Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Digantikan Doktrin
    Tanpa disadari, kekristenan berubah menjadi olah nalar untuk doktrin atau sistematika teologi. Hal ini berasal dari berbagai sekolah tinggi teologi atau seminari. Karena mereka menguasai sinode dan gereja-gereja lokal, kekristenan yang mestinya adalah jalan hidup yang menghidupkan kembali kehidupan Yesus, digantikan dengan penalaran terhadap teologi. Dengan demikian, wilayah kekristenan yang seharusnya menekankan peragaan hidup seperti yang telah diperagakan oleh Yesus, telah menjadi kegiatan “menalar Allah” saja. Inilah kenyataannya, doktrin-doktrin gereja dan pola pikir rohaniwan disejajarkan dengan Alkitab. Kewibawaan Alkitab sebenarnya telah dirongrong oleh pola pikir yang salah tersebut. Ada orang-orang yang dianggap sebagai pengajar yang baik karena melewati jenjang pendidikan teologi, namun ternyata, mereka hanya mengolah Firman Tuhan secarannalar sebagai salah satu bidang disiplin ilmu pengetahuan semata-mata. Di antara mereka, dengan arogansinya bersikap seolah-olah Allah dengan mudah dapat diformulasikan. Di antara mereka, tampak pula keengganannya untuk meninggalkan pola pikir akademisi yang mereka peroleh selama bertahun-tahun di bangku sekolah tinggi teologi, sehingga mereka terbelenggu oleh suatu sistematika teologi. Padahal, kebenaran Firman Tuhan harus progresif dipahami dan terus bergerak untuk mencapai pemahaman terhadap apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
    Orang-orang Kristen yang secara berlebihan mengagumi pandangan teologi masa lalu dari seorang teolog atau bapak gereja dan berkeras tetap melestarikannya tanpa sikap kritis. Mereka terpenjara dan terkungkung oleh pandangan tersebut. Oleh sebab itu, kita hendaknya memiliki sikap lentur (tidak kaku) dalam bersikap terhadap penyingkapan kebenaran yang baru dari Tuhan pada masa kini. Itu perlu kita lakukan supaya kita tidak menjadi picik dan tidak semakin jauh dari kebenaran Alkitab yang lebih orisinil yang Tuhan hendak singkapkan di akhir zaman ini. Merupakan fakta empiris bahwa pandangan-pandangan teologi yang pernah dilahirkan sangat berelasi dengan situasi zaman pada waktu itu. Jadi, teologi mereka lahir atau diadakan berkenaan dengan situasi politik, keagamaan, sosial, dan lain sebagainya pada zamannya. Pandangan-pandangan teologi tersebut merupakan produk dari keadaan zaman yang sedang bergolak sesuai dengan kasus khusus zaman itu. Oleh karenanya, objektivitas pandangan teologi mereka belum tepat atau efektif untuk zaman kita hari ini.
    Sejatinya, orang percaya harus selalu membuka diri terhadap kebenaran yang Tuhan singkapkan melalui hamba-hamba-Nya sekarang ini, di ujung akhir zaman. Dalam hal ini, kita hendaknya tidak mendewakan para teolog masa lalu dengan pandangan mereka. Mereka pun manusia yang tidak sempurna. Mereka hebat pada zamannya dan sungguh- sungguh dipakai oleh Tuhan. Namun, apa yang mereka telah capai dan sangat efektif untuk zamannya, belum tentu efektif untuk zaman sekarang. Orang percaya hari ini harus melengkapi apa yang mereka telah capai demi membawa gereja Tuhan menuju kesempurnaan menjelang kedatangan-Nya. Orang percaya harus menerima fakta bahwa Alkitab memiliki dinamisitas dan fleksibilitas yang sangat tinggi. Kebenaran adalah mutlak atau tidak relatif, tetapi kebenaran yang murni dapat mengikuti, mengimbangi, dan mengatasi semua perubahan zaman.
    Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam kebenaran. Bukan dogma yang mengontrol Alkitab, melainkan Alkitab yang mengontrol dogma. Orang percaya harus selalu membuka diri terhadap evaluasi, koreksi, dan perubahan. Di setiap zaman selalu ada perubahan dan keadaan yang sangat khusus, berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya. Dalam hal ini, Alkitab terbuka untuk dipahami dengan pemahaman yang lebih mendalam dan kontekstual. Dalam hal ini, harus ditegaskan bahwa pandangan seorang teolog tidak boleh disejajarkan dengan Alkitab, karena memang tidak sejajar. Pandangan mereka bahkan dogma gereja setua apa pun tidak boleh mensubordinasi atau membawahi Alkitab.
    0 min
  • Hidup Dalam Penyembahan Yang Benar
    Banyak orang Kristen secara harfiah menjadikan ayat-ayat Perjanjian Lama sebagai standar hidupnya. Mereka menganggap standar hidup umat Perjanjian Lama, yaitu bangsa Israel, bisa dikenakan oleh orang percaya kepada Tuhan Yesus. Banyak gereja mengajarkan pengajaran yang berlandaskan ayat-ayat Perjanjian Lama yang diterapkan untuk umat Perjanjian Baru. Pola ibadah Perjanjian Lama dikemas dalam model baru, tetapi esensinya tetap sama, yaitu “pola keberagamaan” Israel kuno. Dalam liturgi, mereka merasa sudah menyembah Tuhan dengan nyanyian, padahal dalam konsep Perjanjian Baru yang diajarkan Tuhan Yesus, menyembah Allah bukanlah demikian. Tuhan tidak memerhatikan “penampilan lahiriah,” tetapi isi perjalanan hidup seseorang setiap hari. Umat Perjanjian Baru harus menyelenggarakan hidup mereka sesuai dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus, yaitu menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Dalam kekristenan, yang penting adalah bagaimana seseorang mengisi hari hidupnya sesuai dengan gaya hidup Tuhan Yesus.
