Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • STANDART YANG DIKEHANDAKI ALLH
    Integritas Allah memang luar biasa, sungguh sempurna. Ia tidak mengurangi harga yang harus dipenuhi atau dibayar oleh orang percaya untuk dapat disebut sebagai orang percaya atau orang beriman. Bagaimana pun keadaannya, Allah tetap menghendaki suatu level yang harus dicapai oleh setiap orang percaya, yang mana sesuai dengan standar yang Allah kehendaki. Oleh karena itu, setiap kita harus mempersoalkan level mana yang harus kita capai, sehingga kita diakui atau diterima sebagai orang percaya di hadapan Allah. Setiap orang percaya memiliki level yang berbeda-beda. Firman Tuhan mengajarkan bahwa yang diberi banyak akan dituntut banyak, sedangkan yang diberi sedikit dituntut sedikit pula. Dalam hal ini, hanya Tuhan yang tahu dan memang hanya Dia yang menentukan standar levelnya. Itulah sebabnya kita tidak berhak mengukur orang lain dengan ukuran kita sendiri.
     
    Ketika orang muda yang kaya mendengar bahwa mengikut Yesus harus menjual segala miliknya, membagikannya kepada orang miskin dan mengikut Yesus, maka ia pergi dengan sedih sebab ia menolak syarat yang diajukan oleh Yesus. Yesus membiarkan orang muda kaya tersebut pergi dan tidak menahannya sama sema sekali (Mat. 19:21-23). Yesus tidak mengurangi harga yang harus dibayar atau dipenuhi untuk menjadi orang percaya atau untuk menjadi pengikut-Nya. Yesus tidak menahan orang muda yang kaya tersebut. Yesus membiarkannya pergi, sebab harga yang ditentukan oleh Allah tidak boleh dikurangi. Di sepanjang zaman dan di segala tempat, standar yang Allah kehendaki tidak berubah, walau tentu untuk masing-masing individu memiliki ukuran yang berbeda-beda.
     
    Gereja mula-mula pada abad 1 adalah gereja yang masih sangat muda, bahkan bisa dikatakan masih “baby,” tetapi orang percaya yang berani mengaku Yesus sebagai Juruselamat harus tetap memenuhi level kehidupan orang beriman yang benar, yang dikehendaki oleh Allah. Allah tidak menurunkan standarnya walau mereka masih baru menjadi orang Kristen. Standar yang mereka harus kenakan tetap sama dengan gereja atau orang percaya sepanjang zaman dan di segala tempat. Demi untuk mencapai standar atau level yang harus dicapai gereja mula-mula tersebut, Allah memakai aniaya untuk mengangkat gereja-Nya pada level yang Allah kehendaki. Jadi, penganiayaan yang dialami gereja mula-mula mengondisikan mereka terangkat atau “terdongkrak.” Dalam hal ini, yang diubah bukan standar atau levelnya melainkan situasi dunia yang orang percaya hadapi pada zaman itu.
     
    Jadi, bagaimana pun standar atau level yang harus dicapai orang percaya tidak pernah diturunkan, seperti untuk orang percaya di abad pertama yang didongkrak melalui situasi zaman, yaitu aniaya dimana orang-orang Kristen harus bertahan atau meninggalkan imannya. Itu sebabnya, dalam surat Petrus dikatakan bahwa penderitaan membuat orang percaya berhenti berbuat dosa (1Ptr. 4:1). Aniaya merupakan cara Allah “mendongkrak” atau mengangkat orang percaya pada level yang Allah kehendaki. Tetapi aspek lain yang terjadi, keadaan aniaya tersebut membuat banyak orang tidak bersedia menjadi orang Kristen. Jadi, kalau ada orang yang berani percaya kepada Yesus, ia harus mempertaruhkan segenap hidupnya tanpa batas; yaitu harta, keluarga, dan nyawa mereka. Dengan demikian, kalau ada orang menjadi Kristen pada waktu itu, pastilah ia seorang Kristen yang berkualitas. Levelnya pasti tinggi. Hal ini sangat berbeda dengan orang Kristen hari ini. Kondisi dunia yang tidak mengancam seseorang menjadi Kristen membuka peluang banyak orang Kristen palsu, artinya tidak memenuhi standar atau level yang Allah kehendaki.
     
    Sekarang Allah tidak mendongkrak kita dengan aniaya, karena gereja hari ini sudah berumur hampir dua ribu tahun. Alkitab sudah lengkap dan mudah dibaca (pada gereja mula-mula belum ada Alkitab Perjanjian Baru). Sejarah gereja sudah cukup untuk bisa menjadi pelajaran bagi orang Kristen di seluruh dunia. Karena itu, para teolog bertanggung jawab mengarahkan jemaat ke a...
    0 min
  • TIDAK CUKUP MERESPONS DENGAN NALAR
    Para teolog hendaknya tidak merasa sudah percaya kepada Yesus hanya karena dapat membuat tulisan dalam format-format definisi kalimat akademis yang dinalar—mengenai apa yang dimaksud dengan percaya atau beriman—dalam lembar-lembar karya ilmiah. Semuanya hanya sekadar berupa kajian teologi, jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi. Sebenarnya “disertasi yang sejati” adalah lembaran hari hidup kita setiap hari dan teruji di mata Allah. Untuk membuat karya ilmiah dalam bentuk tulisan, seseorang bisa menyontek atau melakukan plagiasi; tetapi untuk menggelar kehidupan, ia tidak bisa menyontek. Kita memiliki soal sendiri yang tidak bisa dilihat orang lain. Masing-masing kita mempunyai pergumulan sendiri untuk mewujudkan iman, yang juga tidak sama dengan orang lain. Sampai titik tertentu, barulah kita bisa dikatakan percaya atau beriman. Bahkan, kadang-kadang kita tidak dapat mengambil referensi dari kehidupan orang lain, sebab Tuhan secara khusus berurusan dengan kita dan mau melahirkan pengalaman-pengalaman istimewa yang tidak akan terjadi dalam kehidupan orang lain. Ini yang namanya transempiris.
     
