Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kebebasan Menghadirkan Kerajaan Allah
    Doa Bapa Kami bukan sekadar formula kalimat doa yang memuat permintaan-permintaan kepada Allah, tetapi memuat tanggung jawab, kewajiban, dan komitmen untuk dipenuhi oleh orang percaya yang mengucapkannya. Orang Kristen dengan kehendak bebasnya dapat melakukan tanggung jawab dan kewajiban dengan komitmen yang tulus, tetapi juga bisa menolak melakukan tanggung jawab, kewajiban, dan komitmen yang harus dipenuhi. Secara pengakuan mulut, seorang Kristen bisa mengucapkan Doa Bapa Kami, tetapi dalam kehidupan setiap hari tidak menunaikannya secara konsekuen dan konsisten. Dalam hal ini, kehendak bebas seseorang sangat menentukan apakah ia memenuhi tanggung jawab, kewajiban, dan komitmennya atau tidak. Bukan Tuhan yang menentukan terwujudnya Doa Bapa Kami dalam kehidupan seseorang, tetapi masing-masing individu yang menentukan. Kehendak setiap individu yang menentukan arah hidupnya.
     
    Kehendak adalah dorongan dalam diri manusia untuk melakukan segala sesuatu. Dengan kehendak ini, seseorang bisa mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidupnya atau kerajaan yang lain. Inilah keistimewaan manusia yang melebihi dari semua ciptaan Allah yang lain. Sebagaimana Allah yang adalah gambarnya memiliki kehendak, demikian pula manusia diciptakan dengan keberadaan yang sama. Kehendak ini juga dimiliki oleh makhluk Lusifer. Itulah sebabnya Lusifer atau Iblis bisa memiliki keinginan untuk mendirikan takhtanya sendiri dan mengatasi atau menyamai Allah. Dalam Alkitab makhluk ini mengatakan: “aku ingin atau aku hendak…” Dengan keberadaan sebagai makhluk yang memiliki kehendak atau keinginan, baik Lusifer, malaikat, maupun manusia, bertanggung jawab menentukan takdirnya. Ternyata Lusifer tidak hidup dalam pemerintahan Kerajaan Allah, tetapi membangun kerajaannya sendiri.
     
    Kehendak bebas harus dipahami sebagai pemberian yang sangat berharga atau tak ternilai dari Tuhan dimana manusia diberi kemampuan mempertimbangkan sesuatu, yang oleh karenanya manusia dilengkapi dengan rasio. Tuhan menghargai manusia yang faktanya adalah “manusia yang membuat keputusan akhir”. Tentu saja ini menjadi kehormatan bagi manusia. Dalam kehormatan ini, sekaligus membawa manusia sebagai makhluk yang beresiko sangat tinggi. Dalam hal ini, pemberian yang berharga selalu disertai dengan tanggung jawab. Jika pemberian yang berharga tanpa tanggung jawab, maka hal itu membuat pemberian itu sendiri menjadi tidak berharga.
     
    Dalam kehidupan ini, manusia bisa mendukakan Roh Allah bila melangkah tidak sesuai dengan kehendak Allah, yaitu tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, tetapi mendatangkan atau menghadirkan atau membangun kerajaan yang lain. Bahkan manusia juga bisa menghujat Roh Kudus, yaitu suatu keadaan atau stadium dimana seseorang tidak dapat lagi dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Kehendak bebas seseorang menentukan keadaan diri manusia itu sendiri. Sebagai orang percaya yang dewasa, orang percaya harus memahami dan menerima kehendak bebas ini sebagai kepercayaan, bukan sebagai beban yang menekan atau keberadaan yang mengancam. Kalau seseorang menyalahgunakan kebebasan kehendak ini, maka hal ini akan membawa dirinya kepada kebinasaan. Ini sungguh-sungguh berbahaya. Tetapi kalau seseorang menggunakan kehendak bebasnya dengan bijaksana, yaitu mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, maka kehendak bebas tersebut dapat menggiring orang itu kepada kemuliaan bersama Tuhan Yesus.
     
    Dalam relasinya dengan Allah, manusia harus bisa menempatkan dirinya dengan benar di hadapan Allah dan menempatkan Allah dengan benar. Adalah suatu kehormatan kalau manusia diberi kebebasan untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang memilih Allah, yaitu mengasihi, menghormati, dan dengan segenap hidup mengabdi kepada-Nya. Dengan hal ini, manusia digolongkan sebagai makhluk ilahi atau makhluk rohani.
    0 min
  • Harga Yang Harus Dibayar
    Dalam Doa Bapa Kami terdapat panggilan untuk dipenuhi. Kalau dalam Doa Bapa Kami terdapat kalimat “datanglah Kerajaan-Mu”, bukan berarti tanpa doa tersebut Kerajaan Allah tidak dapat hadir, melainkan kalimat tersebut memuat panggilan agar orang percaya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah dalam kehidupannya setiap hari. Oleh sebab itu, kalau seseorang mengatakan “datanglah Kerajaan-Mu,” maka ia harus secara konsekuen dan konsisten mewujudkan kehadiran Kerajaan Allah dalam kehidupannya. Inilah keunikan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Secara umum, kalimat doa biasanya berupa permintaan; demikian pula karakter kalimat dalam Doa Bapa Kami terkesan seperti sebuah permohonan, tetapi sebenarnya maksud kalimat dalam Doa Bapa Kami adalah sebuah komitmen untuk melakukan apa yang diucapkan. Jadi, seakan-akan dalam Doa Bapa Kami, orang percaya menyatakan kesediaan untuk melakukan apa yang diminta. Seperti misalnya kalimat “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” kalimat doa ini bukan berarti orang percaya meminta Tuhan mengirimkan makanan dari langit, tetapi orang percaya harus bekerja mencari nafkah dari tenaganya sendiri. Tentu saja Tuhan menyediakan semua fasilitas yang memungkinkan manusia memperoleh nafkahnya.
     
