Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • “Yesus Yang Lain” Memberi Kemudahan
    Dalam gereja, kita sering mendengar promosi tentang Allah yang sangat baik. Karena kebaikan-Nya, Dia akan memudahkan jalan hidup orang percaya. Segala sesuatu dikesankan dapat diselesaikan dengan mudah. Ini adalah ajaran dari “Yesus yang lain.” Mereka mengajarkan untuk mengklaim janji Tuhan untuk berkat-berkat rohani, doa pemulihan ekonomi, pemutusan kutuk-kutuk kemiskinan, yang semuanya itu sebagai usaha untuk mengalami pemulihan ekonomi. Semua itu dapat mempermudah seseorang dalam menjalani kehidupan ini, seakan-akan orang Kristen memiliki hak istimewa untuk bebas dari masalah. Sebenarnya, ini adalah sebuah penipuan. Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab.Segala sesuatu harus diselesaikan dengan tanggung jawab. “Yesus yang lain” mengajar bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan dengan mudah melalui doa.
    Banyak jemaat merasa harus selalu menerima doa dari pendeta untuk diberkati Tuhan guna memenuhi nafkah jasmani, dan kalau pendeta berdoa, berkat dapat datang dengan lebih mudah. Sebagai anak-anak Tuhan yang memiliki jaminan pemeliharaan dan hak istimewa dari Bapa, yang dibutuhkan adalah tanggung jawab, bukan doa pendeta atau orang suci manapun. Orang percaya harus keluar dari keadaan terpuruknya sekarang dengan tanggung jawab, yaitu kerja keras.Keadaan atau nasib seseorang di bumi ini tidak ditentukan oleh Allah.Sesungguhnya keadaan kita ditentukan oleh keputusan dan tindakan kita sendiri.Bagi orang percaya yang dewasa, doa adalah dialog, bukan sekadar permintaan. Allah sudah menyediakan berkat bagi setiap individu. Tuhan Yesus menyatakan bahwa burung di udara saja Dia pelihara, apalagi orang percaya (Mat. 6:25-34). Yang diperlukan adalah memilih untuk bekerja rajin, mengatur waktu dengan baik, menghindarkan kegiatan yang tidak perlu dilakukan, hemat, menjaga kesehatan dengan pola makan dan hidup yang baik, dan lain sebagainya.
    Kesalahan banyak orang dewasa ini adalah mencoba menyelesaikan semua masalah dengan “karunia.” Dan, karunia itu diterima melalui berdoa. Ini terjadi oleh karena merasa diri sebagai anak-anak Allah yang memiliki jaminan “luar biasa” dari Tuhan. Hal ini dikemukakan bukan untuk mengecilkan arti status sebagai anak-anak Allah yang pasti dipelihara Tuhan sempurna. Namun,itu juga bukan berarti kita dapat mengharapkan segala penyelesaian masalah dengan “karunia atau mukjizat.” Untuk ini, kita harus dapat membedakan antara “karunia dan tanggung jawab.” Mereka berusaha menikmati fasilitas sebagai orang percaya dengan memanfaatkan kasih dan kuasa Tuhan. Tuhan tentu adalah Tuhan yang penuh kasih dan berkuasa. Fasilitas ini disediakan bagi kita, anak-anak Tuhan. Namun, ini bukan berarti bahwa orang percaya dapat memanfaatkan kasih dan kuasa Tuhan sesukanya sendiri. Harus dipahami bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berdaulat. Tuhan memiliki kebijaksanaan yang tidak dapat dipengaruhi atau diubah oleh siapa pun. Tuhan tidak akan pernah dapat diperalat atau dimanfaatkan.
    Banyak pendeta berdoa agar Tuhan memberkati umat-Nya dengan berkat yang berlimpah, tetapi mereka tidak dengan tegas mengajak umat untuk bekerja keras, giat, dan jujur. Tidak sedikit pendeta yang mengajarkan bahwa orang Kristen tidak perlu bekerja giat, sebab menurut mereka, tanpa perlu bekerja giat Allah tetap akan memberi berkat yang berlimpah. Mereka menegaskan bahwa yang penting adalah berdoa. Ini adalah pendeta dari “Yesus yang lain.” Hal ini akan merusak generasi muda untuk memaksimalkan potensi pada masa mudanya di tengah persaingan yang makin ketat.Dalam hal ini, dikesankan bahwa apa pun dan bagaimana pun cara kerja kita, Tuhan pasti akan memberkati dengan segala berkat-Nya. Pemahaman ini benar-benar salah.Ironisnya banyak orang Kristen—bahkan pendeta—terjebak dalam kesalahan ini.
    Banyak hal dalam hidup ini yang harus kita selesaikan dengan upaya, tenaga, dan kerja keras kita sendiri.Inilah yang disebut dengan tanggung jawab. Adapun untuk hal-hal yang tidak mungkin bisa kita lakukan tanpa campur tangan Tuhan,
    0 min
  • Penyesatan Alam Roh
    “Yesus yang lain” mengajarkan hal-hal yang cenderung tidak logis, supernatural dan transendental.Biasanya ini dibahasakan secara umum sebagai “nge-roh,” karena selalu menekankan alam roh. Mengemukakan hal ini bukan berarti kita anti akan hal-hal yang supernatural dan transendental, atau alam roh.Kebenaran itu sangat logis, natural dan sangat bisa dipahami dengan nalar yang dikaitkan dengan kehidupan nyata. Banyak orang sedang menyukai hal-hal yang bersifat supernatural dan berunsur mistik. Ternyata,tren seperti ini telah masuk dalam lingkungan kehidupan anak-anak Allah. Hal ini bisa merupakan celah atau saluran yang digunakan Iblis guna menyesatkan gereja Tuhan di dunia. Dan, ini merupakan sarana Iblis yang efektif dan sangat ampuh sebab hal ini sangat mudah diterima oleh mereka yang kurang mengerti kebenaran.
