Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • PRESTASI ABADI
    Kata “prestasi” dalam bahasa Indonesia artinya hasil yang telah dicapai. Sejak kanak-kanak, telah diajar dan didorong oleh orangtua dan lingkungan kita untuk mencapai prestasi yang terbaik, baik dalam studi maupun karier, dan berbagai bidang hidup lainnya. Telah terpatri dalam jiwa bahwa hidup ini untuk mengejar prestasi. Demikianlah semua manusia menghabiskan umur hidupnya, mengerahkan segala tenaga dan usaha untuk mencapai prestasi yang terbaik menurut versinya. Dalam filosofi hidup manusia pada umumnya, prestasi yang baik adalah kebahagiaan, kebanggaan pribadi dan orangtua, serta tujuan hidup. Semua ini berorientasi pada hal-hal yang fana di dunia.
    Konsep prestasi yang dikemukakan di atas ini telah mengakar di dalam pikiran hampir semua orang hari ini. Banyak orang Kristen, aktivis, bahkan pejabat sinode gereja masih terbelenggu oleh konsep yang salah ini. Walaupun bibirnya membicarakan kebenaran Firman Allah bahkan mengkhotbahkannya, tetapi konsep di atas telah kuat melekat dalam jiwa, sehingga mereka tidak pernah berpikir mengenai prestasi di alam keabadian. Padahal, semua kita akan dan harus mati, dan setiap kita harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang kita lakukan selama kita hidup di dunia ini. Alkitab memperingatkan bahwa semua manusia harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik atau pun jahat (2Kor. 5:10).
    Segala sesuatu yang kita upayakan di bumi ini, dari sekolah, kuliah, berkarier, bekerja atau bisnis, dan segala hal, semata-mata sebagai pengabdian kita kepada Tuhan. Kita tidak mengumpulkan harta di bumi, tetapi menggunakan semua untuk kepentingan Tuhan. Dengan cara demikian, kita mengumpulkan harta di surga. Jadi, sekaya apa pun seorang anak Tuhan yang benar, ia tidak merasa kaya sebab segala sesuatu yang ada padanya bukan miliknya sendiri. Ia hanya sebagai pengelola semata-mata. Dengan kehidupan seperti itu, seseorang dapat memadamkan semua keinginan, nafsu, dan segala ambisinya. Perjalanan hidup di bumi hanyalah perjuangan untuk melakukan kehendak Bapa dan memenuhi rencana-Nya. Inilah prestasi yang mestinya dicapai manusia.
    Sayangnya, pada umumnya prestasi yang tinggi biasanya diukur dengan berhasilnya mencapai gelar, meraih kedudukan yang tinggi dalam jabatan, baik jabatan di kantor swasta maupun gelanggang politik dan pemerintahan. Prestasi yang tinggi juga diukur dari kebahagiaan berumah tangga, banyaknya uang yang dimiliki, yang terwujud dalam bentuk rumah mewah, mobil bagus, perhiasan yang melekat di tubuh, dan lain sebagainya. Dalam lingkungan gereja yang tidak mengajarkan kebenaran yang murni, konsep prestasi ini masih menjadi ukuran apakah seseorang terberkati oleh Tuhan atau tidak.
    Prestasi yang benar adalah prestasi di kekekalan, tidak menyangkut masalah berapa tinggi pendidikan yang telah diraih, kedudukan yang dicapai, kekayaan yang dapat dihimpun, kebahagiaan berkeluarga yang telah dinikmati, dan kehormatan yang telah diterima dari manusia. Prestasi di kekekalan menyangkut apakah kita telah mengisi tahun-tahun hidup kita dengan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan kehendak Bapa. Sebagai orang percaya, prestasi di kekekalan diukur dengan ukuran seberapa kita telah melakukan kehendak Bapa. Menyadari hal ini, Paulus berprinsip hidup: “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya” (2Kor. 5:9).
    Prestasi yang menjadi target yang seharusnya dicapai adalah menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, sehingga kita layak dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Karena tidak ada target prestasi tersebut, tidak ada dorongan yang kuat dan usaha serta perjuangan menjadi sempurna. Tetapi kalau jangkauan pandang dan fokus hidup orang percaya kepada kemuliaan bersama dengan Kristus di Kerajaan-Nya nanti,
    0 min
  • DUNIA YANG LAIN
    Kekristenan adalah ajakan untuk mempersiapkan diri hidup di langit baru dan bumi yang baru, bukan untuk hidup bumi ini, sebab bumi ini pasti berakhir. Sebagaimana Allah adalah Allah yang kekal, Allah menghendaki manusia sebagai makhluk kekal dapat bersama dengan diri-Nya juga di kekekalan. Pada umumnya, atau hampir semua manusia melakukan segala sesuatu hanya untuk kehidupannya di bumi ini, dari sekolah, kuliah, berkarier, bekerja, menikah, dan segala sesuatu yang dikerjakan hanya untuk kehidupannya di bumi, atau masa depan anak-anaknya, atau orang yang dikasihi. Cara berpikir ini sudah mengakar dalam diri semua orang, bahwa tidak ada dunia lain yang dapat dinikmati selain dunia hari ini. Mereka berpikir bahwa dunia di balik kubur adalah dunia misteri yang tidak terpahami sama sekali. Biasanya, mereka sangat takut terhadap kematian. Itulah sebabnya mereka berusaha sejauh mungkin menghindari kematian. Padahal, kematian pasti akan mereka temui.
