Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • AKU MEMILIH-MU, ALLAH!
    Satu hal yang sangat prinsip yang harus disadari adalah bahwa dalam hidup ini kita harus memilih. Ini adalah tatanan yang tidak bisa dilanggar atau dihindari. Sejak semula Allah menciptakan manusia dengan keadaan harus memilih dan mengambil keputusan berdasarkan keinsyafan batin masing-masing individu. Fakta ini sudah ditunjukkan dengan sangat jelas dalam Kitab Kejadian. Adam harus memilih dan mengambil keputusan, yaitu makan buah yang dilarang Allah untuk dikonsumsi atau tidak mengkonsumsinya. Adalah suatu kesalahan kalau diajarkan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, seakan-akan keadaan atau nasib manusia ditentukan oleh suratan takdir yang sudah digariskan oleh Allah. Dengan pemahaman ini, manusia hanya menerima saja apa yang ditentukan Allah baginya untuk dijalani. Namun, yang benar adalah bahwa manusia menentukan keadaan dan nasibnya sendiri. Dalam kaitannya dengan tema “Hidup di Hadapan Allah,” manusia harus memilih dan menentukan nasib atau keadaan dirinya sendiri. Manusia harus memilih atau menentukan apakah dirinya berkehendak hidup di hadapan Allah atau tidak.
    Kuasa kegelapan melalui gaya hidup yang dikenakan orang-orang fasik memengaruhi orang-orang Kristen di sekitarnya untuk hidup dalam keadaan status quo. Status quo artinya suatu kondisi yang statis, tidak ada perubahan atau perbaikan. Mereka terus-menerus mengikuti gaya hidup manusia di sekitarnya sampai pada suatu keadaan di mana mereka menjadi rusak dan tidak dapat diubah atau diperbaiki lagi. Keadaan yang tidak bisa diubah atau tidak dapat diperbaiki ini terjadi, kalau seorang Kristen sudah terbelenggu oleh roh perbudakan dunia. Mereka mencintai dunia karena seluruh gairah dan cita rasa jiwanya sudah terperangkap di dalamnya. Mereka sampai pada “titik tidak balik” sehingga seseorang tidak lagi memiliki kesadaran terhadap kekudusan Allah secara benar. Orang-orang seperti ini tentu saja tidak akan pernah mencapai dan memiliki keselamatan yang Allah berikan, yaitu dikembalikannya manusia kepada rancangan semula Allah.
    Hal tersebut di atas terjadi atas orang-orang Kristen yang pikirannya tidak diisi oleh kebenaran yang murni dari Alkitab, sehingga mereka tidak mengerti bagaimana seharusnya menyelenggarakan hidup sesuai dengan kehendak Allah. Mereka berkeadaan tidak tahu kalau mereka sebenarnya tidak tahu, tetapi merasa sudah tahu. Hal ini sama dengan orang yang tidak menyadari kesalahannya. Walaupun mereka ke gereja, bahkan mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan, mereka tidak tahu kalau sebenarnya mereka salah menjalani hidup. Mereka tidak hidup di hadapan Allah secara benar sesuai standar-Nya. Ternyata, “bukan hanya orang awam” yang bisa berkeadaan seperti yang dikemukakan di atas, para aktivis, majelis gereja bahkan rohaniwan yang telah disahkan sinode sebagai pejabatnya juga bisa berkeadaan demikian.
    Teolog-teolog yang merasa sudah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai Allah ternyata hanya memiliki teori dan pengetahuan tentang Allah, tetapi tidak mengalami Allah yang hidup secara langsung. Mereka tidak hidup di hadapan Allah. Tidak heran kalau pikiran mereka masih materialistis, mencari hormat dari manusia, arogan karena memiliki gelar kesarjanaan teologi, dan hidup dalam kewajaran seperti manusia lain. Terjadinya pertikaian di sekolah-sekolah tinggi teologi, dan sinode-sinode pada dasarnya sering disebabkan karenaperebutan posisi atau kedudukan. Pelaku-pelakunya adalah teolog-teolog yang memiliki gelar berlapis di depan dan di belakang namanya.
    Hidup di hadapan Allah adalah pilihan. Kita memilih bukan satu kali memilih, melainkan berkali-kali di sepanjang perjalanan hidup setiap hari. Kita tidak cukup merasa sudah memilih menjadi Kristen atau menjadi aktivis gereja bahkan menjadi pendeta. Pilihan harus dilakukan sepanjang waktu hidup di setiap hari, bahkan di setiap saat dan dalam segala hal. Pilihan-pilihan tersebut merupakan wujud dari komitmen setiap individu untuk memilih Allah atau tidak.
    0 min
  • Kepastian Masuk Surga
    “Yesus yang lain” mengajarkan kepastian masuk surga dari keyakinan dalam pikiran, yaitu memercayai bahwa kalau sudah percaya kepada Yesus,jika meninggal dunia, seseorangpasti akan masuk surga. Para pembicara “Yesus yang lain” mengajarkan bahwa kepastian masuk surga dibangun dari keyakinan dalam nalar yang dilandaskan pada format-format doktrin atau sistem-sistem teologi. Biasanya, mereka memahami keselamatan sebagai terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga bukanlah keselamatan itu sendiri, tetapi sebenarnya adalah buah atau akibat dari keselamatan.Pengertian keselamatan yang salah ini mendangkalkan pikiran, sehingga tidak bisa membangun pengertian iman yang benar, sehingga kepastian masuk surga yang ada adalah semu. Ketika ada diujung maut, Yesus yang telah dipahami ternyata tidak ada, tidak menjemputnya, karena memang itu adalah “Yesus yang lain” atau sekadar fantasi.
