Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • IMAN YANG DIUSAHAKAN
    Sebagian besar orang Kristen tidak memahami pengertian iman yang benar. Karena hal itu, mereka tidak pernah memiliki iman yang benar. Iman mereka selalu sangat dangkal dan miskin. Mereka memahami iman sekadar mengakui status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kesalahan memahami pengertian mengenai iman ini membuat mereka tidak memperjuangkan iman yang sejati yang dapat menyelamatkan. Iman yang mereka miliki sebenarnya belumlah iman standar yang dikehendaki oleh Allah. Itu adalah iman palsu yang tidak bisa dinamis, dan yang tidak dapat mengubah hidup mereka, sehingga mereka tetap hidup sebagai manusia yang berkodrat dosa, dan yang tidak memiliki kemuliaan Allah. Mereka tidak berkeberadaan sebagai anak-anak Allah yang berkodrat ilahi.
    Kalimat “dibenarkan oleh iman” adalah kalimat penting dalam proses keselamatan. Tetapi, kalimat ini menjadi sia-sia tanpa memahami pengertian iman yang benar. Menjelaskan mengenai iman, harus dihubungkan dengan kehidupan Abraham yang disebut sebagai bapa orang percaya atau bapa orang beriman. Hal ini disinggung oleh Paulus dalam Kitab Roma ketika ia berbicara mengenai pembenaran oleh iman. Kita harus mengamati kehidupan Abraham yang menjadi teladan iman kita, dimana kita harus memiliki iman seperti iman Abraham. Kalau seseorang memiliki langkah hidup seperti Abraham yang menerjemahkan imannya, barulah dapat disebut sebagai anak Abraham dan memiliki iman yang benar.
    Kehidupan Abraham tidak diatur oleh hukum, tetapi diatur oleh kehendak Allah. Penurutan Abraham terhadap kehendak Allah inilah iman yang benar. Inilah iman yang harus dimiliki orang percaya, dan itulah iman yang menyelamatkan. Sesungguhnya, dibenarkan oleh perbuatan berdasarkan hukum seperti yang dilakukan Paulus sebelum menjadi orang percaya, jauh lebih ringan dibandingkan dengan dibenarkan oleh iman. Kalau seseorang mengaku memiliki iman tetapi tidak melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah seperti yang dilakukan oleh Abraham, berarti belum memiliki iman. Yakobus menunjukkan bahwa Abraham dibenarkan bukan karena iman saja, maksudnya bukan hanya keyakinan dalam pikiran, melainkan dalam tindakan nyata ketika menuruti apa pun yang diperintahkan oleh Allah (Yak. 2:14-26). Penurutan Abraham kepada Allah sangat kuat atau sangat ekstrem. Kesediaan Abraham keluar dari Ur-Kasdim, dan melewati banyak tantangan sampai harus mempersembahkan Ishak, anaknya, menunjukkan imannya. Abraham kehilangan segala sesuatu untuk memenuhi kehendak Allah, Elohim Yahweh. Dari hal itu, dilahirkan iman yang sejati.
    Kalau orang percaya tidak memiliki langkah hidup seperti Abraham dengan ketaatannya kepada Allah sebagai ekspresi imannya, berarti belum memiliki iman yang menyelamatkan. Iman yang menyelamatkan adalah melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah. Oleh sebab itu, orang percaya harus mengerti dengan benar segala sesuatu yang diajarkan oleh Yesus (Mat. 28:18-20). Tentu saja—pada intinya—melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Yesus adalah mengenakan hidup-Nya, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, hidup kita selalu dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Inilah tanggung jawab iman yang harus kita penuhi.
    Iman menuntut perjuangan dan keteguhan hati. Abraham mempertahankan dan memurnikan imannya sampai ia menutup mata (Ibr. 12:8-14). Iman bukan sesuatu yang bisa datang dengan sendirinya atas seseorang oleh penentuan Allah. Iman adalah perjuangan untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya, serta menyelesaikan pekerjaan-Nya. Tentu hal ini harus dijalani melalui perjuangan yang sangat berat. Kalau seseorang mengaku percaya kepada Yesus, ia harus mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah dan melakukannya dengan baik. Dengan memahami apa yang diajarkan dan dilakukan oleh Yesus, kita baru mengerti apa yang harus kita lakukan sesuai dengan keinginan Bapa. Jadi, kalau seseorang tidak belajar mengerti apa yang diajarkan dan dilakukan Yesus guna m...
    0 min
  • HARUS MEMILIKI PIKIRAN DAN PERASAAN KRISTUS
    Keselamatan diterima manusia bukan secara otomatis, melainkan menuntut respons yang aktif dan proporsional. Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk selamat, seseorang harus berjuang masuk jalan sempit (Luk. 13:3-24). Kasih karunia bisa dialami seseorang, kalau dua pihak—yaitu Allah melalui Roh Kudus dan orang tersebut sebagai penerima anugerah—mau bekerja sama sebagai responsnya. Dari pihak Allah, untuk mewujudkan keselamatan atas manusia, Allah memberikan kuasa kepada mereka yang menerima-Nya, supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Kata “kuasa” dalam teks ini adalah exousia (ἐξουσία) yang lebih tepat atau lebih dekat artinya bila diterjemahkan “hak” (Ing. right) atau sebuah hak istimewa (Ing. privilege). Kata “kuasa” dalam Yohanes 1:12 ini berbeda dengan kata “kuasa” dalam Kisah Rasul 1:8; kata “kuasa” dalam kisah Rasul ini adalah dunamis (δύναμις). Kata ini lebih tepat atau lebih dekat bila diterjemahkan “sesuatu yang menggerakkan” (Ing. power). Kuasa itu adalah fasilitas keselamatan, yaitu penebusan, Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala peristiwa dalam kehidupan (Rm. 8:28).
