Apakah Allah tidak tahu kalau Firaun akan selalu mengingkari janji setiap kali ia berjanji mau melepaskan bangsa Israel setelah tulah diangkat? Tentu saja Allah tahu, tetapi Allah selalu melakukan apa yang diminta Firaun. Allah tidak berkata kepada Musa bahwa Firaun akan mengingkari janji. Allah membiarkan hal itu berlangsung berulang-ulang. Dengan cara itu, hati Firaun menjadi keras. Demikianlah, Allah tidak masuk ke dalam pikiran atau hati seseorang untuk mengubahnya: menjadi keras atau menjadi lembut. Tetapi, melalui kejadian-kejadian yang dialami, dalam kehendak bebasnya, respons seseorang terhadap kejadian-kejadian tersebut bisa membuat hatinya menjadi keras atau lembut (Kel. 7-10). Karena hati Firaun memang jahat, responsnya terhadap apa yang terjadi bersifat negatif, maka hati Firaun menjadi keras. Jadi, pilihan dan keputusan akhir tetap pada individu, apakah hatinya menjadi keras atau tidak.
Allah juga membuat hati Firaun menjadi keras ketika orang-orang Mesir kena barah, baik rakyat maupun ahli-ahli sihirnya, tetapi Firaun sendiri tidak terkena barah. Melalui kejadian ini, hati Firaun dikeraskan. Ini adalah prinsip penting, seperti kisah Yudas. Allah tidak berintervensi ke dalam hati Yudas yang membuat Yudas menjadi tidak jujur, tidak setia, dan jahat, sehingga mengkhianati Gurunya. Yudas menjadi pengkhianat atas kehendaknya sendiri, tentu hasil dari pertimbangan pikiran dan perasaannya dalam perjalanan waktu panjang. Yudas sudah terbiasa tidak jujur mengenai keuangan, maka ia menjadi tidak setia dan jahat.
Sangatlah tidak mungkin—berangkat dari alasan bahwa Allah menetapkan Yudas menjadi pengkhianat—Allah berintervensi masuk dalam hati Yudas dan membuat Yudas memiliki hati yang tidak jujur, tidak setia, dan jahat. Memang ada nubuatan bahwa satu dari antara orang-orang dekat Yesus akan mengangkat tumitnya melawan Yesus. Namun, harus dipahami bahwa nubuatan itu bukan penetapan. Nubuatan diberikan guna membuktikan bahwa Yesus adalah Juruselamat yang benar, bahwa Yesus dari Nazaret adalah Utusan Allah yang benar, bukan yang lain. Jadi, kalau ada orang lain mengaku sebagai utusan Allah, harus dipertanyakan: Apakah ada verifikasi atau pembuktiannya yaitu nubuatan mengenai “utusan” tersebut? Perjalanan hidup Yesus dari lahir di Betlehem, masuk Yerusalem naik keledai, dikubur lalu bangkit, semua sudah ada nubuatannya. Termasuk nubuatan bahwa satu dari orang dekat-Nya akan berkhianat kepada-Nya (Mzm. 41:9-10). Banyak peristiwa yang terkait dalam hidup Yesus sudah ada nubuatan sebelumnya. Semua nubuatan meneguhkan kebenaran Injil.
Ketika Yesus mulai memilih murid-murid-Nya, Dia berkata bahwa satu di antara murid-murid itu Iblis (Yoh. 6:70) Hal itu dikatakan Yesus karena memang sudah ada nubuatan bahwa salah satu yang dekat dengan Dia akan berkhianat. Tetapi, orang tersebut tidak harus Yudas, bisa siapa saja salah satu dari murid-murid Yesus. Yudas tidak dirancang untuk berkhianat. Kalau melihat perjalanan hidup Yesus selama di bumi, justru Petruslah yang pernah dihardik Yesus dengan perkataan: “Enyah, Iblis!” dan bukannya Yudas (Mat. 16:23; Mrk. 8:33). Namun demikian, ternyata Yudaslah pengkhianatnya.
Di hari-hari terakhir setelah diketahui bahwa Yudas yang akan berkhianat, Yesus berkata kepada Petrus, “Petrus, Iblis siap menampi kamu. Tapi Aku berdoa untuk kamu kepada Allah, supaya kamu kuat. Dan kalau kamu sudah kuat, kamu ingatkan saudara-saudaramu.” (Luk. 22:31-32). Mengapa Yesus berdoa hanya untuk Petrus, tetapi tidak berdoa untuk Yudas? Setelah sekian lama hidup bersama dengan Yudas, Yesus tahu ternyata memang Yudas orang yang dinubuatkan akan mengkhianati Yesus, yaitu setelah ia selalu mencuri uang kas dan menjual Gurunya. Namun, rupanya Iblis menuntut agar Petrus juga terhilang, padahal yang dinubuatkan hanya satu. Itulah sebabnya, Yesus berdoa untuk Petrus agar tidak terhilang, dan faktanya, kemudian Petrus bertobat. Pertobatannya melalui suara ayam berkokok.