Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Satu-satunya Yang Berharga
    Biasanya, orang-orang Kristen yang hanya pada tingkat beragama, cukup puas dengan kelengkapan liturgi dan pengetahuan tentang Allah atau teologi yang dimilikinya. Pengetahuan Alkitab atau teologi dan liturgi mestinya tidak boleh menggantikan perjumpaan dengan Allah dalam kehidupan seseorang yang berjalan bersama dengan Allah setiap saat secara konkret. Selama ini, faktanya liturgi dan pengetahuan tentang Allah atau teologi menggantikan ruangan perjumpaan riil dengan Allah yang harus dialami oleh setiap orang percaya. Hal ini berpotensi besar—dan faktanya demikian sudah terjadi—dimana agama atau kegiatan kerohanian menjadi bisnis atau lahan untuk mendapatkan keuntungan. Dalam hal ini, liturgi dan teologi bisa dijual atau menjadi komoditas guna memperoleh keuntungan. Mestinya, liturgi dan teologi (tentu teologi yang benar) menjadi salah satu kendaraan seseorang mengalami perjumpaan dengan Allah. Tetapi kalau liturgi dan teologi menjadi tujuan, maka Allah tidak pernah dijumpai. Allah hanya menjadi wacana dan fantasi orang beragama.
    Kedalaman hubungan atau keintiman hubungan dengan seseorang tergantung intensitas hubungan kita dengan orang tersebut, dengan segala kepentingan yang terkait di dalamnya. Semakin intim atau dekat kita dengan seseorang, kita semakin masuk wilayah hidup orang itu; atau sebaliknya, ia semakin masuk ke wilayah hidup kita. Demikian pula skema hubungan kita dengan Allah. Semakin kita memiliki keintiman atau kedekatan dengan Allah, kita semakin masuk wilayah hati Allah. Tentu hal ini terjadi kalau kita membuka ruangan atau wilayah hidup kita untuk Dia secara proporsional. Faktanya, tidak banyak orang yang memiliki keintiman dengan Allah, sebab mereka tidak membuka ruangan hidupnya secara patut bagi Dia. Orang yang menyediakan ruangan yang terbatas untuk Allah, tidak akan pernah memiliki hidup dalam normalitas sebagai orang percaya yang benar. Seharusnya, orang percaya menyerahkan seluruh wilayah atau ruangan hidupnya hanya untuk Allah.
    Banyak orang lebih membuka ruangan hidup atau wilayah hidupnya untuk kesenangan menikmati fasilitas materi dunia dengan segala hiburannya. Orang yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup adalah orang yang membuka wilayah hidupnya untuk Tuhan. Kalau yang dibuka hanya sebagian, maka Tuhan tidak akan masuk (kecuali memang orang tersebut belum dewasa). Tatanannya adalah bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan; kita memberikan seluruh hidup kita atau tidak sama sekali (Mat. 6:24). Tidak ada “paket” boleh memberikan sebagian hidup kita untuk Tuhan. Allah adalah Allah yang berdaulat. Ia menghendaki agar kita hidup dalam kedaulatan-Nya secara mutlak. Tentu hal ini tidak dipaksakan. Kita harus dengan rela memberi diri hidup dalam kedaulatan Allah secara mutlak agar kita bisa menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya, dan menempatkan Allah sebagai satu-satunya yang terhormat di dalam hidup.
    Sesungguhnya kesempatan untuk “masuk wilayah Allah”—artinya memiliki hubungan yang eksklusif dengan Allah—adalah suatu kehormatan. Hal ini mempersiapkan kita untuk masuk Rumah Bapa. Kita harus berani menginvestasikan segenap hidup kita tanpa batas untuk itu. Kita harus rela kehilangan segala sesuatu, apa pun dan siapa pun demi membangun relasi yang eksklusif dengan Allah. Memang untuk terbangun relasi tersebut, tidak boleh ada sesuatu atau seseorang yang ada di tengah atau menghalangi eksklusivitas relasi dengan Allah, yang harus menjadi satu-satunya yang berharga dalam hidup ini. Bukan salah satu yang berharga, bukan pula yang paling berharga, tetapi “satu-satunya” yang paling berharga. Terkait dengan hal ini, Yesus berkata bahwa seseorang harus membenci “nyawanya sendiri” baru bisa memiliki relasi yang sepantasnya dengan Allah (Luk. 14:26).
    Inilah faktanya, bahwa untuk mengalami dan memiliki Allah—sehingga terbangun hubungan yang eksklusif—”mengancam” kehidupan orang-orang di sekitar kita yang tidak memiliki gerak yang sama dengan kita.
    0 min
  • Bukan Anugerah Murahan
    Karena melihat kehidupan nyaman dan kemewahan pendeta-pendeta sekarang ini di kota-kota besar, maka berbondong-bondonglah orang mau studi di seminari atau sekolah tinggi teologi, demi hasrat menjadi pendeta. Selain anak pendeta, keluarga pendeta, atau menantu pendeta juga anggota pemuda gereja yang dengan alasan melayani Tuhan, pergi ke seminari atau sekolah tinggi teologi, padahal mereka hanya karena mau mengubah nasib dengan meningkatkan taraf sosial ekonomi mereka. Tidak heran, pada akhirnya—kalau tidak mewarisi gereja keluarga atau orangtua—mereka menolak diutus ke daerah-daerah yang jauh dari kota-kota besar. Bahkan, di antara anak-anak pendeta atau keluarga pendeta tersebut, tidak mau mewarisi gereja orangtua atau keluarga mereka karena kemiskinan ekonomi jemaat di daerah tersebut.