    Hal-hal yang berkenaan dengan alam roh atau supernatural menyangkut antara lain: nubuat, penglihatan, mimpi-mimpi, mendengar suara Tuhan, pengalaman dalam dunia orang mati atau pengalaman di surga dan di neraka, mukjizat-mukjizat, bahasa roh, dan lain sebagainya. Membicarakan hal ini bukan berarti kita tidak setuju adanya fenomena tersebut. Kita percaya bahwa hal-hal tersebut juga ada di dalam Alkitab dan merupakan bagian dari karunia-karunia Roh. Namun, kita dipanggil untuk menguji dengan teliti dan saksama terhadap fenomena alam roh Yesus atau “Yesus yang lain.”
    Bahaya yang dihadapi jemaat Tuhan hari ini adalah serangan Iblis melalui saluran alam roh atau dunia supernatural. Iblis adalah makhluk supernatural, sehingga mudah sekali memperdaya—bukan saja jemaat awam, melainkan juga hamba Tuhan—mereka yang tidak dilengkapi dengan kebenaran Alkitab. Iblis si pendusta atau pembohong mampu memalsukan dengan canggih hal-hal yang berkenaan dengan alam roh ini. Jemaat sampai-sampai sulit membedakan manakah yang berasal dari Allah dan yang dari Iblis. Jadi kalau ada seseorang berbahasa roh, menyampaikan nubuat, penglihatan, mengadakan tanda ajaib dan lain sebagainya, hendaknya kita tidak cepat-cepat meyakini bahwa itu semua berasal dari Tuhan.Pemalsuan yang berkepanjangan seperti ini menggiring jemaat tidak pernah menemukan maksud keselamatan diberikan oleh Allah.
    Kalau kita berbicara mengenai pemalsuan karunia-karunia Roh di dalam gereja, hal ini hendaknya tidak memicu kita untuk menghakimi dan menuduh hamba Tuhan yang berbahasa roh, bernubuat, menyaksikan penglihatan, mengadakan mukjizat dan berbagai demonstrasi karunia Roh sebagai nabi palsu. Maksud penjelasan ini dikemukakan adalah agar kita menjadi waspada terhadap fenomena tersebut bila terjadi di dalam gereja dan selalu memperhitungkan adanya penyesatan melalui orang-orang yang mengaku hamba Tuhan. Hamba-hamba Tuhan yang terjebak dalam fenomena alam roh yang salah akan memberikan doktrin-doktrin atau pengajaran wahyu dari alam roh kepada jemaat yang menganggap bahwa segala sesuatu yang supernatural pasti berasal dari Tuhan.Akibatnya, terjadi percampuran antara pendapat pribadi dan pengajaran roh-roh jahat.
    Salah satu ciri dari hamba-hamba Tuhan yang menyesatkan jemaat adalah biasanya dalam pengajarannya sangat menekankan hal-hal supernatural (karunia-karunia Roh), tetapi mengabaikan pengajaran Alkitab yang menghasilkan buah Roh (Gal. 5:22-23). Mereka menjadikan pengalaman dunia supernatural atau alam roh sebagai ukuran kesempurnaan. Mereka tentu juga memberi kesan kepada jemaat bahwa mereka adalah “orang-orang istimewanya Tuhan.” Hal ini dimaksudkan agar mereka mendapat legitimasi dari jemaat untuk dipercayai sebagai hamba Tuhan yang benar dan pantas diikuti. Jika ukuran yang digunakan mereka untuk menunjukkan kedewasaan dan kesempurnaan adalah karunia Roh atau alam supernatural, hal itu sangat bertentangan dengan Alkitab. Ukuran kedewasaan dan kesempurnaan menurut Alkitab adalah “seperti Yesus.” Danuntuk membedakan apakah seseorang adalah nabi palsu atau bukan,kita bisa lihat dari buah Rohnya. Buah Roh di sini adalah memiliki pribadi seperti Kr...
    0 min
  • Haus Pengultusan
    Setiap orang memiliki “virus” yang disebut oleh Yohanes dalam suratnya sebagai keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17). Virus ini berjangkit bukan saja atas orang-orang yang tidak mengenal Allah, bukan hanya pada kehidupan jemaat Tuhan, melainkan juga para pendeta atau mereka yang mengikut “Yesus yang lain.” Mereka mau menjadi orang yang dikultuskan atau dianggap penting dan terhormat. Memang mereka tidak mengucapkannya secara langsung, tetapi tindakan mereka menunjukkan hal tersebut. Keinginan mereka untuk menjadi “orang yang istimewa” bagi jemaat, dan juga bagi pendeta lain tampak terlihat sekali. Bagi mereka, pengkultusan bukan sesuatu yang mereka pandang keliru, sebab mereka merasa layak untuk mendapat perlakuan seperti itu. Namun, mereka tidak menyadari bahwa dirinya sudah terlibat dalam kesombongan yang mendukakan hati Tuhan. Itulah sebabnya mereka mengingini keberhasilan dalam pelayanan melalui mukjizat.
    Karena tidak memiliki landasan pemahaman kebenaran yang cukup, dan tidak berhati-hati dalam menjalani hidup dengan potensi bahaya yang begitu besar, tidak sedikit di antara mereka yang kemudian menyimpang dari jalan Tuhan. Bahaya besar bagi para hamba-hamba Tuhan tersebut selain kekayaan dan ketenaran, juga jabatan dalam sinode atau pemimpin di kalangan para pendeta. Penyimpangan ini tidak terlalu tampak bagi mereka yang tidak mengenal kebenaran.Namun, bagi mereka yang mengenal kebenaran, penyimpangan ini sangat tampak jelas. Kita dapat menilai dari isi khotbahnya, di mana penyimpangan hingga kesesatannyasudah dapat dikenali.
