Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menyenangkan Hati Allah
    Kehidupan seseorang yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah kehidupan yang dalam segala hal menyenangkan hati Allah Bapa. Dengan demikian, ciri dari seorang yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah menyenangkan hati Allah Bapa. Untuk menyenangkan hati Allah Bapa, seseorang harus selalu memperkarakan segala sesuatu yang yang dilakukan dengan mempertimbangkan apakah sesuatu yang dilakukan itu benar-benar menyenangkan hati Bapa atau sebaliknya, mendukakan hati-Nya. Kalau orang percaya memberi diri untuk diselidiki oleh Allah, berarti ia bersedia introspeksi diri atau mengoreksi diri dengan sungguh-sungguh dalam pimpinan Roh Kudus; apakah ada sesuatu dalam hidupnya yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Mengenali keadaan diri sendiri sesungguhnya tidak mudah. Kalau seseorang tidak sungguh-sungguh berusaha mengenali diri dengan mohon pimpinan Roh Kudus, maka ia gagal mengenali dirinya dengan benar. Allah yang sangat baik, berkenan menunjukkan kepada orang percaya hal-hal dalam hidupnya yang tidak berkenan di hadapan Allah. Ibarat anak sekolah, Tuhan berkenan menunjukkan “rapor bayangan” agar sebelum diperhadapkan di pengadilan, orang percaya mengenali dirinya dengan benar.
     
    Menyenangkan hati Allah Bapa sebenarnya merupakan pelayanan yang sesungguhnya kepada Allah. Dengan demikian, seseorang barulah dapat memuliakan Allah dalam segala hal (1Kor. 10:31). Memuliakan Allah artinya menghormati Allah dimana dengan dan melalui segala tindakan yang dilakukan menunjukkan bahwa Allah terhormat. Jadi, penghormatan tersebut tidak hanya dalam nyanyian dan pujian dalam liturgi, tetapi dalam bentuk tindakan dimana segala sesuatu yang dilakukan selalu menyenangkan atau memuaskan hati Allah Bapa. Inilah kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Kehidupan seperti ini adalah persembahan yang berkenan di hadapan Allah dan yang bernilai kekal. Sejatinya, persembahan hidup kepada Allah bukan sekadar pergi ke gereja pada hari Minggu, memberi persepuluhan, atau melakukan kegiatan pelayanan. Bahkan tidak cukup menjadi full–timer gereja atau menjadi pendeta, tetapi segala sesuatu yang dilakukan yang dapat menyenangkan hati Allah Bapa adalah persembahan yang berbau harum lebih dari persembahan apa pun. Kalau seseorang hendak membuat hidupnya penuh keharuman di hadapan Allah Bapa, maka segala tindakannya tidak boleh melukai hati Bapa. Dengan cara inilah seseorang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah.
     
    Di Kerajaan Tuhan Yesus Kristus nanti, tidak boleh ada tindakan yang melukai hati Bapa sama sekali. Sebab Kerajaan tersebut milik Allah Bapa. Seharusnya, warna kehidupan seperti ini sudah diselenggarakan sejak masih di bumi hari ini. Dunia hari ini juga bagian dari Kerajaan Allah, artinya permulaan dari kehidupan panjang yang tidak berakhir di langit baru dan bumi yang baru. Dengan demikian, sejatinya tidak ada daerah “netral” di mana orang percaya boleh berbuat sesuka hatinya sendiri. Oleh karenanya dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan pola hidup, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Doa Bapa Kami bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk dilakukan. Kehidupan di langit baru dan bumi yang baru nanti adalah kehidupan yang menerjemahkan Doa Bapa Kami dalam kehidupan setiap hari secara sempurna. Itulah sebabnya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah harus dimulai dari sekarang. Dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan secara konkret, maka seseorang belajar untuk bukan saja memiliki “keyakinan dalam pikiran” bahwa suatu hari diterima di kemah abadi, tetapi juga “menghayati dari pengalaman” dalam kepastian bahwa suatu hari dirinya akan di kemah abadi.
     
    Kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah paralel dengan kesaksian Paulus, bahwa baik sementara diam di dalam tubuh di bumi ini maupun di luarnya ia berusaha berkenan (2Kor. 5:9).
    0 min
  • Kondisi Yang Mendukung
    Sulit dibantah kenyataan bahwa penderitaan yang dialami oleh orang percaya dapat membuahkan kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Ketika seseorang hidup dalam kenyamanan, mereka menjadi betah membangun dan menikmati kerajaannya sendiri. Tuhan mengizinkan orang percaya mengalami aniaya yang hebat pada abad pertama. Melalui penganiayaan yang hebat tersebut, mereka dipisahkan dari kenyamanan hidup di dunia. Melalui keadaan tersebut orang percaya dipaksa meninggalkan kesenangan dunia yang sama dengan kerajaan manusia. Dengan demikian, penganiayaan pada abad pertama kepada orang percaya merupakan berkat Tuhan bagi orang percaya agar mereka dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan mereka. Paulus mengatakan bahwa penderitaan adalah karunia. Dalam suratnya ia menulis, “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp. 1:29).
     
