Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • SECARA TUNAI DALAM KOMITMEN
    Dalam pertumbuhan iman Kristen, proses adalah fakta yang tidak dapat dibantah. Seperti sebuah organisme yang hidup, demikian hidup kekristenan kita mengalami sebuah proses perubahan. Kesucian hidup tidak bisa diraih dalam satu hari, tidak bisa dicapai dalam satu bulan, bahkan tidak cukup dengan beberapa tahun. Kesucian harus diperjuangkan sepanjang umur hidup kita. Hal ini seiring dengan proses pendewasaan rohani. Proses pendewasaan rohani, pada hakikatnya, sama dengan proses pertumbuhan kesucian, sama dengan proses mengenakan “kehidupan Yesus.” Hal ini juga disebut proses transformasi agar orang percaya tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi menjadi serupa dengan Yesus. (Rm. 12:1-2).
    Transformasi atau proses mengalami pertumbuhan rohani atau kedewasaan tidak boleh dikenakan untuk komitmen meninggalkan dunia. Komitmen meninggalkan dunia bukanlah proses, melainkan sebuah keputusan dalam satu momentum. Hal ini seperti sebuah ikatan perjanjian. Ikatan perjanjian tidak dilakukan secara bertahap, melainkan satu kali momentum. Selanjutnya, orang percaya harus berusaha untuk memenuhi komitmen tersebut. Tindakan memenuhi komitmen ditunjukkan dalam ketekunan belajar kebenaran tiada henti, menyediakan waktu bertemu dengan Allah, memerhatikan setiap peristiwa di mana di dalamnya Allah berbicara dan bersekutu dengan orang orang yang takut akan Allah, yang memiliki kerinduan yang sama.
    Meninggalkan dunia bukanlah proses, melainkan sebuah komitmen yang harus diambil dengan kesadaran penuh dan tekad yang kuat, dan dilakukan secara tunai dalam komitmen. Secara tunai dalam komitmen, artinya masih hanya berupa tekad dan janji, walaupun secara kenyataan kita belum bisa memenuhi komitmen tersebut dikarenakan keterikatan jiwa dan daging kita dengan dunia ini yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Keterikatan itu ada di wilayah jiwa dengan segala keinginan-keinginan dalam dan di wilayah daging dengan nafsu-nafsunya. Tentu saja pemisahan dua wilayah tersebut tidak mutlak tetapi relatif, sebab jiwa dan daging tidak dapat dipisahkan.
    Kita harus memiliki komitmen yang bulat untuk meninggalkan keindahan dunia dengan segala hiburannya. Komitmen ini dapat digambarkan seperti sebuah benda yang dilempar di sebuah pusat pusaran air yang akan memutar dengan cepat benda tersebut. Demikian pula orang orang percaya, harus berani masuk pusat pusaran kebenaran, kehidupan yang sama dengan kehidupan yang dikenakan oleh Yesus. Orang percaya yang melakukan komitmen meninggalkan dunia atau berani masuk dalam pusat pusaran kebenaran akan mengalami kelelahan yang hebat karena merasakan betapa sukarnya ikut Yesus. Tetapi, ia harus bertekun dalam pergumulan tersebut untuk dapat menyesuaikan diri dengan putaran kehidupan mengikut Yesus.
    Dulu, saya berpikir bahwa melalui proses pendewasaan rohani, saya baru bisa meninggalkan dunia dan kemudian bisa mengikuti irama mengikut Yesus. Selama dalam proses yang saya alami di mana saya berharap dapat meninggalkan dunia, ternyata tidak kunjung bisa. Hal tersebut disebabkan saya tidak memiliki komitmen yang bulat untuk meninggalkan dunia ini. Komitmen yang utuh untuk meninggalkan dunia bukanlah hasil proses pendewasaan, melainkan mengawali proses pendewasaan. Yesus menghendaki kita harus meninggalkan segala sesuatu dulu, barulah menjadi murid (Luk. 14:33); bukan menjadi murid dulu, baru bisa meninggalkan segala sesuatu.
    Ketika Yesus memanggil murid-murid, mereka dalam keadaan belum memahami maksud keselamatan yang Yesus kerjakan. Mereka mengikut Yesus hanya karena mereka mau mengubah nasib, yaitu dari seorang nelayan untuk menjadi hulu balang atau pejabat kerajaan, karena mereka berpikir bahwa Yesus akan menjadi raja seperti Herodes atau kaisar Roma. Itulah sebabnya, beberapa kali mereka bertengkar mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka di dalam Kerajaan Yesus Kristus nanti. Bahkan, orangtua Yohanes meminta agar anak-anaknya mendapat kedudukan yang tinggi di dalam Kerajaan...
    0 min
  • TUNAI DIBAYAR
    Banyak orang Kristen yang mengalami pergumulan seperti pergumulan yang saya alami selama bertahun-tahun. Bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi merasa selalu gagal untuk menyenangkan hati Tuhan. Bertahun-tahun merindukan sebuah kehidupan yang sempurna, tetapi selalu gagal dan merasa tidak akan pernah bisa menjangkaunya. Sampai suatu hari, setelah sekian puluh tahun jatuh bangun, saya menemukan satu formula kehidupan yang mengubah hidup saya, walaupun masih harus terus berproses. Berangkat dari apa yang saya pahami mengenai kehidupan orang Kristen abad pertama, bagaimana Tuhan memisahkan mereka dari Yudaisme (agama Yahudi); Tuhan memisahkan mereka (cut off) secara drastis dari masyarakat yang fanatik dalam beragama. Tokoh-tokoh agama mereka berusaha memunahkan kekristenan dengan melakukan persekusi terhadap orang Kristen. Demikian juga orang percaya juga dipisahkan diri dunia secara drastis melalui aniaya yang dilakukan oleh kekaisaran Roma. Dengan aniaya tersebut, orang percaya terpisah dari kenikmatan hidup di dunia ini.
