Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • BEBAS DARI KESERAKAHAN
    Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki kehendak bebas, artinya manusia memiliki kehendak yang dapat diarahkan oleh dirinya sendiri tanpa dikendalikan oleh pihak lain, karena Tuhan sendiri tidak mengintervensi kehendak bebas manusia. Tuhan mengakui dan memelihara kedaulatan manusia. Hal ini merupakan sesuatu yang berisiko tinggi, sebab bisa membawa manusia kepada kebinasaan atau kemuliaan. Manusia dikendalikan oleh kehendak bebasnya atau free will dalam menentukan nasib atau keadaan dirinya. Tuhan sebagai Hakim menegakkan hukum itu dengan segala risiko dan konsekuensinya, baik bagi manusia maupun bagi Tuhan sendiri. Ke mana arah langkah hidup seseorang ditentukan oleh keinginannya. Kalau hati dipenuhi keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, berarti menggiring manusia itu kepada kebinasaan. Juga dalam hal apakah seseorang mau selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah atau tidak, sangat tergantung pada dirinya sendiri. Untuk dapat selesai dengan diri sendiri, seseorang harus menanggalkan keinginannya.
    Menanggalkan keinginan bukan berarti tidak memiliki keinginan sama sekali, melainkan mengisi jiwanya dengan keinginan untuk mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya. Hal ini akan membuat hanya kehendak Tuhan yang menguasai kehidupan orang tersebut. Orang yang berhasrat melakukan kehendak Tuhan akan diberi kepekaan untuk mengerti apa yang dikehendaki-Nya. Tetapi, kalau seseorang tidak berhasrat melakukan kehendak Tuhan, Tuhan tidak akan memberitahu apa yang dikehendaki-Nya. Orang seperti ini tidak memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Tuhan. Orang percaya yang melakukan kehendak Allah didorong oleh keinginan untuk menyukakan hati-Nya.
    Oleh sebab itu, sebelum melakukan kehendak Allah, orang percaya harus terlebih dahulu menanggalkan keinginan diri sendiri. Tentu hal ini dilakukan atas kehendaknya sendiri, tanpa tekanan dari pihak mana pun. Orang yang melakukan keinginan-keinginan Tuhan adalah orang yang menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya. Hidupnya menjadi bahagia dan bersih, sebab orang yang menjadikan Tuhan kegembiraannya, pasti hidupnya cenderung tidak bercacat dan tidak bercela. Oleh sebab itu, kita tidak boleh mengatur diri sendiri. Semakin kita mengatur diri sendiri, semakin sulit untuk mengerti kehendak Tuhan. Tetapi, semakin seseorang memiliki kesediaan menyerah kepada kehendak Tuhan dan berkerinduan menyenangkan hati-Nya, semakin ia mengerti apa yang Tuhan kehendaki.
    Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri—yang selalu hanya ingin menyukakan hati Allah—pasti jauh dari sikap serakah. Keserakahan adalah keadaan orang yang tidak berhenti mencari kesenangan diri sendiri dengan banyak, sebab ia tidak pernah puas dengan apa yang ada padanya. Orang yang serakah selalu bergerak dengan tujuan memiliki lebih banyak dari yang orang lain miliki, yaitu segala sesuatu yang ditawarkan oleh dunia ini. Yesus mengajarkan suatu prinsip hidup yang sebagai berikut: Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Luk. 9:58). Prinsip hidup ini dimaksudkan agar kita tidak menjadi serakah. Tuhan Yesus tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, hal ini menunjukkan bahwa diri-Nya tidak memiliki apa-apa. Inilah ekspresi dari “pengosongan diri” yang Yesus lakukan, yang juga harus kita lakukan sebagai pengikut-Nya. Pengosongan diri ini sama dengan kerelaan melepaskan hak. Senada dengan hal ini, Paulus dalam suratnya mengatakan: Sebab kita tidak membawa sesuatu apa pun ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (1Tim. 6:7-8).
    Keserakahan, seperti yang dikemukakan di atas, juga ada pada kehidupan banyak orang Kristen. Orang-orang seperti ini akan menjadi semakin serakah seiring dengan perjalanan waktu dan banyaknya kesempatan. Mereka akan semakin haus terhadap kekayaan dunia dan segala hiburannya.
    0 min
  • ALAM PIKIRAN
    Tidak banyak orang yang mengerti kebenaran mengenai alam pikiran manusia. Kalaupun pernah mendengar, mereka menganggap hal ini tidak terlalu penting. Ketidaktahuan mengenai hal ini mengakibatkan mudahnya Iblis menjerat kita dengan oppression (menekan), obession (mencengkeram), dan possession (memiliki dan menguasai hidup kita). Orang percaya mengalami kebingungan, tatkala melihat kenyataan betapa mudahnya ia berbuat kesalahan, padahal ia tidak menghendaki dan sungguh-sungguh tidak berniat untuk berbuat dosa. Selanjutnya, ia tidak menikmati sukacita dan damai sejahtera Allah. Bahkan, kadang-kadang ia menjadi tidak stabil atas apa yang dilakukan dan diucapkannya. Kalau sudah berbuat dosa, ia menjadi menyesal dan marah terhadap diri sendiri.
    Pikiran adalah medan yang sering digunakan Iblis untuk mendaratkan “ide” yang dapat menjerat seseorang mengikuti kemauannya. Iblis memandang pikiran merupakan pangkalan yang empuk di mana ia dapat menguasai hidup seseorang. Dalam Kisah Rasul 8:18-23, Simon tukang sihir mencoba hendak membeli karunia dengan uang. Petrus mengatakan kepadanya bahwa hatinya seperti empedu yang pahit dan telah terjerat dalam kejahatan. Kalau pikiran seseorang telah dikuasi oleh Iblis, ia menjadi gelap; seperti Yudas yang mengkhianati Yesus. Itulah sebabnya, Iblis berusaha dengan segala cara untuk dapat mengisi pikiran orang percaya dengan berbagai filosofi yang bertentangan dengan Firman Tuhan.
