Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • PANDANGAN YANG TERSANDERA
    Banyak teolog hari ini tidak mempertimbangkan bahwa pandangan para teolog masa lalu dan keputusan-keputusan konsili sangat dipengaruhi oleh keadaan zaman pada waktu itu. Tentu saja berbagai unsur ikut memengaruhi keputusan-keputusan tersebut, baik unsur politis, nafsu ingin berkuasa dalam pemerintahan atau gereja dengan segala ambisi, serta berbagai faktor lain. Kenyataannya, sejarah gereja mencatat, dalam pertemuan-pertemuan para pimpinan gereja, terjadi perdebatan-perdebatan yang bernuansa permusuhan. Perdebatan-perdebatan tersebut berbuntut pada pemecatan jabatan uskup, pemecatan jabatan pengajar dan pemimpin gereja, pengutukan, sampai pada pengucilan. Tidak sedikit mereka yang dianggap salah dinyatakan sebagai sesat dan dikutuk. Pada konsili-konsili—yang dimulai dari konsili Nicea tahun 325 ketika kekristenan mulai diterima oleh kaisar Roma (Konstantin) yang kemudian dijadikan sebagai sebagai agama negara (tahun 380 oleh kaisar Theodosius)—hal-hal yang terkait dengan Tritunggal dan Kristologi menjadi pokok masalah utama atau agenda penting yang mewarnai konsili-konsili tersebut, dan yang menimbulkan pertikaian serta berdampak pada perpecahan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka terjebak dalam kehidupan kristiani Allah dalam fantasi. Allah hanya dinalar, bukan dialami.
    Menyinggung sekilas konsili Nicea, demi menemukan pandangan jujur mengenai isi Alkitab, perlu dikemukakan di sini. Setelah masa aniya surut—khususnya setelah pemerintahan kaisar Deokletianus—terjadi pergeseran dalam kehidupan orang-orang Kristen. Orang-orang Kristen, terutama para pemimpinnya, lebih fokus pada perdebatan-perdebatan doktrin. Hal ini sampai ke telinga Kaisar Konstatinus. Kaisar sebelumnya (Kaisar Deokletianus) memiliki kegagalan atau kelemahan dalam pemerintahan, yaitu untuk menyatukan kekaisaran Roma yang wilayahnya memang sangat luas. Kericuhan yang menimbulkan perpecahan di kalangan orang Kristen yang pada waktu itu sudah memiliki pengaruh kuat di masyarakat, dipandang oleh kaisar Konstantinus sebagai bahaya bagi negara.
    Kaisar Konstantinus mengumpulkan para tokoh atau pemimpin Kristen untuk berunding di kota kecil Nicea yang letaknya berdekatan dengan Konstantinopel demi persatuan masyarakat Roma, bukan demi kebenaran Alkitab. Konsili itu sendiri hanya dihadiri oleh 300 pemimpin Kristen yang konon sebagian tidak memahami teologi Alkitab, dari hampir sekitar 2000 pemimpin Kristen dan teolog yang ada pada waktu itu. Kaisar sendiri pada waktu itu belum dibaptis dan tidak menguasasi teologi Kristen. Demi menyatukan pemerintahannya, ia berpihak kepada Athanasius. Kaisar sendiri sebenarnya tidak tertarik dengan urusan doktrin. Dirinya sendiri juga sebelum meninggal, dibaptis oleh Eusebius yang sepaham dengan Arius, yang mewarisi ajaran Origenes, lawan dari Athanasius. Harus diakui bahwa hasil keputusan konsili lebih untuk kepentingan politis daripada menegakkan kebenaran Alkitab.
    Semua hal di atas menjadi peta buruk bagi wajah kekristenan dalam sejarah gereja, sebab Tuhan tidak mengajarkan bentuk perdebatan, permusuhan, bahkan sampai pengucilan dan kutukan. Tidak mengherankan kalau gereja pada waktu itu tidak bisa menyelamatkan masyarakat Roma dari kebobrokan moral serta keruntuhan pemerintahannya, walau pada waktu itu Roma sudah mulai di-Kristen-kan. Sejak memasuki abad kelima, gereja mengalami masa kegelapan. Oleh sebab itu, hasil keputusan konsili-konsili tidak boleh menjadi landasan atau acuan pengajaran orang percaya di sepanjang zaman, dan tidak boleh dianggap memiliki kewibawaan sejajar dengan Alkitab. Sebab telah tebukti, hasil keputusan konsili tidak membuat orang Kristen memiliki percaya atau kehidupan Kristiani yang benar, malah memasuki masa kegelapan gereja. Banyak teolog telah berhenti menggali kembali Alkitab sebagai narasumber satu-satunya yang seharusnya menjadi landasan, acuan, dan anchor utama dalam menggali kebenaran ajaran gereja. Sejatinya, dalam menggali kebenaran,
    0 min
  • BUKAN SUDAH FINAL MUTLAK
    Fenomena yang tidak dapat dihindari dalam lingkungan dunia teologi Kristen hari ini adalah sikap dalam memandang doktrin atau ajaran, dimana banyak para teolog yang hanya mengikuti pandangan para teolog terdahulu, serta hasil keputusan konsili-konsili yang usianya sudah lebih dari seribu lima ratus tahun. Sehingga, pandangan mereka mengenai doktrin atau ajaran adalah teologi Origenes, teologi Tertulianus, teologi hasil konsili, teologi Athanasius, teologi Arius, teologi Martin Luther, teologi Calvin, teologi Bulman, dan lain sebagainya; bukan teologi biblika atau teologi Alkitab. Padahal, seharusnya pandangan mengenai suatu doktrin atau teologi dilandaskan pada Alkitab secara murni, tidak tergantung dan ditentukan oleh pandangan siapa pun dan apa pun.