    Saya percaya, format ini menjadi format penting yang dapat menjadi pola atau landasan hidup orang percaya sepanjang zaman. Pola itu adalah memutuskan hubungan dengan dunia. Istilah yang saya gunakan adalah “dhel” (cut off). Tentu landasan kebenaran untuk hal ini bukan hanya dari fakta sejarah ini, melainkan juga ayat-ayat Alkitab yang juga sangat mendukung. Bagaimana kita bisa membangun hidup kekristenan yang benar, untuk mencapai kehidupan yang semakin benar-benar sempurna, sehingga kita berkenan kepada Allah? Dalam 1 Korintus 6:19-20 tertulis bahwa Tuhan telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar. Kalimat “lunas dibayar” menunjukkan bahwa pembayaran tersebut bukan membayar secara bertahap seperti mengangsur, melainkan cash atau tunai. Ini berarti, dalam satu kali pembayaran secara de jure oleh Yesus dengan menebus kita, kita ini sudah lunas menjadi milik Allah. Berangkat dari konsep ini, kita juga harus berani bersikap bahwa kita adalah milik Tuhan yang sudah tidak lagi dimiliki dunia, bahkan tidak dimiliki oleh diri kita sendiri. Pembayarannya sudah lunas.
    Dulu, saya berpikir bahwa Allah menolerir sikap saya, kalau saya dimiliki oleh Allah secara bertahap. Biasanya, kita menyebutkannya sebagai “proses.” Fakta kehidupan rohani yang kita jalani menunjukkan bahwa kita tidak pernah dimiliki oleh Allah secara bertahap. Sebaliknya, kita selalu memiliki diri kita sendiri. Sementara itu, kita membuka hidup kita terhadap banyak keinginan dunia, maka berarti kita selalu dimiliki oleh dunia ini. Sementara itu pula, di kedalaman hati kita ada jeritan: “Mengapa saya tidak bertumbuh secara signifikan sebagai anak-anak Allah? Mengapa saya tidak bertumbuh mencapai kesucian yang berarti?” Faktanya, memang masih banyak perasaan negatif yang menguasai kita; seperti kesombongan, mau menjadi berharga, mudah tersinggung, mudah kecewa, sukar menerima orang lain, mudah meledakkan kemarahan, dan lain sebagainya. Dalam daging, kita masih bisa merasakan keinginan-keinginan yang kadang-kadang mendesak untuk dipuaskan. Hal-hal ini menunjukkan bahwa kita merasa berhak atas diri kita sendiri. Padahal, secara tunai Yesus telah membeli kita.
    Dalam Lukas 14:33, tertulis: “Tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Seseorang harus melepaskan diri dari segala miliknya, ia baru bisa menjadi murid. Dulu, saya berpikir bahwa melepaskan diri dari segala milik bisa kita lakukan secara bertahap. Hal ini didasarkan bahwa melepaskan diri dari segala milik bukan sesuatu yang mudah, dan faktanya kita sering gagal. Jadi, saya berpikir bahwa Allah menolerir kalau pelepasan diri dari segala milik bisa dilakukan secara bertahap. Sama seperti penjelasan di atas, hal ini membuat kita tidak pernah bisa memiliki kemajuan rohani yang berarti. Kita harus berani bertekad untuk membuat komitmen bahwa kita sudah meninggalkan dunia ini.
    0 min
  • SUDAH ADA DALAM PERLINDUNGAN-NYA
    Kalau kita teliti memerhatikan fenomena kehidupan orang Kristen dewasa ini, kita dapat menemukan adanya penyesatan yang benar-benar merusak dan mematikan kehidupan iman. Penyesatan tersebut berupa ajaran yang mengesankan bahwa orang percaya berhak memiliki kepentingan sendiri dalam hidup ini. Oleh karenanya, mereka merasa berhak menuntut Tuhan melakukan sesuatu bagi diri mereka, yaitu menuntut sesuatu yang dirasakan sebagai suatu kebutuhan. Ajaran seperti ini sangat kuat diajarkan kepada jemaat. Bagi mereka yang belum dewasa dan belum memahami tujuan hidup—bahwa tujuan hidup kita adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya, dan bahwa kita tercipta hanya untuk Tuhan—mereka menjadikan kepentingannya sendiri sebagai tujuan hidup. Tentu mereka tidak akan memedulikan kepentingan Tuhan sama sekali. Mereka tidak tahu apa yang dimaksud hidup untuk kemuliaan Allah.
    Banyak pemahaman yang berbeda-beda mengenai apakah yang dimaksud hidup untuk kemuliaan Allah. Di antara pemahaman-pemahan tersebut, antara lain bahwa kalau seseorang sudah menyanyi, memuji-muji nama Tuhan di gereja, berarti sudah memuliakan Allah. Membuat maju pekerjaan Tuhan dengan menambah jumlah jemaat, membangun rumah ibadah, berarti sudah memuliakan Allah. Padahal, semua itu belum menjawab apa yang dimaksud dengan hidup untuk kemuliaan Allah. Hidup untuk kemuliaan Allah adalah menyerahkan segenap hidup untuk kesukaan hati Bapa. Ini berarti segala sesuatu yang kita lakukan bertujuan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan.
    Banyak orang hidup hanya untuk memiliki sebuah kehidupan seperti yang dikehendaki atau yang diinginkan. Sedangkan, ukuran hidup yang diinginkan adalah gaya hidup manusia di sekitarnya. Sebuah gaya hidup yang jauh dari standar yang Tuhan inginkan. Standar hidup yang dimiliki biasanya antara lain: sekolah, kuliah, berpendidikan dan bergelar, mencari nafkah, menemukan pasangan hidup, punya anak, membesarkan anak, mencari menantu, menjaga cucu, dan lain sebagainya. Jadi, banyak orang menjalani hari hidup hanya untuk sebuah standar hidup ini. Standar hidup yang telah diraih, diperjuangkan mati-matian tanpa batas. Inilah yang Paulus maksudkan dengan makan dan minum, besok kita mati (1Kor. 15:32).