    Orang percaya sekarang tidak mengalami aniaya seperti yang dialami orang percaya pada abad pertama. Sebenarnya, keadaan tenang dan aman ini justru sangat berbahaya bagi iman Kristen yang sejati. Dengan kondisi ini, dunia terbuka untuk dinikmati oleh orang Kristen sehingga banyak orang Kristen terjebak dengan pola hidup seperti anak-anak dunia, yaitu berusaha untuk bisa meraih sebanyak-banyaknya kesenangan, keindahan, dan segala hiburan yang dapat disediakan oleh dunia. Keadaan ini sangat berbeda dengan keadaan orang percaya pada gereja mula-mula di abad pertama. Mereka tidak memiliki peluang sama sekali untuk menikmati dunia. Kondisi hidup yang tidak aman dan tidak nyaman sangat kondusif untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di dalam hidup mereka.
     
    Kondisi dunia hari ini yang aman dan nyaman sangat rawan untuk kehidupan orang percaya. Dunia dengan segala keindahan dan hiburannya memberi peluang sebesar-besarnya untuk dimiliki dan dinikmati oleh orang Kristen. Kalau orang percaya abad mula-mula tidak memiliki pengharapan apa-apa untuk menikmati dunia, sehingga mereka lebih mengharapkan kedatangan Tuhan (Yun. Parousia) dan masuk ke dalam Kerajaan Surga, tetapi orang Kristen hari ini dengan kesempatan menikmati dunia dengan segala keindahannya, sangat berpotensi dan memang cenderung membangun berbagai pengharapan untuk menikmati dunia hari ini. Dengan keadaan ini, banyak orang Kristen tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di bumi. Mereka masih hidup dalam kerajaannya sendiri; atribut-atribut kekristenan hanya sekadar pergi ke gereja mengikuti kebaktian, liturgi, atau misa. Padahal mereka sudah menganggap sudah mengenakan kekristenan yang sejati dan merasa sudah mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Ini sebuah penyesatan.
     
    Seharusnya, walaupun walau dunia terbuka selebar-lebarnya bagi orang Kristen untuk memberikan segala kesenangan, tetapi orang percaya harus memilih untuk menaruh pengharapannya kepada Tuhan guna memperoleh kemuliaan bersama dengan Tuhan di langit baru dan bumi baru. Dengan demikian, orang percaya dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di bumi hari ini. Seharusnya orang percaya berprinsip bahwa tidak ada pengharapan apa pun yang dapat orang percaya peroleh dan miliki di bumi ini. Dengan demikian, orang percaya dapat memindahkan hati ke surga.
     
    Orang percaya harus menerima kebenaran firman Tuhan bahwa orang percaya sudah mati dan hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol. 3:1-3). Kata “mati” dalam teks tersebut adalah apothnesko (Yun. ἀποθνῄσκω). Kata tersebut menunjukkan bahwa cara hidup orang percaya yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah harus berbeda dengan cara hidup anak-anak dunia yang tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Kata “mati” di sini menunjukkan bahwa keberadaan manusia lama orang percaya yang dulu masih hidup dalam pemerintahan kerajaan sendiri harus sama sekali ditinggalkan.
    0 min
  • Yesus Sebagai Polanya
    Dalam mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, hal penting yang harus dilakukan adalah tidak memandang kehidupan bangsa Israel sebagai standar hidup orang percaya. Untuk itu, kita harus memandang Perjanjian Lama dengan benar. Kita harus memperlakukan kitab Perjanjian Lama sepantasnya atau pada proporsinya. Kegagalan seseorang tidak mengerti hal ini, akan menjerumuskannya kepada pemahaman atau konsep-konsep teologi yang tidak Alkitabiah bagi umat Perjanjian Baru. Untuk menemukan pandangan teologi yang sesuai dengan Injil yang murni, guna mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, maka kita harus mendasarkan teologi pada karya keselamatan dalam Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristuslah landasan atau dasar dari semua pandangan orang percaya. Setiap pandangan teologi harus diverifikasi oleh karya keselamatan dalam Yesus Kristus atau pengajaran Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru.
     
    Banyak orang Kristen yang mengimitasi bangsa Yahudi atas dirinya. Mereka berpikir bahwa Tuhan akan memperlakukan mereka sama seperti memperlakukan umat Perjanjian Lama. Kesalahan memahami Alkitab ini akan menjerumuskan seseorang kepada kehidupan Kristiani yang palsu. Mereka mengalaskan cara berpikir mereka kepada Perjanjian Lama secara harafiah, padahal pola kekristenan yang benar adalah kehidupan Yesus sendiri. Seperti bangsa Israel pada zaman Yesus, karena pola pikirnya yang salah, maka mereka menolak prinsip-prinsip kebenaran Injil, demikian pula banyak orang Kristen yang tidak bisa mengenakan prinsip-prinsip kebenaran dalam Injil. Karena hal ini, maka mereka tidak dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, sehingga tidak bisa hidup dalam pemerintahan Allah.
     
    Untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, seseorang harus berani keluar dari tradisi dan berbagai pengajaran yang selama ini dianggap sejajar dengan kewibawaan Alkitab, padahal bertentangan dengan Injil. Dalam Lukas 5:39, Tuhan Yesus berkata, “Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik.” Pernyataan ini sebenarnya suatu peringatan yang harus ditanggapi benar-benar serius. “Anggur lama” berbicara mengenai cara keberagamaan yang enak, nyaman, dan tidak menyakitkan. Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai anggur dan kantong kulit tempat menyimpan anggur, konteksnya mengenai cara beribadah dan syariat agama Yahudi. Cara keberagamaan seperti bangsa Yahudi adalah cara keberagamaan manusia pada umumnya. Mereka telah menikmati keberagamaan mereka seperti candu yang telah mengikat dengan kuatnya. Itulah anggur lama yang enak. Anggur yang menghalangi pemerintahan Allah secara proporsional dalam kehidupan individu orang percaya.
     
    Pengajaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus di dalam Injil berbeda dengan apa yang diajarkan oleh agama-agama pada umumnya. Kehidupan Yesus sendiri adalah kehidupan yang bertentangan dengan kehidupan manusia pada umumnya. Murid-murid Yesus juga pernah kecewa dan tidak seorang pun yang bersedia mengiring Tuhan lagi ketika Tuhan menghadapi sengsara dan kematian-Nya di kayu salib. Mereka semua melarikan diri. Mereka tidak tahu bagaimana cara Tuhan bekerja. Pengharapan duniawi mereka dijungkirbalikkan oleh kenyataan yang mereka saksikan: ternyata Yesus mati di kayu salib. Murid-murid tidak mengerti tujuan yang hendak dicapai oleh Tuhan Yesus dalam proyek penyelamatan dunia ini. Murid-murid memikirkan perkara di bumi; Tuhan Yesus memikirkan perkara yang di atas (Kol. 3:1-4). Murid-murid mau menyelamatkan kehidupan hari ini, tetapi Tuhan Yesus kehilangan kehidupan ini (Mat. 10:39). Murid-murid-Nya menjauhi dan menghindari kematian, tetapi justru Tuhan Yesus menerima kematian dan masuk ke dalamnya (Mat. 16:21-26). Tuhan Yesus menghendaki agar orang percaya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, tetapi banyak orang Kristen mau mendatangkan atau menghadirkan kerajaan sendiri.
     
    Menjadi orang percaya,
    0 min
  • Perjuangan Menghadirkan Kerajaan Allah
    Ada kata penting yang harus diperhatikan dalam Injil Matius 6:33: “Carilah”, kata ini dalam teks aslinya adalah zeteite (Yun. Ζητεῖτε), dari akar kata zeteo (Yun. ζητέω), yang berarti seek, look for, search for, investigate, examine, consider, deliberate, somewhat removed from the idea of seeking: try to obtain, desire to possess, strive for, aim (at), desire, wish , ask for, request, demand (mencari, menyelidiki, memeriksa, mempertimbangkan, mencoba untuk mendapatkan, keinginan untuk memiliki, berjuang untuk sesuatu tujuan, menuntut). Kalau Tuhan Yesus berkata, “carilah” artinya ada suatu perjuangan dengan keras untuk memperoleh sesuatu. Sesuatu itu adalah Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Kebenaran dalam teks ini adalah dikaiosune (Yun. δικαιοσύνη), yang artinya kebenaran yang bertalian dengan tingkah laku, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan (Mat. 5:20). Berkenaan dengan hal ini, Tuhan Yesus memang menghendaki agar orang percaya hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Hidup sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah adalah berkelakuan luar biasa, artinya berjuang untuk mendatangkan atau menghadirkan pemerintahan Allah dalam kehidupan pribadi. Dengan hal ini, seseorang dipersiapkan menjadi warga Kerajaan Surga yang baik dengan kualitas kebaikan yang telah ditampilkan atau diperagakan oleh Tuhan Yesus selama hidup-Nya. Hal ini tidak mungkin dapat terwujud tanpa perjuangan yang berat. Jika pemerintahan Allah dihadirkan dalam kehidupan sekarang di bumi, maka pada waktu realisasi dari Kerajaan Tuhan Yesus secara fisik datang, seseorang diperkenan masuk ke dalamnya.
     
    Kesalahan banyak orang Kristen merasa bahwa secara otomatis akan bisa mengalami pemerintahan Allah, padahal Tuhan Yesus sendiri mengajarkan Doa Bapa Kami yang di dalamnya terdapat muatan agar percaya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah Bapa. Hal ini terungkap dalam isi Doa Bapa Kami. Kalau orang Kristen merasa bahwa pemerintahan Allah bisa hadir dengan sendirinya tanpa usaha keras secara pribadi, maka kualitas hidupnya sama dengan mereka yang tidak mengenal Allah. Tidak ada realisasi hidup dalam pemerintahan Allah. Ini berarti, keselamatan tidak terjadi dalam kehidupan orang itu. Dengan hal ini, didapati suatu pelajaran yang mahal bahwa “mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya” sama dengan mengerjakan keselamatan seperti yang dimaksud Paulus dalam suratnya (Flp. 2:12). Orang yang tidak mendahulukan Kerajaan Allah berarti tidak bersedia diselamatkan. Keselamatan di sini tidak berkaitan langsung dengan masalah kehidupan jasmani. Dengan demikian, ketika Tuhan Yesus memanggil orang percaya untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, berarti orang percaya harus mulai meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya.
     