    Pandangan para teolog masa lalu tentu memberi kontribusi yang sangat berharga, tetapi bukan sesuatu yang final atau dipandang sebagai segalanya atau standar penentu dan ukuran kebenaran. Sebagian teolog dan gereja hari ini menganggap bahwa semua pandangan yang sudah ada dari para teolog masa lalu, termasuk semua keputusan konsili, adalah kebenaran mutlak atau final yang sejajar dengan kebenaran Alkitab. Hal ini mengisyaratkan seakan-akan pandangan manusia secara individu dan komunitas seperti konsili (tidak semua yang hadir dalam konsili setuju) serta gereja adalah sejajar dengan kewibawaan Alkitab. Seharusnya, standar penentu dan ukuran kebenaran adalah Alkitab sendiri, yang tidak tergantikan oleh apa pun. Oleh karena usaha mengeksplorasi Alkitab tidak berhenti, maka tidak boleh ada pandangan teologi atau doktrin yang secara ajeg sudah dianggap final mutlak. Kalau ada pandangan teologi yang dianggap sudah benar secara final mutlak, itu adalah sikap yang tidak menghargai Alkitab.
    Hal di atas dikemukakan bukan bermaksud meremehkan para teolog masa lalu dan keputusan konsili-konsili yang telah diakui gereja lebih dari seribu lima ratus tahun. Hasil karya mereka bisa sangat efektif bagi kekristenan pada zamannya, tetapi di zaman ini, dibutuhkan penyingkapan kebenaran dalam mengarungi dunia yang telah sangat berbeda dalam banyak aspek dan sudah sangat lebih jahat. Pemikiran para teolog masa lalu dan keputusan konsili-konsili bisa menjadi landasan atau titik tolak dan pijakan dari penyingkapan-penyingkapan kebenaran yang Tuhan anugerahkan bagi generasi pada zamannya; tetapi untuk hari ini, tidak selalu demikian. Namun paling tidak, bisa menjadi bahan pertimbangan. Itulah sebabnya, orang percaya bersyukur, Tuhan telah memakai mereka pada zamannya. Tidak sedikit pandangan para teolog yang sampai hari ini menjadi pilar kebenaran yang tidak perlu diubah atau dikoreksi sama sekali. Tetapi, tidak menutup kemungkinan, ada pandangan-pandangan para teolog dan hasil keputusan konsili yang harus dan memang perlu dikoreksi, demi kebenaran baru yang Tuhan singkapkan untuk zaman sekarang.
    Di zaman yang berbeda, apalagi zaman kita sekarang—dimana kejahatan semakin memuncak, yang tidak pernah terjadi pada zaman sebelum kita hari ini—dibutuhkan kebenaran-kebenaran yang kuat yang dapat membekali jemaat guna mengantisipasinya. Allah masih hadir di tengah-tengah umat dan akan selalu hadir memberikan bimbingan-Nya di dalam dan melalui Roh Kudus. Alkitab yang memuat kebenaran-kebenaran yang tidak terbatas, seperti sumur yang tidak pernah kering, yang dapat ditimba kebenarannya guna kebutuhan orang percaya pada zaman ini. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak merasa cukup puas dengan pandangan para teolog masa lalu dan keputusan-keputusan konsili. Alkitab memiliki kekayaan yang jauh lebih hebat dari padangan para teolog tersebut dan semua keputusan konsili.
    Di satu pihak, kita memang harus menghargai dan terus mempertimbangkan doktrin atau ajaran teolog-teolog masa lalu dan buah pikiran dari keputusan-keputusan konsili, tetapi di pihak lain, kita harus memburu kebenaran dari dalam isi Alkitab, guna kebutuhan umat hari ini.
    0 min
  • MAWAS DIRI
    Memang ada kitab suci yang diakui sebagai wahyu yang memuat penjelasan mengenai Allah, yang dari kitab suci tersebut, manusia bisa mempelajari dan mengenal Dia. Tetapi, kitab suci tidak bisa berbicara sendiri. Kitab suci juga berpotensi dan membuka peluang tanpa batas untuk melahirkan berbagai interpretasi yang terkristal dalam doktrin dan berbagai ajaran. Sejarah gereja mencatat adanya perdebatan-perdebatan teologi yang membuahkan percideraan yang membangun pemikiran seakan-akan pengetahuan mengenai Allah atau teologi menentukan secara absolut kualitas kerohanian seseorang. Itulah sebabnya, kalau ada gereja atau seseorang memiliki doktrin atau ajaran yang tidak sesuai dengan doktrin atau ajarannya, dengan sangat mudah ditunjuk sebagai sesat. Biasanya, penilaian sesat tersebut juga didasarkan pada apakah teologi seseorang sesuai dengan teologi para tokoh teolog masa lalu atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan teolog masa lalu menjadi tolok ukur atau parameter kebenaran.
    Secara tidak langsung, ini adalah tindakan subversif terhadap Alkitab, yang seharusnya menjadi tolok ukur atau parameter kebenaran yang mutlak atau absolut. Setiap orang dari perspektifnya bisa mengklaim doktrin atau ajarannya paling benar. Siapa sebenarnya yang ajarannya paling benar? Kalau ada satu-satunya Allah yang benar, berarti ada banyak agama atau kepercayaan yang salah. Mengapa Allah yang benar tidak bertindak menghukum atau menghapuskan agama atau kepercayaan yang salah? Allah yang benar tersebut seakan-akan berdiam diri, sehingga banyak orang masih terkungkung dalam agama atau ajaran yang salah. Dalam lingkungan Kristen yang memiliki satu Alkitab, satu Juruselamat, dan satu Sesembahan—yaitu Allah atau Elohim Yahweh—ternyata terdapat banyak aliran gereja atau denominasi; dalam hal ini, berarti ada yang paling benar, agak benar, dan yang salah atau sesat. Tetapi faktanya, Allah juga berdiam diri, tidak secara terang-terangan dan terbuka menunjuk siapa yang benar dan yang sesat. Sehingga, terjadi perdebatan-perdebatan, saling menyalahkan dan menuduh, bahkan dengan mudah menuduh yang lain sesat.
