Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • MENANGGULANGI KEKURANGAN DAN KELEMAHAN
    Pergumulan hidup yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita, pasti sesuai dengan usia rohani dan porsi yang mampu kita tanggung. Allah tidak akan mengizinkan pencobaan melampaui kekuatan kita. Itulah sebabnya, setiap orang pasti memiliki pergumulan masing-masing yang tidak sama. Hendaknya, kita tidak meratapi keadaan ketika membandingkan bahwa pencobaan yang kita alami terasa sangat berat, sementara pencobaan dan pergumulan yang dialami orang lain kelihatannya lebih ringan. Mestinya, kita tidak boleh membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Kita tidak tahu, bisa saja pencobaan yang dialami orang lain jauh lebih berat dari yang kita alami. Kita percaya dalam kebijaksanaan-Nya, Allah menuntun kita kepada keadaan dimana kita dapat mengerti kesalahan yang kita lakukan dan segala kekurangan-kekurangan kita.
    Setiap kita mengalami pembentukan yang khusus, yang tidak sama dengan yang dialami oleh siapa pun di muka bumi ini. Hal ini sesuai dengan keberadaan kepribadian, watak, atau karakter kita. Ibarat sebuah kurikulum seperti yang dikenal dalam dunia pendidikan, setiap orang memiliki kurikulumnya sendiri yang dirancang oleh Allah. Allah sebagai Arsitek jiwa yang sempurna, mengerti bagaimana menggarap kita melalui setiap kejadian agar kita menjadi manusia seperti yang Dia kehendaki. Penggarapan tersebut untuk menanggulangi kekurangan dan kelemahan-kelemahan dalam watak atau karakter kita. Penanggulangan tersebut dapat menghasilkan suatu pribadi yang mulia dan agung, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah. Oleh sebab itu, kita harus memperkarakan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan kita.
    Kalau kita memperkarakan kekurangan dan kelemahan kita di hadapan Allah, maka Allah pasti memberi tahu kekurangan dan kelemahan kita tersebut. Allah tidak mungkin tidak memberi tahu kepada kita kebiasaan, sikap, kelakuan kita yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Masalahnya adalah apakah kita serius memperkarakan kekurangan dan kelemahan kita, guna mengalami pembaruan? Banyak orang Kristen tidak pernah mempersoalkan dengan serius kekurangan dan kelemahannya di hadapan Allah. Mereka tidak memperkarakan hal bagaimana seharusnya hidup sebagai anak-anak Allah. Ini adalah orang-orang yang tidak haus dan lapar akan kebenaran. Tentu saja Allah tidak akan memuaskan mereka, sebab hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang akan dipuaskan oleh Allah (Mat. 5:6). Orang-orang Kristen yang tidak haus dan lapar akan kebenaran—seperti sebagian masyarakat Barat yang tadinya Kristen tetapi sekarang meninggalkan gereja—adalah orang-orang yang tidak mengerti keselamatan, sehingga mereka tidak mengalami dan memiliki keselamatan.
    Biasanya, orang-orang Kristen seperti di atas ini berpikir bahwa yang penting secara nalar sudah merasa percaya kepada Yesus, maka mereka dapat terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga, ini berarti sudah selamat. Ditambah lagi, pemahaman yang salah mengenai pengertian bahwa keselamatan dapat diperoleh seseorang bukan karena perbuatan baik. Mereka merasa sudah memiliki kepastian masuk surga tanpa berusaha untuk menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah. Sehingga, mereka tidak merasa perlu memperkarakan keadaan mereka di hadapan Allah. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud dengan “selamat” atau “keselamatan” itu. Sebenarnya, keselamatan bukan sekadar terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Keselamatan adalah usaha Allah yang direspons dengan benar oleh manusia agar atau sehingga manusia dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Untuk ini, dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh dalam kehidupan setiap orang percaya.
    Perbuatan sebaik apa pun, tidak akan membuat manusia mengalami dan memiliki keselamatan. Hanya oleh kurban Yesus di kayu salib tersedia keselamatan. Tetapi selanjutnya, justru karena seseorang menerima keselamatan, ia harus menjadi murid Yesus (Mat. 28:18-20), ia juga harus mengikuti perlombaan yang diwajibkan yaitu menjadi anak-anak Allah y...
    0 min
  • TEMPURUNG DOKTRIN
    Banyak orang Kristen yang meyakini bahwa mereka telah memiliki kepastian masuk surga hanya karena merasa sudah percaya kepada Yesus. Inilah yang mereka pahami sebagai kepastian keselamatan. Mereka memiliki keyakinan kepastian masuk surga hanya dibangun dari nalar teologi, atau pemahaman mengenai suatu pengajaran. Sebenarnya, keyakinan tersebut hanya sebuah fantasi. Secara tidak langsung, menggiring kehidupan pada fantasi dalam relasinya dengan Allah. Dalam hal ini, seakan-akan persoalan kehidupan cukup diselesaikan dengan moral yang baik dan pengertian-pengertian terhadap doktrin atau pengajaran Alkitab. Kelompok ini biasanya berasumsi kuat bahwa pengajaran yang dipandang benar oleh mereka merupakan ciri dari kekristenan yang benar.