    Berbicara mengenai Kerajaan Allah, tidak bisa tidak perlu menghubungkan dengan apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 14:17, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Dalam pernyataan Paulus ini, sungguh sangat sinkron dengan apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus mengenai Kerajaan Surga. Kerajaan Surga adalah pemerintahan Allah yang tidak berpusat pada kehidupan di bumi ini. Mendahulukan Kerajaan Surga berarti membangun kebenaran, yaitu bagaimana berkelakuan luar bisa seperti Tuhan Yesus dan memiliki damai sejahtera, serta sukacita yang tidak didasarkan kepada perkara-perkara duniawi. Ini berarti seorang yang bersedia mendahulukan Kerajaan Allah sudah benar-benar bersedia mati bagi dunia. Dunia bukan lagi menjadi tujuan. Dunia dengan segala kesibukannya adalah sarana untuk belajar menjadi warga Kerajaan Surga yang baik. Semua yang diupayakan semata-mata untuk kepentingan Tuhan. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang dikatakan Paulus “telah mati dan hidup tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3). Memang tidak banyak orang yang bersedia hidup dengan cara demikian,
    0 min
  • Basis Pola Berpikir
    Orang percaya yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, sebenarnya sedang mengembangkan logika rohaninya. Logika di sini maksudnya pola dan landasan berpikirnya. Rohani maksudnya sesuatu yang memiliki nilai lebih dari kefanaan dunia ini. Jadi logika rohani artinya pola pikir yang berbasis atau berlandaskan pada dunia yang akan datang, yang bersifat kekal. Logika rohani ini dikemukakan Paulus dalam suratnya yang tertulis, “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal” (2Kor. 4:18). Untuk ini, orang percaya harus rela meninggalkan pola pikir yang salah; pola pikir yang berbasis pada dunia hari ini. Orang-orang yang logika berpikirnya berbasis pada dunia hari ini adalah orang-orang yang mendatangkan atau menghadirkan kerajaan dunia ini. Hidup mereka terbelenggu dengan berbagai keindahan dunia dan segala hiburannya. Pada dasarnya, mereka adalah orang-orang yang dikendalikan dan diatur oleh kuasa dunia.
     
    Orang percaya harus memikirkan hal-hal kekekalan dengan serius dan memahaminya dengan lengkap, agar memiliki basis berpikir yang mengarah pada Kerajaan Allah, sehingga dengan demikian dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidupnya hari ini. Sebagai orang-orang pilihan Tuhan, hendaknya orang percaya melangkah dengan langkah pasti untuk menyinkronkan status dan keberadaan sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah dengan perilaku setiap hari. Kalau seseorang sudah dibelenggu oleh keindahan dunia dan segala hiburannya sehingga dikendalikan oleh kuasa dunia, berarti ia menutup pintu hati terhadap pemerintahan Allah. Tentu saja orang tersebut tidak dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Dengan demikian, orang tersebut membawa diri terpisah dari Allah atau menjauhi Dia dan menuju kebinasaan. Dalam hal ini, dapat dimengerti bahwa keselamatan atau kebinasaan seseorang sangat tergantung dari keputusan individu, bukan ditentukan oleh Allah.
     
    Dalam hal tersebut di atas, sejatinya hidup baru pada dasarnya adalah perubahan pola berpikir. Perubahan ini merupakan proses yang bertahap. Sarana untuk mengalami perubahan pola berpikir ini adalah kebenaran firman Tuhan yang murni. Kalau firman Tuhan diberitakan secara tidak benar, maka hal itu tidak membuat seseorang mengalami pembaruan pikiran sampai pada memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Pembaruan oleh firman harus ke arah Tuhan Yesus, artinya semakin bisa bertindak dalam pola pikir seperti Yesus. Pola berpikir yang diubah secara berkesinambungan membuat seseorang menjadi “orang yang tidak sama dengan dunia ini.” Sampai pada akhirnya orang percaya tersebut bisa menyatakan, “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Orang yang sampai pada pengakuan ini barulah dapat hidup dalam pemerintahan Allah atau mendatangkan Kerajaan Allah. Ini adalah pengalaman hidup seorang yang benar-benar telah memiliki kelahiran baru secara benar. Banyak orang Kristen merasa sudah mengalami kelahiran baru, padahal tidak hidup dalam pemerintahan Allah; hidupnya masih dikendalikan oleh dirinya sendiri. Itu berarti ia belum mengalami kelahiran baru. Itu juga berarti belum menjadi anak-anak Allah yang sah. Suatu hari nanti, Tuhan Yesus akan berkata kepada orang-orang seperti ini, “Aku tidak mengenal kamu.”
     
