Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • MENGUBAH DIRI UNTUK MENGUBAH ORANG LAIN
    Bangsa Israel di Perjanjian Lama hanya dididik untuk menjadi orang bermoral baik, bermartabat baik, berhukum, dan santun sesuai dengan Dasa Titah. Itu adalah standar mereka. Hal itu memang tidak salah. Jadi, kalau hari ini kita melihat orang beragama dan yang yang fanatik terhadap agamanya, kita seperti melihat orang Yahudi pada zaman Yesus. Bagi orang Yahudi, hukum agama itu adalah hukum negara, hukum negara itu hukumnya Allah sehingga mereka sangat mematuhinya. Namun, orientasi berpikir mereka adalah dunia ini; yaitu, pemenuhan kebutuhan jasmani. Namun, ketika Anak Allah, Yesus datang, Dia adalah Pemilik manusia dan dunia ini. Masalahnya sekarang, apakah orang mau menerima Dia atau tidak? Yohanes 1:12menegaskan, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”Menerima Yesus, Sang Logos berarti menerima Dia sebagai Pemilik, sebagai Majikan, dan sebagai Tuan. Itu mengharuskan kita untuk tunduk dibawahi atau disubordinasi oleh pemerintahan Allah.
    Faktanya, banyak orang tidak serius hidup dalam pemerintahan Allah karena sudah terbiasa hidup dalam pengaturan agama dan selebihnya hidup dalam pemerintahan diri sendiri. Hal ini mengakibatkan banyak orang menjadi sembarangan hidup, tidak menjaga perasaan Allah. Karena tidak terbiasa menghayati pemerintahan Allah secara penuh, maka mereka sembarangan dalam berbicara, bertindak, dan segala sesuatu yang dilakukan. Tidak sedikit, orang-orang Kristen yang merasa dirinya kuat, sehingga berbicara sembarangan dan menindas orang lain. Mereka berani menyimpang dan kurang sungguh-sungguh hidup suci karena tidak mengakui keberadaan Allah Bapa yang Mahahadir, yang melingkupi seluruh jagad raya ini.
    Anak-anak Allah yang benar itu seperti Yesus. Untuk menjadi anak-anak Allah, tidaklah otomatis. Namun orang percaya diberi hak atau eksousia(Yun.) supaya menjadi anak-anak Allah. Untukitu, Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala kejadian harus terus diberitakan. Roh Kudus menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran Allah. Injil Kerajaan Allah adalah Injil kebenaran yang berkuasa mengubah cara berpikir. Tiada henti Allah menuntun orang percaya menjadi anak-anak-Nya. Oleh sebab itu, agenda hidup ini harus hanya satu, yaitu bagaimana menjadi anak-anak Allah berstandar Kristus. Kita tidak boleh mempunyai agenda lain. Kalau memiliki agenda lain, kita tidak akan menjadi anak-anak Allah. Melalui setiap kejadian Tuhan membentuk kita untuk bisa berubah.
    Untuk sementara waktu ketika masih menjadi Kristen baru, banyak orang dibiarkan oleh Tuhan masih berkeadaan dualisme. Secara hukum (de jure) sebenarnya mereka sudah menjadi anak-anak Allah karena penebusan oleh Yesus, tetapi di lain pihak juga masih berkeadaan (de facto) seperti anak dunia. Keadaan ini tidak boleh berlangsung terus. Allah menuntut ketegasan.Orang Kristen harus mengambil pilihan dan keputusan dipihak siapa mereka berdiri. Kalau seseorang masih bisa dibahagiakan oleh harta dunia, berarti ia sedang diadopsi oleh dunia, sehingga menjadi anak dunia. Mereka berarti masih di pihak dunia. Jika tidak segera bertobat, selera jiwanya juga semakin rusak.  Orang percaya harus berjuang untuk keluar dari keadaan dimana dirinya masih disandera oleh dunia ini. Kalau kita berani meninggalkan dunia (tidak terikat kesenangan dunia), kehadiran Allah akan makin bisa dirasakan, pemerintahan Allah dapat tergelar dalam hidup kita masing-masing. Oleh sebab itu, kita harus memiliki hanya satu agenda saja, yaitu berjuang untuk menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus.
    Kita semua, apalagi para pembicara-pembicara di mimbar, harus berubah. Para pembicara tidak bisa mengubah orang kalau dirinya sendiri tidak berubah. Perubahan yang tajam, radikal, signifikan, dan absolut (mutlak) harus terjadi dalam hidup seorang pembicara. Seorang pembicara yang memberi diri diubah terus-menerus oleh Allah melalui Roh Kudus, barulah bisa mengubah orang lain.
    0 min
  • “NYAMBUNG” DENGAN ALLAH BAPA
    Allah mendidik orang percaya sebagai anak-anak-Nya agar dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Proyeksi ini sama artinyadengan menjadi seperti Yesus. Kalau kita menjadi seperti Yesus, kita baru bisa “nyambung” dengan Allah Bapa, bersekutu secara benar sesuai dengan standar yang Allah kehendaki. Kalau tidak, kita pun tidak akan “nyambung.” Jadi, kalau Yesus dikatakan “jalan, dan kebenaran, dan kehidupan” (Yoh. 14:6), itu bukan hanya berarti bahwa Yesus mengampuni dosa kita, membawa kita kepada Bapa, membenarkan atau menganggap benar, melainkan Dia juga menaruh Roh Kudus dan mengajarkan kebenaran (Yun. alithenon) di dalam diri kita agar kita bisa sampai kepada Bapa. Roh Kudus inilah yang menggarap kita supaya menjadi anak-anak Allah atau berkeberadaan sebagai anak-anak Allah, agar bisa “nyambung” dengan Bapa atau bisa memiliki frekuensi yang sama dengan Bapa.
