Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tugas Kehidupan
    Kehidupan ini bukan sesuatu yang gratis. Artinya, ada harga yang harus dibayar sebab manusia eksis atau ada tidak dengan sendirinya. Alam semesta dengan segala isinya yang menjadi fasilitas kehidupan ini juga eksis karena Allah yang menciptakan. Karena manusia eksis karena ada yang menciptakan, mau tidak mau dan tidak bisa tidak, manusia harus mengerti maksud atau tujuan dirinya diciptakan oleh Penciptanya. Manusia harus memenuhi maksud atau tujuan dirinya serta alam semesta ini diciptakan. Dalam hal ini, lebih baik seseorang tidak pernah menjadi manusia daripada menjadi manusia tetapi tidak mengerti maksud atau tujuan dirinya diciptakan dan tidak memahami tugas-tugas yang harus ditunaikannya. Manusia harus mempertanggungjawabkan hidupnya di pengadilan Tuhan di kekekalan. Jadi, apakah ia sudah membayar harga kehidupan ini menjadi persoalan terbesar dalam kehidupan setiap individu?
    Sejak semula, manusia pertama harus menghadapi segala rintangan kehidupan. Rintangan itu bukan hanya yang material, melainkan juga yang nonmaterial, bukan hanya yang fisik, melainkan juga yang metafisik. Justru, yang nonmaterial atau metafisik inilah yang lebih berat, yaitu Hillel ben Sachar atau Iblis dengan malaikat-malaikat yang terseret dalam pemberontakan melawan Allah (Yes. 14:12: Yeh. 28:18). Iblis dan malaikat- malaikatnya tidak taat, tidak menghormati dan memuliakan Allah, serta tidak mengabdi dan melayani Allah. Mereka tidak dapat dihukum sebelum ada pembuktian atas kesalahannya. Inilah tatanan Allah: sebagaimana tidak ada pelanggaran jika tidak ada Taurat (Rm. 4:15; 5:13). Dalam hal ini, Taurat adalah corpus delicti untuk membuktikan kesalahan manusia. Demikian pula, harus ada corpus delicti untuk membuktikan kesalahan Iblis. Kebutuhan corpus delicti seperti sebuah hukum atau tatanan yang tidak bisa tidak, harus diselenggarakan: rule of life.
    Manusia diciptakan untuk mengalahkan Iblis, yaitu dengan menunjukkan atau membuktikan kesalahannya. Untuk membuktikan kesalahan Iblis, agar bisa dihukum, memang harus ada mahkluk ciptaan yang memiliki kehidupan sesuai dengan maksud atau tujuan dirinya diciptakan atau dapat menempatkan diri secara benar di hadapan Penciptanya. Manusia diciptakan untuk membuktikan kesalahan Iblis yang memberotak tersebut. Dengan demikian, Adam sejatinya harus mencapai kehidupan yang taat, menghormati, memuliakan Allah serta mengabdi, dan melayani-Nya secara benar sehingga terjalin persekutuan yang ideal dengan Allah sebagai Bapa. Hal tersebut dapat menjadi bukti kesalahan Iblis yang tidak menempatkan diri secara benar di hadapan Allah Bapa.
    Inilah keistimewaan makhluk manusia, yaitu dirancang menjadi alat untuk dapat membuktikan kesalahan Iblis atau menjadi corpus delicti. Jadi, salah satu tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk membinasakan pekerjaan Iblis. Inilah harga yang seharusnya dibayar oleh Adam, manusia pertama. Namun, Adam ternyata gagal memenuhi rencana Allah menjadi corpus delicti. Adam memberontak kepada Allah. Lalu, pada zaman penggenapan sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh Bapa, Anak Allah yang diberi nama Yesus—yang adalah Adam kedua atau Adam terakhir—berhasil menyelesaikan pekerjaan Bapa tersebut. Yesus berhasil menjadi “Anak Manusia” yang mencapai kehidupan yang taat, menghormati, memuliakan Allah, serta mengabdi dan melayani-Nya secara benar sehingga terjalin persekutuan yang ideal dengan Allah sebagai Bapa. Yesus berhasil menjadi corpus delicti. Orang percaya dan pengikut Yesus juga harus memiliki kehidupan seperti Yesus, menjadi corpus delicti, yaitu tugas yang gagal dipenuhi oleh Adam, nenek moyang manusia. Inilah harga yang harus dibayar oleh orang percaya, yaitu menjadi seperti Yesus sebagai corpus delicti.
    Orang percaya harus mencapai kehidupan yang taat, menghormati, memuliakan Allah, serta mengabdi dan melayani-Nya secara benar sehingga terjalin persekutuan yang ideal dengan Allah sebagai Bapa. Semua orang percaya semestinya juga dapat menjadi bukti kes...
    0 min
  • Persiapan Diri
    Banyak orang memiliki kecerdasan dalam mempersiapkan diri menghadapi segala sesuatu yang bisa terjadi di hari depannya di bumi ini. Sesuatu yang bisa terjadi tersebut mungkin adalah bencana alam, kecelakaan saat berkendara, kebakaran rumah, sakit tubuh, kehilangan barang karena dicuri atau dirampok, kebutuhan uang anak-anak sekolah, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya mereka mengasuransikan jiwa, kesehatan, dan segala sesuatu kepada agen-agen asuransi yang bisa menjamin, memberi bantuan, dan topangan bila hal-hal tersebut terjadi. Dengan mengasuransikan jiwa, kesehatan, dan segala sesuatu tersebut, seseorang merasa aman, hatinya lebih tenang. Asuransi dipandang seperti tangan kuat yang bisa menopang hidup mereka.