    Tidak sedikit di antara mereka yang suka mendemonstrasikan mukjizat. Dengan melakukannya, mereka dapat dianggap dan merasa sebagai “orang istimewa Tuhan,” dan ditambah lagi dengan kepercayaan dari jemaat, ia akan dengan mudah membuat pernyataan-pernyataan bahwa dirinya menerima pesan atau visi dari Tuhan. Bagi jemaat awam, tidak mudah membedakan apakah pesan atau visi itu dari Tuhan atau bukan; tetapi bagi yang mengenal kebenaran, sangat mudah mengenalinya. Faktanya, lebih banyak yang tertipu daripada yang mengenali penipuan tersebut. Dari hal ini, maka banyak orang Kristen yang hanyut alam fenomena mukjizat kesembuhan, sehingga tidak fokus terhadap proses keselamatan yang harus dijalani.
    Dalam Matius 7:21-23 dijelaskan ada orang-orang yang mengaku sudah bernubuat, mengusir roh jahat, dan mengadakan banyak mukjizat, tetapi ditolak oleh Tuhan. Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak mengenal mereka. Frasa ”tidakmengenal” di sini sebenarnya maksudnya bukan tidak mengenal dalam arti tidak diketahui.Maksudnya frasa ini adalah “tidak dapat dinikmati” oleh Tuhan (Yun.ginosko). Tidak dapat dinikmati oleh Tuhan berarti bahwa kehidupan pribadi hamba Tuhan atau pendeta tersebut tidak menyenangkan hati Tuhan. Tidak menyenangkan hati Tuhan atau tidak berkenan di hadapan Tuhan disebabkan karena mereka tidak melakukan kehendak Bapa. Dari hal ini sangat jelas dikemukakan bahwa mukjizat bukanlah segalanya. Tuhan tidak menikmati mukjizat yang dilakukan melalui orang percaya. Tuhan lebih menikmati kehidupan orang percaya yang melakukan kehendak Bapa.
    Timbul pertanyaan, bagaimana dengan hamba Tuhan yang memulai pelayanannya dengan tulus dan sungguh-sunggguh,—walaupun ketulusannya belum matang atau tidak sempurna—apakah ukuran kedewasaan rohani mereka pada waktu itu sudah cukup bagi mereka untuk diperkenan melayani Tuhan dan dinilai baik? Pada mulanya mereka tidak bermaksud hendak serakah, gila hormat atau berniat dikultuskan, juga tidak bermaksud ikut terlibat politik praktis serta menyalahgunakan kekuasaan rohani. Mereka juga tidak pernah bercita-cita hendak melakukan berbagai pelanggaran moral. Pada waktu itu, dalam usia rohani yang masih dipandang muda oleh Tuhan, mereka bisa menerima karunia-karunia dari Tuhan, di antaranya karunia mengadakan mukjizat. Tetapi ketika ia sudah menjadi besar dan terkenal, dengan segala berkat jasmani yang membanjiri hidupnya, dirinya mulai tenggelam.
    0 min
  • Kesembuhan Bukan Tujuan
    “Yesus yang lain” selalu tampil sebagai penyembuh, seakan-akan kesembuhan adalah tujuan atau goal hidup Kristen. Padahal, kesembuhan adalah sarana untuk membuktikan bahwa diri Yesus berasal dari Allah. Keajaiban dari mukjizat-mukjizat akan membuat orang menjadi kagum, dan karena kekaguman tersebut mereka bisa salah memahami maksud kedatangan Yesus ke bumi; yang tujuan sejatinya adalah keselamatan.Hal ini menjadi pelajaran mahal bagi kita sekarang. Kalau gereja salah mengajarkan kebenaran, khususnya dalam konteks mengenai mukjizat ini, jemaat bisa salah mengerti maksud kedatangan Yesus ke dunia.Faktanya, hari ini banyak gereja selalu berbicara mengenai mukjizat, sehingga fokus hidup kekristenannya bergeser dan meleset. Ironis, mereka tidak sadar bahwa mereka telah tersesat.
    Sikap kita terhadap mukjizat kesembuhan ilahi harus benar, sebab hal ini bertalian dengan hubungan jemaat dengan Tuhan. Sikap yang salah terhadap mukjizat akan menempatkan jemaat menjadi salah di hadapan-Nya. Sebaliknya, sikap yang benar terhadap mukjizat akan membuat jemaat dapat menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya. Pengajaran dan praktik pelayanan mukjizat dewasa ini—kalau tidak disikapi dengan benar—bisa menyesatkan umat, sehingga mereka tidak mengenal keselamatan dengan benar. Banyak pendeta memperkenalkan diri sebagai penyembuh. Mereka memang tidak secara langsung mengatakan bahwa dirinya yang menyembuhkan penyakit jemaat. Namun, kesan kuat yang hendak disampaikan kepada jemaat adalah bahwa Yesus yang menjadikan mereka pelayan-Nya adalah penyembuh dari segala keadaan.
    Sebagai akibatnya, atmosfer pengajaran atau pendidikan rohani yang dihadirkan dalam pelayanan tersebut adalah “pemenuhan kebutuhan jasmani.” Memang tubuh sehat atau kesembuhan merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan manusia.Semua jemaat harus mengusahakannya secara maksimal dengan tanggung jawab: yaitu dengan pola makan dan pola hidup yang baik. Namun, jemaat hendaknya tidak lupa bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus tidak difokuskan pada hal tersebut. Keselamatan dalam Yesus Kristus berorientasi pada dikembalikannya manusia kepada rancangan semula Allah.