    Contoh lain misalnya dalam Doa Bapa Kami terdapat kalimat “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” kalimat ini bukan berarti mengindikasikan bahwa tanpa permintaan tersebut kehendak Allah tidak akan terjadi di bumi seperti di surga. Kalimat tersebut bermaksud menunjukkan bahwa orang percaya dipanggil untuk melakukan kehendak Allah secara mutlak, sehingga suasana Kerajaan Allah dimana semua ciptaan tunduk kepada Allah juga terwujud dalam kehidupan orang percaya di bumi. Dalam hal ini, sekaligus hendak dikemukakan agar orang percaya tidak melakukan permberontakan atau pembangkangan kepada Allah seperti yang dilakukan Lusifer di surga. Dengan demikian, setiap kalimat dalam Doa Bapa Kami mengandung konsekuensi bila diucapkan, sebab di dalamnya terdapat kewajiban yang harus dipenuhi. Hal ini memberi isyarat bahwa ada harga yang harus dibayar bagi mereka yang mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami. Ironinya, banyak orang Kristen mengucapkan Doa Bapa Kami tanpa menyadari harga yang harus dibayar. Bertahun-tahun mereka mengucapkan Doa Bapa Kami tanpa membayar kewajiban yang harus dipenuhi. Dalam hal ini, seakan-akan Allah cukup dipuaskan jika umat hanya mengucapkan Doa Bapa Kami.
     
    Pola doa seperti yang dijelaskan di atas menunjukkan mekanisme hubungan antara Allah yang disembah dengan umat yang menyembah. Allah adalah sesembahan yang tidak hanya menjawab permintaan umat, tetapi Allah adalah Pribadi Agung yang berstrata sebagai Bapa sekaligus Majikan yang harus dilayani. Allah ada bukan untuk manusia, tetapi manusia diadakan untuk Allah. Hal ini memenuhi yang dikatakan di dalam Roma 11:36 yang berbunyi: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Dengan demikian, Doa Bapa Kami membawa orang percaya kepada kesadaran terhadap supremasi atau keunggulan Allah dan kekuasaan-Nya yang tanpa batas menyubordinasi atau membawahi manusia sebagai ciptaan-Nya; manusia memang diciptakan hanya untuk Penciptanya. Satu-satunya hak yang sekaligus merupakan kewajiban manusia kepada Allah adalah mengabdi kepada Allah tanpa batas. Pola doa seperti ini tidak ditemukan dalam keyakinan atau agama mana pun.
     
    Dengan kalimat “datanglah kerajaan-Mu”, jelas sekali orang percaya dipanggil untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di dalam kehidupan ini. Hal ini bukan berarti Allah tidak sanggup mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan-Nya di dalam kehidupan manusia. Allah tentu saja sanggup mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan-Nya dalam kehidupan manusia, tetapi jika Allah melakukan hal ini maka manusia tidak menjadi makhluk yang agung.
    0 min
  • Panggilan Untuk Menghadirkan Pemerintahan Allah
    Kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu” adalah bagian dari isi Doa Bapa Kami. Sebelum membahas kalimat tersebut, hendaknya dipahami terlebih dahulu makna Doa Bapa Kami dalam kehidupan orang percaya. Kata “doa” dalam bahasa Yunani adalah proseuchomai. Kata ini gabungan dari dua kata: pros dan euchomai. Pros kata depan yang hendak menunjukkan tekanan atau intensitas kuat pada kata berikutnya (a strengthened form of). Kata ini juga menunjukkan “arah ke depan” (forward to). Sedangkan euchomai berarti wish (berharap) atau will (berkehendak). Jadi, proseuchomai berarti harapan dan keinginan yang sangat kuat ke depan atau di waktu mendatang. Ketika Tuhan Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami dalam Injil Matius 6:6-14, Tuhan Yesus sedang mempercakapkan hal berdoa. Tuhan Yesus menasihati murid-murid agar tidak berdoa seperti orang-orang Yahudi yang pada umumnya munafik.
     
    Doa adalah sebuah percakapan atau dialog dua pribadi. Oleh karenanya, yang penting dalam berdoa adalah adanya dialog dengan Allah, sebagai Bapa. Seorang yang berdialog dengan Allah menunjukkan keseriusannya berurusan dengan Dia. Jadi, doa adalah sebuah perjumpaan dua pribadi. Setiap kata dalam percakapan tersebut haruslah menjadi jembatan yang menyambung dua pribadi. Itulah sebabnya dalam berdoa tidak perlu mengulang terus-menerus kata atau kalimatnya. Pengulangan kata mengesankan bahwa doa seperti sebuah mantera. Pola doa yang sama seperti mantera dikenal dalam banyak keyakinan dan agama. Doa dengan pola seperti itu biasanya kurang menunjukkan adanya perjumpaan dua pribadi.
     
