Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • PELABUHAN HIDUP
    Kalau setiap individu ibarat sebuah kapal dan kehidupan ini adalah lautannya, maka ia harus berhati-hati dan sungguh-sungguh cermat dalam memilih pelabuhan. Tentu saja banyak pelabuhan yang menarik, menawarkan berbagai fasilitas untuk dinikmati, dan banyak kapal yang telah berlabuh di situ. Hendaknya, kita tidak salah memilih pelabuhan. Kalau pelabuhan yang benar telah ditemukan, hendaknya segera berlabuh di pelabuhan tersebut sebelum kapal terbawa arus dan terhilang di lautan luas yang tidak terbatas. Pelabuhan yang benar adalah Tuhan sendiri. Banyak orang seperti kapal yang masih berlayar di lautan yang sangat ganas dan terus menyeret kapal hidupnya ke arah yang tidak jelas.
    Tuhan Yesus adalah satu-satunya pelabuhan yang baik dan benar. Ia berkata, “Datanglah kepada-Ku” (Mat. 11:28). Panggilan itu berarti agar setiap orang berlabuh hanya pada pelabuhan-Nya. Banyak kapal yang tahu bahwa itulah pelabuhan yang baik dan benar, tetapi mereka masih meragukan apakah dengan berlabuh di pelabuhan tersebut, mereka menemukan kelegaan. Mereka meragukannya, sebab mereka tidak terbiasa dengan kelegaan yang ditawarkan oleh Yesus. Keraguan itu sendiri terbangun oleh berbagai fakta yang mereka lihat, antara lain:
    – Mereka menyaksikan banyak orang Kristen yang rajin ke gereja tetapi tidak menunjukkan ketenangan jiwanya, seakan-akan kekristenan tidak menjawab kebutuhan jiwa. Tidak sedikit orang Kristen yang keadaan jiwanya tidak lebih baik dari orang-orang non-Kristen.
    – Mereka menemukan rohaniwan-rohaniwan yang menunjukkan sikap materialisme, seakan-akan Tuhan Yesus tidak cukup menjadi pelabuhan kehidupan ini. Padahal, mestinya seorang yang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan bisa menunjukkan gaya hidup bahwa Yesus cukup bagi mereka.
    Dalam keragu-raguan, banyak orang Kristen tidak meninggalkan Tuhan, tetapi mereka juga tidak merapat dengan sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai pelabuhannya. Mereka tidak menempatkan diri sebagai musuh bagi Tuhan, tetapi mereka juga tidak menempatkan diri sebagai sahabat-Nya. Dengan posisi hidup yang mereka miliki itu, mereka merasa masih menaruh percaya kepada Tuhan. Mereka juga merasa bahwa mereka tidak pantas ditolak di Kerajaan Surga. Mereka juga merasa sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah. Mereka sudah sangat puas dengan hidup keberagamaan yang mereka telah miliki. Dan mereka juga merasa bahwa Tuhan memaklumi keadaan mereka tersebut. Mereka merasa sudah berlabuh pada Tuhan, padahal mereka belum berlabuh di pelabuhan Tuhan. Sejatinya, mereka adalah orang-orang yang masih terikat dengan dunia ini; belum meninggalkan dunia ini.
    Menjadikan Tuhan Yesus sebagai pelabuhan bukan sesuatu yang sederhana dan tidak dapat dikerjakan atau dijalani dengan mudah. Banyak orang merasa sudah menjadikan Tuhan Yesus sebagai pelabuhan-Nya, padahal mereka belum melakukannya. Hendaknya kita tidak berpikir, kalau sudah pergi ke gereja berarti sudah berlabuh dipelabuhan Tuhan. Kalau hanya menjadi orang Kristen dan terdaftar sebagai anggota sebuah gereja, bisa saja baru masuk wilayah pelabuhan, tetapi belum berlabuh dan membuang sauh. Sauh adalah alat pemberat—yang sama dengan jangkar—untuk mengaitkan kapal dengan pelabuhan supaya kapal tidak bisa bergerak dibawa ombak.
    Kalau kapal masuk pelabuhan Tuhan Yesus, kapal tersebut harus belajar memenuhi syarat guna menemukan kelegaan-Nya. Membuang sauh adalah syarat yang tidak bisa digantikan dengan apa pun. Membuang sauh sama seperti seseorang menguburkan diri di suatu pemakaman. Kapal itu tidak boleh berlayar lagi. Itu adalah perhentian terakhir. Ia harus rela tidak lagi menikmati dunia seperti orang-orang pada umumnya. Pelabuhan itu adalah kuburan bagi kapal yang berlabuh dengan membuah sauh. Dalam kekristenan, kesediaan untuk membuang sauh ini adalah dengan memberi diri dibaptis. Kalau hal ini terjadi pada zaman kekristenan mula-mula, seorang yang memberi dibaptis berarti kehilangan seluruh kehidupannya.
    0 min
  • STANDAR HIDUP MANUSIA LAIN
    Orang yang meninggalkan dunia dapat hidup dalam kesederhanaan. Ciri yang paling nyata dari orang yang memiliki sikap sederhana adalah “tidak memiliki keinginan kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya.” Orang-orang seperti ini bukan berarti tidak memiliki keinginan atau kehendak sama sekali. Manusia diciptakan dengan keinginan atau kehendak, dan Tuhan menghendaki agar manusia memainkan kehendak tersebut. Manusia bukan robot yang tidak memiliki keinginan sendiri. Tentu saja, orang percaya juga harus memainkan kehendaknya sendiri, tetapi keinginan yang ada di dalam hatinya haruslah keinginan melakukan kehendak Bapa. Orang percaya harus membuka hatinya hanya untuk menerima perintah atau komando dari Bapa di surga, dan tidak membuka akses untuk pihak mana pun, kecuali untuk Tuhan.
