Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tidak Normal Di Mata Allah
    Kita harus kembali menemukan pola kehidupan menjadi orang percaya yang benar. Untuk mengikut Yesus, murid-murid-Nya harus meninggalkan segala sesuatu; antara lain: pekerjaan, keluarga, lingkungan pergaulan, dan kampung halaman. Persis seperti yang dialami oleh Abraham. Sejak mereka mengikut Yesus, peta hidup mereka berubah sama sekali, dan tidak pernah menjadi sama lagi seperti sebelumnya, sampai mereka mati. Setelah kenaikan Yesus ke surga, orang percaya meneruskan tugas penyelamatan, yaitu menjadi saksi sampai ke ujung bumi. Akhir hidup murid-murid Yesus pada umumnya sangat tragis: dipancung, digoreng di belanga panas, dicabik-cabik binatang buas, disalib dengan kepala di bawah, dan berbagai penderitaan yang sangat tragis. Tetapi, justru inilah keagungan pengikut Yesus, sebab dengan demikian, mereka menghidupkan kehidupan Yesus dalam diri mereka.
    Bagi orang percaya—dalam pelaksanaan yang benar untuk mengiring Yesus—pada prinsipnya adalah meninggalkan segala keterikatan yang dapat mengganggu pengiringannya kepada Yesus. Prinsip penting yang harus dimiliki dan dijalani oleh orang percaya adalah tidak terikat dengan keindahan dunia ini. Agenda hidup yang dimiliki hanyalah memfokuskan diri untuk layak dipermuliakan bersama Yesus, yang untuk itu, harus hidup tidak bercela serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa. Di tengah-tengah dunia yang materialistis, dibutuhkan keberanian yang tinggi untuk dapat mewujudkan kehidupan yang benar atau kehidupan yang normal sebagai orang percaya. Dalam hal ini, kita harus memiliki integritas yang tinggi atau suatu kenekatan atau sikap ekstrem atau fanatisme yang luar biasa terhadap Tuhan Yesus. Integritas itu digambarkan seperti janda yang menghadap hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak peduli siapa pun (Luk. 18:1-8). Hanya dengan integritas yang tinggi, orang percaya dapat mempertahankan kenormalannya di hadapan Allah.
    Salah satu bahaya yang tidak disadari oleh banyak orang percaya—yang mana telah mengandaskan hidup iman banyak orang Kristen—adalah “kewajaran” hidup. Kekeristenan yang tidak normal di mata Allah menciptakan kekristenan sebagai agama dengan segala atribut-atributnya, sama seperti agama-agama pada umumnya. Hal ini membangun kehidupan yang wajar seperti anak-anak dunia. Memang kelihatannya baik di mata manusia, juga tidak menyalahi hukum, beradab, dan bernorma secara umum, tetapi tidak membangun kehidupan Yesus secara benar. Di sini, kekeristenan kehilangan nafas atau jiwanya, sehingga tidak ada pesonanya sama sekali. Seharusnya, pesona kekristenan terletak pada perilaku seperti Yesus, tetapi karena tidak ada pesona ini, orang-orang Kristen seperti itu tidak pernah menjadi utusan dan saksi Kristus yang menyatakan terang Tuhan yang menakjubkan (1Ptr. 2:9).
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa kekeristenan seperti yang dikenakan oleh murid-murid atau orang percaya gereja mula-mula tidak mungkin bisa dikenakan di zaman ini, yang keadaannya sangat jauh berbeda. Ini adalah pandangan yang sangat keliru. Kekeristenan harus dipahami sebagai kebenaran yang memiliki dinamisitas dan fleksibilitas yang sempurna. Ini berarti dalam segala keadaan, di segala tempat dan di sepanjang zaman, kebenaran dalam kekristenan—yaitu kehidupan Yesus—bisa dikenakan. Dinamisitas dan fleksibilitas kebenaran Injil mestinya dapat dikenakan oleh orang percaya zaman sekarang. Tetapi kalau terjadi kompromi—artinya praktik penyesuaian diri dengan keadaan—maka dinamisitas yang sejati menjadi mati.
    Dalam hal tersebut, fleksibilitas tidak boleh diganti dengan sikap kompromi. Ketika terjadi kompromi antara orang Kristen dengan cara hidup anak-anak dunia—dimana kelihatannya orang Kristen masih memiliki dinamika hidup sebagai orang beragama Kristen—sejatinya, dinamika kekristenan tidak memuat nafas atau jiwa kebenaran Injil yang sejati. Mereka masih bisa melakukan berbagai kegiatan keberagamaan yang di“label” sebagai pelayanan, tetapi sebenarnya mereka tidak melakukan pekerjaan Allah s...
    0 min
  • Teladan Kehidupan Yang Normal
    Kehidupan normal orang percaya adalah kehidupan Yesus. Hal ini benar-benar telah dikenakan oleh orang-orang percaya pada gereja mula-mula. Untuk mewujudkan hal tersebut, Allah mendatangkan keadaan sulit, yaitu penganiayaan. Dalam penganiyaan tersebut, orang percaya mengarahkan diri kepada Kerajaan Tuhan Yesus yang akan datang, dan kehidupan tidak bercela sama seperti yang dikenakan oleh Yesus, sehingga mereka disebut sebagai orang Kristen. Tetapi ketika orang Kristen tidak berada dalam penganiayaan, mereka tidak lagi memiliki kehidupan normal seperti yang diajarkan oleh Yesus. Ini berarti orang-orang Kristen memiliki new normal yang sebenarnya telah menyimpang dari kekristenan yang sejati atau new normal yang salah.