    Terkait dengan hal adanya ajaran yang sesat, Yesus mengemukakan bahwa Allah membiarkan “gandum dan lalang tumbuh bersama,” ini artinya Allah membiarkan di dalam gereja ada ajaran sesat yang tumbuh bersama-sama dengan kebenaran sampai pada akhir zaman (Mat. 13:24-30). Nanti pada akhir zaman, baru dibuktikan mana yang gandum dan mana yang ilalang. Jadi, penyesatan pasti ada seperti yang juga dikemukakan oleh Yesus di dalam Matius 18:6-7, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.”
    Pernyataan Yesus di atas mestinya membuat kita mawas diri dan mengoreksi diri dengan sungguh-sungguh, sebab besar kemungkinan, kita sendirilah penyesat itu. Orang-orang yang menganggap teologi adalah ancaman, bisa terjebak pada mistisisme yang sangat subjektif, sehingga tidak menemukan kebenaran yang objektif dari Alkitab. Dewasa ini, banyak pendeta dari aliran gereja tertentu—dengan dalih bahwa mereka dipimpin Roh Kudus—mengajarkan berbagai ajaran yang tidak sesuai dengan nafas kebenaran Alkitab yang sejati. Subjektivitas yang tidak didasarkan pada penggunaan logika secara maksimal dalam mengeksplorasi Alkitab melahirkan doktrin dan ajaran yang menyimpang dari kebenaran.
    Dari pihak lain, terdapat komunitas orang-orang yang sangat tekun berteologi, tetapi mereka kurang atau bahkan tidak sungguh-sungguh berusaha menjumpai Allah. Bagi mereka, semua materi pandangan teologi dalam dunia akademis sudah cukup membuat mereka mengalami perjumpaan dengan Allah. Bagi mereka, ruang-ruang kuliah, auditorium seminar, dan perpustakaan adalah ajang pertemuan dengan Allah.
    0 min
  • PETA BURUK KOMUNITAS KRISTEN
    Sejak konsili Nicea (tahun 325), para teolog menjadikan isi Alkitab sebagai bahan perdebatan yang melahirkan pertikaian dan percideraan. Hal ini bukan saja menyakiti sesama, tetapi juga menyakiti hati Tuhan. Ironisnya, hal tersebut terjadi justru ketika masa aniaya terhadap orang Kristen sudah mulai surut, ketika penguasa-penguasa dunia bersikap ramah terhadap kekristenan, yaitu dari awal abad ke-3. Kualitas kehidupan iman orang Kristen malah merosot. Kehidupan iman yang meneladani kehidupan Yesus dan pemberitaan Injil yang berani digantikan dengan perdebatan-perdebatan teologi, sampai hari ini diwarisi oleh orang-orang Kristen yang tidak mengalami Allah, yaitu orang-orang Kristen yang berurusan dengan Allah dalam fantasi. Sejak kekristenan menaklukkan Eropa—dimana kaisar-kaisarnya menjadi orang Kristen, dari Konstantinus sampai Theodosius Agung, yang menjadikan kekristenan sebagai agama negara (tahun 380)—Roma malah menjadi ambruk, dan gereja mengalami masa kegelapan.
    Ketika suatu lembaga seperti gereja atau individu memiliki wewenang untuk menentukan seseorang sesat atau tidak dan kemudian memberikan hukuman, itu berarti ia mengambil alih wewenang Tuhan. Jika hal menyatakan seseorang salah atau sesat dilakukan oleh rasul-rasul—seperti Paulus—kita bisa menerimanya. Sebab, kita percaya mereka adalah orang-orang yang dipercayai Allah untuk menerima “tongkat estafet” dari Allah, guna meneruskan dan melegalkan ajaran Yesus. Merekapun melakukannya tidak disertai dengan hukuman secara fisik atau hukuman lain yang menyiratkan suatu kebencian. Hal ini sangat berbeda dengan gereja-gereja setelah abad ke-3, dimana teologi menjadi bahan perdebatan untuk memuaskan ambisi dan arogansi.
    Hari ini, teologi juga menjadi komoditas untuk menjadikan seseorang memiliki prestise di kalangan orang beragama, khususnya pada kalangan akademisi di seminari atau sekolah tinggi teologi. Dengan hal ini, tidak heran kalau teologi juga menjadi komoditas guna memperoleh uang semata-mata. Panggilan sebagai teolog sebenarnya sangat luar biasa, dimana seorang teolog bisa menjadi jurubicara Allah untuk memberi keterangan tentang Allah, dan bagaimana membangun hubungan dengan Dia. Tetapi, kalau hanya menjadi sarana untuk memperoleh uang, harga diri, dan jabatan di lingkungan komunitas Kristen—baik di gereja, yayasan Kristen, lembaga Kristen, dan seminari atau sekolah tinggi teologi—berarti sebuah pengkhianatan terhadap Allah. Tidaklah salah kalau seseorang yang dipanggil Tuhan untuk menjadi pengajar atau pengkhotbah dengan pengetahuan teologi mendapatkan nafkah dari panggilannya, tetapi bukan karena nafkah tersebut ia berteologi.