    Sering hidup terasa rumit kalau bejana hati seseorang terbuka bagi segala hasrat yang masuk ke dalamnya. Ini sama dengan membuat akses dari berbagai pihak untuk menerima tawarannya. Hidup dengan cara demikian akan membawa manusia kepada keadaan “letih, lesu, dan berbeban berat,” sebab jiwa manusia yang belum menemukan Tuhan selalu haus terhadap segala sesuatu yang diharapkan dapat mengisi kekosongannya. Kalau Tuhan menawarkan kelegaan, itu berarti perhentian (Yun. anapauso). “Perhentian” di sini artinya perhentian dari gelombang jiwa yang mengingini banyak hal. “Perhentian” di sini artinya jiwa dilabuhkan pada Tuhan. Dalam pernyataan-Nya, Yesus mengatakan bahwa Ia rendah hati dan lembah lembut (Mat. 11:28-29). Rendah hati dan lemah lembut adalah jiwa atau nafas dari spirit kesederhanaan. Tanpa kerendahan hati dan kelemahlembutan-Nya, seseorang tidak akan memiliki kesederhanaan.
    Kalau kita meneropong kehidupan Yesus. Nyatalah bahwa Ia adalah pribadi yang tidak memiliki keinginan kecuali “melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Pola hidup seperti yang ditunjukkan oleh Yesus ini adalah pola hidup sederhana yang tidak rumit, tetapi agung tiada taranya. Untuk mencapai taraf ini, seseorang harus rela kehilangan “nyawa.” Nyawa sama dengan jiwa. “Nyawa” di sini adalah pikiran, perasaan, dan kehendak. Orang percaya yang hendak mengenakan pola hidup Yesus harus belajar untuk membunuh cita rasa duniawi dalam jiwanya, dan belajar mengobarkan perasaan cinta kepada Allah Bapa untuk melakukan kehendak-Nya. Proses belajar meletakkan kehendak seperti ini sangat berat. Hal ini sama dengan kehilangan nyawa atau usaha membunuh hasrat.
    Ketika seseorang berusaha mencapai standar hidup seperti manusia lain, sejatinya, ia sedang mencari kesenangan bagi dirinya sendiri. Tetapi ketika ia mencari kehendak Allah, ia menyenangkan hati-Nya. Orang seperti ini hidupnya akan berdampak bagi orang lain. Membuat orang lain tidak jatuh dalam dosa atau mengusahakan orang tidak tersandung oleh perbuatannya. Segala sesuatu yang dilakukan membuat orang lain mengenal Allah yang benar dan didewasakan. Biasanya, ciri-ciri orang seperti ini adalah tidak membanggakan prestasi yang dicapainya. Sebab, baginya yang penting adalah kepentingan Tuhan dikedepankan. Dengan mengerti hal ini, kita menyadari betapa berharganya hidup ini. Betapa mahal kesempatan dibentuk atau “didandani” oleh Allah Bapa menjadi anak-anak kesukaan-Nya.
    Jika menyadari keberhargaan kesempatan ini, orang berani melakukan apa saja demi terselenggaranya pembentukan Allah tersebut. Namun pada kenyataannya, tidak banyak orang yang melewati tahap-tahap tertentu untuk sampai bisa memancarkan pribadi anak Allah dalam hidupnya. Padahal, bila bisa memancarkan pribadi anak Allah dalam hidup, seseorang akan sangat efektif menjadi saksi Tuhan di mana pun mereka berada. Inilah maksud pengutusan Tuhan, bahwa kita menjadi saksi-Nya. Orang-orang yang mau menjadi saksi ini tidak akan menyayangkan nyawanya, artinya ia tidak menggantungkan suasana jiwa atau hatinya dari fasilitas dunia ini. Orang yang menggantungkan suasana jiwanya pada dunia ini berarti masih terikat dengan p...
    0 min
  • KESENANGAN DUNIA
    Pada akhirnya, Tuhan akan memperkarakan gairah apa yang ada pada setiap individu. Dari gairah tersebut, akan terbukti seseorang mengarahkan hidupnya kepada siapa. Orang-orang yang memiliki banyak keinginan untuk memuaskan hawa nafsu adalah orang-orang yang mengarahkan hidupnya kepada dunia. Ini berarti menjadikan diri mereka sebagai musuh Allah (Yak. 4:4). Dalam Yakobus 4:1-3 tertulis adanya manusia yang hidup hanya untuk mengingini kepuasan hawa nafsu. Kata “hawa nafsu” sama dengan kesenangan. Kata ini dalam teks aslinya adalah hedone. Adapun kata “mengingini” (Yak. 4:2) dalam teks aslinya adalah epithumia, yang artinya keinginan yang kuat. Dalam hal ini, kita harus memeriksa gairah apa yang paling kuat mendesak dalam jiwa kita. Gairah itu adalah nyawa seseorang. Bagaimana warna nyawa seseorang, tergantung dari apa yang disiramkan atasnya. Itulah sebabnya, Amsal 4:23 menasihati orang percaya agar menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Kata “hati” adalah leb (לֵב), yang juga berarti inner man (manusia batiniah), mind (pikiran), will (kehendak), heart (hati). Dalam hal ini, betapa kita harus merawat manusia batiniah kita dengan saksama.
    Warna gairah seseorang tidak bisa dibangun dalam satu hari, melainkan harus dibangun dalam tahun-tahun yang panjang. Kalau seseorang selalu mendapat masukan dari dunia ini, warna jiwanya sama seperti dunia ini. Tetapi kalau seseorang selalu mendengar kebenaran Firman Allah yang benar, warna jiwanya sesuai dengan yang Allah kehendaki. Oleh sebab itu, seseorang harus mengisi jiwanya dengan Firman yang keluar dari mulut Allah. Artinya, selain belajar kebenaran Firman dari berbagai media, juga mendengar suara Tuhan melalui pengalaman hidup dan berbagai penyataan lainnya.
