Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • BUKAN RUMAH DI BUMI
    Orang yang dapat menghayati dengan benar bahwa dirinya bukan dari dunia ini dan benar-benar bisa menghayati bahwa rumahnya ada di surga adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak dapat menghayati bahwa dunia ini bukan rumah kita. Tuhan menyatakan berulang kali bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Paulus pun menyatakan bahwa kewarganegaraan kita bukan di bumi. Tetapi faktanya, tidak sedikit orang Kristen yang berusaha keras bagaimana memiliki rumah pribadi sebesar-besarnya dan semewah-mewahnya. Mereka berpikir bahwa kesempatan memiliki rumah hanya sekali di bumi ini. Cara berpikir demikian membuat mereka memandang kematian sebagai hilangnya kesempatan memiliki kenyamanan untuk menikmati kehidupan ini. Bagi mereka, rumah atau tempat tinggal adalah kenikmatan satu-satunya dalam kehidupan yang tidak pernah terulang. Dengan menyatakan hal ini, bukan berarti mereka yang memiliki rumah mewah berkeadaan berdosa. Kita harus cerdas dan jujur serta berhati-hati menyikapi hal ini. Dalam hal ini, dituntut kejujuran untuk mengoreksi diri sendiri.
    Banyak orang Kristen memiliki cara berpikir yang salah tersebut, sehingga mereka bergaya hidup seperti orang-orang yang tidak memiliki janji bahwa Tuhan Yesus akan membawa kita ke Rumah Bapa. Malangnya, orang-orang Kristen tersebut merasa bahwa mereka telah memiliki hidup yang wajar. Mereka merasa tidak berdosa, sebab hal itu dipandang tidak menyalahi Firman Tuhan. Gereja pun tidak mengingatkan mereka dengan tegas. Ini adalah kesalahan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, dimana orang Kristen hidup dalam kewajaran anak-anak dunia dan mereka merasa tidak bersalah.
    Sesungguhnya, orang percaya terhisab bukan berasal dari bumi ini, melainkan dari atas, dan pengharapannya hanya ditujukan pada penyataan kedatangan Tuhan Yesus nanti (1Ptr. 1:13-14). Dengan kesadaran ini, mestinya apa yang dipandang sebagai kebutuhan primer hanya satu, yaitu Tuhan saja. Orang percaya harus memiliki hidup dalam penantian yang kuat untuk dipindahkan ke rumah yang sesungguhnya di langit baru dan bumi yang baru. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita. Kalau Ia sudah menyediakan tempat bagi kita, Ia akan datang untuk menjemput kita, supaya di mana Ia berada, kita juga berada (Yoh. 14:1-3).
    Kehidupan orang percaya yang benar adalah hidup dalam penantian yang penuh kerinduan terhadap penjemputan-Nya. Hal ini juga berarti kita lebih memfokuskan diri pada rumah abadi kita, bukan rumah sementara di bumi ini. Kalau tidak demikian, berarti pengkhianatan atau ketidaksetiaan kepada Tuhan Yesus. Kita harus melewati hari ini dengan berprinsip bahwa kehidupan di bumi yang sementara ini hanya persiapan untuk memperoleh rumah atau kehidupan yang sesungguhnya nanti di surga. Rumah memang kebutuhan primer menurut pikiran dan konsep manusia pada umumnya, tetapi rumah harus diadakan demi memenuhi kebutuhan keluarga guna mengabdi kepada Tuhan, bukan untuk citra diri, harga diri, dan kehormatan.
    Orang percaya adalah orang yang menumpang di bumi. Untuk itu, kita sebagai orang percaya yang benar harus rela berstatus sebagai orang yang menumpang di bumi. Orang yang menumpang tetapi merasa berhak berdomisili secara permanen di suatu tempat atau rumah orang lain dan bertindak sebagai tuan rumah, adalah perampok. Tanpa disadari, banyak orang Kristen berkeadaan demikian. Harus diingat bahwa harta kita sendiri baru nanti di Kerajaan Surga, sedangkan segala sesuatu yang kita miliki sekarang adalah harta orang lain, yaitu harta-Nya Tuhan (Luk. 16:12).
    Tuhan mengajarkan bagaimana diri-Nya tidak memiliki kenyamanan seperti kenyamanan yang dimiliki manusia lain. Ia memberi pernyataan bahwa diri-Nya tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, bahkan Ia mati di kayu salib dalam kemiskinan jasmani yang ekstrem. Oleh sebab itu, fokus hidup orang percaya harus diarahkan kepada proses kesempurnaa...
    0 min
  • SELERA JIWA
    Selama tiga setengah tahun, Tuhan Yesus mendidik murid-murid, namun selera jiwa mereka belum berubah secara total. Setelah kebangkitan Tuhan Yesus, murid-murid masih menuntut agar Tuhan Yesus memulihkan Kerajaan Israel duniawi. Mereka masih berpikir duniawi. Mereka belum memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Mereka masih ingin membangun kerajaan mereka sendiri. Mereka masih memiliki cita rasa atau selera bumi ini, bukan langit baru dan bumi yang baru. Itulah sebabnya, mereka harus menerima Roh Kudus yang menuntun mereka kepada segala kebenaran. Perubahan secara signifikan terjadi ketika mereka dipenuhi Roh Kudus. Roh Kudus membawa perubahan yang sangat luar biasa. Bapa menghendaki agar orang percaya memiliki selera atau cita rasa rohani atau surgawi.
