Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • MENGENAKAN HIDUP-NYA
    Kalau kita dengan tekun dapat melewati beratnya mengikut Yesus—artinya mengenakan hidup-Nya—sukacita yang murni dapat kita rasakan. Tidak banyak orang yang bisa terbawa sampai ke episentrum ini. Banyak orang mau nyaman di luar, putar-putar di luar episentrum. Kalau seseorang tidak sampai pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran), ketika meninggal dunia, ia akan melihat kenyataan yang mengerikan; seperti seorang yang masuk ke dalam mimpi buruk tetapi ternyata sebenarnya adalah kenyataan. Namun, kalau kita sekarang ini menderita bagi Allah, merasakan beratnya mengiring Yesus, ketika mati, kita seperti terbangun dari mimpi buruk. Pada waktu kita membuka mata di kekekalan, kita dapat mengerti dengan sempurna bahwa hidup kita selama 70-80 tahun yang begitu banyak beban tidak ada artinya sama sekali. Terkait dengan hal ini Paulus menyatakan, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm. 8:18).
     
    Banyak gereja sibuk membangun gereja, membangun sekolah, sibuk dengan kegiatan misi, diakonia, pekerjaan sosial, dan lain-lain. Tentu saja melakukan semua kegiatan tersebut tidak salah, tetapi harus dipertanyakan: apa tujuan seluruh kegiatan tersebut? Hendaknya semua kegiatan tersebut bukan suatu produk yang memang dibuat untuk membuat gereja eksis, aspek lain bisa mendapat income untuk kehidupan para rohaniwannya. Tidak salah seorang hamba Tuhan hidup dari pelayanan, tetapi kalau uang sudah menjadi tujuan, itu bukanlah motif yang benar bagi pelayan pekerjaan Tuhan. Kegiatan pelayanan hamba-hamba Tuhan seperti ini tidak membawa sesorang masuk episentrum kebenaran.
     
    Jangan sampai kita membuka mata di kekekalan, seperti mimpi buruk yang menakutkan. Lebih baik hidup yang kita jalani sekarang seperti mimpi buruk, artinya harus memikul salib, tetapi di balik kubur kita menemukan kehidupan yang indah. Memang, semakin ke pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) di mana kita berjalan dengan Tuhan, perjuangan akan makin berat. Tetapi ajaibnya, ketika kita benar-benar semakin sampai ke titik pusat pusaran, rasa berat itu tidak akan ada lagi. Kita baru benar-benar merdeka. Semakin kita ke titik pusat pusaran kebenaran, kita akan makin merdeka. Salib menjadi keindahan dan kebahagiaan. Sampai pada level ini, kita hidup hanya untuk mencari kesukaan Allah, tidak lagi kesukaan diri sendiri. Dunia tidak lagi menarik sama sekali. Kerinduan kita terhadap Kerajaan Surga begitu kuat. Kalimat Doa Bapa Kami: “Datanglah Kerajaan-Mu” bisa dihayati dengan benar.
     
    Orang percaya yang menghadirkan pemerintahan Allah pasti kelihatan dalam seluruh gerak hidupnya. Ini berbeda dengan mereka yang tidak menghadirkan Kerajaan Allah. Biaya menghadirkan Kerajaan Allah hanya dengan satu cara, yaitu darah Yesus. Kerajaan Allah itu sebenarnya sudah datang, dihadirkan oleh Yesus. Namun, bagaimana hidup di dalam pemerintahan Allah itu atau sama dengan pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) itu bisa terjadi atau berlangsung dalam kehidupan kita? Bagaimana kita bisa makin mengerti kehendak Allah dan menghayati kehadiran-Nya? Kalau kita menghayati kehadiran-Nya, kita akan sulit berbuat dosa atau berbuat salah. Dunia tidak lagi membelenggu kita atau menyandera kita, karena atmosfer Kerajaan Allah itu akan dirasakan. Kita tidak lagi memiliki rasa takut terhadap apa pun dan siapa pun. Kita makin berani menghadapi hidup karena kita hanya memiliki satu kepentingan, yaitu hidup untuk kemuliaan nama-Nya, yang sama dengan hidup hanya untuk kesenangan Allah Bapa. Tuhan Yesus adalah satu-satunya manusia yang berhasil menyukakan hati Allah Bapa. Oleh sebab itu, kita harus mengenal Dia dengan benar untuk meneladani hidup-Nya.
     
    Orang yang tidak mengenal Yesus dengan benar—walaupun menyebut nama-Nya dan menyembah Dia, tetapi sebenarnya itu bukan Yesus yang asli—nanti ketika ia berada di ujung maut akan ada ketakutan luar biasa.
    0 min
  • EPISENTRUM KEBENARAN
    Semakin seseorang serius dengan Allah—yang ditandai dengan hati yang mengasihi Dia, walau hal ini tidak mudah ditangkap oleh orang lain dan memang tidak perlu dipamerkan—semakin seseorang dibawa kepada pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran), yang makin hari makin cepat. Seperti suatu benda berada di pusat pusaran atau episentrum sebuah gerak air yang berputar (karena semakin ke tengah, geraknya semakin cepat). Ini berarti semakin banyak pengalaman dengan Allah, semakin seseorang mengerti kehendak-Nya untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk dipenuhi. Dalam level ini, barulah seseorang bisa menghayati kehadiran Allah dengan kuat, sehingga ia bisa hidup di hadirat Allah sepanjang waktu. Kegentaran akan Allah terasa dalam jiwa dan mencengkeram semakin hebat. Dengan demikian, mendorong seseorang semakin hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Di lain pihak, memiliki kekuatan atau keteguhan menghadapi segala sesuatu. Pada zaman gereja mula-mula, penganiayaan memaksa orang percaya hidup dalam pusat pusaran atau episentrum kebenaran (1Ptr. 4). Allah yang menghendaki demikian.
     