    Pernyataan Yesus dalam Yohanes 17:16, sangat sinkron dengan tulisan Paulus dalam Filipi 3:20, bahwa karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Kata “menantikan” dalam teks aslinya adalah apekdekhometha, yang berarti menanti dengan sangat kuat atau bersemangat sekali. Filipi 3:20 sebenarnya lebih tepat diterjemahkan: “Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari hal tersebut atau berangkat dari hal ini, maka kita juga menantikan dengan sangat kuat Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.” Orang yang menghayati bahwa dirinya adalah warga negara Kerajaan Surga pasti sangat menantikan kedatangan Tuhan atau hari kematiannya.
    Memindahkan hati ke surga artinya menjalani hidup dengan prinsip bahwa hidup yang sesungguhnya adalah nanti di langit baru dan bumi yang baru. Hidup yang dijalani hari ini bukanlah hidup untuk dinikmati sama seperti orang-orang tidak mengenal Kristus, yaitu yang digairahkan oleh barang-barang dunia. Inilah kehidupan Yesus yang diucapkan dengan menggunakan sebuah ilustrasi bahwa serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia (Yesus) tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Luk. 9:58). Sejatinya, hidup kita seharusnya hanya diisi dengan perjuangan untuk memenuhi rencana Bapa dalam hidup ini. Rencana Bapa adalah terus mengalami perubahan untuk menjadi seperti Yesus yang berarti bermoral agung seperti Tuhan atau kudus seperti Allah dan mengambil bagian dalam pelayanan, yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa. Menyelamatkan jiwa-jiwa dalam bentuk menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk mengubah manusia lain menjadi seperti Yesus. Oleh sebab itu, kita harus terlebih dahulu menjadi seperti Yesus, baru bisa menulari orang lain.
    Banyak orang Kristen merasa sudah menjadi anak-anak Allah dan sudah memiliki jaminan masuk surga. Mereka tidak merasa perlu berjuang bagaimana bisa menghayati bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini dan bisa menujukan fokusnya kepada perkara-perkara yang di atas. Seorang Kristen yang tidak memperjuangkan hal tersebut, gaya hidupnya pasti sama seperti anak-anak dunia lainnya. Mereka orang-orang yang tidak siap meninggalkan dunia, mereka merasa bahwa dunia ini rumahnya. Tentu saja mereka tidak menantikan kedatangan Tuhan. Hal ini terjadi, sebab mereka tidak bertumbuh dalam kebenaran, sehingga mereka tidak mampu menghayati bahwa mereka adalah warga Kerajaan Surga. Walaupun mereka percaya bahwa diri mereka adalah anak-anak Allah, tetapi mereka tidak memandangnya sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh sangat berharga. Orang Kristen seperti ini tidak akan berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, dan tidak akan mencari tempat untuk membela pekerjaan Tuhan. Sebenarnya, mereka telah memarkir jiwa mereka di bumi ini. Mereka tidak memindahkan hati ke surga.
    Pada dasarnya, banyak orang tidak pernah mengerti atau tidak pernah mau mengerti dan menerima bahwa kehidupan yang sesungguhnya yang dirancang Tuhan untuk dinikma...
    0 min
  • MELETAKKAN KEPALA-NYA
    Yesus mengatakan bahwa “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Luk. 9:57-58). Ini berarti fokus hidup orang percaya tidak boleh tertuju kepada kenikmatan hidup di bumi. Tuhan mengajarkan bagaimana diri-Nya tidak memiliki kenyamanan seperti kenyamanan yang dimiliki manusia lain. Kalau seseorang mengikut Yesus, maka harus mengikuti jejak-Nya. Dengan pernyataan Yesus tersebut, dimaksudkan agar orang percaya tidak mengharapkan kenyamanan di bumi. Mereka tidak boleh memfokuskan diri pada kehidupan sekarang di bumi, tetapi memiliki hidup dalam penantian untuk dipindahkan ke langit baru dan bumi yang baru. Harus selalu diingat bahwa Tuhan Yesus pergi untuk menyediakan tempat bagi kita. Kalau Ia sudah menyediakan tempat bagi kita, Ia akan datang untuk menjemput kita, supaya di mana Ia berada, kita juga berada. Ini berarti, hidup kita harus hidup dalam penantian yang penuh kerinduan terhadap penjemputan-Nya. Hal ini juga berarti kita harus lebih memfokuskan diri pada Rumah Abadi kita di langit baru dan bumi yang baru, bukan di bumi ini. Kalau tidak demikian, berarti pengkhianatan atau ketidaksetiaan kepada Tuhan Yesus.
    Sebagai orang yang menumpang, kita tidak tidak boleh merasa memiliki sesuatu apa pun di bumi ini. Bagi kita, yang penting adalah dapat menjalani hidup untuk disempurnakan seperti Bapa atau dikembalikan ke rancangan semula Allah, serta menolong orang lain mengalami hal yang sama. Itulah pelayanan yang sesungguhnya. Keadaan kita sebagai orang yang menumpang di bumi adalah untuk dipersiapkan mewarisi Kerajaan Surga. Tidak ada hal yang lebih besar dalam hidup ini kecuali dibentuk atau diproses terus oleh Roh Kudus agar layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Dari kalimat bahwa “kita orang yang menumpang di bumi” (1Ptr. 1:17) menunjukkan bahwa kita bukan pemilik apa pun di bumi ini. Kesadaran terhadap fakta ini dan sikap yang menerima dengan tulus realitas ini tidak mudah, sebab pada umumnya orang merasa bahwa hidup ini adalah miliknya.
