Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • KEAGUNGAN ANAK-ANAK ALLAH
    Kehidupan sebagai anak-anak Allah adalah kehidupan yang luar biasa. Keagungan sebagai anak-anak Allah tidak dapat digambarkan dengan apapun, sebab tidak ada keindahan atau keagungan di bumi ini yang bisa menggambarkan hal ini. Kelimpahan harta, kehormatan sebagai pejabat, penampilan cantik atau ganteng, perhiasan yang dikenakan, gelar akademis, popularitas, dan lain sebagainya tidak bisa menandingi keagungan sebagai anak-anak Allah. Allah memiliki keagungan yang tiada tara dalam segala aspek.Kalau kita menjadi anak-anak Allah, tentu keadaan kita pun akan menjadi agung. Kalau sekarang, keagungan kita memangbelum tampak, tetapi suatu hari nanti keagungan kita akan merekah, yaitu pada waktu kedatangan Tuhan Yesus atau pada waktu kita dimuliakan bersama-sama dengan Dia. Dalam 1 Yohanes 3:2, Firman Tuhan mengatakan,“Saudara-saudara yang kukasihi, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi seperti apa keadaan kita nanti belumlah tampak. Namun, kita tahu bahwa ketika Ia datang, kita akan menjadi seperti Dia karena kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.”Klausa“kita akan menjadi sama dengan Dia”merupakan suatu hal yang sulit dibayangkan. Pengharapan inilah yang membuat orang percaya pada gereja mula-mula rela kehilangan apapun demi pengiringannya kepada Tuhan.
    Keagungan sebagai anak-anak Allah harus kita perjuangkan, tidak otomatis melekat di dalam kehidupan seorang Kristen. Hal ini sama dengan bahwa kodrat ilahi tidak otomatis dimiliki orang Kristen. Berkodratilahi itu harus melalui perjuangan. Hal ini sejajar dengan kenyataan bahwa seorang Kristen tidak otomatis bisa lahir baru tanpa perjuangan. Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus bahwa ia harus dilahirkan baru. Yohanes 3:7 menyebutkan, “Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.” Kata “dilahirkan” dalam teks aslinya adalah gennetenai (γεννηθῆναι),yang berasaldari akar kata gennao (γεννάω). Menurut teks aslinya, kata ini merupakan kata kerja infinitif aorispasif (verb infinitive aorist passive). Kata ini mengandung perintah atau panggilan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk diselamatkan seseorang harus berjuang masuk jalan sempit (Luk. 13:22-24).
    Banyak orang tidak berjuang secara memadai sehingga sampai mati sebenarnya tidak pernah mengalami kelahiran baru. Kegiatan keagamaannya memang bisa membuat seseorang menjadi baik, santun, bermoral, atau tampak saleh atau suci, tetapi sebenarnya belum pernah mengalami kelahiran baru. Kesalahan banyak orang Kristen adalah ketika mereka tidak berusaha secara memadai untuk mengalami kelahiran baru. Hal ini terjadi sebab tidak pernah diajarkan dan dianjurkan. Banyak pendeta berkeadaan seperti ini. Hal itu disebabkan karena mereka tidak pernah diajarkan bagaimana seseorang harus kehilangan segala sesuatu demi perjuangan untuk memperoleh keselamatan. Keselamatan adalah proses dimana setiap individu memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus untuk mengalami perubahan kodrat, menemukan kemuliaan Allah yang hilang, atau menemukan keagungan sebagai anak-anak Allah.
    Percaya adalah memberikan yang terbaik dan bersedia melakukan apa saja yang dikehendaki oleh Allah (Rm. 4:20-25). Orang percaya pada zaman gereja mula-mula harus menebus keselamatan yang disediakan gratis dengan nyawa mereka. Selalu ada proses barter ini. Demikian pula dengan Paulus mengambil kasih karunia dengan melepaskan segala miliknya (Flp. 3:8-13). Orang yang menyadari keagungan Tuhan akan mengasihi Dia, tidak akan rela kehilangan Dia, dan tidak akan menukar hak kesulungan sebagai anak-anak Allah dengan sepiring makanan (Ibr. 12:15-23). Ibrani 12:18menegaskan,“Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai.”Saudara-saudara tidak datang menghadapi sesuatu seperti yang dihadapi oleh bangsa Israel dahulu. Mereka tidak menghadapi sesuatu yang bisa diraba, yaitu Gunung Sinai dengan apinya yang bernyala-nyala; mereka m...
    0 min
  • MASUK PENJARA ALLAH
    Dahulu kita berpikir, kalau sudah menjadi orang Kristen berarti kita sudah merdeka atau sudah dibebaskan dari semua. Karenanya itu ada lagu-lagu yang syairnya memuat kalimat yang menunjukkan atau mengesankan bahwa semua orang Kristen yang mengaku percaya kepada Yesus sudah bebas dari segala belenggu. Itulah sebabnya mereka merayakannya setiap Minggu. Apakah ini benar? Untuk mendapat jawaban yang tepat mengenai hal ini, kita harus memahami terlebih dahulu tentang pengertian “kebebasan” tersebut. Kita harus melihat adanya dua jenis kebebasan: yang pertama, pembebasan secara pasif.Yang kedua, pembebasan secara aktif.  Sebenarnya, hal ini juga paralel dengan “pengudusan.” Ada 2 jenispengudusan, yaitu pengudusan secara aktif dan pengudusan secara pasif.
