membuat seseorang tidak mati kelaparan, sehingga orang itu bisa melanjutkan perjalanan hidupnya dan mengukir sebuah sejarah bagi orang lain, bukankah ikan tersebut ikut berperan? Kalau benda dan hewan bisa mengukir jejak, apalagi manusia. Setiap orang mengukir sejarah kehidupan, pertama tentu sejarah kehidupannya sendiri, selanjutnya kehidupan orang lain. Interaksi antar manusia adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Pengaruh/memengaruhi adalah suatu realitas yang pasti terjadi.
     
    Bagi binatang, mereka tidak perlu mempersoalkan ukiran kehidupan yang dihasilkan, sebab setelah melewati matahari fana di bumi ini, mereka lenyap tiada bekas. Berbeda dengan manusia yang ada dalam perjalanan waktu; waktu di bumi ini dan kekekalan. Semua yang dilakukan dan terjadi dalam kehidupan setiap orang akan memiliki catatan abadi. Untuk ini seseorang harus menghayati realitas kekekalan jiwa manusia (immortality of soul). Berkenaan dengan hal ini kita perlu merenungkan fakta kekekalan energi atau hukum termodinamika yang dirumuskan oleh James Prescoot Joule abad 19, seorang ahli fisika berkebangsaan Inggris. Dalam hukum kekekalan energi mengatakan bahwa energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, tapi tidak bisa diciptakan ataupun dimusnahkan. Energi didefinisikan sebagai kemampuan suatu materi untuk melakukan kegiatan. Suatu benda dapat memiliki energi dalam bentuk energi kinetik dan energi potensial. Suatu benda memiliki energi kinetik apabila ia bergerak (rotasi, vibrasi, bunyi, panas, dan listrik). Adapun energi potensial ada pada suatu benda bila ia ditarik atau didorong oleh benda lain, apabila benda tidak memiliki gaya tarik menarik atau tolak menolak, maka benda tersebut tidak memiliki energi potensial.
     
    Analogi yang bisa ditarik artinya bertalian dengan hukum energi tersebut adalah di dalam diri setiap insan, Allah memberikan energi yang menggerakkan seluruh keberadaan jasmaniah dan rohaniah kita. Berbeda dengan benda yang membutuhkan intervensi pihak eksternal untuk mengarahkan energinya, manusia memiliki kebebasan mengarahkan energinya dari dalam dirinya sendiri. Dalam hal ini ada tiga pelajaran yang diperoleh. Pertama, bahwa manusia harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan. Kedua, bahwa manusia bisa memengaruhi orang lain. Ketiga, bahwa walaupun hidup seseorang bisa dipengaruhi yang lain, tetapi ia tetap dapat dengan dominan mengarahkan dirinya sendiri. Sebab inti energi ada di dalam dirinya, kecuali bila ia sendiri yang menyerahkan dirinya kepada lingkungan atau faktor eksternal.
     
    Hewan secerdas bagaimanapun tetaplah seekor hewan, tidak memiliki kesadaran akan kekekalan seperti manusia. Dalam Pengkhotbah 3:11 tertulis: “… Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka…” Kalimat “memberikan kekekalan dalam hati” memiliki arti bahwa Tuhan memberi kesadaran mengenai kekekalan. Tidaklah mengherankan kalau di banyak suku terdapat kepercayaan mengenai keabadian dengan berbagai istilah dan penjelasan. Ritual mereka mengantar orang mati ke “peristirahatan terakhir,” memberi pesan dan kesan yang sangat kuat mengenai keyakinan terhadap kekekalan ini.
     