    Seorang anak yang diadopsi menjadi anak seorang bangsawan, statusnya menjadi bangsawan. Namun, anak itu harus berubah sikap dan perilakunya. Perubahan itu terjadi tidak secara otomatis. Setelah menjadi anak bangsawan, ia harus berjuang denganbelajar untuk dapat bersikap dan berperilaku sebagai bangsawan. Hal ini dimaksudkan agar bangsawan yang mengangkatnya sebagai anak dapat “nyambung” dengan dia.” Inilah yang dikehendaki dan dilakukan oleh Allah Bapa kepada kita. Kita tidak cukup sekadarmenjadi orang Kristen yang dibenarkan, tetapi harus mengalami perubahan agar dapat “nyambung” dengan Allah Bapa. Banyak orang Kristen yang sudah cukup puas dengan statusnya sebagai anak-anak Allah dan merasa sudah dibenarkan. Mereka tidak melakukan perjuangan untuk mengalami perubahan. Banyak orang Kristen yang sibuk sendiri dengan hal-hal duniawi; yang tidak membawa dirinya kepada perubahan. Bahkan tidak jarang,banyak orangyang sangat sibuk pelayanan tetapi tidak mengalami proses perubahan untuk menjadi seperti Yesus.
    Bapa itu sabar sekali mendidik kita.Walaupun kita sering menolak didikan-Nya, Dia masih memberi kitakesempatan, selama pintu anugerah belum tertutup. Banyak orang tidak takut akan Allah karena tidak menghayati ada pemerintahan Allah yang tidak kelihatan ini. Mereka terus-menerus menolak didikan Bapa. Kalaupun tidak melakukan kesalahan, itu bukan karena takut dan hormat kepada Allah. Orang percaya seharusnyatidak berbuat dosa bukan karena takut sesamanya atau alasan lain, tetapi karena harus hidup dalam pemerintahan Allah yang Mahakudus. Banyak orang lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah. Kalau seseorang menghayati bahwa ada Tuan Rumah atau Penguasa atas dunia ini yaitu Allah, dan ia hormat dan takut akan Allah, dampak atau impaknyapastiluar biasa. Orang itu akan memahami apa arti hidup tidak bercacat dan tidak bercelaitu.
    Masalah hari ini dalam kehidupan jemaat gerejaadalahbahwabanyak orang Kristen sering tidak konsisten. Waktu berdoa di gereja, mereka begitu yakin akan kehadiran Allah; mereka yakin akan adanya pemerintahan Allah yang harus dihormati. Namun, pada saat sudah di luar gereja, saat sudah sendirian dan tidak ada mata memandang, apalagi kepepet, mereka menjadi permisif. Akibatnya, merekamelakukan kesalahan terus-menerus dan tidak pernah benar-benar hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Ini yang membuat mereka tidak dapat ”nyambung” dengan Allah.
    Terkait dengan hal tersebut, pertanyaan penting yang harus dikemukakan adalah:  Bagaimana kita bisa konsisten menghayati adanya Tuan Rumah ini? Bagaimana kita bisa memiliki keyakinan yang kuat dan kokoh bahwa ada Tuan Rumah? Kita harus hanya memiliki satu agenda. Agenda hidup kita hanya satu, yaitu menjadi anak-anak Allah yang berkeberadaan seperti Yesus. Firman Tuhan mengatakan,“Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging,
    0 min
  • PERCAYA SECARA BENAR
    Mengetahui seluk-beluk tentang Allah bukan berarti seseorang sudah memercayai dan mengalami Allah.Bahkan, sekalipun seseorang sangat cakap berteologi, ahli berbicara tentang Allah, belum tentu iasudah sungguh-sungguh memercayai Allah dengan benar dan mengalami-Nya secara riil. Orang yang sungguh-sungguh memercayai Allah, hidupnya akan berbeda sekali dengan orang lain walaupun proses untuk memercayai Allah itu tentu tidak mudah dan tidak sederhana. Kita harus memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh dan membangkitkan keyakinan bahwa kita hidup di suatu semesta atau alam, di mana ada Tuan Rumah yang mengatur segala tatanan dan berdiri sebagai Hakim. Dialah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus dan Bapa kita semua.
    Kita hendaknya tidak berpikir bahwa hanya orang Kristen yang mengalami pemerintahan Allah. Sejatinya, Allah tidak terganggu dengan agama, keyakinan, kepercayaan, dan sistem-sistem keagamaan yang manusia miliki karena memang tidak mengenal Allah yang benar. Kepada mereka, Allah hanya mengukur seberapa mereka memiliki kasih, karena hukum yang sama dengan mengasihi Allah adalah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39).Jadi, kita bisa melihat di ujung langit mana pun, di ujung bumi mana pun, Allah tetap menegakkan tatanan-Nya. Jika anak melawan orangtua, anak itu akan terlaknat. Kejahatan pasti akan mendapatkan imbalan atauupah yang setimpal. Sebaliknya, kebaikan juga akan mendapatkan upah atau imbalan yang setimpal. Nuansa pemerintahan Allah cukup bisa kita tangkap dalam gerak Allah di Perjanjian Lama. Niniwe adalah kota kafir, tetapi Allah memerintahkan Yunus ke sana untuk menyelamatkan kota itu. Itu sudah merupakan isyarat dan sinyal bahwa Allah pun memerintah atasmereka. Tatkala penduduk Niniwe bertobat, Allah pun tidak jadi menghukum mereka dengan mendatangkan bencana kepada mereka.