    Kita percaya bahwa Allah yang menjadi Bapa kita adalah Allah yang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas atas alam semesta ini. Sebagai anak-anak Allah, kita pasti memiliki jaminan pemeliharaan Tuhan yang sangat ajaib. Namun,itu bukan berarti bahwa kita dapat menggunakan kuasa Tuhan sesuka kita sendiri, seakan-akan kita dapat menggunakan kuasa Tuhan kapan saja dan dalam segala hal menurut selera kita sendiri. Ketika seseorang belum dewasa rohani, ia berusaha untuk memercayai kuasa Allah dan kadang-kadang mengklaimnya seakan-akan ia memiliki hak untuk menggunakannya. Biasanya, konsep yang dimiliki dalam pikiran mereka mengenai Tuhan adalah bahwa Tuhan menghendaki orang Kristen memercayai kuasa-Nya. Semakin memercayai kuasa Allah, mukjizat yang diyakini pun semakin mungkin terjadi. Ini pikiran yang salah dalam kehidupan orang-orang Kristen yang tidak atau belum dewasa.
    Ketika gereja hanya menjadi tempat untuk memperoleh jalan keluar dari berbagai kesulitan hidup di bumi berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, terjadilah praktik pelayanan rohani yang mirip dengan praktik perdukunan. Maksud praktik perdukunan di sini adalah bahwa gereja dan semua pelayan-pelayannya menggunakan kuasa Tuhan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani yang terjadi dalam kehidupan umat Tuhan. Ini sama seperti dukun-dukun yang “menjual jasa” dengan membuat praktik-praktik mukjizat guna penyelesaian masalah-masalah hidup yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Dengan isi pelayanan seperti ini, gereja mengabaikan maksud keselamatan yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu dikembalikannya manusia kepada rancangan semula Allah, menjadi segambar dan serupa dengan Allah.
    Cara Tuhan memperlakukan setiap individu bisa berubah sesuai dengan usia rohani individu tersebut....
    0 min
  • Yesus Yang Lain Menekankan Mukjizat
    Banyak pengkhotbah mengajarkan bahwa Yesus adalah pribadi yang selalu akan mengadakan kesembuhan bagi semua orang. Mereka mengesankan bahwa kuasa-Nya itulah yang mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya. Ini adalah pandangan yang salah. Yesus yang diperkenalkan demikian, sejatinya adalah “Yesus yang lain.” Mukjizat selalu dikaitkan dengan keadaan mustahil yang tidak bisa dilakukan oleh manusia. Oleh sebab itu, kalau manusia menghadapi masalah-masalah pelik yang melampaui kekuatannya, manusia mengusahakan mukjizat untuk penyelesaiannya. Yesus memang mengadakan mukjizat, tetapi sebagai tanda agar orang-orang Yahudi mendengarkan pengajaran-Nya (Yoh. 3:1-5).
    Bagi umat Perjanjian Baru, mukjizat dilakukan untuk maksud yang berbeda dengan pemberian mukjizat dalam Perjanjian Lama. Tuhan Yesus mengadakan mukjizat sebagai tanda untuk membuktikan bahwa diri-Nya berasal dari Allah. Jadi, mukjizat diadakan dengan maksud agar bangsa Israel pada zaman penggenapan bisa mendengar kebenaran Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Tanpa mukjizat, sulit bagi bangsa Israel untuk memalingkan diri dan membuka telinga untuk mendengar kebenaran Injil yang diajarkan oleh Yesus. Dalam hal ini, kita memperoleh pelajaran, bahwa seseorang dapat berpaling untuk mendengar kebenaran Injil bukan karena kuasa Allah yang menggerakkan diri seseorang datang ke gereja, melainkan melalui proses natural, yaitu melihat mukjizat. Ketika mereka melihat mukjizat, mereka tertarik untuk terus mendengar apa yang diajarkan oleh Yesus.
    Mukjizat yang Tuhan lakukan pasti memiliki maksud tertentu. Ia tidak bermaksud hendak pamer kekuatan. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang masih berusaha untuk memamerkan kekuatan Tuhan Yesus, bermaksud untuk membuktikan kebesaran dan kebenaran-Nya. Tindakan ini adalah tindakan yang bodoh. Tindakan itu justru mengesankan bahwa Allah kita sejajar dengan sesembahan agama lain. Pengkhotbah dari “Yesus yang lain” mengesankan bahwa Tuhan sedang berkompetisi dengan alah-alah lain. Melalui mukjizat, “Yesus yang lain” tersebut hendak meninggikan dirinya dan membuktikan bahwa dirinya adalah Tuhan yang benar. Mestinya kebenaran Tuhan tidak dibuktikan oleh mukjizat kuasa-Nya, melainkan oleh kualitas perilaku pengikut-Nya. Yesus tidak terus-menerus melakukan mukjizat, sebab tujuannya adalah keselamatan, yaitu diubahkannya karakter seseorang untuk dikembalikan ke rancangan semula Allah.
    Dalam banyak komunitas Kristen kita sering mendengar kesaksian-kesaksian mengenai keajaiban-keajaiban terkait dengan masalah-masalah jemaat. Mereka mengklaim bahwa kuasa Yesus yang ajaib, yang tiada duanya telah menolong mereka. Ironisnya, masalah-masalah tersebut juga dialami semua orang di luar gereja, dan mereka juga mendapat jalan keluar. Faktanya, orang-orang di luar Kristen juga dapat memperoleh jalan keluar dari masalah-masalah hidup yang dialami oleh orang-orang Kristen tersebut. Sudah saatnya orang percaya tidak bertindak bodoh, tetapi cerdas dan bijaksana. Kesaksian-kesaksian spektakuler yang berunsur mukjizat seharusnya tidak lagi menjadi cara untuk membuktikan bahwa Allah yang disembah orang percaya adalah Allah yang benar. Orang percaya tetap dapat membuktikan kebenaran imannya dengan mengenakan gaya hidup Yesus, Dengan cara demikian, dapat membuktikan kebenaran Allah dan Tuhan yang orang percaya sembah. Dalam hal ini orang percaya barulah efektif menjadi saksi bagi Kristus (Kis. 1:6-8).
