Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Milik Kristus
    Seorang yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah harus bersedia “kehilangan diri sendiri.” Orang yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah harus rela dimiliki oleh Tuhan sepenuhnya. Tidak sulit mengaku bahwa dirinya sebagai milik Kristus, tetapi sangat sulit merealisasinya. Banyak orang Kristen mengaku milik Kristus, tetapi sebenarnya mereka masih memiliki dirinya sendiri. Mereka memandang Tuhan hanya sebagai alat, bukan tujuan. Sesungguhnya, ini sikap orang yang tidak menjadikan Yesus sebagai Tuhan, yang seharusnya hanya kepada-Nya mereka mengabdi dan hidup. Orang-orang seperti ini sesungguhnya tidak bersedia dimiliki sepenuhnya oleh Allah, tentu saja mereka tidak dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Kalau seseorang memiliki dirinya sendiri, maka akan nampak dalam perilakunya yang hidup untuk dirinya sendiri; kesenangan dan kepuasannya sendiri. Gaya hidup seperti ini telah diwarisi dari nenek moyang dan dipengaruhi oleh lingkungan yang pada umumnya egois.
     
    Biasanya orang merasa berhak menggunakan apa pun yang telah diraih dan dimiliki—yaitu gelar, pangkat, harta, dan semua bakat—untuk kesenangan sendiri sesuai dengan seleranya. Biasanya semua yang dimiliki tersebut dijadikan sumber kebahagiaan dan kebanggaannya. Orang-orang seperti ini tidak akan bisa mengikut Yesus, apalagi menderita bagi Tuhan Yesus. Mestinya orang-orang seperti ini tidak berhak mengaku sebagai milik Tuhan, sebab ia memiliki dirinya sendiri. Mereka tidak dapat melakukan apa yang dikatakan oleh Tuhan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah,” (1Kor. 10:31). Kalau seseorang masih terikat dengan dunia ini, yaitu membiarkan dirinya hanyut dengan keinginan dirinya sendiri, maka ia tidak dapat dimiliki oleh Tuhan (Gal. 5:24-25; 1Yoh. 2:15). Sekarang ini rasanya aman-aman saja memiliki dirinya sendiri, tetapi suatu hari nanti, orang yang memiliki dirinya sendiri akan terbuang ke dalam api kekal.
     
    Orang yang menjadi milik Kristus Yesus adalah mereka yang telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal. 5:24). Hal penyaliban daging dengan segala keinginannya harus berangkat dari diri sendiri. Ini adalah fenomena natural, bukan adikrodati atau mistis, dan berlangsung setiap hari secara konkret melalui segala kejadian yang terjadi dalam hidup seseorang. Terkait dengan hal ini lebih bisa dimengerti mengapa Tuhan Yesus menyatakan, “orang yang mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salibnya.” Tentu yang disalibkan atau dimatikan adalah segala keinginan dan hawa nafsu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Seiring dengan kematian daging—artinya sifat-sifat egois, mau menang sendiri, kikir, dan lain sebagainya—seseorang barulah dapat dimiliki oleh Tuhan. Hidupnya bisa menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah bagi sesama. Orang yang tidak bisa membagi dirinya bagi orang lain tidak dapat dimiliki oleh Allah.
     
    Hendaknya tidak sembarangan menyatakan bahwa seseorang adalah milik Kristus. Orang percaya harus mengenali konsekuensi-konsekuensi menjadi milik Kristus dan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Banyak orang Kristen sudah merasa milik Kristus, padahal mereka masih memiliki dirinya sendiri. Kalau mereka memiliki dirinya sendiri, sedangkan dirinya terikat dengan berbagai kesenangan dunia, berarti mereka masih dimiliki oleh dunia. Secara secara hukum atau de jure (secara hukum) sebenarnya orang-orang Kristen dimiliki oleh Tuhan, tetapi secara de facto (kenyataannya) sebenarnya mereka masih dimiliki oleh dunia. Mereka dimiliki dunia sebab diri mereka masih dalam keterikatan dengan materi dunia ini atau kekayaan dunia dengan segala keindahannya. Dengan keadaan ini, sebenarnya mereka ada dalam kesesatan. Sebenarnya mereka berstatus memberontak kepada Allah; tidak menundukkan diri kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Rajanya.
    0 min
  • Memikirkan Hal-Hal Kekekalan
    Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya bukan berasal dari dunia ini seperti Dia juga bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:15-16), juga menunjuk bahwa orang percaya bukan bagian dari dunia ini. Dunia ini akan dihancurkan sesuai dengan apa yang dikatakan Petrus dalam suratnya bahwa langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya (2Ptr. 3:1-13). Orang percaya akan diungsikan Tuhan, dibawa ke tempat di mana tidak ada kejahatan. Firman Tuhan menyatakan bahwa orang percaya yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa (1Tes. 4:17). Demikianlah orang percaya akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Dalam hal ini, orang percaya mengalami Kerajaan Allah secara fisik.
     
