Semakin seseorang serius dengan Allah—yang ditandai dengan hati yang mengasihi Dia, walau hal ini tidak mudah ditangkap oleh orang lain dan memang tidak perlu dipamerkan—semakin seseorang dibawa kepada pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran), yang makin hari makin cepat. Seperti suatu benda berada di pusat pusaran atau episentrum sebuah gerak air yang berputar (karena semakin ke tengah, geraknya semakin cepat). Ini berarti semakin banyak pengalaman dengan Allah, semakin seseorang mengerti kehendak-Nya untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk dipenuhi. Dalam level ini, barulah seseorang bisa menghayati kehadiran Allah dengan kuat, sehingga ia bisa hidup di hadirat Allah sepanjang waktu. Kegentaran akan Allah terasa dalam jiwa dan mencengkeram semakin hebat. Dengan demikian, mendorong seseorang semakin hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Di lain pihak, memiliki kekuatan atau keteguhan menghadapi segala sesuatu. Pada zaman gereja mula-mula, penganiayaan memaksa orang percaya hidup dalam pusat pusaran atau episentrum kebenaran (1Ptr. 4). Allah yang menghendaki demikian.
Untuk zaman sekarang, apakah jemaat hidup dalam episentrum kebenaran? Dalam hal ini, yang paling berperan dalam gereja adalah pelayan Firman atau pengkhotbah dan pemimpin gereja secara organisasi. Kalau hidup pendeta tidak benar, tidak suci, masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, maka dirinya menjauh dari pusaran. Ini adalah kehidupan yang bersahabat dengan dunia (Yak. 4:4). Tentu saja sebagai dampaknya atau imbasnya, semua jemaat yang dilayani dan mendengarkan khotbahnya ikut menjauh dari pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran). Hal ini terjadi dalam kehidupan mereka yang selalu berbicara mengenai berkat jasmani dan pemenuhan kebutuhan jasmani serta mukjizat-mukjizat.
Kegiatan gereja tetap bisa aktif dengan berbagai program yang kelihatannya rohani dan mendukung pekerjaan misi, pertemuan-pertemuan dalam acara kebaktian sangat semarak seakan-akan Allah hadir dalam pertemuan tersebut dan disukakan, tetapi secara dasariah mereka tidak mengalami pertumbuhan untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Inilah yang disebut sebagai pasivitas rohani. Dalam kehidupan setiap hari, tampak bahwa mereka tidak merindukan langit baru dan bumi yang baru. Hati mereka masih tertambat di dunia ini.
Sejatinya, titik pusaran (episentrum) yang dimaksud adalah kehidupan Yesus yang harus dikenali dan dikenakan dalam kehidupan ini. Kita harus sungguh-sungguh merindukan dan sangat mengingini ada di titik pusaran itu. Semua isi pemberitaan Firman harus menjurus ke titik pusat pusaran tersebut. Kalau gereja masih bicara berkat-berkat jasmani, pemenuhan kebutuhan jasmani, dan mukjizat, berarti masih jauh dari pusatnya. Memang pelayanan Yesus dimulai dari pemenuhan kebutuhan jasmani bagi mereka yang sakit, tetapi hal tersebut bukanlah tujuan. Tujuannya adalah menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus yang melakukan kehendak Bapa.
Kalau seseorang sudah ada di pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) ini, kerinduannya hanya Allah dan Kerajaan-Nya. Semakin berada di pusat pusaran kebenaran, semakin seseorang terpisah dari dunia ini. Dengan demikian, semakin dapat memenuhi apa yang diajarkan oleh Yesus bahwa hidup ini hanya untuk mengumpulkan harta di surga (Mat. 6:19-21), atau memikirkan dan mencari “perkara-perkara yang di atas” (Kol. 3:1-3). Inilah yang sebenarnya dimaksud dengan semakin terbang tinggi bagai rajawali, atau bisa berarti “semakin meninggalkan dunia ini.” Dengan demikian, hati semakin dipindahkan, sesuai yang dikatakan oleh Yesus “di mana ada hartamu di situ hatimu berada” (Mat. 6:21).
Kita harus fokus kepada Tuhan dengan memberikan perhatian yang sepatutnya untuk perkara-perkara rohani di tengah-tengah pergumulan atau pergulatan hidup, baik dalam hidup pribadi, rumah tangga, keluarga, dan lingkungan (di gereja, sekolah teologi, badan perguruan tinggi,