    Ketika mukjizat menjadi tujuan seperti yang diajarkan oleh “Yesus yang lain,” maksud tujuan keselamatan pun bisa meleset. Dalam hal tersebut, kesalahpengertian mengenai mukjizat bisa sangat berpotensi membangun kegagalan terwujudnya keselamatan. Kesalahpengertian mengenai mukjizat berpotensi besar menimbulkan penyalahgunaan atau manipulasi pelayanan, bukan untuk berita keselamatan. Dalam hal ini, kesalahan tersebut adalah menciptakan kondisi di mana mukjizat menjadi komoditas untuk keuntungan materi dan kebanggaan pribadi.
    0 min
  • Dunia Bukan Rumah Orang Percaya
    “Yesus yang lain” mengajar bahwa di bumi ini, orang percaya boleh dan bisa menikmati kesenangan hidup, seakan-akan tidak ada kehidupan di dunia lain. Padahal, orang percaya justru diorientasikan atau diproyeksikan untuk hidup di dunia yang akan datang, di langit. Teologi Kemakmuran sangat kuat memprovokasikan hal ini, sehingga merusak bangunan berpikir Kristen yang murni. Hal ini bisa mengakibatkan seseorang binasa. Ketika Yesus mengajarkan dengan memanggil, “Bapa kami yang di sorga,” secara langsung Yesus menunjuk bahwa bumi ini bukanlah rumah kita. Tuhan Yesus mengatakan bahwa di Rumah Bapa banyak tempat tinggal (Yoh. 14:1-3). Tuhan Yesus juga berulang-ulang mengatakan bahwa baik diri-Nya maupun orang percaya bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:14).
    Dari pernyataan ini, Tuhan Yesus mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa bumi ini bukan rumah orang percaya. Bumi ini hanya hunian sementara. Ada tempat lain yang akan menjadi tempat hunian tetap orang percaya. Orang percaya harus meyakini dan menerimanya dengan sungguh-sungguh bahwa tempat tinggal, hunian atau tempat domisili kita bukan hanya dunia sekarang ini. Sebagai orang percaya, kita harus menyadari bahwa orang percaya dipersiapkan Tuhan untuk mewarisi Kerajaan-Nya. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi orang percaya. Kalau Ia sudah menyediakan tempat tersebut, Ia akan kembali menjemput orang percaya, supaya di mana Tuhan Yesus, ada orang percaya juga berada (Yoh. 14:1-3).
    Orang-orang Kristen yang tidak mengerti bahwa rumahnya sendiri ada di langit baru dan bumi yang baru akan berusaha keras bagaimana memiliki rumah pribadi seluas-luasnya dan seindah-indahnya sebagai nilai diri dan kebanggaan di bumi ini. Mereka berpikir bahwa kesempatan memiliki rumah hanya di bumi ini. Hal ini terkait dengan doa Yabes. Dalam doa Yabes terdapat kalimat, “Kiranya Engkau… memperluas daerahku” (1Taw. 4:10). Daerah yang dimaksud Yabes tentu adalah wilayah di bumi ini, mengingat Yabes belum memahami hal keselamatan maupun langit baru dan bumi yang baru. Kalau doa seperti ini diucapkan oleh orang percaya, umat Perjanjian Baru, doa tersebut dapat membangun pola berpikir yang merusak prinsip kebenaran. Alkitab jelas menyatakan bahwa dunia bukan rumah orang percaya. Kewargaan orang percaya ada di surga (Flp. 3:20). Kalimat yang mengatakan bahwa orang percaya adalah orang yang menumpang di bumi (1Ptr. 1:17) menunjukkan bahwa orang percaya bukan pemilik bumi atau dunia hari ini. Orang percaya tidak harus memiliki wilayah luas untuk menjadi kebanggaan dan kesenangan di bumi ini.
    Yesus tidak mengajarkan doa Yabes dan mengambil ayat-ayat Perjanjian Lama untuk dijadikan standar kehidupan orang percaya. Yesus juga tidak mengambil Yesaya 54:3 sebagai landasan hidup orang percaya Perjanjian Baru. Yesaya 54:3 berbunyi, “Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi.” Ayat-ayat Perjanjian Lama memang hanya dikenakan bagi umat Perjanjian Lama yang orientasinya masih duniawi. Sedangkan, orientasi orang percaya Perjanjian Baru adalah hal-hal rohani. Orang percaya hanya memikirkan hal-hal yang dari atas, bukan dari bumi ini (Kol. 3:1-3). Ayat-ayat tersebut juga tidak boleh ditafsirkan secara alegoris yang diberi arti rohani.
    Jemaat awam pada umumnya tidak mengerti kalau ada pembedaan ayat-ayat yang dikenakan bagi umat Perjanjian Lama yang orientasi hidup dan berpikirnya masih dunia ini, dengan ayat-ayat yang ditujukan bagi orang-orang percaya Perjanjian Baru yang mestinya sudah tidak lagi memikirkan hal-hal dari dunia ini. Pembicara sebagai jurubicara “Yesus yang lain” mengambil ayat dari Alkitab Perjanian Lama yang mestinya harus dilihat konteksnya dan tidak dikenakan secara harfiah ke dalam hidup orang percaya umat Perjanjian Baru. Dan, jemaat yang tidak cerdas akan menerimanya begitu saja. Hal ini dapat merusak bangunan iman jemaat.