    Orang percaya adalah orang-orang yang akan dibawa keluar dari dunia ini ke kota yang memiliki dasar yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Itulah kota yang dirindukan oleh Abraham (Ibr. 11:10). Kerinduannya terhadap kota itu mendorong Abraham meninggalkan Ur-Kasdim dan tidak pernah berniat kembali ke negerinya, walaupun ia akhirnya juga mati dan tidak menemukan negeri itu. Ia hanya melihat dari jauh dan melambai-lambaikan tangannya. Hal ini menunjukkan kerinduannya yang sangat kuat untuk sampai ke negeri itu (Ibr. 11:13-16). Dengan demikian, orang percaya harus menaruh seluruh pengharapannya hanya pada kemuliaan bersama dengan Kristus di dalam Kerajaan-Nya pada waktu kedatangan-Nya (1Ptr. 13-14). Orang Kristen seperti ini tidak akan terbelenggu oleh percintaan dunia, tetapi hatinya terbelenggu oleh perkara-perkara yang di atas, yaitu kemuliaan bersama dengan Kristus di dalam Kerajaan Allah.
     
    Rasul Paulus menasihati jemaat dengan isi yang sama dengan kebenaran yang dikemukakan di atas. Dalam Kolose 3:1-4, tertulis bahwa sesungguhnya orang percaya telah “mati” dan hidup orang percaya tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Maksud ayat ini adalah agar fokus orang percaya diarahkan untuk memiliki kekayaan surgawi. Karena Kristus telah mati bagi dunia, tidak mengharapkan kehidupan yang nyaman di bumi seperti anak-anak dunia. Memang dunia juga semakin menuju kehancuran. Tidak ada yang dapat diharapkan di bumi ini. Orang percaya akan lebih menyadari betapa tidak berkualitasnya hidup di bumi ini tatkala menjumpai kenyataan kematian orang yang dicintai, jatuh miskin, diperlakukan tidak adil, difitnah, menghadapi perang, huru-hara, menghadapi berbagai ancaman terhadap keselamatan nyawa sendiri dan keluarga yang dicintai, sakit penyakit, gagalnya karir sendiri atau karir anak-anak, dan lain sebagainya. Kesukaran-kesukaran hidup yang terjadi dalam hidup ini sebenarnya mengarahkan orang percaya untuk mencari Tuhan dan mencari apa yang bernilai abadi. Dunia yang dihuni manusia hari ini bukanlah dunia yang nyaman menjadi hunian.
     
    Seharusnya tatkala menjumpai betapa tidak berkualitasnya hidup ini, orang percaya mengarahkan pandangan kepada Kerajaan Bapa. Orang percaya yang menyadari tanda-tanda zaman ini dapat berpaling kepada Tuhan dan mencari perkara-perkara yang di atas, sehingga pandangan hidupnya tidak tertuju kepada dunia ini semata-mata. Dengan demikian, dapat berjuang dengan segenap kekuatan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah atau pemerintahan Allah dalam kehidupan ini. Orang percaya tidak lagi mengutamakan atau menekankan hal-hal yang menyangkut penyelesaian masalah-masalah fana hidup atau pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi pada hal-hal kekekalan. Orang yang berasal dari atas harus memikirkan hal-hal yang di atas; tetapi orang yang berasal dari bawah memikirkan hal-hal yang di bawah.
     
    Kesalahan bangsa Israel pada zaman Yesus sehingga mereka menolak Yesus sebagai Mesias,
    0 min
  • Hidup Sebagai Orang Yang Berasal Dari Atas
    Kejatuhan manusia ke dalam dosa mengakibatkan bumi terhukum atau terkutuk. Bumi menjadi tempat yang tidak nyaman untuk dihuni. Bumi seperti ini tidak lagi menjadi tempat hunian yang ideal. Tuhan Yesus menyatakan bahwa dunia ini bukan rumah orang percaya. Rasul-rasul menyatakan bahwa orang percaya adalah pendatang atau musafir di bumi ini, yang sama dengan orang yang menumpang. Dengan sangat jelas Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya bukan berasal dari dunia ini, sama seperti Dia pun bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:16). Bumi ini telah rusak dan harus ditinggalkan. Tuhan menyediakan langit dan bumi yang baru, tempat ideal yang menjadi tujuan orang percaya. Banyak orang Kristen yang sebenarnya belum tahu maksud Tuhan Yesus bahwa orang percaya berasal dari atas, bukan dari dunia ini.
     
    Pernyataan bahwa orang percaya berasal dari atas, sama seperti Yesus, memiliki konsekuensi untuk orang percaya, bahwa sebagai “yang berasal dari atas” harus memiliki kualitas hidup seperti Yesus yang juga berasal dari atas. Sementara orang percaya masih tinggal di dunia ini, Tuhan Yesus memohon kepada Bapa agar Bapa melindungi orang percaya dari yang jahat (Yoh. 17:9-15). Melindungi dari yang jahat maksudnya agar orang percaya terhindar dari cara hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa; dan sebaliknya, bergaya hidup sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah. Hal ini sama dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Tentu saja permohonan tersebut dikabulkan oleh Bapa. Ini berarti orang percaya dimungkinkan untuk memiliki keadaan diri yang berbeda dengan orang yang bukan warga Kerajaan Surga. Orang percaya bisa menjadi “manusia lain.” Perlindungan dari Bapa akan membuat orang percaya mampu hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah secara mutlak dan dalam kedaulatan-Nya secara absolut, asalkan mau belajar atau dimuridkan.
     