    Tentu tidak salah mengasuransikan diri, harta, dan lain sebagainya kepada perusahaan asuransi. Hal ini merupakan bagian dari tanggung jawab atas keadaan hidup yang serba tidak menentu. Segala sesuatu bisa berubah setiap saat di luar dugaan, prediksi, perhitungan, dan kekuatan manusia. Inilah dunia yang sudah jatuh, dunia yang tidak akan pernah dapat memberi ketenangan hidup. Dunia seperti ini bukanlah tempat hunian ideal. Dunia semacam ini bukanlah dunia yang dirancang Tuhan sejak semula. Semua kejadian yang bisa terjadi dalam hidup seseorang, yang oleh karenanya seseorang berurusan dengan perusahaan asuransi, adalah hal-hal yang masih bersifat spekulatif. Bersifat spekulatif artinya bisa terjadi tetapi juga bisa tidak pernah terjadi; seperti kecelakaan, kebakaran, dan lain sebagainya. Semua itu tidaklah pasti.
    Kalau untuk hal-hal yang tidak pasti seseorang bersedia mengasuransikan jiwa, kesehatan, dan segala sesuatu,—artinya bersikap berjaga-jaga sebagai antisipasinya— mengapa untuk satu hal yang pasti terjadi, yaitu “kematian” dan di balik kematian ada penghakiman, seseorang tidak mempersoalkannya dengan serius: dengan mempersiapkan diri lebih serius? Penghakiman terakhir nanti menentukan apakah seseorang diperkenan masuk kemuliaan kekal, yaitu Kerajaan Surga, atau terbuang masuk kehinaan kekal, yaitu terbuang dari hadirat Allah selamanya ke dalam api kekal. Kematian dan penghakiman yang menentukan seseorang masuk surga atau neraka adalah hal yang pasti harus dihadapi oleh setiap insan. Ini merupakan realitas yang tidak seorang pun dapat menghindarinya. Allah sendiri tidak dapat menghindarkan manusia dari realitas tersebut karena itu merupakan tatanan Allah yang ada di dalam diri-Nya, yang Allah sendiri tidak akan pernah menyangkalinya.
    Kalau untuk menghadapi segala sesuatu yang bisa terjadi dalam kehidupan ini— bertalian dengan hal-hal fana, yaitu pemenuhan kebutuhan jasmani—seseorang mengasuransikan diri—karena memang ada yang menanggungnya—namun untuk kehidupan setelah kematian, tidak ada asuransi yang bisa menanggung. Masing-masing individu harus menanggungnya, yaitu dengan cara mempersiapkan diri agar saat ia menghadap takhta pengadilan Kristus, ia dapat mempertanggungjawabkan dirinya dengan baik. Dalam Lukas 21:36 Yesus menyatakan, “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” Kata “berdiri” dalam teks aslinya adalah stathenai (σταθῆναι), dari akar kata histemi (ἵστημι), yang berarti stand firm (berdiri teguh).
    Maksud “berdiri teguh” di hadapan Anak Manusia sebagai hakim adalah bisa mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukan selama hidup di bumi ini, yaitu mengisi kehidupan sesuai dengan maksud Allah memberikan kehidupan. Hal mana ini sama artinya dengan memenuhi panggilan sebagai orang percaya atau anak tebusan Tuhan Yesus. Panggilan tersebut adalah menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti menjadi manusia yang berkodrat ilahi sama seperti Bapa. Inilah tujuan keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus. Hanya jika seseorang mencapai kehidupan seperti ini, barulah ia dapat menyenangkan hati Bapa.
    0 min
  • Waktu Menghadirkan Kerajaan Allah
    Proses mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah ada di dalam perjalanan waktu yang terbatas. Orang percaya harus memanfaatkan waktu hidup yang singkat ini untuk mewujudkan pemerintahan Allah di dalam dirinya. Terdapat beberapa fenomena dari apa yang dilakukan oleh Tuhan Semesta Alam, yang membuka mata pengertian untuk menemukan hakikat Tuhan dan hukum yang ditetapkan-Nya. Bahwa Tuhan dalam mengerjakan sesuatu selalu dengan ketat menggunakan prinsip “proses bertahap.” Inilah hakikat Tuhan dan hukum kehidupan yang ditetapkan-Nya. Hakikat Allah dan hukum yang ditetapkan ini harus diperhatikan dengan serius. Tuhan Yesus pun dalam karya penyelamatan-Nya ada dalam proses bertahap. Yesus bertumbuh sebagaimana insan manusia. Yesus harus mengajar selama tiga setengah tahun, Ia harus mati di kayu salib pada waktu yang ditentukan oleh Allah Bapa. Ia harus naik ke surga dan orang percaya harus meneruskan karya keselamatan-Nya sampai ke ujung bumi. Injil harus sampai ke ujung bumi barulah Tuhan menyudahi sejarah dunia ini. Tuhan Yesus datang dalam waktu yang ditentukan oleh Bapa.
     
