Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • PEMIMPIN GEREJA
    Mereka yang juga paling bertanggung jawab atas keadaan kekristenan yang telah begitu merosot dan mengalami penyimpangan adalah pemimpin gereja dan pengurus sinode atau pusat pemerintahan gereja, sebab mereka adalah orang-orang yang dipandang oleh jemaat awam atau umat sebagai perwakilan dari Allah untuk mengatur gereja. Banyak jemaat awam atau umat merasa tidak memiliki akses langsung kepada Allah seperti yang dimiliki para pemimpin gereja, sehingga umat begitu memercayai mereka. Ditambah lagi dengan pola keberagamaan pada umumnya, yang memandang bahwa tokoh agama adalah mediator antara Allah dan umat, maka umat semakin menaruh harapan dan keyakinan kepada para pemimpin gereja sebagai mediator dengan Allah. Dari hal ini, bisa dimengerti betapa besar pengaruh pemimpin gereja terhadap kehidupan umat. Kondisi ini memberi peluang atau berpotensi terjadinya dominasi para pemimpin gereja kepada umat. Betapa rusaknya kehidupan iman orang percaya kalau para pemimpin gereja tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan hidup berjalan dengan Dia. Sehingga, Allah yang mereka kenal hanyalah Allah dalam fantasi.
    Para pemimpin gereja yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup berjalan dengan Dia, maka dalam menyusun tata gereja, anggaran dasar, dan segala bentuk manajemennya hanyalah untuk kelangsungan sebuah organisasi yang sarat dengan kepentingan organisasi semata-mata. Tentu saja mereka tidak memahami dengan benar kepentingan Kerajaan Allah yang muatannya adalah mengubah kodrat manusia. Karena mereka sendiri tidak mengalami perubahan kodrat, bagaimana bisa membangun pemikiran yang berorientasi pada perubahan kodrat? Orang yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah tidak akan pernah mengalami perubahan kodrat, setinggi apa pun jabatan dalam sinode atau kepemimpinan di dalam gereja. Betapa berbahayanya mereka bagi masa depan gereja Tuhan. Pernyataan Yesus “orang buta menuntun orang buta,” terjadi (Mat. 15:14).
    Dalam sebuah sinode, dimana ketua dan pengurusnya tidak mengalami perubahan kodrat, maka ketika mereka menjalankan roda pelayanan, hak tersebut hanyalah demi terselenggaranya kegiatan organisasi. Mereka tidak dapat menjadi pipa saluran pikiran dan perasan Allah serta rencana Allah bagi gereja secara komunitas dan kehidupan umat secara individu. Hal ini hanya melestarikan dan membangun hidup keberagamaan semata-mata, tetapi tidak menghidupkan kehidupan Yesus. Gereja hanya menjadi organisasi semata-mata, tetapi tidak menjadi organisme yang hidup. Sinode seperti ini tidak akan pernah dapat membangun persaudaraan dan kekeluargaan yang ideal sesuai dengan doa Yesus dalam Yohanes 17:21. Hal ini bisa tampak pada fakta adanya gereja-gereja yang kuat dalam sinode yang tidak menopang gereja-gereja kecil secara memadai. Gereja-gereja besar menjadi “raksasa” yang menguasai kepemimpinan dalam tubuh sinode untuk kepentingan diri sendiri, bukan kepentingan semua anggotanya secara adil dan proporsional.
    Sinode seperti ini, bila mengadakan pertemuan, sering terjadi konflik, pertikaian, sampai pada praktik percideraan. Perdebatan-perdebatan, kecaman keras dan tajam, kritik yang melukai, dan berbagai perbantahan terjadi dalam rapat dan sidang-sidangnya. Hal ini sering menciptakaan percideraan panjang antar pendeta yang juga mengakibatkan munculnya blok-blok atau kelompok-kelompok pendeta dalam tubuh sinode. Dalam rapat atau sidang-sidang, sering tampak kelompok-kelompok tersebut berhadapan secara tajam. Hal ini tidak mencerminkan persaudaraan dan kekeluargaan di dalam Tuhan. Percideraan ini menjadi lebih tajam kalau sudah menyangkut ras dan golongan. Hal ini akan tampak pada struktur pengurus sinode, dimana orang-orang yang duduk dalam kepengurusan didominasi ras yang sama atau kelompok yang memiliki kepentingan yang sama.
    Kondisi sinode gereja seperti ini akan menciptakan bentuk pertarungan seperti dalam gelanggang politik, ketika berlangsung pemilihan ketua sinode. Demi pemenangan menjadi ketua sinode,
    0 min
  • TEOLOG YANG TIDAK MENGALAMI PERUBAHAN KODRAT
    Para teolog dan pemimpin gereja merupakan pihak yang paling bertanggung jawab atas keadaan kekristenan yang telah begitu merosot dan mengalami penyimpangan. Biasanya, para teolog dipandang oleh jemaat awam atau umat sebagai perwakilan dari Allah untuk mengajar jemaat dengan memberi penjelasan mengenai siapa Allah dan bagaimana seharusnya menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah. Walau praktiknya, banyak teolog hanya mengajarkan pengetahuan tentang Allah (teologi), dan itu pun belum tentu menjawab kebutuhan umat. Jemaat awam atau umat merasa tidak memiliki akses langsung kepada Allah seperti yang dimiliki oleh para teolog. Ditambah lagi, dengan pola keberagamaan pada umumnya yang memandang bahwa tokoh agama adalah mediator antara Allah dan umat, maka umat semakin menaruh harapan dan keyakinan kepada para teolog sebagai mediator dengan Allah. Dari hal ini, para teolog memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap umat. Kondisi ini memberi peluang atau berpotensi terjadinya dominasi manusia kepada manusia lain.