    Pengudusan secara pasif maksudnya adalah bahwa semua akibat dosa yang kita lakukan telah dipikul Yesus di kayu salib tanpa peran kita sama sekali. Hal itu terjadi bukan karena perbuatan baik kita. Jadi, semua akibat perbuatan dosa kita sudah selesai di kayu salib. Sebelum kita yang hidup di zaman anugerah ini, Yesus sudah mati bagi kita dua ribu tahun yang lalu. Secara pasif kita telah menerima pengudusan-Nya. Itulah sebabnya dengan yakin kita mengakui bahwa semua dosa kita sejak kita lahir sampai mati telah dipikul oleh Yesus di kayu salib. Sudah selesai!Namun, yang belum selesai adalah kodrat dosa di dalam diri kita. Hal ini harus melalui pengudusan secara aktif. Pengudusan secara pasif tidak melibatkan peran kita sama sekali, tetapi pengudusan secara aktif melibatkan peran aktif kita.
    Adapun pengudusan secara aktif berbicara mengenai proses kodrat dosa yang diubah menjadi kodrat ilahi dalam kehidupan orang percaya melalui perjuangan setiap individu. Pengudusan ini terjadi oleh kuasa Firman Allah dalam pimpinan Roh Kudus. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa Firman Allah itu menguduskan, seperti dalam kalimat doa TuhanYesus, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh. 17:17). Jadi, kita dikuduskan oleh darah Allah Yesus,  dan juga dikuduskan oleh Firman. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan.Ini berarti bahwa melalui kebenaran Injil, seseorang mengalami perubahan. Pengudusan oleh darah Allah Yesus dan Firman itu berlangsung paralel dan tidak terpisahkan, seperti sekeping mata uang dengan dua sisi.
    Pembebasan secara pasif berarti bahwa dengan kematian Yesus di kayu salib, kita telah dimerdekakan sama sekali dari perbudakan kuasa gelap dan dosa. Maksudnya, kita bisa berpeluang untuk keluar dari ikatan dosa. Peluang itu bukan sesuatu yang dapat terjadi secara otomatis. Karena itu, ada pembebasan secara aktif. Itu berarti bahwa kita harus berjuang sampai kodrat dosa tidak menguasai kehidupan kita lagi. Ini merupakansebuah transisi, dari penjara dosa atau penjara setan. Kita harus masuk ke dalam “penjara Allah.” Kalau di “penjara” dunia, orang masih bisa berbuat baik dan juga bisa berbuat jahat. Namun, orang biasanya menjadi jahat. Bagi orang percaya, Allah tidak menghendaki manusia untuk hanya menjadi baik, tetapi harus menjadi sempurna. Karena itu, kita harus keluar dari “penjara” dunia dan masuk ke “penjara Allah.” Dalam penjara Allah, kita mengalami proses dimerdekakan dari kodrat dosa, untuk dapat mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah.
    Memang agama bisa membebaskan orang dari karakter dan kebiasaan jahat, dan membangun karakter yang baik, santun, dan beradab. Agama bisa juga membuat orang menjadi baik dalam ukuran secara umum. Oleh sebab itu, kalau hanya mau menjadi orang baik, seseorangcukup memeluk suatu agama. Namun, panggilan untuk orang percaya adalah masuk ke “penjara” Allah untuk menjadi sempurna, tanpa harus menjadi orang Kristen. Panggilan orang percaya adalah untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela, dan dalam kesucian itu untuk tidak bisa berbuat dosa lagi. Maksudnya, kita harus tidak meleset dalam segala hal yang dipikirkan, diucapkan,
    0 min
  • MENARUH ALLAH DI DEPAN MATA
    Kita harus menyadari dan sungguh-sungguh menerima bahwa manusia hidup dalam pemerintahan Allah. Wilayah hidup yang dijalani manusia adalah wilayah yang “tidak netral.” Wilayah hidup manusia bukan daerah yang tidak bertuan. Wilayah kehidupan manusia adalah wilayah yang “bertuan,” dan tuannya adalah Tuhan semesta alam, yaitu Allah yang Esa. Dengan demikian, manusia bukanlah makhluk gratis yang boleh hidup sesuka-sukanya sendiri. Manusia harus hidup dalam pemerintahan Allah.Khususnya bagi orang percaya yang adalah anak-anak Allah, kita harus hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, orang percaya tidak boleh hidup sesuka-sukanya sendiri, tetapi harus hidup sesuka-sukanya Tuhan.
    Ada satu langkah penting untuk hidup di hadapan Allah atau hidup didaerah yang tidak netralini. Langkah itu adalah selalu menghayati dan benar-benar berpikir bahwa mata Allah ada di depan kita. Pernyataan ini sekilas tampak kekanak-kanakan, tetapi sesungguhnya hal ini harus dilakukan dan dilatih terus-menerus sehingga seluruh syaraf, inderaperasa kita, pikiran dan perasaan kita selalu dalam kesadaran penuh bahwa Allah hadir dan mengawasi seluruh perilaku kita, termasuk gerak pikiran dan perasaan kita. Pembiasaan ini akan melahirkan keyakinan terhadap Allah yang hidup dan Mahahadir. Tanpa pembiasaan ini, seseorang tidak akan pernah menghayati kenyataan Allah yang hidup dan Mahahadir itu.
    Hal tersebut di atas sekilas tampak sederhana, padahal sebenarnya suatu hal yang sulit untuk dilakukan, sebab manusia sudah terbiasa terpancang kepada hal-hal yang kelihatan. Allah tidak kelihatan, dan karenaitu, orang biasanya tidak serius berurusan dengan Allah. Akibatnya, mereka tidak mampu menghayati Tuhan dalam setiap tindakannya. Ini berarti mereka juga tidak mempertimbangkan perasaan Allah dalam setiap pilihan dan keputusannya. Inilah yang disebut sebagai kecerobohan yang bisa berdampak kekal. Oleh sebab itu,kita harus membiasakan diri untuk melatih penghayatan akan kehadiran atau keberadaan Allah dalam hidup ini, dan selalu mempertimbangkan perasaan-Nya ketika kita mau mengambil pilihan dan keputusan. Oleh sebab itu, betapa pentingnya melatih diri untuk membiasakan diri menaruh Tuhan di depan mata.