    Untuk zaman sekarang, apakah jemaat hidup dalam episentrum kebenaran? Dalam hal ini, yang paling berperan dalam gereja adalah pelayan Firman atau pengkhotbah dan pemimpin gereja secara organisasi. Kalau hidup pendeta tidak benar, tidak suci, masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, maka dirinya menjauh dari pusaran. Ini adalah kehidupan yang bersahabat dengan dunia (Yak. 4:4). Tentu saja sebagai dampaknya atau imbasnya, semua jemaat yang dilayani dan mendengarkan khotbahnya ikut menjauh dari pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran). Hal ini terjadi dalam kehidupan mereka yang selalu berbicara mengenai berkat jasmani dan pemenuhan kebutuhan jasmani serta mukjizat-mukjizat.
     
    Kegiatan gereja tetap bisa aktif dengan berbagai program yang kelihatannya rohani dan mendukung pekerjaan misi, pertemuan-pertemuan dalam acara kebaktian sangat semarak seakan-akan Allah hadir dalam pertemuan tersebut dan disukakan, tetapi secara dasariah mereka tidak mengalami pertumbuhan untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Inilah yang disebut sebagai pasivitas rohani. Dalam kehidupan setiap hari, tampak bahwa mereka tidak merindukan langit baru dan bumi yang baru. Hati mereka masih tertambat di dunia ini.
     
    Sejatinya, titik pusaran (episentrum) yang dimaksud adalah kehidupan Yesus yang harus dikenali dan dikenakan dalam kehidupan ini. Kita harus sungguh-sungguh merindukan dan sangat mengingini ada di titik pusaran itu. Semua isi pemberitaan Firman harus menjurus ke titik pusat pusaran tersebut. Kalau gereja masih bicara berkat-berkat jasmani, pemenuhan kebutuhan jasmani, dan mukjizat, berarti masih jauh dari pusatnya. Memang pelayanan Yesus dimulai dari pemenuhan kebutuhan jasmani bagi mereka yang sakit, tetapi hal tersebut bukanlah tujuan. Tujuannya adalah menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus yang melakukan kehendak Bapa.
     
    Kalau seseorang sudah ada di pusat pusaran kebenaran (episentrum kebenaran) ini, kerinduannya hanya Allah dan Kerajaan-Nya. Semakin berada di pusat pusaran kebenaran, semakin seseorang terpisah dari dunia ini. Dengan demikian, semakin dapat memenuhi apa yang diajarkan oleh Yesus bahwa hidup ini hanya untuk mengumpulkan harta di surga (Mat. 6:19-21), atau memikirkan dan mencari “perkara-perkara yang di atas” (Kol. 3:1-3). Inilah yang sebenarnya dimaksud dengan semakin terbang tinggi bagai rajawali, atau bisa berarti “semakin meninggalkan dunia ini.” Dengan demikian, hati semakin dipindahkan, sesuai yang dikatakan oleh Yesus “di mana ada hartamu di situ hatimu berada” (Mat. 6:21).
     
    Kita harus fokus kepada Tuhan dengan memberikan perhatian yang sepatutnya untuk perkara-perkara rohani di tengah-tengah pergumulan atau pergulatan hidup, baik dalam hidup pribadi, rumah tangga, keluarga, dan lingkungan (di gereja, sekolah teologi, badan perguruan tinggi,
    0 min
  • DINISTA
    Firman Tuhan dalam 1 Petrus 4:14 tertulis, “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.” Orang percaya pada gereja mula-mula bukan hanya mengalami penganiayaan, melainkan juga mengalami berbagai penistaan. Namun, mereka merasa terhormat dengan keadaan tersebut. Hal ini berbeda dengan orang-orang Kristen sekarang. Banyak orang beragama Kristen lebih merasa terhormat kalau menjadi pimpinan sinode gereja atau menjadi pendeta yang dihormati orang banyak. Penderitaan apa yang kita alami? Tidak ada. Kalau tidak ada penderitaan, berarti Roh Kemuliaan tidak ada pada orang-orang tersebut. Roh Kemuliaan ini ada pada orang yang menderita karena Kristus. Orang-orang percaya yang benar, yang berusaha hidup dalam kebenaran, pasti mengalami penistaan. Penistaan tersebut justru sering datang bukan hanya dari orang-orang di luar Kristen, tetapi saudara-saudara seiman sendiri.
     
    Sejak Konsili Nicea (thn. 325) yang digagas oleh Kaisar Constantin—yang sebenarnya masih belum dibaptis—lahirlah “spirit” menghakimi saudara seiman. Gereja dan para teolog merasa berhak memiliki otoritas ilahi yang bisa menetapkan orang lain sesat. Pada abad-abad pertengahan, gereja bukan saja bisa menetapkan seseorang sesat, tetapi juga mengutuk, menghukum, mengucilkan, sampai menjatuhkan hukuman mati. Sesuatu yang tidak diajarkan oleh Yesus. Tradisi ini masih dibawa sampai sekarang atas orang-orang yang merasa doktrinnya benar dan menunjuk orang yang tidak sepaham dengan dirinya sebagai sesat. Mengadakan persekusi secara atau melalui medsos dengan berbagai kata-kata yang tidak pantas diucapkan sebagai orang saleh. Perbedaan pendapat sangat mungkin tejadi, merasa diri benar bukan sesuatu yang bisa disalahkan, tetapi tindakan mendzolimi sampai menista orang lain harusnya tidak dilakukan. Tidak sedikit penistaan tersebut berangkat dari ketidakpuasan atau kekecewaan terhadap seseorang, yang disebabkan karena perbedaan pendapat, perasaan iri, dan lain sebagainya. Dari hal ini, mudah dikenali bahwa mereka yang suka menista sesamanya pasti bukan orang percaya yang benar.
     