    Format-format definisi kalimat akademis yang dinalar dalam berbagai pokok ajaran sering dipandang sebagai solusi untuk menjalani hidup kekristenan. Seakan-akan dengan memahami pengajaran-pengajaran tersebut, seseorang dapat membangun kehidupan kristiani sesuai standar Alkitab. Padahal, sering kali pengajaran-pengajaran tersebut hanya untuk mengisi pikiran tanpa memiliki implikasi yang tegas dan jelas. Hal ini juga disebabkan nuansa teologi lebih cenderung pada keyakinan dalam pikiran, bukan pada tindakan yang harus dilakukan. Misalnya, kalau seorang pendeta mengatakan bahwa keselamatan ditentukan secara sepihak oleh Allah, manusia tidak memiliki peran dalam keselamatannya. Umat hanya merespons dengan nalar. Sehingga pengajaran seperti ini lemah dalam implikasi. Doktrin seperti ini mengandaskan kekristenan di Barat, sehingga gereja-gereja sangat sepi pengunjung. Nihilisme, sekulerisme, hedonisme, materialisme dan semua “isme dunia” mencengkeram dan menawan kehidupan manusia di Barat. Tuhan dianggap tidak ada atau tidak perlu ada lagi.
     
    Fakta ini terjadi pula dalam kehidupan banyak orang Kristen di sekitar kita, yaitu umat mendapatkan penjelasan mengenai iman dari bangunan berpikir para teolog yang dibesarkan dalam tembok akademis. Dengan arogannya, para pengajar tersebut mengesankan bahwa teologi mereka sudah cukup menjadi jalan bagi seseorang untuk dapat menjalani hidup kekristenannya dengan benar. Tidak heran kalau sepak terjang para teolog tersebut di dunia media sosial dengan segala pernyataannya menunjukkan kualitas hidup mereka yang rendah, walaupun kepiawaian mereka berbicara tidak diragukan. Dari tulisan mereka di media sosial, terasa “hawa” kehidupan yang mereka jalani setiap hari. Tentu saja tulisan ini tidak ditujukan kepada individu, tetapi kepada semua orang di seluruh dunia. Hal ini dimaksudkan agar jemaat awam yang tidak bisa berkata-kata atau menalar Tuhan seperti para “teolog” tersebut, memiliki kepekaan untuk menimbang siapa yang patut didengar dan yang tidak.
     
    Dalam gereja, banyak ajaran yang secara logika memang dapat membangun penalaran yang sistematis mengenai pokok-pokok ajaran Alkitab yang diakui sebagai kebenaran dan dapat dipertanggungjawabkan pula secara akademis. Tetapi pada kenyataannya, penjabaran mereka tidak memiliki “roh atau spirit” yang membangkitkan kehidupan keberimanan yang benar. Hal ini menciptakan manusia-manusia beragama Kristen yang tidak memiliki “Roh Kristus.” Bisa dimengerti kalau gereja-gereja seperti ini bisa memiliki liturgi yang rapi, tertib, dan hikmat, tetapi semua diselenggarakan secara seremonial yang “mati,” tidak bernuansa hadirat Allah yang benar. Liturgi yang tidak menghadirkan hadirat Allah akan menciptakan kebosanan dalam berliturgi, yang akhirnya membuat jemaat satu per satu akan meninggalkan gereja.
    0 min
  • PENYERAHAN DIRI KEPADA ALLAH
    Dalam Yakobus 2, Abraham barulah disebut sebagai “sahabat Allah” ketika ia dapat menunjukkan ketaatannya kepada Allah, Elohim Yahweh. Kemudian Abraham pantas disebut sebagai “bapa orang beriman.” Seseorang bisa disebut beriman jika mencapai level seperti yang dicapai oleh Abraham. Pasrahnya Abraham kepada Allah tampak sekali dalam menaati perintah yang sangat tidak bisa dimengerti. Itu adalah iman yang sejati. Puncaknya adalah ketika ia harus mempersembahkan anak tunggalnya sebagai kurban bakaran. Ketika Abraham memercayai Allah sepenuhnya, barulah ia menjadi sahabat-Nya. Inilah ketaatan yang total, mutlak, dan tidak bersyarat. Ketaatan total artinya tidak mencoba untuk mengurangi apa pun yang dikehendaki oleh Allah untuk dilakukan. Ketaatan secara mutlak artinya tidak memberi peluang untuk melonggarkan apa yang seharusnya dilakukan. Ketaatan tidak bersyarat artinya dalam kondisi bagaimana pun tetap teguh melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
     
    Untuk menjadi sahabat Allah, seseorang harus memiliki ketaatan yang total, mutlak tak bersyarat kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh Abraham, dan secara sempurna telah dilakukan oleh Yesus. Dengan demikian, sangat jelas bahwa percaya atau beriman berarti berjuang untuk melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Kehendak Allah di sini tidak diwakili oleh hukum, tetapi pikiran dan perasaan Allah sendiri. Sehingga percaya kepada Allah berarti memiliki pikiran dan perasaan Allah yang nyata dalam diri Kristus (Flp. 2:5-7), sehingga segala sesuatu yang dilakukan oleh orang beriman yang benar selalu sesuai dengan keinginan Allah.
     