    Dengan demikian, sangatlah jelas bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dengan perjalanan waktu. Manusia sadar atau tidak sadar, ada dalam perjalanan waktu. Manusia harus tunduk kepada hukum perjalanan waktu, sebab tidak seorang pun yang sanggup menghentikan perjalanan waktu ini. Setiap orang harus tunduk kepada perjalanan waktu yang telah diarunginya. Waktu menjadi anugerah bagi orang mengisi waktu hidupnya secara bijaksana (Ef. 5:15-17); sebaliknya waktu menjadi kutuk bagi orang yang mengisi hari-hari hidupnya dengan tidak bijaksana. Firman Tuhan mengataakan, “Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup, jadilah bijaksana, jangan seperti orang bebal atau tidak bijaksana.”
     
    Banyak kesempatan yang Tuhan berikan untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Kesempatan tersebut seperti sebuah kendaraan yang membawa orang percaya kepada kebenaran Allah. Dalam Efesus 5:16, Firman Tuhan mengatakan, “… pergunakanlah waktu yang ada.” Waktu yang Tuhan sediakan akan menjadi sangat berharga, kalau digunakan untuk belajar bagaimana hidup dalam pemerintahan Allah. Waktu tetap berjalan, tidak ada yang dapat menghentikannya. Setiap orang terseret oleh waktu itu. Tetapi orang percaya tidak boleh terseret oleh waktu untuk mengerjakan hal yang sia-sia; tetapi sebaliknya, waktu harus diseret untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah agar orang percaya hidup dalam pemerintahan Allah. Karenanya, sementara orang percaya ada di dalam perjalanan waktu, orang percaya mengarahkan diri ke tujuan yang benar, yaitu Kerajaan Allah (1Kor. 9:26). Waktu ini sangat singkat, artinya kesempatan untuk belajar mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dan hidup dalam pemerintahan-Nya sangat terbatas. Oleh sebab itu, waktu yang sisa ini harus digunakan dengan baik.
     
    Orang percaya diperhadapkan kepada momentum-momentum atau saat-saat yang sangat berarti untuk belajar mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah guna hidup dalam pemerintahan Allah. Oleh karena itu, harus disadari bahwa momentum-momentum tersebut sangat menentukan keadaan kekal seseorang; apakah di balik kuburnya akan hidup dalam pemerintahan Allah atau pemerintahan kuasa kegelapan. Kalau orang percaya menyadari hukum kehidupan ini—yaitu perjalanan waktu yang ketat—maka ia akan bersikap berhati-hati dalam menjalani hidup terkait dengan penggunaan waktu. Hukum tabur tuai juga berlaku dalam hal penggunaan waktu: Semua yang ditabur seseorang akan dituainya. Kalau Alkitab berbicara mengenai hukum tabur tuai dalam kehidupan orang percaya, sesungguhnya tidak terkait dengan uang atau berkat jasmani, tetapi menunjuk pada persoalan bagaimana mempersiapkan diri menuai kemuliaan bersama Kristus suatu hari nanti dalam Kerajaan-Nya. Dengan menyadari hukum ini, maka seseorang akan lebih cenderung tidak hidup ceroboh.
     
    0 min
  • Kemusafiran Hidup Orang Percaya
    Ketika seseorang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, maka ia menempatkan diri sebagai musafir atau orang yang menumpang di bumi ini. Dari sejak masa kanak-kanak, banyak orang telah terdidik memiliki pola berpikir anak-anak dunia. Mereka merasa bahwa dunia inilah satu-satunya kesempatan dan tempat yang dimiliki manusia untuk dapat dinikmati dan menjalani kehidupan. Mereka berpikir bahwa tidak ada kehidupan lain selain di bumi ini. Dengan demikian, mereka tidak mengharapkan ada kehidupan lain yang lebih baik. Cara berpikir seperti ini juga ada dalam kehidupan banyak orang Kristen. Kalau cara berpikir seperti ini tidak diubah, maka mereka akan terpenjara di dunia dan tidak memiliki naluri sebagai musafir. Orang-orang Kristen seperti yang tersebut di atas juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk menikmati dunia semaksimal mungkin. Demi menikmati dunia ini, mereka rela mengurbankan segala sesuatu. Bahkan pengiringannya kepada Tuhan pun tidak diperhatikan secara benar. Orang-orang seperti ini tidak berhasrat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dan hidup dalam pemerintahan-Nya.
     
    Rasul Petrus mengatakan bahwa sebagai orang percaya di bumi ini adalah “pendatang dan perantau” atau orang yang menumpang di bumi ini (1Ptr. 1:17; 2:11). Oleh karena langkanya atau tidak adanya pemberitaan mengenai hidup kemusafiran, maka banyak orang Kristen memandang hal kemusafiran ini sebagai sesuatu yang sangat asing atau bahkan aneh. Hal ini terjadi karena sudah sangat lama orang Kristen tidak mendengar ajaran ini. Kalau orang percaya tidak memahami pokok pengajaran ini, sulitlah menjadi orang percaya yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah. Perpindahan orang percaya ke Kerajaan Surga bukanlah dimulai nanti setelah kematian, tetapi harus dimulai sejak sekarang selama masih hidup di dunia.
     
    Orang yang tidak menjalani hidup kemusafiran dan memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga, tidak akan memiliki harta dalam Kerajaan Surga. Ini artinya tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga. Kebenaran ini harus mulai disuarakan dengan lantang sekarang; hendaknya telinga mendengar, setiap mata terbuka, dan setiap hati digetarkan agar jalannya yang sesat dikembalikan ke jalan yang benar menuju Kerajaan Surga. Selanjutnya, orang percaya harus mulai belajar untuk menghayati kehidupan sebagai musafir di dunia ini. Tanpa memiliki jiwa kemusafiran yang benar, seseorang tidak pernah memiliki iman seperti Abraham, berarti ia belum memiliki percaya yang benar kepada Tuhan Yesus.
     
    Abraham sebagai bapa orang percaya, menunjukkan model imannya yang menjadi teladan bagi orang percaya. Orang percaya harus memiliki jiwa kemusafiran seperti Abraham. Dalam hidupnya, Abraham memberikan segenap hidupnya disita oleh panggilan-Nya untuk menemukan negeri yang Tuhan akan tunjukkan. Sampai mati ia tidak melihat realisasi dari janji itu, tetapi ia mengakui bahwa Allah setia. Ia hanya melihat dari jauh negeri tersebut. Hal tersebut tidak mengurangi penyerahannya kepada Tuhan yang memberikan janji itu. Proses kemusafiran atau proses memiliki hati sebagai musafir inilah yang Tuhan juga kehendaki agar orang percaya jalani. Dengan kerinduan Paulus yang sangat kuat menantikan kedatangan Tuhan, membangun jiwa musafir di dalam dirinya. Ia dapat menghayati apa artinya “bukan berasal dari dunia ini” seperti yang dikatakan guru dan Tuhannya (Yoh. 17:16).
     