    Orang yang menyembah Allah memiliki kesediaan untuk dengan rela dan rendah hati mengasihi serta mengabdi kepada-Nya. Menyembah Allah dalam roh dan kebenaran menunjuk pada sikap batin atau sikap hati yang diwujudnyatakan dalam perilaku di sepanjang waktu dan di mana pun berada, bukan sekadar menyelenggarakan liturgi dalam gereja. Dalam menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, Allah menghendaki ibadah yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ini berarti bahwa ruang ibadah orang percaya meliputi segenap wilayah hidup dan segenap waktunya. Ini adalah ibadah yang tidak terikat oleh sistem dan aturan yang baku. Ini bukan berarti bahwa liturgi yang diselenggarakan itu tidak perlu ketertiban. Tuhan hendak menunjukkan bahwa liturgi orang percaya bukanlah seremonial seperti agama-agama pada umumnya. Untuk itu, setiap orang percaya harus menjadi pribadi yang bertingkah laku sesuai dengan kehendak Allah sebagai Bapa.
    Dengan demikian, ibadah bukan hanya soal liturgi, upacara dan ritual, melainkan juga meliputi segenap perilaku dan cara hidup setiap hari di mana pun orang percaya berada. Mereka mengemas liturgi, misa, atau kebaktian seindah-indahnya karena mereka merasa bahwa liturgi adalah sarana penting atau utama untuk menjumpai dan menyenangkan Allah. Proses pendewasaan ke arah kesempurnaan untuk membentuk sikap batin telah digantikan dengan liturgi dan ajaran yang lebih menekankan kepada peraturan moral yang kurang menyentuh sikap batin. Gereja Seakan-akan adalah satu-satunya ruangan penting dan utama untuk menjumpai dan bertemu dengan Tuhan. Dalam kekristenan terdapat unsur kuat adanya proses pendewasaan ke arah kesempurnaan dengan penekanan kepada hal-hal yang bersifat batiniah.
    Tuhan Yesus mengajarkan suatu kehidupan tentang “bagaimana bersekutu dengan Allah sebagai Bapa” yang tidak berunsur agama seperti pada umumnya. Roh Allah diam di dalam diri orang percaya. Ini merupakan suatu masa baru dalam kehidupan umat manusia yang belum pernah terjadi, selain pada zaman sebelum manusia pertama jatuh dalam dosa. Manusia diperkenankan “berjalan dengan Allah.” Inilah sebenarnya inti Injil itu. Kabar baik dalam Injil terletak kepada kemungkinan dan kesempatan manusia dapat berjalan dengan Allah, sebagai Bapa. Di tengah hiruk pikuk kehidupan manusia yang membelakangi Tuhan, orang percaya diperkenankan untuk berjalan dengan Allah sebagai anak-anak-Nya. Ini suatu hal yang sangat luar biasa.
    Ritual agama boleh dikenakan dalam menjalin hubungan dengan Tuhan. Namun, ritual ini tidak lagi dapat dipertahankan, sebab menurut Tuhan Yesus, ada saatnya orang tidak menyembah Allah di Yerusalem atau di Gunung Gerizim, tetapi di dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Orang-orang Samaria tidak diperkenankan berbakti di Bait Suci Yerusalem, sehingga mereka membuat tempat dan ritual keagamaan di Gunung Gerizim. Hal ini menunjukkan bahwa mereka berpikir bahwa Allah hanya dapat dijangkau melalui ritual agama.
    0 min
  • Kesempatan Yang Luar Biasa
    Hidup ini harus dipahami sebagai kesempatan yang luar biasa. Suatu kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada orang percaya untuk menjadi anak-anak-Nya sehingga orang percaya dapat memiliki persekutuan yang indah dengan Allah sebagai Bapa. Banyak orang tidak menghargai hidup ini, mereka mengisi hari hidupnya hanya untuk memburu kekayaan dunia dan menikmati segala hiburannya. Mereka tidak menyadari betapa mahal kesempatan yang Allah berikan untuk menjadi anak-anak-Nya. Manusia memiliki tubuh dengan semua komponen dan metabolismenya yang sangat menakjubkan, dan unsur rohani atau jiwa yang tidak kelihatan, termasuk di dalamnya kecerdasan dan perasaan. Inilah keadaan manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya. Keberadaan yang luar biasa ini merupakan potensi untuk dapat bersekutu dengan Allah, dimana manusia dapat berinteraksi dengan Allah dengan interaksi interpersonal yang saling mengisi.
    Keberadaan alam semesta dengan segala fasilitasnya juga sangat menakjubkan dan segala sesuatu yang ada di dalamnya merupakan sarana untuk terjadinya suatu perjumpaan antara manusia secara pribadi dengan Allah semesta alam yang Mahaagung sebagai Bapa. Jadi, alam semesta dengan segala kekayaannya bukanlah tujuan dan sarana untuk mengalami kegembiraan hidup. Kegembiraan hidup hanya ada di dalam Allah, yaitu dalam persekutuan dengan diri-Nya. Jika seseorang sudah memiliki kegembiraan hidup di dalam dan karena atau oleh Dia, barulah dapat menikmati segala sesuatu yang Allah telah ciptakan. Usaha menikmati ciptaan Allah tanpa hidup dalam persekutuan dengan Allah adalah sebuah pengkhianatan terhadap Dia.