    Dari pihak manusia, keselamatan berarti perjuangan agar orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) atau sama dengan mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Perjuangan ini bisa terjadi karena Allah memberi kasih karunia atau anugerah. Kasih karunia itu terdapat pada fasilitas keselamatan yang Allah sediakan tersebut. Tanpa fasilitas tersebut, keselamatan tidak dapat terwujud. Orang percaya harus menggunakan secara maksimal fasilitas keselamatan itu. Dikemukakan Paulus dalam Filipi 2:12, bahwa orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. “Dengan takut dan gentar,” menunjukkan pergumulan yang tidak ringan, yaitu bila direlasikan dengan ayat sebelumnya, yaitu memiliki pikiran dan perasaan (Flp. 2:5-7).
    Allah menghendaki agar orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Yun. φρονέω, phroneo). Yesus adalah model manusia yang diinginkan dan dirancang oleh Allah. Jadi, keselamatan adalah usaha untuk menjadi manusia yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Itulah sebabnya, orang percaya disebut sebagai Kristen yang artinya seperti Kristus. Ini berarti orang percaya yang harus mengusahakan dengan serius bagaimana menggerakkan atau mengarahkan pikiran dan perasaannya menjadi seperti Kristus. Hal ini tidak bisa terjadi atau berlangsung dengan sendirinya, atau karena sepenuhnya intervensi pihak lain dalam diri seseorang. Masing-masing individu yang harus mengendalikan pikiran dan perasaannya sendiri. Ini sebenarnya sebuah proyek mustahil, artinya tanpa intervensi Allah seseorang tidak akan dapat menjadi seperti Kristus. Intervensi Allah inilah kasih karunia itu. Tetapi intervensi Allah tidak mengambil alih bagian atau tanggung jawab manusia.
    Sejatinya, menerima keselamatan itu bukanlah seperti sebuah titik, tetapi suatu proses yang dapat digambarkan sebagai suatu garis panjang. Jika seseorang menganggap bahwa keselamatan itu adalah suatu momentum atau suatu peristiwa sesaat seperti sebuah titik, maka ia tidak akan mengusahakan pertumbuhan secara proporsional dalam proses tahapan-tahapan yang ketat. Orang-orang seperti ini tidak bertumbuh dalam kedewasaan dan kesempurnaan seperti Bapa. Ini berarti orang tersebut tidak akan pernah mencapai kehidupan yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus, atau tidak mencapai standar “dikenal oleh Tuhan” (Mat. 7:21-23). Dikenal di sini artinya dinikmati oleh Tuhan (Yun. ginosko). Hanya orang yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus yang dapat dinikmati oleh Allah Bapa dan Tuhan Yesus.
    Kita harus berjuang untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus karena itulah standar kesucian Allah. Banyak orang Kristen tidak memahami panggilan ini. Mereka merasa sudah puas dengan keberadaan moral yang mereka miliki dan tidak berusaha untuk menaikkan level mereka dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus.
    0 min
  • TANGGUNG JAWAB UNTUK BERJUANG
    Manusia adalah makhluk yang harus bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya manusia harus melakukan tugas atau memenuhi suatu kewajiban, serta memikul akibat suatu tindakan dari keputusan dan pilihannya sendiri. Tidak ada manusia yang tidak memiliki tanggung jawab. Adanya tanggung jawab ini harus membuka mata kita terhadap realitas hidup yang riil dan faktual. Tanpa mengerti arti tanggung jawab, manusia tidak menjadi manusia seperti yang Allah rancang dan kehendaki. Tanggung jawab inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang bermartabat tinggi. Allah tidak akan memercayakan pelayanan pekerjaan-Nya yang besar dan kudus kepada manusia yang tidak memiliki tanggung jawab. Orang yang tidak bertanggung jawab tidak mungkin dapat masuk surga, sebab orang yang tidak bertanggung jawab menyangkali kemanusiaannya, dan orang yang menyangkali kemanusiaannya pasti menyangkali keberadaan Allah sebagai sesembahan.
    Kesalahan orang Kristen dalam berteologi adalah ketika mereka merelasikan kasih karunia dengan kehendak bebas secara keliru. Pada umumnya, mereka membenturkan kasih karunia dengan kehendak bebas dari perspektif yang salah. Kekeliruan tersebut disebabkan pengertian yang salah mengenai kasih karunia itu sendiri, dan pengertiannya mengenai kedaulatan Allah atas keadaan manusia. Mereka memandang kasih karunia adalah tindakan sepihak Allah secara absolut dan mutlak dalam menentukan manusia yang dipilih untuk menerima keselamatan. Hal ini mereka yakini, sebab mereka mengakui kedaulatan Allah yang mutlak, sehingga mereka yang ditentukan selamat tidak dapat menolak kasih karunia. Dan sebaliknya, yang tidak ditentukan selamat dikondisikan tidak dapat menerima kasih karunia. Ini berarti pemberian kasih karunia dari Allah dipaksakan di luar kemampuan dan kehendak manusia untuk menolak atau menerimanya.