    Kepastian keselamatan banyak orang Kristen dibangun dari keyakinan dalam pikiran berdasarkan pandangan teologi tertentu seperti yang diajarkan “Yesus yang lain.” Hal ini terkait dengan pengertian iman. Kalau iman dianggap sekadar aktivitas nalar atau pikiran,pergumulan kepastian keselamatan juga bertorientasi pada nalar saja. Kualitas hidup kekristenan seseorang sangat dipengaruhi oleh pengertiannya terhadap doktrin keselamatan. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh salah dalam memahami doktrin ini. Untuk itu, dibutuhkan penggalian secara memadai dan serius terhadap isi Alkitab, supaya menemukan kebenaran yang murni berkenaan dengan pengajaran mengenai keselamatan ini.
    Kekristenan adalah proses mengajar dan belajar. Allah yang mengajar dan kita yang diajar atau dididik. Buah atau akibat dari proses tersebut adalah dikembalikannya manusia kepada rancangan semula Allah atau menjadi sempurna seperti Bapa. Itulah sebabnya seseorang harus melalui proses menjadi “murid,” pembaruan terus-menerus dan proses pendewasaan yang ketat bertahap untuk mencapai kesempurnaan. Proses ini juga sama dengan menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Dengan demikian, keselamatan dapat digambarkan seperti garis panjang (linear), bukan sebuah titik (dot). Keselamatan dalam Yesus adalah perjuangan panjang setiap hari tanpa henti sampai Tuhan memanggil pulang ke surga.
    Keselamatan memang usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula. Namun, ini bukan berarti bahwa proses ini bisa terealisasihanya dari satu pihak saja, dalam hal ini pihak Tuhan. Manusia yang menjadi objek keselamatan juga dituntut mutlak untuk memberi diri dibentuk untuk dapat diubah dan mencapai target, yaitu menjadi manusia seperti rancangan semulaAllah. Untuk itu,kedua pihak harus aktif, baik pihak Tuhan maupun pihak manusia. Keselamatan dari pihak Tuhan berarti tindakan Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula atau tujuan awal,demi mewujudkan keselamatan atas manusia.
    Dalam hal ini, respons manusia dalam menerima penggarapan Tuhan sangatlah penting. Harus dipahami bahwa kesempatan menjadi orang pilihan bukanlah jaminan seseorang bisa benar-benar terpilih masuk surga. Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:14). Tanggung jawab terhadap anugerah itu juga dinyatakan berulang-ulang oleh Tuhan Yesus, ketika Tuhan menghendaki agar orang percaya berjuang untuk menjadi pemenang. Dalam suratnya kepada jemaat-jemaat yang ditulis dalam Kitab Wahyu, kepada setiap jemaat Tuhan,Yohanes menghendaki agar jemaat-jemaat menjadi orang yang menang. Orang yang menang adalah orang yang terpanggil, terpilih, dan setia (Why. 17:14).Itulah sebabnya mengikut Tuhan Yesus adalah perjuangan, bukan suatu skenario yang sudah disusun dan orang percaya hanya menjalani atau menerimanya saja.
    Suatu hari nanti, setiap orang dapat membaca buku catatan masing-masing yang diarsipkan oleh Allah, dan isinya ditentukan oleh masing-masing individu. Tidak ada orang yang bisa berdalih bahwa segala sesu...
    0 min
  • Perhentian Yang Benar
    “Yesus yang lain” mengajarkan dan menjanjikan adanya perhentian ketika seseorang berada dalam masalah; seperti sembuh dari sakit, utang terbayar, memiliki rumah, mendapatkan teman hidup dan keturunan, mencapai cita-cita, dan lain sebagainya. Namun, Yesus mengajarkan agar orang percaya berhenti memiliki keinginan,supaya kita hidup hanya mengingini Tuhan dan Kerajaan-Nya. Perhentian yang sesungguhnya adalah ketika semua keinginan dilabuhkan pada Tuhan saja. Dengan demikian, orang percaya dapat mengikuti jejak-Nya, yaitu kehilangan “nyawa” dengan meninggalkan kemuliaan untuk berinkarnasi menjadi manusia, yang dalam segala hal disamakan dengan manusia.
    Berbicara mengenai perhentian, biasanya ayat yang digunakan adalah Matius 11:28-29, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Tuhan mulai dengan panggilan,“Marilah kepada-Ku.” Tuhan memanggil manusia yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang. Orang yang letih lesu dan berbeban berat adalah orang yang hidupnya tidak bahagia,hidupnya penuh tekanan. Tekanan tersebut bisa bermacam-macam bentuknya: tekanan ekonomi, tekanan rumah tangga, tekanan pekerjaan, tekanan sakit penyakit, dan berbagai tekanan yang lain. Banyak orang Kristen berpikir kalau sudah lepas dari masalah-masalah ini, berarti ia mengalami kelegaan atau perhentian.Tuhan Yesus berkata,“Marilah kepada-Ku.” Perhatikan, kata “Ku” di sini adalah huruf besar. Ini menunjuk kepada Tuhan Yesus Kristus. Yesus menjanjikan kelegaan.