    Orang-orang demikian akan mudah menghakimi dan memandang orang yang tidak sealiran dengan mereka sebagai sesat dan bidat. Biasanya, mereka juga memandang bahwa mereka adalah pewaris kebenaran yang sah dari gereja masa lalu, dan sekarang mereka merasa sebagai “penjaga kebenaran.” Tidak heran kalau mereka begitu percaya diri, bahwa mereka di pihak Tuhan dan merasa sedang membela Tuhan dengan melawan “musuh Tuhan,” yaitu orang Kristen yang tidak sepaham dengan mereka. Tentu saja hal ini membuat mereka menjadi arogan, padahal mereka hanya mensakralkan pandangan para teolog masa lalu dan berbagai keputusan konsili yang seharusnya tidak boleh disejajarkan dengan otoritas Alkitab. Mereka telah terpenjara dalam ruang tempurung doktrin yang mestinya pengajaran-pengajaran atau doktrin-doktrin tersebut harus terus direvisi dan dibaharui, seiring dengan perjalanan sejarah kehidupan manusia dan sejarah gereja Tuhan di dunia yang selalu berubah dan belum selesai.
    Biasanya, mereka juga dengan ganas dan bengis menyerang orang-orang Kristen lain. Mereka menganggap orang yang tidak memiliki pemahaman yang sama dengan mereka adalah orang sesat yang membahayakan keselamatan orang lain, padahal mereka sendiri belum tentu juga selamat. Mereka hanya merasa sudah selamat berdasarkan keyakinan dalam nalar yang dibangun dari sistematika doktrin yang mereka miliki. Tidak sedikit dari antara mereka yang setelah menyerang ajaran orang lain kemudian menyerang pribadi orang yang mereka pandang sebagai sesat atau bidat, yang mereka samakan sebagai “anak-anak setan.” Itulah sebabnya, mereka merasa sedang membela Tuhan. Secara tidak langsung atau secara langsung, terjadi praktik ad hominem; sesuatu yang benar-benar melanggar ajaran Yesus. Tetapi, mereka merasa bahwa hal itu bukan suatu dosa.
    Dengan gaya hidup seperti itu, mereka mengarahkan jemaat kepada kekristenan yang didominasi atau bernuansa “olah nalar” mengurai teologi. Tentu ini bukan salah sama sekali, melainkan menjadi tidak lengkap kalau mereka hanya terfokus pada teologi secara eksplisit, yaitu apa yang diperoleh dan diperkarakan secara akademis atau olah nalar. Seharusnya, orang percaya juga memiliki pengalaman dengan Allah secara riil, sebab Allah adalah realitas. Sehingga orang percaya dapat memiliki pemahaman mengenai Allah dari pengalaman dalam perjalanan hidup secara konkret. Maka, setiap orang percaya dapat mengenal Allah juga secara implisit, dan membangun kehidupan moralnya dalam standar anak-anak Allah seperti Yesus.
    Orang-orang yang merasa diri sudah benar tersebut di atas, memandang bahwa teologi yang mereka pahami adalah paling objektif Alkitabiah. Padahal, mereka hanya meneruskan apa yang diajarkan oleh para teolog dan pengajar sekolah tinggi teologi atau seminari, yang adalah warisan dari pengajaran masa lalu. Kadang-kadang, pandangan teologi para teolog mereka dibuat terus menjadi up to date, tetapi Allah secara riil tidak dialami. Ironisnya, Allah tidak “di-update.” Ini berarti Allah diperlakukan seperti barang di dalam museum. Allah yang mereka sebut-sebut dan menjadi objek pujian, penyembahan, serta doa adalah Allah di dalam fantasi dan di dalam doktrin; bukan Allah yang riil yang dialami secara konkret. Biasanya,
    0 min
  • KEPASTIAN KESELAMATAN
    Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, maka keselamatan sering hanya dipahami sekadar terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Pandangan ini biasanya juga disertai dengan asumsi bahwa keselamatan atas individu didasarkan pada pilihan Allah secara sepihak berdasarkan kedaulatan Allah yang mutlak. Dalam hal ini, respons manusia tidak dibutuhkan atau tidak bisa berperan secara proporsional, bahkan tidak berperan sama sekali. Manusia menjadi objek yang hanya menerima takdir atau penentuan Allah di luar kemampuan diri manusia itu untuk menolak atau menerima.
    Kompensasi dari pengertian keselamatan yang tidak tepat tersebut adalah kepastian keselamatan hanya didasarkan pada pengertian dalam nalar, bukan pada pengalaman pergaulan pribadi dengan Allah. Mestinya, kepastian keselamatan dibangun dari penghayatan terhadap kehadiran Allah, dan kehidupan yang diubahkan menjadi semakin seperti Yesus. Untuk membela definisi keselamatan yang tidak tepat di atas, para penganutnya harus menyusun sistematika dogmatika yang selogis-logisnya untuk dapat mengurai dan memberi landasan premis keselamatan tersebut. Sebagai hasilnya, tersusun dogmatika yang kelihatannya sistematis dan kokoh, namun sebenarnya rapuh, serta implikasi konkretnya miskin dan dangkal. Doktrin seperti ini tidak mampu menyelamatkan orang Kristen dari pengaruh dunia. Masyarakat Eropa sebagai contohnya.
    Biasanya, komunitas orang Kristen yang menganut pandangan ini lebih menggunakan nalar dan membangun sistematika teologi yang diusahakan selengkap-lengkapnya, untuk membuat pandangan mereka tampak Alkitabiah. Tetapi di lain pihak, kehidupan orang-orang Kristen seperti ini kurang bergairah untuk menjangkau kesucian hidup yang berstandar kesempurnaan Bapa atau keserupaan dengan Yesus. Tidak sedikit di antara mereka yang sangat cakap berdebat, berapologetika, dan memaparkan penjelasan-penjelasannya dengan istilah-istilah yang sesuai dengan pandangan mereka, guna mendukung doktrin mereka. Fakta di lapangan, komunitas mereka cenderung menjadi arogan dan merasa sebagai orang Kristen yang paling benar dalam pemahaman mengenai Alkitab.