    Dengan pemahaman tersebut, berarti manusia tidak memiliki kehendak bebas sama sekali. Sejatinya, jika mereka konsekuen dan konsisten dengan pemahaman tersebut, seharusnya tanggung jawab manusia tidak perlu dibicarakan lagi. Tetapi ironinya, mereka masih menempatkan manusia sebagai manusia yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Ini adalah kebebasan yang aneh, kalau manusia yang ditentukan keselamatannya namun masih harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Pandangan ini adalah pikiran yang tidak sehat, tidak konsekuen, dan tidak konsisten, sebab kalau kehendak bebas tidak ada berarti juga tidak ada tanggung jawab. Untuk mengklarifikasi masalah ini, kita harus memahami pengertian keselamatan secara benar. Kalau keselamatan hanya dipahami sekadar terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga, maka memang kehendak bebas tidak perlu tampil sama sekali.
    Kasih karunia dapat dimiliki bukan karena ditentukan oleh Allah atas orang-orang yang ditetapkan dapat menerima keselamatan, melainkan karena kehendak bebas yang digunakan untuk menerimanya. Kasih karunia menempatkan manusia sebagai pribadi yang memiliki pikiran dan perasaan untuk mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Itulah fungsi pikiran dan perasaan yang Allah berikan. Kalau kasih karunia diberikan tanpa melibatkan respons dari pertimbangan manusia, berarti sia-sia Allah memberi pikiran dan perasaan pada manusia. Pikiran dan perasaan inilah yang memberi kemampuan kepada manusia untuk mempertimbangkan sesuatu. Dengan pertimbangan tersebut, manusia dapat menerima atau menolak kasih karunia. Dalam hal ini, manusia harus bertanggung jawab. Itulah sebabnya Yesus mengatakan: Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah (Yoh. 3:18).
    Keselamatan adalah proses dimana seseorang dikembalikan ke rancangan semula Allah. Mereka yang merasa sudah ditentukan oleh Allah untuk selamat dan yakin sudah selamat, maka tidak ada usaha yang proporsional untuk bertumbuh guna mencapai kehidupan seperti Yesus. Perjuangan mengerjakan keselamatan akan membawa ...
    0 min
  • MENENTUKAN KEADAANNYA SENDIRI
    Dalam kehendak bebasnya, manusia dapat memilih taat kepada Allah atau memberontak kepada-Nya. Kalau seseorang tidak mengakui fakta ini, berarti berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas, maka ia menjadi mistis, seakan-akan tindakan manusia selalu ditentukan oleh faktor yang bersifat adikodrati di luar dirinya. Mereka yang tidak mengakui adanya kehendak bebas manusia, berarti mereka meyakini bahwa di balik semua tindakan manusia, ada tangan Allah yang supranatural yang menetapkan segala sesuatu yang terjadi, termasuk di dalamnya keselamatan individu. Tetapi ironinya, mereka masih juga mengakui bahwa manusia harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan. Mereka masih meyakini adanya “semacam kehendak bebas” dalam diri manusia yang membuat manusia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Kehendak bebas yang mereka pahami adalah kehendak bebas yang aneh. Mereka menyatakan demikian hanya untuk membela doktrinnya yang absurd (tidak masuk akal dan kacau).
    Tidak ada makhluk hidup yang diberi kehendak seperti yang dimiliki oleh manusia. Ini adalah bagian dalam diri manusia yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun, bahkan oleh Allah sendiri. Kalau dinyatakan bahwa Allah sendiri tidak mengintervensi kebebasan yang manusia terima dari pada-Nya, bukan bermaksud mengurangi hormat terhadap supremasi Allah dalam kedaulatan-Nya. Justru Allah sendiri dalam kedaulatan-Nya memberikan “kedaulatan yang terbatas” kepada manusia untuk menentukan keadaan kekalnya. Dengan menghargai kedaulatan manusia, berarti Allah menghargai kedaulatan-Nya sendiri. Dalam hal ini, Allah menunjukkan konsekuensi-Nya dalam menciptakan manusia dengan keberadaan manusia tersebut. Itulah sebabnya, pada akhirnya Allah tidak mencegah manusia pertama ketika ia memang berniat memetik buah terlarang di Eden, dan sebagai konsekuensinya Allah mengusir Adam dan Hawa dari Eden.
    Kehendak bebas harus dipahami sebagai kepercayaan dari Allah dimana manusia diberi pikiran dan perasaan, yaitu kemampuan mempertimbangkan sesuatu yang dapat melahirkan kehendak. Kehendak bebas menempatkan manusia menjadi makhluk yang beresiko sangat tinggi. Dengan keberadaan ini manusia yang segambar dengan Allah, diberi tanggung jawab untuk memilih antara mengabdi kepada Allah atau memberontak. Pengajaran yang menyatakan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas berarti menempatkan Allah sebagai penanggung jawab semua peristiwa kehidupan, sehingga manusia tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun dan tidak perlu ada pengadilan Allah. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus adalah berkat besar yang mengandung dan menuntut tanggung jawab. Kasih karunia tanpa tanggung jawab membuat kasih karunia itu menjadi tidak berharga. Manusia diperhadapkan kepada pilihan: apakah mau menyambut kasih karunia Allah atau menolaknya. Bagi yang mau menerima, mereka harus mengarahkan seluruh hidupnya kepada fokus menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Ini adalah ketaatan untuk memenuhi panggilan Allah, yaitu mendahulukan Kerajaan Surga dan kebenaran-Nya, yang sama dengan berjuang untuk menjadi warga anggota keluarga Kerajaan Allah (Mat. 6:33).