    Dalam Matius 4:4, satu aspek hendak ditunjukkan adalah bahwa makanan jiwa seseorang haruslah Firman yang keluar dari mulut Allah, dan aspek lainnya, harus diwaspadai bahwa ada “firman” yang keluar dari mulut yang lain. Kita harus selalu aktif mencari Firman Allah. Kita tidak boleh bersikap pasif. Kalau bukan Firman yang keluar dari mulut Allah, pastilah perkataan yang keluar dari mulut Iblis. Perkataan Iblis menciptakan karakter Iblis, tetapi Firman Allah membangun karakter Allah dan menciptakan gairah yang mengarahkan manusia menjadi kekasih Allah. Kalau seseorang mendengar Firman yang keluar dari mulut Allah, kesenangannya adalah kehadiran Allah dan Kerajaan-Nya, tetapi kalau dunia yang mengisi bejana hati seseorang, maka kesenangannya adalah dunia ini.
    Kesenangan dunia membawa seseorang kepada kebinasaan. Setiap orang akan dibawa kepada dua kemungkinan, apakah gairahnya makin kuat ke arah Tuhan atau ke dunia. Oleh sebab itu, setiap kita harus memerhatikan, apakah yang paling banyak mengisi jiwa kita? Yakobus dalam suratnya, menasihati orang percaya bahwa kalau jiwa seseorang diisi dengan hikmat yang dari atas, maka kesenangannya tidak diarahkan kepada dunia ini. Orang seperti ini akan menjadi umat pemenang. Jadi, menjadi umat pemenang artinya jika seseorang berhasil memiliki gairah atau kesenangan yang bukan dunia ini.
    Arah yang salah dalam waktu terlalu lama tidak bisa diubah lagi. Tidak ada kesempatan untuk merubah arah. Pergumulan ini sama dengan yang dikatakan Yesus dalam Matius 10:39, yaitu pergumulan kehilangan nyawa. “Nyawa” di sini adalah kesenangan. Kalau seseorang berhasil rela kehilangan kesenangan dunia ini, ia akan memperoleh kesenangan di dunia yang akan datang. Seseorang tidak bisa menikmati keduanya, harus memilih salah satu. Apakah Tuhan yang disambut, atau dunia ini yang di belakangnya ada Lusifer yang jatuh. Seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24).
    Dalam Matius 10:40, Tuhan Yesus menegaskan, barangsiapa menyambut berita Injil, ia menyambut Tuhan Yesus, dan barangsiapa menyambut Yesus, ia menyambut Allah Bapa. Kata “menyambut” dalam Matius 10:39 adalah dechomai, yang berarti to take with the hand; to taker hold; to receive hospitality (menyambut dengan ta...
    0 min
  • PERSIAPAN SATU-SATUNYA
    Dalam kehidupan orang Kristen, kita melihat banyak orang Kristen yang telah terjebak dengan irama kehidupan manusia yang tidak memiliki tanggung jawab sebagai utusan Kristus, sehingga mereka memiliki perjuangan hidup yang sama dengan perjuangan hidup manusia pada umumnya. Itu adalah perjuangan untuk memiliki kehidupan yang normal dan wajar seperti manusia pada umumnya dengan standar normal. Standar normal biasanya diukur dari pendidikan, pekerjaan, teman hidup, keturunan, tunjangan hari tua, dan lain sebagainya. Padahal, manusia memiliki kecenderungan serakah, selalu berusaha memiliki apa yang orang lain miliki.
    Pada umumnya, manusia juga cenderung mencari kehormatan dengan segala sesuatu yang bisa dianggap sebagai nilai lebih di mata manusia lain. Sehingga, hidupnya masuk dalam lingkaran setan yang membelenggunya sampai tidak akan dapat terlepas. Kalau seseorang sudah terbelenggu dalam lingkaran tersebut, ia tidak akan pernah bisa menjadi pengikut Yesus. Kalau mereka tidak mengenal Injil dengan benar, mereka akan terkunci dalam keadaan yang membuat mereka tidak dapat melepaskan diri dari percintaan dunia sampai mati. Injil yang benar ditawarkan bukan sebagai jalan untuk memperoleh kemudahan hidup agar dapat meraih materi dunia dan segala hiburannya, melainkan bagaimana menjadi manusia yang sesuai dengan rancangan Allah.
    Banyak orang Kristen yang sebenarnya tidak pernah menjadi pengikut Yesus. Mereka mengikut jalan dunia, sebab apa yang mereka anggap sebagai standar normal itu adalah jalan dunia, yaitu bagaimana memiliki kehidupan di dunia ini seperti yang dimiliki orang lain. Mereka berurusan dengan Tuhan hanya karena mau memanfaatkan Tuhan untuk dapat menjalani hidup lebih mudah. Kepada mereka, diajarkan oleh “nabi-nabi palsunya” bahwa Allah itu baik, yang oleh karenanya Allah menyediakan kuasa-Nya sebagai fasilitas untuk menopang kehidupan orang Kristen di bumi ini, agar dapat menikmati dunia secara berlimpah. Dengan topangan itu, orang Kristen memperoleh berbagai kemudahan untuk menghadapi berbagai rintangan dalam kehidupan ini. Mereka berpikir bahwa Allah akan merasa bangga kalau orang Kristen bisa menunjukkan kehebatan Allah yang disembahnya. Dalam hal ini, seakan-akan Allah senang kalau orang Kristen bisa memamerkan kuasa-Nya. Mereka beranggapan bahwa dengan cara demikian, mereka menjadi saksi bagi Kristus. Ini adalah cara berpikir yang salah. Kualitas hidup orang Kristen seperti ini pasti rendah.