    Contoh-contoh seperti itu dapat ditemukan di dalam Alkitab. Allah memerintahkan bangsa Israel untuk menyambut orang asing di tengah mereka dan memperlakukan mereka secara manusiawi. Hendaknya kita tidak berpikir bahwa Allah hanya bekerjadi kalangan orang Kristen, dan pada zaman Perjanjian Lama, Allah hanya bekerjadi kalangan orang Yahudi. Ini tidak benar. Fakta empiris menunjukkan bahwa saat terjadi suatu kecelakaan, ternyata ada bayi yang masih hidup dalam kecelakaan itu, sementara penumpang yang lain tidak ada yang selamat. Hendaknya kita tidak berpikir bahwa ada campur tangan kuasa lain selain Allah. Sejatinya ada tangan Allah yang hidup, yang memelihara, dan mengadakan hal itu. Bumi ini adalah milik Allah. Kalau kita membaca sejarah, tidak ada penguasa jahat yang tidak mendapatkan upah dari kejahatannya. Kalaupun mungkin bukan penguasa itu sendiri yang memikulnya, pastinya anak atau cucunya akan menuai akibatnya. Memang, ada banyak misteri. Kita harus berpikir jujur dan tajam.Bapa kita ternyataadalah Bapa yang bijaksana kepada semua makhluk, kepada semua manusia dari segala suku bangsa di dunia ini.
    Keteraturan tatanan, hukum-hukum di bumi ini, siklus alam, dan lain sebagainya, semua ada dalam kontrol dan kendali yang Mahakuasa, Bapa kita. Karena itu, sesuai Alkitab, semua manusia suatu hari nanti akan berurusan dengan Allah. Semua orang akan menghadap takhta pengadilan Allah. Bagaimana mungkin mereka akan menghadap takhta pengadilan Allah, sementara saat hidup di bumi ini, Allah tidak ada melalui campur tangan-Nya dengan segala tatanan dan hukum-Nya? Meskipun mereka tidak memiliki Taurat, di hati mereka sudah terlukis Tauratitu(Rm. 2:12-16). Dalam segala halAllah ternyata juga campur tangan dalam hidup semua manusia. Allah tetap menegakkan hukum-hukum dan tatanan-Nya. Karena itu, mereka akan diperhadapkan pada penghakiman Allah. Allah adalah Tuan Rumah semua makhluk hidup dan jagad raya ini. Kepada semua manusia juga berlaku tatanan: Iblis tidak bisa memaksa manusia untuk berbuat jahat, Allah pun tidak bisamemaksa mereka untukberbuat baik. Manusia tetap memiliki kehendak bebas.
    0 min
  • DIPERTEMUKAN DENGAN BAPA
    Alkitab berkata, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3). Inilah keadaan yang disebut sebagai “mati sebelum mati.” Sesungguhnya ini merupakan proses yang sangat sulit. Terkait dengan hal ini dalam Efesus 4:25-26tertulis, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Marah itu tidak salah, jika marah itu dilakukan secara konstruktif (membangun), bukan destruktif (menghancurkan). Namun seseorang senang menikmati kemarahan, ia akan suka marah karena menikmati kemarahan itu. Apalagi kalau merasa kuat, seseorang akan berani memarahi atau memaki orang seenaknya dan sembarangan. Orang percaya harus belajar marah dengan benar.Marah kudus berartimarah untuk membangun (konstruktif), bukan untuk menghancurkan (destruktif).
    Orang percaya harus menanggalkan semua yang dapat membuat hati Tuhan tidak nyaman. Firman Allah mengatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Kita mungkin sajamarah, kemudian menegur orang yang salah. Namun setelah setelah itu, kitaharus menganggapnya sudah selesai. Kita tidak menyimpan dendam dan kebencian. Orang yang menyimpan dendam dan kebencian adalah orang yang menggenapi rencana setan. Hal ini akan melahirkan banyak dosa, baik dalam diri orang itu sendiri maupun orang lain. Namun sebaliknya, kebaikan menutupi dosa, dosa dirinya sendiri maupun dosa orang lain. Kita harus optimis bahwa kelemahan dan kekurangan kita juga bisa diubah.
    Oleh sebab itu, kita hendaknya tidak menjadi bangga karena memiliki rumah bagus, perhiasan indah, mobil mewah, dan lain-lain. Kebanggaan tersebut bukanlah ciri-ciri karakter anak-anak Allah. Kalau kita mempunyai komitmen untuk mati dari manusia lama kita, kitaharus serius mematikannya. Jika hal ini terjadi dalam hidup kita, itu baru namanya “lahir baru.” Lahir baru itu tidak sederhana. Lahir baru itu adalahkalau kita berkeberadaan benar-benar makin seperti Yesus. Ini tidak mungkin terjadi dalam satu hari. Menjadi manusia yang agung itu membutuhkan waktu yang lama.
    Kalau kita melihat Rasul Paulus, sebelum mengenal Tuhan Yesus, ia adalah seorang pembunuh yang ambisius sebagai pemimpin agama yang memiliki jabatan, sehingga dia diberi kuasa untuk membunuh orang-orang Kristen. Setelah menjadi orang percaya, ia sama sekali berbeda. Kita dapat menangkap filosofi dan kesaksian hidupnya melalui tulisan-tulisannya. Luar biasa! Paulus menunjukkan bahwa “dirinya adalah model anak Allah yang benar,” mengikuti teladan Gurunya. Kalau kita membaca tulisan Paulus, dan memiliki nurani yang baik dan spirit yang benar, kita akan bisa merasakan spirit dan gairah hidupnya. Namun, kalau seseorang tidak mempunyai spirityang benar, iapasti tidak akanbisa merasakannya. Kalau kebenaran-kebenaran Alkitab hanya didiskusikan, orang tidak akan menangkap spirit Paulus. Banyak teolog-teolog menjadikan Allah sekadar sebagai objek percakapan, bahan diskusi, tetapi bukan Pribadi yang disentuh, yang dengan-Nya mereka bergaul. Allah seharusnya menjadi Pribadi yang dengan-Nya kita semua bergaul dan benar-benar bersentuhan dengan Dia.