    Betapa rusaknya kehidupan iman orang percaya kalau para teolog dan pemimpin gereja tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan hidup berjalan dengan Dia. Teolog yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup berjalan dengan Dia, akan menyusun doktrin atau sistematika teologi yang tidak mengubah umat, tetapi hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan teologi. Mereka sendiri tidak mengalami perubahan kodrat, bagaimana bisa membangun pemikiran yang berorientasi pada perubahan kodrat? Orang yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah tidak akan pernah mengalami perubahan kodrat, sebanyak apa pun ilmu teologi yang dimiliki, sebanyak apa pun gelar yang disandangnya, dan setinggi apa pun jabatan dalam sinode atau kepemimpinan di dalam gereja.
    Tidak sedikit para teolog yang memahami Allah hanya Allah di atas lembar-lembar halaman buku dan transfer knowledge di seminari atau sekolah tinggi teologi. Mereka tidak memahami Allah dari perjumpaan langsung dan kehidupan konkret hidup berjalan dengan Allah. Ironisnya, hampir semua mereka berpikir bahwa dengan pengetahuan teologi yang banyak, gelar akademis di lingkungan teologi, dan pengalaman dalam kegiatan rohani—baik di seminari maupun di gereja—mereka merasa sudah mengenal Allah lebih lengkap. Mereka merasa sebagai sumber pengetahuan tentang Allah yang paling bisa dipercaya, paling benar, dan paling sah. Sikap para teolog seperti ini sebenarnya merupakan sebuah pelecehan terhadap Allah. Mereka hanya memiliki pengetahuan tentang Allah dari buku dan pendidikan teologi, serta menalar Allah dengan pemahaman yang belum tentu benar, tetapi sudah merasa berhak mewakili Allah dengan memberikan keterangan mengenai Allah.
    Pengetahuan teologi yang dimiliki para teolog bisa menjadi komoditas untuk kehidupan nafkah atau sebagai profesi guna mendapatkan uang, tetapi bukan sebagai dedikasi. Sebab, tidak mungkin mereka bisa berdedikasi kepada Allah yang tidak pernah dijumpai secara riil dan tidak pernah hidup berjalan dengan Dia. Hal ini bukan bermaksud menyatakan bahwa seorang teolog tidak berhak hidup dari panggilannya sebagai pengajar atau pengkhotbah, tetapi kalau mereka tidak mengalami perjumpaan langsung dengan Allah—sehingga tidak mengalami perubahan kodrat—pasti mereka hidup dalam kewajaran seperti manusia lain yang menjadikan aktivitasnya sebagai profesi guna memperoleh uang atau keuntungan pribadi lainnya.
    Biasanya, para teolog seperti ini cenderung meneliti pengajaran orang lain untuk melakukan kritik, kecaman, tuduhan sampai pada tingkat penghakiman, yaitu menyatakan orang lain atau gereja lain yang tidak sepaham dengan mereka sebagai orang Kristen atau gereja yang sesat atau bidat. Arogansi seperti ini bagi mereka adalah kebanggaan dan nilai diri, dimana melalui tindakan-tindakan tersebut, mereka mengaktualisasi diri dan memperoleh nafkahnya. Nafkah di sini bisa berupa uang atau nilai diri. Dengan karakter semacam itu,
    0 min
  • PERAN PENGAJAR DALAM PENDIDIKAN TEOLOGI
    Para pejabat gereja lulusan seminari atau sekolah tinggi teologi, sering hanya dilengkapi kemampuan secara teknis dalam kegiatan gereja yang disebut pelayanan. Tetapi sangat minim atau miskin dalam esensi pelayanan atau isi pelayanan tersebut. Pelayan-pelayan jemaat seperti ini tidak akan dapat mengubah jemaat, sebab kemampuan berteologi dan berbagai teknik menyelanggarakan pelayanan tidak akan mampu membawa jemaat kepada perubahan sesuai dengan maksud dan tujuan keselamatan itu diberikan. Tetapi, hal ini sudah dipandang sebagai sesuatu yang wajar, sebagai standar pelayanan gereja pada umumnya. Tentu saja hasil dari pelayanan ini adalah orang-orang yang hanya mewarisi agama Kristen, tetapi tidak mengalami perubahan sesuai dengan maksud keselamatan diberikan, yaitu perubahan kodrat.
    Esensi pelayanan adalah pengalaman mengalami perubahan kodrat, dari kodrat dosa kepada kodrat ilahi. Idealnya, lulusan seminari atau sekolah tinggi teologi benar-benar mengalami proses pertobatan yang sungguh-sungguh sejak dalam studi. Pertobatan artinya perubahan cara berpikir (metanoia) secara terus-menerus agar memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Mestinya, lulusan seminari atau sekolah tinggi teologi telah mengenakan kehidupan Yesus dalam standar tertentu, sehingga ketika terjun di tengah-tengah jemaat, yang terutama bukan kemampuan mereka berteologi saja, dan kemampuan menyelenggarakan pelayanan secara teknik, melainkan kehidupan Yesus yang diperagakan. Ini berarti mereka harus sudah mengalami perubahan kodrat. Tentu saja kehidupan seperti ini dapat menularkan atau mengimpartasi model atau gaya kehidupan anak Allah.
    Oleh sebab itu, selain perlunya mata kuliah lokal yang memadai untuk mengubah karakter—karena kurikulum dari Ditjen Bimas Kristen mewakili pemerintah sudah tidak bisa diubah—seminari atau sekolah tinggi teologi harus diajar oleh dosen-dosen yang memiliki kualitas dapat “menggarami” mahasiswa dengan benar. Dosen-dosen harus dapat menjadi “wakil Yesus” dalam mengajar kebenaran melalui berbagai mata kuliah yang diampu. Ini berarti, seorang pengajar seminari atau sekolah tinggi teologi bukan saja cakap atau menguasai bidang yang diajarkan kepada mahasiswa, melainkan juga benar-benar telah mengalami perubahan kodrat yang dapat ditularkan.