    Untuk mempertahankan eksistensi kehidupan seperti manusia pada umumnya, seseorang menjadi orang beragama untuk berurusan dengan Tuhan. Tuhan sebagai andalan untuk meraih standar hidup tersebut. Orang-orang seperti ini berurusan dengan Tuhan bukan karena urusan Tuhan, bukan untuk kemuliaan Tuhan, melainkan urusannya sendiri; kemuliaan sendiri. Dan banyak orang yang mengaku hamba Tuhan malah mendukung pengertian yang salah ini. Cara beragama seperti ini sudah jadi ukuran umum atau standar yang benar menurut banyak orang. Kebanyakan orang Kristen pun juga demikian adanya. Pengajaran yang salah makin merajalela. Pola pikir yang salah makin tertanam di hati dan pikiran banyak orang Kristen hari ini. Inilah yang membuat banyak orang Kristen gugur dalam menghadapi pengaruh dunia yang semakin fasik.
    Kalau pengertian yang salah ini ada pada orang yang masih baru menjadi Kristen, hal ini cukup dimengerti dan ditolerir; tetapi kalau seseorang sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, cara berpikir yang salah ini sungguh-sungguh menyedihkan hati Tuhan. Tuhan mau meningkatkan kualitas hidup orang percaya sesuai dengan yang dikehendaki–Nya, tetapi ia mengajak Tuhan masuk bisnis atau urusannya sendiri, tanpa mengerti rencana Tuhan. Banyak orang mencoba menggunakan atau memanfaatkan Tuhan untuk memberi kemuliaan kepada diri mereka sendiri. Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Kamu mencari Aku bukan karena melihat tanda itu, tetapi karena kamu telah makan roti sehingga kenyang” (Yoh. 6:26). Jadi, pernyataan Yesus tersebut berarti mereka lebih “mementingkan perut” daripada rencana Tuhan. Tuhan datang untuk memberi hidup–Nya, agar hidup-Nya diteladani atau dikenakan, tetapi mereka masih mempertahankan hidup mereka sendiri untuk kepuasan daging mereka.
    0 min
  • TUJUAN HIDUP YANG BENAR
    Banyak orang berusaha membuktikan kebaikan Tuhan dengan cara atau model sendiri. Mereka berusaha untuk dapat membuktikan bahwa Tuhannya baik dengan bukti hidupnya dibuat tidak bermasalah, makmur, dan membanggakan. Mereka tidak mengenal Allah dengan baik. Untuk ini, perlu kita memerhatikan Ayub 42:2. Ayub berkata, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Rencana Tuhan tidak pernah gagal. Demi penggenapan rencana–Nya, Tuhan harus menggagalkan rencana-rencana Ayub. Ini sama dengan peristiwa Natal. Demi rencana keselamatan Allah, Allah Bapa menggagalkan rencana Maria. Masa depan dan cita-cita Maria menjadi berantakan dengan kehamilannya, sehingga rencana Allah digenapi.
    Dalam hal ini, kita baru bisa mengerti apa yang dimaksud dengan: Rela kehilangan nyawa (Mat. 10:39). Kata “nyawa” di sini adalah psuke (jiwa). Dalam jiwa, ada keinginan dan hasrat. Mengikut Yesus harus menanggalkan hawa nafsu dan keinginannya (Gal. 5:24). Inilah penyangkalan diri yang benar. Penyangkalan diri bukan hanya sikap penolakan terhadap perbuatan-perbuatan yang dikategorikan sebagai dosa, melainkan kesediaan untuk tidak mengenakan naluri kemanusian atau hasrat manusia pada umumnya, kemudian melakukan kehendak Allah.
    Ketika seseorang berusaha mencapai standar hidup seperti manusia lain, ia sedang mengejar sesuatu untuk kesenangan dirinya sendiri. Tentu saja, orang-orang seperti tidak berusaha mengerti kehendak Allah untuk dilakukan dan tidak berusaha menemukan rencana Allah untuk dipenuhi. Orang Kristen seperti ini sebenarnya percuma mengucapkan kalimat: “Datanglah kerajaan-Mu” dalam Doa Bapa Kami. Pada dasarnya, mereka hidup dan berjuang hanya untuk menghadirkan kerajaannya sendiri. Mereka tidak berusaha untuk “merealisasikan” kehendak Allah, tetapi hanya merealisasi kehendaknya sendiri. Mereka tidak memiliki Kerajaan Allah, sehingga suatu hari nanti tidak akan terhisab di dalam anggota keluarga Kerajaan Allah.
              Banyak orang belum mengerti bagaimana merealisasikan kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah dengan baik itu, dan mereka tidak pernah mempersoalkan dengan serius, karena mereka tidak merasa perlu untuk mempersoalkannya. Bagi banyak orang, merealisasikan kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah adalah hal yang abstrak. Orang-orang seperti ini, kalau tidak bertobat dan merubah diri, tidak akan pernah mengalami bagaimana memiliki hidup yang benar, hidup yang berkualitas tinggi, dan hidup yang akan berkelanjutan di langit baru dan bumi baru. Hanya orang-orang yang hidup bagi Tuhan atau untuk kemuliaan Tuhan yang akan melanjutkan hidupnya di kekekalan.