    Komunitas tersebut juga memiliki kecenderungan kurang menekankan hal-hal yang bersifat subjektif, sehingga mereka miskin dalam pengalaman pribadi dengan Allah. Bagi mereka, subjektivitas tidak dapat dipercayai sama sekali. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa keadaan manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak bisa dipercayai sama sekali, karena keberdosaan manusia tidak membuka peluang sama sekali untuk mengenal kebenaran. Padahal, orang percaya yang menerima pembenaran memiliki meterai Roh Kudus yang menuntunnya kepada seluruh kebenaran. Mestinya, orang percaya membuka ruang hidupnya untuk bergaul dengan Allah melalui Roh Kudus, guna memperoleh pengalaman pribadi dengan Allah, sebab Allah hidup dan riil. Subjektivitas tidak selalu berarti negatif dan sesat. Hal ini tergantung pada kedalaman seseorang bergaul dengan Allah.
    Manusia harus merespons kasih karunia dengan tindakan konkret. Tindakan itu adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai target yang dikehendaki Allah, yaitu menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Dengan demikian, kehidupan orang Kristen memiliki satu-satunya agenda, yaitu menjadi seperti Yesus. Inilah kekristenan yang sejati. Ini berarti menjadi Kristen, artinya dikuburkan bersama-sama dengan Yesus (Rm. 6:4).
    Kekristenan yang sejati menempatkan orang percaya untuk meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, dan berusaha menanggalkan manusia lama atau mematikan kodrat dosa, guna mengalami proses pembaruan. Pembaruan tersebut seperti sebuah proses “format ulang” atas kehidupan orang percaya dari kodrat dosa menjadi seorang yang berkodrat ilahi. Dalam hal ini, yang dibutuhkan bukan hanya sistematika teologi yang memenuhi pikiran,
    0 min
  • TARGET YANG TINGGI
    Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, hal tersebut bisa membuahkan pengertian bahwa target yang Allah kehendaki untuk dicapai orang percaya adalah rendah, padahal yang dikehendaki Allah untuk dicapai adalah hidup sebagai anak-anak Allah. Ini adalah target yang sangat tinggi. Hidup sebagai anak-anak Allah bukan hanya mengakui dan menghayati bahwa diri kita adalah anak-anak Allah, melainkan benar-benar berperilaku atau berkeberadaan sebagai anak-anak Allah yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Paulus menyinggung mengenai manusia rohani dalam tulisannya kepada jemaat Korintus, bahwa manusia rohani adalah manusia yang memiliki pikiran Tuhan (1Kor. 2:15). Memiliki pikiran Tuhan maksudnya adalah memahami kehendak Allah apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Rm. 12:2). Inilah manusia rohani. Kebalikan dari manusia rohani adalah manusia duniawi (1Kor. 3:1-4). Manusia duniawi tidak akan mendapat bagian sebagai anggota keluarga Kerajaan.
    Kehidupan anak-anak Allah adalah kehidupan manusia yang hidup dipimpin oleh Roh, sama dengan menjadi orang Kristen yang benar-benar rohani. Untuk bisa berubah dari orang Kristen duniawi atau hidup dalam daging kepada kehidupan orang Kristen rohani yang dipimpin oleh Roh, membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Roh Kudus bekerja aktif, tetapi umat pilihan juga harus aktif untuk mengimbangi pekerjaan Roh Kudus. Oleh sebab itu, seseorang yang sungguh-sungguh mau diubahkan harus berani mempertaruhkan seluruh kehidupannya untuk proses perubahan tersebut. Di sini kita menemukan letak mahalnya harga keselamatan itu dan sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Surga (Luk. 13:23-24). Orang yang disebut rohani adalah orang yang tidak bisa berbuat dosa lagi atau nyaris tidak bisa berbuat dosa lagi. Hatinya tertuju kepada perwujudan Kerajaan Allah pada hari kedatangan Tuhan Yesus. Mereka dapat merasakan dan menghayati bahwa bumi ini bukanlah rumah dan tanah airnya, sehingga mereka hanya merindukan langit baru dan bumi yang baru. Jiwanya tidak dapat dibahagiakan oleh dunia ini dengan segala keindahannya. Orang percaya yang rohani tidak memberi kesempatan kodrat dosanya hidup, sebaliknya mematikan kodrat dosa agar digantikan dengan kodrat ilahi.
    Sejatinya, kekristenan bukanlah agama yang hanya melakukan perbaikan-perbaikan atas moral, melainkan membuat seseorang mengalami hidup baru (Ef. 4:24; Kol. 3:10). Hidup baru yang dimiliki orang percaya akan membawanya kepada klimaks, yaitu pengakuan “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Jadi, yang penting adalah bagaimana mematikan “kodrat dosa” supaya dapat membangun hidup baru di dalam Tuhan. Mematikan kodrat dosa masing-masing individu sangat ditentukan atau diperankan oleh diri sendiri. Mematikan kodrat dosa hendaknya tidak dipahami sebagai proses mistis, tetapi sebuah tindakan natural dan konkret yang disebut langkah pertobatan. Langkah pertobatan bukan hanya satu kali tindakan seperti sebuah titik, melainkan seperti garis panjang, artinya terus-menerus. Seiring dengan terjadinya pembaharuan pikiran oleh kesadaran pengertian terhadap kebenaran-kebenaran yang Roh Kudus singkapkan, kita bertobat artinya kita menerima kebenaran tersebut, dan membuang semua konsep yang salah.