    Latihan untuk hal ini dimulai sejak pagi hari. Kita harus selalu mengevaluasi seberapa konstan penghayatan itu berlangsung. Pada awal-awal memulai latihan, kitasering tidak bisa bertahan lama. Perjuangan itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Selanjutnya, kalau kita tekun,kitabisa bertahan sampai setengah hari, bahkan sampai satu hari penuh. Bila satu hari sudah berhasil, proses latihan harus dilanjutkan di hari berikutnya. Pembiasaan hidup menaruh Allah di depan mata kita merupakan proses. Jika hal ini berlangsung terus-menerus, menaruh Allah di depan mata itu akan menjadi gaya hidup yang permenan. Menaruh Allah didepan mata berarti selalu mengingat, menghayati, dan menyakini bahwa Allah yang Mahahadir itu sedang berurusan dengan diri kita setiap saat. Tidak ada wilayah atau tempat dan waktu dimana Allah tidak hadir. Dalam segala hal, Allah yang Mahahadir harus selalu dipertimbangkan sebagai Majikan atau Tuan yang berkuasa atas hidup kita.
    Allah memang ada dan Mahahadir.Namun faktanya, tidak banyak orang yang benar-benar mengalami kehadiran-Nya, sehingga sebagian besar manusia sebenarnya tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Allah ituada dan Mahahadir. Hal ini tampak dari perilaku mereka. Perilaku mereka tidak menunjukkan bahwa mereka mengakui bahwa Allah ituada. Hal ini ternyata juga terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen. Mereka mengakui keberadaan Allah bahkan mengucapkan Doa Bapa Kami yang di antaranya kalimatnya berbunyi, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilahkehendak-Mu di bumiseperti di sorga” (Mat. 6:10). Hal ini seharusnya menunjukkan kesediaan untuk menghadirkan pemerintahan Allah dalam kehidupan mereka. Namun faktanya, perasaan negatif dan perilaku mereka tidak menunjukkan bahwa mereka hidup dalam pemerintaha...
    0 min
  • TIDAK CEROBOH
    Suatu saat, Allah pasti mengizinkan kita mengalami keadaan yang benar-benar sulit. Kita seperti ada di lembah kekelaman yang benar-benar gelap. Keadaan kita benar-benar menyakitkan. Kita menjadi bingung, putus asa, dan sangat frustrasi. Penting untuk diperhatikan: Dalam keadaan seperti itu, kita hendaknya tidak tergoda untuk buru-buru mengambil keputusan.Kita hendaknya tidak ceroboh dengan berusaha untuk keluar dari keadaan tersebut tanpa memerhatikan suara Tuhan. Usaha-usaha seperti itu adalah usaha mengubah nasib, arah hidup, atau keadaan. Kita harus tetap tekun menantikan kehendak Bapa dalam hidup kita. Pada waktu situasi hidup memburuk, kita tergoda untuk mengambil keputusan demi dapat segera keluar dari keadaan tersebut dengan berbagai alasan yang kita bisa bangun. Padahal, kita harus lebih memerhatikan perasaan Bapa,apa yang Bapa kehendaki untuk kita lakukan. Bapa pasti berbicara dan memberi petunjuk kepada kita. Dalam hal ini, kita membutuhkan kesabaran untuk menantikan suara Tuhan.
    Ketika kita serius melihat perasaan-Nya, kegentaran bisa timbul dalam hati kita untuk tidak mengambil keputusan sembrono. Timbulnya kegentaran dalam batin kita terhadap Allah membuatkita menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak dan mengambil keputusan.Itu berarti bahwa nurani kita masih bisa dilatih untuk mengerti kehendak Allah secara akurat. Kalau sampai tidak ada kegentaran, berarti kitatidak memiliki nurani yang bisa didewasakan untuk mengerti kehendak Allah secara tepat.
    “Lembah kekelaman”ternyata diizinkan Allah terjadi dalam hidup kita, sebabitu merupakan bagian dari proses untuk menghayati kehadiran Allah. Dari pengalaman kehadiran Allah tersebut, ada yang hendak digarap atau diubahdi dalam diri kita. Kehadiran Allah dalam hidup kita melalui berbagai kejadian pasti memiliki maksud-maksud yang bernilai kekal. Inibukan hanya sekadar mendapat jodoh untuk kesenangan sendiri, mendapat pekerjaan dengan gaji besar, mendapat kenaikkan pangkat atau jabatan, mengalami pemulihan ekonomi, mendapat kesembuhan, dan lain sebagainya. Lawatan Tuhan untuk hal-hal tersebut terjadi atas orang-orang Kristen baru yang belum dewasa. Lawatan Tuhan untuk hal-hal tersebut tidak mendewasakan. Namun, untuk mereka yang sudah dianggap bisa didewasakan, lawatan Tuhan melalui berbagai masalah pasti mendewasakan demi maksud diberikannya keselamatan.
    Kita sendiri sebenarnya tidak tahu bagaimana mengubah diri kita. Hanya Allah yang tahu bagaimana mengubah diri kita melalui keadaan yang sulit dan membingungkan yang harus kita hadapi. Kita harus tetap tenang dan diam. Kita harus lebih memerhatikan maksud Allah dalam hidup kita melalui masalah-masalah yang sedang kita hadapi tersebut. Kadang-kadang, ketika kita bertanya mengapa Allah izinkan kejadian seperti itu terjadi dalam hidup kita, Allah tidak segera menjawab. Namun kemudian, melalui kehadiran-Nya secara senyap atau secara teresembunyi, kita menangkap jawabannya. Jawaban diberikan secara senyap sampai kita sendiri tidak menyadari bahwa itu merupakan jawaban Allah. Hal itu dilakukan agar kita tidak menggampangkan Allah dan menganggap Dia remeh dan murahan. Dia adalah Allah yang Mahaagung. Keagungan-Nya akan tampil melalui atau di dalam kebijaksanaan dan kecerdasan-Nya bertindak dalam hidup kita.