    Kalimat “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” menunjukkan gaya hidup dari Yesus. Yesus di dunia ini tidak memiliki tempat atau kerajaan di mana Ia dapat menikmati kenyamanan. Ia menjadi “manusia” yang tidak bermilik. Dari pernyataan Yesus tersebut, diajarkan kepada orang percaya bahwa mereka yang mau mengikut Dia harus berani berkeadaan sama seperti diri-Nya. Oleh sebab itu, kita harus benar-benar siap untuk meninggalkan dunia ini. Orang yang tidak berani meninggalkan dunia, tidak akan pernah bisa mengikut Dia dengan benar
    Pernyataan bahwa “Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya” menunjukkan bahwa Yesus yang kaya dijadikan miskin, supaya kita yang miskin menjadi kaya oleh karena kesediaan-Nya menjadi miskin (2Kor. 8:9). Tentu “kekayaan” di sini adalah keselamatan dalam Yesus Kristus, yaitu kesempatan menemukan kembali kemuliaan Allah atau dikembalikan ke rancangan Allah semula. Yesus datang ke dunia hanya untuk bekerja bagi Bapa di surga. Tidak ada hal lain yang dikerjakan-Nya selain melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Kehidupan di bumi adalah kehidupan untuk bekerja. Dari kehidupan Yesus selama di bumi, segala sesuatu yang dilakukan-Nya hanya untuk menyelesaikan misi yang Bapa percayakan kepada-Nya. Ini adalah kehidupan yang dipersembahkan sepenuhnya kepada Bapa di surga. Kehidupan Yesus adalah kehidupan yang memenuhi hukum terutama, yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan.
    Ketika kekristenan disejajarkan dengan berbagai agama, kekristenan ditampilkan sebagai agama yang menjanjikan kehidupan yang nyaman di bumi dan di balik kubur nanti. Maka, lahirlah konsep bahwa memiliki agama Kristen, yang di dalamnya terdapat Tuhan yang baik—dipromosikan sebagai Pribadi Mahamu...
    0 min
  • TAHUN PENGHARAPAN
    Tidak mungkin atau sangat sulit kalau manusia hidup tanpa pengharapan, artinya setiap manusia mengharapkan ke depan ada sesuatu yang dapat dinikmati. Sesuatu itu adalah yang dapat membuat hidupnya bahagia dan lengkap. Sesuatu itu pasti yang diandalkan, sesuatu yang membuat dirinya merasa hidup. Itulah “nyawanya” atau kehidupannya. Kalau seseorang kehilangan pengharapan, ia hidup tetapi tidak merasa hidup. Dalam Kejadian 37, dikisahkan ketika Yakub mendengar anak kesayangannya—Yusuf—mati dicabik-cabik binatang (berita bohong dari kakak-kakak Yusuf). Yakub berkabung, anak-anaknya berusaha menghiburnya, tetapi Yakub berkata, “Aku akan berkabung, sampai aku turun mendapatkan anakku, ke dalam dunia orang mati” (Kej. 37:34). Dalam banyak kejadian, ketika seseorang yang sudah bertahun-tahun ditinggal teman hidupnya, maka ia segera menyusul. Baru-baru ini seorang pria yang berusia di atas 80 tahun meninggal. Ketika peti masih di kamar mayat, istrinya menyusul meninggal dunia, sehingga satu ruang rumah duka dihuni dua peti mati.
    Dalam kenyataan hidup, tidak heran kalau seseorang bisa bunuh diri ketika sesuatu yang dipandang sebagai paling bernilai dan membahagiakan, diambil orang atau meninggalkan dirinya; seperti seorang pemudi ditinggal pacar, seorang pria jatuh bangkrut, seorang pejabat malu karena ketahuan korupsi, dan lain sebagainya. Seseorang masih bersemangat hidup ketika mengharapkan masih ada sesuatu yang dapat membahagiakan dirinya atau ada yang diharapkan. Pada umumnya, orang menapaki hari hidupnya dengan berharap bahwa setiap hari ia dapat menjalani hidupnya dengan menikmati apa yang dapat diraihnya di depan; seperti makan dan minum, hobi, kebersamaan dengan orang-orang yang dikasihi, barang-barang yang menyenangkan hati, wisata, pasangan hidup bagi yang belum menikah, keluarga, dan lain sebagainya. Dan itulah sebenarnya yang menjadi motor penggerak kehidupan seseorang.
    Malangnya, semua yang dipandang membahagiakan di dunia suatu kali harus ditinggalkan. Ini berarti semua yang tadinya diharapkan dapat membahagiakan, akan lenyap seperti uap. Dan tragisnya, ternyata semua yang dapat menjadi tumpuan harapan tersebut tidak dapat menopang kehidupan kekal. Inilah yang dikatakan oleh Yesus bahwa mamon—yaitu harta fana dunia ini—adalah “tidak jujur,” artinya menipu atau tidak dapat dipercayai. Ternyata, setelah meninggal dunia, semua yang diharapkan dapat menopang adalah sia-sia. Banyak orang tidak memikirkan dan tidak siap atau tidak bersedia menghadapi realitas tersebut. Mereka berusaha untuk melupakan atau tidak memikirkannya. Terkait dengan hal ini, Ayub dalam pernyataannya mengucapkan kalimat bijak yang patut kita renungkan: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ay. 1:21).