    Seseorang tidak bisa dikatakan sudah lahir baru sebelum menjadi manusia Allah yang semakin seperti Yesus. Hasil dari kelahiran baru ini menciptakan manusia lain yang tidak serupa dengan dunia ini. Menjadi ciptaan baru atau hidup baru memiliki ukuran yang sangat tinggi. Bukan hanya melakukan suatu kegiatan rohani, dari seorang non-Kristen menjadi Kristen atau dari seorang tidak bergereja menjadi anggota gereja; dari seorang yang tidak aktif dalam kegiatan gereja, mulai aktif dalam kegiatan gereja. Kegiatan rohani hanya memberi ciri orang beragama,
    0 min
  • Mendahulukan Kerajaan Allah
    Untuk terselenggaranya kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, Roh Kudus dimateraikan dalam kehidupan orang percaya agar dapat mewujudkannya. Roh Kudus inilah yang menuntun kehidupan orang percaya agar dapat mencapainya. Tuntunan ini membawa orang percaya kepada pengalaman kelahiran baru. Ini menunjuk titik awal dari kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Sampai taraf ini, seseorang benar-benar dapat mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Tanpa kelahiran baru, seseorang tidak akan pernah memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Inilah masalah pelik dewasa ini. Banyak orang Kristen kelihatannya sudah bertobat, tetapi sebenarnya pertobatannya tidak signifikan mengubah kehidupannya untuk mengalami kelahiran baru. Pertobatan seperti itu adalah pertobatan semu. Pertobatan haruslah proses setiap hari dimana seseorang meninggalkan cara hidupnya yang lama sampai pada pengalaman konkret kelahiran baru.
     
    Kekristenan bukan sekadar agama, melainkan jalan hidup yang hanya bisa dikenakan oleh segelintir orang yang benar-benar mengalami kelahiran baru sehingga mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah, yang memungkinkan seseorang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Orang-orang seperti ini adalah mereka yang layak disebut anak-anak Allah dan yang pasti dapat memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak berharap kebahagiaan hidup dari dunia ini. Ketika seseorang tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia, maka barulah dapat menikmati damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal.
     
    Selama orang berpikir dan masih berharap bahwa dunia bisa memberikan hidup yang lengkap, utuh, bahagia, aman, dan nyaman, maka ia tidak akan pernah mengenakan kekristenan yang sejati. Kekristenan yang dikenakan pasti palsu. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak dapat memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Oleh kurban Yesus di kayu salib, orang percaya dapat dibebaskan dari cara hidup yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang, yaitu kehidupan yang tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah (1Ptr. 1:18). Itulah sebabnya lebih dari menggumuli untuk mencapai segala hal yang diharapkan dapat membahagiakan diri dari dunia ini, orang percaya harus berjuang untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Ini berarti perjuangan untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah Bapa dan menjadi kudus dalam seluruh kehidupannya (1Ptr. 1: 14-16).
     
    Dalam Matius 6:33 Yesus mengatakan agar orang percaya mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Untuk memahami makna orisinal ayat ini, harus terlebih dahulu melihat konteks di mana ayat ini terletak. Konteks ayat ini adalah perkataan Tuhan Yesus mengenai kekhawatiran. Tuhan mengajarkan agar orang percaya tidak boleh memiliki kekhawatiran yang negatif, sehingga usaha memenuhi kebutuhan jasmani mengalahkan atau melampaui panggilan untuk mengumpulkan harta di surga. Mengumpulkan harta di surga sama maknanya dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah harus dipahami sebagai proses bertahap yang memiliki pengertian paralel dengan mengumpulkan harta di surga. Ini berarti perjalanan kekristenan adalah perjalanan bertahap, bukan sesuatu yang bersifat instan. Dalam hal ini, dibutuhkan ketekunan orang percaya dalam menjalani kekristenannya. Kekristenan bukan perjalanan waktu yang hanya satu sampai dua tahun, bahkan lebih dari belasan atau puluhan tahun; tetapi sepanjang umur hidup dalam pergumulan dan setiap saat.
     
    Mengumpulkan harta di surga, artinya melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati Bapa melalui setiap kata yang diucapkan, pilihan, keputusan, dan semua tindakan. Semua yang menyenangkan hati Bapa seakan-akan diarsipkan menjadi akumulasi dari kekayaa...
    0 min
  • Pengertian Kerajaan Allah
    Kerajaan Allah memiliki dua pengertian: pertama, pemerintahan Allah hari ini melalui Roh Kudus, dan kedua, perwujudannya secara fisik nanti di langit baru dan bumi yang baru. Dalam bahasan ini, difokuskan pada pengertian Kerajaan Allah yang pertama. Inilah yang dimaksud oleh Tuhan Yesus agar orang percaya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam Doa Bapa Kami. Di balik yang kelihatan, anak-anak Allah harus hidup dalam pengaturan Tuhan. Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah berarti hidup dalam pengaturan Allah secara mutlak. Pada akhirnya, kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang tidak diatur oleh siapa pun kecuali oleh Allah sendiri sebagai Bapa. Kalau orang beragama pada umumnya diatur oleh hukum, dalam hal tersebut Allah diwakili oleh hukum, tetapi dalam kehidupan orang percaya Allah tidak diwakili oleh apa pun. Roh Allah sendiri yang mengatur kehidupan umat. Dalam hal ini, umat dimampukan untuk memiliki kualitas moral seperti Allah sendiri.
     