    Kalau kita dinista, kita tidak perlu tertekan dan menjadi marah. Penistaan-penistaan tersebut sebenarnya merupakan berkat abadi, sebab dengan penistaan-penistaan tersebut justru membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani hidup dan mengoreksi diri. Kita akan lebih memerhatikan fakta pengadilan Kristus nanti, di mana semua keadaan manusia akan dibuka. Pada waktu itu, akan terbuka dan terbukti orang yang benar-benar anak Allah dan mereka yang palsu. Kiranya Allah menolong setiap kita dan mereka yang suka menista agar disadarkan oleh Allah untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang meneladani Yesus. Penderitaan yang kita alami bukan karena kejahatan kita melainkan dijahati oleh orang, dapat menjadi kebahagiaan (1Ptr. 4:15-16).
     
    Kita harus waspada sebab Allah memperhadapkan kita pada ketegasan-Nya, seperti yang dikatakan oleh Petrus, “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?” (1Ptr. 4:17). Maksud kata “dihakimi” di sini adalah “ditampi.” Ini adalah bentuk justifikasinya melalui penderitaan. Penderitaan memurnikan iman dan mendewasakan. Semua itu mendatangkan kebaikan bagi orang percaya, karena untuk masuk Kerajaan Surga bukan sesuatu yang mudah. Petrus dalam suratnya menulis: “Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia” (1Ptr. 4:18).
     
    Mesin anugerah berjalan terus. Kematian Yesus di kayu salib adalah awal mesin itu berputar. Lalu, Allah memberikan Roh Kudus dan Injil.
    0 min
  • DINAIKAN KE TITIK IMAN YANG BENAR
    Firman Tuhan dalam 1 Petrus 4:13 mengatakan, “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” Kita harus mengerti, kalau seseorang melayani Tuhan, ia sering merasa perjalanan hidupnya menjadi berat atau bahkan menjadi susah. Semua hamba Tuhan yang benar sudah melewati tahapan perjalanan pelayanan seperti itu. Tetapi pada akhirnya, yang tadinya terasa berat akan menjadi ringan dan kesusahan tidak lagi menjadi sesuatu yang menyakitkan. Kita harus belajar untuk tidak berhenti berjuang, sampai akhirnya kita tidak bisa berhenti berjuang. Akhirnya, kita sampai pada level di mana kita menerima bahwa dalam hidup ini kita tidak lagi memiliki kepentingan selain melayani Tuhan dengan menyenangkan hati Bapa, yaitu melakukan kehendak Bapa.
     
    Kita tidak boleh berhenti melayani Tuhan; berhenti melayani berarti celaka. Kita harus selalu melihat adanya peluang bagaimana Injil yang murni diberitakan, bagaimana orang diubah. Itu harganya adalah segenap hidup kita. Dalam pelayanan, kita harus berusaha membuktikan bahwa apa yang kita ajarkan benar-benar sesuai dengan kebenaran Alkitab, dan akhirnya yang penting kita menjaga hidup untuk selalu berkenan di hadapan Allah. Kita tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada teman-teman pelayanan selain suatu hari nanti bersama menikmati kehidupan di langit baru dan bumi yang baru, dan sekarang ini kita tidak dapat membuktikan mengenai hal itu. Tetapi kita tetap berusaha bagaimana dapat memperagakan kehidupan Yesus di dalam hidup ini melalui segala sesuatu yang kita lakukan.
     
    Tidak mudah dalam waktu singkat kita membuktikan kemurnian motivasi kita melayani Allah. Tetapi kita harus berusaha untuk belajar semurni-murninya melayani Tuhan dengan berusaha mengubah diri menjadi seperti Yesus dan dapat menjadi role model bagi semua orang. Ini adalah bagian tersulit dalam kehidupan. Rasanya mustahil, tetapi kita tidak boleh menyerah. Menjadi kekuatan dan gairah hidup kita adalah kesadaran bahwa kita bisa mati di samping kayu salib Yesus dan itu adalah sebuah kehormatan. Mati di samping salib Yesus artinya menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Rasanya tidak sulit untuk meraih gelar doktor teologi daripada pada menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya; manusia lama kita.
     
    Dalam kehidupan sebagai pengikut Kristus, kita tidak bisa menghindari kenyataan bahwa mengikut Yesus harus menderita. Bahkan, kadang-kadang kita bukan hanya harus menghadapi penderitaan, melainkan juga kebingungan. Hal ini sudah terjadi atau dialami oleh orang-orang Kristen abad mula-mula, yaitu ketika mereka menghadapi penganiayaan. Dalam keadaan teraniaya, seolah-olah Allah tidak sanggup menolong, Allah seakan-akan diam, membisu. Pada waktu mereka dikejar-kejar dan ditangkap, mereka tidak lolos dari sergapan tentara Roma, tidak ada yang membebaskan dari keadaan yang sangat mengerikan tersebut. Mereka pasti bingung. Namun mereka tetap percaya dan setia kepada Tuhan Yesus. Allah yang Mahabesar, Mahaagung, Mahamulia layak dipercayai sedemikian rupa, bahkan untuk hal yang paling tidak bisa kita mengerti. Kita bisa berpendirian atau berprinsip: Aku tidak mengerti, tetapi aku tetap percaya. Dalam hal ini kita belajar percaya kepada Allah. Pengalaman seperti ini juga dialami oleh Abraham.
     