    Sebenarnya, manusia setelah jatuh dalam dosa adalah makhluk yang malang. Sebab manusia harus mati, dan di balik kematian adalah keterpisahan abadi dengan Allah. Manusia dilahirkan hanya untuk mati. Dilahirkan hanya untuk diekskusi. Tetapi, keselamatan dalam Yesus Kristus menyediakan pengharapan (1Ptr. 1:3-4). Kalau hidup manusia pengharapannya hanya tertumpu pada dunia ini yang bersifat fana, manusia menjadi makhluk yang malang, karena manusia adalah makhluk kekal. Lagipula, mereka yang menaruh pengharapan kepada dunia ini pasti mengorbankan kekekalan. Seseorang tidak dapat hidup dengan dua pengharapan. Kita harus memilih, menjadi manusia hari ini atau manusia hari esok. Banyak orang Kristen berpikir bisa memiliki dua pengharapan. Memiliki dua pengharapan berarti mengabdi kepada dua tuan. Firman Allah berkata agar kita memiliki hanya satu arah dalam hidup ini, surga atau dunia (Mat. 6:19-20; Kol. 3:13). Oleh sebab itu, kita harus berani meninggalkan dunia, artinya hanya menaruh pengharapan pada Tuhan dan Kerajaan-Nya di kekekalan. Itulah satu-satunya kebahagiaan orang percaya.
    0 min
  • BERANI HIDUP TIDAK WAJAR

    Tidak bisa dibantah, bahwa kehidupan sebagai anak-anak Allah adalah kehidupan yang tidak wajar menurut dunia. Kehidupan yang tidak memiliki kesenangan selain menyukakan hati Allah Bapa. Kesenangan-kesenangan hidup ini menjadi seperti wilayah dalam kerajaannya yang tidak akan diserahkan kepada pihak mana pun. Melepaskan suatu kesenangan seperti mencabut nyawa. Sungguh sangat menyakitkan. Hal inilah yang membuat seseorang menahan diri untuk mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan secara benar. Dalam hal ini, seseorang bisa membuktikan kecintaannya kepada Tuhan, yaitu ketika ia bersedia melepaskan segala sesuatu dan menjadikan Tuhan sebagai kesukaan hidupnya. Akhirnya, tidak ada lagi kesenangan yang disisakan, kecuali menyenangkan hati Tuhan tersebut.
    Mengikut Yesus harus bersedia hidup seperti Yesus, yaitu tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala, artinya bersedia tidak mencari kenyamanan hidup. Inilah hal tersulit yang dihadapi orang Kristen. Sebab, dengan mengenakan kebenaran ini, ia mulai merasa hidup tidak wajar. Tetapi, sesungguhnya inilah cara menghargai hidup. Pada umumnya, manusia hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya dan mengingini apa yang orang lain miliki sesuai dengan semangat zaman. Kalau hal ini dilakukan orang yang hidup sebelum zaman anugerah atau orang di luar orang percaya, bisa dimaklumi; tetapi kalau orang percaya tidak memedulikannya, betapa celakanya.
    Semangat hidup orang percaya adalah semangat dari tempat Mahatinggi, yaitu mengenakan gairah hidup Yesus yang “tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Kehidupan Yesus adalah kehidupan yang hanya diperuntukkan bagi Allah Bapa, yaitu melakukan segala kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Orang percaya akan meletakkan kepala di langit baru dan bumi yang baru dalam Kerajaan-Nya nanti, sedangkan di bumi ini bekerja keras untuk roti yang tidak binasa (Yoh. 6:27).
    Sebenarnya, ketika seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, maka kehidupannya—termasuk segala miliknya—disita oleh suatu Kerajaan. Kerajaan itu adalah Kerajaan Allah. Kalau seluruh hidupnya disita, itu berarti di bumi ini ia hanya sebagai orang yang menumpang. Sejak itu, pemerintahan Allah berlaku atau berlangsung dalam hidupnya. Pemerintahan Allah adalah kehidupan yang diatur dan dikendalikan oleh Allah. Ini adalah kehidupan yang diarahkan untuk mewarisi Kerajaan Surga. Kenyamanan hidup duniawi tidak lagi menjadi tujuan. Itulah sebabnya, Paulus mengatakan bahwa Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, melainkan soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17).
    Ternyata, mengikut Yesus harus meninggalkan dunia ini. Pada gereja yang mula-mula, mereka bukan hanya kehilangan segala sesuatu yang mereka harus tinggalkan, bahkan mereka juga teraniaya. Itulah sebabnya, Yesus mengatakan kalau seseorang mau mengikut Yesus, ia harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33). Dengan melepaskan segala sesuatu, seseorang barulah memperoleh Kristus (Flp. 3:7-9).
    Dalam hal tersebut, bisa dimengerti kalau Firman Allah mengatakan bahwa kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus, yaitu walaupun Ia adalah pemilik segala sesuatu, tetapi Ia mengosongkan diri. Mengosongkan diri maksudnya adalah melepaskan semua hak-Nya, supaya Ia bisa mempersembahkan semuanya bagi Allah Bapa. Tanpa berbuat demikian, Ia tidak bisa menjadi Mesias yang menyelamatkan semua manusia. Orang percaya harus melepaskan segala sesuatu, barulah memperoleh kemuliaan bersama Tuhan. Sebelum memperoleh itu, orang percaya harus melanjutkan karya keselamatan yang telah dikerjakan oleh Yesus di kayu salib agar diberitakan sampai ke ujung bumi.
    Oleh sebab itu, orang percaya harus belajar bagaimana tidak lagi terikat dengan percintaan dunia dan keinginan-keinginan dosa di dalam diri kita, supaya bisa belajar untuk memiliki karakter Yesus, juga harus mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, yaitu bagaimana membawa orang lain bisa mengikuti jalan ...