    Keadaan new normal yang menyimpang dari kebenaran ini, diwariskan dari generasi ke generasi sampai hari ini. Gereja dan para teolognya hanya mewariskan doktrin dan liturgi, tetapi pola kehidupan Yesus tidak diajarkan dengan benar. Gereja dan teolognya sibuk dengan perdebatan teologi dan saling menyakiti. Gereja dan para teolognya hanya cakap berteologi, tetapi tidak menghidupkan Yesus dalam kehidupan mereka. Karena gereja dan para teolognya tidak memiliki kehidupan Yesus, tidak ada yang bisa diwariskan kepada penerusnya. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang tidak tahu bahwa kekristenan yang mereka warisi adalah keberagamaan, bukan jalan hidup Yesus yang harus dikenakan.
    Sebenarnya, kehidupan Kristen yang normal telah ditunjukkan oleh orang percaya sesudah kenaikan Yesus ke surga. Salah satu sosok orang percaya yang menjadi model orang percaya yang normal di mata Allah adalah Paulus. Dari sejarah kehidupan Paulus dan kesaksiannya, dalam tulisan-tulisannya, kita dapat memperoleh gambaran kehidupan orang percaya yang normal. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: “Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!” (1Kor. 4:16). Di bagian lain, Paulus juga memberi pernyataan yang sama: “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu” (Flp. 3:17).
    Dengan demikian, tidak dapat disangkal bahwa kehidupan Paulus adalah standar normal kehidupan orang percaya. Dalam hal ini, hendaknya kita tidak memandang kehidupan seorang rasul adalah kehidupan istimewa yang tidak dapat dimiliki oleh orang percaya pada umumnya. Kehidupan para rasul seperti Paulus adalah model kehidupan orang percaya yang harus dijalani oleh setiap orang percaya di sepanjang zaman dan di segala tempat. Namun, bukan hanya kehidupan para rasul, kehidupan Yesus juga merupakan model kehidupan utama yang harus orang percaya kenakan sebagai gaya hidup normalnya.
    Paulus menyaksikan pengalaman hidupnya, dimana ia memutuskan untuk meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Yesus, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:7-8). Dengan kesediaannya meninggalkan segala sesuatu, hidup Paulus menjadi tidak normal di mata manusia. Tetapi, itulah yang normal di mata Allah, dan kemudian diikuti oleh orang percaya pada abad pertama. Kehidupan Rasul Petrus juga kehidupan yang normal di mata Allah dalam pengiringannya kepada Yesus. Hal ini tampak dari suratnya, seperti misalnya dalam 1 Petrus 1:3-18; 2 Petrus 1:3-4.
    Pertanyaan penting sekarang ini adalah: Di manakah model kehidupan seperti yang dikenakan oleh Yesus dan diteruskan oleh murid-murid-Nya, dan juga oleh Paulus? Hari ini, kekristenan telah mengalami kemerosotan yang sangat parah. Hal ini menunjukkan keberhasilan penghulu dunia atau kuasa kegelapan dengan tipu dayanya, sehingga dapat menyesatkan banyak orang percaya dari kesetiaannya yang sejati kepada Kristus, seperti Hawa diperdaya oleh ular (2Kor. 11:2).
    0 min
  • Kehilangan Segala Sesuatu
    Orang percaya harus memerhatikan yang dikatakan oleh firman Tuhan di dalam 2 Korintus 6:17-18, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Kalau ayat ini tidak dipahami dengan benar, mengesankan bahwa keselamatan dapat dicapai melalui atau dengan hidup kudus. Sebenarnya, bukan begitu maksud ayat tersebut. Keselamatan terjadi dengan diawali oleh kurban Yesus di kayu salib. Orang yang mengakui dan percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang memikul dosa manusia, harus mengikuti jejak hidup-Nya. Untuk itu, kita harus meninggalkan cara hidup anak-anak dunia ini, guna mengenakan cara hidup Yesus. Kalau tidak bersedia, berarti tidak percaya kepada-Nya.
    Kalimat “keluarlah kamu dari antara mereka dan pisahkanlah dirimu” merupakan panggilan untuk hidup secara khusus dan istimewa, yang tidak sama dengan gaya hidup sebelum seseorang dipanggil menjadi orang percaya. Dalam hal ini, bangsa Israel dapat menjadi gambaran kehidupan orang percaya. Mereka harus memiliki keadaan hidup yang berbeda untuk menjadi umat Allah. Bangsa Israel harus keluar dari Mesir, menerima Taurat dan melakukan hukum-Nya, dan mereka harus memunahkan semua orang Kanaan dari antara mereka, agar cara hidup bangsa kafir tidak memengaruhi kehidupan iman Israel. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Israel harus menjadi bangsa yang eksklusif bagi Allah (Elohim Yahweh).
    Kehidupan bangsa Israel tersebut sejajar dengan kehidupan orang percaya hari ini. Dalam 1 Petrus 2:9 Firman Tuhan mengatakan: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Ayat ini menunjukkan bahwa orang percaya harus benar-benar berkeadaan baru sebagai wujud dari langkah imannya; iman adalah tindakan. Dengan demikian, orang yang benar-benar percaya kepada Yesus harus memiliki keadaan seperti yang termuat dalam 1 Petrus 2:9.