    Inilah faktanya, banyak orang yang hidup bagi diri sendiri. Rumus hidupnya adalah “selalu untukku.” Inilah orang-orang yang tidak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya. Selalu membuka mata untuk mengumbar keinginan, guna memperoleh sebanyak-banyaknya apa yang disediakan dunia yang juga dimiliki oleh orang lain. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak memiliki kasih akan Bapa. Mereka tidak mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budinya. Hal ini sangat berbahaya, sebab orang yang tidak mengasihi Tuhan adalah orang-orang yang terkutuk (1Kor. 16:22).
    Mereka yang hidup dalam keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup adalah orang-orang yang tidak mengasihi Allah. Keinginan daging artinya kepuasan diri dalam dagingnya; keinginan mata artinya hasrat memiliki pemenuhan kebutuhan jasmani seperti yang orang lain miliki; dan keangkuhan mata adalah kehormatan yang diharapkan diberikan orang kepada dirinya. Kehormatan ini bisa dibeli dengan kekuasaan, pangkat, gelar, uang, penampilan, perhiasan, dan lain sebagainya. Di manakah posisi Anda hari ini? Jika tidak pada posisi yang benar, cepatlah berbalik dan bertobat.
                  Untuk dapat mewujudkan Firman Allah dalam 1 Korintus 10:31, yaitu “hidup untuk kemuliaan Allah atau hidup bagi Allah,
    0 min
  • MEMERIKSA ARAH HIDUP
    hidup kekristenannya. Rasul Paulus dalam suratnya berkata, “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul” (1Kor. 9:26). Bagai seorang atlet yang sedang turun di medan pertandingan, Paulus tahu persis di mana garis finish-nya; ia tahu ke mana seharusnya ia melangkah. Ia harus berlari, dan harus terus berlari, bukan berjalan. Hal ini menunjuk kepada pergumulan kompetisi yang hebat dalam pertandingan itu. Untuk itu, arah sangat penting, bukan hanya kecepatan langkah yang harus dimilikinya, melainkan juga arah langkahnya. Hidup ini adalah sesuatu yang sangat hebat, pergumulan yang yang luar biasa. Artinya, sesuatu yang yang harus digumuli secara serius. Pergumulan itu bukan terletak pada sukarnya mencari nafkah, sukarnya mempertahankan reputasi, membela harga diri dan nama baik, mengokohkan kedudukan dan kekuasaan dunia, melainkan mempertahankan konsistensinya pada arah perjalanan hidup yang benar.
    Seseorang yang arah hidupnya sudah benar, harus terus bertahan untuk ada pada jalur yang benar, tidak boleh menyimpang. Terdapat banyak tekanan dalam hidup ini, tekanan yang bertujuan agar kita keluar dari jalur perjalanan hidup yang benar yang sudah kita miliki. Tentu rangsangan dan tekanan itu datang dari si musuh, yaitu kuasa gelap. Tentu tekanan ini dalam berbagai bentuk dan cara. Kita harus tetap waspada dan berjaga-jaga agar kita dapat mengenali tipu daya si musuh tersebut. Tekanan ini disebutkan oleh Petrus sebagai “penderitaan” yang dialami semua saudara seiman di seluruh dunia (1Ptr. 5:9). Dalam hal ini, kita mengerti mengapa Paulus menasihati kita dengan ucapan: “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1Kor. 10:12).
    Seseorang yang sudah salah arah perjalanan hidupnya, sukar dikembalikan ke jalur yang benar. Seorang yang pernah dijamah Tuhan dan berjalan di jalan kebenaran-Nya, kalau ia jatuh dalam dosa dan menyimpang dari kebenaran Allah, tidak mudah kembali ke jalan kebenaran Allah. Oleh sebab itu, kita harus menjaga integritas diri. Dalam suratnya kepada jemaat Filipi, Paulus berkata, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus” (Flp. 3:13-14). Dalam pernyataannya ini, kita menemukan kembali sikap hidup Paulus yang menunjukkan bahwa ia memiliki arah hidup yang jelas. Kehidupan Paulus adalah kehidupan yang bertujuan jelas. Perlu kita memerhatikan kalimat dalam Filipi 3:13-14, yaitu “berlari-lari kepada tujuan.” Untuk ini, sejenak kita patut berhenti merenungkan hidup kita ini, apakah arah perjalanan hidup kita sudah benar? Dari hari ke hari, kita melangkah dalam kepadatan kesibukan dan tugas. Untuk ini, kita harus memeriksa ke mana arah hidup kita sebenarnya.
    Dalam kenyataannya, kita menjumpai banyak manusia yang hidup dalam kelelahan tanpa menemukan hasil yang akan dapat dituai dalam kekekalan. Ini berarti menjalani hidup dengan sia-sia, kelelahan yang sia-sia. Banyak manusia yang akhir hidupnya sangat tragis. Setelah melalui pergumulan panjang dalam hidup mencari nafkah, memburu karier, sukses hidup menurut pola dunia, berkeluarga, dan lain-lain, akhirnya meninggal dunia dalam kemiskinan rohani. Hal ini dialami oleh orang kaya yang dilukiskan Tuhan Yesus dalam Lukas 12:13Ternyata banyak orang Kristen yang tidak memiliki sasaran yang jelas dalam -21. Tuhan Yesus mengomentari manusia seperti sebagai berikut: “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Luk. 12:21). Ia adalah orang bodoh, sebab pada akhirnya ia tidak dapat menikmati kekayaannya itu dan tidak memiliki hidup kekal.
    Dunia kita hari ini adalah dunia yang sedang dilawat Allah, tetapi sayang sekali banyak orang yang tidak mengerti l...
