Kausalitas para teolog tidak menggali sendiri kebenaran Alkitab mengenai berbagai hal adalah karena mereka telah terjebak dalam konservatisme dan sikap primordialisme yang kuat. Selain itu, karena sulitnya mengurai doktrin-doktrin di dalam Alkitab, mereka menyerahkan diri begitu saja dengan mengikuti pandangan mengenai teologi yang sudah ada, yaitu hasil keputusan-keputusan konsili dan pandangan para teolog terdahulu. Hal ini menunjukkan, seakan-akan wahyu dan pengertian mengenai berbagai pokok pengajaran di dalam Alkitab hanya diberikan Allah kepada para teolog masa lalu, dan pandangan para teolog tersebut dipandang sudah final, sejajar dengan kebenaran Alkitab. Dengan sikap ini, Allah dipandang tidak lagi menyingkapkan kebenaran mengenai berbagai pokok ajaran yang termuat di dalam Alkitab di waktu-waktu kemudian. Dalam hal ini, seakan-akan pengertian mengenai berbagai pokok ajaran dalam Alkitab sudah tuntas dan final, sebab telah diajarkan atau diberikan oleh Allah kepada para teolog masa lalu. Sehingga, tidak ada lagi yang perlu disingkapkan; sudah tertutup bagi siapa pun yang ingin mengeksplorasi Alkitab lebih mendalam di waktu mendatang.
Jadi, sebenarnya banyak pandangan teologi manusia yang sudah menjadi landasan, acuan, dan anchor dalam membangun doktrin atau ajaran lebih daripada Alkitab itu sendiri, yaitu ketika mereka menulis buku, memberi pelajaran Alkitab, berkhotbah, memberikan seminar, dan merumuskan doktrin mengenai berbagai pokok tema ajaran dalam Alkitab. Tanpa disadari, mereka melecehkan atau merendahkan Alkitab, sebab menganggap tulisan dan ide para teolog dan hasil keputusan konsili sejajar dengan kebenaran Alkitab, bahkan dianggap dan diperlakukan lebih tinggi dari Alkitab. Sehingga, para teolog hari ini lebih memercayai pandangan para teolog masa lalu dan hasil-hasil keputusan konsili daripada menggali kebenaran Alkitab yang adalah sumber satu-satunya yang benar, valid, dan tidak berubah.
Biasanya, para teolog hari ini dan orang-orang Kristen pada umumnya, menganggap pandangan para teolog terdahulu dan hasil keputusan konsili-konsili sudah mutlak benar atau tidak salah sama sekali. Dengan demikian, mereka mengondisi keadaan dimana bukan Alkitab membawahi doktrin, melainkan doktrin yang membawahi Alkitab. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap Alkitab atau sikap subversif terhadap kebenaran Allah yang tertulis di dalam Alkitab. Selanjutnya, banyak teolog berpikir bahwa semua pandangan teolog masa lalu dianggap masih dan selalu “up to date” untuk kehidupan orang percaya kapan saja dan di mana saja, termasuk untuk orang percaya di abad milenial hari ini. Mereka memandang bahwa Alkitab sudah selesai digali atau dieksplorasi isinya, dan rumusan para teolog masa lalu sudah cukup menjawab kebutuhan orang percaya di sepanjang zaman dan di segala tempat. Secara tidak langsung, mereka menyandera pikiran orang percaya dengan pandangan manusia (teolog masa lalu) dan tidak mengakui otoritas Alkitab di atas segalanya.
Kalau ada pandangan-pandangan mengenai berbagai pokok yang terdapat dalam Alkitab yang muncul kemudian, yang tidak sesuai dengan pandangan para teolog masa lalu dan hasil keputusan konsili-konsili, maka langsung dipandang sesat tanpa terlebih dahulu meneliti dengan saksama menggunakan parameter teologis yang didasarkan pada Alkitab. Mereka tidak melakukan verifikasi berdasarkan Alkitab secara memadai, mendalam, jujur, cerdas, dan teliti. Biasanya, mereka memandang dan mengukur pandangan orang lain bukan berdasarkan Alkitab, melainkan berdasarkan pandangan para teolog yang sudah ada, dan hasil keputusan konsili-konsili yang diyakini dan diterima sebagai kebenaran mutlak oleh sebagian orang Kristen di seluruh dunia. Jadi, kalau suatu pandangan tidak sesuai dengan apa yang diyakini oleh sebagian besar orang Kristen pada umumnya, pandangan itu dianggap sesat. Seharusnya, dalam berteologi, orang percaya tidak menganut prinsip vox populi, voc Dei (Ing.