    Di dalam pikiran inilah berkecamuk peperangan yang tiada kunjung berhenti. Tuhan Yesus sendiri juga menghadapi godaan ini selama hidup di dalam dunia. Hanya saja, Ia tidak berbuat dosa, sebab Ia mampu mengantisipasi godaan-godaan ini dengan kebenaran Firman Tuhan. Untuk ini, Rasul Paulus menunjukkan dengan jelas dalam 2 Korintus 10:1-5. Harus tetap disadari bahwa peperangan dengan penghulu kegelapan tidak pernah berhenti. Orang percaya harus aktif merobohkan tembok-tembok yang dibangun Iblis dalam pikiran kita. Pikiran orang percaya harus aktif.
    Oleh sebab itulah Tuhan Yesus berkata dalam Matius 4:4, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.” Firman mengisi dan memperbaharui pikiran. Sangat tepat Paulus menulis Roma 12:2 bahwa pikiran harus diperbaharui. Kalau kita melakukan nasihat-nasihat ini, berarti kita telah melakukan pertahanan dan sekaligus penyerangan melawan Iblis. Kita tidak boleh bersikap bertahan (defensif), tetapi kita juga harus menyerang (offensif). “Penyerangan” disini maksudnya adalah agar kita mencabut setiap pikiran yang tidak Alkitabiah yang telah “diinfuskan” Iblis ke dalam pikiran kita, dan selanjutnya mengisinya dengan kebenaran Firman Tuhan. Kita harus serius mulai hari ini membentengi pikiran kita dengan pagar yang kuat dan ketat, sementara kita juga mencabut semua yang ada dalam pikiran kita yang bukan berasal dari Tuan.
    Menjadi pemenang artinya kita bukan saja memenangkan hasrat-hasrat kita yang bertentangan dengan kehendak Allah, melainkan juga mengisi pikiran kita dengan hasrat-hasrat yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah yang disebut sebagai prinsip menguasai seluruh kehidupan. Kita bukan hanya dapat menghalau kepahitan dalam diri kita, melainkan juga mengisi hati kita dengan kasih kepada orang yang memperlakukan kita dengan tidak adil atau yang menjahati kita. Dengan demikian, kita tidak memberi peluang kepada kuasa gelap untuk menguasai kehidupan kita. Ini adalah panggilan yang harus dipenuhi di sepanjang hari hidup kita. Menguasai seluruh kehidupan dikalimatkan Paulus dengan kalimat: “Jangan memberi kesempatan kepada Iblis” (Ef. 4:27). Iblis berusaha untuk menguasai kehidupan kita (Mat. 12:43-45).
    Selama ini, tanpa disadari kita memiliki konsepsi yang salah tentang bagaimana memiliki hidup yang kudus. Kita sering hanya pada posisi menunggu anugerah semata-mata untuk memiliki kekudusan sesuai dengan yang dikehendakai oleh Allah. Padahal, anugerah itu telah diberikan kepada kita.
    0 min
  • TELAH SELESAI DALAM HAL PERASAAN
    Setiap manusia memiliki perasaan. Inilah bagian dari keunggulan yang dimiliki manusia yang membedakan manusia dari binatang. Perasaan memberi warna hidup kepada manusia, artinya bahwa perasaan inilah yang membuat manusia menikmati dunianya. Sebab dengan perasaan, manusia dapat merasakan suasana susah, senang, sedih, cinta, sayang, benci, dendam, tersinggung, tersanjung, dan lain sebagainya. Perasaan merupakan institusi dalam jiwa yang memberi potensi seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungan, khususnya dengan sesama. Dalam hal ini, kita temukan bila perasaan seseorang sehat, maka sehatlah hubungannya dengan sesama. Bila perasaan seseorang sakit, maka hubungan dengan sesama pun disharmoni. Perasaan merupakan institusi dalam jiwa yang memberi potensi seseorang untuk berinteraksi dengan Allah.
    Perasaan memiliki peran yang sangat besar dalam hidup ini, sebab pilihan, keputusan, tindakan, dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi—bahkan kadang ditentukan—oleh perasaannya. Memang terdapat orang-orang tertentu yang lebih menggunakan logikanya daripada perasaan, namun demikian tidak dapat disangkal bahwa peran yang sangat besar perasaan dalam kehidupan manusia tidak dapat diabaikan. Banyak keputusan besar yang menentukan hidup seseorang dipengaruhi oleh perasaan, bahkan ditentukan olehnya. Perasaan terdapat dalam jiwa manusia. Dalam jiwa selain ada perasaan, juga ada pikiran atau rasio. Elemen-elemen ini menentukan kualitas jiwa. Perasaan dan pikiran inilah yang menciptakan kehendak.
    Adapun yang memengaruhi kualitas antara lain adalah faktor keturunan—bagaimana pun karakter orangtua terwariskan kepada anak, sebab anak-anak “merekam” karakter orangtua di dalam dirinya—lingkungan (pendidikan, keluarga, pergaulan, dan lain sebagainya), dan pengalaman masa lalu. Pengalaman ini sangat memberi pengaruh terhadap kedewasaan perasaan. Dalam hal ini, ilmu jiwa juga mengakui bahwa pengalaman masa lalu seseorang membentuk kepribadian seseorang, termasuk perasaannya. Karena faktor-faktor inilah perasaan seseorang terbentuk. Ada orang yang gampang tersinggung, gila hormat, rendah diri, merasa tertolak, gampang marah, dan lain-lain. Bila perasaan yang sakit atau tidak dewasa ini belum disembuhkan, kehadiran orang tersebut akan melukai orang lain pula.