    Doa seseorang menunjukkan isi relasinya dengan Allah; bukan hanya menyangkut hubungan pada waktu bercakap-cakap dengan Allah dengan bahasa atau kata-kata, tetapi bagaimana kualitas hubungan sehari-hari antar dua pribadi, yaitu Allah sebagai Bapa dan umat yang berdoa sebagai anak dalam segala hal. Kualitas hubungan dua pribadi tersebut nampak dari isi percakapan doa seseorang. Tentu saja kualitas hubungan setiap hari dengan Allah menentukan kualitas percakapan tersebut atau sebaliknya. Interaksi setiap hari lebih menentukan kualitas percakapan mereka, bukan percakapan itu sendiri yang lebih menentukan hubungan keduanya. Jadi, bukan kata-kata dalam doa di hadapan Allah yang menentukan kualitas hubungannya dengan Dia, tetapi kualitas interaksinya dengan Allah setiap hari dalam segala hal dan di mana pun. Seseorang bisa berdoa setiap hari pada jam-jam tertentu, tetapi kalau tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah setiap saat, maka percakapannya dengan Allah tidak berkualitas.
     
    Doa Bapa Kami sesungguhnya tidak hanya menyangkut formula “kalimat doa,” tetapi lebih pada “formula kehidupan,” yaitu apa yang harus dijalani atau dilakukan. Dalam Doa Bapa Kami, orang percaya memiliki tuntunan untuk “sebuah gaya hidup baru” yang harus dikenakan. Itulah sebabnya orang percaya harus memahami butir demi butir dalam Doa Bapa Kami, bukan sekadar hafal dan melafalkannya dengan bibir, tetapi diperagakan. Itulah sebabnya juga Doa Bapa Kami bukan hanya untuk diucapkan, tetapi dikenakan atau dilakukan dalam kehidupan ini secara konkret. Banyak orang Kristen memiliki kalimat Doa Bapa Kami di mulutnya, tetapi tidak memiliki jiwanya atau nafas kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami. Itulah sebabnya mereka hanya mengucapkan di bibir, tetapi tidak memperagakannya.
     
    Doa Bapa Kami merupakan formula kehidupan bagi manusia yang sedang dikembalikan kepada manusia ideal yang Bapa inginkan atau sesuai dengan rancangan Allah semula. Dengan demikian, maksud Tuhan Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, agar orang percaya dapat menemukan kembali suatu gaya hidup yang “orisinal” yang dirancangkan Allah sejak semula. Belajar Doa Bapa Kami berarti belajar untuk menemukan peta dari kehidupan manusia yang dirancang Allah Bapa sejak semula. Dengan demikian Doa Bapa Kami laksana sebuah peta perjalanan yang membawa seseorang kepada suatu tujuan.
    0 min
  • Tatanan Mengenai Pelayanan
    Manusia diberi kehendak bebas -atau yang sama dengan independensi- agar dengan kehendak bebasnya, manusia dengan rela melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. Dengan demikian independensi adalah pilar utama untuk menciptakan sebuah kemitraan yang ideal dengan Allah, tentu saja selama manusia bisa mengimbangi keagungan pribadi dan kesucian-Nya. Tergantung masing-masing individu, apakah mau menggunakan kehendak bebasnya untuk terus bertumbuh sehingga bisa mengimbangi Tuhan atau memilih yang lain sehingga tidak pernah menjadi mitra Tuhan di kekekalan. Dengan kemitraan yang dibangun dari independensi masing-masing pihak (pihak Allah maupun manusia), maka kemitraannya menjadi berkualitas. Tidak ada unsur pemaksaan dan tidak kaku. Inilah suasana yang dirancang Allah pada mulanya.
    Kejatuhan manusia dalam dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah, sehingga manusia tidak mampu berjalan seiring dengan Tuhan. Manusia tidak mampu mengimbangi Tuhan yang kudus dan pribadi-Nya yang agung. Kemitraan yang berlangsung adalah kemitraan yang terbatas kualitasnya. Manusia hanya mampu melakukan hukum tanpa mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Kemitraan manusia tidak sampai pada tingkat yang ideal, sebab manusia hanya mampu melakukan hukum. Namun demikian, ada orang-orang istimewa di Perjanjian Lama yang bisa menjadi kawan sekerja Allah untuk melaksanakan beberapa rencana-Nya, yaitu mereka yang memiliki kapasitas yang memadai untuk menjadi kawan sekerja Allah. Dalam hal ini Allah menghargai independensi individu sehingga mereka masih bisa dijadikan sebagai kawan sekerja-Nya.
    Di Perjanjian Baru, yaitu di zaman anugerah, Allah memberikan kasih karunia yang memungkinkan manusia (yang menerima Tuhan Yesus) untuk bisa menjadi sempurna atau dikembalikan ke rancangan semula. Walaupun Tuhan memberikan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya, tetapi Roh Kudus tidak akan memaksakan kehendak-Nya atas manusia. Orang percaya harus memiliki kelenturan untuk hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Jika tidak, maka Roh Kudus bisa didukakan, sampai bisa tingkat menghujat-Nya (Ef. 4:30). Dalam hal ini Roh Kudus tidak menghilangkan independensi orang orang percaya. Dengan hidup dalam tuntunan Roh Kudus sampai mencapai jenjang kedewasaan rohani yang memadai, seseorang dapat menjadi kawan sekerja Allah yang ideal untuk melayani Dia.
     