    Selera atau cita rasa rohani tersebut adalah gairah untuk menikmati kehidupan yang melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan Allah Bapa, bukan menikmati yang lain (Yoh. 4:34). Dengan melakukan itu, Tuhan Yesus menikmati hidup-Nya sebagai Anak Allah yang dapat memuaskan hati Bapa (Mat. 3:17). Tuhan Yesus memuaskan diri-Nya secara benar. Diri-Nya merasa puas ketika hidup-Nya memuaskan atau menyenangkan Bapa-Nya. Seperti Tuhan Yesus, demikian pula seharusnya kita. Kepuasan diri anak-anak Allah adalah melakukan kehendak Bapa. Ini adalah kepuasan yang kudus.
    Sebagai orang percaya yang sudah mengerti kebenaran, kita harus bersungguh-sungguh mengubah cita rasa jiwa atau selera duniawi kita dengan selera yang baru, yang juga dimiliki oleh Tuhan Yesus, yaitu melakukan kehendak Bapa. Dalam hal ini, kita harus benar-benar memperkarakan: “Apakah kita sudah sungguh-sungguh melakukan kehendak Bapa?” Hal tersebut merupakan kepuasan jiwa kita dan menjadi selera jiwa yang permanen. Dengan selera atau cita rasa jiwa ini, kita dapat menolak setiap tawaran yang diajukan oleh kuasa gelap, yaitu keindahan dunia ini. Seperti Tuhan Yesus dengan tegas menolaknya, kita pun juga harus dengan tegas menolaknya. Memang kita menjadi manusia yang “aneh” di mata manusia di sekitar kita, tetapi dengan cara ini, kita menantang zaman.
    Dalam suratnya, Paulus menunjuk adanya ilah zaman ini: Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2Kor. 4:3-4). Ilah zaman ini menunjuk kepada semangat atau gairah zaman yang menguasai sebagian besar manusia pada zaman itu. Ilah di sini sama dengan allah atau berhala. Pada dasarnya, berhala sama artinya dengan allah, yang arti sempitnya adalah objek yang disembah dan dipuja. Jadi, siapakah allah bagi seseorang, dialah berhalanya; atau siapakah berhala seseorang, dialah allahnya. Dalam hal ini, berhala adalah sesuatu yang menggerakkan seseorang melakukan pengabdian atau pelayanan.
    Dalam arti luas, berhala adalah sesuatu atau satu pribadi yang dianggap paling berharga, sebab mendatangkan kesenangan atau kebahagiaan, keuntungan dan keamanan. Tentu saja berhala bagi seseorang adalah pusat kehidupan dimana seseorang bergantung dan jiwanya melekat. Seseorang tidak akan merasa lengkap tanpanya. Kehidupan ini akan menjadi sepi dan kosong tanpanya. Dengan demikian, seseorang tidak bisa hidup tanpanya. Dalam hal ini, berhala atau allah adalah kelengkapan hidup yang mutlak harus ada. Allah atau berhala adalah pasangan hidup setiap individu orang beragama. Orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri adalah orang yang masih memberhalakan sesuatu. Dirinya sendiri bisa menjadi berhala tersebut. Orang-orang seperti ini biasanya suka memanjakan perasaannya sendiri. Selera jiwanya adalah membahagiakan diri sendiri. Tentu saja materi dunia dengan segala hiburannya sebagai sarana untuk kebahagiaannya. Orang seperti ini akan semakin terbelenggu oleh percintaan dunia, selalu memburu kekayaan dunia,
    0 min
  • TUHAN, KEHIDUPANKU
    Kalau ada orang-orang Kristen yang lebih tertarik terhadap dunia dan hanyut dengan segala kesibukan hidup, pasti akan ditegur oleh Tuhan. Teguran tersebut bisa melalui khotbah di mimbar, peringatan dan melalui mulut manusia, mimpi atau suara Tuhan di dalam hatinya. Bila masih tidak sadar, Tuhan akan memukulnya dengan peristiwa-peristiwa kehidupan. Kalau pukulan-pukulan tersebut tidak diindahkan, ia dibiarkan hidup senang selamanya “di bumi ini”(Mzm. 73:12). “Selamanya” di bumi—walaupun dalam waktu yang lama—tetap akan berakhir. Inilah orang-orang yang tidak pantas ditegur oleh Tuhan. Mereka tidak perlu mendapat teguran Tuhan lagi. Mereka dibiarkan terus meluncur menuju kebinasaan. Tuhan menegur kita ketika kita mulai hidup dalam keadaan dimana kita menjadikan dunia ini sebagai kehidupan kita. Mestinya, Tuhan adalah kehidupan kita; artinya, bahwa tanpa Dia, kita tidak merasa memiliki kehidupan. Ini berarti Dia adalah segalanya bagi kita; lebih berharga dari diri kita dan lebih berharga dari hidup itu sendiri.
    Orang-orang yang menjadikan segala sesuatu yang ada di dunia ini sebagai kehidupannya beranggapan bahwa hidup hanya untuk menikmati segala sesuatu yang ada di bumi ini. Mereka memandang hal tersebut sebagai kewajaran. Ada orang-orang yang tidak menghormati Tuhan dengan benar, dibiarkan hidup dalam keadaan yang selalu baik, padahal mereka sedang meluncur menuju kegelapan abadi. Hal ini sama dengan bahwa mereka tidak pantas mendapat pencerahan kebenaran Firman Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang tidak pantas mendapat teguran Tuhan. Ini berarti, orang tersebut tidak diajar untuk selesai dengan dirinya sendiri. Mereka berpikir bahwa Allah menciptakan segala sesuatu di bumi ini untuk dinikmati. Mereka tidak tahu bahwa bumi sudah terkutuk. Kehidupan yang sesungguhnya disediakan oleh Tuhan di langit baru dan bumi yang baru (Yoh. 14:1-3).