    Pengalaman hidup membentuk kepribadian seseorang, termasuk memengaruhi perasaannya. Perasaan yang tidak dewasa dapat terbentuk dikarenakan oleh pengalaman-pengalaman negatif yang terjadi dalam hidup. Pengalaman masa lalu tersebut dapat berupa peristiwa-peristiwa yang menyakitkan, misalnya penolakan dari orangtua dan lingkungan, kekecewaan akibat pengkhianatan, melihat kejadian-kejadian yang menakutkan, pelecehan seksual, kemiskinan, penderitaan yang berkepanjangan, dan lain-lain. Inilah yang dimaksud dengan luka batin. Selain beberapa faktor yang membentuk perasaan, ada beberapa faktor yang juga memengaruhi perasaan seseorang, antara lain: fisik dan suasana jiwa pada waktu tertentu. Firman Tuhan dan pelayanan pembinaan pribadi yang intensif dan terpadu dapat mendewasakan perasaan seseorang. Gereja harus membina jemaat melalui pemberitaan Firman Tuhan dalam berbagai media untuk mendewasakan perasaan.
    Kita harus sadar, bahwa tatkala kita bertobat, Tuhan telah menebus kita seluruhnya atau sepenuhnya, termasuk perasaan kita. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menghargai diri kita secara berlebihan sehingga kita lupa bahwa kita bukan milik kita sendiri. Berapakah harga perasaan kita sebenarnya? Seharga salib Tuhan Yesus, sebab kita telah disalibkan bersama Kristus. Kita telah dikuburkan bersama dengan Dia dan dibangkitkan dalam hidup yang baru (Rm. 6:4). Bila kita menyadari hal ini, kita tidak akan memanjakan perasaan. Orang yang memanjakan perasaan dan memberi nilai tinggi terhadap dirinya akan menjadi orang yang mudah tersinggung, tidak bisa diperlakukan tidak adil, tidak mau dianggap rendah, dan berharap selalu dianggap tidak penting,
    0 min
  • DIPIMPIN DAN DIPENUHI OLEH ROH
    Orang tidak mungkin bisa selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah kalau tidak hidup dipimpin oleh Roh (Gal. 5:18). Kalimat “dipimpin oleh roh” berasal dari kata pneumati kai stoikomen. Stoikomen bisa menunjuk orang yang melakukan berjalan bersama dalam baris-berbaris. Setiap orang yang ada di dalam barisan harus berjalan seirama mengikuti perintah. Setiap langkah harus menyesuaikan perintah dan berjalan seirama dengan pemimpinnya. Proses ini sebenarnya adalah proses “sinkronisasi” atau penyesuaian, yaitu penyesuaian terhadap kehendak Roh. Dalam proses penyesuaian atau sinkronisasi tersebut, bukan Tuhan yang harus menyesuaikan diri terhadap kita, melainkan kita yang harus menyesuaikan diri terhadap kehendak Tuhan, melalui hidup dalam kendali roh manusia atas jiwanya (jiwa mengendalikan seluruh tubuh). Proses ini menuntut peran aktif setiap individu secara penuh. Roh Kudus sebagai pendamping, aktif memimpin orang percaya dan orang percaya memberi diri dipimpin oleh Tuhan melalui ketekunan mengisi jiwanya dengan Firman Tuhan.
    Setelah mendengar Firman, seseorang harus berusaha untuk mengenakannya dalam kehidupan pribadi. Inilah proses penyangkalan diri yang Tuhan Yesus maksudkan. Membuang pola pemikiran yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dan mengenakan pikiran Tuhan (Mat. 16:24; Mrk. 8:34). Penyesuaian ini menuntut keseriusan orang percaya untuk bergumul dan membutuhkan waktu guna mencapai tahap-tahap penurutan terhadap kehendak rohnya. Allah Bapa akan mengizinkan segala peristiwa terjadi dalam kehidupan untuk mematangkan kebenaran tersebut agar bisa dikenakan dalam hidup. Sehingga kebenaran itu dipersonifikasi atau dihidupi dalam seluruh perilaku.
    Ketika jiwa dipenuhi dengan kebenaran pengenalan akan Tuhan yang memuat pikiran dan perasaan Allah, roh menjadi kuat. Dengan demikian, jiwa menjadi sinkron dengan rohnya. Inilah kekuatan kehidupan dimana seseorang bisa mengendalikan seluruh hidupnya sesuai dengan kehendak Allah yang Mahakudus. Proses ini adalah proses berjalan seirama dengan roh, sampai benar-benar mencapai level dipimpin oleh roh secara ideal. Orang-orang yang “dipimpin oleh Roh atau berjalan di dalam Roh” adalah orang-orang yang mengalami kepenuhan Roh secara permanen. Apa yang dimaksud dengan “penuh” atau “kepenuhan Roh Kudus?” Kata “kepenuhan” dalam bahasa Ibraninya adalah nuwach (נוּחַ). Kata ini berarti juga berbaring atau menempatkan diri. Dalam bahasa Yunani adalah pletho (πλήθω). Kata yang sejajar dengan ini adalah pleroo (πληρόω). Kata ini juga berarti “menjadi penuh” atau melengkapi.