    Oleh sebab itu, orang percaya harus memberi diri untuk hidup dalam perlindungan Bapa. Memberi diri untuk hidup dalam perlindungan Bapa artinya memanfaatkan fasilitas atau kuasa (Yun. Exousia) yang Allah berikan supaya berkeberadaan sebagai anak-anak Allah yang “berkelas” seperti Yesus (Yoh. 1:12-13). Kalau tidak memanfaatkan perlindungan Bapa, maka perlindungan itu tidak akan dialami. Jadi, orang percaya tidak otomatis terlindungi, kecuali memanfaatkan kuasa atau fasilitas, yaitu menyambut dan sungguh-sungguh percaya penebusan-Nya di kayu salib, mempelajari Firman Tuhan atau Injil yang diajarkan Tuhan Yesus dan mohon Roh Kudus untuk menerangi hati untuk mengertinya. Selanjutnya, menerima setiap kejadian sebagai cara Tuhan menggarap manusia untuk menjadi serupa dengan Tuhan Yesus atau bergaya hidup warga Kerajaan Surga; karena Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang percaya yang mengasihi Dia (Rm. 8:28).
     
    Semua proses tersebut, kalau diselenggarakan akan membuat seseorang menjadi “manusia lain,” yaitu manusia yang taat dan menghormati Bapa secara benar. Dengan gaya hidup sebagai warga Kerajaan Surga tersebut, akan menunjukkan bahwa Allah Bapa di surga adalah satu-satunya Pribadi yang layak menerima segala hormat. Inilah gaya hidup yang harus dimiliki oleh setiap anak Allah. Mereka adalah orang-orang yang memperoleh persekutuan dengan Bapa dan Anak, sehingga dapat menjadi saksi bagi Tuhan Yesus atau menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah utusan Bapa (Yoh. 17:21). Orang percaya seperti di atas ini akan dilayakkan berada di tempat di mana Tuhan Yesus berada dan tidak turut dibinasakan bersama dengan dunia ini (Yoh. 14:1-3). Inilah kemenangan iman Kristen yang sejati, yaitu menang seperti Tuhan Yesus yang hidup dalam ketaatan secara mutlak kepada Bapa, sampai mati di kayu salib (Ibr. 12:1-5). Hanya orang-orang yang menang yang didudukkan bersama dengan Tuhan Yesus dalam kemuliaan-Nya (Why. 3:21).
     
    Sebagai orang-orang yang dinyatakan bukan berasal dari dunia ini, mutlak untuk hidup dalam pemerintahan dari atas pula,
    0 min
  • Menaruh Harapan
    Kegagalan orang percaya sebagai murid Yesus adalah ketika ia gagal hidup dalam penguasaan Tuhan dan kontrol Tuhan yang adalah Pemilik hidup ini. Ini berarti mereka tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan ini, yang sama dengan tidak hidup dalam pemerintahan Allah. Kalau seseorang hidup dalam pemerintahan Allah, berarti ia hidup dalam pengendalian Allah. Pengendalian ini bukanlah bermaksud untuk mengambil alih kebebasan yang Tuhan berikan kepada masing-masing manusia. Pengendalian di sini artinya adalah kesediaan setiap individu untuk mencari kehendak-Nya dan menuruti-Nya dengan rela dan sukacita sebagai kebutuhan, bukan sebagai perintah atau kewajiban. Inilah ciri utama seorang manusia yang hidup sebagai milik Tuhan. Orang percaya harus selalu mengingat bahwa dirinya telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar (1Kor. 6:19-20). Ini berarti orang percaya tidak berhak lagi atas dirinya sendiri. Untuk hidup dalam pemerintahan Allah, yaitu dengan hidup dalam kendali-Nya, bukan sesuatu yang mudah. Orang percaya akan merasakan betapa sulit dan sukarnya hidup dalam kendali Allah, terutama pada waktu gagal berkali-kali untuk hidup dalam kesucian. Hendaknya orang percaya tetap tekun dan tidak menyerah. Tuhan masih memberikan kesempatan untuk hidup dalam pengendalian-Nya secara penuh.
     
    Banyak orang yang sadar akan banyaknya kegagalan yang telah dialaminya pada masa lalu, yaitu gagal untuk hidup dalam pengendalian Allah. Kegagalan tersebut nyata dalam bentuk berbagai perbuatan yang tidak dikehendaki oleh Allah; hidup dalam kehidupan yang tidak bersih. Banyak orang Kristen harus menuai akibat persemaian dan taburan masa lalunya. Hal ini bisa membuat orang tersebut putus asa. Harus diingat, bahwa dalam kesabaran Tuhan, orang percaya masih diberi kesempatan selama masih memiliki tekad untuk berubah. Untuk ini, ada beberapa saran yang dapat diberikan. Pertama, tetap giat untuk mencari kehendak Allah untuk dilakukan. Inilah sebenarnya yang dimaksud mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, yaitu hidup dalam pemerintahan Allah, bukan pemerintahannya sendiri. Kedua, menyadari dan menghayati bahwa seluruh kehidupan ini adalah milik Tuhan yang harus dipersembahkan bagi kepentingan-Nya secara penuh. Ketiga, haus akan Allah untuk menikmati Dia sebagai pribadi yang hidup dan nyata. Bukan hanya menikmati berkat-berkat jasmani semata-semata, tetapi yang dinikmati adalah hadirat-Nya.
     