    Di tengah-tengah keadaan seperti ini, Roh Kudus masih bekerja di hati orang-orang Kristen yang masih memiliki nurani yang baik. Mereka berpikir, bahwa kekristenan pasti tidak sederhana seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang Kristen pada umumnya. Orang-orang Kristen yang masih bernurani baik akan mulai berusaha mencari kebenaran untuk menemukan kekristenan yang sejati yang dapat memuaskan kehausan jiwa mereka. Tuhan akan menjawab kehausan jiwa mereka. Tuhan pasti akan menyatakan kebenaran kepada mereka. Di akhir zaman ini, Tuhan pasti membangkitkan hamba-hamba Tuhan yang diberi pencerahan untuk mengajarkan Injil yang sejati.
    Pertanyaannya bagi kita sekarang adalah: “Seberapa kita sungguh-sungguh tekun mencari Allah untuk menemukan jawabannya?” Sebab, murid-murid Yesus yang selama tiga setengah tahun diajar oleh Yesus sendiri belumlah menjadi pengikut yang baik. Tetapi, setelah Roh Kudus dicurahkan, baru mereka tercelik terhadap inti Injil. Setelah itu, mereka berani meninggalkan dunia dan mengikut Yesus dengan benar. Dalam hal ini, dituntut ketekunan dan gairah yang tinggi tanpa batas untuk senantiasa mencari kebenaran. Untuk perkara dunia, gairahnya harus dimatikan sama sekali. Tetapi untuk mencari dan menemukan kebenaran, haruslah tanpa batas. Kita harus bertumbuh dengan benar dalam pengertian terhadap apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Yesus. Dari hal itu, kita mengerti tugas yang dari Bapa yang harus kita tunaikan. Untuk ini, seseorang harus memiliki “perasaan cukup” terhadap hal-hal duni...
    0 min
  • KEHAUSAN AKAN ALLAH

    Orang percaya harus memindahkan fokus hidup. Ini adalah suatu kemutlakan. Memindahkan fokus hidup dimulai dari kesadaran bahwa dunia ini bukan rumah orang percaya. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang orang percaya lakukan adalah persiapan untuk memasuki langit baru bumi baru sebagai anggota keluarga Kerajaan. Kalau seorang pelayan jemaat belum memindahkan fokus hidup, bagaimana dengan jemaat yang mendengar khotbahnya atau menerima pelayanannya? Dalam Matius 7:21-23, dikemukakan mengenai orang-orang yang sudah bernubuat, mengusir roh-roh jahat, dan mengadakan banyak mukjizat tetapi tidak diperkenan masuk surga (Mat. 7:21-23). Hal ini menunjukkan bahwa karunia tidaklah menentukan apakah seseorang berkenan kepada Tuhan atau tidak.
    Bagi mereka yang sudah bernubuat, mengusir roh-roh jahat, dan mengadakan banyak mukjizat dalam pelayanan, hendaknya tidak merasa sudah pasti masuk surga. Tuhan membiarkan seseorang mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja, bahkan mendemonstrasikan karunia-karunia roh yang luar biasa, tetapi ditolak oleh Allah jika tidak melakukan kehendak Bapa. Tentu saja orang-orang seperti ini belum memiliki fokus hidup dengan benar. Sebenarnya, mereka belum mengenal dirinya sendiri dengan benar. Mereka tidak menyadari bahwa pada akhirnya mereka ditolak oleh Allah. Kalau mereka menyadari keadaan mereka yang sesungguhnya, terbuka kemungkinan untuk membenahi diri sebelum meninggal dunia.
    Sesungguhnya, tujuan hidup kita adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Menjadikan Tuhan tujuan hidup berarti harus meninggalkan dunia ini. Untuk itu, orang percaya harus selalu menghayati bahwa dunia ini bukan rumah kita. Suatu hari nanti, kita akan menetap di langit baru dan bumi yang baru; kehidupan yang ideal yang Allah sediakan bagi anak-anak-Nya. Kalau seseorang menolak hal ini, berarti seperti orang-orang pada zaman Nuh yang menolak masuk bahtera. Ini sebuah sikap yang menentang Allah dan tidak menghormati Dia. Orang-orang seperti ini pasti akan binasa. Kalau zaman sekarang, ini adalah orang-orang tenggelam dengan kenikmatan dunia dan menolak meninggalkan dunia. Orang-orang Kristen seperti ini adalah mereka yang merasa betah hidup di bumi ini dan menikmati dunia sama seperti anak-anak dunia menikmati dunia. Ini adalah orang-orang Kristen yang tidak selamat.
    Kuasa kegelapan menggerakkan banyak orang untuk mengingini dan mencari dunia dengan segala kesenangan dan hiburannya. Hal itu mereka anggap sebagai hal yang wajar, sebab hampir semua orang melakukan hal tersebut. Mereka sedang disesatkan oleh kuasa dunia ini, sehingga digiring menuju api kekal. Dengan cara hidup tersebut, mereka menyembah Iblis dan hidup dalam persekutuan dengan Iblis (Luk. 4:5-8). Iblis memakai keindahan dunia untuk menjerat manusia, di dalamnya termasuk banyak orang Kristen. Banyak orang Kristen yang sudah rajin ke gereja, menjadi aktivis, bahkan menjadi pendeta, terjerat oleh gaya hidup anak dunia tersebut. Pada dasarnya, mereka sama seperti orang yang sesat. Dalam hal ini, kesesatan bukan hanya mengenai orang yang salah memahami doktrin, melainkan ketika seorang Kristen tidak meninggalkan dunia, itu pun berarti ia sesat.