    Sebenarnya, skema hidup seperti itu sudah dijalani oleh Abraham, sejak ia dipanggil menjadi bapak banyak bangsa, yang juga mendapat julukan “bapak orang beriman.” Abraham harus benar-benar berkeadaan berbeda dengan orang lain ketika ia bersedia mematuhi yang diperintahkan oleh Elohim Yahweh. Kehidupan Abraham sebagai bapak orang percaya menunjukkan bahwa pola hidup Abraham harus juga menjadi pola hidup orang percaya, yang adalah anak-anak Abraham di dalam iman. Tentu saja, untuk ketaatannya kepada Elohim Yahweh, Abraham harus bersedia kehilangan segala sesuatu. Sebenarnya, kalau orang percaya disebut anak-anak Abraham dalam iman, mereka pun harus memiliki skema hidup seperti yang dijalani oleh Abraham. Hal ini menegaskan bahwa beriman kepada Yesus berarti kehilangan segala sesuatu agar hanya memiliki Dia dalam hidup ini atau hidup dalam penurutan sepenuhnya kepada Allah (Flp. 3:7-9).
    Menjadi kemutlakan bagi orang percaya untuk memiliki gaya hidup yang berbeda dengan dunia, guna menjadi umat pilihan yang benar-benar terpilih. Untuk ini, orang percaya harus bertindak secara tegas memilih untuk mengikut Yesus, yaitu mengenakan gaya hidup yang dikenakan oleh Yesus. Tindakan ini bukan bermaksud untuk memberikan jasa guna memperoleh keselamatan, melainkan tindakan sebagai respons yang sama dengan tindakan iman untuk menyambut karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus. Hal ini sama sekali tidak menyalahi prinsip sola gratia (only by grace) atau hanya oleh anugerah.
    Bagi orang percaya yang dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, ia harus berani meninggalkan dunia dengan segala kenyamanannya. Selanjutnya, ia harus memikul salib, yaitu mengalami penderitaan untuk turut meneruskan karya keselama...
    0 min
  • Menjalani Normal Baru
    Dunia hari ini adalah dunia yang sangat jahat yang memiliki pengaruh sangat kuat dalam merusak kehidupan orang Kristen. Tidak heran kalau banyak orang Kristen yang kelihatannya memiliki kekristenan, tetapi sebenarnya tidak memiliki kehidupan normal sebagai anak-anak Allah. Ini berarti mereka hanya beragama Kristen, tetapi tidak hidup di dalam kekristenan yang sejati. Hal ini terjadi disebabkan oleh pemahaman mereka yang salah mengenai kekeristenan, sehingga kekristenan yang mereka kenakan jauh dari standar yang seharusnya dikenakan bagi orang percaya. Banyak di antara mereka yang berpikir bahwa menganut atau memeluk agama Kristen, pergi ke gereja dan mengenakan atribut kekristenan—seperti memakai kalung salib—berarti sudah memiliki kekristenan yang benar. Hal ini menunjukkan bahwa mereka belum bisa membedakan antara agama Kristen dan kekristenan. Itulah sebabnya, banyak orang Kristen tidak memiliki kehidupan seperti Kristus, padahal “Kristen” artinya seperti Kristus.
    Kekristenan mengalami kemerosotan yang parah selama ratusan tahun hingga sekarang. Dalam hal ini, yang paling bertanggung jawab adalah gereja. Banyak gereja tidak mengajarkan bagaimana seharusnya seorang Kristen menjalani hidup. Gaya hidup Yesus yang mestinya menjadi model yang harus dikenakan oleh orang percaya, tidak diajarkan secara konsekuen dan konsisten. Gereja-gereja seperti itu merasa cukup puas kalau jemaat sudah bermoral baik dalam ukuran moral umum, dan datang ke gereja setiap hari Minggu. Gereja membiarkan banyak orang Kristen hidup secara normal seperti anak-anak dunia, suatu normalitas yang bertentangan dengan normalitas Allah.
    Seharusnya, gereja mengajarkan bahwa keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Ini berarti orang percaya harus memiliki gaya hidup yang benar-benar baru, yang tidak sama dengan dunia. Terkait dengan hal ini Paulus mengatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rm. 12:2). Kalau orang Kristen tidak berbeda dengan orang non-Kristen, berarti itu sebuah penyimpangan di mata Tuhan.
    Ketika orang percaya berjuang untuk tidak sama dengan dunia, maka orang percaya tersebut semakin tampak tidak normal di mata dunia. Tetapi kalau orang Kristen tidak berusaha untuk berbeda dengan dunia, maka ia semakin tampak normal di mata dunia. Ini berarti normal baru (new normal) yang salah, sebab normal yang benar bagi orang percaya adalah kehidupan Yesus yang sudah dijalani-Nya 2000 tahun yang lalu, ketika Ia mengenakan tubuh seperti kita. Bagi orang percaya, mengenakan standar kehidupan Yesus haruslah tetap dipertahankan sebagai standar satu-satunya yang tidak boleh digantikan. Orang percaya harus bisa menyatakan suatu pengakuan seperti yang dilakukan oleh Paulus: “hidupku bukan aku lagi melainkan Kristus yang hidup dalam aku” (Gal. 2:19-20).