    Tidak sedikit mereka yang mengikuti pendidikan di seminari atau sekolah tinggi teologi didorong oleh gairah memiliki kekayaan yang dapat diraih dengan lebih mudah, serta memiliki gelar sebagai nilai diri atau prestise. Itulah sebabnya, mereka biasanya bangga memperkenalkan diri dan mengaku sebagai “hamba Tuhan.” Kalau seminari atau sekolah tinggi teologi hanya memperlengkapi mahasiswanya dengan pengetahuan nalar teologi serta teknik-teknik pelayanan tanpa mengubah kodrat, maka mereka hanya meluluskan orang-orang yang nantinya menjadi “pegawai gereja atau pelayan gereja,” tetapi bukan pelayan Tuhan. Ini berarti, mereka “melayani Tuhan” hanya sekadar menjalani hidup wajar seperti orang pada umumnya dengan profesi masing-masing. Kalau jujur, di antara mereka sebenarnya tidak pernah mengerti buasnya kehidupan dengan segala tuntutannya. Seandainya mereka pernah bekerja di sebuah perusahaan, dimana pegawainya dituntut untuk memenuhi target, mereka baru mengerti betapa tidak mudahnya menjalani hidup ini.
    Orang yang bergumul dalam marketplace sering lebih mengerti realitas sukarnya menjalani kehidupan ini daripada mereka yang ada di gereja sebagai pegawai gereja, yang setiap bulan mendapat “persembahan kasih” tanpa tuntutan dan target tertentu yang harus dicapai. Pendeta-pendeta yang dibesarkan di lingkungan sekolah teologi lalu dengan mudah menjadi pendeta, atau para pengusaha yang alih profesi menjadi pendeta, menikmati mudahnya mencari nafkah di gereja. Biasanya, mereka tidak mengajarkan bagaimana jemaat harus bekerja keras bersaing di marketplace, menjaga kesehatan, dan bertanggung jawab dalam berbagai aspek. Mereka hanya menekankan mukjizat dan doa yang bisa mengubah segala sesuatu dengan mudah. Mereka biasanya menjanjikan kehidupan yang mudah dijalani dengan doa-doa. Mereka juga mengklaim diri sebagai “dekat dengan Allah” supaya bisa menjadi mediator antara jemaat dengan Allah. Kalau dalam dunia okultisme, orang-orang seperti ini berperan sebagai “dukun” yang menjadi mediator antara kekuatan gaib dengan pasien yang datang minta pertolongan. Dalam hal ini, terjadi “praktik perdukunan di dalam gereja.” Kalau dukun menggunakan kuasa gelap, tetapi pendeta mengaku menggunakan kuasa Allah. Sejatinya, mereka tidak mengenal hakikat Allah dengan benar, Allah disamakan dengan kuasa lain.
    Biasanya, pendeta-pendeta seperti ini juga mengajarkan kebaikan dan kekuasaan Allah tanpa mengajarkan karakter atau hakikat Allah secara seimbang. Pasti mereka tidak mengajarkan betapa tidak mudah untuk mengalami dan memiliki keselamatan; mereka mengajarkan anugerah murahan, bukan perjalanan untuk masuk jalan sempit. Kelompok orang-orang ini tidak memahami bahwa untuk mengalami dan memiliki keselamatan, tidak cukup hanya berusaha (mengingini dengan usaha apa adanya) tetapi harus berjuang (Luk. 13:3-24). Pendeta seperti ini biasanya secara praktis menganut teologi “hyper grace,” bahkan mengajarkan “double grace,” walaupun dalam pengakuannya mereka menyatakan tidak setuju dengan hyper grace. Dari khotbah dan yang mereka ajarkan, dikesankan bahwa memperoleh keselamatan dan masuk surga bukan hal yang sulit, tidak perlu ada perjuangan.
    0 min
  • Bisnis Yang Menjanjikan
    Sejak beberapa dasawarsa belakangan ini, terjadi kebangunan rohani di Indonesia, persekutuan-persekutuan doa serta gereja-gereja muncul bagai jamur di musim hujan. Banyak Kebaktian Kebangun Rohani dan seminar rohani yang menggerakkan orang Kristen aktif dalam kegiatan rohani. Orang-orang Kristen mulai bergairah datang ke kebaktian-kebaktian. Tempat pertemuan jemaat—yaitu ruangan kebaktian—yang tadinya hanya di gereja, sekarang bisa diadakan di gedung-gedung atau ruang-ruang pertemuan umum. Di kantor-kantor, pasar-pasar, gedung-gedung bersama sebagai perkantoran, komunitas-komunitas yang memiliki kepentingan yang sama juga mengadakan pertemuan-pertemuan bersama untuk memuji Tuhan dan mendengarkan Firman Tuhan yang biasa disebut sebagai persekutuan doa. Bahkan, kemudian lahirlah gereja-gereja baru. Persekutuan-persekutuan doa dan gereja-gereja yang baru muncul membutuhkan pembicara dan mereka yang bisa memimpin puji-pujian serta pemain musik. Ini bisa dikatakan sebagai new normal. Di balik ini, Allah sedang mau memulihkan gereja-Nya.
    Disertai dengan pengajaran persepuluhan, maka banyak gereja mendulang banyak uang dari jemaat. Jemaat merasa yakin dengan memberi persepuluhan bisnisnya lancar, menghasilkan banyak uang, kariernya cepat menanjak, dan segala sesuatu yang dilakukan lebih diberkati atau sukses. Persepuluhan diajarkan sebagai “portal” untuk memperoleh berkat Tuhan; sebaliknya, kalau tidak memberi , “belalang pelahap” dan kutuk-kutuk dapat menimpa hidup mereka; bisa berupa sakit penyakit, kebangkrutan usaha, kegagalan karier, dan lain sebagainya. Dengan kondisi kekristenan seperti ini, jabatan atau profesi pendeta bisa “sangat menjanjikan,” juga termasuk worship leader atau pemimpin puji-pujian, juga dibutuhkan banyak pemain musik dan singer dalam kebaktian.