    Jadi, “kematian dalam Yesus” menunjuk pada suatu proses perjalanan hidup kekristenan yang normal. Sebelum fisik kita mati dan dikubur, kita harus memasuki kematian manusia lama. Kalau belum, kita harus merasa gusar, segusar-gusarnya. Semakin berumur sesorang, ia harus sudah mulai merasakan kegusaran itu. Proses kematian manusia lama ini mengawali atau mendahului kelahiran baru. Inilah perjuangan untuk merespons anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus itu meliputi penebusan-Nya yang membuat kita menjadi milik Dia; pemeteraian Roh Kudus; Injil yang harus kita pelajari; dan penggarapan Allah dalam segala hal demi mendatangkan...
    0 min
  • PERSEKUTUAN YANG HARMONIS
    Allah itu hidup dan harus diperlakukan sebagai Pribadi yang hidup. Allah menjadi semakin nyata hidup dalam kehidupan ini, kalau kita semakin mengalami kematian dari manusia lama. Semakin kita mati—yaitu meninggalkan cara hidup kita yang lama—Yesus semakin hidup dalam hidup kita dan Allah makin nyata dalam kehidupan ini. Dalam Efesus 4:21-22 tertulis,“Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.” Jangan sampai terjadi keadaan dimana gereja memiliki puji-pujian yang bagus, memiliki musik yang bagus, gedungnya juga bagus, tetapi manusianya tidak mengalami perubahan menuju kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Jangan sampai juga gereja memiliki organisasi yang bagus, manajemen yang bagus, tetapi manusianya tidak berubah sebagai anak-anak Allah yang mengenakan kodrat ilahi. Lebih baik kita tidak mempunyai fasilitas apapun, tetapi kita mengalami perubahan sesuai yang dikehendaki oleh Bapa.
    Hendaknya kita tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan banyak gereja hari ini. Manusia lama kita harus dimatikan. Percuma dan sia-sia belaka semua kegiatan pelayanan gereja kalau maksud keselamatan, yaitu perubahan, tidak berlangsung atau terjadi dalam hidup para pelayan dan jemaatnya. Kalau kita tidak berjuang keras, manusia lama kita itu tidak akan mati. Manusia lama tidak bisa mati dengan mudah. Kita semua harus sadar sesadar-sadarnya betapa hebat perjuangan untuk dapat mematikan manusia lama ini. Kesempatan untuk berubah yang Allah berikan ini berharga sekali. Oleh sebab itu kita harus menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Terkait dengan hal itu, Firman Allah mengatakan,“… Kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan” (Ef. 4:22). Efesus 4:23juga menegaskan, “Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu.” Di sini, gereja harus serius melayani demi memberikan Firman yang memperbarui roh dan pikiran. Roh, spirit, itu bisa menunjuk pada hati; dan pikiran itu menunjuk pada rasio. Firman Allah yang murni berkuasa mengubah roh dan pikiran kita. Oleh sebab itu, kebenaran yang diajarkan haruslah Injil yang murni yang diajarkan Yesus tanpa sikap konformitas (menyesuaikan dengankeadaan).
    Pelayanan yang mengubah manusia tidak bisa dibayar dengan uang. Kolekte, persembahan persepuluhan, dan buah suluh, semuanya tidak ada artinya tanpa perjuangan masing-masing individu untuk berubah. Oleh sebab itu, gereja tidak boleh sibuk memikirkan keuangan sampai mengabaikan hal yang lebih penting. Untukhal ini, gereja tidak perlu khawatir sama sekali. Allah pasti mencukupi dan tidak mempermalukan gereja milik-Nya. Kalau kita sudah menyadari bahwa semua hartakitaadalahmilik Allah, gereja itu akan berlimpah untuk bisa menjadi berkat bagi gereja lain atau masyarakat yang lemah dan yang tidak berdaya. Jadi, kalau belum sanggup memberi dengan tulus, gerejatidak boleh memaksa anggotajemaat untukmemberi uang. Kita harus berani menunggu hingga jemaatsudah memiliki kesadaran mengenai hal tersebut.Dengandemikian, mereka barulah akanmengembalikan milik Allah dengan sikap hati yang benar. Persembahan uang yang dibawa ke gereja sangat kecil jika dibanding dengan keselamatan. Allah menghendaki sikap hati yang benar. Jadi, yang benar haruslah hati yang terlebih dahulu dipersembahkan. Hati yang dipersembahkan kepada Allah harus sampai pada pengakuan, “Hidupku bukannya aku lagi, melainkanKristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20). Hal ini sama maknanya dengan pernyataan Paulus dalam suratnya,“… Dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:24).
    Harus dipahami bahwa yang harus diperjuangkan dalam pelayanan adalah kehidupan Yesus...