    Lusifer adalah oknum yang berniat menikmati kehidupan tanpa persekutuan dengan Allah. Jika demikian, berarti yang menjadi kegembiraan hidup adalah dirinya sendiri dan segala sesuatu di luar Allah. Kuasa jahat ini berusaha menarik manusia menjadi sekutunya dan memiliki irama hidup seperti dirinya. Salah satu penyesatan yang dilakukan adalah menawarkan keindahan dunia sebagai kegembiraan hidup atau kebahagiaan (Luk. 4:5-8). Inilah yang dilakukan Iblis terhadap Tuhan Yesus pada awal pelayanan-Nya. Iblis membujuk Tuhan Yesus untuk menyembahnya dengan memberi imbalan keindahan dunia. Jadi kalau seorang mengagumi dunia dan terpikat di dalamnya, maka ia telah menyembah Iblis (Luk. 4:5-8).
    Perlu direnungkan, seandainya tidak ada manusia, maka tidak ada perjumpaan antara Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak. Hal ini tidak ada dampaknya sama sekali terhadap siapa pun dan apa pun. Namun ternyata Allah berkenan menciptakan manusia. Karena hal ini maka mau tidak mau terdapat fakta adanya peluang terciptanya sebuah persekutuan antara Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak. Hal ini ditawarkan kepada manusia. Dengan hal ini, maka mulai muncul kemungkinan sebuah kerugian atau keuntungan, kehinaan atau kemuliaan dan neraka kekal atau surga kekal. Inilah yang membuat manusia sebagai makhluk yang beresiko tinggi. Hidup ini bukan sekadar sebuah perjalanan sederhana yang singkat, setelah itu berlalu tanpa dampak atau akibat.
    Sebagai makhluk ciptaan yang eksis karena atau oleh Allah, manusia harus menemukan Allah sebagai Bapanya dan membangun persekutuan dengan diri- Nya. Karena pemberontakannya, manusia mengalami ketragisan yang luar biasa. Manusia telah terpisah dan kehilangan sumber kehidupan. Manusia telah kehilangan kemuliaan atau kurang kemuliaan Allah sehingga tidak dapat membangun hubungan dengan Allah sebagai Bapa (Rm. 3:23). Inilah malapetaka terhebat dan peristiwa paling tragis dalam sejarah kehidupan manusia. Kalau manusia tidak memiliki Juruselamat, maka tidak ada kesempatan sama sekali untuk dipertemukan kembali dengan Allah sebagai Bapa.
    Melalui dan di dalam Yesus Kristus manusia diberi kesempatan untuk kembali bersekutu dengan Allah sebagai Bapa. Apakah kesempatan ini dimanfaatkan atau tidak, tergantung kepada masing-masing individu. Kesempatan ini sangat luar biasa karena menjadi kesempatan satu-satunya untuk ...
    0 min
  • Dilahirkan Oleh Allah
    Satu hal yang sangat luar biasa dalam kehidupan orang percaya di zaman Perjanjian Baru adalah terjadinya kelahiran baru dalam kehidupan ini atau manusia dilahirkan oleh Allah (Yoh. 110-13). Pada zaman penggenapan ini Allah hendak melahirkan orang-orang yang menerima Tuhan Yesus supaya menjadi anak-anak Allah. Ini bukanlah proses otomatis, mudah dan sekejap. Kelahiran baru atau dilahirkan oleh Allah bukan suatu kejadian yang otomatis atau dengan sendirinya, hanya karena percaya kepada Tuhan Yesus secara akali atau pikiran. Biasanya orang-orang yang meyakini demikian tidak memiliki perjuangan untuk menjadi anak-anak Allah. Banyak orang Kristen merasa sudah menjadi anak-anak Allah yang benar. Padahal mereka belum benbar-benar menjadi anak-anak Allah. Keberadaan orang-orang seperti ini belum memiliki tanda-tanda atau ciri-ciri sebagai anak-anak Allah.
    Kelahiran baru atau dilahirkan oleh Allah adalah proses yang sulit dan menyita seluruh waktu hidup; proses menjadi anak-anak Allah adalah proses sepanjang umur hidup ini. Oleh sebab itu dapat mengerti betapa berharganya waktu hidup yang orang percaya miliki ini. Setiap orang harus memilih, apakah waktu yang ada digunakan untuk mempersiapkan kekekalan yang indah luar biasa dengan mengalami kelahiran baru atau dilahirkan oleh Allah, atau dibenrtuk oleh dunia untuk menjadi anak-anak kegelapan.
    Kelahiran Baru hanya terjadi atas umat pilihan Allah yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Mereka yang menerima Yesus, artinya mengakui bahwa Logos (Tuhan Yesus) adalah Pencipta langit dan bumi bersama Theos (Bapa), adalah Sang Majikan (Kurios). Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan manusia, yaitu mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Orang yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak- anak Allah (Yoh. 1:10-13). Kelahiran baru hanya terjadi pada orang yang telah menerima Roh Kudus, karena Roh Kudus menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran. Selanjutnya, Roh Kudus melahirkana baru seseorang dengan sarana kebenaran Firman Tuhan (1Ptr. 1:23-24).
     
    Selanjutnya Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mengubah seseorang agar dapat sempurna seperti Tuhan Yesus. Segala peristiwa kehidupan yang dialami orang yang menerima Tuhan Yesus dan mengasihi Dia dijadikan sarana untuk menyempurnakan pribadinya agar menjadi manusia seperti Yesus. Dalam sejarah manusia tidak ada periode yang luar biasa seperti periode dimana manusia dapat dilahirkan oleh Allah. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa banyak orang benar dan nabi-nabi ingin melihat dan mendengar apa yang dialami murid-murid Yesus pada waktu itu, tetapi mereka tidak beroleh kesempatan mengenal anugerah yang besar ini (Mat. 13:17).