    Pendeta-pendeta yang tidak mengerti kebenaran ini, pengajarannya selalu menekankan mukjizat dan berkat jasmani. Inilah injil yang palsu. Mereka tidak mengajarkan kesempurnaan karakter. Mereka menunjukkan seakan-akan masuk surga itu mudah. Padahal, orang Kristen yang benar adalah orang yang menjadikan Tuhan sebagai kehidupannya; dan mendekat kepada Tuhan bukan karena mencari pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan menjadikan Tuhan sebagai kehidupannya. Keadaan yang membahayakan adalah ketika tidak dapat mendengar suara nasihat Tuhan, teguran, dan peringatan Tuhan.
    Injil yang benar dari Tuhan Yesus Kristus membuka pikiran manusia untuk memahami kenyataan akan mengerikannya keadaan manusia, sehingga kita harus menangisi diri sendiri dan selanjutnya menghargai hidup yang Tuhan berikan. Dengan cara bagaimana seseorang menghargai hidup yang Tuhan berikan? Dengan cara berusaha sungguh-sungguh untuk menjadi manusia Allah sesuai dengan rencana Allah semula dan mempersiapkan diri memasuki Kerajaan-Nya. Selanjutnya, ia berusaha mengajak orang lain juga mengalami hal yang sama. Inilah ciri orang yang menjadikan Tuhan sebagai kehidupannya.
    Banyak orang Kristen yang belum mengerti bagaimana menghargai hidup yang Tuhan berikan. Tidak ada cara lain untuk menghargai hidup ini kecuali meninggalkan cara hidup anak-anak dunia dan keindahan dunia dengan segala kesenangannya, demi belajar mengenal kebenaran Tuhan dan mengenakannya. Semua itu merupakan proyek bagaimana memiliki gairah hidup dimana Tuhan menjadi kehidupannya. Inilah sebenarnya tujuan anugerah keselamatan diberikan. Hal ini bukan sesuatu yang mudah, karena manusia pada umumnya sudah terlalu terbiasa dalam waktu yang lama menjadikan dunia sebagai kehidupan. Tuhan menghendaki agar orang percaya berjuang untuk menjadikan Tuhan sebagai kehidupannya.
    Orang yang menjadikan Tuhan kehidupannya akan lebih mendandani manusia batiniahnya daripada manusia lahiriahnya. Namun faktanya, banyak orang yang lebih mendandani manusia lahiriahnya daripada manusia batiniahnya. Banyak orang tidak sadar bahwa daging adalah debu dan akan kembali...
    0 min
  • HIDUP DALAM PESTA PORA
    Sebenarnya, banyak orang Kristen sedang berpesta pora dengan segala kemewahan hidup, seakan-akan pesta kesenangan itu tidak ada ujungnya. Mereka adalah orang-orang yang berusaha meraih sebanyak-banyaknya kesenangan dari dunia ini, sampai mereka tidak pernah mengenal damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Pasti mereka tidak menghormati Tuhan secara pantas. Orang-orang seperti itu berusaha tiada henti untuk mencari kesenangan dunia. Padahal, kita harus menyadari bahwa semakin tua, kita semakin tidak membutuhkan apa-apa. Rumah besar dan mewah pun tidak dapat dinikmati, sampai suatu saat kita harus melepaskan semuanya dengan mata tertutup, hanya membutuhkan kuburan berukuran dua kali satu meter. Ini adalah hukum kehidupan yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Tetapi, banyak orang tidak menyadari sama sekali, mereka berpikir bahwa seakan-akan apa yang dimilikinya akan digenggamnya dan tidak dapat terlepas.
    Firman Tuhan mengatakan bahwa dari debu kita diambil, maka kita juga akan kembali ke dalam debu (Pkb. 12:7). Pada umumnya, mereka tidak berpikir bahwa tubuhnya adalah debu dan akan kembali kepada debu. Hal inilah yang membuat seseorang tidak memikirkan ada tempat lain yang harus dipersiapkan. Ada tanah abadi yang harus dipersiapkan mulai sekarang. Tanah yang tidak dapat dibeli dan nilainya tidak terduga. Itulah langit baru dan bumi baru, tujuan hidup kita. Hidup yang sesungguhnya yang Allah sediakan bagi orang-orang yang dikasihi-Nya. Hati kita harus kita pindahkan ke sana sebelum kita meninggal dunia.
    Mereka tidak akan pernah memiliki kepekaan memahami kehendak Allah, sebab yang memenuhi jiwa mereka adalah kehendak mereka sendiri. Tuhan pun hanya dijadikan sebagai sarana untuk memuaskan keinginan mereka. Jadi, mereka ke gereja hanya untuk memperoleh berkat jasmani, bukan mengenal kebenaran-Nya. Dalam lingkungan gereja, terdapat orang-orang seperti ini, tetapi mereka tidak menyadari keadaan yang sangat berbahaya tersebut. Mereka mengaku percaya adanya Tuhan dan pengadilan-Nya, tetapi gaya hidup mereka menunjukkan kalau mereka tidak memercayai realitas dan fakta tersebut.
    Mereka tidak mempersiapkan diri menyongsong kehidupan kekal, sebab mereka berpikir bahwa persiapan masuk kekekalan baru pantas dilakukan setelah tua sebelum meninggal dunia. Padahal, tidak seorang pun tahu kapan hari ajalnya tiba. Ini adalah sebuah kecerobohan. Lagipula, kalau dalam waktu panjang seseorang tidak membiasakan diri hidup di dalam kehendak Tuhan, ia tidak akan bisa mengarahkan diri kepada Tuhan dengan benar. Cita rasa jiwa ini menjadi permanen, sampai sulit diubah, bahkan sampai tidak bisa diubah lagi. Kalaupun pergi ke gereja dan berbagai kegiatan rohani, aktivitasnya tidak signifikan mempersiapkan diri memasuki kekekalan, sebab irama hidupnya sudah salah dan tidak bisa diubah lagi. Kekekalan bagi mereka seperti bangun dari mimpi indah.