    Kalau seseorang tidak memahami kebenaran mengenai kehendak bebas, maka konsepnya mengenai kasih karunia menjadi kacau. Kalau konsepnya mengenai kasih karunia kacau, mereka tidak akan dapat merespons kasih karunia dengan benar. Sebagai akibatnya, mereka tidak pernah mengenal keselamatan secara benar pula. Dengan demikian, mereka akan gagal menjadi manusia yang dikembalikan ke rancangan semula. Dalam kekristenan, pemahaman mengenai kehendak bebas mempunyai tempat yang penting, yang harus dipahami. Pengajaran mengenai penentuan keselamatan atas individu oleh Allah secara sepihak adalah pengajaran yang mengesampingkan nilai manusia, sebab kebebasan memberi nilai atas manusia. Itulah sebabnya, penghakiman dan upah merupakan realitas ilahi, juga realitas surga dan neraka. Dengan memahami kebenaran ini,
    0 min
  • KESELAMATAN SECARA INDIVIDU
    Bangsa Israel dipilih Allah menjadi umat pilihan, bukan berdasarkan kebaikan atau jasa, melainkan berdasarkan pemilihan atas kedaulatan Allah. Berkenaan dengan hal ini, kita harus teliti memerhatikan bahwa hal tersebut tidak bertalian dengan pemilihan individu sebagai yang pasti ditentukan untuk selamat masuk surga. Hal ini sama dengan tidak semua orang Israel yang keluar dari Mesir pasti masuk tanah Kanaan, demikian pula tidak semua orang Kristen masuk surga. Menjadi orang Kristen atau umat pilihan adalah pilihan Allah berdasarkan kedaulatan-Nya, artinya Allah yang menentukan. Adapun apakah orang Kristen tersebut masuk surga atau tidak, tergantung responsnya terhadap keselamatan atau anugerah yang Allah sediakan.
    Pemilihan bangsa Israel adalah pemilihan tanpa syarat (unconditional election), tetapi keselamatan abadi secara individu masing-masing orang—yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula—bukanlah tanpa syarat. Sangatlah keliru, kalau pemilihan, penetapan, dan penunjukan bangsa Israel sebagai umat pilihan yang berdasarkan keputusan kedaulatan Allah, diparalelkan, disejajarkan, atau disamakan dengan pemilihan individu manusia perorangan pada zaman Perjanjian Baru untuk selamat masuk surga. Kasih karunia dalam Perjanjian Baru berorientasi pada keselamatan, yaitu usaha Allah mengembalikan manusia kepada rancangan semula-Nya. Fokus hidup orang percaya adalah menjadi sempurna seperti Bapa dan mengarahkan diri pada langit baru dan bumi yang baru; “Kanaan Surgawi,” bukan kehidupan di bumi ini. Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk tidak mempersoalkan roti dunia yang akan binasa, tetapi roti kehidupan. Adapun bangsa Israel masih memiliki orientasi berpikir pada berkat jasmani atau pemenuhan kebutuhan fisik, yaitu susu dan madu dari Kanaan di bumi ini. Itulah sebabnya, mereka tidak mengerti keselamatan dalam Yesus yang mengembalikan manusia ke rancangan semula Allah.
    Kita tidak boleh menghubungkan “kasih karunia” dengan hal-hal yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani, seperti misalnya mendapat pekerjaan, mendapat jodoh, mendapat keberuntungan dalam bisnis, dan lain sebagainya, yaitu hal-hal yang tidak bertalian dengan keselamatan. Jika hal ini terjadi, kita tidak dapat merespons kasih karunia yang Allah sediakan dengan benar. Harus ditegaskan bahwa proses keselamatan tidak menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan pembentukan karakter untuk menjadi serupa dengan Yesus (Rm. 14:17). Oleh sebab itu, pelayanan gereja yang menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani akan sangat menyesatkan dan pasti menghambat usaha Allah mengembalikan umat pilihan pada rancangan-Nya yang semula (Mat. 6:24; 1Tim. 6:6-10).
    Keselamatan secara individu bersyarat, yaitu harus percaya atau memiliki iman. “Percaya” atau “iman” di sini bukan hanya aktivitas nalar atau persetujuan pikiran, yaitu pengaminan akali dalam bentuk pengakuan terhadap status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, melainkan tindakan penurutan terhadap kehendak Allah seperti yang dilakukan oleh Abraham. Percaya kepada Tuhan Yesus berarti memiliki kesediaan untuk tunduk pada kedaulatan Allah secara mutlak. Tunduk kepada kedaulatan Allah berarti mengikuti jejak hidup Yesus, yaitu mengenakan cara hidup-Nya ketika Ia mengenakan tubuh daging seperti kita, di bumi, dua ribu tahun yang lalu di Palestina. Dalam kasih karunia yang Allah berikan, terdapat fasilitas keselamatan, yaitu penebusan, Roh Kudus, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala peristiwa. Inilah fasilitas keselamatan yang harus dimanfaatkan agar dapat memiliki kasih karunia dari Allah yang memuat keselamatan. Jika fasilitas keselamatan tersebut tidak direspons dengan baik atau tidak digunakan secara maksimal, berarti menyia-nyiakan keselamatan, yang sama artinya menolak keselamatan (Ibr. 2:3).