    Paulus sendiri menyadari bahwa ia adalah warga Kerajaan Surga (Flp. 3:20-21). Dengan ketidaktahuan bahwa Tuhan sebenarnya belum datang pada zamannya, menjadi cara Tuhan yang sangat efektif menjadikan Paulus sebagai model anak Allah yang berjiwa musafir di bumi ini. Pelayanan pekerjaan Tuhan bisa dikatakan sukses kalau anak-anak Allah memiliki jiwa musafir. Itulah tugas dan pekerjaan gereja; bagaimana merubah pola pikir jemaat yang duniawi menjadi pola pikir rohani sebagai musafir di bumi ini, dan menghayati bahwa mereka adalah warga Kerajaan ...
    0 min
  • Perjuangan Sebagai Laskar
    Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah berarti menjadi bagian dari pasukan atau laskar Kristus. Orang percaya harus menyadari bahwa peperangan dan ketegangan antara kerajaan kegelapan dan Kerajaan Terang semakin dahsyat menjelang akhir zaman ini. Orang percaya harus bersikap dan menentukan berdiri di pihak siapa. Banyak orang Kristen yang tidak menunjukkan sikap yang jelas berada di pihak siapa. Kalau orang percaya tidak memiliki sikap yang jelas di pihak siapa berdiri, itu berarti akan tergiring menjadi tawanan Iblis. Dalam Lukas 11:23 ditulis, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Dalam ayat ini dapat ditemukan ketegasan Tuhan agar orang percaya dapat mengetahui bagaimana posisinya hari ini di hadapan Allah.
     
    Orang percaya harus menyadari bahwa pemberontakan Iblis di hadapan Allah menyeret malaikat-malaikat ikut memberontak kepada Allah, peperangan berlanjut di muka bumi (Why. 12:1-4, 7-9). Peperangan beralih dari surga ke bumi ini. Iblis berusaha menyeret sebanyak mungkin manusia untuk mengikuti jejaknya: memberontak atau melawan Allah. Ini merupakan gerakan Iblis yang terus berlangsung sampai hari ini. Manusia harus menyadari hal ini (1Ptr. 5:9). Ketika Kerajaan Allah datang dan orang percaya hidup dalam pemerintahan-Nya, secara langsung hal itu memperhadapkan orang percaya kepada suatu pilihan, yaitu berdiri di pihak Allah atau di pihak musuh.
     
    Kerajaan Allah didatangkan atau dihadirkan oleh Tuhan Yesus merupakan isyarat dimulainya sebuah peperangan besar, yaitu peperangan untuk membinasakan pekerjaan Iblis dan mengembalikan manusia kepada pemiliknya, yaitu Allah. Sebagaimana Iblis mendayagunakan segala kekuatan dan pengikutnya untuk melawan Allah, demikian pula Tuhan Yesus mendayagunakan kekuatan-Nya dan pengikut-Nya untuk menghancurkan pekerjaan Iblis (1Yoh. 3:8). Pengikut Yesus adalah orang percaya yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, yang juga adalah anggota keluarga Kerajaan Allah. Orang percaya disebut sebagai “laskar Kristus”, berarti harus memiliki kegiatan hidup yang tidak henti sebagai laskar milik Allah Bapa sampai menutup mata.
     
    Orang percaya dipanggil untuk masuk peperangan yang dimulai dalam diri sendiri. Orang percaya harus menghentikan kepemilikan kuasa kegelapan atas dirinya atau dari karakter buruk yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Jika kemerdekaan atau kelepasan sudah sampai pada tahap tertentu, barulah kemudian Tuhan memakai orang percaya tersebut untuk melepaskan manusia lain dari cengkeraman kuasa kegelapan. Peperangan tersebut dimulai dari pikiran setiap orang percaya. Siapa atau apa yang paling banyak mewarnai pikiran seseorang, dialah pemenangnya. Apakah seseorang memberi peluang bagi Tuhan sebagai pemenang untuk memiliki kehidupan ini atau kuasa lain yang memilikinya. Hal ini tergantung kepada masing-masing individu. Kalau seseorang memberi diri untuk dimiliki oleh Allah, berarti harus mengisi pikirannya dengan kebenaran firman Allah yang murni, sehingga ia dapat mengerti kehendak Allah dan melakukannya sehingga hidup dalam penguasaan Allah. Ini adalah prestasi yang baik untuk kekekalan. Harus diperhatikan bahwa seseorang tidak bisa melepaskan orang lain sementara dirinya sendiri masih terikat kuasa kegelapan atau terbelenggu dengan kodrat dosa. Hamba Tuhan yang masih terikat materialisme dan terikat dengan berbagai keinginan daging, tidak akan dapat melayani orang lain dengan benar.
     