    Kalau hari ini kita tidak mengalami penderitaan seperti orang-orang Kristen abad mula-mula, kita bisa memikul penderitaan orang. Kita bisa membayar harga keselamatan jiwa orang lain dengan dengan kesucian hidup, kerja keras, dan kepedulian yang tulus. Dalam pergumulan yang tulus untuk melayani Tuhan, banyak kesulitan yang kita hadapi. Tuhan tidak membuat jalan hidup pelayanan kita mudah. Bahkan, kadang-kadang Tuhan seperti bersembunyi, tidak menolong kita dalam berbagai kesulitan. Seakan-akan Allah tidak peduli terhadap keadaan kita...
    0 min
  • BERJALAN BERSAMA BAPA
    Setiap saat Allah sebagai Bapa mendidik kita. Tidak ada satu detik pun Allah tidak hadir dalam hidup kita. Ini berarti, sejatinya, pengalaman hidup kita adalah fragmen yang sangat luar biasa. Kalau seandainya bisa ditulis, nilainya lebih dari biografi tokoh hebat mana pun yang tidak berjalan dengan Allah. Sayangnya, banyak orang Kristen yang tidak menyadari anugerah yang begitu besar yang Allah karuniakan. Jadi, ketika Yesus berkata bahwa Dia menyertai kita sampai akhir zaman, itu berarti kehidupan kita menjadi bernilai sebab kita berjalan bersama Allah yang hidup, melalui dan di dalam Roh-Nya. Hal ini bisa terjadi atau berlangsung karena darah Yesus telah memperdamaikan kita dengan Allah, dan membenarkan kita di hadapan Allah Bapa, sehingga kita bisa menjadi anak-anak-Nya. Dengan menjadi anak-anak Allah, kita menerima didikan-Nya.
     
    Karena tidak menyadari anugerah yang besar ini, banyak orang yang hidup secara sembarangan, sehingga fragmen hidup yang mestinya terangkai dalam kehidupan, tidak terangkai sesuai kehendak-Nya. Banyak orang lebih tertarik menjadi orang kaya agar terhormat, bisa berelasi dengan para pejabat tinggi atau orang-orang penting dunia, serta orang-orang kaya lainnya. Banyak orang lebih tertarik menjadi orang terkenal sehingga dipuja, dikagumi oleh banyak orang, dan bisa bersentuhan dengan orang-orang terkenal lainnya. Banyak orang lebih tertarik bersentuhan dengan orang-orang yang dinilai memiliki kelebihan di mata manusia. Tetapi mereka semua tidak tertarik bersentuhan dengan Allah yang Mahamulia, dan tidak berkerinduan berjalan bersama-Nya. Tentu saja mereka tidak sungguh-sungguh merasa membutuhkan Allah.
     
    Di lingkungan gereja, tidak sedikit pengerja atau majelis gereja yang merasa lebih terhormat menjadi pemimpin di lingkungan orang-orang Kristen dan bersentuhan dengan pendeta daripada bersentuhan dengan Allah dan berjalan bersama-Nya. Tidak sedikit pendeta yang lebih tertarik pada jabatan sebagai pemimpin jemaat, pemimpin wilayah, bahkan kalau bisa menjadi ketua sinode. Dengan jabatan tersebut, seorang pendeta dapat bersentuhan dengan orang-orang kaya, pemimpin-pemimpin gereja lain, dan dengan pejabat-pejabat tinggi pemerintah. Mereka kurang tertarik bersentuhan dengan Allah dan berjalan bersama Dia dibanding dengan hal-hal di atas. Tentu saja hal ini tidak mudah diakui, tetapi kenyataannya demikian. Kita harus memiliki perasaan takut akan Allah dan pengadilan-Nya, karena keadaan kita yang sebenarnya akan dibuka di depan semua orang.
     
    Orang yang kurang atau tidak tertarik bersentuhan dengan Allah secara nyata dan berjalan bersama Dia, tidak akan mengalami proses pembentukan untuk menjadi anak-anak Allah yang menyukakan hati-Nya. Pada dasarnya, orang-orang seperti ini tidak mengenal kebenaran. Kalaupun mereka memiliki pengetahuan teologi, pastilah bukan kebenaran yang murni yang sesuai dengan Alkitab. Bisa saja orang mengelak, tetapi buah kehidupannya atau kualitas hidupnya jelas menunjukkan kualitas pengajarannya. Sebab, kebenaran yang murni pasti mendesak seseorang untuk berperilaku dalam standar kesucian Allah. Pada dasarnya, orang yang kurang atau tidak tertarik bersentuhan dengan Allah secara nyata dan berjalan bersama Dia adalah orang yang tidak mengasihi Allah sehingga tidak menghormati Allah secara patut. Orang-orang seperti ini tidak mendapat bagian berkat kekal, yaitu pembentukan Allah seperti yang termuat dalam Roma 8:28.
    Bersentuhan dengan Allah secara nyata dan berjalan bersama Dia, menghasilkan kehidupan yang semakin diubahkan menjadi anak kesukaan Allah, sebab kebersamaan dengan Allah adalah pengalaman penggarapan Allah atas hidup kita. Ini pengalaman yang lebih dari mengalami Allah karena mukjizat-mukjizat, kejadian-kejadian spektakuler seperti mengalami kesembuhan, ekonomi yang dipulihkan, menerima kenaikan jabatan, dan lain sebagainya. Hendaknya, bukan melalui hal-hal tersebut, seakan-akan kita baru dapat “merasakan” kehadiran Allah.
    0 min
  • AGENDA SATU-SATUNYA
    Setiap kita pasti mempunyai pengalaman yang khusus dan tidak ternilai harganya, karena pengalaman tersebut adalah rancangan Allah untuk membawa kita kepada kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Kalau Firman Allah mengatakan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia, berarti semua kejadian yang kita lihat, kita dengar, dan yang kita alami memuat pelajaran rohani yang yang berharga. Sesungguhnya, setiap hari Allah melawat kita melalui segala hal untuk memberkati kita dengan berkat abadi, artinya semua kejadian yang kita lihat, kita dengar, dan alami memuat pembentukan Allah untuk mempersiapkan kita menyongsong kekekalan. Betapa hebat Allah sebagai Bapa dengan konsekuen dan konsisten hadir dalam hidup kita melalui Roh-Nya untuk mempersiapkan kita masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah.
     