    0 min
  • BERMARTABAT SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH
    Kita semua harus terus mengalami proses perubahan, sehingga perjalanan hidup kita ini menjadi petualangan yang hebat karena itu menentukan kekekalan yang tiada batas. Tidak ada yang lebih menarik dalam hidup kita, selain perubahan-perubahan itu. Perubahan-perubahan itu akan menyenangkan hati Bapa. Jadi, perubahan itu bukan hanya tidak berbuat dosa, melainkan juga perubahan menjadi manusia baru berstandar Yesus untuk menyenangkan hati Bapa. Allah Bapa mengetahui apakah kita ini mengalami perubahan yang benar atau tidak. JikaBapa merasakannya, tentu saja orang sekitar kita juga pasti akan merasakannya.
    Jika kita masuk pada pergumulan ini, tiada lagi yang menarik dalam hidup kecuali Allah dan Kerajaan-Nya. Untukitu, mengikut Yesus tidak mungkin dapat membuat kita hidup wajar, karena mengikut Yesus itu berarti harus hidup seperti Dia hidup; harus mengenakan hidup-Nya. Gereja Tuhan harus semakin berbicara lantang, tegas, dan tajam mengenai hal ini. Tidak ada lagi yang patut dipercakapkan, kecuali bagaimana kita mengerti kebenaran-kebenaran Firman yang mencerdaskan pikiran, dan membuat jemaat makin peka terhadap pikiran dan perasaan Allah. Kepekaan ini merupakan inti proses perubahan dalam kehidupan orang percaya, bukan sekadar menambah pengertian mengenai hukum yaitu apa yang diperbolehkan dan dilarang, halal, atau haram. Standar kebenaran dan kesucian orang percaya adalah memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sehingga dapat dengan tepat memahami apa yang benar dan baik menurutstandar kesucian Allah. Inilah kekayaan abadi kita.
    Firman Tuhan mengatakan: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor. 8:9). Ini sama sekali tidak berhubungan dengan kekayaan materi. Jadi, kalau kalimat dalam ayat ini dikaitkan dengan harta dunia, itu merupakan kejahatan di dalam gereja; itu merusak tatanan pikiran.  Menjadi “Kristen” itu berarti diberi kesempatan menjadi anak-anak Allah. Jadi, menjadi orang yang beragama “Kristen” bukan berarti “sudah” menjadi anak Allah yang sah, melainkan “sedang” menjadi anak-anak Allah. Belum menjadi anak-anak Allah yang sah berarti masih menjadianak-anak yang tidaksah yang dalam kata bahasa Yunani disebut nothos. Namun, setelah menjadi anak Allah yang sah, yaitu setelah mengambil bagian dalam kekudusan Allah,anak-anak Allah itubarulah disebut dalam istilah bahasa Yunani sebagai huios.
    Jadi, fokus hidup kita sekarang ini hanya bagaimana berubah terus sampai menjadi manusia yang benar-benar baru. Dalam pergumulan demi perubahan tersebut, kita pasti tahu jika masih ada ada unsur-unsur manusia lama kita. Jangan sampai kita sibuk di pelayanan secara teknis dan berprestasi dalam pelayanan, tetapi tidak mengalami pembaruan di dalam manusia batiniahkita. Ada orang-orang yang cakap berkhotbah dan cakap dalam mengatur organisasi gereja, tetapi gagal menjadi manusia baru. Tidak sedikit mereka berasal dari jemaat awam tetapi sudah memiliki pengetahuan Alkitab, menjadi cakap berkhotbah, membantu pelayanan dalam kegiatan-kegiatan gereja, tetapi mereka ternyata tidak mengalami perubahan seperti Yesus; tidak menjadi manusia baru. Tidak heran bila di tengah-tengah masyarakat mereka tidak tampil sebagai saksi Kristus, karena hidup mereka tidak memancarkan kehidupan Yesus. Proses perubahan harus dialami melaluiperjuangan dalamhal-hal sederhana.
    Oleh sebab itu, salah satu yang penting dalam hidup ini adalah menjaga lidah untuk tidak mengucapkan kata-kata yang sia-sia, belajar mengendalikan emosi, serta membersihkan jiwakita yang keruh dari perasaan-perasaan yang negatif seperti iri hati, cemburu, mencari hormat manusia, tidak suka orang lain dianggap penting, dan lain sebagainya. Itu semua adalah manusia lama yang harus dimatikan. Kalau masih hidup dalam sifat-sifat manusia lama tersebut, kitapasti tidak akan masuk Kerajaan Allah. Oleh sebab itu,
    0 min
  • MENJADI ANAK-ANAK ALLAH
    Membawa kematian Yesus adalah proses perjalanan hidup kekristenan yang harus benar-benar terjadi atau berlangsung dalam hidup orang percaya. Kita harus berani mendefinisi ulang hal-hal yang selama ini mungkin dipandang sudah final. Definisi ulang tersebut tentu harus berimplikasi dalam hidup ini; bertalian langsung dalam hidup, dan berdampak pada karakter kita. Dalamhal ini, kita dapat menemukan kebenaran-kebenaran yang selama ini pengertiannya tidak jelas atau kabur. Beberapa pengertian itu misalnya, klausa “membawa kematian Yesus di dalam hidup atau tubuh kita;” “bahwa kita telah mati, hidup kita tersembunyi dalam Yesus Kristus;”  dan frasa, “kelahiran baru;” “hidup baru dalam Allah;” dan “menjadi anak-anak Allah.” Klausa dan frasa seperti ini sebenarnya memiliki arti yang sulitdipahami. Kita akanmemerhatikan apayang dimaksud frasa“menjadi anak-anak Allah” dalam perspektif tertentu.
