Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • MENYEMPURNAKAN KEJAHATAN
    Di dalam dunia modern sekarang ini, di mana setiap orang dapat berbicara bebas di media sosial, dapat terlihat orang Kristen sejati dan yang palsu, hamba Tuhan yang sejati dan yang palsu, pendeta yang sejati dan yang gadungan. Hati nurani kita pasti bisa merasakan tulisan atau perkataan yang bernuansa memberkati dan yang tidak memberkati, meneduhkan dan yang melukai, yang mendatangkan berkat dan yang mendatangkan kutuk. Kita harus berhikmat terhadap segala sesuatu yang kita lihat dan kita dengar, agar jiwa kita tidak dicemari oleh “racun-racun” melalui dunia media sosial. Memang banyak manfaat dan berkat yang kita dapat peroleh dari media sosial, tetapi juga tidak sedikit kerugian yang kita peroleh kalau kita menerima masukan dari sumber yang salah.
     
    Dunia media sosial bisa menjadi sarana seseorang belajar menguasai diri dengan tidak meng-upload apa yang tidak perlu untuk di-upload, meng-upload apa yang dapat menjadi berkat bagi orang lain. Hendaknya, kita tidak menggunakan media sosial hanya untuk mencari uang atau popularitas, tetapi untuk memberitakan kebenaran guna mengubah kehidupan banyak orang. Kehidupan banyak orang di sini maksudnya adalah perilaku seseorang; dari perilaku yang melukai hati Allah kepada perilaku yang menyenangkan hati-Nya. Kehidupan banyak orang juga menunjuk fokus kehidupan banyak orang; dari dunia ini kepada Kerajaan Allah. Media sosial bisa menjadi sarana untuk menyempurnakan kesucian atau sebaliknya untuk menyempurnakan kejahatan.
     
    Fakta yang dapat kita temukan dalam kehidupan banyak orang hari ini adalah mereka tenggelam dalam fokus perhatian dunia media sosial sehingga tidak memfokuskan diri pada Allah. Sangat banyak waktu yang telah digunakan untuk memerhatikan dunia media sosial daripada belajar Firman Tuhan dengan saudara-saudara seiman yang dapat membangun kehidupan yang baik. Sehingga media sosial menjadi telaga kegelapan yang membinasakan banyak orang. Dari media sosial tersebut, banyak kehidupan moral manusia menjadi rusak dan fokus kehidupan banyak orang tidak diarahkan kepada Kerajaan Allah. Dalam hal ini, media sosial menjadi alat yang ampuh di tangan kuasa gelap untuk membinasakan jiwa-jiwa ke dalam neraka.
     
    Aspek lain yang terjadi dewasa ini, media sosial menjadi arena perdebatan dan saling kecam di antara orang Kristen yang membangkitkan pertikaian, kebencian, sakit hati, dendam, dan berbagai perasaan negatif lain yang memecah belah persekutuan orang percaya. Ironisnya, hal ini tidak kita dapati dalam kehidupan orang-orang non-Kristen. Di sini orang-orang Kristen gagal menjadi berkat dan menggarami masyarakat. Kita harus menerima kenyataan adanya perbedaan pendapat di antara orang Kristen. Dalam sejarah gereja, tercatat fakta adanya perbedaan pengajaran, doktrin, dan pendapat dalam banyak hal. Tetapi hendaknya perbedaan ini tidak menjadi alasan untuk menyerang orang lain dan mengangkat diri seakan-akan seseorang memiliki otoritas ilahi untuk menghakimi orang lain dengan alasan membela kebenaran atau meluruskan ajaran.
     
    Melalui media sosial, terbuka peluang kejatuhan dan perilaku buruk rohaniwan Kristen atau pendeta dipublikasikan. Orang-orang yang pernah kecewa terhadap pendeta dan gereja memiliki sarana untuk mengompensasi kekecewaannya. Orang-orang yang mau menjadi popular menyerang figur publik di kalangan orang Kristen. Dengan menyerang dalam bentuk kritik-kritik, kecaman-kecaman, dan tuduhan-tuduhan kepada orang lain—khususnya terhadap mereka yang dikenal oleh masyarakat—membuat diri orang tersebut menjadi pusat perhatian banyak orang. Orang yang mau menjadi berita (news) harus berani menyerang orang yang sudah menjadi berita. Tentu banyak alasan yang bisa dikemukakan untuk menyerang orang lain.
     
    Satu aspek, hal ini sangat berguna bagi para rohaniwan Kristen atau pendeta mengoreksi diri dan menjaga diri dari kesalahan. Tetapi aspek yang lain publikasi-publikasi semacam itu meruntuhkan kepercayaan jemaat terha...
    0 min
  • PATAH HATI TERHADAP DUNIA
    Semakin masuk ke pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran), kita semakin mengerti kehidupan ini dari perspektif Alkitab. Kemudian, kita semakin bisa merasakan perasaan “patah hati terhadap dunia” ini. Mata jiwa kita akan tercelik untuk dapat benar-benar mengerti betapa kosong dan fananya dunia ini. Semakin hari, kita juga semakin dapat berhenti mengharapkan kebahagiaan dari dunia dan kesenangan daging. Inilah tahapan hidup di mana kita dapat benar-benar terlepas dari percintaan dunia. Dengan terlepasnya kita dari percintaan dunia, cinta kita kepada Tuhan Yesus semakin bulat dan murni. Inilah cinta yang layak dipersembahkan kepada Tuhan Yesus. Dengan demikian, kita dapat menjadi seperti “perawan suci” di hadapan-Nya; Tuhan Yesus sebagai Mempelai Pria (2Kor. 11:2-4). Hal ini semakin memantapkan kita untuk mengarahkan pandangan hidup sepenuhnya ke Kerajaan Tuhan Yesus Kristus.
     