    Orang percaya harus senantiasa membawa kematian Yesus di dalam hidupnya, yang artinya selalu mengenakan gaya hidup tepat seperti yang dikenakan oleh Yesus. Jika tidak, berarti bukan orang percaya yang benar. Jadi sebenarnya, seseorang tidak layak menyandang status Kristen di dalam hidupnya jika tidak seperti Kristus. Dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia, harga ini tidak boleh dikurangi atau diubah. Percaya kepada Yesus berarti bersedia mengenakan gaya hidup-Nya. Tidak mengenakan gaya hidup Yesus berarti bukan orang percaya. Tentu saja orang yang tidak mengenakan gaya hidup seperti ini tidak memiliki keselamatan.
    Dunia kita hari ini sudah sangat gelap. Bukan hanya pada lingkungan di luar gereja, melainkan juga di dalam lingkungan komunitas Kristen di gereja. Orang-orang Kristen di gereja pada umumnya sudah merasa sebagai pengikut Kristus dan merasa berhak suatu hari masuk surga. Padahal, warna hidup mereka tidak berbeda dengan orang-orang non-Kristen dengan standar m...
    0 min
  • Perjuangan Untuk Tetap Setia
    Kuasa kegelapan atau penguasa dunia berusaha merusak kehidupan orang percaya yang benar, yaitu orang percaya yang normal di mata Allah yang mengenakan gaya hidup Yesus. Usaha kuasa kegelapan bertujuan supaya orang percaya menjalani hidup dalam kenormalan anak-anak dunia, sehingga menjadi tidak normal di mata Allah. Untuk itu, penguasa dunia menyuntikkan berbagai hikmat dunia dengan segala filosofinya, supaya cara berpikir orang percaya menjadi rusak. Inilah yang dikhawatirkan oleh Paulus, sehingga ia menulis: “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya” (2Kor. 11:3). Suasana dunia diciptakan atau dikondisi sedemikian rupa oleh “penguasa dunia” agar dapat memengaruhi orang percaya yang benar, agar mereka meninggalkan gaya hidup yang meneladani Yesus.
    Bujukan atau godaan ini sudah pernah dilakukan oleh penguasa dunia kepada Yesus, yaitu ketika ia menawarkan keindahan dunia. Kalau Yesus menyembah penguasa tersebut, maka keindahan dunia diberikan kepada-Nya. Yesus dalam intergritas-Nya menolak tawaran tersebut, dan tetap hidup sebagai Anak Allah yang secara patut hanya menyembah dan berbakti kepada Allah saja (Luk. 4:5-8). Yesus menjaga hidup normal-Nya sebagai anak Allah. Hal ini dilakukan oleh Yesus, sebab Ia harus menjadi pokok keselamatan (Yun. aitios) atau “penggubah” bagi orang-orang percaya yang taat kepada-Nya. Yesus harus membangun kenormalan hidup sebagai Anak Allah yang setia sampai mati di kayu salib. Untuk itu, dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Dalam hal ini, orang percaya harus menyadari bahwa perjalanan hidup kekristenan adalah perjuangan yang berat, menuntut pengorbanan segenap hidup tanpa batas.
    Kita belajar dari sejarah gereja, khususnya zaman setelah masa aniaya atau sejak dikeluarkannya maklumat Milan atau edict Milan. Sejak orang-orang Kristen mendapat tawaran hidup dalam kenyamaman, justru kekristenan mengalami kemerosotan. Orang-orang Kristen hidup kompromi dengan penguasa dunia dengan cara hidup sama seperti anak-anak dunia yang tidak mengenakan kehidupan Yesus. Orang-orang Kristen mulai memiliki kehidupan normal baru (new normal) yang salah, yaitu kenormalan seperti yang dimiliki anak-anak dunia. Pada dasarnya, sikap hidup orang Kristen dengan normal baru yang salah tersebut adalah sikap kompromi dimana mereka menyesuaikan diri dengan kehidupan manusia di sekitarnya. Sikap kompromi seperti ini sebenarnya adalah pengkhianatan atau ketidaksetiaan kepada Tuhan.
    Di balik fenomena perubahan zaman sejak edict Milan, sebenarnya penguasa dunia bermanuver menyesatkan orang-orang Kristen. Lebih lagi setelah Konsili Nicea—dimana kaisar yang masih belum dibaptis atau masih kafir bisa menyelenggarakan pertemuan untuk para pemimpin Kristen—gereja mulai disusupi unsur kekafiran. Kekristenan mengalami “mutan,” berubah wajah dari kehidupan berwajah batiniah Yesus, menjadi berwajah dunia. Tentu di balik wajah dunia ini, terdapat kuasa kegelapan. Kekristenan yang diwarisi oleh banyak orang Kristen hari ini, tidak sedikit yang palsu; bukan kekristenan yang diajarkan oleh Yesus.
    Dalam sepanjang sejarah kehidupan, penguasa dunia tidak pernah berhenti berusaha untuk menyeret sebanyak mungkin orang Kristen agar memiliki gaya hidup yang bertentangan dengan gaya hidup anak Allah yang telah diperagakan oleh Yesus. Itulah sebabnya, Paulus mengingatkan orang percaya untuk menjadi kuat di dalam Tuhan, karena ada musuh yang selalu berusaha menyesatkan. Dalam Efesus 6:11-12 Paulus mengatakan: “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”
    Orang percaya harus terus berjaga-jaga dan mengenakan perlengkapan senjata Allah su...