    Banyak pendeta dalam waktu singkat, tanpa kerja keras, memiliki berbagai fasilitas yang tidak dimiliki oleh mereka yang memiliki perjuangan setara di dalam dunia sekuler. Menjadi pendeta jauh lebih beruntung dibanding menjadi petani, pegawai swasta, atau pegawai negeri. Banyak pendeta mempertontonkan “berkat Tuhan” berupa mobil, rumah, arloji, barang-barang mewah yang dikenakan. Inilah yang menjadi pemicu banyak orang mau menjadi hamba Tuhan. Tidak sedikit pengusaha yang melihat masa depan suram dalam bisnisnya atau sudah mulai mengalami kemerosotan mulai berpindah profesi, apalagi kalau memiliki talenta khusus seperti cakap berbicara, pujian dan penyembahan, dan lain sebagainya yang bisa menjadi “amunisi” yang baik untuk menjadi hamba Tuhan yang “dipasarkan.” Ada pendeta-pendeta yang hanya berbekal kesaksian pertobatan atau menyanyikan puji-pujian, tetapi kemudian menjadi pendeta dengan berbagai pengajaran yang diklaim dia peroleh dari Tuhan, padahal mereka mengembangkannya sendiri.
    Tentu saja tidak salah kalau seseorang berpindah profesi, dari pedagang atau pengusaha menjadi pendeta atau hamba Tuhan, tetapi seharusnya mereka diperlengkapi bukan saja dengan pemahaman kebenaran Firman Tuhan, melainkan juga yang terutama adalah benar-benar telah mengalami perubahan kodrat. Kalau tidak, mereka akan menjadi “penyesat-penyesat” di dalam gereja dengan berbagai pengajaran yang tidak membawa jemaat Kristen kepada maksud keselamatan diberikan oleh Allah. Mereka yang beralih profesi menjadi pendeta belum tentu benar-benar sudah mengalami pertobatan. Banyak kausalitas yang menyebabkan seseorang memberi diri aktif dalam kegiatan rohani.
    Setelah melewati tahun-tahun panjang sejak tahun 1980, yaitu masa dimulainya kegerakan rohani di Indonesia, sekarang ini barulah tampak kualitas dari pendeta-pendeta tersebut serta gereja mereka. Hal ini nyata dari pengajaran yang mereka ajarkan, kualitas hidup mereka jika dipandang dari sudut kehidupan Yesus yang harusnya menjadi modelnya, dan kualitas kehidupan jemaat. Ternyata, kegerakan rohani yang terjadi selama puluhan tahun ini, yang dimaksud Tuhan untuk menjadi normal baru (new normal) sesuai dengan kacamata Tu...
    0 min
  • Maksud Utama Pentakosta
    Kalau kekristenan dalam kehidupan orang-orang percaya dan pelayanan di lingkungan gereja disamakan dengan kegiatan keberagamaan seperti agama lain, berarti telah terjadi kemerosotan atau penyimpangan. Tanpa disadari, telah diajarkan dan ditanamkan dalam kehidupan banyak orang Kristen, suatu Injil yang sebenarnya bukan Injil yang sejati. Dengan ini, sebenarnya kekristenan tidak ada di jalur yang benar. Faktanya, sudah berabad-abad gereja mengalami kemerosotan atau penyimpangan dimana kekristenan tidak berbeda dengan kegiatan keberagamaan seperti agama-agama pada umumnya, dengan segala atributnya. Memang tidak bisa dihindari, kegiatan keberagamaan Kristen seolah-olah mirip dengan keberagamaan manusia pada umumnya, tetapi orientasi hidup orang percaya seharusnya berbeda dengan agama mana pun. Perbedaaannya terletak pada tujuan hidup kekristenan, yaitu perubahan kodrat.
    Dewasa ini, orientasi pelayanan sudah mulai bergeser dari maksud keselamatan diberikan, yaitu mengubah kodrat manusia kepada yang lain, di antaranya adalah usaha untuk memperoleh jalan keluar dari kesulitan hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani; seperti masalah ekonomi, kesehatan, jodoh, pekerjaan, karier, dan lain sebagainya. Dari hal ini, lahirlah teologi kemakmuran yang menguasai banyak gereja hari ini. Padahal, kelahiran gereja seharusnya mengarah pada dikembalikan gereja pada semangat Pentakosta awal, dimana gereja hendak dikembalikan pada visi dan misi asli kedatangan Yesus ke dunia. Mengamati gereja mula-mula yang mengalami peristiwa Pentakosta, hendaknya fokus kita bukan hanya tertuju pada “tanda-tanda,” melainkan harus tertuju pada fokus kehidupan mereka yang ditujukan pada Kerajaan Tuhan Yesus yang akan datang.
    Pelayanan yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani tentu saja menjadi pelayanan yang memikat banyak orang, karena hal ini sangat sesuai dengan “semangat zaman” dan tuntutannya. Gereja-gereja yang menganut teologi kemakmuran dikunjungi oleh banyak orang, karena sesuai dengan kebutuhan yang diburu setiap hari oleh manusia pada umumnya. Dalam gereja-gereja yang mengikuti teologi kemakmuran tersebut, biasanya mereka menyanjung Allah sebagai Allah yang baik dan berkuasa. Di balik sanjungan dan pujian tersebut, mereka bermaksud memanfaatkan Tuhan dan memanipulasi kebaikan dan kuasa-Nya. Sikap seperti ini adalah sikap oportunis dan manipulatif yang berkembang sangat pesat dalam lingkungan gereja-gereja. Ironisnya, mereka merasa sebagai gereja yang diberkati oleh Allah dan para pelayannya sangat percaya diri sebagai hamba Tuhan yang berstandar benar.