    Kepenuhan Roh atas seseorang tidak dapat dipisahkan dari kapasitas orang yang menerima kepenuhan Roh–Nya. Tidak mungkin Tuhan memenuhi Roh secara permanen kepada orang yang hidupnya tidak berkualitas. Betapa inginnya Bapa mencurahkan Roh-Nya dan memenuhi orang percaya. Tetapi, masalahnya adalah apakah orang percaya mau menyambut kepenuhan-Nya. Tidak banyak orang yang peduli dengan hal ini. Manusia sudah makin jauh dari Tuhan, bahkan orang-orang yang ada di dalam gereja merasa bahwa kepenuhan Roh hanya untuk mereka yang aktif dalam kegiatan gereja. Pengertian ini salah. Tuhan menghendaki agar kita semua penuh Roh.
    Seiring dengan berjalannya waktu, kepenuhan Roh yang dikehendaki oleh Allah adalah kepenuhan Roh secara permanen (Ef. 5:15-19). Hal ini akan menghasilan kepekaan untuk mengerti dan melakukan kehendak Allah. Kualitas orang yang dipenuhi Roh secara permanen ini pasti dapat terlihat oleh semua orang di sekitarnya. Kepenuhan Roh yang permanen ini bertalian dengan kedewasaan rohani seseorang yang memiliki kapasitas berjalan dengan Tuhan. Dalam hal ini, seberapa seseorang dipenuhi Roh Kudus berarti pula seberapa jauh atau seberapa dalam seseorang bisa berjalan dengan Tuhan.
    Seiring dengan perubahan pikiran—sehingga berkapasitas berpikir seperti Bapa—berarti seseorang lebih penuh dengan Roh. Dalam hal ini, penuh dengan Roh sama dengan semakin berpikir seirama dengan Roh.
    0 min
  • KEHILANGAN HAK
    Sebenarnya, setiap orang percaya yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus sudah kehilangan hak. Sebab, penebusan oleh Tuhan Yesus berarti di satu aspek semua dosa diampuni, pelanggaran dihapus, dan surga disediakan. Tetapi, di aspek lain dari penebusan oleh Tuhan Yesus, berarti menempatkan kita sebagai milik Allah secara penuh dan mutlak. Sebagai anak tebusan, kita harus melepaskan kedaulatan hidup agar dimiliki sepenuhnya oleh Majikan yang membeli atau menebus kita. Oleh penebusan Tuhan Yesus, kita menjadi milik Allah sepenuhnya; dengan demikian, kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Hanya orang yang rela melepaskan hak-haknya yang sungguh-sungguh menjadi anak tebusan. Jika tidak, berarti dirinya menolak ditebus oleh darah Yesus. Orang yang dapat melepaskan hak-haknya adalah orang yang dapat mencapai kehidupan yang selesai dengan dirinya sendiri, dan dengan benar dapat melayani Allah, serta menderita bersama-sama dengan Yesus.
    Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang memiliki segala kemuliaan, kekuasaan, dan kehormatan sebagai Tuhan. Kesediaan meninggalkan takhta kemuliaan-Nya adalah kerelaan kehilangan hak-hak-Nya, juga kerelaan tidak diterima oleh orang lain. Kerelaan untuk tidak diterima tersebut merupakan ciri dari kehidupan seorang pelayan Tuhan yang rela berjiwa hamba seperti Yesus Kristus. Dalam hal ini, seorang pelayan Tuhan tidak menuntut mendapat tempat di hati jemaat yang dilayaninya. Bahkan, sekalipun kehadirannya di suatu tempat tidak diterima, ia harus menerima realitas tersebut sebagai hal yang wajar. Tentu saja seorang pelayan Tuhan harus menghindari tindakan salah yang tidak terpuji, yang membuat dirinya tertolak oleh masyarakat atau jemaatnya. Selanjutnya, penampilan lahiriah bukanlah sarana untuk diterima orang lain. Sebagai pelayan Tuhan, kita harus bersikap sederhana, yaitu kesederhanaan yang tulus yang memancarkan kerendahan hati Tuhan Yesus yang memberkati sesama.
    Pelayanan seorang hamba Tuhan bukan merupakan sarana untuk mendapatkan penghasilan secara materi. Ketika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani Dia, hal itu tidak dimulai dengan suatu jaminan bahwa dalam pekerjaan pelayanan tersebut akan memperoleh penghasilan berupa uang untuk memenuhi kebutuhannya. Memang, Alkitab mengemukakan adanya janji Allah dalam mencukupi hidup seorang yang melayani Tuhan, tetapi pelayanan bukan bertujuan memperoleh upah. Sekarang ini, di kalangan pelayanan pekerjaan Tuhan dapat muncul anggapan yang memutlakkan hak menerima persembahan; baik persembahan kolekte maupun persepuluhan. Hak untuk menerima persembahan bagi hamba atau pelayan Tuhan semakin dimutlakkan. Pelayan Tuhan yang benar harus sudah menanggalkan hak untuk menerima upah.
    Zaman sekarang, banyak orang merasa nyaman bila memiliki deposito dalam jumlah besar. Orang percaya tidak boleh mengenakan standar hidup seperti anak-anak dunia. Paulus menasihati orang percaya bahwa asal ada makanan dan pakaian cukup. Ini artinya, bahwa anak-anak Allah tidak boleh menuntut dan mengharapkan memiliki standar hidup seperti anak-anak dunia. Bila seorang pelayan Tuhan sudah merasa berhak memiliki hak milik, ia tidak akan dapat menjadi pengikut Yesus yang benar. Dalam pelayanan memang dibutuhkan berbagai fasilitas, tetapi hendaknya fasilitas yang diharapkan—seperti mobil, rumah pastori, dan lain sebagainya—bukanlah menjadi hak milik untuk kenyamanan hidup, melainkan untuk kelancaran pekerjaan Tuhan. Walaupun telah bekerja keras, seorang pelayan Tuhan tidak boleh merasa berhak memiliki hak milik sebagai upah pelayanannya. Pengorbanannya adalah pengabdian bagi Tuhan, bukan taburan yang mengharapkan tuaian sekarang, melainkan nanti di Kerajaan Surga.