    Abraham dapat disebut sebagai orang beriman ketika percaya kepada Elohim Yahweh dalam wujud tindakan nyata. Tentu sama dengan tindakan Abraham menaati Yahweh, percaya kepada Tuhan Yesus berarti mengikuti jejak hidup Yesus ketika Ia mengenakan tubuh daging selama tiga setengah tahun di Palestina. Yesus menaati Bapa sampai mati di kayu salib, sebuah ketaatan yang total, mutlak, dan tak bersyarat. Orang yang mengaku percaya kepada Yesus harus memiliki ketaatan kepada Allah Bapa secara total, mutlak, dan tak bersyarat. Jika demikian, barulah terpenuhi Firman Tuhan bahwa Yesus menjadi yang sulung bagi kita. Dengan demikian, barulah seseorang dapat dikatakan sebagai orang percaya.
     
    Penyerahan diri ini menunjukkan kepercayaan kepada Pribadi Allah. Ketika Abraham harus keluar dari negerinya untuk menuju negeri yang Allah akan tunjukkan, ia tidak tahu negeri yang dimaksud oleh Allah. Sama sekali ia belum pernah mendengar mengenai negeri itu. Tetapi ia menaruh percaya kepada Allah tanpa ragu-ragu sama sekali. Ia harus mengganti namanya menjadi Abraham—yang artinya bapa banyak bangsa—padahal ia belum memiliki anak. Tetapi ia percaya tanpa ragu-ragu, dan melakukan apa yang Allah kehendaki. Bahkan, ketika ia harus mempersembahkan anak satu-satunya, ia melakukannya walau ia sudah tua dan tertutup kemungkinan sama sekali untuk memiliki keturunan. Penyerahan diri berarti ia bersedia tidak melihat hari depan. Abraham hanya melihat Allah yang memerintahkan dirinya untuk melakukan suatu tindakan, walau tindakan itu dalam perhitungan manusia menghancurkan masa depannya. Penerimaan Maria atas kehamilannya menunjukkan penyerahannya yang luar biasa. Ia tidak takut masa depannya hancur.
     
    Penyerahan diri seperti ini yang harus juga kita miliki. Yesus menghendaki agar kita meninggalkan dunia, artinya agar kita tidak terikat dengan keindahan dunia. Dengan demikian, orang percaya harus tidak lagi dapat dibahagiakan oleh dunia ini. Segala sesuatu yang kita upayakan dalam hidup bukan untuk kesenangan diri kita sendiri, melainkan untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Rasul Paulus membahasakan kebenaran ini dengan kalimat: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31).
    0 min
  • PETUALANGAN HIDUP BERIMAN
    Iman adalah respons individu terhadap kasih, kebaikan, dan anugerah-Nya. Respons itu melibatkan seluruh kehidupan kita; dari pikiran, tenaga, waktu, dan semua yang ada pada kita. Hal inilah yang dilakukan oleh Abraham. Itulah sebabnya, sebagai orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, masing-masing kita harus memiliki pengalaman iman seperti yang dialami Abraham. Jadi, kalau seseorang hendak memiliki iman yang benar—yaitu iman yang menyelamatkan—ia harus meneladani kehidupan Abraham, yaitu melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah, Bapa kita, serta menjalani perjalanan hidup yang membawa iman kita kepasda kesempurnaan, artinya kita bisa semakin hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah seperti Abraham, dan bahkan seperti Yesus sendiri. Inilah perlombaan yang wajib bagi semua orang percaya (Ibr. 12:1-2). Itulah sebabnya, orang percaya harus menanggalkan atau melepaskan beban dan dosa. Beban artinya keterikatan dengan dunia dan dosa artinya keterikatan dengan hasrat dosa di dalam diri kita. Kesediaan untuk melepaskan beban dan dosa merupakan respons yang menunjukkan bahwa kita bersedia beriman kepada Tuhan.
     
    Seperti Abraham, kita harus berani meninggalkan dunia dan menyerahkan yang “tersayang” atau paling berharga dalam hidup ini bagi Allah. Abraham bersedia meninggalkan negeri dan sanak familinya untuk menuju ke negeri yang dia tidak tahu, sampai pada suatu saat ia harus menyembelih anak satu-satunya, ia pun bersedia melakukannya. Orang percaya harus melakukan hal yang sama. Dalam hal ini, kita bisa memahami maksud pernyataan Yesus: “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 10:39). Untuk memiliki iman yang benar, Abraham harus kehilangan “nyawa,” yaitu tanah leluhur negeri kesukaan, tempat dirinya menemukan kenyamanan dan kemapanan, bahkan ketika harus menyerahkan anaknya sebagai kurban bakaran, ia juga bersedia. Negeri leluhur dan Ishak, anaknya, adalah “nyawa” bagi Abraham, tetapi demi penurutan atau ketaatannya kepada Elohim Yahweh, ia rela melepaskannya. Terkait dengan hal ini, Yesus menyatakan kalau kita tidak melepaskan diri kita dari segala milik kita, maka kita tidak layak menjadi murid-Nya (Luk. 14:33).
     