    Setelah orang percaya menjadi anak Allah yang menaklukkan diri sendiri, masih ada perjuangan berat yang dijalani, yaitu perjuangan menghadapi musuh, yaitu penghulu roh-roh di udara. Kalau sebelumnya seseorang berdiri di pihak musuh—yaitu bersikap melawan Tuhan—tetapi sekarang berdiri di pihak Tuhan, maka ia harus hidup dalam kebenaran Tuhan. Ini berarti orang percaya tersebut menjadikan dirinya sebagai musuh penghulu roh-roh di udara.
    0 min
  • Peranan Orang Percaya
    Kalimat dalam Doa Bapa Kami: “Datanglah Kerajaan-Mu” berarti panggilan untuk mewujudkan kehadiran atau kedatangan Kerajaan Alah secara fisik, yaitu diakhirinya petualangan Iblis dan kedatangan Tuhan Yesus kedua kali. Bagaimana itu bisa terjadi dan apa peranan orang percaya dalam hal ini? Dalam 2 Petrus 3:11-14 terdapat pernyataan bahwa orang percaya dapat mempercepat kedatangan hari Allah. “Hari Allah” maksudnya adalah hari di mana Tuhan mengakhiri sejarah dunia. Ini berarti petualangan Iblis atau Lusifer diakhiri. Iblis dengan pengikutnya dibuang ke dalam kegelapan abadi. Firman Tuhan mengatakan bahwa “pada hari itu” langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Inilah yang dikatakan oleh Wahyu bahwa bumi akan menjadi lautan api (Why. 15:20). Pada hari penghukuman tersebut, Iblis dan para malaikatnya serta manusia durhaka akan dihukum di lautan api tersebut; sedangkan orang percaya akan diangkat Tuhan ke dalam kemuliaan Kerajaan Surga. Itulah hari pengangkatan yang dirindukan oleh orang percaya yang benar; yang telah mengorbankan nyawa mereka untuk pekerjaan Tuhan. Pengangkatan tersebut telah diperagakan oleh Tuhan Yesus, ketika Ia naik ke surga disaksikan oleh banyak orang (Kis. 1:9-10). Hal ini mengisyaratkan fakta dan model pengangkatan orang percaya suatu hari nanti.
     
    “Hari Allah” adalah hari yang paling mengerikan bagi Iblis dan para malaikat yang memberontak. Mereka berusaha agar hari itu bisa ditunda selama mungkin. Untuk itu, Iblis dan pengikutnya berusaha menghambat terlaksananya eksekusi hukuman atas diri mereka. Dengan cara bagaimanakah mereka menghambat hari Allah itu? Dengan cara mencegah orang percaya agar tidak memiliki kehidupan yang saleh, tidak bercacat, dan tidak bercela (2Ptr. 3:11,14). Dengan kehidupan yang tidak bercacat tidak bercela, berarti menjadi seperti Tuhan Yesus. Menjadi seperti Tuhan Yesus berarti bisa menjadi corpus delicti (fakta yang menunjukkan bahwa suatu kesalahan telah dilakukan). Itu yang menjadi kunci untuk mengalahkan Iblis. Iblis telah terbukti berbuat salah oleh penampilan kehidupan Tuhan Yesus yang hidup dalam ketaatan kepada Bapa di surga. Alkitab menunjukkan bahwa bukan hanya Tuhan Yesus yang dapat menjadi corpus delicti, tetapi anak-anak Allah pun juga bisa oleh kehidupannya yang tidak bercacat dan tidak bercela. Jika jumlah orang-orang yang menjadi corpus delicti cukup atau genap, maka sejarah Iblis akan diakhiri, sejarah dunia berakhir, dan Kerajaan Allah secara fisik diwujudkan di langit baru dan bumi yang baru (Why. 6:11).
     
    Kata “mempercepat” dalam teks aslinya adalah speudo (Yun. σπεύδω), yang selain berarti mempercepat juga berarti mendesak. Memang sulit dimengerti bahwa waktu Tuhan bisa dipengaruhi oleh manusia atau faktor eksternal Allah. Tetapi hal ini bisa dimengerti kalau memahami bahwa akhir sejarah dunia ini menunggu lengkapnya atau genapnya jumlah orang yang tidak menyayangkan nyawa karena pengiringan kepada Tuhan Yesus. Hal ini didasarkan pada pernyataan Tuhan dalan Wahyu 6:11, ketika dipertanyakan sampai kapan penderitaan yang dialami oleh orang percaya berhenti. Tuhan menjawab sampai jumlah orang yang dibunuh atau mati karena iman dan pelayanan sudah genap. Dalam hal ini, dapat dimengerti mengapa Iblis masih bekerja keras sebisa-bisanya untuk dapat mencegah orang percaya menjadi seperti Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya untuk kemuliaan Allah Bapa. Bagi Iblis, orang-orang baik tidak membahayakan dirinya, tetapi orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk memiliki kualitas hidup seperti Tuhan Yesus sangat menakutkannya. Semakin banyak orang percaya diproses semakin seperti Tuhan Yesus, semakin cepat sejarah dunia berakhir dan Iblis dihukum.
     
    Hal ini penting untuk diperhatikan bahwa yang bisa mengalahkan Ibl...
    0 min
  • Ketaatan Yang Menyelamatkan
    Dalam Alkitab, dapat dijumpai usaha Iblis untuk menghindarkan dan mencegah Yesus dari kematian di kayu salib. Tetapi Yesus dalam integritas-Nya yang tinggi tetap taat sampai mati di kayu salib untuk menyelesaikan tugas penyelamatan. Pertama, Iblis berusaha mencegah Yesus memikul salib dengan cara menawarkan keindahan dan kemuliaan dunia (Luk. 4:5-8). Berikutnya, Iblis memakai nama Allah melalui Petrus yang mencegah Yesus ke Yerusalem (Mat. 16:21-23). Selanjutnya, beberapa kali Tuhan Yesus hendak diangkat menjadi raja oleh orang-orang Yahudi (Yoh. 6:15; 12:1-13). Iblis menjanjikan hidup tanpa penderitaan di bumi. Yesus menolak. Di Taman Getsemani Yesus menghadapi pergumulan antara melakukan kehendak Bapa atau kehendak-Nya sendiri (Mat. 26:38-44). Yesus juga menghadapi situasi dimana Ia bisa memanggil malaikat-malaikat-Nya untuk menyelamatkan diri-Nya dari pasukan Roma yang menangkap-Nya (Mat. 26:53). Tetapi Yesus tetap pada pendirian-Nya, yaitu minum cawan (penderitaan) yang harus dialami-Nya. Akhirnya, di kayu salib, Ia bukan tidak bisa turun dari salib ketika Yesus ditantang untuk turun dari salib (Mat. 27:40-42). Yesus mampu melakukannya, tetapi Ia tetap teguh dengan pendirian-Nya, mati di kayu salib.
     