    0 min
  • Orang Percaya Dibenci
    Orang percaya yang setia kepada Yesus tidak mungkin disikapi ramah oleh dunia. Yesus sendiri berkata, “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku” (Yoh. 15:18-21).
    Orang percaya pasti teraniaya oleh dunia ini. Aniaya itu bisa terjadi secara harfiah—yaitu dengan persekusi atau penganiayaan secara fisik, seperti zaman rasul-rasul dan gereja mula-mula—tetapi juga bisa secara jiwani (psikis). Dalam 2 Timotius 3:12, firman Tuhan mengatakan: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Kata ‘hidup beribadah’ dalam teks aslinya adalah eusebos (εὐσεβῶς) yang artinya piously, godly (hidup saleh, suci, atau rohani). Orang yang hidup saleh atau hidup suci adalah orang-orang yang tidak hidup menuruti hikmat dunia atau penguasa kegelapan. Orang-orang percaya yang hidup suci ini pasti hidup dalam tekanan, persekusi, dan ketidaknyamanan. Itulah kehidupan normal orang percaya yang sungguh-sungguh mengikut Yesus.
    Dalam sejarah gereja mula-mula, Allah melepaskan kekristenan dari pengaruh spirit agamani dengan cara membangkitkan aniaya dari pihak pemimpin agama Yahudi kepada orang-orang percaya. Pada waktu itu, orang percaya baru disebut sebagai orang Kristen karena perilaku mereka seperti Yesus. Allah juga membuat perpisahan antara kekristenan dengan dunia atau dari pengaruh hikmat dunia dengan membangkitkan aniaya dari pihak kekaisaran Roma. Penganiayaan tersebut merupakan cara Allah memelihara gereja-Nya, seperti yang ditulis dalam Wahyu 12:6, “Maka wanita itu lari ke padang gurun, ke tempat yang sudah disediakan oleh Allah baginya. Di tempat itu ia akan dipelihara 1260 hari lamanya.” Padang gurun selalu berbicara mengenai keadaan sulit. Tetapi justru dalam kesulitan tersebut, iman Kristen terpelihara. Dalam keadaan aniaya, orang Kristen dapat menjaga kenormalannya sebagai pengikut Yesus. Dengan demikian, penganiayaan yang dialami oleh percaya adalah berkat kekal dari Allah.
    Ketika gereja mulai mendapat “angin segar” dari dunia—yaitu ketika kaisar Roma memberi maklumat yang disebut sebagai maklumat Milan (edict of Milan), dimana orang Kristen diberi keleluasaan untuk menjalankan keimanannya pada tahun 313—pada dekade itu kekristenan mulai diterima oleh kekaisaran Roma dan masyarakat luas. Kaisar-kaisar Roma mulai memeluk agama Kristen. Menyedihkannya, justru setelah tidak ada aniaya terhadap orang percaya, orang-orang Kristen tidak lagi memiliki kehidupan Kristen yang benar, atau yang normal di mata Allah sesuai dengan yang Yesus jalani. Gereja malah bersahabat dengan dunia. Inilah awal kemerosotan kekristenan sampai hari ini. Kenormalan hidup orang percaya yang dikenakan rasul-rasul dan jemaat mula-mula tidak lagi dikenakan orang Kristen sejak saat itu. Kehidupan mereka menjadi berubah tidak normal di mata Allah, yaitu ketika kenyamanan hidup ada dalam kehidupan orang-orang Kristen. Orang-orang Kristen mulai tidak mengikut Yesus, tetapi mengikut penguasa dunia. Ini namanya normal baru (new normal) yang bertentangan dengan kekristenan awal yang sejati.
    Pada dasarnya, kehidupan normal orang percaya yang benar adalah mengenakan gaya hidup atau cara hidup Yesus dalam segala hal. Ini adalah gaya hidup yang tidak dikenal oleh dunia. Tentu saja dengan gaya hidup yang tidak dikenal oleh dunia ini, dunia menjadi asing bagi orang percaya; atau di lain pihak,
    0 min
  • Penguasa Dunia
    Tidak banyak orang yang mengerti dan benar-benar menyadari adanya penguasa dunia atau kuasa kegelapan, yang disebut beberapa kali oleh Yesus dan tulisan para rasul. Padahal, penguasa ini paling berperan dalam kejatuhan manusia ke dalam dosa dan kerusakan dunia ini. Oknum ini adalah musuh Allah, kekuatan yang melawan Allah dan yang berusaha menyeret sebanyak mungkin manusia ke dalam kebinasaan. Ia bergerak tiada henti di dalam kehidupan manusia. Salah satu keberhasilannya dalam menipu manusia adalah membuat manusia tidak menyadari manuvernya yang aktif dan masif, sehingga ia dapat menawan banyak orang—termasuk banyak orang Kristen—dalam cengkeramannya. 