    Orang-orang yang menjadikan teologi sebagai alat untuk “mengangkat diri” dan memperoleh uang, didorong oleh ketidakmatangan mental dan spiritualnya, dan menggunakan media sosial sebagai sarananya. Mereka mengisi media sosial dengan perkataan-perkataan tajam untuk menyerang gereja lain dan individu, dan sebisanya yang diserang adalah mereka yang sudah memiliki popularitas, demi memperoleh perhatian netizen dan sekaligus memperoleh uang. Tentu alasan mereka melakukan hal itu adalah untuk “meluruskan” ajaran. Untuk itu, mereka menilai pandangan orang lain dan tidak segan-segan mengomentarinya dengan tuduhan sesat. Perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka tidak bermartabat sebagai teolog yang santun, yang kemudian memancing dan memicu orang lain melakukan hal sama. Sebagai akibatnya, kepercayaan jemaat kepada gereja dan jabatan pendeta menjadi rusak.
    Akibat dari hal ini, pasti ada yang menjadi korban. Satu aspek, munculnya orang-orang yang suka menyerang ajaran orang lain bisa bernada positif—yaitu ketika pendeta-pendeta yang tidak mengajarkan kebenaran ditelanjangi—tetapi aspek yang lain, bisa juga terjadi penghakiman dan tuduhan yang menyesatkan terhadap pendeta-pendeta yang mengajarkan kebenaran. Orang-orang yang suka menghakimi orang lain di media sosial terkait dengan pengajaran menjadi lepas kendali,
    0 min
  • KUDETA TERHADAP ALLAH
    Karena Allah tidak kelihatan dan seakan-akan diam, maka hal ini berpotensi atau memberi peluang bagi seseorang untuk bisa memberikan pandangan mengenai Dia sesuka-sukanya dan sebebas-bebasnya. Teologi dimanipulasi menjadi komoditas dalam berbagai aspek, termasuk untuk kepentingan politik. Dalam sejarah gereja—khususnya sejak kaisar Roma memberi maklumat yang disebut sebagai maklumat Milan (edict of Milan), dimana orang Kristen diberi keleluasaan untuk menjalankan keimanannya pada tahun 313—pada dekade itu, kekristenan mulai diterima oleh negara dan masyarakat luas, kaisar-kaisar Roma mulai memeluk agama Kristen, teologi menjadi alat politik kaisar demi mempersatukan masyarakat. Tetapi, para teolog dan pemimpin gereja tidak sadar kalau mereka diperalat oleh kaisar, sehingga terjadi pertikaian teologi yang menyakitkan antara mereka.
    Sampai hari ini, kebiasaan melakukan perdebatan teologi yang membuahkan percideraan diwarisi oleh orang-orang Kristen yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah secara benar. Perdebatan yang membuahkan percideraan bukanlah perilaku yang diajarkan oleh Yesus. Perdebatan-perdebatan tersebut hanya membangkitkan dan memuaskan kesombongan atau arogansi diri yang pasti membawa korban. Perbedaan selalu ada, tetapi tidak harus dibawa ke ranah perdebatan yang membuahkan percideraan. Kalau seorang Kristen benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah, ia tidak akan terjebak dalam perdebatan teologi yang melahirkan percideraan. Orang Kristen yang benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah dan “telah selesai dengan dirinya sendiri” pasti memiliki “roh yang lemah lembut dan tenteram” dalam seluruh perilakunya.
    Konsili Nicea (tahun 325) adalah bagian dari manuver pemerintah yang masih kafir untuk menghindari perpecahan di dalam wilayah kekaisaran, pada waktu mana kekristenan telah memiliki pengaruh luas di masyarakat. Mau tidak mau, kaisar sebagai kepala pemerintahan harus berpihak kepada kelompok yang diperkirakan memiliki kekuatan yang lebih besar. Seperti kaisar Konstantinus, ia lebih berpihak kepada Athanasius, sedangkan dirinya sendiri, sebelum meninggal dunia dibaptis oleh Eusebius, rohaniwan yang pandangan teologinya sama dengan Arius, lawan Athanasius. Baik Eusebius maupun Arius memiliki pandangan sama mengakar pada seorang teolog Origenes yang mengajarkan bahwa Bapa lebih besar dari Anak (subordinasionisme). Hal itu bertentangan dengan pandangan Athanasius yang dibela kaisar pada konsili Nicea.
    Kaisar Konstantinus memang sebenarnya tidak peduli teologi, ia hanya memedulikan kepentingan kekaisarannya. Ia menggunakan teologi hanya untuk kepentingan politik. Memang, ketika kaisar memprakarsai adanya konsili—yaitu pertemuan para teolog dan pemimpin gereja—pada waktu itu, dia sendiri belum dibaptis dan menurut catatan, ia masih memiliki hubungan dengan agama kafir dan masih duduk sebagai salah seorang imam tingginya (pontifex maximus). Sangat ironis, seorang imam agama kafir menjadi pemrakarsa sebuah pertemuan para hamba Tuhan yang mestinya bermartabat lebih dari siapa pun, bahkan lebih dari seorang kaisar. Pertemuan tersebut tidak membuahkan buah kehidupan yang baik yang menjadi kesaksian bagi masyarakat luas yang sebagian masih kafir. Pertikaian teologi merusak persaudaraan di dalam Tuhan yang diajarkan oleh Yesus dalam Yohanes 17:20-21, yaitu Ut omnes unum sint (supaya mereka semua menjadi satu).
    Kalau kita memerhatikan gereja mula-mula yang dikisahkan dalam Kisah Rasul, sama sekali tidak ada praktik pertikaian dari perdebatan teologi, apalagi sampai membuahkan percideraan. Sangat besar kemungkinan ada perbedaan pendapat antara para rasul atau orang Kristen mula-mula, sebab mereka baru menjadi orang Kristen. Selain faktor Roh Kudus yang menuntun mereka (sebagai faktor dominannya), mereka hidup dalam persekutuan yang benar dalam kasih Kristus yang mereka peragakan, sehingga tidak terjadi pertikaian seperti sejak maklumat Milan. Kalaupun sebelum maklumat Milan sudah ada perb...