    Pada dasarnya, dilahirkan oleh Allah atau kelahiran baru adalah sebuah perubahan dimana seseorang yang tadinya berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Dalam bab ini dibahas salah satu dari ciri yang dominan dari seorang yang benar-benar mengalami Kelahiran Baru. Ciri itu adalah hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kelahiran Baru menjadikan orang percaya menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Dengan keserupaan tersebut seseorang bukan saja diperkenan berstatus sebagai anak-anak Allah, tetapi benar-benar berkeberadaan sebagai anak-anak Allah (Yoh. 1:12; Gal. 3:26; Rm. 8:16-17). Di sini orang percaya bukan saja diberi hak memanggil Allah sebagai Bapa, tetapi juga berhak atas kuasa atau fasilitas untuk menjadi anak-anak Allah, inilah exousia yang dimaksud dalam Yohanes 1:12.
    Kalau Alkitab berkata bahwa Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara (Rm. 8:29), maksudnya adalah, selain Yesus, akan lahir atau tampil atau muncul pula orang- orang yang memiliki karakter seperti Dia. Orang percaya mengalami metamorphouste (seperti ulat menjadi kupu-kupu). Dahulu seseorang seperti ulat yang menjijikkan, tetapi melalui proses Kelahiran Baru ia menjadi seperti kupu-kupu yang indah. Perubahan itu merupakan proses yang harus dijalani dengan ketat.
    0 min
  • Belajar Bersekutu Dengan Bapa
    Dengan menghayati secara benar bahwa orang percaya adalah anak-anak Allah, maka seseorang dapat menghargai dirinya sendiri dengan benar, sebab menjadi anak-anak Allah berarti berkeadaan sangat mulia. Itulah sebabnya orang percaya tidak boleh membuat diri merasa berharga karena faktor lain, seperti: kedudukan atau pangkat, gelar, penampilan, kekayaan, popularitas dan lain sebagainya. Seseorang berharga sebab memang bernilai tinggi sebagai keturunan Allah. Banyak orang menghargai diri secara salah yang berakibat justru menyia-nyiakan hidupnya. Pada umumnya manusia menghargai diri dengan membuat dirinya dihormati orang lain. Untuk itu dibutuhkan sarana, antara lain: kedudukan atau pangkat, gelar, penampilan, kekayaan, popularitas dan berbagai hal yang dianggap sebagai nilai lebih. Itulah sebabnya manusia bergerak setiap hari untuk mencapai hal-hal tersebut. Inilah sebenarnya yang disebut sebagai haus kehormatan sampai pada tingkat gila hormat. Dengan gaya hidup seperti ini seseorang membinasakan dirinya.
    Kalau seseorang sudah tidak menghargai dirinya secara benar dan mengalihkan penghargaan kepada hal-hal lain, ia tidak pernah mengenal keselamatan yang Tuhan berikan. Keselamatan yang Tuhan sediakan, diajarkan hanya untuk menyelamatkan kehidupan di bumi ini. Inilah teologi kemakmuran yang salah. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula. Rancangan semula Allah adalah menjadikan manusia berkeadaan sebagai anak- anak Allah dengan kualitas hidup yang berstandar hidup sebagai anak-anak Allah. Oleh sebab itu kalau seseorang sungguh-sungguh menjadi anak-anak Allah, pasti kualitas hidupnya lebih dari manusia pada umumnya.
    Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia tidak berkeadaan seperti Allah, Bapanya. Alkitab berkata bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Kata “berdosa” dalam teks aslinya adalah hamartano (ἁμαρτάνω), yang memiliki beberapa pengertian, di antaranya yang paling menonjol adalah tidak mengenai sasaran atau meleset. Inilah yang dimaksud bahwa manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Maksudnya adalah bahwa manusia tidak memenuhi atau mencapai standar sebagai anak-anak Allah. Kualitas kehidupan yang dimiliki manusia bukanlah kualitas anak-anak Allah. Itulah sebabnya Allah Bapa mengutus Putra-Nya, agar melalui-Nya manusia diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12).
    Pernyataan dalam Yohanes 1:12 sama maknanya dengan Yohanes 10:10 bahwa Tuhan Yesus datang untuk memberi hidup, agar manusia memiliki hidup tersebut dalam kelimpahan. Hidup dalam teks ini adalah zoe (ζωή), yang lebih menunjuk hidup yang berkualitas, bukan bios (βίος) yang menunjuk kehidupan makhluk pada umumnya. Sedangkan kata “berkelimpahan” dari teks aslinya adalah perissos (περισσός), yang artinya sangat tinggi dalam kualitas. Hidup yang berkelimpahan menunjuk pada kualitas moral yang tinggi. Moral di sini menyangkut hubungan dengan Tuhan, dengan sesama dan cara memandang dunia ini. Hidup yang berkelimpahan bukan berarti berlimpah materi, tetapi memiliki suatu kualitas hidup yang berkenan kepada Allah Bapa. Di dalamnya termasuk menikmati damai sejahtera Allah walau pun tidak ditopang oleh materi.
    Kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak membuat manusia tidak mampu berbuat baik sama sekali, sebabnya nyatanya Kain sebenarnya bisa menghindarkan tindakan pembunuhan terhadap adiknya (Kej. 4:7). Bukti yang lain bahwa Henokh bisa bergaul dengan Allah sehingga ia bisa diangkat oleh Allah keluar dari bumi ini (Kej. 5:24). Dan banyak lagi sosok-sosok yang berkualitas baik sehingga menjadi kekasih Tuhan di Perjanjian Lama. Namun sebaik apa pun manusia, tetapi tidak dapat mencapai standar hidup sebagai anak-anak Allah. Itulah sebabnya mereka tidak dapat memiliki persekutuan yang eksklusif dengan Allah, sebagai Bapa, sebab belum bisa berkeadaan sebagai anak-anak Allah seperti Yesus.
    Tuhan Yesus datang memberikan hidup,
    0 min
  • Lulus Sekolah Kehidupan
    Orang percaya harus mengerti dan menerima bahwa hidup ini seperti sebuah proses belajar, yaitu sekolah kehidupan. Pada zaman penggenapan ini, Allah hendak melahirkan orang-orang yang menerima Tuhan Yesus supaya menjadi anak-anak Allah. Ini bukanlah proses mudah dan sekejap. Ini adalah proses yang sulit dan menyita seluruh waktu hidup. Kalau proses pembuahan dan kelahiran manusia membutuhkan waktu 9 bulan, maka proses menjadi anak-anak Allah bisa sepanjang umur hidup ini. Menghayati hal ini, seseorang dapat mengerti betapa berharganya waktu hidup yang dimilikinya. Setiap orang harus memilih: waktu yang ada bisa digunakan untuk mempersiapkan kekekalan yang indah luar biasa atau kebinasaan yang dahsyat. Injil adalah kabar baik, maksudnya bahwa pada zaman penggenapan ini manusia dimungkinkan untuk menjadi manusia sempurna. Untuk itu Roh Kudus dimateraikan dalam kehidupan orang percaya. Mengapa hal ini tidak bisa dilakukan di zaman Perjanjian Lama? Ada dua alasan, yaitu: Pertama, karena pada saat itu belum ada penebusan dan kedua, karena belum ada Injil. Roh Kudus tidak dapat mengubah seseorang tanpa perangkat Injil atau Firman Tuhan. Untuk menjadi anak-anak Allah, seseorang harus diproses melalui sekolah kehidupan.
    Tujuan keselamatan pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dengan berkeadaan sebagai anak-anak Allah, maka seseorang barulah mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian seseorang dikatakan berstatus sebagai anak-anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Berkeadaan sebagai anak-anak Allah maksudnya memiliki ciri-ciri nyata dalam kehidupan ini yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Dalam hal ini paling tidak ada 5 ciri seorang yang berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Pertama, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Kedua, tidak memiliki perasaan takut menghadapi segala keadaan. Ketiga, tidak memandang dunia sebagai keindahan. Keempat, merindukan Rumah Bapa dan kelima, berjuang tanpa batas melakukan kehendak Bapa dalam pelayanan penyelamatan jiwa-jiwa. Masing-masing butir ini memuat pengertian yang luas dan mendalam. Tanpa ciri-ciri ini seseorang tidak pantas menyandang statusnya sebagai anak-anak Allah.
    Setiap orang percaya harus mengalami proses perubahan status dari anak gampang (anak yang tidak sah) atau nothos (Yun. νόθος) menjadi anak yang sah atau huios (Yun. υἱός). Nothos adalah anak yang tidak resmi (Ing. Illegitimate child, a child born to unmarried parental). Penjelasan mengenai nothos dan huios ini tertulis di dalam Ibrani 12. Inilah perjuangan yang harus dijalani oleh setiap orang percaya sebagai perlombaan yang diwajibkan. Betapa malangnya orang-orang yang merasa sudah sah sebagai anak- anak Allah, sehingga tidak bertekun dalam perlombaan yang diwajibkan tersebut. Sebagai gantinya, yang diusahakan adalah pengesahan sebagai “manusia yang wajar” di mata manusia lain dengan segala atributnya. Atributnya antara lain: pendidikan, pekerjaan, teman hidup dan berumah tangga, memiliki keturunan, fasilitas seperti rumah, mobil, barang ber-branded dan berbagai fasilitas lainnya. Semua ini dipandang sebagai memberi martabat. Pada umumnya orang berjuang hanya untuk hal-hal ini sampai masuk ke dalam kubur. Tidaklah demikian dengan orang percaya.
    Bapa mendidik orang percaya dengan “pukulan atau hajaran” kalau diperlukan demi kesempurnaan anak-anak Allah (Ibr. 12:6-9). Kalau orang beragama Kristen hanya supaya hidupnya di dunia diberkati secara finansial, dilindungi dari malapetaka umum dan menikmati dunia seperti Firdaus, pastilah ia tidak mengerti proses pendidikan yang dikerjakan oleh Allah. Menjadi orang Kristen bukanlah proses beragama, tetapi proses menjadi manusia sempurna. Semua perhatian harus ditujukan kepada proyek ini sepenuhnya. Segala sesuatau yang lain hanyalah dukungan demi tercapainya proyek ini. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata,
    0 min
  • Mensahkan Diri Sebagai Anak-Anak Allah
    Pada zaman anugerah, Tuhan membuka kesempatan bagi manusia untuk menjadi anak- anak Allah, yaitu hidup dalam pimpinan Roh Allah. Roh Allah berkenan kembali diberikan untuk diam di dalam diri manusia. Inilah yang dijanjikan Tuhan Yesus, bahwa lebih berguna bagi orang percaya, jika Dia pergi. Sebab jikalau Dia tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepada orang percaya; tetapi jikalau Dia pergi, Dia akan mengutus Roh Kudus kepada orang percaya (Yoh. 16:7). Orang percaya adalah orang yang sungguh beruntung, karena menjadi orang yang terpilih untuk bisa hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Oleh sebab itu, hendaknya orang percaya tidak mendukakan Roh Kudus yang telah dimateraikan kepada orang percaya. Jangan sampai peristiwa di Kejadian 6 terulang lagi, yaitu karena manusia tidak hidup dalam pimpinan Roh Kudus–selalu hidup dalam kedagingan–maka Roh Allah undur. Inilah yang disebut sebagai menghujat Roh Kudus. Menghujat Roh Kudus berarti menolak karya Roh Kudus yang menuntun untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Bila kesempatan ini tidak dihargai, maka tidak akan ada lagi kesempatan kedua.