    Pertobatan dalam kekristenan adalah perubahan cara berpikir dan seluruh gaya hidup, yang didorong oleh kesadaran terhadap kebenaran. Kebenaran di sini bukan hanya menyangkut kesadaran moral, melainkan juga meliputi pemahaman hidup secara menyeluruh berdasarkan kebenaran Firman. Ukuran perbuatan yang dinilai benar bagi orang di luar umat pilihan adalah perbuatan baik berdasarkan hukum tertulis. Tetapi, bagi umat pilihan adalah berkenan kepada Allah atau sempurna. Tentu pertobatan yang sejati akan mengubah bukan saja perilaku seseorang, melainkan juga seluruh filosofi hidupnya. Pertobatan harus dimulai dari kesadaran pengertian terhadap kebenaran,
    0 min
  • PERJUANGAN BERKODRAT ILAHI
    Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, hal ini bisa menutup pikiran terhadap kenyataan adanya kodrat dosa di dalam diri manusia yang tidak boleh dianggap enteng. Dalam beberapa bagian di Alkitab, kita temukan beberapa pernyataan Paulus yang menunjukkan bahwa tubuh yang dikenakannya merupakan belenggu atau bisa dikatakan sebagai penjara yang tidak mudah dibongkar (Rm. 7:21-23; Gal. 5:17). Paulus menjumpai bahwa di dalam tubuhnya ada hasrat yang selalu cenderung melawan kesucian Allah (Rm. 8:21-23). Paulus menyebutnya sebagai “tubuh maut.” Itulah sebabnya, Paulus sangat merindukan tubuhnya diubahkan menjadi tubuh kemuliaan yang baru (Rm. 8:19-25). Kenyataan ini mendorong Paulus merindukan kehidupan yang lebih baik dalam Kerajaan-Nya, yaitu tubuh kemuliaan tanpa penderitaan.
    Semua manusia telah berkeadaan menyimpang dari rencana semula. Di dalam diri setiap manusia terdapat kodrat dosa yang harus dikalahkan atau ditaklukkan, yang sama dengan “dimatikan.” Dengan demikian, semua manusia yang dilahirkan oleh Adam memiliki gambar dan rupa Adam, bukan gambar dan rupa Allah sesuai rancangan semula (Kej. 5:3). Di dalam diri manusia tidak terdapat kodrat ilahi tetapi terdapat kodrat dosa, dimana manusia terkunci di bawah hukum dosa, sehingga tidak bisa mencapai standar manusia sesuai rancangan Allah semula. Ini adalah keadaan yang menyimpang dari rencana Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan mengubah kehidupan manusia, sehingga dalam tingkat kedewasaan tertentu dapat mengenakan kodrat ilahi. Inilah standar kehidupan anak-anak Allah yang menjadi anggota keluarga Kerajaan. Untuk hal ini, berarti kita harus mematikan kodrat dosa seperti yang dikatakan Paulus dalam Kolose 3:5-10.
    Untuk mematikan kodrat dosa, kita harus menghidupi “kehidupan sebagai anak Allah” di dalam diri kita dengan kebenaran Firman Allah (logos), dan selalu ada dalam proses pendewasaan yang intensif melalui segala peristiwa yang kita alami. Kita harus “memberi makan” kehidupan anak Allah di dalam diri kita melalui pergaulan doa dengan Tuhan. Peristiwa-peristiwa kehidupan setiap hari mengandung rhema (Allah berbicara) yang harus ditangkap guna memberi makanan rohani pada kehidupan anak Allah di dalam diri kita (Mat. 4:4). Kita tidak boleh menghidupi kodrat dosa dengan berbagai hal, seperti bergaul dengan orang yang tidak takut Allah, mengonsumsi bacaan dan tontonan yang tidak kudus, terus-menerus dalam kebiasaan buruk, dan lain sebagainya.
    Allah tidak dapat menolong orang yang tidak berusaha menolong dirinya sendiri. Allah tidak dapat membunuh kodrat dosa dalam kehidupan seseorang tanpa respons manusia itu sendiri. Pada akhirnya, memang kematian kodrat dosa dalam diri seseorang adalah kerja sama antara setiap individu tersebut dengan Roh Kudus yang menuntunnya kepada segala kebenaran. Oleh sebab itu, hal utama yang sangat penting adalah orang percaya harus mengalami perubahan pikiran (Rm. 12:1-2). Cara berpikir menciptakan spirit atau gairah. Cara berpikir yang bukan berasal dari Allah adalah produk Iblis. Produk Iblis ini cirinya adalah mengutamakan atau menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani, kemuliaan lahiriah, dan kejayaan duniawi. Cara berpikir yang salah melahirkan spirit atau gairah yang salah pula. Spirit seseorang menentukan kodrat hidupnya.
    Dengan demikian, cara berpikir duniawi menjadi halangan dimatikannya kodrat dosa dalam kehidupan orang percaya. Cara berpikir memiliki nilai-nilai atau pandangan hidup. Seseorang yang masih hidup dalam kodrat dosa memiliki nilai-nilai atau pandangan hidup yang salah atau rendah, yang harus digantikan dengan nilai-nilai Kerajaan Surga. Dibutuhkan proses yang panjang untuk mengubah spirit atau gairah hidup yang membangun kodrat dosa. Mengubah nilai-nilai yang membangun selera atau cita rasa jiwa harus dengan kebenaran Firman. Dalam hal ini, peran Roh Kudus adalah segalanya. Tanpa Roh Kudus,
    0 min
  • PROSES BERTAHAP
    Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran, maka ada kecenderungan orang tersebut tidak memahami kenyataan bahwa Allah bekerja melalui proses yang bertahap dengan melibatkan masing-masing individu. Ketika Allah menciptakan manusia, tidak dikatakan bahwa manusia adalah manusia yang sempurna. Sebab kalau manusia berkeadaan sempurna, berarti manusia tidak bisa berbuat dosa, dan tidak perlu proses pertumbuhan atau perubahan lagi. Itulah sebabnya—walaupun Allah merancang manusia untuk dapat berkeadaan segambar dan serupa dengan Dia (Kej. 1:26)—namun faktanya dalam Kejadian 1:27, Allah menciptakan manusia hanya menurut gambar-Nya. Adapun “rupa” manusia harus diperjuangkan oleh manusia itu sendiri. Dari kenyataan bahwa bumi berkeadaan harus dikembangkan (Kej. 1:28-29)—dan dalam penciptaan, Allah menciptakan dengan proses tahapan-tahapan—maka manusia secara individu juga harus mengembangkan diri sedemikian rupa secara bertahap pula, khususnya potensi moralnya.