    Itulah sebabnya, penulis surat Ibrani mengingatkan agar kita tidak menyia-nyiakan keselamatan yang besar (Ibr. 2:3).
    0 min
  • PEMULIHAN HUBUNGAN DENGAN ALLAH
    Kesalahan memahami pengajaran mengenai kasih karunia membuat banyak orang Kristen menganggap bahwa masuk surga atau memperoleh keselamatan adalah sesuatu yang mudah. Ini pandangan yang salah. Sesungguhnya, untuk memiliki keselamatan, harus ada perjuangan. Orang percaya harus memiliki perjuangan untuk dapat memiliki anugerah yang Allah sediakan dengan cuma-cuma. Dalam mewujudkan keselamatan dalam hidup ini, harus ada perjuangan. Setelah Allah menyediakan keselamatan melalui karya Kristus di kayu salib, selanjutnya Allah tidak bertindak sendiri secara sepihak untuk mewujudkan keselamatan tersebut. Umat pilihan dituntut untuk memberi respons yang proporsional sebagai usaha menanggapi kasih karunia yang Allah sediakan.
    Sejatinya, kasih karunia tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Allah memiliki bagian yang hanya Dia saja yang bisa memenuhinya, dan manusia memiliki bagian yang harus dipenuhi. Bagian Allah menyediakan keselamatan, bagian manusia merespons keselamatan tersebut. Melalui segala hal, Roh Kudus bekerja menawarkan keselamatan, dengan memerhatikan kehendak bebas manusia dalam merespons kasih karunia Allah. Kesalahan memahami pengertian kasih karunia bisa mengakibatkan orang percaya tidak menggunakan tanggung jawabnya sebagai umat pilihan, sehingga mereka tidak merespons kasih karunia secara proporsional. Hal ini bisa berakibat keselamatan tidak terwujud dalam kehidupannya.
    Pada intinya, berbicara mengenai kasih karunia, orientasinya adalah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang jatuh dalam dosa telah menjadi manusia yang tidak sesuai dengan rancangan Allah semula. Keadaan ini adalah keadaan dimana manusia tidak memiliki kemuliaan Allah, atau keagungan pribadi sebagai anak-anak Allah. Keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia kepada rancangan semula, sehingga manusia dapat kembali bersekutu dengan Penciptanya, yaitu menemukan tempatnya di hadapan-Nya dan dapat menempatkan Allah secara benar di dalam hidupnya.
    Keselamatan menciptakan pemulihan hubungan manusia dengan Allah yang telah putus. Dalam hal ini, manusia yang terhilang dapat ditemukan kembali untuk bersekutu dengan Dia. Untuk itu, harus ada pemulihan gambar Allah yang rusak, sehingga manusia dapat mengimbangi keagungan Pribadi Allah. Pemulihan gambar Allah ini sama dengan “mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar” (Flp. 2:12), sehingga dapat mengenakan kehidupan Yesus (Gal. 2:19-20; Kol. 3:1-4). Tentu saja nanti di balik kubur, buahnya adalah manusia terhindar dari api kekal dan diperkenan masuk surga. Bagi umat pilihan, mereka akan dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus atau memerintah bersama dengan Dia dalam Kerajaan-Nya (Mat. 20:23; Luk. 22:29; Rm. 8:17, 30).
    Dengan dikembalikannya manusia serupa dengan gambar-Nya, berarti manusia bisa berdamai dengan Allah. Berdamai bukan hanya dalam arti statusnya atau secara hukum (de jure), melainkan juga secara de facto, artinya manusia bisa bersekutu dengan Dia. Hanya manusia yang bermoral Allah—yaitu yang menanggalkan kodrat dosanya (sinful nature) dan mengenakan kodrat ilahi (divine nature)—yang bisa berjalan atau bersekutu (fellowship) dengan Allah. Inilah sebenarnya yang dikehendaki dan dirancang oleh Allah ketika manusia diciptakan, yaitu manusia diciptakan untuk menjadi sekutu Allah di keabadian, karena Allah adalah Allah yang kekal. Hanya manusia yang berkeadaan seperti rancangan Allah semula yang dapat bersekutu dengan Allah secara benar.
    Dengan demikian, sebutan “anak-anak Allah” bukan hanya status yang diyakini, melainkan benar-benar merupakan keberadaan karakter atau moral seseorang. Dengan memiliki keberadaan karakter sebagai anak-anak Allah yang agung seperti Yesus, umat pilihan dapat bersekutu dalam hubungan yang harmonis dengan Allah, yang adalah Bapanya. Ini adalah sebuah pengalaman riil yang harus dialami orang Kristen yang ...
    0 min
  • ISI KESELAMATAN YANG BENAR
    Keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Keselamatan dapat dialami dan dimiliki seseorang karena Allah menyediakan jalan keselamatan, dan manusia meresponsnya dengan benar, sesuai dengan standar respons yang dikehendaki oleh Allah. Respons yang benar bukan hanya menjadi orang Kristen dan mengaku percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Percaya adalah tindakan konkret, bukan hanya aktivitas nalar yang mengakui status Yesus bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Percaya atau imannya umat pilihan harus mengacu pada iman Abraham sebagai bapa orang percaya. Percaya Abraham kepada Allah bukan hanya di nalar, melainkan dalam tindakan konkret, yaitu melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah. Firman Allah menegaskan bahwa iman adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas nalar atau pikiran semata-mata. Iman tanpa perbuatan, seperti tubuh tanpa roh.