    Kalau orang percaya mulai berusaha untuk mengenal Allah, maka kehausan akan Allah bertambah-tambah dalam hidupnya. Kehausan akan Allah ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Yesus sebagai haus dan lapar akan kebenaran (Mat. 5:6). Kehausan ini seperti seorang yang sedang jatuh cinta kepada suatu objek. Kehausan ini dinyatakan oleh pemazmur dengan kalimat “yang kuingini Engkau saja” (Mzm. 73:25-26). Sampai taraf kehausan seperti ini barulah seesorang bisa menjadi kekasih Tuhan. Inilah yang dimaksud Alkitab sebagai mempelai Tuhan Yesus. Allah Bapa akan membuat mereka mengerti kebenaran dan pasti menemukan Tuhan sebagaimana mestinya (Yes. 45:19; 55:6). Hal ini akan membuat seseorang tidak lagi mengingini dunia dengan segala kesenangan dan hiburannya. Dengan demikian,
    0 min
  • MERAIH KEMENANGAN DENGAN PERJUANGAN
    Ketika Yesus mengatakan bahwa Ia datang untuk memberi hidup, maksudnya adalah bahwa Ia memberi hidup-Nya sendiri bagi orang percaya (Yoh. 10:10). Inilah anugerah yang terbesar bagi dunia. Hendaknya, pernyataan Yesus ini tidak hanya dipahami bahwa Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa kita, titik. Kita harus memahami apa maksud penebusan tersebut, mengapa kita harus ditebus, apa makna kata “dosa” dalam teks ini? Menjawab pertanyaan ini, perlu waktu panjang untuk menjawabnya. Bagaimana pun, kita harus memahaminya dengan benar. Sebelum ditebus, seseorang belum bisa menjadi milik Tuhan untuk diubah melalui proses pemuridan, sebab Tuhan belum memiliki hak atas mereka. Menebus manusia dari dosa artinya mengambil manusia melalui transaksi dengan sarana pengurbanan-Nya untuk membeli manusia, guna menempatkan manusia sebagai manusia yang memiliki keberadaan “tepat “seperti diri-Nya. “Tepat seperti diri-Nya” bisa berarti tepat seperti Bapa di surga. Yesus tegas mengatakan bahwa kita harus sempurna seperti Bapa. Manusia yang tidak meleset artinya manusia yang sempurna seperti Bapa.
    Bicara mengenai kemelesetan, hal ini bertalian dengan Roma 3:23 yaitu semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Kata “dosa” dalam teks ini sebenarnya terjemahan dari kata kerja hamartano, yang artinya melakukan tindakan yang tidak tepat. Kemelesetan (Yun. hamartia) inilah yang membuat manusia tidak memiliki kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah berarti suatu nilai atau kualitas hidup. Jadi, kalau Yesus memberi hidup-Nya, artinya Yesus mengajarkan cara hidup-Nya atau hendak mengimpartasi gairah hidup-Nya kepada mereka yang mau menerima-Nya, yaitu dengan giat belajar sebagai murid-Nya. Kalau seseorang belajar mengenakan kehidupan Yesus, kemuliaan Allah dikembalikan pada diri-Nya secara berangsur-angsur. Tentu melalui proses yang panjang. Dengan demikian, penebusan oleh Yesus merupakan usaha Allah mengembalikan nilai atau kualitas hidup yang seharusnya dimiliki manusia. Yesus menjadi pokok keselamatan, artinya Ia menjadi sumber atau penyebab (a causer) diubahkannya orang-orang yang mau taat atau mengikuti jejak hidup-Nya. Inilah anugerah yang luar biasa. Kita memiliki karunia sulung Roh. Untuk ini, orang percaya harus berani meninggalkan dunia.
    Diperkenan memiliki kehidupan seperti Yesus adalah “karunia sulung Roh.” Berbicara mengenai kesulungan, harus dilihat dari perspektif adat Yahudi. Anak sulung adalah anak terkemuka yang mendapat warisan paling utama dalam keluarga. Anak sulung mewarisi takhta bapanya, kalau ayahnya adalah seorang raja. Anak sulung memiliki tempat yang khusus dalam keluarga. Sebenarnya, kalimat “karunia sulung Roh,” dalam teks Yunaninya tertulis ten aparkhen tou pneumatos (Rm. 8:23). Dalam teks aslinya, tidak ada kata karunia, tetapi “buah.” Jadi lebih tepat diterjemahkan “buah sulung Roh.” Mereka yang termasuk “buah sulung Roh” adalah orang-orang yang istimewa, yang memiliki keberadaan lebih mulia dari manusia lain dalam pandangan Allah. Mereka adalah orang-orang yang belajar dan mengerti kebenaran, serta dibentuk menjadi sempurna oleh kebenaran tersebut (Yak. 1:18). Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan dunia dan tidak mencemarkan diri dari segala kenajisan.
    Orang percaya adalah umat pilihan yang memiliki kesempatan meraih hak kesulungan ini. Sebab, kepada umat pilihan Tuhan memberi kuasa (Yun. exousia, Ing. right) supaya menjadi anak-anak Allah. Hak tersebut menyangkut penebusan, Roh Kudus, Firman Kristus atau Injil, dan penggarapan Allah melalui segala perkara. Kalau kesempatan ini disia-siakan, hak kesulungan ini tidak akan diperoleh. Bisa saja mereka masuk dunia yang akan datang, tetapi tidak termasuk kelompok keluarga Kerajaan Allah. Mereka yang masuk dalam istana Kerajaan sebagai anggota keluarga Kerajaan adalah mereka yang telah menang melawan Iblis, menjadi corpus delicti bagi kemuliaan Allah, seperti yang Yesus telah lakukan. Inilah orang-orang yang memiliki kemenangan sepe...