    Kita harussabar menghadapi keadaan yang sulit. Kita harus tetap teduh menantikan Tuhan bertindak. Misalnya, ketika kita mempunyai masalah ekonomi, biasanya kita ingin Allah segera menyelesaikannya. Ternyata, cara Allah menolong kitatidaklah demikian. Keadaan bisa berubah secara senyap, tetapi tahap demi tahap, bahkan seakan-akan kebetulan. Banyak orang tidak menangkap bahwa semua kejadian bertahap tersebut sebetulnya merupakan tindakan Allah. Namun, kalau kita sudah belajar, kita akan tahu bahwa Allahlah yang sesungguhnya bertindak. Memang banyak kejadian yang seakan-akan terjadi secara kebetulan, padahal sebenarnya, semua by design; atau merupakan rancangan tangan Bapa yang cerdas dan bijaksana....
    0 min
  • PERJUANGAN UNTUK SETIA
    Teladan kita adalah Yesus. Kita harus seperti Dia. Kurang dari itu, kita tidak mengalami keselamatan yang sesungguhnya yang Allah berikan. Oleh sebab itu, kita harus berjuang untuk bisa bersikap defensif dan ofensif.  Keduanya harus berjalan paralel. Kalau kita makin suci, Allah pasti memercayakan kepada kita hal-hal besar untukkita lakukan. Jika kita makin suci, Allah akan menambahkan kepercayaan-Nya kepada kita. Kita harus berjuang sampai hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kita diharapkan untuk terus berjuang, sehingga tidak ada masalah dosa lagi. Dosa sangat melelahkan dan sangat mengganggu pertumbuhan kesempurnaan kita menjadi anak-anak Allahyang berstandar Yesus.
    Kalau kita bisa melewati tahapan-tahapan defensif dan masuk ke tahapan ofensif, masalah kita bukan lagi masalah-masalah yang menyangkut kesenangan kita pribadi dan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Kita tidak lagi mempersoalkan kesenangan-kesenangan hidup seperti yang dipersoalkan oleh anak-anak dunia yang tidak mengenal kebenaran. Kita tidak lagi disibukkan dengan masalah-masalah dunia fana.Namun, masalah-masalah yang kita hadapi adalah hal-hal yang harus kita tunaikan terkait dengan pekerjaan Allah.  Kalau kita mengerti hal ini, dunia tidak akan menarik lagi bagi Kita. Kita tidak hidup untuk dunia lagi; kita hidup hanya untuk Allah. Semakin sucihidupkita, Allah akan semakin memercayakan hal-hal yang harus kita tunaikan; pekerjaan Allah yang diberikan kepada kita.
    Untukitu dibutuhkan perjuangan berat, sebab untuk perjuangan defensif saja, kadang-kadang orang masih bermental blok, apalagi untukmasuk perjuangan ofensif. Namun, kita harus terus berjuang untuk mencapai tingkat kedewasaan seperti yang Tuhan kehendaki. Inilah sesungguhnya bekal pelayanan penting yang harusdimiliki mereka yang mau melayani pekerjaan Tuhan. Oleh sebab itu, pelayanan sebenarnya tidak dimulai dari sekolah Alkitab dan tidak dimulai dari pendeta yang disahkan oleh sinode. Pelayanan itu dimulai dari kesucian hidup, yaitu melayani perasaan Allah. Itu barulah benar-benar pelayanan yang menyukakan hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Kalau pelayanan dimulai dari sekolah Alkitab, banyak orang akan memanipulasinya. Kalau pelayanan dimulai dari sinode dengan disahkan seseorang sebagai pendeta, ada banyak intrik, vested interest, dan segala motivasi lainnya. Pelayanan harus dimulai dari menyenangkan perasaan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Jadi, kesucian standar yang dikehendaki oleh Allah adalah keniscayaan sesuatu yang sangat mungkin bisa dicapai. Kita harus bersemangat untuk mencapai kesucian itu demi pelayanan pekerjaan-Nya juga.
    Sewaktu kita berjuang untuk menjadi kesukaan Bapa, ada beberapa pengalaman perasaan yang kita alami: Pertama, kita akan melewati saat-saat kesepian hebat. Kita melihat orang di sekitar kita tidak mempersoalkan hal ini. Mereka hidup secara wajar. Mereka bukan hanya orang-orang non-Kristen awam, tetapi mungkinjuga aktivis gereja dan para pendeta. Sebagian mereka ternyata masih hidup dalam kewajaran seperti manusia pada umumnya. Kewajaran hidup adalah musuh terselubung yang membahayakan. Mereka memang tidak berbuat jahat, tetappergi ke gereja, mengambil bagian dalam pelayanan, bahkan menjadi pendeta. Mereka semua hidup dalam kewajaran. Kita akan kesepian hebat. Orang lain tidak berbuat demikian, mengapa kita harus hidupekstrem.