    Di tengah-tengah keadaan putus asa atau setengah putus asa, orang percaya harus selalu bergantung kepada Allah yang menjadi andalan hidup ini. Orang percaya hidup di bawah bayang-bayang pemerintahan Allah yang menaunginya. Keyakinan terhadap pemerintahan Allah memberi kekuatan batin yang hebat dalam keadaan-keadaan sulit yang dihadapi orang percaya. Selanjutnya, ketergantungan kepada Allah memberi pengharapan dalam meniti perjalanan hidup di dunia ini, yaitu dapat semakin sempurna, dan harapan di balik kubur nanti yaitu kemuliaan bersama Kristus. Keyakinan bahwa ada pemerintahan di balik kekuatan manusia ini akan menjadikan hidup orang percaya digerakan oleh kesadaran bahwa ada Allah yang hidup yang menentukan segala sesuatu. Ini berarti bahwa Tuhanlah yang menaungi segala sesuatu. Kesadaran ini akan nyata dalam sikap hidup yang selalu merendahkan diri di hadapan-Nya untuk bergantung dan berharap sepenuh dalam segala sesuatu. Orang-orang yang bersikap seperti ini akan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Bagi orang-orang seperti ini, kehidupan ini tidak lengkap tanpa Tuhan. Segala kesanggupan, kemampuan, dan kecakapan tidak artinya tanpa Tuhan yang menaunginya dan menjadi sumber kesukaannya.
     
    Kalau orang percaya menaruh pengharapan pada sumber lain, maka ini merupakan bentuk pengkhianatan yang mendatangkan kutuk. Orang-orang menaruh pengharapan pada sumber lain tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di dalam hidupnya. Mereka terpisah dari pemerintahan Allah.
    0 min
  • Pemerintahan Tuhan
    Orang percaya yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah berarti hidup dalam pemerintahan Allah. Orang percaya seperti ini akan selalu mencari kehendak Tuhan untuk dilakukan. Sebelum seseorang mengenal pemerintahan Tuhan, ia hidup sesuka hatinya sendiri. Dirinya sendirilah yang menjadi tuan atas hidupnya. Inilah pemerintahan diri sendiri. Tetapi ketika menjadi orang percaya, ia harus hidup dalam pemerintahan Allah, maka ia harus sudah mulai mencari kehendak Tuhan untuk dilakukan. Masalah krusial yang harus disadari adalah bahwa perubahan dari pemerintahan diri sendiri kepada pemerintahan Tuhan merupakan sebuah proses. Proses ini adalah proses yang berat dan bisa menyakitkan, sebab untuk menurunkan si “aku” dari takhta bukan hal yang mudah. Inilah revolusi dalam kehidupan yang sangat penting untuk dialami. Revolusi ini berlangsung setiap hari. Jadi, tidak ada hari yang boleh bebas dari proses revolusi ini, itulah sebabnya revolusi tidak mengenal hari.
     
    Kesediaan untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dengan menerima pemerintahan Allah berlaku dalam hidup, akan berdampak atau nyata dalam sikap hidup setiap hari. Orang percaya seperti ini akan bertindak lebih berhati-hati dalam segala hal. Orang percaya harus selalu sadar bahwa dirinya bukan berada di daerah yang tak bertuan, tetapi di dalam wilayah pemerintahan Tuhan yang berhukum. Pada dasarnya, keyakinan dan penerimaan terhadap pemerintahan Allah dan kekuasaan-Nya bukan bertujuan untuk memanfaatkan Tuhan demi kepentingan diri sendiri terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi merupakan persiapan untuk hidup dalam pemerintahan Tuhan di Kerajaan-Nya nanti di langit baru dan bumi yang baru. Dengan demikian, seorang yang hidup dalam pemerintahan Tuhan mulai memberi diri dibelenggu oleh pemerintahan-Nya.
     
    Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah atau hidup dalam pemerintahan Allah sebenarnya adalah jalan kepada kemerdekaan hidup yang sejati. Sebab kalau seseorang tidak dibelenggu oleh Kerajaan Allah, maka berarti terbelenggu oleh kekuatan kerajaan lain. Kerajaan lain tersebut tentu saja adalah kerajaan kegelapan. Ini berarti kebinasaan. Jadi, kalau seseorang tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, berarti berpotensi mendatangkan atau menghadirkan kerajaan kegelapan. Oleh sebab itu, tidak bisa dihindari bahwa orang percaya harus mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah untuk hidup dalam pemerintahan-Nya. Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah untuk mengalami pemerintahan Tuhan adalah sebuah kehidupan yang menyerah kepada pengaturan Allah sepenuhnya. Berarti, tidak seseorang pun yang menyatakan diri percaya kepada Yesus dan mengucapkan Doa Bapa Kami, yang boleh lagi mengatur dirinya sendiri. Ia harus memberi diri diatur oleh Allah secara mutlak dan absolut. Kalau orang percaya sampai pada level kehidupan seperti ini, maka hal itu menunjukkan kedewasaan rohani yang menyenangkan hati Bapa.
     
    Tidak sedikit orang Kristen yang hidupnya di bawah pengaturan diri sendiri, tetapi mereka tidak menyadari keadaan mereka yang berbahaya tersebut. Biasanya orang-orang seperti ini disesatkan oleh roh-roh jahat, sehingga mereka tidak mengerti kehendak dan rencana Allah dalam hidup mereka untuk digenapi. Penyesatan ini bukan hanya terjadi secara individu, tetapi juga secara komunitas. Hal ini nampak pada gereja-gereja yang memiliki segudang program yang tidak dikonfirmasikan dengan Allah. Mereka tidak sungguh-sungguh menggumuli setiap program di hadapan Allah. Mencari kehendak Allah dengan mendengar suara Tuhan sudah digantikan sistem lain yang dianggap lebih canggih, yaitu pola kerja hasil karya rasio manusia.
     