    Kualitas moral yang dikehendaki oleh Bapa adalah kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Bapa sendiri, dan mereka harus memilikinya, sebab Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya “harus sempurna” seperti Bapa di surga. Dengan demikian, menjadi sempurna maksudnya adalah agar orang percaya hidup dalam pengaturan Allah Bapa sepenuhnya oleh atau melalui Roh-Nya. Tidak ada yang keputusan, pilihan, dan tindakan seorang anak Allah dan segala sesuatu yang dikerjakan dan dilakukannya di luar kehendak Allah Bapa. Inilah yang dimaksud dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Orang percaya seperti ini hidup dalam kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, sebab segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
     
    Sejatinya, Allah tidak mendesain manusia sejak semula untuk hidup di bawah bayang-bayang hukum atau peraturan. Itulah sebabnya, pada waktu penciptaan Allah tidak merumuskan dan menetapkan hukum untuk dilakukan. Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambar-Nya, artinya bahwa Allah memberikan kemampuan moral kepada manusia untuk bisa memiliki pikiran dan perasaan seperti Allah, sehingga segala sesuatu yang dilakukan bisa selalu sesuai dengan keinginan Allah Bapa. Maksud kalimat “menjadi sempurna seperti Bapa” adalah segala suatu yang dilakukan oleh orang percaya selalu sesuai dengan yang Allah Bapa kehendaki. Dengan demikian orang percaya yang selalu berjalan dengan Allah untuk melakukan kehendak-Nya secara benar akan memiliki pikiran dan perasaan yang “sinkron” dengan Allah. Dengan demikian, tanpa pemaksaan orang percaya akan selalu berjalan sesuai dengan kehendak Allah, yang sama dengan berjalan seiring dengan Tuhan sendiri.
     
    Dengan kehidupan seperti yang dijelaskan di atas tersebut—yaitu memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah—seseorang bisa hidup dalam persekutuan dengan Allah Bapa seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan Bapa-Nya (Yoh. 17:20-21). Itulah sebabnya Tuhan menghendaki agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Hidup dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus berarti dapat melakukan segala sesuatu seperti yang Yesus lakukan. Itulah yang dimaksud dengan sempurna seperti Bapa. Kata “sempurna” dalam Matius 5:48 dalam teks aslinya adalah teleioi (Yun. τέλειοι), dari kata teleios (Yun. τέλειος). Kata ini memiliki beberapa pengertian antara lain: having attained the end or purpose, complete, perfect (telah mencapai akhir atau tujuan, lengkap, sempurna). Juga berarti full-grown, mature, adult (penuh kedewasaan, matang, dewasa). Juga berarti fully developed in a moral sense (dikembangkan sepenuhnya dalam arti moral). Yang jelas, bahwa kesempurnaan dalam ayat ini hendak menunjuk kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Allah Bapa.
     
    Allah menghendaki agar kualitas moral yang dimiliki orang percaya seperti yang dimiliki oleh Allah,
    0 min
  • Menikmati Damai Sejahtera Allah
    Kehidupan orang percaya yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah memiliki sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus, sesuai dengan Roma 14:17. Inilah damai sejahtera yang tidak dimiliki oleh dunia ini, dan tidak dikenal oleh manusia pada umumnya. Damai sejahtera ini hanya dikenal oleh orang percaya yang hidup dalam pemerintahan Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, sukacita orang percaya tidak boleh ditopang atau ditentukan oleh kekayaan dunia dan segala hiburannya, sebab orang percaya dapat memiliki damai sejahtera yang ditopang atau ditentukan oleh Allah sendiri dalam kehadiran Kerajaan-Nya. Inilah damai sejahtera yang melampaui segala akal yang Tuhan berikan, yang tidak sama seperti yang diberikan dunia (Yoh. 14:27). Tuhan menghendaki agar orang percaya membangun Kerajaan Allah, yang sama dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidupnya. Ini berarti orang percaya dipanggil untuk mendatangkan atau menghadirkan suasana Kerajaan Allah dalam hidup ini. Suasana Kerajaan Allah adalah jiwa yang dikuasai oleh kerinduan terhadap perkara-perkara surgawi, yaitu penghargaan kepada nilai-nilai kekekalan. Dalam hal ini, hidup dalam suasana Kerajaan Allah dapat menghindarkan orang percaya dari belenggu percintaan dunia yang membinasakan.
     
    Orang Kristen yang tidak memiliki dan menikmati suasana Kerajaan Allah memfokuskan hidup mereka pada hal-hal dunia, sehingga mereka terbelenggu dalam percintaan dunia. Belenggu tersebut akan semakin kuat sampai tidak dapat terlepas dari belenggu tersebut. Oleh karena itu Tuhan Yesus berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:19-20). Maksud ayat ini adalah bahwa seseorang harus melatih diri untuk tidak terikat dengan hal-hal duniawi. Terikat hal duniawi di sini maksudnya adalah bahwa penghargaan orang percaya tidak ditujukan kepada kekayaan dunia dan segala hiburannya, karena kekayaan dunia membuat seseorang tidak menghargai nilai-nilai kekekalan. Tuhan Yesus mengatakan, “… sebab di mana ada hartamu di situ hatimu berada” (Mat. 6:21).
     