    Yang kedua, kita akan merasakan kadang-kadang Allah seperti meninggalkan kita. Kita seperti benar-benar ditinggalkan. Memang, tidak ada mukjizat; tidak ada kehadiran-Nya. Kita mempunyai masalah, tetapi kita tidak ditolong; kita susah, tetapi Allah seperti tidak menghibur; kita stres, tetapi Allah tidak berbisik yang membuat kita terhibur. Allah tidak memberi mimpi yang menguatkan. Tidak ada semua itu. Kita akan mengalami saat-saat seperti ini. Kadang-kadang Allah membiarkan kita ditindas, dan Allah seakan-akan tidak membela kita sama sekali. Keadaan kitamenjadi semakin sulit,
    0 min
  • BERSAMA MEMIKUL BEBAN
    Kalau mengikut TuhanYesus, kita harus hidup seperti Dia hidup. Ini merupakan suatu kemutlakan yang tidak bisa ditawar. Pada umumnya, banyak orang masih egois dan duniawi, yaitu masih mau menikmati dunia sama seperti anak-anak dunia menikmati dunia ini. Banyak orang merasa bahwa apa yang dimilikinya adalah milik mereka sendiri. Padahal, setelah kita menerima penebusan dari Tuhan Yesus, berarti kita telah menyerahkan seluruh milik kita. Dia yang menebus kita berhak sepenuhnya atas diri kita. Kita tidak lagi memiliki diri kitasendiri. Jadi, kalau seseorang sudah memberi diri ditebus, kebahagiaannya harus tidak lagi dunia ini. Jika masih menjadikan dunia sebagai kebahagiaannya, kitaakan gagal menerima keselamatan yang Tuhan sediakan dan berikan.
    Orang Kristen yang tidak menyadari dan tidak menerima bahwa seluruh miliknya adalah milik Tuhan, maka ia pasti menggunakan semua harta kekayaannya secara semena-mena tanpa memedulikan kehendak dan rencana Allah. Hal ini juga berarti bahwamereka tidak memerhatikan perasan Allah Bapa. Biasanya orang-orang seperti ini merasa bahwa kesempatan hidup hanya satu kali di bumi ini.Setelah hidup di dunia ini, tidak adakejelasan atau kepastian adanya kehidupan lain. Ini pikiran fasik yang sangat berpotensi membinasakan manusia, termasuk di dalamnya orang-orang Kristen. Orang-orang seperti ini akan sangat menyesal ketika ternyata kehidupan yang sesungguhnya yang dirancang kembali oleh Allah adalah kelakdi langit yang baru dan bumi yang baru.
    Suatu saat nanti banyak orang Kristen akan sangat menyesal, sebab ternyata sebenarnya mereka memiliki Allah yang juga adalah Bapa yang tidak terbatas yang memiliki segala kemuliaan, kerajaan, dan kuasa yang tidak terbatas. Allah Bapa telah menyediakan suatu Kerajaan untuk dinikmati setelah perjalanan perjuangan menjadi utusan Kristus. Yesus berkata,“Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”(Luk. 12:32). Selama masih hidup di bumi, iniadalah kesempatan untuk melayani Bapa, meneruskan karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus. Segala pengurbanan yang kita lakukan untuk meneruskan karya keselamatan tersebut diperhitungkan kekal oleh Bapa. Sebenarnya, apa pun yang kita lakukan untuk Dia, tidak sebanding dengan apa yang telahDia lakukan untuk kita.
    Allah semesta alam yang Mahamulia sebenarnya tidak membutuhkan apa-apa. Diasebenarnya juga tidak membutuhkan kita sama sekali. Namun, kalau Allah Bapa berkenan melibatkan kita dalam rencana-rencana-Nya—seperti Bapa melibatkan Putra Tunggal-Nya—adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Di sini, kita menemukan kehormatan sebagai anak-anak Allah untuk bisa menanggung beban bersama Putra Tunggal-Nya. Oleh sebab itu, sudah saatnya bukan kita yang menuntut Allah untuk memberkati dengan berkat-berkat jasmani dan memuaskan kita dengan segala kesenangan versi kita sendiri. Kita mestinyatidak lagi memberi persembahan dengan catatan demi memperoleh balik berlipat kali ganda. Sudah saatnya gereja tidak lagi sibuk dengan persembahan perpuluhan, persembahan buah sulung, janji iman berupa uang dan sejenisnya. Sekaranglah saatnya, gereja mengarahkan jemaat dan para pelayan Tuhan untuk menjadi dewasa, yaitu memikul salib bersama-sama dengan Yesus.
    Menjadi Kristen itu berarti harus menjadi seperti Kristus, yaitu menjadi anak-anak Allah yang mengerti kehendak Bapa untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk diselesaikan. Dari hal ini, seseorang dapat mengerti dan memahami bagaimana menghayati kehadiran Allah secara tepat. Dalam kehidupan yang menghayati kehadiran Allah melalui mempelajari Alkitab, melalui perjumpaan dengan Allah setiap hari dalam doa, dan melalui pengalaman hidup, Allah mendewasakan kita. Kita pasti memiliki kecerdasan rohani. Kecerdasan rohani adalah ketepatan bertindak untuk melalukan apa yang menyukakan hati Allah. Kita pasti tidak akan melukai orang lain. Kita juga tidak mungkin merugikan sesama.
    0 min
  • MENGHIDUPKAN ALKITAB
    Kita melakukan kehendak Allah Bapa, bukan karena mau mendapatkan upah,melainkan karena didorong oleh kerinduan yang kuat untuk menyukakan hati Allah Bapa. Jadi, kita melakukan kehendak Allah bukan karena mengharapkan berkat dari Allah,melainkan kita mau “memberkati Allah.” Terkait dengan hal ini, kita dapat mengagumi ketaatan Abraham kepada Elohim Yahweh. Ketika Abraham keluar dari Ur-Kasdim, iatidak pernah tahu alamat yang ditujunya. Ia berganti nama walaupun belum mempunyai anak, sementara istrinya sudah uzur dan dirinya juga sudah sangat tua. Di hari tuanya, satu-satunya anak yang dimilikinya harus dia sembelih. Abraham melakukan kehendak Allah dengan segenap hati meskipun tanpa jaminan.