    0 min
  • HANYA ILMU TENTANG ALLAH
    Allah dalam fantasi membuat orang masih bisa beragama dan mengadakan ibadahnya, tetapi sebenarnya semua itu palsu. Banyak teolog, para pemimpin gereja, dan jemaat Kristen dengan khidmat menyelenggarakan liturgi. Di dalamnya mereka berdoa, menyanyi sebagai pujian dan penyembahan kepada Allah, serta mengucapkan kredo (pengakuan). Tetapi sebenarnya mereka hanya berfantasi, sebab Allah yang dijadikan objek ibadah adalah Allah dalam fantasi. Mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup dalam perjalanan dengan Dia secara konkret. Mereka merasa puas hanya dengan pengalaman keberagamaan dalam semua liturgi dan seremonialnya, tetapi mereka tidak haus dan lapar untuk mengalami Allah secara riil. Sehingga, pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mengalami perjumpaan dengan Allah; mereka hanya berfantasi. Allah yang mereka puji, sembah, dan mereka percakapkan adalah Allah dalam fantasi semata-mata.
    Dalam kemerosotan kekristenan yang sudah berlangsung berabad-abad, Allah hanya menjadi isi pengetahuan yang disebut teologi. Teolog-teolog, pemimpin-pemimpin gereja, dan jemaat Kristen seperti ini menjadi cakap berbicara mengenai Allah. Mereka memiliki banyak buku yang memenuhi rak perpustakaan. Mereka juga cakap berdebat dan berapologetika—yaitu menjelaskan, meluruskan, atau mendebat mengenai iman Kristen dengan agama lain. Biasanya, mereka merasa sebagai orang-orang yang lebih mengenal Allah dibanding orang lain. Mereka merasa bahwa perjuangan studi teologi yang mereka lakukan adalah perjuangan untuk menemukan Allah. Padahal, yang mereka temukan hanyalah ilmu dalam nalar mengenai Allah atau teologi, bukan mengalami perjumpaan secara konkret dengan Allah. Ini berarti mereka belum menemukan Allah.
    Mengemukakan hal ini bukan berarti keliru mempelajari Allah dalam konteks berteologi, mendiskusikan, mengkhotbahkan, dan menuliskannya menjadi buku-buku, serta menyusunnya dalam berbagai format sistematika teologi. Tentu hal ini tidak salah, bahkan menjadi panggilan semua orang percaya untuk melakukannya dengan maksimal. Hendaknya, perjumpaan dengan Allah secara riil tidak kita anggap sepele, tetapi harus kita pandang sebagai sesuatu yang mutlak dilakukan. Ini adalah suatu perjuangan konkret, sebab Dia adalah Allah yang hidup. Allah yang nyata, realitas di atas segala realitas. Hendaknya, kita tidak menganggap bahwa menguasai teologi berarti sudah mengenal Allah. Mempelajari pengetahuan atau ilmu tentang Allah melalui berbagai media bukan sesuatu yang sulit, semua orang dapat melakukannya dengan mudah dengan mempertaruhkan sebagian hidupnya. Tetapi, yang lebih berat adalah perjuangan untuk mengalami perjumpaan dengan Allah dan berjalan dengan Dia secara nyata, sebab harga pertaruhannya adalah seluruh kehidupan.
    Allah dalam fantasi adalah allah yang tidak memiliki kuasa sama sekali—sebab hanya fantasi—dimana tentu tidak membawa dampak yang sesuai dengan maksud keselamatan diberikan atau tidak mengubah hidup secara proporsional. Allah dalam fantasi tidak membuat seorang Kristen mengalami perubahan kodrat guna mencapai maksud keselamatan diberikan. Tidak heran kalau banyak teolog, para pemimpin gereja, sampai jemaat tidak mengalami perubahan kodrat. Memang secara usia, melalui perjalanan waktu, seseorang bisa lebih bertambah tenang, bijaksana, dan baik—yang disebut sebagai dewasa mental—tetapi belum tentu itu merupakan sebuah perubahan kodrat menjadi seperti Yesus. Itulah sebabnya, di dunia hari ini nyaris tidak kita temukan manusia yang semakin serupa dengan Yesus. Pada umumnya, para teolog, pemimpin gereja, dan jemaat Kristen masih hidup dalam kewajaran seperti manusia lain yang bukan umat pilihan.
    Kalau seseorang benar-benar berjumpa dengan Allah, ia bukan hanya memiliki pengetahuan teologi, melainkan juga mengalami perubahan hidup yang secara ekstrem, yaitu menjadi serupa dengan Yesus. Sekarang ini, ajakan menggunakan ukuran sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus hampir lenyap sa...
    0 min
  • ALLAH DALAM FANTASI
    Fantasi dalam arti sempit adalah khayalan, gambar dalam angan-angan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam pikiran. Fantasi juga berarti hanya di dalam imajinasi atau bukan suatu realitas, sesuatu yang tidak nyata atau tidak riil. Kalau dikatakan Allah dalam fantasi, artinya Allah yang hanya ada di dalam angan-angan atau khayalan, bukan sungguh-sungguh Pribadi atau Entitas yang dijumpai dan dialami. Sedangkan, arti dari kata “virtual” adalah sesuatu yang pada mulanya memang tidak kelihatan atau secara langsung belum bersentuhan, tetapi ada atau nyata. Allah lebih dari “virtual,” Dia adalah realitas yang selalu “real time” dan benar-benar nyata bagi mereka yang sungguh-sungguh mau berurusan dengan Dia, dengan segala harga yang harus dibayar. Ciptaan Allah benar-benar nyata, dan tidak terbantahkan, baik makhluk hidup seperti manusia, alam, dan jagat raya yang sangat sempurna. Semua ini ada, tidak dengan sendirinya. Pasti ada yang merancang dan menciptakan. Dalam hal ini, keberadaan Allah nyata terbukti dari karya-Nya yang luar biasa.