    Kematian Yesus di kayu salib dalam ketaatan kepada Bapa di surga adalah kematian yang sangat mengerikan bagi Lusifer. Karena dengan hal itu ia terbukti bersalah dan hukumannya ditentukan. Ada semacam “rule of the game” dalam pergulatan antara Kerajaan Terang dan kerajaan kegelapan. Kalau ada yang bisa melakukan kehendak Bapa dengan sempurna, berarti Lusifer kalah dan harus dihukum; tetapi kalau tidak ada, maka Lusifer beroleh kemenangan. Ia akan menguasai jagat raya, manusia, dan Tuhan Yesus Kristus sendiri. Adam terakhir yang ditampilkan oleh Allah Bapa adalah Yesus. Kalau Tuhan Yesus gagal, maka tidak bisa dibayangkan betapa rusaknya jagat raya ini. Bisa-bisa surga dan bumi dalam kekuasaan Lusifer. Lusifer bisa menjadi “Bintang Timur” yang gilang gemilang, artinya akan menerima kekuasaan seperti yang diingininya. Tetapi kemenangan Tuhan Yesus menjadikan Ia berhak memproklamasikan kekuasaan-Nya bahwa segala kuasa di surga dan di bumi dalam tangan-Nya dan Ia adalah Bintang Timur yang gilang gemilang itu (Why. 22:16).
     
    Kalau Yesus bisa dicegah atau dihindarkan dari kematian salib, yang juga berarti menghindari ketaatan kepada Bapa, berarti itu kemenangan bagi Lusifer. Dalam hal ini nyata bahwa kehidupan Yesus seperti sebuah gelanggang pertandingan untuk menemukan siapa yang akan menjadi pemenang. Yesus adalah pertaruhan Allah Bapa. Kalau Ia kalah, berarti tidak ada keselamatan atas umat ciptaan-Nya. “Kalah” di sini maksudnya bahwa Yesus gagal hidup dalam ketaatan yang sempurna kepada Bapa di surga (Ibr. 2:9). Dalam hal ini, betapa berat beban yang dipikul oleh Yesus dalam tugas penyelamatan manusia. Ia harus menang untuk menjadi Tuhan “bagi kemuliaan Allah Bapa” (Flp. 2:11).
     
    Kalau selama ini orang percaya memahami mengenai darah Yesus yang berkuasa, salib yang adalah puncak karya keselamatan dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah bukti kemenangan-Nya atas maut. Banyak orang Kristen terpaku pada “kuasa Allah yang luar biasa” yang membuat semua itu terjadi. Sebenarnya, di balik semua karya Allah tersebut, ada satu kata penting yang menjadi kuncinya. Kata itu adalah “ketaatan” Yesus kepada Bapa. Iblis tidak takut darah Yesus sebelum Ia menaati Bapa sampai mati di kayu salib. Karena ketaatan-Nya kepada Bapa, maka darah Yesus bisa mengusir Iblis dari lingkungan para malaikat di surga (Why. 12:9-11). Salib tidak ada artinya kalau Yesus tidak taat kepada Bapa, dan tidak akan ada kebangkitan tanpa kesalehan atau kesucian yang memenuhi standar Allah.
     
    Hanya oleh darah Anak Domba, yaitu darah Yesus, yang bisa mengalahkan Iblis (Why. 12:10-11). Jadi, yang membuat Yesus berhasil menyelesaikan tugas-Nya adalah ketaatan-Nya,
    0 min
  • Mengalahkan Iblis
    Firman Tuhan mengatakan bahwa suatu saat semua musuh akan tunduk di bawah kaki Tuhan Yesus (1Kor. 15:27; Ef. 1:22; Flp. 2:10). Bagaimana musuh, yaitu Iblis, bisa dikalahkan? Kalau diteliti dengan cermat, Alkitab bukan hanya menunjukkan adanya hukum dalam arti perintah atau peraturan atau syariat, tetapi hukum dalam arti kodrat atau natur atau ketetapan. Hukum ini disebut sebagai hukum kehidupan atau hukum rohani. Hukum kehidupan menyangkut ketetapan yang Allah tentukan yang berasal dari diri pribadi Allah Bapa yang Mahakudus, Maha Bijaksana, dan Mahaadil. Dalam hukum kehidupan tersebut terdapat ketetapan-ketetapan yang harus dihargai baik oleh pihak Allah maupun pihak manapun atau siapa pun. Allah juga konsekuen atas hukum yang ditetapkan-Nya tersebut yang menjadi semacam rule of the game dalam kehidupan ini. Dengan memahami hukum dalam pengertian yang kedua, maka akan ditemukan jawaban mengapa Allah menciptakan manusia, mengapa harus ada dua buah pohon di Taman Eden, mengapa Yesus harus mati, apa arti kebangkitan-Nya itu, dan lain sebagainya. Juga tatanan mengenai bagaimana membinasakan Lusifer yang memberontak kepada Allah.
     
    Ketika Lusifer memberontak, mengapa Allah tidak segera menghukum dan membinasakan? Sulit dibantah, bahwa terkesan tidak mudah dapat menaklukkan Lusifer. Mengapa Allah tidak melakukannya? Memang di kitab Yehezkiel, terdapat catatan seakan-akan atau terkesan Allah langsung membuang Lusifer, tetapi kalau diamati dengan teliti ayat-ayat itu menunjuk ringkasan dari akhir hidup Lusifer. Di dalam ayat-ayat tersebut tidak diungkapkan mekanisme pengusiran tersebut (Yeh. 28:16-19). Ternyata pada akhirnya bukan malaikat-malaikat Allah yang bisa mengalahkan Iblis, tetapi darah Tuhan Yesus dan perkataan kesaksian mereka yang dikatakan “tidak menyayangkan nyawanya.” Orang-orang yang tidak menyayangkan nyawa ini menunjuk orang percaya yang mengikuti gaya hidup Tuhan Yesus (Why. 12:11). Jawaban mengapa Allah tidak bisa membinasakan Lusifer seketika itu adalah karena Allah memiliki aturan. Allah tidak akan pernah bertindak tanpa aturan; Allah adalah Pribadi yang adil, Allah yang tertib, Allah yang memiliki sistem dan aturan. Allah tidak akan pernah bertindak secara sembarangan tanpa aturan, tanpa hukum atau rule. Di dalam diri-Nya ada hukum, aturan, sistem, atau kebijakan-kebijakan dari kecerdasan-Nya yang tiada batas.
     