    Banyak orang yang mewarisi konsep pelayanan yang belum tentu benar dari para pendahulunya. Pada umumnya yang dimengerti sebagai melayani adalah melakukan pekerjaan gerejani; seperti berkhotbah, memimpin puji-pujian, mengajar sekolah Minggu, mengorganisir kegiatan pemuda-remaja, bermain musik, dan aktivitas lain yang ada di lingkungan gereja atau yang juga sering disebut sebagai kegiatan rohani. Karena konsep tersebut, maka banyak orang belajar “teknik-teknik pelayanan” berkenaan dengan kegiatan gereja tersebut, kemudian merasa layak melayani pekerjaan Tuhan atau menjadi pelayan Tuhan. Sebagai akibat dari pandangan yang salah ini, banyak orang berpikir bahwa kegiatan yang tidak bersangkut paut dengan program kegiatan gereja bukanlah pelayanan.
     
    Dengan konsep tersebut banyak orang Kristen yang tidak mengenal identitas dan statusnya di hadapan Tuhan yang menebusnya, yaitu identitas dan statusnya sebagai “hamba Tuhan”. Seharusnya setiap orang yang telah ditebus oleh darah Yesus, harus menyadari bahwa mereka bukan lagi milik mereka sendiri (1Kor. 6:19-20), bahwa mereka telah dimerdekakan dari perbudakan dosa sebagai hamba dosa dan sekarang menjadi hamba Tuhan. Dengan demikian jelaslah bahwa setiap orang percaya terpanggil untuk melayani Tuhan atau menjadi kawan sekerja Allah. Menjadi kawan sekerja Allah artinya dalam segala hal selalu menujukan hidupnya untuk kepentingan Kerajaan Allah.
     
    Sesungguhnya, pada dasarnya melayani Tuhan adalah melayani perasaan-Nya. Maksud perasaan di sini adalah perasaan Allah Bapa ...
    0 min
  • Tatanan Dalam Pengadilan
    Dalam suratnya, Paulus menyatakan: Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya.Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya. Dalam hal ini pengorbanan Yesus bukan meniadakan pengadilan atau penghakiman, tetapi justru mengadakannya. Dengan adanya pengadilan atau penghakiman, manusia bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan diberi peluang atau kemungkinan mendapat kesempatan untuk hidup lagi di dunia yang akan datang. Dengan demikian sangatlah jelas bahwa hidup ini tidak gratis, seseorang harus membayar harga hidupnya, yaitu melakukan kehendak Allah. Jika tidak, maka ia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukan selama hidup di bumi. Hal ini sama dengan harus membayarnya.
     
    Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, maka tidak ada pertanggungjawaban manusia terhadap Allah. Manusia tidak perlu bertanggung jawab kepada siapa pun, juga kepada Allah, karena secara otomatis dengan sendirinya semua manusia terpisah dari Allah selama-lamanya tanpa ada perhitungan sama sekali. Kalau Yesus tidak mengangkat dosa isi dunia (Yoh. 1:29), maka tidak ada penghakiman, sebab semua manusia sudah jelas dan nyata-nyata tidak ada yang benar. Betapa mengerikan keadaan ini. Inilah yang dikehendaki oleh kuasa kegelapan. Dengan demikian manusia menjadi makhluk yang seakan-akan gratis. Manusia tidak perlu berbuat baik, sebab sebaik apa pun perbuatan manusia, akhirnya pasti terbuang dari hadirat Allah selama-lamanya. Tidak bisa dipersalahkan kalau filosofi atau prinsip manusia seperti ini adalah “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1Kor. 15:32).
     
    Dengan pengorbanan Yesus di kayu salib, maka semua dosa dipikul-Nya, sehingga manusia dapat memperoleh pembebasan akibat dosa yang dilakukan, tetapi bukan berarti manusia bebas dari tanggung jawab. Justru sejak Yesus memikul dosa manusia, maka manusia kembali dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dalam hal ini yang membuat semua manusia kehilangan tanggung jawab adalah Adam, tetapi Yesus membuat manusia dapat memperoleh kembali tanggung jawab atas dirinya sendiri. Maka bagi mereka yang tidak mendengar Injil dengan benar mendapat kesempatan dihakimi menurut perbuatannya. Mereka bisa hidup kembali di dunia yang akan datang atau masuk ke surga sebagai anggota masyarakat. Tetapi bagi orang percaya, bukan hanya berpeluang masuk surga, tetapi sejak di bumi belajar bertanggung jawab meresponi karya salib Kristus dengan memberi diri dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 12:6). Nantinya mereka yang serupa dengan Yesus menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.
     
    Terkait dengan penghakiman atau pengadilan Tuhan, kita harus memahami tatanan Tuhan bahwa yang diberi banyak dituntut banyak, tetapi yang diberi sedikit tentu juga dituntut sedikit. Hal ini terkait dengan penjelasan di atas mengenai pengertian dosa bagi masing-masing komunitas. Dengan demikian, penghakiman atau pengadilan Tuhan atas manusia dan komunitasnya berbeda-beda. Perbedaan ini menyangkut obyek manusia atau komunitasnya yang berkeadaan khusus (tidak semua komunitas memiliki keadaan yang sama) dan subyek hukum atau tatanan moral yang dipahami oleh masing-masing individu dan komunitas. Dalam hal ini, nampak jelas keadilan dan kebijaksanaan Tuhan atas masing-masing individu dan kelompoknya. Jadi, setiap orang dihakimi menurut ukuran masing-masing yang tidak sama.
     