    Bagian dari keteladanan yang ditampilkan Yesus dalam kisah penyaliban juga berbicara bagaimana seorang pelayan Tuhan rela melepaskan kesenangan demi pekerjaan Bapa. Orang percaya hendaknya merasa puas dengan pemenuhan kebutuhan pokok, yaitu sandang, pangan, dan papan.
    0 min
  • TIDAK MENCARI KEHORMATAN
    Orang yang telah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah adalah orang yang tidak lagi mencari kehormatan untuk dirinya sendiri dari manusia. Kehormatan atau penghormatan di sini adalah pengakuan bahwa dirinya adalah seorang yang bernilai atau memiliki nilai—sekecil apa pun nilai tersebut—atau paling tidak, dipandang sebagai manusia yang sederajat dengan yang lain dengan segala hak-haknya. Orang yang masih mencari kehormatan adalah orang yang dituntut oleh dirinya sendiri untuk memperoleh kehormatan dari orang lain, sehingga ia juga menuntut orang lain memberi penghomatan kepada dirinya. Orang yang mencari penghormatan akan menuntut dirinya dihargai, atau paling tidak, dipandang sebagai sejajar dengan orang lain.
    Penghormatan adalah sesuatu yang abstrak, sebab nilai atau harga yang dituntut atau diharapkan bisa sangat relatif. Semua ini menyangkut perasaan. Kalau seseorang merasa bahwa dirinya tidak mendapat nilai atau penghargaan yang diharapkan dalam situasi tertentu, maka ia merasa dirinya direndahkan. Biasanya, kemudian ia menjadi tersinggung atau hatinya terlukai. Keadaan perasaan seperti ini sudah menjadi hal yang umum atau wajar dalam kehidupan banyak orang. Orang-orang yang masih memiliki perasaan seperti ini adalah orang-orang yang sangat rentan. Perasaannya mudah tersinggung dan terlukai. Inilah orang-orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah. Tidak mudah bergaul dengan orang seperti ini. Orang yang mencari kehormatan—sehingga belum selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah—adalah orang yang bisa dikategorikan sombong atau tinggi hati. Terkait dengan hal ini, kita harus memahami: Sebenarnya, apa kerendahan hati itu?
    Kerendahan hati digerakkan oleh kesadaran bahwa ada Allah yang hidup, sumber segala sesuatu. Karena segala sesuatu berasal dari Dia, maka hanya Dia yang layak menerima segala kehormatan. Keadaan kita ini hanya oleh pemberian anaugerah-Nya semata-mata. Dengan demikian, mestinya kita tidak boleh memegahkan diri dan tidak berhak menuntut penghormatan dari siapa pun. Sikap menuntut penghormatan adalah kesombongan, yang secara implisit merupakan sikap hati yang tidak mengakui bahwa keberadaannya dari Tuhan semata-mata. Paulus, dalam suratnya di 1 Korintus 4:7 berkata: pada umumnya, orang tidak mengakui bahwa apa yang dimilikinya, diterimanya dari Tuhan. Sebagai bukti bahwa seseorang tidak menerima kenyataan bahwa Tuhan merupakan sumber berkat adalah ketika menuntut penghormatan dari orang lain.
    Roma 11:36 mengatakan: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Dari Dialah seseorang dapat mencapai segala prestasi yang dimilikinya hari ini, kekayaan, pangkat, gelar, kekuasaan, dan lain-lain. Oleh sebab itu, seharusnya sebuah prestasi atau keberhasilan tidak perlu ditonjolkan dan mengharapkan orang lain mengetahui serta menghargainya. Seseorang yang membanggakan apa yang dimilikinya kepada sesama berarti merendahkan orang lain, seolah-olah orang lain tidak dihargai Tuhan. Hal ini bukan saja menyakitkan hati sesama kita, melainkan juga menyakitkan hati Tuhan.
    Kerendahan hati yang benar harus digerakkan oleh kesadaran bahwa ada Allah yang hidup menjadi objek pemujaan dan penyembahan. Untuk dapat memiliki sikap hati yang benar dalam memuji dan menyembah Tuhan, seseorang harus sadar bahwa batas antara Allah dan umat tidak terhalangi, walaupun Dia adalah Allah yang Mahatinggi dan manusia adalah ciptaan-Nya. Alkitab menyatakan dengan tegas bahwa hanya Allah yang harus menjadi objek penyembahan manusia ciptaan-Nya. Kerendahan hati ini adalah sikap hati, sesuatu yang bersifat batiniah. Dalam hal ini, hambatan atau halangan seseorang memuji, menyanjung, dan menyembah Allah adalah penilaian yang tidak tepat atas diri, pengagungan diri, dan ketidaksediaan menundukkan diri di hadapan Allah. Kesadaran ini akan membuat seseorang dengan tegas menolak segala bentuk pengkultusan atas dirinya.
    0 min
  • MENGOSONGKAN DIRI
    Orang percaya yang mau mencapai kehidupan “selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah” harus meneladani sikap hidup Yesus secara konsisten dan konsekuen. Yesus adalah sosok manusia sejati yang telah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah. Salah satu sikap hidup Yesus yang luar biasa yang harus kita harus diteladani adalah melepaskan seluruh kehormatan-Nya. Kerelaan melepaskan seluruh kehormatan menunjuk kepada sikap hati yang rela tidak menggunakan seluruh miliknya untuk kebesaran sendiri. Demikianlah orang percaya yang meneladani kehidupan Yesus adalah orang yang rela kehilangan kehormatan. Inilah orang percaya yang memberikan seluruh hidupnya tanpa batas untuk pekerjaan Allah demi untuk menggenapi rencana-Nya. Seorang yang tidak melepaskan hak untuk memperoleh kehormatan manusia atau dunia tidak pernah bisa selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah, dan tidak dapat melayani Allah.