    0 min
  • SUASANA JIWA
    Banyak orang, termasuk orang Kristen, yang semakin konsumeristis. Banyak faktor penyebabnya, di antaranya media iklan dan promosi yang sangat memikat. Berbagai media telah menjadi “kendaraan iklan.” Banyak orang menjadi serakah, selalu ingin memiliki apa yang ditawarkan oleh dunia dengan menjanjikan kepuasan-kepuasan jiwa. Banyak orang hanyut oleh gairah untuk memiliki apa yang orang lain miliki. Hal ini berjangkit hampir kepada semua orang, termasuk orang-orang Kristen, bahkan para rohaniwannya. Inilah yang dimaksudkan oleh Yohanes dalam tulisannya sebagai “keinginan mata” (1Yoh. 2:16). Pola hidup seperti ini tentu juga memengaruhi pola berpikir banyak orang percaya. Hal ini terbukti dengan kenyataan adanya orang Kristen yang memenuhi dirinya dengan berbagai fasilitas hidup yang tidak berguna untuk pelayanannya bagi Tuhan, dan hanya untuk citra diri di mata manusia atau kebanggaan. Alkitab menyebut ini sebagai “keangkuhan hidup.” Semua fasilitas yang diperjuangkan untuk dapat diraih dan dimiliki, pada dasarnya hanya untuk kenyamanan hidup secara duniawi. Padahal, Yesus tegas mengatakan bahwa hidup manusia tidaklah tergantung oleh kekayaan (Luk. 12).
    Yesus menyatakan bahwa serigala memiliki liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Yesus sendiri tidak menuntut kesenangan atau kenyamanan hidup. Oleh sebab itu, sebagai orang percaya harus berani menderita seperti yang dialami oleh Yesus (Rm. 8:17). Dengan demikian, bukan berarti hidup orang percaya menjadi tidak nyaman. Kenyamanan hidup bukanlah ditentukan oleh fasilitas materi dunia dan hiburannya, melainkan suasana jiwa. Untuk ini, Yesus menjanjikan damai sejahtera yang melampaui segala akal untuk mengawal hidup kita.
    Paulus sebagai pengikut Yesus, juga memiliki pola pelayanan yang sama dengan Tuannya. Dalam kesaksiannya, ia berkata, “Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku… bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun… Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.” Pola hidup seperti Paulus inilah yang harus menjadi standar pelayanan pemimpin rohani sepanjang zaman, yang pada dasarnya mengacu pada pelayanan Yesus Kristus, yaitu sebuah pelayanan yang disertai kerelaan untuk tidak menikmati kesenangan hidup.
    Kalau ditinjau dari pola hidup masyarakat pada zamannya, kehidupan Yesus bisa dipandang tidak normal. Hal ini dimulai ketika Yesus berusia 12 tahun. Anak-anak seusia ini biasanya masih hanyut dengan berbagai kesenangan anak-anak. Tetapi, Yesus pada usia tersebut sudah sangat giat belajar Taurat melampaui anak-anak lain. Karena kemampuan-Nya yang luar biasa memahami Taurat, Ia bisa bersoal jawab dengan para ahli-ahli kitab atau teolog-teolog Yahudi. Dalam peristiwa di Bait Allah tersebut, orang-orang kagum terhadap kecerdasan-Nya (Luk. 2:46-47). Peristiwa ini memberi pesan jelas bahwa sejak kanak-kanak, Yesus telah memiliki kehidupan yang tidak sama dengan anak-anak lain. Bisa diduga secara logis, bahwa hari-hari hidup Yesus sangat giat belajar Taurat lebih dari anak-anak sebaya-Nya.
    Dalam masyarakat Israel, memang pengajaran Taurat diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Tetapi, “Pribadi” Yesus ini berbeda dengan anak-anak yang lain. Dari hal ini, kita menangkap satu pesan, bahwa Tuhan Yesus sudah menyadari panggilan-Nya sebagai Anak Allah yang harus melakukan kehendak Bapa di surga. Hal ini menginspirasi kita agar juga berani mengajarkan kebenaran kepada anak-anak, agar sejak dini mereka sudah mengerti panggilannya sebagai anak-anak Allah.
    Sebagai pria yang normal pada umumnya, usia 30 tahun sudah menikah dan hidup berumah tangga. Biasanya,
    0 min
  • TIDAK MEMANJAKAN DIRI
    Betapa berartinya kebangkitan Yesus bagi keselamatan umat manusia, juga bagi kemuliaan Allah atau kemenangan surga. Kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa Ia telah menunaikan tugas penyelamatan dengan sukses. Keberhasilan-Nya tersebut ditentukan oleh ketaatan-Nya kepada Allah Bapa di surga (Ibr. 5:7). Kalau Yesus tidak taat, Ia tidak akan mengalami kebangkitan. Ia tetap ada dalam kubur dalam kematian kekal. Dan kalau Yesus tidak dibangkitkan, tidak akan ada kebangkitan bagi kita. Kalau tidak ada kebangkitan, berarti semua orang tetap di dalam kubur atau di Hades (1Kor. 15:13-14). Ini berarti bencana terbesar, sebab ini menunjukkan kemenangan Lusifer. Lusifer berhasil meraih niatnya menjadi penguasa.
    Kalau tidak ada kebangkitan, berarti tidak ada kehidupan. Ini juga berarti semua rancangan Allah untuk menjadi Allah orang yang hidup bisa gagal, sebab Dia bukan Allah orang mati (Mat. 22:32). Tidak bisa dibayangkan bagaimana keadaan kalau tidak ada kebangkitan, sehingga Bapa bukan menjadi Allah orang yang hidup sebab semua manusia, bahkan Yesus sendiri, mati. Dampaknya pula, tidak ada langit baru dan bumi yang baru. Ini berarti manusia tidak mempunyai harapan sama sekali (1Kor. 15:19). Seandainya Yesus tidak dibangkitkan, rencana Allah menciptakan kehidupan menjadi gagal. Dalam hal ini, kita mengerti mengapa Lusifer dikatakan sebagai pembunuh. Pembunuh berarti mengambil kehidupan atau membinasakan kehidupan. Apa yang dikerjakan atau diupayakan Iblis bertolak belakang dengan yang diperjuangkan oleh Yesus. Yesus datang untuk memberi “hidup” atau kehidupan (Yoh. 10:10).