    Kata “kelegaan” dalam teks aslinya adalah anapauso (ἀναπαύσω), yang artinya perhentian atau istirahat (Ing. rest). “Perhentian” di sini bukan berarti berhenti dari keadaan yang tidak menyenangkan, yang dikatakan sebagai letih lesu dan berbeban berat. Kemudian asumsinya, kelegaan atau perhentian tersebut adalah lepas dari keadaan letih lesu dan berbeban berat, yaitu keluar dari keadaan tidak mempunyai rumah menjadi mempunyai rumah, dari sakit menjadi sembuh, dari hidup dibelenggu dengan berbagai masalah menjadi tidak lagi memiliki masalah yang berat, dan lain sebagainya. Memperoleh jalan keluar dari masalah-masalah hidup tersebutdipandang sebagai kelegaan.
    Orang percayaharus memahami bahwa kelegaan ini adalah kelegaan menurutTuhan, yaitu perhentian dari segala keinginan dan hasrat duniawi. Keinginan-keinginan duniawi dikemukakan oleh Yohanes dalam 1 Yohanes 2:16, yang tertulis,“Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.”Selanjutnya Yohanes mengatakan,“Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (ay. 17).Dari hal ini nyata, betapa berbahayanya keinginan-keinginan manusia itu. Oleh sebab itu,berhenti dari segala letih dan lesu jiwa kita yang terbangun dari berbagai hasrat dan keinginan dari dunia inimenjadi kehendak Tuhan bagi kita. Kemudian, keinginan kita hanyalah Tuhan dan Kerajaan-Nya saja. Selama seseorang masih dibelenggu dengan segala keinginan, ia akan tetap dalam keadaan letih lesu dan berbeban berat.
    Itulah sebabnya dalam ayat berikutnya (Mat. 11:29), orang percaya harus belajar dari Tuhan, yaitu memikul kuk yang diberikan kepada kita. “Kuk” itu adalah sarana Tuhan untuk mendidik kita agar dapat melepaskan diri dari segala keinginan, sehingga prinsip hidup kita adalah “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34).Sebenarnya dalam teks aslinya, kata “kelegaan” dan “jiwamu akan mendapat ketenangan” (dalam Bahasa Indonesia) menggunakan kata yang sama, yaitu anapauso. Jadi sebenarnya,Matius 11:28-29 tersebut seharusnya berbunyi, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
    0 min
  • Pembenaran Oleh Iman
    “Yesus yang lain” mengajarkan bahwa karena pembenaran dapat terjadi atau berlangsung hanya oleh karena iman,perbuatan pun tidak terlalu perlu lagi dipersoalkan. Yesus mengatakan bahwa orang percaya harus berjuang masuk jalan sempit untuk diselamatkan (Luk. 13:23-24),sebab banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:14),orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar sebab orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-12), danbanyak ayat yang menunjukkan bahwa ada panggilan bagi orang percayauntuk berjuang mengisi keselamatan yang Allah telah berikan agar memenuhi keselamatan tersebut dalam hidup masing-masing individu. Pengertian keselamatan hanya oeh anugerah bukan berarti menghilangkan tanggungjawab manusia dalam merespons anugerah yang Allah sediakan tersebut. Respons tersebut tidak boleh dimengerti sebagai jasa. Hanya oleh darah Yesus manusia dapat dibenarkan. Dalam pembenaran tersebut, manusia yng berdosa dapat diperhadapkan kepada Allah menjadi seakan-akan tidak berdosa.
    Berbicara mengenai pembenaran,hal itu langsung menunjuk bahwa manusia adalah oknum yang telah bersalah yang telah membangkitkan murka Allah. Namun, oleh anugerah-Nya, manusia menerima tindakan yudisial Allah sebagai orang yang dideklarasikan tidak bersalah. Pembenaran ini semata-mataberangkat dari anugerah yang diberikan oleh Tuhan (Ti. 3:7; Rm. 3:24-28; 5:1; Gal. 2:16). Dengan pembenaran oleh kurban Tuhan Yesus ini, tidak ada manusia yang bisa membanggakan kesalehannya, sebab kesalehan manusia bukanlah sesuatu yang bernilai tanpa pengurbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Kalau tidak ada pembenaran, perbuatan baik bagaimanapun tidak berarti sama sekali (Yes. 64:6). Namun, orang yang dibenarkan bukan berarti berkeadaan benar-benar sudah benar. Manusia yang dibenarkan masih berkodrat dosa.
    Pembenaran itu memiliki beberapa dimensi. Pertama, dimensi masa lalu (past).Artinya, bahwa kurban yang dikerjakan oleh Tuhan di kayu salib dua ribu tahun yang lalu merupakan tindakan sekali untuk selamanya bagi pembenaran manusia yang berdosa. Kedua, pembenaran aspek sekarang (present), yaitu bagi mereka yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia menerima pembenaran yang terjadi berjalan seiring dengan proses keselamatan. Ketiga,pembenaran dari dimensi yang akan datang (future). Artinya, suatu kali akan dinyatakan bahwa orang percaya yang setia hidup dalam kebenaran-Nya atau mengikut Tuhan Yesus dengan benar adalah orang-orang yang dibenarkan.