    Mengapa Lusifer saat memberontak tidak segera dihukum? Sebab tindakan Lusifer belum bisa dikatakan salah, sebab tidak ada verifikasi atau pembuktian bahwa Lusifer bersalah. Harus ada semacam “corpus delicti”, yaitu fakta yang membuktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan. Dari apa yang dipaparkan Roma 4:15; 5:13 jelas sekali dapat membuka pikiran orang percaya untuk memahami bahwa Allah bertindak dengan aturan yang sempurna. Seperti misalnya dalam menunjukkan kesalahan dan menghukum harus ada pembuktian. Itulah sebabnya Taurat diberikan juga untuk membuktikan bahwa manusia terbukti bersalah. Jika tidak ada Taurat, berarti tidak ada pelanggaran (Rm. 4:15; 5:13). Demikian pula Lusifer yang jatuh, tidak akan terbukti bersalah sebelum ada pembuktiannya, yaitu adanya makhluk yang memiliki ketaatan dan penghormatan yang benar kepada Allah dan memiliki persekutuan dengan Dia secara benar. Makhluk yang memiliki ketaatan kepada Bapa itulah semacam “corpus delicti.” Istilah ini dipakai untuk menunjukkan mekanisme tindakan Allah terhadap Lusifer.
     
    Untuk membuktikan kesalahan Lusifer agar ia pantas dihukum, harus ada mahkluk yang diciptakan oleh Allah yang memiliki segambaran dengan Allah yang bisa hidup dalam persekutuan dengan Allah. Karena hal tersebut, maka manusia yang diciptakan tentu diharapkan dapat menampilkan suatu kehidupan yang bersekutu dengan Bapa; taat, menghormati, memuliakan Allah dan meninggikan Allah Bapa, serta mengabdi dan melayani-Nya secara pantas. Hal itu menjadi pembuktian terhadap kesalahan Iblis sehingga bisa dihuku...
    0 min
  • Menemukan Hati Bapa
    Pada dasarnya, mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah sama dengan menemukan hati Bapa. Menemukan hati Bapa sama dengan menjadi anak kesayangan dan anak kesukaan Allah karena melakukan kehendak dan rencana-Nya. Menemukan hati Bapa artinya bisa menikmati Allah Bapa dan dinikmati oleh Dia. Menemukan hati Bapa adalah relasi berkualitas antara Bapa dan anak-anak Allah sebagaimana mestinya yang diinginkan oleh Bapa. Relasi yang diinginkan Bapa bisa terjadi dalam hidup setiap orang percaya, yaitu kalau orang percaya tidak lagi merasa memiliki sesuatu yang dapat membahagiakan hidup kecuali kehadiran Bapa dalam hidupnya. Mestinya tidak ada lagi yang orang percaya perjuangkan untuk dimiliki selain mengerti kehendak Bapa dan melakukan kehendak Bapa. Hal ini satu-satunya yang bisa menyenangkan hati Bapa.
     
    Bapa menghendaki agar orang percaya sebagai anak-anak-Nya menemukan hati Bapa, karena memang orang percaya adalah anak-anak-Nya. Sesungguhnya, ini adalah hal yang lebih luar biasa dari segala hal. Sesungguhnya, Bapa yang sering disebut-sebut dalam doa dan nyanyian-nyanyian adalah Pribadi yang hidup dan mestinya sangat nyata, sehingga orang percaya dapat merasakan dan mengalami-Nya secara berlimpah. Banyak orang Kristen menyebut nama Bapa hanya sebuah fantasi dalam pikiran mereka. Bahkan mereka bisa berbicara banyak mengenai Bapa dan mendiskusikan-Nya, tetapi Bapa hanya menjadi wacana di nalar mereka semata-mata. Sejatinya, mereka tidak mengalami dan tidak bersentuhan dengan Bapa sama sekali. Pengetahuan teologi mengenai Bapa sekadar wacana yang tidak pernah dialami dalam kehidupan konkret; hanya tersimpan secara literal. Orang percaya yang berusaha mengalami realita Bapa—sama dengan berusaha mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah—dapat menemukan hati Bapa.
     
    Banyak orang Kristen merasa sudah memiliki hubungan yang berkualitas baik dengan Bapa, padahal hubungan mereka belum berkualitas sama sekali atau belum proporsional atau belum dewasa. Hubungan mereka dengan Bapa hanya sama seperti hubungan anak balita dengan ibunya. Mestinya, orang percaya bertumbuh sampai mengerti kehendak Bapa, sehingga yang dipersoalkan dalam berurusan dengan Bapa bukan lagi kebutuhan-kebutuhan dan berbagai masalah pribadi, tetapi bagaimana menemukan kehendak Bapa untuk dilakukan dan kehadiran Roh-Nya untuk dinikmati sejak hidup di bumi sampai menutup mata nanti. Orang yang menemukan hati Bapa, tidak lagi merasa bahwa dunia ini rumahnya. Orang percaya seperti ini memiliki kerinduan yang sangat kuat pulang ke rumah Bapa. Selain merindukan kehadiran Bapa di rumah-Nya, juga bisa bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus.
     