    Dalam Ibrani 12:8 terdapat kata “anak gampang.” Apa sebenarnya maksudnya? Dalam teks asli Alkitab, kata “anak gampang” di sini adalah “nothos” (νόθος), yang artinya anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Dalam bahasa Yunani, selain kata nothos, juga ada kata huios (υἱός) yang artinya anak dalam, anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, ada anak yang berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orangtua, atau seperti Pangeran, tetapi ada anak gampang, anak yang tidak sah yang tidak akan mewarisi kekayaan orangtua. Dalam kehidupan orang Kristen juga terdapat orang-orang yang tergolong sebagai nothos dan sebagai huios.
    Berbicara mengenai anak-anak Allah, perlu kita meninjau Yohanes 1:12, “bagi mereka yang percaya, diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.” Kata “kuasa” berasal dari teks aslinya, exousia (ἐξουσία), yang artinya hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak-anak Allah. Fasilitas itu adalah pemeliharaan Tuhan, Roh Kudus, Firman dan penggarapan intensif Allah atas orang yang mengasihi Dia. Jadi kuasa itu tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak-anak Allah. Tetapi kuasa itu diberikan supaya orang percaya memiliki karakter seperti Bapa. Tentu saja orang yang tidak memiliki karakter seperti Bapa tidak pantas menyebut dirinya sebagai anak-anak Allah. Ciri dari orang Kristen yang sah sebagai anak-anak Allah adalah ketika seseorang memiliki karakter Bapa.
    Alkitab menulis bahwa semua orang yang menerima-Nya, diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yoh. 1:1-12). Kata “menerima” di dalam teks ini, bahasa aslinya adalah elabon (ἔλαβον), dari akar kata lambano (λαμβάνω), yang selain berarti menerima (to accept), juga berarti to get hold of (berpegang tetap). Kata ini bisa menimbulkan berbagai penafsiran. Tetapi pada umumnya banyak orang Kristen berpikir bahwa kalau mulutnya sudah mengaku Yesus adalah Tuhan dan hatinya merasa percaya, berarti ia sudah menerima Dia. Kemudian ia merasa bahwa dirinya sudah selamat. Ini tidak benar. Hendaknya orang percaya tidak menyederhanakan kata “menerima” dalam Yohanes 1:12 ini. Menerima Yesus berarti mengakui bahwa Dia adalah Majikan yang harus dipatuhi dalam segala hal.
    Pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak-anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak-anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos, yang artinya anak yang belum sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu, maka ia akan bertumbuh menjadi anak-anak Allah yang sah.
    0 min
  • Manusia Adalah Anak-Anak Allah
    Menjadi anak-anak Allah sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Namun, banyak orang tidak menyadarinya. Selama bertahun-tahun, para teolog Kristen menentang keras kalau ada usaha yang mencoba untuk menyejajarkan Allah dengan manusia. Memang benar, Allah tidak bisa disejajarkan dengan apa pun dan siapa pun, apalagi disejajarkan dengan ciptaan-Nya, seperti manusia. Namun, sikap tersebut jangan sampai menjadi ekstrem sehingga gagal menempatkan manusia pada proporsinya. Manusia ditempatkan sekadar sebagai makhluk ciptaan yang tidak memiliki unsur keilahian sama sekali, seakan-akan manusia sama dengan ciptaan Allah yang lain. Unsur “keilahian” manusia artinya adalah adanya unsur-unsur dalam diri manusia, yang sama dengan yang ada pada Allah sebagai “Master Planner”-nya. Unsur-unsur itu adalah kemampuan moralnya. Alkitab jelas menunjukkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Pernyataan ini sendiri sudah memberikan indikasi bahwa pasti ada unsur-unsur yang ada pada Allah, yang juga ada pada manusia.
    Dalam Alkitab dikatakan bahwa Adam adalah anak Allah (Luk. 3:38). Paulus menyatakan bahwa manusia adalah keturunan Allah (Kis. 17:28-29). Kata “keturunan” dalam teks aslinya adalah genos (ένος), yang artinya keturunan (Ing. offspring, race, stock, descendants), kata yang sama digunakan untuk pengertian keturunan secara umum. Pernyataan ini bukan bermaksud meninggikan derajat manusia dan melecehkan Allah. Paulus,—seseorang yang dapat dipercayai—yang memiliki karunia untuk menyampaikan pesan Allah, menyatakan demikian. Pernyataan Paulus ini bukan tidak berdasar sebab kalau kita memerhatikan kisah penciptaan manusia, kita dapati bahwa “roh” manusia bukanlah sesuatu yang berasal dari sumber lain. Roh manusia bukan diciptakan, tetapi “dikeluarkan” dari dalam diri Allah. Jadi roh manusia adalah roh yang berasal dari Allah sendiri. Roh manusia tidak bisa dikatakan “diciptakan” sebab roh manusia keluar dari diri Allah ketika Allah mengembuskan nafas-Nya (Kej. 2:7). Tentu saja ketika Allah mengembuskan “sesuatu.” Ia tidak perlu menarik nafas terlebih dahulu. Ini berarti ada sesuatu yang berasal dari dalam diri Allah mengalir keluar.