    Dalam kehidupan pribadi, tidak banyak orang yang mendiskusikan rencana-rencana dan keinginan-keinginan hatinya dengan Tuhan. Banyak orang berjalan sesuai dengan selera, perhitungan, dan keinginannya sendiri. Dengan sesuka hati mereka sendiri tanpa mempertimbangka...
    0 min
  • Konsep Yang Salah
    Dalam Injil, terdapat beberapa peristiwa dimana Yesus hendak diangkat menjadi raja oleh orang-orang Yahudi, yaitu pada waktu Tuhan Yesus secara ajaib memberi makan 5000 orang (Yoh. 6:15). Berikutnya, pada waktu Tuhan Yesus masuk Yerusalem. Orang-orang Yahudi ini mengharapkan Tuhan Yesus dapat tampil sebagai pemimpin mereka melawan bangsa Romawi. Orang-orang Yahudi tidak tahu bahwa Kerajaan yang akan dibangun oleh Tuhan Yesus adalah Kerajaan yang bukan datang dari dunia ini (Yoh. 18:36). Kenaikan Tuhan Yesus membuktikan dan menunjukkan bahwa sesungguhnya Kerajaan dan diri Tuhan Yesus Kristus sendiri bukan dari dunia ini (Yoh. 17:14). Suatu hari nanti, Tuhan Yesus akan datang kembali membawa orang percaya ke tempat yang telah disediakan Tuhan dan Tuhan pasti membangun Kerajaan-Nya di langit baru dan bumi yang baru (Yoh. 14:1-3).
     
    Kalau melihat kehidupan orang-orang Kristen hari ini, nampaklah banyak di antara mereka yang memiliki sikap dan pandangan yang sama seperti murid-murid Tuhan Yesus pada waktu itu. Mereka adalah orang-orang Kristen yang sudah lama menjadi Kristen, tetapi tidak mengenal kebenaran Allah secara memadai, bahkan banyak memiliki konsep yang salah. Dalam dunia pendidikan, murid-murid yang terbelakang dengan IQ rendah disebut sebagai retarded, atau bahkan sampai dipandang sebagai idiot. Kesalahan banyak orang Kristen sekarang sama dengan kesalahan murid-murid Yesus pada waktu itu, yaitu menuntut pemulihan atas segala aspek hidupnya secara jasmani sesuai dengan selera manusia. Mereka mencari Tuhan hanya untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, yaitu hanya menekankan pada pemulihan ekonomi, kesehatan, keluarga, pekerjaan, jodoh, keturunan, dan hal-hal lainnya. Biasanya yang diingini manusia adalah apa yang dapat dinikmati oleh fisik dan jiwa yang sudah kehilangan kemuliaan Allah. Inilah cara hidup yang diwariskan oleh nenek moyang dari generasi ke generasi berikutnya. Padahal cara hidup mereka bukan standar cara hidup anggota keluarga Kerajaan Allah.
     
    Seharusnya hal pemenuhan kebutuhan jasmani tidak menjadi masalah utama ketika orang percaya berurusan dengan Tuhan. Tuhan sudah menyediakan berkat jasmani untuk setiap orang, asal bertanggung jawab dalam hidup ini, yaitu bekerja keras, menjaga kesehatan, dan berhati-hati atau tidak ceroboh dalam setiap tindakan atau langkah hidup ini. Tuhan menghendaki agar orang percaya memberi perhatian kepada apa yang menjadi visi Tuhan, yaitu mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan manusia. Untuk ini, orang percaya harus dipersiapkan menjadi umat yang layak bagi Dia, yaitu bagaimana menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang baik, yang standarnya adalah kehidupan Yesus. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh menuntut dan mengharapkan hidup di dunia ini dapat menikmati kesenangan seperti model anak-anak dunia. Terkait dengan hal ini, kitab Roma mengatakan, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus” (Rm. 14:17). Kesehatan, ekonomi, rumah tangga, dan lain sebagainya bisa dipulihkan oleh Tuhan, tetapi hendaknya orang tidak hanya mempersoalkan pemenuhan kebutuhan jasmani.
     
    Hidup di dunia harus dipahami dan diterima hanya sebagai masa persiapan menyambut kehidupan yang sebenarnya, yang Tuhan rancang di langit baru dan bumi yang baru. Itulah kehidupan yang “penuh pengharapan” sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh firman Tuhan (1Ptr. 1:3-4). Hendaknya orang percaya tidak berpikir bahwa kekristenan akan memberi kontribusi, bantuan, atau keuntungan atas hidup hari ini bagi kehidupan jasmani dengan harapan hidup dapat dijalani lebih mudah. Justru menjadi percaya berarti memasuki proses agar layak menjadi anak-anak Allah yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah.
     
    Hidup seseorang yang disentuh oleh Injil dan berusaha mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah akan merasakan beratnya hidup ini.
    0 min
  • Bukan Kerajaan Israel Duniawi
    Dalam perikop Kisah Rasul 1:6-11 terdapat percakapan antara Tuhan Yesus dengan murid-murid-Nya setelah kebangkitan Tuhan Yesus, yaitu sebelum Tuhan Yesus naik ke surga. Percakapan itu dimulai oleh murid-murid yang bertanya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Pertanyaan ini juga sebenarnya merupakan harapan dan tuntutan yang selama ini mereka pendam dan menguasai pikiran mereka. Ketika Tuhan Yesus disalib, harapan itu pupus. Tetapi ketika Tuhan Yesus bangkit, harapan itu mekar kembali. Mereka sangat mengharapkan Tuhan Yesus memenuhi harapan dan tuntutan mereka. Dari pertanyaan tersebut, ada 2 hal penting yang harus diperhatikan: Pertama, kata “masa ini” yang dalam teks aslinya adalah en to krono, (Ing. at this time) dan yang kedua, kata “memulihkan” yang dalam teks aslinya adalah apokathistano (Yun.). Maksudnya, yang dipulihkan adalah kerajaan Israel.
     