    Kerelaan kehilangan hak untuk dihormati ini ditunjukkan oleh Yesus Kristus melalui proses pengosongan diri; dimana ketika Yesus berkeadaan sebagai manusia, Ia dalam segala hal disamakan dengan manusia. Dalam Filipi 2:7, tertulis bahwa Yesus telah mengosongkan diri-Nya. Dalam teks aslinya, frasa “mengosongkan diri” ini terjemahan dari heauton ekenosen (ἑαυτὸν ἐκένωσεν). Dari kata inilah terbangun konsep pengosongan diri Yesus (kenosis). Kata heauton yang diterjemahkan “himself,” menekankan bahwa Yesus sendiri telah melakukan suatu tindakan, bukan orang lain atau karena orang lain. Adapun kata ekenosen, berasal dari akar kata kenoo (κενόω) yang berarti to make empty (membuat kosong), to abase (membuat rendah), neutralize (menawarkan atau menetralkan). Lebih jelasnya, kata kenoio berarti no reputation (membuat diri tidak memiliki reputasi atau tidak berharga). Yesus Kristus telah bertindak membuat diri-Nya tidak memiliki reputasi atau mengosongkan diri-Nya, made himself of no reputation. Dari kata ekenosen inilah terbangun teori kenosis yang merupakan esensi dari kerelaan Yesus kehilangan semua hak-hak-Nya.
    Dalam sejarah kehidupan Yesus selama dalam dunia ini—ketika Ia mengenakan tubuh daging—Ia menjalani kehidupan yang diwarnai dengan penderitaan baik secara fisik maupun psikis, dimana semua itu merupakan ekspresi dari kerelaan kehilangan hak untuk dihormati. Pada zaman itu, Yesus terhina di antara manusia. Hal ini menunjukkan kerelaan-Nya kehilangan kehormatan. Ketika Maria mulai mengandung, Yusuf, tunangan Maria sudah berprasangka bahwa kehamilan Maria adalah aib. Itulah sebabnya, Yusuf dengan diam-diam bermaksud hendak meninggalkan Maria. Ini berarti tuduhan yang akan ditujukan kepada bayi Yesus adalah “anak haram.” Dari hal ini, Anak Allah yang akan lahir sudah tidak memiliki kehormatan, padahal Ia adalah pribadi yang paling terhormat. Sebab, siapakah yang lebih terhormat dari Anak Allah ini selain Allah Bapa-Nya? Namun demikian, Yesus rela melepaskan segala kehormatan-Nya demi kemuliaan Allah, Bapa-Nya, yaitu dengan karya keselamatan yang dikerjakan-Nya.
    Dalam perjalanan hidup-Nya, Yesus juga telah kehilangan kehormatan-Nya di mata sebagian besar orang Yahudi. Yesus dituduh sebagai orang gila (Mrk. 3:21), juga dituduh menggunakan kuasa Beelzebul dalam mengusir setan (Luk. 11:15). Dengan tuduhan tersebut, Yesus dihujat sebagai kerasukan setan. Kehormatan-Nya di mata manusia menjadi hancur sama sekali ketika Ia harus menghadapi pengadilan Pilatus, Imam Besar, dan Herodes. Penduduk Yerusalem meneriakkan seruan yang sangat menyakitkan agar Ia disalibkan. Akhirnya, Ia disalib dengan tuduhan sebagai penghujat Allah dan penyesat rakyat melawan Kaisar. Ia disalib dengan penilaian publik sebagai penjahat besar dan dipandang sebagai terkutuk (Gal. 3:13). Yesus benar-benar rela kehilangan reputasi, harga diri, dan prestise. Keunggulan-Nya sebagai Anak Tunggal Allah yang Mahatinggi tidak menahan-Nya untuk merendahkan diri.
    Dalam suatu pernyataan-Nya, Yesus mengemukakan: “Serigala mempunyai liang dan burung mempuny...
    0 min
  • KEMATIAN MANUSIA LAMA
    Keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula. Rancangan semula adalah manusia yang segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26-27). Tuhan Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah tersebut. Kehidupan Tuhan Yesus adalah model manusia yang diingini oleh Allah. Jika kita hendak memahami manusia macam apakah yang dikehendaki oleh Allah, diri Tuhan Yesuslah jawabannya. Kehidupan Yesus adalah karakter yang berstandar Allah atau yang sama dengan sempurna seperti Bapa. Jadi, menjadi orang percaya berarti perjuangan untuk menemukan wajah batiniah Yesus di dalam hidupnya. Allah menghendaki, suatu hari nanti Ia menemukan orang-orang yang serupa dengan Yesus. Dalam hal ini, pengakuan “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” adalah standar yang harus dimiliki oleh semua orang percaya. Sampai pada tingkat ini, seseorang barulah bisa dikatakan sudah selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah.