    Fakta yang tidak dapat disangkal, banyak dosen seminari atau sekolah tinggi teologi adalah “hamba Tuhan karier,” yang masuk sekolah tinggi teologi hanya karena “masa depan.” Lawan dari “hamba Tuhan karier” adalah “hamba Tuhan pengabdian dan panggilan” yang memang studi di seminari atau sekolah tinggi teologi untuk melayani dengan pengabdian tanpa batas kepada Tuhan. Masa depan hamba Tuhan seperti ini bukan di bumi ini, melainkan di langit baru dan bumi yang baru. Hamba Tuhan karier bisa menjadi orang-orang yang berprestasi dalam dunia akademis di lingkungan sekolah tinggi teologi, tetapi mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Tentu saja mereka ahli di bidang yang digeluti, bukan saja bisa mencapai gelar doktor, malah bisa mencapai gelar profesor. Namun, mereka hanya bisa membagi ilmu, tetapi tidak mewarnai spirit mahasiswa dengan spirit yang baik yang dapat mengubah karakter mahasiswa.
    Kadang-kadang, dosen-dosen yang ada di bawah “tempurung” tembok akademis bicara sembarangan di ruang kuliah. Selain memang belum matang jiwanya, juga mengaktualisasi diri di depan mahasiswa. Kalau jujur, banyak di antara mereka yang kalau turun ke lapangan pelayanan, sebenarnya tidak bisa berbuat banyak karena memang tidak akan bisa menjadi alat dalam tangan Tuhan mengubah jemaat. Tetapi, dengan keangkuhan mereka menilai pendeta-pendeta di luar kampus dan gerejanya secara sembarangan. Bahkan, kadang-kadang mereka juga menilai dan menghakimi rekan dosen satu kampus di depan mahasiswa. Tidak segan-segan mereka juga mengecam dan menghakimi pimpinan, seperti ketua sekolah tinggi teologi, ketua yayasan, sinode gereja di depan mahasiswa. Praktik seperti ini telah mengimpartasi atau menulark...
    0 min
  • MENSAKRALKAN DOKTRIN
    Dewasa ini, orientasi pelayanan sudah mulai bergeser, dari Injil sejati yang Yesus ajarkan—yaitu perubahan hidup untuk bisa berkodrat ilahi—menjadi kegiatan yang hanya menekankan pembelajaran isi Alkitab dalam kemasan doktrin atau sistematika teologi. Hal ini mengesankan, seakan-akan dengan pembelajaran teologi atau ilmu tentang Tuhan, jemaat dapat mengalami perubahan sesuai yang dikehendaki oleh Allah. Faktanya, tahun demi tahun, abad demi abad, gereja semakin kehilangan nafas atau Injil yang sejati, yang diajarkan oleh Yesus. Gereja-gereja seperti ini biasanya hanya meneruskan proyek kegiatan gereja yang diwarisi dari gereja sebelumnya. Tanpa disadari, yang diwariskan kepada jemaat hanyalah liturgi dan doktrin yang dirumuskan dan dikemas sedemikian rupa oleh manusia, tetapi bukan kehidupan Yesus.
    Doktrin memang penting, tetapi seharusnya doktrin yang benar adalah ajaran Yesus yang memuat implikasi konkret kehidupan anak Allah, yaitu bagaimana mengenakan hidup sebagai orang yang berkodrat ilahi sesuai dengan maksud keselamatan diberikan, dimana manusia bisa segambar dan serupa dengan Allah atau sempurna seperti Bapa. Gereja-gereja yang hanya mewarisi doktrin lebih menekankan rasio atau nalar. Mereka berusaha mengolah nalar untuk merumuskan Allah dan isi Alkitab, sehingga mereka berhasil membangun doktrin dan sistematika teologi yang kelihatannya Alkitabiah dan argumentatif. Itulah sebabnya, pendeta dan teolog dari kelompok ini sering menjadi arogan, dan memandang diri sebagai paling benar. Dampaknya, mereka memandang rendah aliran atau denominasi lain dan tidak segan-segan menuduhnya sesat.
    Suasana gereja seperti ini akan diwarnai kuat dengan kegiatan seremonial, yaitu bagaimana membuat liturgi yang agung dan khidmad sebagai sarana untuk mengadakan pertemuan dengan Allah. Dalam pertemuan bersama atau kebaktian, para pelayan liturgi biasanya mengenakan kostum yang khusus. Bisa dimengerti kalau gereja-gereja mereka bisa memiliki paduan suara dan orkestra yang megah. Bagi mereka, itulah nilai-nilai keagungan sebagai orang Kristen untuk menyembah secara lebih berkualitas kepada Allah. Karena lebih menekankan seremonial, maka kehidupan setiap harinya tidak menekankan kesucian, yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus secara proporsional. Sebagian besar mereka sudah merasa menyembah Allah dengan mengikuti liturgi. Padahal, penyembahan yang benar adalah di dalam roh dan kebenaran. Hal ini tidak memaksa atau mewajibkan orang Kristen secara mutlak untuk memiliki liturgi yang profesional. Kehidupan setiap hari dengan segala perilakunya adalah liturgi yang sesungguhnya yang merupakan isi ibadah.