    Kebenaran di atas ini, diteguhkan oleh Firman Tuhan yang tertulis dalam Wahyu 20:12 yang berbunyi: “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka,
    0 min
  • Tatanan Mengenakan Kodrat Ilahi
    Pada dasarnya, kesucian orang percaya sama dengan mengenakan kodrat Ilahi. Kodrat sama artinya dengan sifat asli atau bawaaan. Kata ini bersinonim dengan natur. Disebut kodrat Ilahi artinya memiliki sifat atau karakter seperti Allah. Berkodrat Ilahi artinya mengenakan karakter Allah. Itulah sebabnya orang percaya disebut sebagai manusia Allah (man of God). Inilah panggilan orang percaya sampai pada level tertentu, setelah melalui proses pendewasaan, dapat mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4). Kodrat Ilahi inilah yang menentukan seseorang menemukan kemuliaan Allah. Pada dasarnya kemuliaan Allah terdapat pada kodrat-Nya. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah artinya kehilangan kodrat Ilahi. Dengan menemukan kembali atau membangun kodrat Ilahi dalam hidupnya, manusia menemukan kemuliaan Allah yang hilang.
    Mengenakan kodrat Ilahi sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10). Keselamatan pada dasarnya memiliki fokus tujuan ini, yaitu mengembalikan manusia kepada rancangan Allah. Rancangan Allah adalah menjadikan manusia yang bisa berkualitas moral seperti Allah yang adalah gambar-Nya. Hal ini dimungkinkan karena roh manusia sesungguhnya adalah roh dari Allah. Sejak manusia berdosa, maka kodrat Ilahitelah hilang, artinya manusia tidak mampu mencapai standar kesucian Allah. Tetapi manusia tidak kehilangan kemuliaan manusia. Manusia masih bisa menjadi manusia yang beradab, yang jauh lebih mulia dari hewan. Pengertian ini penting, sebab dalam proses keselamatan, gambar Allah yang rusak ini akan dipulihkan kembali.Pikiran, perasaan, dan kehendak manusia yang rusak atau cacat atau sakit diberi kemampuan untuk dipulihkan atau diproses menjadi berkualitas seperti kualitas Allah.
    Didikan Bapa bertujuan agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau mengenakan kodrat Ilahi. Orang yang akan selamat di kekekalan sudah nampak gejalanya, yaitu mengubah diri menjadi orang yang berkarakter seperti Bapa di bumi ini. Oleh sebab itu proses pemuridan atau pendewasaan adalah proses yang mutlak harus dialami oleh setiap orang percaya. Tanpa proses ini seseorang berarti tidak selamat atau tidak dilayakkan menjadi anak-anak Allah. Tuhan Yesus tegas berkata agar orang yang percaya kepada-Nya dibaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus dan diajar untuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan. Ini berarti sepanjang umur hidup kita hanyalah perjalanan untuk diubah menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah. Dari kodrat manusia berdosa menjadi manusia yang berkodrat Allah (kodrat Ilahi).
     
    Manusia tidak akan dapat menemukan kodrat Ilahi yang hilang dengan kemampuannya sendiri. Manusia memerlukan intervensi Tuhan untuk menyelamatkannya. Untuk itu Tuhan menyediakan sarananya. Sarananya adalah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Di dalam anugerah keselamatan tersebut tersedia fasilitas untuk menemukan kodrat Ilahi yang hilang. Setelah seseorang ditebus oleh Tuhan Yesus, maka Tuhan berhak memilikinya untuk mengubahnya (1Kor. 2:19-20). Jadi, kalau seseorang memberi diri ditebus oleh Tuhan Yesus berarti ia menyediakan diri untuk diubah atau untuk menemukan kodrat Ilahi yang hilang. Orang yang ditebus memiliki panggilan untuk mencari kemuliaan Allah yang hilang. Panggilan ini tidak dimiliki oleh umat Perjanjian Lama. Oleh sebab itu sehebat apa pun mereka, mereka belum menemukan kodrat Ilahi. Mereka merindukan masa anugerah ini, tetapi mereka tidak mengalaminya (Luk. 10:23-24).
    Kematian terhadap dosa bertalian dengan usaha untuk memadamkan atau mematikan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah. Ini adalah tindakan untuk memadamkan cita-cita pribadi, ambisi pribadi, segala hawa nafsu dalam daging yang bertentangan dengan kehendak Allah dan lain sebagainya. Selanjutnya, mengarahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak Allah guna mencapai kesucian-Nya. Ini berarti seseorang harus rela kehilangan segala hak, kepuasan, dan kesenangan diri sendiri.
    0 min
  • Tatanan Dalam Pengharapan
    Paulus menyatakan bahwa pengharapan itu adalah kekayaan yang tidak terduga. Ia berharap jemaat mengerti pengharapan tersebut (Ef. 1:18, Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus). Pernyataan yang sama dapat diperoleh dalam Kolose 1:27 yang tertulis: Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!
    Kekayaan dunia, kehormatan manusia, dan segala keindahan yang dapat diperoleh manusia di bumi ini tidak ada artinya jika dibanding dengan pengharapan di dalam Tuhan.Orang percaya yang benar -yang menghayati pengharapan ini- pasti memiliki hati yang sangat kuat menghadapi dunia dengan segala persoalannya, sebab ia memiliki harta yang tidak ternilai. Firman Tuhan menyatakan bahwa pengharapan tersebut menjadi kemegahan orang percaya. Paulus mengatakan: Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah (Rm. 5:2). Kata “bermegah” dalam teks aslinya adalah kaukhaomai (καυχάομαι), yang memiliki pengertian memuliakan atau mulia dan bersukacita serta bangga. Hal ini menunjukkan bahwa pengharapan dalam Tuhan membuat seseorang merasa terhormat, sukacita, dan bangga.Orang Kristen seperti ini tidak akan merasa rendah diri terhadap siapa pun, sebab apa yang dimiliki adalah sesuatu yang tidak ternilai, tidak ada bandingannya. Tetapi juga tidak menjadi sombong, sebab kekayaan Tuhan adalah sesuatu yang tidak dapat dikenali oleh siapa pun yang tidak menjadi orang percaya yang benar.
    Pengharapan dalam Tuhan memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupan orang percaya. Paulus dalam pembelaannya di depan para pembesar pada zamannya menyaksikan bahwa dirinya rela mengalami dan menanggung banyak penderitaan demi pengharapan yang ada padanya. Dalam kesaksiannya ia berkata: Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar (Kis. 24:15). Pernyataan yang sama dapat kita peroleh dari Kisah Rasul 26:7; 28:20. Keberanian Paulus didasarkan pada pengharapan seperti yang disaksikan dalam tulisannya: Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian (2Kor. 3:12). Inilah yang membuat banyak orang yang tidak percaya pada zaman gereja mula-mula tidak mengerti mengapa pengikut Tuhan Yesus pada zaman gereja mula-mula itu begitu berani menantang maut dan rela kehilangan segala sesuatu.
     