    Potensi moral artinya bahwa manusia dapat mengembangkan diri dan dapat memiliki moral yang semakin sempurna seperti Allah, Penciptanya. Melalui perjalanan waktu, manusia dapat menjadi dewasa dan lebih bijaksana. Seandainya manusia dapat melampaui cobaan di Taman Eden, manusia menjadi serupa dengan Allah Bapa, maksudnya dalam segala sesuatu yang manusia kehendaki dan lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Mestinya, melalui proses bertahap Adam mengalami progresivitas. Mestinya, melalui berjalannya waktu, Adam dapat menjadi sempurna. Tetapi ternyata Adam gagal. Kejatuhan Adam tidak dirancang oleh Allah. Sejatinya, Allah menghendaki manusia dapat menjadi teman atau sahabat, sekutu-Nya di keabadian yang selalu melakukan kehendak-Nya.
    Melalui keselamatan dalam Yesus Kristus, orang percaya dapat mengalami proses pendewasaan menuju kesempurnaan seperti Bapa, atau keserupaan dengan Kristus. Itulah sebabnya, orang percaya harus dimuridkan (Mat. 28:18-20). Pemuridan adalah perjalanan panjang dalam kehidupan orang percaya untuk belajar mengenakan kehidupan Yesus di dalam dirinya. Ini adalah pergumulan untuk dapat menjadi manusia yang sesuai dengan rancangan Allah semula. Hal tersebut sama dengan proses transformasi yang dikemukakan Paulus dalam Roma 12:2, yaitu proses perubahan secara mendasar dalam kehidupan orang percaya. Perubahan itu bukan hanya membuat seseorang menjadi baik secara moral agama, melainkan juga mengalami perubahan kodrat. Mereka yang dipilih menjadi umat Allah artinya diberi kesempatan mendengar Injil, harus memasuki proses keselamatan dengan meninggalkan percintaan dunia dan keterikatannya dengan dosa.
    Menimbang kemuliaan yang tiada tara yang akan diterima orang percaya, pantaslah kalau orang percaya dituntut untuk melepaskan beban dan dosa (Ibr. 12:1). Orang percaya harus fokus kepada perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Mat. 6:19-22; Kol. 3:1-4). Pantaslah Tuhan menyatakan bahwa kalau seseorang masih terikat dengan harta dunia, ia tidak akan mengerti Firman Tuhan (Luk. 16:11). Pantaslah juga kalau Tuhan menyatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4). Manusia yang memberi diri untuk diselamatkan adalah manusia yang berani melepaskan diri dari segala milik, agar dapat dimuridkan atau didewasakan, supaya bisa mengalami perubahan kodrat. Manusia yang tidak bisa diubah seperti yang Allah kehendaki adalah manusia yang tidak selamat (Mat. 18:3). Orang percaya tidak boleh mengingini dunia ini. Kalau kita bekerja mencari nafkah, sebab kita sedang mewujudkan rencana Allah dalam hidup kita secara pribadi dan orang lain yang memberi diri diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus.
    Pandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut menciptakan kecenderungan tidak memahami kenyataan betapa beratnya mencapai target keselamatan yang Allah kehendaki,
    0 min
  • KEDAULATAN MANUSIA
    Manusia memiliki kedaulatan dan Allah menghargai kedaulatan tersebut, maksudnya Allah tidak memaksa seseorang menuruti apa yang Ia kehendaki. Dalam kasus Petrus, ketika Petrus mendengar kokok ayam setelah ia menyangkal Yesus, Petrus sadar atas kesalahannya dan ia bertobat. Kokok ayam tersebut bisa mempertobatkan Petrus, tetapi juga bisa tidak (sebab Yesus sudah mengatakan). Hal itu tergantung kehendak bebas Petrus. Melalui peristiwa ayam yang berkokok, Petrus memilih menyesal dan bertobat. Itulah sebabnya, dalam Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Melalui berbagai peristiwa, Allah bekerja dalam segala hal. Allah menggunakan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan untuk mengubah manusia. Itulah sebabnya firman mengatakan, “Besi menajamkan besi. Orang menajamkan sesamanya” (Ams. 27:17). Namun demikian, bukan berarti segala sesuatu yang Allah izinkan terjadi dalam hidup, memaksa seseorang menuruti yang Allah inginkan. Allah memberi kebebasan seseorang mengambil pilihan dan keputusan dalam merespons penggarapan Allah melalui kejadian-kejadian dalam kehidupan.
    Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak berpikir ada tindakan Allah yang berintervensi di dalam jiwa kita secara mistis dan spektakuler untuk perubahan diri kita. Allah mengubah kita dengan memberikan kejadian-kejadian yang kita harus alami, dan untuk itu, kita harus meresponsnya dengan benar. Roh Kudus pun berbicara di dalam hati kita, tetapi Roh Kudus tidak memaksa kita menuruti kehendak Allah. Bagaimana reaksi kita terhadap setiap kejadian yang terjadi dalam hidup ini menentukan hasilnya. Allah tidak berintervensi dalam jiwa kita, tetapi Allah berbicara kepada kita melalui atau di dalam peristiwa-peristiwa yang Allah izinkan terjadi. Jadi, kita yang harus mengubah diri kita sendiri karena kita memiliki kehendak bebas untuk merespons penggarapan Allah. Peringatan-peringatan dari Allah melalui berbagai kejadian merupakan panggilan agar orang percaya sungguh-sungguh mau berbalik dan mengubah diri.
    Kita sering mengalami berbagai pergumulan hidup yang berat sekali, sampai terkadang nyaris putus asa, atau kita dibawa dalam suatu situasi dimana kita seakan-akan “dipaksa” untuk berbuat kesalahan. Timbul pertanyaan, apa makna semua kejadian ini? Sejatinya, Allah tidak pernah menempatkan kita pada keadaan dimana kita tidak bisa tidak, mesti melakukan kesalahan. Tidak ada pencobaan yang melampaui kekuatan manusia. Keadaan berat justru membuat kita belajar memiliki integritas yang tinggi sehingga mengokohkan kita untuk hidup lebih tidak bercacat dan tidak bercela. Pergumulan berat tidak boleh dipandang sebagai musibah atau keadaan “sial.” Dalam kamus hidup orang percaya, terdapat kenyataan bahwa semakin besar masalah, semakin besar berkat-Nya, yaitu kalau masalah tersebut direspons dengan benar. Pergumulan berat yang kita alami sering membuat kita dapat melihat keadaan kita yang sebenarnya di hadapan Allah. Kalau pergumulan tidak berat, mata hati kita belum tercelik melihat kekurangan dan kelemahan kita sendiri.
    Pergumulan berat bisa mengangkat kelemahan-kelemahan tersembunyi di dalam diri kita. Pergumulan yang berat juga membuka mata kita melihat dan merasakan realita bahwa dunia bukanlah hunian yang ideal. Suatu hari nanti, Allah akan membinasakan bumi ini dengan api (2Ptr. 3:1-11). Agar orang percaya tidak turut dibinasakan dengan dunia ini, Allah mengizinkan kita mengalami berbagai pergumulan yang berat, yang di dalamnya termuat berkat abadi. Pergumulan berat pada dasarnya—dan pada akhirnya—dapat mengubah kita secara total dan permanen. Jadi, segala sesuatu yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita mendatangkan kebaikan. Tentu selama kita merespons peristiwa atau kejadian tersebut dengan benar.
    Pergumulan berat yang kita sikapi dengan benar juga membuka pengertian kita untuk memahami bahwa keh...
    0 min
  • PILIHAN DAN KEPUTUSAN PRIBADI
    Apakah Allah tidak tahu kalau Firaun akan selalu mengingkari janji setiap kali ia berjanji mau melepaskan bangsa Israel setelah tulah diangkat? Tentu saja Allah tahu, tetapi Allah selalu melakukan apa yang diminta Firaun. Allah tidak berkata kepada Musa bahwa Firaun akan mengingkari janji. Allah membiarkan hal itu berlangsung berulang-ulang. Dengan cara itu, hati Firaun menjadi keras. Demikianlah, Allah tidak masuk ke dalam pikiran atau hati seseorang untuk mengubahnya: menjadi keras atau menjadi lembut. Tetapi, melalui kejadian-kejadian yang dialami, dalam kehendak bebasnya, respons seseorang terhadap kejadian-kejadian tersebut bisa membuat hatinya menjadi keras atau lembut (Kel. 7-10). Karena hati Firaun memang jahat, responsnya terhadap apa yang terjadi bersifat negatif, maka hati Firaun menjadi keras. Jadi, pilihan dan keputusan akhir tetap pada individu, apakah hatinya menjadi keras atau tidak.
    Allah juga membuat hati Firaun menjadi keras ketika orang-orang Mesir kena barah, baik rakyat maupun ahli-ahli sihirnya, tetapi Firaun sendiri tidak terkena barah. Melalui kejadian ini, hati Firaun dikeraskan. Ini adalah prinsip penting, seperti kisah Yudas. Allah tidak berintervensi ke dalam hati Yudas yang membuat Yudas menjadi tidak jujur, tidak setia, dan jahat, sehingga mengkhianati Gurunya. Yudas menjadi pengkhianat atas kehendaknya sendiri, tentu hasil dari pertimbangan pikiran dan perasaannya dalam perjalanan waktu panjang. Yudas sudah terbiasa tidak jujur mengenai keuangan, maka ia menjadi tidak setia dan jahat.
    Sangatlah tidak mungkin—berangkat dari alasan bahwa Allah menetapkan Yudas menjadi pengkhianat—Allah berintervensi masuk dalam hati Yudas dan membuat Yudas memiliki hati yang tidak jujur, tidak setia, dan jahat. Memang ada nubuatan bahwa satu dari antara orang-orang dekat Yesus akan mengangkat tumitnya melawan Yesus. Namun, harus dipahami bahwa nubuatan itu bukan penetapan. Nubuatan diberikan guna membuktikan bahwa Yesus adalah Juruselamat yang benar, bahwa Yesus dari Nazaret adalah Utusan Allah yang benar, bukan yang lain. Jadi, kalau ada orang lain mengaku sebagai utusan Allah, harus dipertanyakan: Apakah ada verifikasi atau pembuktiannya yaitu nubuatan mengenai “utusan” tersebut? Perjalanan hidup Yesus dari lahir di Betlehem, masuk Yerusalem naik keledai, dikubur lalu bangkit, semua sudah ada nubuatannya. Termasuk nubuatan bahwa satu dari orang dekat-Nya akan berkhianat kepada-Nya (Mzm. 41:9-10). Banyak peristiwa yang terkait dalam hidup Yesus sudah ada nubuatan sebelumnya. Semua nubuatan meneguhkan kebenaran Injil.
