Allah dalam fantasi membuat orang masih bisa beragama dan mengadakan ibadahnya, tetapi sebenarnya semua itu palsu. Banyak teolog, para pemimpin gereja, dan jemaat Kristen dengan khidmat menyelenggarakan liturgi. Di dalamnya mereka berdoa, menyanyi sebagai pujian dan penyembahan kepada Allah, serta mengucapkan kredo (pengakuan). Tetapi sebenarnya mereka hanya berfantasi, sebab Allah yang dijadikan objek ibadah adalah Allah dalam fantasi. Mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup dalam perjalanan dengan Dia secara konkret. Mereka merasa puas hanya dengan pengalaman keberagamaan dalam semua liturgi dan seremonialnya, tetapi mereka tidak haus dan lapar untuk mengalami Allah secara riil. Sehingga, pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mengalami perjumpaan dengan Allah; mereka hanya berfantasi. Allah yang mereka puji, sembah, dan mereka percakapkan adalah Allah dalam fantasi semata-mata.
Dalam kemerosotan kekristenan yang sudah berlangsung berabad-abad, Allah hanya menjadi isi pengetahuan yang disebut teologi. Teolog-teolog, pemimpin-pemimpin gereja, dan jemaat Kristen seperti ini menjadi cakap berbicara mengenai Allah. Mereka memiliki banyak buku yang memenuhi rak perpustakaan. Mereka juga cakap berdebat dan berapologetika—yaitu menjelaskan, meluruskan, atau mendebat mengenai iman Kristen dengan agama lain. Biasanya, mereka merasa sebagai orang-orang yang lebih mengenal Allah dibanding orang lain. Mereka merasa bahwa perjuangan studi teologi yang mereka lakukan adalah perjuangan untuk menemukan Allah. Padahal, yang mereka temukan hanyalah ilmu dalam nalar mengenai Allah atau teologi, bukan mengalami perjumpaan secara konkret dengan Allah. Ini berarti mereka belum menemukan Allah.
Mengemukakan hal ini bukan berarti keliru mempelajari Allah dalam konteks berteologi, mendiskusikan, mengkhotbahkan, dan menuliskannya menjadi buku-buku, serta menyusunnya dalam berbagai format sistematika teologi. Tentu hal ini tidak salah, bahkan menjadi panggilan semua orang percaya untuk melakukannya dengan maksimal. Hendaknya, perjumpaan dengan Allah secara riil tidak kita anggap sepele, tetapi harus kita pandang sebagai sesuatu yang mutlak dilakukan. Ini adalah suatu perjuangan konkret, sebab Dia adalah Allah yang hidup. Allah yang nyata, realitas di atas segala realitas. Hendaknya, kita tidak menganggap bahwa menguasai teologi berarti sudah mengenal Allah. Mempelajari pengetahuan atau ilmu tentang Allah melalui berbagai media bukan sesuatu yang sulit, semua orang dapat melakukannya dengan mudah dengan mempertaruhkan sebagian hidupnya. Tetapi, yang lebih berat adalah perjuangan untuk mengalami perjumpaan dengan Allah dan berjalan dengan Dia secara nyata, sebab harga pertaruhannya adalah seluruh kehidupan.
Allah dalam fantasi adalah allah yang tidak memiliki kuasa sama sekali—sebab hanya fantasi—dimana tentu tidak membawa dampak yang sesuai dengan maksud keselamatan diberikan atau tidak mengubah hidup secara proporsional. Allah dalam fantasi tidak membuat seorang Kristen mengalami perubahan kodrat guna mencapai maksud keselamatan diberikan. Tidak heran kalau banyak teolog, para pemimpin gereja, sampai jemaat tidak mengalami perubahan kodrat. Memang secara usia, melalui perjalanan waktu, seseorang bisa lebih bertambah tenang, bijaksana, dan baik—yang disebut sebagai dewasa mental—tetapi belum tentu itu merupakan sebuah perubahan kodrat menjadi seperti Yesus. Itulah sebabnya, di dunia hari ini nyaris tidak kita temukan manusia yang semakin serupa dengan Yesus. Pada umumnya, para teolog, pemimpin gereja, dan jemaat Kristen masih hidup dalam kewajaran seperti manusia lain yang bukan umat pilihan.
Kalau seseorang benar-benar berjumpa dengan Allah, ia bukan hanya memiliki pengetahuan teologi, melainkan juga mengalami perubahan hidup yang secara ekstrem, yaitu menjadi serupa dengan Yesus. Sekarang ini, ajakan menggunakan ukuran sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus hampir lenyap sa...