    Orang percaya harus menyadari bahwa Bapa surgawi memiliki Kerajaan yang permanen di langit baru dan bumi baru. Oleh sebab itu, dalam hidup ini orang percaya harus hanya mencari harta yang permanen di dunia yang akan datang. Dalam Alkitab ditunjukkan bagaimana Iblis menawarkan harta yang tidak permanen kepada Yesus (Luk. 4:5-8), tetapi Yesus menolak tawaran tersebut. Orang percaya tidak boleh terkecoh oleh tawaran kuasa kegelapan untuk memiliki kekayaan dunia ini dan segala hiburannya. Memang untuk sementara waktu kekayaan dunia ini dan hiburannya bisa memberikan sukacita atau semacam kegembiraan, tetapi hal tersebut selain tidak abadi, dan juga menggiring manusia jauh dari persekutuan dengan Allah. Memang hanya dengan cara demikianlah kuasa kegelapan menarik manusia kepada dirinya untuk dapat dibinasakan.
     
    Yesus menawarkan kepada orang percaya harta yang permanen di dalam Kerajaan Allah. Orang percaya harus memercayai Tuhan di atas segalanya. Juga memercayai bahwa perkataan-Nya benar, orang percaya harus mencari yang memiliki nilai kekal atau permanen. Untuk ini, mata pengertian seseorang harus dibukakan untuk melihat nilai kekekalan Kerajaan Tuhan. Oleh karenanya, dalam Matius 6:22 Yesus berkata, “Mata adalah pelita jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Maksud perkataan Yesus di sini adalah kalau seseorang tidak memiliki pengertian yang benar tentang kehidupan atau kebenaran dalam kehidupan ini, maka jalan hidupnya pasti sesat atau menyimpang dari kebenaran. Orang seperti ini tidak akan mengutamakan perkara-perkata surgawi.
     
    Berkenaan dengan hal tersebut di atas,
    0 min
  • Kehidupan Yang Disita
    Sebenarnya, ketika seseorang bersedia mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, maka kehidupannya—termasuk segala miliknya—disita oleh Kerajaan Allah. Kalau seluruh hidupnya disita, itu berarti di bumi ini ia hanya sebagai orang yang menumpang. Sejak itu, pemerintahan Allah berlaku atau berlangsung dalam hidupnya. Pemerintahan Allah adalah kehidupan yang diatur dan dikendalikan oleh Allah melalui atau di dalam Roh Kudus. Ini adalah kehidupan yang diarahkan untuk suatu hari mengalami realisasi perwujudan Kerajaan Allah secara fisik. Kenyamanan hidup duniawi tidak lagi menjadi tujuan. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17).
     
    Kalau orang percaya teliti, dapat ditemukan bahwa murid-murid Yesus pada mulanya mengikut Yesus didorong oleh keinginan memperoleh kelimpahan duniawi dan kehormatan dari manusia. Murid-murid Yesus, seperti kebanyakan orang Yahudi, berharap suatu hari Yesus akan menjadi seorang penguasa seperti Raja Herodes atau kaisar di Roma, sehingga mereka dapat memiliki kekayaan materi di bumi ini seperti yang diinginkan oleh manusia pada umumnya. Padahal, mengikut Yesus berarti harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33). Murid-murid Yesus bukan hanya kehilangan segala sesuatu yang mereka miliki, tetapi mereka juga harus menghadapi penganiayaan yang sangat kejam. Itulah sebabnya Yesus mengatakan kalau seseorang mau mengikut Yesus, ia harus memikul salib. Sebagai catatan penting yang menjadi tatanan mutlak, bahwa dengan melepaskan segala sesuatu seseorang barulah memperoleh Kristus (Flp. 3:7-9).
     
    Firman Tuhan mengatakan bahwa orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus, yaitu walaupun Ia adalah pemilik segala sesuatu tetapi Ia mengosongkan diri. Mengosongkan diri maksudnya adalah melepaskan semua hak-Nya, supaya Ia bisa mempersembahkan semuanya bagi Allah Bapa. Tanpa berbuat demikian Ia tidak bisa menjadi Mesias yang menyelamatkan semua manusia. Orang percaya harus melepaskan segala sesuatu, barulah dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, dan suatu hari nanti memperoleh kemuliaan bersama Tuhan Yesus. Sebelum dimuliakan bersama Yesus, orang percaya harus meneruskan karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib agar diberitakan sampai ke ujung bumi.
     
    Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah berarti meneladani hidup yang dikenakan oleh Yesus. Untuk ini, ada dua catatan penting: Pertama, harus belajar bagaimana tidak lagi terikat dengan percintaan dunia dan keinginan-keinginan dosa di dalam diri ini, supaya bisa mendatangkan atau menghadirkan pemerintahan Kerajaan Allah. Kedua, mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, yaitu bagaimana membawa orang lain bisa mengikuti jalan hidup yang telah Yesus jalani. Untuk ini, seorang yang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan harus berkeadaan semakin seperti Yesus sehingga bisa menjadi model dengan mana orang membangun dirinya. Ini adalah proyek mencetak manusia seperti Yesus (Rm. 8:28-29). Bukan sekadar menjadikan orang lain sebagai anggota salah satu gereja, melainkan menuntun orang lain menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Menjadi anggota keluaga Kerajaan Allah berarti memiliki kehidupan semakin hari semakin seperti Yesus; hidup tidak bercacat dan tidak bercela.
     