    Adalah tindakan yang tidak bertanggungjawab kalau diajarkan doktrin bahwa pembenaran adalah tindakan seketika dan sepihak Allah kepada manusia yang mengaku percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus sebagai manusia yang dianggap benar (Rm. 3:28; 5:1; Gal. 3:24).Dalam hal ini, harus dijabarkan apa yang dimaksud dengan “beriman” itu. Dalam memahami kata “iman” dengan tepat menurut Alkitab, kita perlu memerhatikan bukan saja aspekkepercayaan secara pikiran atau persetujuan secara pikiran, melainkan juga aspek hubungan antara umat dan Tuhan. Kalau “iman” hanya dikaitkan dengan keyakinan akali atau persetujuan pikiran, itu belumlah dapat mencakup pengertian “iman” secara lengkap. Objek iman kita pada prinsipnya bukan sejumlah keinginan atau cita-cita kita, melainkankan pribadi Tuhan. Hal ini sesuai dengan pengertian “iman” dalam bahasa Alkitab yaitu aman (Ibrani) dan pisteuo (Yunani),yaitu menyerahkan diri kepada sesuatu atau seseorang yang bersifat tetap atau teguh. Pembenaran bisa terjadi kalau seseorang memiliki “iman.”
    Pembenaran ini mengandung konsekuensi, sebab dengan menerima pembenaran, seseorang harus masuk kedalam proses untuk diubah terus agar benar-benar menjadi benar. Adalah kejahatan kalau Allah hanya membenarkan atau menganggap seseorang tidak bersalah, setelah itu manusia dibiarkan berpesta merayakan dan menikmati pembenarannya tanpa tanggung jawab. Pembenaran yang diberikan kepada manusia adalah pembenaran dengan tanggung jawab.
    0 min
  • Kesempurnaan
    Yesus yang lain” mengisyaratkan bahwa kesempurnaan tidak bisa terwujud di bumi, kesempurnaan hanya terwujud di surga.Namun, Yesus jelas mengatakan bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48), sejak di bumi. Hanya Allah yang memiliki kesempurnaan mutlak dalam arti tidak terbatas, tidak terhingga, tidak pernah, dan tidak akan pernah bercacat, dan tidak bercela sama sekali, tidak pernah dan tidak akan pernah tidak lengkap, selalu utuh dan segala sesuatunya teratur. Sempurna seperti Bapa artinya dalam segala yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kesempurnaan yang dimaksud di sini adalah kesempurnaan manusia. Hal ini kita bahas sebab Alkitab berbicara mengenai hal tersebut (Mat. 5:48; 19:21; Yoh. 17:23; Rm. 12:2; 2Kor. 10:6; 13:9, 10; Flp. 3:12, 15; Kol. 1:9, 28; 1Tes. 5:23; Ibr. 11:40; 12:2, 23; Yak. 1:4; 2:22; 3:2; 1Yoh. 4:18; dan lain-lain).
    Banyak orang Kristen yang tidak berusaha untuk menjadi sempurna. Mereka merasa sudah puas dengan hidup kekristenan yang mereka jalani, tanpa ada geliat yang jelas dan kuat untuk bertumbuh menjadi sempurna. Mengapa demikian? Mereka memiliki argumentasi sebagai alasan untuk membela diri atas keadaan mereka dan menjadi dasar hidup kekristenan mereka. Biasanya, argumentasi yang menjadi alasan mengapa mereka tidak berusaha untuk sempurna, juga karena pikiran mereka telah tertawan oleh konsep bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dan ditambahkan lagi bahwa manusia adalah makhluk yang penuh kekurangan dan kelemahan di hadapan Tuhan. Dengan pemikiran tersebut, mereka ber-mental block, artinya sudah merasa tidak akan pernah mencapai kesempurnaan tersebut.
    Firman Tuhan jelas sekali menunjukkan bahwa kita harus mencapai kesempurnaan. Sikap skeptis adalah sikap tidak memercayai pribadi Allah. Kesempurnaan masing-masing individu berbeda.Sikap skeptis menunjukkan ketidakpahaman seseorang mengenai kesempurnaan orang percaya di dalam Tuhan. Orang-orang tersebut pasti tidak pernah menggumulinya dengan benar. Sikap curiga dan skeptis ini akhirnya berujung pada penolakan. Penolakan terhadap panggilan untuk sempurna sama dengan penolakan untuk mengerjakan keselamatan. Dengan kasih karunia tersebut, Tuhan Yesus bisa mengatakan bahwa kita harus sempurna seperti Bapa.Di dalamnya, Tuhan memberi kemampuan kepada kita untuk dapat melakukannya. Tidak mungkin Tuhan memerintahkan kita untuk melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan.
    Kesempurnaan dalam Matius 5:48 menunjuk pada kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Allah Bapa. Allah berfirman agar umat pilihan menjadi kudus seperti Dia kudus (1Ptr. 1:16). Hal ini sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) dan sama dengan mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Ini bukan berarti orang percaya dapat menyamai kesucian dan keagungan moral Allah, melainkan orang percaya bisa memiliki kesucian dan keagungan moral yang memenuhi standar yang dikehendaki oleh Allah, sehingga orang percaya dapat hidup dalam persekutuan dengan Dia. Hidup dalam persekutuan dengan Allah ditandai dengan kehidupan yang dalam seluruh tindakan baik yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Allah. Kualitas moral seperti itu menandai bahwa seseorang berstatus sah sebagai anak Allah.
    Kalau Paulus menyaksikan bahwa “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya,” (Flp. 3:12) itu menunjukkan adanya fakta kesempurnaan dan bahwa kesempurnaan adalah proyeksi hidupnya dan ia sedang menggumulinya. Itulah sebabnya di bagian lain dalam Alkitab ia mengemukakan bahwa ia berusaha untuk berkenan kepada Allah. Berkenan kepada Allah adalah kata lain dari kesempurnaan. Dalam suratnya, Paulus juga menasihati orang percaya untuk mengerti kehendak Allah: yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
    Berbicara mengenai kesempurnaan, hendaknya kita tidak bersikap curiga, skeptis, dan menolaknya. Kecurigaan bisa timbul disebabkan oleh kesalahp...