    Percaya yang benar itu tidak ada jaminannya. Allah itu harus dipercayai tanpa jaminan. Kita tidak melihat wajah-Nya secara visible, tidak mendengar suara-Nya secara audible, bahkan berdoa berjam-jam pun, Dia sering seperti tidak muncul sama sekali. Sudah lelah berdoa, malam atau dini hari, Dia pun seakan-akan tidak ada. Namun, kita tetap menghormati Dia dengan tidak memaksa Dia berbicara kepada kita. Kita tidak memaksa Dia menyatakan diri kepada kita. Kita belajar untuk memercayai Dia tanpa jaminan, tanpa garansi, dan tanpa iming-iming. Dia layak dipercayai,bahkan pada saat kita diperlakukan tidak adil dan sepertinya tidak ada pembelaan dari Allah. Ketika kita dalam kebutuhan dan Tuhan tidak memenuhinya, kita tetap memercayai Dia, tanpa keraguan sedikitpun. Semua itu merupakan latihan bagaimana kita memercayai kehadiran Allah tanpa jaminan. Dalam hal ini, kita sesungguhnya belajar menghadirkan pemerintahan Allah yang tidak kelihatan.
    Jadi, apakah Dia menjadi seperti hidup atau mati bagi Anda, semuanya tergantung kepada masing-masing individu, bagaimana masing-masing individu merespons Dia. Walaupun Dia seperti tidak ada, kita tetap memercayai Dia. Ini merupakan proses panjang, seperti menghidupkan Allah dalam hidup Kita. Untuk orang-orang yang tidak memercayai Allah sedemikian tersebut, Allah menjadi seakan-akan mati atau tidak ada. Namun, bagiorang-orang yang memercayai Allah seperti yang dijelaskan diatas, Allah menjadi seakan-akan hidup atau nyata.
    Setiap orang percaya masuk ke dalam perjuangan sikap defensif hingga ofensif. Orang percaya harus benar-benar mempersoalkan apa yang Allah Bapa kehendaki untuk dilakukan terkait dengan hukum-hukum-Nya dalam tataran secara moral umum (sikap defensif). Selanjutnya, orang percaya harus benar-benar ekstrem berjuang untuk mengerti kehendak Allah dalam segala hal terkait dengan rencana-rencana-Nya dalam kehidupan individu dan dunia ini, untuk dilakukan (sikap ofensif). Hendaknya kita tidak merasa puas hanya beragama Kristen dan pergi ke gereja. Bahkan, tidak cukup menjadi aktivis gereja dan pendeta. Kita harus benar-benar mengalami Allah secara proporsional, yaitu dengan melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-Nya.Kita tidak cukup hanya mampuberbicara tentang Allah dan berteologi.Yang penting adalah memiliki kualitas hidup seperti Yesus sebagai bukti telah benar-benar menemukan Allah dan hidup dalam pemerintahan kerajaan Allah.
    Kita harus mencari Dia dengan secara terus–menerus menghayati kehadiran-Nya, termasuk di dalamnya, kita harus bergaul dengan Alkitab.Hanya ketika kita bergaul dengan Alkitab secara benar, membaca Alkitab bolak-balik dengan tulus, kisah Alkitab itu seperti baru terjadi kemarin atau sedang berlangsung sekarang. Allah pun akan menjadi nyata hidup dalam sejarah hidup manusia bukan hanya dahulu,melainkan juga sekarang, dalam sejarah hidup kita masing-masing. Tidak heran, ketika kita membaca Alkitab, kita bisa menangis seakan-akan kita ada dalam kancah pergumulan para tokoh-tokoh yang sedang kita baca. Kita bisa merasakan bagaimana Allah mengasihi manusia atau umat-Nya pada masa-masa tertentu juga pada zaman kita hidup hari ini. Seperti misalnya, saat membaca kisah Adam dan Hawa diusir dari Eden, kita merasa sayatan pedih dalam hati kita.
    0 min
  • TERBIASA DALAM PEMERINTAHAN ALLAH
    Ketika Tuhan Yesus berkatadalam Yohanes 4:34, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku …,” itu mungkin merupakan level defensif maupun level ofensif. Namun, “… Dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” itu sudah pasti sangat jelas level ofensif. Orang yang melewati dua level di atas adalah orang-orang yang sudah meninggalkan sikap antroposentris (berpusat pada manusia) dan egoisnya dan beralih pada teosentris (berpusat pada Allah). Banyak orang Kristen masih bersikap antroposentris, sehingga masih sangategosentris (mementingkan diri sendiri). Orang yang masih bersikap antroposentris sehingga bersikapegois adalah orang-orang yang tidak berjuanguntuk menyukakan hati-Bapadan melihatpekerjaan-Nya yang harus ditunaikan. Mereka tidak mengetahui rencana Bapa yang harus merekapenuhi. Biasanya, orang-orang seperti itu melakukan segala sesuatu demi memperoleh keuntungan, sekecil apapun keuntungan tersebut.
    Menjaga perasaan Bapa untuk menyukakan hati-Nya tidak cukup hanya berbelaskasihan kepada orang yang sedang dalam kesulitan, menolong orang miskin, membuat rumah yatim piatu, membantu orang susah, dan lain sebagainya. Semua itujuga dilakukan oleh orang-orang beragamalainnya. Itu merupakanbahasa orang beragama secara umum. Sebagai anak-anak Allah, kita harus melihat perasaan Bapa dan rencana-Nya: apa yang Dia kehendaki untuk kita lakukan. Betapa istimewanya orang yang dipercayai oleh Allah untuk mengerti apa yang direncanakan Bapa untuk hidup masing-masing individu, dan menunaikan atau memenuhinya. Betapa berharga dan bernilainya orang-orang seperti ini!