    Menjadi “anak-anak Allah” dan masuk ke dalam keluarga Kerajaan Allah, sertadimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, bukanlah hal yang sederhana. Itu adalah hal yang luar biasa. Setelah menjadi Kristen, secara fisik dan lahiriah, kita memang tidak berubah. Namun, secara kodrat di dalam manusia batiniah, kitaharus berubah. Manusia lama kita harus benar-benar dimatikan atau ditiadakan. Masa hidup manusiayang berkisar 70-90 tahun merupakan masa proses yang sudah definitif atau tertentu, tidak bisa ditambah, tetapi bisa dikurangi. Oleh sebab itu, kita harus menghargai kesempatan berharga yang Allah berikan ini. Kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah ituhanya terjadisatu kali, singkat, dan tidak pernah terulang lagi dalam kekekalan.
    Masa hidup kita merupakan proses bagaimana kitabetul-betul menjadi manusia baru, sehingga sisa-sisa manusia lama kita benar-benar harus lenyap atau hilang. Manusia baru inilah yang disebut menjadi anak-anak Allah. Ini terjadi harus melalui perjalanan waktu yang sangat ketat. Kalau diikuti per harinya mungkin tidak kelihatan, bahkan dalam kurun waktu satu tahun atau dua tahun pun, proses perubahan ini pun belum akankelihatan. Ini sama seperti perkembangan jasmani manusia. Fisik anak-anak tidak bisa diukur perkembangan hariannya. Namun kalau sudah 5-10 tahun, perkembangan dan perubahannya barulah kelihatan. Untuktumbuh dan berkembangini, yang dituntut adalah ketekunan. Ketekunan yang berkesinambungan akanmenghasilkan perubahan yang signifikan.
    Fokus pekerjaan pelayanan gereja adalah mengubah manusia lama ini. Ini harus merupakan agenda utama dan satu-satunya dalam hidup ini. Iniberarti bahwa kita harus benar-benar berubah menjadi anak-anak Allah dengan kualitas yang baru, kualitas yang tinggi, dan berbeda dengan manusia pada umumnya. Di situ, kita bisa belajar untuk melihat gejala-gejala perubahan jiwa yang kita miliki. Waktu kita mengemudikan kendaraan lalu disalip, bagaimana reaksi kita? Apakah masih sama seperti dahulu? Waktu kita melihat barang yang dahulu menjadi kesukaan kita, bagaimana sekarang?  Pada waktu kita dipuji, dilukai, dihina, bagaimana reaksi kita? Itu semua bisa kita rasakan. Kita bisa merasakan perbedaan antara kita yang dahulu dengan diri kita yang sekarang.
    Melalui pelayanan gereja, cara berpikir, fokus, dan orientasi hidup jemaat diubah dari cara berpikir, fokus, dan orientasi dunia ini, menjadi langit baru dan bumi baru. Sebagai dampaknya, kitaakanmemiliki kerinduan untuk benar-benar hidup tidak bercacat dan tidak bercela dalam segala hal. Selanjutnya, kitajuga akan bersemangat dan sangat bersedia untuk mematikan manusia lama seperti yang Firman Allah katakan, “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala” (Kol. 3:5). Untuk hal ini, orang percaya diharapkan bukan hanya menjadi baik,melainkanbenar-benar menjadi manusia baru yang standar moralnya adalah Yesus.
    Perjuangan pelayanan gereja haruslah tertuju kepada caramengubah seseorang menjadi ...
    0 min
  • SATU-SATUNYA KESEMPATAN
    Menemukan, mengalami, dan memiliki hubungan yang eksklusif dengan Allah secara permanen membutuhkan perjuangan yang berat. Perjuangannya terletak ketika kita harus melepaskan segala ikatan dan percintaan dengan dunia dan menempatkan Tuhan sebagai pribadi yang paling berharga dan tercinta,Pertama, sebagaimana kita harus meninggalkan ayah dan ibu dan bersatu dengan pasangan hidupkita,demikian pula, kita harus menanggalkan segala keterikatan (Ibr. 12:1; Mrk. 10:21-22). Perjuangan ini sangat berat sebab keterikatan dengan mammon adalah ikatan yang nyaris tidak dapat dipatahkan. Namun, yang mustahil bagi manusia itutidak mustahil bagi Allah. Inilah yang dimaksud TuhanYesus dengan mendahulukan Kerajaan Surga. Hidup ini merupakan petualangan yang hebat kalau diisi dengan pencarian hubungan yang eksklusif dengan Allah tersebut, yang sama dengan usaha untuk menempatkan diri sebagai mempelai wanita yang setia. Suatu kali nanti, ketika pesta perkawinan anak domba berlangsung, semua orang yang setia sampai akhir menjadi mempelai-Nya akan memperoleh kebahagiaan yang luar biasa.
    Kedua, kita menghadapi kuasa kegelapan yang terus berusaha untuk menarik kitamasuk kedalam persekutuan dengan kuasa gelap itu (2Kor 11:2-3). Hari ini banyak orang yang telah disesatkan oleh kuasa kegelapan sampai tingkat tidak dapat ditolong lagi. Banyak orang Kristen tidak setia, yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk kacang merah (Ibr 12:16-17). Percabulan dalam ayat ini bukanlah percabulan secara fisik (seksual), melainkan percabulan rohani. Ini hal yang sangat penting.Itulah sebabnya hukum pertama dalam Dekalog adalahagar tidak ada Allah lain dihadapan-Nya. Tidak ada Allah lain bukan hanya dimengerti sebagai adanya Allah lain selain yang dikenal dalam agama Kristen, melainkan juga ketika hubungan eksklusif dengan Allah digantikan dengan kesenangan dunia.Itu juga merupakan pelanggaran yang berat.