    Ketika hati seseorang tertarik kepada sesuatu yang membuatnya tidak memedulikan perasaan Bapa, sesungguhnya dirinya memiliki bapa yang lain. Mereka mengikatkan hatinya kepada banyak hal yang dijadikan berhala, tetapi mereka merasa hal itu sebagai kewajaran, karena semua orang juga melakukan hal tersebut. Mereka merasa berhak memiliki kesukaan tanpa mempersoalkan apakah Bapa menyukai hal tersebut atau tidak. Dengan cara hidup seperti itu, mereka tidak membangun sikap hati atau kecerdasan untuk menemukan hati Bapa. Orang tersebut menyakiti hati Bapa, seperti yang telah dilakukan banyak orang Kristen yang tidak setia. Kalau orang tersebut tidak bertobat, maka suatu saat Tuhan akan menghukum dan mencampakkan mereka ke dalam kegelapan, terpisah dari hadirat Bapa selamanya. Kalau malaikat-malaikat yang memberontak kepada Allah saja tidak disayangkan, mereka dicampakkan dari hadapan Tuhan, maka orang-orang yang tidak setia juga akan diperlakukan sama. Orang-orang Kristen seperti itu tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dan tidak hidup dalam pemerintahan-Nya.
     
    Banyak orang Kristen tidak menyadari betapa istimewa menjadi anak-anak Allah yang berpotensi menemukan hati Bapa. Allah Bapa memberikan Roh-Nya agar orang percaya belajar bagaimana menemukan hati B...
    0 min
  • Melihat Dasyatnya Kekekalan
    Banyak orang Kristen tidak berminat mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, sebab tidak mengerti betapa dahsyatnya neraka. Seandainya mereka melihat kedahsyatan kengerian neraka, maka mereka pasti akan rela berusaha mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah sekarang, sementara masih hidup di bumi ini dan hidup dalam pemerintahan-Nya. Kengerian neraka adalah terpisahnya manusia dari Allah yang benar. Itu adalah keadaan yang sangat mengerikan, yang tidak dapat digambarkan dan dijelaskan sekarang ini kepada semua orang dengan cara bagaimanapun. Sekarang ini, banyak orang belum melihat dan tidak tahu kedahsyatan kengerian neraka, sehingga mereka menganggap remeh realitas neraka tersebut.
     
    Cara hidup banyak orang menunjukkan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh menjauhi api kekal. Sebaliknya, banyak orang tanpa sadar malah semakin mendekat. Keadaan ini bukan saja dialami oleh orang-orang di luar gereja, tetapi juga dialami atau dilakukan oleh banyak orang Kristen yang mengaku sebagai umat Tuhan. Kuasa jahat berusaha keras agar realitas mengenai neraka lenyap dari pikiran, bahkan dianggap tidak pernah ada, supaya orang-orang Kristen menjadi sekutunya dan terseret ke tempat celaka tersebut. Harus disadari, sebenarnya banyak orang telah terpengaruhi oleh cara hidup anak dunia yang tidak mengenal kebenaran, sehingga tidak menyadari sepenuhnya kedahsyatan kengerian neraka. Itulah sebabnya banyak orang tidak sungguh-sungguh menghindarinya. Sekarang ini, tidak banyak pembicara mengkhotbahkan mengenai neraka. Mereka menganggap pengajaran mengenai neraka tidak perlu diajarkan. Padahal, firman Tuhan tegas dan jelas mengatakan, bahwa cawan murka Allah akan dicurahkan pada waktunya. Memang sekarang Tuhan seakan-akan diam, tetapi sebenarnya berkali-kali Tuhan telah memperingatkan fakta dahsyat keterpisahan manusia dari Allah.
     
    Banyak pembicara mengesankan dalam pengajarannya bahwa masuk Kerajaan Allah itu mudah. Padahal Yesus sendiri mengatakan sulit, karena jalannya sempit, sehingga banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih. Mereka mengajarkan konsep percaya yang salah kepada umat Tuhan. Sehingga banyak orang Kristen sudah merasa percaya kepada Yesus, padahal belum. Percaya itu bukan sekadar di nalar, tetapi dalam tindakan. Ironisnya, mereka merasa sudah percaya walau hanya di dalam nalar dan memastikan diri akan masuk surga. Mereka menganggap dan menilai Kerajaan Surga secara murahan. Dengan demikian, banyak orang meremehkan hal kekekalan yang mengerikan dan dahsyat tersebut. Hati banyak orang Kristen tertutup karena percintaan dunia, sehingga mereka hidup dalam kewajaran seperti anak-anak dunia yang tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, tetapi merasa sudah menjadi umat Allah yang baik dan juga merasa sudah memiliki keselamatan.
     
    Di pihak lain, seandainya orang percaya dapat melihat keindahan kehidupan di dunia yang akan datang di Kerajaan-Nya, maka besar kemungkinan berpotensi cara hidupnya akan berubah. Keindahan Kerajaan-Nya sangat jauh berbeda dengan bumi di mana manusia tinggal untuk sementara hari ini. Tuhan Yesus rindu untuk membawa orang percaya ke tempat itu, supaya di mana Dia ada, orang percaya pun berada (Yoh. 14:1-3). Tetapi sekarang belum tiba saatnya. Sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh Bapa, Tuhan Yesus akan mengakhiri kehidupan di bumi dengan kedatangan-Nya. Tuhan Yesus akan datang bersama para malaikat-Nya dan orang-orang suci untuk menjemput orang percaya dan membawa ke tempat yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yesus. Mestinya orang percaya tidak perlu harus melihat tempat itu baru percaya, tetapi cukup percaya saja apa yang telah berulang-ulang dikatakan oleh Yesus di dalam Injil-Nya.
     
    Orang percaya harus mengikuti jejak hidup Yesus. Mengikuti jejak Yesus sama artinya mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidup ini. Dengan mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dalam hidup ini,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…