    Pengharapan memberi optimis yang tidak terbatas, sangat luar biasa. Tidak ada optimisme hidup dalam kehidupan ini dalam menatap hari esok, selain pengharapan kemuliaan bersama dengan Tuhan setelah kebangkitan. Firman Tuhan mengatakan: Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan (1Tes. 4:13). Kita yang bukan orang Israel, sebelum zaman anugerah, -karena tanpa Kristus kita tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan- hidup tanpa pengharapan, dan tanpa Allah di dalam dunia (Ef. 2:12). Tetapi sekarang di dalam Kristus kita memiliki pengharapan, sebab kita menjadi sewarga dengan umat pilihan untuk mewarisi tanah perjanjian, yaitu Kanaan Surgawi. Alkitab mengatakan bahwa kita diselamatkan dalam pengharapan, artinya bahwa perwujudan keselamatan yang kita miliki hari ini adalah nanti di Kerajaan Tuhan Yesus, yang sekarang belum dapat dilihat (Rm. 8:24). Di ayat ini Paulus mengatakan: Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?
     
    Selanjutnya,
    0 min
  • Tatanan Dalam Doa
    Berbicara mengenai doa, bukan hanya menyangkut hubungan pada waktu bercakap-cakap dengan Tuhan, tetapi bagaimana kualitas hubungan sehari-hari antar dua pribadi, yaitu Tuhan dan umat yang berdoa. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga menyaksikan cara orang berdialog. Kualitas hubungan dua orang tersebut nampak dari isi percakapan mereka. Kualitas hubungan setiap hari mereka menentukan kualitas percakapan tersebut, atau sebaliknya. Dalam dialog, yang penting adalah relasi antara kita dengan Tuhan. Relasi sangat ditentukan oleh pengenalan kita akan Tuhan dan kesediaan kita memahami kehendak-Nya. Seorang yang tidak mengenal Tuhan dan tidak hidup di dalam kehendak-Nya, jangan berdoa.
     
    Interaksi setiap hari lebih menentukan kualitas percakapan mereka, bukan percakapan itu sendiri yang lebih menentukan hubungan keduanya. Demikian pula relasi orang Kristen dengan Tuhan. Bukan kata-kata dalam doa di hadapan Tuhan yang menentukan kualitas hubungannya dengan Tuhan, tetapi kualitas interaksinya dengan Tuhan setiap hari. Seseorang bisa berdoa setiap hari, tetapi kalau tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, maka percakapannya dengan Tuhan tidak berkualitas.
    Ketekunan hidup dalam persekutuan dengan Bapa digambarkan oleh Tuhan Yesus seperti seorang janda yang tekun menghadapi hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak peduli siapa pun (Luk. 18:1-8). Ketekunan untuk tetap dalam persekutuan dengan Bapa seperti itulah yang diharapkan Tuhan Yesus ditemukan pada akhir zaman, di tengah dunia yang semakin sibuk, di mana orang tidak memedulikan Tuhan (Luk. 18:8). Kalau manusia sudah tidak memedulikan Tuhan, maka cara berpikir dan filosofi hidupnya semakin jauh dan bertentangan dengan kebenaran Allah. Sebagai hasilnya adalah manusia-manusia fasik yang tidak takut Tuhan dan tidak memedulikan hukum-Nya.
     
    Dalam perjumpaan pribadi dengan Allah tersebut kita akan lebih menyadari dan menghayati kekudusan Allah yang tiada tara. Seiring dengan itu, kita menyadari pula betapa rusaknya hidup dan diri kita ini. Keadaan kita ternyata masih sangat jauh dari kesucian dan kesempurnaan Allah. Kita merasa sangat tidak layak di hadapan kekudusan Allah. Seperti pengalaman yang dialami Yesaya bertemu dengan Allah. Yesaya berkata: Lalu kataku:”Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam (Yes. 6:5).”
     