    0 min
  • Seluruhnya Bagi Tuhan
    “Yesus yang lain” mengajarkan bahwa mempersembahkan sesuatu itu harus dihitung dengan persentase, tetapi Yesus mengajarkan orang percaya untuk mempersembahkan hidup seluruhnya tanpa batas kepada Allah. Dalam penggunaan semua harta yang adalah milik Tuhan itu, orang percaya harus mengerti dengan tepat apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup ini. Orang percaya tidak boleh menggunakan harta yang ada padanya sesuka hatinya. Orang percaya harus menggunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan secara tepat. Untuk hal ini, dibutuhkan kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan dengan tepat. Penggunaan harta dan persembahan bagi Tuhan sangat bertalian dengan kedewasaan rohani seseorang. Orang yang dewasa rohani memahami dan menerima bahwa segenap hidupnya adalah milik Tuhan. Ia sangat bersedia mempersembahkan segenap hidupnya tanpa batas bagi Tuhan. Biasanya orang percaya seperti ini, juga telah menghayati bahwa hartanya sendiri ada di langit baru dan bumi yang baru.
    Dengan penebusan oleh darah Tuhan Yesus, kita tidak lagi memiliki hak apa pun atas diri kita. Diri kita telah dimiliki oleh Tuhan Yesus seratus persen. Kalimat bahwa kita bukan milik kita sendiri, adalah kalimat final yang tidak perlu ditambahi kalimat atau penjelasan lainnya. Artinya,sejak kita menerima penebusan oleh darah Yesus Kristus, kita tidak berhak atas hidup kita sama sekali. Dengan keadaan hidup seperti ini, kita seharusnya tidak mungkin bisa menjadi sama dengan dunia ini, dan kita tidak mungkin juga dapat hidup wajar seperti manusia lain.
    Memang selalu menjadi masalah, mengenai berapa jumlah persembahan dalam bentuk uang yang patut diberikan kepada Tuhan melalui gereja. Kalau jujur, sebenarnya rumit untuk menemukan persentase dari kehidupan ini.Yesus berkata bahwa orang percaya tidak boleh memiliki dua tuan (Mat. 6:24), harus melepaskan dirinya dari segala miliknya (Luk. 14:33), dan mengikuti Yesus denganmelepaskan semua kekayaannya untuk orang lain (Mat. 19:21-23). Seharusnya kalau Firman Tuhan menyatakan bahwa segenap hidup kita milik Tuhan, kita tidak ada lagi memedulikan perhitungan persentase untuk Tuhan.
    Kenyataan yang kita jumpai hari ini, banyak orang yang merasa bahwa semua yang dimilikinya adalah miliknya sendiri. Tidak heran jika hartanya bertambah banyak, rumahnya semakin besar, mobilnya semakin mewah, perhiasannya semakin berkilauan, barang-barangnya semakin branded, dan lain sebagainya. Inilah irama hidup manusia pada umumnya, termasuk banyak orang Kristen. Mereka merasa bebas menggunakan harta yang ada pada mereka sesuka hati, sebab mereka merasa bahwa semua harta yang dimiliki adalah hasil jerih lelahnya sendiri. Orang-orang seperti ini adalah perampok-perampok di mata Allah yang suatu hari harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan.
    Karena segenap hidup kita—termasuk semua harta yang ada pada kita—adalah milik Tuhan, kita harus selalu mengingat bahwa kita adalah seorang “kasir” atau seorang pengelola milik “Majikan Agung.” Dalam Lukas 16:12 Firman Tuhan mengatakan demikian,“Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?”Maksud “harta orang lain” di sini adalah harta Tuhan, bukan harta kita sendiri. Sedangkan, harta kita sendiri sesungguhnya nanti di Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Harta Tuhan yang dipercayakan kepada kita, harus kita kelola sepenuhnya untuk kepentingan Tuhan. Orang yang mengelola harta milik Tuhan dengan benar, akan memperoleh hartanya sendiri di Kerajaan Surga nanti.Orang percaya yang mengerti kebenaran ini, dan meyakini dengan tulus serta menerimanya, akan mengerti bahwa dirinya seperti seorang yang dipercayai untuk mengelola semua yang Allah telah ciptakan bagi kemuliaan nama-Nya. Dirinya ada untuk Allah yang menciptakan, bukan sebaliknya, Allah ada untuk dirinya.
    Orang yang tidak hidup dalam kepemilikan Tuhan secara benar, masih membuka peluang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan.
    0 min
  • Hidup Tidak Wajar
    “Yesus yang lain” mengajarkan bagaimana hidup wajar seperti manusia lain. Biasanya, hal itu ditambahi dengan alasan bahwa kalau hidup tidak wajar akan menjadi batu sandungan bagi orang-orang di sekelilingnya. Sebenarnya, tidak dapat dihindari kalau seseorang berusaha sungguh-sungguh untuk hidup berkenan di hadapan Allah seperti Yesus, itu akan membuat dirinya memiliki pola dan gaya hidup yang sangat berbeda dengan lingkungannya. Kehidupan sebagai anak-anak Allah seperti ini adalah kehidupan yang tidak wajar menurut dunia.Kehidupan yang tidak memiliki kesenangan selain menyukakan hati Allah Bapa merupakan gaya hidup yang tidak wajar menurut dunia. Ini adalah pergumulan yang berat. Kesenangan-kesenangan hidup sebenarnya seperti wilayah dalam kerajaanyang tidak mudah diserahkan kepada pihak manapun. Melepaskan suatu kesenangan itu seperti mencabut nyawa. Sungguh sangat menyakitkan! Hal inilah yang membuat seseorang menahan diri untuk mempersembahkan sepenuh hidupnya bagi Tuhan.