    Dari tuntutan tersebut, nampak bahwa murid-murid Tuhan Yesus menghendaki agar pada masa mereka hidup di dunia ini, Tuhan membangun atau memugar kembali (apokathistano) kerajaan Israel. Kerajaan yang mereka maksudkan adalah kerajaan yang pernah dirintis oleh Saul kemudian dibawa oleh Daud dan Salomo ke zaman kejayaan dan puncak keemasannya. Dari pertanyaan tesebut di atas, jelas bahwa murid-murid masih belum mengerti visi dan misi kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia ini. Padahal, seharusnya mereka sudah mengerti, sebab mereka sudah belajar dari Tuhan Yesus mengenai banyak kebenaran selama tiga setengah tahun, siang dan malam. Di mana letak kesalahan murid-murid Tuhan Yesus ini?
     
    Kesalahan pertama, pemahaman mereka yang keliru mengenai pemulihan kerajaan Israel. Kerajaan Israel yang dipulihkan oleh Tuhan Yesus bukanlah pada waktu itu, waktu yang diingini oleh mereka, tetapi pada saat yang akan ditentukan oleh Bapa. Ini adalah kebiasaan manusia yang mau memiliki “waktu sendiri” bukan mengikuti waktunya Tuhan. Kedua, orang percaya tidak perlu tahu kapan Bapa mengadakan pemulihan itu. Tuhan Yesus berkata bahwa murid-murid tidak perlu tahu waktunya Bapa memulihkan kerajaan bagi Israel. Secara tidak langsung, Tuhan juga ingin menyiratkan ada yang lebih penting yang harus mereka tahu dan juga mereka harus kerjakan, yaitu menerima kuasa untuk menjadi saksi Tuhan sampai ke ujung bumi. Tidak ada mahkota tanpa salib. Mereka harus menjadi saksi menderita bagi Tuhan barulah dapat dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17).
     
    Ketiga, bahwa yang dipulihkan Bapa bukanlah kerajaan Israel duniawi seperti yang mereka harapkan dan maksudkan. Kerajaan memang ada tetapi bukanlah kerajaan versi manusia seperti yang dipahami oleh mereka selama ini. Kalau melihat sejarah, empat puluh tahun (sekitar tahun 70 Masehi) setelah percakapan antara Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya waktu itu (Kis. 1), Yerusalem dihancurkan oleh Jendral Titus dari Roma. Sejak saat itu bangsa Israel tidak lagi memiliki tanah air. Baru setelah selesai Perang Dunia Kedua—yaitu pada tanggal 14 Mei 1948—negara Israel berdiri. Ini berarti hampir 1900-2000 tahun mereka terusir dari negeri perjanjian, tanah air mereka, dan tidak memiliki tanah air.
     
    Sebenarnya kesalahan konsep mengenai kerajaan teokrasi (Allah yang memerintah) pada murid-murid Tuhan Yesus sudah lama terjadi. Tercatat dalam Injil berulang-ulang kejadian yang menunjukkan bahwa murid-murid belum mengerti kerajaan macam apa yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Pertama, tatkala Petrus melarang Yesus ke Yerusalem (Mat. 16:21-23). Mereka tidak menginginkan Tuhan Yesus mati disalib, sebab itu berarti harapan mereka memiliki pahlawan seperti Daud menjadi pudar. Kedua, tatkala mereka tidak mau menerima bahwa daging dan darah Yesus adalah makanan dan minuman (Yoh. 6:55-56). Karena hal ini, sebagian murid-murid Tuhan Yesus mengundurkan diri (Yoh. 6:66). Banyak orang-orang Yahudi pada zaman itu bermaksud menjadikan Yesus pahlawan atau juruselamat model mereka atau mesias model m...
    0 min
  • Hidup Dalam Gelap
    Kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah yang sejak semula memang sudah dirancang Allah Bapa untuk dikenakan dalam hidup manusia, hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang hidup pada zaman Perjanjian Baru. Firman Tuhan mengatakan bahwa dalam Firman atau Sang Logos ada hidup, dan hidup itu terang manusia (Yoh. 1:4). Hidup di sini adalah kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Di dalam diri Tuhan Yesus ada kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, kalau seseorang mengaku percaya kepada-Nya dan menyatakan bersedia mengikut Dia, ia harus memperagakan kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. “Terang” yang dimaksud oleh Injil Yohanes sesungguhnya adalah kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Jadi kalau firman Tuhan berbicara mengenai “berjalan atau hidup dalam terang” artinya kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah.
     