    Pada zaman sekarang ini, hampir tidak ditemukan orang yang hidup hanya untuk kesukaan hati Bapa sampai level ofensif. Manusia rata-rata masih bersifat egosentris. Hal ini sudah dikemukakan oleh Yesus,“Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin”(Mat. 24:12).  Ironisnya, tidak sedikit pendeta yang “melayani” Allah dengan aktif di gereja bukan karena melihat perasaan Allah, melainkan karena banyak kepentingan di dalam dirinya, yang tentu tidak terbaca dengan mudah oleh jemaat. Hal ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi siapa pun. Dari fakta lapangan, kesalahan dan kegagalan dapatlah ditemukandenganmudah dan jelas.
    Kita harus mengerti betapa berharganya hidup ini. Mengapa kita tidak mempersoalkan hal itu? Itu disebabkan karena kita sendiri belum bersentuhan dan belum menghayati keberadaan Pribadi Agung, Allah semesta alam ini. Banyak orang beragama bersentuhan dengan liturgi, hanya berupa Allah yang dinyanyikan, dikhotbahkan, dibicarakan, diseminarkan, dan didiskusikan, tetapi tidak bersentuhan langsung dengan pribadi-Nya. Para teolog, sarjana teologi, magister teologi, dan doktor teologi telah berbicara tentang Allah dengan sangat cakap, tetapi perilaku sebagian mereka tidak menunjukkan bahwa mereka mengenal Allah dan benar-benar bersentuhan dengan Dia. Sikap tidak hormat kepada Allah itu terlihat, ketika mereka berbicara dengan tidak menjaga perasaan orang lain; materialistis ketika bertemu orang berduit, berebut kedudukan, tampak sekali ambisi untuk bisa memperoleh sesuatu demi kesenangan dan kepentingannya sendiri. Kebanggaan mereka adalah capaian prestasi dalam dunia akademis, padahal mereka tidak sungguh-sungguh telah menyukakan hati Allah.
    Kita harus menghayati bahwa ada mata yang melihat dirikitasetiap saat, yaitu ada Tuan Rumah yang memerintah kehidupan ini yaitu Allah Bapa. Dia selalu bersama dengan kita. Dia mengontrol dan memonitor kita. Oleh sebab itu, kita harus benar-benar berhati-hati dengan segala sesuatu yang kita lakukan. Allah memang seakan-akan tidak terganggu ketika kita hidup tidak benar. Namun sebenarnya, Allah berduka ketika kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Demikian pula, Allah seakan-akan tidak merespons ketika kita belajar hidup sesuci-sucinya. Padahal sesungguhnya, segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan kehendak Bapa itumenyukakan hati-Nya
    0 min
  • DEFENSIF DAN OFENSIF
    Yang paling berharga—tetapi juga paling sukar—dalam hidup ini adalah menyukakan hati Bapa. Ini merupakan hal yang paling berharga. Kalau sampai hati Bapa bisa kita sukakan, itu tidak ternilai harganya. Disukakannya hati Bapa tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Sebanyak apa pun harta seseorang, sesukses apapun karier seseorang, setinggi apa pun gelar atau kedudukan atau kekuasaan seseorang, atau segala kesenangan apa pun, tidak ada artinya dibandingkan dengan bisa menyukakan hati Bapa. Namun, ini merupakan hal yang paling sukar dilakukan dalam hidup ini. Saat ada dalam pergumulan, kita bisa merasa bahwa hal itu tidak mungkin dicapai. Kita bisa merasa putus asa dan lemah seakan-akan kita tidak mungkin bisa mencapainya. Namun, sesuai dengan Firman Allah, Allah mendidik kita supaya kita serupa dengan Yesus untuk dapat menyukakan hati Bapa.Melalui didikan-Nya tersebut, Bapa bisa memberi pernyataan,“Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17). Kerinduan kita adalah Bapa juga memberikan pernyataan tersebut kepada kita sebagai “sertifikat abadi.”
    Kalau seseorang berpikir, “Yang penting, saya tidak berbuat dosa” dan itu sudah cukup menyenangkan hati Allah, orang tersebut masih pada taraf defensif. Ini orang itu baru ada dalam taraf tidak melakukan kesalahan secara umum berdasarkan hukum moral secara umum. Mereka sudah merasa cukup puas dengan keadaan tersebut. Memang pada waktu masih baru menjadi orang Kristen, taraf defensif harus dilalui terlebih dahulu. Setelah belajar terus, seseorang harusnaik ke level ofensif. Dalam taraf ini, seseorang bukan saja tidak melakukan pelanggaran moral umum, tetapi sudah berusaha untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Dalam taraf ini, seseorang sudah belajar untuk dapat melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Sebenarnya, inilah yang dimaksud dengan “hidup tidak bercacat dan tidak bercela.” Tidak boleh ada kesalahan yang kita lakukan.
    Namun fakta ironisnya, untuk taraf defensif saja, banyak orang Kristen masih sering gagal. Seseorang tidak akan sampai pada level ofensif kalau level defensif saja masih gagal. Kita pasti akan selalu mendapatkan kesempatan berbuat dosa dan menyenangkan diri sendiri. Namun, kita harus melawannya dan terus melawannya sampai kita menang.  Di level defensif, kita bertarung dengan diri kita sendiri karena kita masih ada dalam kodrat dosa di daging kita ini; jiwa kita juga sudah cemar selama belasan bahkan puluhan tahun. Untuk hidup dalam ketatan yaitu menundukkan diri secara penuh kepada kesucian Tuhan, tidak berbuat kesalahan, itu tidaklah mudah. Dalam pergumulan defensif saja, kita kadang-kadang putus asa. Namun, kalau kita berani melangkah dan berani berjuang, kita akan melihat keniscayaannya, yaitu kemungkinan untuk bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela; masuk perjuangan level ofensif.