    Kalau dikatakan “Allah dalam fantasi,” bukan berarti bahwa Allah adalah fantasi. Sejatinya, Allah adalah pribadi yang hidup, nyata, dan Dia adalah realitas, bahkan di atas segala realitas. Dia sudah ada dari kekal sampai kekal. Ia lebih dari segala realitas, sebab Dia sudah ada sebelum segala sesuatu ada. Dia tidak diciptakan dan tidak diadakan. Dia yang menciptakan segala sesuatu. Dikatakan “Allah dalam fantasi,” artinya Allah yang hanya dibicarakan dengan kata-kata lisan, Allah yang hanya dipelajari sebagai objek pengetahuan di seminari atau sekolah tinggi teologi, dalam pembahasan diskusi-diskusi, isi khotbah di mimbar-mimbar, konten perdebatan-perdebatan atau adu argumentasi, dan di atas lembar kertas sebagai buku, jurnal-jurnal, karya tulis, skripsi, tesis, serta disertasi.
    Allah dalam fantasi adalah Allah yang hanya ada di dalam angan-angan tanpa dialami secara konkret dalam kehidupan riil. Sebenarnya, banyak teolog, pemimpin gereja, dan jemaat Kristen yang masih hidup dalam keberagamaan kosong, yaitu memiliki Allah dalam fantasi. Mereka masih hidup dalam keberagamaan seperti itu karena memiliki pandangan yang salah mengenai pengertian percaya. Percaya dipandang hanya dari satu arah atau satu pihak saja, yaitu dari arah atau pihak manusia, tetapi tidak memerhatikan dari arah atau pihak Allah. Banyak orang Kristen merasa bahwa dirinya sudah memercayai Allah, tetapi tidak mempersoalkan apakah Allah yang dipercaya merasa dan mengakui kepercayaan orang Kristen tersebut. Mereka merasa sudah percaya dan mereka yakin Allah sudah menerima kepercayaan mereka itu. Kalau seseorang tidak mempersoalkan hal tersebut, pasti ia tidak merasa perlu benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah. Mereka membangun hidup kekristenan yang hanya didasarkan pada doktrin dan ajaran yang mereka mengerti, mereka yakini, dan mereka akui sebagai kebenaran. Mereka sibuk dengan doktrin atau sistematika teologi, tetapi mereka tidak sibuk dengan Allah secara pribadi. Itulah sebabnya, Allah yang mereka kenal adalah Allah yang hanya di nalar, bukan Allah yang dijumpai langsung secara konkret. Itulah Allah dalam fantasi.
    Cara beragama dan isi kegiatan rohani dalam gereja seperti itu sudah menjadi standar gereja dari abad ke abad selama ratusan tahun. Itulah sebabnya, gereja-gereja pada umumnya memiliki tradisi bahwa yang penting adalah seorang pelayan jemaat atau pendeta sudah lulus dari seminari atau sekolah tinggi teologi, maka sudah bisa mengambil bagian dalam pelayanan. Mereka memandang bahwa seminari atau sekolah tinggi teologi sudah cukup membekali seseorang menjadi seorang pelayan Tuhan. Hal ini disebabkan oleh pemikiran bahwa kekayaan pengetahuan teologi adalah tiang utama dalam pelayanan yang dapat menjawab semua kebutuhan jemaat. Semakin tahun, gereja mengalami kemerosotan yang sangat tajam, bahkan nyaris membuat kekristenan punah di negara-neg...
    0 min
  • PROSES BERTAHAP
    Konsep keliru mengenai kelahiran baru menyebabkan tidak adanya perjuangan secara individu dalam mengerjakan keselamatannya. Hal ini sangat berpotensi mengakibatkan seseorang tidak mengalami kelahiran baru. Konsep yang salah mengenai kelahiran baru tersebut adalah bahwa kelahiran baru dapat terjadi atau berlangsung pada orang-orang yang memang telah ditentukan oleh Allah secara sepihak untuk selamat. Mereka adalah orang-orang yang dibuat oleh Allah berkeadaan “tidak dapat menolak” anugerah keselamatan. Ini berarti mereka tidak bisa tidak, pasti mengalami kelahiran baru secara otomatis, walaupun tanpa respons sama sekali dari mereka secara individu. Dengan pemahaman yang tidak benar ini, banyak orang Kristen dikondisi dalam kehidupan wajar anak dunia yang tidak mengalami proses keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula.
    Konsep kelahiran baru di atas mengajarkan bahwa kelahiran baru bisa terjadi tanpa peran manusia sama sekali. Peran manusia diabaikan atau tidak diperhitungkan sama sekali. Biasanya, konsep kelahiran baru tersebut juga dipahami sebagai suatu peristiwa yang bersifat mistik dan adikodrati atau yang bersifat supranatural. Ini berarti mengabaikan tanggung jawab manusia. Tidak sedikit pembicara yang menyatakan bahwa kelahiran baru adalah mukjizat terbesar. Hal ini mengesankan adanya unsur supranatural dalam proses kelahiran baru. Kata “mukjizat” yang dikenakan pada fenomena kelahiran baru tersebut dimengerti oleh mereka sebagai peristiwa yang bersifat mistik dan adikodrati atau yang bersifat supranatural.