    Seperti yang dilakukan oleh Abraham dalam perjalanan hidupnya, jika hal yang sama juga kita lakukan—yaitu hidup dalam penurutan atau ketaatan terhadap kehendak Allah—barulah kita disebut sebagai beriman. Seiring dengan bertambahnya penurutan atau ketaatan kita kepada Allah, iman kita menjadi semakin sempurna. Inilah yang dimaksud oleh Yesus bahwa kita harus bekerja untuk makanan yang tidak dapat binasa. Pekerjaan itu adalah percaya kepada Dia yang diutus oleh Allah (Yoh. 6:27-28). Percaya kepada Dia yang diutus oleh Allah adalah meneladani hidup-Nya, yaitu hidup dalam penurutan dan ketaatan kepada Bapa. Hal ini sejajar dengan pernyataan Yesus di ayat-ayat berikutnya bahwa tubuh-Nya benar-benar makanan dan darah-Nya benar-benar minuman (Yoh. 6:54-55). Tuhan menghendaki kita makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, maksudnya agar kita mengenakan hidup-Nya. Sampai kita bisa berkata, “Hidupku bukan aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Dengan demikian, kita dapat dibenarkan, yaitu kita diterima oleh Allah atau diperkenan oleh Dia, yaitu kalau kita melakukan kehendak Bapa seperti yang Yesus lakukan (Yoh. 4:34). Memang pada akhirnya, hanya orang-orang yang melakukan kehendak Bapa yang dikenal oleh Tuhan (Mat. 7:21-23).
     
    Masing-masing orang tentu memiliki pengalaman petualangan hidup yang berbeda dalam mewujudkan percayanya atau berimannya atau pisteuo–nya ini. Karena Allah itu luar biasa, berhikmat, dan cerdas, petualangan keberimanan kepada Dia yang berhikmat dan cerdas itu pasti luar biasa dan memiliki tujuan. Jadi, kalau kehidupan Abraham diteliti—sejak keluar dari Ur-Kasdim, mengubah nama walaupun belum mempunyai anak,
    0 min
  • MEMBAYAR MAHAL
    Dalam mewujudkan iman dalam kehidupannya, Abraham memiliki pergumulan hidup yang sangat berat. Dengan menerima kasih karunia, yaitu dipanggil untuk menjadi “bapa orang percaya,” perjalanan hidup Abraham menjadi berat. Lebih berat dari perjalanan hidup orang-orang pada zamannya yang tidak terpanggil menjadi umat Allah. Hal ini menginspirasi kita, bahwa dengan mengikut Yesus perjalanan hidup kita tidak menjadi mudah; sebaliknya, menjadi berat. Tidak ada orang percaya yang boleh hidup tanpa memikul salib. Salib adalah “atribut mutlak” yang harus dipikul setiap orang percaya. Itulah sebabnya, di dalam semua yang diajarkan oleh Yesus, Ia tidak pernah menjanjikan kenyamanan dan kemapanan hidup di bumi. Sebaliknya, Yesus menawarkan perjalanan hidup seperti yang Dia jalani. Terkait dengan hal ini Yesus berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:59). Jadi, sangatlah keliru kalau Injil dipandang sebagai jalan untuk memiliki kemudahan hidup di bumi. Injil adalah kabar baik bagi mereka yang bersedia mengiring Yesus dengan berani melewati perjalanan hidup yang sukar dan berat.
     
    Abraham harus melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah. Kehendak Allah yang diperintahkan kepada Abraham untuk dilakukan adalah hal-hal yang sangat berat. Hal-hal yang tidak mudah dimengerti oleh pikiran normal atau pikiran wajar manusia. Kehendak Allah tersebut menyangkut atau melibatkan seluruh hidupnya dengan segala pertaruhan yang membuat Abraham tidak dapat menyisakan sesuatu untuk dirinya sendiri. Pergumulan iman Abraham dimulai ketika ia harus meninggalkan tanah leluhurnya sampai ketika ia harus menyembelih anak kandung satu-satunya. Dari pergumulan tersebut, kita bisa menemukan peragaan iman seorang yang disebut sebagai “bapa orang percaya,” yaitu bagaimana iman itu diwujudkan, diselenggarakan, dan digelar secara benar. Hal ini menunjukkan bahwa hidup beriman menyita seluruh kehidupan ini.
     
    Ternyata, untuk menjadi “bapa orang percaya,” Abraham harus membayar mahal, yaitu seluruh kehidupannya harus dipertaruhkan. Ini berarti memiliki iman yang benar atau sejati bukanlah hal yang mudah. Allah tidak akan menganugerahkan iman dengan mudah dan secara otomatis dalam kehidupan seseorang. Jadi, sangatlah keliru kalau ada yang berpandangan bahwa seseorang bisa beriman kepada Allah karena Allah menaruh iman dalam kehidupan seorang secara ajaib, sehingga secara otomatis di luar kesadaran dan sepengetahuannya ia dapat memiliki iman. Pemikiran mistis seperti ini sangat membahayakan, karena membangun iman palsu. Pastilah iman yang dimiliki orang yang berpandangan seperti ini adalah iman yang tidak membawanya kerpada proses keselamatan yang benar. Orang Kristen yang memiliki iman seperti ini memang dapat menjadi orang beragama yang baik, tetapi tidak dapat menjadi manusia sesuai rancangan Allah semula. Orang-orang Kristen yang memiliki pengertian seperti ini tidak mungkin dapat membangun kehidupan kekristenan yang benar seperti standar Yesus. Iman adalah sesuatu yang harus diperjuangkan oleh setiap individu. Inilah sesungguhnya perlombaan iman yang dimaksud oleh penulis surat Ibrani (Ibr. 12:1-2). Dalam perlombaan tersebut, iman artinya penurutan terhadap kehendak Allah, dan Allah mau membawa orang percaya kepada iman yang sempurna, artinya memiliki ketaatan kepada Bapa seperti ketaatan Yesus.
     