    Untuk mengikut Tuhan Yesus, seseorang harus bersedia hidup seperti Tuhan Yesus, yaitu tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.Artinya, ia harus bersedia untuk tidak mencari kenyamanan hidup. Inilah hal tersulit yang dihadapi orang Kristen, sebab dengan mengenakan kebenaran ini,ia akan mulai merasa hidup tidak wajar. Namun sesungguhnya, inilah cara menghargai hidup. Pada umumnya, manusia hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya dan mengingini apa yang orang lain miliki sesuai dengan semangat zaman. Kalau hal ini dilakukan oleh orang yang hidup sebelum zaman anugerah atau orang di luar orang percaya, bisa dimaklumi.Namun kalau orang percaya mengabaikannya, betapa celakanya! Semangat hidup orang percaya adalah semangat dari tempat yang Mahatinggi, yaitu mengenakan gairah hidup Tuhan Yesus yang “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”(Mat. 8:20).  Kehidupan Tuhan Yesus adalah kehidupan yang hanya diperuntukkan bagi Allah Bapa, yaitu melakukan segala kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34).Orang percaya akan meletakkan kepala di langit baru dan bumi yang baru dalam Kerajaan-Nya nanti, sedangkan di bumi ini, kita semua bekerja keras untuk roti yang tidak binasa (Yoh. 6:27).
    Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang dikatakan Paulus, “… telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3). Memang tidak banyak orang yang bersedia hidup dengan cara demikian. Jika seseorang berani masuk pergumulan sebagai orang Kristen sejati seperti ini, ia barulah bisa menghayati nilai kekristenan yang luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan agama apa pun. Dalam hal ini, kita bisa memahami bahwa roda kehidupan kekristenan baru bisa berjalan kalau seseorang sungguh-sungguh bersedia meninggalkan kesenangan dunia.Hal ini menjadi ciri yang tidak bisa dibantah dari kehidupan seseorang yang sungguh-sungguh telah diselamatkan. Inilah kekristenan yang sejati atau orisinal.
    Orang percaya yang berusaha melepaskan segala kesenanganhidup mengalami “sakit”-nya ketika harus melakukan keinginan Bapa dan membunuh keinginannya sendiri. Proses melepaskan kesenangan sendiri ini dimulai dari hal-hal sederhana yang tidak sulit untuk dilepaskan. Namun pada akhirnya, ia harus melepaskan kesenangan yang sudah menyatu dengan dirinya, yaitu kesenangan yang seharga dengan nyawanya atau hidupnya. Itu merupakan kesenangan-kesenangan yang tidak mudah untuk dilepaskan. Kalau jujur, ia akan berkata bahwa ia tidak bisa hidup tanpa kesenangan tersebut. Kesenangan itu bisa berupa seseorang atau sesuatu, kekayaan, kehormatan, kedudukan, kenikmatan makan minum atau pesta, libido seks, hobi, perhiasan, model pakaian, dan lain sebagainya. Kesenangan yang paling dianggap tidak melanggar kehendak Tuhan adalah hidup wajar seperti manusia lain. Sejatinya, itu juga kesenangan yang harus dilepaskan.
    Kenyataan yang ada sekarang ini, banyak orang Kristen yang tidak siap memasuki kehidupan yang luar biasa seb...
    0 min
  • Secukunya
    “Yesus yang lain” menjanjikan kelimpahan, tetapi Yesus mengajar bagaimana hidup dalam kesederhanaan. Seperti yang diteladankan Yesus, orang percaya harus memiliki rasa cukup. Rasa cukup dapat ditemukan dalam 1Timotius 6:6, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” Kebenaran ini harus selalu berulang-ulang dikemukakan agar orang percaya dapat mendalami secara lebih jauh kebenaran yang terkandung di dalamnya. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya dapat mengenakannya dalam hidup ini, sehingga dapat melanjutkan pengiringannya kepada Tuhan dengan lebih baik. Tanpa rasa cukup, orang percaya tidak dapat membangun hubungan yang harmonis dengan Tuhan.Tanpa rasa cukup, seseorang tidak dapat berjalan bersama dengan Tuhan. Rasa tidak cukup merupakan irama yang dimiliki hampir semua orang agar dapat dikawinkan dengan dunia ini.
    Dari tulisan Yakobus (Yak. 4:1-4) sangatlah jelas dipahami, bagaimana seseorang dijerat oleh dunia sehingga mereka menempatkan diri sebagai musuh Allah. Seorang yang mengingini dunia dan merasa bahwa dunia bisa melengkapi hidupnya berarti mengabdi kepada Mamon. Hal ini merupakan sikap menolak Tuhan sebagai Majikan satu-satunyayang dilayani. Walaupun bibir menyebut Yesus sebagai Tuhan, namun dalam kenyataan hidup ini mereka tidak menerima dan memperlakukan Yesus sebagai Majikan atau Tuhan. Orang-orang seperti ini pada dasarnya mengikat hubungan, seperti hubungan suami istri, dengan dunia. Mereka tentu saja terikat dengan dunia dan hidup dalam keserakahan.