    Keberhasilan hidup manusia yang sebenarnya atau yang sejati adalah ketika seseorang menjadi kekasih Allah. Konsep ini sebenarnya juga dimiliki oleh agama lain selain agama Kristen. Dengan segala cara, mereka berusaha untuk menjadi kekasih Allah. Di antaranya adalah filsafat menjadi satu dengan Allah (manunggaling kawula Gusti). Mereka menyadari bahwa menjadi kekasih Allah adalah sesuatu yang sangat mulia. Pelayanan harus menunjukkan hal ini, bukan mengarahkan jemaat kepada kenyamanan hidup untuk memiliki dunia dengan segala kesenangannya. Ukuran keberhasilan harus diubah, bukan pada sukses studi, karier, rumah tangga, dan lain sebagainya, melainkanpersekutuan sebagai kekasih Allah. Ada seorang anak Allah berkata,“Saya tidak memilikicita-cita lain, kecuali pergi ke Israel sebelum saya meninggal.” Orang lain berkata,“Cita-cita saya sebelum meninggal adalah ini atau itu ….” Tidak salah ke Israel atau mengingini ini atau itu.Namun, menjadi salah dan masalah mengerikan kalau seseorang belum menjadi kekasih Allah sebelum meninggal, sebab kesempatan ituhanya adapada waktu seseorang masih hidup di bumi ini. Dalam hal ini TuhanYesus berkata,“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya” (Mrk. 8:36).
    Allah menghendaki agar hati kita diserahkan kepada-Nya secara penuh.  Orang yang menyerahkan hatinya kepada Allah berarti mengingini Allah lebih dari mengingini segala sesuatu. Allah menjadi tujuan kehidupan ini.Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan, hanya untuk Allah dan Kerajaan-Nya.  Oleh sebab itu,haliniharus dicamkan baik-baikbahwa satu-satu agenda hidup ini adalah mengenal Allah dan TuhanYesus Kristus serta memiliki persekutuan dengan Dia secara benar. Segala sesuatu yang ada di bumi ini bukanlah kewajiban atau keharusan untuk diraih dan dimiliki. Kalau seseorang bersikap seperti wajarnya anak-anak dunia yang hidupnya hanya untuk memburu kesenangan dunia, berbagai fasilitas, dan hiburannya, orang Kristen tersebut hidup di luar pola hidup yang diajarkan oleh Tuhan.
    0 min
  • MEMPERTUNANGKAN JEMAAT DENGAN DUNIA
    Orang yang mau hidup di hadapan Allah haruslah menjadikan Allah sebagai satu-satunya kebahagiaan. Menjadikan Allah kebahagiaan merupakan sesuatu yang sangat rumit,sebab seseorang harus mengalami perjumpaan dengan Allah. Untuk itu, ia membutuhkan ketekunan dalam menyediakan diri bertemu dengan Allah dalam doa pribadi. Dia harus berani membuang semua kesenangan atau segala sesuatu yang dapat menjadi kebahagiaan jiwanya. Dalam membangun kehidupan dimana Allah menjadi kebahagiaan, seseorang tidak boleh dipuaskan oleh apapun, selain oleh Allah. Dengan demikian, ia bisa tidak serakah sama sekali, dan dapat merasa puas dengan apa yang ada padanya. Demikian pula, ia bisa berbahagia dengan fasilitas apapun yang dimilikinya. Kesulitan-kesulitan hidup yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani tidak boleh dianggap sebagai masalah. Untuk itu, orang percaya harus bisa berprinsip,“Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1Tim. 6:8)
    Orang yang menjadikan Allah sebagai kebahagiaannya akan sampai pada pengakuan tulus bahwa Allah adalah segalanya. Banyak orang sudah merasa menjadikan Allah sebagai segalanya tetapi sebenarnya belum bahkan tidak sama sekali. Mereka tidak mengerti bagaimana menjadikan Allah segalanya dalam hidup ini. Orang yang menjadikan Allah segalanya adalah orang yang hanya bisa dibahagiakan oleh Tuhan. Inilah kehidupan yang harus dimiliki semua orang percaya. Menjadikan Allah sebagai segalanya adalah keharusan atau kewajiban. Tanpa menjadikan Allah segalanya, seseorang tidak dapat hidup di hadapan Allah, sebab standar atau ukuran keintiman yang harus dimiliki umat Perjanjian Baru dengan Allah adalah hubungan sepasang kekasih. Jadi, kalau seseorang merasa sudah menjadikan Allah segalanya padahal kenyataannya belum, keadaan itu akan membahayakan dirinya.
    Cinta antara pria dan wanita dapat mengikat dua insan dalam pengembaraan bersama yang penuh misteri. Ini adalah suatu realitas yang tidak dapat dimengerti. Penulis amsal yang bijaksana mengatakan,“Ada tigahal yang mengherankan aku, bahkan, ada empathal yang tidak kumengerti: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis”(Ams. 30:18-19). Kecakapan Allah ternyata bukan hanya menciptakan alam semesta dengan hukum-hukumnya seperti hukum Archimedes. Hubungan antarpribadi juga merupakan bukti atau ekspresi dari keahlian Allah semesta alam. Demikian juga dengan jalannya kapal diatas air merupakan salah satu hukum dari sekian banyak hukum yang mengatur kehidupan.
    Dalam Efesus 5:32 tertulis,“Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Dalam tulisan yang lain, Paulus menunjukkan bahwa hubungan jemaat dengan Tuhan Yesus adalah hubungan mempelai pria dengan mempelai wanita (2Kor 11:2-3). Perjalanan hidup kita adalah perjalanan menemukan hubungan unik itu, mengalaminya, dan memilikinya untuk selama-lamanya. Orang yang tidak memiliki hubungan ini tidak akan pernah menjadi sekutu Allah atau tidak akan bersama dengan Allah selama-lamanya. Oleh sebab itu, apakah seseorang nantinya masuk surga atau masuk neraka ciri-cirinya sudah tampak. Allah tidak akan bersama orang yang tidak serius dengan diri-Nya, sejak masih hidup di bumi. Itulah sebabnya keselamatan—yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan semula—harus sudah diperjuangkan sejak di bumi.