    Kalau seseorang mengaku orang beriman, berarti harus mengikuti iman Abraham. Memang pada dasarnya, orang percaya adalah anak-anak Abraham dalam iman, atau umat pilihan dalam iman; bukan berdasarkan darah daging keturunan Yahudi, tetapi karena memiliki iman seperti yang dimiliki oleh Abraham. Kalau memerhatikan kehidupan kebanyakan orang Kristen hari ini, nyatalah mereka tidak menunjukkan perjuangannya untuk percaya atau beriman dengan benar sesuai dengan pola hidup beriman yang Alkitab ajarkan yang mengac...
    0 min
  • DIBENARKAN OLEH IMAN LEBIH BERAT
    Banyak orang Kristen yang sebenarnya tidak berhak menyandang status sebagai orang Kristen dan tidak berhak meyakini bahwa diri mereka telah dibenarkan. Kristen artinya seperti Yesus. Kalau hanya beragama Kristen, belum berarti sudah menjadi seperti Kristus. Fakta yang tidak dapat dibantah, banyak orang Kristen yang moralnya lebih buruk dari orang-orang non-Kristen. Tanpa mereka sadari, hal tersebut menjadi penyebab atau kausalitas orang-orang Kristen lain berpindah agama dengan alasan: kekristenan tidak lebih baik dari agama lain. Ada juga yang telah dikecewakan oleh orang Kristen sehingga mereka tidak mau lagi menjadi orang Kristen. Sementara itu, propaganda agama lain sangat gencar setiap hari melalui berbagai media, yang semakin menambah tipisnya keyakinan orang-orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran, sehingga iman mereka menjadi rawan. Inilah faktor penyebab orang-orang Kristen berpindah agama.
     
    Banyak orang Kristen hanya cakap berbicara, menyerang orang Kristen lain di medsos dan mengaku diri sudah benar, padahal kehidupan moralnya rendah, tanpa mau mengakui keadaannya dengan rendah hati dan bertobat. Ia tidak sadar bahwa suatu hari nanti semua perbuatannya akan ditelanjangi di mata semua orang. Pertikaian orang Kristen di media sosial merupakan peta buruk yang tidak menjadi kesaksian yang baik bagi orang-orang non-Kristen. Ironis dan memalukannya, para pelakunya adalah pendeta dan mereka yang sudah bergelar kesarjanaan teologi. Kadang-kadang, demi memperoleh “income” dari sepak terjang mereka di media sosial (subcribe) mereka melakukannya tanpa perasaan bersalah. Hendaknya, kita tidak lupa bahwa seorang pengajar (guru atau pendeta) dihakimi dengan ukuran yang berbeda; ukuran yang lebih berat. Umpat-mengumpat dan caci maki di medsos dalam kalangan orang Kristen menambah jumlah bilangan orang non-Kristen yang semakin memantapkan diri untuk tidak akan melangkah mengikuti jejak “orang-orang Kristen” tersebut; sementara sebaliknya, orang-orang Kristen yang tersandung tidak mau ke gereja dan dipersiapkan untuk pindah agama atau tidak pernah menjadi anggota gereja sampai mati.
     
    Dengan kualitas moral yang rendah, banyak orang Kristen mengaku bahwa diri mereka sudah selamat dan memiliki kepastian masuk surga. Hal ini menjadi bahan tertawaan orang-orang non-Kristen. Betapa kacaunya keberagamaan macam itu. Tentu saja orang-orang Kristen ini dengan lantang dan gagah berkata bahwa keselamatan bisa terjadi atau dialami seseorang bukan karena perbuatan baik. Ditambahkan lagi bahwa amal dan kebajikan apa pun tidak akan menyelamatkan. Ditegaskan pula—dengan memungut ayat Alkitab tanpa melihat konteksnya—bahwa perbuatan baik seseorang seperti kain kotor. Dari hal itu, orang-orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran tersebut memiliki “pembenaran” untuk merasa diri sebagai orang yang sudah selamat. Sebagian besar orang Kristen memiliki paradigma berpikir demikian ini. Betapa mengerikan sekali keadaan ini.
     