    Manusia modern hari ini sangat materialistis. Kesadaran terhadap kekekalan terkikis habis oleh semangat materialisme. Hal ini akan memicu seseorang tidak memedulikan kekekalan. Kalau seseorang tidak memedulikan kekekalan, maka hidupnya menjadi ceroboh. Bagi mereka yang penting bagaimana membuat hidup hari ini berbunga-bunga indah. Mereka tidak pernah memikirkan bahwa kehidupan membuat ukiran abadi. Apa yang dilakukan seseorang di bumi ini membuat goresan abadi. Inilah orang-orang bodoh yang meninggalkan kesan dan pesan buruk sepanja...
    0 min
  • Mendahulukan Kerajaan Surga
    Banyak pembicara menjadikan Matius 6:33 sebagai kiat atau cara atau metode untuk memperoleh berkat jasmani. Menyimpulkannya secara dangkal dan sederhana bahwa mencari Kerajaan Allah akan mendatangkan berkat jasmani. Mencari Kerajaan Allah diartikan sebagai rajin ke gereja dan memberi dukungan terhadap pelayanan gereja. Itulah sebabnya tidak sedikit orang bergereja hanya untuk mendapat “tambahannya,” yaitu pemenuhan kebutuhan jasmani. Pemahaman yang salah ini menyesatkan, sehingga banyak orang tidak menangkap makna orisinal ucapan Tuhan Yesus ini. Kesalahan ini telah berlangsung lama sekali, sehingga dampaknya adalah telah terbentuknya bangunan berpikir yang salah dalam hidup banyak orang Kristen. Kesalahan ini cukup berakibat fatal.
     
    Untuk memahami makna orisinal ayat ini, harus terlebih dahulu melihat konteks di mana ayat ini terletak. Konteks ayat ini adalah perkataan Tuhan Yesus mengenai kekhawatiran. Tuhan mengajarkan agar orang percaya tidak boleh memiliki kekhawatiran negatif, sehingga usaha memenuhi kebutuhan jasmani mengalahkan atau melampaui panggilan untuk mengumpulkan harta di surga, mempertajam pengertian mengenal kebenaran, dan mengabdi kepada Tuhan (Mat. 6:19-24). Perkara makan dan minum tidak boleh menjadi hal utama, sehingga mengabaikan panggilan penting yang memiliki dampak kekal tersebut. Hal ini tidak boleh terjadi. Berkenaan dengan hal ini, di dalam Matius 6:32 terdapat pernyataan yang harus dipahami dengan benar, Tuhan berkata: “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.” Apa yang dicari mereka? Kehidupan mengenai hal jasmani dan kelangsungannya yang bersifat sementara. Sedangkan orang percaya harus memfokuskan diri pada obyek lain, yaitu Kerajaan Surga.
     
    Kerajaan Surga memiliki pengertian bahwa pemerintahan Allah hari ini melalui Roh Kudus, dan perwujudannya secara fisik nanti di langit baru dan bumi yang baru. Jika fokus hidup orang percaya diarahkan pada kehidupan hari ini dan kelangsungannya, berarti ia tidak mengenal Allah dan bukan merupakan warga keluarga Kerajaan Allah. Di sini letak perbedaan mencolok antara orang percaya dan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Tetapi kenyataannya, dalam lingkungan komunitas Kristen banyak yang belum mengenal Allah. Hal ini nampak sekali dari cara hidupnya yang tidak mendahulukan dan mencari Kerajaan Allah. Secara kulit atau kemasan luar, mereka orang percaya atau anak Bapa, tetapi di dalamnya mereka adalah orang yang tidak mengenal Allah.
     
    Ada kata penting yang harus diperhatikan dalam Injil Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Kata “carilah” dalam teks aslinya adalah zeteite (Ζητεῖτε), dari akar kata zeteo (ζητέω), yang berarti seek, look for, search for (mencari), investigate (menyelidiki), examine (memeriksa), consider (mempertimbangkan), deliberate (disengaja), somewhat removed from the idea of seeking: try to obtain (mencoba untuk mendapatkan), desire to possess (keinginan untuk memiliki), strive for (berjuang untuk sesuatu tujuan), aim (mengarah kepada sesuatu), desire, wish, ask for, request demand (menuntut). Kalau Tuhan berkata: “carilah,” artinya ada suatu perjuangan dengan keras untuk memperoleh sesuatu. Sesuatu itu adalah Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.
     
    Kebenaran dalam teks ini adalah dikaiosune (δικαιοσύνη), yang artinya adalah kebenaran yang bertalian dengan tingkah laku, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan (Mat. 5:20). Berkenaan dengan hal ini Tuhan Yesus memang menghendaki agar orang percaya hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Untuk ini, orang percaya harus berjuang agar dapat menghadirkan pemerintahan Allah dalam kehidupan pribadinya. Melalui hal ini seseorang dipersiapkan menjadi warga Kerajaan Surga dengan memiliki kualitas kebaikan yang telah ditampilkan atau diperagakan oleh Tuhan Yesus semasa hidup-Nya. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud tanpa perjuangan y...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…