    0 min
  • Kelimpahan Yang Benar
    Dalam doa Yabes, terdapat kalimat,“Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah” (1Taw. 4:10). Betapa berbahayanya kata “berlimpah-limpah” dalam ayat ini jika tidak dipahami dengan pengertian yang benar. Sebenarnya dalam teks aslinya, kata “berlimpah-limpah” itu sendiri tidak ada. Kata ini dalam bahasa Indonesia bisa mengesankan bahwa orang percaya berhak atau diperkenan meminta kepada Allah untuk memberi secara “berlimpah-limpah” atau banyak atau bisa juga berkonotasi “berlebih.” Ini bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Yesus. Jika kata “berlimpah-limpah” salah dipahami—dan memang pada umumnya sudah salah dipahami oleh banyak orang Kristen—hal itu dapat merusak bangunan iman Kristen yang benar. Oleh sebab itu, seharusnya orang percaya Perjanjian Baru memberi fokus kepada Doa Bapa Kami, bukan doa Yabes.
    Dalam Doa Bapa Kami, diajarkan kepada orang percaya kalimat doa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat. 6:11). Kata “secukupnya” dalam teks aslinya adalah arkeo, yang bisa berarti “tidak gagal memberi kekuatan,” kuat, cukup, dan memuaskan. Dalam ayat ini, Tuhan mengajar orang percaya agar dengan apa yang ada, orang percaya sudah merasa cukup kuat, atau merasa cukup guna menghadapi hidup. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya menjadi puas dan mengucap syukur dengan apa yang ada dan tidak menjadi serakah. Keserakahan tersebut antara lain adalah hasrat “ingin kaya.” Ingin kaya adalah hasrat yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Letak kesalahannya bukan pada kekayaan, tetapi pada “hasrat” terhadap uangnya atau “cinta uang” itu sendiri. Kalau seseorang masih ingin kaya karena kekayaan itu sendiri, berarti ia belum dewasa rohani, belum menghayati nilai Kerajaan Allah.
    Dalam Doa Bapa Kami juga terdapat kalimat,“… Tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Kata “jahat” dalam teks aslinya adalah poneros yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris versi King Jamesmenjadi evil. Kata poneros menunjuk pada kejahatan dalam pikiran, yaitu mengingini segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan. Jadi, bagi umat Perjanjian Baru, segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Tuhan adalah jahat. Karena itu, kalimat, “…Tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat,” dalam Doa Bapa Kami menunjukkan agar orang percaya memiliki ketepatan dalam bertindak. Ketepatan di sini termasuk merasa cukup dengan apa yang ada.
    Dalam hidupnya, orang percaya harus memiliki prinsip “asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” dalam hidup.Ini berarti bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah milik Tuhan, dan bersedia dipakai untuk kepentingan pekerjaan Tuhan sesuai dengan kehendak Allah. Harus diingat pula bahwa langkah-langkah kecil yang lahir dari kehendak dan keinginan atau hasrat seseorang hari ini menentukan nasib kekalnya. Kalau sejak di bumi, ia mengingini kelimpahan secara salah, berarti ia membinasakan dirinya.
    Dalam Yohanes 10:10 Yesus berkata, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Yesus datang untuk memberi hidup. Kata hidup dalam teks aslinya adalah zoe (ζωὴ). Kata lain yang sama dengan zoe adalah bios. Kata bios lebih menunjuk hidup makhluk pada umumnya, tetapi zoe lebih menunjuk pada hidup yang berkualitas. Hidup dalam teks ini adalah zoe, bukan bios. Sedangkan, kata “kelimpahan” dalam teks ini bukan berarti banyak secara kuantitas atau dalam arti materi, melainkan “tinggi dalam kualitas” (very high quality), yang dalam bahasa Yunani merupakan terjemahan dari kata perisson (Yun.περισσὸν).
    “Yesus yang lain” mengajarkan kelimpahan yang menyebabkan pikiran orang Kristen tertuju bukan pada Kerajaan Allah, melainkan pasti membangun hasrat ingin kaya. Hal ini membuat seseorang tidak merasa membutuhkan Tuhan secara benar, sebab baginya Tuhan tidak lebih berharga dari harta kekayaan materi. Kalau pun ia berurusan dengan Tuhan,
    0 min
  • “Yesus Yang Lain” Mengajarkan Doa Yang Lain
    Ketika murid-murid Yesus meminta kepada Yesus agar Dia mengajarmereka untuk berdoa, Yesus tidak mengajarkan doa yang lain, tetapi hanya satu doa yang diajarkan, yaitu Doa Bapa Kami (Luk. 11:1-4; Mat. 6:9-13). Yesus tidak mengajarkan doa siapa pun:entah itu doa Abraham, doa Daniel, doa Daud, doa Yabes, atau doa tokoh-tokoh manapun. Sementara itu, “Yesus yang lain” mengajarkan doa yang lain. Kalaupun Doa Bapa Kami disebut juga, doa itu tidak akan dianggap lebih penting dari doa tokoh lain. Adalah baik kalau Doa Bapa Kami diucapkan dalam pertemuan-pertemuan bersama yang merupakan bagian dari liturgi. Dengan demikian jemaat diingatkan mengenai pola hidup yang harus dipahami dengan benar. Namun sangat disayangkan, Doa Bapa Kami yang merupakan standar kehidupan orang percaya yang diajarkan oleh Yesus telah diganti oleh banyak gereja dengan doa Yabes.