    Ketika Yesus mulai memilih murid-murid-Nya, Dia berkata bahwa satu di antara murid-murid itu Iblis (Yoh. 6:70) Hal itu dikatakan Yesus karena memang sudah ada nubuatan bahwa salah satu yang dekat dengan Dia akan berkhianat. Tetapi, orang tersebut tidak harus Yudas, bisa siapa saja salah satu dari murid-murid Yesus. Yudas tidak dirancang untuk berkhianat. Kalau melihat perjalanan hidup Yesus selama di bumi, justru Petruslah yang pernah dihardik Yesus dengan perkataan: “Enyah, Iblis!” dan bukannya Yudas (Mat. 16:23; Mrk. 8:33). Namun demikian, ternyata Yudaslah pengkhianatnya.
    Di hari-hari terakhir setelah diketahui bahwa Yudas yang akan berkhianat, Yesus berkata kepada Petrus, “Petrus, Iblis siap menampi kamu. Tapi Aku berdoa untuk kamu kepada Allah, supaya kamu kuat. Dan kalau kamu sudah kuat, kamu ingatkan saudara-saudaramu.” (Luk. 22:31-32). Mengapa Yesus berdoa hanya untuk Petrus, tetapi tidak berdoa untuk Yudas? Setelah sekian lama hidup bersama dengan Yudas, Yesus tahu ternyata memang Yudas orang yang dinubuatkan akan mengkhianati Yesus, yaitu setelah ia selalu mencuri uang kas dan menjual Gurunya. Namun, rupanya Iblis menuntut agar Petrus juga terhilang, padahal yang dinubuatkan hanya satu. Itulah sebabnya, Yesus berdoa untuk Petrus agar tidak terhilang, dan faktanya, kemudian Petrus bertobat. Pertobatannya melalui suara ayam berkokok.
    0 min
  • TATANAN ALLAH
    Tidak ada kejadian yang terjadi dalam hidup ini di luar kontrol Allah. Segala sesuatu yang terjadi pasti dalam izin dan perkenanan Allah. Dan di dalam setiap kejadian, di dalamnya Allah memiliki rencana yang sangat baik bagi orang percaya yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Rencana tersebut adalah pembentukan agar orang percaya menjadi sempurna seperti yang dikehendaki oleh Allah; serupa dengan Yesus. Tetapi, apakah suatu kejadian benar-benar mendatangkan kebaikan bagi orang percaya, tergantung respons individu orang percaya tersebut terhadap kejadian yang dihadapinya. Di dalam hal ini, ada bagian atau wilayah Allah yang manusia tidak akan mampu melakukannya, dan ada bagian atau wilayah manusia yang Allah tidak akan melakukannya.
    Wilayah dalam hidup kita yang tidak akan diintervensi Allah adalah pikiran dan perasaan, sebab dari pikiran dan perasaan, bisa melahirkan kehendak. Kehendak ini yang menentukan keadaan masing-masing individu. Di sini, manusia memiliki wilayah atau bagian yang menjadi tanggung jawab manusia itu sendiri. Allah tidak masuk di dalam pikiran dan perasaan lalu mengarahkan orang tersebut. Kehendak manusia tergantung atau ditentukan oleh masing-masing individu itu sendiri, bukan dikendalikan oleh Allah. Pandangan yang mengatakan bahwa Allah berintervensi di dalam diri manusia, berkonsekuensi tidak perlu adanya penghakiman dan pertanggungjawaban. Dengan demikian, dunia dan kehidupan manusia menjadi seperti sebuah sandiwara. Allah sebagai penulis skrip skenario merangkap sutradara, dan manusia sebagai pemeran-pemerannya. Ini pandangan yang keliru.
    Banyak orang salah memahami mengenai kehendak bebas manusia. Misalnya, dalam hal terjadinya perubahan atau pertobatan seseorang, banyak orang berpikir bahwa Allah masuk dalam pikiran dan perasaan seseorang, lalu Allah mengubah pikiran dan perasaan seseorang agar bisa berkehendak untuk bertobat. Dengan pengertian ini, orang berpikir bahwa secara spektakuler, ajaib, dan mistis, seseorang diubahkan oleh Allah. Ini berarti manusia tidak memiliki kebebasan sama sekali, semua ditentukan oleh Allah. Jadi, kalau ada orang bisa bertobat dan menjadi manusia yang baik, hal itu diyakini karena Allah secara sepihak dalam kedaulatan-Nya mengerjakannya. Dan kalau ada orang menjadi jahat kemudian masuk neraka, hal itu karena Allah tidak menggarapnya, sehingga membuatnya tidak masuk surga; dengan kalimat lain, Allah yang mengeraskan hatinya. Ini ajaran yang tidak benar.
    Sebenarnya, Allah mengubah orang percaya, selain dengan pengertian mengenai kebenaran Fiman dalam bimbingan Roh Kudus, juga melalui faktor eksternal dari kehidupan seseorang, yaitu dengan kejadian-kejadian hidup yang dialaminya. Namun demikian, walau Allah mengizinkan suatu peristiwa terjadi dalam kehidupan seseorang untuk maksud-maksud tertentu, tetapi bagaimana pun hasilnya kembali tergantung kepada masing-masing individu. Ini berarti, walaupun Allah mengadakan suatu peristiwa yang dialami seseorang, tidak mutlak membawa dampak yang sesuai dengan maksud Allah, sebab tergantung dari respons individu. Dalam hal ini, Allah tidak memaksakan kehendak-Nya dengan cara apa pun. Allah adalah Pribadi yang konsekuen dan konsisten atas tatanan-Nya, yaitu memberi kebebasan kepada masing-masing individu dalam merespons kasih karunia yang Allah berikan.