    Seseorang yang masih belum patah hati terhadap dunia ini berarti masih dalam percintaan dengan dunia. Tentu saja orang seperti ini tidak dapat bersekutu dengan Allah dan Tuhan Yesus secara ideal, sebab berarti ia masih membagi hatinya kepada yang lain. Padahal, Yesus menyatakan bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Lagipula, standar mengasihi Allah adalah mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi. Allah tidak menerima cinta yang separuh hati terhadap diri-Nya. Itulah sebabnya hukum pertama dalam perintah Allah adalah tidak memiliki Allah lain di hadapan-Nya. Ini berarti tidak boleh ada sesuatu atau entitas yang menandingi atau menyaingi Allah yang benar.
     
    Memang tidak mudah untuk mengalami patah hati terhadap dunia, sebab dunia dengan segala keindahan serta hiburannya sangat cocok dengan selera manusia yang berdosa. Pada umumnya, semua manusia telah tertawan oleh dunia ini. Keselamatan dalam Yesus Kristus bermaksud melepaskan manusia dari belenggu dunia agar bisa masuk dalam persekutuan dengan Allah, Bapanya. Inilah sebenarnya yang menjadi maksud dan tujuan manusia diciptakan oleh Allah, yaitu agar manusia menjadi sekutu Allah. Persekutuan dengan Allah membuat manusia dapat menikmati keindahan hidup yang tiada tara, sebab Allah sendiri adalah satu-satunya air kehidupan yang dapat mengisi jiwa manusia. Dosa telah memisahkan manusia dari persekutuan dengan Allah, sehingga manusia tidak dapat lagi menikmati persekutuan yang indah dengan Allah. Sebagai akibatnya, manusia mencoba memuaskan dahaga jiwanya dengan objek yang lain.
     
    Dalam Perjanjian Lama, ada orang-orang yang memiliki persekutuan dengan Allah sehingga dapat menikmati sebagian dari keindahan Allah, itulah sebabnya mereka dapat menyaksikan bahwa mereka seperti rusa yang merindukan sungai yang berair. Bahkan, mereka menyatakan bahwa sekalipun daging dan jiwanya habis lenyap tetapi gunung batu dan bagiannya adalah Allah selama-lamanya. Yesus datang ke dunia menjanjikan damai sejahtera yang tidak sama seperti yang diberikan dunia. Inilah damai sejahtera yang dikatakan oleh Paulus sebagai “melampaui segala akal.” Kalau orang percaya bertumbuh dewasa rohani semakin masuk ke dalam pusat pusaran kebenaran, ia semakin dapat menikmati damai sejahtera Allah, sehingga keindahan dunia dengan segala hiburannya menjadi pudar.
     
    Dalam kehidupan ini, ada orang-orang dikondisi menjadi patah hati oleh dunia. Faktor-faktor penyebab patah hati terhadap dunia tersebut antara lain: terlahir sebagai orang cacat, dikhianati oleh orang yang dia percayai, sakit berkepanjangan dalam penderitaan tubuh yang hebat, jatuh miskin dan dipermalukan oleh lingkungan, selalu gagal dalam semua bidang hidup, mengalami penderitaan karena perang serta bencana alam atau kecelakaan, dan lain sebagainya. Orang-orang yang berkeadaan seperti ini sebenarnya lebih mudah dituai untuk menerima kabar baik dari Tuhan Yesus. Kepada mereka, Yesus berbelas kasihan dan menyediakan dunia atau kehidupan yang lebih baik di langit baru dan di bumi yang baru...
    0 min
  • MENGENALI DIRI
    Seiring dengan pertumbuhan kedewasaan rohani di mana kita semakin masuk ke pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran), kita akan semakin peka terhadap hal-hal yang Allah tidak kehendaki. Karena semakin masuk ke pusat pusaran kebenaran, kita akan lebih mengenal keagungan pribadi Yesus dan kita dapat mencium keharuman Allah. Kita dapat lebih menghayati kehadiran Allah, dengan demikian kita dapat pula menghayati kedahsyatan, kesucian Allah. Pengalaman ini lebih dari pengalaman keberagamaan pada umumnya. Pada umumnya, pengalaman keberagamaan hanya sampai kepada atmosfer atau suasana kesalehan melakukan hukum. Orang beragama juga bisa merasakan suasana kerohanian yang sesuai dengan standar moral dan keberagamaannya. Tetapi, orang percaya harus lebih dari itu. Orang percaya harus sungguh-sungguh dapat menghayati kehadiran Allah yang dahsyat setiap waktu di mana pun juga di sepanjang umur hidupnya. Suasana seperti ini akan berlanjut terus sampai di balik kubur. Itulah sebabnya orang percaya yang benar dapat merasakan suasana surga sejak masih ada di bumi ini.
     
    Kalau kita sungguh-sungguh mengalami seperti yang tersebut di atas—yaitu menghayati kehadiran Allah—kita akan mulai dapat melihat kesalahan-kesalahan kecil yang dahulu tidak kita sadari sebagai kesalahan; sekarang terdeteksi oleh kita sebagai kesalahan yang besar. Kita semakin teliti terhadap motivasi-motivasi yang mendorong atau menjiwai kita melakukan sesuatu. Dengan demikian, kita semakin jujur terhadap diri sendiri dan juga terhadap orang lain. Dengan hal ini, kita dapat dengan jujur, terbuka, dan teliti mengenali diri kita sendiri. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hanya orang-orang yang memahami keagungan kepribadian Allah dan mencium keharuman kesucian-Nya yang dapat mengenali diri sendiri secara benar. Sebelum seseorang mengenal Yesus dengan benar, ia belum mengenal diri sendiri dengan benar.
     