    Melalui semua kejadian yang dirancang oleh Allah, Ia berkehendak mengangkat iman kita sampai kepada titik standar yang Allah kehendaki. Iman yang dimaksud adalah penurutan atau ketaatan kepada kehendak Allah. Kalau Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah Sang Penjunan dan kita adalah tanah liat, maka sejatinya tanpa henti Allah melalui Roh-Nya menggarap kita terus-menerus tiada henti. Waktu yang sangat terbatas yang diberikan kepada masing-masing individu sangat bernilai. Allah menghargai waktu itu sehingga tidak ada saat di mana Dia berhenti membentuk kita. Kalau Allah tidak berhenti membentuk kita, seharusnya kita tidak juga berhenti merespons pembentukan-Nya.
     
    Menjadi kesalahan kita, sering kita menjadi seperti “pelajar” atau “murid” yang bolos belajar. Hal ini karena perhatian kita yang beralih kepada banyak objek. Objek itu bisa berbentuk kesenangan-kesenangan dunia, hobi, barang-barang, dan berbagai cita-cita yang kita harapkan dapat membahagiakan kita. Bagi kita yang aktif dalam pelayanan, objek tersebut bisa pelayanan itu sendiri. Kita menginginkan gereja menjadi besar baik secara jumlah maupun fasilitas gedung, banyak kegiatan-kegiatan rohani seperti diakonia, membangun sekolah, misi, aktivitas sosial, dan lain sebagainya. Ternyata di balik semua kegiatan rohani tersebut terdapat agenda-agenda pribadi yang berpusat pada kesenangan diri sendiri. Harus diwaspadai bahwa banyak hal bisa mencuri perhatian kita sehingga proses pembentukan Allah atas hidup kita terhambat.
     
    Kalau Allah sebagai Sang Penjunan menghargai waktu kita, kita harus lebih menghargai waktu yang Allah karuniakan. Masalahnya, sering kita tidak menyadari betapa dahsyatnya kekekalan. Kalau kita mampu menghayati dahsyatnya kekekalan, kita lebih bisa menghargai setiap menit yang Allah karuniakan. Mengapa Allah menghargai waktu kita? Karena di dalam tatanan-Nya, Allah sudah menetapkan durasi waktu yang menjadi porsi masing-masing individu. Tentu saja Allah tidak akan menyangkali ketetapan atau tatanan-Nya tersebut. Menghayati hal ini, mulai sekarang kita harus menghargai waktu yang Allah karuniakan, di mana di dalamnya Allah memberikan pembentukan-Nya kepada kita. Aspek lain yang harus ditambahkan di sini adalah bahwa dalam pembentukan tersebut, Allah tidak melakukan “sulap,” artinya Allah tidak mengubah sekejap seseorang menjadi anak kesukaan-Nya, tetapi harus melalui proses yang bertahap ketat.
     
    Satu-satunya yang menarik dalam hidup ini adalah menjadi anak kesukaan Allah. Kalau kita tidak tertarik terhadap hal ini—yaitu untuk menjadi anak kesukaan Allah—kita tidak akan bisa melihat mesin anugerah dari Allah yang begitu berharga menggarap kita setiap hari. Menjadi anak kesukaan berarti menjadi pribadi seperti Yesus yang selalu menyukakan hati Bapa. Tindakan Allah yang berharga—yaitu memproses kita untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus atau hidup dalam kesucian-Nya—harus kita tanggapi atau kita respons secara benar. Merespons secara benar artinya kita selalu mengoreksi diri melalui setiap kejadian, karena setiap kejadian pasti memuat suara Tuhan yang me...
    0 min
  • PERJUANGAN YANG BERKESINAMBUNGAN
    Firman Allah mengatakan, “Kumpulkanlah bagimu harta di sorga” (Mat. 6:20). Mengumpulkan harta di surga bukan berbicara mengenai mengumpulkan uang atau melakukan kegiatan amal yang diharapkan dapat membuahkan upah atau pahala di surga. Orang percaya tidak boleh terkecoh oleh kampanye-kampanye yang menjanjikan berkat berlimpah baik di bumi maupun di surga dengan jalan memberi persembahan uang ke gereja. Gereja yang selalu membicarakan berkat-berkat jasmani dan selalu berkutat pada masalah uang, secara tidak langsung tidak mengarahkan jemaat kepada harta di surga. Inilah yang terjadi dewasa ini, dimana pelayanan gereja menjadi bisnis yang berorientasi pada uang atau berkat jasmani, mukjizat, pembangunan gedung, dan jumlah jemaat. Nuansa ini sebenarnya berpotensi besar memarkir pikiran dan orientasi hidup jemaat dalam dunia ini.
     