    0 min
  • TERBAWA ARUS DUNIA
    Banyak orang yang sedang terbawa arus dunia, dimana tanpa mereka sadari mereka semakin masuk ke dalam pusat pusarannya. Kuasa gelap pun selalu berusaha membuat mereka terbuai oleh berbagai kesenangan hidup, kesibukan, dan lain sebagainya, sehingga tidak menyadari keadaan yang sangat mengerikan tersebut. Ini berarti akan semakin menutup kemungkinan untuk bisa berbalik kepada Tuhan. Kesenangan hidup telah membutakan mata hati dan pengertian mereka, sehingga mereka tidak menyadari keadaan tersebut. Padahal, mereka sudah mendekati jurang atau semacam jeram yang akan menjatuhkan mereka ke dalamnya sehingga mereka tidak akan pernah bisa balik. Keadaan orang-orang ini sudah dinyatakan oleh Kitab Wahyu.
    Itulah sebabnya Firman Allah mengatakan: “Pergilah kamu, hai umat-Ku, pergilah dari padanya supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya” (Why. 18:1-5). Seperti Lot dan keluarganya meninggalkan Sodom dan Gomora dengan berlari dan tidak boleh menoleh ke belakang, demikianlah kita yang hidup di abad yang kemungkinan abad terakhir ini. Tuhan Yesus sudah berpesan agar kita tidak menjadi seperti istri Lot (Luk. 17:32). Pernyataan Tuhan ini bermaksud agar kita rela meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Untuk bisa meninggalkan Tuhan dengan segala kesenangannya, ini membutuhkan waktu. Jika tidak segera dilakukan, seseorang tidak akan sanggup meninggalkannya.
    Tidak sedikit orang-orang baik dalam gereja, bahkan bisa dianggap sebagai rohani dan bijaksana, yang belum meninggalkan dunia ini. Mereka bisa melakukan pekerjaan pelayanan gereja, tetapi mereka masih hidup dalam percintaan dunia. Mereka memiliki kerajaan sendiri di samping Kerajaan Allah. Kalau kita menyadari keadaan ini, kita tidak boleh menunda untuk berbalik kepada Tuhan agar segera meninggalkan dunia ini dan terus berlari menuju Kerajaan-Nya. Segala sesuatu bisa atau boleh ditunda, tetapi satu hal ini—meninggalkan dunia—tidak boleh ditunda karena menyangkut nasib atau keadaan kekal kita. Sesuai Firman Allah, kita harus berlari untuk menjauhi kehidupan yang tidak sesuai dengan standar anak Allah. Harus berlari—bukan sekadar berjalan—sebab tarikan dunia sangat kuat. Kalau seseorang tidak serius meninggalkan percintaan dunia dengan sungguh-sungguh, ia tidak pernah bisa meninggalkannya sampai selamanya. Ini berarti taraf menghujat Roh Kudus.
    Semakin masuk pusat pusaran arus Tuhan, seseorang akan mengikis potensi “menoleh ke belakang.” Untuk berbagai hal, banyak orang tidak membatas diri, seperti untuk studi, karier, bisnis, kesehatan, hobi, dan lain sebagainya. Tetapi untuk Tuhan, mereka begitu membatasi diri. Banyak orang Kristen yang membatasi diri tidak masuk ke dalam pusat pusaran arus Tuhan. Kuasa gelap berusaha menggiring orang-orang ini untuk memiliki banyak kesibukan dan kesenangan, sehingga tidak menyediakan diri yang memadai bagi Tuhan guna mencari Kerajaan-Nya. Orang-orang akan dibuat atau didorong kuasa kegelapan untuk all out bagi kesenangannya sendiri, bukan untuk Tuhan. Tanpa sadar, mereka telah tergiring ke api kekal
    Perlu dipertanyakan: Mengapa untuk banyak hal seseorang “habis-habisan” atau all out, tetapi mengapa untuk Allah seseorang tidak bisa berbuat demikian? Ini berarti tidak mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi (Mat. 22:37-40). Orang yang tidak mencintai Tuhan Allah dengan segenap hati, cintanya tidak bisa dinikmati oleh Tuhan. Tuhan belum merasa sudah menemukan cinta dalam hati orang-orang seperti itu. Cinta yang dinikmati oleh Allah adalah cinta kepada-Nya dengan “segenapnya.” Orang yang belum mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, berarti orang yang masih terbawa arus dunia. Mereka belum bisa menjadi mempelai Tuhan. Mereka tidak akan diterima sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah, sebab belum menjadi anak kesukaan Bapa. Untuk hal ini, seseorang tidak dipaksa Tuhan.
    0 min
  • ARUS KEBENARAN TUHAN
    Untuk merubah cita rasa lidah, ada dua hal yang dilakukan. Pertama, pengetahuan mengenai kesehatan berkenaan dengan apa yang kita konsumsi, misalnya kadar kolesterol pada berbagai jenis makanan yang biasa dikonsumsi. Hal kedua adalah komitmen untuk tidak mengonsumsinya atau merubah pola makan dan gaya hidup. Ketika memahami pengetahuan mengenai nutrisi dan kesehatan, kita mulai mengerti terhadap berbagai jenis makanan yang harus pantang dimakan. Mindset kita diubah, kita memandang beberapa jenis makanan yang dulu merupakan makanan favorit, sekarang menjadi seperti racun di mata kita. Mulai ada penolakan dalam diri kita terhadap makanan tertentu. Kalau suatu kali harus mengonsumsinya, ada perasaan tidak nyaman walau lidah merasakan lezat. Penolakan tersebut harus diteguhkan oleh komitmen untuk tidak mengonsumsinya.
    Komitmen atau tekad mengikut Yesus dengan meninggalkan dunia harus diperbaharui setiap hari. Sampai suatu hari nanti, seseorang berhasil untuk tidak mengonsumsi sama sekali makanan yang memang tidak boleh dimakan. Langkah seperti ini telah berhasil dilakukan oleh banyak orang dari berbagai kalangan dan agama. Hal itu dilakukan demi kesehatan yang mereka ingin miliki dan demi panjang umur. Hal ini menunjukkan bahwa memang tidak mudah untuk memiliki kesehatan dan panjang umur di bumi ini. Hal ini paralel dengan merubah cita rasa jiwa. Jiwa yang biasa mengonsumsi keindahan dunia, rasa puas, dan bahagia memiliki berbagai fasilitas, kesukaan dipuji dan dihormati manusia lain, dan menikmati nafsu daging yang tidak sesuai dengan norma kesucian Tuhan, tidak mudah disingkirkan dari diri kita.