    Banyak orang Kristen yang tertawan, tetapi tidak menyadari keadaannya. Inilah kecerdikan musuh tersebut. Sementara itu, Tuhan seakan-akan diam. Mengapa? Sebab Tuhan memiliki tatanan, kalau Ia sudah berbicara dalam porsi tertentu dan seorang Kristen tidak merespons dengan benar, maka Tuhan membiarkannya. Oleh sebab itu, seharusnya kita peka terhadap setiap peringatan dan teguran Tuhan, serta meresponnya dengan baik. Jika tidak, kita akan terjerembab ke dalam jebakan kuasa kegelapan. Inilah dinamika orang percaya dalam menjalani hidup dengan kehendak bebas. Hidup adalah pergumulan antara menang dan kalah, merdeka atau tertawan, selamat atau binasa, dan surga atau neraka. 
    Dalam terjemahan King James, Tuhan Yesus menyebut oknum kuasa gelap tersebut sebagai “the prince of this world” (Yoh. 14:30). Rata-rata terjemahan bahasa Inggris menerjemahkan demikian, tetapi di New King James (NKJ) diterjemahkan “the ruler of this world.” Dalam bahasa aslinya, terjemahan dari ho tou kosmou arkhon (ὁ τοῦ κόσμου ἄρχων). Kosmou dari asal kata kosmos yang artinya dunia, sedangkan kosmon berarti penguasa, tuan, atau pangeran (ruler, lord, prince). Yesus menyatakan bahwa oknum inilah yang menggerakkan massa Yahudi menyalibkan diri-Nya. Dalam Lukas 22:53, Yesus berkata mengenai oknum ini sebagai berikut: “Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi inilah saat kamu, dan inilah kuasa kegelapan itu.” 
    Kata “kuasa kegelapan” dalam teks aslinya adalah he exousia tou skotous (ἡ ἐξουσία τοῦ σκότους). Dalam terjemahan bahasa Inggris versi King James (KJV) adalah the power of darkness. Paulus menyebut kuasa kegelapan ini dalam Kolose 1:13, “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih.” Dalam 1 Korintus 2:8, Paulus juga mengungkapkan, “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.” Dengan demikian, di balik gerakan massa yang kuat, yang berteriak “salibkan Dia,” ada kuasa kegelapan yang memengaruhi dan menggerakkannya. Penguasa dunia yang sama dengan kuasa kegelapan inilah yang menguasai orang-orang yang tidak mengikuti jalan Tuhan. Paulus menulis kepada jemaat Efesus sebagai berikut: “Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka” (Ef. 2:2). 
    Paulus sendiri mengakui bahwa dirinya—walaupun secara hukum Taurat tidak bercela—ada di bawah kekuasaan kuasa kegelapan ini (Ef. 2:3). Dari kuasa kegelapan ini, dipancarkan hikmat dunia yang menyesatkan. Mengenai hal ini Paulus mengatakan: “Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan” (1Kor. 2:6). Kuasa kegelapan atau penguasa dunia mengajarkan “hikmat dari dunia.” 
    Sebelum dimerdekakan oleh Yesus, orang-orang Kristen hidup dengan cara hidup anak-anak dunia dalam pengaruh kuasa kegelapan atau penguasa dunia ini. Hidup normal mereka adalah hidup normal anak-anak dunia yang tidak mengenal kebenaran.
    0 min
  • PERJALANAN DALAM PERJUANGAN
    Tuhan Yesus berkata: “Jadikan semua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:18-20). Amanat itu memuat panggilan agar orang percaya menjadi seperti diri-Nya. Tentu Roh Kudus yang akan menjadi pelaksana dari proses perubahan menjadi seperti Dia, selama orang percaya memberi diri dimuridkan untuk mengalami perubahan kodrat, dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Persekutuan dengan Allah sesuai dengan Yohanes 17:21, secara ideal dapat terwujud kalau seseorang memiliki keberadaan seperti Yesus. Oleh sebab itu, hal menjadi seperti atau serupa dengan Yesus adalah kemutlakan yang harus dicapai orang percaya. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan, sebab Allah memberikan kuasa (Yun. exousia) supaya orang percaya menjadi anak-anak Allah. Anak-anak Allah adalah sebuah keberadaan moral atau karakter, bukan hanya sebuah status. Keberadaan ini harus diperjuangkan oleh setiap individu sebagai respons terhadap anugerah yang Allah berikan. Percaya atau iman seseorang kepada Yesus diwujudkan dalam tindakan tersebut. Tanpa respons ini, tidak akan terjadi perubahan; berarti itu adalah sikap atau kehidupan tidak percaya.
    Kalau Yesus berkata bahwa tidak ada jalan lain untuk sampai kepada Bapa, artinya bahwa hanya oleh proses pendewasaan atau proses pemuridan yang dikerjakan Roh Kudus di dalam hidup orang percaya sehingga menjadi seperti Yesus, seseorang baru bisa memiliki persekutuan dengan Allah sebagai Bapa dan orang percaya sebagai anak-anak-Nya. Hal ini sama artinya dengan memasuki wilayah Allah. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak berpikir bahwa secara otomatis dengan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, terjadi perdamaian dengan Allah. Perdamain itu terwujud kalau kita memasuki proses perubahan dari manusia yang berkodrat dosa—artinya tidak bisa bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah—menjadi manusia yang berkodrat ilahi—artinya dalam segala hal yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Proses perubahan itu bisa terjadi atau berlangsung kalau seseorang meninggalkan segala sesuatu (Luk. 14:33). Meninggalkan segala sesuatu artinya harus berusaha benar-benar hidup tidak bercacat dan tidak bercela, serta bersedia tidak menikmati dunia sama seperti manusia pada umumnya menikmati dunia. Semua ini harus dimulai dari tekad yang kuat dan bulat dari diri sendiri. Tekad ini yang menentukan keselamatan seseorang, karena tekad ini yang menentukan kualitas percaya seseorang. Percaya yang benar disertai tekad kuat sampai kita rela bersedia berbuat apa pun yang Allah kehendaki, membuat kita menjadi orang Kristen yang sejati. Dalam hal ini, Abraham sebagai model dan inspirasi iman yang benar. Kalau iman atau percaya hanya dalam pikiran, maka tidak membutuhkan tindakan dan tidak diperlukan tekad apa pun.