    Orang-orang Kristen seperti di atas ini tidak merasa sebagai orang-orang yang jahat, sebab mereka tidak melanggar norma umum, bahkan di antara mereka adalah orang-orang yang terhormat di mata manusia. Pada dasarnya, mereka tidak menempatkan diri mereka secara benar di hadapan Tuhan. Mereka adalah orang Kristen yang menolak menjadi anak-anak Allah yang layak dipermuliakan bersama Yesus. Pada dasarnya, mereka melawan Tuhan, sebab tidak menuruti rencana Allah menjadi manusia sempurna seperti Putra Tunggal-Nya.
    Orang Kristen yang hidup dalam pesta pora dengan segala kemewahannya—sehingga tidak menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaannya—adalah orang yang berkategori berzina secara rohani. Mereka tidak mencari kebenaran untuk melepaskan diri dari percintaan dunia. Orang yang tidak mencari kebenaran adalah orang “berzina” meninggalkan Tuhan (Mzm. 73:27). Hendaknya, kita tidak beranggapan bahwa kalau seseorang ke gereja berarti mendekat kepada Tuhan dan tidak melakukan perzinaan rohani. Padahal, mereka pasti tidak hidup seturut kehendak Tuhan.
    0 min
  • MEMAHAMI NILAI-NILAI
    Manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah memberi harga kepada sesuatu berdasarkan filosofi yang salah. Mereka memberi harga pada banyak hal dengan nilai tinggi, padahal kualitas yang ada di dalamnya sangat rendah. Sebaliknya, mereka malah memberi harga yang rendah kepada sesuatu yang nilai sebenarnya sangat tinggi. Pemahaman mengenai kadar kualitas pada sesuatu sangat tergantung dari pemahaman seseorang mengenai kebenaran. Karena sejak kecil diajar mengenai nilai-nilai yang salah, banyak orang salah dalam memandang dunia ini. Banyak orang telah memberi harga kepada sesuatu berdasarkan pemahaman yang salah sehingga mereka tidak menemukan nilai sesungguhnya dari sesuatu tersebut. Sesuatu tersebut bisa manusia, materi, pangkat, kehormatan, gelar, dan lain sebagainya yang sekarang diburu manusia untuk mendapatkan nilai. Padahal, nilai diri manusia tidaklah ditentukan oleh segala hal tersebut. Jadi, sesuatu yang harganya tinggi belum tentu bernilai, tetapi sesuatu yang bernilai, belum tentu juga dihargai tinggi, kalau seseorang tidak mengenali nilai dari sesuatu tersebut. Orang yang memiliki pemahaman yang salah mengenai nilai-nilai adalah orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri.
    Cara seseorang menaruh harga pada sesuatu dalam hidup ini tergantung filosofinya. Di sini, sering terjadi penipuan atau penyesatan. Kebodohan menjadi penyebab suatu kesesatan. Terkait dengan hal ini, Firman Tuhan mengatakan bahwa umat Tuhan binasa karena tidak mengenal Allah. Setiap orang merasa berhak menaruh harga pada sesuatu, sehingga harga bisa dimainkan sesuka hati sesuai dengan selera dan apa yang dirasa sebagai kebutuhan utama. Banyak orang menilai dunia, tetapi tidak berusaha untuk menilai dirinya sendiri, yaitu apa penilaian Tuhan terhadap dirinya. Orang-orang seperti ini adalah orang yang tidak bisa membedakan antara harga dan nilai.
    Banyak orang Kristen yang hidup dalam kesalahan memberi harga. Hal ini bukan hanya menyangkut konsep hidup, melainkan juga cita rasa jiwa. Konsep hidup yang salah membangun cita rasa jiwa yang keliru juga. Banyak orang yang sejak kecil telah ditunjukkan dan diajarkan konsep yang salah mengenai nilai. Dunia dan segala keindahannya dianggap sebagai nilai tertinggi. Juga kehormatan, sanjungan, dan pujian dianggap sebagai kenikmatan jiwa. Selain itu, kenikmatan dosa dalam daging—dari makan minum yang tidak proporsional sampai seks—telah terbiasa menjadi irama hidup. Yohanes menyebutkan sebagai keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17). Selama belasan bahkan puluhan tahun, jiwa telah diracuni oleh konsep yang salah mengenai hidup ini dan manusia menjadi sesat.
    Karena terbawa oleh cara pandang filososfi dunia yang salah, banyak orang Kristen memberi nilai tinggi terhadap dunia, tetapi tidak memerhatikan nilai dirinya sebagai gambar Allah yang dirancang untuk serupa dengan Allah. Itulah sebabnya, mereka tidak berusaha memberi diri digarap oleh Allah. Mereka tidak mau belajar mengenal kebenaran atau mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar agar serupa dengan Yesus. Pemulihan kehidupan seseorang oleh karya Roh Kudus dapat membuka mata pengertian seseorang sehingga dapat mengenal nilai-nilai hidup berdasarkan sudut pandang kebenaran Allah dan dapat memahami nilai-nilai kehidupan dengan benar. Dengan demikian, seseorang dapat terlepas dari belenggu percintaan dunia. Ironis, banyak orang hidup dalam belenggu ini, tetapi mereka tidak menyadarinya. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sebagai orang yang letih, lesu, dan berbeban berat (Mat. 11:28-29).
    Sejatinya, keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus dimaksudkan untuk melepaskan manusia dari belenggu tersebut selama masih mengikat. Untuk ini, yang dibutuhkan adalah pengertian yang terus-menerus harus dibaharui oleh kebenaran Firman Tuhan. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa kebenaran-Nya memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Tentu dari pihak manusia harus ada kesediaan untuk diubah...