    Cita rasa jiwa terhadap dunia membuat seseorang tidak memiliki hati yang mengasihi Bapa. Tidak mengasihi Bapa berarti tidak menghormati Dia. Siapa pun orang Kristen seperti itu tidak akan diterima di Kemah Abadi dalam Kerajaan-Nya. Mereka membinasakan dirinya sebab berlaku kurang ajar terhadap Allah Bapa. Inilah orang-orang Kristen yang sebenarnya tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Sebab, kalau seseorang mengaku percaya, berarti ia tinggal di dalam Dia. Tinggal di dalam Dia berarti hidup dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus dengan mengenakan cara hidup Yesus dalam dirinya setiap hari. Dan orang yang tinggal di dalam Tuhan Yesus wajib seperti Dia hidup (1Yoh. 2:6). Hidup seperti Yesus hidup berarti taat kepada kehendak atau keinginan Bapa sebagai sikap hormat terhadap Dia.
    Bagaimana pun, akhirnya setiap individu harus menentukan apakah akan terus terhanyut oleh arus dunia dengan mengikuti jalannya, atau hanyut oleh arus kebenaran Tuhan dengan mengikuti jalan Tuhan. Dua arus ini masing-masing memiliki pusat pusaran. Semakin jauh dari pusat pusaran, arusnya lemah, dan dua arus tersebut bersinggungan satu sama lain. Kalau seseorang semakin masuk pusat pusaran salah satu arus, maka semakin tidak dapat diseret keluar. Kalau seseorang masuk pusat pusaran dunia, ia tidak bisa kembali kepada arus pusaran Tuhan atau sebaliknya. Perlu diwaspadai bahwa arus dunia ini sangat kuat, bagai banjir bandang yang menyeret semua yang ada di sekitarnya. Faktanya, memang lebih banyak orang terseret oleh arus dunia yang membawanya menuju kebinasaan daripada terseret arus Tuhan.
    Hendaknya, kita tidak berpikir dangkal, seakan-akan kalau sudah sudah bergereja atau beragama berarti tidak terseret oleh arus dunia ini. Dalam kelicikan hati manusia, ada orang-orang yang merasa bahwa dirinya sudah dibawa arus Tuhan karena melakukan berbagai aktivitas gerejani, hal mana tidak dilakukan oleh orang yang telah meninggalkan Tuhan, yaitu mereka yang telah terbawa arus dunia. Apalagi kalau membandingkan diri mereka dengan orang-orang yang melakukan berbagai pelanggaran moral, maka orang-orang Kristen tersebut merasa bahwa mereka sudah ada di arus Tuhan. Sesungguhnya kegiatan gereja, jabatan aktivis gereja, majelis, bahkan pendeta bukanlah jaminan kalau mereka tidak terbawa arus dunia. Apakah seseorang terbawa salah satu arus dapat dikenali dari cara...
    0 min
  • KEHIDUPAN YANG BERKUALITAS

    Terdapat pernyataan bahwa bagaimana kualitas fisik seseorang sangat ditentukan oleh apa yang dikonsumsi. Dalam rentang waktu panjang, kalau seseorang mengonsumsi jenis makanan tertentu, dampaknya bukan saja pada kualitas fisik melainkan juga cita rasa lidahnya. Inilah yang menjadi persoalan berat bagi mereka yang hendak menurunkan berat badan atau diet supaya memiliki kesehatan yang prima. Hal ini analog atau sejajar dengan kehidupan rohani seseorang. Kualitas kerohanian atau iman seseorang sangat ditentukan oleh jenis filosofi, doktrin, ajaran atau pemahaman yang diserapnya, yang juga menciptakan cita rasa jiwa atau selera jiwa. Inilah yang menjadi sulit untuk diubah.
    Ketika seseorang sadar bahwa ia telah mengonsumsi menu jiwa yang salah, seharusnya segera beralih mencari asupan yang benar, yaitu kebenaran Firman Allah yang murni. Tetapi cita rasa atau selera jiwa belum bisa diubahkan dalam waktu yang singkat. Dibutuhkan ketekunan untuk terus menerus memperbaharui “mindset”nya dalam waktu yang panjang. Merubah cita rasa atau selera jiwa membutuhkan waktu yang benar-benar panjang. Bahkan, kadang-kadang juga harus melalui pukulan, yaitu kejadian-kejadian yang menggoncangkan jiwa dan menekan perasaan. Sebab kalau “guratan” sirkuit jiwa yang diakibatkan pengalaman masa lalu sudah mendalam, tidak mudah untuk menghapus atau menghilangkannya. Harus ada guratan baru yang melampaui guratan yang sudah ada. Padahal, membuat guratan baru tidak mudah. Dituntut kerja keras dan rentang waktu yang cukup.
    Yesus sendiri belum cukup mendidik murid-murid-Nya selama tiga setengah tahun untuk menjadikan mereka dapat memahami kebenaran-kebenaran Tuhan dengan mindset yang baru. Setelah kebangkitan-Nya, murid-murid dalam kebodohan masih meminta atau menuntut agar Tuhan Yesus memulihkan Kerajaan Israel duniawi. Rupanya, tiga setengah tahun belum cukup merubah cita rasa dan selera jiwa murid-murid Yesus tersebut. Mereka masih berpikir duniawi. Mereka belum memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Mereka tidak merindukan “Firdaus Allah yang benar.” Mereka masih ingin membangun firdaus mereka sendiri. Mereka masih memiliki cita rasa dan selera firdaus di bumi, bukan langit baru dan bumi yang baru. Kalau hal ini tidak segera ditanggulangi, seseorang tidak pernah dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus dalam Kerajaan-Nya. Ini suatu kerugian yang luar biasa. Sarana yang mahal yang Tuhan sediakan untuk mengubah cita rasa atau selera jiwa ini adalah waktu.