    Tujuan hidup kita adalah mewujudkan keselamatan, dikembalikannya manusia ke rancangan semula. Yesuslah model rancangan semula Allah. Dengan menjadi seperti Yesus, kita dapat bersekutu dengan Allah atau tinggal di dalam Dia. Hanya orang yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus yang dapat memiliki hubungan yang harmoni dengan Allah sebagai Bapa-Nya. Bila hal itu terwujud, maka tercapailah tujuan keselamatan dimana kita menjadi anak-anak Allah, bukan saja secara hukum (de jure) melainkan juga secara kenyataan (de facto). Kalau tidak ada kenyataan orang percaya berkeberadaan seperti Yesus yang melakukan kehendak Bapa, maka seseorang akan tertolak dari hadapan Allah (Mat. 7:21-23).
    Kekristenan adalah perjalanan hidup penuh perjuangan untuk mengubah diri, yaitu mengalami perubahan kodrat, agar mencapai kehidupan dalam persekutuan dengan Allah secara benar. Hal ini tidak boleh digantikan dengan hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan teologi atau doktrin. Ada ruangan untuk pengetahuan tentang Allah atau teologi, tetapi ada ruangan yang mutlak untuk perjuangan menjadi anak-anak Allah yang berkodrat ilahi. Format-format kalimat teologi tidak dapat menggantikan perjuangan rii...
    0 min
  • MENINGGALKAN SEGALA SESUATU
    Iman adalah tindakan seperti Abraham, yaitu menyerahkan segenap hidupnya untuk menuruti apa pun kehendak Allah di dalam hidupnya. Kalau kehidupan seseorang tidak menuruti kehendak Allah, ia belum bisa dikatakan beriman. Menuruti kehendak Allah bukan saja perbuatan baik karena melakukan hukum. Firman Tuhan mengatakan bahwa seseorang dibenarkan bukan karena perbuatan baik, maksudnya bukan karena perbuatan baik menurut hukum atau dengan melakukan hukum, melainkan karena iman atau penurutan terhadap kehendak Allah. Kalau seseorang belum hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, berarti belum beriman. Standar menuruti kehendak Allah haruslah kehidupan Yesus. Oleh sebab itu, orang percaya harus berkerinduan kuat untuk menjadi seperti Yesus yang hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah.
    Banyak orang Kristen yang tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau yang sama artinya belum melakukan kehendak Allah. Jangankan melakukan kehendak Allah, mengalami perjumpaan dengan Allah saja, mereka belum pernah. Mengalami perjumpaan dengan Allah adalah sesuatu yang benar-benar riil, karena Allah adalah Allah yang hidup. Orang yang melakukan kehendak Allah adalah orang yang menemukan rencana Allah di dalam hidupnya. Dalam hal ini, hidup setiap orang percaya memuat rencana Allah yang khusus. Setiap orang percaya harus menemukan rencana Allah tersebut dan memenuhinya. Inilah yang dimaksud Yesus dengan “menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34).
    Ini adalah hal yang paling penting dalam hidup ini, lebih penting dari studi, karier, menikah atau berkeluarga, dan lain sebagainya. Sebagai umat pilihan, mestinya hal melakukan kehendak Allah menjadi satu-satunya agenda hidup kita. Jika kita tidak berani menjadikan ini sebagai satu-satunya agenda hidup, berarti tidak percaya. Orang-orang seperti ini pasti tidak berani melepaskan segala sesuatu. Tidak berani melepaskan segala sesuatu berarti tidak pernah mengalami proses atau mekanisme pemuridan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Luk. 14:33). Tuhan tidak bisa memuridkan atau mengubah orang yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya. Ini berarti, ia tidak pernah memiliki hidup kekal. Hidup kekal berarti hidup yang berkualitas sejak di bumi. Apa yang dijelaskan ini paralel dengan penjelasan di atas, bahwa keselamatan dimulai sekarang, sejak hidup di bumi, bukan nanti setelah mati.
    Dalam Yohanes 17:3 Yesus berkata, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Hidup yang kekal adalah hidup yang berkualitas. Kalau seseorang memiliki hidup kekal, pasti kualitas hidupnya seperti Yesus. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tentu kalau seseorang mengenal (Yun. Ginosko) Allah, yaitu memiliki perjumpaan dengan Allah. Hal tersebut bisa terselenggara hanya melalui Yesus Kristus, yaitu melalui kurban-Nya di kayu salib, dan proses pendewasaan menjadi serupa dengan Yesus atau mengalami perubahan kodrat. Kalau Yesus berkata bahwa kita harus mengikut Dia, itu sama artinya dengan memiliki hidup yang berkualitas seperti diri-Nya.