    Kalau doa Yabes memang perlu diajarkan untuk dipahami dan dikenakan dalam kehidupan orang percaya, tentu saja Yesus mengajarkan doa Yabes tersebut. Faktanya, tidak!Doa Yabes adalah doa yang orientasinya pada berkat jasmani atau berkat lahiriah. Hal ini sudah sangat jelas sebab fokus hidup orang-orang Perjanjian Lama (selain Abraham) adalah berkat jasmani. Seharusnya, hal ini tidak lagi mendapat tempat dalam kehidupan orang percaya. Yabes berseru agar ia diberkati berlimpah-limah. Kata “berkat” dalam bahasa Ibrani adalah barak (בּרךְ). Kata ini secara etimologi berarti the power of life (kuasa hidup). Bagi umat Perjanjian Lama, kuasa hidupnya adalah berkat jasmani.Namun, bagi umat Perjanjian Baru, kuasa hidupnya adalah berkat rohani, yaitu kesempurnaan di dalam Yesus yang membawa orang percaya kepada Kerajaan Tuhan Yesus, yang sama dengan rumah Bapa.
    Berangkat dari pengertian keselamatan yang benar, kita dapat memahami bahwa Doa Bapa Kami merupakan formula kehidupan yang seharusnya sudah dikenakan oleh manusia sejak di Taman Eden, yaitu mempermuliakan Bapa dan menghadirkan pemerintahan Allah dalam hidup ini. Kualitas hidup manusia dapat terwujud dalam relasinya dengan Allah yang bingkainya termuat dalam Doa Bapa Kami. Dalam Doa Bapa Kami terpetakan bagaimana seharusnya interaksi dengan Allah dalam relasi interpersonal yang harmonis. Dengan demikian, manusia dapat menjadi sekutu dan kawan sekerja Allah dalam keabadian. Dalam Doa Bapa Kami termuat maksud dan tujuan manusia diciptakan, yaitu mempermuliakan Bapa dan menghadirkan Kerajaan Allah. Hal ini termuat dalam kalimat Doa Bapa Kami, “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Inilah pola hidup yang mestinya dikenakan oleh manusia sejak manusia pertama ditempatkan Allah di Eden.
    Kejatuhan manusia dalam dosa mengakibatkan relasi antara Allah dan manusia menjadi rusak. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah.Ini berarti bahwa manusia tidak lagi memiliki keberadaan sesuai rancangan Allah semula, sehingga relasi antara Allah dan manusia tidak tersambung secara ideal. Melalui karya keselamatan, Tuhan hendak mengembalikan manusia dalam relasi ideal dengan Allah yang seharusnya manusia miliki. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula-Nya. Keselamatan hendak membawa manusia kepada kehidupan seperti yang dikehendaki oleh Allah sejak semula. Doa Bapa Kami merupakan formula kehidupan bagi manusia yang dikembalikan kepada manusia ideal yang Bapa inginkan.
    Ketika Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami, Yesus mengarahkan orang percaya kepada suatu gaya hidup “orisinal” yang harus dimiliki setiap makhluk yang disebut manusia. Dengan demikian, belajar mengenakan Doa Bapa Kami berarti belajar untuk menemukan peta kehidupan manusia yang dirancang Allah Bapa sejak semula. Oleh sebab itu, hendaknya Doa Bapa Kami bukan hanya diucapkan, melainkanjuga dikenakan dalam kehidupan. Doa Bapa Kami sebenarnya bukan hanya formula doa,melainkan formula kehidupan yang harus diperagakan dalam seluruh segi kehidupan.
    0 min
  • Mengajarkan Kemakmuran Duniawi
    “Yesus yang lain” berbicara mengenai keselamatan dan menghubungkannya dengan berkat materi atau pemenuhan kebutuhan jasmani. -Keselamatan seakan-akan adalah jalan untuk membebaskan manusia, bukan saja dari api neraka, melainkan juga dari kesulitan hidup menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan jasmani dalam dunia hari ini. Dalam hal ini, orientasi keselamatan yang seharusnya berpusat pada kebutuhan rohani—yaitu perubahan karakter menjadi seperti Kristus—diarahkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Tentu saja hal ini diminati oleh manusia zaman ini yang memang telah tertawan oleh filosofi materialisme dan hedonisme. Banyak orang beragama karena berusaha dapat berurusan dengan Tuhan hanya demi pemenuhan kebutuhan jasmaninya. Yesus dalam pemberitaan-Nya sama sekali tidak menekankan hal pemenuhan kebutuhan jasmani. Mukjizat dan berbagai tanda-tanda ajaib hanya tanda supaya orang Yahudi dapat memercayai Dia yang berasal dari atas, sehingga mendengarkan pengajaran-Nya (Yoh. 3:1-5). Mukjizat dan tanda-tanda ajaib bukanlah tujuan, melainkan sarana sementara (Mrk. 16:17-18).
    “Yesus yang lain” menjanjikan kemakmuran duniawi dengan mengupayakan kesejahteraan manusia di bumi ini.“Yesus yang lain” mengesankan bahwa dirinya membuat hidup orang Kristen dapat menjadi nyaman di bumi oleh berkat jasmani. “Yesus yang lain” menawarkan keindahan dunia ini dapat diraih dengan kuasa Allah. Itulah sebabnya mereka yang terinfus ajaran “Yesus yang lain” yang mengajarkan bahwa kesulitan hidup selalu datangnya dari Iblis. Karena itu, mereka merasa membutuhkan kuasa Allah untuk menghadapi serangan kuasa gelap tersebut. Padahal, justru Allah Bapa sering mengizinkan kesukaran hidup demi kebaikan umat pilihan-Nya, yaitu agar mereka bertumbuh dewasa menjadi seperti Yesus, Anak Allah yang benar (Rm. 8:28-29).