    Banyak orang merasa sudah mengenali dirinya sendiri dengan benar, padahal belum. Ukuran mengenali diri sendiri bukanlah berangkat dari sudut pandangnya—yaitu apa yang dia pandang sebagai baik atau buruk—melainkan berangkat dari penghayatannya terhadap keagungan pribadi Tuhan serta standar kesucian-Nya. Dalam hal ini, banyak orang “tidak tahu bahwa sebenarnya dia tidak tahu” terhadap dirinya sendiri. Orang-orang seperti ini bisa mengkritik orang lain, mencela orang lain, menasihati orang lain, bahkan menjadi pembina bagi orang lain, tetapi ia tidak bisa menasihati dan membina dirinya sendiri. Orang seperti ini pasti masih memiliki “duri” yang dapat melukai orang lain. Orang Kristen sejati ditandai dengan kehidupannya yang tidak berduri sama sekali; ini berarti ia tidak akan menyakiti siapa pun. Dari hal ini, kita bisa melihat orang Kristen yang sejati dan yang palsu. Tentu saja dengan ini kita mengoreksi diri sendiri, apakah kita Kristen yang sejati atau orang Kristen yang palsu.
     
    Semakin kita bertumbuh dalam kedewasaan rohani dan masuk ke pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran), kita akan merasakan duka dan lukanya hati kita ketika berbuat suatu kesalahan. Dalam hal ini, kita juga bisa merasakan duka dan lukanya hati Allah ketika kita berbuat salah yang merupakan indikasi ketidaksetiaan kita kepada Allah. Oleh anugerah dan kesabaran hati Allah, Dia tetap setia walaupun kita tidak setia (2Tim. 2:13). Melalui pengalaman ini, ada dua berkat yang kita peroleh: Pertama, kita semakin takut terhadap Allah dan trauma terhadap kesalahan. Hal ini mendorong kita menjauhi kejahatan dan kesalahan di hadapan Allah. Dengan demikian, lebih mudah mewujudkan kesucian hidup yang berstandar Allah sendiri. Dosa atau praktik melakukan kesalahan tidak akan bertahan lama dalam hidup kita. Keadaan orang percaya seperti ini tidak memberi tempat berpijak atau pangkalan bagi Iblis (Ef. 4:27).
     
    Kedua, kita lebih bisa menghayati kasih pengampunan Tuhan terhadap diri kita. Kita merasa dan menghayati dengan mendalam banyaknya pengampunan y...
    0 min
  • PERJUANGAN YANG BERAT
    Perjalanan hidup kekristenan adalah perjuangan yang tidak pernah berhenti sampai menutup mata. Kalau suatu hari kita gagal menyenangkan hati Allah dengan berbuat suatu kesalahan, kita harus membuat komitmen baru. Kalau seandainya kita gagal lagi, kita membuat komitmen baru lagi. Kita tidak boleh berhenti berubah. Firman Tuhan mengatakan, “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana” (Ams. 24:16). Ayat ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan umat Tuhan mengalami kejatuhan. Kalau sudah jatuh bukan berarti sudah final, tidak bisa diperbaiki lagi dan tidak ada kesempatan. Selama seseorang masih menyadari kesalahannya dan mau berubah berarti Tuhan masih memberi kesempatan untuk memperbarui orang tersebut. Kecuali seseorang sudah tidak peduli terhadap kesalahannya, dan tidak lagi mau memperbaiki kesalahan tersebut. Orang seperti ini jatuh dalam keadaan “menghujat Roh Kudus.” Menghujat Roh Kudus artinya sikap yang secara permanen menolak penggarapan Roh Kudus. Tentu Roh Kudus menuntun, berulang-ulang mengingatkan, menegur, dan selalu berbicara kepada seseorang. Tetapi kalau orang tersebut secara terus-menerus tidak mau menerima penggarapan Roh Kudus sampai mendukakan Roh Kudus, akhirnya akan memadamkan Roh. Jika sudah sampai stadium tersebut, ia masuk ke stadium menghujat Roh Kudus.
     
    Dalam Ibrani 12:3-5 tertulis: “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah. Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya.” Kalimat-kalimat dalam ayat ini mengisyaratkan adanya suatu pergumulan atau perjuangan berat untuk mencapai iman yang sempurna, artinya ketaatan yang berstandar Yesus (Ibr. 12:1-2). Penulis kitab Ibrani yang tentunya oleh ilham Roh Kudus menasihati kita agar tidak putus asa dalam perjuangan tersebut. Ini berarti perjuangan tersebut benar-benar bisa membuat seseorang gagal.
     
    Kalau dikatakan di dalam firman Tuhan bahwa Yesus sampai “mencucurkan darah” dalam perjuangan-Nya, berarti itu sebuah perjuangan yang “all out,” yang mengerahkan seluruh kehidupan tanpa batas. Orang percaya pun dikehendaki memiliki perjuangan seperti itu. Tanpa mempertaruhkan segenap hidup tanpa batas, seseorang tidak mungkin berhasil dalam perjuangan tersebut. Dalam hal ini, nyatalah bahwa kekristenan menyita seluruh kehidupan kita. Kekristenan bukan “bagian hidup kita,” tetapi seluruh kehidupan kita.
     