    Untuk mencapai kehidupan serupa dengan Yesus dibutuhkan perjuangan yang sangat berat, sebab untuk memiliki pencapaian kehidupan seperti itu, seseorang harus bersedia mengalami “kematian dari manusia lama.” Jika kita benar-benar berketetapan untuk memiliki kehidupan ilahi tersebut, kita harus berusaha semaksimal mungkin mengerahkan seluruh daya yang ada pada diri kita. Sebab, hal ini tidak bisa dilakukan dengan usaha setengah-setengah. Kita harus berani mempertaruhkan hidup tanpa batas; baik tenaga, pikiran, waktu, dan segala hal yang ada di dalam kehidupan kita. Hal ini dimaksudkan agar kehidupan Kristus terbangkitkan dalam diri orang percaya. Kematian di sini maksudnya adalah pemadaman keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah dalam diri seseorang. “Kematian” di sini juga berarti pemadaman kehidupan wajar yang dimiliki manusia pada umumnya dan bersedia mengenakan kehidupan seperti yang dikenakan oleh Yesus. Dengan demikian, dapat dilahirkan kehidupan ilahi, yaitu karakter Allah dalam diri seseorang. Mengalami kematian manusia lama sejatinya adalah tujuan utama orang percaya, sebagai penggenapan rencana Allah sejak manusia diciptakan oleh-Nya.
    Firman Tuhan mengatakan bahwa kita telah mati dan hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol. 3:3-4). Inilah yang sering disebut sebagai kematian di dalam Tuhan. Hal ini harus dipahami sebagai kemutlakan yang tidak boleh diubah sama sekali. Alkitab mengatakan bahwa kita sudah mati dan Kristus menjadi hidup kita. Kalau Kristus menjadi hidup di dalam diri kita, berarti kita sudah mati. Kristus menjadi hidup kita, artinya semua gairah yang ada di dalam diri kita, cara berpikir, gaya hidup, dan semua cita-cita kita harus sesuai dengan kehendak Yesus; dan kehendak Yesus hanyalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Dengan demikian, jelas bahwa kekristenan bukan agama melainkan jalan hidup atau gaya hidup. Jalan atau gaya hidup yang dikenakan adalah jalan dan gaya hidup Yesus.
    Dengan demikian, “menjadi satu dalam kematian Tuhan” artinya kita harus berjuang sampai mencapai level seperti yang telah dicapai oleh Tuhan Yesus: taat, bahkan sampai mati. Semakin menuju akhir hidup, kita harus semakin tepat melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan tugas yang dipercayakan Bapa kepada kita. Dengan isi hidup seperti ini, suatu hari kita juga akan dibangkitkan dari antara orang mati dan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus dan hidup bagi kemuliaan Bapa di dalam Kerajaan Surga. Itulah sebabnya, Firman Tuhan menyatakan bahwa kita akan menerima janji-janji Allah Bapa dan menerimanya bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Janji itu adalah dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus di dalam Kerajaan Bapa di surga, yaitu memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Hanya orang-orang yang mengalami kematian di dalam Tuhan—artinya kematian terhadap dosa—yang akan dibangkitkan dan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan untuk melayani Bapa di surga.
    0 min
  • SELESAI DENGAN DIRI SENDIRI DIHADAPAN ALLAH
    Selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah artinya keadaan dimana seseorang tidak dapat lagi dituntut oleh siapa pun dan apa pun untuk melakukan suatu hal, baik dituntut oleh dirinya sendiri maupun oleh pihak di luar dirinya. Ini berarti tidak lagi ada keinginan dari diri sendiri dan dorongan oleh faktor di luar dirinya yang menggerakkan dirinya dalam menjalani roda kehidupannya, selain kehendak Allah. Inilah kemerdekaan yang sejati, yaitu ketika seseorang tidak terbelenggu oleh apa pun dan siapa pun, selain oleh Tuhan. Hal ini bisa dimiliki oleh seseorang, namun tergantung pada orang itu, asalkan ia tidak membiarkan dirinya terhanyut oleh keinginan diri sendiri dan pengaruh dunia sekitarnya. Orang yang sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah dalam menjalankan hidupnya, digerakkan oleh kehendak Allah. Hal ini bisa terjadi kalau orang percaya tersebut telah memiliki tingkat kedewasaan dimana ia dapat hidup menurut pimpinan Roh Kudus. Orang percaya yang dewasa dapat berjalan seiring dengan Roh Kudus dan hidup dalam ketertundukan kepada Roh Kudus secara mutlak dan terus-menerus, sampai pribadi orang tersebut “menjadi” seirama dengan Roh Kudus.
    Seseorang dapat mencapai kehidupan “sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah” kalau sudah melalui perjalanan panjang dalam proses pendewasaan yang tidak mudah. Mengapa? Sebab, pada umumnya manusia memiliki kecenderungan hidup hanya untuk memuaskan diri sendiri dengan keinginan dari diri sendiri yang pada dasarnya hasil dari pengaruh dunia yang fasik. Untuk dapat menghentikan gaya hidup seperti ini, cara berpikir harus diubah melalui kebenaran Firman Tuhan dan proses pendewasaan melalui pengalaman hidup yang Allah izinkan terjadi. Tentu saja hal ini hanya terjadi dalam kehidupan orang-orang yang mengasihi Allah dengan benar sesuai standar-Nya. Mengasihi Allah dengan standar yang benar adalah mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Mat. 22:37-40). Orang yang mengasihi Allah dengan benar adalah orang yang bersedia tidak mengasihi dunia dan bertekad untuk hidup tidak bercacat di hadapan Allah.
    Seseorang tidak akan pernah memiliki kehidupan yang sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah kalau tidak memiliki kedewasaan rohani yang sejati. Pengalaman hidup dimana seseorang melewati berbagai peristiwa adalah sarana Allah mematangkan kebenaran Firman yang dipahami seseorang, sehingga ia dapat mengenakan kebenaran Firman Allah dalam kehidupannya secara konkret. Dalam hal ini, tidak dapat dibantah bahwa “waktu” memegang peranan penting dalam proses pendewasaan. Seseorang tidak dapat menjadi dewasa secara mendadak, apalagi secara otomatis. Menjadi tua secara usia adalah otomatis, tetapi menjadi dewasa adalah sebuah proses melalui perjuangan. Dengan demikian, kedewasaan adalah prestasi hidup yang harus diupayakan oleh setiap orang percaya.