    Sejatinya, hal tersebut adalah inti dari Kekristenan yang orisinal. Pikiran orang percaya tidak boleh menyimpang kepada yang lain. Orang percaya harus berhati-hati. Kalau jemaat pada umumnya disimpangkan pada kekayaan dunia dan segala hiburan dunia ini, sedangkan para rohaniwan difokuskan hanya kepada kegiatan gereja yang menjuruskan pada keberhasilan mengumpulkan jemaat dan membangun gereja secara fisik. Para rohaniwan atau pendeta hendaknya juga tidak menyimpang dengan hanya sibuk memperdebatkan doktrin teologi. Doktrin sangat penting,
    0 min
  • Panggilan Untuk Hidup Secara Luar Biasa
    Kalimat “datanglah Kerajaan-Mu” menunjukkan bahwa orang percaya adalah anggota suatu kerajaan, yaitu Kerajaan Allah. Kalau sebelum mengiring Tuhan Yesus manusia hidup sebagai manusia tanpa pengharapan karena mengikuti jalan dunia atau mengikuti gembala jahat yang tidak berkerajaan, tetapi setelah mengikut Yesus, menjadi orang percaya, berarti menjadi imamat yang rajani; bangsa yang berkerajaan oleh sebab Bapa adalah Bapa yang berkerajaan. Kesadaran sebagai warga kerajaan adalah sesuatu yang sangat penting. Kalimat “datanglah Kerajaan-Mu” mengandung panggilan untuk hidup sebagai warga Kerajaan atau tepatnya anggota keluarga Kerajaan. Kalimat “datanglah Kerajaan-Mu” menunjukkan adanya panggilan dalam kehidupan orang percaya untuk mewujudkan pemerintahan Kerajaan Allah secara pribadi. Seorang yang hidup dalam pemerintahan Kerajaan Allah pasti bergaya hidup berbeda dengan anak-anak dunia yang tidak berkerajaan.
     
    Kepentingan Kerajaan Allah harus ditempatkan di atas segala kepentingan. Untuk itu orang percaya tidak diperkenan memiliki kerajaan sendiri. Kerajaan sendiri artinya bahwa orang percaya tidak boleh memiliki suatu “pemerintahan” yang didominasi oleh diri sendiri dan untuk kepentingan diri sendiri. Pada umumnya, kerajaan yang dimiliki oleh manusia adalah kerajaan dalam keluarga, kerajaan dalam bisnis, kerajaan dalam hobi atau kesenangan, dan berbagai kerajaan lain yang semuanya berpusat pada diri sendiri. Biasanya fokus hidup manusia dan semua potensinya tertuju kepada diri sendiri. Pola hidup seperti itu sudah dianggap wajar. Biasanya seseorang melakukan segala sesuatu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Inilah bentuk kerajaannya sendiri.
     
    Sebelum mengenal kebenaran, seseorang merasa berhak memiliki kerajaan sendiri karena bebas melakukan apa pun dan mengingini apa pun dengan segala kesenangannya. Padahal, dengan cara hidup demikian ia sedang ada dalam pemerintahan kerajaan Iblis. Ciri kerajaan Iblis adalah boleh hidup “suka-suka sendiri”. Mereka merasa memiliki kerajaan sendiri, bukan kerajaan Iblis, tetapi sebenarnya ia sedang ada dalam belenggu kerajaan kegelapan. Untuk mengokohkan kerajaannya sendiri, banyak orang Kristen seperti ini datang kepada Tuhan memohon pertolongan dan campur tangan-Nya. Hal ini bertentangan dengan prinsip Kerajaan Allah. Ciri Kerajaan Allah ditandai dengan kalimat “jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31).
     
    Kalimat yang diucapkan “datanglah Kerajaan-Mu” merupakan komitmen meninggalkan kerajaan sendiri dan beralih kepada Kerajaan Allah. Dengan pernyataan tersebut, seseorang sudah tidak lagi berhak atas hidupnya. Kepala pemerintahan hidupnya adalah Allah sendiri melalui Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Masalahnya kemudian adalah bagaimana penyelenggaraan pemerintahan Kerajaan Allah ini? Untuk memahami bagaimana menyelenggarakan pemerintahan ini, maka seseorang harus mengerti ciri Kerajaan tersebut. Paulus memberi ciri-ciri Kerajaan tersebut yang tertulis dalam Roma 14:17, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Dari hal ini jelas bahwa Kerajaan Allah yang Tuhan kehendaki terselenggara dalam hidup orang percaya tidak memiliki orientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani.
     
    Satu hal penting yang hendak ditekankan dalam Roma 14:17 tersebut adalah bahwa Kerajaan itu tidak berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Kebutuhan jasmani tidak boleh mendapat tempat utama. Prinsipnya adalah “asal ada makanan dan pakaian, cukup.” Jadi orang percaya harus mengerti ketika menyatakan diri mau mengikut Tuhan, Tuhan berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:58). Dengan ini dapat dimengerti bahwa bahwa kerajaan orang percaya bukan dari ...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…