    Komunitas orang Kristen tersebut cenderung memandang pengalaman pribadi sebagai fenomena subjektif yang mengancam kemurnian kebenaran. Subjektivitas dianggap sebagai ancaman bagi kehidupan Kristen secara menyeluruh. Padahal, kekristenan adalah pengalaman pribadi dengan Allah, dimana subjektivitas merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari pengalaman pribadi dengan Allah. Setiap orang Kristen harus memiliki pengalaman konkret atau riil dengan Allah, sehingga pengenalan akan Allah bukan hanya diperoleh melalui ruang kuliah, aula seminar, ruang perpustakaan, dan diskusi Alkitab. Memang subjektivitas bisa berbahaya, bahkan menyesatkan, jika diperoleh tanpa landasan hidup yang benar. Landasan hidup yang benar adalah kebenaran Injil yang sejati, disertai dengan perjuangan untuk mencapai kesucian hidup dan hati yang tidak mencintai dunia.
    Biasanya, gereja-gereja yang lebih menekankan nalar dan mengabaikan pengalaman pribadi dengan Allah cenderung menganggap bahwa doktrin atau pengajaran adalah segalanya. Semuanya serba diformat dalam bentuk doktrin, definisi-definisi, rumusan-rumusan yang tertulis menjadi khasanah ilmu dalam sistematika teologi. Tentu saja gereja-gereja seperti ini sangat peduli dengan seminari atau sekolah tinggi teologi. Biasanya, mereka mewajibkan pejabatnya memiliki pendidikan teologi ...
    0 min
  • TEOLOG YANG TIDAK MENGENAL ALLAH
    Kehidupan yang benar-benar berinteraksi dengan Allah baru dapat dikatakan “berketuhanan” atau ber-Tuhan. Orang-orang yang ber-Tuhan pasti selalu mengalami perubahan, yaitu hidupnya semakin memiliki karakter seperti Tuhan atau Allah yang disembahnya. Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan seseorang menyatakan kualitas agama yang diamalkan atau teologi yang di pikirannya. Oleh sebab itu, sebenarnya orang tidak mudah dapat berbangga diri atas doktrin atau ajaran yang dimiliki dan dikuasainya, dan menyatakan bahwa dirinya paling benar. Tidak sedikit para akademisi dari seminari atau sekolah tinggi teologi yang menutup mata atau memang tidak tahu mengenai hal ini. Dengan studi di seminari atau sekolah tinggi teologi, mereka merasa dan percaya telah menemukan, memiliki, dan benar-benar hidup dalam persekutuan dengan Allah. Mereka berpikir, semakin memiliki pengetahuan tentang Allah berarti sama dengan benar-benar telah menjumpai Dia. Sebenarnya, mereka hanya memiliki pengetahuan tentang Allah, tetapi mereka belum mengenal Allah secara benar.
    Dari perbuatannya, seseorang dapat membuktikan kebenaran ajaran yang dimilikinya. Dari pernyataan-pernyataannya, baik secara lisan maupun tertulis, tampak jelas kualitas kearifan, moral, dan etika hidupnya. Arogansi orang-orang seperti ini telah menutup kesadarannya mengenai keadaan mereka yang sebenarnya. Tidak heran kalau mereka dengan rajin dan teliti memerhatikan dan menilai doktrin dan ajaran orang lain. Bagi mereka, menjadi kebanggaan kalau dapat menemukan kesalahan seseorang, supaya dapat mengkritisi, mengecam, dan menghakimi dengan tuduhan sesat. Menjadi kebanggaan yang lebih besar kalau tindakan mereka itu dapat dilihat, dibaca, atau didengar oleh banyak orang. Dengan cara itu, mereka merasa membela Tuhan dan kebenaran-Nya, padahal mereka hanya membela doktrin dan ajarannya sendiri, serta mengangkat diri untuk mendapat pengakuan dari orang lain bahwa dirinya hebat. Inilah langkah aktualisasi diri yang memang merupakan irama jiwa manusia pada umumnya. Anak-anak Allah yang benar tidak berkelakuan atau tidak bermartabat seperti itu.
    Sebagai orang percaya—khususnya para teolog—kita harus mawas diri, artinya selalu introspeksi apakah hidup kita dalam perkenanan Allah atau tidak. Untuk itu, kita harus jujur terhadap kecenderungan adanya gejala-gejala jiwa di dalam diri kita. Kita harus selalu ingat, sebagai manusia yang memiliki kodrat dosa, ada kecenderungan melakukan segala sesuatu yang bertentangan dengan pikiran dan perasaan Allah. Tindakan yang kelihatannya tidak melanggar norma umum, ternyata bisa merupakan tindakan yang melukai hati Allah. Jika seseorang sungguh-sungguh menjumpai Allah dalam doa pribadi dan memperkarakan keadaan diri serta pengajarannya, Allah pasti memberikan tuntunan. Allah yang hidup pasti berbicara kepada mereka yang sungguh-sungguh memperlakukan Allah sebagai Pribadi yang hidup, bukan sekadar objek yang dinalar dari ruang kuliah, seminar, dan perpustakaan.
    Banyak teolog tidak menyadari bahwa kodrat dosa masih ada di dalam kehidupannya, sehingga sebenarnya mereka masih terbelenggu oleh kodrat dosa, yaitu kesenangan-kesenangan jiwa dan daging yang belum dimatikan. Artinya, mereka belum hidup di dalam roh (Yoh. 8:12-14). Tentu saja hasrat-hasrat yang tidak sesuai dengan kekudusan Allah masih melekat di dalam dirinya. Itulah sebabnya, di antara mereka masih mengingini hidup wajar seperti manusia lain (hanya bedanya mereka berprofesi sebagai teolog atau pendeta). Karenanya, mereka juga menghendaki berbagai fasilitas seperti yang orang lain miliki. Mereka masih memiliki ambisi untuk menjadi terhormat. Jadi, tidak heran kalau mereka masuk dalam kancah perebutan kekuasaan di kepengurusan sinode, dan di seminari atau sekolah tinggi teologi. Di antara mereka, masih menyukai berbagai hiburan dunia. Tidak sedikit pula mereka yang melakukan pelanggaran moral.