    Menurut mereka, kelahiran baru terjadi di luar kesadaran manusia. Dengan demikian, mereka juga meyakini bahwa kelahiran baru terjadi hanya atas tindakan Tuhan yang menentukan segala hal. Mereka meyakini bahwa hanya sebagian orang yang ditentukan oleh Allah untuk selamat yang dapat mengalami kelahiran baru, sedangkan yang lain tidak. Ini pandangan yang sangat keliru. Doktrin yang tidak benar ini tidak memiliki implikasi yang sewajarnya atau secara proporsional dalam kehidupan Kristen. Doktrin ini membunuh penerapan konkret kehidupan iman Kristen yang murni. Itulah sebabnya, dalam Kebaktian-Kebaktian Kebangunan Rohani, orang-orang yang merespons “altar call” dan menyatakan menerima Yesus dengan mudah, secara sembarangan dinyatakan sudah mengalami kelahiran baru.
    Selanjutnya, terbangun kesan bahwa semua orang Kristen yang pergi ke gereja, pada umumnya telah terpilih sebagai orang-orang yang pasti selamat masuk surga. Hal ini menyebabkan banyak orang Kristen tidak lagi memiliki perjuangan dalam keselamatan. Pada umumnya, gereja-gereja di Eropa menganut doktrin tersebut dan sebagai akibatnya, banyak gereja-gereja di Eropa mati; masyarakat Eropa hari ini seperti tidak pernah mengenal Injil. Ironisnya, banyak gereja di semua belahan dunia masih saja mewarisi ajaran yang tidak memiliki kuasa mengubah manusia sesuai dengan rancangan Allah tersebut, bahkan merasa bangga dengan melestarikan ajaran atau doktrin warisan tersebut, yang sebenarnya sudah tidak bisa menjawab kebutuhan zaman; ajaran atau doktrin yang tidak berkuasa.
    Alkitab menunjukkan bahwa Allah tidak akan mengendalikan kehidupan manusia di luar kesadaran manusia, hal ini sama artinya bahwa Roh Kudus tidak mengambil alih kehendak seseorang, sehingga orang tersebut tidak memiliki kesadaran atas dirinya sendiri. Kesadaran atas diri adalah hakikat kehidupan yang Allah berikan. Di sini letak keagungan manusia. Dalam hal tersebut, tampak fungsi pikiran dan perasaan yang membangun atau menciptakan kehendak yang dapat melahirkan kesadaran dalam diri manusia. Manusia tidak pernah menjadi robot yang tindakannya diatur dan dikendalikan oleh kekuatan di luar dirinya. Dengan demikian, dapatlah disimpulkan dengan tegas bahwa pengalaman kelahiran baru bukanlah hasil tindakan Allah sepihak, melainkan juga tergantung respons individu. Allah menyediakan kasih karunia, menawarkan, dan menggarapnya melalui Roh Kudus dan manusia harus merespo...
    0 min
  • MENJADI UTUSAN KRISTUS
    Orang Kristen yang tidak menyadari bahwa setiap orang percaya harus menjadi utusan Kristus, pasti tidak memiliki perjuangan yang proporsional. Setelah orang percaya berjuang dalam keselamatan—yaitu mengenakan kodrat ilahi, sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus—maka ia harus menolong orang lain juga mengalami proses dan perjuangan yang sama. Dalam Yohanes 20:21, Tuhan Yesus berkata: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Orang percaya harus meneruskan tugas Yesus yang sebelumnya diberikan Bapa kepada-Nya. Tentu saja, orang yang menjadi utusan Kristus harus memiliki kualifikasi seperti Yesus sendiri. Seorang utusan mewakili yang mengutusnya, karenanya seorang utusan harus seperti pengutusnya. Menjadi utusan Kristus berarti orang percaya menerima dan meneruskan mandat yang pernah diterima oleh Yesus dari Bapa. Mandat itu adalah menyelamatkan dunia. Menyelamatkan dunia artinya mengubah manusia agar sesuai dengan rancangan Allah semula. Setiap orang percaya harus menjadi sarana atau alat dalam tangan Allah untuk menyelamatkan dunia ini.
    Setelah Tuhan Yesus menyampaikan pesan-pesan terakhir-Nya, Tuhan Yesus terangkat ke surga. Yesus pernah berkata bahwa lebih berguna bagi orang percaya jika diri-Nya pergi. Sebab jikalau Dia tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepada orang percaya, tetapi jikalau Ia pergi, Dia akan mengutus Penghibur bagi orang percaya (Yoh. 16:7). Penghibur itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang mengajarkan segala kebenaran kepada orang percaya (Yoh. 16:7-8). Orang percaya dibawa kepada segala kebenaran (Yoh. 16:13). Selanjutnya, Roh Kudus memberikan kepada orang percaya kuasa untuk menjadi saksi guna meneruskan karya keselamatan yang telah dikerjakan Yesus di Bukit Golgota (Kis. 1:8; Yoh. 20:21). Dengan demikian, tidak ada orang percaya yang boleh tidak menjadi saksi Kristus. Mestinya, kehidupan sebagai saksi pasti sudah secara otomatis melekat di dalam hidup orang percaya, ke mana pun orang percaya berada, kehidupannya adalah kehidupan seperti garam yang di mana pun tetap asin dan memberi rasa atau mengawetkan. Orang percaya juga menjadi pelita yang menyala, di mana orang percaya berada, selalu pasti menerangi sekitarnya.