    Perjuangan seperti ini adalah satu-satunya agenda hidup orang percaya. Satu-satunya perjuangan, artinya orang percaya dipanggil bukan untuk hidup wajar seperti manusia pada umumnya. Umat pilihan adalah umat yang standarnya ditentukan untuk serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Orang percaya adalah orang-orang yang ditentukan untuk menjadi anak-anak Allah (Ef. 1:4-5). Menjadi anak-anak Allah bukan hanya statusnya yang secara sepihak mendapat pengakuan dari Allah, melainkan orang percaya harus berjuang untuk benar-benar berkeberadaan sebagai anak-anak Allah. Anak-anak Allah harus memiliki kesucian seperti Allah, Bapanya (1Ptr. 1:16-17). Itulah sebabnya, kalau seseorang memanggil Allah, “Bapa,” ia harus hidup dalam ketakutan selama menumpang di bumi, sebab orang yang memanggil Allah sebagai “Bapa” harus keluar dari cara hidup yang salah atau yang sia-sia yang diwarisi dari nenek moyang (1Ptr. 1:18-19). Dengan demikian, menjadi orang percaya berarti harus mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4) atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah.
     
    Kalau seseorang tekun dalam perjuangan untuk mengalami perubahan, maka perubahan akan benar-benar terjadi secara nyata.
    0 min
  • HARUS BERKOMITMEN BULAT
    Tidak ada cara lain untuk mengikut Yesus kecuali meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Kalau ditawarkan kekristenan tanpa meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, itu adalah jalan yang sesat. Sesat di sini bukan berarti membuat orang menjadi jahat, melainkan tidak akan membuat orang tersebut mencapai maksud keselamatan itu diadakan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Orang Kristen yang masih mencintai dunia bukan berarti menjadi orang yang jahat, bejat, rusak, melanggar norma umum atau sekelas dengan penjahat yang layak dimasukkan penjara, melainkan tetap bisa menjadi orang beragama yang baik, rajin ke gereja, mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja, bahkan menjadi rohaniwan. Biasanya, orang-orang seperti tidak merasa perlu bertobat setiap hari. Mereka merasa puas dan nyaman dengan standar moral yang mereka miliki.
     
    Banyak orang Kristen yang mengalami pergumulan dimana selama bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi merasa selalu gagal untuk menyenangkan hati Allah. Bertahun-tahun merindukan sebuah kehidupan yang sempurna, tetapi selalu gagal dan merasa tidak akan bisa menjangkaunya. Sampai suatu hari, setelah sekian puluh tahun jatuh bangun, baru dapat menemukan satu formula kehidupan yang mengubah hidup ini. Formula itu adalah “dhel.” Itulah sebabnya Allah harus memisahkan mereka dari agama Yahudi, agar kekristenan tidak bercampur dengan pola pikir agama Yahudi yang belum mengenal anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Dalam hal ini, Allah memisahkan mereka dari Yudaisme (agama Yahudi) agar orang percaya terpisah dari masyarakat yang agamais yang tidak memiliki kualitas hidup yang sesuai standar kesucian Allah.
     
    Allah juga memisahkan orang-orang Kristen dari dunia secara umum melalui penganiayaan oleh kekaisaran Romawi. Orang percaya yang setia kepada Yesus akan ditangkap, dibakar hidup-hidup, menjadi makanan binatang buas, disalib, digoreng di belanga panas, dipancung, dan lain sebagainya. Kenyamanan hidup di dunia tertutup bagi orang percaya. Mereka tidak memiliki celah sekecil apa pun untuk meraih dunia dan menikmati kehidupan di bumi ini, kecuali kalau mereka bersedia menyangkal Yesus. Tetapi ternyata mereka lebih memilih menjadi martir—yaitu mati demi mempertahankan atau membela iman—daripada menyangkal Yesus. Pemisahan dari dunia mengondisikan mereka untuk tidak membuka hati mencintai dunia. Hal ini menyelamatkan mereka dari percintaan dunia. Kehidupan Kristen orang percaya pada abad mula-mula menjadi pola kekristenan yang benar, yaitu menjadi orang percaya harus melepaskan segala sesuatu. Allah meletakkan dasar kekristenan yang benar pada jemaat mula-mula yang masih “bayi.” Mengikut Yesus berarti hidup seperti Yesus hidup.
     
    Kesalahan banyak orang Kristen hari ini adalah ketika mereka berpikir bahwa untuk tidak mencintai dunia tidak perlu mengalami tindakan “dhel.” Mereka hanya meyakini adanya proses untuk dapat terlepas dari percintaan dunia. Padahal, orang percaya harus memutuskan dan menetapkan hati untuk meninggalkan dunia sedini mungkin. Hal ini harus berangkat dari tekad dalam diri sendiri sebagai komitmen. Yesus sendiri yang mengajarkan kepada orang percaya untuk secara radikal meninggalkan dunia. Berarti harus ada keputusan atau ketetapan hati betindak “dhel.” Proses adalah pengalaman yang pasti dialami orang percaya untuk bertumbuh menjadi dewasa, tetapi harus ada tindakan “dhel.” Tindakan “dhel” dan usaha untuk setiap hari memperbarui langkah “dhel” dapat memulai dan mempercepat proses pendewasaan guna menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
     