    Para teolog ini pada umumnya memperoleh nafkah hidup dari aktivitas mereka di gereja sebagai pe...
    0 min
  • ALLAH SUDAH MATI
    Kalau Allah itu benar-benar ada dan hidup, seharusnya kita memiliki pengalaman nyata dengan Dia. Sama seperti realitas hubungan interaksi kita dengan seseorang di dunia ini, demikian seharusnya kita berinteraksi dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah dalam perjalanan hidup setiap hari haruslah sesuatu yang riil yang berlangsung dalam kehidupan secara wajar dan normal di setiap waktu, dalam segala keadaan dan persoalan. Memang untuk itulah Allah hadir dalam kehidupan manusia; Immanuel. Seharusnya, perjumpaan dengan Allah dan hidup berjalan dengan Dia sehingga mengalami kehadiran Dia, berlangsung setiap hari. Hal ini haruslah sesuatu yang dipandang “biasa” atau normal, sebab memang Allah adalah pribadi yang hidup dan nyata. Justru, kalau memandang perjumpaan dengan Allah dan hidup berjalan dengan Dia adalah sesuatu yang luar biasa dan dianggap tidak normal, berarti ada sesuatu yang salah dalam hidup kekristenan seperti itu.
    Segala sesuatu belum ada namun Allah sudah ada, dari kekal sampai kekal. Langit dan bumi dengan segala isinya diciptakan oleh Allah, juga semua makhluk hidup, termasuk manusia. Segala sesuatu bisa terjadi atau berlangsung atas kehadiran kuasa dan tatanan-Nya. Tentu saja hal ini membuat Allah lebih nyata dari segala sesuatu. Dia adalah realitas di atas segala realitas. Dia adalah realitas yang sejati. Segala sesuatu bisa berubah, berbayang, bahkan lenyap, tetapi Allah tetap kekal selama-lamanya, tidak berubah, dan tidak berbayang sedikit pun. Dengan demikian, benar-benar suatu kekacauan kalau sampai Allah menjadi tidak nyata dalam kehidupan. Di dunia yang semakin fasik ini, dimana orang tidak takut akan Allah dan tidak memedulikan hukum maupun kehendak-Nya, Allah semakin tidak nyata dalam kehidupan manusia. Allah seperti “sudah mati.”
    Kalau makhluk ciptaan-Nya—dalam hal ini manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sebagai potensi untuk berinteraksi dengan Allah—tidak mengalami Allah, berarti ada sesuatu yang benar-benar telah rusak atau keluar dari relnya. Tentu saja kerusakan dan kesalahannya bukan terletak pada Allah, melainkan pada pihak manusia. Keselamatan dalam Yesus Kristus hendak memperbaiki kerusakan tersebut dengan mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, yaitu persekutuan antara Allah sebagai Bapa, dan manusia sebagai anak-anak-Nya. Itulah sebabnya, Allah Bapa mengirim Putra Tunggal-Nya untuk menebus dosa manusia dan membenarkannya di hadapan Dia, serta memberikan Injil yang memuat kebenaran untuk mengubah kodrat manusia. Selanjutnya, Dia juga menjadi model atau contoh kehidupan yang Allah kehendaki.
    Oleh sebab itu, orang percaya harus memahami dengan benar maksud keselamatan yang diberikan oleh Allah. Kekristenan bukanlah sekadar agama yang melengkapi kehidupan manusia di bumi, melainkan jalan hidup yang mengubah manusia dari kodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi agar dapat berinteraksi dengan Allah secara ideal. Kesalahan banyak orang Kristen yang mengakibatkan mereka tidak mengalami perubahan kodrat dan tidak pernah memiliki hubungan interaksi dengan Allah, disebabkan karena mereka menjadikan kekristenan sekadar agama. Sehingga, banyak orang Kristen hanya memiliki pengalaman keberagamaan, tetapi bukan perjumpaan yang benar dengan Allah, serta tidak pernah memiliki pengalaman berjalan dengan Allah. Ini adalah kemerosotan dan penyimpangan yang sudah berlangsung berabad-abad. Orang-orang Kristen hari ini hanya mewarisi doktrin dan liturgi, tetapi bukan impartasi kehidupan yang berinteraksi dengan Allah.
    Dengan standar kekristenan yang telah merosot dan mengalami penyimpangan tersebut, banyak teolog-teolog puas dengan pengetahuan Alkitab atau teologi yang mereka kuasai yang telah terkristal dalam buku-buku di perpustakaan, bahan-bahan ajar di seminari atau sekolah tinggi teologi, berbagai karya ilmiah dan jurnal. Allah hanya menjadi ilmu yang dinalar, dipercakapkan di ruang-ruang kuliah dan aula akademis, seminar-seminar rohani,
    0 min
  • PERUBAHAN KODRAT
    Kekristenan pada dasarnya adalah jalan hidup, bagaimana menjalani hidup sebagai anak-anak Allah, yaitu jalan hidup orang-orang yang mengalami perubahan hidup untuk bisa berkeadaan segambar dan serupa dengan Allah. Hanya orang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah yang bisa menjadi anak-anak Allah. Kehidupan anak Allah yang sesungguhnya telah diperagakan oleh Yesus ketika mengenakan tubuh daging seperti manusia pada umumnya, sekitar dua ribu tahun lalu. Yesus adalah model kehidupan anak Allah yang harus dimiliki setiap orang percaya. Dengan demikian, kekristenan pada dasarnya adalah menjalani kehidupan seperti yang telah dijalani oleh Yesus. Itulah sebabnya, firman Allah mengatakan agar orang percaya menjadi serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29) atau memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga pada Yesus Kristus (Flp. 2:5-7). Pikiran dan perasaan Kristus di sini berarti nurani seperti yang ada pada Yesus, yang juga sama dengan memiliki cara berpikir seperti Yesus. Kalau cara berpikir seseorang sama seperti Yesus, maka segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Allah Bapa.