    Dalam menegakkan tatanan dimana Allah memberi kehendak bebas kepada manusia, Allah tidak memaksa seseorang menjadi jahat atau menjadi baik. Seperti misalnya, Alkitab mengatakan bahwa Allah mengeraskan hati Firaun. Itu bukan berarti Allah masuk dalam hati dan pikiran Firaun, kemudian secara mistis Allah membuat pikiran dan perasaan Firaun menjadi keras. Tetapi, yang benar adalah Allah merancang kejadian-kejadian yang dapat membuat hati Firaun menjadi keras. Allah berkata kepada Musa bahwa Firaun memang tidak akan melepaskan bangsa itu (Kel. 3:19). Memang Firaun tersebut sangat jahat. Dinasti Firaun di zaman Musa telah menindas bangsa Israel puluhan tahun,
    0 min
  • AllAH MEMBERI KEKUATAN
    Terdapat kesalahan yang bisa memenjara pikiran sehingga berakibat seseorang tidak menjalani kehidupan iman yang sejati. Kesalahan tersebut berangkat dari ketidaktepatan memahami Efesus 2:1. Efesus 2:1 tertulis: “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” Kata “mati” di sini sering dipahami bahwa manusia tidak sanggup sama sekali untuk merespons kasih karunia Allah. Sehingga, dibangun pemahaman bahwa manusia hanya menerima saja tindakan Allah sepihak untuk dapat menerima kasih karunia yang di dalamnya terdapat keselamatan. Mereka berpandangan bahwa manusia bisa merespons kasih karunia hanya karena intervensi Allah secara penuh dan sepihak di dalam diri manusia, yang menggerakkan seseorang dapat menerima kasih karunia Allah. Jadi, semua dikerjakan oleh Allah. Dan dengan demikian, manusia tidak berperan sama sekali.
    Sebenarnya, kata “mati” di sini berarti bahwa manusia tidak dapat mencapai kehidupan seperti rancangan Allah semula. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Manusia tidak mampu mencapai kesucian dengan standar yang Allah kehendaki. Manusia tidak lagi berkodrat ilahi, tetapi berkodrat dosa. Kejatuhan manusia ke dalam dosa bukan berarti manusia menjadi jahat seperti binatang, tetapi manusia tidak mampu mencapai kesempurnaan seperti Bapa. Dengan usahanya sendiri, manusia tidak mampu kembali seperti rancangan semula. Dalam hal ini, perlu intervensi Allah untuk menyelamatkan manusia dengan menyediakan kasih karunia di dalam atau melalui salib Yesus. Orang yang menjadi umat pilihan dituntun untuk dapat dikembalikan ke rancangan semula. Dalam hal ini, Allah menyediakan kasih karunia, dan manusia harus meresponsnya secara proporsional. Manusia yang menerima tuntunan Allah dapat mewujudkan maksud keselamatan diberikan untuk manusia.
    Dalam keadaan manusia yang jatuh dalam dosa, manusia tidak akan mampu mengangkat dirinya sendiri menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Inilah yang disebut mati. Manusia membutuhkan kasih karunia. Tetapi, manusia harus menyambut uluran tangan Allah tersebut dengan memberi diri digarap oleh Allah. Untuk ini, seseorang yang mau diselamatkan harus melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33). Kalau seseorang tidak mau melepaskan segala sesuatu—seperti orang muda kaya di Matius 19—maka keselamatan tidak bisa dimiliki dan terwujud dalam hidupnya. Tetapi kalau seseorang berani melepaskan dirinya dari segala ikatan percintaan dunia—seperti Zakheus—maka keselamatan dapat terjadi di dalam hidupnya dan keluarganya (Luk. 19:9).
    Bila proses keselamatan dikerjakan oleh Allah sendiri secara sepihak, berarti orang percaya tidak perlu bertindak apa pun. Pengajaran ini menutup mata pengertian orang sehingga tidak ada usaha yang sungguh-sungguh untuk berjuang mewujudkan keselamatan yang sejati dari bangunan iman yang benar. Padahal, manusia harus memiliki tanggung jawab dalam merespons kasih karunia. Itulah sebabnya, Yesus mengatakan bahwa orang percaya harus masuk jalan sempit untuk mengalami dan memiliki keselamatan (Luk. 13:23-24). Jadi, kalau seseorang mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, ia harus berusaha menggunakan fasilitas keselamatan agar bisa menaruh pikiran dan perasaan Kristus, atau menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah. Hal ini harus diperjuangkan, sebab tidak bisa terealisasi secara otomatis.
    Keselamatan tidak terwujud dan dimiliki dengan sendirinya karena memang Allah tidak secara sepihak mengerjakan keselamatan di dalam diri seseorang. Keselamatan juga harus dikerjakan masing-masing individu. Pandangan banyak orang adalah bahwa Allah-lah yang mengerjakan keselamatan tanpa peran manusia sama sekali. Hal ini didasarkan pada Filipi 2:13. Mereka mengutip teks tersebut tanpa memerhatikan teks lain dalam pasal tersebut. Padahal, dalam teks sebelumnya, tertulis agar orang percaya berusaha menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus (Flp. 2:5). Lagipula,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…