Dalam doa Yabes, terdapat kalimat,“Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah” (1Taw. 4:10). Betapa berbahayanya kata “berlimpah-limpah” dalam ayat ini jika tidak dipahami dengan pengertian yang benar. Sebenarnya dalam teks aslinya, kata “berlimpah-limpah” itu sendiri tidak ada. Kata ini dalam bahasa Indonesia bisa mengesankan bahwa orang percaya berhak atau diperkenan meminta kepada Allah untuk memberi secara “berlimpah-limpah” atau banyak atau bisa juga berkonotasi “berlebih.” Ini bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Yesus. Jika kata “berlimpah-limpah” salah dipahami—dan memang pada umumnya sudah salah dipahami oleh banyak orang Kristen—hal itu dapat merusak bangunan iman Kristen yang benar. Oleh sebab itu, seharusnya orang percaya Perjanjian Baru memberi fokus kepada Doa Bapa Kami, bukan doa Yabes.
Dalam Doa Bapa Kami, diajarkan kepada orang percaya kalimat doa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11). Kata “secukupnya” dalam teks aslinya adalah arkeo, yang bisa berarti “tidak gagal memberi kekuatan,” kuat, cukup, dan memuaskan. Dalam ayat ini, Tuhan mengajar orang percaya agar dengan apa yang ada, orang percaya sudah merasa cukup kuat, atau merasa cukup guna menghadapi hidup. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya menjadi puas dan mengucap syukur dengan apa yang ada dan tidak menjadi serakah. Keserakahan tersebut antara lain adalah hasrat “ingin kaya.” Ingin kaya adalah hasrat yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Letak kesalahannya bukan pada kekayaan, tetapi pada “hasrat” terhadap uangnya atau “cinta uang” itu sendiri. Kalau seseorang masih ingin kaya karena kekayaan itu sendiri, berarti ia belum dewasa rohani, belum menghayati nilai Kerajaan Allah.
Dalam Doa Bapa Kami juga terdapat kalimat,“… Tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Kata “jahat” dalam teks aslinya adalah poneros yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris versi King Jamesmenjadi evil. Kata poneros menunjuk pada kejahatan dalam pikiran, yaitu mengingini segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan. Jadi, bagi umat Perjanjian Baru, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan adalah jahat. Karena itu, kalimat, “…Tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat,” dalam Doa Bapa Kami menunjukkan agar orang percaya memiliki ketepatan dalam bertindak. Ketepatan di sini termasuk merasa cukup dengan apa yang ada.
Dalam hidupnya, orang percaya harus memiliki prinsip “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” dalam hidup.Ini berarti bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah milik Tuhan, dan bersedia dipakai untuk kepentingan pekerjaan Tuhan sesuai dengan kehendak Allah. Harus diingat pula bahwa langkah-langkah kecil yang lahir dari kehendak dan keinginan atau hasrat seseorang hari ini menentukan nasib kekalnya. Kalau sejak di bumi, ia mengingini kelimpahan secara salah, berarti ia membinasakan dirinya.
Dalam Yohanes 10:10 Yesus berkata, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Yesus datang untuk memberi hidup. Kata hidup dalam teks aslinya adalah zoe (ζωὴ). Kata lain yang sama dengan zoe adalah bios. Kata bios lebih menunjuk hidup makhluk pada umumnya, tetapi zoe lebih menunjuk pada hidup yang berkualitas. Hidup dalam teks ini adalah zoe, bukan bios. Sedangkan, kata “kelimpahan” dalam teks ini bukan berarti banyak secara kuantitas atau dalam arti materi, melainkan “tinggi dalam kualitas” (very high quality), yang dalam bahasa Yunani merupakan terjemahan dari kata perisson (Yun.περισσὸν).
“Yesus yang lain” mengajarkan kelimpahan yang menyebabkan pikiran orang Kristen tertuju bukan pada Kerajaan Allah, melainkan pasti membangun hasrat ingin kaya. Hal ini membuat seseorang tidak merasa membutuhkan Tuhan secara benar, sebab baginya Tuhan tidak lebih berharga dari harta kekayaan materi. Kalau pun ia berurusan dengan Tuhan,