    Kehidupan orang percaya yang semakin serupa dengan Yesus adalah kehidupan manusia yang mengalami perubahan, dari manusia yang masih mengenakan kodrat dosa beralih dengan mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Kehidupan manusia yang berkodrat ilahi adalah kehidupan yang luput dari hawa nafsu dunia yang membinasakan. Ini berarti kehidupan orang yang berkodrat ilahi adalah kehidupan orang yang hasratnya bukan lagi pada pemuasan diri sendiri, baik nafsu daging maupun jiwanya yang rusak. Manusia yang tidak berkodrat ilahi—atau masih berkodrat dosa—bukan berarti pasti menjadi manusia biadab yang selalu melanggar hukum moral umum. Berkodrat dosa berarti keadaan dimana seseorang tidak dapat memiliki ketepatan bertindak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Orang yang masih berkodrat dosa bukan berarti pasti tidak hidup santun di mata manusia di tengah-tengah masyarakat. Mereka masih bisa hidup santun di mata masyarakat, bahkan bisa beragama dengan saleh. Dalam hal ini, keadaan orang yang telah jatuh dalam dosa bukan berarti pasti tidak bermoral baik dalam pandangan agama dan manusia. Mereka masih sangat bisa bermoral baik dalam pandangan agama dan manusia, tetapi tidak dalam standar baik menurut gambar dan rupa Allah. Kalau orang Kristen tidak memahami kebenaran ini, mereka merasa puas dengan hidup keberagamaan yang bermoral baik di mata manusia, tetapi tidak berjuang untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Banyak orang Kristen terkunci dalam kebodohan tersebut. Ironisnya, mereka tidak menyadari hal itu sama sekali.
    Berkodrat ilahi artinya kehidupan yang keinginannya hanya melakukan kehendak Bapa secara tepat, dan mengerjakan tugas atau pekerjaan yang Bapa berikan kepada masing-masing orang percaya. Inilah prinsip hidup yang dikenakan oleh Yesus (Yoh. 4:34). Orang percaya yang berkodrat ilahi berarti menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Jadi, kekristenan adalah perjalanan hidup untuk menemukan kemuliaan Allah yang hilang atau kualitas kehidupan seperti yang dirancang Allah sejak semula. Memang pada mulanya, Allah merancang manusia berkeadaan segambar dan serupa dengan diri-Nya. Keadaan ini adalah keadaan dimana seseorang memiliki kemuliaan Allah. Kualitas kehidupan seperti ini yang gagal dicapai oleh Adam, tetapi kemudian hari berhasil dicapai oleh Yesus. Kehidupan dengan kemuliaan Allah dikenakan oleh Yesus, yaitu selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Yohanes menyaksikan kemuliaan kehidupan anak Allah dalam diri Yesus (Yoh. 1:14).
    Kehidupan mengenakan kodrat ilahi adalah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah dan menyukakan hati-Nya. Inilah yang dimaksud dengan sempurna seperti Bapa. Allah menginginkan karya agung-Nya, yaitu manusia, bisa berkeadaan segambar dan serupa dengan diri-Nya. Hanya hal ini yang bisa memuaskan hati Allah. Dengan demikian,
    0 min
  • KEHIDUPAN DENGAN SPIRIT YESUS
     
    Orang percaya tidak boleh menutup pintu terhadap kemungkinan Roh Kudus menyingkapkan kebenaran-kebenaran terkait pengajaran mengenai berbagai pokok dalam Alkitab yang lebih kontekstual untuk kebutuhan orang percaya zaman ini. Tentu saja, pandangan para teolog terdahulu dan hasil keputusan konsili-konsili menjadi inspirasi, acuan, dan salah satu sumber pertimbangan yang sangat berharga. Tetapi bagaimana pun, Alkitab adalah narasumber utama dari seluruh kebenaran yang dirumuskan dengan kalimat. Dengan demikian, orang percaya harus mengadakan eksplorasi tiada henti terhadap Alkitab mengenai berbagai pokok ajaran di dalam Alkitab, tentu dalam kaidah hermeneutik dan eksegesis yang baik.
    Fakta yang kita dapat temui hari ini, sebagian gereja dan para teolog telah memarkir secara permanen pemahaman mereka dan pemahaman jemaat yang mereka ajar, dengan pandangan doktrin dan ajaran para teolog masa lalu, serta keputusan-keputusan konsili. Mereka sudah merasa cukup puas dengan doktrin dari berbagai pokok dalam Alkitab yang sudah mereka warisi dari para pendahulu, termasuk keputusan konsili-konsili, tanpa menyelidiki sendiri Alkitab secara sungguh-sungguh dengan berbagai sarana dan fasilitas yang sangat lengkap hari ini, yang jauh lebih lengkap dari fasilitas yang ada pada zaman dulu.
    Seharusnya, dengan tekhnologi yang berkembang seperti hari, dengan tersedianya berbagai fasilitas untuk mengeksplorasi Alkitab, hal ini membuka kemungkinan bagi orang percaya untuk dapat menemukan banyak hal yang tidak atau belum ditemukan oleh teolog-teolog terdahulu. Dalam hal ini, kita bisa meyakini bahwa sebagaimana Allah memberi kesempatan manusia menemukan berbagai hal yang tidak pernah ditemukan manusia sebelumnya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, Allah juga membuka rahasia Firman-Nya untuk manusia hari ini sesuai dengan kebutuhannya (Dan. 12:4).