    “Yesus yang lain” dan pengikutnya tidak mengajarkan bahwa kenyamanan hidup bisa membuat seseorang tidak memerlukan siapa-siapa, bahkan Allah sendiri. Padahal, kenyamanan hidup membuat seseorang tidak melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Inilah ciri dari orang yang sedang terjerat oleh tipu daya kekayaan, yaitu ia tidak mencintai sesamanya dan tidak mengupayakan keselamatan jiwa orang lain. Hal ini dikemukakan oleh Injil dalam Markus 10:21-22, yaitu mengenai orang yang tidak mau melepaskan miliknya untuk orang lain, sehingga ia gagal menjadi pengikut Yesus. Keadaan seperti ini ada dalam diri orang yang telah tertawan oleh percintaan dunia ini. Dalam hal ini, Tuhan memperingatkan agar orang percaya menjaga diri dari kepentingan-kepentingan duniawi yang sama dengan percintaan dunia (Luk. 21:34). Percintaan dunia inilah yang sama artinya dengan tipu daya kekayaan yang telah menjerat banyak orang. Orang yang terikat dengan keindahan dunia dengan segala hiburannya sama dengan “menyembah Iblis.”
    Yesus berkata bahwa di rumah Bapa-Nya banyak tempat tinggal, tetapi mereka yang telah mendengar ajaran “Yesus yang lain” tidak merindukan rumah Bapa, sebab mereka telah menjadikan dunia ini sebagai Firdausnya. Rumah Bapa menjadi tidak menarik karena ada rumah “bapa yang lain,” yaitu keindahan dunia ini. Inilah keinginan dan harapan manusia pada umumnya: memiliki sebuah Firdaus di bumi ini tanpa memikirkan Rumah Bapa yang mestinya adalah rumah orang percaya yang benar. Sementara mereka membangun Firdaus di bumi, mereka mengharapkan Tuhan mau mengerti atau menoleransi keadaan itu, serta tetap menyediakan surga nanti. Padahal Tuhan Yesus mengatakan, “Kumpulkanlah bagimu harta di sorga … Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:20-21), dan “tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24)
    “Yesus yang lain” mengajarkan keselamatan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Dari pengajaran “Yesus yang lain” ini lahirlah teologi kemakmuran (prosperity theology) yang mengajarkan bahwa keselamatan dalam Yesus Kristus menekankan pemulihan kehidupan jasmani. Orang-orang Kristen yang disesatkan memiliki car...
    0 min
  • Mengajarkan Keselamatan Yang Salah
    Hal yang paling prinsip untuk mengenal Yesus adalah bahwa Dia mengajarkan keselamatan yang benar. Pengajaran mengenai keselamatan ini sangatlah penting dalam kehidupan iman Kristen. Pengertian mengenai keselamatan merupakan jantung dari pengajaran iman Kristen. Kegagalan memahami doktrin ini berarti kegagalan memahami banyak kebenaran lain dalam Alkitab. Hal ini juga pasti berdampak pada sikap hidup orang percaya tersebut. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa kualitas hidup kekristenan seseorang sangat dipengaruhi oleh pengertiannya terhadap doktrin keselamatan. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh salah dalam memahami doktrin ini. Yesus menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga bukanlah keselamatan itu sendiri, melainkan sebenarnya adalah buah atau akibat dari keselamatan, yaitu jika seseorang mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar.
    Banyak pembicara Kristen yang mengajarkan bahwa Yesus dalam pemberitaan Injil-Nya menekankan bahwa kalau seseorang percaya kepada diri-Nya sebagai Juruselamat dan Tuhan, ia pasti akan terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Yesus seakan-akan hanya memberitakan status-Nya, dan orang yang percaya terhadap status-Nya dijamin masuk surga. Itu tentu saja bukan Yesus yang orisinal, melainkan “Yesus yang lain.” Kalau keselamatan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga, kekristenannya pasti hanya kulit, tidak menyentuh inti kekristenan yang benar. Pengertian keselamatan yang salah tidak membangun iman yang benar terhadap Yesus, sehingga tidak mengerti keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus Kristus melalui karya salib-Nya. Kalau pengertian mengenai iman sudah salah, pengiringannya kepada Yesus juga pasti salah. Orang-orang yang tidak memahami keselamatan yang benar, mereka sejatinya mengikut “Yesus yang lain.”
    Tuhan Yesus mengajarkan bahwa keselamatan adalah proses dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah yang semula atau tujuan awal manusia diciptakan. Rancangan semula Allah adalah menciptakan manusia yang memiliki keserupaan dengan diri-Nya. Ini berarti fokus keselamatan haruslah bagaimana “menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah.” Jika demikian, orang yang berkehendak untuk selamat haruslah memberi diri digarap oleh Tuhan melalui Roh Kudus untuk menjadi manusia sesuai rancangan Allah. Dengan demikian, inti keselamatan adalah perubahan karakter menuju kesempurnaan. Dalam Matius 5:48 Tuhan Yesus mengatakan dengan tegas bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa. Dalam Matius 5:20 dikatakan bahwa orang percaya harus memiliki kebenaran yang bertalian dengan tingkah laku (Yun. dikaiosune) melebihi tokoh-tokoh agama manapun. Kesempurnaan dalam Matius 5:48 menunjuk pada kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Allah Bapa. Allah berfirman agar umat pilihan menjadi kudus seperti Dia kudus (1Ptr. 1:16). Hal ini sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) dan sama dengan mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4).
    Setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan. Untuk itu, perhatian orang percaya tidak boleh terbelah oleh segala sesuatu yang dapat mengganggu pertumbuhan untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Paulus menyatakan bahwa orang percaya harus serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29), sebab Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Paulus juga menasihati orang percaya untuk mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Rm. 12:1-2). Dalam hal ini, kesempurnaan berorientasi pada diri Allah sendiri, yaitu pada pikiran dan perasaan Allah, yaitu segala sesuatu yang orang percaya lakukan yang sesuai dengan kehendak-Nya.
    Oleh sebab itu orang percaya harus mengalami transformasi—yaitu perubahan pikiran—sehingga dapat mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…