    Banyak orang berpikir bahwa kita harus melewati proses tertentu untuk bisa masuk episentrum atau pusat pusaran kebenaran tanpa komitmen yang bulat. Mereka berpikir bahwa yang penting “mengalir saja.” Cara berpikir ini tidak menggiring orang percaya menjadi “kokoh” dalam mengikut Yesus. Yesus sendiri,
    0 min
  • HAL YANG TERPENTING
    Semakin kita memiliki karakter seperti Yesus, semakin kita dapat menyatu dengan Allah. Inilah sebenarnya isi dan tujuan hidup kita sebagai umat pilihan. Inilah tujuan kita bergereja dan tujuan seluruh kegiatan pelayanan ini. Dalam 1 Korintus 6:17 firman Tuhan mengatakan, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Menjadi satu Roh berarti suatu persekutuan yang harmoni dan ideal dengan Dia. Hal ini sesuai dengan doa Yesus di Lukas 17:21 yang tertulis demikian: “… supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Banyak lagi ayat yang menunjukkan bahwa orang percaya harus bersekutu dengan Allah sesuai dengan standar Allah, oleh karenanya kita harus juga memiliki kesucian dengan standar Dia. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang tidak memedulikan standar kesucian tersebut.
     
    Hendaknya kita berhati-hati dan waspada, jangan sampai kesibukan dalam kegiatan gereja secara teknis dan penyusunan program-program kegiatan gereja membuat kita menyimpang dari hal yang terpenting dalam hidup ini, yaitu memiliki karakter Kristus. Program gereja memang harus ada dan kegiatan secara teknis harus diselenggarakan secara profesional, perhitungan anggaran harus akurat, dan lain sebagainya yang bersifat manajemen, tetapi jangan sampai semua itu menyimpangkan kita dari tujuan kita dalam mengiring Yesus; yaitu dikembalikan ke rancangan semula Allah. Harus diingat, bahwa agenda kita satu-satunya adalah dikembalikan ke rancangan Allah semula. Oleh sebab itu, lebih dari kegiatan pelayanan gereja seorang pendeta atau siapa pun, kita harus lebih mengutamakan perubahan karakter untuk menjadi semakin seperti Yesus.
     
    Fakta yang tidak dimegerti banyak orang, mengapa ada pendeta-pendeta yang giat dalam pelayanan tetapi tidak memiliki kehidupan moral yang baik, masih bisa melakukan pelanggaran moral, materialistis, suka berdebat untuk meninggikan diri, berebut kedudukan, mencari popularitas, dan banyak lagi yang bisa menjadi batu sandungan bagi jemaat awam? Penulis sebagai pendeta mengerti benar jawaban dari persoalan ini. Kegiatan pelayanan gereja seorang pendeta tidak secara otomatis dan signifikan mengubah karakter. Jadi, hendaknya kita tidak berpikir bahwa dengan kegiatan pelayanan, seseorang dapat menjadi suci atau hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Sebaliknya, kegiatan pelayanan gereja bisa menyimpangkan perhatian seorang pendeta kepada hal-hal teknis di luar dirinya, tetapi tidak memerhatikan keadaan batiniahnya sendirin (ke dalam). Biasanya, orang-orang seperti ini merasa bangga dan terhormat dengan gelar dan jabatan yang disandangnya. Padahal, semua itu tidak memiliki nilai apa-apa di hadapan Allah kalau tidak digunakan bagi kemuliaan Allah dengan tulus.
     
    Tanpa disadari, ketika seorang pendeta yang belum memiliki karakter Kristus mengambil bagian dalam pelayanan, kegiatan pelayanannya menjadi sarana untuk memuaskan ambisi pribadi dan kepentingan-kepentingan yang tidak dipersembahkan bagi Allah dan Kerajaan-Nya. Pelayanan menjadi media hanya untuk “mencari nafkah.” Pendeta-pendeta seperti ini bukan berarti tidak bisa bisa berkhotbah. Mereka bisa memiliki gelar kesarjanaan yang tinggi, cakap berapologetika, berdebat, bahkan menilai orang lain dengan berani. Tetapi, mereka tidak memiliki roh yang lemah lembut dan tenteram yang berharga di mata Allah. Kalau dalam waktu panjang pendeta seperti itu tidak mengalami pembaharuan pikiran (metanoia) atau pertobatan, ia tidak akan pernah bisa diubah sampai mati. Hal ini akan sangat merugikan pelayanan pekerjaan Tuhan. Tetapi yang juga tidak kalah mengerikan adalah pendeta-pendeta seperti ini nanti akan tertolak dari hadirat Allah (Mat. 7:21-23). Aspek lain yang bisa terjadi, orang-orang yang disentuh oleh kegiatan pelayanan mereka kemungkinan besar banyak yang binasa di api kekal,
    0 min
  • SIKAP YANG RADIKAL
    Kita harus benar-benar berani serta dengan rela menanggalkan beban (keterikatan dengan percintaan dunia) dan dosa (keterikatan dengan hasrat dosa dalam daging). Menanggalkan beban dan dosa bukan hanya menunjuk satu langkah keputusan, melainkan sebuah proses panjang yang menuntut perjuangan berat sepanjang hidup. Ketika kita dalam proses menganggalkan beban dan dosa, kadang-kadang kita masih bisa berbuat salah. Kita tidak boleh putus asa dan berkesimpulan bahwa mencapai kehidupan yang tidak bercacat tidak bercela adalah hal yang mustahil. Perjuangan harus tetap dilakukan. Terkait dengan hal ini, Firman Tuhan berkata, “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa. Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah” (Ibr. 12:3-4). Firman Tuhan ini menasihati kita untuk tetap tekun dalam segala keadaan demi mencapai kehidupan yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10).
     