    Sejatinya, orang Kristen yang mau menjadi manusia yang benar-benar dibenarkan oleh Allah harus melalui tahapan-tahapan. Tahapan pertama dibenarkan secara pasif, yaitu meyakini kurban Kristus di kayu salib, setelah itu harus memberi diri dimuridkan untuk menjadi “manusia yang benar” sesuai dengan standar Allah, yaitu sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48), dan serupa dengan Yesus (Flp. 2:5-7). Justru perjalanan hidup orang yang dibenarkan oleh iman jauh lebih berat dari orang yang dibenarkan oleh perbuatan. Dibenarkan oleh perbuatan tidak menuntut manusia meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Orang yang mau dibenarkan oleh iman harus meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya agar bisa mengerti kebenarann guna bertumbuh kepada kesempurnaan (Luk. 16:11). Dibenarkan oleh perbuatan hanya menggunakan hukum moral secara umum (bagi bangsa Israel sesuai dengan Taurat) untuk standar moralnya, tetapi dibenarkan oleh iman menggunakan “sempurna seperti Bapa” atau “serupa dengan Yesus” sebaga...
    0 min
  • FORMAT-FORMAT DEFINISI KALIMAT AKADEMIS
    Berulang-ulang dalam Alkitab dikatakan bahwa “orang benar akan dibenarkan oleh iman.”Pernyataan ini dikemukakan berulang-ulang dalam Alkitab, khususnya di dalam kitab Roma 3 dan 4. Harus dimengerti bahwa, “iman” yang dimaksud di situ adalah iman seperti yang diperagakan oleh Abraham. Oleh sebab itu,untuk mengerti iman yang dimaksud oleh Alkitab, kita harus memerhatikan kehidupan Abraham, sehingga kita memiliki pengertian “iman” yang benar.Dalam Roma 4:8-13 tertulis: Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepadaTuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat. Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.
    Pengertian “dibenarkan” dalam arti yang sempit adalah “dianggap benar,” ini bukan berarti orang yang dibenarkan benar-benar sudah berkeadaan benar. Seorang yang percaya kurban Yesus berpotensi untuk menerima pembenaran secara lengkap. Dalam arti yang luas, “dibenarkan” artinya diterima oleh Allah atau diperkenan oleh Allah, sebab telah diakui oleh Dia sebagai telah berkeadaan benar. Dalam hal ini,pembenaran memiliki beberapa dimensi. Dimensi pertama adalah ianggap benar, walaupun belum sungguh-sungguh berkeadaan benar. Ini disebut sebagai pembenaran secara pasif. Dimenasi kedua, proses dalam kehidupan orang percaya untuk mengalami perubahan, dari keadaan tidak benar menjadi manusia yang berkeadaan benar sesuai dengan rancangan Allah semula. Proses ini dikerjakan oleh Allah melalui Roh Kudus atas orang-orang yang memberikan respons yang memadai terhadap pembentukan-Nya (Rm. 8:28). Ini adalah pembenaran secara aktif. Ketiga, pernyataan Allah suatu hari di pengadilan Allah atas orang-orang yang telah mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar dan benar-benar memiliki kehidupan serupa dengan Yesus, bahwa mereka benar (Luk. 18:8).Dalam hal ini orang percaya harus memiliki ketekunan untuk bisa setia sampai akhir.
    Satu hal yang sangat penting harus diperhatikan adalah pernyataan bahwa “dibenarkan bukan karena perbuatan” bukan berarti tidak ada tindakan. Maksud kata “perbuatan” dalamayat di atas adalah “perbuatan berdasarkan hukum Taurat.” Abraham dibenarkan bukan karena “perbuatan” melakukan hukum Taurat, karena memang pada waktu zaman Abraham belum ada hukum Taurat. Tetapi Abraham dibenarkan oleh tindakannya, yaitu dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Penurutan terhadap kehendak Allah inilah yang dimaksud dengan “iman.” Jadi iman adalah sebuah tindakannyata, bukansekadar“aktivitas nalar atau pikiran.”Kalau iman dipahami sekadar aktivitas nalar atau pikiran, maka tidak perlu dipergumulan dengan berat. Bila demikian,tentu saja Yesus tidak perlu berkata: “Bekerjalah untuk makanan yang tidak dapat binasa.”Ketika dipertanyakan oleh murid-murid, “Pekerjaan apakah itu?”Yesus menjawab pekerjaan itu adalah“percaya kepada Dia yang telah diutus oleh Bapa” (Yoh. 6:26-29). Ini berarti percaya atau beriman adalah suatu perjuangan.
    Banyak orang Kristen merasa tenang dengan kehidupan kekristenan mereka yang mereka yakini telah benar, sebab mereka merasa telah dibenarkan. Berdasarkan penjelasan dari format-format definisi kalimat akademis yang dinalar saja, mereka merasa sudah berpusat kepada Tuhan, padahal mereka hanya berpusat pada diri sendiri; yaitu hanya pada pikiran mereka dengan pengertian-pengertianya dari format-format definisi kalimat akademis. Itulah sebabnya mereka tidak mengalami Tuhan secaranyata. Kehidupan kekristenan seperti ini tidak akan membuat kekristenan menjadi bertahan.
    0 min
  • IMAN ADALAH TINDAKAN
    Pada umumnya, orang memahami kata “percaya” atau “beriman” dengan meyakini atau menyetujui sesuatu atau sebuah entitas sebagai yang benar atau kebenaran. Terhadap sesuatu atau sebuah entitas yang dipandang sebagai yang benar atau kebenaran—dalam hal ini Allah atau sesembahan yang dipercayai—seseorang berani mempertaruhkan apa pun dalam hidup ini:harta, keluarga, dan nyawa. Jika ditinjau dari pengertian linguistik terhadap kata “percaya,”tindakan mempertaruhkan apa pun dalam hidup tersebut bisa dinilai benar. Seseorang bisa rela mempertaruhkan harta, keluarga, dan nyawa mereka demi apa yang diyakini atau dipercayai sebagai yang benar atau kebenaran. Namun demikian,bukan berarti tindakan tersebut bisa  dinilai benar, jika dipandang dari penafsiran terhadap Kitab Suci secara benar dan nilai-nilai kemanusiaan.