    Dengan orientasi pelayanan seperti itu, mereka telah melakukan penyimpangan. Orang-orang Kristen dari komunitas ini kelihatannya sangat giat dalam aktivitas keberagamaan, padahal kegiatan rohani mereka tidak berdaya guna mengubah hidup sesuai dengan maksud keselamatan yang diberikan oleh Allah. Biasanya, gereja-gereja seperti ini juga menekankan karunia-karunia Roh; khususnya bahasa roh, penglihatan, nubuatan, dan kesembuhan. Karunia-karunia ini jika didemonstrasikan, menjadi pesona yang kuat agar orang datang ke gereja. Allah mengizinkan karunia-karunia tersebut didemonstrasikan terlepas dari masalah apakah individu-individu itu menjadi dewasa rohani atau tidak. Hal ini yang harus membuat kita lebih waspada dan berhati-hati. Memang kenyataannya, dalam Matius 7:21-23, orang-orang yang sudah mendemonstrasikan karunia-karunia Roh tertolak oleh Allah, karena mereka tidak melakukan kehendak Bapa. Tidak melakukan kehendak Bapa artinya tidak dewasa rohani atau serupa dengan Yesus.
    Orang percaya harus berhati-hati, karena sementara mendemonstrasikan karunia-karunia Roh, sangat mungkin hatinya masih bisa terbelenggu oleh percintaan dunia. Belenggu percintaan dunia inilah yang menghambat atau bahkan menggagalkan seseorang masuk Kerajaan Surga. Hal ini bukan saja terjadi atas jemaat awam, melainkan juga atas para pemimpinnya, termasuk mereka yang berhasil membangun gereja...
    0 min
  • Membuat Hidup Lebih Sulit
    Kita tidak dapat menjadi dewasa atau sempurna dalam satu hari. Pertumbuhan kedewasaan kerohanian kita menuju kesempurnaan kesucian hidup berlangsung secara bertahap dalam jangka waktu yang panjang. Oleh sebab itu, kita sendiri harus sungguh-sungguh memanfaatkan momentum sekarang ini yang Tuhan berikan. Harus selalu kita ingat, bahwa ada saat dimana kita tidak lagi memiliki momentum itu. Jika seseorang tidak memanfaatkan momentum yang Tuhan berikan—sehingga tidak mengalami proses pendewasaan menuju kesempurnaan—suatu hari, ia akan sangat menyesal. Penyesalan itu hanya dapat digambarkan oleh Alkitab sebagai “ratap tangis dan kertak gigi.” Kita harus memperhitungkan bahwa mengalami keadaan dalam ratap tangis dan kertak gigi juga bisa kita alami, artinya bukan sesuatu yang tidak mungkin kita alami. Oleh sebab itu, kita harus sungguh-sungguh menghindarinya
    Kita harus mengerti Injil yang benar, yang menunjukkan bahwa orang-orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan, yang sama artinya dengan mendapatkan kasih karunia justru mengalami kesulitan dalam hidup. Seperti perjumpaan Abraham dengan Allah membuat dia harus meninggalkan kenyamanan hidup; meninggalkan negerinya, handai taulan atau familinya, untuk menemukan negeri yang tidak ia ketahui tempatnya. Abraham hanya percaya saja dan mengikuti petunjuk Tuhan. Di perjalanan pun dia mengalami banyak kesukaran. Ini berarti perjumpaan dengan Tuhan malah membuat hidup Abraham bermasalah. Perjalanan hidup Abraham menjadi lebih berat. Beratnya perjalanan hidup Abraham mematangkan dirinya sebagai bapak orang percaya.
    Demikian pula dengan Nuh. Dalam Kitab Kejadian 6:8, dikatakan Nuh mendapat kasih karunia di antara banyak manusia pada zamannya. Hanya Nuh yang mendapat kasih karunia. Tetapi perjumpaan dengan Elohim Yahweh yang memberikan kasih karunia kepada dirinya, membuat hidup Nuh menjadi sulit dan berat. Nuh harus membuat bahtera dengan ukuran yang sangat besar. Nuh dan keluarganya harus menginvestasikan hidup dan waktu mereka untuk rencana Allah tersebut. Pada waktu itu, belum ada alat-alat berat untuk menjadi alat pendukung membuat bahtera yang sangat besar. Betapa beratnya pekerjaan yang mereka lakukan. Tetapi Nuh dan keluarganya melakukannya dengan setia. Hidup Nuh dan keluarganya disita untuk memenuhi rencana Allah menyelamatkan dunia waktu itu. Selain itu, Nuh juga harus memberitakan kebenaran (2Ptr. 2:5). Alkitab mengatakan Nuh itu pemberita kebenaran, mengajak orang masuk bahtera. Hal ini menunjukkan bahwa Nuh memiliki beban terhadap keselamatan jiwa orang lain.
    Demikian pula dengan Lot, kehadiran malaikat atau utusan Yahweh ke Sodom dan Gomora membuat Lot bermasalah. Lot nyaris kehilangan dua anak gadisnya (Kej.19). Akhirnya, Lot kehilangan istri. Dalam hal ini, tentu bukan salah Lot, tapi istri Lot sendiri yang tidak mau dengar-dengaran. Walaupun hidup Lot menjadi berat, tetapi aspek anugerah yang diterima Lot membuat penderitaan yang Lot alami tidak artinya sama sekali. Lot mestinya ikut binasa bersama dengan penduduk Sodom dan Gomora, tetapi karena kasih Allah, dirinya diselamatkan.
    Demikian juga murid-murid Yesus. Ketika mereka mendapat panggilan untuk ikut Yesus, mereka harus meninggalkan segala sesuatu. Mereka seperti kehilangan hidup mereka. Akhirnya, Yakobus, saudara dari Yohanes, dipenggal kepalanya. Tomas digoreng di belanga panas, mati dalam penderitaan. Petrus disalib dengan kepala di bawah. Dan hal itu berlangsung selama ratusan tahun. Herannya, gereja tidak mati. Orang percaya tidak habis. Karena di situ Allah mau menunjukkan bahwa pasti masih ada orang yang berani percaya dengan mempertaruhkan segenap hidup. Hal ini menunjukkan bahwa kekristenan yang sejati tidak mungkin tanpa penderitaan. Justru penderitaan merupakan momentum berharga untuk memperoleh kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus.