    0 min
  • KEHILANGAN NYAWA
    Bapa menghendaki agar suatu hari nanti Ia menemukan orang-orang yang berkepribadian seperti Anak Tunggal-Nya, sehingga Tuhan Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Menjadi yang sulung artinya bahwa Tuhan Yesus terlebih dahulu berprestasi mencapai kehidupan sempurna seperti yang Bapa kehendaki. Selanjutnya, ada banyak orang percaya yang juga memiliki kehidupan seperti diri-Nya. Menjadi saudara bagi Tuhan Yesus berarti menjadi manusia Allah seperti Tuhan Yesus. Inilah prestasi yang harus dicapai oleh setiap orang percaya. Bapa ingin dapat menemukan “wajah Yesus” di dalam diri setiap orang percaya. Dalam hal ini, pengakuan Paulus yang mengatakan: “Hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20) adalah standar yang harus dimiliki semua orang percaya. Kalau Paulus mengatakan bahwa hidupnya bukan dia lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam dirinya, berarti ia harus mati terlebih dahulu agar Tuhan Yesus bisa hidup di dalam dirinya. Kristus tidak bisa hidup dalam diri orang percaya tanpa orang percaya tersebut mengalami kematian.
    Untuk mencapai level ini, dibutuhkan pengorbanan yang sangat mahal dengan usaha yang sangat serius. Sebab, untuk memiliki pencapaian kehidupan rohani seperti Paulus ini, tidak ada cara lain kecuali mati. Mati agar kehidupan Kristus terbangkitkan dalam diri orang percaya. Apa yang dimaksud dengan “mati” di sini? Dan apa yang dimaksud dengan “kehidupan Kristus?” Tentu kematian yang dimaksud di sini bukanlah mati dalam arti jasmani, dimana seseorang harus dikubur di tanah dan kembali menjadi debu. “Kematian” di sini maksudnya adalah pemadaman keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dalam diri seseorang. “Kematian” di sini juga berarti pemadaman kehidupan wajar yang dimiliki manusia pada umumnya dan bersedia mengenakan kehidupan seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Kehidupan Tuhan Yesus adalah model manusia yang diingini oleh Allah. Jika kita hendak memahami manusia macam apakah yang dikehendaki oleh Allah, diri Tuhan Yesuslah jawabannya. Selanjutnya, kehidupan Kristus berarti karakter yang berstandar Allah atau yang sama dengan sempurna seperti Bapa.
    Jika seorang orang percaya benar-benar berhasrat untuk memiliki kehidupan ilahi tersebut, ia harus berusaha semaksimal mungkin mengerahkan seluruh daya yang ada padanya. Sebab, hal ini tidak bisa dilakukan dengan usaha setengah-setengah. Harus berani mempertaruhkan hidup tanpa batas, baik tenaga, pikiran, waktu, dan segala hal yang ada di dalam kehidupan kita. Jika ada hal lain yang dianggap lebih menarik dari mengenakan pribadi Kristus, ia tidak pernah mencapai prestasi ini. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus mengatakan barangsiapa tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, ia tidak dapat menjadi murid-Nya. “Melepaskan diri dari segala milik” berarti bersedia masuk ke dalam proses kematian diri sendiri demi kehidupan Allah terbangkitkan dalam dirinya. Dengan memahami kebenaran ini, diharapkan akan dilahirkan manusia-manusia ilahi (man of God) yang dipersiapkan untuk menjadi saudara-saudara bagi Tuhan Yesus Kristus, yang nantinya akan bersama-sama dengan Tuhan Yesus mewarisi Kerajaan Allah atau dimuliakan bersama dengan Kristus untuk menerima janji Bapa.
    Kita harus menyadari bahwa segala keinginan manusia akan berakhir sia-sia. Apa pun yang kita ingini, suatu hari harus berakhir dan lenyap tiada bekas, kecuali kebinasaan. Sebab, keinginan-keinginan manusia pada umumnya pasti menggeser keinginan untuk melakukan kehendak Tuhan. Hal ini membuat manusia menjadi “tuhan bagi diri sendiri.” Bila ia seorrang yang kuat dalam materi atau kedudukan, maka ia juga bisa menjadi “tuhan bagi sesamanya.” Tetapi, banyak orang tidak menyadari hal ini, sebab mereka berpikir bahwa memiliki keinginan adalah suatu kewajaran hidup. Umat Perjanjian Baru dipanggil untuk memuliakan Tuhan dalam dan melalui segala hal. Ini berarti, hidup untuk kepentingan Tuhan sepenuhnya.
    0 min
  • STANDAR YANG HARUS DIKENAKAN
    Jalan yang harus dilakukan untuk menemukan kebebasan dari jerat dunia yang membinasakan adalah datang ke padang rumput yang hijau (Yoh. 10:1-5). Padang rumput hijau ini adalah rumput khusus yang hanya diberikan oleh Tuhan Yesus. Ini bukan rumput versi manusia, melainkan rumput versi Tuhan. Untuk bisa menemukan padang rumput tersebut, seseorang harus bisa mendengar suara Gembala dan mengikuti jejak Gembala (Yoh. 10:4-5). Domba yang hilang adalah domba yang memiliki rumput sendiri dan menikmatinya. Dalam hal ini, jemaat harus berhati-hati terhadap orang-orang yang menawarkan rumput yang palsu.
    Sungguh sangat menyedihkan, kalau ternyata ada usaha banyak orang Kristen yang menarik Tuhan untuk menuntun mereka ke padang rumput lain, bukan padang rumput Tuhan. Lebih celaka lagi, tidak sedikit orang yang mengaku “hamba Tuhan” tidak menuntun domba-domba Tuhan ke padang rumput-Nya. Mereka menunjukkan padang rumput lain seolah-olah padang rumput Tuhan. Itu padang rumput palsu. Inilah fenomena hari ini, banyak orang Kristen yang diajarkan kelimpahan yang salah sehingga pengajaran itu makin membawa banyak orang Kristen kepada jerat yang makin kuat, yaitu jerat mencintai dunia, hidup dengan gaya hidup anak-anak dunia yang akan binasa. Kelimpahan yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 10:10 diartikan “banyak” dalam arti “materi.” Memang hal ini akan menyedot banyak orang mengunjungi gereja yang mengajarkan rumput yang palsu tersebut, tetapi ini adalah penyesatan.