    Dalam perjuangan menyelamatkan manusia, Yesus telah berhasil. Kemenangan-Nya memberi pengharapan kepada seluruh makhluk bumi dan surga. Dengan kemenangan-Nya, maka ada kehidupan. “Kehidupan” di sini maksudnya manusia bisa menjadi makhluk yang hidup kembali dengan berdaging. Tubuh berdaging dengan kualitas tinggi yang disebut tubuh kemuliaan yang telah ditampilkan oleh Yesus di depan murid-murid-Nya pasca kebangkitan-Nya. Kebangkitan inilah yang menjadi pengharapan Paulus, sehingga ia rela menjalani apa pun supaya ia beroleh kebangkitan (Flp. 3:10-11). Rupanya, kebangkitan dari antara orang mati adalah pengharapan kuat yang juga memotivasi Paulus menjalani hidup ini. Hal ini sesuai dengan apa yang juga ditulis oleh Petrus dalam suratnya, bahwa kita sebagai anak-anak Allah beroleh hidup penuh pengharapan (1Ptr. 1:3-4). Pengharapan yang dimaksud Alkitab adalah pengharapan di Kerajaan Tuhan yang akan datang.
    Bagian dari keteladanan yang ditampilkan Yesus dalam kisah penyaliban itu juga berbicara bagaimana Paulus rela melepaskan kesenangan demi pelayanan bagi Tuhan. Paulus pernah berkata kepada anak rohaninya Timotius, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1Tim. 6:8). Implikasi ayat ini menyuarakan panggilan terhadap semua orang percaya untuk tidak membiarkan dirinya terbuai oleh berbagai kesenangan pribadi lebih dari kecintaannya terhadap pelayanan bagi Tuhan. Paulus tidak melarang orang mendapatkan berbagai fasilitas hidup, tetapi ia mengajak atau menganjurkan agar orang tidak menginginkan lebih dari apa yang ia butuhkan. Paulus membuktikan kebenaran pernyataan-pernyataan di dalam hidupnya, sampai ia menghadapi martirnya di Roma. Ia bukan hanya berbicara, melainkan juga melakukan apa yang dikatakan. Dengan demikian, ia dapat menjadi teladan bagi orang percaya.
    Seorang pengikut Kristus yang sejati harus dapat menjadi teladan atau contoh bagi kehidupan umat Allah yang lain. Ini berarti, kehidupan seorang anak Allah akan terbelenggu oleh tugas pelayanannya bagi Yesus. Belenggu itu adalah kebenaran Firman Allah yang harus dikenakan dalam hidupnya secara konkret, sehingga ia bisa menjadi pola dengan mana orang membangun dirinya. Misalnya, terdapat Firman yang mengatakan, “Asal ada makanan dan pakaian cukup.” Bagi pelayan jemaat atau seorang pendeta, mereka harus terlebih dahulu dapat melakukan kebenaran ini sebelum mereka mengajarkannya kepada or...
    0 min
  • BARTER
    Bangsa Israel yang akan menerima Kanaan yang berlimpah susu dan madu, harus meninggalkan Mesir, melupakannya, dan melewati perjalanan padang gurun yang panjang. Mereka tidak boleh mengingat kembali Mesir, mereka tidak boleh “bernostalgia.” Kalau mereka masih “menoleh ke belakang,” maka hal tersebut akan menjadi ranjau yang dapat menggagalkan laju perjalanan untuk memperoleh Kanaan. Mereka harus percaya bahwa negeri yang berlimpah susu dan madu itu diberikan Allah kepada mereka, yaitu kalau mereka sungguh-sungguh meninggalkan Mesir. Oleh sebab itu, mereka harus percaya bahwa negeri Kanaan berkeadaan jauh lebih baik dalam segala hal daripada Mesir, tempat di mana mereka pernah diperbudak.
    Dengan memercayai hal tersebut, mereka tidak akan berlambat-lambat meninggalkan Mesir dan tidak akan bersungut-sungut dalam perjalanan. Untuk mendarat di Kanaan, mereka harus melangkah dengan langkah pasti dan mantap. Mereka tidak boleh berhenti di tengah jalan hanya karena menyukai beberapa hal yang kelihatan menyenangkan tetapi ternyata merupakan ranjau-ranjau yang akan membinasakan mereka di padang gurun (1Kor. 10:1-10). Hal ini menjadi gambaran kehidupan orang percaya yang memang harus meninggalkan dunia ini untuk fokus kepada langit baru dan bumi baru.
    Dalam Filipi 3:8, Rasul Paulus berkata, “… Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Apa yang ditulis oleh rasul ini merupakan pengalaman hidup seseorang yang menerima Injil dengan benar. Paulus tentu dapat memiliki dan menikmati Injil secara lebih penuh, dibandingkan dengan kebanyakan orang yang mengaku percaya Injil, tetapi tidak memiliki cara yang benar dalam menyambut Injil. Melepaskan semuanya, maksudnya tidak lagi menganggap bernilai segala sesuatu yang dulu menjadi kebanggaan, yaitu sebelum menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Semua yang dulu dianggap bernilai tersebut bisa berupa kehormatan, kedudukan, status sosial, harta, gelar akademis, kesukaan berbuat dosa, dan lain sebagainya. Melepaskan semuanya dalam teks aslinya adalah “zemian” (Ing. loss) atau “ezemiothon” (Ing. I suffered loss) yang berarti kehilangan, menganggapnya sampah. Kata “sampah” terjemahan dari “skubalon” yang bisa diterjemahkan sampah (refuse, sweepings), kotoran binatang yang digunakan pupuk (Ing. dung), isi perut binatang yang dipandang kurang baik dikonsumsikan (Ing. offel).