    0 min
  • HIDUP DI HADIRAT ALLAH
    Mengasihi Allah adalah ukuran yang menentukan sejauh mana seseorang memiliki “kecemerlangan” dalam manusia batiniahnya. Bagaimana pun, kecemerlangan ini akan terpancar dalam kehidupan seseorang. Kecemerlangan ini adalah kecemerlangan yang tidak ditemukan dalam kehidupan manusia pada umumnya. Bagi orang yang berhasrat mengasihi Tuhan, segala pergumulan hidup akan membuka mata hatinya untuk mengerti bahwa mengasihi Tuhan adalah kehidupannya. Seseorang yang mengasihi Tuhan pasti memiliki sikap yang membenci dosa, bukan saja perbuatan yang melanggar hukum, melainkan juga segala sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Sejatinya, inilah yang dimaksud dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-8). Pergumulan hidup menghadapi pencobaan sebenarnya hendak memberikan kita “hati yang mengasihi Tuhan.”
    Mengasihi Tuhan merupakan dasar dari kesediaan orang percaya untuk mengiring Yesus. Kalau dasar ini benar, apa pun akan rela kita lakukan untuk Tuhan. Tuhan menghendaki sikap hati yang benar di hadapan-Nya. Sikap hati yang benar itu adalah “mengasihi Tuhan.” Tuhan tidak mempermasalahkan dosa-dosa yang sudah kita lakukan, bahkan keadaan kedewasaan kita hari ini. Tuhan menghendaki agar kita memiliki hasrat yang kuat untuk mengasihi Dia. Sikap hati ini sangat dihargai Allah. Dalam hal ini, yang paling utama adalah bagaimana kita dapat mengasihi Tuhan. Upaya yang benar orang percaya yang sudah dewasa untuk mencapai kesucian hidup dilandasi hati yang mengasihi Dia. Hanya orang yang mengasihi Allah yang dapat menjadi mempelai-Nya.
    Banyak orang Kristen yang terkunci dalam ikatan percintaan dunia sehingga tidak mampu lagi mengingini Tuhan. Tuhan tidak pernah dirasakan sebagai kebutuhan, sehingga tidak memiliki kehausan akan Tuhan. Orang Kristen seperti ini, kalau tidak bertobat dan berbalik secara radikal kepada Tuhan, sampai selamanya tidak pernah mengalami kehausan akan Tuhan. Ini berarti, ia menjadi mempelai dunia. Dengan demikian, ia tidak pernah menjadi mempelai Tuhan. Orang yang menjadi mempelai Tuhan pasti berdiri di pihak Tuhan. Keberpihakan kita terhadap Tuhan diukur dari hal ini, yaitu apakah kita sungguh-sungguh telah mengabdi kepada Tuhan atau tidak. Kita harus memeriksa diri dengan jujur, apakah kita telah benar-benar mengabdi kepada Tuhan dengan segenap hidup atau belum. Mengabdi kepada Tuhan dengan segenap hidup berarti sepenuhnya kita hidup hanya untuk kepentingan Tuhan. Orang yang berdiri di pihak Tuhan rela dimiliki Tuhan sepenuhnya dan rela menggunakan semua yang ada padanya tanpa batas bagi kepentingan-Nya.
    Seharusnya, kehidupan orang percaya sepenuhnya merupakan perjuangan untuk pekerjaan Tuhan. Pengorbanannya meliputi harta, jiwa, sampai penderitaan fisik. Hal itu akan membentuk gaya hidup seperti yang diperagakan oleh Tuhan Yesus. Ini adalah profil dari seorang yang telah kehilangan hidup, namun memperoleh hidup yang baru. Gaya hidup seperti ini, jika terus dikembangkan akan sampai pada kualitas hidup “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Ini juga yang dimaksud dalam Kolose 3:1-4 bahwa orang percaya sudah mati, hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Sampai pada level ini, seseorang dapat disebut sebagai “hidup baru” di dalam Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang pantas disebut sebagai pengikut Kristus. Seorang pengikut Kristus akan selalu hidup di hadirat Tuhan.
    Memang sebenarnya semua orang harus hidup di hadirat-Nya, tetapi tidak semua orang Kristen menyadari dan mau menghargai hadirat-Nya tersebut. Hal ini terjadi sebab banyak orang Kristen sibuk dengan segala urusan fana yang tidak membawanya kepada persahabatan dengan Tuhan secara benar. Orang yang tidak hidup dalam hadirat-Nya tidak hidup dalam pemerintahan Kerajaan Surga, maka jangan harap ia diperkenan masuk hadirat-Nya. Orang-orang seperti ini pasti tidak menghormati Tuhan secara pantas. Kenyataan dalam hidup,
    0 min
  • ALLAH MEMBERI KEKUATAN
    Terdapat kesalahan yang bisa memenjara pikiran sehingga berakibat seseorang tidak menjalani kehidupan iman yang sejati. Kesalahan tersebut berangkat dari ketidaktepatan memahami Efesus 2:1. Efesus 2:1 tertulis: “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Kata “mati” di sini sering dipahami bahwa manusia tidak sanggup sama sekali untuk merespons kasih karunia Allah. Sehingga, dibangun pemahaman bahwa manusia hanya menerima saja tindakan Allah sepihak untuk dapat menerima kasih karunia yang di dalamnya terdapat keselamatan. Mereka berpandangan bahwa manusia bisa merespons kasih karunia hanya karena intervensi Allah secara penuh dan sepihak di dalam diri manusia, yang menggerakkan seseorang dapat menerima kasih karunia Allah. Jadi, semua dikerjakan oleh Allah. Dan dengan demikian, manusia tidak berperan sama sekali.