    Orang percaya harus dibawa kepada apa yang diajarkan Tuhan Yesus yang tertulis dalam keempat Injil dan tulisan rasul-rasul. Orang percaya tidak boleh dibawa kepada ayat-ayat Alkitab Perjanjian lama tanpa mengerti makna esensinya, dan menelannya secara harfiah. Ayat-ayat Perjanjian Lama, pada umumnya bernuansa umat Perjanjian Lama yang fokus hidupnya belum Kerajaan Surga, melainkan kerajaan dunia. Fokus mereka adalah pemenuhan kebutuhan jasmani, bukan Kerajaan Surga atau perkara-perkara yang di atas. Kalau orang Kristen mengenakan ayat-ayat Perjanjian Lama secara harfiah, maka belum tampak paradoknya dengan kehidupan anak-anak dunia, sebab pada dasarnya standar agama atau moral Perjanjian Lama adalah standar agama-agama pada umumnya. Sedangkan, standar yang dikehendaki Bapa adalah kehidupan Tuhan Yesus Kristus. Standarnya adalah melakukan kehendak Bapa.
    Kita harus memeriksa diri sendiri apakah kita telah melakukan kehendak Bapa atau tidak. Hal ini membutuhkan atau menuntut selain kejujuran, juga kerja keras. Pertanyaannya: “Seberapa sulitnya sehingga seseorang harus bekerja keras untuk itu?” Melakukan kehendak Bapa bukan sesuatu yang sederhana. Melakukan kehendak Bapa menyangkut dua hal:
    Pertama, menjalani hidup pribadi sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Dalam hal ini, sikap hati harus benar dan terwujud dalam tindakan-tindakan konkret yang akan membuat seseorang layak masuk Kerajaan Surga. Sikap hati yang benar yang terwujud dalam tindakan ini akan dirasakan oleh orang lain di sekitarnya.
    Kedua, menemukan apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup pribadi dalam keterlibatan menyelamatkan orang lain untuk masuk Kerajaan Surga. Dalam hal ini, setiap orang pasti memiliki sesuatu yang istimewa yang Tuhan taruh dalam hidupnya, sehingga ia juga memiliki tempat dalam rencana Tuhan bagi proyek penyelamatan umat manusia.
    Melakukan kehendak Bapa merupakan prestasi di kekekalan. Ketika kita menghadap takhta pengadilan Kristus (2Kor. 5:10), yang dipersoalkan adalah seberapa benar sikap hati kita yang terwujud dalam tindakan konkret, dan seberapa jauh kita telah turut menggenapi rencana Tuhan dalam proyek penyelamatan umat manusia dalam Yesus Kristus. Melakukan kehendak Bapa membutuhkan kerja keras, sebab untuk mengerti kebenaran Firman Allah yang diajarkan Alkitab, kita harus meninggalkan atau melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia (Luk. 16:11), bekerja keras mengejar pengetahuan yang benar mengenai Firman-Nya sampai kit...
    0 min
  • IMAN YANG BENAR
    Sesungguhnya, harga iman kepada Tuhan Yesus adalah “melakukan kehendak Bapa.” Ini bukan berarti untuk meraih keselamatan harus dengan berbuat baik. Keselamatan diberikan kepada kita oleh anugerah yang kita terima dengan iman. Tuhan mengasihi dengan menyediakan anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus. Alkitab mengajarkan, bahwa karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usaha kita, tetapi pemberian Allah (Ef. 2:8). Keselamatan dalam bentuk dipulihkannya hubungan dengan Tuhan dan harapan Kerajaan Surga yang abadi, diberikan kepada kita, diawali oleh kurban Yesus di kayu salib. Respons terhadap Tuhan yang menyediakan kurban tersebut adalah iman dengan harga yang harus dibayar. Persoalannya adalah respons yang bagaimanakah yang harus dilakukan untuk menunjukkan bahwa seseorang beriman kepada-Nya secara benar? Kalau Abraham menunjukkannya dengan meninggalkan Ur-Kasdim dan kerelaan menyembelih anaknya sendiri, bagaimana dengan kita? Cukupkah dengan pergi ke gereja atau melakukan kegiatan beragama? Untuk ini, Firman Allah menunjukkan kepada kita respons yang seharusnya dilakukan, bukan hanya ke gereja atau melakukan suatu kegiatan rohani, melainkan melakukan kehendak Bapa.
    Dikatakan dalam Firman Allah, bahwa iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus (Rm. 10:17). Dari mendengarkan Firman Allah tersebut, seseorang dapat mengerti kehendak Tuhan. Setelah mengerti Firman Allah, seseorang belajar hidup dalam ketaatan, yang sama artinya dengan melakukan kehendak Bapa (Rm. 10:19-21). Jadi, respons yang diharapkan bukan hanya dengan hati percaya dan mulut mengaku tanpa tindakan. Pada kenyataan dan memang seharusnya, kalau hati percaya dan mulut mengaku, maka percaya dan pengakuan tersebut akan terwujud dalam tindakan. Banyak orang hanya memungut bagian-bagian dalam ayat Firman Allah tanpa melihat keseluruhan penjelasan yang terdapat dalam satu perikop dan mengartikan secara sembarangan.