    Ukuran kedewasaan rohani yang sejati adalah pribadi Yesus. Yesus adalah model manusia yang telah selesai dengan diri sendiri dengan prinsip “makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Dengan berkeadaan telah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah, seseorang baru bisa melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Kalau seseorang belum selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah, ia hanya hidup untuk memuaskan keinginannya sendiri, dan keinginan itu berasal dari pengaruh dunia sekitarnya. Orang seperti ini tidak memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah dan tidak mengerti rencana Allah dalam hidupnya. Seorang yang sudah selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah akan merasa cukup terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Tidak ada lagi yang diingini kecuali menyukakan hati Allah.
    Orang yang belum selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah tidak mengalirkan “spirit selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah” dalam kehidupan setiap hari. “Spirit selesai dengan diri sendiri di hadapan Allah” tidak akan “melting” (meleleh) dalam...
    0 min
  • MENGUBAH DIRINYA
    Pada dasarnya, setiap orang bertanggung jawab sebagai penggubah dirinya sendiri. Setiap orang menciptakan sejarah bagi dirinya sendiri, bukan saja sejarah dalam hidupnya selama ia ada di dunia ini saja, melainkan juga menciptakan sejarah hidupnya dalam kekekalan. Ibarat sebuah buku sejarah, masing-masing individu menoreh tinta di buku kehidupannya masing-masing, sebuah sejarah yang memiliki nilai permanen. Tinta kehidupan tersebut adalah pilihan demi pilihan, keputusan-keputusan yang diambil, dan segala tindakan yang dilakukan berdasarkan pilihan dan keputusan-keputusan tersebut. Buku sejarah kehidupan masing-masing merupakan prestasi yang memiliki nilai kekal. Sebenarnya, ini merupakan sesuatu yang menggetarkan jiwa. Dalam hal ini, kita memahami mengapa Firman Allah menasihati kita agar hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia (1Ptr. 1:17). Ketakutan yang menciptakan sikap hati-hati. Jadi, bagaimana pun keadaan hidup seseorang, sangat ditentukan oleh dirinya sendiri, sebab manusia telah diberi kehendak bebas untuk menentukan pilihan bebasnya. Apakah ia hidup dalam terang atau dalam gelap, apakah membawa dirinya kepada kebinasaan atau kehidupan. Dalam hal ini kita menemukan keagungan makhluk manusia yang memiliki kehendak bebas untuk menentukan “takdirnya sendiri.”
    Allah memberi kebebasan kepada masing-masing individu untuk menentukan isi buku sejarah hidupnya. Jika tidak demikian, tidak ada realitas ganjaran berupa penghargaan atau hukuman, mahkota atau azab. Semuanya akan menjadi seperti sandiwara yang alur cerita telah ditentukan dan adegan demi adegan ditentukan oleh seorang sutradara. Jika demikian, betapa beruntungnya yang memperoleh peran baik, dan betapa malangnya yang memerankan peran jahat. Jika demikian, tidak bisa dihindari tuduhan bahwa Allah adalah Allah yang baik bagi mereka yang menerima kebaikan, dan sulit mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang baik bagi mereka yang menerima peran buruk atau jahat.
    Suatu hari nanti, setiap kita dapat membaca buku sejarah masing-masing itu, dan isinya ditentukan oleh masing-masing individu. Tidak ada orang yang bisa berdalih bahwa segala sesuatu itu terjadi bukan karena dirinya. Setiap orang akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Sebab, kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini.
    Allah memberikan kemampuan kepada masing-masing individu untuk mengubah hidupnya. Dalam kisah-kisah kehidupan tokoh-tokoh dalam Alkitab, seharusnya ada hal-hal yang tidak perlu terjadi dalam kehidupan mereka yang mendatangkan bencana bagi dirinya dan bagi orang lain. Sebenarnya, Kain bisa menghindarkan diri sebagai pembunuh. Itulah yang menyebabkan ia menjadi orang terbuang dan terasing, tidak diberkati oleh Tuhan. Saul seharusnya tidak terlempar dari takhtanya, seandainya ia dengar-dengaran kepada Tuhan. Daud seharusnya tidak membuat dirinya terusir sementara waktu dari istana dan dipermalukan di depan umum, seandainya ia tidak mengambil Betsyeba dan tidak membunuh suaminya. Hizkia seharusnya bisa tidak menjadi penyebab dirampasnya kekayaan istana dan perkakas Bait Allah, kalau seandainya ia menerima kematiannya. Dengan ditambahkan usianya 15 tahun, ia malah berbuat kesalahan yang fatal. Yudas seharusnya bisa tidak menjadi pengkhianat, seandainya ia tidak tergiur oleh uang. Dan banyak kisah lain yang menunjukkan bahwa sebenarnya mereka dapat menghindarkan diri dari bencana dalam hidup mereka. Hal ini bukan karena Allah menentukan atau menakdirkan mereka berbuat suatu kesalahan. Jika Allah yang menentukan, kita tidak bisa mengatakan bahwa Allah adalah Allah yang adil, baik, dan bijaksana. Manusia diberi kemampuan untuk menjadi penggubah bagi dirinya sendiri.
    Sebagai orang percaya, kita bisa menjadi penggubah hidup menjadi manusia rohani atau man of God berdasarkan atau bermodalkan anugerah yang Tuhan berikan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…