    Pelepasan atau kehilangan “semuanya itu” merupakan sikap yang benar untuk dapat memperoleh Injil dan menikmatinya secara penuh. Dengan melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah, dimaksudkan sebagai langkah untuk dapat memperoleh Kristus. Inilah cara yang benar. Lebih tegas, ini berarti bahwa tanpa melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah, orang percaya tidak akan pernah memiliki Kristus. Inilah tindakan barter yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Tanpa tindakan barter, seseorang tidak akan pernah memiliki Kristus atau keselamatan di dalam Dia.
    Yesus dalam berbagai kesempatan dan cara, menjelaskan bagaimana cara menerima Injil dengan benar agar dapat memiliki dan menikmati Injil tersebut. Dalam Lukas 14:33, Yesus menjelaskan bahwa seseorang yang mau mengiring Dia dan menjadi murid harus “meninggalkan segala sesuatu.” Penjelasan ini tegas menetapkan bahwa untuk memiliki Injil dan menikmatinya, haruslah “melepaskan segala sesuatu” yang sama dengan meninggalkan dunia. Maksud pernyataan tersebut adalah bahwa Tuhan menghendaki agar kita tidak terikat dengan hal-hal dunia. Keterikatan di sini memang relatif sifatnya, tetapi yang penting adalah keterikatan kita dengan Yesus merupakan keterikatan yang melebihi segala keterikatan. Oleh sebab itu, kita harus berani memberi nilai rendah kepada segala sesuatu kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya.
    Dalam perumpamaan tentang harta yang terpendam dan pedagang yang mencari mutiara yang indah (Mat. 13:44-46),
    0 min
  • MENINGGALKAN DUNIA
    Meninggalkan dunia berarti langkah seseorang memindahkan kesenangan hidupnya dari materi dunia fana ini dengan segala hiburannya kepada Tuhan dan pengharapan penyataan Kerajaan-Nya yang akan datang. Dalam langkah meninggalkan dunia, seseorang berani membunuh semua hasrat di dalam dagingnya yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Ketika Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” sebenarnya di dalamnya terdapat panggilan untuk mengenakan hidup-Nya. Sebagaimana Yesus menolak segala sesuatu yang bersifat duniawi, kita juga harus melakukan hal yang sama. Terkait dengan hal ini, Rasul Paulus dalam suratnya mengatakan agar orang percaya mematikan segala sesuatu yang duniawi (Kol. 3:5). Sesuatu yang bersifat duniawi termasuk ambisi menjadi orang terhormat, terpandang di mata manusia, menyandang gelar demi prestise, memegang jabatan yang bergengsi, serta dianggap penting dan utama. Sesuatu yang bersifat duniawi termasuk juga menyukai barang-barang “branded” agar dikagumi orang lain. Sesuatu yang bersifat duniawi termasuk hasrat untuk memiliki rumah, mobil, dan lain sebagainya untuk sebuah martabat dan harga diri.
    Orang yang meninggalkan dunia harus mulai melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia ini. Adapun cara untuk melepaskan diri dari keterikatan dunia adalah dengan membunuh semua keinginan terhadap sesuatu yang tidak berguna untuk kemuliaan Allah. Ini berarti hidup hanya untuk kepentingan Kerajaan Allah. Semua yang kita ingini haruslah sesuatu yang memang berguna untuk mendatangkan berkat bagi orang lain. Dalam hal ini, kita harus dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Biasanya orang menganggap bahwa semua yang diingini adalah kebutuhan. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang berpusat pada diri sendiri. Tentu saja inilah kehidupan yang tidak pernah bisa memuliakan Allah, tetapi memuliakan diri sendiri. Secara prinsip, orang-orang seperti ini sebenarnya tidak pernah layak menyembah Allah. Walaupun bibirnya memuji, memuja, dan menyembah Allah, tetapi sebenarnya semua itu kosong belaka. Hatinya tidak bisa menyembah, sebab ia menghargai atau lebih memuliakan sesuatu yang lain; bukan Allah.
    Meninggalkan dunia adalah proses yang sangat berat, sebab kita telah terbiasa hidup dalam keterikatan dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Bisa dimengerti kalau orang kaya yang dikisahkan dalam Matius 19 tidak bersedia mengikuti Yesus karena harus menjual segala miliknya dan membagikannya kepada orang miskin. Orang kaya tersebut tidak sanggup lagi hidup tanpa kekayaan. Hatinya telah terpasung oleh kekayaan dalam stadium yang sangat kuat. Pada titik ini, seseorang tidak akan bisa lagi mengikut Yesus, namun ia masih bisa beragama dan memiliki moral yang baik di mata manusia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa seseorang bisa beragama dengan baik, tetapi masih bersifat duniawi. Umat Perjanjian Lama pada umumnya berkeadaan seperti ini. Itulah sebabnya, orang percaya tidak boleh melandaskan cara berpikirnya pada pola pemikiran dan gaya hidup umat Perjanjian Lama.
    Banyak pembicara Firman dan orang Kristen yang merasa bahwa semua yang tertulis dalam Alkitab dapat dikenakan secara harfiah dalam kehidupan. Padahal, orang percaya—sebagai umat Perjanjian Baru—seharusnya berpikir dengan alam pikiran umat Perjanjian Baru yang berpusat pada diri Yesus. Ini artinya, orang percaya harus mengenakan kehidupan Yesus. Jika tidak demikian, berarti belum bisa dikatakan sebagai pengikut Kristus. Jadi, sebenarnya orang seperti ini belum bisa disebut Kristen. Mereka beragama Kristen, tetapi bukan orang Kristen sejati. Inilah faktanya, banyak orang Kristen yang belum Kristen, mereka belum meninggalkan dunia. Kehidupan mereka masih wajar seperti orang-orang di luar Kristen. Ironis, ada orang di luar Kristen yang memiliki moral, kesalehan beragama, dan kesetiaan kepada keyakinannya lebih dari orang-orang Kristen tersebut. Bahkan, ada pula yang berani berusaha meninggalkan dunia, sesuai dengan versinya.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…