    Mengumpulkan harta di surga sebenarnya berbicara mengenai bagaimana kita bertumbuh menjadi anak-anak Allah yang semakin berkenan kepada-Nya. Dikatakan “mengumpulkan” berarti untuk mencapai kehidupan sebagai anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya tidak bisa dicapai dalam waktu singkat, dan bukan sesuatu yang mudah. Dibutuhkan perjuangan secara berkesinambungan dan harus mengerahkan seluruh potensi kehidupan. Mestinya, hal ini menjadi satu-satunya agenda dalam hidup ini. Orang Kristen yang tidak menjadikan hal ini sebagai satu-satunya agenda hidup, tidak akan pernah mengumpulkan harta di surga secara proporsional.
     
    Dalam Lukas 12, Yesus mengemukakan mengenai orang kaya yang tidak pernah puas dengan jumlah kekayaan yang telah dikumpulkannya. Ia menginginkan kekayaannya bertambah lebih banyak dan berharap jiwanya mendapat ketenangan. Yesus memandang orang seperti ini sebagai orang bodoh yang mati dalam keadaan “miskin abadi.” Hidupnya hanya disibukkan dengan mengumpulkan harta dunia yang fana, sehingga tidak memberikan porsi yang memadai untuk mengumpulkan harta di surga. Apa yang dilakukan oleh orang kaya ini juga dilakukan oleh banyak orang Kristen hari ini. Oleh sebab itu, kalau kita ternyata seperti orang kaya yang bodoh ini, kita harus bertobat dan mengarahkan hidup kita hanya untuk mengumpulkan harta di surga.
     
    Setiap hari, kita harus mengumpulkan harta di surga. Harta itu akan terakumulasi atau dikumpulkan, hal ini menunjukkan proses bertahap bertumbuhnya kesucian hidup ini, yang sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Proses ini bertahap ketat, tidak bisa hanya dilakukan dalam satu hari, satu minggu, bahkan tidak cukup hanya dalam satu tahun, melainkan sepanjang umur hidup. Dengan demikian, sesungguhnya hidup di bumi ini hanya untuk membangun kehidupan di dunia yang akan datang. Itulah sebabnya kita harus rela tidak memiliki kepentingan apa pun selain berjuang untuk menjadi anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya. Mengumpulkan harta di surga paralel dengan bertumbuhnya iman orang percaya. Orang yang percaya kepada Yesus harus berubah secara bertahap menjadi semakin seperti Yesus, artinya semakin hidup dalam kekudusan Allah. Dengan demikian, ciri dari orang percaya yang benar adalah semakin hari, ia semakin serupa dengan Yesus.
     
    Sebelum seseorang semakin menjadi serupa dengan Yesus, belum bisa dikatakan sebagai orang percaya yang benar. Untuk ini harus ada proses bertahap dimana seseorang menjadi nyata semakin seperti Yesus. Kita harus berjuang untuk mengalami tahapan-tahapan pertumbuhan sampai menjadi seperti Yesus tersebut. Allah pasti menggarap kita, karena mesin anugerah Allah berjalan terus membentuk kita. Kalau fokus seorang Kristen adalah dunia ini—yaitu bekerja karena untuk memiliki fasilitas dan mencari kesenangan—maka kehidupan menjadi seperti Yesus tidak akan pernah terealisasi. Ini berarti tidak akan pernah menjadi orang percaya sampai selamanya. Sangat ironis, hari-hari ini banyak orang Kristen—walaupun rajin pergi ke gereja, menjadi seorang aktivis atau pengerja gereja atau bahkan seorang pen...
    0 min
  • MENGOREKSI DIRI
    Untuk menjadi anak-anak Allah yang baik, Allah mendidik kita. Ibrani 12 menulis, “sama seperti orangtua mendidik anak-anaknya, demikian pula Allah sebagai ‘Bapa’ mendidik kita agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.” Orangtua mendidik kita dalam waktu yang singkat dan pendek, sesuai dengan apa yang mereka pandang baik. Sebagai anak-anak Allah, kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh supaya kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Semua kejadian yang Allah izinkan kita alami bisa menjadi berkat abadi. Kalau nanti kita menutup mata, kita yang sudah mengambil bagian dalam kekudusan Allah, baru lebih dapat menghayati betapa berharganya didikan Allah dalam hidup ini.
     
    Mengambil bagian dalam kekudusan Allah artinya orang percaya dapat memiliki kekudusan seperti kekudusan Allah sendiri. Dan inilah standar yang ditetapkan oleh Allah, yang oleh karenanya Allah berfirman, “Kuduslah kamu karena Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa orang percaya harus memiliki kekudusan seperti Allah sendiri. Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa. Dan masih banyak ayat-ayat di dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang memuat panggilan atau perintah Allah agar umat pilihan memiliki kesucian seperti Allah, Bapanya.
     
    Kita harus percaya dan menerima bahwa standar kesucian yang Allah kehendaki tidak pernah boleh ditawar atau dikurangi. Bagaimana pun keadaan hidup kita, harus tetap bertumbuh untuk mencapai kesucian sesuai dengan yang Allah kehendaki. Kalau sering kita hidup sembarangan atau tidak hidup di dalam kesucian sesuai dengan standar-Nya, dan kita merasa seakan-akan Allah tidak terganggu, semua keadaan berjalan dengan baik, sebenarnya ini suatu keadaan yang sangat berbahaya. Allah seakan-akan diam bukan berarti Dia benar-benar diam. Allah adalah pribadi yang responsif dan reaktif, tetapi oleh karena Allah telah memberikan kehendak bebas kepada manusia, Allah membiarkan keadaan itu. Hal ini seperti kasus Adam dan Hawa di Taman Eden, dimana Allah tidak mencegah ketika Adam dan Hawa memetik buah yang dilarang oleh Allah untuk dikonsumsi.
     