    Kekudusan Allah bukan hanya diyakini, tetapi sesuatu yang riil yang harus dialami oleh setiap orang. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak hanya merasakan apa yang diyakini, tetapi merasa apa yang dialami. Dari pengalaman pertemuan dengan Tuhan yang membangkitkan kesadaran betapa jauh keadaan diri kita dari kekudusan Allah, maka kita akan berusaha untuk bertobat, artinya berbalik. Di sini terjadi pertobatan. Kita akan membuat komitmen-komitmen baru untuk memulai hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Setiap kali kita bertemu dengan Tuhan, kita seperti baru bertobat kembali dan rasanya kita baru mengalami kelahiran baru.
    Impartasi dari Allah sama dengan penularan dari Allah kepada orang percaya yang sungguh-sungguh bertemu dengan Dia. Seperti Musa, sesudah bertemu dengan Tuhan wajahnya bercahaya. Ternyata Musa mendapat impartasi atau penularan cahaya terang dari Allah. Demikian pula dengan kita yang setiap hari bertemu dengan Tuhan di Gunung Kudus Allah, kita memperoleh impartasi atau penularan dari kekudusan Allah. Impartasi tersebut membuat kita takut Allah dan aspek lain kita menjadi jijik terhadap dosa. Melalui perjumpaan tersebut banyak hal yang tidak dapat diceritakan kepada orang lain. Tetapi dari pertemuan tersebut, tidak mungkin seseorang tidak mengalami perubahan. Sehingga bagaimanapun perjumpaan seseorang dengan Tuhan setiap hari akan sangat dirasakan orang di sekitarnya. Bagi seorang pelayan jemaat,
    0 min
  • Hukum Roh Kehidupan
    Dalam Roma 8:2 terdapat kalimat “Roh yang memberi hidup”, terjemahan dari nomos tou pneumatos tes zoes en KristoIesou (νόμος τοῦ πνεύματος τῆς ζωῆς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ). Kalimat ini sukar dipahami maksudnya sebab sukar menerjemahkannya, tetapi kalimat ini bisa berarti “hukum roh kehidupan di dalam Kristus Yesus”. Dari kalimat ini dikemukakan adanya hukum roh kehidupan. Kata “kehidupan” dalam teks aslinya adalah zoe (Yun. ζωή), yang selain berarti hidup atau kehidupan, juga berarti the state of one who is possessed of vitality or is animate (keadaan seseorang yang memiliki vitalitas atau menghidupkan atau menggerakkan atau menggelorakan).
     
    Hukum roh kehidupan menunjukkan adanya tatanan dalam “masalah roh atau kodrat hidup seseorang”. Hukum ini berkenaan dengan adanya roh dalam arti hasrat atau gairah yang menghidupkan atau memberi perubahan dalam kodrat hidup manusia. Untuk mengalami sebuah perubahan dari manusia yang berkodrat dosa kepada berkodrat Ilahi, ada mekanismenya dalam tatanan atau hukum yang ketat. Tidak bisa terjadi atau berlangsung dengan sembarangan. Dalam hal ini nampak betapa Allah adalah pribadi yang tertib dengan tatanan yang cerdas. Dia, bukan Allah tanpa tatanan dan hukum, sehingga bertindak sembarangan. Di sepanjang zaman, kapan pun dan di mana pun nampak keagungan tatanan-Nya tersebut. Tatanan Tuhan dapat mengikuti perkembangan zaman. Hanya Allah seperti ini yang ada di Alkitab. Tatanan Allah pasti sangat logis dan realistis, tidak bersifat mistik yang tidak masuk akal.
     
    Seseorang tidak dapat mengalami pembaharuan dalam roh atau perubahan kodrat tanpa anugerah dalam Yesus Kristus serta melalui pergumulan seperti yang dialami oleh Paulus (Rm. 7-8). Ada hukum atau tatanan yang mengatur sehingga bisa terjadinya pembaharuan roh. Pembaharuan roh tidak dapat terjadi atau berlangsung secara otomatis. Paulus sendiri harus mengupayakan untuk menundukkan pikirannya dengan sungguh-sungguh kepada hukum kesucian Allah sekalipun tubuhnya masih ada dalam kodrat dosa. Kesediaan untuk menundukkan dirinya kepada hukum kesucian Allah secara terus menerus oleh pimpinan Roh Kudus menghasilkan perubahan dari kodrat dosa menjadi kodrat Ilahi.
     
    Terkait dengan hal ini, Paulus berbicara mengenai pembaharuan roh di dalam Efesus 4:22-24 sebagai berikut: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Pembaharuan roh sama artinya dengan perubahan dari kodrat dosa ke kodrat Ilahi. Perubahan ini tidak dapat terjadi secara mistis, spektakuler, atau seperti sebuah mukjizat, tetapi sebuah proses panjang. Inilah tatanan atau hukum yang ditetapkan Tuhan, yang disebut hukum roh kehidupan. Hukum roh kehidupan adalah hukum atau tatanan di mana seseorang yang mau mengalami pembaharuan roh harus mengalami proses yang dipimpin oleh Roh Kudus.
     