    Sebenarnya, kata “mati” di sini berarti bahwa manusia tidak dapat mencapai kehidupan seperti rancangan Allah semula. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Manusia tidak mampu mencapai kesucian dengan standar yang Allah kehendaki. Manusia tidak lagi berkodrat ilahi, tetapi berkodrat dosa. Kejatuhan manusia ke dalam dosa bukan berarti manusia menjadi jahat seperti binatang, tetapi manusia tidak mampu mencapai kesempurnaan seperti Bapa. Dengan usahanya sendiri, manusia tidak mampu kembali seperti rancangan semula. Dalam hal ini, perlu intervensi Allah untuk menyelamatkan manusia dengan menyediakan kasih karunia di dalam atau melalui salib Yesus. Orang yang menjadi umat pilihan dituntun untuk dapat dikembalikan ke rancangan semula. Dalam hal ini, Allah menyediakan kasih karunia, dan manusia harus meresponsnya secara proporsional. Manusia yang menerima tuntunan Allah dapat mewujudkan maksud keselamatan diberikan untuk manusia.
    Dalam keadaan manusia yang jatuh dalam dosa, manusia tidak akan mampu mengangkat dirinya sendiri menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Inilah yang disebut mati. Manusia membutuhkan kasih karunia. Tetapi, manusia harus menyambut uluran tangan Allah tersebut dengan memberi diri digarap oleh Allah. Untuk ini, seseorang yang mau diselamatkan harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33). Kalau seseorang tidak mau melepaskan segala sesuatu—seperti orang muda kaya di Matius 19—maka keselamatan tidak bisa dimiliki dan terwujud dalam hidupnya. Tetapi kalau seseorang berani melepaskan dirinya dari segala ikatan percintaan dunia—seperti Zakheus—maka keselamatan dapat terjadi di dalam hidupnya dan keluarganya (Luk. 19:9).
    Bila proses keselamatan dikerjakan oleh Allah sendiri secara sepihak, berarti orang percaya tidak perlu bertindak apa pun. Pengajaran ini menutup mata pengertian orang sehingga tidak ada usaha yang sungguh-sungguh untuk berjuang mewujudkan keselamatan yang sejati dari bangunan iman yang benar. Padahal, manusia harus memiliki tanggung jawab dalam merespons kasih karunia. Itulah sebabnya, Yesus mengatakan bahwa orang percaya harus masuk jalan sempit untuk mengalami dan memiliki keselamatan (Luk. 13:23-24). Jadi, kalau seseorang mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia harus berusaha menggunakan fasilitas keselamatan agar bisa menaruh pikiran dan perasaan Kristus, atau menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah. Hal ini harus diperjuangkan, sebab tidak bisa terealisasi secara otomatis.
    Keselamatan tidak terwujud dan dimiliki dengan sendirinya karena memang Allah tidak secara sepihak mengerjakan keselamatan di dalam diri seseorang. Keselamatan juga harus dikerjakan masing-masing individu. Pandangan banyak orang adalah bahwa Allah-lah yang mengerjakan keselamatan tanpa peran manusia sama sekali. Hal ini didasarkan pada Filipi 2:13. Mereka mengutip teks tersebut tanpa memerhatikan teks lain dalam pasal tersebut. Padahal, dalam teks sebelumnya, tertulis agar orang percaya berusaha menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (Flp. 2:5). Lagipula,
    0 min
  • MENJADI KEKASIH TUHAN
    Banyak orang Kristen yang mengaku bahwa Tuhan adalah segalanya, padahal sebenarnya mereka masih mencintai dunia. Mereka hanya merasa sudah menjadikan Tuhan segalanya, namun sebenarnya tidak demikian. Menjadikan Tuhan segalanya berarti dalam hidup ini, yang dapat membuat dirinya merasa bahagia dan lengkap hanyalah Tuhan. Umat Perjanjian Baru harus dapat menjadikan Tuhan segalanya. Orang Kristen yang tidak menjadikan Tuhan segalanya tidak dapat menjadi umat yang layak bagi Tuhan. Standar atau ukuran keintiman yang harus dimiliki umat Perjanjian Baru dengan Tuhan adalah keintiman sepasang kekasih, mempelai, atau hubungan suami istri. Jadi, kalau seseorang merasa sudah menjadikan Tuhan segalanya padahal belum, betapa membahayakan keadaannya. Kalau Tuhan dapat menciptakan hubungan dua insan lain jenis demikian indah, Ia juga menciptakan hubungan antara diri-Nya dengan umat-Nya jauh lebih luar biasa. Sejatinya, tujuan seluruh kegiatan pelayanan gereja adalah bagaimana mempertunangkan jemaat dengan Tuhan Yesus dan mempersiapkan mereka menjadi seperti perawan suci bagi Tuhan di hadapan Tuhan (2Kor. 11:2-3). Jemaat tidak dapat menjadi mempelai Tuhan kalau pendetanya masih mencintai dunia.
    Keberhasilan hidup manusia yang sejati adalah ketika seseorang menjadi kekasih Tuhan. Pelayanan pekerjaan Tuhan harus berorientasi pada hal ini, bukan mengarahkan jemaat kepada kenyamanan hidup untuk memiliki dunia dengan segala kesenangannya, melainkan persekutuan sebagai kekasih Tuhan. Banyak orang Kristen yang memiliki banyak cita-cita dan keinginan. Seluruh waktu hidupnya hanya dihabiskan untuk mengejar cita-cita yang motivasi sebenarnya hanyalah untuk kesukaan dan kebanggaan diri sendiri.
    Inilah anugerah yang sangat besar, yaitu kalau kita dimungkinkan untuk masuk dalam persekutuan dengan Allah, yaitu menjadi kekasih-Nya. Ini adalah kehormatan yang melebihi kehormatan apa pun yang dapat dimiliki manusia di bumi ini. Hal ini lebih dari sukses karier, sukses studi,  rumah tangga bahagia, dan lain sebagainya. Inilah hari depan yang penuh harapan yang sesungguhnya. Pelayanan pekerjaan Tuhan di gereja tidak boleh hanya untuk menyelesaikan masalah-masalah dunia fana, tetapi untuk mempersiapkan jemaat menjadi kekasih Tuhan.