    Kita harus meneliti setiap kejadian. Tiap kejadian menjadi kesempatan yang tersedia untuk melakukan kesalahan. Kesempatan itu sebenarnya bisa membuat kita melukai Allah, atau sebaliknya, kita bisa menjadikan kesempatan berbuat dosa tersebut menjadi momentum untuk dapat menyenangkan hati Bapa, yaitu dengan menolak untukberbuat dosa. Namun, ini sering masih ada dalam level defensif. Untuk pergumulan di level defensif saja, kita sudah harus berjuang keras, apalagi di level ofensif. Dalam Ibrani 12:1-3, Allah mengajar kita agar kita memandang Yesus yang tekun menanggung bantahan yang hebat. Dalam pergumulan kita melawan dosa, kita belum sampai mencucurkan darah. Artinya, kita belum allout untuk melawan dosa dan belum sehebat yang dialami Yesus yang berdarah-darah.
    Kalau kita memandang bahwa menyukakan hati Bapa itu bukan sesuatu yang paling berharga dalam hidup, kita tidak akan allout. “Menyukakan hati Bapa” semestinya bukan hanya merupakan hal yang paling berharga, melainkan satu-satunya halyang berharga. Itu yang baru saya pahami sebagai “ekstrem untuk Bapa.
    0 min
  • A.S.A.P (AKU SEGERA AKAN PULANG)
    Kalau ada yang merasa paling susah dan paling malang hidupnya, dia justru adalah orang yang beruntung hari ini. Mengapa demikian? Hal ini akan membuka mata kita untuk menghayati betapa tragisnya hidup ini, sehingga orientasi dan fokus kita tertuju kepada kehidupan yang akan datang. Betapa sulitnya menyadarkan seseorang untuk bisa menghayati hal tersebut jika hidup dalam kenyamanan. Karena itu,kitatidak perlu menyesali keadaan tersebut. Anda jangan merasa kurang bernilai karena miskin, karena tidak mempunyai pasangan, karenatidak mempunyai keturunan, atau karena tidak mempunyai kedudukan, dan lain sebagainya. Hidup ini tidaklah lama.
    Kita harus membulatkan tekad kita untuk hanya mempunyai satu agenda dalam hidup ini, yaitu menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus agar dilayakkan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan dan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus dalam kekekalan. Menjadi anak-anak Allah berarti berkeberadaan seperti Yesus. Kalau seseorang tidak mengikuti Kebenaran Tuhan ini, dia pasti akan sangat menyesal. Kita hendaknya tidak menilai sesuatu yang lain sebagai masalah yang besar, selain masalah kekekalan ini. Ketika seseorang menjadikan suatu masalah sebagai masalah yang besar sehingga fokus kepada kekekalan terganggu, ituberarti masalah tersebut sudah menjadi “berhala.” Kalaupun masalah tersebut akibat kesalahan, kita dapat menyerahkan diri kepada-Nya dan bersikap seperti Daud ketika ia harus menuai akibat kesalahannya. Ketika ia ada di dalam keadaan krisis dan kritis dia berkata kepada Tuhan, “Kalaupun aku hancur, aku hancur di tangan-Mu, Allah” (Mzm. 39:11).
    Kalau kita menghayati pemerintahan Allah, di satu sisi kita tidak akan mudah berbuat dosa; di sisi yang lain, kita akan kokoh menghadapi segala keadaan. Kalau seseorang masih dibelenggu oleh banyak kekhawatiran, itu karena dia masih mempunyai banyak agenda pribadi. Kalau agenda kita adalah bagaimana menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus, Bapa pasti melindungi kita secara khusus. “Percaya” itu berarti berani bertindak walaupun kita tidak melihat. Kalau kita membaca Alkitab Perjanjian Lama, tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama itu memiliki keberanian yang luar biasa. Mereka begitu berani menghadapi hidup dengan segala kesulitannya. Kita sekarangmemiliki Roh Kudus. Kita mestinya lebih berani daripada mereka.
    Jadi, agenda kita ini bisa rusak karena keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan bisa rusak juga karena tidak percaya. Jadi, kalau seseorang masih memiliki banyak keinginan, iapasti akan gugur.Artinya,iatidak akanpernah menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus. Kita harus menanggalkan semua keinginan, kecuali keinginan menjadi anak-anak Allah yang berstandar Yesus. Dengan demikian, barulah bisa mengikuti apa yang dikatakan Yesus, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat. 8:20).
    Orang yang merasa berhak memiliki keinginan adalah orang yang sombong. Kalau dia itu adalah anak dunia seperti bangsa Israel, kita bisa memakluminya. Kalau di Perjanjian Baru, kita telah dibeli dan sepenuhnya telah menjadi milik Tuhan.Semua keinginan kitaharus ditanggalkan. Segala keinginan dan hasrat kitaharus hanya diarahkan kepada satu agenda, yaitu menjadi anak-anak Allah. Banyak orang Kristen salah kaprah karena menyamakan dirinya dengan bangsa Israel. Bangsa Israel ini orientasinya masih pada perkara dunia. Orang percaya tidak boleh menyamakan diri dengan bangsa Israel. Panggilan orang percaya adalah bagaimana menerjemahkan hidup Yesus dua ribu tahun lalu ke dalam hidup kita hari ini.
    Jadi, yang mengganggu agenda tunggal kita itu, pertama adalah keinginan-keinginan dan perasaan  tidak cukup. Sekarang tantangannya adalah apakah kita ingin mempunyai rasa cukup dan mematikan keinginan-keinginan, kecuali keinginan serupa dengan Yesus? Kita harus memiliki prinsip A.S.A.P, yaitu “Aku Segera Akan Pulang!” Memang,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…