    Keselamatan adalah sebuah proses menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Proses ini yang tidak pernah berhenti, sampai seseorang menutup mata. Rancangan Allah semula adalah menjadi manusia sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Adam di Eden gagal mencapai target ini sehingga semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Manusia gagal menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah, sehingga tidak bisa bersekutu dengan Allah secara ideal. Manusia harus dibuang dari hadirat Allah, dan terancam kematian kekal, yaitu terpisah dari hadapan Allah selamanya, masuk ke dalam api kekal. Kalau tidak ada penyelesaian—yaitu keselamatan oleh Yesus—maka semua manusia terhilang dan binasa di kekekalan.
    Manusia pertama yang mencapai standar manusia sesuai dengan gambar dan rupa Allah adalah Yesus. Dia adalah manusia sempurna (The only perfect man). Adam pertama telah gagal, tetapi Adam kedua—atau yang disebut juga sebagai Adam terakhir, yaitu Yesus—berhasil menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah. Oleh kedatangan dan kematian Yesus di kayu salib serta kebangkitan-Nya, manusia memperoleh penyelesaian yang sempurna. Yesus memikul dosa dunia, membenarkan, dan membawa orang percaya kepada Bapa untuk menerima Roh Kudus, guna dikembalikan ke rancangan Allah semula. Yesus menjadi model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Ini berarti, keselamatan adalah usaha Allah yang direspons dengan benar oleh manusia sehingga manusia dapat menjadi seperti Yesus. Sebenarnya, menjadi seperti Yesus adalah sesuatu yang mustahil dicapai, tetapi Allah menuntun orang percaya di dalam atau melalui Roh Kudus sehingga dapat mencapainya (Mat. 19:26).
    Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, hal itu akan mengarahkan pengertian keselamatan hanya berorientasi pada terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Ini sebuah pengertian yang kurang tepat. Namun faktanya, demikianlah definisi keselamatan yang dimiliki banyak orang Kristen hari ini. Hal ini mencenderungkan orang-orang Kristen tidak menyadari tuntutan keselamatan yang dikehendaki oleh Allah bahwa kita harus dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Ketidaktepatan pengertian tersebut mengunci pikiran orang Kristen sehingga membangun asumsi bahwa tidak perlu ada perjuangan dalam keselamatan.
    Kalau Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang, berarti manusia tidak perlu memiliki respons secara memadai terhadap keselamatan yang Allah sediakan. Manusia hanya menerima saja “takdir” dirinya yang ditentukan secara sepihak oleh Allah berdasarkan kedaulatan-Nya yang mutlak. Dengan demikian, sulit menempatkan tanggung jawab manusia secara proporsional. Mereka lebih cenderung hanya mensyukuri keselamatan cuma-cuma dan otomatis yang mereka terima, daripada berjuang untuk mencapai maksud tujuan keselamatan itu diadakan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula. Kekristenan seperti ini menjenuhkan. Akibatnya,
    0 min
  • RANCANGAN YANG GAGAL
    Manusia bukanlah hasil proses evolusi, yaitu suatu proses perubahan yang tidak disengaja pada makhluk hidup secara bertahap dalam kurun waktu yang panjang, dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks, atau dari binatang tingkat rendah kepada bentuk binatang tingkat tinggi. Teori Evolusi Ilmiah (Naturalis Evolution) adalah teori yang menyesatkan dan memicu orang menjadi ateis atau tidak percaya terhadap eksistensi Allah. Sejatinya, manusia adalah hasil karya—dengan sengaja dan terencana—tangan Allah yang luar biasa, yaitu Elohim Yahweh. Manusia diciptakan dengan cara yang sangat unik dan istimewa, tidak seperti ciptaan-Nya yang lain. Ini adalah sebuah penciptaan teistis yang bertentangan dengan konsep teori evolusi ateis.
    Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kata-kata yang digunakan untuk “gambar” dan “rupa” di dalam teks Ibrani adalah tselem demuth (צַלְמֵ֖ דְמוּתֵּ֑). Tselem berarti gambar, sedangkan demuth menunjuk kepada keserupaan. Dalam Kejadian 1:26 tertulis: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Penciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah barulah sebuah rancangan.
    Kata tselem menunjuk kepada “gambar,” maksudnya bahwa manusia diciptakan dengan keadaan memiliki komponen-komponen yang juga dimiliki oleh Allah, yaitu pikiran dan perasaan. Dari pikiran dan perasaan tersebut, dapat dilahirkan kehendak. Adapun demuth menunjuk kualitas dari pikiran dan perasaan tersebut. Kalau pikiran dan perasaan manusia berkualitas sesuai kehendak Allah, maka kehendaknya juga sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini menunjuk keserupaannya. Allah merancang agar manusia dapat mengembangkan diri sehingga dapat memiliki kehendak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Keserupaan dengan Allah yang dimiliki manusia bukan sesuatu yang sifatnya statis, melainkan progresif. Manusia pertama, Adam, harus mengembangkan keserupaan itu dalam pimpinan Roh Allah. Keserupaan mengalami proses perkembangan. Jadi, yang diciptakan Allah pada mulanya atas manusia adalah kesegambaran-Nya (tselem) saja, yaitu komponen-komponen yang ada pada Allah, yang juga dimiliki manusia, yaitu pikiran dan perasaan (Kej. 1:27). Adapun kualitas komponen-komponen tersebut atau keserupaannya (demuth), menjadi tanggung jawab manusia untuk mengembangkannya. Kalau manusia mengembangkannya dengan baik, pikiran dan perasaannya selalu dapat melahirkan kehendak yang sesuai dengan Allah. Dalam hal ini, manusia bisa mencapai keserupaan dengan Allah.
    Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah, berarti kemuliaan Allah hilang atau berkurang atas diri manusia. Dalam teks bahasa Yunani, kata “kehilangan” adalah yustereo (ὑστερέω; Rm. 3:23). Kata yustereo sebenarnya berarti “kurang” atau “tidak mencapai.” Dengan demikian, yang kurang atau hilang—tepatnya yang tidak “tercapai”—adalah keserupaannya, bukan gambar-Nya. Sampai kapan pun, gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang, tetapi keserupaannya (demuth) yang gagal dicapai. Komponen-komponen itu—yaitu pikiran dan perasaan—tidak hilang, tetapi komponen-komponen tersebut tidak pernah dapat mencapai kualitas seperti rupa (demuth) Allah. Manusia tidak mampu memiliki kehendak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini berarti, Adam gagal menemukan gambar diri yang ideal menurut Allah.
    Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal mencapai rancangan Allah. Tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah hilang sama sekali, tetapi kualitasnya berkeadaan tidak seperti yang Allah kehendaki. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah dalam kehidupan umat pilihan. Di sini, dapatlah kita pahami bahwa kekristenan adalah perjuangan menemukan kemuliaan Allah yang hilang.
    0 min
  • MENGEKSPRESIKAN KEHIDUPAN YESUS
    Menjadi orang percaya berarti masuk proses perubahan cara berpikir dalam hati nuraninya. Untuk merubah cara berpikir seseorang, dalam hati nuraninya dibutuhkan format ulang yang tidak mudah. Hal ini membutuhkan waktu panjang, tergantung seberapa sesat cara berpikirnya dan seberapa lama telah digunakannya. Kalau selama ini bangunan cara berpikirnya dibangun di atas berbagai filosofi dunia yang tidak sesuai dengan kebenaran Allah, sekarang harus mulai diformat ulang dengan memberikan kebenaran-kebenaran Alkitab. Filosofi-filosofi dunia yang sesat adalah konsep-konsep kafir yang harus digantikan dengan konsep-konsep kebenaran Alkitab. Dari hal ini, orang percaya membutuhkan pembaharuan berpikir setiap hari. Pembaharuan berpikir ini adalah pembaharuan konsep-konsep yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan dan kebenaran-kebenaran Alkitab (Rm. 12:2). Proses pembaharuan berpikir untuk membangun hati nurani sama artinya dengan proses mencerdaskan hati nurani atau mendewasakannya. Hal ini juga sama dengan menformat ulang kehidupan individu.
    Karena segenap hidup kita ditebus oleh darah Yesus sehingga dimiliki oleh Tuhan, maka Tuhan menginginkan agar bejana jiwa kita dapat menjadi bejana Tuhan untuk mengekspresikan diri Tuhan, bukan diri manusia. Tubuh seseorang yang sudah ditebus oleh darah Yesus dan menjadi milik Tuhan harus menjadi alat peraga Tuhan guna menampilkan diri Tuhan. Hal ini akan membuat seseorang bukan hanya menjadi “seperti” dalam arti mirip dengan Yesus, melainkan dapat memperagakan kehidupan Yesus yang pernah dijalani di bumi. Inilah yang dimaksud dengan menerima Yesus. Menerima Yesus berarti menerjemahkan atau mengenakan hidup-Nya dalam hidup kita.
    Salah satu ciri dari karakter Yesus adalah sikap mengampuni dan mengasihi musuh dengan hati yang tulus kepada mereka yang memusuhi dan menyakiti-Nya. Peragaan kasih-Nya yang sempurna terhadap mereka yang memusuhi dan menyakiti-Nya, nyata sekali ketika Ia tergantung antara langit dan bumi, yaitu ketika ada di salib. Di atas salib, dari bibir-Nya meluncur doa yang pasti mengalir dari hati-Nya yang tulus: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk. 23:34). Dalam kehidupan sehari-hari, orang percaya juga akan menghadapi berbagai perlakuan tidak adil, fitnah, hinaan, sikap menyakiti, dan lain sebagainya dari orang-orang yang memusuhi atau berniat jahat. Dalam hal ini, orang percaya diajar dan harus belajar untuk mengasihi musuh dan mengampuni mereka. Dengan cara ini, orang percaya telah selesai dengan dirinya sendiri.
    Bila orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri marah, hal itu bukan karena ia mau memuaskan egonya. Kemarahan tidak selalu salah. Sesuatu yang mendorong mengapa seseorang marah itulah yang menentukan kualitas kemarahan tersebut. Pada umumnya, kemarahan seseorang didorong oleh emosinya yang hendak diledakkan, berhubung atau terhadap sesuatu yang dipandang merugikan dan menyusahkan dirinya atau ketidaksukaan terhadap suatu tindakan atau keadaan. Marah kudus terjadi karena melihat bahaya dalam diri seseorang yang diakibatkan oleh tindakannya. Kemarahan ini harus merupakan ekspresi dari perasaan Tuhan. Marah yang tidak kudus mendorong seseorang merusak (destruktif), cenderung menghukum dan membinasakan, atau melukai sebagai balas dendam. Marah kudus mendorong seseorang memperbaiki suatu kesalahan. Kalaupun ada sanksi, tujuannya demi kebaikan orang yang dimarahi.
    Orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri memiliki belas kasihan terhadap sesama, bukan belas kasihan kepada dirinya sendiri. Belas kasihan adalah perhatian yang tulus kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Kebenaran mengenai belas kasihan ini diajarkan Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk. 10). Belas kasihan tidak memandang perbedaan suku bangsa dan golongan. Belas kasihan ditujukan kepada sesama manusia, yaitu setiap orang yang kita jumpai yang membutuhkan pertolongan.
    0 min
  • KEHORMATAN DARI MANUSIA
    Orang yang berani hidup dalam kesederhanaan adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Apa yang dimaksud dengan kesederhanaan itu? Hidup dalam kesederhanaan bukan berarti tidak memakai perhiasan, pakaian, dan fasilitas lain yang baik. Dalam hal ini, kita harus bisa memahami pengertian kepatutan. Kepatutan—dalam berpakaian, berkendaraan, memiliki rumah, menggunakan perhiasan, dan lain sebagainya—harus didasarkan pada kesediaan diri untuk menjadi berkat agar hidup kita memancarkan Pribadi Kristus. Sesungguhnya, kesederhanaan dimulai dari sikap hati, yaitu sikap hati yang tidak mencari hormat atau penilaian manusia.
    Orang yang memiliki sikap hati yang sederhana tidak pernah merasa dirinya berharga dengan fasilitas yang menempel di tubuhnya, kendaraan, rumah, mobil, dan segala hal yang ada padanya. Walaupun manusia di sekitarnya menghormati dirinya, tetapi ia tidak merasa bahwa hal itu merupakan nilai lebih dalam hidupnya. Jadi, satu hal yang sangat prinsip, bahwa kita tidak boleh mencari dan mengharapkan hormat dari manusia. Model satu-satunya mengenai kesederhanaan adalah Tuhan Yesus Kristus. Ketika Ia meninggalkan kemuliaan-Nya, tidak ada yang disisakan untuk memperoleh kehormatan. Ia mengosongkan diri, termasuk hak untuk diperlakukan wajar. Ia bukan saja tidak diperlakukan sebagai Penguasa Tinggi, bahkan Ia tidak diperlakukan sebagai manusia biasa. Kesederhanaan Tuhan Yesus itulah kemuliaan-Nya.
    Banyak orang berusaha membangun nilai diri dengan pendidikan tinggi, pangkat, penampilan, fasilitas yang dimilikinya, seperti rumah, mobil, perhiasan dan lain sebagainya, teman hidup atau jodoh, keturunan, dan lain sebagainya. Kuasa kegelapan berusaha membutakan mata pengertian mereka, sehingga mereka semakin buta terhadap kebenaran dan menjadi bodoh. Ciri dari orang yang dibutakan tersebut adalah membanggakan perkara materi yang dimilikinya, sebab baginya, itulah yang menentukan nilai diri dan mendatangkan kehormatan. Ia akan memanfaatkan apa pun—termasuk Tuhan—untuk kepentingan dirinya. Keadaan orang seperti ini bukan semakin sederhana, melainkan semakin gila hormat.
    Nilai diri yang dikejar orang-orang seperti itu sebenarnya bukanlah nilai diri yang benar. Nilai diri yang benar adalah “berkenan di hadapan Alah.” Kebutaan pengertian atau kebodohan manusia mengakibatkan manusia tidak menyadari kemiskinannya tersebut, sehingga tidak berusaha menemukan kembali nilai diri yang telah jauh dari standar rancangan Allah semula. Manusia mengalihkan perhatiannya kepada banyak hal yang tidak mengembalikan dirinya kepada nilai diri yang sesungguhnya. Dengan demikian, sikap tidak sederhana adalah kausalitas dari kebinasaan seseorang. Sebab, mereka yang tidak mau hidup sederhana akan berusaha hidup hanya untuk mencari nilai diri di mata manusia. Keinginan mereka tidak pernah berhenti, selalu meletup untuk dipuaskan demi memperoleh kehormatan bagi dirinya sendiri.
    Segala keinginan manusia yang bertujuan mendapat kehormatan bagi manusia akan berakhir sia-sia. Keinginan seperti ini bukan berasal dari Allah, dan akan dibinasakan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh dikuasai oleh suatu keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Biasanya, keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah adalah keinginan manusia itu sendiri. Hal ini membuat manusia menjadi “tuhan bagi diri sendiri” dan juga menjadi “tuhan bagi sesamanya.” Tetapi mereka tidak menyadari hal ini, sebab mereka berpikir bahwa memiliki keinginan adalah suatu kewajaran hidup. Keinginan-keinginan yang berasal dari diri manusia itu sendiri pasti menggeser keinginan untuk mencari hormat di hadapan Allah.
    Singkatnya hidup di dunia ini adalah kesempatan untuk memperoleh kehormatan dari Allah sehingga layak dimuliakan bersama-sama dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Di sinilah sebenarnya letak nilai diri kita sebagai anak-anak Allah. Manusia adalah satu-satunya makhluk di bumi yang memiliki kesadaran mengenai nilai diri.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…