    Tanpa disadari, banyak orang Kristen yang masih hidup dalam keserakahan. Namun, mereka menganggap hal itu bukan dosa yang membahayakan, bahkan tidak menyadari sama sekali bahwa ini merupakan suatu dosa utama.Hal yang sangat membahayakan hari ini adalah Tuhan diseret untuk memuaskan hasrat atau keinginan-keinginan pribadi seseorang. Orang-orang Kristen seperti itu mengalaskan tindakannya berdasarkan pengertianbahwa Tuhan itu sangat baik dan berkuasa. Inilah yang membuat mereka tidak mau mengerti bahwa Tuhan menghendaki agar orang percaya puas dengan apa yang ada. Oleh sebab itu,kita harus bisa membedakan manakah kebutuhan dan manakah keinginan.Tuhan menghendaki orang percaya merasa cukup dengan apa yang ada, sehingga keinginannya hanya diisi oleh kerinduan terhadap perkara-perkara yang di atas (Kol. 3:1-3).
    Tidak dapat disangkal bahwa dunia kita hari ini dibawa kepada semangat materialisme yang sangat kuat. Manusia menjadi manusia yang konsumeristis dan bergaya hidup konsumtif. Keadaan ini membuat banyak orang tidak dapat membedakan antara “apa yang menjadi kebutuhan” dan“apa yang diingini atau dihasrati.” Tidak semua yang diinginkanadalahkebutuhan. Kebutuhan dan keinginan adalah dua hal yang sangat berbeda. Kalau seseorang sudah tidak bisa membedakan manakah kebutuhan yaitu apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalani hidup ini, dan keinginan,rusaklah kehidupannya. Tuhan menghendaki orang percayauntuk memiliki rasa cukup, sehingga dalam 1Timotius 6:8dikatakan, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Maksud ayat ini adalah bahwa hal yang penting adalah seseorang dapat menjalani hidup ini. Bertalian dengan hal ini, Tuhan Yesus mengajarkan agar orang percaya mengucapkan Doa Bapa Kami, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.” Rasa cukup memang bisa berifat relatif.Hal itu tergantung dari filosofi hidup masing-masing individu.
    Kekristenan bukan agama untuk orang kebanyakan orang.Artinya adalah bahwa kekristenan adalah jalan hidup yang hanya bisa dikenakan oleh segelintir orang yang tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia. Dan memang kebahagiaan dunia sangatlah terbatas. Tidak mengharapkan kebahagiaan hidup di dunia bukan berarti tidak bahagia.Tuhan justru akan menggirangkan orang percaya dengan segala hal yang ada padanya.Selama orang masih berharap bahwa dunia bisa memberikan hidup yang lengkap, utuh, bahagia, aman, dan nyaman, ia tidak akan pernah bisa mengenakan kekristenan yang sej...
    0 min
  • Tidak Mengajak Mati
    “Yesus yang lain” tidak mengajak orang Kristen masuk dalam “kematian,” tetapi Yesus mengajak orang percaya masuk dalam kematian, yaitu kematian terhadap dosa dan hidup untuk kemuliaan Allah. Itulah sebabnya harus dipahami bahwa baptisan yang diterima orang percaya adalah lambang kematian. Dalam Roma 6:4 tertulis,“Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”Bagi orang percaya, baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus atau dalam nama Tuhan Yesus Kristus berarti kesediaan untuk hidup sebagai warga Kerajaan Surga dengan hukum Kerajaan-Nya, yaitu kehendak Allah. Ketika seseorang memberi diri dibaptis, berarti ia bersedia mati dari (meninggalkan) cara hidupnya yang telah dijalani dan mengenakan cara hidup Tuhan Yesus.
    Menjadi satu dalam kematian Yesus berarti bahwa orang percaya harus berjuang sampai mencapai level berkenan di hadapan Bapa seperti yang telah dicapai oleh Tuhan Yesus. Yesus telah taat sampai mati di kayu salib. Semakin menujuakhir tahun hidupnya, orang percaya harus semakin tepat melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan tugas yang dipercayakan Bapa. Dengan isi hidup seperti ini, suatu hari orang percaya akan dibangkitkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus dan hidup bagi kemuliaan Bapa dalam Kerajaan Surga. Itulah sebabnya Firman Tuhan menyatakan bahwa orang percaya akan menerima janji-janji Allah Bapa yang akan diterimanya bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Janji itu adalah dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus dalam Kerajaan Bapa di surga, yaitu memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Hanya orang-orang yang mengalami kematian di dalam Tuhan—ini berarti kematian terhadap dosa dan hidup bagi kemuliaan Allah— yang akan dibangkitkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
    Kematian Yesus menunjukkan kesediaan menerima segala penderitaan demi menyelesaikan tugas yang telah Bapa percayakan. Yesus tidak pernah menghindari penderitaan atau kesulitan sebesar apa pun demi menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada-Nya. Yesus menyatakan bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.Artinya, Ia tidak memiliki kenyamanan di bumi ini. Hidup-Nya hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Kehidupan Tuhan Yesus seperti kehidupan seorang yang telah divonis hukuman mati, tinggal menunggu waktu pelaksanaan eksekusinya. Pengakuan teguh-Nya adalah,“Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”(Mat. 26:39).
    Dalam tulisannya Paulus menyatakan, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa” (2Kor. 4:7-10). Inilah yang dimaksud dengan menderita bersama dengan Yesus. Dengan membawa kematian Yesus di dalam tubuhnya, kehidupan Yesus menjadi nyata. Dari pernyataan Paulus ini, kita dapat memperoleh pelajaran sangat berharga, yaitu seseorang tidak akan pernah mengalami kehidupan Yesus secara nyata dalam dirinya sebelum menerima dengan segala kepasrahan semua penderitaan yang harus dialami demi kepentingan pekerjaan Tuhan.