    Ketika seseorang dipandang Tuhan belum dewasa karena umur rohaninya masih baru, maka ketika melakukan suatu kesalahan serta-merta Allah menegurnya dengan segala cara. Tetapi kalau seseorang sudah menjadi Kristen selama bertahun-tahun, Allah menghendaki agar orang tersebut sadar sendiri atas kesalahannya tanpa harus ditegur. Dalam hal ini, mengapa Allah seakan-akan diam ketika seseorang yang mestinya sudah dewasa melakukan suatu pelanggaran. Dalam hal ini pula, kita bisa mengerti mengapa ketika seorang pendeta senior melakukan pelanggaran atau hidup tidak sesuai dengan kesucian Allah tidak mendapat pukulan atau teguran. Seakan-akan Tuhan membenarkan tindakan dan keadaan orang-orang seperti itu.
     
    Kebenaran di atas ini bisa menjadi peringatan bagi mereka yang tidak hidup di dalam kekudusan Allah dan merasa semuanya berjalan dengan baik. Sesungguhnya ini adalah keadaan yang sangat membahayakan bagi mereka sendiri. Allah memandang mereka sudah harus bisa mengoreksi dan menyadari keadaan hidup mereka yang tidak mencapai standar kekudusan Allah. Sejatinya, Allah bukan diam sama sekali. Pasti ada peringatan-peringatan atau teguran-teguran yang Allah telah berikan, tetapi mereka menutup pintu hati atau mata jiwa sehingga tidak memedulikan peringatan-peringatan atau teguran-teguran tersebut. Kalau hal ini berlangsung terus-menerus atau berlarut-larut, mereka tidak akan memiliki kepekaan menangkap suara Tuhan. Sampai pada level ini, seseorang berkategori menghujat Roh Kudus.
     
    Menghujat Roh Kudus bukan hanya terjadi atau dilakukan oleh mereka yang ada di luar gereja, melainkan juga berpotensi terjadi atau dilakukan oleh mereka yang ada di dalam gereja. Bukan sesuatu yang tidak mungkin, seorang aktivis gereja dan rohaniwan (pendeta) yang mengaku hamba Tuhan bisa berkeadaa...
    0 min
  • KONFIRMASI DARI ALLAH
    Kalau Abraham dalam ketaatannya bisa menjadi sahabat Allah, kita dalam ketaatan seperti Yesus dapat menjadi anak-anak Allah (1Ptr. 13-17). Penurutan atau ketaatan yang orang percaya harus miliki haruslah sesuai dengan standar yang Yesus tunjukkan, yaitu hidup-Nya sendiri. Dialah standar hidup anak-anak Allah yang dikehendaki oleh Bapa. Allah tegas dan berintegritas sempurna. Allah tidak mengurangi standar tersebut, kapan pun, bagaimana pun, dan di mana pun. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak berpikir bahwa kalau kita sudah menjadi orang Kristen, secara otomatis sudah menjadi anak-anak Allah yang sah. Kalau selama ini dikesankan demikian oleh pihak gereja, kita harus sadar bahwa pengesahan sebagai anak-anak Allah harus dari pihak Allah. Hal ini sama dengan kata “percaya,” apakah percaya kita kepada Allah diterima atau dirasakan oleh Allah sebagai percaya yang benar? Hal ini sama pula dengan hal mengasihi Allah. Kalau kita berkata bahwa kita mengasihi Allah, apakah Allah merasakan dan mengakui bahwa kita mengasihi Dia?
     
    Maka, kita harus berurusan dengan Allah secara pribadi untuk mendapat konfirmasi dari Dia mengenai hal tersebut, yaitu apa penilaian Allah terhadap kita dan apa yang Allah rasakan mengenai kita terhadap diri-Nya. Kita tidak boleh dan memang tidak bisa bertanya kepada manusia; teolog dan pendeta mana pun. Masing-masing kita harus berurusan dengan Allah secara pribadi. Hal ini harus kita pandang sebagai hal yang selalu paling mendesak dan penting. Segala sesuatu bisa diabaikan jika sudah mempersoalkan hal ini, sebab ini menyangkut nasib kekal kita. Kepastian mengenai hal ini tidak bisa diselesaikan dengan “percaya saja.” Percaya masih bersifat spekulatif, tetapi mengalami langsung dengan Allah adalah kepastian yang lebih dari sekadar percaya dengan nalar. Dalam hal ini, orang percaya tidak boleh membiasakan diri merasakan apa yang dipercayai mengenai relasinya dengan Allah, tetapi harus membiasakan diri merasakan apa yang dialami dengan Allah, sebab Allah hidup dan pasti nyata.
     
    Sangat membahayakan kalau orang Kristen merasa bahwa yang dipercayai di dalam pikiran sudah berarti kebenaran hidup yang berkualitas, sejajar dengan pengalaman riil dengan Allah. Mereka merasa sudah berkenan kepada Allah karena memercayai Allah di dalam pikiran. Karena Allah sering seakan-akan tidak ada, mereka merasa bahwa Allah memang memberikan standar hidup demikian dalam berelasi dengan Allah. Tidak perlu ada pengalaman-pengalaman yang dinilai “mistik.” Cukup percaya saja, walau tidak ada konfirmasi dari Allah. Mereka merasa tidak perlu mendapat konfirmasi dari Allah, sebab yang penting mereka sudah percaya dan bisa memberi jawaban atau alasan mengenai keadaan hidup mereka tersebut. Ini adalah orang-orang Kristen yang berfantasi dengan Allah, tetapi tidak mengenal Allah dengan benar.
     