    Memang faktanya kita masih bisa berbuat salah, tetapi kita harus tetap bertekun untuk mengalami proses perubahan. Dalam hal ini, yang penting kita harus mengambil ketetapan hati untuk “putus hubungan” dengan dunia ini. Keputusan ini akan sangat membantu kita lepas dari beban—yaitu keterikatan dengan dunia—dan dosa—yaitu keterikatan dengan daging. Keputusan untuk putus hubungan dengan dunia harus terus di “update” setiap hari seiring dengan pengalaman pertobatan kita setiap hari yang tidak pernah berhenti. Dalam hal ini, siapa pun, baik aktivis jemaat, majelis, atau bahkan pendeta harus terus-menerus mengalami pembaharuan hidup guna mencapai kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu mengambil bagian dalam kekudusan Allah.
     
    Berketetapan untuk “putus hubungan dengan dunia” dan terus-menerus memperbarui komitmen tersebut sama dengan bersikap “dhel” dengan dunia. Memang tidak mudah melakukan hal ini, selain daging dan jiwa kita telah banyak diracuni oleh dunia ini, kita juga melihat banyak orang di sekitar kita yang tidak peduli dengan Allah. Hidup orang-orang di sekitar kita sangat sembarangan dalam irama hidup manusia yang fasik (tidak takut akan Allah dan tidak peduli kehendak-Nya). Tetapi, kita harus tetap pada sikap dan pendirian kita untuk “putus hubungan” dengan dunia ini. Komitmen putus hubungan dengan dunia ini harus selalu diperbaharui agar semakin kuat dan permanen. Hal ini kita lakukan sebab bukan tidak mungkin pengaruh dunia mendistorsi (mengeruhkan) motivasi pelayanan kita kepada Tuhan. Harus diingat, bahwa kuasa gelap tidak akan berhenti mencobai dan membujuk orang percaya agar meninggalkan kesetiaannya yang sejati kepada Kristus. Perjuangan untuk tetap dalam komitmen putus hubungan dengan dunia dan membangun hubungan yang ideal dengan Allah harus dilakukan sampai menutup mata. Untuk itu, kita harus peduli dengan perasaan Allah.
     
    Tidak mudah untuk dapat mengikuti perasaan Allah, tetapi kita akan banyak tertolong untuk dapat mengikuti perasaan Allah kalau berani bertindak “dhel.” Ini bukanlah sekadar teori untuk dianalisa atau dipikirkan. Ini adalah tindakan nyata yang harus diambil atau dilakukan secara konkret. Kita harus berani meninggalkan dunia, seperti yang Yesus perintahkan kepada orang muda yang kaya, “Juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Luk. 18:22). Perintah Yesus ini bisa dilukiskan dengan satu kata: “dhel.” “Dhel” adalah sikap radikal dalam mengikut Yesus. Ini berarti tidak menunda untuk berubah, tidak menyisakan kesenangan dunia, dan dengan segenap hidup tanpa batas bersedia melakukan apa pun yang dikehendaki oleh Allah.
     
    Persoalannya adalah bagaimana kita bisa bertindak “dhel” ini? Kita harus berani mengasihi Allah. Mengasihi Allah harus dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (Mat.
    0 min
  • PUTUS HUBUNGAN DENGAN DUNIA
    Ketika murid-murid minta diajari berdoa oleh Yesus, Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami. Dalam Doa Bapa Kami termuat kalimat, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:10). Kalimat ini merupakan panggilan untuk hidup di dalam pemerintahan Allah, yang sama dengan hidup berpusat pada Allah atau menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan. Dalam kalimat tersebut, Yesus mengajarkan bagaimana seseorang memiliki kehidupan yang teosentris; berpusat pada Allah. Oleh sebab itu, hendaknya orang percaya atau umat Perjanjian Baru tidak memandang dan menggunakan Doa Yabes—dan doa tokoh mana pun—sebagai pola doa dan pola kehidupan. Harus disadari bahwa Yesus tidak mengajarkan Doa Yabes atau doa tokoh iman lainnya. Kalau Doa Yabes itu penting, tentulah Yesus mengajarkannya juga kepada murid-murid-Nya. Doa Yabes memang tidak membuat seseorang menjadi murtad atau jahat, tetapi tidak membawa orang percaya kepada standar umat Perjanjian Baru.
     
    Orang percaya harus menghayati bahwa mereka adalah bagian dari diri Allah, karena kita adalah anak-anak-Nya. Itulah sebabnya, ketika orang percaya dianiaya oleh Saulus, Yesus berkata kepada Saulus, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” Kita adalah bagian dari Allah—dalam pengertian bahwa kita memiliki tempat di hati Allah. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Kita adalah orang-orang yang sudah bebas dari kutuk atau hukuman. Dengan hal ini, berkat yang sesungguhnya bukan lagi bicara mengenai harta materi dunia. Sebab, kalau kita melihat hidup Paulus, dia tidak mempunyai harta sedikit pun, rumah pun dia tidak punya. Dia seperti “gelandangan” karena dia mencontoh Gurunya yang prinsip hidup-Nya adalah: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Bagi orang percaya, kekayaan dunia telah diturunkan dari takhtanya. Orang percaya harus memikirkan perkara-perkara yang di atas saja. Sedangkan Doa Yabes adalah doa yang orientasinya masih pada pemenuhan kebutuhan jasmani.
     