    Tuhan mengingini kita memiliki hubungan yang makin mendalam dengan diri-Nya. Tuhan berkenan dikenal dan sengaja memperkenalkan diri-Nya makin dalam agar dapat terjalin hubungan yang semakin mesra dengan Dia. Seorang yang mau menjadi kekasih Tuhan harus membersihkan diri dari dosa dan kenajisan (Yes. 59:1-3; 2Kor. 6:16-18). Selanjutnya, ia harus memiliki kehausan akan Tuhan dan merindukan Dia (Mzm. 27:4; 42:2-5). Orang yang haus akan Allah akan mengesampingkan segala kesibukan yang memenuhi pikiran dan kehidupan demi untuk mencari Allah, guna mengenal Dia dengan benar (Amos 5:4-5; Yoh. 17:3). Seseorang tidak dapat menjalin hubungan dengan seseorang secara mendalam kalau ia tidak mengenal pribadinya. Demikian pula, kita tidak akan dapat menjalin hubungan dengan Allah secara benar kalau kita tidak mengenal Allah.
    Hidup ini adalah kesempatan yang luar biasa untuk menjadi kekasih Tuhan. Oleh sebab itu, dunia ini dengan segala keindahan dan kebahagiaannya tidak boleh menjadi tujuan. Hidup ini bukan sekadar sebuah perjalanan sederhana yang singkat, setelah itu berlalu tanpa dampak atau akibat. Bila seseorang tidak memiliki pemahaman yang benar mengenai hidup, ia telah sekualitas—tidak jauh berbeda—dengan hewan (1Kor. 15:32). Kehidupan ini menjadi hebat karena menjadi pertualangan sementara dimana kita diperkenan untuk kembali membangun hubungan dengan Tuhan untuk menjadi kekasih-Nya sebagai persiapan memasuki Kerajaan-Nya. Hal ini seharusnya menjadi kerinduan orang percaya yang benar-benar telah bertumbuh dalam iman dan mencapai kedewasaan tertentu.
    Kerinduan menjadi kekasih Tuhan tidak mungkin dimiliki oleh orang percaya yang tidak setia. Dengan hal ini, kita dapat menemukan ciri dari seorang Kristen yang s...
    0 min
  • TEMPAT PERHENTIAN
    Kalau jujur dan teliti, kita dapat melihat banyak orang—termasuk orang Kristen—yang menjadikan dunia ini sebagai perhentiannya. Perhentian artinya tempat di mana seseorang merasa aman, terlindungi, dan bahagia. Tentu hal ini menjadi tujuan hidup manusia yang tidak mengenal kebenaran. Orang yang menjadikan dunia sebagai perhentiannya pasti sangat bergantung kepada dunia ini, artinya suasana jiwanya sangat ditentukan oleh fasilitas materi dunia dan segala hiburannya. Memang mereka ke gereja dan menjalankan kehidupan sebagai orang yang beragama Kristen, tetapi mereka menjadikan Tuhan bukan sebagai perhentian, melainkan sekadar menjadi alat untuk meraih dunia sebagai perhentiannya. Pada dasarnya, mereka adalah musuh Allah; sebab orang yang mengasihi atau bersahabat dengan dunia memosisikan dirinya sebagai musuh Allah (Yak. 4:4).
    Hal tersebut sungguh sangat menyedihkan. Sementara mereka masih menaruh perhentiannya di dunia ini, namun mereka merasa sudah menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya. Hal ini dapat terjadi dalam kehidupan orang-orang Kristen, sebab mereka tidak memahami standar hidup sebagai orang percaya yang harus mengenakan Yesus sebagai teladannya. Yesus menolak ketika mendapat tawaran menyembah Iblis agar dapat memperoleh dunia ini (Luk. 4:4-8). Hal ini mengindikasikan bahwa Yesus menolak menjadikan dunia sebagai perhentian-Nya. Bagi Yesus, Bapa adalah perhentian-Nya.
    Tuhan Yesus memanggil orang untuk datang kepada-Nya dan memperoleh perhentian (Mat. 11:28). Panggilan itu berarti setiap orang percaya harus meletakkan perhentiannya hanya pada Tuhan saja. Banyak orang Kristen masih meragukan, apakah dengan menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya, dirinya dapat menemukan kelegaan? Keraguan itu sendiri terbangun oleh kenyataan banyak orang Kristen yang rajin ke gereja tetapi tidak menunjukkan ketenangan jiwa, seakan-akan kekristenan tidak menjawab kebutuhan jiwa, dan para rohaniwan yang juga menunjukkan sikap materialisme. Ini berarti mereka belum menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya.
    Ketika seseorang menjadikan Tuhan Yesus sebagai perhentiannya, ia tidak boleh lagi berpikir akan beralih ke perhentian lain. Baginya, itulah tujuan akhir perjalanannya. Ia harus mulai belajar untuk tidak memiliki keinginan atau memiliki sesuatu. Baginya, segala sesuatu yang dimilikinya semata-mata untuk kepentingan pekerjaan Tuhan (Flp. 1:21). Orang yang menjadikan Tuhan sebagai pelabuhannya, tidak lagi memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan dari segala sesuatu yang diperolehnya dari dunia ini. Bagi orang percaya, kebanggaan dan kebahagiaannya adalah ketika ia boleh mengorbankan nyawanya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Orang yang belum rela berkorban bagi Tuhan dengan segenap hidup, berarti belum menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya perhentiannya.