    Biasanya, teolog menjawab segala pertanyaan dan persoalan mengenai Allah hanya di atas kertas dalam karya-karya ilmiah di lingkungan seminari atau sekolah tinggi teologi. Jawaban-jawaban tersebut dibagikan kepada jemaat pada hari-hari pertemuan bersama. Hal ini diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga pada umumnya gereja-gereja mengenakan pola seperti ini sebagai budaya permanen yang tidak pernah berubah. Tanpa disadari, terbangun rezim di dalam gereja yang sangat dipengaruhi oleh ajaran yang diolah di seminari atau sekolah-sekolah tinggi teologi. Padahal, sering kali para pengolahnya adalah orang-orang yang “berkarier” dalam dunia akademis yang tidak jarang kurang bersentuhan dengan kehidupan riil jemaat.
     
    Tidak dapat disangkal kenyataan adanya dosen-dosen di lingkungan seminari atau sekolah tinggi teologi yang menjadi pengajar dan mengolah doktrin hanya karena “nafkah” dan “karier,” bukan karena dedikasi yang murni bagi Allah. Bagaimana tulisan dalam Alkitab yang ditulis dalam pergumulan hebat menghadapi kehidupan secara riil dapat dianalisa oleh pikiran orang-orang yang tidak mengalami ke...
    0 min
  • MESIN ANUGERAH
    Dalam 1 Petrus 4:12, Petrus menulis, “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.” Pada waktu itu, kekristenan baru muncul di abad satu dalam kehidupan orang percaya kepada Yesus. Kekristenan belum memiliki sejarah panjang. Mereka hanya melihat kehidupan Yesus dan rasul-rasul-Nya sebagai pelajaran rohani bagi mereka. Hal ini berbeda dengan gereja-gereja abad 21 yang dapat memperoleh banyak pelajaran rohani dari sejarah kehidupan orang Kristen. Jadi, orang Kristen abad pertama masih harus belajar sendiri dari sejarah hidup mereka dalam mengiring Yesus. Belum pernah dalam sejarah ada model kehidupan seperti yang dijalani oleh Yesus, sebagaimana gaya hidup yang mereka harus jalani.
     
    Pada waktu Petrus menulis suratnya kepada jemaat, gereja sedang mengalami aniaya yang hebat sekali. Penerima surat Petrus adalah generasi kedua setelah murid-murid Yesus. Petrus masih berhadapan langsung dengan Yesus, tetapi generasi berikutnya setelah murid-murid pertama belum tentu sempat berhadapan langsung dengan Yesus. Namun demikian, mereka berani percaya dan menghadapi aniaya yang hebat. Allah mengizinkan hal itu terjadi. Walau mereka belum pernah melihat sejarah kehidupan manusia seperti yang mereka jalani, mereka tetap percaya kepada Tuhan dan kepada para pemimpin rohani mereka yang gigih dalam mempertahankan iman.
     
    Allah mengizinkan gereja mengalami penganiayaan yang hebat dengan maksud agar situasi itu mendongkrak mereka untuk mencapai standar atau level kehidupan rohani yang dikendaki oleh Allah. Seperti gereja mula-mula mengalami aniaya untuk “mendongkrak” mereka mencapai level sebagai orang percaya yang benar, demikian pula di dunia kita hari ini yang sangat fasik. Bagi mereka yang mengasihi Allah, Allah memberikan fasilitas dimana orang percaya bisa mengalami kenaikan level kehidupan rohani yang baik guna memenuhi standar sebagai orang percaya yang benar di hadapan Allah. Untuk ini, Allah mengizinkan berbagai peristiwa hidup dialami orang percaya agar mencapai standar atau level kehidupan rohani yang benar di hadapan Allah.
     
    Oleh sebab itu, dalam menghadapi segala keadaan yang kita jalani, kita harus menemukan maksud Allah mengizinkan keadaan tersebut terjadi di dalam hidup kita. Kalau kita merasa tidak nyaman dalam satu situasi kehidupan, kita harus tetap percaya bahwa ada maksud besar Allah di balik semua peristiwa hidup yang kita alami. Inilah anugerah Allah bagi orang percaya yang mengasihi Dia. Jadi, anugerah Allah tidak hanya berhenti sampai di Golgota, tetapi anugerah Allah juga berlangsung terus dalam kehidupan semua umat pilihan yang mengasihi Dia di sepanjang zaman dan di segala tempat. Tindakan Allah dalam membentuk orang percaya menjadi manusia yang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus dapat digambarkan seperti mesin anugerah dalam kehidupan orang percaya.
     
    Firman Tuhan mengatakan bahwa Allah bekerja dalam segala perkara mendatangkan kebaikan bagi orang percaya yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Maksud pernyataan itu adalah bahwa Allah memproses orang percaya yang mengasihi Dia menjadi serupa dengan Yesus. Jadi, kata “kebaikan” memuat anugerah, yaitu “serupa dengan Yesus.” Inilah yang disebut dalam tulisan ini (istilah yang digunakan penulis) sebagai “mesin anugerah.” Jadi, mesin anugerah Allah itu berjalan terus dalam hidup kita sepanjang umur hidup kita sampai kita menutup mata, selama kita meresponi anugerah Allah, yaitu pembentukan-Nya dalam hidup kita.
     
    Mesin anugerah yang bekerja di dalam hidup kita guna mengubah kita menjadi serupa dengan Kristus adalah pemberian yang tidak ternilai harganya. Kalau di dunia ini, orangtua yang menyekolahkan anaknya di universitas terkemuka dunia harus membayar mahal. Sehingga hanya orangtua yang mampu secaya finansial yang dapat mengirimkan anak-anak mereka ke universitas-universitas tern...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…