    Hubungan eksklusif dengan Allah dialami oleh penulis Kitab Mazmur yang menyatakan perasaan itu dengan ungkapan kata-kata,“Sekalipun dagingku dan hatiku habislenyap, gunung batuku dan bagian ku tetaplah Allah selama-lamanya”(Mzm. 73:26). Dari pernyataan ini, Pemazmur hendak mengatakan bahwa dirinya rela tidak memiliki apapun, asal jangan sampai iatidak memiliki Allah. Dalam hal ini, bagi Pemazmur, persekutuan dengan Allah itulebih dari segalanya bahkan lebih dari nyawanya sendiri. Cinta kasih dan kehormatan seperti ini layak dipersembahkan bagi Allah.
    0 min
  • UNTUK MERAIH KESUCIAN
    Banyak hal yang Allah kerjakan untuk mendidik orang-orang yang dikasihi-Nya tanpa mereka mengerti. Sesuai Firman-Nya, jalan-jalan-Nya tidak terselami. Namun kemudian, tatkala melihat hasilnya, barulah kita tahu mengapa Allah mengerjakan semua ini. Dalam kisah Yusuf di Kitab Kejadian, Yusuf tidak akan menjadi orang kedua setelah Firaun di Kerajaan Mesir sebelum ia mengalami perlakuan-perlakuan yang tidak adil hingga masuk penjara. Daud tidak akan menjadi raja besar sebelum ia menjadi seorang pelarian. Demikian pula, bangsa Israel tidak akan menjadi bangsa yang besar sebelum mereka mengarungi sekolah atau pendidikan padang gurun yang luas. Melalui hal-hal tersebut, mereka dipersiapkan menghadapi bangsa Kanaan yang kuat dan selanjutnya mereka dapat membangun negara yang kuat.
    Mengapa seseorang tidak menghayati kehadiran Allah? Itu karena mereka tidak hidup dalam kebenaran Firman Allah, sehingga mereka tidak mengalami pernyataan kehadiran dan kemuliaan-Nya. Allah tidak dapat berjalan dengan orang yang pakaian kehidupannya kotor. Bila terjadi demikian, Allah jelas tidak akan memercayakan perkara-perkara besar kepada orang yang tidak dapat dipercayai-Nya (Yes. 59). Kesucian haruslah diperjuangkan karena seseorang tidak akan dapat memiliki kesucian tanpa perjuangan. Kesucian hidup tidak dapat dimiliki orang percaya dengan sendirinya atau secara otomatis. Kesucian di sini maksudnya adalah kedewasaan rohani di mana seseorang memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sehingga segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Level kesucian yang dicapai seseorang bukan hanya tergantung dari kasih karunia Allah melainkan juga sangat tergantung dari perjuangannya. Itulah sebabnya Yesus menyatakan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga harus berjuang (Luk. 13:24). Di bagian lain, Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Pilihan ini tentu juga berdasarkan respons seseorang terhadap anugerah-Nya. Sangat menyedihkan, banyak orang Kristen merasa sudah percaya kepada Yesus dan merasa memiliki kepastian selamat masuk Surga, tidak berjuang untuk mengambil bagian dalam kesucian Allah. Padahal dalam Matius 7:21-23, dinyatakan bahwa sekalipun seseorang sudah mengadakan banyak mukjizat tetapi kalau ia tidak melakukan kehendak Bapa atau hidup dalam kesucian, iabisa ditolak oleh Allah. Percaya itubukan hanya dalam pikiran, melainkanharus disertai dengan tindakan konkret. Tindakan tersebut adalah melakukan kehendak Allah.
    Semua potensi yang Allah berikan haruslah digunakan untuk meraih kesucian. Perumpamaan talenta yang ditulis dalam Matius 25 sesungguhnya lebih dekat bertalian dengan hal kesucian atau kualitas hidup yang harus dicapai seseorang. Setiap orang percaya masing-masing mendapat kesempatan yang berbeda, tetapi seberapa banyakyang Allah berikan harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Kalau fasilitas yang Allah sediakan tidak digunakan secara bertanggungjawab, kesempatan itu akan hilang dan tidak ditemukan lagi.
    Untuk mengalami pertumbuhan kesucian yang baik, seseorang harus memiliki kerinduan yang kuat untuk memahami semua yang Bapa kehendaki atas hidupnya untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk digenapi. Kerinduan untuk melakukan kehendak Bapa inilah yang dimaksud haus dan lapar akan kebenaran (Mat. 5:6). Orang yang berkerinduan untuk mencapai kesucian yang menyukakan hati Bapa pasti dapat meraihnya. Dalam hal ini, ayat Firman Tuhanbahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah barulah berlaku. Tidak ada yang sulit kalau sudah dilakukan dan dibiasakan.Namun, halituakan menjadi sulit dan tidak mungkin bisa dilakukan kalau tidak pernah diusahakan untuk dilakukan dan dibiasakan.  Hal ini akan menggerakkan orang percaya untuk memerhatikan langkahnya setiap detik, menit, dan jam. Oleh sebab itu, kalau orang percaya berbuat suatu kesalahan, ia harus segera memperbaiki diri. Selanjutnya, ia harus membiasakan diri untukmelakukan kehendak Allah tanpa memaksakan diri untuk ...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…