    Kesetiaan kepada pandangan teologi para teolog masa lalu dan keputusan konsili-konsili secara buta dan tak terbatas, membuat pikiran menjadi kerdil sehingga menutup peluang menemukan hal-hal baru yang Allah akan terus disingkapkan. Hal tersebut juga menyandera pikiran, sehingga membatasi jelajah berpikir yang mestinya bisa terus berkembang. Bukan tidak mungkin, kesetiaan kepada pandangan teologi para teolog dan keputusan konsili-konsili secara tidak terbatas menjadi tindakan membatasi atau merusak kesetiaan kepada Allah yang hidup, yang mestinya kepada atau dengan Allah, orang percaya selalu berinteraksi tiada batas. Biasanya, orang-orang yang menaruh kesetiaan kepada gereja secara tidak terbatas menjadi orang Kristen yang legalistis, beragama secara terformat kaku, dan bersifat liturgis, artinya selalu harus dalam tatanan tertentu dalam ber-Tuhan, sehingga mereka tidak memiliki pengalaman secara riil dengan Allah yang hidup. Hal ini menunjukkan bahwa mereka terjebak dalam kehidupan kristiani Allah dalam fantasi. Allah hanya dinalar, bukan dialami secara riil atau nyata.
    Gereja-gereja yang dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang hanya mengenal Allah dari ruangan akademis seminari atau sekolah tinggi teologi, biasanya menciptakan atmosfer suasana seperti tersebut di atas dalam kegiatan gereja. Mereka bisa belajar Alkitab dari berbagai perspektif—seperti bahasa atau linguistik, latar belakang sejarah, transmisi tekstual, dan lain sebagainya—tetapi mereka belum tentu atau pada umumnya, tidak mengenal Allah secara pribadi dalam interaksi konkret. Mereka mengenal Allah hanya dalam nalar yang diolah secara maksimal, sehingga mereka bisa menulis banyak buku yang memuat format-format sistematika teologi yang kelihatannya argumentatif dan Alkitabiah, tetapi mereka tidak mencapai pikiran dan perasaan Allah yang mestinya mencengkeram hidup mereka. Mereka bisa melakukan pekerjaan misi, tetapi mereka lebih membawa doktrin daripada pribadi Yesus yang benar-benar dialami dalam kehidupan manusia. Gereja bisa dilahirkan dan dibangun,
    0 min
  • DISUBORDINASI MUTLAK OLEH ALKITAB
    Teolog-teolog dan orang-orang Kristen pada umumnya hari ini, pasti tidak akan mampu menghadapi pengaruh dunia yang jahat, seperti yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan para teolog Barat yang gagal menyelamatkan gereja dan masyarakatnya sekarang ini. Tetapi ironisnya, mereka tidak menyadari kegagalan tersebut. Pada umumnya, mereka malah bangga dengan seminari atau sekolah-sekolah tinggi teologi dan gelar akademis dari pendidikan teologi yang mereka jadikan sebagai simbol supremasi. Sementara itu, masyarakat Barat telah menjadi masyarakat yang seperti tidak pernah mendengar Injil sama sekali. Keadaan kekristenan mereka bisa membuat mereka terhilang untuk selamanya dari hadapan Allah. Berbagai doktrin dan ajaran yang telah terumus, terlanjur menjadi premis para teolog dan gereja yang dipandang tidak salah atau tidak bisa salah, sehingga mereka tidak lagi menggali kekayaan Firman Allah yang sangat kaya untuk dapat menahan pengaruh jahat dari dunia terhadap orang percaya. Terbukti, doktrin dan ajaran teolog-teolog Barat hari ini tidak mampu mengangkat masyarakat Barat dari keterpurukan rohani atau kemunduran iman.
    Gereja, teolog, dan masyarakat Kristen hari ini tidak boleh membungkam Roh Kudus yang masih berkarya nyata dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Alkitab adalah sumber kebenaran yang tidak pernah kering. Terkait dengan berbagai pokok ajaran di dalam Alkitab, orang percaya tidak boleh memandang bahwa apa yang telah dirumuskan para teolog terdahulu dan hasil keputusan konsili-konsili adalah kekayaan yang maksimal dari Alkitab, sehingga tidak perlu lagi menggali Alkitab mengenai atau yang terkait dengan pengajaran berbagai pokok ajaran di dalam Alkitab. Mereka memagari atau membatasi Alkitab dari penggalian mengenai berbagai pokok ajaran di dalam Alkitab oleh pemburu kebenaran hari ini. Banyak teolog yang berpkir picik, dimana mereka tidak memberi ruangan pandangan lain mengenai berbagai pokok ajaran di dalam Alkitab dari sumber lain yang ditemukan hari ini. Biasanya, orang-orang yang tersandera oleh pandangan teolog masa lalu, dalam memandang suatu pengajaran selalu menghubungkan argumentasi mereka berdasarkan pandangan teolog masa lalu dan hasil keputusan konsili. Hal ini mengesankan bahwa teolog masa lalu dan keputusan konsili seakan-akan berkuasa atau berhak melegalisir Alkitab, bukan sebaliknya.