    Orang percaya yang memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus dapat memperoleh “roh” dalam arti hasrat atau gairah seperti yang ada pada Roh Kudus atau yang juga ada dalam diri Tuhan Yesus. Kalau seseorang hidup menurut roh itu, maka ia memiliki gairah atau hasrat seperti Roh Kudus atau seperti Tuhan Yesus. Roh itu akan menjadi satu dalam diri orang percaya, menjadi miliknya secara permanen sampai kekekalan, tidak pernah lepas dari kehidupannya. Dari hal ini, seseorang dapat mengenakan kodrat Ilahi secara permanen. Orang percaya seperti ini disebut dalam Roma 8:9 sebagai memiliki roh Kristus. Roh Kristus bukan Roh-Nya Tuhan Yesus, tetapi gairah atau hasrat yang juga ada pada diri Tuhan Yesus. Orang yang hidup menurut roh, sehingga memiliki roh Kristus, dapat melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya seperti Yesus.
     
    0 min
  • Pengudusan Oleh Firman, Roh Dan Doa
    Pengudusan aktif adalah tanggung jawab setiap individu. Allah memberikan sarana untuk mengalami perubahan guna mencapai pengudusan Allah. Adapun apakah proses pengudusan itu berlangsung atau tidak, tergantung masing-masing individu. Salah satu sarana yang diberikan Tuhan untuk pengudusan orang percaya adalah firman Tuhan dalam arti Logos, yaitu firman yang dipahami dengan nalar. “Dikuduskan oleh firman” artinya dengan kuasa firman Tuhan yang dipahami, maka seseorang dapat didewasakan agar tidak lagi hidup dalam dosa, tetapi hidup sesuai dengan kehendak Allah.
    Dalam doa Tuhan Yesus kepada Allah Bapa di Yohanes 17, jelas sekali bahwa firman yang menguduskan, karena firman adalah kebenaran. Firman Tuhan menguduskan artinya firman Tuhan mengubah manusia dari karakter dosa (sinful nature) menjadi manusia yang mengenai kodrat Ilahi (divine nature) (Yoh. 17:14-17). Dalam Yohanes 8:31-32 Tuhan Yesus berkata, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”. Kemerdekaan ini adalah kemerdekaan dari dosa. Untuk ini seseorang harus tekun belajar kebenaran Firman Tuhan, sebab kalau seseorang tetap dalam firman barulah ia dapat dimerdekakan. Dimerdekakan oleh kebenaran maksudnya adalah dibebaskan dari kecenderungan berbuat dosa sampai tidak bisa berbuat dosa lagi. Inilah kesucian yang sejati; bukan tidak berbuat dosa saja tetapi tidak dapat atau tidak bisa berbuat dosa lagi.
    Dalam kasus-kasus tertentu dan untuk orang-orang tertentu (bagi mereka yang mengasihi Tuhan), Tuhan memroses pengudusan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan (Rm. 8:28). Semua ini dilakukan oleh Tuhan, khususnya untuk mereka yang merasa perlu dan sungguh-sungguh bersedia menerima didikan atau pukulan dari Allah (Ibr. 12:7-9). Tidak ada pendewasaan tanpa pengalaman dalam kehidupan nyata setiap hari. Memang proses ini tidak menyenangkan, bahkan tidak jarang yang menyakitkan; tetapi Tuhan melalui segala pengalaman-pengalaman riil tersebut hendak membersihkan karakter dosa kita. Dalam hal ini Bapa mendidik kita melalui Roh-Nya. Inilah yang dimaksud dikuduskan oleh Roh Allah.
    Oleh pekerjaan atau pimpinan Roh, seseorang dimungkinkan untuk memiliki ketaatan kepada Bapa. Jadi bukan dengan kuat dan gagah seseorang, ia dapat melakukan atau mencapai kesucian seperti yang dikehendaki oleh Allah, tetapi oleh Roh Allah yang menolong orang percaya. Roh Allah adalah fasilitas keselamatan yang disediakan guna membawa orang percaya kepada kesempurnaan Allah.Dikuduskan oleh Roh berarti seseorang dipimpin oleh Roh setiap hari untuk bertumbuh dalam kesucian. Dalam teks asli Alkitab bahasa Yunani, kata “dipimpin” ada dua kata; pertama,ago (Yun. ἄγω). Kata ini terdapat di dalam dua ayat dalam tulisan Paulus. Pertama, dalam Roma 8:14, tertulis semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Kedua, Galatia 5:18 tertulis: Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Kata “dipimpin oleh Roh” di sini menunjuk pada kehidupan seseorang yang menuruti apa yang dikehendaki oleh Allah.
     
    Firman Tuhan mengatakan: “… sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa” (1Tim. 4:5). Dari teks Alkitab ini ditunjukkan kepada kita bahwa pengudusan atas orang percaya juga melalui doa (1Tim. 4:5). Apa maksud pernyataan Paulus ini? Maksud pernyataan Paulus ini adalah bahwa melalui persekutuan yang tiada henti dengan Tuhan dalam doa pribadi, maka seseorang diarahkan untuk memiliki karakter Bapa. Dalam hal ini doa harus dipahami sebagai dialog atau hubungan interaksi terus menerus dengan Tuhan. Oleh sebab itu kalau Alkitab menyatakan bahwa kita harus berdoa dengan tiada berkeputusan atau tetap dalam doa, itu berarti bahwa kita harus terus menerus hidup dalam persekutuan dengan Bapa (1Tes. 5:17).
     
    Doa bukan sekadar permintaan. Dalam doa,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…