    Orang yang tidak mengenal Injil—seperti umat Perjanjian Lama—adalah kehidupan manusia yang belum mengenal terang. Mereka tidak memahami kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Kerajaan Daud adalah kerajaan teokrasi yang belum sempurna, sebab alat kerajaan mereka masih hukum dan kepala pemerintahan masih terdistorsi oleh manusia, belum pemerintahan Allah yang mutlak. Level kehidupan mereka dalam berurusan dengan Allah masih dalam taraf orang beragama seperti pada umumnya. Kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah tidak sama dengan kehidupan beragama seperti yang diterapkan bangsa Israel dengan agama samawinya. Kalau kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah cukup dengan aturan agama, maka Tuhan Yesus tidak perlu datang sebagai “Terang”. Orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup seperti yang Tuhan Yesus peragakan, bukan berdasarkan tokoh saleh dalam Perjanjian Lama, tetapi berdasarkan standar kehidupan yang diperagakan oleh Yesus.
     
    Kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah kehidupan ideal yang dalam segala geraknya mempermuliakan Allah (1Kor. 10:31). Kehidupan yang memuliakan Allah adalah kehidupan yang diperagakan oleh Tuhan Yesus. Bukan sekadar melalui atau dalam nyanyian, bukan pada liturgi atau misa, tetapi melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Berkenaan dengan ini, justru tata cara liturgi atau ritual agama apa pun bentuknya bisa berpotensi menyesatkan kalau dipahami keliru, sebab semua itu seakan-akan bisa menggantikan ruangan untuk memuliakan Tuhan. Pujian, sanjungan, dan penyembahan dengan gerak dan mulut bagi Tuhan justru menjijikkan kalau tidak disertai tindakan menyenangkan hati Allah dengan menjadi manusia yang berkenan kepada-Nya. Hanya orang yang memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah yang dapat berkenan di hadapan Allah.
     
    Banyak orang Kristen merasa bahwa ia sudah hidup benar dengan mengucapkan Doa Bapa Kami, dan sudah merasa sudah memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Apalagi kalau sudah mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja, mereka merasa bahwa mereka telah memiliki standar hidup yang diinginkan oleh Tuhan. Sangatlah keliru kalau gereja dan pemberita firman mengesankan bahwa hidup dengan cara demikian itu—yaitu ke gereja dan mengambil bagian dalam kegiatan gereja—berarti sudah memenuhi standar hidup yang Allah kehendaki, yaitu mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Sekalipun sudah bergereja dan mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja, tetapi kalau belum mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, berarti belum berkenan di hadapan Allah Bapa. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa orang harus berusaha masuk pintu sesak kalau mau selamat (Luk. 13:23-24).
     
    Kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah bukan terletak pada bagaimana hidup sesuai dengan hukum-hukum dan pera...
    0 min
  • Model Kehidupan Dalam Pemerintahan Allah
    Sebenarnya inti kekristenan adalah mengajarkan atau menunjukkan bagaimana memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah kehidupan standar bagi semua orang percaya. Hal ini sama dengan hidup dalam pemerintahan Allah. Inilah sebenarnya bentuk atau warna hidup ideal yang dikehendaki oleh Allah untuk dikenakan dalam hidup setiap manusia. Tentu saja sejak semula Allah sudah memiliki rancangan bagaimana seharusnya manusia menyelenggarakan hidup sesuai dengan rancangan Allah semula, yaitu hidup dalam pemerintahan-Nya.
     
    Kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah ini tidak dimiliki atau tidak pernah dimiliki manusia, sebab Adam belum pernah mencapai kualitas kehidupan seperti yang dikehendaki oleh Allah; semua manusia sudah berdosa dan tidak memiliki kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Berdosa artinya meleset atau tidak kena sasaran (Yun. Hamartia); kemelesetan tersebut membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Kehidupan manusia seperti ini tidak dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Dengan keadaan ini, manusia telah berkeadaan tidak menjadi manusia sesuai rancangan Allah semula.
     
    Peta yang jelas dari kehidupan orang yang tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah ditampilkan pertama kali oleh manusia yang berdosa, yaitu ketika praktik pembunuhan manusia pertama oleh saudaranya sendiri; Kain membunuh Habel (Kej. 4). Allah Bapa tidak pernah merancang kehidupan yang buas dan bengis seperti itu. Tindakan Kain membunuh adiknya adalah tindakan yang tidak memancarkan kemuliaan Allah. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, maksudnya bahwa manusia tidak memiliki kehidupan yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Allah adalah Allah yang berdaulat secara mutlak dan absolut. Kehendak Allah harus dituruti secara penuh atau sempurna. Jadi, ketika manusia Adam tidak mencapai standar yang Allah inginkan—yaitu mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah—maka Allah mengusir Adam dari Taman Eden.
     
    Memang bila ditinjau secara moral umum, manusia bukanlah manusia yang rusak dan menjadi biadab seperti hewan, tetapi bila ditinjau dari standar kesucian Allah dan maksud Allah menciptakan manusia—yaitu menjadi manusia yang sepikiran dan seperasaan dengan Bapa; menghormati Bapa dan melakukan kehendak serta rencana-Nya dengan sempurna—maka kebaikan yang dicapai oleh manusia belum memadai. Manusia memang masih bisa bermoral baik, tetapi kalau tidak memiliki standar kesucian Allah—yaitu memiliki kepekaan mengerti kehendak Allah apa yang baik, berkenan, dan yang sempurna—manusia tidak bisa hidup untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, standar hidup umat Perjanjian Lama, sesaleh apa pun, tidak bisa menjadi standar hidup orang percaya, dan mereka belum bisa mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidupnya. Mereka bisa menjadi umat Allah dan sebagian mereka bisa menjadi kekasih-kekasih dan sahabat Allah, tetapi mereka tidak bisa menjadi umat yang mencapai standar kesucian seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Kalau di dunia yang akan datang, mereka diperkenankan masuk “surga,” maka mereka tidak akan menduduki pemerintahan bersama-sama dengan Kristus (Rm. 8:17). Mereka akan menjadi anggota masyarakat bersama dengan banyak orang dari segala suku bangsa.
     