    Untuk proses pendewasaan sebagai murid Yesus, kita harus meninggalkan segala sesuatu, meninggalkan keterikatan dengan dunia ini. Harus selalu diingat, bahwa mengikut Yesus berarti harus melepaskan segala sesuatu guna mendapatkan Dia (Flp. 3:9-11). Tidak melepaskan semuanya dan menganggapnya “sampah,” berarti tidak dapat memperoleh Kristus. Tindakan barter ini adalah tindakan mutlak yang harus dilakukan. Orang yang tidak berani meninggalkan segala sesuatu berarti seperti orang kaya di Matius 19:16-26. Akhirnya, ia hanya menjadi orang beragama yang baik, yang tidak bercacat melakukan hukum, setia melakukan ibadah agamani, tetapi tidak pernah memiliki hidup yang kekal atau hidup yang berkualitas.
    Dalam hal ini, sangat jelas bahwa kekristenan adalah jalan yang sukar, bahkan dikatakan dalam Matius 19 adalah jalan yang mustahil. Tetapi,
    0 min
  • MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH
    Dalam Injil Yohanes 14:6, Yesus menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya jalan sampai kepada Bapa. Yesus sebagai jalan bukan hanya untuk dipercayai dan diakui sebagai benar, tetapi harus dijalani, karena percaya adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran; berupa keyakinan dan persetujuan dalam pikiran. Banyak orang Kristen merasa sudah memercayai Yesus sebagai jalan, dan merasa sudah memperoleh keselamatan karena meyakini-Nya. Kita tidak boleh membedakan diri kita sebagai orang percaya dengan mereka yang bukan Kristen, hanya dari sudut kepercayaan. Orang di luar Kristen tidak percaya dan tidak mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Kalau perbedaaan hanya di keyakinan di dalam pikiran, kehidupan kita tidak berbeda dengan mereka. Yang membedakan adalah kesediaan menjalani jalan hidup itu, yaitu Yesus sebagai jalan hidup kita. Perbedaan tersebut juga dikalimatkan oleh Yesus di dalam Matius 5:20, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Bila hal ini belum terwujud, berarti percayanya atau imannya belum benar.
    Yakobus berkata kalau hanya percaya bahwa Allah itu esa, apa bedanya dengan daimonian; roh-roh jahat (Yak. 2:19)? Iman bukan hanya keyakinan dalam pikiran, melainkan relasi antara subjek yang percaya dan objek yang dipercayai. Allah bukan hanya diyakini, melainkan juga dialami—dalam arti memiliki perjumpaan riil dengan Dia sehingga benar-benar mengalami Dia. Kalau Yesus memberi mandat kepada orang percaya untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya, berarti harus ada proses dimana orang percaya mengalami mekanisme belajar kepada Yesus sehingga memiliki kehidupan seperti kehidupan yang dijalani oleh Yesus. Itulah sebabnya, kalau kekristenan hanya menjadi agama, maka orang Kristen tidak pernah menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak-anak Allah bukan hanya status yang diakui, melainkan keberadaan kodrat yang dialami.
    Ini adalah kesalahan yang sangat fatal, sebab dengan pemikiran tersebut, banyak orang Kristen yang sebenarnya belum memiliki keselamatan tetapi merasa sudah memilikinya. Keselamatan adalah suatu proses perubahan di bumi ini, yaitu dikembalikannya seseorang ke rancangan Allah semula. Harus benar-benar dipahami dan dialami, bahwa keselamatan dimulai sekarang, di bumi ini, bukan hanya nanti setelah meninggal dunia. Kalau di bumi ini tidak mengalami keselamatan, maka di kekekalan pun ia tidak pernah memilikinya. Pengalaman keselamatan bukanlah dialami dalam atau dari keyakinan semata-mata, melainkan dari pengalaman riil perjumpaan dengan Allah yang membuat seseorang mengalami perubahan kodrat. Perjumpaann itu tidak akan dialami, kalau seseorang tidak hidup dalam penurutan total atau mutlak kepada Allah.
    Banyak orang bertahun-tahun beragama Kristen dengan pergi ke gereja, menjadi majelis, bahkan menjadi pejabat sinode seperti pendeta, tetapi ternyata tidak bertumbuh mengalami perubahan kodrat, yaitu dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Mereka terkubur dalam hidup keberagamaan yang tidak pernah mengenakan kehidupan Yesus secara konsekuen dan konsisten. Itulah sebabnya, gaya hidup mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang bukan umat pilihan. Bagi rohaniwannya, tidak berbeda dengan rohaniwan agama lain.
    Dengan pengertian yang salah tersebut, mereka tidak sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi serupa dengan Yesus. Mereka tidak sungguh-sungguh berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah bertumbuh dalam iman sampai pada tingkat di mana pengharapan keselamatan menjadi milik yang pasti (Ibr. 6:11) atau memiliki hak penuh masuk Kerajaan Kekal, Kerajaan Tuhan Yesus Kristus (1Ptr. 1:11). Hal ini dibuktikan dengan kehidupan wajar di bumi, dan tidak adanya gairah yang kuat dengan sukacita menantikan kedatangan Tuhan, memasuki Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Itulah sebabnya,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…