    Fakta yang terjadi, ada orang-orang yang melakukan tindakan yang mereka pandang sebagai tindakan beriman, ternyata buah dari kesalahan tafsir terhadap Kitab Suci. Orang-orang yang salah menafsirkan kitab sucinya biasanya jatuh kedalam tindakan ekstrem. Sebagian dari mereka menjadi teroris yang mendatangkan ketakutan masyarakat dan kehancuran banyak fasilitas umum. Tetapi bagaimana pun, kata “percaya”memang harus diwujudnyatakan dalam tindakan demi Allah yang dipercaya, dan bersedia hidup hanya untuk kepentingan-Nya. Mestinya,hal ini diwujudkan dalam bingkai pengamalan Kitab Suci secara benar sehingga membangun hidup bersama dengan sesama dari berbagai latar belakang.
    Bagi para teroris, walau pengejawantahan beriman mereka tidak benar, tetapi mereka konsekuen terhadap keberimanan atau percaya mereka tersebut. Beriman atau percaya berarti bertindak atau melakukan suatu perbuatan (tindakan nyata). Pertanyaannya bagi kita orang percaya: Seberapa jauh kita menyatakan iman atau percaya kita? Apakah ada tindakan nyata yang kita lakukan untuk menunjukkan percaya kita itu, sampai merenggut seluruh hidup kita? Kalau percaya belum merenggut seluruh aspek hidup kita, berarti belumlah percaya dalam arti yang benar.
    Dalam kehidupan orang percaya, seringkali percaya atau beriman dipahami sebagai meyakini bahwa sesuatu yang diharapkan atau diyakini benar-benar dapat terjadi atau terwujud. Sebenarnya, ini bukan iman yang menyempurnakan. Iman seperti ini adalah iman pemula bagi mereka yang belum mengenal Yesus secara mendalam atau belum mengenal kebenaran. Iman seperti ini biasanya ada pada mereka yang belum dewasa. Dalam level iman seperti ini, seseorang masih bersikap eksploitatif terhadap Tuhan. Biasanya mereka juga belum dewasa rohani sehingga masih sangat oportunis. Mereka berurusan dengan Tuhan hanya karena demi keuntungan pribadi. Berbeda dengan iman yang benar bagi orang yang sudah dewasa rohani. Percaya atau beriman berarti hidup sepenuhnya bagi kepentingan Tuhan yang dipercayainya.
     Kata “percaya” dari teks Alkitab Perjanjian Baru, adalah πιστεύω (pisteuo)yang berarti “menyerahkan diri kepada objek yang kepadanya seseorang menaruh percayanya.” Menyerahkan diri adalah suatu tindakan. Kata ini hendaknya tidak hanya menjadi format kalimat verbal atau sebuah definisi yang diucapkan, tetapi merupakan tindakan konkret. Orang percaya harus benar-benar mempersoalkan bagaimana proses mekanisme “percaya”(pisteuo) benar-benar terjadi atau berlangsung dalam hidup ini. Biasanya,komunitas Kristen yang memahami keliru pernyataan “dibenarkan bukan karena perbuatan tetapi karena iman” dan menganggap bahwa perbuatan baik tidak memiliki nilai, cenderung memahami iman sekadar pengaminan akali atau persetujuan pikiran; aktivitas nalar atau pikiran semata-mata. Mereka lebih cenderung berteologi dengan nalar atau pikiran daripada berjuang untuk mewujudkan iman dalam tindakan.
    Kehidupan iman sebagian jemaat Kristen banyak dirusak oleh para teolog yang mengajarkan iman hanya secara akademis dengan rumusan-rumusan kalimat akademis dalam format-format yang di nalar saja. Sejatinya,
    0 min
  • PERAN PENGERTIAN KATA “PERCAYA”
    Kata yang sangat banyak kita dengar dan ucapkan dalam kehidupan orang beragama adalah “percaya” atau “beriman.” Kata ini paling banyak kita dengar dan ucapkan—bukan hanya dalam lingkungan orang Kristen—melainkan juga di lingkungan orang-orang non-Kristen. Masing-masing agama pasti memiliki pandangan, persepsi, asumsi, definisi, dan format mengenai kata “percaya” atau “beriman”ini. Harus diingat bahwa setiap agama memiliki kitab sucinya masing-masing. Tentusaja tidak ada kitab suci yang sama. Dari hal ini,tidak mungkin ada kesamaan teologis antar agama yang ada di dunia ini. Perlu dimengerti pula bahwa penafsiran masing-masing individu terhadap Alkitab dalam lingkungan orang Kristen pun berbeda-beda. Pandangan teologi adalah sesuatu yang bisa sangat lentur dan relatif jika ditinjau dari subjek yang membangun teologi berdasarkan penafsiran Alkitab. Maka, dalam hal ini kita bisa mengerti bahwa pasti terdapat perbedaan pandangan dalam kehidupan orang Kristen.
    Dalam lingkungan orang-orang Kristen, setiap orang Kristen, teolog, pendeta, dan denominasi bisa memiliki pengertian yang berbeda tentang banyakhal. Namun demikian, hendaknya perbedaan-perbedaan tersebu tidak sengaja dibenturkan, apalagi diperuncing dengan perdebatan-perdebatan yang berakibat pada percideraan, permusuhan, dan perpecahan. Prinsip yang harus dipegang oleh orang percaya dalam hidup bersama sebagai anak-anak Allah adalah “teologi memisahkan, tetapi kasih memeluk atau mempersatukan.” Kalau ada seseorang atau kelompok yang sengaja mengobarkan perdebatan-perdebatan yang menyerang individu atau komunitas yang lain, bisa dipastikan bahwa individu atau komunitas penyerang pastitelah membangun teologi yang salah, sebab bagaimana pun perilaku seseorang mewakili teologinya.
    Perilaku seseorang adalah ekspresi atau pengejawantahan dari pengertiannya mengenaiisi Alkitab. Oleh sebabitu, seorang yang cakap berbicara belum tentu cakap dalam kehidupan, artinya belum tentu berperilaku baik. Maka, orang percaya tidak boleh terkecoh oleh kefasihan seseorang berbicara. Apalagi terhadap mereka yang mencari keuntungan melalui “medsos.” Sangat besar kemungkinan yang mereka kemukakan adalah “sampah” yang dapat meracuni pikiran, dan bernuansa menyakiti sesama, yaitu jika isinya adalah menyerang individu. Pola kehidupan seperti ini merupakan pola hidup anak-anak dunia yang tidak belajar mengenakan “gaya hidup Yesus.” Kepada musuh saja mengasihi, apalagi kepada saudara seiman.
     
