Kita melakukan kehendak Allah Bapa, bukan karena mau mendapatkan upah,melainkan karena didorong oleh kerinduan yang kuat untuk menyukakan hati Allah Bapa. Jadi, kita melakukan kehendak Allah bukan karena mengharapkan berkat dari Allah,melainkan kita mau “memberkati Allah.” Terkait dengan hal ini, kita dapat mengagumi ketaatan Abraham kepada Elohim Yahweh. Ketika Abraham keluar dari Ur-Kasdim, iatidak pernah tahu alamat yang ditujunya. Ia berganti nama walaupun belum mempunyai anak, sementara istrinya sudah uzur dan dirinya juga sudah sangat tua. Di hari tuanya, satu-satunya anak yang dimilikinya harus dia sembelih. Abraham melakukan kehendak Allah dengan segenap hati meskipun tanpa jaminan.
Percaya yang benar itu tidak ada jaminannya. Allah itu harus dipercayai tanpa jaminan. Kita tidak melihat wajah-Nya secara visible, tidak mendengar suara-Nya secara audible, bahkan berdoa berjam-jam pun, Dia sering seperti tidak muncul sama sekali. Sudah lelah berdoa, malam atau dini hari, Dia pun seakan-akan tidak ada. Namun, kita tetap menghormati Dia dengan tidak memaksa Dia berbicara kepada kita. Kita tidak memaksa Dia menyatakan diri kepada kita. Kita belajar untuk memercayai Dia tanpa jaminan, tanpa garansi, dan tanpa iming-iming. Dia layak dipercayai,bahkan pada saat kita diperlakukan tidak adil dan sepertinya tidak ada pembelaan dari Allah. Ketika kita dalam kebutuhan dan Tuhan tidak memenuhinya, kita tetap memercayai Dia, tanpa keraguan sedikitpun. Semua itu merupakan latihan bagaimana kita memercayai kehadiran Allah tanpa jaminan. Dalam hal ini, kita sesungguhnya belajar menghadirkan pemerintahan Allah yang tidak kelihatan.
Jadi, apakah Dia menjadi seperti hidup atau mati bagi Anda, semuanya tergantung kepada masing-masing individu, bagaimana masing-masing individu merespons Dia. Walaupun Dia seperti tidak ada, kita tetap memercayai Dia. Ini merupakan proses panjang, seperti menghidupkan Allah dalam hidup Kita. Untuk orang-orang yang tidak memercayai Allah sedemikian tersebut, Allah menjadi seakan-akan mati atau tidak ada. Namun, bagiorang-orang yang memercayai Allah seperti yang dijelaskan diatas, Allah menjadi seakan-akan hidup atau nyata.
Setiap orang percaya masuk ke dalam perjuangan sikap defensif hingga ofensif. Orang percaya harus benar-benar mempersoalkan apa yang Allah Bapa kehendaki untuk dilakukan terkait dengan hukum-hukum-Nya dalam tataran secara moral umum (sikap defensif). Selanjutnya, orang percaya harus benar-benar ekstrem berjuang untuk mengerti kehendak Allah dalam segala hal terkait dengan rencana-rencana-Nya dalam kehidupan individu dan dunia ini, untuk dilakukan (sikap ofensif). Hendaknya kita tidak merasa puas hanya beragama Kristen dan pergi ke gereja. Bahkan, tidak cukup menjadi aktivis gereja dan pendeta. Kita harus benar-benar mengalami Allah secara proporsional, yaitu dengan melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-Nya.Kita tidak cukup hanya mampuberbicara tentang Allah dan berteologi.Yang penting adalah memiliki kualitas hidup seperti Yesus sebagai bukti telah benar-benar menemukan Allah dan hidup dalam pemerintahan kerajaan Allah.
Kita harus mencari Dia dengan secara terus–menerus menghayati kehadiran-Nya, termasuk di dalamnya, kita harus bergaul dengan Alkitab.Hanya ketika kita bergaul dengan Alkitab secara benar, membaca Alkitab bolak-balik dengan tulus, kisah Alkitab itu seperti baru terjadi kemarin atau sedang berlangsung sekarang. Allah pun akan menjadi nyata hidup dalam sejarah hidup manusia bukan hanya dahulu,melainkan juga sekarang, dalam sejarah hidup kita masing-masing. Tidak heran, ketika kita membaca Alkitab, kita bisa menangis seakan-akan kita ada dalam kancah pergumulan para tokoh-tokoh yang sedang kita baca. Kita bisa merasakan bagaimana Allah mengasihi manusia atau umat-Nya pada masa-masa tertentu juga pada zaman kita hidup hari ini. Seperti misalnya, saat membaca kisah Adam dan Hawa diusir dari Eden, kita merasa sayatan pedih dalam hati kita.