    Kalau kita memerhatikan kekristenan hari ini, keadaannya sangat jauh berbeda dengan kekristenan yang dijalani oleh orang percaya pada gereja mula...
    0 min
  • Kesediaan Menyerahkan Diri
    Kalau kita tidak berani berkomitmen melepaskan segala sesuatu, maka kita tidak akan pernah mengalami perubahan secara benar. Melepaskan segala sesuatu artinya kesediaan tidak lagi menikmati dunia dengan segala hiburannya. Ini juga berarti kesediaan untuk menaruh seluruh pengharapan kita pada Kerajaan Surga di langit baru dan bumi yang baru. Dari pengalaman dapat dibuktikan, ketika seseorang tidak melakukan komitmen melepaskan segala sesuatu, ia tidak mengalami proses pendewasaan menuju kesempurnaan. Dalam hal ini, komitmen melepaskan segala sesuatu adalah pintu gerbang proses pendewasaan menuju kesempurnaan. Tidak ada komitmen melepaskan segala sesuatu, berarti menolak untuk dibentuk atau dimuridkan.
    Dalam Ibrani 12:1, firman Tuhan menasihati kita agar menanggalkan beban dan dosa. “Beban” di sini maksudnya adalah ikatan percintaan dengan dunia, sedangkan “dosa” menunjuk kodrat dosa dalam daging kita. Banyak orang berpikir sangatlah sulit untuk dapat menanggalkan beban dan dosa. Karena berpikir bahwa hal itu sesuatu yang sulit dan bahkan dianggapnya mustahil dilakukan kalau belum dewasa, maka mereka tidak berani berkomitmen. Kita harus berani berkomitmen dulu di hadapan Tuhan bahwa kita bersedia menanggalkan beban dan dosa. Keberanian ini jangan diharapkan berasal dari Allah, karena manusia memiliki kehendak bebas, sehingga ia harus membangkitkan keberanian dari dirinya sendiri. Tuhan tidak akan menaruh keberanian dalam hati seseorang kalau orang tersebut tidak bersedia mengasihi Dia dengan segenap hati.
    Orang yang berani berkomitmen, walaupun belum mampu melakukannya, adalah orang yang berani mengasihi Tuhan. Orang yang mengasihi Tuhan akan mengalami penggarapan Allah melalui segala kejadian hidup yang dialaminya (Rm. 8:28-29). Penggarapan Allah inilah yang akan memampukan seseorang menjadi serupa dengan Yesus, artinya benar-benar bukan hanya dapat menanggalkan beban dan dosa, tetapi juga dapat serupa dengan Yesus. Dalam Ibrani 12, juga disinggung mengenai tujuan dari proses pendewasaan, yaitu agar menjadi anak Allah yang sah (huios) dan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10).
    Seorang Kristen pergi ke gereja dengan segala kegiatannya, menjadi percuma dan sia-sia kalau ia tidak berani berkomitmen menanggalkan beban dan dosa. Walaupun sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, menjadi majelis, aktivis, bahkan menjadi pendeta, tetapi ia tetap tidak akan sampai kedewasaan seperti yang dikehendaki oleh Allah. Oleh sebab itu, kita harus berani terlebih dahulu berkomitmen. Adapun mengenai bagaimana memenuhinya, baru melalui proses. Itulah sebabnya, firman Allah mengatakan dalam Roma 8:12-14, bahwa orang percaya adalah orang yang berutang. Orang percaya “berutang bukan hidup menurut daging, melainkan menurut roh.”
    Dalam pasal sebelumnya, Roma 7:25-26, Paulus menyaksikan pergumulannya: “Dengan akal budiku, aku melayani hukum Allah; dengan tubuh insaniku, aku melayani hukum dosa.” Menurut teks aslinya, sebenarnya artinya adalah “dengan akal budiku, aku melayani hukum Allah, sementara aku masih memiliki kodrat dosa.” Bisa dimengerti kalau Paulus berutang untuk hidup menurut Roh, artinya tidak boleh memuaskan keinginan dagingnya. Ibarat seorang yang berutang, harus memiliki komitmen untuk membayarnya, baru melangkah untuk memenuhi utang tersebut dalam proses yang bertahap. Tetapi kalau sudah merasa tidak mampu membayarnya dan tidak memiliki kesediaan untuk melunasinya, ia tidak pernah berusaha untuk melunasinya.
    Ketika orang muda yang kaya dalam Matius 19 akhirnya menolak perintah Yesus untuk melepaskan segala miliknya, ia pergi dengan sedih, kemudian Yesus berkata, “Lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum,” Hal ini membuat murid-murid-Nya resah. Mereka berkata satu dengan yang lain: “Kalau begitu, siapa yang diselamatkan?” Kemudian Yesus berkata: “Bagi manusia mustahil, bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Dalam hal ini, terdapat rumus kehidupan dalam pengiringan kepada Yesus: “aku haru...
    0 min
  • Komitmen Yang Bulat
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa Allah akan menolerir sikap orang-orang Kristen yang masih merasa memiliki diri sendiri, dan berpikir bahwa secara bertahap dapat dimiliki oleh Allah sepenuhnya. Biasanya, hal ini disebut sebagai “proses.” Ini adalah kesalahan yang dilakukan dan dimiliki oleh banyak orang Kristen sejak dulu. Kalau Yesus sudah membayar kita tunai, mestinya kita harus bersikap demikian, yaitu bahwa kita telah dimiliki oleh Tuhan tidak secara bertahap, tetapi sudah secara sah sepenuhnya dimiliki oleh Tuhan. Kita harus berpikir bahwa kita telah dimiliki Tuhan sepenuhnya, sejak kita mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan kita. Pendewasaan melalui perubahan menuju kesempurnaan memang harus melalui sebuah proses, tetapi komitmen untuk dimiliki oleh Allah bukan suatu proses. Hal tersebut adalah komitmen yang tegas, satu kali untuk selamanya.