    Allah Bapa dalam keagungan kepribadian-Nya, menghendaki agar anak-anak-Nya memiliki kehidupan yang berkualitas. Berkualitas menurut ukuran Tuhan. Kehidupan yang berkualitas tercipta ketika seseorang memiliki cita rasa Ilahi atau indera rohani seperti Yesus. Cita rasa atau indera rohani Yesus adalah menikmati kehidupan yang melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan Allah Bapa, bukan menikmati yang lain (Yoh. 4:34). Dengan melakukan itu, Yesus menikmati hidup-Nya sebagai Anak Allah yang dapat memuaskan hati Bapa (Mat. 3:17). Keadaan hidup ini dapat menjadi kepuasan diri yang kudus.
    Melakukan kehendak Bapa menjadi kepuasan diri yang tidak tertandingi oleh kepuasan apa pun, sampai menjadi ikatan yang positif atau kudus. Inilah orang-orang yang menyembah Allah Bapa dengan benar. Orang Kristen seperti ini dapat menikmati dirinya sama seperti Bapa menikmatinya. Dengan demikian, ia tahu apakah dirinya nanti di hadapan Tuhan di akhir zaman dikenal atau tidak. Oleh sebab itu, baginya Tuhan tidak perlu berterus terang, baik nanti maupun sekarang ini selama ia hidup, sebab ia sudah bisa tahu atau merasakan apakah ia dikenal oleh Dia atau tidak. Dalam hal ini, seorang yang akan dikenal atau ditolak oleh Allah sudah tampak gejala dan ciri-cirinya mulai sekarang.
    Hal ini berbeda dengan manusia berdosa yang menikmati dirinya secara salah, yaitu memuaskan dirinya dengan fasilitas hidup dunia, kehormatan, sanjungan dan pujian manusia.
    0 min
  • MENYALIBKAN YESUS

     
    Hidup kekristenan yang benar menghasilkan suatu sikap dan perasaan cukup dan puas terhadap segala hal, kecuali keberadaan diri di hadapan Tuhan. Dalam segala hal, orang percaya harus merasa cukup dan puas, tetapi mengenai pencapaian kesucian hidup serta pengenalan akan Tuhan, tidak boleh merasa puas. Inilah ciri orang yang sudah lahir baru, mereka tidak akan pernah merasa puas dalam hal tersebut sampai kembali ke Rumah Bapa. Kerinduan untuk berkenan kepada Tuhan dan mengenal Allah semakin hari semakin kuat (Flp. 3:9-11). Sehingga hal tersebut bukan lagi menjadi suatu kewajiban melainkan kebutuhan yang selalu dirasa penting dan selalu mendesak, yang mutlak harus terpenuhi. Inilah yang dimaksud dengan haus dan lapar akan kebenaran (Mat. 5:6). Hal inilah yang akan menghentikan nafsu keserakahan dari keinginan daging dan mata, serta gila kehormatan atau keangkuhan hidup.
    Kalau Firman Allah menganjurkan agar orang percaya merasa cukup—yaitu asal ada makanan dan pakaian—ini tidak dimaksudkan agar orang percaya menjadi miskin, tetapi agar tidak terbelenggu oleh berbagai keinginan untuk memiliki apa yang orang lain miliki atau yang dunia sediakan. Dengan demikian, orang percaya dapat merasa cukup dan puas berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi selalu merasa belum puas berkenaan dengan keberkenanan di hadapan Tuhan. Orang percaya yang telah lahir baru tidak mengingini apa pun yang disediakan dunia, kecuali hal itu untuk kepentingan Kerajaan-Nya.
    Yesus telah melepaskan kemuliaan-Nya dan mengosongkan diri sebagai manusia. Dalam kemiskinan tersebut, Ia melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Gaya hidup seperti ini harus dikenakan oleh setiap orang yang mengaku bersedia mengikut Yesus. Dengan gaya hidup tersebut, seseorang tidak akan dapat diperbudak oleh dunia ini. Jika tidak bersedia mengenakan gaya hidup tersebut, berarti menolak mengikut Yesus. Ini juga berarti tidak bersedia masuk dalam proses keselamatan yang dikerjakan oleh Allah, sebab seorang yang mau menjadi murid—yaitu proses untuk diubah dan bertumbuh keselamatan—harus melepaskan diri dari segala milik (Luk. 14:33). Melepaskan segala milik, berarti bersedia tidak menikmati dunia seperti anak-anak dunia menikmatinya. Orang percaya yang masih terbelenggu oleh keindahan dunia, tidak bisa dididik oleh Tuhan. Mereka dikatakan sebagai orang tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, sehingga mereka tidak akan pernah mengerti kebenaran (Luk. 16:11).
    Dunia kita hari ini adalah dunia tanpa Yesus, tanpa Juruselamat. Bukan karena tidak ada Juruselamat, melainkan karena menolak penyelamatan-Nya. Filosofi hidup tanpa Tuhan menutup mata hati, sehingga seseorang tidak melihat cahaya Injil kemuliaan Kristus (2Kor. 4:4). Kalau mata hati seseorang sudah buta terhadap Injil, tidak akan ada keselamatan atas mereka. Sebab Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan. Orang tidak mungkin dapat memiliki Tuhan Yesus tanpa Injil. Untuk mengerti Injil dan memiliki Injil, seseorang harus meninggalkan dunia ini. Dalam hal ini, yang penting bukan hanya pengakuan dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan, melainkan juga kesediaan melepaskan segala sesuatu supaya dapat memiliki Kristus. Seseorang tidak dapat memiliki Yesus atau bersekutu dengan Tuhan kalau masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini.