    Itulah sebabnya dikatakan dalam Yakobus 4:5 bahwa “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu.” Ia menghendaki roh manusia sebab roh itu milik-Nya. Dalam Ibrani 12:9 dikatakan bahwa “Allah adalah Bapa segala roh,” artinya, semua roh yang ada itu berasal dari Dia, termasuk roh manusia juga berasal dari Allah Bapa. Itulah sebabnya pula dengan tegas Alkitab menyatakan bahwa orang percaya adalah “manusia Allah” (Ing. man of God; Yun. anthrope tou theou—ἄνθρωπε τοῦ θεοῦ; 1Tim. 6:11). Maksud “manusia Allah” di sini bukan berarti bahwa manusia sejajar dengan Allah atau bisa menjadi Allah, melainkan manusia bisa memiliki karakter atau moral seperti Allah yang adalah Bapanya.
    Manusia adalah makhluk yang sangat berharga di mata Allah Bapa. Kalau berharga di mata Allah Bapa, ini tentu memang berarti sangat berharga adanya. Allah tidak akan menghargai sesuatu yang memang tidak memiliki nilai. Keberhargaan itu didasarkan pada kenyataan bahwa manusia adalah anak-anak Allah Bapa. Di dalam diri manusia, Allah menempatkan roh yang berasal dari diri-Nya (Kej. 2:7; Yak. 4:5). Secara tidak langsung, manusia adalah bagian dari diri dan hidup Allah sebagai Bapa, sebagaimana di dunia ini, anak-anak adalah bagian hidup dari orangtuanya. Itulah sebabnya Allah Bapa menghendaki roh itu kembali kepada-Nya (Pkh. 12:7). Dengan demikian, bisa dimengerti kalau Allah Bapa rela memberikan Putra Tunggal-Nya. Hal tersebut jelas menunjukkan bahwa nilai jiwa manusia seharga dengan nilai Putra Tunggal-Nya. Nilai Putra Tunggal- Nya itu tak terhingga sebab Dia adalah anak Tunggal Bapa; Anak satu-satunya, yang berbeda dari anak-anak yang lain.
    Dalam hal ini, demi menyelamatkan manusia, Allah Bapa seakan-akan memberikan diri- Nya sendiri. Dengan demikian,
    0 min
  • Jalan Menemukan Bapa
    Ada orang-orang yang berusaha menemukan Allah, merasakan kehadiran-Nya, dan mengalami Allah hanya pada waktu berlutut untuk berdoa. Mereka mengalami kesulitan menghadirkan hadirat Allah atau menembus semacam kabut hitam untuk bisa menjumpai Allah. Solusinya adalah bahwa setiap hari kita harus hidup dalam kesucian dan kekudusan Allah dalam segala hal; pikiran harus selalu bersih dan tidak lagi dapat dibahagiakan oleh fasilitas materi dunia dengan segala hiburannya. Dengan upaya itu, seseorang dapat menemukan Allah, merasakan kehadiran-Nya, dan mengalami hadirat Allah, bukan hanya pada waktu berlutut berdoa, melainkan justru bagaimana ia mengisi hari-hari dalam kehidupan seperti yang Yesus jalani. Tanpa memiliki kehidupan yang Yesus jalani, seseorang tidak akan dapat bersentuhan dan menjumpai Allah yang benar.
    Allah yang kudus tidak dapat dijumpai oleh orang-orang yang hidupnya masih kotor. Itulah sebabnya dalam 1 Petrus 1:16-17, Firman Tuhan mengatakan, “Sebab ada tertulis: ‘Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.’” Allah menghubungkan kekudusan-Nya dengan kekudusan yang harus dicapai oleh orang percaya, sebab tanpa kekudusan sesuai standar Alla,h tidak seorang pun dapat menjumpai Allah. Paulus dalam suratnya menulis, “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa” (2Kor. 6:17-18).
    Dalam Yohanes 14:6 Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Ayat ini bukan hanya bermaksud menunjukkan bahwa keselamatan hanya dalam Yesus Kristus, melainkan juga menunjukkan bahwa melalui Yesus orang percaya dapat memiliki persekutuan dengan Bapa dan Anak Tunggal-Nya. Bagi orang percaya, hanya melalui Yesus, manusia dapat memiliki kehidupan yang dikembalikan ke rancangan semula Allah. Sebenarnya, Yohanes 14:6 menunjukkan eksklusivitas hubungan dengan Allah sebagai Bapa. “Datang kepada Bapa” itu tidak hanya masuk surga, tetapi memiliki persekutuan dengan Bapa. Sesuai dengan doa Tuhan Yesus di Yohanes 17:21, “… Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”
    “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku,” harus dimengerti sebagai panggilan untuk memiliki hubungan yang eksklusif dengan Allah sebagai Bapa. Kata “jalan” dalam teks Yunaninya adalah hodosh—ὁδὸς. Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah jalan, sebuah lorong, atau jalan panjang yang harus dilalui bukan dalam waktu singkat. Kata kedua adalah “kebenaran.” Dalam teks aslinya, kata ini adalah alētheia (ἀληθείᾳ), yang alam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi truth. Dan akhirnya, kata “hidup” yang dalam Bahasa Yunani, zōē (ζωὴ). Kata hidup ini menunjuk hidup yang berkualitas. Jadi, Yohanes 14:6 tidak boleh hanya diartikan: di luar Kristus tidak ada keselamatan. Ayat ini juga menunjukkan adanya sebuah relasi eksklusif antara Allah sebagai Bapa dan orang percaya sebagai anak. Maksud Yohanes 14:6 adalah bahwa untuk menemukan Bapa, mengalami-Nya, serta merasakan kehadiran-Nya, seseorang harus belajar dari Tuhan Yesus sebagai jalannya, dan ini bukan sesuatu yang singkat, Ia harus mengenal kebenaran sebagai jalannya sehingga memiliki kehidupan seperti diri-Nya. Dengan demikian, barulah ia dapat menemukan Allah, merasakan kehadiran-Nya, serta mengalami Dia secara ideal.