    Manusia yang tidak mencapai standar kesucian Allah—berarti belum hidup seperti yang dikehendaki oleh Allah—adalah manusia yang dinilai gagal. Gagal di sini bukan berarti manusia menjadi biadab seperti hewan, tetapi manusia berkeadaan tidak menjadi persis seperti yang Allah Bapa kehendaki, sebab standar yang Allah kehendaki adalah kehidupan yang diperagakan oleh Tuhan Yesus; pribadi yang mendatangkan dan menghadirkan Kerajaan Allah. Kehidupan Tuhan Yesus adalah kehidupan dalam ketaatan yang tidak bersyarat kepada Allah Bapa (Flp. 2:7-10),
    0 min
  • Usaha Yang Harus Maksimal
    Orang yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah orang yang berusaha hidup untuk berkenan di hadapan Allah. Hal ini bukan sesuatu yang mudah terjadi, apalagi otomatis berlangsung atau terjadi di dalam hidup ini. Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah perjuangan yang berat. Namun demikian, setiap orang percaya harus berusaha untuk hidup berkenan di hadapan Allah. Ketika seseorang baru mulai belajar hidup berkenan di hadapan Allah, dapat merasakan berat dan sakitnya membunuh keinginan dan kesenangan sendiri untuk melakukan kehendak Allah Bapa. Kesenangan itu bisa berupa seseorang atau sesuatu, kekayaan, kehormatan, kedudukan, kenikmatan makan minum atau pesta, libido seks, suatu hobi, perhiasan, gaya berpakaian, dan lain sebagainya. Kesenangan-kesenangan hidup ini menjadi seperti wilayah dalam kerajaannya yang tidak akan diserahkan kepada pihak mana pun.
     
    Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah berarti melepaskan kesenangan-kesenangan dunia, hal ini seperti mencabut nyawa. Sungguh sangat menyakitkan. Kesenangan yang paling dianggap tidak melanggar kehendak Tuhan adalah hidup wajar seperti manusia lain. Padahal kewajaran hidup seperti manusia pada umumnya adalah halangan utama untuk menyelenggarakan pemerintahan Allah atau mendatangkan Kerajaan Allah. Kalau seseorang mau sungguh-sungguh belajar mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah tahap demi tahap, maka akan dapat melakukan dengan mudah tanpa merasa sakit lagi, yaitu jika sudah memiliki pikiran dan perasaan yang sinkron dengan Allah Bapa. Proses melepaskan kesenangan sendiri ini dimulai dari hal-hal sederhana yang tidak sulit untuk dilepaskan. Tapi, pada akhirnya ia harus melepaskan kesenangan yang sudah menyatu dengan dirinya, yaitu kesenangan yang seharga dengan nyawanya atau hidupnya. Itu adalah kesenangan-kesenangan yang tidak mudah bisa dilepaskan.
     
    Kehidupan sebagai anak-anak Allah yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah adalah kehidupan yang tidak wajar menurut dunia. Ini adalah kehidupan yang tidak memiliki kesenangan dunia lagi, tetapi hanya mau menyenangkan hati Allah Bapa. Dalam hal ini, orang percaya harus bisa membuktikan kecintaannya kepada Tuhan, yaitu demi mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Orang percaya seperti ini akan sampai pada level tidak lagi memiliki kesenangan apa pun kecuali menyenangkan hati Tuhan. Inilah yang disebut sebagai perawan suci yang tidak menajiskan diri dengan “pasangan lain,” artinya tidak memiliki berhala (2Kor. 11:2-3).
     
    Banyak orang Kristen yang sebenarnya masih membangun kerajaannya sendiri, bukan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, tetapi mereka merasa sudah menempatkan hidupnya dengan benar di hadapan Allah. Mereka merasa sudah meninggalkan kesenangan dunia ini, padahal yang ditinggalkan hanyalah kesenangan-kesenangan kecil yang sangat mudah untuk dibuang. Di kedalaman hatinya masih bertakhta banyak kesenangan yang hanya Tuhan yang tahu, dan dirinya sendiri kalau sungguh-sungguh memperkarakannya di hadapan Tuhan. Kalau seseorang sungguh-sungguh berhasrat mau berkenan kepada Tuhan, maka Tuhan pasti membuka pikirannya untuk mengenali dirinya dengan benar. Tetapi kalau seseorang memang tidak berhasrat untuk itu, ia tidak akan pernah mengenali dirinya dengan benar dan tidak akan pernah berkenan kepada Tuhan.
     
    Untuk dapat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, seseorang bisa mengalami proses jatuh bangun, bahkan sering merasa gagal untuk menyenangkan hati Allah. Ketika mengalami kegagalan demi kegagalan tersebut, kadang merasa lelah dan mulai agak pesimis. Kadang-kadang muncul pikiran, mungkinkah bisa mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah di dalam hidupnya? Sejatinya, Allah sudah menyediakan semua fasilitas untuk bisa mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Fasilitas tersebut adalah Roh Kudus, Firman atau Injil, dan penggarapan Tuhan melalui segala peristiwa yang ter...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…