    Banyak orang berpikir bahwa dirinya tidak bermaksud mengkhianati Tuhan dengan keadaan belum menyerahkan segenap hidupnya untuk Tuhan. Mereka berpandangan bahwa seiring dengan perjalanan waktu dan pendewasaan rohani, mereka akan dapat secara bertahap menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Allah. Itulah sebabnya, mereka tidak berani membuat komitmen yang bulat, tidak menyerahkan segenap hidupnya untuk Tuhan. Sikap seperti ini adalah tindakan penyerahan secara mengangsur atau bertahap. Mereka berpikir harus menunggu menjadi dewasa terlebih dahulu, baru dapat menyerahkan segenap hidupnya bagi Tuhan. Pada kenyataannya, mereka tidak pernah menjadi dewasa dan menyerahkan segenap hidup bagi Tuhan. Pada akhirnya, orang-orang Kristen seperti ini menjadi mangsa kuasa kegelapan.
    Kita harus menerima kenyataan bahwa kita telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar. Ini berarti kita sudah tidak memiliki diri kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Komitmen untuk menyerahkan diri segenap hidup bagi Tuhan seharusnya sudah dilakukan dengan bulat. Kita harus berani berkata, “Aku serahkan hidupku menjadi milik-Mu. Dunia bukan rumahku, aku mau pulang ke surga. Aku mau hidup suci, hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Aku hidup hanya mau melayani Engkau dan mengabdi kepada-Mu. Segenap hidupku adalah milik-Mu.” Penyerahan diri seperti ini tidak boleh dilakukan secara bertahap, tetapi harus dilakukan dengan tuntas. Selanjutnya, proses pendewasaan membuat kita bisa memenuhi secara benar komitmen kita, sesuai dengan standar yang dikehendaki oleh Yesus. Jadi, harus berkomitmen terlebih dulu, barulah mengalami proses pendewasaan.
    Seperti orang kaya di Matius 19:16 yang berkata, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Tuhan menunjukkan jalannya, bahwa untuk memiliki hidup yang berkualitas, ia harus menjadi orang yang menuruti hukum. Orang kaya tersebut harus taat pada hukum agar memiliki hidup yang kekal. Orang kaya ini ternyata bukan hanya kaya secara materi, melainkan juga saleh di mata masyarakat orang beragama. Orang kaya tersebut berkata bahwa dirinya sudah melakukan semua hukum dengan baik. Yesus tidak membantah. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus mengakui bahwa dia sudah melakukan hukum. Tetapi ketika orang kaya tersebut menambahkan dengan pernyataan: “Apalagi yang kurang?” Tuhan melihat, dia menginginkan porsi yang sempurna, maka Tuhan berkata kepadanya, “Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datang ke mari, ikutlah Aku.” Orang kaya tersebut harus melepaskan segala miliknya dan membagikannya kepada orang miskin. Tetapi ternyata, ia tidak bersedia, ia menolak dan pergi meninggalkan Yesus dengan sedih karena banyak hartanya.
    Seandainya orang kaya itu melakukan apa yang Tuhan perintahkan, apakah sekaligus ia menjadi sempurna? Tentu saja tidak. Untuk menjadi sempurna, bagaimana pun harus melalui proses. Seandainya orang kaya tersebut melakukan yang Yesus perintahkan, belum tentu ia dapat meninggalkan percintaan dunia di dalam hatinya. Orang kaya ini sudah hidup dengan gaya hidup dan cara berpikir seperti lingkungannya selama bertahun-t...
    0 min
  • Terpisah Dari Dunia
    Banyak orang Kristen selama bertahun-tahun mengalami pergumulan, merasa selalu gagal menyenangkan hati Allah, sementara itu merindukan sebuah kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, kehidupan yang sempurna. Karena selalu gagal, maka mereka sampai pada tingkat tertentu dimana mereka menjadi putus asa, dengan berpikir: “Apakah mungkin saya bisa mencapai kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela atau mencapai kesempurnaan?” Tidak sedikit yang terjebak dalam “mental block,” artinya suatu keadaan dimana seseorang sudah tidak lagi memiliki keyakinan bahwa ia akan pernah bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela, menyenangkan hati Allah dengan benar. Biasanya orang-orang seperti ini tidak lagi memiliki perjuangan yang memadai untuk mencapai kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan.
    Untuk menjawab pertanyaan bagaimana mencapai kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, kita harus melihat kehidupan orang Kristen pada abad pertama, bagaimana Tuhan memisahkan orang-orang percaya dari Yudaisme (agama Yahudi). Kalau kita membaca Kisah Para Rasul, kita dapat menemukan kisah mengenai Yohanes dan Petrus yang masih pergi ke Bait Allah, pada awal gereja mula-mula. Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid pertama Yesus masih bergabung dengan orang Yahudi yang beragama Musa (agama Yahudi atau Judaism) sesudah kenaikan Yesus ke surga. Kalau kehidupan orang percaya tidak dipisahkan dari agama Yahudi atau agama Musa, maka mereka tidak akan menemukan kekristenan yang sejati.