    Yesus bukan hanya mati di kayu salib, dan darah-Nya menghapus dosa,
    0 min
  • Bukan Dengan Liturgi
    Relasi dengan Allah sebagai Bapa harus dibangun dari kesucian hidup atau kualitas hidup seperti Yesus. Inilah kekristenan yang benar, sejati, asli atau yang orisinal. Namun di seluruh dunia, kekristenan sejati yang dapat membangun kehidupan bersekutu dengan Allah Bapa digantikan dengan keberagamaan. Ternyata, banyak orang Kristen yang belum memahami kekristenan dengan benar, sehingga mereka belum memiliki persekutuan dengan Bapa secara proporsional. Kata “Kristen” secara umum berarti to be like Christ (menjadi seperti Kristus). Orang percaya mula-mula disebut “Kristen” karena berperilaku seperti Yesus Kristus. Orang-orang percaya pada waktu itu belajar Injil yang murni sampai hidup sepadan dengan Injil yang mereka terima itu. Injil tersebut memuat ajaran Tuhan Yesus yang mereka kenakan dan kehidupan Kristus yang mereka teladani sehingga mereka menjadi serupa dengan Tuhan Yesus Kristus.
    Serupa dengan Tuhan Yesus Kristus berarti menemukan dan mengenakan pribadi, watak, karakter atau kepribadian Anak Allah. Inilah sebenarnya maksud keselamatan diberikan, yaitu agar manusia dikembalikan kepada rancangan semula Allah. Tidak bersedia menerima realitas ini berarti tidak bisa menjadi makhluk ciptaan, pantas dibinasakan. Ini harga mati. Oleh sebab itu, seseorang hendaknya tidak merasa sudah menjadi Kristen kalau hanya mengaku percaya dan pergi ke gereja. Untuk ini, kekristenan harus dibersihkan dari unsur-unsur agamawi dan duniawi yang merusak kemurniannya.
    22
    Banyak doktrin-doktrin gereja agamawi dan pola pikir manusiawi telah disejajarkan dengan Alkitab dan merusak kewibawaan Alkitab sebenarnya telah dirongrong oleh pola pikir yang salah tersebut, khususnya oleh tokoh-tokoh Kristen yang mengaku telah menerima pengajaran langsung dari Tuhan, yaitu pengajaran yang sangat subjektif dan tidak bisa dipercaya. Tanpa mereka sadari, mereka telah mengobrak-abrik pengajaran murni yang seharusnya dipahami jemaat. Untuk masuk ke dalam kehidupan kekristenan yang sejati, seseorang harus berani keluar dari segala tradisi keberagamaan yang selama ini dianggap sejajar dengan Alkitab. Tradisi keberagamaan dalam lingkungan Kristen menekankan liturgi, sistem organisasi, strata dalam gereja dimana ada kelompok imam dan awam.
    Banyak orang Kristen telah terlalu jauh masuk dalam kehidupan wajar anak dunia sampai mereka kehilangan arah dan tidak sanggup lagi mengenakan kehidupan Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen tidak memiliki integritas sebagai anak-anak Allah yang benar yang mengenakan kehidupan Tuhan Yesus. Dengan keadaan seperti itu, mereka kehilangan Bapa dan persekutuan dengan diri-Nya. Pada dasarnya, kekristenan adalah proses perjalanan hidup orang percaya untuk terus-menerus mengalami perubahan karakter, sehingga bisa mengenakan cara hidup yang diperagakan Tuhan Yesus ketika mengenakan tubuh daging seperti kita dua ribu tahun yang lalu. Dengan demikian, kekristenan adalah perubahan karakter, dari karakter manusia yang mengenakan kodrat dosa (sinful nature) menjadi manusia Allah yang serupa dengan Tuhan Yesus yang mengenakan kodrat ilahi (divine nature). Orang percaya dipanggil untuk ini.
    Sekarang ini, banyak orang menggantikan kekristenan dengan ritual atau liturgi. Salah satu ciri keberagamaan—selain ritual—adalah usaha memperoleh fasilitas dari Allah yang disembah untuk kehidupan hari ini. Biasanya, untuk itu perlu sebuah ritual yang berkenan di hadapan allahnya. Salah satu ciri keberagamaan adalah terbangunnya ritual atau upacara agama. Ciri ini selalu ada hampir pada semua agama. Hampir tidak ada agama yang tidak memiliki ritual. Dari ritual agama, tampaklah identitas agama tersebut. Biasanya ritual agama juga menjadi sarana pertemuan dengan allah yang disembah. Di sini terjadi manipulasi dan banyak penipuan. Tanpa disadari, banyak orang Kristen yang pemahamannya dipengaruhi oleh dunia sekitar, sampai mereka tidak bisa lagi mendengar pengajaran yang benar.
    Banyak juga orang Kristen yang pikirannya menjadi se...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…