    Perbedaan pendapat adalah sesuatu hal yang sangat mungkin, realita yang tidak dapat dihindari. Dalam kehidupan bersama tidak mungkin tida terdapat perbedaan. Kita harus belajar menerima perbedaan dan memberi ruangan bagi orang lain untuk memiliki pandangan yang berbeda dengan kita. Kalau ada seseorang yang menganggap pandangan orang lain salah, ia dapat mengemukakan pendapatnya tanpa perlu “kasar” dalam menilai dan menghakiminya dengan kata-kata yang tidak patut, apalagi dengan menyebut nama orang tersebut. Ini adalah tindakan yang melanggar norma kehidupan anak-anak Allah. Tuhan Yesus tidak mengajarkan hal ini. Kita tidak pernah menerima otoritas Ilahi untuk menyatakan seseorang sesat tanpa konfirmasi yang cukup dan fair. Hendaknya kita tidak merasa sedang membela kebenaran, sementara itu sebenarnya adalah“monster” di dalam diri kita yang sedang bermanuver. Akhirnya, kita harus ingat bahwa kita semua akan menghadap takhta pengadilan, di mana semua keberadaan kita akan ditelanjangi di depan semua orang.
     
    Sejatinya, pengertian terhadap kata “percaya” ini sangat menentukan kualitas kehidupan moral seseorang, dan kualitas moral seseorang sangat berperan terhadap seluruh aspek hidupnya. Bagi agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam), kata “percaya”memiliki peran sentral dalam kehidupan keberagamaannya. Dari kata “percaya”atau“iman” orang-orang yang beragama samawi membangun kehidupan dalam segala aspeknya. Dalam hal ini,tidak dapat dibantah bahwa pengamalan yang benar t...
    0 min
  • TAKUT KARENA MENGHORMATI
    Tidak ada masalah yang besar dalam hidup kita kecuali melakukan esuatu yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Jadi, satu-satunya masalah besar dalam hidup orang percaya adalah tidak melakukan kehendak Allah, sehingga menyakiti hati-Nya. Kehendak Allah adalah melakukan segala sesuatu yang Dia ingini sampai dapat memuaskan hati-Nya. Tuhan Yesus tidak mengatakan, “Aku tidak mengenal kamu yang tidak melakukan kehendak-Ku,” tetapi “kamu yang tidak melakukan kehendak Bapa” (Mat. 7:21-23). Kehendak Bapa tentu sama dengan kehendak Tuhan Yesus. Kehendak Bapa maksudnya adalah pikiran dan perasaan Roh Kudus yang dimeteraikan di dalam diri kita. Roh Kudus sama dengan Roh Allah. Dengan demikian mestinya seseorang tahu apakah dirinya menyenangkan hati Allah atau menyakiti-Nya.
    Kalau umat Perjanjian Lama melakukan kehendak Allah hanya dengan melakukan hukum-hukum tertuli satau Taurat, tetapi bagi orang percaya melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini sebenarnya sama dengan yang dimaksud dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Tidak melakukan kehendak Allah berarti memberontak kepada Dia. Tentu hal ini terkait dengan usia rohani masing-masing individu, sebab yang diberi banyak dituntut banyak. Kalau seorang anak usia 4 tahun bersikap sebagai anak usia 4 tahun orang tua tidak sakit hati, tetapi kalau anakusia 20 tahun bersikap seperti anak usia 4 tahun berarti menyakiti hati orang tua. Seharusnya semakin lama seseorang menjadi Kristen, semakin dewasa, dan semakin menyenangkan hati Allah. Jika tidak, berarti suatu kemunduran atau sebuah keadaan tidak bertumbuh. Ini bisa merupkan keadaan mati.
    Dalam 1 Petrus 1:17 tertulis, “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Kalimat penting dari ayat ini adalah “hidup dalam ketakutan selama menumpang di bumi.” Kata “ketakutan” dalam teks aslinya adalah phobos (φόβος). Kata phobos juga berarti ketakutan yang hebat: fear (great fear of apprehension), dread, terror (extreme fear), perasaan takut karena menghormati Allah. Sebenarnya secara lengkap kalimat “selama menumpang di bumi,” terjemahannya adalah ἐνφόβῳ τὸντῆς παροικίας ὑμῶνχρόνονἀναστράφητε (enphobo ton tesparoikiashumonkrononanastraphete), yang artinya dalam ketakutan di tempat sementaramu pada waktu perjalanan balik (pulang).
    Dalam kalimat “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya,” kata “tidak memandang” dalam teks aslinya adalah “tidak menghormati siapa pun” yang berasal dari kata aprosopoleptos (ἀπροσωπολήπτως). Kalimat ini menarik perhatian kita agar kita memperhatikan karakter Bapa yang tidak memandang muka, artinya memperhatikan perilaku kita. Oleh sebab itu, kalau kita mengaku Allah adalah Bapa, maka kita harus serius memperhatikan “karakter atau sifat-Nya” bahwa Ia tidak memandang siapa pun.
    Oleh sebabitu, jika kita berurusan dengan Allah seharusnya kita tidak lagi mempersoalkan kebutuhan jasmani kita dan segala kesenangan diri sendiri, tetapi bagaimana melakukan kehendak Dia yang kita panggil sebagai Bapa. Dengan demikian sejatinya, percaya kepada Tuhan Yesus berarti hidup untuk kepentingan-Nya. Kepentingan-Nya adalah menyukakan hati Bapa. Hal ini berarti menempatkan diri kita kepada keadaan tidak memiliki keingingan diri sendiri, tetapi harus bersedia hidup hanya untuk kesukan hati Bapa. Oleh karenanya kita harus selalu memikirkan Bapa, Pribadi Mahaagung yang sungguh-sungguh sangat dahsyat dan mengerikan. Selalu memikirkan Bapa maksudnya adalah apakah segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran, perasaan dan kehendak-Nya.
    Dalam segalahal yang kita lakukan harus selalu mempertimbangkan apakah yang kita pikirankan,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…