    Sementara itu, para teolog yang melandaskan pandangannya hanya pada pandangan para teolog masa lalu dan keputusan konsili, merasa bahwa mereka adalah penjaga “kebenaran.” Mereka berusaha membela dan melestarikan doktrin yang berumur ratusan tahun, bahkan lebih dari seribu lima ratus tahun. Mereka gencar melawan orang atau gereja yang tidak sesuai dengan pandangan mereka. Lebih dari itu, mereka merasa bahwa telah memiliki otoritas ilahi yang memberi mereka mandat untuk menilai dan menuding orang atau gereja lain yang tidak sama dengan pandangan mereka sebagai sesat dan dipandang sebagai bidat. Sejatinya, mereka bukan penjaga kebenaran Alkitab, melainkan penjaga pandangan teolog masa lalu dan keputusan konsili, serta kebenaran mereka sendiri. Geliat mereka bisa memuat gairah aktualisasi diri, kesombongan atau arogansi, sikap tidak menerima orang lain lain, egoisme, bukan roh yang lemah lembut dan tenteram, ketegaan merendahkan dan mempermalukan orang lain ketika menuduh orang lain sesat, dan lain sebagainya; bukan gairah yang diajarkan oleh Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa mereka terjebak dalam kehidupan kristiani Allah dalam fantasi. Allah hanya dinalar, bukan dialami secara riil atau nyata.
    Dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap dibanding dengan yang dimiliki para teolog terdahulu, dan tentu oleh pimpinan Roh Kudus yang masih aktif, orang percaya dan para teolog hari ini dapat menggali kebenaran Firman Tuhan dengan lebih baik. Dengan teknologi komputer dan segala programnya, dalam sekejap seseorang bisa melihat semua terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa,
    0 min
  • BUKAN SUARA TERBANYAK
    Kausalitas para teolog tidak menggali sendiri kebenaran Alkitab mengenai berbagai hal adalah karena mereka telah terjebak dalam konservatisme dan sikap primordialisme yang kuat. Selain itu, karena sulitnya mengurai doktrin-doktrin di dalam Alkitab, mereka menyerahkan diri begitu saja dengan mengikuti pandangan mengenai teologi yang sudah ada, yaitu hasil keputusan-keputusan konsili dan pandangan para teolog terdahulu. Hal ini menunjukkan, seakan-akan wahyu dan pengertian mengenai berbagai pokok pengajaran di dalam Alkitab hanya diberikan Allah kepada para teolog masa lalu, dan pandangan para teolog tersebut dipandang sudah final, sejajar dengan kebenaran Alkitab. Dengan sikap ini, Allah dipandang tidak lagi menyingkapkan kebenaran mengenai berbagai pokok ajaran yang termuat di dalam Alkitab di waktu-waktu kemudian. Dalam hal ini, seakan-akan pengertian mengenai berbagai pokok ajaran dalam Alkitab sudah tuntas dan final, sebab telah diajarkan atau diberikan oleh Allah kepada para teolog masa lalu. Sehingga, tidak ada lagi yang perlu disingkapkan; sudah tertutup bagi siapa pun yang ingin mengeksplorasi Alkitab lebih mendalam di waktu mendatang.
    Jadi, sebenarnya banyak pandangan teologi manusia yang sudah menjadi landasan, acuan, dan anchor dalam membangun doktrin atau ajaran lebih daripada Alkitab itu sendiri, yaitu ketika mereka menulis buku, memberi pelajaran Alkitab, berkhotbah, memberikan seminar, dan merumuskan doktrin mengenai berbagai pokok tema ajaran dalam Alkitab. Tanpa disadari, mereka melecehkan atau merendahkan Alkitab, sebab menganggap tulisan dan ide para teolog dan hasil keputusan konsili sejajar dengan kebenaran Alkitab, bahkan dianggap dan diperlakukan lebih tinggi dari Alkitab. Sehingga, para teolog hari ini lebih memercayai pandangan para teolog masa lalu dan hasil-hasil keputusan konsili daripada menggali kebenaran Alkitab yang adalah sumber satu-satunya yang benar, valid, dan tidak berubah.
    Biasanya, para teolog hari ini dan orang-orang Kristen pada umumnya, menganggap pandangan para teolog terdahulu dan hasil keputusan konsili-konsili sudah mutlak benar atau tidak salah sama sekali. Dengan demikian, mereka mengondisi keadaan dimana bukan Alkitab membawahi doktrin, melainkan doktrin yang membawahi Alkitab. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap Alkitab atau sikap subversif terhadap kebenaran Allah yang tertulis di dalam Alkitab. Selanjutnya, banyak teolog berpikir bahwa semua pandangan teolog masa lalu dianggap masih dan selalu “up to date” untuk kehidupan orang percaya kapan saja dan di mana saja, termasuk untuk orang percaya di abad milenial hari ini. Mereka memandang bahwa Alkitab sudah selesai digali atau dieksplorasi isinya, dan rumusan para teolog masa lalu sudah cukup menjawab kebutuhan orang percaya di sepanjang zaman dan di segala tempat. Secara tidak langsung, mereka menyandera pikiran orang percaya dengan pandangan manusia (teolog masa lalu) dan tidak mengakui otoritas Alkitab di atas segalanya.
    Kalau ada pandangan-pandangan mengenai berbagai pokok yang terdapat dalam Alkitab yang muncul kemudian, yang tidak sesuai dengan pandangan para teolog masa lalu dan hasil keputusan konsili-konsili, maka langsung dipandang sesat tanpa terlebih dahulu meneliti dengan saksama menggunakan parameter teologis yang didasarkan pada Alkitab. Mereka tidak melakukan verifikasi berdasarkan Alkitab secara memadai, mendalam, jujur, cerdas, dan teliti. Biasanya, mereka memandang dan mengukur pandangan orang lain bukan berdasarkan Alkitab, melainkan berdasarkan pandangan para teolog yang sudah ada, dan hasil keputusan konsili-konsili yang diyakini dan diterima sebagai kebenaran mutlak oleh sebagian orang Kristen di seluruh dunia. Jadi, kalau suatu pandangan tidak sesuai dengan apa yang diyakini oleh sebagian besar orang Kristen pada umumnya, pandangan itu dianggap sesat. Seharusnya, dalam berteologi, orang percaya tidak menganut prinsip vox populi, voc Dei (Ing.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…