    Dengan kenaikan Tuhan Yesus ke surga, orang percaya dipanggil untuk bekerja keras, yaitu bertumbuh dewasa dan menjadi saksi meneruskan karya salib Yesus. Hidup sebagai utusan Kristus adalah sarana orang percaya memperoleh mahkota kehidupan. Dalam Yohanes 20:21, Yesus berkata: “Seperti Bapa mengutus Aku demikian pula aku mengutus kamu.” Tuhan Yesus telah naik ke surga, tetapi perkerjaan–Nya tidak berhenti. Roh Kudus datang meneruskan pekerjaan–Nya di dalam dan melalui kehidupan orang percaya sebagai utusan-utusan Kristus. Dengan demikian, setiap orang percaya harus menjadi saksi (Kis. 1:8). Ini suatu kehormatan besar, kalau Allah melayakkan orang percaya menjadi saksi Kristus, dan memberikan kesempatan untuk menjadi kawan sekerja Allah. Menjadi kawan sekerja Allah berarti melalui hidup orang percaya, Allah menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang, yaitu dengan mengubah mereka dari manusia berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi.
    Seorang utusan Kristus harus memiliki beban terhadap keselamatan orang lain sehingga memahami nilai jiwa manusia. Penghargaan terhadap nilai jiwa manusia ini dinyatakan dalam Firman Allah: “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2Ptr. 3:9). Demi keselamatan jiwa manusia, Yesus rela mengorbankan apa pun yang ada pada-Nya. Demikian pula orang percaya harus memikul gaya hidup ini. Menjadi utusan Kristus bukan hanya berarti berbicara mengenai Kristus, melainkan juga menampilkan kehidupan Yesus. Menjadi kehendak Bapa,
    0 min
  • INJIL YANG SEJATI
    Banyak orang hanya memahami Injil sekadar “kabar baik” tanpa memahami isi dan maksud kabar baik tersebut. Tentu pengertian “baik” harus dilihat dari perspektif atau sudut pandang Allah, bukan perspektif mana pun. Untuk memahami yang baik menurut Allah, kita harus mengerti rencana Allah dalam proses keselamatan dalam Yesus Kristus. Kalau seseorang membangun pengertian “baik” sesuai dengan pikirannya sendiri, maka keselamatan dalam Yesus Kristus tidak akan pernah dialami dan tidak pernah dimiliki. Ini berarti gagal menerima kasih karunia. Dalam hal ini, bisa dimengerti betapa pentingnya pengertian Injil yang benar. Menurut Allah, yang baik adalah keselamatan. Keselamatan bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Keselamatan adalah usaha Allah untuk memulihkan manusia agar segambar dengan diri-Nya atau sesuai dengan rancangan-Nya semula. Injil adalah sarananya, sebab Injil adalah kekuatan Allah (Rm. 1:16-17).
    Kalau pengertian “baik” diukur dengan ukuran berkat jasmani, yaitu dimana kebutuhan jasmani terpenuhi, itu berarti orang tersebut tidak mengerti Injil yang benar. Kalau pikiran disesatkan, maka seluruh kehidupannya juga sesat, sebab pikiran memainkan peranan yang penting dalam kehidupan seseorang, termasuk sikap hatinya. Pikiran yang salah membentuk sikap hati yang salah juga. Kalau seseorang tidak mengenal Injil yang benar, berarti ia tidak akan dapat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara benar. Menerima Yesus sebagai Juruselamat berarti setelah mengakui kurban-Nya di kayu salib, ia juga harus memberi diri untuk diubah. Menerima Dia sebagai Tuhan artinya bersedia tunduk kepada kehendak-Nya atau jalan pikiran-Nya, dan rencana-Nya. Untuk tunduk kepada Tuhan Yesus, kita harus mengerti kehendak-Nya dengan tepat.
    Dalam Matius 11:5, Yesus menyampaikan pernyataan-Nya bahwa orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dari pernyataan Yesus ini, secara logis dapat dikatakan bahwa orang buta membutuhkan mata, orang lumpuh membutuhkan kaki yang kuat untuk dapat berjalan, orang kusta membutuhkan pentahiran atas kulitnya yang teridap kusta, orang tuli membutuhkan pendengaran, dan orang mati membutuhkan jantung yang berdetak dan nadi yang berdenyut. Tetapi bagaimana dengan orang miskin? Jawaban logisnya adalah uang atau kekayaan. Dan inilah yang dipromosikan besar-besaran dewasa ini, sehingga hal ini memicu jemaat menjadikan Yesus sebagai Juruselamat duniawi. Benarkah bahwa isi kabar baik itu adalah kekayaan di dunia ini? Ternyata bukan. Dalam perspektif Allah, kebutuhan utama orang miskin bukanlah harta.
    Tidak sedikit orang Kristen yang mencari Tuhan hanya untuk pemulihan ekonomi, tubuh sehat, keluarga bahagia, pekerjaan baik dan lancar, jodoh sesuai idaman, memiliki keturunan yang baik, dan perkara fana lain. Sudah tentu, Tuhan bisa memberikan pemulihan atas hal-hal tersebut karena Ia terlalu sanggup, dan Tuhan juga sebenarnya berkenan memulihkan keadaan kehidupan jasmani umat-Nya, asal dipersembahkan bagi kemuliaan-Nya. Tuhan menghendaki agar kita memberi perhatian kepada apa yang menjadi maksud keselamatan diberikan. Bila Injil yang diberitakan hanya bermaksud mengangkat manusia dari masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, pada dasarnya itu adalah penyesatan. Akhirnya, bisa memunculkan pemikiran bahwa filsafat atau agama lain pun juga dapat menjawab kebutuhan inti manusia. Padahal, hanya Yesus yang dapat menjawab kebutuhan inti manusia.
    Dalam 2 Korintus 11:2-4, ditunjukkan kenyataan adanya pikiran jemaat yang disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus oleh “injil yang lain.” Inilah cara kerja Iblis yang menyesatkan. Kuasa kegelapan langsung menyerang ke jantung gereja. Ternyata Iblis bisa menyelenggarakan pemberitaan Firman Allah yang palsu yang dilegalisir sebagai “suara Tuhan.” Kenyataan seperti ini selalu ada dalam sejarah kehidupan uma...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…