    Berkenaan dengan hal di atas, banyak orang hanya memungut Roma 10:10, yaitu dengan hati percaya dan mulut mengaku, maka sudah selamat; berarti hubungan dengan Tuhan secara otomatis sudah pulih secara ideal, dan mereka boleh meyakini kalau mati, nanti masuk surga. Inilah pekerjaan Iblis yang menggunakan ayat-ayat Alkitab secara keliru untuk membinasakan manusia seperti yang pernah dilakukan Iblis terhadap Yesus (Mat. 4:1-11). Kita harus memeriksa dengan jujur, benarkah kita sudah memiliki hubungan dengan Tuhan secara benar, dan perilaku kita selalu menyenangkan hati-Nya? Apakah kita memiliki keyakinan bahwa kematian adalah sesuatu yang indah sehingga kematian benar-benar bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan menyenangkan?
    Iman timbul dari pendengaran oleh Firman Kristus. Perlu kita memerhatikan kata “Firman Kristus.” Kalau Abraham mendengar Firman Yahweh, orang percaya mendengar perkataan Tuhan Yesus Kristus. Di sini, apa yang diajarkan Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun menimbulkan iman yang menyelamatkan. Jadi, seseorang tidak akan selamat tanpa mendengar segala sesuatu yang diajarkan Tuhan Yesus. Itulah sebabnya, dalam Amanat Agung, Tuhan Yesus memerintahkan agar orang percaya diajar melakukan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya. Jika seseorang benar-benar mengerti apa yang diajarkan Tuhan Yesus dan melakukannya, ia akan menjadi seorang yang memiliki tindakan-tindakan konkret dari percaya dalam hati dan pengakuan mulutnya.
    Dalam mempelajari Roma 10, seharusnya bukan hanya membaca ayat 17, tetapi juga ayat 20-21: Dan dengan berani Yesaya mengatakan: “Aku telah berkenan ditemukan mereka yang tidak mencari Aku, Aku telah menampakkan diri kepada mereka yang tidak menanyakan Aku. Tetapi tentang Israel ia berkata: ‘Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.’” Dalam teks ini, Tuhan berbicara juga mengenai ketaatan kepada-Nya. Ini berarti iman yang benar bukan hanya aktivitas pikiran atau nalar kita, melainkan tindakan,
    0 min
  • ALL OUT BAGI TUHAN
    Mengapa orang tidak “all out” (segenap hidup atau habis-habisan) bagi Tuhan? Karena mereka tidak mengerti bahwa kekristenan bukanlah agama atau tidak dapat disejajarkan dengan agama. Agama yang diajarkan pada umumnya menyediakan janji-janji dapat melewati kehidupan dengan lebih nyaman. Dengan menganut suatu agama, Allah yang ditawarkan oleh agama tersebut akan memberikan kesenangan-kesenangan hidup di dunia ini. Allah yang dipercayai oleh suatu agama dapat menjadi andalan untuk mengatasi semua masalah. Kekristenan tidaklah demikian. Diawali dengan penerimaan Tuhan atas kita sebagai anak-anak-Nya, kita dilatih untuk dapat mengerti kehendak Bapa dan melakukan kehendak-Nya. Bisa timbul suatu pertanyaan: “Kalau kekristenan tidak menjanjikan bantuan untuk kehidupan hari ini atau di dunia sekarang ini, untuk apa menjadi Kristen?” Harus ditegaskan, bahwa kekristenan adalah usaha mengumpulkan harta di surga, bukan mengumpulkan harta yang di bumi. Dalam hal ini, kita ditantang untuk memilih: harta dunia atau harta di surga. Paulus menyatakan: “sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3).
    Paulus, dalam kesaksian hidupnya mengatakan: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Paulus merupakan teladan dari seorang anak Tuhan yang berani “all out” bagi Tuhan. Kalau seorang pelaku bom bunuh diri berani all out demi keyakinan atau ideologinya, mengapa orang percaya tidak berani all out demi keyakinannya, bahwa Yesus telah mati bagi kita sehingga patutlah kita mati bagi Dia? Pengorbanan dan pembelaan bagi Tuhan tidak sia-sia. Dalam nasihatnya, Paulus berkata, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1Kor. 15:58).
    Irama hidup all out bagi Tuhan harus merupakan irama yang biasa diselenggarakan dalam kehidupan ini, sehingga orang percaya dapat mengutamakan Tuhan dalam kehidupan ini, dan menjadikan Tuhan sebagai “segalanya.” Akhirnya, kalau seseorang sudah biasa all out bagi Tuhan, makai a tidak bisa lagi hidup tidak all out. Di sini, seseorang barulah dapat sejalan dengan Tuhan. Ibarat kendaraan, kecepatannya makin seimbang. Seimbang dengan Yesus dalam kesediaan melepaskan semua hak demi pekerjaan Allah. Inilah keseimbangan yang Tuhan kehendaki, yaitu seimbang dengan Tuhan sehingga bisa memikul kuk bersama (Mat. 11:28-29)
    Alkitab menyatakan bahwa iman tanpa perbuatan, seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2:26). Hal yang harus kita perkarakan adalah perbuatan apakah yang ada pada kita yang menunjukkan iman. Bila tidak ada tindakan apa-apa, berarti belum memiliki iman. Jadi, iman bukan sesuatu yang abstrak tak terbukti. Iman memiliki perwujudan, yaitu tindakan yang konkret. Ketaatan Abraham menuruti perintah Tuhan untuk meninggalkan Ur-Kasdim dan ketaatannya bersedia mengurbankan Ishak, anak satu-satunya, di hari tuanya sebagai kurban bakaran merupakan tindakan yang menunjukkan imannya (Yak. 2:20-26). Tindakan Abraham yang sangat ekstrem tersebut adalah tindakan yang menunjukkan imannya. Dengan tindakan tersebut, Abraham dapat menjadi model umat Tuhan yang memiliki iman yang benar. Kalau kita mengaku sebagai anak-anak Abraham di dalam iman, kita harus memiliki langkah seperti yang telah diperagakannya.