    Ketika Doa Yabes diajarkan kepada jemaat, fokus hidup mereka menjadi tidak tertuju kepada Kerajaan Allah, jemaat tidak lagi berpusat atau tidak ber-“episentrum kepada Allah.” Doa Yabes berorientasi pada kehidupan di bumi ini. Padahal, Yesus mengajarkan kita untuk mencari Kerajaan Allah, mengumpulkan harta di surga, dan memindahkan hati ke surga (Mat. 6:21). Paulus, oleh ilham Roh mengatakan agar orang percaya memikirkan perkara-perkara yang di atas dan mencari perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Oleh sebab itu, orang percaya harus berani meninggalkan kesenangan dunia atau percintaan dunia. Seseorang yang mencintai dunia akan menjadikan dirinya musuh Allah. Orang percaya harus berani “putus hubungan” dengan dunia. Kita harus berani “dhel,” yang artinya memotong atau memenggal sesuatu dengan cepat tanpa ragu-ragu. Pemenggalan tersebut membuat dua bagian yang terpenggal tidak lagi terhubung sama sekali.
     Untuk melakukan tindakan “dhel,” diperlukan keberanian. Keberanian kehilangan segala sesuatu ini disaksikan oleh Paulus dalam hidupnya melalui tulisannya di Filipi 3:7-8 sebagai berikut: Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus. Dalam Doa Bapa Kami, kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga,” adalah kalimat doa yang membawa kita kepada kehidupan yang teosentris. Kita harus memerhatikan kata “Kerajaan-Mu,” berarti bukan kerajaan kita sendiri. Demikian pula kalimat “jadilah kehendak-Mu,” bukan “jadilah kehendakku.” Ini adalah ciri-ciri dari orang yang berpusat pada Allah.
     
    Di jagat raya ini, ada Entitas yang dahsyat, yang memenuhi jagat raya, yaitu Allah Bapa.
    0 min
  • BINGKAI PEMIKIRAN UMAT PERJANJIAN BARU
    Pusat pusaran kebenaran atau episentrum kebenaran adalah Perjanjian Baru. Semua yang diajarkan dalam Alkitab mengarah kepada apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan mengarah kepada Pribadi-Nya. Oleh sebab itu, kalau kita menyoroti kehidupan tokoh-tokoh Alkitab, harus dirujuk pada jiwa atau spirit Perjanjian Baru dan pribadi Yesus sendiri. Dalam hal ini, umat Perjanjian Baru harus berpikir dengan alam Perjanjian Baru, dan berpikir serta berperasaan seperti yang terdapat pada Yesus. Banyak pembicara mengutip ayat-ayat dalam Perjanjian Lama atau kisah-kisah dalam Perjanjian Lama yang memuat pelajaran-pelajaran rohani untuk dikenakan bagi umat Perjanjian Baru. Hal ini bisa membangun bangunan pemikiran yang salah, sebab standar hidup umat Perjanjian Baru adalah Yesus, bukan siapa pun. Hal ini bukan berarti kita membuang Perjanjian Lama, melainkan kita harus memahaminya dalam bingkai pemikiran umat Perjanjian Baru. Oleh sebab itu, kalau kita mengambil ayat-ayat Perjanjian Lama atau kisah-kisahnya, harus dikaitkan dengan Perjanjian Baru, khususnya pribadi Yesus sebagai rujukannya.
     
    Kalau kita belajar tentang Abraham, kita harus fokus pada percayanya Abraham kepada Yahweh dan jiwa kemusafirannya yang ternyata sinkron dengan Tuhan Yesus yang mengatakan, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Mat. 8:20). Dalam hal ini, hendaknya kita tidak menganggap penting kekayaan materi Abraham. Yesus tidak pernah menyinggung berkat Abraham yang dikaitkan dengan materi. Sejatinya, berkat Abraham adalah Yesus Kristus, yaitu keselamatan bagi semua bangsa (Kej. 12). Banyak pembicara hari ini yang sering menyinggung mengenai berkat Abraham yang fokusnya adalah kelimpahan materi. Dikesankan secara terang-terangan atau pun terselubung bahwa orang percaya (umat Perjanjian Baru) berhak memiliki berkat-berkat seperti yang dimiliki oleh Abraham. Hal ini menggiring fokus pemikiran orang Kristen kepada berkat jasmani, sehingga banyak orang Kristen menjadi duniawi.
     
    Kalau kita berbicara tentang Ishak, kita melihat kerelaan Ishak untuk dikurbankan tanpa memberontak. Dalam kisah ini, yang seharusnya menjadi pusat perhatian bukan hanya Abraham, melainkan juga Ishak yang memiliki kesediaan menjadi kurban bakaran. Kita menemukan dua sosok hebat, pertama Abraham yang merelakan anaknya sebagai kurban bakaran, yang mana hal ini bisa menunjuk kepada Allah Bapa yang rela memberikan Putra Tunggal-Nya. Kedua, Ishak yang rela memberikan dirinya sebagai kurban bakaran. Ishak menjadi gambaran Anak Tunggal Bapa. Kisah ini dapat memberi inspirasi kepada kita mengenai kesediaan Anak Allah yang tulus memberi diri menjadi kurban pendamaian bagi umat manusia. Dengan hal ini, kita dapat meneladani hidup-Nya.
     