    Tuhan sengaja memisahkan orang-orang percaya dari agama Yahudi dan dunia sekuler dengan maksud agar orang percaya mula-mula menemukan kekristenan yang sejati. Keterpisahan dari agama Yahudi terjadi melalui penganiayaan yang dimotori oleh imam-imam kepala dan tokoh-tokoh agama Yahudi. Mereka menangkapi orang-orang percaya dan membunuh mereka dengan semena-mena, seperti yang dialami oleh Yakobus, Stefanus yang dirajam batu, dan lainnya. Salah satu tokoh yang menganiaya orang percaya adalah Saulus. Saulus dengan semena-mena menangkapi orang Kristen dan membunuhnya. Tetapi, kemudian hari Saulus bertobat dan menjadi pengikut Yesus, yang berubah nama menjadi Paulus. Aniaya yang dialami orang percaya tersebut menciptakan pemurnian iman Kristen. Dalam hal ini, penganiayaan mengondisi orang Kristen memiliki iman yang murni.
    Di sisi lain, orang percaya juga dipisahkan dari dunia sekuler secara drastis melalui aniaya yang dilakukan oleh kekaisaran Roma. Dengan hal ini, orang percaya secara pribadi dan gereja secara komunitas dipisahkan dari dunia. Dengan aniaya-aniaya tersebut, orang percaya terpisah dari dunia. Aniaya dari pihak kekaisaran Roma mengondisi orang percaya tidak mendapatkan akses sekecil apa pun untuk dapat menikmati hidup yang nyaman di dunia ini.
    Dalam penganiayaan, orang-orang Kristen dipancung, dibakar hidup-hidup, dimasukkan belanga panas sampai mati, dimasukkan kandang binatang buas untuk menjadi makanannya, dan lain sebagainya. Colloseum di kota Roma hari ini menjadi fakta sejarah tersebut. Aniaya dari pihak kekaisaran Romawi juga menciptakan pemurnian iman Kristen gereja mula-mula sampai akhir abad ke-4. Penderitaan orang-orang Kristen pada zaman itu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Demikian pula dengan keberanian mereka menghadapi aniaya, serta sukacita mereka di dalam Tuhan, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Hal ini menjadi kesaksian yang sangat kuat bagi dunia.
    Format kehidupan orang percaya di gereja mula-mula tersebut sangat penting untuk dapat menjadi pola atau landasan hidup orang percaya sepanjang zaman. Pola ini adalah pola yang tidak pernah Tuhan ubah. Pada dasarnya, orang percaya harus dipisahkan dari pola hidup agamani dan pola hidup duniawi. Orang percaya harus mengalami pemutusan sama sekali, cut off dari kedua unsur tersebut, yaitu unsur agamani dan unsur duniawi. Tentu landasan kebenaran ini bukan hanya dari aspek atau sisi sejarah (historis) saja,
    0 min
  • As a Gift For Everybody
    Banyak orang mengucapkan kalimat-kalimat penyembahan, namun belum tentu dengan hati yang menyembah. Menyembah adalah sikap hidup dalam penundukan diri kepada Allah di setiap hari dalam segala aspeknya. Seperti misalnya, kalau seorang anak tunduk kepada orangtua, tentu setiap hari dalam segala aspeknya tunduk kepada orangtua. Jadi, bukan menunjukkan penundukan diri hanya pada waktu di depan orang, tetapi merupakan sikap hati yang permanen. Kalau seorang anak menunjukkan penundukan diri hanya karena di depan orang, maka hal tersebut seperti sebuah sikap mengolok-olok, atau mempermainkan, dan melecehkan orangtua. Hal ini juga bisa terjadi atas kehidupan orang Kristen terhadap Tuhan. Ketika mereka ada dalam gereja, dalam liturgi mereka menyanjung Tuhan dengan syair-syair pujian yang menunjukkan seakan-akan mereka memiliki sikap penundukan diri kepada Tuhan, tetapi dalam kenyataan hidup setiap hari, mereka jauh dari sikap ketertundukan tersebut. Ini berarti sebuah sikap memperolok-olok atau mempermainkan, dan melecehkan Tuhan.
    Jadi, kalau seseorang tidak memiliki sikap ketertundukan kepada Tuhan setiap hari—yang sama dengan tidak hidup di hadirat Allah, karena tidak serius dengan Allah, tidak mengasihi Allah dengan benar—maka liturginya di gereja merupakan sebuah kebohongan dan kemunafikan, seperti mempermainkan Allah. Munafik dari bahasa Yunani hipokrites, artinya orang yang memainkan peranan. Mereka berperan sebagai penyembah, pemuji, orang saleh, atau anak-anak Allah hanya di dalam gereja. Tetapi kenyataan hidup setiap harinya tidak demikian. Ini berarti mereka selalu hidup dalam kepura-puraan, sampai hal tersebut tidak disadari sama sekali. Sampai mati, mereka hidup dalam kepura-puraan, sehingga ketika di hadapan pengadilan Tuhan, mereka akan mengalami ketakutan yang luar biasa karena baru sadar betapa rusaknya diri mereka. Inilah yang dikatakan oleh Pemazmur sebagai berikut: Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina” (Mzm. 73:19-20).
    Kalau kita jujur, sering kali kita tidak mengenali diri kita sendiri dengan baik. Tidak mungkin orang bisa mengenali dirinya dengan benar, kalau tidak memahami kesucian Allah melalui pengalaman konkret, bukan hanya melalui pengertian di dalam nalar. Seseorang harus memahami keagungan pribadi Allah, baru dapat mengenali siapa dirinya dengan benar. Tanpa kita sadari, sebenarnya sebagian besar kita adalah orang-orang sombong yang terselubung. Sebagian besar kita adalah orang-orang yang menolak untuk mengalah, memiliki kesukaan menyerang orang lain, dan tidak menghormati orang lain secara patut. Dan kita tidak menyadari bahwa kita sedang berbuat salah. Ini berarti kita tidak mengenali diri kita sendiri dengan benar. Kalau hal ini terjadi berlarut-larut pada diri seseorang sampai meninggal dunia, ia pasti binasa.