    Kematian dari hal-hal duniawi bukanlah proses sebentar dan mudah, melainkan sebuah proses yang menyangkut segenap hidup, waktu, dan kekuatan. Tuhan Yesus melalui Roh Kudus terus memproses orang percaya atau memuridkan mereka yang haus dan lapar akan kebenaran atau yang mengasihi Tuhan. Dalam hal ini, tekad masing-masing individu untuk berubah harus kuat dan permanen. Waktu yang Tuhan berikan harus diterima sebagai anugerah yang tidak ternilai. Melalui Injil kebenaran, orang percaya harus mengalami pembaruan pikiran setiap hari secara intensif. Kesempatan untuk mengalami “kematian” sangatlah terbatas...
    0 min
  • “Yesus Yang Lain” Mengajarkan Liturgi
    Memasuki dekade zaman anugerah, pola ibadah manusia berubah sama sekali. Kalau pada zaman Perjanjian Lama, ibadah menekankan ritual seremoni.Namun, Tuhan Yesus mengajarkan ibadah yang berbeda, yaitu menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Ini adalah suatu ibadah yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ini berarti bahwa ruang ibadah orang percaya meliputi segenap wilayah hidup dan segenap waktu yang dimiliki. Ibadah itu tidak terikat oleh sistem dan aturan mati. Ibadah yang sejati adalah sikap batin terhadap Allah, bagaimana orang percaya mengembangkan seluruh potensi dan memanfaatkannya bagi kemuliaan Allah. Potensi ini menyangkut seluruh materi, kemampuan, dan segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepada umat Allah. “Yesus yang lain” menawarkan pola-pola keberagamaan, di antaranya penyelenggaraan liturgi di gereja sebaik-baiknya, padahal sejatinya kekristenan itu bukan agama.
    Dalam banyak agama pada umumnya, berurusan dengan Tuhan dimaksudkan agar dapat memperoleh pertolongan dari segala persoalan dari masalah ekonomi, kesehatan, dan segala pemenuhan kebutuhan jasmani. Oleh karenanya, terjadi manipulasi dan eksploitasi terhadap Tuhan, dimana Tuhan menjadi pihak yang dimanfaatkan. Karena hal ini,relasi antara Allah dan umat sering diikat oleh asas manfaat. Hal ini dianggap sah-sah saja.Mereka mengajarkan bahwa memang demikianlah “fungsi Tuhan,” yaitu menolong umat-Nya. Berbeda dengan kekristenan palsu itu, kekristenan yang sejati menempatkan Tuhan sebagai majikan, sehingga umat memang diciptakan hanya untuk Penciptanya. Prinsipnya adalah “Tuhan ada bukan untukku,melainkan aku ada untuk Tuhan.”
    Pola keagamaan berarti cara, budaya atau kebiasaan yang terdapat pada praktik manusia dalam menyelenggarakan agamanya. Bila seseorang sudah terbiasa dengan suatu pola dalam menyelenggarakan agamanya, sulitlah ia meninggalkan pola tersebut. Tidak jarang mereka yang fanatik terhadap agamanya tidak lagi memerhatikan dengan benar substansi agamanya. Ini termasuk banyak orang Kristen yang fanatik dengan keberagamaannya, dalam hal ini agama Kristen.Mereka tidak mengertisubstansi kekristenan, yaitu proses dikembalikannya manusia ke rancangan semula Allah.
    Secara sosiologis kemasyarakatan, kekristenan tentu adalah agama.Namun, jika mempelajari Injil dengan benar, kita mendapati bahwa kekristenan memiliki sifat-sifat yang tidak sama dengan agama pada umumnya. Sifat-sifat agama pada umumnya antara lain memiliki ritual, seremonial agama yang baku, memiliki hukum-hukum yang legalistik dan sangat formil, dan peranan tokoh agama yang dianggap penting untuk memediasi allah yang disembah dengan umat. Tanpa wakil tersebut, umat tidak bisa berurusan secara proporsional dengan allahnya. Pola keagamaan seperti ini harus ditinggalkan, sebab Roh Allah ada dalam kehidupan setiap individu orang percaya. Tubuh orang percaya adalah bait Allah (1Kor. 6:19-20)
    Salah satu ciri yang paling menonjol dalam keagamaan adalah diutamakannya seremoni atau liturgi.Seremoni agama seperti yang dikenal dalam agama Israel mestinya tidak ada lagi mendapat tempat dalam kekristenan. Seremoni tidak dapat lagi dipertahankan, sebab menurut Tuhan Yesus, ada saatnya orang tidak menyembah Allah di Yerusalem atau di atas gunung (Gunung Gerizim), tetapi di dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Yerusalem dan Gunung Gerizim adalah tempat di mana orang Israel mengadakan seremoni untuk berinteraksi dengan Allah. Mereka berbuat demikian sebab mereka belum mengerti Injil yang mengajarkan untuk menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Ketika Yesus mengatakan bahwa ada saatnya orang menyembah Allah secara benar, liturgi dalam arti upacara agama harus mulai tidak memiliki tempat seperti sebelum zaman anugerah.
    Di dalam kekristenan, tidak ada ritual atau seremoni agama atau liturgi yang baku. Yesus tidak mengajarkan liturgi sebagai ibadah. Ibadah adalah seluruh perilaku kehidupan. Liturgi adalah sesuatu yang sangat relatif.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…