Orang yang berani hidup dalam kesederhanaan adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Apa yang dimaksud dengan kesederhanaan itu? Hidup dalam kesederhanaan bukan berarti tidak memakai perhiasan, pakaian, dan fasilitas lain yang baik. Dalam hal ini, kita harus bisa memahami pengertian kepatutan. Kepatutan—dalam berpakaian, berkendaraan, memiliki rumah, menggunakan perhiasan, dan lain sebagainya—harus didasarkan pada kesediaan diri untuk menjadi berkat agar hidup kita memancarkan Pribadi Kristus. Sesungguhnya, kesederhanaan dimulai dari sikap hati, yaitu sikap hati yang tidak mencari hormat atau penilaian manusia.
Orang yang memiliki sikap hati yang sederhana tidak pernah merasa dirinya berharga dengan fasilitas yang menempel di tubuhnya, kendaraan, rumah, mobil, dan segala hal yang ada padanya. Walaupun manusia di sekitarnya menghormati dirinya, tetapi ia tidak merasa bahwa hal itu merupakan nilai lebih dalam hidupnya. Jadi, satu hal yang sangat prinsip, bahwa kita tidak boleh mencari dan mengharapkan hormat dari manusia. Model satu-satunya mengenai kesederhanaan adalah Tuhan Yesus Kristus. Ketika Ia meninggalkan kemuliaan-Nya, tidak ada yang disisakan untuk memperoleh kehormatan. Ia mengosongkan diri, termasuk hak untuk diperlakukan wajar. Ia bukan saja tidak diperlakukan sebagai Penguasa Tinggi, bahkan Ia tidak diperlakukan sebagai manusia biasa. Kesederhanaan Tuhan Yesus itulah kemuliaan-Nya.
Banyak orang berusaha membangun nilai diri dengan pendidikan tinggi, pangkat, penampilan, fasilitas yang dimilikinya, seperti rumah, mobil, perhiasan dan lain sebagainya, teman hidup atau jodoh, keturunan, dan lain sebagainya. Kuasa kegelapan berusaha membutakan mata pengertian mereka, sehingga mereka semakin buta terhadap kebenaran dan menjadi bodoh. Ciri dari orang yang dibutakan tersebut adalah membanggakan perkara materi yang dimilikinya, sebab baginya, itulah yang menentukan nilai diri dan mendatangkan kehormatan. Ia akan memanfaatkan apa pun—termasuk Tuhan—untuk kepentingan dirinya. Keadaan orang seperti ini bukan semakin sederhana, melainkan semakin gila hormat.
Nilai diri yang dikejar orang-orang seperti itu sebenarnya bukanlah nilai diri yang benar. Nilai diri yang benar adalah “berkenan di hadapan Alah.” Kebutaan pengertian atau kebodohan manusia mengakibatkan manusia tidak menyadari kemiskinannya tersebut, sehingga tidak berusaha menemukan kembali nilai diri yang telah jauh dari standar rancangan Allah semula. Manusia mengalihkan perhatiannya kepada banyak hal yang tidak mengembalikan dirinya kepada nilai diri yang sesungguhnya. Dengan demikian, sikap tidak sederhana adalah kausalitas dari kebinasaan seseorang. Sebab, mereka yang tidak mau hidup sederhana akan berusaha hidup hanya untuk mencari nilai diri di mata manusia. Keinginan mereka tidak pernah berhenti, selalu meletup untuk dipuaskan demi memperoleh kehormatan bagi dirinya sendiri.
Segala keinginan manusia yang bertujuan mendapat kehormatan bagi manusia akan berakhir sia-sia. Keinginan seperti ini bukan berasal dari Allah, dan akan dibinasakan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh dikuasai oleh suatu keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Biasanya, keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah adalah keinginan manusia itu sendiri. Hal ini membuat manusia menjadi “tuhan bagi diri sendiri” dan juga menjadi “tuhan bagi sesamanya.” Tetapi mereka tidak menyadari hal ini, sebab mereka berpikir bahwa memiliki keinginan adalah suatu kewajaran hidup. Keinginan-keinginan yang berasal dari diri manusia itu sendiri pasti menggeser keinginan untuk mencari hormat di hadapan Allah.
Singkatnya hidup di dunia ini adalah kesempatan untuk memperoleh kehormatan dari Allah sehingga layak dimuliakan bersama-sama dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Di sinilah sebenarnya letak nilai diri kita sebagai anak-anak Allah. Manusia adalah satu-satunya makhluk di bumi yang memiliki kesadaran mengenai nilai diri.