    Kalau dunia tanpa Yesus, tidak mengherankan, karena banyak penduduk dunia memang sudah menolak-Nya (Yoh. 1:12-13). Tetapi, sangatlah menyedihkan kalau ada orang Kristen tanpa Yesus, gereja tanpa Yesus, persekutuan dan lembaga Kristen tanpa Yesus, bahkan sekolah Alkitab tanpa Yesus. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Seseorang bisa bersama atau dengan Yesus kalau mengerti kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Tuhan Yesus tidak mungkin bersekutu dan bersama dengan orang yang memberontak kepada Bapa. Kalau dua ribu tahun yang lalu, Yesus disalib oleh orang-orang Yahudi yang memang merindukan Mesias tetapi tidak mengenal hikmat dari All...
    0 min
  • SEMAKIN JAUH DARI DUNIA
    Ketika seseorang berlabuh kepada Tuhan Yesus seperti kapal yang membuang sauh, ia tidak boleh lagi berpikir akan beranjak untuk berangkat ke pelabuhan lain. Baginya, itulah tujuan akhir perjalanannya. Ia harus berpendirian bahwa tidak ada pelabuhan hidup selain Tuhan. Memang kenyataannya, di dalam diri manusia seperti ada rongga kosong yang tidak bisa diisi oleh apa pun dan siapa pun selain Allah sendiri. Hal ini menjadi kodrat yang mutlak. Ibarat kehidupan, inilah nafasnya. Kejatuhan manusia ke dalam dosa menempatkan manusia pada keadaan tanpa kehidupan. Manusia pada hakikatnya telah mati, seperti yang dikatakan oleh Allah bahwa pada hari mereka makan “buah yang terlarang,” mereka mati. “Mati” di sini bisa juga berarti tidak lagi memiliki kehidupan. Allah itulah kehidupannya. Itulah sebabnya dikatakan bahwa semua manusia “kehilangan kemuliaan Allah.”
    Menemukan Tuhan sebagai pelabuhan berarti menemukan kemuliaan Allah. Oleh karenanya, sejak seseorang mengenal Injil dan belajar kebenaran-Nya, ia harus mulai belajar untuk tidak punya keinginan memiliki sesuatu. Seharusnya, dengan menemukan Tuhan melalui Injil, seseorang merasa sudah menemukan “harta yang lebih berharga dari segala sesuatu.” Bisa dimengerti kalau Paulus yang tadinya bernama Saulus, rela melepaskan segala sesuatu atau meninggalkan dunia sejak perjumpaannya dengan Tuhan Yesus. Dalam hal ini, Paulus benar-benar menemukan dan mengenali nilai kekayaan yang terdapat dalam “pengenalan akan Tuhan.” Jadi, kalau ada seorang Kristen belum berani meninggalkan segala sesuatu, berarti ia belum menemukan harta yang berharga dalam pengenalan akan Tuhan. Selanjutnya, demi Yesus yang menjadi hartanya, seseorang akan rela berbuat segala sesuatu, bahkan menyerahkan nyawanya. Hal ini sudah terbukti dalam kehidupan orang-orang Kristen di abad mula-mula.
    Bagaimana pun, orang yang sudah menemukan kekayaan di dalam Tuhan Yesus pasti mengalami perubahan yang luar biasa. Baginya, segala sesuatu yang dimilikinya semata-mata untuk kepentingan pekerjaan Tuhan (Flp. 1:21). Prinsipnya adalah “aku tidak lagi memiliki kebutuhan kecuali untuk pelayanan pekerjaan-Nya.” Sampai pada level ini, sulitlah seseorang menjadi egois, sebab semua yang diperjuangkan adalah untuk Tuhan. Memang kadang-kadang oleh karena fokusnya kepada pekerjaan Tuhan, ada pihak-pihak tertentu yang merasa dikorbankan dan menuduh mereka sebagai fanatik. Sering kali tuduhan tersebut justru datang dari orang-orang dekatnya, khususnya keluarganya sendiri. Tetapi kita harus tetap bersikap bijaksana, agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Mereka menuduh kita sebagai fanatik karena mereka belum tahu kebenaran. Kita harus sangat maklum sehingga kita menjadi lebih sabar.
    Orang yang berlabuh dalam Tuhan, tidak ada lagi memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan atau yang oleh karenanya ia bisa bermegah (Flp. 3:7-8). Kalau bermegah, kemegahannya adalah ikut menderita demi pelayanan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan bermegah dalam Yesus dan salib-Nya (Gal. 6:14; Flp. 3:3). Prinsipnya adalah “aku bangga karena aku boleh menderita bersama dan untuk Tuhanku.” Perasaan yang mulai muncul adalah perasaan seorang yang mendapat eksekusi hukuman mati atau seorang yang mengidap penyakit kronis, dimana dokter sudah menyerah tidak sanggup mengobati. Perasaan seperti ini juga ada pada mereka yang berani membela keyakinannya menjadi teroris dan menargetkan beberapa objek dengan mengorbankan nyawanya, dengan melakukan bom bunuh diri. Kalau mereka bisa berbuat demikian, mengapa sebagai orang percaya kita tidak bisa melakukannya, yaitu membela kepentingan Tuhan dengan cara yang tidak mencelakai siapa pun? Prinsip seperti ini dikemukakan oleh Paulus dalam pernyataannya: “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat” (2Tim. 4:6).
    Bagi Paulus, adalah kebanggaan dan kebahagiaan boleh mengorbankan nyawanya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Sejatinya,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…