    Berbicara tentang Daud, kita melihat kasihnya yang begitu kuat dan mendalam kepada Allah. Ia memiliki hati yang berkenan di hadapan Allah. Hati seperti ini juga ditunjukkan oleh Yesus dalam mengasihi Bapa yang dengan rela mengurbankan diri-Nya. Yesus taat kepada Bapa sampai mati di kayu salib. Hati Daud seperti inilah yang harus menjadi fokus perhatian kita. Kita melihat bahwa Allah mengajarkan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Hendaknya, kita tidak terperangkap oleh hal-hal yang bersifat minor dari kehidupan Daud, seperti yang dikemukakan banyak orang Kristen hari ini, yaitu puji-pujian dan tari-tarian yang dilakukan oleh Daud. Banyak orang ketika berbicara mengenai Daud selalu dikaitkan dengan hal-hal tersebut, sehingga hal yang lebih prinsip dari kehidupan Daud tidak dikemukakan. Harus diingat, bahwa Daud tidak menari setiap hari atau menyanyi seperti biduan setiap hari. Dalam hal ini, kita harus bisa menemukan hal-hal yang prinsip (major issue) untuk memberi pelajaran rohani bagi kita sebagai umat Perjanjian Baru, dan tidak terperangkap dengan hal-hal yang tidak prinsip (minor issue).
     
    0 min
  • MENEMBUS BATAS
    Pada dasarnya, mencari Allah sama dengan berusaha untuk mengalami kehadiran-Nya, untuk hidup dalam pemerintahan-Nya. Hidup dalam pemerintahan Allah artinya selalu melakukan kehendak Allah dan berusaha untuk menyelesaikan tugas yang Allah berikan kepada masing-masing individu. Maka, marilah kita mencari Allah dengan sungguh-sungguh! Hal ini tidak cukup hanya datang ke gereja beberapa kali seminggu. Sepanjang waktu hidup kita, setiap menit, setiap jam, setiap hari, kita memburu Allah demi menghadirkan Kerajaan Allah. Dengan demikian, kita baru benar-benar bisa masuk ke pusat pusaran kebenaran.
     
    Kalau hanya seminggu sekali ke gereja untuk memikirkan Allah, seseorang tidak akan bisa masuk ke pusat pusaran kebenaran. Orang percaya harus setiap saat ada di hadirat Allah, di mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan bagaimana pun. Hal ini dimaksudkan supaya “mesin kerohanian” bisa betul-betul beroperasi atau berjalan. “Mesin kerohanian” itu seharusnya berjalan meskipun perlahan; tentu yang dikehendaki “mesin anugerah” berjalan normal semaksimal mungkin. Orang percaya harus terus bergerak menuju ke pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran).
     
    Dalam segala keadaan, proses pertumbuhan kedewasaan harus terus berjalan, walau banyak pencobaan yang harus kita alami. Pencobaan itu bukan hanya pada waktu kita diejek, dihina, jatuh miskin, sakit (keadaan negatif menurut perspektif orang pada umumnya), melainkan juga waktu kita dipuji, disanjung, berlimpah harta, sehat, dan dalam keadaan yang positif (menurut perspektif orang pada umumnya). Bukan hanya pada waktu kita dalam kekurangan, melainkan juga dalam kelimpahan; bukan hanya pada waktu kita dalam keadaan tubuh yang sakit, melainkan juga pada waktu tubuh dalam keadaan sehat. Justru ketika kita dalam keadaan yang baik (positif), kita cenderung mudah berbuat kesalahan. Kadang- kadang, pada waktu keadaan nyaman, kita kurang menjadi waspada atau tidak berjaga-jaga, sehingga mesin kerohanian kita tidak berjalan dengan baik, padahal mesin kerohanian kita harus berjalan tiada henti. Bisa dimengerti kalau Tuhan mengajarkan kita untuk mengucap syukur dalam segala perkara, sebab dalam keadaan bagaimana pun Allah bisa menggunakannya untuk kepentingan Dia.
     
    Pada umumnya, banyak orang hidup tanpa tujuan, sehingga mereka hidup hanya untuk menikmati kesenangan sekarang di dunia ini, sebab bagi mereka keadaan-keadaan yang tidak nyaman merupakan penderitaan yang merenggut damai sejahtera mereka. Sebagai orang percaya, kita bukan manusia tanpa tujuan. Tujuan hidup kita adalah menghadirkan Kerajaan Allah itu. Hal mana tidak dikenal oleh anak-anak dunia. Pada umumnya, orang beragama menghadirkan Allah atau ilah yang dipercaya dalam sudut pandang mereka, yaitu hidup beragama yang diatur oleh hukum.
     
    Sedangkan bagi orang percaya yang benar, kesulitan hidup bukan merupakan siksaan, melainkan sarana belajar melakukan kehendak Allah. Orang percaya menghadirkan Allah yang dipercaya (Elohim Yahweh) dengan mengerti apa pun yang Dia kehendaki untuk dilakukan dan memiliki standar kesucian atau moral seperti Allah. Jika hal ini benar-benar diperjuangkan, orang percaya bisa sungguh-sungguh “menembus batas.”
     
    Kita harus bisa menembus batas dan merasakan atmosfer Allah, yaitu pemerintahan Allah di dalam hidup kita. Harga untuk menghadirkan Kerajaan Allah itu mahal. Harganya adalah karakter kita yang harus bisa mengikuti irama kehadiran Allah di dalam hidup kita. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu” (2Kor. 6:17). Di bagian lain tertulis, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:17). Untuk memiliki kekudusan tersebut, bagaimana pun harus melalui proses. Untuk itu, kita harus melewati proses melalui segala pencobaan-pencobaan dalam kehidupan ini. Dengan demikian,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…