    Banyak orang Kristen bukan saja hidup dalam gelimang ketidaktepatan, tetapi juga dalam dosa yang menyakitkan hati Allah, dan itu berarti tidak hidup dalam penyembahan. Hal itu terjadi karena mereka tidak serius mengasihi Allah. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak hidup di hadirat Allah. Kalau kita menyadari hal ini ada dalam kehidupan kita, kita harus segera bertobat dan berusaha untuk hidup baru setiap hari. Kita harus memiliki semangat atau gairah yang kuat untuk selalu mengalami perubahan. Perubahan demi perubahan akan membuat kita berkeadaan cemerlang di hadapan Allah, dan hal ini membuat kita siap meninggal dunia untuk diperhadapkan di pengadilan Tuhan. Kita harus mengenali diri kita masing-masing dengan benar. Kalau hidup kita belum menyukakan hati Allah, itu berarti pasti kita melukai orang di sekitar kita. Itu berarti juga kita belum bisa menjadi gift atau hadiah untuk orangtua, pasangan hidup, anak, dan semua orang.
    Kita harus menyadari realitas bahwa rambut kita akan semakin memutih, gigi mulai rontok,
    0 min
  • Dapat Ditularkan Kepada Jemaat
    Apakah jemaat dapat semakin mendekat pada episentrum kebenaran atau tidak, yang paling berperan adalah pelayan Tuhan, yaitu pemberita Firman atau pengkhotbah dan pemimpin gereja secara organisasi di bumi. Kalau hidup seorang pelayan Tuhan tidak benar, tidak suci, masih materialistis, masih bisa dibahagiakan oleh materi dunia, atau masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, berarti dirinya menjauh dari pusat pusaran kebenaran. Ini adalah kehidupan yang bersahabat dengan dunia. Tentu saja sebagai dampaknya, jemaat yang dilayani terbawa ikut menjauh dari pusat pusaran kebenaran. Hal ini sering tidak disadari, baik oleh pelayan Tuhan tersebut maupun oleh jemaat yang dilayani. Oleh pimpinan Roh Kudus, seseorang bisa menyadari keadaan dirinya yang sebenarnya di hadapan Allah. Dalam hal ini, hanya orang yang dipimpin Roh Kudus yang bisa masuk dalam pusat pusaran kebenaran.
    Seorang pelayan Tuhan di mimbar yang tidak ada di pusat pusaran kebenaran, tidak akan dapat menyeret pendengarnya masuk pusat pusaran kebenaran. Bagaimana bisa mengimpartasi atau menularkan spirit yang benar kepada jemaat, kalau dirinya sendiri tidak memilki spirit yang benar? Memang tidak mudah hidup masuk ke dalam pusat pusaran kebenaran, tetapi seorang pelayan Tuhan harus mengusahakannya dengan segenap hidup. Usaha untuk menjadi pelayan Tuhan yang benar bukan hanya menyelesaikan studi di seminari atau sekolah tinggi teologi, tetapi perjalanan hidup setiap hari untuk melepaskan beban, yaitu keterikatan dengan dunia dan ikatan dosa. Jika tidak, ia menjadi penjahat di dalam gereja yang membinasakan banyak orang. Seorang pelayan Tuhan yang tidak semakin masuk dalam pusat pusaran kebenaran pasti mengajarkan kemakmuran duniawi kepada jemaatnya. Orientasinya bukan kepada kesucian hidup, dan fokusnya bukan pada kekekalan di langit baru dan bumi yang baru.
    Kalau dalam penggembalaan, gereja hanya mengajarkan pemenuhan kebutuhan jasmani, maka jemaat dijauhkan dari pusat pusaran kebenaran. Kegiatan gereja seperti itu memang masih bisa aktif dengan berbagai program yang kelihatannya rohani, dan mendukung pekerjaan misi, diakonia, atau pelayanan sosial. Mereka memang masih bisa mengadakan kebaktian yang sangat semarak, seakan-akan Allah hadir dalam pertemuan itu dan Allah disukakan hati-Nya karena profesionalisme sebuah penyajian acara kebaktian. Sejatinya, hal seperti itu tidak menyukakan hati Allah. Pada hakikatnya, jemaat tidak mengalami pertumbuhan untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu sempurna seperti Bapa, atau serupa dengan Yesus, sesuai dengan maksud keselamatan diberikan.
    Gereja seperti itu, sementara giat dalam kegiatan rohani, sebenarnya ia sedang memarkir hati jemaat di dunia, padahal Tuhan Yesus menghendaki kita memarkir hati di surga (Mat. 6:19-21; Kol. 3:1-3). Dalam kehidupan setiap hari, tampak bahwa mereka tidak merindukan langit baru dan bumi yang baru, hati mereka masih tertambat ke dunia. Jemaat yang tiap minggu mendengar khotbah tentang langit baru bumi baru saja belum tentu dengan mudah bisa memindahkan hati-Nya ke Kerajaan Surga dan merindukan pertemuan dengan Tuhan, apalagi yang hanya mendengar khotbah tentang pemenuhan kebutuhan jasmani dan berbagai nasihat yang tidak lebih dari motivator dunia, pasti tidak penah menjadi “rohani.”
    Keadaan gereja yang tidak bertumbuh secara benar disebut sebagai keadaan dalam pasivitas rohani. Memang mereka aktif dalam kegiatan gerejani, tetapi rohaninya pasif. Jadi, tidak heran kalau ada pelayan Tuhan yang dari pernyataan-pernyataannya menunjukkan bahwa ia tidak mengenal Allah dengan benar. Orang yang tidak mengenal Allah dengan benar, tidak dapat mengenal dirinya dengan benar pula. Pengenalan akan Allah sangat menentukan kualitas hidup. Orang yang kurang mengenal Allah, kualitas hidupnya pasti rendah, dan orang yang tidak mengenal Allah kualitas hidupnya pasti rusak.
    Pusat pusaran kebenaran sebenarnya adalah Allah pribadi.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…