    Orang-orang yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya perhentian adalah orang-orang yang sudah merdeka dari belenggu dunia, dan sangat menikmati damai sejahtera Allah yang melampaui segala hal. Orang seperti ini mengikatkan dirinya dengan Tuhan. Sejatinya, apabila seseorang semakin terikat dengan Tuhan, berarti ia semakin merdeka dari belenggu kuasa kegelapan. Orang yang menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya tidak akan dapat tergiring ke dalam dunia, sebaliknya, ia akan semakin mengasihi Tuhan dan rela tidak memiliki apa pun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya.
    Orang yang menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya berhak mengklaim bahwa dirinya dimiliki oleh Tuhan dan Tuhan dimilikinya. Kalau seseorang mau menjadikan Tuhan sebagai perhentiannya dan memiliki Kristus, ia harus berani kehilangan segala sesuatu dalam hidup ini. Seseorang tidak akan memiliki Kristus kalau masih merasa masih memiliki sesuatu. Seorang yang dimiliki dan memiliki Kristus adalah orang yang merasa hanya memiliki satu harta, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Orang seperti ini akan rela berjuang untuk Tuhan tanpa batas. Paulus adalah sosok manusia yang benar-benar termasuk kelompok orang yang mengabdi kep...
    0 min
  • IKATAN DENGAN TUHAN
    Pelabuhan hidup adalah sesuatu yang membuat seseorang merasa aman, nyaman, lengkap, dan bahagia. Tidak sedikit orang yang berlabuh di pelabuhan yang salah sehingga terpenjara di situ. Padahal, pelabuhan satu-satunya yang harus dituju adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Tuhan Yesus Kristus inilah yang harus menjadi pelabuhan kita, yang sama dengan kekasih jiwa orang percaya. Demi kesetiaan dan kecintaan kepada Tuhan Yesus Kristus, orang percaya harus membuktikan dengan tindakan nyata dalam seluruh aspek kehidupannya. Pada zaman gereja mula-mula, Allah mengizinkan mereka mengalami aniaya yang begitu hebat. Dalam aniaya tersebut, terkesan Tuhan tidak membela mereka. Mereka harus mengorbankan harta, keluarga, ketenangan hidup, bahkan nyawa mereka sendiri. Dalam segala keadaan tersebut, mereka membuktikan kesetiaan dan kecintaan mereka kepada Tuhan Yesus (Luk. 14:26). Membuktikan cinta kepada Tuhan Yesus harus dengan berjuang menjadi seperti Yesus. Berani meninggalkan cara hidup dengan segala gairah dan kesenangan dunia, selanjutnya berusaha mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah Bapa untuk dilakukan. Inilah yang disebut mengingini Tuhan.
    Kita harus merindukan dan mengingini Tuhan lebih dari kita merindukan dan mengingini apa pun dan siapa pun, karena memang Dia layak diperlakukan demikian. Kurang dari ini, berarti kita tidak bersikap pantas terhadap Tuhan. Ini berarti dunia sudah tidak lagi diharapkan dapat membahagiakan hidup; dunia sudah menjadi “kartu mati.” Untuk menunjukkan ekstremnya hubungan ini, Tuhan Yesus mengemukannya dalam Lukas 14:26, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Ikatan dengan Tuhan adalah ikatan yang terdalam. Paulus mengatakan bahwa kita bisa menjadi satu roh dengan Tuhan (1Kor. 6:17). Kalau sudah sampai pada level satu roh, ini berarti tidak ada lagi sesuatu yang menghalangi ikatan antara kita dengan Tuhan. Ini sebuah ikatan yang melebihi ikatan dengan siapa pun dan apa pun. Ikatan dengan Tuhan haruslah sebuah ikatan dua pihak, bukan satu pihak.
    Dalam sebuah relasi dan ikatan dua pihak, dibutuhkan sikap saling percaya. Itulah sebabnya, yang harus dipersoalkan dalam hal ini adalah: Apakah Tuhan bisa memercayai kita? Bukan hanya memercayai kuasa Tuhan dan mengalami mukjizat-Nya. Banyak orang cukup puas bila mengalami suatu kejadian yang spektakuler, seperti mukjizat. Hal itu sudah dianggap cukup menandai eksistensi Tuhan dalam hidupnya. Padahal, yang penting bukanlah kejadian sesaat yang menunjukkan kehadiran Tuhan, melainkan sebuah ikatan yang terjalin setiap saat, dimana seseorang mengalami Tuhan dan sungguh-sungguh berjalan dengan Tuhan. Untuk ini, ikatan dengan Tuhan secara riil harus dirajut setiap saat. Ikatan ini membuat seseorang dapat melakukan kehendak Bapa setiap saat.
    Terdapat perjuangan yang berat untuk menemukan, mengalami, dan memiliki secara permanen hubungan ini. Perjuangannya terletak ketika kita harus melepaskan segala ikatan dan kecintaan kita terhadap apa pun dan siapa pun, sehingga kita dapat menempatkan Tuhan Yesus sebagai pribadi yang paling berharga dan tercinta. Dalam tulisan yang lain, Paulus menunjukkan bahwa hubungan jemaat dengan Tuhan Yesus seperti hubungan mempelai pria dengan mempelai wanita (2Kor. 11:2-3). Perjalanan hidup kita adalah perjalanan untuk menemukan, mengalami, dan memiliki hubungan unik, yaitu hubungan yang istimewa di bumi dengan Tuhan, juga di balik kubur nanti dan sampai selama-lamanya. Orang yang tidak memiliki hubungan eksklusif dengan Tuhan, tidak akan pernah menjadi sekutu Tuhan atau tidak akan bersama dengan Tuhan selamanya.
    Oleh sebab itu, tidak dapat dibantah bahwa tanda-tanda keadaan kekal seseorang—apakah orang itu nantinya masuk surga atau masuk neraka—sudah tampak mulai sekarang. Ini adalah bentuk orang yang serius dengan Tuhan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…