    Harga iman yang benar atau murni sangat mahal, yaitu seluruh kehidupan Abraham yang dipertaruhkan. Meninggalkan Ur-Kasdim dan mempersembahkan anaknya, Ishak, sebagai kurban bakaran adalah tindakan sangat ekstrem yang tidak akan mudah dimengerti orang pada zamannya. Tetapi, itulah harga yang harus dibayar oleh Abraham sebagai respons positifnya terhadap Tuhan. Apa yang harus direspons dari Tuhan? Jawabnya adalah kehendak-Nya,
    0 min
  • PERCABULAN ROHANI
    Kita patut merenungkan: “Apakah yang paling berharga dalam hidup kita? Apakah uang atau harta, nama baik, harga diri, keluarga seperti anak, pasangan hidup, binatang peliharaan, lukisan atau barang antik—bagi yang menyukai barang seni—dan lain sebagainya?” Kita harus memperkarakan dengan serius: “Seberapa puas kita telah menikmatinya? Berapa lama kita akan dapat menikmatinya, dan dampak apa atau akibat kita memiliki dan menikmati hal tersebut?” Pertanyaan ini menggiring kita untuk dapat berpikir sehat, cerdas, dan rohani, yaitu melihat realitas yang tidak dapat dihindari bahwa semua yang kita miliki dan kita nikmati akan berakhir.
    Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa dianggap mengganggu kebahagiaan hidup kita atau sebaliknya, bisa menyempurnakan kebahagiaan hidup kita. Mengganggu berarti mengurangi perasaan bahagia atau mengganggu kesenangan, karena diingatkan bahwa suatu saat apa yang kita miliki akan kita lepaskan, dan ternyata segala sesuatu yang kita miliki, kalau tidak dikelola dengan benar, tidak membawa akibat apa-apa dalam kekekalan, bahkan bisa membinasakan kita. Tetapi perenungan di atas bisa menyempurnakan kebahagiaan kita, kalau kita menyadari bahwa segala sesuatu itu telah dipercayakan Tuhan kepada kita untuk dinikmati walau sesaat, dan kita dapat gunakan untuk melayani Maharaja guna persiapan kehidupan kekal.
    Kita bersyukur, kalau kita bisa menyadari bahwa segala sesuatu yang pada umumnya dianggap berharga, tidak selamanya dapat dimiliki. Dengan demikian, kita dapat menghindarkan diri dari belenggu harta dunia yang dapat menguasai kita. Hari demi hari kita lalui, kita harus melepaskan setiap butir hari, butir bulan, dan tahun. Dan akhirnya, kita harus melepaskan segala sesuatu dari genggaman kita. Dan ternyata, memang tidak ada sesuatu yang dapat kita genggam secara terus–menerus. Segala sesuatu harus dilepaskan. Oleh sebab itu, sebelum kita dipaksa melepaskan segala sesuatu waktu nafas kita berhenti, lebih baik sekarang kita melepaskannya, agar kita dapat diajar untuk memindahkan hati di surga dan dipersiapkan menjadi mempelai Yesus yang tidak bercacat dan tidak bercela.
    Harus diakui, semakin banyak kita merasa memiliki sesuatu, semakin berat dan sukar kita melepaskannya. Tentu hal ini tergantung sikap hati. Ada orang yang memiliki sedikit, tetapi juga sukar melepaskannya karena menganggapnya banyak. Tetapi logikanya, semakin orang memiliki banyak, semakin sukar ia melepaskannya. Sebab, ia akan semakin merasa sakit ketika harus melepaskannya. Inilah yang dimaksudkan Yesus lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk surga (Mrk. 10:25). Dalam hal ini, Yakobus mengingatkan agar kita tidak berharap kepada sesuatu yang tidak pasti (1Tim. 6:17-19). Inilah tipu muslihat Iblis untuk membinasakan manusia. Iblis membuat manusia terikat begitu rupa dengan segala sesuatu yang bukan Tuhan. Inilah yang disebut Alkitab dengan percintaan dunia.
    Penjelasan di atas bukan mengarahkan agar kita lebih baik menjadi orang miskin, melainkan mengarahkan hidup kita agar tidak terikat dengan dunia ini. Dalam hal ini, yang harus dikelola adalah hati (Luk. 14:33; Mrk. 10:21-22). Kalau seseorang tidak terikat dengan sesuatu, inilah yang disebut sebagai perawan suci (2Kor. 11:1-4). Injil yang benar mengajarkan bagaimana kita terlepas dari ikatan dunia, dan merasa puas dengan Tuhan saja dalam pengharapan terhadap kedatangan-Nya. Tetapi sebaliknya, injil yang lain, justru merangsang orang Kristen mengasihi dunia dan seolah-olah Tuhan menyetujuinya. Hal ini terjadi, sebab pemberitaan Firman yang disampaikan adalah injil palsu yang mengajarkannya demikian. Injil yang palsu menawarkan kemakmuran di bumi ini.
    Orang percaya harus menjadi seperti perawan suci. Perawan suci dalam teks aslinya adalah partenon yang artinya hagneen, unmarried daughter (gadis yang tidak menikah atau wanita yang tidak mengikat tali perkawinan dengan pria). Pertanyaan bagi kita adalah: “Apakah kita masih memili...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…